Anda di halaman 1dari 20

BAB II

ASPEK EKONOMI DAN PEMASARAN

II.1. PROSPEK PEREKONOMIAN INDONESIA 2017

Searah dengan fokus kebijakan makroekonomi, Bank Indonesia pada tahun 2017
tetap konsisten menjaga stabilitas perekonomian. Dalam konteks ini, Bank Indonesia
akan menempuh bauran kebijakan moneter, kebijakan makroprudensial, dan kebijakan
sistem pembayaran-pengelolaan uang Rupiah. Kebijakan moneter difokuskan untuk
memelihara stabilitas makro-ekonomi dan disinergikan dengan kebijakan
makroprudensial yang diarahkan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.
Sementara kebijakan sistem pembayaran dan pengelolaan uang rupiah ditujukan
untuk meningkatkan efisiensi transaksi dalam perekonomian sehingga dapat
mendukung berjalannya transmisi kebijakan moneter dan makroprudensial. Berbagai
kebijakan yang telah ditempuh hingga 2016 dan ke depan merupakan kelanjutan
proses transformasi Bank Indonesia yang telah dicanangkan pada 2014.

Selain sinergi dalam kebijakan fiskal, Bank Indonesia juga mendukung berbagai upaya
Pemerintah untuk mempercepat dan menajamkan berbagai kebijakan struktural.
Kebijakan struktural ini sangat penting karena akan berkontribusi pada upaya
mempekuat ketahanan dan daya saing perekonomian serta menghindarkan Indonesia
dari risiko jebakan ekonomi pendapatan menengah (lihat Boks 15.1). Dalam kaitan ini,
Bank Indonesia setidaknya melihat ada tiga prioritas kebijakan yang perlu menjadi
perhatian yakni kebijakan memperkuat ketahanan dan kemandirian energi, pangan,
dan ketersediaan air; kebijakan memperkuat peran sektor; serta kebijakan
mempercepat pembangunan infrastruktur baik fisik maupun non-fisik. Prioritas
kebijakan tersebut sebagian menjadi perhatian Pemerintah dan telah menjadi bagian
dari Paket Kebijakan Ekonomi (PKE) yang telah ditempuh Pemerintah (lihat Boks
15.2.).

Prioritas kebijakan yang pertama terkait berbagai upaya untuk meningkatkan


ketahanan dan kemandirian energi, pangan, dan ketersediaan air. Dari sisi kebijakan
energi, Bank Indonesia mendukung upaya Pemerintah agar kebijakan diarahkan pada

Studi Kelayakan
Pembangunan SPPBE
PT. AGUNG SARANA TERMINAL
II - 1
upaya untuk mendorong peningkatan energi primer dan meningkatkan peranan energi
baru terbarukan dalam kerangka bauran energi nasional. Dari sisi pangan, kebijakan
untuk membenahi tata niaga impor dan penyelesaian permasalahan distribusi bahan
kebutuhan pokok diperlukan dalam jangka pendek guna menjamin ketersediaan
pasokan, dan mencegah kesenjangan pasokan saat permintaan meningkat dan
produksi terganggu. Namun, pada saat bersamaan, kebijakan jangka menengah dan
panjang untuk meningkatkan ketersediaan pangan dari produksi dalam negeri, antara
lain melalui modernisasi sektor pertanian dan meningkatkan kinerja pertanian di
daerah pedesaan seperti melalui program klaster, juga perlu dilakukan untuk
menopang kemandirian dan ketahanan pangan. Terakhir, kebijakan memperkuat
ketersediaan air bersih perlu memperoleh perhatian karena akan berkaitan dengan
pembangunan ekonomi berwawasan lingkungan.

Prioritas kebijakan kedua, yaitu kebijakan industrialisasi, tidak hanya terbatas pada
sektor industri pengolahan tetapi juga berlaku untuk sektor unggulan lainnya, termasuk
industri maritim. Bank Indonesia mendukung agenda kerja pemerintah untuk
memperkuat industri hulu seperti industri logam dasar dan industri kimia dasar dan
kebijakan hilirisasi sumber daya alam melalui pemanfaatan keunggulan komparatif
pada sumber daya alam yang berlimpah. Dalam kaitan ini, kebijakan industrialisasi
memang perlu diarahkan untuk mengembangkan sektor-sektor industri yang memiliki
keterkaitan yang panjang dengan berbagai sektor lain (backward dan forward linkage).
Selain itu, kebijakanjuga diarahkan untuk memperluas ruang inovasi pada industri
kreatif, yang dapat memberikan nilai tambah dan menyerap tenaga kerja yang tinggi.

Sejalan dengan kebijakan industrialisasi, kebijakan di sektor pariwisata dan sektor


maritim juga perlu terus diperkuat guna mengoptimalkan berbagai potensi alam yang
dimiliki Indonesia. Sektor pariwisata memiliki potensi yang cukup besar untuk terus
ditingkatkan, mengingat sektor ini dapat menjadi peredam gejolak ekonomi, termasuk
saat terjadi gejolak nilai tukar rupiah. Khusus terkait industri sektor maritim, Bank
Indonesia melihat potensi yang sangat besar dari sektor sektor ini mengingat
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Arah kebijakan untuk
mendorong sektor ini memang merupakan tantangan tersendiri, karena sampai saat
ini kontribusi subsektor maritim nonmigas masih sangat kecil dibandingkan kontribusi
di negara kepulauan lain (Grafik 15.3). Peran sektor maritim juga menjadi penting
mempertimbangkan kontribusi jasa transportasi laut terhadap defisit neraca jasa dan

Studi Kelayakan
Pembangunan SPPBE
PT. AGUNG SARANA TERMINAL
II - 2
defisit transaksi berjalan (Grafik 15.4). Jika ditarik lebih jauh, berbagai faktor yang
menyebabkan defisit tersebut dapat dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu dukungan
infrastruktur pelabuhan dan pengembangan industri perkapalan yang masih belum
kuat. Dengan melihat potensi sektor maritim ini, Bank Indonesia mendukung langkah
Pemerintah untuk memperkuat industri kapal secara integratif bersama dengan
pengembangan pelabuhan. Perkembangan positif industri kapal akan mempunyai
dampak pengganda yang sangat besar bagi perekonomian, dimulai dari industri baja,
sebagai pemasok bahan baku mesin dan perlengkapan kapal, hingga dukungan
kepada sektor perikanan, pariwisata, serta industri pelayaran penangkap ikan, kapal
pesiar, dan kapal pengangkut lainnya. Penguatan sektor maritim semakin memberikan
nilai tambah jika pengembangan industri kapal dan infrastruktur pelabuhan dapat
dipadukan dalam sebuah ekosistem kawasan ekonomi yang saling terkoneksi.

Selain aspek sektoral tersebut, kebijakan industrialisasi juga dapat dikaitkan dengan
upaya untuk terus menumbuhkembangkan peran ekonomi digital dalam pembangunan
ekonomi. Hal ini perlu mendapat perhatian mempertimbangkan penetrasi internet
Indonesia yang terus meningkat.1 Potensi pasar digital Indonesia yang besar dengan
pangsa mencapai 40,5% pasar digital Asia Tenggara, dan pertumbuhan perdagangan
online mencapai 50%, dapat menjadikan Indonesia sebagai pangsa pasar spesial
untuk usaha rintisan (start-up) berbasis internet.2 Bank Indonesia mendukung strategi
Pemerintah memperkuat ekspansi start-up, seperti melalui gerakan seribu start-up dan
regulasi terkait pendanaan bagi perusahaan start-up yang tercakup dalam e-
commerce Roadmap.

Prioritas kebijakan ketiga adalah percepatan pembangunan infrastruktur, baik


kebijakan infrastruktur dalam arti fisik maupun kebijakan infrastruktur yang bersifat
nonfisik. Dalam kaitan dengan infrastruktur fisik, Bank Indonesia terus mendukung
upaya pemerintah untuk membangun proyek-proyek seperti pembangunan jalan tol,
kereta api, dan revitalisasi pelabuhan. Bank Indonesia mendukung percepatan
pembangunan pembangkit listrik karena akan berperan penting dalam mendorong
proses industrialisasi. Bank Indonesia juga mendukung pembangunan infrastruktur
yang dapat memperkuat ketahanan pangan dan energi serta ketersediaan air bersih
seperti sistem pengelolaan air di berbagai lokasi. Pembangunan infrastruktur nonfisik
juga perlu mendapat perhatian serius. Beberapa aspek yang perlu mendapatperhatian
ialah komitmen untuk terus memperkuat berbagai modal dasar pembangunan, yang

Studi Kelayakan
Pembangunan SPPBE
PT. AGUNG SARANA TERMINAL
II - 3
mencakup modal manusia, inovasi dan teknologi, serta kelembagaan yang kuat.
Aspek modal manusia, inovasi dan teknologi menjadi modal penting dalam upaya
meningkatkan produktivitas ekonomi. Dari aspek kelembagaan, komitmen
pemberantasan korupsi dan memperkuat kepastian hukum di Indonesia juga perlu
terus diperkuat. Bank Indonesia meyakini komitmen Pemerintah untuk terus
memperbaiki aspek kelembagaan tidak hanya akan meningkatkan kemudahan
berusaha di Indonesia, tetapi juga akan dapat memperbaiki daya saing perekonomian.

Memasuki abad 21, Indonesia memiliki begitu banyak harapan dan kesempatan. Pada
tahun 2004, Indonesia dinobatkan dalam kelas negara baru, yaitu negara dengan
penghasilan menengah.1 Momen ini memberikan harapan dan sekaligus kesempatan
untuk naik kelas menuju negara dengan penghasilan tinggi. Selain itu, pada saat ini
Indonesia juga tengah memasuki periode bonus demografi (2010-2030), kondisi
dimana rasio ketergantungan (dependency ratio) yang rendah (Grafik 1). Bonus
demografi mengindikasikan adanya kesempatan untuk meraih pertumbuhan ekonomi
yang lebih tinggi. Namun, perjalanan ini tidak mudah, perlu adanya upaya untuk
mendorong peningkatan produktivitas tenaga kerja melalui pendidikan. Tanpa itu
semua, akan sulit menghindari perangkap negara berpendapatan menengah (middle
income trap).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia banyak ditopang oleh industri manufaktur, namun


sejak tahun 2009 pertumbuhannya cenderung menurun. Demikian juga dengan
proporsi sumbangan industri manufaktur yang terus menurun (terutama sejak 2005)
jauh lebih rendah dibandingkan negara lainnya seperti Tiongkok dan Korea Selatan.
Menurunnya kondisi industri manufaktur Indonesia juga terlihat dalam profil ekspor
nasional. Kontribusi komoditas industri manufaktur dalam ekspor semakin berkurang,
tergantikan oleh ekspor komoditas Sumber Daya Alam (SDA) terutama bila
dibandingkan periode sebelum 2000-an. Kinerja ekspor industri manufaktur Indonesia
tergambar dalam Indeks Spesialisasi Perdagangan (Trade Specialization Index) yang
mengukur infiltrasi produk Asia terhadap pasar dunia dan digunakan untuk mengukur
daya saing produk industri manufaktur Indonesia. Sejak tahun 2001, indeks tersebut
terus menurun dan bahkan terendah di kawasan ASEAN (Grafik 2).
Prospek perekonomian Indonesia diperkirakan terus membaik ditopang perbaikan
ekonomi global dan domestik. Pada tahun 2017, pertumbuhan ekonomi diperkirakan
dalam kisaran 5,0-5,4% dan inflasi dalam kisaran sasarannya 4,0±1%. Prospek

Studi Kelayakan
Pembangunan SPPBE
PT. AGUNG SARANA TERMINAL
II - 4
perbaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan terus berlanjut pada jangka
menengah didukung inflasi yang dalam tren menurun dan defisit transaksi berjalan
yang berada pada level yang sehat. Prospek perbaikan perekonomian ekonomi jangka
menengah dipengaruhi dampak positif berbagai langkah reformasi struktural sehingga
kenaikan pertumbuhan ekonomi tetap dapat diikuti inflasi yang terkendali dan defisit
transaksi berjalan yang sehat

Perekonomian Indonesia pada tahun 2017 diperkirakan terus membaik dipengaruhi


prospek perbaikan ekonomi global dan domestik. Dari global, pertumbuhan ekonomi
dunia diperkirakan lebih baik dibandingkan dengan capaian pada 2016.
Perkembangan ini kemudian berkontribusi kepada kenaikan harga komoditas, baik
energi maupun non-energi. Dari domestik, perbaikan prospek ekonomi ditopang
perkiraan mulai berkurangnya proses konsolidasi internal yang dilakukan oleh
korporasi dan perbankan.

Korporasi diperkirakan melanjutkan ekspansi usaha yang sudah terlihat pada Triwulan
IV 2016 didorong kenaikan keyakinan berusaha antara lain sebagai dampak kenaikan
harga komoditas dunia. Sejalan optimisme korporasi, perbankan diperkirakan juga
mulai meningkatkan pemberian kredit dipengaruhi perkiraan risiko kredit yang juga
turun. Selain itu, kebijakan fiskal 2017 juga tetap memberikan stimulus kepada
perekonomian, khususnya kepada sektor prioritas dan sektor yang memiliki dampak
pengganda yang besar. Dengan asumsi tersebut, perekonomian Indonesia 2017 akan
ditandai peningkatan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas ekonomi yang tetap terjaga.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2017 diproyeksikan meningkat dalam kisaran
5,0-5,4%.

Kenaikan pertumbuhan ekonomi masih akan banyak ditopang permintaan domestik,


yakni konsumsi dan investasi, meskipun kinerja ekspor juga mulai membaik.
Sementara itu, inflasi 2017 masih dalam kisaran sasarannya sebesar 4,0±1%,
meskipun diperkirakan meningkat dibandingkan dengan capaian pada tahun 2016.
Stabilitas ekonomi yang terkendali juga diikuti defisit transaksi berjalan yang
diperkirakan tetap sehat di bawah level 2,5% dari PDB. Prospek pertumbuhan
ekonomi yang naik, risiko kredit yang menurun, serta suku bunga kredit yang masih
berpotensi turun berpotensi meningkatkan penyaluran kredit perbankan yang
diperkirakan dalam kisaran 10-12%. Kenaikan pertumbuhan kredit kemudian

Studi Kelayakan
Pembangunan SPPBE
PT. AGUNG SARANA TERMINAL
II - 5
berdampak positif pada dana pihak ketiga yang diproyeksikan tumbuh dalam kisaran
9-11%.

Prospek perbaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan terus berlanjut pada


jangka menengah dengan didukung inflasi yang dalam tren menurun dan defisit
transaksi berjalan yang berada dalam level yang sehat. Perkiraan perekonomian
jangka menengah panjang didukung dampak positif berbagai langkah reformasi
struktural. Reformasi struktural diperkirakan dapat meningkatkan efisiensi dan
produktivitas perekonomian yang pada gilirannya akan dapat mendorong
pertumbuhan ekonomi tanpa memberikan tekanan berlebihan kepada inflasi dan
defisit transaksi berjalan. Inflasi diperkirakan tetap terkendali dalam kisaran 3,0±1%
pada 2021. Selain itu, defisit transaksi berjalan tetap berada dalam level yang sehat di
bawah 2,5% PDB.

II.2. PROYEKSI EKONOMI SUMATERA UTARA 2017

Perekonomian Sumatera Utara pada Triwulan IV 2016 relatif stabil dikisaran 5,3%
(yoy). Capaian ini diatas kinerja perekonomian nasional yang melambat menjadi 4,9%
(yoy). Kinerja sektor eksternal yang cukup baik ditengah tertahannya perbaikan
perekonomian domestik menyebabkan perekonomian Sumatera Utara pada Triwulan
IV 2016 tumbuh stabil. Secara keseluruhan tahun, kinerja perekonomian Sumatera
Utara kembali menggeliat dari 5,1% (yoy) menjadi 5,2% (yoy). Perbaikan
perekonomian terutama ditopang oleh masih kuatnya konsumsi masyarakat diiringi
oleh kinerja sektor eksternal yang terus membaik. Memasuki awal tahun 2017,
konsumsi masyarakat akan barang dan jasa diperkirakan masih cukup kuat seiring
dengan perayaan tahun baru dan imlek. Permintaan domestik yang masih kuat dan
terus membaik serta perbaikan ekonomi global yang akan diikuti oleh meningkatnya
harga komoditas perkebunan diperkirakan akan menjadi pendorong perbaikan
perekonomian lebih lanjut. Dengan demikian, perekonomian Sumatera Utara pada
Triwulan I 2017 diperkirkan berada pada kisaran 5,1-5,5% (yoy).

Inflasi Sumatera Utara pada tahun 2016 tercatat sebesar 6,3% (yoy), lebih tinggi dari
sasaran yang telah ditetapkan. Selain itu, angka ini lebih tinggi dari realisasi inflasi
nasional sebesar 3,2% (yoy) dan inflasi 2015 yang mencapai 3,3% (yoy). Tingginya
angka inflasi tersebut terutama disebabkan oleh tekanan volatile food khususnya

Studi Kelayakan
Pembangunan SPPBE
PT. AGUNG SARANA TERMINAL
II - 6
komoditas cabai merah. Gangguan produksi akibat bencana Gunung Sinabung dan
gangguan Organisme Penganggu Tanaman (OPT) menyebabkan pasokan menurun.
Selain itu, tekanan inflasi juga disebabkan oleh inflasi administered prices.

Pada 2016 pemerintah menetapkan kenaikan tarif untuk beberapa komoditas


diantaranya cukai rokok, biaya perpanjangan STNK, tarif listrik, dan BBM. Sementara,
kelompok inti masih cenderung stabil seiring dengan terjaganya ekspektasi
masyarakat, baik di level konsumen maupun pedagang. Sementara itu, tekanan inflasi
terkait dengan perbaikan daya beli masyarakat diimbangi dengan dampak nilai tukar
yang cenderung apresiatif.

Perekonomian pada Triwulan II 2017 diperkirakan masih cukup baik di kisaran 5,3-
5,7% (yoy). Pertumbuhan perekonomian pada triwulan dimaksud diperkirakan
bersumber dari kuatnya permintaan domestik dan adanya perbaikan dari sisi eksternal
meski masih relatif terbatas. Perekonomian mendatang juga diperkirakan diriingi oleh
peningkatan tekanan inflasi seiring dengan meningkatnya permintaan sesuai pola
musiman ditengah terbatasnya pasokan bahan pangan.

Secara keseluruhan tahun, perekonomian Sumatera Utara pada tahun 2017


diperkirakan membaik dibandingkan tahun sebelumnya dan berada pada kisaran
5,2%-5,6%. Perbaikan didorong oleh membaiknya permintaan domestik yang semakin
semakin solid serta kinerja ekspor yang semakin membaik. Perbaikan perekonomian
pada tahun 2017 disertai dengan terjangkarnya inflasi yang diperkirakan akan berada
pada kisaran 4,0 ± 1% (yoy), atau menurun dibandingkan tahun 2016. Rendahnya
tekanan inflasi pada tahun 2017 ditopang oleh pasokan pangan yang mulai kembali
normal. Sementara itu, risiko inflasi diperkirakan bersumber dari inflasi administered
prices (Sumber: Bank Indonesia)

II.3. PELUANG PASAR BISNIS PEMANFAAT ELPIJI DI INDONESIA

LPG (Liquified Petroleum Gas) atau yang biasa dikenal dengan sebutan Elpiji kini
memasuki babak baru dalam pemanfaatannya di dalam negeri. Selama ini dari

Studi Kelayakan
Pembangunan SPPBE
PT. AGUNG SARANA TERMINAL
II - 7
konsumsi elpiji lebih banyak digunakan oleh sektor rumah tangga (69 persen), lalu
hotel berbintang dan restoran (13 persen), dan industri sebanyak 18 persen. Namun
kini, utilisasi dari LPG diperluas hingga ke pembangkit-pembangkit listrik milik PLN.

Pertanyaannya, apakah LPG yang juga dipakai di dapur-dapur itu juga digunakan di
pembangkit listrik? Tentu sajaberbeda. LPG yang diproduksi di Indonesia terbagi dua,
yakni jenis yang refrigerated dan press rise. Yang dipakai di dapur atau di tabung, itu
adalah yang press rise. Kalau yang dihasilkan oleh LNG Plant biasanya adalah jenis
refrigerated (Gas alam itu struktur C1 dan C2). Mengubahnya menjadi press rise
diperlukan peralatan tertentu. Untuk kebutuhan domestik selama ini adalah yang press
rise (Struktur C3 dan C4), sementara yang refrigerated tidak bisa langsung dipakai di
dalam negeri sehingga sebagian besar diekspor. Jenis refrigerated inilah yang
digunakan oleh pembangkit listrik PLN. Utilisasi dari LPG untuk pembangkit itu justru
akan memberi penghematan (savings) bagi PLN. Akan ada savings di pembangkitan
listrik. Kedua, kalau konsumsi atau volume BBM turun maka besar subsidi turun. Soal
berapa banyak permintaan dari PLN, produsen gas siap menyuplai.

Selama ini, PT Pertamina (Persero) adalah pemain satu-satunya di bisnis LPG. Jadi,
jika kini produsen migas lainnya atau KKS (Kontrak Kerja Sama) di bawah payung BP
Migas menyuplai LPG untuk PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) Gresik milik PLN,
ini tentu menjadi babak baru ekstensifikasi bisnis LPG. Sumber gas bumi di Indonesia
sebenarnya cukup besar, mencapai lebih dari 100 TCF (triliun kaki kubik). Cadangan
itu terpencar di seluruh Indonesia, terutama di Sumatera bagian Utara, Sumatera
bagian Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, dan Natuna, Jawa sebelah
tenggara, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Angka cadangan itu akan terus
meningkat, karena bagian terbesar kawasan timur Indonesia baik darat maupun di
lepas pantai, relatif masih banyak yang belum diselidiki. Sekitar 22 cekungan yang
sebagian terbesar terletak di ka-wasan timur Indonesia belum dibor. Dari sisi
permintaan, gas bumi cukup potensial. Utilisasinya sangat luas, mulai dari kalangan
rumah tangga, industri (pupuk, petrokimia, semen, pabrik baja), listrik, hingga
transportasi. LPG tak hanya digunakan untuk memasak, tetapi juga untuk keperluan
penerangan, water heater, gas stove, rice cooker, seterika, dan lain-lain. Dan secara
umum, LPG ini digunakan untuk restoran, rumah sakit, laboratorium, industri, pabrik-
pabrik, perusahaan keramik, dok, perkapalan, bengkel, dan lain-lain. LPG juga
digunakan sebagai alat penekan pada industri yang menghasilkan produk seperti

Studi Kelayakan
Pembangunan SPPBE
PT. AGUNG SARANA TERMINAL
II - 8
deodoran, minyak wangi, alat kosmetik, dan sebagainya. Selain itu, pada industri
keramik, LPG digunakan sebagai alat bantu penyemprot cat keramik serta bahan
bakar pemanas.

Di bidang industri, produk LPG digunakan sebagai pengganti freon, aerosol,


refrigerant/cooling agent, kosmetik, dan dapat pula dijadikan bahan baku produk
khusus.LPG pun digunakan sebagai tenaga penggerak atau bahan bakar bagi
kendaraan bermotor. Jadi singkatnya, industri LPG di Indonesia tetap memiliki prospek
yang cerah. Swasta Elpiji dapat dihasilkan dari kilang Unit Pengolahan (UP) Direktorat
Hilir atau kilang swasta, yaitu pihak swasta yang bekerjasama dengan Daerah Operasi
Hulu (DOH) Direktorat Hulu. Mengikuti meningkatnya konsumsi bahan bakar serta
munculnya teknologi yang lebih canggih, LPG telah dihasilkan bukan saja oleh kilang
minyak tetapi juga oleh kilang LPG.

Kilang LPG tersebut dibangun di beberapa lapangan minyak antar lain di lapangan
Rantau (Aceh), Tuga Barat dan Mundu (Jawa Barat), Arar (Irian Jaya), lepas pantai
laut Jawa (di daerah kerja ARCO), dan di Tanjung Santan (Kalimantan Timur,
dioperasikan oleh Union Oil).

2.3.1. Ekspor dan Impor Gas ELpiji

Berdasarkan info dari Bank Indonesia, bahwa ekspor LPG nasional pada tahun 2015
tercatat 10.340,8 juta US$ lebih besar nilainya dari impor, selengkapnya dapat dilihat
pada Tabel 2.1.

Tabel. 2.1 Nilai Ekspor dan Impor Migas (juta US$), 1996-2015
Gas
Tahun
Ekspor Impor
1996 4.493,9 0,5
1997 4.840,1 13,8
Tahun Gas
1998 3.815,5 20,5
Ekspor 4.357,0 Impor
1999 5,4
2003
2000 6.476,7
6.624,9 21,5
3,5
2004
2001 7.749,6
5.732,2 8,5
10,1
2005
2002 9.153,7
5.577,6 14,9
0,2
2006 10.197,1 30,0
2007 9.983,8 89,2
2008 13.160,5 260,6
2009 8.935,7 489,1
2010 13.669,4 863,2
Studi Kelayakan 2011 22.871,5 1.412,5
Pembangunan SPPBE
2012 20.520,5 3.081,6
PT. AGUNG SARANA2013
TERMINAL 18.129,2 3.113,0 II - 9
2014 17.180,3 3.025,0
2015 10.340,8 2.013,0
Adapun negara tujuan pembeli terbesar gas elpiji Indonesia adalah Filipina, Jepang,
dan Korea Selatan, selengkapnya daftar negara tujuan ekspor dapat dilihat pada Tabel
2.2.

Tabel.2.2 Ekspor Gas menurut Negara Tujuan

Negara
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Tujuan

Berat Bersih (Ribu Ton)


13.132, 12.825,
Jepang 14.391,7 13.057,9 8 7 7.174,1 7.355,4 5.672,1 6.337,0
Korea
Selatan 3.372,7 3.135,9 5.652,3 9.383,5 8.515,4 6.131,6 5.466,2 3.938,0
1)
Tiongkok 3.009,8 2.299,0 1.883,7 2.385,3 2.248,9 2.634,8 2.572,3 2.826,7
Thailand 67,5 68,4 79,4 98,6 - - 2.261,4 2.313,3
Filipina - - 3,5 1,5 - - 5.946,8 7.608,9
Malaysia - 870,6 2.051,0 1.796,0 1.766,7 1.145,8 1.669,9 1.018,3
Australia - - - 25,8 - - 197,0 195,0
Singapura - - - - - - - -
Hongkong - - - - - - - -
Lainnya 0,1 3.268,3 7.667,2 7.786,5 8.138,2 7.842,8 0,5 547,6
30.469, 34.302, 27.843, 23.786,
Jumlah 20.841,8 22.700,1 9 9 3 25.110,4 2 24.784,8

Nilai FOB: (Juta US$)

Jepang 7.963,7 4.665,9 5.892,0 9.338,8 6.530,6 6.487,5 5.004,3 3.175,6


Korea
Selatan 2.657,7 1.519,6 2.877,3 6.072,9 5.946,6 4.163,6 3.850,5 1.647,9
1)
Tiongkok 2.469,0 1.040,5 339,5 412,5 429,8 457,4 818,2 1.089,1
Thailand 70,0 45,7 67,3 96,3 - - 1.946,8 1.104,4
Filipina - - 2,9 2,1 - - 4.887,8 2.786,2
Malaysia - 134,6 320,3 350,5 440,3 426,0 634,5 286,1
Australia - - - 19,7 - - 37,7 20,8
Singapura - - - - - - - -
Hongkong - - - - - - - -
Lainnya 0,1 1.529,4 4.170,2 6.578,7 7.173,2 6.594,7 0,5 230,7
13.669, 22.871, 20.520, 18.129, 17.180,
Jumlah 13.160,5 8.935,7 5 5 5 2 3 10.340,8

Sumber: Bank Indonesia 2017

Dan Menurut world Bank harga gas Alam diperkirakan akan terus meningkat,
selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.3.

Tabel 2.3. World Bank Commodities Price Forecast (nominal US dollars), release
Januari 24, 2017

Studi Kelayakan
Pembangunan SPPBE
PT. AGUNG SARANA TERMINAL
II - 10
Sumber: World Bank

2.3.2. Produksi dan Konsumsi Gas Elpiji Indonesia

Produksi Gas Elpiji Indonesia berfluktuasi turun naik, tetapi dalam rentang yang stabil
dalam jangka 10 tahun terakhir. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.4.

Tabel.2.4. Produksi Minyak Bumi dan Gas Alam Indonesia, 1996-2015


Gas Alam
Tahun
(MMscf)

1996 3.164.016,20
1997 3.166.034,90
1998 2.978.851,90
1999 3.068.349,10
2000 2.845.532,90
2001 3.762.828,50
2002 2.279.373,90
2003 2.142.605,00
2004 3.026.069,30
2005 2.985.341,00
2006 2.948.021,60
2007 2.805.540,30
2008 2.790.988,00
2009 2.887.892,20
2010 3.407.592,30
2011 3.256.378,90
2012 2.982.753,50
2013 2.969.210,80

Studi Kelayakan
Pembangunan SPPBE
PT. AGUNG SARANA TERMINAL
II - 11
2014 2.999.524,40
2015 2.948.365,80

Sumber; Bank Indonesia

Utilisasi yang rendah dari Elpiji terlihat jelas dari persentase rata-rata konsumsi per
kapita di Indonesia yang hanya sebesar 0,5 persen dari jumlah penduduk. Malaysia
padahal sudah mencapai 5 persen dan Thailand sebesar 2 persen dari jumlah
penduduknya. Pemerintah sendiri mencanangkan peningkatan konsumsi Elpiji
nasional.

Berdasarkan data yang dirilis BPS, bahwa tahun 2010 sd tahun 2015, konsumsi gas
elpiji terus meningkat baik untuk konsumsi rumah tangga, Komersial, Industri, dan
Pembangkit Listrik dan SPBE/SPBG. Kebutuhan Gas elpiji sebagai pembangkit listrik
mencapai pertumbuhan tertinggi yakni 14,4%, sesuai dengan pencanangan program
pemerintah peningkatan energi listrik Indonesia, disusul pertumbuhan SPBE/SPBG,
pertumbuhan volume penjualan meskipun mengalami penurunan pada tahun 2015
(perhitungan masih estimasi) namun secara keseluruhan sejak tahun 2010
menunjukkan pertumbuhan yang posritif diatas 2 %. hal ini menunjukkan bahwa
kebutuhan gas elpiji di Indonesia masih juga tinggi. Selengkapnya dapat dilihat pada
Tabel 2.5.

Tabel 2.5. Volume Penjualan Gas Alam Melalui Saluran Pipa Menurut Jenis
Pelanggan (MMSCF). 2010–2015

Sumber: Data BPS di rillis Bank Indonesia

Untuk mempercepat diversifikasi minyak tanah, pemerintah membangun jaringan


distribusi gas untuk rumah tangga (Jargas). Pembangunan Jargas dilakukan pada
wilayah yang tersedia jaringan distribusi dan tersedia alokasi gas bumi untuk rumah

Studi Kelayakan
Pembangunan SPPBE
PT. AGUNG SARANA TERMINAL
II - 12
tangga. Dalam perkembangannya, program pembangunan Jargas juga berfungsi
untuk mengganti LPG, yang sebagian besar konsumsi LPG domestik diperoleh dari
impor. Dengan demikian, program Jargas berdampak terhadap penghematan devisa,
peningkatan ketahanan energi, sekaligus merupakan program mitigasi GRK karena
mampu menurunkan emisi GRK.

Pada tahun 2015, ditetapkan regulasi tentang pengoperasian Jargas yang dibangun
oleh pemerintah (Permen ESDM 20/2015) sebagai pengganti Permen ESDM 29/2009.
Hal ini dilakukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan jaringan distribusi gas bumi
untuk rumah tangga yang dibangun oleh pemerintah. Untuk itu, pemerintah
menugaskan Badan Usaha (BUMN) untuk mengoperasikan Jargas dengan
mengusulkan harga jual gas kepada Badan Pengatur Hilir Migas (BPH Migas) serta
SKK Migas wajib menyiapkan BUMN yang ditunjuk untuk mengoperasikan dan atau
membangun dan mengoperasikan Jargas adalah PT Pertamina (Persero) dan PT
PGN (Persero). Pengoperasian Jargas oleh Pertamina diatur dalam Kepmen ESDM
3328/K/12/MEM/2015. Adapun pembangunan dan pengoperasian Jargas oleh PT
Pertamina (Persero) diatur dalam Kepmen ESDM 2042/K/10/MEM/2015 dan Kepmen
ESDM 4822/K/12/MEM/2015. Adapun pembangunan dan pengoperasian Jargas oleh
PT PGN (Persero) adalah Kepmen ESDM 4823/K/12/MEM/2015. Total Jargas yang
telah dibangun hingga tahun 2015 mencapai 213.132 rumah tangga termasuk dengan
anggaran pemerintah mencapai 97.100 rumah tangga yang tersebar di NAD, Riau,
Jambi, Sumsel, Jabodetabek, Jabar, Jateng, Jatim, Kaltim, Kalut, Sulsel, dan Papua
Barat. Adapun total konsumsi gas bumi untuk rumah tangga tahun 2014 mencapai 636
MMCF.(sumber:BPPT-outlook energi Indonesia 2016)

II.4. PERUSAHAAN – PERUSAHAAN MINYAK DAN GAS YANG BEROPERASI


DI INDONESIA

Indonesia punya banyak ladang minyak dan gas, baik yang sudah, sedang, maupun
yang belum tereksplorasi dan tereksploitasi. Walau penemuan cadangan minyak di
dunia menurun secara signifikan, konon, cadangan minyak di Indonesia masih cukup
besar dan belum terjamah. Potensi ini mengundang banyak perusahaan minyak dan
gas (migas) asing untuk berbondong-bondong berinvestasi di Indonesia. Ujung-
ujungnya, lapangan pekerjaan buat sektor ini juga menjadi terbuka.

Studi Kelayakan
Pembangunan SPPBE
PT. AGUNG SARANA TERMINAL
II - 13
1. Pertamina
Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (Pertamina) adalah
satu-satunya BUMN yang bertugas mengelola penambangan minyak dan gas
bumi di Indonesia. Pertamina pernah mempunyai monopoli pendirian SPBU di
Indonesia, namun monopoli tersebut telah dihapuskan pemerintah pada sekitar
tahun 2000-an. Pertamina mengoperasikan 7 kilang minyak dengan kapasitas
total 1.051,7 MBSD, pabrik petrokimia dengan kapasitas total 1.507.950 ton per
tahun dan pabrik LPG dengan kapasitas total 102,3 juta ton per tahun.
Pertamina adalah hasil gabungan dari perusahaan Pertamin dengan Permina
yang didirikan pada tanggal 10 Desember 1957. Penggabungan ini terjadi pada
1968. Pertamina menyelenggarakan usaha di bidang energi dan petrokimia:
sektor hulu dan hilir, serta ditunjang oleh kegiatan anak-anak perusahaan dan
perusahaan patungan yang jumlahnya begitu banyak.

2. Chevron
Chevron adalah salah satu perusahaan energi terbesar di dunia. Pusatnya ada
di San Ramon, California. Selain migas, Chevron juga bermain di eksplorasi,
produksi, refinery, pemasaran dan transportasi, pembangkit energi, sampai
chemical product. Perusahaan ini berdiri tahun 1879 di Pico Canyon, California.
Pada 2001, Chevron merger dengan Texaco dan membentuk Chevron Texaco.
Namun pada 9 Mei 2005, ChevronTexaco melepas moniker Texaco dan kembali
ke nama Chevron. Texaco tetap menjadi merek di bawah Chevron. Pada 19
Agustus 2005, Chevron bergabung dengan Unocal Corporation, sebuah
gerakan yang membuat Chevron produsen terbesar energi geotermal didunia.

3. China National Offshore Oil Corporation (CNOOC)


Adalah perusahaan minyak dan gas bumi (migas) terbesar ketiga di Republik
Rakyat China setelah CNPC dan Sinopec. Perusahaan ini punya hak eksklusif
untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi minyak mentah dan gas alam di
lepas pantai China. CNOOC juga merupakan sebuah perusahaan milik negara
yang mana 70% sahamnya dimikili oleh pemerintah Republik Rakyat China.
Mereka juga terdaftar di NYSE dengan kode ticker CEO. CNOOC hadir di
Indonesia dengan nama CNOOC Southeast Sumatra Ltd sebagai salah satu
perusahaan KKKS yang ditunjuk BPMIGAS untuk melakukan proses

Studi Kelayakan
Pembangunan SPPBE
PT. AGUNG SARANA TERMINAL
II - 14
pengeboran minyak dan gas bumi di lepas pantai Laut Jawa, sekitar 90 km
sebelah utara Teluk Jakarta, Indonesia.

4. CONOCO-PHILLIPS

Conoco Phillips berpusat di Houston, Texas. Merupakan salah satu oil company
besar yang memiliki lini bisnis terintegrasi — konon terbesar ketiga setelah
Exxon dan Shell. Conoco Phillips lahir 30 Agustus 2002 sebagai produk merger
antara Conoco Inc. dan Phillips Petroleum Company. ConocoPhillips dikenal
sebagai perusahaan dengan technological expertise untuk eksplorasi dan
produksi di laut dalam, reservoir management and exploitation, 3-D seismic
technology, high-grade petroleum coke upgrading, dan teknologi sulfur removal
yang begitu sophisticated.
5. Kuwait Foreign Petroleum Exploration Company (KUFPEC)
Perusahaan minyak bentukan Kuwait Petroleum Corporation yang beroperasi di
beberapa negara di luar Kuwait, seperti Mauritania dan Mesir. Di Indonesia,
mereka punya project di Buton dan telah memiliki interest di Blok Seram Non-
Bula sejak 1985.

6. Total N.V.
Tately N.V. adalah perusahaan eksplorasi dan rekayasa perminyakan asal
Malaysia. Mereka berkongsi dengan PEXCO Group di Indonesia untuk
menggarap PSC di Palmerah (Jambi) dan Lhokseumawe (Nanggroe Aceh
Darussalam).

7. Total
Total S.A. adalah perusahaan perminyakan asal Perancis yang berpusat di
Paris. Mereka juga bermain di gas, crude oil, eksplorasi gas alam,
transportation, refining, power generation, sampai product trading and
marketing. Perusahaan ini juga terdaftar di NYSE dengan kode ticker TOT.
Mereka juga dikenal bermain sebagai chemical manufacturer dan salah satu
dari enam besar oil company di dunia. Total beroperasi di lebih dari 130 negara
dengan 111 ribu karyawan lebih. Menurut sejarahnya, Total hampir saja
“diambil” oleh Royal Dutch Shell - andaikata waktu itu PM Perancis, Raymond
Poincaré tidak ngotot agar Perancis membangun perusahaan minyak sendiri

Studi Kelayakan
Pembangunan SPPBE
PT. AGUNG SARANA TERMINAL
II - 15
sesudah Perang Dunia I. Total akhirnya berdiri 28 Maret 1924 dengan nama
Compagnie Française des Pétroles (CFP) mencaplok 23.75% kepemilikan
saham Turkish Petroleum Company sebagai kompensasi yang diberikan
Jerman melalui Konferensi Sanremo. Tahun 1985 mereka mengganti nama
menjadi Total CFP. Tahun 1991 mereka menghilangkan nama CFP. Pernah
dikenal sebagai Total Fina setelah mengakuisisi Belgian Petrofina (1999) dan
pernah juga dikenal dengan nama TotalFinaElf pasca merger tahun 2000. Kini
mereka kembali menamai dirinya Total sejak 2003.

II.5. DISTRIBUSI DAN PRODUKSI SPPBE

Berdasarkan data Pertamina (www.pertamina.com) Indonesia tahun 2016 lalu yang


beroperasi baru 83 unit dari 180 unit yang dibutuhkan. Pembangunannya sangat
lamban karena banyak terhambat masalah perizinan. Pada tahap awal, ada
keengganan baik dari masyarakat maupun dari pengusaha untuk melakukan konversi
dari bahan bakar minyak ke elpiji. Namun, lambat laun setelah manfaat dan
keuntungannya mulai dirasakan, permintaannya naik dengan tajam, untuk hal tersebut
perlu perubahan struktur, depo, pengisian SPPBE, tabung, dan sebagainya. Untuk
mengejar akselerasi kebutuhan pasar, Pertamina memerlukan penyesuaian.
Pembangunan SPPBE PT. Agung Sarana Terminal bertujuan agar semua lapisan
masyarakat dapat memperoleh pelayanan elpiji secara mudah, murah dan merata,
dengan tujuan tersebut diharapkan akan tercapai program pemerintah untuk
meningkatkan perekonomian masyarakat dengan baik.

Bahan Bakar Elpiji mulai banyak di manfaatkan oleh Ibu-Ibu rumah tangga karena
bahan bakar Elpiji menjanjikan banyak kemudahan dan kenyamanan dibanding bahan
bakar lainnya. Kemudahannya tidak perlu susah payah menuggu api kompor menyala
dengan sempurna. Elpiji menghasilkan pemanasan yang lebih cepat dari bahan bakar
biasa, selain itu tekanan uap Elpiji-pun lebih tinggi. Bahan bakar ELPIJI lebih nyaman
karena:

1. Tidak berasap dan berjelaga.


2. Tidak menginggalkan kotoran pada penggorengan dan tembok (jika letak
kompor berdekatan dengan tembok). Sehingga peralatan memasak dan dapur
tampak bersih sepanjang hari.
3. Polusi dapur berkurang.

Studi Kelayakan
Pembangunan SPPBE
PT. AGUNG SARANA TERMINAL
II - 16
4. Tidak membuat kotor dan bau pada masakan.
5. Daya pemanasannya cukup tinggi, sehingga menjamin efisiensi kerja yang
cukup tinggi pula.

Perbandingan Effesiensi Energi bahan bakar Elpiji dengan bahan bakar lainnya

Efisiensi
Daya Pemanasan
Bahan Bakar Apparatus
(Kcal/Kg)
(%)
Kayu Bakar 4000 15
Arang 8000 15
Minyak Tanah 11000 40
Gas Kota 4500 55
Elpiji 11900 60
Listrik 860 (Kcal/Kwh) 60

Jalur Distribusi untuk penyaluran elpiji tersebut dari Pusat juga dipercepat,
berdasarkan Pedoman Pencacahan dan Distribusi Elpiji 3 kg No. 1688/F10000/ 2007-
S3 yang berlaku tmt. 1 agustus 2007 seperti yang diperlihatkan pada skema berikut
ini. Sehingga dibutuhkan penambahan SPPBE milik PERTAMINA untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat tersebut.

Pangkalan

LPG FP / Agen Elpiji


Konsumen
SPBE 3 kg

Pangkalan

Gambar 2.1. Skema Distribusi Elpiji 3 kg dari SPPBE

II.6. PERKEMBANGAN PENDUDUK DAN PROYEKSI PERMINTAAN

Kebutuhan energi mengikuti laju perkembangan PDB nasional karena PDB dibentuk
dari sektor-sektor pengguna energi, seperti sektor industri, transportasi, rumah tangga,
komersial, dan lainnya. Laju pertumbuhan PDB rata-rata 6% per tahun akan
mendorong kebutuhan energi tahun 2050 menjadi 5,8 kali dari tingkat kebutuhan pada
tahun 2014. Bahan bakar minyak (bensin, minyak solar, minyak bakar,minyak tanah
dan avtur) masih mendominasi kebutuhan energi nasional dengan pangsa 31,5%
pada tahun 2015, kemudian di tahun 2050 meningkat menjadi 40,7%.

Studi Kelayakan
Pembangunan SPPBE
PT. AGUNG SARANA TERMINAL
II - 17
Sesuai dengan kemampuan produksi gas dan LPG, maka pemakaiannya hanya
meningkat sebesar 5,2% dan 2,2% per tahun. Pada tahun 2050 peran gas akan
meningkat menjadi 13,8% sedang peran LPG akan turun menjadi 2,0%, Rendahnya
peran LPG karena LPG mayoritas digunakan di sektor rumah tangga yang
pertumbuhannya terbatas karena terkait dengan pertumbuhan penduduk(BPPT-
Outlook Energi Indonesia 2016). Selengkapnya dapat dilihat pada gambar.2.2.

Sumber: BPPT-Outlook Energi Indonesia 2016

Gambar.2.2. Proyeksi kebutuhan energi final perjenis hingga tahun 2050 di


Indonesia

Sesuai dengan perkembangan penduduk yang meningkat dengan laju pertumbuhan


0,74% per tahun, penggunaan energi di sektor rumah tangga meningkat tipis. Dengan
mempertimbangkan penurunan pemakaian kayu bakar dan minyak tanah di sektor
rumah tangga, selama kurun waktu 2016 - 2050, pangsa penggunaan energi di sektor
ini 4,5 %. LPG untuk memasak juga mengalami pertumbuhan 1,86% per tahun karena
adanya program substitusi minyak tanah dengan LPG untuk memasak dan distribusi
LPG yang semakin luas akan menggantikan kayu bakar untuk memasak. Selama
kurun waktu 2014-2050 kebutuhan LPG di sektor ini diperkirakan tumbuh sebesar 2%

Studi Kelayakan
Pembangunan SPPBE
PT. AGUNG SARANA TERMINAL
II - 18
per tahun, dari 49,81 juta SBM (5,84 juta ton) pada tahun 2015 meningkat 97 juta SBM
(11,33 juta ton) pada tahun 2050 (Sumber: BPPT-Outlook Energi Indonesia 2016)

Menurut data dari PT. Pertamina unit kota Medan bahwa SPPBE di kota Medan
terdapat 3 SPPBE, direncanakan oleh PT. Pertamina akan di bangun 10 SPPBE lagi
untuk kota Medan dan sekitarnya pada tahun 2017 yang semua pengisiannya
berpusat di Depot Pertamina Kota Pangkalan Susu dan Tandem Binjai.
SPPBE yang ada di Kota Medan yang telah beroperasi adalah sbb:
1. SPPBE milik PT. Trihatras Nusantara dengan kapasitas sebanyak 27 MT/hari.
2. SPPBE PT Wanantara Dharma Satria dengan kapasitas 23 MT/HK
3. SPPBE PT Dharma Mitra Impreza dengan kapasitas 30 MT/HK,

Dari ke tiga SPPBE terebut diketahui total distribusi SPPBE per-hari adalah 80 MT/HK
atau 28.800 MT/tahun, sedangkan kebutuhan yang direncanakan untuk program
konversi dari PT. Pertamina sendiri adalah sebagai berikut:
 Jumlah Rumah tangga Penduduk kota Medan 2015 : 490.616 rumah tangga
 Pemakaian gas per-rumah tangga adalah 3 kg/minggu sehingga pemakaian
setahun adalah : 144 kg/tahun
 Pemakaian gas seluruh Rumah tangga kota Medan: 70.648.640 kg
70.648.640 ton
 Ketersediaan oleh 3 SPPBE di Kota Medan : 28.800 ton
 Pasar tersedia (belum dikelola) : 70.648 - 28.800 ton=
41.489 ton/tahun
atau
 Pasar tersedia (belum di kelola) : 114,7 MT/HK/hari

Jadi, PT. Agung Sarana Terminal memenuhi 25% (18.000 MT/tahun) dari total
kebutuhan rumah tangga yang ada di Kota Medan 70.648 MT. Penjualan gas elpiji ini
sangat erat ketergantungannya dengan keberhasilan sosialisasi pemakaian gas elpiji
oleh pemerintah atau pihak PT. Pertamina kepada masyarakat pemakai elpiji tersebut
dalam rangka mensukseskan program pemerintah menkonversi pemakaian minyak
tanah menjadi gas elpiji.

Studi Kelayakan
Pembangunan SPPBE
PT. AGUNG SARANA TERMINAL
II - 19
***Bab II***

Studi Kelayakan
Pembangunan SPPBE
PT. AGUNG SARANA TERMINAL
II - 20