Anda di halaman 1dari 24

BAB I

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny.M
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 39 tahun
Agama : Kristen
Suku : Toraja
Alamat :
No. RM : 124223
Tgl. Pemeriksaan : 04 September 2018
Tempat Pemeriksaan : Balai Kesehatan Mata Masyarakat Sulsel
Pemeriksa : Quraisy jamal sahil
Supervisor : dr. Nelly muhadji Sp.M ,M.kes

B. ANAMNESIS
Keluhan Utama: Merah pada kedua mata
Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien perempuan 39 tahun datang ke BKMM
dengan keluhan mata merah pada kedua mata sejak 3 hari yang lalu, pasien
sering mengosok-gosok matanya. Pasien mengeluhkan matanya sering berair
seperti melengket pada saat bangun tidur. Kedua mata pasien juga gatal, merah
disertai nyeri.. Kemasukan benda asing dan alergi disangkal.
Riwayat Penyakit Terdahulu:
Riw. HT (-), Riw. DM (-), alergi (-)
Riwayat Penyakit Keluarga dan Sosial :
Tidak riwayat penyakit yang sama pada keluarga

Riwayat Pemakaian Kacamata : (-)


Riwayat Pengobatan (-)

1
C. PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI

1. Pemeriksaan Inspeksi
OD OS
Palpebra Edema (-) Edema (-)
Silia Sekret (+) Sekret (+)
Apparatus Lakrimalis Lakrimasi (+) Lakrimasi (+)
Konjungtiva Hiperemis (+) Hiperemis (+)

Bola Mata Normal Normal


Mekanisme Muskular Normal ke segala arah Normal ke segala arah

Kornea Kesan jernih Kesan jernih


Bilik Mata Depan Kesan Normal Kesan Normal
Iris Coklat Coklat
Pupil Kesan Bulat Kesan Bulat
Lensa Jernih jernih
2. Pemeriksaan Palpasi
Palpasi OD OS
TIO Tn Tn
Nyeritekan (-) (-)

Massa Tumor (-) (-)

Glandula pre-aurikuler Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran

2
3. Tonometri
Tidak dilakukan pemeriksaan tonometri

4. PemeriksanVisus
 Visus jauh : VOD : 20/20 (tidak dikoreksi)
VOS : 20/20 (tidak dikoreksi)
 Visus dekat : tidak dilakukan pemeriksaan

5. Pemeriksaan Funduskopi
FOD : tidak dilakukan pemeriksaan funduskopi
FOS : tidak dilakukan pemeriksaan funduskopi

6. Pemeriksaan Slit Lamp


SLOD SLOS
Konjugtiva hiperemis (+),(injeksi Konjugtiva hiperemis (injeksi
konjungtiva) kornea jernih, BMD konjungtiva) BMD kesan normal,
kesan normal, pupil bulat, lensa pupil bulat, lensa jernih.
jernih.

3
D. RESUME
Pasien perempuan 39 tahun datang ke BKMM dengan keluhan mata merah pada
kedua mata sejak 3 hari yang lalu, pasien sering mengosok-gosok matanya. Pasien
mengeluhkan matanya sering berair seperti melengket pada saat bangun tidur.
Kedua mata pasien juga gatal, merah disertai nyeri.. Kemasukan benda asing dan
alergi disangkal. Riwayat penyakit yang sama sebelumnya (-), riwayat penyakit
terdahulu HT (-), DM (-), alergi (-). Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga (-
). Riwayat pengobatan sebelumnya :-
Pada pemeriksaan ophtalmology didapatkan:
 OD konjungtiva hiperemis (+), sekret (+),lakrimasi (+)
 Visus jauh : VOD : 20/20
VOS : 20/20
 Visus dekat : tidak dilakukan pemeriksaan
Pada SLOD terdapat injeksi konjungtiva dan Pada SLOS Konjugtiva hiperemis
(+)kornea tampak jernih, BMD kesan normal, pupil bulat, lensa jernih.

E. DIAGNOSIS KERJA
Konjungtivivtis akut

F. TERAPI
1. Non Medikamentosa
Bersihkan sekret atau kompres dengan air hangat, cuci tangan sebelum
menyentu barang-barang
2. Medikamentosa
 R/ Cendo Polydex 4 dd 1 gtt OS/OD
 R/ Cendo hyalub 4 dd1 gtt OS/OD

4
G. PROGNOSIS

Quo ad vitam : bonam

Quo ad visam : dubia

Quo ad sanationam : dubia

Quo ad functionam : dubia

Quo ad cosmeticam : dubia

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan Fisiologi


1. Kornea

Kornea adalah jaringan transparan yang merupakan selaput bening mata


yang tembus cahaya dan menutup bola mata sebelah depan dan terdiri dari 5 lapisan.
lapisan tersebut antara lain lapisan epitel (yang bersambung dengan epitel
konjungtiva bulbaris), lapisan Bowman, stroma, membran Descement dan lapisan
endotel. Batas antara sklera dan kornea disebut limbus kornea. Kornea terdiri dari
3 lapisan yaitu epitel, substansi propria atau stroma dan endotel. Diantara epitel dan
stroma terdapat lapisan atau membran Bowman dan diantara stroma dan endotel
terdapat membran Descement.1.2

Gambar 1. Anatomi Mata

Dari anterior ke posterior, kornea mempunyai lima lapisan yang terdiri atas:2

1. Epitel

 Tebalnya 50 µm, terdiri atas lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling
tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel polygonal, dan sel gepeng.

 Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke
depan menjadi lapis sel saya dan semakin maju ke depan menjadi sel

6
gepeng. Sel basal berkaitan erat dengan sel basal disampingnya dan sel
polygonal di depannya melalui desmosom dan macula okluden; ikatan ini
menghambat pengaliran air, elektrolit, dan glukosa yang merupakan
barrier.

 Sel basal menghasilkan membrane basal yang melekat erat kepadanya.


Bila terjadi gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren.

 Epitel berasal dari ectoderm permukaan.

2. Membrana Bowman

 Terletak dibawah membrane basal epitel kornea yang merupakan kolagen


yang tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan
stroma.

 Lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi.

3. Stroma

 Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu
dengan lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sedang
dibagian perifer serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat
kolagen memakan waktu lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan.
Keratosit merupakan sel stroma kornea yang merupakan fibroblast terletak
di antara serat kolagen stroma. Diduga keratosit membentuk bahan dasar
dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah trauma.

4. Membrana Descement

 Membran aselular merupakan batas belakang sttroma kornea dihasilkan


sel endotel dan merupakan membrane basalnya.

 Bersifat sangat elastic dan berkembang terus seumur hidup, tebal 40 um.

5. Endotel

7
 Berasal dari mesotelium, berlapis satu, bentuk heksagonal, tebal 20-40 um.
Endotel melekat pada membrane descement melalui hemidesmosom dan
zonula okluden.2

Gambar 2. Lapisan kornea

Kornea mendapat nutrisi dari pembuluh-pembulu darah limbus, humor


aqueous dan air mata. Kornea mendapat nutrisi dari pembuluh-pembuluh darah
limbus, humor aqueous, dan air mata. Saraf-saraf sensorik kornea didapat dari
cabang pertama (ophthalmichus) dan nervus kranialis trigeminus Saraf trigeminus
ini memberikan sensitivitas tinggi terhadap nyeri bila kornea disentuh.2

Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan “jendela” yang dilalui


berkas cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan oleh strukturnya
yang uniform, avaskuler dan deturgesensi. Deturgesensi atau keadaan dehidrasi
relatif jaringan kornea, dipertahankan oleh “pompa” bikarbonat aktif pada endotel
dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel. Dalam mekanisme dehidrasi ini, endotel
jauh lebih penting daripada epitel. Kerusakan kimiawi atau fisis pada endotel
berdampak jauh lebih parah daripada kerusakan pada epitel. Kerusakan sel-sel
endotel menyebabkan edema kornea dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya,
kerusakan pada epitel hanya menyebabkan edema stroma kornea lokal sesaat yang
akan meghilang bila sel-sel epitel telah beregenerasi. Penguapan air dari lapisan air
mata prekorneal menghasilkan hipertonisitas ringan pada lapisan air mata tersebut.
Hal ini mungkin merupakan faktor lain dalam menarik air dari stroma kornea
superfisial dan membantu mempertahankan keadaan dehidrasi.

8
Penetrasi kornea utuh oleh obat bersifat bifasik. Substansi larut-lemak dapat
melalui epitel utuh dan substansi larut-air dapat melalui stroma yang utuh. Agar
dapat melalui kornea, obat harus larut-lemak dan larut-air sekaligus.

Epitel adalah sawar yang efisien terhadap masuknya mikroorganisme


kedalam kornea. Namun sekali kornea ini cedera, stroma yang avaskular dan
membran Bowman mudah terkena infeksi oleh berbagai macam organisme, seperti
bakteri, virus, amuba, dan jamur 2

2. Konjugtiva

Secara anatomis konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan


tipis yang membungkus permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva
palpebralis) dan permukaan anterior sklera (konjungtiva bulbaris). Konjungtiva
palpebralis melapisi permukaan posterior kelopak mata dan melekat erat ke tarsus.
Di tepi superior dan inferior tarsus, konjungtiva melipat ke posterior (pada forniks
superior dan inferior) dan membungkus jaringan episklera menjadi konjungtiva
bulbaris. Konjungtiva bulbaris melekat longgar ke septum orbital di forniks dan
melipat berkali-kali. Adanya lipatan-lipatan ini memungkinkan bola mata bergerak
dan memperbesar permukaan konjungtiva sekretorik .2

Aliran darah konjungtiva berasal dari arteri siliaris anterior dan arteri
palpebralis. Kedua arteri ini beranastomosis bebas dan – bersama dengan banyak
vena konjungtiva yang umumnya mengikut i pola arterinya – membentuk
jaringjaringvaskuler konjungtiva yang banyak sekali. Pembuluh limfe konjungtiva
tersusundalam lapisan superfisial dan lapisan profundus dan bersambung dengan
pembuluhlimfe palpebra hingga membentuk pleksus limfatikus yang banyak.
Konjungtiva menerima persarafan dari percabangan pertama (oftalmik)
nervus trigeminus. Saraf ini hanya relatif sedikit mempunyai serat nyeri.
Fungsi dari konjungtiva adalah memproduksi air mata, menyediakan
kebutuhan oksigen ke kornea ketika mata sedang terbuka dan melindungi, dengan
mekanisme pertahanan nonspesifik yang berupa barier epitel, akt ivitaslakrimasi,
dan menyuplai darah. Selain itu, terdapat pertahanan spesifik berupaekanisme

9
imunologis seperti sel mast, leukosit, adanya jaringan limfoid pada mukosatersebut
dan antibodi dalam bentuk IgA.
Pada konjungtiva terdapat beberapa jenis kelenjar yang dibagi menjadi dua
grup besar yaitu :
1. Penghasil musina.
 Sel goblet, terletak dibawah epitel dan paling banyak ditemukan
pada daerahinferonasal.
 Crypts of Henle, terletak sepanjang sepertiga atas dari konjungtiva
tarsalissuperior dan sepanjang sepertiga bawah dari konjungtiva
tarsalis inferior.
 Kelenjar Manz, mengelilingi daerah limbus.
2. Kelenjar asesoris lakrimalis. Kelenjar asesoris ini termasuk kelenjar
Krause dan kelenjar Wolfring. Kedua kelenjar ini terletak dalam dibawah
substansi propria.
Pada sakus konjungtiva tidak pernah bebas dari mikroorganisme namun
karena suhunya yang cukup rendah, evaporasi dari cairan lakrimal dan suplai darah
yang rendah menyebabkan bakteri kurang mampu berkembang biak. Selain itu, air
mata bukan merupakan medium yang baik.2

Gambar 3. Anatomi Konjungtiva

10
B. Definisi

Konjungtivitis adalah peradangan konjungtiva yang ditandai oleh dilatasi


vaskular, infiltrasi selular dan eksudasi, atau radang pada selaput lendir yang
menutupi belakang kelopak dan bola mata.1.2

C. Klasifikasi
a. Konjungtivitis bakteri
b. Konjugtivitis klamidia (trakoma)
c. Konjungtivitis virus
d. Konjugtivitis immunologic (alergi)
e. Konjungtivitis kelainan autoimun
f. Konjungtivitis kimia atau iritatif
D. Etiologi

Konjungtivitis dapat diakibatkan oleh virus, bakteri, fungal, parasit, toksik,


chlamydia, kimia dan agen alergik.Konjungtivitis bakteri ini terdapat dua bentuk
konjungtivitis bacterial: akut (dan subakut) dan menahun. Penyebab
konjungtivitis bakteri paling sering adalah Staphylococcus, Pneumococcus, dan
Haemophilus. Konjungtivitis bacterial akut dapat sembuh sendiri bila disebabkan
mikroorganisme seperti Haemophilus influenza. Lamanya penyakit dapat
mencapai 2 minggu jika tidak diobati dengan memadai.2,3

E. Patofisiologi
Konjungtivitis alergi disebabkan oleh respon imun tipe 1 terhadap alergen.
Alergen terikat dengan sel mast dan reaksi silang terhadap IgE terjadi,
menyebabkan degranulasi dari sel mast dan permulaan dari reaksi bertingkat dari
peradangan. Hal ini menyebabkan pelepasan histamin dari sel mast, juga mediator
lain termasuk triptase, kimase, heparin, kondroitin sulfat, prostaglandin,
tromboksan, dan leukotrien. histamin dan bradikinin dengan segera menstimulasi

11
nosiseptor, menyebabkan rasa gatal, peningkatan permeabilitas vaskuler,
vasodilatasi, kemerahan, dan injeksi konjungtiva.2,3
Konjungtivitis infeksi timbul sebagai akibat penurunan daya imun penjamu
dan kontaminasi eksternal. Patogen yang infeksius dapat menginvasi dari tempat
yang berdekatan atau dari jalur aliran darah dan bereplikasi di dalam sel mukosa
konjungtiva. Kedua infeksi bakterial dan viral memulai reaksi bertingkat dari
peradangan leukosit atau limfositik meyebabkan penarikan sel darah merah atau
putih ke area tersebut. Sel darah putih ini mencapai permukaan konjungtiva dan
berakumulasi di sana dengan berpindah secara mudahnya melewati kapiler yang
berdilatasi dan tinggi permeabilitas.3
Pertahanan tubuh primer terhadap infeksi adalah lapisan epitel yang
menutupi konjungtiva. Rusaknya lapisan ini memudahkan untuk terjadinya infeksi.
Pertahanan sekunder adalah sistem imunologi (tear-film immunoglobulin dan
lisozyme) yang merangsang lakrimasi.3
F. Manifestasi Klinis Dan Diagnosis
1. Konjungtivitis bakteri
Memberikan gejala sekret mukopurulen dan pupulen, kemosis konjungtiva,
edema kelopak, kadang kadang disertai keratis dan blefaritis. Terdapat papil
pada konjungtiva dan mata merah. Konjungtivitis bakteri ini mudah menular.
Konjungtivitis bakteri dibagi berdasarkan gejala klinis dan onsetnya:
a. Konjungtivitis mukopurulen akut
Konjungtivitis ini ditandai dengan adanya hiperemi konjungtiva dan
adanya sekret mukopurulen. Bakteri yang biasanya menyebabkan
penyakit ini yaitu StaphylococcuS aureus, Pneumococcus, Streptococcus
pneumoniae,Haemophilus aegypticus, dan Koch-Weeks bacillus. 4

12
b. Konjungtivitis purulen akut
Konjungtivitis ini disebut juga konjungtivitis hiperakut, dan ditandai
dengan respon inflamasi yang lebih berat. Penyakit ini disebabkan oleh
Neisseria gonorrhoeae, StaphylococcuS aureus, dan Streptococcus
pneumoniae.Penyebaran penyakit ini biasanya melalui saluran genital
yang terinfeksi N gonorrheae dan menular ke mata melalui tangan yang
terkontaminasi.

c. Konjungtivitis membranosa akut


Konjungtivitis ini ditandai dengan pembentukan membran pada
konjungtiva. Penyakit ini disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae
dan Streptococcus haemolyticus.Pembentukan membran pada konjungtiva
tersebut diakibatkan oleh adanya deposisi eksudat fibrinosa pada
permukaan konjungtiva akibat inflamasi yang berat. Membran ini
kemudian dapat mengalami nekrosis yang menghasilkan jaringan
granulasi pada konjungtiva.

d. Konjungtivitis pseudomembranosa
Konjungtivitis ini ditandai dengan pembentukan pseudomembran pada
konjungtiva. Pseudomembran tersebut terbentuk karena adanya

13
koagulasi eksudat fibrinosa pada permukaan konjungtiva.Penyakit ini
ditandai dengan adanya konjungtivitis mukopurulen akut dan
pembentukan pseudomembran pada fornix dan konjungtiva palpebra.

e. Konjungtivitis kronik
Konjungtivitis ini ditandai dengan adanya inflamasi yang ringan pada
konjungtiva. Salah satu etiologi konjungtivitis ini yaitu adanya infeksi oleh
bakteri Staphylococcus aureus dan bakteri gram negatif lainnya.

2. Konjungtivitis clamidia
Trakoma adalah suatu bentuk konjungtivitis folikular kronik yang disebabkan
oleh Chlamydia trachomatis. Keluhan pasien menyerupai konjungtivitis
bakteri adalah fotofobia, gatal, berair, eksudasi, edema palpebra, kemosis
konjungtiva bulbaris, hipertrofi papil,penbentukan pannus

3. Konjungtivitis virus akut


a. Faringokonjugtivis

14
Demam Faringokonjungtival ditandai oleh demam 38,3-40 ⁰C, sakit
tenggorokan, dan konjungtivitis folikuler pada satu atau dua mata. Folikuler
sering sangat mencolok pada kedua konjungtiva dan pada mukosa faring.
Mata merah dan berair mata sering terjadi, dan kadang-kadang sedikit
kekeruhan daerah subepitel. Yang khas adalah limfadenopati preaurikuler
(tidak nyeri tekan).1

b. Keratokonjungtivitas Epidemi
Keratokonjungtivitas epidemika umumnya bilateral. Awalnya sering
pada satu mata saja, dan biasanya mata pertama lebih parah. Pada
awalnya, terdapat injeksi konjungtiva, nyeri sedang dan berair mata;
dalam 5-14 hari kan diikuti oleh fotofobia, keratitis epithelial dan
kekeruhan subepitel yang bulat. Sensasi kornea normal dan terdapat
nodus preaurikular dengan nyeri tekan khas. Edema palpebral, kemosis
dan hyperemia konjungtiva menandai fase akut, dengan folikel dan
perdarahan konjungtiva yang sering muncul dalam 48 jam. Dapat
terbentuk pseudomembarn (sesekali membrane sejati) dan mungkin
disertai, atau diikuti, parut datar atau pembentukan simblefaron. 2
Konjungtivitisnya berlangsung paling lama 3-4 minggu. kekeruhan
subepitel terutama terfokus di pusat kornea, biasanya tidak pernah ke
tepian; menetap berbulan-bulan, tetapi sembuh tanpa parut. 2

15
Keratokonjungtivitis epidemika pada orang dewasa terbatas pada bagian
luar mata, tetapi pada anak-anak mungkin terdapat gejala-gejala sistemik
infeksi virus, seperti demam, sakit tenggorokan, otitis media, dan diare. 2

Gambar 4. Keratokonjugtivitis epidemi

c. Keratokonjugtivitis virus herpes simpleks


Konjungtivitis virus herpes simplex biasanya merupakan penyakit
anak kecil, adalah keadaan yang luar biasa yang ditandai pelebaran
pembuluh darah unilateral, iritasi, bertahi mata mukoid, sakit, dan
fotofobia ringan. Pada kornea tampak lesi-lesi epithelial tersendiri
yang umumnya menyatu membentuk satu ulkus atau ulkus-ulkus
epithelial yang bercabang banyak (dendritik).khas terdapat sebuah
nodus preaurikuler yang terasa nyeri jika ditekan.
4. Konjungtivitis imunologik (Alergi)
a. Konjugtivitis Hay fever
Radang konjungtivitis non-spesifik ringan umumnya menyertai
demam jerami (rhinitis alergika). Bianya ada riwayat alergi terhadap
tepung sari, rumput, bulu hewan, dan lainnya. Pasien mengeluh tentang
gatal-gatal, berair mata, mata merah, dan sering mengatakan bahwa
matanya seakan-akan “tenggelam dalam jaringan sekitarnya”.
b. Konjungtivitis vernal

16
Penyakit ini, juga dikenal sebagai “catarrh musim semi” dan
“konjungtivitis musiman” atau “konjungtivitis musim kemarau”,
adalah penyakit alergi bilateral yang jarang.1,3 Pada umunya
gatal,kotoran mata beserat serat,konjungtiva tampak putih susu.
c. Konjungtivitis atopic
Sensasi terbakar, bertahi mata berlendir, merah, dan fotofobia. Tepian
palpebra eritemosa, dan konjungtiva tampak putih seperti susu.
Terdapat papilla halus, namun papilla raksasa tidak berkembang
seperti pada keratokonjungtivitis vernal, dan lebih sering terdapat di
tarsus inferior
5. Konjungtivitis autoimun
a. Keratokonjungtivitis sika
Keratokonjungtivitis sicca ditandai oleh hiperemia konjungtiva bulbaris
(terutama pada aperture palpebral) dan gejala-gejala iritasi yang jauh
lebih berat daripada tanda-tanda peradangannya yang ringan. Keadaan
ini sering berawal sebagai konjungtivitis ringan dengan secret mukoid.
Lesi-lesi epitel bebercak muncul di kornea, lebih banyak di belahan
bawahnya, dan mungkin tampak filament-filamen. 2Nyeri makin terasa
menjelang malam hari, tetapi hilang atau hanya ringan di pagi hari. Air
mata berkurang dan sering mengandung berkas mucus
6. Konjungtivitis kimia & iritatif
a. Konjugtivitis iatrogenic pemberian obat topical
Konjungtivitis folikular toksik atau konjungtivitis non-spesifik
infiltrate, yang diikuti pembentukan parut, sering kali terjadi akibat
pemberian lama dipivefrin, miotika, idoxuridine, neomycin, dan obat-
obat lain yang disiapkan dalam bahanpengawet atau vehikel toksik
atau yang menimbulakan iritasi. Perak nitrat yang diteteskan ke dalam
saccus conjingtiva saat lahir sering menjadi penyebab konjungtivitis
kimia ringan.
b. Konjungtivitis pekeraan bahan kimia atau iritan

17
Asam, alkali, asap, angin, dan hamper setiap substansi iritan yang
masuk ke saccus conjungtiva dapat menimbulkan konjungtivitis.
Beberapa iritan umum adalah pupuk, sabun, deodorant, spray rambut,
tembakau, bahan-bahan make-up, dan berbagai asam dan alkali. gejala
utama luka bahan kimia adalah sakit, pelebaran pembuluh darah,
fotofobia, dan blefarospasme. Riwayat kejadian pemicu biasanya dapat
diungkapkan.

G. Diagnosi banding
konjungtivitis Keratitis Iritis akut Glaucoma
akut
Sakit kesat Sedang Sedang-hebat Hebt dan
menyebar
Kotoran Sering purulen hanyaReflex Ringan -
epifora
Fotofobia Ringn Sedang-berat Hebat Sedang
Kornea Jernih Flouresin + Presipits Edema
Iris N N Muddy Abu hijau
Penglihat N <N <N <N
an
Sekret (+) (-) (-) (-)
Fler = (-/+) ++ (-/+)
Pupil N <N <N >N
fixed oval
Tekanan N N Pegal Pegal
Vaskulari A konj Siliar Plesus siliar Episklera
asi posterior
Injeksi Konjungtiva Siliar Siliar Episklera
Pengobat Antibiotic Antibiotic,siklopl Steroid,siklople Miotik
an egik gik Diamox +
bedah
Uji Bakteri Sensibilitas Infeksi local Tonometri

18
H. Tatalaksana
Masing-masing jenis konjungtiva memberikan gejala klinis yang berbeda.
Penatalaksanaan konjungtivitis tergantung pada berat ringannya gejala klinik. Pada
kasus ringan sampai sedang, cukup diberikan obat tetes mata tergantung jenis
penyebabnya seperti pada konjungtivitis akibat alergi dapat diberikan anti histamin
topikal dan dapat ditambahkan vasokontriktor, kemudian dilanjutkan dengan
stabilasator sel mast. Pada kasus yang berat dapat dikombinasi dalam
pengobatannya ataupun dilakukan pembedahan.1,5
Pada konjungtivitis virus yang merupakan “self limiting disease”
penanganan yang diberikan bersifat simtomatik serta dapat pula diberikan antibiotic
tetes mata (chloramfenikol) untuk mencegah infeksi bakteri sekunder. Steroid tetes
mata dapat diberikan jika terdapat lesi epithelial kornea, namun pemberian steroid
hanya berdasarkan pengawasan dokter spesialis mata karena bahaya efek
sampingnya cukup besar bila digunakan berkepanjangan, antara lain infeksi fungal
sekunder, katarak maupun glaucoma.6,7
Penanganan primer keratokonjungtivitis epidemika ialah dengan kompres
dingin dan menggunakan tetes mata astrigen. Agen antivirus tidak efektif.
Antibiotic topical bermanfaat untuk mencegah infeksi sekunder. Steroid topical 3
kali sehari akan menghambat terjadinya infiltrate kornea subepitel atau jika terdapat
kekeruhan pada kornea yang mengakibatkan penurunan visus yang berat, namun
pemakaian berkepanjangan akan mengakibatkan sakit mata yang berkelanjutan.
Pemakaian steroid harus di tapering off setelah pemakaian lebih dari 1 minggu.1,11,12
Penanganan konjungtivitis bakteri ialah dengan antibiotika topical tetes
mata (misalnya kloramfenikol) yang harus diberikan setiap 2 jam dalam 24 jam
pertama untuk mempercepat proses penyembuhan, kemudian dikurangi menjadi
setiap empat jam pada hari berikutnya. Penggunaan salep mata pada malam hari
akan mengurangi kekakuan pada kelopak mata di pagi hari. Antibiotik lainnya yang
dapat dipilih untuk gram negative ialah tobramisin, gentamisin dan polimiksin;
sedangkan untuk gram positif icefazolin, vancomysin dan basitrasin.10

19
Penanganan infeksi jamur ialah dengan natamisin 5 % setiap 1-2 jam saat
bangun, atau dapat pula diberikan pilihan antijamur lainnya yaitu mikonazol,
amfoterisin, nistatin dan lain-lain.1
I. Komplikasi

Kebanyakan konjungtivitis dapat sembuh sendiri, namun apabila konjungtivitis


tidak memperoleh penanganan yang adekuat maka dapat menyebabkan
komplikasi:1

a. Blefaritis marginal hingga krusta akibat konjungtivitis akibat


staphilococcus
b. Jaringan parut pada konjungtiva akibat konjungtivitis chlamidia pada orang
dewasa yang tidak diobati adekuat
c. Keratitis punctata akibat konjungtivitis viral
d. Keratokonus (perubahan bentuk kornea berupa penipisan kornea sehingga
bentuknya menyerupai kerucut) akibat konjungtivitis alergi.
e. Ulserasi kornea marginal, perforasi kornea hingga endoftalmitis dapat
terjadi pada infeksi N. gonorrhoeae, N. kochii, N. meningitidis, H.
aegypticus, S. aureus dan M. catarrhalis.
f. Pneumonia terjadi 10-20 % pada bayi yang mengalami konjungtivitis
chlamydia
g. Meningitis dan septikemia akibat konjungtivitis yang diakibatkan
meningococcus.

J. Prognosis

Prognosis pada kasus keratokonjungtivitis tergantung pada berat ringannya


gejala klinis yang dirasakan pasien, namun umumnya baik terutama pada kasus
yang tidak terjadi parut atau vaskularisasi pada kornea.8

20
BAB III
PEMBAHASAN:

Berdasarkan hasil anamnesis diperoleh gejala dan tanda pada konjugtivitis


sehingga pasien ini didagnosis dengan kokonjugtivitis akut. Gejala konjugtivitis
pada pasien ini antara lain rasa nyeri pada mata disertai hiperemis pada
konjugtiva,lakrimasi (+) dan lengket pada kelopak mata terutama pada pagi hari
sejak 3 hari yang lalu, selain itu terdapat gejala lain antara lain nyeri, sensasi benda
asing.

Pada literatur disebutkan bahwa pemeriksaan penunjang untuk kelainan


mata luar dengan pemeriksaan biomikroskop (slitlamp) dengan atau tanpa
pewarnaan fluoresein juga dapat dilakukan. Pemeriksaan dengan mata telanjang
tidak akan memperlihatkan hiperemis pada konjungtiva, namun penggunaan
slitlamp akan tampak adanya kekeruhan pada kornea baik berupa gambaran injeksi
konjungtiva.

Penatalaksanaan Terapi non medikamentosa berupa edukasi untuk


membersihkan sekret yang ada pada kelopak mata atau dengan kompres air hangat.
Untuk terapi medikamentosa diberikan antibiotic topical berupa tetes mata dan
salep mata Pada kasus ini diberikan medikamentosa meliputi cendo polydex
(Neomycin sulphate 3,5mg Polymixin B sulfat 1 mg, dexamethasone 1 mg) yang
merupakan antibiotic secara kausatif untuk eradikasi dari bakteri.

Edukasi yang diberikan ialah menggunakan pelindung mata seperti


kacamata untuk menghindari mata dari pajanan luar. Jangan mengusap atau
menggaruk mata karena dapat memperburuk kondisi peradangan pada mata.
Membudayakan cuci tangan dan perbaikan higiene agar mencegah infeksi ulang
maupun sekunder serta mencegah penularan. Selain itu melakukan pengobatan
sesuai yang dianjurkan dan kembali kontrol 1 minggu kemudian untuk memantau

21
kemajuan maupun respon penyakit terhadap terapi yang diberikan serta mengontrol
efek samping obat yang mungkin timbul.
Prognosis konjungtivitis ini tergantung dari kausanya Konjungtivitis bakteri
akut hampir selalu sembuh sendiri, infeksi dapat berlangsung selama 10-14 hari; jika
diobati dengan memadai, 1-3 hari, kecuali konjungtivitis stafilokokus (yang dapat berlanjut
menjadi blefarokonjungtivitis dan memasuki tahap mnehun) dan konjungtivitis gonokokus
(yang bila tidak diobati dapat berakibat perforasi kornea dan endoftalmitis). Karena
konjungtiva dapat menjadi gerbang masuk bagi meningokokus ke dalam darah dan
meninges, hasil akhir konjungtivitis meningokokus adalah septicemia dan meningitis.1,4

22
BAB IV
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien ini dapat
disimpulkan pasien mengalami konjugtivitis bakteri akut, oleh karena pada pasien
ini ditemukan mata merah pada kedua mata,terdapat sekret,lakrimasi dan nyeri
pada kedua mata yang dialami sejak 3 hari yang lalu .Perjalanan penyakit pada
pasien ini tergantung dari penyebabnya

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas DSM, Sidarta,. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia. Jakarta. 2010.
2. American Academy of Ophthalmology. Preferred practice pattern:
conjunctivitis, 2nd ed. San Francisco, CA: American Academy of
Ophthalmology; 2014.
3. Stenson S, Newman R, Fedukowicz H. Laboratories studies in acute
conjunctivitis. Arch Opthalmology. 2006; 100: 1275-1277.
4. Weiss A, Brinser J, Nasae-Stewart V. Acute conjunctivitis in childhood. J
Pediatr Med.
5. Gigliotti F, Williams WT, Hayden FG. Etiology of acute conjunctivitis in
children. J. Pediatr.
6. Fitch CP, Rapoza PA, Owens S. Epidemiology and diagnosis of acute
conjunctivitis at an inner-city hospital. Opthalmology.
7. Sambursky RP, Fram N, Cohen Ej. The prevalence of adenoviral conjunctivitis
at the Wills Eye Hospital emergency room. Optometry. 2007;78:236-914.
8. Vaughan, Daniel G. dkk. Oftalmologi Umum. Widya Medika. Jakarta. 2014.
9. Scott IU and Luu K. Conjunctivitis, viral.
http://www.emedicine.medscape.com/article/1197851. [Online] Emedicine,
April 2012.
10. Khaw PT, Shah Pand Elkington AR. ABC of Eyes. Fourth edition. BMJ
Publishing Group, 2004.

24