Anda di halaman 1dari 86

BAB II KETERBAGIAN

2.1 Pendahuluan

Pada pertemuan minggu ke-3, dan 4 ini dibahas konsep keterbagian, algo- ritma pembagian dan bilangan prima pada bilangan bulat. Relasi keterbagian pada himpunan semua bilangan bulat memunculkan banyak sifat menarik. Dari relasi ini dapat didefinisikan pengertian hasil bagi dan sisa pembagian, sehingga dapat membangkitkan operasi pembagian bilangan bulat dan konsep modulo.

Dengan mempelajari bab ini, diharapkan:

1. Mahasiswa bisa memahami pengertian keterbagian.

2. Mahasiswa bisa mengidentifikasi bilangan prima

3. Mahasiswa bisa menjelaskan pengertian algoritma pembagian

4. Mahasiswa bisa menerapkan sifat-sifat keterbagian dan algoritma pemba- gian pada masalah bilangan bulat

2.2 Keterbagian

Sejak di sekolah dasar telah dikenal beberapa operasi pada bilangan bulat, diantaranya penjumlahan(+), pengurangan(), perkalian(× atau ·) dan pembagian(:

atau /). Untuk sebarang dua bilangan bulat berlaku jumlah, selisih dan hasil kalinya masing-masing merupakan bilangan bulat, tetapi pembagian bilangan yang satu dengan yang lain belum tentu merupakan bilangan bulat.

Definisi 2.2.1. Diberikan bilangan bulat m dan n (n ̸= 0). Bilangan m dikatakan habis dibagi oleh n atau n membagi m, ditulis n|m, jika terdapat bilangan bulat k dengan sifat m = kn. Jika m habis dibagi oleh n, maka m disebut kelipatan dari n dan n disebut pembagi atau faktor dari m.

Jika m tidak habis dibagi oleh n, dituliskan n ̸| m. Karena 0 = 0.n,

Sebaliknya, 0 ̸| m untuk

diperoleh bahwa n|0 untuk setiap bilangan bulat n.

11

setiap bilangan bulat tak nol m, sebab m ̸= 0 = k.0 untuk setiap bilangan bulat

k. Dari definisi keterbagian diperoleh beberapa sifat dasar sebagai berikut.

Teorema 2.2.2. Diberikan bilangan bulat x, y dan z.

a. x|x;

b. Jika x|y dan y|z, maka x|z;

c. Jika x|y dan y ̸= 0, maka |x| ≤ |y|;

d. Jika x|y dan x|z, maka x|αy + βz untuk setiap bilangan bulat α dan β;

e. Jika x|y dan x|y ± z, maka x|z;

f. Jika x|y dan y|x, maka |x| = |y|;

y

g. Jika x|y dan y ̸= 0, maka x |y;

h. Untuk z ̸= 0 berlaku x|y jika dan hanya jika xz|yz.

Diperhatikan bahwa untuk sebarang bilangan bulat tak nol n, faktor

positif dari n ada sebanyak ganjil jika dan hanya jika n merupakan kuadrat

sempurna, yaitu n = m 2 untuk suatu bilangan bulat m. (Jika suatu bilangan

bulat tidak habis dibagi oleh sebarang bilangan kuadrat, maka bilangan terse-

but disebut square free.) Hal ini dikarenakan jika n bukan kuadrat sempurna,

maka semua faktor positif dari n dapat dinyatakan ke dalam pasangan-pasangan

berbentuk (x, n ).

x

Contoh 2.2.3. Tentukan semua bilangan bulat n sehingga n + 20

bilangan bulat.

n

13 merupakan

Penyelesaian. Diperhatikan bahwa

n + 20

n

13 = n 13 + 33

n 13

= 1 +

33

n

13 .

Jika n + 20

n dari 33. Karena faktor dari 33 adalah 33, 11, 3, 1, 1, 3, 11 dan 33, maka

20, 2, 10, 12, 14, 16, 24 atau 46. Dapat

Artinya n 13|33 atau n 13 faktor

33 13 bulat.

n

13 bulat, maka

diperoleh nilai n

yang mungkin adalah

12

dicek bahwa semua nilai n tersebut memenuhi kondisi yang diberikan. Jadi, nilai

n yang memenuhi adalah 20, 2, 10, 12, 14, 16, 24 dan 46.

Contoh 2.2.4. Tentukan semua pasangan bilangan bulat positif (m, n) dengan

sifat

2 3

m +

n = 1.

Penyelesaian. Misalkan bilangan bulat positif n dan m memenuhi

maka berlaku

2 3

m +

n = 1,

2n + 3m

(m 2)(n 3)

= mn

= 6.

Diperoleh bahwa m 2 dan n 3 merupakan faktor dari 6. Karena m bilangan

bulat positif, maka m 2 > 2. Diperoleh nilai m 2 yang mungkin adalah

1, 2, 3 atau 6, sehingga nilai m yang mungkin adalah 3, 4, 5 atau 8. Akibatnya

diperoleh pasangan (m, n) yang memenuhi adalah (3, 9), (4, 6), (5, 5) dan (8, 4).

Contoh 2.2.5. Pada suatu ruangan terdapat 20 kotak kosong, bernomor 1 sam-

pai 20. Sebanyak 20 anak secara bergiliran melakukan ekperimen terhadap kotak-

kotak tersebut. Anak pertama memasukkan satu bola ke masing-masing 20 kotak

tersebut. Anak kedua mengambil bola yang ada pada kotak bernomor 2, 4,

, 20.

Anak ketiga melakukan eksperimen terhadap kotak-kotak bernomor 3, 6,

, 18:

jika pada kotak tidak terdapat bola, maka dia memasukkkan satu bola ke kotak

tersebut dan jika pada kotak terdapat bola, maka dia mengambil bola pada kotak

tersebut. Anak ke i melakukan eksperimen terhadap kotak-kotak bernomor keli-

patan i: jika pada kotak tidak terdapat bola, maka dia memasukkkan satu bola

ke kotak tersebut dan jika pada kotak terdapat bola, maka dia mengambil bola

pada kotak tersebut. Tentukan banyak kotak yang berisi bola setelah semua anak

menyelesaikan eksperimennya?

Penyelesaian. Diperhatikan bahwa anak ke i melakukan eksperimen terhadap

Berdasarkan sifat g. pada Teorema

melakukan eksperimen ter-

hadap kotak tersebut.

Akibatnya, hanya kotak bernomor 1, 4, 9 dan 16 yang

kotak bernomor j jika dan hanya jika i|j.

2.2.2, hal ini terjadi jika dan hanya jika anak ke j

i

13

dikenai eksperimen sebanyak bilangan ganjil, sehingga hanya kotak-kotak terse-

but yang berisi bola setelah semua anak menyelesaikan eksperimennya.

Jadi,

jawabannya adalah 4.

Berikut diberikan suatu karakteristik terkait keterbagian dari hasil kali bilangan bulat berurutan.

Teorema 2.2.6. Hasil kali n 1 bilangan bulat berurutan selalu habis dibagi

oleh n!.

(n! = 1 × 2 ×

× n)

Bukti. Pertama-tama, akan ditunjukkan perkalian n bilangan bulat positif beru- rutan habis dibagi oleh n!. Akan digunakan induksi matematika untuk membuk- tikannya. Basis induksi. Untuk n = 1, cukup jelas bahwa perkalian 1 bilangan bulat positif pasti habis dibagi oleh 1. Jadi, pernyataan benar untuk kasus n = 1.

Langkah induksi. Diasumsikan pernyataan benar untuk n = k, yaitu perkalian k bilangan bulat positif berurutan habis dibagi oleh k!. Akan ditunjukkan perny- ataan benar untuk kasus n = k + 1, yaitu perkalian k + 1 bilangan bulat positif berurutan habis dibagi oleh (k +1)!. Misalkan k +1 bilangan berurutan dimaksud

adalah m, m +1, m +2,

tunjukkan dengan induksi matematika bahwa untuk setiap bilangan bulat positif

m berlaku m(m + 1)(m + 2)

, m + k untuk suatu bilangan bulat positif m. Akan di-

(m + k) habis dibagi oleh (k + 1)! .

Basis induksi.

Untuk m

=

1, diperoleh 1(1 + 1)(1 + 2)

(1 + k)

=

(k

+ 1)! = 1.(k + 1)!. Artinya, 1(1 + 1)(1 + 2)

(1 + k) habis dibagi oleh

(k

+ 1)!. Jadi, pernyataan benar untuk m = 1.

Langkah induksi. Diasumsikan pernyataan benar untuk m = p, yaitu

p(p + 1) (p + 2)

(p +

(p + k) habis dibagi oleh (k + 1)!. Akan ditunjukkan

pernyataan benar untuk kasus m = p + 1, yaitu (p + 1)(p + 2)(p + 3)

k + 1) habis dibagi oleh (k + 1)!. Diperhatikan bahwa

(p

+ 1)(p + 2)(p + 3)

(p + k + 1)

=

(p + 1)(p + 2)

(p + k)p

 

+(p + 1)(p + 2)

(p + k)(k + 1)

 

=

p(p + 1)(p + 2)

(p + k)

 

+(k + 1)(p + 1)(p + 2)(p + 3)

(p + k).

 

14

Berdasarkan asumsi induksi, diperoleh p(p+1)(p+2)

(k + 1)!. Karena (p + 1)(p + 2)(p + 3)

bilangan bulat positif berurutan, maka (p + 1)(p + 2)(p + 3)

(p+k) habis dibagi

(p + k) merupakan perkalian k

(p + k) habis (p + k) habis

(p + k +1) habis dibagi (k +1)!.

dibagi k!, sehingga diperoleh (k + 1) (p + 1)(p + 2)(p + 3)

dibagi (k +1)!. Jadi, (p +1)(p +2)(p +3)

Terbukti pernyataan benar untuk m = p + 1.

Jadi, terbukti bahwa perkalian n bilangan bulat positif berurutan habis dibagi oleh n!. Selanjutnya, jika diantara n bilangan bulat berurutan terdapat 0, maka hasil kalinya sama dengan 0, sehingga pasti habis dibagi oleh n!. Untuk kasus, jika n bilangan berurutan tersebut semua merupakan bilangan negatif, dapat dibuk- tikan dengan cara yang sama seperti bagian pertama dengan mengalikan hasil

kalinya dengan (1) n .

Contoh 2.2.7. Tunjukkan bahwa n 6 n 2 selalu habis dibagi oleh 60 untuk semua bilangan bulat positif n.

Penyelesaian. Diberikan sebarang bilangan bulat positif n. Diperhatikan bahwa

n 6 n 2 =

n 2 (n 4 1) = (n 1)n 2 (n + 1)(n 2 + 1)

=

(n 1)n 2 (n + 1)(n 2 4) + 5(n 1)n 2 (n + 1)

=

(n 2)(n 1)n(n + 1)(n + 2)n + 5(n 1)(n 2 2n)(n + 1)

+10(n 1)n(n + 1)

=

(n 2)(n 1)n(n + 1)(n + 2)n + 5(n 2)(n 1)n(n + 1)

+10(n 1)n(n + 1).

Diperhatikan bahwa 5!|(n 2)(n 1)n(n +1)(n +2), 4!|(n 2)(n 1)n(n +1) dan 3!|(n1)n(n+1). Karena 5! = 120, 4! = 24 dan 3! = 6, maka diperoleh 120|(n2) (n 1)n(n + 1)(n + 2)n, 120|5(n 2)(n 1)n(n + 1) dan 60|10(n 1)n(n + 1). Karena 60|120, maka 60|(n 2)(n 1)n(n +1)(n +2)n, 60|5(n 2)(n 1)n(n +1) dan 60|10(n 1)n(n + 1), sehingga diperoleh 60|n 6 n 2 .

Berdasarkan konsep keterbagian terkait bilangan 2, himpunan bilangan

15

bulat yang dinotasikan Z dapat dipartisi menjadi dua himpunan bagian, him- punan bilangan ganjil dan himpunan bilangan genap:

1, ±3, ±5,

.}

dan

{0, ±2, ±4,

.}.

Beberapa konsep dasar yang dimiliki oleh bilangan ganjil dan genap sebagai berikut:

a. Bilangan ganjil berbentuk 2k + 1 untuk suatu bilangan bulat k;

b. Bilangan genap berbentuk 2k untuk suatu bilangan bulay k;

c. Jumlahan dua bilangan ganjil adalah bilangan genap;

d. Jumlahan dua bilangan genap adalah bilangan genap;

e. Jumlahan bilangan ganjil dan bilangan genap adalah bilangan genap;

f. Perkalian dua bilangan ganjil adalah bilangan ganjil;

g. Perkalian dua bilangan bulat merupakan bilangan genap jika dan hanya jika salah satunya merupakan bilangan genap.

Konsep ini sangat bermanfaat dalam menyelesaikan beberapa masalah teori bi- langan.

Contoh 2.2.8. Diberikan bilangan bulat positif n 1. Tunjukkan bahwa

a. 2 n dapat dinyatakan sebagai jumlahan dua bilangan ganjil berurutan.

b. 3 n dapat dinyatakan sebagai jumlahan tiga bilangan bulat berurutan.

Penyelesaian. Untuk a., persamaan 2 n = (2k 1)+ (2k +1) memberikan penye-

lesaian k = 2 n2 , sehingga diperoleh 2 n = (2 n1 1) + (2 n1 + 1). Untuk b., persamaan 3 n = (s1)+s+(s+1) memberikan penyelesaian s = 3 n2 ,

sehingga

diperoleh 3 n = (3 n1 1) + 3 n1 + (3 n1 + 1).

Contoh 2.2.9. Diberikan bilangan ganjil a, b dan c. Tunjukkan bahwa akar-akar persamaan kuadrat ax 2 + bx + c = 0 bukan bilangan bulat.

16

Penyelesaian. Diandaikan bilangan bulat n merupakan akar persamaan ax 2 +

bx + c = 0. Diperoleh an 2 + bn + c = 0. Akan ditinjau dua kasus, yaitu n bilangan

genap dan n bilangan ganjil.

Kasus n bilangan genap. Karena a dan b bilangan ganjil, maka an 2 dan bn meru-

pakan bilangan ganjil, sehingga diperoleh an 2 + bn bilangan genap. Karena c bi-

langan ganjil, maka an 2 +bn+c bilangan ganjil, sehingga diperoleh an 2 +bn+c ̸= 0

(0 genap), suatu kontradiksi.

Kasus n bilangan ganjil. Karena a dan b bilangan ganjil, maka an 2 dan bn meru-

pakan bilangan genap, sehingga diperoleh an 2 + bn bilangan genap. Karena c bi-

langan ganjil, maka an 2 +bn+c bilangan ganjil, sehingga diperoleh an 2 +bn+c ̸= 0

(0 genap), suatu kontradiksi.

Jadi, akar-akar persamaan kuadrat ax 2 + bx + c = 0 bukan bilangan bulat.

Contoh 2.2.10. Diberikan k bilangan genap. Tunjukkan bahwa tidak ada bilan-

gan ganjil n 1 , n 2 ,

, n k dengan sifat

1

=

1

n

1

+

1

n

2

+

+

1

n

k

.

Penyelesaian. Diandaikan terdapat bilangan ganjil n 1 , n 2 ,

1

=

1

n

1

+

1

n

2

+

+

1

n

k

.

, n k dengan sifat

Dengan menyamakan penyebut pada ruas kanan, diperoleh n 1 n 2

s 2 +

merupakan bilangan ganjil, sedangkan ruas kanan merupakan bilangan genap,

, s k bilangan ganjil. Diperhatikan bahwa ruas kiri

n k = s 1 +

+ s k dengan s 1 , s 2 ,

suatu kontradiksi.

2.3 Algoritma Pembagian

Berikut diberikan salah satu konsep yang disebut Algoritma Pembagian

yang memiliki peranan penting dalam teori bilangan.

Teorema 2.3.1 (Algoritma Pembagian). Untuk setiap bilangan bulat positif a

dan b terdapat dengan tunggal pasangan bilangan bulat non-negatif (q, r) dengan

sifat b = aq + r dan r < a. Lebih lanjut, q disebut hasil bagi dan r disebut sisa

ketika b dibagi oleh a.

17

Bukti. Diberikan sebarang bilangan bulat positif a dan b. Pertama-tama, di- tunjukkan eksistensi dari pasangan (q, r). Diperhatikan bahwa ada 3 kasus yang mungkin yaitu a < b, a = b atau a > b.

1. Kasus a

>

b.

Dipilih q

=

0 dan

r

=

b

<

a,

diperoleh

(q, r)

=

(0, b)

memenuhi kondisi b = aq + r dan r < a.

 

2. Kasus a =

b.

Dipilih q

=

1 dan

r

=

0

<

a,

diperoleh (q, r) = (1, 0)

memenuhi kondisi b = aq + r dan r < a.

3. Kasus a < b. Diperhatikan bahwa terdapat bilangan bulat positif n se- hingga na > b. Dipilih q bilangan bulat positif terkecil dengan sifat (q + 1)a > b, maka berlaku qa b. Dipilih r = baq. Diperoleh (q, r) memenuhi kondisi b = aq + r dan 0 r < a.

Selanjutnya, akan ditunjukkan ketunggalan pasangan (q, r) tersebut. Diandaikan

(q , r ) memenuhi kondisi b = aq + r dan 0 r < a. Diperoleh aq + r = aq + r ,

ekuivalen dengan

Akibatnya |r r| ≥ a

atau |r r| = 0. Karena 0 r, r a, maka |r r| < a. Diperoleh |r r| = 0,

artinya r = r, sehingga berakibat q = q .

a(q q ) = r r, yang berarti a|r r.

Contoh 2.3.2. Diketahui bilangan 1059, 1417 dan 2312 memiliki sisa yang sama ketika dibagi oleh d > 1. Tentukan nilai d.

Penyelesaian. Misalkan sisanya adalah r. Berdasarkan Algoritma Pembagian, diperoleh

1059

=

q 1 d + r

1417

=

q 2 d + r

2312

=

q 3 d + r,

untuk suatu bilangan bulat q 1 , q 2 dan q 3 . Diperoleh

(q 2

q 1 )d

=

1417 1059 = 358 = 2.179

(q 3

q 1 )d

=

2312 1059 = 1253 = 7.179

(q 3 q 2 )d

=

2312 1417 = 895 = 5.179,

18

yang berarti d merupakan faktor dari 2.179, 7.179 dan 5.179. Karena d > 1, maka

diperoleh d = 179.

Contoh 2.3.3. Diberikan bilangan bulat positif n. Tunjukkan bahwa 3 2 n +1 habis

dibagi oleh 2 tetapi tidak habis dibagi oleh 4.

Penyelesaian. Diperhatikan bahwa 3 2 n merupakan bilangan ganjil, sehingga

diperoleh 3 2 n + 1 bilangan genap, yang berarti habis dibagi oleh 2. Karena 3 2 n =

(3 2 ) 2 n1 = 9 2 n1 = (8 + 1) 2 n1 , maka berdasarkan teorema Binomial Newton:

(x + y) m = x m + ( m ) x m1 y + ( m ) x m2 y 2 +

1

2

+ (

m

m

1 ) xy m1 + y m ,

dengan mengambil m = 2 n1 , x = 8 dan y = 1 diperoleh

(8 + 1) 2 n1 = 8 2 n1 + ( 2 n1

1

) 8 2 n1 1 + ( 2 n1

2

) 8 m2 +

+ (

2

2

n1

n1

1 ) 8 + 1.

Akibatnya 3 2 n + 1 = (8 + 1) 2 n1 + 1 = (8K + 1) + 1 = 4(2K) + 2 untuk suatu

bilangan bulat positif K. Jadi, 3 2 n +1 habis dibagi oleh2 tetapi tidak habis dibagi

oleh 4.

Algoritma Pembagian tidak hanya berlaku untuk bilangan bulat positif

saja, tetapi dapat diperluas untuk bilangan bulat. Bukti diserahkan sebagai

latihan.

Teorema 2.3.4. Untuk setiap bilangan bulat a dan b (a ̸= 0), terdapat dengan

tunggal pasangan bilangan bulat non-negatif (q, r) dengan sifat b = aq + r dan

0 r < |a|.

2.4 Bilangan Prima

Pada bagian ini dijelaskan mengenai konsep bilangan prima dan bilangan

komposit.

Definisi 2.4.1. Bilangan bulat p > 1 dikatakan prima jika untuk setiap bilangan

bulat d dengan d > 1, d ̸= p berlaku d ̸| p. Bilangan bulat n > 1 yang tidak prima

dikatakan komposit.

19

Diperhatikan bahwa setiap bilangan bulat n > 1 mempunyai setidaknya satu faktor prima. Untuk n prima, faktor primanya adalah n sendiri. Untuk n bukan prima, misalkan a adalah faktor positif terkecil dari n. Diperoleh a merupakan bilangan prima, sebab jika a bukan prima, maka a = a 1 a 2 untuk suatu 1 a 1 , a 2 < a dan a 1 |n, kontradiksi dengan fakta bahwa a faktor positif terkecil dari n. Berikut diberikan suatu sifat yang bermanfaat dalam menentukan suatu bilangan adalah prima atau tidak.

Teorema 2.4.2. Diberikan bilangan bulat n > 1.

memiliki faktor prima yang kurang dari atau sama dengan n.

Jika n komposit, maka n

Bukti.

Diketahui n komposit.

Misalkan n = ab untuk suatu a, b dengan

1

<

a

b dan a faktor positif terkecil dari n.

Diperoleh n =

ab

a 2 ,

se-

hingga diperoleh a n.

 

Diperhatikan bahwa 2 merupakan bilangan prima genap dan semua bi- langan genap lebih dari dua merupakan bilangan komposit. Bilangan prima yang lain merupakan bilangan ganjil. Bilangan-bilangan prima yang kurang dari 50 adalah 2, 3, 5, 7, 11, 13, 17, 19, 23, 29, 31, 37, 41, 43, 47.

Contoh 2.4.3. Diketahui p dan q bilangan prima yang memenuhi p + q = 2013 dan p > q. Tentukan nilai dari p q.

Penyelesaian. Diperhatikan bahwa salah satu diantara p dan q bilangan genap sebab jika keduanya ganjil atau keduanya genap, maka p + q genap, kontradiksi dengan fakta bahwa p + q = 2013 bilangan ganjil. Karena bilangan prima genap hanya 2 dan p > q, maka diperoleh q = 2, sehingga didapat p = 2011. Diper- hatikan bahwa 2011 tidak habis dibagi oleh sebarang bilangan prima yang kurang

dari 2011, yaitu 2,3,5,7,11,13,17,19,23,29,31,37,41 atau 43. Jadi, 2011 meru-

pakan bilangan

prima. Akibatnya diperoleh p q = 2011 2 = 2009.

Contoh 2.4.4. Tentukan semua bilangan bulat positif n dengan sifat 3n4, 4n5 dan 5n 3 merupakan bilangan prima.

Diperhatikan bahwa jumlah ketiga bilangan tersebut adalah

bilangan genap, maka setidaknya salah satu diantaranya merupakan bilangan

Penyelesaian.

20

genap. Satu-satunya bilangan prima genap adalah 2. Dari ketiga bilangan terse- but, hanya 3n4 dan 5n3 yang mungkin bernilai genap. Untuk kasus 3n4 = 2, diperoleh n = 2. Untuk kasus 5n 3 = 2, diperoleh n = 1. Dapat dicek bahwa hanya n = 2 yang memenuhi kondisi ketiga bilangan tersebut merupakan bilan-

gan prima.

Contoh 2.4.5. Tunjukkan bahwa n 4 + 4 merupakan bilangan prima jika dan hanya jika n = 1.

Penyelesaian. Diperhatikan bahwa

n 4 + 4

=

n 4 + 4n 2 + 4 4n 2

= (n 2 + 2) 2 (2n) 2

=

(n 2 2n + 2)(n 2 + 2n + 2) = ((n 1) 2 + 1)((n + 1) 2 + 1).

Diperhatikan bahwa untuk n > 1 berlaku (n 1) 2 + 1 > 1 dan (n + 1) 2 + 1 > 1.

Akibatnya, n 4 + 4 bukan bilangan prima untuk n > 1.

Contoh 2.4.6. Carilah 20 bilangan bilangan bulat berurutan yang masing-masing merupakan bilangan komposit.

Penyelesaian. Diperhatikan 20 bilangan berurutan berikut 21!+2, 21!+3,

21.

i|(20! + i).

, 21!+

Untuk setiap i = 2,

, 21, 21! + i merupakan bilangan komposit sebab

Lebih dari 2000 tahun yang lalu, Euclid telah menunjukkan bahwa ada tak hingga banyak bilangan bulat positif yang merupakan bilangan prima.

Teorema 2.4.7. Ada tak hingga banyaknya bilangan prima.

Bukti. Diandaikan bilangan prima hanya berhingga banyak, katakan p 1 < p 2 <

p m + 1. Jika P prima, maka

P > p m , kontradiksi dengan fakta bahwa p m bilangan prima terbesar. Akibat-

nya P haruslah komposit. Artinya P memiliki faktor prima, katakan p > 1.

, m}. Diperoleh bahwa

p k |p 1 p 2

Diperhatikan bahwa p = p k untuk suatu k ∈ {1, 2,

p m + 1. Artinya p k |1, suatu kontradiksi. Jadi, ada tak hingga

< p m . Diperhatikan bilangan P = p 1 p 2

p k

21

banyaknya bilangan prima.

Walaupun telah diketahui bahwa banyaknya bilangan prima ada tak berhingga, namun sampai saat ini masih belum ditemukan suatu formula untuk menentukan semua bilangan prima yang ada.

Soal Latihan

1. Tunjukkan bahwa 1 5 +2 5 + habis dibagi 3.

+99 5 +100 5 habis dibagi 10100, namun tidak

2. Diketahui p dan p + 2 adalah bilangan prima yang lebih besar dari 3. Ten- tukan sisa dari p ketika dibagi oleh 6.

3. Tentukan bilangan bulat positif n terbesar sehingga n + 10 habis membagi n 3 + 100.

4. Tunjukkan bahwa untuk setiap bilangan bulat positif n berlaku n 5 5n 3 +4n habis dibagi oleh 120.

5. Diketahui x, y dan z adalah bilangan prima yang memenuhi persamaan

34x 51y = 2012z.

Tentukan nilai dari x + y + z.

6. Tentukan semua bilangan bulat positif n sehingga n 4 + 4 n merupakan bi- langan prima.

7. Diketahui m dan n adalah bilangan bulat yang memenuhi m 2 + 3m 2 n 2 =

30n 2 + 517. Tentukan nilai

dari 2m 2 n 2 .

8. Tunjuukan bahwa jika |ab| ̸= 1, maka a 4 +4b 4 merupakan bilangan komposit.

9. Diberikan polinomial p(x) = x n +a 1 x n1

.+a n1 x+a n dengan a 1 , a 2 ,

, a n

bilangan bulat. Jika p(0) dan p(1) keduanya bilangan ganjil, tunjukkan

bahwa p(x) tidak memiliki akar bulat.

22

10.

Tentukan semua bilangan positif p dengan sifat p, p+8 dan p+16 merupakan

bilangan prima.

11. Tentukan semua bilangan bulat n yang memenuhi 3n 2 2n + + 4n 1 + 5

bulat.

bilangan

(a)

12. Tunjukkan bahwa jika bilangan bulat a dan b bersisa 1 ketika dibagi

 

oleh 4, maka ab bersisa 1 ketika dibagi oleh 4.

(b)

Tunjukkan ada tak hingga banyaknya bilangan prima berbentuk 4k1.

13. Tentukan semua pasangan bilangan prima berbeda (p, q) sehingga p 2 +7pq+

q 2 merupakan bilangan kuadrat sempurna.

23

BAB III FAKTORISASI PRIMA

3.1 Pendahuluan

Sebagai kelanjutan dari konsep bilangan prima dan keterbagian, pada bagian ini dibahas mengenai faktorisasi prima pada bilangan bulat dan aplikasinya un- tuk menentukan banyak faktor dan jumlah faktor suatu bilangan bulat. Materi ini disampaikan pada Minggu ke-5 dan 6.

Dengan mempelajari bab ini, diharapkan:

1. Mahasiswa bisa melakukan faktorisasi prima sebarang bilangan bulat.

2. Mahasiswa bisa menentukan banyak faktor bilangan bulat

3. Mahasiswa bisa menentukan jumlah faktor-faktor bilangan bulat

4. Mahasiswa bisa menerapkan sifat-sifat faktorisasi prima masalah bilangan bulat

3.2 Teorema Fundamental Aritmatik

Salah satu sifat dasar dari teori bilangan terkait dengan faktor prima diberikan sebagai berikut.

Teorema 3.2.1 (Teorema Fundamental Aritmatik). Setiap bilangan bulat n > 1 dapat dinyatakan sebagai perkalian bilangan-bilangan prima secara tunggal.

Bukti. Diberikan bilangan bulat n > 1. Pertama-tama, akan ditunjukkan eksis- tensinya. Misalkan p 1 faktor prima dari n. Jika p 1 = n, maka n = p 1 merupakan faktorisasi prima dari n. Jika p 1 < n, maka n = p 1 r 1 dengan r 1 > 1. Jika r 1 prima, maka n = p 1 p 2 dengan p 2 = r 1 merupakan faktorisasi yang dimaksud. Jika r 1 komposit, maka r 1 = p 2 r 2 dengan p 2 prima dan r 2 > 1, sehingga n = p 1 p 2 r 2 . Jika r 2 prima, maka n = p 1 p 2 p 3 dengan p 3 = r 3 merupakan faktorisasi yang di- maksud. Jika r 2 komposit, maka secara rekursif diperoleh barisan bilangan bulat

24

r 1 > r 2 >

1. Setelah sejumlah langkah, diperoleh p k+1 = 1, sehingga dida-

pat n = p 1 p 2

p n merupakan faktorisasi yang dimaksud.

Selanjutnya, akan ditunjukkan ketunggalannya. Diasumsikan n memiliki dua

faktorisasi prima berbeda, yaitu:

n = p 1 p 2

p k = q 1 q 2

q

h

dimana p 1 , p 2 ,

, p k , q 1 , q 2 ,

, q h bilangan

prima dengan p 1 p 2

p k

dan q 1 q 2

q h sehingga k-tupel (p 1 , p 2 ,

.) tidak sama dengan h-tupel

(q 1 , q 2 ,

yang memiliki dua faktorisasi prima. Akan ditunjukkan terjadi suatu kontradiksi

dengan menemukan bilangan yang lebih kecil dari n yang memiliki dua faktorisasi

prima.

Diperhatikan bahwa p i ̸= q j untuk setiap

, h sebab

Misalkan n merupakan bilangan terkecil

, q h .

Jelas bahwa k, h

2.

i = 1, 2,

, k,

j

= 1, 2,

jika ada yang sama, misalkan p k = q h = p, maka n = n/p = p 1 p 2

q h1 dan 1 < n < n, kontradiksi dengan fakta bahwa n bilangan terkecil

q 1 q 2

yang memiliki dua faktorisasi prima berbeda. Tanpa mengurangi keumuman,

misalkan p 1 q 1 . Berdasarkan Algoritma Pembagian diperoleh:

p k1 =

q 1 = p 1 c 1 + r 1

q 2 = p 1 c 2 + r 2

.

.

.

q h = p 1 c h + r h

dengan 1 r i < p 1 ,

i = 1,

, h.

Diperoleh bahwa

n = q 1 q 2

q h = (p 1 c 1 + r 1 )(p 1 c 2 + r 2 )

(p 1 c h + r h )

Dengan menjabarkan bentuk pada ruas kanan persamaan tersebut diperoleh

r h untuk suatu bilangan bulat m. Dengan mengambil n =

r 1 r 2

yang artinya n = p 1 s untuk suatu bilangan bulat s. Berdasarkan pembuktian ek-

sistensi faktorisasi prima diperoleh s dapat dituliskan sebagai perkalian bilangan-

, s i bilangan prima.

Di lain pihak, dengan menggunakan faktorisasi r 1 , r 2

, t j bilangan

bilangan-bilangan prima, diperoleh n = t 1 t 2

bilangan prima, katakan s = s 1 s 2

p k = p 1 m + n . Diperoleh bahwa p 1 |n ,

n = mp 1 + r 1 r 2

r h , maka diperoleh n = p 1 p 2

s i dengan s 1 , s 2 ,

t j

, r h sebagai perkalian

dengan t 1 , t 2 ,

25

prima.

Diperhatikan bahwa t u < p 1 untuk setiap u = 1, 2

, j, sehingga fak-

Akan tetapi n < n,

kontradiksi dengan fakta bahwa n bilangan terkecil yang memiliki dua faktorisasi

prima berbeda.

torisasi n

= t 1 t 2

t j berbeda dengan n = p 1 s 1 s 2

s i .

Berdasarkan Teorema 3.2.1, diperoleh bahwa setiap bilangan bulat n >

1 dapat dituliskan secara tunggal dalam bentuk

n = p α 1 p α 2

1

2

p

α k

k

dengan p 1 , p 2 ,

dinamakan faktorisasi prima (faktorisasi kanonik ) dari n.

, p k bilangan prima berbeda dan α 1 , α 2 ,

, α k . Representasi ini

Contoh 3.2.2. Tunjukkan bahwa m 5 + 3m 4 5m 3 15m 2 + 4m + 12 ̸= 33 untuk

setiap bilangan bulat positif m dan n.

Penyelesaian. Diperhatikan bahwa

m 5 + 3m 4 5m 3 15m 2 + 4m + 12 = (m 2)(m 1)(m + 1)(m + 2)(m + 3).

Di lain pihak, 33 dapat dinyatakan sebagai perkalian maksimal sebanyak empat

bilangan bulat berbeda, yaitu 33 = (11)(3)1(1). Berdasarkan Teorema Fun-

damental Aritmatik, m 5 + 3m 4 5m 3 15m 2 + 4m + 12 ̸= 33 sebab 33 dapat

dinyatakan sebagai perkalian maksimal sebanyak empat bilangan bulat berbeda,

sedangkan m 5 +3m 4 5m 3 15m 2 + 4m + 12 dapat dinyatakan sebagai perkalian

lima bilangan bulat berbeda.

Contoh 3.2.3. Tentukan semua bilangan bulat positif n sehingga 2 8 + 2 11 + 2 n

merupakan bilangan kuadrat sempurna.

Penyelesaian. Misalkan 2 8 + 2 11 + 2 n bilangan kuadrat sempurna. Artinya,

k 2 = 2 8 +2 11 +2 n = 2304+2 n = 48 2 +2 n . Diperoleh 2 n = k 2 48 2 = (k48)(k+48).

Berdasarkan ketunggalan dari faktorisasi prima, diperoleh k 48 = 2 s dan

k +48 = 2 t untuk suatu bilangan bulat positif s, t dengan s + t = n. Diperhatikan

bahwa 2 t 2 s = 96 = 3.2 5 atau 2 s (2 ts 1) = 3.2 5 . Berdasarkan ketunggalan dari

faktorisasi prima, diperoleh s = 5, s t = 2, sehingga diperoleh n = s + t = 12.

26

Dapat dicek bahwa faktorisasi prima dari perkalian dua bilangan bulat sama dengan perkalian dari faktorisasi prima dua bilangan tersebut. Hal ini memberikan suatu karakteristik lain terkait bilangan prima.

Teorema 3.2.4. Diberikan bilangan bulat a dan b. Jika bilangan prima p mem- bagi ab, maka p membagi a atau p membagi b.

Bukti. Karena p|ab, maka p harus muncul pada faktorisasi prima dari ab. Karena faktorisasi prima dari a, b dan ab tunggal dan faktorisasi prima dari ab merupakan perkalian faktorisasi prima dari a dan b, maka p harus muncul setidaknya pada salah satu faktorisasi prima dari a atau b, yang berarti p|a atau p|b.

Definisi 3.2.5. Diberikan bilangan bulat n > 1 dan bilangan prima p. Bilangan p k dikatakan membagi penuh n, ditulis p k n, jika k adalah bilangan bulat positif terbesar sehingga p k |n.

Contoh 3.2.6. Tentukan faktor terbesar dari 1001001001 yang kurang dari 10000.

Penyelesaian. Diperhatikan bahwa

1001001001 = 1001 · 10 6 + 1001 = 1001(10 6 + 1) = 7 · 11 · 13 · (10 6 + 1).

Karena x 6 +1 = (x 2 ) 3 +1 = (x 2 +1)(x 4 x 2 +1), maka diperoleh 10 6 +1 = 101·9901. Jadi, 1001001001 = 7 · 11 · 13 · 101 · 9901. Dapat dicek bahwa faktor terbesar dari

1001001001 yang kurang dari 10000 adalah 9901.

Contoh 3.2.7. Tentukan bilangan bulat positif n yang memenuhi 2 n 3 1024 1.

Penyelesaian. Diperhatikan bahwa 2 1 0 = 1024 dan x 2 y 2 = (x + y)(x y), sehingga diperoleh

3 2 10

=

(3 2 9 + 1)(3 2 9 1) = (3 2 9 + 1)(3 2 8 + 1)(3 2 8 1)

=

= (3 2 9 + 1)(3 2 8 + 1)(3 2 7 + 1)

(3 2 1 + 1)(3 2 0 + 1)(3 1).

Berdasarkan Contoh 2.3.3, 23 2 k untuk setiap bilangan bulat positif k. jawabannya adalah 9 + 2 + 1 = 12.

Berdasarkan Contoh 2.3.3, 2 ∥ 3 2 k untuk setiap bilangan bulat positif k . jawabannya

Jadi,

27

Berdasarkan Teorema 3.2.1, diperoleh bahwa setiap bilangan bulat diban-

gun oleh bilangan-bilangan prima. Karena pentingnya konsep bilangan prima,

banyak peneliti telah memcoba menemukan rumus eksplisit dari bilangan-bilangan

prima. Namun, sejauh ini usaha tersebut belum berhasil. Salah satu hasil yang

diperoleh Goldbach dalam penelitiannya terkait bilangan prima diberikan sebagai

berikut.

Teorema 3.2.8. Untuk setiap bilangan bulat n tidak ada polinomial p(x) dengan

koefisien bulat dengan sifat p(n) merupakan bilangan prima untuk setiap bilangan

bilat n m.

Bukti. Diberikan bilangan bulat m. Diandaikan terdapat polinomial yang

memenuhi kondisi tersebut, katakan

P(x) = a k x k + a k1 x k1 +

+ a 1 x + a 0

dengan a k , a k1 ,

Diperoleh p(m) = p bilangan prima. Diperhatikan bahwa

, a 0 bilangan bulat dan a k ̸= 0.

p(m + pi) = a k (m + pi) k + a k1 (m + pi) k1 +

+ a 1 (m + pi) + a 0

dan untuk setiap bilangan bulat positif i berlaku

(m + pi) j

=

m j + ( j ) m j1 (pi) + ( 2

i

j ) m j2 (pi) 2

+

+ ( j 1 ) m(pi) j1 + (pi) j

j

, k. Diperoleh bahwa (m + pi) j m j kelipatan dari p,

sehingga berlaku p(m+pi)p(m) merupakan kelipatan dari p. Karena p(m) = p,

untuk setiap j = 1, 2,

maka diperoleh p(m + pi) merupakan kelipatan dari p untuk setiap bilangan bu-

lat positif i. Berdasarkan asumsi diperoleh bahwa p(m + pi) prima untuk setiap

bilangan bulat positif i. Akibatnya nilai yang mungkin untuk p(m + pi) adalah

0, p atau p. Diperhatikan bahwa total akar persamaan p(x) = 0, p(x) = p

dan p(x) = p paling banyak 3k. Akibatnya terdapat tak hingga banyaknya i

dengan sifat m + pi bukan solusi dari ketiga persamaan tersebut. Terjadi su-

atu kontradiksi. Jadi, untuk setiap bilangan bulat n, tidak ada polinomial p(x)

dengan koefisien bulat dengan sifat p(n) merupakan bilangan prima untuk setiap

28

bilangan bilat n m.

Walaupun belum ada rumus eksplisit dari bilangan prima, rata-rata

banyaknya bilangan prima diantara bilangan bulat telah diketahui 100 tahun

yang lalu. Fakta ini diberikan oleh Hadamard dan de la Vall´ee Poussin pada

tahun 1896, yaitu:

π(n)

lim

n→∞

n/ log n = 1

dengan π(n) merupakan banyaknya bilangan prima yang kurang dari atau sama

dengan n.

3.3 Banyak Faktor

Untuk setiap bilangan bulat positif n, banyaknya faktor positif dari n dinotasikan

dengan τ (n). Jelas bahwa

τ(n) = 1.

Teorema 3.3.1. Jika n = p α 1 p α 2

1

2

d|n

p α k faktorisasi prima dari n, maka

k

τ(n) = (α 1 + 1)(α 2 + 1)

(α k