Anda di halaman 1dari 16

Konstitusi pada umumnya bersifat kodifikasi yaitu sebuah dokumen yang berisian aturan-aturan

untuk menjalankan suatu organisasi pemerintahan negara, namun dalam pengertian ini, konstitusi
harus diartikan dalam artian tidak semuanya berupa dokumen tertulis (formal). namun menurut
para ahli ilmu hukum maupun ilmu politik konstitusi harus diterjemahkan termasuk kesepakatan
politik, negara, kekuasaan, pengambilan keputusan, kebijakan dan distibusi maupun alokasi [1],
Konstitusi bagi organisasi pemerintahan negara yang dimaksud terdapat beragam bentuk dan
kompleksitas strukturnya, terdapat konstitusi politik atau hukum akan tetapi mengandung pula
arti konstitusi ekonomi [2]

Dewasa ini, istilah konstitusi sering di identikkan dengan suatu kodifikasi atas dokumen yang
tertulis dan di Inggris memiliki konstitusi tidak dalam bentuk kodifikasi akan tetapi berdasarkan
pada yurisprudensi dalam ketatanegaraan negara Inggris dan mana pula juga.

Istilah konstitusi berasal dari bahasa inggris yaitu “Constitution” dan berasal dari bahasa belanda
“constitue” dalam bahasa latin (contitutio,constituere) dalam bahasa prancis yaitu “constiture”
dalam bahasa jerman “vertassung” dalam ketatanegaraan RI diartikan sama dengan Undang –
undang dasar. Konstitusi / UUD dapat diartikan peraturan dasar dan yang memuat ketentuan –
ketentuan pokok dan menjadi satu sumber perundang- undangan. Konstitusi adalah keseluruhan
peraturan baik yang tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur secara mengikat cara suatu
pemerintahan diselenggarakan dalam suatu masyarakat negara

 Pengertian konstitusi menurut para ahli

1. K. C. Wheare, konstitusi adalah keseluruhan sistem ketatanegaraaan suatu negara


yang berupa kumpulan peraturan yang membentuk mengatur /memerintah dalam
pemerintahan suatu negara.
2. Herman heller, konstitusi mempunyai arti luas daripada UUD. Konstitusi tidak
hanya bersifat yuridis tetapi juga sosiologis dan politis.
3. Lasalle, konstitusi adalah hubungan antara kekuasaaan yang terdapat di dalam
masyarakat seperti golongan yang mempunyai kedudukan nyata di dalam
masyarakat misalnya kepala negara angkatan perang, partai politik, dsb.
4. L.J Van Apeldoorn, konstitusi memuat baik peraturan tertulis maupun peraturan
tak tertulis.
5. Koernimanto Soetopawiro, istilah konstitusi berasal dari bahasa latin cisme yang
berarti bersama dengan dan statute yang berarti membuat sesuatu agar berdiri.
Jadi konstitusi berarti menetapkan secara bersama.
6. Carl schmitt membagi konstitusi dalam 4 pengertian yaitu:

 Konstitusi dalam arti absolut mempunyai 4 sub pengertian yaitu;

1. Konstitusi sebagai kesatuan organisasi yang mencakup hukum dan semua


organisasi yang ada di dalam negara.
2. Konstitusi sebagai bentuk negara.
3. Konstitusi sebagai faktor integrasi.
4. Konstitusi sebagai sistem tertutup dari norma hukum yang tertinggi di dalam
negara .
 Konstitusi dalam arti relatif dibagi menjadi 2 pengertian yaitu konstitusi sebagai
tuntutan dari golongan borjuis agar haknya dapat dijamin oleh penguasa dan
konstitusi sebagai sebuah konstitusi dalam arti formil (konstitusi dapat berupa
tertulis) dan konstitusi dalam arti materiil (konstitusi yang dilihat dari segi isinya).
 konstitusi dalam arti positif adalah sebagai sebuah keputusan politik yang
tertinggi sehingga mampu mengubah tatanan kehidupan kenegaraan.
 konstitusi dalam arti ideal yaitu konstitusi yang memuat adanya jaminan atas hak
asasi serta perlindungannya.

Tujuan
 Tujuan konstitusi yaitu:

1. Membatasi kekuasaan penguasa agar tidak bertindak sewenang – wenang maksudnya


tanpa membatasi kekuasaan penguasa, konstitusi tidak akan berjalan dengan baik dan
bisa saja kekuasaan penguasa akan merajalela Dan bisa merugikan rakyat banyak.
2. Melindungi HAM maksudnya setiap penguasa berhak menghormati HAM orang lain dan
hak memperoleh perlindungan hukum dalam hal melaksanakan haknya.
3. Pedoman penyelenggaraan negara maksudnya tanpa adanya pedoman konstitusi negara
kita tidak akan berdiri dengan kokoh.

Nilai
 Nilai konstitusi yaitu:

1. Nilai normatif adalah suatu konstitusi yang resmi diterima oleh suatu bangsa dan bagi
mereka konstitusi itu tidak hanya berlaku dalam arti hukum (legal), tetapi juga nyata
berlaku dalam masyarakat dalam arti berlaku efektif dan dilaksanakan secara murni dan
konsekuen.
2. Nilai nominal adalah suatu konstitusi yang menurut hukum berlaku, tetapi tidak
sempurna. Ketidaksempurnaan itu disebabkan pasal – pasal tertentu tidak berlaku / tidsak
seluruh pasal – pasal yang terdapat dalam UUD itu berlaku bagi seluruh wilayah negara.
3. Nilai semantik adalah suatu konstitusi yang berlaku hanya untuk kepentingan penguasa
saja. Dalam memobilisasi kekuasaan, penguasa menggunakan konstitusi sebagai alat
untuk melaksanakan kekuasaan politik.

Jenis
 Macam – macam konstitusi

1. Menurut CF. Strong konstitusi terdiri dari:

 Konstitusi tertulis (documentary constitution / written constitution) adalah aturan


– aturan pokok dasar negara , bangunan negara dan tata negara, demikian juga
aturan dasar lainnya yang mengatur perikehidupan suatu bangsa di dalam
persekutuan hukum negara.
 Konstitusi tidak tertulis / konvensi (non-documentary constitution) adalah berupa
kebiasaan ketatanegaraan yang sering timbul.

 Adapun syarat – syarat konvensi adalah:

1. Diakui dan dipergunakan berulang – ulang dalam praktik penyelenggaraan negara.


2. Tidak bertentangan dengan UUD 1945.
3. Memperhatikan pelaksanaan UUD 1945.

Secara teoretis konstitusi dibedakan menjadi:

 Konstitusi politik adalah berisi tentang norma- norma dalam penyelenggaraan negara,
hubungan rakyat dengan pemerintah, hubungan antar lembaga negara.
 Konstitusi sosial adalah konstitusi yang mengandung cita – cita sosial bangsa, rumusan
filosofis negara, sistem sosial, sistem ekonomi, dan sistem politik yang ingin
dikembangkan bangsa itu.

Berdasarkan sifat dari konstitusi yaitu:

1. Fleksibel / luwes apabila konstitusi / undang undang dasar memungkinkan untuk berubah
sesuai dengan perkembangan.
2. Rigid / kaku apabila konstitusi / undang undang dasar jika sulit untuk diubah.

Unsur konstitusi
Unsur/substansi sebuah konstitusi yaitu

Menurut Sri Sumantri konstitusi berisi 3 hal pokok yaitu

 Jaminan terhadap Ham dan warga negara.


 Susunan ketatanegaraan yang bersifat fundamental.
 Pembagian dan pembatasan tugas ketatanegaraan.

Menurut Miriam Budiarjo, konstitusi memuat tentang

 Organisasi negara.
 HAM.
 Prosedur penyelesaian masalah pelanggaran hukum.
 Cara perubahan konstitusi.

Menurut Koerniatmanto Soetopawiro, konstitusi berisi tentang

 Pernyataan ideologis.
 Pembagian kekuasaan negara.
 Jaminan HAM (Hak Asasi Manusia).
 Perubahan konstitusi.
 Larangan perubahan konstitusi.

Parameter
 Parameter terbentuknya pasal-pasal UU yaitu:

1. Agar suatu bentuk pemerintahan dapat dijalankan secara demokrasi dengan


memperhatikan kepentingan rakyat.
2. Melindungi asas demokrasi.
3. Menciptakan kedaulatan tertinggi yang berada ditangan rakyat.
4. Untuk melaksanakan dasar negara.
5. Menentukan suatu hukum yang bersifat adil.

Kedudukan
 Kedudukan konstitusi/UUD yaitu:

1. Dengan adanya UUD baik penguasa dapat mengetahui aturan / ketentuan pokok
mendasar mengenai ketatanegaraan.
2. Sebagai hukum dasar.
3. Sebagai hukum yang tertinggi.

 Perubahan konstitusi/UUD yaitu:

Secara revolusi, pemerintahan baru terbentuk sebagai hasil revolusi ini yang kadang – kadang
membuat sesuatu UUD yang kemudian mendapat persetujuan rakyat. Secara evolusi,
UUD/konstitusi berubah secara berangsur – angsur yang dapat menimbulkan suatu UUD, secara
otomatis UUD yang sama tidak berlaku lagi.

 Keterkaitan antara dasar negara dengan konstitusi yaitu:

Keterkaitan antara dasar negara dengan konstitusi nampak pada gagasan dasar, cita – cita dan
tujuan negara yang tertuang dalam pembukaan UUD suatu negara. Dasar negara sebagai
pedoaman penyelenggaraan negara secara tertulis termuat dalam konstitusi suatu negara.

 Keterkaitan konstitusi dengan UUD yaitu:

Konstitusi adalah hukum dasar tertulis dan tidak tertulis sedangkan UUD adalah hukum dasar
tertulis. UUD memiliki sifat mengikat oleh karenanya makin elastik sifatnya aturan itui makin
baik, konstitusi menyangkut cara suatu pemerintahan diselenggarakan.
SISTEM KONSTITUSI YANG BERLAKU DI INDONESIA
Konstitusi atau UUD berlaku di Indonesia sejak tanggal 18 Agustus 1945. Hingga sekarang
pernah menggunakan tiga macam UUD yaitu UUD 1945, Konstitusi RIS 1949, dan UUD Sementara 1950.
Periodesasi berlakunya ketiga UUD tersebut dapat diuraikan menjadi lima periode yaitu:

1. Periode 18 Agustus 1945 – 27 Desember 1949 berlaku UUD 1945,

2. Periode 27 Des 1949 – 17 Agustus 1950 berlaku Konstitusi RIS 1949,

3. Periode 17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959 berlaku UUD Sementara 1950,

4. Periode 5 Juli 1959 – 19 Oktober 1999 berlaku kembali UUD 1945

5. Periode 19 Oktober 1999 – sekarang berlaku UUD 1945 (hasil perubahan).

1. UUD 1945 periode 18 Agustus 1945 – 27 Desember


1949

Sistematika UUD 1945 sebagai berikut :

1. Pembukaan terdiri dari 4 alinea;


2. Batang Tubuh terdiri dari 16 Bab yang terbagi menjadi 37 Pasal serta 4 Pasal aturan
peralihan, dan 2 ayat aturan tambahan;
3. Penjelasan yang meliputi penjelasan umum dan penjelasan pasal demi pasal

Bentuk Susunan Pemerintahan


Pada Pasal 1 ayat (1) UUD 1945 dinyatakan bahwa “NegaraIndonesiaadalah Negara
kesatuan yang berbentuk republik”. Bentuk Negara kesatuanIndonesiamengandung pengertian
bahwa ada satu kekuasaan untuk mengatur seluruh wilayah Negara, yaitu pemerintah pusat.

Bentuk Negara
Pada Pasal 1 ayat (1) UUD 1945 juga telah ditegaskan bahwa bentuk Negara Indonesia
adalah Republik

2. Periode berlakunya Konstitusi RIS 1949

Sistematika Konstitusi RIS 1949


1. terdiri atas Mukadimah yang berisi 4 alinea,
2. Batang Tubuh yang berisi 6 bab dan 197 pasal,
3. serta sebuah lampiran

Bentuk susunan pemerintahan


Pada masa Konstitusi RIS, bentuk susunan negara adalah serikat atau federasi, yaitu
merupakan bentuk negara dari gabungan beberapa negara yang menjadi bagian negara-negara
serikat itu.

Bentuk Negara
Sesuai dengan Pasal 1 ayat (2) Konstitusi RIS bentuk negara Indonesia adalah republik

3. Periode Berlakunya UUDS 1950

Sistematika Undang-Undang Dasar Sementara 1950


1. Terdiri atas Mukadimah dan Batang Tubuh,
2. meliputi 6 bab dan 146 pasal.

Bentuk susunan pemerintahan


Bentuk susunan negara menurut UUDS 1950 adalah negara kesatuan.bentuk negara kesatuan
dengan sistem desentralisasi (Pasal 132 UUDS)

Bentuk Negara
Dalam Pasal 1 ayat (1) UUDS serta Mukadimah Alenia IV bentuk Negara Indonesia adalah
Republik

Pada tanggal 5 Juli 1959 Presiden Soekarno mengeluarkan sebuah Dekrit Presiden yang isinya
adalah:

1. Menetapkan pembubaran Konsituante


2. Menetapkan berlakunya kembali UUD 1945 dan tidak berlakunya lagi UUDS 1950
3. Pembentukan MPRS dan DPAS

Dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, maka UUD 1945 berlaku kembali sebagai
landasan konstitusional dalam menyelenggarakan pemerintahan Republik Indonesia.

4. UUD 1945 Periode 5 Juli 1959 – 19 Oktober


1999

Selama kurun waktu tersebut dapat dipilah menjadi dua periode yaitu periode Orde Lama
(1959-1966), dan periode Orde Baru (1966-1999).

1. Periode Orde Lama (1959-1966)

Bentuk Susunan Pemerintahan.

Sesuai dengan ketentuan UUD 1945 pasal 1 ayat (1) bentuk negara susunanIndonesiaadalah
Negara kesatuan

Bentuk Negara

Bentuk NegaraIndonesiaadalah republik. Hal ini dapat dilihat dalam Pembukaan UUD 1945
Alinea IV dan di dalam pasal 1 ayat (1) UUD 1945.
2. Periode Orde Baru (1966-1999)

Bentuk Susunan Pemerintahan.

Sesuai dengan ketentuan UUD 1945 pasal 1 ayat (1) bentuk negara susunan Indonesia adalah
Negara kesatuan

Bentuk Negara

Bentuk Negara Indonesiaadalah republik. Hal ini dapat dilihat dalam Pembukaan UUD 1945
Alinea IV dan di dalam pasal 1 ayat (1) UUD 1945.

5. UUD 1945 Periode 19 Oktober 1999 – Sekarang

Sampai saat ini, UUD 1945 sudah mengalami empat tahap perubahan, yaitu pada tahun 1999,
2000, 2001, dan 2002. Penyebutan UUD setelah perubahan menjadi lebih lengkap, yaitu : Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Melalui empat tahap perubahan tersebut, UUD
1945 telah mengalami perubahan yang cukup mendasar.

Bentuk susunan pemerintahan

Pada Pasal 1 ayat (1) UUD 1945 dinyatakan bahwa “Negara Indonesia adalah Negara kesatuan
yang berbentuk republik”

Bentuk Negara

Bentuk Negara kesatuan dengan prinsip otonomi yang luas. Wilayah Negara terbagi menjadi
beberapa provinsi
KONSTITUSI INDONESIA

1. A. Konsep Dasar Konstitusi

Konstitusi merupakan dokumen sosial dan politik bangsa Indonesia yang memuat konstitusi
dasar tatanan bernegara. Di samping itu, konstitusi juga merupakan dokumen hukum yang
kemudian dipelajari secara khusus menjadi hukum konstitusi (hukum tata negara) yang
merupakan hukum yang mendasari seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Prof. Bagir Manan mengatakan bahwa konstitusi ialah sekelompok ketentuan yang mengatur
organisasi negara dan susunan pemerintahan suatu negara, Sehingga negara dan konstitusi adalah
satu pasangan yang tidak dapat dipisahkan. Setiap negara tentu mempunyai konstitusi, meskipun
mungkin tidak tertulis. Konstitusi mempunyai arti dan fungsi yang sangat penting bagi negara,
baik secara formil, materiil, maupun konstitusionil. Konstitusi juga mempunyai fungsi
konstitusional, sebagai sumber dan dasar cita bangsa dan negara yang berupa nilai-nilai dan
kaidah-kaidah dasar bagi kehidupan bernegara. Ia selalu mencerminkan semangat yang oleh
penyusunnya ingin diabadikan dalam konstitusi tersebut sehingga mewarnai seluruh naskah
konstitusi tersebut.

Pengertian konstitusi menurut para ahli

a) Koernimanto soetopawiro

Istilah konstitusi berasal dari bahasa latin cisme yang berarati bersama dengan dan statute yang
berarti membuat sesuatu agar berdiri. Jadi konstitusi berarti menetapkan secara bersama.

b) Lasalle

Konstitusi adalah hubungan antara kekuasaaan yang terdapat di dalam masyarakat seperti
golongan yang mempunyai kedudukan nyata di dalam masyarakat misalnya kepala negara
angkatan perang, partai politik.

c) Herman heller

Konstitusi mempunyai arti luas daripada UUD. Konstitusi tidak hanya bersifat yuridis tetapi juga
sosiologis dan politis.

d) K. C. Wheare
Konstitusi adalah keseluruhan sistem ketatanegaraaan suatu negara yang berupa kumpulan
peraturan yang membentuk mengatur/memerintah dalam pemerintahan suatu negara.

B. Sistem Konstitusi Di Indonesia

Konsepsi Konstitusi Negara Indonesia bersumber pada Undang-Undang Dasar 1945. Mekenisme
konstitusional Demokrasi Pancasila Mekanisme pelaksanaan demokrasi Pancasila bersumber
pada konstitusi atau Undang-Undang Dasar 1945. Perihal mekanisme demokrasi pancasila telah
tercantum di dalam penjelasan UUD 1945, dan dijabarkan lebih lanjut dalam system
pemerintahan Negara sebagai berikut:

1. Indonesia ialah Negara berdasar atas hukum (rechstaat).

2. Indonesia menggunakan sistem konstitusional.

3. Kekuasaan Negara yang tertinggi ditangan MPR.

4. Presiden ialah penyelenggara pemerintahan Negara tertinggi dibawah majelis.

5. Presiden tidak bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat.

6. Menteri Negara adalah pembantu Presiden ; Menteri Negara tidak bertanggung jawab
kepadaDewan Perwakilan Rakyat.

7. Kekuasaan kepala Negara tidak terbatas.

C. Tujuan Konstitusi

Hukum pada umumnya bertujuan mengadakan tata tertib untuk keselamatan masyarakat yang
penuh dengan konflik antara berbagai kepentingan yang ada di tengah masyarakat. Tujuan
hukum tata negara pada dasarnya sama dan karena sumber utama dari hukum tata negara adalah
konstitusi atau Undang-Undang Dasar, akan lebih jelas dapat dikemukakan tujuan konstitusi itu
sendiri.

Tujuan konstitusi adalah juga tata tertib terkait dengan: a). berbagai lembaga-lembaga
negaradengan wewenang dan cara bekerjanya, b) hubungan antar lembaga negara, c)
hubunganlembaga negara dengan warga negara (rakyat) dan d) adanya jaminan hak-hak asasi
manusiaserta e) hal-hal lain yang sifatnya mendasar sesuai dengan tuntutan perkembangan
zaman.Tolok ukur tepat atau tidaknya tujuan konstitusi itu dapat dicapai tidak terletak pada
banyak atau sedikitnya jumlah pasal yang ada dalam konstitusi yang bersangkutan. Banyak
praktek di banyak negara bahwa di luar konstitusi tertulis timbul berbagai lembaga-lembaga
negara yang tidak kurang pentingnya dibanding yang tertera dalam konstitusi dan bahkan hak
asasi manusia yangtidak atau kurang diatur dalam konstitusi justru mendapat perlindungan lebih
baik dari yang telahtermuat dalam konstitusi itu sendiri. Dengan demikian banyak negara yang
memiliki konstitusitertulis terdapat aturan-aturan di luar konstitusi yang sifat dan kekuatannya
sama dengan pasal- pasal dalam konstitusi.

Pada prinsipnya, adanya konstitusi memiliki tujuan untuk membatasikewenangan pemerintah


dalam menjamin hak-hak yang diperintah danmerumuskan pelaksanaan kekuasaan yang
berdaulat. Secara spesifik C.FStrong memberikan batasan tentang tujuan konstitusi sebagaimana
dikutip Thaib sebagai berikut: are to limit the arbitrary action of the government, toquarantee the
right of the governed, and to define the operation of the sovereignpower (Thaba, 2001: 27).
Pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Loewenstein. Ia mengatakan bahwa konstitusi
merupakan sarana dasar untuk mengawasi proses-proses kekuasaan. Tujuan-tujuan adanya
konstitusi tersebut, secara ringkas dapat diklasifikasikan menjadi tiga tujuan, yaitu:

1. Konstitusi bertujuan untuk memberikan pembatasan sekaliguspengawasan terhadap


kekuasaan politik;
2. Konstitusi bertujuan untuk melepaskan kontrol kekuasaan daripenguasa itu sendiri;
3. Konstitusi bertujuan memberikan batasan-batasan ketetapan bagipara penguasa dalam
menjalankan kekuasaannya

D. Macam-Macam Konstitusi

1) Konstitusi tertulis dan konstitusi tidak dalam bentuk tertulis (written constitution and
unwritten constitution). Suatu konstitusi disebut tertulis bila berupa suatu naskah (Doumentary
Constitution), sedangkan konstitusi tidak tertulis tidak berupa suatu naskah (Non- Doumentary
Constitution) dan banyak di pengaruhi oleh tradisi konvensi. Contoh konstitusi Inggris yang
hanya berupa kumpulan dokumen. Contoh konstitusi Inggris yang hanya berupa kumpulan
dokumen.

2) Konstitusi fleksibel dan konstitusi rigid (flexible and rigid constitution). Yang dimaksud
dengan konstitusi yang fleksibel adalah konstitusi yang di amandemen tanpa adanya prosedur
khusus sedangkan konstitusi yang kaku adalah konstitusi yang mensyaratkan suatu adanya
prosedur khusus dalam melakukan amandemen. Dikatakan konstitusi itu flexible apabila
konstitusi itu memungkinkan adanya perubahan sewaktu-waktu sesuai perkembangan msyarakat
(contoh konstitusi Inggris dan Selandia baru). Sedangkan konstitusi itu dikatakan kaku atau rigid
apabila konstitusi itu sulit diubah sampai kapan pun (contoh : USA, Kanada, Indonesia dan
Jepang).

Ciri-ciri pokok, antara lain:

 Sifat elastis, artinya dapat disesuaikan dengan mudah


 Dinyatakan dan dilakukan perubahan adalah mudah seperti mengubah undang-undang

Konstitusi rigid mempunyai ciri-ciri pokok, antara lain:


 Memiliki tingkat dan derajat yang lebih tinggi dari undang-undang
 Hanya dapat diubah dengan tata cara khusus/istimewa

3) Konstitusi derajat tinggi dan konstitusi derajat tidak derajat tinggi (Supreme and not
supreme constitution). Konstitusi derajat tinggi, konstitusi yang mempunyai kedudukan tertinggi
dalam negara (tingkatan peraturan perundang-undangan). Sedangkan konstitusi tidak derajat
tinggi ialah konstitusi yang tidak mempunyai kedudukan serta derajat seperti konstitusi derajat
tinggi.

4) Konstitusi Negara Serikat dan Negara Kesatuan (Federal and Unitary Constitution). Bentuk
negara akan sangat menentukan konstitusi negara yang bersangkutan. Dalam suatu negara serikat
terdapat pembagian kekuasaan antara pemerintah federal (Pusat) dengan negara-negara bagian.
Hal itu diatur di dalam konstitusinya. Pembagian kekuasaan seperti itu tidak diatur dalam
konstitusi negara kesatuan, karena pada dasarnya semua kekuasaan berada di tangan pemerintah
pusat.

5) Konstitusi Pemerintahan Presidensial dan pemerintahan Parlementer (President Executive


and Parliamentary Executive Constitution).

Dalam sistem pemerintahan presidensial (strong) terdapat ciri-ciri antara lain:

 Presiden memiliki kekuasaan nominal sebagai kepala negara, tetapi juga memiliki
kedudukan sebagai Kepala Pemerintahan
 Presiden dipilih langsung oleh rakyat atau dewan pemilih
 Presiden tidak termasuk pemegang kekuasaan legislatif dan tidak dapat memerintahkan
pemilihan umum

Konstitusi dalam sistem pemerintahan parlementer memiliki ciri-ciri (Sri Soemantri) :

 Kabinet dipimpin oleh seorang Perdana Menteri yang dibentuk berdasarkan kekuatan
yang menguasai parlemen
 Anggota kabinet sebagian atau seluruhnya dari anggota parlemen
 Presiden dengan saran atau nasihat Perdana menteri dapat membubarkan parlemen dan
memerintahkan diadakan pemilihan umum.

E. Perubahan Dan Macam-Macam Perubahan Konstitusi

Dari segi tata bahasa kata Amandemen sama dengan amandement. Secara harfiah amandement
dalam bahasa Indonesia berarti mengubah. Mengubah maupun perubahan berasal dari kata dasar
ubah yang berarti lain atau beda. Mengubah mengandung arti menjadi lain sedang perubahan
diartikan hal berubahnya sesuatu; pertukaran atau peralihan. Dapat kita jabarkan bahwa
perubahan yang oleh John M Echlos dan Hasan Shadily juga disebut amandemen tidak saja
berarti menjadi lain isi serta bunyi ketentuan dalam UUD, akan tetapi juga mengandung sesuatu
yang merupakan tambahan pada ketentuan-ketentuan dalam UUD yang sebelumnya tidak
terdapat didalamnya. Menurut KC Wheare konstitusi itu harus bersifat kaku dalam aspek
perubahan. Empat sasaran yang hendak dituju dalam usaha mempertahankan Konstitusi dengan
jalan mempersulit perubahannya adalah:

1. Agar perubahan konstitusi dilakukan dengan pertimbangan yang masak, tidak secara
serampangan dan dengan sadar (dikehendaki).
2. Agar rakyat mendapat kesempatan untukmenyampaikan pandangannya sebelum
perubahan dilakukan.
3. Agar kekuasaan Negara serikat dan kekuasaan Negara bagian tidak diubah semata-mata
oleh perbuatan masing-masing pihak secara tersendiri.
4. Agar supaya hak-hak perseorangan atau kelompok, seperti kelompok minoritas agama
atau kebudayaannya mendapat jaminan.

Apabila kita amati mengenai system pembaharuan konstitusi di berbagai Negara terdapat dua
system yang berkembang yaitu renewel (pembaharuan) dan Amandement (perubahan). System
renewel adalah bila suatu konstitusi dilakukan perubahan (dalam arti diadakan pembaharuan)
maka yang berlaku adalah konstitusi baru secara keseluruhan. Sistem ini dianut di negara-negara
Eropa Kontinental. System Amandement adalah bila suatu konstitusi yang asli tetap berlaku
sedang hasil amandemen tersebut merupakan bagian atau dilampirkan dalam konstitusi asli.
Sistem ini dianut di Negara-negara Anglo Saxon.

Faktor utama yang menentukan pembaharuan UUD adalah berbagai pembaharuan keadaan di
masyarakat. Dorongan demokrasi, pelaksanaan paham Negara kesejahteraan (welfare state),
perubahan pola dan system ekonomi akibat industrialisasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi dapat menjadi kekuatan (forces) pendorong pembaharuan UUD. Demikian pula
dengan peranan UUD itu sendiri. Hanya masyarakat yang berkendak dan mempunyai tradisi
menghormati dan menjunjung tinggi UUD yang akan menentukan UUD dijalankan sebagaimana
semestinya.

Menurut KC Wheare, perubahan UUD yang timbul akibat dorongan kekuatan (forces) dapat
berbentuk:

1. Kekuatan tertentu dapat melahirkan perubahan keadaan tanpa mengakibatkan perubahan


bunyi tertulis dalam UUD. Yang terjadi adalah pembaharuan makna. Suatu ketentuan
UUD diberi makna baru tanpa mengubah bunyinya.
2. Kekuatan kekuatan yang melahirkan keadaan baru itu mendorong perubahan atas
ketentuan UUD, baik melalui perubahan formal, putusan hakim, hukum adat maupun
konvensi.

Secara Yuridis, perubahan konstitusi dapat dilakukan apabila dalam konstitusi tersebut telah
ditetapkan tentang syarat dan prosedur perubahan konstitusi. Perubahan konstitusi yang
ditetapkan dalam konstitusi disebut perubahan secara formal (formal amandement). Disamping
itu perubahan konstitusi dapat dilakukan melalui cara tidak formal yaitu oleh kekuatan-kekuatan
yang bersifat primer, penafsiran oleh pengadilan dan oleh kebiasaan dalam bidang
ketatanegaraan.
Menurut CF Strong ada empat macam cara prosedur perubahan konstitusi, yaitu:

1. Melalui lembaga legislatif biasa tetapi dibawah batasan tertentu. (By the ordinary
legislature, but under certain restrictions) Ada tiga cara yang diizinkan bagi lembaga
legislatif untuk melakukan amandemen konstitusi.

a) Untuk mengubah konstitusi siding legislatif harus dihadiri sekurang-kurangnya 2/3 jumlah
keseluruhan anggota lembaga legislatif. Keputusan untuk mengubah konstitusi adalah sah bila
disetujui oleh 2/3 dari jumlah anggota yang hadir.

b) Untuk mengubah konstitusi, lembaga legislatif harus dibubarkan lalu diselenggarakan


Pemilu. Lembaga legislatif yang baru ini yang kemudian melakukan amandemen konstitusi.

c) Cara ini terjadi dan berlaku dalam sistem dua kamar. Untuk mengubah konstitusi, kedua
kamar harus mengadakan sidang gabungan. Sidang inilah yang berwenang mengubah konstitusi
sesuai dengan syarat cara kesatu.

2. Melalui rakyat lewat referendum. (By the people through a referendum)

Apabila ada kehehendak untuk mengubah konstitusi maka lembaga negara yang berwenang
mengajukan usul perubahan kepada rakyat melalui referendum. Dalam referendum ini rakyat
menyampaikan pendapatnya dengan jalan menerima atau menolak usul perubahan yang telah
disampaikan kepada mereka. Penentuan diterima atau ditolaknya suatu usul perubahan diatur
dalam konstitusi

a) Melalui suara mayoritas dari seluruh unit pada Negara federal.( By a majority of all units of
a federal state). Cara ini berlaku pada Negara federal. Perubahan terhadap konstitusi ini harus
dengan persetujuan sebagian besar Negara bagian. Usul perubahan konstitusi diajukan oleh
Negara serikat tetapi keputusan akhir berada di tangan Negara bagian. Usul perubahan juga dapat
diajukan oleh Negara bagian.

b) Melalui konvensi istimewa.( By a special conventions)

Cara ini dapat dijalankan pada Negara kesatuan dan Negara serikat. Bila terdapat kehendak
untuk mengubah UUD maka sesuai ketentuan yang berlaku dibentuklah suatu lembaga khusus
yang tugas serta wewenangnya hanya mengubah konstitusi. Usul perubahan dapat berasal dari
masing-masing lembaga kekuasaan dan dapat pula berasal dari lembaga khusus tersebut. Bila
lembaga khusus tersebut telah melaksanakan tugas dan wewenangnya sampai selesai dengan
sendirinya dia bubar.

Pada dasarnya dua metode amandemen konstitusi yang paling banyak dilakukan di Negara-
negara yang menggunakan konstitusi kaku: pertama dilakukan oleh lembaga legislative dengan
batasan khusus dan yang kedua, dilakukan rakyat melalui referendum. Dua cara yang lain
dilakukan pada negara federal. Meski tidak universal dan konvensi istimewa umumnya hanya
bersifat permisif (dapat dipakai siapa saja dan dimana saja). Berdasarkan hasil penelitian
terhadap beberapa konstitusi dari berbagai Negara dapat dikemukaka hal-hal yang diatur dalam
konstitusi mengenai perubahan konstitusi, yaitu:

1. Usul inisiatif perubahan konstitusi.


2. Syarat penerimaan atau penolakan usul tersebut menjadi agenda resmi bagi lembaga
pengubah konstitusi.
3. Pengesahan rancangan perubahan konstitusi.
4. Pengumuman resmi pemberlakuan hasil perubahan konstitusi.
5. Pembatasan tentang hal-hal yang tidak boleh diubah dalam konstitusi.
6. hal-hal yang hanya boleh diubah melalui putusan referendum atau klausula
khusus.
7. Lembaga-lembaga yang berwenang melakukan perubahan konstitusi, seperti parlemen,
Negara bagian bersama parlemen, lembaga khusus, rakyat melalui referendum.

Perubahan Konstitusi menurut K.C.Wheare :

1. Some primary forces, Didorong oleh beberapa kekuatan yang muncul di dalam
masyarakat. Contoh: di Filipina, Cori terhadap pemerintahan Marcos.
2. Formal amandement, Secara formal – sesuai dengan apa yang diatur dalam konstitusi,
dalam hal ini didalam konstitusi kita diatur dalam pasal tentang perubahan yaitu pasal 37.
3. Judicial interpretation, Perubahan dilakukan oleh hukum, dalam hal ini biasanya adalah
oleh MA – melalui penafsiran MA. Sebagai contoh; dengan menafsirkan pasal II Tap
MPR No. VII/ MPR/2000 tentang Kewenangan presiden untuk mengangkat
memberhentikan Kapolri, dimana menurut pasal ini sebelum Presiden mengangkat
Kapolri harus dengan persetujuan DPR yang ketentuannya diatur dalam UU, tapi UU-nya
sendiri belum ada sedang situasi dan kondisi menghendaki pergantian tersebut di saat
seperti itu maka yang semestinya dilakukan penilaian terhadap apa yang dilakukan oleh
Presiden dengan mengangkat Kapolri baru tanpa persetujuan DPR adalah penafsiran MA
dengan menafsirkan Tap tersebut yaitu pasal 10.
4. Usage and convention, Berangkat dari aturan dasar yang tidak tertulis.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dapat disimpulakan bahwa konstitusi merupakan document social dan politik bangsa Indonesia
yang memuat konstatasi dasar tatanan bernegara, juga merupakan dokument hukum yang
kemudian dipelajari secara khusus menjadi hukum konstitusi (hukum tata negara) yang
merupakan hukum yang mendasari seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Disamping itu, konstitusi juga mempunyai tujuan sebagai berikut :

1. Berbagai lembaga-lembaga negara dengan wewenang dan cara bekerjanya.


2. Hubungan antar lembaga Negara.
3. Hubungan lembaga negara dengan warga negara (rakyat) dan.
4. Adanya jaminan hak-hak asasi manusia serta.

Dalam pembagian dan klasifikasinya, konstitusi dibagi sebagai berikut :

1. Konstitusi tertulis dan konstitusi tidak dalam bentuk tertulis (written constitution).
2. Konstitusi fleksibel dan konstitusi rigid (flexible and rigid constitution).
3. Konstitusi derajat tinggi dan konstitusi derajat tidak derajat tinggi (Supreme and not
supreme constitution
4. Konstitusi Negara Serikat dan Negara Kesatuan (Federal and Unitary Constitution).
5. Konstitusi Pemerintahan Presidensial dan pemerintahan Parlementer (President Executive
and Parliamentary Executive Constitution)