Anda di halaman 1dari 28

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Tn.

K
DENGAN DEFISIT PERAWATAN DIRI

Disusun Oleh :

1. Yussy Dian Pramita (P271820116063)


2. Della Estiana Nur A. (P271820116069)
3. Yunita Permata Sari (P271820116071)

III REGULER B

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SURABAYA
JURUSAAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN KAMPUS SOETOMO
SURABAYA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas kehendakNya
ini dapat selesai tepat pada waktunya. Penulisan ini bertujuan untuk memenuhi
tugas mata kuliah Keperawatan Jiwa. Adapun yang kami bahas dalam makalah ini
mengenai Asuhan Keperawatan Jiwa pada Tn.K dengan Defisit Perawatan Diri.
Dalam penulisan makalah ini kami menemui banyak hambatan yang
dikarenakan kurangnya Ilmu Pengetahuan kami mengenai perencanaan, peluang,
dan organisasi usaha. Oleh karena itu, kami berterima kasih kepada dosen
pembimbing kami yang telah memberikan ilmu berguna kepada kami.
Kami menyadari akan kemampuan kami yang masih kurang. Dalam
makalah ini kami sudah berusaha sebaik mungkin. Tapi kami yakin makalah ini
masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan juga
kritik membangun.
Harap kami, agar makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi orang
lain yang membacanya.

Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi
kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan
sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan
dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri ( Depkes 2000). Defisit
perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan
diri (mandi, berhias, makan, toileting) (Nurjannah, 2004).
Kurang perawatan diri pada klien dengan gangguan jiwa merupakan :
suatu keadaan dimana seseorang mengalami kerusakan kemampuan untuk
melakukan atau menyelesaikan ( kegiatan hidup sendiri ).
B. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk melakukan pengkajian pada pasien dengan gangguan jiwa DPD
2. Untuk menentukan diagnosa pada pasien dengan gangguan jiwa DPD
3. Untuk menentukan intervensi pada pasien dengan gangguan jiwa DPD
4. Untuk melakukan tindakan keperawatan pada pasien dengan gangguan jiwa DPD

BAB 2
LAPORAN PENDAHULUAN
DEFISIT PERAWATAN DIRI

A. Pengertian Defisit Perawatan Diri


Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi
kebutuhannya guna mempertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan
sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan
dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri ( Depkes 2000).
Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan
aktifitas perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting) (Maslim, 2001). Kurang
perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan
perawatan kebersihan untuk dirinya (Maslim, 2001).

B. Klasifikasi Defisit Perawatan Diri


1. Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihan
Kurang perawatan diri (mandi) adalah gangguan kemampuan untuk
melakukan aktivitas mandi/kebersihan diri.
2. Kurang perawatan diri : Mengenakan pakaian / berhias.
Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah gangguan kemampuan
memakai pakaian dan aktivitas berdandan sendiri.
3. Kurang perawatan diri : Makan
Kurang perawatan diri (makan) adalah gangguan kemampuan untuk
menunjukkan aktivitas makan.
4. Kurang perawatan diri : Toileting
Kurang perawatan diri (toileting) adalah gangguan kemampuan untuk
melakukan atau menyelesaikan aktivitas toileting sendiri.
(Nurjannah, 2004)

C. Etiologi Defisit Perawatan Diri


Menurut Maslim (2001), penyebab kurang perawatan diri adalah sebagai
berikut :
1. Kelelahan fisik
2. Penurunan kesadaran
Menurut (Dep Kes, 2000), Penyebab kurang perawatan diri adalah :
1. Faktor prediposisi
a. Perkembangan : Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien
sehingga perkembangan inisiatif terganggu.
b. Biologis : Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu
melakukan perawatan diri.
c. Kemampuan realitas turun : Klien dengan gangguan jiwa dengan
kemampuan realitas yang kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya
dan lingkungan termasuk perawatan diri.
d. Sosial : Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri
lingkungannya. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan
dalam perawatan diri.
2. Faktor presipitasi
Adalah kurang penurunan motivasi, kerusakan kogniti atau perseptual,
cemas, lelah/lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan individu
kurang mampu melakukan perawatan diri. Menurut Depkes (2000: 59) Faktor
yang mempengaruhi personal hygiene adalah:
a. Body Image : Gambaran individu terhadap dirinya sangat
mempengaruhi kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan fisik
sehingga individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya.
b. Praktik Sosial : Pada anak – anak selalu dimanja dalam kebersihan
diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene.
c. Status Sosial Ekonomi : Personal hygiene memerlukan alat dan
bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampo, alat mandi yang
semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya.
d. Pengetahuan : Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena
pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada
pasien penderita diabetes melitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.
e. Budaya : Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak
boleh dimandikan.
f. Kebiasaan seseorang : Ada kebiasaan orang yang menggunakan
produk tertentu dalam perawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo
dan lain – lain.
g. Kondisi fisik atau psikis : Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan
untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.
Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene.
a. Dampak fisik : Banyak gangguan kesehatan yang diderita
seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan
baik, gangguan fisik yang sering terjadi adalah : Gangguan integritas
kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga
dan gangguan fisik pada kuku.
b. Dampak psikososial : Masalah sosial yang berhubungan
dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman,
kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri
dan gangguan interaksi sosial.

D. Manifestasi Klinis Defisit Perawatan Diri


Menurut Depkes (2000) Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri
adalah :
1. Fisik
a. Badan bau, pakaian kotor.
b. Rambut dan kulit kotor.
c. Kuku panjang dan kotor.
d. Gigi kotor disertai mulut bau.
e. Penampilan tidak rapi.
2. Psikologis
a. Malas, tidak ada inisiatif.
b. Menarik diri, isolasi diri.
c. Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.
3. Sosial
a. Interaksi kurang.
b. Kegiatan kurang
c. Tidak mampu berperilaku sesuai norma.
d. Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok
gigi dan mandi tidak mampu mandiri.

E. Mekanisme Koping Defisit Perawatan Diri


1. Regresi
Kemunduran akibat stres terhadap perilaku dan merupakan ciri khas dari
suatu taraf perkembangan yang lebih dini
2. Penyangkalan (Denial)
Menyatakan ketidaksetujuan terhadap realitas dengan mengingkari realitas
tersebut. Mekanisme pertahanan ini adalah paling sederhana dan primitif.
3. Isolasi diri, menarik diri
Sikap mengelompokkan orang / keadaan hanya sebagai semuanya baik atau
semuanya buruk, kegagalan untuk memadukan nilai-nilai positif dan negatif
di dalam diri sendiri.
4. Intelektualisasi
Pengguna logika dan alasan yang berlebihan untuk menghindari
pengalaman yang menggangguperasaannya.

F. Rentang respon Kognitif


Asuhan yang dapat dilakukan keluarga bagi klien yang tidak dapat merawat
diri sendiri :
1. Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri :
a. Bina hubungan saling percaya
b. Bicarakan tentang pentingnya kebersihan
c. Kuatkan kemampuan klien merawat diri
2. Membimbing dan menolong klien merawat diri :
a. Bantu klien merawat diri.
b. Ajarkan keterampilan secara bertahap.
c. Buatkan jadwal kegiatan setiap hari.
3. Ciptakan lingkungan yang mendukung
a. Sediakan perlengkapan yang diperlukan untuk mandi.
b. Dekatkan peralatan mandi biar mudah dijangkau oleh klien.
c. Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi klien.
G. Pohon masalah
Perawatan diri kurang : Higiene

Perawatan diri kurang : Higiene

Menurunnya motivasi perawatan diri

Isolasi sosial : Menarik diri


I. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji
A. Masalah keperawatan
1. Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri
2. Defisit perawatan diri : mandi, berdandan
3. Isolasi sosial : menarik diri
4. Data yang perlu dikaji
B. Data Subyektif:
Mengatakan malas mandi, tak mau menyisir rambut, tak mau
menggosok gigi, tak mau memotong kuku, tak mau berhias, tak bisa
menggunakan alat mandi / kebersihan diri.
Data Obyektif:
Badan bau, pakaian kotor, rambut dan kulit kotor, kuku panjang dan
kotor, gigi kotor, mulut bau, penampilan tidak rapih, tak bisa
menggunakan alat mandi.

II. Diagnosa Keperawatan


A. Defisit perawatan diri
1. Defisit Perawatan Diri : Mandi
2. Defisit Perawatan Diri : Berhias
3. Defisit Perawatan Diri : Makan
4. Defisit Perawatan Diri : Toileting
B. Resiko integritas kulit
C. Isolasi sosial : menarik diri

PENGKAJIAN DEFISIT PERAWATAN DIRI


Menurut Stuart dan Laraia (2001), pengkajian merupakan tahapan awal dan
dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan
data meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Data pada pengkajian
kesehatan jiwa dapat dikelompokkam menjadi faktor predisposisi, faktor
presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping
yang dimiliki klien. Berbagai aspek pengkajian sesuai dengan pedoman
pengkajian umum, pada formulir pengkajian proses keperawatan.
Pengkajian menurut Maslim (2001) meliputi beberapa faktor antara lain:
1. Identitas klien dan penanggung
Yang perlu dikaji yaitu: nama, umur, jenis kelamin, agama, suku, status,
pendidikan, pekerjaan, dan alamat.
2. Alasan masuk rumah sakit
Umumnya klien halusinasi di bawa ke rumah sakit karena keluarga merasa
tidak mampu merawat, terganggu karena perilaku klien dan hal lain, gejala
yang dinampakkan di rumah sehingga klien dibawa ke rumah sakit untuk
mendapatkan perawatan.
3. Pemeriksaan fisik
Yang dikaji adalah tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernafasan dan tekanan
darah), berat badan, tinggi badan serta keluhan fisik yang dirasakan klien.
4. Status Mental
Pengkajian pada status mental meliputi:
a. Penampilan: tidak rapi, tidak serasi dan cara berpakaian
b. Pembicaraan: terorganisir atau berbelit-belit
c. Aktivitas motorik: meningkat atau menurun
d. Alam perasaan: suasana hati dan emosi
e. Afek: sesuai atau maladaptif seperti tumpul, datar, labil dan ambivalen
f. Interaksi selama wawancara: respon verbal dan nonverbal.
g. Persepsi : ketidakmampuan menginterpretasikan stimulus yang ada sesuai
dengan informasi.
h. Proses pikir: proses informasi yang diterima tidak berfungsi dengan baik
dan dapat mempengaruhi proses pikir.
i. Isi pikir: berisikan keyakinan berdasarkan penilaian realistis.
j. Tingkat kesadaran: orientasi waktu, tempat dan orang.
k. Memori
1) Memori jangka panjang: mengingat peristiwa setelah lebih setahun
berlalu
2) Memori jangka pendek: mengingat peristiwa seminggu yang lalu dan
pada saat dikaji.
l. Kemampuan konsentrasi dan berhitung: kemampuan menyelesaikan tugas
dan berhitung sederhana.
m. Kemampuan penilaian: apakah terdapay masalah ringan sampai berat
n. Daya tilik diri: kemampuan dalam mengambil keputusan tentang diri.
Kebutuhan persiapan pulang: yaitu pola aktifitas sehari-hari termasuk
makan dan minum, BAB dan BAK, istirahat tidur, perawatan diri,
pengobatan dan pemeliharaan kesehatan sera aktifitas dalam dan luar
ruangan.

I. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data yang didapat ditetapkan diagnosa keperawatan Defisit
Perawatan Diri (DPD) : Kebersihan diri, berhias, makan dan BAB/BAK
(eliminasi).

J. Tindakan Keperawatan
1. Tindakan keperawatan pada pasien
a) Melatih pasien cara perawatan kebersihan diri dengan cara:
1. Menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan diri.
2. Menjelaskan alat-alat untuk menjaga kebersihan diri.
3. Menjelaskan cara-cara melakukan kebersihan diri.
4. Melatih pasien mempraktikkan cara menjaga kebersihan diri.
b) Membantu pasien latihan berhias.
Latihan berhias pada pria harus dibedakan dengan wanita. Pada pasien
laki-laki, latihan meliputi latihan berpakaian, menyisir rambut, dan bercukur,
sedangkan pada pasien perempuan, latihan meliputi latihan berpakaian,
menyisir rambut, dan berhias/berdandan.
c) Melatih pasien makan secara mandiri dengan cara:
1. Menjelaskan cara mempersiapkan makan.
2. Menjelaskan cara makan yang tertib.
3. Menjelaskan cara merapikan peralatan makan setelah makan.
4. Mempraktikkan cara makan yang baik.
d) Mengajarkan pasien melakukan BAB/BAK secara mandiri dengan cara:
1. Menjelaskan tempat BAB/BAK yang sesuai.
2. Menjelaskan cara membersihkan diri setelah BAB/BAK
3. Menjelaskan cara membersihkan tempat BAB dan BAK.

SP 1 pasien: Mendiskusikan pentingnya kebersihan diri, cara-cara


merawat diri dan melatih pasien tentang cara-cara perawatan kebersihan
diri.
SP 2 pasien: Melatih pasien berhias (Laki-laki: berpakaian, menyisir
rambut, dan bercukur. Perempuan: berpakaian, menyisir rambut, dan
berhias).
SP 3 pasien: Melatih pasien makan secara mandiri (menjelaskan cara
mempersiapkan makan, menjelaskan cara makan yang tertib, menjelaskan
cara merapikan peralatan makan setelah makan, praktik makan sesuai
dengan tahapan makan yang baik).
SP 4 pasien: Mengajarkan pasien melakukan BAB/BAK secara mandiri
(menjelaskan tempat BAB/BAK yang sesuai, menjelaskan cara
membersihkan diri setelah BAB dan BAK, menjelaskan cara
membersihkan tempat BAB dan BAK.

2. Tindakan Keperawatan Keluarga


a. Diskusikan dengan keluarga tentang masalah yang dihadapi keluarga
dalam merawat pasien.
b. Jelaskan pentingnya perawatan diri untuk mengurangi stigma.
c. Diskusikan dengan keluarga tentang fasilitas kebersihan diri yang
dibutuhkan oleh pasien untuk menjaga perawatan diri pasien.
d. Anjurkan keluarga untuk terlibat dalam merawat diri pasien dan membantu
mengingatkan pasien dalam merawat diri (sesuai jadwal yang telah
disepakati).
e. Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian atas keberhasilan
pasien dalam merawat diri.
f. Bantu keluarga melatih cara merawat pasien defisit perawatan diri.

SP 1 keluarga: Memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang


masalah perawatan diri dan cara merawat anggota keluarga yang
mengalami masalah defisit perawatan diri.
SP 2 keluarga: Melatih keluarga cara merawat pasien.
SP 3 keluarga: Membuat perencanaan pulang bersama keluarga.

3. Terapi aktivitas kelompok (TAK)


Terapi kelompok yang dapat diberikan untuk pasien dengan masalah defisit
perawatan diri adalah: TAK stimulasi persepsi: perawatan diri.
a. Sesi 1: Manfaat perawatan diri
b. Sesi 2: Menjaga kebersihan diri
c. Sesi 3: Tata cara makan dan minum
d. Sesi 4: Tata cara eliminasi
e. Sesi 5: Tata cara berhias
BAB 3
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA PASIEN TN. K
DENGAN DEFISIT PERAWATAN DIRI

Pengkajian dilakukan pada hari kamis pada tanggal 2 Juli 2015, Tn.Kokon
hasil pengkajian dari keluarga selama klien di rumah klien selalu di kamar, jarang
berbicara, tidak mau mandi selama 5 hari, badan bau tampak kotor tidak sikat
gigi, rambut acak-acakan kuku tangan dan kaki sudah panjang selama di rumah
klien tidak mau di motivasi untuk mandi.

A. PENGKAJIAN
1. Identitas
a) Identitas pasien
Nama klien : Tn. K
Umur : 35 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Agama : Islam
Alamat : Jl. Sultan Agung
b) Identitas penanggung jawab
Nama klien : Ny. L
Umur : 30 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jl. Sultan Agung
Hubungan dengan klien : Istri
c) Identitas rumah sakit
Tanggal masuk : 2 juli 2015
Ruang : Kamboja
DX. Medis : Defisit Perawatan Diri
No. RM : 21089
2. Alasan masuk
Keluarga klien mengatakan klien selalu di kamar, jarang berbicara, tidak mau
mandi selama 5 hari, badan bau, tidak sikat gigi, rambut acak-acakan, kuku tangan
dan kaki sudah panjang, selama di rumah klien tidak mau di motivasi untuk
mandi.

3. Faktor predisposisi
a. Riwayat penyakit sekarang
pasien mengeluuh sulit merawat dirinya, sulit berpakaian, tidak mau mandi
selama 5 hari, badan bau dan tampak kotor.
b. Riwayat penyakit dahulu
Keluarga klien mengatakan klien tidak pernah mengalami gangguan jiwa seperti
saat ini
c. Riwayat penyakit keluarga
Keluarga klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang mengalami gangguan
jiwa.
4. Pemeriksaan fisik
a. Survei umum
Tanda - tanda vital :
TD = 120/80 mmHg,
N = 70 x/mnt,
S = 37, 2 °C dan
RR = 18 x/mnt.
Berat badan 80 kg, tinggi badan 170 cm
b. Pemeriksaan Fisik
1) Kepala, leher
Kepala : rambut pasien kusam, acak-acakan dan kusut, berwarna hitam, pada saat
dipalpasi tidak terdapat benjolan dan nyeri tekan pada kepala.
Leher : tidak terdapat pembesaran vena jugularis, tidak terdapat nyeri tekan.
2) Mata
Bentuk mata simetris, penglihatan baik, tidak memakai alat bantu penglihatan.
3) Telinga
Bentuk simetris, pendengaran baik dibuktikan Tn. K dapat menjawab pertanyaan
perawat, telinga kotor

4) Hidung
Hidung Tn. K simetris, fungsi penciuman baik, tidak terdapat polip.
5) Mulut
Bibir Tn. K simetris, gigi Tn. K kotor, mukosa bibir kering, kotor dan mulut bau.
6) Integumen
Warna kulit hitam, kulit tampak kering dan terlihat kotor, turgor kulit kering
7) Dada
a. Dada : Simetris, tidak ada kelainan bentuk,
tidak ada sesak nafas
b. Abdomen : Tidak ada nyeri tekan pada
Abdomen, tidak asietas, tidak ada luka memar
c. Ekstremitas:
Ektremitas atas : Tangan kanan terpasang infus,
Ekstremitas bawah : kedua kaki nyeri, kaki terasa nyeri untuk berjalan.
d. Genetalia : kotor
5. Psikososial
a. nogram
Keterangan :

Perempuan pasien

Laki-laki garis keturunan

Meninggal tinggal serumah

b. Pola istirahat dan tidur


Sebelum masuk RS : pasien tidak mengalami gangguan tidur. Kualitas tidur
sekitar 3 jam pada siang hari dari jam 12.00 WIB – 15.00 WIB dan 7 jam pada
malam hari dari jam 22.00 WIB – 05.00 WIB
Setelah masuk RS : kualitas tidur pasien terganggu karena sulit merawat diri,
pasien di RS tidur sekitar 2 jam pada siang hari dari jam 13.00 WIB – 15.00 WIB
dan 5 jam pada malam hari dari jam 24.00 WIB – 05.00 WIB.
c. Pola Persepsi dan Kognitif
Pendengeran dan penglihatan pasien tidak mengalami gangguan, pasien masih
bisa mendengar dan melihat dengan jelas, pasien kurang mampu berkomunikasi
dengan lancar.
d. Pola persepsi dan konsep diri
Klien tidak mengalami gangguan persepsi sensori ilusi dan halusinasi, baik itu
halusinasi pendengaran, penglihatan, perabaan, pengecapan, dan penghidu.
e. Pola Peran dan Hubungan
Pasien berperan sebagai ayah dan tulang punggung keluarga.
f. Pola reproduksi dan seksual
Selama pernikahan dengan istrinya pasien dikaruniai 1 orang anak. Selama di RS
pasien tidak pernah melakukan hubungan seksual lagi.
g. Pola Kooping Terhadap Strees
Dalam menghadapi masalah, pasien selalu menyembunyikannya
h. Pola Tata Nilai dan Kepercayaan
Pasien tinggal dalam lingkungan muslim. Sebelum sakit ia bisa melakuka shalat,
setelah sakit, klien tidak bisa shalat
6. Status Mental
a) Penampilan
Penampilan klien kurang rapi, pakaian kotor dan jarang mandi
b) Pembicaraan
Klien berbicara dengan nada yang pelan dan lambat, tidak jelas dan sulit
dimengerti. Namun klien tidak mampu untuk memulai pembicaraan kepada orang
lain.
c) Aktivitas motorik
Klien tampak lesu, malas beraktivitas, klien lebih sering berdiam diri dan sering
menghabiskan waktunya ditempat tidur.
d) Afek dan Emosi
 Afek klien tumpul, berespon apabila di berikan stimulus yang kuat.
 Emosi klien stabil. Pasien mengatakan saat ini sedih karna tidak pernah lagi
dijenguk keluarganya.
e) Interaksi selama wawancara
Selama wawancara kontak mata klien baik, pasien tampak ragu dalam menjawab
pertanyaan perawat sehingga perawat harus mengulangi beberapa pertanyaan
kepada klien, tingkat konsentrasi klien baik, ditandai dengan ketika wawancara,
klien terfokus kepada perawat. Selain itu klien tidak memiliki keinginan untuk
berinteraksi kecuali perawat yang memulai.
f) Alam perasaan
Klien mengatakan merasa sedih karena rindu dengan keluarga, klien juga
mengatakan merasa sedih dan marah karena tidak pernah di jenguk keluarganya
g) Tingkat kesadaran
Tingkat kesadaran klien bingung. klien mengalami gangguan orientasi tempat,
terbukti dengan klien mengatakan bahwa dirinya berada di rumah sakit. Orientasi
waktu klien baik di buktikan dengan klien mengetahui hari dan tanggal.
h) Memori
Klien mengalami gangguan daya ingat jangka panjang, namun klien mengalami
gangguan mengingat jangka pendek dan saat ini. Dibuktikan dengan klien masih
ingat ketika dibawa ke rumah sakit dan nama perawat yang setiap hari
merawatnya.

i) Tingkat konsentrasi dan berhitung


Klien mampu untuk berkonsentrasi penuh, klien mampu berhitung sederhana
dibuktikan dengan klien dapat menyebutkan perhitungan dari 1-10 dan sebaliknya
dari 10-1.
j) Kemampuan penilaian
Klien tidak ada masalah pada kemampuan penilaian, terbukti dengan pada saat
diberi pilihan mau makan setelah mandi atau mandi setelah makan, klien memilih
makan setelah mandi.
k) Daya tilik diri
Klien mengatakan ia tidak tahu sedang sakit apa, ia bertanya-tanya mengapa saya
diberi obat yang efek sampingnya membuat saya mengantuk dan lemah.
7. Kebutuhan Persiapan Pulang
a) Kemampuan klien memenuhi kebutuhan
Klien tidak mampu memenuhi kebutuhan mandi, ganti pakaian, personal hygine,
makan dan minum secara mandiri, sedangkan untuk kebutuhan lainnya seperti
keamanan, perawatan kesehatan, pakaian, transportasi, tempat tinggal, keuangan
dan lain-lain belum dapat dipenuhi secara mandiri.
8. Mekanisme Koping
Klien mengatakan apabila memiliki masalah lebih baik menghindar dari malasah
tersebut, dan jika ada masalah, klien akan menceritaan pada istrinya
9. Masalah Psikososial dan Lingkungan
Klien mempunyai masalah dengan lingkungannya, karena jarang berinteraksi
dengan orang lain. Klien lebih suka menyendiri daripada berkumpul dengan orang
lain.
10. Pengetahuan Tentang Masalah Kejiwaan
Klien mengatakan ia tidak tahu ia sakit apa, dan ia juga bingung mengapa ia diberi
obat yang efek sampingnya akan membuat ia menjadi mengantuk dan lemah,
klien juga mengatakan saat dirumah pernah diberi obat, namun klien malas untuk
meminum obat tersebut karena akan membuatnya
B. ANALISA DATA
Hari/tgl/jam No. Masalah
Data Fokus Paraf
DX keperawatan
Kamis, 1. DS: Defisit perawatan
2 juli 2015  Keluarga klien mengatakan klien tidak diri
16.00 WIB mau mandi selama 5 hari.
 Klien tidak mau di motivasi untuk mandi
DO:.
 Keadaan pasien tampak bau.
 Bau mulut tidak pernah sikat gigi.
 Klien tampak rambut acak-acakan
 Kuku tangan dan kaki sudah panjang.
Kamis, 2. DS Penurunan
2 juli 2015  Keluarga klien mengatakan tidak mau kemampuan dan
16.00 WIB mandi, tidak mau ganti baju motivasi merawat
DO diri
 Apatis, ekspresi sedih, selalu menyendiri,
komunikasi kurang,
Kamis, 3. DS : Isolasi sosial
2 juli 2015  Keluarga klien di rumah klien selalu di
16.00 WIB kamar .
DO :
 Klien tampak menyendiri

C. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN


1. Defisit perawatan diri
2. Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri
3. Isolasi sosial

D. POHON MASALAH
Penurunan kemampuan dan motivasi merawat diri
Defisit perawatan diri

Isolasi sosial
E. INTERVENSI
Rencana tindakan
DX. Kep. Rasional
Tujuan Kriteria evaluasi Tindakan kep.
Defisit TUM: - Klien mampu menjaga SP I :
Perawatan Klien mampu melakukan kebersihan diri secara1. Identifikasi masalah pera-watan2. Mengetah
Diri perawatan diri: higiene. mandiri diri: kebersihan diri, berdandan, ui permasalahan yang terjadi pada
TUK I : - Klien mampu menyebut- makan/minum, BAK/BAB diri klien
- Klien dapat menyebutkan kan pengertian dan2. Jelaskan pentingnya kebersi-han3. Agar
pengertian dan tanda- tanda-tanda kebersihan diri diri klien tahu pentingnya kebersihan
tanda kebersihan diri - Klien dapat mengetahui3. Jelaskan cara dan alat kebersihan diri
- Klien dapat mengetahui pentingnya kebersihan diri diri 4. Memberit
pentingnya kebersihan diri 4. Latih cara menjaga kebersihan ahu klien bagaimana cara
- Klien dapat mengetahui diri: mandi dan ganti pakaian, perawatan diri dan alat yang
bagaimana cara menjaga sikat gigi, cuci rambut, potong digunakannya
kebersihan diri. kuku 5. Agar
5. Masukan pada jadwal kegiatan klien bisa melakukan kebersihan
untuk latihan mandi, sikat gigi diri secara mandiri
(2x sehari), cuci rambut (2x
perminggu), potong kuku (1x
perminggu).
TUK II : Klien dapat Klien mampu mengganti SP II :
berdandan secara mandiri baju secara rutin, menyisir1. Evaluasi kegiatan kebersi-han1. Untuk mengetahui kemajuan klien
rambut dan memotong diri. Beri pujian. dalam merawat diri dan sebagai
kuku. respon positif terhadap tindakan
2. Jelaskan cara dan alat untuk klien
berdandan. 2. Memberitahu klien bagaimana cara
3. Latih cara berdandan setelah berdandan dan alat yang
kebersihan diri: sisiran, rias digunakannya
muka untuk perempuan; sisiran,3. Agar klien bisa berdandan secara
cukuran untuk pria. mandiri
4. Masukan pada jadwal kegiatan4. Agar klien terbiasa dengan kegiatan
untuk kebersihan diri dan yang telah diajarkan
berdandan.
F. CATATAN PERKEMBANGAN
SP I :
IMPLEMENTASI EVALUASI
DATA : : Saat ditanya, klien
- Klien mengatakan malas untuk mandi dan mengatakan akan menjaga
berdandan, merasa lebih nyaman dengan kebersihan dirinya.
kondisi seperti ini ( tidak mau mandi).
- Bila diminta mandi klien marah-marah, : - Penampilan klien terlihat
klien tampak rambut acak-acakan dan lebih rapi
banyak kutu, kuku panjang dan hitam, - Klien menjawab pertanyaan
kulit kotor, tampak malas untuk menyisir perawat tentang cara menjaga
rambut dan ganti pakaian harus disuruh kebersihan.
petugas
DIAGNOSA : : Defisit perawatan diri belum
Defisit perawatan diri teratasi
THERAPHY :
1. Mengidentifikasi masalah perawatan diri: : Anjurkan klien untuk
kebersihan diri, berdandan, menjaga kebersihan dirinya
makan/minum, BAK/BAB.
2. Menjelaskan pentingnya kebersihan diri.
3. Membantu pasien mempraktekkan cara
menjaga kebersihan.
4. Menjelaskan cara menjaga kebersihan.
5. Menganjurkan klien memasukkan dalam
jadwal kegiatan harian.
RTL :
1. Bantu klien cara membersihkan dirinya
2. Ajarkan cara berdandan pada diri klien
SP II:

IMPLEMENTASI EVALUASI
DATA : : klien mengatakan mau
- Mengatakan tidak mau mandi, tidak mau mandi dan sikat gigi
sikat gigi, tidak menyisir rambut, tidak mau
ganti baju, tidak mau memotong kuku. : - Klien tampak lebih
- Rambut klien terlihat panjang dan tampak bersih
acak-acakan, kuku klien panjang dan kotor. - Rambut klien terlihat
DIAGNOSA : rapi, dan tidak kotor
Defisit perawatan diri
THERAPHY : : Gangguan berdandan pada
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien diri klien (-)
2. Menjelaskan cara berdandan
3. Membantu klien mempraktekkan cara : - Menganjurkan klien
berdandan untuk memasukkan dalam
4. Menganjurkan klien memasukkan dalam jadwal harian
jadwal kegiatan harian - Berikan reinforcement
RTL : atas usaha yang klien lakukan
Ajarkan klien bagaiman cara memenuhi
kebutuhan makan minum yang baik
BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN
Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada Tn. T dengan gangguan
defisit perawatan diri, maka dapat disimpulkan :
1. Pengkajian yang dilakukan tanggal 19 AGUSTUS 2010 klien dengan diagnosa
keperawatan defisit perawatan diri, diperoleh data subjektif klien mengatakan
malas mandi dan keramas jika rambutnya bau, jarang menyisir rambut
Data obyektifnya penampilan klien tidak terawat, rambut klien terlihat kotor dan
tercium bau
kurang enak,
3. Diagnosa keperawatan yang penulis temukan pada klien adalah : defisit
perawatan diri.
4. Rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi diagnosa pada klien dengan
defisit perawatan diri adalah membina hubungan saling percaya, klien
mampu menjelaskan pentingnya perawatan diri, klien dapat melaksanakan
cara makan, mandi, berhias, toileting dengan benar, mandiri dan memasukan
dalam kegiatan harian klien.
5. Implementasi pada klien dengan defisit perawatan diri yaitu mendiskusikan
pentingnya perawatan diri, mengajarkan klien makan, mandi, berhias,
toileting dengan benar dan mandiri, mengajarkan klien untuk memasukan ke
jadwal kegiatan harian.
6. Evaluasi pada klien dengan defisit perawatan diri adalah masalah teratasi
sebagian, ini dikarenakan klien masih belum mampu untuk melakukan
perawatan diri secara mandiri dan teratur.
B. SARAN
1. Bagi pasien
Hendaknya klien sering berlatih untuk meningkatkan perawatan diri dan
melakukan perawatan diri secara mandiri dan teratur.
2. Bagi keluarga
Hendaknya sering mengunjungi klien di rumah sakit, sehingga keluarga
dapat mengetahui perkembangan kondisi klien dan dapat membantu perawat
dalam pemberian asuhan keperawatan bagi klien.
DAFTAR PUSTAKA

Maslim, Rusdi Dr. 2001. Diagnosis Gangguan Jiwa. Jakarta: Nuh Jaya