Anda di halaman 1dari 30

SISTEM PENCERNAAN

TUMOR RONGGA MULUT

Disusun Oleh :
1. Dede Fitriani 6. Lulu Apriyani
2. Desi Nurlita 7. M. Rizal
3. Desi Ratna Sari 8. Neng Yayu Mulyani
4. Indriani Safitri 9. St. Nurhasanah
5. Irma 10. Yulianawati

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YATSI TANGERANG


Kampus A : Jl . Raya Siliwangi (Jl . Raya pasar kemis)KM.3 Tangerang-Banten.
Telp/fax : 021-59306633 , Email: stikesyatsi@yahoo.co.id
Website : www.stikes-yatsi.ac.id
Kampus B : Rumah Sakit Umum Melati, Jl. Merdeka No. 92 Tangerang Telp:
021-55799961
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas
segala limpahan rahmat dan karunia-Nya. Sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini yang berjudul Asuhan Keperawatan Tumor Rongga Mulut.
Penulis menyadari bahwa di dalam pembuatan makalah ini masih banyak
kekurangan tetapi berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak
lepas dari Dosen pembimbing. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis
menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua
pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini. Dan penulis
menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya.
Namun demikian, penulis telah berupaya dengan segala kemampuan dan
pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat menyelesaikan makalah ini dengan
baik dan oleh karenanya. Penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka
menerima masukan, saran dan usul guna penyempurnaan makalah ini. Akhirnya
penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.
Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada
pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun
membutuhkan kritik dan saran dari pembaca yang membangun. Terima kasih.

Tangerang, 29 Mei 2016

Penyusun

i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar …………………………………………………….. i
Daftar Isi …………………………………………………………… ii
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………….. 1
A. Latar Belakang ……………………………………………. 1
B. Tujuan ……………………………………………………… 1
BAB II PEMBAHASAN …………………………………………… 2
A. Anatomi dan Fisiologi Mulut ……………………………… 2
B. Definisi ………………………………………………......... 3
C. Etiologi ……………………………………………………. 4
D. Patofisiologi ……………………………………………….. 5
E. Manifestasi Klinis………………………………………….. 6
F. Klasifikasi …………………………………………………. 6
G. Pemeriksaan Penunjang …………………………………… 8
H. Komlikasi ………………………………………………….. 9
I. Penatalaksanaan ……………………………………………. 11
J. Terapi ………………………………………………………. 11
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN ……………………………... 17
A. Pengkajian …………………………………………………… 17
B. Diagnosa Keperawatan ………………………………………. 17
C. Intervensi Keperawatan ……………………………………… 18
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tumor rongga mulut adalah suatu pertumbuhan jaringan abnormal
yang terjadi pada rongga mulut. Jaringan tersebut dapat tumbuh pada bagian
anterior, posterior rongga mulut, dan tulang rahang. Pertumbuhannya dapat
digolongkan sebagai ganas (maligna) atau jinak (benigna). Perlu diperhatikan
perbedaan antara keduanya, bahwa tumor jinak merupakan pembentukan
jaringan baru yang abnormal dengan proses pembelahan sel yang masih
terkontrol dan penyebarannya terlokalisir. Sebaliknya pada tumor ganas,
pembelahan sel sudah tidak terkontrol dan penyebarannya meluas. Pada
tumor ganas, sel tidak akan berhenti membelah selama masih mendapat suplai
makanan. Rahang atas adalah bagian dari rongga mulut., nama lainnya adalah
palatum. Diatas rahang atas ada bagian yang disebut maksila, yang letaknya
agak dipinggir hidung dibawah kulit pipi. Tumor di rahang atas dapat berasal
dari langit-langit atau palatum, bisa dari maksila, atau juga bisa dari gusi
rahang atas , maupun kulit mukosa pipi atas. Secara umum penderita
mengeluh adanya benjolan di dalam mulut di daerah rahang atas dibawah pipi
(di dalam rongga mulut). Sehingga harus dibedakan antara tumor jinak
ataukah tumor tersebut termasuk dalam jenis tumor ganas sehingga harus
dilakukan pemeriksaan penunjang untuk mengetahui diagnosa pastinya.

B. Tujuan
Tujuan dari pembahasan kasus ini adalah untuk mengetahui secara pasti
definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang ,
komplikasi, penatalaksanaan, terapi, farmako dari tumor rahang atas.

1
BAB II
PENDAHULUAN

A. Anatomi Dan Fisiologi Mulut


1. Mulut (Oris)
Mulut merupakan jalan masuk menuju system pencernaan dan
berisis organ aksesori yang bersifat dalam proses awal pencernaan. Secara
umum terdiri dari 2 bagian yaitu :
a. Bagian luar (vestibula) yaitu ruang diantara gusi, gigi, bibir dan pipi.
b. Bagian rongga mulut (bagian) dalam yaitu rongga yang dibatasi sisinya
oleh tulang maksilaaris, palatum dan mandibularis di sebelah belakang
bersambung dengan faring.
2. Rongga Mulut
a. Gigi
Bagian gigi terdapat gigi (anterior) tugasnya memotong yang sangat
kuat dan gigi osterior tugasnya menggiling. Pada umumnya otot-otot
pengunyah di persarafi oleh cabang motorik dari saraf cranial ke 5.
Dan proses mengunyah di control oleh nucleus dalam batang otak.
Perangsangan formasio retikularis dekat pusat batang otak untuk
pengecapan dapat menimbulakan pergerakan mengunyah secara ritmis
dan kontinu. Mengunyah makanan bersifat penting untuk pencernaan
semua makanan, terutama untuk sebagian besar buah dan syur-sayuran
mentah karena zat ini mempunyai membrane selulosa yang tidak dapat
dicerna diantara bagian-bagian zat nutrisi yang harus di uraikan.
b. Lidah
Indera pengecap terdiri dari kurang lebih 50 sel-sel epitel bebrapa
diantaranya disebut sel sustentakular dan yang lainnya di sebut sel
pengecap. Lidah berfungsi untuk menggerakan makan saat dikunyah
atau ditelan. Lidah terdiri dari otot serat lintang dan dilapisi selaput
lendir. Dibagian pangkal lidah terdapat epiglottis berfungsi untuk
menutup jalan nafas pada waktu menelan supaya makanan tidak

2
3

masuk kejalan nafas. Kerja otot dapat di gerakkan 3 bagian, yaitu


radiks lingua (pangkal lidah), dorsum lingua (punggung lidah), apek
lingua (ujung lidah).
c. Kelenjar Ludah
Kelenjar ludah yaitu kelenjar yang memiliki duktus yaitu duktus
duktus wartoni dan duktus stensoni. Kelenjar ii mensekresikan saliva
jedalan rongga oral di hasilkan di dalam rongga mulut dipersarafi oleh
saraf tak sadar.
1) Kelenjar parotis, letaknya dibawah depan dari telinga diantara
proses mastoid kiri dan kanan mandibularis pada duktus stensoni.
2) Kelenjar submaksilaris terletak dibawah fongga mulut bagian
belakang, dukts wartoni.
3) Kelenjar subliingualis, dibawah selaput lendir, bermuara di dasar
raongga mulut.
Fungsi saliva :
a) Memudahkan makan utnuk dikunyah oleh gigi dan dibentuk
menjado bolus
b) Mempertahankan bagian mulut dan lidah agar tetap lembab,
sehingga memudahkan lidah bergerak utnuk bericara
c) Mengandung ptyalin dan amylase, suatu enzyme yang dapat
mengubah zat tepung menjadi maltose polisakarida
d) Seperti zat buangan seperti asam urat dan urea serta obat, virus,
dan logam, disekresi kedalam saliva
e) Sebagai zat anti bakteri dan anti body yang berfungsi untuk
memberikan rongga oral dan membantu memelihara kesehatan
oral serta mencegah kerusakan gigi.

B. Definisi
Tumor secara umum adalah suatu pertumbuhan jaringan yang
abnormal yang tidak terkendali dan tidak berguna bagi tubuh. Tumor rongga
mulut adalah suatu pertumbuhan abnormal di dalam dan di sekitar rongga
4

mulut yang pertumbuhannya tidak dapat dikendalikan dan tidak berguna bagi
tubuh. Jaringan tersebut dapat tumbuh pada bibir, pipi, dasar mulut, palatum,
lidah, dan di dalam tulang rahang. Penyebab tumor sampai saat ini belum
diketahui. Kombinasi kelainan genetik, Oral hygiene yang buruk serta nikotin
merupakan hal yang mendukung terjadinya tumor ganas rongga mulut.

C. Etiologi
Penyebab yang pasti dari tumor ganas rongga mulut belum dapat
ditentukan. Sekalipun demikian beberapa faktor dari resiko diduga berkaitan
dengan meningkatnya insidensi tumor ini. Faktor-faktor yang dapat memicu
timbulnya perubahan keganasan disebut karsinogen. Beberapa faktor yang
berpengaruh terhadap terjadinya tumor ganas rongga mulut antara lain :
1. Faktor lokal, meliputi kebersihan rongga mulut yang jelek, iritasi kronis
dari restorasi, gigi-gigi karies atau akar gigi, gigi palsu.
2. Faktor luar, antara lain karsinogen kimia berupa rokok dan cara
penggunaannya, tembakau, agen fisik, radiasu ionisasi, virus, sinar
matahari, trauma yang kronik.
3. Faktor host, meliputi usia, jenis kelamin, nutrisi imunologi dan
genetic.Selain faktor-faktor tersebut di atas, kebersihan rongga mulut
yang tidak terjaga pun ikut mengambil peranan memicu timbulnya tumor
rongga mulut.
Seperti halnya dibagian tubuh lainnya tumor rongga mulut dapat di
golongkan menjadi tumor ganas dan tumor jinak. Tumor pada rongga mulut
dapat terjadi pada lapisan epidermis mukosa mulut, otot, tulang rahang,
kelenjar ludah, kelenjar getah bening.
1. Tanda-tanda tumor ganas : Pertumbuhannya cepat, menyebar dan
menekan sehingga menibulkan rasa sakit, pada rongga mulut dapat berupa
ulkus yang tidak sembuh2. Biasanya diikuti gejala sistemik berupa
penurunan berat badan yang cepat, keringat malam, panas badan dan
kelemahan
5

2. Tanda-tanda tumor jinak : Tumbuh lambat, tidak sakit, tidak


menimbulkan gangguan fungsi pada jaringan sekitarnya, pertumbuhannya
terbatas biasanya berkapsel, tidak bermetastase pada organ lain.

D. Patofisiologi
Sel kanker muncul setelah terjadi mutasi-mutasi pada sel normal
yang disebabkan oleh zat-zat karsinogenm tadi. zat karsinogen dari asap
rokok tersebut memicu terjadinya Karsinogenesis (transformasi sel normal
menjadi sel kanker). Karsinogenesisnya terbagi menjadi 3 tahap:
1. Tahap pertama merupakan Inisiaasi yatu kontak pertama sel normal
dengan zat Karsinogen yang memancing sel normal tersebut menjadi
ganas.
2. Tahap kedua yaitu Promosi, sel yang terpancing tersebut membentuk
klon melalui pembelahan(poliferasi).
3. tahap terakhir yaitu Progresi, sel yang telah mengalami poliferasi
mendapatkan satu atau lebih karakteristik neoplasma ganas.
Karsinoma sel mukosa yang makroskopik bersifat tukak → lesi
yang terus menetap → menginflamasi jaringan tulang terutama mandibula
sampai endotel → bermetastasis ke bagian tubuh yang lain.
Pathway
6

E. Manifestasi Klinis
Gejala-gejala tumor rongga mulut antara lain adalah munculnya :
1. Adanya luka pada wajah, leher kepala dan sariawan di dalam mulut yang
tidak sembuh dalam waktu 2 minggu
2. Pembengkakan, benjolan pada bibir, gusi atau daerah lainnya di dalam
rongga mulut
3. Adanya tanda kemerahan atau putih, pengerasan di sekitar rongga mulut
4. Perdarahan yang berulang di dalam rongga mulut
5. Parasthesia (mati rasa) atau nyeri di sekitar wajah, mulut atau leher
6. Kesulitan menggerakkan rahang atau lidah
7. Pembengkakan rahang sehingga gigi tiruan menjadi tidak fit dan stabil
8. Gigi goyang atau nyeri pada gigi atau rahang
9. Perubahan suara
10. Pembengkakan di leher
11. Kehilangan berat badan

F. Klasifiksai
1. Klasifikasi Histopatologi
a. Tipe Histologi
NO TIPE HISTOLOGI ICD.M
1 Squamous cell carc. 5070/3
2 Adenocarcinoma 8140/3
3 Adenoid cyst.carc 8200/3
4 Ameloblastic carc 9270/2
5 Adenolymphoma 8561/3
6 Mal. mixed tumor 8940/3
7 Pleomorphic carc 8941/3
8 Melanoma maligna 8720/3
9 Lymphoma maligna 9590/3-9711/3
7

Sebagian besar (90%) kanker rongga mulut berasal dari mukosa


yang berupa karsinoma epidermoid atau karsinoma sel skwamosa dengan
diferensiasi baik, tetapi dapat pula berdiferensiasinya sedang, jelek atau
anaplastik. Bila gambaran patologis menunjukkan suatu rabdomiosarkoma,
fibrosarkoma, malignant fibrohistiocytoma atau tumor ganas jaringan
lunak lainnya, perlu diperiksa dengan teliti apakah tumor itu benar suatu
tumor ganas rongga mulut (C00-C06) ataukah suatu tumor ganas jaringan
lunak pipi, kulit atau tulang yang mengadakan invasi ke rongga mulut.
b. Derajat Diferensiasi
DERAJAT DIFERENSIASI
GRADE KETERANGAN
G1 Differensiasi baik
G2 Differensiasi sedang
G3 Differensiasi jelek
G4 Tanpa differensiasi = Anaplastik

c. Laporan Patologi Standard


Yang perlu dilaporkan pada hasil pemeriksaan patologis dari spesimen
operasi meliputi :
1) Tipe histologis tumor
2) Derajat diferensiasi (grade)
3) Pemeriksaan tnm untuk menentukan stadium
4) patologis (ptnm)
T = Tumor prime
- Ukuran tumor
- Adanya invasi kedalam pembuluh darah atau limfe
- Radikalitas operasi

N = Nodus regional
- Ukuran KGB
- Jumlah KGB yang ditemukan
8

- Level KGB yang positif


- Jumlah KGB yang positif
- Invasi tumor keluar kapsel KGB
- Adanya metastase ekstra nodal

M = Metastase jauh

G. Pemeriksaan Penunjang
1. X-foto polos
- X-foto mandibula AP, lateral, Eisler, panoramik, oklusal, dikerjakan pada
tumor gingiva mandibula atau tumor yang lekat pada mandibula
- X-foto kepala lateral, Waters, oklusal, dikerjakan pada tumor
gingiva, maksilaatau tumor yang lekat pada maksila
- X-foto Hap dikerjakan pada tumor palatum durum
- X-foto thorax, untuk mengetahui adanya metastase paru
2. Imaging( dibuat hanya atas indikasi )
- USG hepar untuk melihat metastase di hepar
- CT-scan atau MRI untuk menilai luas ekstensi tumor lokoregional
- Scan tulang, kalau diduga ada metastase ke tulang
3. PemeriksaanLaboratorium
Pemeriksaan laboratorium rutin, seperti: darah, urine,
SGOT/SGPT, a l k a l i fosfatase, BUN/kreatinin, albumin,
globulin, serum elektrolit, faal hemostasis, untuk menilai keadaan
umum dan persiapan operasi
4. PemeriksaanPatologi
Semua penderita kanker rongga mulut atau diduga kanker
rongga mulut harusdiperiksa patologis dengan teliti.Spesimen diambil dari
biopsi tumor Biopsi jarum halus (FNA) untuk pemeriksaan sitologis dapat
dilakukan pada tumor primer atau pada metastase kelenjar getah bening leher.
Biopsi eksisi : bila tumor kecil, 1 cm atau kurang eksisi yang dikerjakanialah eksisi
luas seperti tindakan operasi definitif ( 1 cmdari tepi tumor)
9

Biopsi insisi atau biopsi cakot (punch biopsy) menggunakan tang aligator: bila
tumor besar atau inoperable.
Yang harus diperiksa dalam sediaan histopatologis ialah tipe,
diferensiasi dan luas invasidari tumor.
Tumor besar yang diperkirakan masih operabel :Biopsi sebaiknya dikerjakan
dengan anestesi umum dan sekaligus dapat dikerjakan eksplorasi
bimanuil untuk menentukan luas infiltrasi tumor (staging)
Tumor besar yang diperkirakan inoperabel :Biopsi dikerjakan dengan
anestesi blok lokal pada jaringan normal di sekitar
tumor.( anestesi infiltrasi pada tumor tidak boleh dilakukan untuk
mencegah penyebaran selkanker)

H. Komplikasi
1. Komplikasi Akibat Kemoterapi
Karena sel lapisan epitel gastrointestinal mempunyai waktu pergantian
yang mirip dengan leukosit, periode kerusakan terparah pada mukosa oral
frekuensinya berhubungan dengan titik terendah dari sel darah putih.
Mekanisme dari toksisitas oral bertepatan dengan pulihnya granulosit.
Bibir, lidah, dasar mulut, mukosa bukal, dan palatum lunak lebih sering
dan rentan terkena komplikasi dibanding palatum keras dan gingiva; hal
ini tergantung pada cepat atau tidaknya pergantian sel epithelial. Peran
vaskularisasi darah pada stomatitis dapat diduga sebagai akibat dari
cryoterapi topical dalam melindungi mucositis dari agen-agen seperti
fluorouacil.
Agen antineoplastik merupakan penyebab utama mucositis, termasuk ;
bleomycin, dactomycin, doxorubicin, etoposide, fluxuridine, 5FU,
hydroxiurea, methotrexate, mitomycin, vinblastine, vincristine, dan
vinorelbine. Mukosa mulut akan menjadi tereksaserbasi ketika agen
kemoterapeutik yang menghasilkan toksisitas mukosa diberikan dalam
dosis tinggi atau berkombinasi dengan ionisasi penyinaran radiasi.
10

2. Komplikasi Akibat Radiasi


Penyinaran lokal pada kepala dan leher tidak hanya menyebabkan
perubahan histologis dan fisiologis pada mukosa oral yang disebabkan
oleh terapi sitotoksik, tapi juga menghasilkan gangguan struktural dan
fungsional pada jaringan pendukung, termasuk glandula saliva dan tulang.
Dosis tinggi radiasi pada tulang yang berhubungan dengan gigi
menyebabkan hypoxia, berkurangnya supplai darah ke tulang, hancurnya
tulang bersamaan dengan terbukanya tulang, infeksi, dan nekrosis.
Radiasi pada daerah kepala dan leher serta agen antineoplastik merusak
divisi sel, mengganggu mekanisme normal pergantian mukosa oral.
Kerusakan akibat radiasi berbeda dari kerusakan akibat kemoterapi, pada
volume jaringan yang terus teradiasi terus-menerus akan berbahaya bagi
pasien sepanjang hidupnya. Jaringan ini sangat mudah rusak oleh obat-
obatan toksik atau penyinaran radiasi lanjutan, Mekanisme perbaikan
fisiologis normal dapat mengurangi efek ini sebagai hasil dari depopulasi
permanen seluler.
3. Komplikasi Akibat Pembedahan
Pada pasien dengan osteoradionekrosis yang melibatkan mandibula dan
tulang wajah, maka debridemen sisa pembedahan dapat merusak. Usaha
rekonstruksi akan menjadi sia-sia, kecuali jaringan oksigenasi
berkembang pada pembedahan. Terapi hiperbarik oksigen telah berhasil
menunjukkan rangsangan terhadap formasi kapiler baru terhadap jaringan
yang rusak dan telah digunakan sebagai tambahan pada debridemen
pembedahan.
4. Penilaian Pra-perawatan dan Intervensi
Insidens komplikasi oral pada pasien yang tidak memiliki keganasan pada
kepala dan leher dapat secara signifikan berubah ketika dilakukan
pendekatan intensif pada pasien tentang pentingnya kebersihan mulut.
Tindakan preventif primer yang terukur., seperti ; keseimbangan intake
nutrisi, oral hygiene, yang adekuat, deteksi dini terhadap masalah oral,
merupakan intervensi pra-perawatan yang penting. Seorang dokter gigi
11

atau ahli hygiene harus akrab dengan komplikasi oral akibat perawatan
kanker. Dokter gigi harus memeriksa terlebih dahulu pasien sebelum
perawatan (kemoterapi dan radioterapi pada kepala dan leher). Idealnya
pemeriksaan ini dilakukan 2-4 minggu sebelum perawatan, untuk
mendapatkan penyembuhan adekuat buat perawatan dental. Pemeriksaan
ini membuat dokter gigi dapat mengetahui kondisi mukosa oral dan
jaringan pendukung sebelum terapi dan untuk memulai intervensi yang
diperlukan yang dapat mengurangi komplikasi oral selama dan sesudah
terapi. Sebuah program oral hygiene harus dimulai dimana pasien harus
diberitahu tentang pentingnya OH yang bagus sebelum memulai
perawatan.

I. Penatalaksanaan
1. Tindakan Bedah
Terapi umum untuk kanker rongga mulut adalah bedah untuk mengangkat
sel-sel kanker hingga jaringan mulut dan leher.
2. Terapi Radiasi
Terapi radiasi atau radioterapi jenis terapi kecil untuk pasien yang tidak di
bedah. Terapi dilakukan untuk membunuh sel kanker dan menyusutkan
tumor. Terapi juga dilakukan post operasi untuk membunuh sisa-sisa sel
kanker yang mungkin tertinggal didaerah tersebut.
3. Kemoterapi
Kemoterapi adalah terapi yang menggunakan obat anti kanker untuk
membunuh sel kanker.

J. Terapi
1. TerapiKuratif
Terapi kuratif untuk kanker rongga mulut diberikan pada kanker rongga
mulut stadium I, II, danIII.1.
a. Terapi utama
12

1. Terapi utama untuk stadium I dan II ialah operasi atau radioterapi yang
masing-masing mempunyaikelebihan dan kekurangannya masing-
masing. Sedangkan untuk stadium III dan IV yang masihoperabel
ialah kombinasi operasi dan radioterapi pasca bedahPada terapi kuratif
haruslah diperhatikan:
a) Menurut prosedur yang benar, karena kalau salah hasilnya tidak
menjadikuratif.
b) Fungsi mulut untuk bicara, makan, minum, menelan, bernafas,
tetap baik.
c) Kosmetis cukup dapat diterima.
1) Operasi
Indikasi operasi:
- Kasus operable
- Umur relatif muda
- Keadaan umum baik
- Tidak terdapat ko-morbiditas yang berat
Prinsip dasar operasi kanker rongga mulut ialah :
- Pembukaan harus cukup luas untuk dapat melihat seluruh
tumor dengan ekstensinya
- Eksplorasi tumor: untuk menentukan luas ekstensi tumor
- Eksisi luas tumor
 Tumor tidak menginvasi tulang, eksisi luas 1-2 cm diluar
tumor
 Menginvasi tulang,eksisi luas disertai reseksi tulang yang
terinvasi
- Diseksi KGB regional (RND = Radical Neck Disection
ataumodifikasinya), kalau terdapat metastase KGB
regional.Diseksi ini dikerjakan secara enblok dengan tumor primer
bilamanamemungkinkan.
- Tentukan radikalitas operasi durante operasi dari tepi
sayatandengan pemeriksaan potong beku . Kalau tidak radikal
13

buat garissayatan baru yang lebih luas sampai bebas tumor.6)


Rekonstruksi defek yang terjadi.
2) Radioterapi
Indikasi radioterapi :
- kasus inoverable
- T1, 2 tempat tertentu (dilihat diatas)
- Kanker pangkal lidah
- Umur relatif tua
- Menolak operasi
- Ada ko-mordibitas yang berat
Radioterapi dapat diberikan dengan cara:
- Teleterapi memakai: ortovoltase, Cobalt60, Linec dengan dosis
5000 -7000 rads.
- Brakiterapi: sebagai booster dengan implantasi intratumoral jarum
Irridium192 atau Radium226 dengan dosis 2000-3000 rads.2.
2. Terapi tambahan
a) Radioterapi
Radioterapi tambahan diberikan pada kasus yang terapi utamanya operasi.
(1) Radioterapi pasca-bedah
Diberikan pada T3 dan T4a setelah operasi, kasus yang
tidak dapat dikerjakaneksisi radikal, radikalitasnya
diragukan, atau terjadi kontaminasi lapangan operasi
oleh sel kanker.
(2) Radioterapi pra-bedah
Radioterapi pra-bedah diberikan pada kasus yang operabilitasnya
diragukan atauyang inoperabel.
b) Operasi
Operasi dikerjakan pada kasus yang terapi utamanya
radioterapi yang setelahradioterapi menjadi operabel atau timbul
residif setelah radioterapi.
14

c) Kemoterapi
Kemoterapi diberikan pada kasus yang terjadi kontaminasi
lapangan operasi olehsel kanker, kanker stadium III atau IV
atau timbul residif setelah operasi dan atauradioterapi.3.
3. Terapi Komplikasi
a) Terapi komplikasi penyakit
Pada umumnya stadium I sampai II belum ada
komplikasi penyakit, tetapi dapatterjadi komplikasi karena
terapi.
Terapinya tergantung dari komplikasi yang ada, misalnya:
- Nyeri : analgetika
- Infeksi : antibiotika
- Anemia : hematinik, dsb.
b. Terapi komplikasi terapi
1) Komplikasi operasi: menurut jenis komplikasinya
2) Komplikasi radioterapi: menurut jenis komplikasinya
3) Komplikasi kemoterapi: menurut jenis komplikasinya
c. Terapi bantuanDapat diberikan nutrisi yang baik, vitamin, dsb
d. Terapi sekunder Kalau ada penyakit sekunder diberi terapi sesuai dengan
jenis penyakitnya
e. Terapi pariliatif
Terapi paliatif ialah untuk memperbaiki kualitas hidup
p e n d e r i t a d a n m e n g u r a n g i keluhannya terutama untuk penderita yang
sudah tidak dapat disembuhkan lagi.Terapi paliatif diberikan pada penderita
kanker rongga mulut yang:
1) Stadium IV yang telah menunjukkan metastase jauh
2) Terdapat ko-morbiditas yang berat dengan harapan hidup yang pendek
3) Terapi kuratif gagal
4) Usia sangat lanjutKeluhan yang perlu dipaliasi antara lain:
a)) Loko regional
- ulkus di mulut/leher
15

- nyeri
- sukar makan, minum, menelan
- mulut berbau
- anoreksia
- fistula oro-kutan
b)) Sistemik
- nyeri
- sesak nafas
- sukar bicara
- batuk-batuk
- badan mengurus
- badan lemah
1. Terapiutama
a. Tanpa meta jauh: Radioterapi dengan dosis 5000-7000 rads. Kalau perlu
kombinasikan dengan operasi
b. Ada metastase jauh: Kemoterapi
Kemoterapi yang dapat dipakai antara lain:
1) Karsinoma epidermoid:
Obat-obat yang dapat dipakai: Cisplatin, Methotrexate, Bleomycin,
Cyclophosphamide, Adryamycin, dengan angkaremisi 20 -40%. Misalnya:
a) Obat tunggal: Methotrexate 30 mg/m2 2x seminggu
b) Obat kombinasi:
V = Vincristin : 1,5 mg/m2 hl
B = Bleomycin : 12 mg/m2 hl + 12 jam ⇒diulang tiap 2-3 minggu
M = Methotrexate : 20 mg/m2
2) Adeno karsinoma :
2) Obat-obat yang dapat dipakai antara lain:
Flourouracil,Mithomycin-C, Ciplatin, Adyamycin, dengan angka remisi 20-30%.
Misalnya:
-
Obat tunggal : Flourouracil:
Dosis permulaan : 500 mg/m2
16

Dosis pemeliharaan : 20 mg/m2 tiap 1-2 minggu


- Obat kombinasi:
F = Flourouracil: 500 mg/m2 hl,8,14,28
A = Adryamycin: 50 mg/m2, hl,21 ⇒diulang tiap 6 minggu
M = Mithomycin-C: 10 mg/m2 hl
2 . Terapitambahan
Kalau perlu: Operasi, kemoterapi, atau radioterapi
3 . Terapi komlikasi
a. Nyeri: Analgetika sesuai dengan “step ladder WHO”
b. Sesak nafas: trakeostomi
c. Sukar makan: gastrostomi
d. Infeksi: antibiotika
e. Mulut berbau: obat kumur , Dsb.
4 . Terapibantuan
a. Nutrisi yang baik
b. Vitamin
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Riwayat kesehatan
Dengan mendapatkan riwayat kesehatan memungkinkan perawat
menentukan kebutuhan penyuluhan dan pembelajaran pasien mengenai
higiene oral prefentif, serta untuk mengidentifikasi gejala yang memelukan
evaluasi medis.
Riwayat mencakup pertanyaan tentang:
a. Memar dan rutinitas closing
b. frekuwensi kunjungan dokter gigi
c. kesadaran akan adanya lesi atau area iritasi pada mulu, lidah atau
tengorok.
d. kebutuhan menggunakan gigi palsu dan lempeng parsiel
e. riwayat baru sakit tenggorok atau sputum berdarah
f. ketidak nyamanan yang disebabkan oleh makanan tertentu
g. masukan makanan setiap hari
h. penggunaan alkohol, tembakau, termasuk mengunyah tembakau
2. Pemeriksaan fisik
Inspeksi dan palpasi struktur internal maupun eksternal dari mulut
dan tenggorok, periksa terhadap kelembaban, warna, tekstur, simetri, dan
adannya lesi, periksa leher terhadap pembesaran nodus limfe.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan lesi oral.
2. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidak mampuan mencerna nutrien yang tidak adekuat akibat kondisi oral
atau gigi.
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan fisik pada
penampilan dan pengobatannya.

17
18

4. Resiko jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi secret,


efek sekunder pemasangan trakeostomi.
5. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan ketidak mampuan
menyampaikan informasi verbal sekunder dan terpasang trakeostomi pasca
bedah.
6. Kurang pengatahuan tentang proses panyakit dan rencana pengoatan.

C. Intervensi Keperawatan
1. Diagnosa : nyeri b/d lesi oral
Karakteristik : Mengatakan sakit pada daerah mulut dan/atau sakit pada
saat menelan
Hasil pasien : Nyeri berkurang
Kriteria evaluasi : Ekspresi wajah dan tubuh lebih releks masukan oral
meningkat
Intervensi Rasional
a. Kaji tingkat nyeri
Rasional : Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan dan
memudahkan untuk intervensi selanjutnya
b. Mempertahankan tirah baring selama fase aktif
Rasional : Meminimalkan stimulasi dan meningkatkan relaksasi
c. Beri perawatan orang tiak 2 jam
Rasional : Untuk menghilangkan sakit tenggorokan dan
mengontrol bernapas
d. Berikan obat analgetik sesuai anjuran jika perlu
Rasional : Obat analgatik bisa menurunkan persepsi nyeri
2. Diagnosa : Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b/d ketidak mampuan
mencerna nutrien yang tidak adekuat akibat kondisi oral atau gigi.
Karakteristik: Penurunan BB, menolak makanan per oral
Hasil Pasien : Memperlihatkan/mendemonstrasikan masukan nutrisi
adekuat
Kriteria evaluasi : BB stabil, masukan makanan oral meningkat.
19

Intervensi Rasional
a. Pantau berat badan tiap minggu presentase makanan yang dikonsumsi
setiap kali makan, jika makanan per oral dimungkinkan.
Rasional : Untuk mengidentifikasi kemajuan-kemajuan atau
penyimpangan dari sasaran yang diharapkan.
b. Berikan makanan melalui selang NGT sesuai dengan jadwal
pemberiannya. Ajarkan kepada pasien cara memberikan makanan
sendiri melalui selang.
Rasional : Tambahan makanan melalui jalan alternatif diperlukan
untuk memberikan nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan luka
sampai makanan tier oral dapat dimulai. Perawatan diri menumbuhkan
kemandirian.
c. Jika dimulai pemberian makanan per oral, berikan makanan yang
lembut, mudah dicerna seperti kentang, nasi, dsb. Konsultasi pada ahli
diet untuk memilih makanan yang tepat jika masukan oral kurang dari
30%.
Rasional : Untuk mengurangi nyeri pada saat menelan. Ahli diet
ialah spesialis nutrisi yang dapat mengevaluasi kebutuhan nutrisi dan
bersama merencanakan kebutuhan dan kondisi pasien.
d. Berikan makanan sedikit tapi sering.
Rasional : Untuk merangsang nafsu makan pasien.
3. Diagnosa : Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan fisik
pada penampilan dan pengobatannya.
Karakteristik : Klien nampak tidak percaya diri sering menarik diri
dengan orang lain
Hasil pasien : Gangguan harga diri teratasi
Kriteria evaluas : Klien tidak menarik diri dan kepercayaan diri klien
kembali.
20

Intervensi Rasional
a. Tinjau ulang efek samping yang diantisipasi berkenaan dengan
pengobatan tertentu.
Rasional : Agar mengetahui efek dari terapi yang dilakukan,
sehingga dapat diketahui kemungkinan resiko yang terjadi.
b. Dorong diskusi tentang/pecahan masalah tentang efek kanker.
Rasional : Dengan memberikan HE kanker diharapkan klien
mengerti akan semua proses terapi yang dilakukan dan efeknya akan
terjadi sehingga klien merasa lebih kuat dalam menjalani proses
penyembuhannya.
4. Resiko jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi secret,
efek sekunder pemasangan trakeostomi.
Tujuan : Dalam waktu 2 x 24 jam tidak terjadi ketidakefektifan bersihan
jalan nafas.
Kriteria Evaluasi : Pasien berkomunikasi dengan orang terdekat tentang
perubahan peran yang terjadi
- Mulai mengembangkan rencana untuk perubahan pola hidup.
- Mengidentifikasi atau merencanakan pilihan metode bicara yang tepat
setelah sembuh.
Intervensi Rasional
a. Kaji Kondisi trakeostomi, kemampuan batuk dan produksi secret
setiap ganti sif.
Rasional : monitoring terus – menerus membantu perawat dalam
mendeteksi kondisi jalan nafas dan dapat menurunkan resiko
akumulasi secret pada jalan nafas
b. Lakukan pengisapan pada kanal trakeostomi.
Rasional : untuk membuang secret yang menumpuk pada jalan
nafas pasien.
c. Anjurkan pasien untuk memberitahu perawat bila ada keluhan dengan
adanya pemasangan trakeostomi.
21

Rasional : sebagai evaluasi dari intervensi dan dapat mengetahui


dengan cepat setiap kondisi yang mengganggu jalan nafas akibat
pemasangan trakeostomi.
5. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan ketidak mampuan
menyampaikan informasi verbal sekunder dan terpasang trakeostomi
pascabedah.
Tujuan : Dalam waktu 1 x 24 jam komunikasi pasien akan efektif.
Kritaria evaluasi :
- Berkomunikasi dengan orang terdekat tentang perubahan peran yang
terjadi.
- Mulai mengembangkan rencana untuk perubahan pola hidup.
- Mengidentifikasi pilihan metode berbicara yang tepat setelah sembuh.
Intervensi Rasional
a. Kaji atau diskusikan praoperasi mengapa bicara dan berbafas
terganggu, gunakan gambaran anatomic atau model untuk membantu
penjelasan.
Rasional : pengetahuan yang rasional dapat mengurangi rasa takut
pada pasien.
b. Tentukan apakah pasien mempunyai gangguan komunikasi lain seperti
pendengaran dan penglihatan.
Rasional : adanya masalah lain memengaruhi rencana untuk pilihan
komunikasi.
c. Berikan pilihan cara komunikasi yang tepat bagi kebutuhan pasien
misalnya papan alphabet, dan bahasa isyarat.
Rasional : alternative komunikasi dan memungkinkan pasien untuk
menyatakan kebutuhan atau masalah.
6. Diagnosa : Kurang pengatahuan tentang proses panyakit dan rencana
pengoatan.
Karakteristik : Klien Nampak tidak tau bagaimana cara pengobatan
penyakit yang dialaminya.
22

Hasil pasien : Klien mampu memahami bagaimana cara pengobatan


penyakit yang dialaminya.
Kriteria evaluasi : Penyakit yang dialami pasien dapat teratasi/sembuh.
Intervensi Rasional
a. Kaji persepsi pasien tentang proses penyakitnya
Rasional : membuat pengetahuan dasar dan memberikan kesadaran
kebutuhan belajar individu.
b. Berikan informasi mengenai penyakit, proses keperawatan penyebab dan
pengobatannya.
Rasional : Pasien mengerti akan kondisinya sehingga pasien dapat
menghindari makanan atau pela hidup salah yang menebabka timbulnya
penyakit.
c. Anjurkan untuk mengubah pola hidup yang tidak sehat.
Rasional : Agar pasien dapat mengurangi penyebab penyakit dan memotifasi
d. klien agar mengubah gaya hidu sehingga dapat mempermudah proses
penyembuhan.
Berikan informasi tertulis untuk pasien atau orang terdekat.
Rasional : membantu sebagai pengingat dan penguat belajar.
23

Contoh kasus
Tuan N mengeluh sakit pada rahang atas kiri, bengkak sejak 1 minggu yang lalu.
Bengkak muncul tiba tiba dan membesar dengan cepat, terasa nyeri dan kadang
berdarah, dan tidak demam, pasien juga mengeluh mengunyah dan menelan
makanan terasa sakit. Oleh keluarga diperiksakan ke puskesmas kemudian
diberikan sirup anti nyeri namun keluhan tidak kunjung membaik, sehingga
keluarga berinisiatif untuk memeriksakan ke poli gigi dan mulut.
a. Analisis Data
No. Data focus Diagnosa kep. Nanda
1. Ds : Domain 12 : comport
- Klien mengatakan nyeri dibagian Class 1 : pyshical comport
rahang atas 00132 – acute pain
Do : -
2. Ds : Domain 2 : nutrition
- Klien mengatakan sakit saat Class 1 : ingestion
mengunyah dan menelan 00002- imbalanced
Do : nutrition : less than body
- Klien tanpak meringis kesakitan saat requirements
mengunyah makanan
3. Ds : Domain 6 : self-perception
- Klien mengatakan kurang percaya Class 3 : body image
diri karena bengkak pada pipinya 00118- disturbed body
Do : image
-

b. Rencana keperawatan
No. Diagnosa kep. Kriteria hasil Intervensi
Nanda NOC NIC
1. Domain 12 : Domain VI : Health Domain 1 :
comport knowledge & behavior physiological: basic
Class 1 : pyshical Class q : health behavior Class E: physical
comport 1605 – pain control comport promotion
00132- acute pain 1400- pain
Setelah dilakukan tindakan management
keperawatan selama lebih - Lakukan penilaian
dari 1 hari kriteria hasil yang komprehensif
yang diharapkan : dari rasa sakit untuk
- 160502 : recognizes pain memasukkan lokasi,
onset (2-4) karakteristik, onset /
- 160501 : describes causal durasi, frekuensi,
24

factors (2-4) kualitas, intensitas


- 160505 : uses analgesics atau keparahan nyeri,
as recommended (2-4) dan faktor pencetus
- Gunakan strategi
komunikasi terapeutik
untuk mengakui
pengalaman rasa sakit
dan menyampaikan
penerimaan respon
pasien terhadap nyeri
- memilih dan
menerapkan berbagai
langkah-langkah (mis
farmakologi, non
farmakologi,
interpersonal) untuk
memfasilitasi
penghilang rasa sakit,
yang sesuai
2. Domain 2 : Domain II : Physiologic Domain 1 :
nutrition health-cont’d physiological: basic
Class 1 : ingestion Class k : digestion health Class d : nutrition
00002- imbalanced 1004- nutritional status support
nutrition : less than 1100 – nutrition
body requirements Setelah dilakukan tindakan management
keperawatan selama 31-45 - menentukan status
menit kriteria hasil yang gizi pasien dan
diharapkan : kemampuan untuk
- 100401 : nutrient intake memenuhi
(2-4) kebutuhan gizi
- 100402 : Food intake (2- - menentukan
4) preferensi makanan
- 100403 : energy (2-4) pasien
- menentukan jumlah
kalori dan jenis
nutrisi yang
dibutuhkan untuk
memenuhi
kebutuhan gizi
3. Domain 6 : self- Domain III : Phychososial Domain 3 :
perception helath behavioral-cont’d
Class 3 : body Class M : Phsyological Class R : coping
image well-being assistance
00118- disturbed 1211- body image 5220- body image
body image enhancement
Setelah dilakukan tindakan - menentukan harapan
25

keperawatan selama 31-45 citra tubuh pasien


menit kriteria hasil yang berdasarkan tahap
diharapkan : perkembangan
- 120003 : description of - menggunakan
affected body part (2-4) pedoman antisipatif
- 120008 : adjustment to untuk
changes in body function mempersiapkan
(2-4) pasien untuk
- 120009 ; adjustment to perubahan
changes in health status diprediksi dalam
(2-4) citra tubuh
- membantu pasien
untuk
mendiskusikan
perubahan yang
disebabkan oleh
penyakit atau
operasi yang sesuai
BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Tumor di rongga mulut meupkan pertumbuhan dari berbagai
jaringan di dalam dan sekitar mulut termasuk tulang, otot dan syaraf.
Pertumbuhan ini dapat bersifat jinak (benigna) dan dapat bersifat ganas
(maligna). Meskipun jarang terjadi kanker yang ditemukan dalam mulut bisa
berasal dari bagian tubuh lainnya terutama paru-paru dan payudara. Tumor
dibagi dalam dua golongan, yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Kanker
adalah istilah umum untuk semua jenis tumor ganas. Sel tumor pada tumor
jinak bersifat tumbuh lambat, sehingga tumor jinak pada umumnya tidak
cepat membesar. Sel kanker mendesak jaringan sehat sekitarnya secara
serempak sehingga terbentuk simpai (serabut pembungkus yang memisahkan
jaringan tumor dari jaringan sehat). Oleh karena bersimpai maka pada
umumnya tumor jin mudah dikeluarkan dengan cara operasi.

B. Saran
Setelah membaca dan memahami makalah ini , dapat menambah
wawasan mahasiswa tentang Sistem pencernaan khususnya pada penyakit
Tumor Rongga mulut.

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim. 2006. Tumors of the Mouth - Oral Cancer. http://www.


2. Michvet.com/library/oncology/_oral_tumors.asp
3. Kirpensteijn J. 2006. Surgery of Oral Tumors.
http://www.script/main/forum. asp? articlekey=13931
4. Muttaqin, Arif | Kumala Sari. (2012). Gangguan Gastrointestinal. Jakarta :
Salemba Medika.
5. C. Smaltzer, Suzanne. (2002). Keperawatan Medikal-Bedah. Jakarta :
EGC.
6. Widya. (2012). Kanker Rongga Mulut.
http://windyakaze.wordpress.com/2012/03/20/kanker-rongga-
mulut/#more-100.
7. Fikra. (2010). Askep Pada Pasien Kanker Rongga
Mulut. http://tjofikrastogi.blogspot.com/2010/11/askep-pada-pasien-
carongga-mulut.html.