Anda di halaman 1dari 7

ALIRAN FILSAFAT INTUISIONISME DAN KRITISME

Tokoh : Henri Bergson,Tokoh Agama dan Immanuel Kant

Disusun Oleh:

Oktaviani Arumingtyas -21110115130068-Kelas B

PROGRAM STUDI TEKNIK GEODESI


FAKULTAS TEKNIK – UNIVERSITAS DIPONEGORO
Jl. Prof. Sudarto Sh, Tembalang Semararang Telp. (024) 76480785, 76480788
email: geodesi@undip.ac.id
2017

ALIRAN FILSAFAT INTUISIONISME DAN KRITISME


Tokoh : Henri Bergson,Tokoh Agama dan Immanuel Kant
ALIRAN FILSAFAT
1. Intuisionisme
Henri Bergson (1859/1941) adalah tokoh aliran ini. Ia mengangap tidak hanya indera yang
terbatas, akal juga terbatas. Objek-objek yang kita tangkap itu adalah objek yang selalu
berubah, demikian menurut Bergson. Jadi, pengetahuan tentangnya tidak pernah tetap,
intelek atau akala juga terbatas. Akal hanya dapat memahami suatu objek bila ia
mengonsentrasikan dirinya pada objek itu, jadi dalam hal seperti itu manusia tidak
mengetahui keseluruhan (unique), tidak juga dapat memahami sifat-sifat yang tetap pada
objek. Akal hanya mampu memahami bagian-bagian dari objek, kemudian bagian-bagian
itu di gabungkan oleh akal, itu tidak sama dengan pengetahuan menyeluruh tentang objek
itu. Ambil contoh adil, apa itu adil ? akal memahaminya dari segi si terhukum, timbul
pemahaman akali; dari segi keluarga si terhukum, timbul pemahaman akali; dari segi jaksa,
dan seterusnya. Nanti di simpulkan , adil adalah jumlah pemahaman itu, itu belum tentu
benar, nah di sinilah intuisionisme masuk.

Dengan menyadari keterbatasan indera dan akal seperti di terangkan di atas , bergson
mengembangkan suatu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia, yaitu intuisi. Ini
adalah hasil evolusi pemahaman yang tertinggi.kemampuan ini mirip dengan instinct, tetapi
berbeda dengan kesadaran dan kebebasannya. Pengembangan kemampuan ini (intuisi)
memerlukan suatu usaha. Kemampuan inilah yang dapat memahami kebenaran yang utuh,
yang tetap, yang unique. Intuisi ini menangkap objek serta langsung tanpa melalui
pemikiran. Jadi , indera dan akal hanya mampu menghasilkan pengetahuan yang tidak utuh
(spatial),sedangkan intuisi dapat menghasilkan pengetahuan yang utuh.[1]
Ada sebuah isme lagi yang barangkali mirip sekali dengan intuisionisme. Aliran ini
namanya iluminasionisme, aliran ini berkembang di kalangan tokoh-tokoh agama , di dalm
islam disebut teori kasyf. Teori ini menyatakan bahwa manusia , yang hatinya telah bersih.
Telah “siap”, sanggup menerima pengetahuan dari Tuhan. Aliran ini terbentang juga di
dalam sejarah pemikiran islam, boleh di katakan sejak awal dan memuncak pada mula
shadra.

Kemampuan menerima secara langsung itu di peroleh dengan latihan , yang di dalam islam
di sebut suluk, secara lebih spesifik disebut riyadlah. Riyadlah artinya latihan. Secara
umum metode ini di ajarkan di dalam thariqat. Konon,

kemampun orang-orang itu adalah sampai melihat Tuhan , berbincang dengan Tuhan ,
Melihat syurga, neraka, dan alam gaib lainnya. Dari kemampuan ini dapat di pahami bahwa
mereka tentu mempunyai pengetahuan tingkat tinggi yang banyak sekali dan amat
meyakinkan. Pengetahuan ini di peroleh bukan lewat indera dan bukan lewat akal ,
melaikan lewat hati. Dalam hal ini ia sama dengan intuisionisme.

menurut ajaran thasawuf atau thariqat pada khususnya manusia itu di pengaruhi (ditutupi)
oleh hal-hal yang material, dipengaruhi oleh nafsunya , bila nafsu itu dapat dikendalikan,
penghalang material disingkirkan , maka kekuatan rasa itu mampu bekerja, laksana antene
mampu menangkap objek-objek gaib. Di dalam thassawuf ini di gambarkan sebagai
keadaan fana jiwa mampu melihat yang gaib; dari situlah diperoleh pengetahun.

Di dalam islam pertumbuhan thassawuf itu berakar pada diri nabi Muhammad SAW. Nabi
ini mempunyai kemampuan atas izin Allah SWT. Melihat atau mengetahui yang ghaib, Dia
pernah mendengar orang yang disiksa di dalam kubur , pernah bertemu dengan nabi-nabi
terdahulu , yaitu tatkala mikraj , mampu menghitung tiang-tiang masjid Al-Aqsha di
mekah,dll. Jadi iluminasionisme agaknya dekat sekali, kalupun persis sama dengan
intuisionisme.

Berdasarkan uraian di atas ( tentang epistemologi) dapat diketahui bahwa manusia


memperoleh pengetahuan dengan 3 cara, yaitu cara sains, cara filsafat( logika,akal) dan
cara latihan rasa(intuisi,kasyf)itu dalam garis besarnya. Namun secara umum semua
pengetahuan itu sebenarnya diperoleh dengan cara berfikir benar. Sains dan filsafat jelas
menggunakan cara berfikir benar; mistik sekurang-kurangnya berawal dari berfikir benar
juga, norma-norma atau aturan-aturan berfikir benar itulah yang dibicarakan oleh logika, ini
adalah bagian dari teori pengetahuan.

1. Kritisisme
Kritisisme adalah filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dahulu menyelidiki
kemampuan rasio dan batas-batasnya. Aliran ini muncul pada abad ke 18 pelopor kritisisme
adalah Immanuel Kant (1724-1804 M). Aliran Kritisisme adalah aliran yang mengkritisi
terhadap aliran rasionalisme dan empirisme. Kelahiran aliran rasionalisme dan empirisme
sangat bertolak belakang dari tujuan semula. Aliran rasionalisme sangat tidak percaya akan
daya pengalaman dan pengamatan inderawi, dan sebaliknya aliran empirisme sangat tidak
percaya akan kekuatan rasio meskipun aliran ini masih memberikan tempat dan porsi yang
cocok untuk akal budi. Perpaduan antara dua pandangan ini sudah dimulai sejak Aristoteles
yang kemudian sangat ditekankan oleh Immanuel Kant. Immanuel Kant mendamaikan
kedua aliran ini.

Kant berusaha menawarkan perspektif baru dan berusaha mengadakan penyelesaian


terhadap pertikaian itu dengan filsafatnya yang dinamakan kritisisme.

Filsafat Kant merupakan titik tolak periode baru bagi filsafat Barat. Ia mengatasi dan
menyimpulkan aliran Rasionalisme dan Empirisme, yang dibantah oleh Copleston VI. Dari
satu pihak ia mempertahankan obyektifitas, universalitas, dan keniscayaan. Dalam filsafat
Kant, tekanan yang utama terletak pada kegiatan atau pengertian dan penilaian manusia.
Bukan seperti empirisme yang menekankan pada aspek psikologi, melainkan sebagai
analisa kritis, pada pemahaman Kant yang baru, dan sering disebut “revolusi Kopernikus
yang kedua”. Kant memandang rasionalisme dan empirisme senantiasa berat sebelah dalam
menilai akal dan pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Kant tidak menentang adanya
akal murni, ia hanya menunjukkan bahwa akal murni itu terbatas. Akal murni menghasilkan
pengetahuan tanpa dasar indrawi atau independen dari alat pancaindra.
Kant dalam argumennya, bahwa akal dipandu oleh tiga ide transcendental, yaitu ide
psikologis yang disebut jiwa, ide dunia, dan ide tentang Tuhan. Ketiganya tersebut
memiliki fungsi masing-masing, yaitu “ide jiwa” menyatakan dan mendasari segala gejala
batiniah yang merupakan cita-cita yang menjamin kesatuan terakhir dalam bidang psikis,
“ide dunia” menyatakan segala gejala jasmaniah, “ide Tuhan” mendasari segala gejala,
segala yang ada, baik batiniah maupun yang lahiriah (Ahmad Tafsir, 2005:150-151, lihat
Mircea Eliade,t.:247)[2]
Kant mengarang macam-macam kritik mengenai akalbudi, kehendak, rasa, dan agama.
Dalam karyanya yang sering disebut metafisika. Menurutnya Metafisika merupakan uraian
sistematis mengenai keseluruhan pengertian filosofis yang dapat dicapai. Ia berpendapat
bahwa pada sekurang-kurangnya pada prinsipnya mungkin untuk memperkembangkan
suatu metafisika sistematis yang lengkap. Namun Kant mulai meragukan kemungkinan dan
kompetensi metafisik, sebab menurut dia metafisik tidak pernah menemukan metode ilmiah
yang pasti untuk memecahkan masalahnya, maka perlu diselidiki dahulu kemampuan dan
batas-batas akal-budi.

Immannuel Kant membedakan akal (vertstand) dari rasio dan budi (vernuft). Tugas akal
merupakan yang mengatur data-data indrawi, yaitu dengan mengemukakan “putusan-
putusan”. Sebgaimana kita melihat sesuatu, maka sesuatu itu ditrasmisikan ke dalam akal,
selanjutnya akal mengesaninya. Hasil indra diolah sedemikian rupa oleh akal, selanjutnya
bekerja dengan daya fantasi untuk menyusun kesan-kesan itu sehingga menjadi suatu
gambar yang dikuasai oleh bentuk ruang dan waktu.

Pemikiran-pemikiran Kant yang terpenting diantaranya adalah tentang “akal murni”.


Menurut Kant dunia luar itu diketahui hanya dengan sensasi, dan jiwa, bukanlah sekedar
tabula rasa. Tetapi jiwa merupakan alat yang positif, memilih dan merekontruksi hasil
sensasi yang masuk itu dikerjakan oleh jiwa dengan menggunakan kategori, yaitu dengan
mengklasifikasikan dan memersepsikannya ke dalam idea. Melalui alat indara sensasi
masuk ke otak, lalu objek itu diperhatikan kemudian disadari. Sensasi-sensasi itu masuk ke
otak melalui saluran-saluran tertentu yaitu hukum-hukum, dan hukum-hukum tersebut tidak
semua stimulus yang menerpa alat indra dapat masuk ke otak. Penangkapan tersebut telah
diatur oleh persepsi sesuai dengan tujuan. Tujuan inilah yang dinamakan hukum-
hukum(Ahmad Syadali dan Mudzakir, 2004: 121).

Demikian gagasan Immanuel Kant yang menjadi penggagas Kritisisme. Filsafat memulai
perjalanannya dengan menyelidiki batas-batas kemampuan rasio sebagai sumber
pengetahuan manusia. Maka Kritisisme berbeda dengan corak filsafat modern sebelum
sebelumnya yang mempercayai kemampuan rasio secara mutlak.

Dengan Kritisisme yang diciptakan oleh Immanuel Kant, hubungan antara rasio dan
pengalaman menjadi harmonis, sehingga pengetahuan yang benar bukan hannya pada rasio,
tetapi juga pada hasil indrawi. Kant memastikan adanya pengetahuan yang benar-benar
“pasti”, artinya menolak aliran skeptisisme, yaitu aliran yang menyatakan tidak ada
pengetahuan yang pasti.

Zaman pencerahan atau yang dikenal di Inggris dengan enlightenment. Terjadi pada abad
ke 18 di Jerman. Immanuel Kant mendefinisikan zaman itu dengan mengatakan
“dengan aufklarung, manusia akan keluar dari keadaan tidak akil balig (dalam bahasa
Jerman: unmundigkeint), yang dengan ia sendiri bersalah”. Sebabnya menusia bersalah
karena manusia tidak menggunakan kemungkinan yang ada padanya yaitu rasio. Dengan
demikian zaman pencerahan merupakan tahap baru dalam proses emansipasi manusia barat
yang sudah dimulai sejak Renaissance dan reformasi. Di Jerman, seorang filosof besar yang
melebihi zaman aufklarung telah lahir yaitu Immanuel Kant. [3]

Ciri-ciri Kritisisme
Isi utama dalam kritisisme yaitu gagasan Immanuel Kant tentang teori pengetahuan, etika,
dan estetika. Gagasan tersebut muncul karena ada pertanyaan-pertanyaan yang mendasar
yang timbul pada pemikiran Immanuel Kant. Pertanyaan-pertanyaan tersebut yaitu:
Ciri-ciri Kritisisme Immanuel Kant dapat disimpulkan menjadi tiga hal yaitu:

1. Menganggap objek pengenalan berpusat pada subjek dan bukan pada objek.
2. Menegaskan keterbatasan kemampuan rasio manusia untuk menetahui realitas atau
hakikat sesuatu, rasio hanya mampu menjangkau gejalanya atau fenomenanya saja.
3. Menjelaskan bahwa pengenalan manusia atas sesuatu itu diperoleh atas perpaduan
antara peranan unsure “a priori” (sebelum di buktikan tapi kita sudah percaya) yang
berasal dari rasio serta berupa ruang dan waktu dan peranan unsur “aposteoriori”
(setelah di buktikan baru percaya) yang berasal dari pengalaman yang berupa
materi.