Anda di halaman 1dari 6

Persyaratan umum perijinan SPBU yang harus dipenuhi calon mitra setelah

calon mitra dinyatakan sebagai pemenang di lokasi yang diajukan,


berdasarkan surat resmi dari PT. Pertamina.

Persyaratan Permohonan Ijin Baru


* Persyaratan permohonan ijin SPBU sebagai berikut:
1. Foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP) pemilik/pimpinan badan
usaha;
2. Biodata perusahaan/akta pendirian perusahaan (untuk badan
usaha);
3. Lay out bangunan SPBU dan konfigurasi SPBU yang akan dibangun;
4. Peta lokasi skala 1:10.000 atau lebih besar, dan peta topografi/rupa
bumi skala 1:25.000 yang memperlihatkan titik lokasi rencana
pendirian SPBU;
5. Foto copy ijin peruntukan penggunaan tanah (IPPT) sesuai dengan
skala kegiatan;
6. Foto copy ijin gangguan (HO);
7. Foto copy Ijin Mendirikan Bangunan (IMB);
8. Bukti pengesahan meter pompa SPBU dari instansi yang berwenang;
9. Foto copy ijin timbun tangki dari instansi yang berwenang;
10. Dokumen pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan skala
kegiatan.
11. Fotokopi surat izin pembangunan SPBU dari Jasamarga (khusus bagi
pendaftar yang memiliki lokasi dijalan tol).
12. Nama Kelurahan di sertifikat tanah harus sesuai dengan lokasi
pendirian SPBU yang didaftarkan.

Hasil verifikasi kemudian menjadi bahan rekomendasi untuk persetujuan


pendirian SPBU/SPPB.
Rincian Modal Usaha SPBU hingga Beroperasi

Banyak celah bisnis yang saat ini masih terbuka lebar. Peluang tersebut
tentunya bisa mendatangkan keuntungan yang tak sedikit bila mampu
mengelolanya dengan baik. Salah satu peluang bisnis yang cukup
menggiurkan adalah usaha SPBU. Memang tidak banyak yang bergelut di
bidang usaha ini. Salah satu alasan klasik adalah modal awal yang
diperlukan tidak sedikit. Bahkan, beredar kabar untuk mendirikan sebuah
SPBU dibutuhkan dana miliaran rupiah.

Saat ini usaha SPBU telah menjadi salah satu bisnis yang sangat
menjanjikan. Hal ini disebabkan besarnya keuntungan per hari yang bisa
didapatkan oleh SPBU tersebut, walaupun resiko untuk mengalami
kerugian juga cukup besar. Sebagai contoh SPBU bersertifikat PastiPas
Silver yang perkiraan marginnya adalah sebesar Rp 235. Jika SPBU
tersebut mampu menjual premium sebanyak 10.000 liter per hari, maka
total keuntungan kotor yang didapatkan setiap harinya adalah sebesar Rp
235 X 10.000 liter = Rp 2.350.000. Tentunya keuntungan ini belum
dikurangi biaya operasional dan biaya penguapan (kalau ada).

Sebagaimana halnya dengan jenis-jenis bisnis lainnya, bisnis SPBU juga


tidak lepas dari kemungkinan untuk mengalami kerugian yang besar.
Kerugian tersebut bisa disebabkan oleh hal-hal yang tidak terduga. Sebagai
contoh ketika pemerintah menetapkan harga BBM untuk premium pada
tanggal 1 Januari 2015 menjadi sebesar Rp 7.600 per liter, sementara pada
hari sebelumnya para pengusaha SPBU sudah membeli stok premium
dengan harga Rp 8.500 per liter. Bisa dibayangkan besarnya kerugian yang
dialami oleh pihak SPBU. Menurut informasinya, kerugian total pengusaha
SPBU yang dialami 5.300 SPBU di seluruh wilayah Indonesia mencapai Rp
127 miliar.

Rincian Modal Usaha SPBU hingga Beroperasi


Diprediksi bahwa perkiraan modal awal atau modal usaha SPBU hingga
beroperasi adalah kisaran Rp 8 miliar hingga Rp 20 miliar. Perkiraan
tersebut tergantung pada harga tanah yang akan dibangun SPBU di
atasnya. Jika lokasi tanah tersebut strategis, maka modal awal tentu lebih
besar, tetapi waktu untuk kembali modal juga lebih cepat.

Modal usaha SPBU bagi pebisnis pemula sebesar Rp 8 miliar sampai Rp 20


miliar di atas dipergunakan untuk mempersiapkan hal-hal yang harus
terpenuhi dalam mendirikan SPBU. Hal-hal tersebut sudah merupakan
ketetapan dari pihak PT Pertamina. Hal-hal tersebut terdiri dari:

1. Biaya Persyaratan Lokasi

Untuk persyaratan lokasi SPBU, pihak PT Pertamina telah menetapkan


ketentuan bahwa jika lahan yang akan dibanguni SPBU terletak di jalan
besar atau jalan utama, maka dipersyaratkan luasnya haruslah memiliki
ukuran minimal 1.800 meter persegi. Sedangkan untuk akses jalan lokal
minimal 1.000 meter persegi.

SPBU sendiri terdiri dari tiga tipe, yaitu Type A, B, dan C. Untuk SPBU tipe
:

A. dipersyaratkan Type A memiliki luas lahan minimal berukuran


1.800 meter persegi, lebar muka minimal 20 meter, lebar samping
minimal 90 meter.

B. Untuk SPBU Type B dipersyaratkan memiliki luas lahan minimal


berukuran 1.500 meter persegi, lebar muka minimal 20 meter, lebar
samping minimal 75 meter.

C. Adapun SPBU Type C dipersyaratkan memiliki luas lahan minimal


berukuran 1.500 meter persegi, lebar muka minimal 20 meter, lebar
samping minimal 65 meter. Dari penjelasan di atas bisa tergambar
besarnya modal awal yang harus dipersiapkan hanya untuk membeli
lahan saja, belum termasuk persiapan modal usaha SPBU hingga
beroperasi yang lainnya.
2. Biaya Perizinan

Di antara alokasi dana modal usaha SPBU sebesar Rp 8 miliar sampai Rp


20 miliar tersebut adalah biaya perizinan. Dalam hal ini, pihak PT
Pertamina telah menetapkan beberapa persyaratan umum perizinan yang
harus terpenuhi. Persyaratan-persyaratan tersebut adalah:

 Menyetor foto copy KTP pemilik badan usaha

 Biodata perusahaan atau akta pendirian perusahaan

 Lay out bangunan SPBU

 Peta lokasi SPBU dalam skala 1:10.000 atau lebih besar, serta peta
topografi dalam skala 1:25.000

 Foto copy IPPT (Izin peruntukan penggunaan tanah)

 Foto copy ijin gangguan

 Foto copy IMB (Izin mendirikan bangunan)

 Bukti telah mendapatkan pengesahan meter pompa SPBU dari


instansi yang berwenang

 Foto copy ijin timbun tangki dari instansi yang berwenang

 Dokumen pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan skala


kegiatan

 Fotokopi surat izin pembangunan SPBU dari Jasamarga (khusus bagi


pendaftar yang memiliki lokasi di jalan tol)

 Nama Kelurahan yang tercatat di sertifikat tanah harus betul-betul


sesuai dengan lokasi pendirian SPBU yang didaftarkan
3. Biaya Pengadaan Sarana dan Prasarana

Di antara alokasi dana modal usaha SPBU bagi pebisnis pemula sebesar Rp
8 miliar sampai Rp 20 miliar tersebut adalah untuk biaya pengadaan
sarana dan prasarana yang telah ditetapkan oleh pihak PT Pertamina.
Adapun rinciannya adalah sebagai berikut:

 Sarana pemadam kebakaran yang sesuai dengan pedoman PT


Pertamina;

 Sarana lindungan lingkungan yang mencakup instalasi pengolahan


limbah, Instalasi oil catcher dan well catcher, Instalasi sumur pantau,
serta Saluran bangunan/drainase sesuai dengan pedoman PT
Pertamina;

 Sistem keamanan yang mencakup adanya pipa ventilasi tangki


pendam, adanya ground point/strip tahan karat, adanya dinding
pembatas/pagar pengaman, serta terdapat rambu-rambu tanda
peringatan;

 Sistem pencahayaan berupa lampu penerangan yang betul-betul


menerangi seluruh jalur dan area pengisian BBM, serta papan
penunjuk SPBU yang mudah dilihat oleh para pengendara;

 Peralatan dan kelengkapan filling BBM sesuai dengan standar PT.


Pertamina berupa tangki pendam, pompa, serta pulau pompa;

 Peralatan pencegahan seperti racun api, sensor api, perangkat


pemadam kebakaran;

 Perlengkapan peralatan dan fasilitas umum seperti lambang


pertamina, generator, musholla, toilet, lahan parkir, serta instalasi air
dan listrik yang memadai;

 Perlengkapan rambu-rambu standart PT.Pertamina seperti jagalah


kebersihan, dilarang menggunakan telepon seluler, dilarang merokok,
serta tata cara penggunaan alat pemadam kebakaran;
Ketiga point di atas harus terpenuhi seluruhnya jika ingin mendapatkan
perizinan dari pihak PT Pertamina untuk mendirikan SPBU. Jika melihat
gambaran di atas, maka sangat wajar jika modal usaha SPBU hingga
beroperasi membutuhkan anggaran sebesar Rp 8 miliar sampai Rp 20
miliar. Ini belum lagi persiapan gaji karyawan serta mobil operasional yang
nantinya dibutuhkan untuk kelancaran operasional SPBU.

Bentuk Kerjasama PT Pertamina dengan Pihak SPBU

Untuk melengkapi pembahasan seputar modal usaha SPBU, ada baiknya


jika disebutkan bentuk kerjasama yang bisa terjalin antara PT.Pertamina
dengan pihak SPBU. Bentuk kerjasama tersebut ada 2:

1.CODO (Company Owned Dealer Operated)

Kerjasama SPBU CODO adalah bentuk kerjasama antara PT Pertamina


(PERSERO) dengan beberapa pihak-pihak tertentu. Kerjasama yang terjalin
dalam hal ini adalah pemanfaatan lahan milik perusahaan atau individu
untuk dibangunin SPBU.

2. DODO (Dealer Owned Dealer Operated)

Kerjasama SPBU DODO adalah bentuk kerjasama antara PT Pertamina


(PERSERO) dengan calon mitra, di mana lokasi dan investasi seluruhnya
merupakan tanggung jawab dan beban individu calon mitra untuk
menyediakannya. Untuk mengembangkan outlet non PSO pada saat ini
SPBU DODO hanya menjual jenis produk Premium dan BBK.

Demikianlah seputar modal usaha SPBU hingga beroperasi, khususnya bagi


pebisnis pemula. Mudah-mudahan di atas bisa memberikan penjelasan dan
gambaran besar seputar masalah ini, sehingga Anda bisa menjadikannya
sebagai bahan pertimbangan sebelum memutuskan untuk memulai bisnis
SPBU. Semoga bermanfaat.