Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM I

PENGENALAN MIKROSKOP

OLEH:
KELOMPOK 1

NAMA NIM

SIAGIAN 1207025026
SIAGIAN 1207025026

LABORATORIUM FISIOLOGI, PERKEMBANGAN


DAN MOLEKULER HEWAN
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Asia merupakan penghasil ikan terbesar di dunia. Fishstat FAO mencatat
bahwa pada tahun 2015, Asia mampu memproduksi ikan hingga 60 juta ton. Nilai
tersebut mendominasi 91% bagian dari total keseluruhan produksi ikan di dunia
(Badan Pusat Data, 2015). Indonesia sebagai negara produsen ikan terbesar di
dunia, menyumbangkan produksi ikan lele mencapai rata-rata tingkat
pertumbuhan 11.93% per tahun yaitu sebesar 600.000 ton.
Keputusan Menteri dalam KEP26/MEN/2004 menetapkan bahwa ikan
lele merupakan salah satu komoditi unggulan pada program revitalisasi pertanian,
perikanan dan kehutanan serta boleh diperjual belikan (Badan Pusat Data, 2015).
Oleh karena itu, pemerintah menyatakan ikan lele sebagai produk perikanan
unggulan Indonesia yang perlu didukung dan dikembangkan serta ditunjang
dengan pemberian pakan yang berkualitas tinggi.
1.2 Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui pengaruh variasi kadar protein dan kadar energi
terhadap pertumbuhan ikan lele dumbo.Untuk mengetahui kadar protein dan kadar
energi yang optimum dalam formulasi pakan untuk meningkatkan pertumbuhan
ikan lele dumbo.Untuk mengetahui pengaruh formulasi kadar protein dan kadar
energi pada pakan terhadap peningkatan nilai gizi ikan lele dumbo yang
ditunjukkan dengan analisis proksimat meliputi protein, lemak, abu, moist dan
energi dari pakan dan carcass.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ikan Lele dumbo


Ikan lele dumbo merupakan salah satu jenis ikan air tawar komersial
yang popular sebagai ikan budidaya (Gambar 2.1). Lele dumbo adalah jenis ikan
hibrida hasil persilangan antara C. gariepinus dan C. fuscus serta merupakan ikan
introduksi yang pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1985. Klasifikasi lele
dumbo menurut Saanin (Iqbal, 2011) sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Sub kingdom : Metazoa
Filum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub kelas : Teleostei
Ordo : Ostariophysoidei
Sub ordo : Siluroidea
Famili : Claridae
Genus : Clarias
Spesies : Clarias gariepinus
(xxxxx, tahun)

Gambar 2.1 Ikan lele dumbo (dokumentasi pt. Suri tani pemuka)

2.1.1 Morfologi
Dilihat dari ciri morfologinya ikan lele dumbo berbeda dengan jenis ikan
lainnya seperti ikan nila, ikan gurami maupun ikan mas. Menurut Najiyati (2012),
ikan ini mempunyai alat olfactory yang terletak berdekatan dengan sungut hidung
dan penglihatannya kurang berfungsi dengan baik. Insang berukuran kecil
sehingga ikan ini kesulitan untuk bernafas sehingga memiliki alat pernapasan
tambahan yang disebut aborescent organ (Bachtiar, 2006). Alat pernapasan
tersebut merupakan membran yang berlipat-lipat penuh dengan kapiler darah.
Aborescent organ merupakan organ pernapasan yang berasal dari busur insang
yang telah termodifikasi. Alat pernapasan ini berwarna kemerahan dan berbentik
seperti tajuk pohon rimbun yang penuh kapiler darah (Gambar 2.2).

Gambar 2.2 Alat pernapasan tambahan (Aborescent organ yang ditunjukkan


nomor 1) ikan lele dumbo (Burhanuddin, 2014)

2.1.2 Habitat
Ikan lele dumbo hidup dan berkembang biak di perairan tawar seperti
rawa-rawa, danau atau sungai tenang. Ikan lele dapat hidup pada air yang
tercemar seperti di got-got dan selokan pembuangan. Semua kelebihan tersebut
membuat ikan ini tidak memerlukan kualitas air yang jernih atau mengalir ketika
dipelihara di dalam kolam (Khairuman and Amri, 2008).
2.2 Pakan
Pakan merupakan sumber energi bagi ikan untuk kelangsungan hidup dan
kelestarian keturunannya. Energi dalam pakan dapat dimanfaatkan setelah pakan
tersebut dirombak menjadi komponen lebih sederhana (Afrianto and Liviawaty,
2005). Sebagaimana halnya makhluk hidup lain, ikan juga membutuhkan zat-zat
gizi tertentu dalam kehidupannya. Zat gizi yang diperlukan adalah protein, lemak,
karbohidrat, vitamin, mineral dan air (Prasetya, 2015).
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Bioproses untuk pemeliharaan
dan perlakuan hewan uji, di laboratorium Kimia dan Biokimia Hasil Pertanian
untuk uji kandungan suplementasi pellet dan di RS. Abdul Wahab Sjahranie untuk
analisais profil darah ikan patin. Untuk pemeliharaan dan perlakuan hewan uji
mulai bulan April sampai Juni 2015. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mulawarman. Samarinda.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat
Pada penelitian ini menggunakan alat-alat sebagai berikut: aquarium (18
buah dengan ukuran ukuran 40 cm (p) x 33 cm (l) x 15 (t), Disposible syrenge 1
ml, tabung reaksi, termometer, dan Mikroskop (Primo star ZEISS made in
Germany) (Lampiran 1).
3.2.2 Bahan
Pada penelitian ini menggunakan bahan-bahan sebagai berikut: Anakan
Ikan patin (Pangasius djambal.) dengan berat badan rata-rata 0.93 gr sebanyak
180 ekor, Aquadest, Etanol 95%, EDTA 0,2%, stereofom (Lampiran 1).

3.3 Cara Kerja


Propolis sebanyak 168.36 gr direndam dalam 2.9 liter etanol 95% selama 5
hari di botol (berwarna gelap), lalu di shaker 2 kali sehari yakni pagi dan sore hari
selama 10 menit.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAAN

4.1 Hasil Pengamatan


Hasil analisa proksimat pakan yang digunakan selama penelitian disajikan
pada Tabel 4.1
Tabel 4.1 Analisa proksimat Kandungan Pakan Ikan Pangasius djambal yang
digunakan dalam Penelitian dengan berbagai variasi suplementasi
propolis (Trigona sp.).
Kandungan Kontrol P1 P2 P3 P4 P5
Kadar Air (%) 7,24 8,74 8,35 8,21 8,12 7,82
Kadar Abu (%) 0,48 0,57 0,55 0,54 0,54 0,52
Lemak (%) 1,05 1,05 1,03 1,08 1,07 1,06
Protein (%) 33,62 34,52 34,62 34,89 34,66 35,82
Serat (%) 1,72 1,63 1,43 1,52 1,52 1,47
Karbohidrat 57,61 55,12 55,45 55,31 55,61 54,78
(%)
Keterangan: P1= Pakan ikan dengan suplementasi ekstrak propolis 2 gr/kg, P2=Pakan
ikan dengan suplementasi ekstrak propolis 4 gr/kg, P3= Pakan ikan dengan suplementasi ekstrak
propolis 6 gr/kg, P4= Pakan ikan dengan suplementasi ekstrak propolis 8 gr/kg dan P5= Pakan
ikan dengan suplementasi ekstrak propolis10 gr/kg.

Dari hasil analisa proksimat sampel pakan, didapatkan nilai-nilai sebagai


berikut: Sampel pakan dari kelompok P1 mempunyai kandungan air (8,74%) dan
abu (0,57%,) tertinggi dari antara semua sampel pakan. Namun, kandungan lemak
tertinggi terdapat pada sampel kelompok P3 dengan nilai 1,08 dan yang terendah
terdapat pada sampel pakan kelompok P2 (1,03). Sementara itu, meskipun sampel
pakan dari kelompok kontrol mempunyai nilai karbohidrat tertinggi (57,61%),
sampel pakan kelompok ini menunjukkan kandungan air (7,24%), abu (0,48%),
dan protein (33,62%) paling rendah dibandingkan dengan sampel pakan dari
kelompok lain, sedangkan nilai kandungan serat terendah didapatkan dari
kelompok P2 (1,43%).

4.2 Pembahasan
Kuantitas dan kualitas pakan yang dikonsumsi sangat berpengaruh baik
terhadap pertumbuhan maupun profil darah ikan patin (Lampiran 2). Kandungan
gizi seperti karbohidrat, serat, lemak dan protein merupakan sumber energi yang
mempengaruhi pertumbuhan (Arisman, 2004) juga berperan dalam meningkatkan
kesehatan tubuh (Profil darah) (Hanifah, 2009)
Pertumbuhan terjadi apabila terdapat kelebihan energi bebas setelah energi
pakan digunakan untuk pemeliharaan tubuh, metabolism dan aktivitas (Subamia
et al., 2003). Masing-masing kandungan gizi memiliki fungsi yang berbeda-beda
seperti protein yang memiliki fungsi sebagai bahan pembentuk jaringan tubuh
yang baru (pertumbuhan) atau pengganti jaringan tubuh yang rusak, sebagai
bahan baku untuk pembentukan enzim, hormon, antibodi dan bahan baku untuk
penyusun protein plasma serta sebagai sumber energi (Oktavianti, 2014).
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil sebagai berikut:
 Suplementasi ekstrak propolis mulai 2, 4, 6, 8 dan 10 gr/kg pada pakan
ikan secara signifikan (P<0.05) memberikan pengaruh terhadap
pertumbuhan ikan patin, perlakuan P5 dengan suplementasi tertinggi yakni
10 gr/kg memberikan pertumbuhan tertinggi dengan nilai 0.8367±0.1146
gr.
 Dari hasil analisa profil darah ikan patin setelah perlakuan 4 minggu
perlakuan menunjukkan bahwa suplementasi ekstrak propolis pada pakan
dengan variasi 2, 4, 6, 8 dan 10 gr/kg mempengaruhi jumlah rerata eritrosit
dan hemoglobin sedangkan leukosit tidak beda nyata (P>0.05). Nilai
profil darah tertinggi berturut-turut dari eritrosit, leukosit dan hemoglobin
adalah 0.20±0.0584 (P3), 2.17±0.8333 (P3) dan 0.93±0.0333 (K).

5.2 Saran
Diharapkan adanya penelitian lebih lanjut untuk mengetahui perubahan
struktur mikroanatomi dari sistem pencernaan ikan patin yang di beri
suplementasi ekstrak propolis.
DAFTAR PUSTAKA

Bosma R.H., C. T. T. Hanh, and J. Potting. 2009. Environmental Impact


Assessment of the Pangasius Sector in the Mekong Delta. Wageningen
University, Wageningen
Djariah, A. S. 2001. Budidaya Ikan Patin. Kanisius, Yogyakarta.
Keembiyhetty, C. N., and S. S. D. Silva. 1993. Performance of juvenile
Oreochromis niloticus (L) reared on diets containing cowpea, Vigna cating
and blackgram, Phaseolus seed. Aquaculture 112: 207 215.
Oktavianti, D. 2014. Subtitusi Parsial Tepung Ikan Dengan Menggunakan Tepung
Ikan Petek (Leiougnathus equulus) Dalam Pakan Buatan Benih Ikan Patin
Siam (Pangasius hypopthalamus). Fakultas Pertanian, Lampung. Skripsi
Proestos, C., N. Chorianopoulos, G. J. E. Nichas, and M. Komaitis. 2005. RP-
HPLC analysis of the phenolic compounds of plant extracts: investigation
of their antioxidant capacity and antimicrobial activity. J. Agri. Food.
Chem 53: 1190-1195.
Rukmana, H. R. 2003. Lele Dumbo Budidaya dan Pascapanen. Aneka Ilmu,
Semarang.
Utami, W. P. 2009. Efektivitas Ekstrak Paci-Paci (Leucas lavandulaefolia) Yang
Diberikan Lewat Pakan Untuk Pencegahan Dan Pengobatan Penyakit Mas
Motile Aeromonas Septicemia Pada Ikan Lele Dumbo (Clarias sp. )
Skripsi.
Zonneveld, N., E. A. Huisman, and J. H. Boon. 1991. Prinsip–Prinsip Budidaya
Ikan. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Lampiran 1. Alat dan bahan penelitian

(a) (b) (c)

Keterangan : (a) xxxxxxxxxx


(b) xxxxxxxxxx
(c) xxxxxxxxxx
Lampiran 2. Pertumbuhan profil darah ikan patin