Anda di halaman 1dari 7

INVASI TUMBUHAN ARABIKA (Acacia nilotica L.

) DI EKOSISTEM SABANA
TAMAN NASIONAL BALURAN

Disusun Oleh:
Amalia Priska Apriliani B1A0151
Finna Fernanda Hapsari B1A015122
A. Dimas Cahyaning Furqon B1A015143

TUGAS TERSTRUKTUR BIOLOGI KONSERVASI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PERGURUAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO

2018
PENDAHULUAN

Sabana diartikan sebagai ekosistem pada daerah tropis maupun subtropis yang memiliki
ciri khas daerahnya tertutupi oleh rumput herbaceus C4 dengan campuran pepohonan dengan
formasi terbuka. Ekosistem sabana adalah komponen terbesar dari vegetasi dunia, menutupi
1/6 permukaan daratan dan 30% produksi utama dari vegetasi daratan. Sabana dapat ditemui
pada daerah beriklim tropis yang bermacam-macam, tapi mayoritas mengalami musim
kemarau yang berpengaruh terhadap distribusi dan sifat ekologis untuk fire regimes atau
pembakaran hutan non anthropogenic. Kondisi ini mengakibatkan fauna sabana berdaptasi
untuk melakukan migrasi. Mereka bermigrasi ke area dengan bioma yang berbeda
sepenuhnya pada saat musim kemarau. Meskipun sabana menempati area yang sangat luas
pada benua sebelah utara (Afrika 65%, Australia 60%, Amerika Selatan 45%), sabana juga
ada pada Asia Tengara, India, dan Amerika Tengah. Indonesia memiliki ekosistem sabana
yaitu Sabana Bekol yang bertempat di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Sabana Bekol yang merupakan merupakan bagian dari Taman Nasional Baluran (TNB)
memiliki peran penting bagi spesies endemik flora maupun maupun fauna, seperti banteng
(Bos javanicus). B. javanicus, menurut IUCN, dikelompokkan ke dalam endangered species.
Ancaman internal non anthropogenic (densistas populasi yang rendah, memerlukan
homerange yang luas, dan tingkat reproduksi yang rendah) dapat mengantarkan banteng
menuju ke kepunahan. Pada Sabana Bekol, jumlah populasi banteng tahun 1997 ada 250
ekor, sedangkan pada tahun 2008 hanya tersisa 35 ekor. Aktivitas manusia, seperti
pengintroduksian spesies asing ke Sabana Bekol berkontribusi juga pada penurunan jumlah
populasi banteng di Sabana Bekol.
Tumbuhan arabika (Acacia nilotica) telah dikenal sebagai tumbuhan yang memiliki
banyak fungsi. A. nilotica tersebar luas pada daerah tropis dan subtropis dan menjadi sangat
invasif pada beberapa daerah di dunia, termasuk Indonesia. Spesies ini, diintroduksikan di
TNB dengan tujuan untuk meredam perluasan perbakaran alami di sabana, yang terjadi setiap
tahunnya. Dengan jangka waktu yang relatif singkat, spesies ini secara agresif mendominasi
sabana dan menghambat pertumbuhan dari spesies tumbuhan asli. Metabolit sekunder
(tannin) dari A. nilotica memiliki efek alelopatik terhadap vegetasi lain yang berakibat pada
terganggunya fungsi ekosistem sabana yang menyediakan habitat yang cocok untuk
herbovori. Selain itu, kondisi ini juga dapat berdampak pada penurunan populasi herbivori
liar di Sabana Bekol.
PEMBAHASAN

Klasifikasi Acacia nilotica menurut Rivers (2017), adalah sebagai berikut:


Kingdom : Plantae
Phylum : Tracheophyta
Class : Magnoliopsida
Order : Fabales
Family : Fabaceae
Genus : Acacia
Species : Acacia nilotica
Acacia nilotica (familia Leguminosa, subfamilia Mimosoideae) adalah pohon kecil
yang sangat luas penyebarannya dan ditemukan di Afrika hingga Asia, tingginya sekitar 3 –
15 m. Spesies ini ditemukan dalam berbagai habitat dan termasuk: hutan, padang rumput
yang berhutan, sungai, dan padang semak. Acacia nilotica mampu memperbaiki nitrogen di
seluruh jangkauan alami oleh Asosiasi mikoriza dengan Glomus spp. Acacia nilotica adalah
pohon serbaguna yang banyak digunakn sebagai sumber pakan, tanin dan karet, kayu serta
sebagai pohon pagar dan bahan bakar. Batang kayunya digunakan dalam konstruksi, kereta
api, alat peraga tambang, peralatan gagang dan gerobak. Di India, perkebunan Acacia nilotica
ditanam untuk produksi kayu dan kayu bakar yang di panen setiap 10-20 tahun (Fagg et al.
2005).
Sabana Bekol TNB dijaga oleh pengaturan perbakaran alami saat musim kemarau.
Lingkungan sabana mendukung tingkat endimisme dan pembentukan spesies dengan ragam
yang luas. Menurut penelitian Caesariantika et al. (2011), ekosistem Sabana Bekol
mengalami perubahan yang drastis setelah pengintroduksian Acacia nilotica sebagai peredam
perbakaran alami. Jumlah spesies pada area yang tidak ditumbuhi oleh A. nilotica (UIA) (9
spesies) dan introduksi A. nilotica mengakibatkan area (IA) mengalami penurunan non-
signifikan, yaitu menjadi 5 spesies. Untuk mengendalikan pertumbuhan A. nilotica, pengelola
TNB melakukan pemotongan dan pembakaran. Area yang telah dikendalikan (MA) ternyata
memiliki perbedaan yang signifikan dalam jumlah spesies (14 spesies).
Tingkat diversitas tumbuhan juga mengalami penurunan. Berdasarkan penelitian
Caesariantika et al. (2011), tujuh dari sembilan spesies yang diamati dalam UIA tidak ada di
IA. Penelitian tersebut juga mengasilkan data yang disajikan pada Tabel 1, dari tabel tersebut
dapat disimpulkan bahwa Invaded Area (IA) juga memiliki keragaman spesies paling sedikit
jika dibandingkan dengan area lain. Sedangkan penelitian Sutomo et al. (2016) menyatakan
bahwa dalam hal keragaman spesies, area di TNB yang dibaginya menjadi tiga bagian yaitu
grazed, burnt, dan unburnt, ketiganya memiliki keragaman spesies rendah (sekitar 0,8) yang
diukur dengan Indeks Shannon dan Indeks Wiener dan Simpson.
Dominansi yang berlebihan dari A. nilotica dapat menggeser ekosistem sabana menjadi
ekosistem yang berbeda, contohnya adalah hutan sekunder. Pergeseran tersebut mungkin
disebabkan oleh efek alelopatik A. nilotica. A. nilotica mampu melepaskan stres protein ke
lingkungan. Protein ini mempengaruhi metabolisme protein lain dalam sel tanaman yang
mengatur berbagai proses seluler yang normal, termasuk pertumbuhan tanaman, serta
karakteristik fisiologis dan molekuler dari perkembangan, sehingga menyebabkan kematian
tumbuhan lain di sekitarnya. Kehidupan banteng (Bos javanicus) yang merupakan
endangered species makin terancam karena sumber makanannya di sabana makin menipis
sebab dominansi oleh A. nilotica yang berlebih.
Menurut Jenkins et al., (2003), biomassa dapat digunakan sebagai dasar dalam
perhitungan kegiatan pengelolaan hutan, karena hutan dapat dianggap sebagai sumber dan
sink dari karbon. Pendugaan biomassa hutan sangat berguna untuk menilai struktur dan
kondisi hutan serta produktivitas hutan (Navar, 2009). Menurut Caesariantika et al. (2011),
produktivitas rumput pada sabana Bekol pada tahun 1977 sebanyak 150 kg/hektar/hari
menurun menjadi 85 kg/hektar/hari pada tahun 1997. Penurunan sumber makanan bagi
herbivori dapat menyebabkan kompetisi baik intra spesies maupun antar spesies yang akan
menghantarkan pada penurunan populasi liar di sabana Bekol TNB, termasuk Banteng. Lebih
lanjut lagi, kepadatan relatif A. nilotica yang tinggi (63,3%) akan meregulasi pergerakan
herbivori besar seperti Banteng. Karena spesies hewan pada ekosistem sabana harus
bermigrasi untuk lolos dari kebakaran alami dan untuk mencari makan, fragmentasi akan
menyebabkan kepada local extinction.
KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan bahwa Acacia nilotica merupakan


invasif spesies di Taman Nasional Baluran yang keberadaannya dapat mengganggu
kelestarian ekosistem sabana dan banteng (Bos javanicus) yang hidup di sabana tersebut.
DAFTAR REFERENSI

Caesariantika, E., Kondo, T. & Nakagoshi, N., 2011. Impact of Acacia nilotica (L.) Willd. ex
Del invasion on plant species diversity in the Bekol Savanna, Baluran National Park,
East Java, Indonesia. Tropics, 20(2), pp. 45-53.
Jenkins, C.J., D.C. Chojnacky, L.S. Heath, R.A. Birdsey, 2003. National-scale Biomass
Estimators for United States Tree Species. Forest Science. 49(1), pp. 12 –30.
Navar, J., 2009. Allometric equations for tree species and carbon stocks for forest
northwestern Mexico. Journal of Forest Ecology and Management. 257, pp. 427-434.
Sutomo, Etten, E. V. & Wahab, L., 2016. Proof of Acacia nilotica stand expansion in Bekol
Savanna, Baluran National Park, East Java, Indonesia through remote sensing and
field observations. Biodiversitas, 17(1), pp. 96-101.

Rivers, M.C. 2017. Acacia nilotica. The IUCN Red List of Threatened Species 2017:
http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.20173. Diakses pada tanggal 08 April 2018.
Retnowati, 1998. Kontribusi hutan tanaman Eucaliptus grandis Maiden sebagai rosot
karbon di Tapanuli Utara. Buletin Penelitian Hutan 11. Bogor: Pusat Penelitian dan
Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam.