Anda di halaman 1dari 16

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

I. Pengetahuan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengetahuan adalah

segala sesuatu yang diketahui. Pengetahuan pada hakikatnya merupakan

segala sesuatu yang diketahui manusia tentang obyek tertentu. Sebagian besar

pengetahuan manusia diperoleh melalui ilmu pendengaran, penglihatan, dan

tindakan manusia yang didasari pengetahuan, pengetahuan dapat diperoleh

melalui pengalaman orang lain atau melihat langsung melalui sarana

komunikasi seperti radio, televisi, majalah dan surat kabar (Notoatmodjo,

1993).

Pengetahuan adalah kesan di dalam pikiran manusia sebagai hasil

pengguna panca inderanya, yang berbeda sekali dengan kepercayaan (believe),

takhayul (superstitions) dan penerangan-penerangan yang keliru (Soekanto,

1990).

A. Menurut Notoatmodjo Pengetahuan Mempunyai 6 Tingkat, Yaitu:

1. Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai pengingat sesuatu mated yang telah

dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini

adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik

terhadap seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah


7

diterima. Oleh karena itu “Tahu” ini adalah merupakan tingkat yang

paling rendah.

2. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai sesuatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat

menginterpretasikan materi tersebut secara benar.

3. Aplikasi (aplicatiori)

Dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi

yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya.

4. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi

atau suatu objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih ada

kaitannya satu sama lain.

5. Sintesis (syinthesis)

Sintesis menunjuk pada sesuatu kemampuan untuk meletakan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan

yang baru. Dengan kata lain, sintesis itu suatu kemampuan untuk

menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.

6. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

klasifikasi atau penilaian terhadap suatu objek atau materi. Penilaian-

penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau

menggunakan kriteria-kriteria yang ada.


8

B. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengetahuan :

1. Usia

Menurut Hurlock (1980) keadaan emosi pada usia belasan tahun

sebagai periode “badai dan tekanan” yaitu satu masa dimana

ketegangan emosi meninggi sebagai akibat perubahan fisik dan

kelenjar, akan tetapi tidak semua individu pada usia ini mengalami

badai dan tekanan, namun benar juga bila sebagai individu mengalami

ketidakstabilan emosi. Hal ini dikemukakan juga oleh Gessel dan

Hurlock (1980) bahwa usia belasan tahun seringkali mudah marah dan

emosinya cenderung "meledak-ledak" dan kurang bisa mengendalikan

perasaannya.

Pada usia 20 sampai 30 tahun individu telah menunjukan

kematangan emosi, dimana individu menilai suatu situasi secara kritis

terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional. Individu yang

emosinya matang memberikan reaksi emosi yang stabil, tidak berubah-

ubah dari satu emosi ke emosi lain atau suasana hati ke suasana hati

yang lain, pada usia ini kebanyakan individu telah mampu

memecahkan masalah dan mengambil suatu keputusan dengan

cukup baik (Sulaeman, 1982).

2. Pekerjaan

Pekerjaan adalah kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan

imbalan atau jasa yang diperhitungkan dengan uang (Notoatmodjo,


9

2005 :10) Ibu hamil yang bekerja merupakan sebab - sebab mendasar

yang mempengaruhi frekuensi kehamilan, karena berhungan dengan

ada atau tidaknya waktu untuk kunjungan pemeriksaan kehamilan.

Bahwa ibu hamil yang tidak bekerja yang banyak melakukan

pemeriksaan kehamilan. Dan ternyata kesibukan ibu yang bekerja juga

mempengaruhi partisipasi ibu dalam melakukan pemeriksaan

kehamilan. (Heru, BKKBN 2006).

Penghasilan keluarga merupakan faktor utama yang

memungkinkan bagi seseorang untuk memanfaatkan pelayanan

kesehatan (Green: 1980), selain itu ibu yang bekerja disektor formal

memiliki akses yang lebih baik terhadap berbagai informasi termasuk

kesehatan.

3. Pendidikan

Pendidikan merupakan proses menumbuh kembangkan seluruh

kemampuan dan perilaku manusia melalui pengajaran, sehingga dalam

pendidikan itu perlu dipertimbangkan umur (proses perkembangan

klien) dan hubungan dengan proses belajar. Tingkat pendidikan juga

merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang

untuk lebih menerima ide-ide dan tehnologi baru (SDK1J997)

Pendidikan adalah suatu proses pembentukan kecepatan

seseorang secara intelektual dan emosional kearah dalam sesama

manusia . Pendidikan juga diartikan sebagai suatu usaha sendiri untuk


10

mengembangkan kepribadian dan kemampuan didalam dan diluar

sekolah dan berlansung seumur hidup (Notoamodjo, 2003)

Pendidikan adalah proses pertumbuhan semua kemampuan dan

prilaku melalui pengajaran sehingga dalam pendidikan perlu di

pertimbagkan umur (proses perkembangan )dan hubunganya dengan

proses belajar tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor

yang mempengaruhi presepsi seseorang untuk lebih mudah menerima

ide ide dan teknologi baru (Arinkunto, 2002).

Tidak dipungkiri pendidikan akan menentukan pola piker dan

wawasan seseorang. Selain itu tingkat pendidikan juga merupakan

bagian dari pengalaman kerja (Rahmad, 1996).

Kurang dari separuh wanita kawin yang tidak pernah sekolah

sedang memakai kontrasepsi, setidaknya hamper 63% untuk wanita

kawin yang tamat SD atau berpendidikan lebih tinggi menggunakan

kontrasepsi. (SDKI: 2003)

4. Paritas

Jumlah anak yang sudah dilahirkan oleh ibu baik hidup maupun

mati. (Heru, BKKBN 2006). Seorang ibu dengan paritas lebih dari

lima biasanya memiliki kondisi kesehatan fisik yang tidak prima lagi,

apabila jika jarak melahirkan antara satu dan yang berikutnya kurang

dari 2 tahun. Kesesuaian ini mungkin dikarenakan ibu yang

mempunyai anak 1 - 2 orang lebih mempei'hatikan kehamilannya


11

karena pengalaman sebelumnya yang mungkin kurang baik sehingga

ada perasaan takut akan hal - hal yang akan terjadi kemudian, dan

mungkin juga ibu ingin memperoleh kepastian tentang keadaan diri

bayinya dalam keadaan sehat selalu karena mungkin kehamilan ini

merupakan suatu hal yang sudah lama diinginkannya, atau pada ibu

yang mempunyai anak > 3 orang mungkin kafiena ibu yang sudah

mempunyai anak merasa bahwa kellamilannya dalam batas normal

sesuai dengan pengalaman kehamilan sebehimnya, padaha! dalam

kenyataannya tidak selalu kehamilan satu dan berikutnya dilewati

dalam keadaan yang sama. (Heru, BKKBN,2006).

Paritas adalah jumlah kelahiran hidup atau mati dari suatu

kehamilan lebih dari 28 minggu yang pernah dialami ibu

(Prawirohardjo, 1999). Paritas adalah keadaan wanita berkaitan dengan

jumlah anak yang dilahirkan, paritas 2-3 merupakan paritas aman

ditinjau dari sudut kematian (Saifuddin & Surjanigrat, 1999).

5. Kunjungan pemeriksaan kehamilan

Yang di maksud kunjungan ibu hamil adalah kontak ibu hamil

dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal

sesuai standar yang di tetapkan.

Kunjungan antenatal sebaiknya paling sedikit 4 kali selaiiia hamil

yaitu :
12

a. Satu kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum

14 minggu)

b. Satu kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14 - 28)

c. Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28 -

36) (Depkes RI, 2002 : 5)

Kl (Kunjungan Baru Ibu Hamil) Yaitu kunjungan ibu hamil yang

pertama pada inasa kehamilan. K4 Adalah konlak ibu hamil dengan

tenaga keseliatan yang ke empat atau lebih, untuk mendapatkan

pelayanan antenatal sesuni stundar yang di telapkan, dengan syarat:

 Minimal satu kali kontak pada triwulan I

 Minimal satu kali kontak pada triwulan II

 Minimal dua kali kontak pada triwulan III

II. ANC

A. Pengertian

ANC (Antenatal Care) yaitu pengawasan sebelum persalinan,

terutama ditujukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam

rahim. (Manuaba, 1998: 129).

ANC (Antenatal Care) adalah pelayanan yang diberikan oleh

tenaga kesehalan kepada ibu liainil untuk memonilor, inendukung

kesehatan ibu hamil serta mendcteksi kehamilan ibu secara dini.

(Saifuddin, 2002 : 89)


13

B. Pengawasan dan pemeriksaan Antenatal Care

Bidan meniberikan asulian antenatal bennutu tinggi untuk

mengoptinialkan kesehatan selama kehamilan yang meliputi : deteksi dini,

pengobatan atau rujukan dari komplikasi. (Depkes RI, 2007 : 12)

Ibu hamil sebaiknya dianjurkan mengiinjungi bidan atau dokter sedini

mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan

atau asnliaii antenatal. (Saifuddin, 2002 : 89)

Pengawasan antenatal dan postnatal sangat penting dalam upaya

meminmknn angka kesakitan dan kemalian ibn maiipun perinatal.

(Manuaba, 1998 ; 128). Pengawasan antenatal memberikan manfaat

dengan ditenuikannya berbagai kclainan yang menyertai kehamilan secara

dini schingga dapat diperhitungkan dan dipersiapkan langkali - langkah

pertolongan dalam persalinan. (Manuaba, 1998 : 128).

Adapun tujuan pengawasan antenatal adalah :

1. Mengenal dan menangani sedini munskin penyulit yang terdapat saat

kehamilan, saat persalinan, dan kala nifas.

2. Mengenal dan menangani penyakit yang menyertai hamil, persalinan

dan kala nifas.

3. Memberikan nasehat dan petunjuk yang berkaitan dengan kehamilan,

persalinan, kala nifas, laktasi, dan aspek keluarga berencana.

4. Memininkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal.

Pemeriksaan antenatal adalah pemeriksaan kehamilan yang dilakukan

untuk memeriksa keadaan ibu dan janin secara berkala, yang diikuti
14

dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan yang ditemukan. Tujuannya

untuk menjaga agar ibu hamil dapat inelalui masa kehamilan, persalinan

dan nifas dengan baik dan selamat, serta menghasilkan bayi yang sehat.

Pemeriksaan antenatal dilakukan oleh tenaga yang terlatih dan terdidik

dalam bidang kebidanan yaitu pembantu bidan, bidan, dokier dan perawat.

(Mochlar, 1998 : 47)

C. Langkah - langkah Pemeriksaan (Mochtar, 1998 : 48)

1. Anamnesa meliputi anamnesa identitas, anamnesa umum seperti

keluhan tentang keluhan - keluhan yaitu tentang haid, tentang

kehamilan, persalinan sebelunmya.

2. Inspeksi dan pemeriksaan fisik diagnostik.

a. Pemeriksaan seluruh tubuh secara baik

b. Tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan dan sebagainya

3. Palpasi

Palpasi penit untuk menentukan besar dan konsistetisi rahim, bagian

-bagian janin, lelak janin, presentasi janin, gerakan janin, kontraksi

rahim, dan his.

Palpasi yang sering digunakan adalah secara Leopold yaitu :

a. Leopold I : Untuk menentukan TFU sehingga perkiraan umur

kehainilan yang dapat disesuaikan dengan tanggal HPHT dan

unluk mengetahui bagian apa yang terletak di fundus uteri.

b. Leopold II :Untuk nienetapkan bagian apa yang terdapal di bagian

saniping kanan dan kiri uterus ibu.


15

c. Leopold III : Untuk mendapatkan bagian apa yang terdapat pada

symphisis pubis.

d. Leopold IV : Untuk mendapatkan sejauh mana bagian dari bawah

janin masuk kedalam PAP (Jika kedua tangan pemeriksa bertemu

bagian terendah belum masuk PAP yang disebut konvergen tapi

apabila kedua tangan tidak bertemu maka bagian terendah sudali

inasuk PAP yang disebut divergen).

4. Auskultasi

Digunakan stetoskop monoral atau dopler untuk mendengarkan

denyut jantung janin. Punctum maximum denyut jantiuig janin

ditetapkan sekitar scapula.

Jumlah denyut jantung normal antara 120 sampai 160 kali

permenit.

5. Perkusi

Tidak begitu banyak artinya, kecuali bila ada suatu indikasi.

Pemeriksaan kehamilan atau ANC (Antenatal Care)

yang berkualitas dapat dilihat dari:

a. Kunjungan ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya

b. Pemeriksaan kehamilan dengan standar “7 T”

c. Peralatan Pelayanan Kesehatan. (Saifuddin, 2002:90)


16

D. Kunjungan Ibu Hamil

Kunjungan ibu hamil adalah kontak ibu hamil dengan tenaga

kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar yang

ditetapkan. Kunjungan antenatal sebaiknya paling sedikit 4 kali selama

hamil yaitu :

1. Satu kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum 14 minggu)

2. Satu kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14 - 28)

3. Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28 - 36)

(Depkes RI, 2004 : 9).

E. Standar Pelayanan 7 T

Dalam antenatal care yang inenjadi Pelayanan / asuhan slandar minimal

termasuk “7T” tujuannya menjaga agar ibu sehat selama kehamilan,

persalinan dan nifas serta mengusahakan bayi yang dilahirkan sehat, yaitu

1. Timbang berat badan.

2. Tekanan darah.

3. Tinggi fundus uteri.

4. (Tetanus Toxoid) TT lengkap.

5. Pemberian Tablet zat besi.

6. Tes terhadap penyakit menular

7. Temu wicara dalam persiapan rujukan


17

Pelayanan / asuhan antenatal ini hanya dapat diberikan oleh tenaga

kesehatan profesional dan tidak dapat diberikan oleh dukun bayi.

(Saifuddin, 2002 : 90).

1. Timbang berat badan

Berat badan ibu hamil yang sehat atau normal akan bertambah antara

11,5 - 16 kg. Peningkatan berat badan sangat menentukan

kelangsungan hasil akhir kehamilan, Bila ibu hamil kuriis atau gemuk

sebeluni hamil akan meninibuJkan resiko pada janin lerutama apabila

peningkatan atau penurunan sangat menonjol. Bila sangat kurus maka

akan melahirkan bayi BBLR, namun berat badan bayi dari ibu Iiamil

dengan berat badan nonnal atau kurus, lebih dipengaruhi oleh

peningkatan atau penurunan berat badan sebeluni hamil, Penambahan

bcrat badan per trimester lebih periling daripada penambahan berat

badan kesehimhan. Pada trimester pertama peningkatan berat badan

hanya sedikit, antara 0,7 - 1,4 kg. Pada trimester berikutnya aka terjadi

peningkatan berat badan yang dapat dikatakan teratur, yaitu 0, 35 - 0,4

kg per minggu. (Salmah, 2005 : 113)

2. Ukur Tekanan Darah

Mengukur tekanan darah untuk menilai apakah tekanan darah ibu

tinggi atau normal. Apabila tekanan darah diatas 140/90 minHg atau

peningkafan diastol 15 mniHg / lebih sebelutn kehamilan 20 minggu,

atau paling sedikit pada pengukuran dua kali berturut-turut pada selisih
18

waktu I jain, berarti ada kenaikan nyata dan ibu perlu dirujuk.

(DepkesRI, 2002 : 17)

3. Ukur tinggi fundus uteri

Tinggi fundus uteri bertambah sesuai cleugaii pertumbuhan janin,

tetapi paritas ibu, ukuran, dan kandung kemih yang penuh, letak

linlang dan jumlah janin dapat mempengaruhi TFU. Tinggi fundus

uteri dapat dikaji melalui dua cara : (Johson, Ruth, 2004 : 3-4)

a. Menggunakan indikator tradisional yang

menggunakan struktur anatomi pada abdomen.

b. Mengukur dengan meteran. Dilakukan pengukuran

dari tepi atas simpisis pubis ke bagian atas fundus, meteran

mengikuti dinding perut. Ukuran ini biasanya sesuai dengan umur

kehamilan dalain minggu setelah umur kehamilan 24 minggu.

4. Imunisasi TT

Ibu hamil perlu melakukan imunisasi tetanus, tujuannya agar anak

lahir tidak terserang penyakit tetanus tali pusat. Penyakit ini sangat

mematikan. Imunisasi tetanus ibu hamil diberikan sebanyak 2 kali

yaitu TT perlatna diberikan pada kunjiingan pertama (trimester I alau

trimester II) dan TT kedua 4 minggu setelah pemberian TT pertama,

atau jika pada trimester II hanya mendapatkan TT I maka pada

trimester bisa diberikan simtukan TT II scbelum usia kehamilan 32

minggu. (Saifuddin, 2001 : 95)


19

5. Tablet Zat Besi

Dimulai dengan memberikan satu tablet sehari sesegera mungkin

sctclah rasa mual hilang. Tiap tablet mengandung FeSO4 320 mg(zat

besi 60 nig) dan Asam folat 500 ug, minimal masing-masing 90 tablet.

Tablet besi sebaiknya tidak diminum bersama teh atau kopi,

karenaakan mengganggu penyerapan. (Saifuddin, 2002 : 91)

6. Tes penyakit menular

Penyakit hubungan seksual dapat menimbulkan infeksi akut

(mendadak) yang memerlukan penanganan yang lepat oleh karena

akan dapat inenjalar ke alat genetalia bagian dalam (atas) dan

menimbulkan penyakit radang panggul. Pengobatan yang kurang

memuaskan akan menimbulkan penyakit menjadi menahun (kronis)

dengan akibat rusaknya fungsi alat genetalia bagian dalam sehingga

menimbulkan infeksi. (Manuaba, 1998:40)

7. Temu Wicara

Memberikan penyuluhan kcsehatan yang tepat untuk mempersiapkan

kehamilan yang sehat dan terencana serta menjadi orang tua yang

bertanggungjwab. Bidan juga liarus mengenal kehamilan resti/

kelainan, khususnya anemia, kurang gizi, hipertensi, PMS/ infeksi IIIV,

dan memberikan penyululmn keschatan, bila ditemukan kclainan,

bidan siap menganibil tindakan yang diperlukan daii inenijuk untiik

lindakan. (Depkes RI, 2002 : 8 dan 16)


20

F. Peralatan Pelayanan Kesehatan

Untuk melakukan pcmeriksaan kehamilan di perlukan adanya

peralatan medis yang mendukung terlaksananya pemeriksaan tersebut.

Alaf untuk pelayanan antenatal tersedia dalam keadaaii baik dan berfungsi,

antara lain: stetoskop, tensi meter, meteran kain, timbangan, pengukur

lengan atas dan stetoskop janin. (Depkes RI, 1999 : 16)

III. Kentungan ANC

Keuntungan ANC sangat besar karena dapat mengetahui berbagai resiko

dan komplikasi hamil sehingga ibu hamil dapat diarahkan untuk melakukan

rujukan ke Rumah Sakit. Dengan demikian diharapkan angka kematian ibu

dan perinatal yang sebagian besar terjadi pada saat pertolongan pertama dapat

diturunkan secara bermakna. (Manuaba, 1998 : 133).

IV. Pemeriksaan Kehamilan

Sebelum tahun 1970 bidan melakukan pemeriksaan fisik terutama pada

payudara dan panggul,. jarang melakukan pemeriksaan mulut, tenggorok,

kelenjar tiroid, abdomen, anggota gerak, hemoglobin, he-matokrit, analisis

urine, dan Pap smear. Di awal tahun 1970-an pela-yanan kebidanan bertambah

dengan mcmberi pelayanan Keiuarga Be-rencana (KB). Berdasarkan.

pengalaman pelayanan KB ini diketahui bahwa pemeriksaan fisik tidak cukup

untuk mendeteksi masalah-ma-salah kesehatan latnnya, Sejak tahun 1974

pemeriksaan fisik sudah di-terima sebagai bagian praktik bidan. Perluasan


21

pemeriksaan fisik ini sudah ditingkatkan seiring dengan perluasan praktik

bidan. Berdasarkan hasil pemeriksaan ditentukan diagnosis atau masalah

sebagai dasar untuk melaksanakan tindakan.

Menurut Abdul Bari Saifudin, kunjungan antenatal untuk peman-tauan dan

pengawasan kesejahteraan ibu dan anak minimal empat kali selama kehamilan

dalam waktu sebagai' berikut: kehamilan trimester pertama (<14 minggu) satu

kali kunjungan, kehamilan trimester kedua (14-28 minggu} satu kali

kunjungan, dan kehamilan trimester ketiga (28-36 minggu dan sesudah

minggu ke-36) dua kali kunjungan.

Walaupun demikian, disarankan kepada ibu hamil untuk memerik-sa

kehamilannya dengan jadwal sebagai berikut: sampai dengan kehamilan 28

minggu periksa empat minggu sekali, kehamilan 28-36 minggu perlu

pemeriksaan dua minggu sekali, kehamilan 36—40 minggu satu minggu

sekali.

Bila ada masalah atau gangguan kehamilannya, ibu segera meneniui

petugas kesehatan profesional (bidan atau dokter) untuk penanganan lebih

lanjut. (Rusmiati, SKM : 2006)