Anda di halaman 1dari 5

1.

1 Hasil Pengamatan

 Jumlah total ekstrak yang ditimbang : 400 g


 Jumlah ekstrak hasil ekstraksi : 63, 92 g
 Jumlah cab-o-sil yang ditimbang : 15,5 g
 Total rendemen hasil : 63,92 g – 15,5 g = 48,42 g
48,42 𝑔
% Rendemen hasil : 𝑥 100% = 12,11%
400 𝑔

 Hasil rendemen pada masing- masing kelompok


1. Kelompok 1 (maserasi kinetik) : 10,925%
2. Kelompok 2 (maserasi ultrasonik) : 11,46%
3. Kelompok 3 (maserasi/ perendaman) : 12,11%
4. Kelompok 4 (maserasi kinetik) : 11,46%
5. Kelompok 5 (maserasi/ perendaman) : 11,82%
6. Kelompok 6 (maserasi/ perendaman) : 11,26%
7. Kelompok 7 (maserasi/ perendaman) : 11,275%
8. Kelompok 8 (maserasi kinetik) : 12,19%
9. Kelompok 9 (maserasi ultrasonik) : 11,89%)
10. Kelompok 10 (maserasi ultrasonik) : 11,29%

1.2 Pembahasan

Praktikum yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui cara pembuatan ekstrak


rimpang kencur (Kaemferia galanga) dengan metode maserasi perendaman dan kinetika..
yang mana tujuan dari proses ekstraksi ialah untuk mengawetkan dalam bentuk ekstrak
sediaan akan lebih awet karena tidak mengandung air. Identifikasi yaitu dengan mengubah
simplisia kering menjadi ekstrak dapat lebih mempersempit kandungan zat aktif dalam suatu
ekstrak serta alat yang digunakan sederhana, biaya operasional relatif rendah, hemat penyari
dan tanpa pemanasan

Karena hambatan dari alat pada maserasi ultrasonic maka Pada praktikum ini
kami hanya melkukan 2 metode yaitu maserai konvensional dan maserasi kinetik. ,
diantaranya kelompok dengan metode konvensional, kelompok dengan metode
kinetik. Pada proses pembuatan ekstraksi, simplisia kencur yang telah ditimbang
sebanyak 100 gram dibasahi dengan dengan ethanol 96% sebanyak 400 ml. Tujuan
penambahan ethanol adalah memisahkan senyawa-senyawa organik dari
campurannya. Minyak atsiri dalam rimpang kencur dapat larut dalam etanol dengan
konsentrasi yang tinggi tanpa adanya penambahan air lagi. Penggunaan etanol dengan
konsentrasi lebih dari 70% akan menghasilkan ekstrak dengan kandungan minyak
atsiri tinggi, yang akan mengendap pada bagian bawah ekstrak. Pengadukan
dilakukan dengan kecepatan 388 rpm selama 2 jam. dilakukan lagi penyaringan
menggunakan kertas saring untuk mencegah ikutnya serbuk dari sampel sehingga akan
merusak hasil akhir ekstrak, yang kemudian ditampung dalam jurigen. Ekstrak yang
diperoleh kemudian dipekatkan menggunakn rotary evaporator dengan prinsipnya
membuat pelarut dapat dipisahkan dari zat terlarut di dalamnya tanpa pemanasan yang
tinggi.

Setelah dipekatkan maka hasil yang di dapat ditambahkan Cab-O-Sil 5% dari


ekstrak ad terbentuk sediaan setengah kering. Tujuan penambahan Cab-O-Sil
sebagai eksipien (bahan tambahan) agar dapat membentuk sediaan serbuk dengan
sifat-sifat yang lebih baik. Setelah kering serbuk dihaluskan dan ditimbang
beratnya.

. Hasil rendemen dari beberapa metode ini cukup bervariasi. Diambil hasil rendemen
ekstrak setiap metode, didapatkan hasil maserasi kinetik pada 3 kelompok berurutan yaitu
(9,31%), (12,92%), (8,92%) dan pada metode maserasi konvensional secara berurutan yaitu
(8,77%),(10,3),(9,51),(9,05) Hasil rendemen yang didapatkan dari tiap metode menunjukkan
perbedaan hasil yang tidak begitu signifikan. Dilihat dari hasil rendemen yang tertinggi di
peroleh dari metode maserasi kinetik (12,92%), hal ini dikarenakan pada metode ini adanya
faktor yang mempengaruhi saat berlangsungnya poses ekstraksi, yakni pengadukan.
Pengadukan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses ekstraksi. Dengan
adanya faktor pengadukan membuat interaksi yang terjadi antara pelarut dengan sampel
semakin maksimal sehingga akan semakin banyak pula senyawa yang tertarik kedalam etanol
sebagai pelarut. Dengan begitu rendemen hasil yang didapatkan juga lebih tinggi. Dan juga
pada maserasikinetik dengan hasil randemen 12,92 serbuk akhir yang timbang kurang kering
dikarenakan penumpukan loyang atau wadah saat proses pengeringan bersamaan dengan
kelompok lain juga keterbatasan waktu.
Berdasarkan farmakope herbal bahwa persen hasil rendemen pada ekstrak kencur
tidak kurang dari 8,3%. Sehingga dapat disimpulkan dari hasil praktikum kali bahwa
ekstraksi kencur memiliki hasil yang baik. Hasil terbaik didapatkan dari metode maserasi
kinetik.

1.3 Kesimpulan

Dari hasil praktikum pembuatan ekstrak rimpang Kaempferia galanga L. dengan


tiga metode yang berbeda didpatkan kesimpulan sebagai berikut:

 Hasil rendemen tertinggi dari 3 metode didapatkan metode maserasi kinetika yakni sebesar
12,19%.
 Urutan hasil rendemen dari 3 metode yang diambil dari tiap- tiap metode tertinggi yakni
maserasi kinetika (12,19%), perendaman (12,11%), dan maserasi uktrasonik (11,89%).
 Berdasarkan farmakope herbal hasil rendemen ekstrak kencur tidak kurang dari 8,3%,
sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil rendemen ekstrak kencur dengan 3 metode yang
berbeda mendpaatkan hasil yang baik.
LAMPIRAN

Penimbangan serbuk Direndam selama 24 jam


kencur dengan pelarut etanol 96%

Dilakukan penyaringan Dilakukan penyaringan

Residu ditampung untuk Filtrat ditampung


dilakukan remaserasi