Anda di halaman 1dari 4

Nama: Bayu Wisnu Buana Putra

NIM: M1B116001
Tugas Pendidikan Agama Islam Resume Buku Sirah Nabawiyah

SIRAH NABAWIYAH
POSISI BANGSA ARAB DAN KAUMNYA
Pada hakikatnya istilah Sirah Nabawiyah merupakan ungkapan tentang risalah
yang dibawa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wasallam kepada manusia, untuk
mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, dari 'ibadah kepada hamba
menuju 'ibadah kepada Allah. Dan tidak mungkin bisa menghadirkan gambarannya
yang amat menawan secara pas dan mengena kecuali setelah melakukan perbandingan
antara latar belakang risalah ini (risalah Nabawiyyah) dan pengaruhnya. Berangkat dari
sinilah kami merasa perlu mengemukakan fasal yang berbicara tentang kaum-kaum
'Arab dan perkembangannya sebelum Islam, serta tentang kondisi-kondisi saat Nabi
Muhammad diutus.
Posisi Bangsa Arab
Menurut bahasa, 'Arab artinya padang pasir, tanah gundul dan gersang yang
tiada air dan tanamannya. Sebutan dengan istilah ini sudah diberikan sejak dahulu kala
kepada jazirah Arab, sebagaimana sebutan yang diberikan kepada suatu kaum yang
disesuaikan dengan daerah tertentu, lalu mereka menjadikannya sebagai tempat tinggal.
Jazirah Arab dibatasi Laut Merah dan gurun Sinai di sebelah barat, di sebelah timur
dibatasi teluk Arab dan sebagian besar negara Iraq bagian selatan, di sebelah selatan
dibatasi laut Arab yang bersambung dengan lautan India dan di sebelah utara dibatasi
negeri Syam dan sebagian kecil dari negara Iraq, sekalipun mungkin ada sedikit
perbedaan dalam penentuan batasan ini. Luasnya membentang antara satu juta mil kali
satu juta tiga ratus ribu mil.
Jazirah Arab memiliki peranan yang sangat besar karena letak geografisnya.
Sedangkan dilihat dari kondisi internalnya, Jazirah Arab hanya dikelilingi gurun dan
pasir di segala sudutnya. Karena kondisi seperti inilah yang membuat jazirah Arab
seperti benteng pertahanan yang kokoh, yang tidak memperkenankan bangsa asing
untuk menjajah, mencaplok dan menguasai Bangsa Arab. Oleh karena itu kita bisa
melihat penduduk jazirah Arab yang hidup merdeka dan bebas dalam segala urusan
semenjak zaman dahulu. Sekalipun begitu mereka tetap hidup berdampingan dengan
dua imperium yang besar saat itu, yang serangannya tak mungkin bisa dihadang
andaikan tidak ada benteng pertahanan yang kokoh seperti itu.
Sedangkan hubungannya dengan dunia luar, Jazirah Arab terletak di benua yang
sudah dikenal semenjak dahulu kala, yang mempertautkan daratan dan lautan. Sebelah
barat Laut merupakan pintu masuk ke benua Afrika, sebelah timur laut merupakan
kunci untuk masuk ke benua Eropa dan sebelah timur merupakan pintu masuk bagi
bangsa-bangsa non-Arab, timur tengah dan timur dekat, terus membentang ke India dan
Cina. Setiap benua mempertemukan lautnya dengan Jazirah Arab dan setiap kapal laut
yang berlayar tentu akan bersandar di ujungnya.
Karena letak geografisnya seperti itu pula, sebelah utara dan selatan dari jazirah
Arab menjadi tempat berlabuh berbagai bangsa untuk saling tukar-menukar perniagaan,
peradaban, agama dan seni.
Kondisi Agama
Mayoritas Bangsa Arab masih mengikuti dakwah Nabi Ismail 'alaihissalam dan
menganutagama yang dibawanya. Beliau meneruskan dakwah ayahnya, Ibrahim
'alaihissalam, yaitumenyembah Allah dan mentauhidkanNya. Untuk beberapa lama
mereka akhirnya mulailupa banyak hal tentang apa yang pernah diajarkan kepada
mereka. Sekalipun begitu, tauhid dan beberapa syiar agama Ibrahim masih tersisa pada
mereka, hingga munculnya Amru bin Luhai, pemimpin Bani Khuza'ah. Dia tumbuh
sebagai orang yang dikenal sukanberbuat kebajikan, bershadaqah dan respek terhadap
urusan-urusan agama, sehingga semua orang mencintainya dan hampir-hampir mereka
menganggapnya sebagai salah seorang ulama besar dan wali yang disegani. Kemudian
dia mengadakan perjalanan ke Syam. Disana dia melihat penduduk Syam yang
menyembah berhala dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang baik serta benar.
Sebab menurutnya, Syam adalah tempat para rasul dan kitab. Maka dia pulang sambil
membawa Hubal dan meletakkannya di dalam ka'bah. Setelah itu dia mengajak
penduduk Mekkah untuk menjadikan sekutu bagi Allah. Orang-orang Hijaz pun banyak
yang mengiktui penduduk Mekkah karena mereka dianggap sebagai pengawas Ka'bah
dan penduduk tanah suci.
Berhala yang paling dahulu mereka sembah adalah Manat, yang ditempatkan di
Musyallal di tepi laut Merah dekat Qudaid. Kemudian mereka membuat Lata di Thaif
dan Uzza di lembah kurma (wadi nakhlah). Ketiga berhala tersebut merupakan yang
paling besarnya. Setelah itu kemusyrikan semakin merebak dan berhala-berhala yang
lebih kecil bertebaran di setiap tempat di Hijaz. Dikisahkan bahwa Amru bin Luhai
mempunyai pembantu dari jenis jin. Jin ini memberitahukan kepadanya bahwa berhala-
berhala kaum Nuh (Wud, Suwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr) terpendam di Jeddah. Maka
dia datang ke sana untuk mencari keberadaannya, lalu membawanya ke Tihamah.
Setelah tiba musim haji, dia menyerahkan berhala-berhala itu kepada berbagai kabilah.
Mereka membawa pulang berhala-berhala itu ke tempat mereka masing-masing.
Sehingga di setiap kabilah dan di setiap rumah hampir pasti ada berhalanya. Mereka
juga memajang berbagai macam berhala dan patung di al-Masjidil Haram . Tatkala
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menaklukkan Mekkah, di sekitar Ka'bah
terdapat tiga ratus enam puluh berhala. Beliau menghancurkan berhala-berhala itu
hingga runtuh semua, lalu memerintahkan agar berhala-berhala tersebut dikeluarkan
dari masjid dan dibakar.
Diantara upacara penyembahan berhala yang mereka lakukan adalah :
Mereka mengelilingi berhala dan mendatanginya, berkomat-kamit di
hadapannya, meminta pertolongan tatkala menghadapi kesulitan, berdoa untuk
memenuhi kebutuhan, dengan penuh keyakinan bahwa berhala-berhala itu bisa
memberikan syafa'at di sisi Allahdan mewujudkan apa yang mereka kehendaki.
Mereka menunaikan haji dan thawaf di sekeliling berhala, merunduk dan sujud
dihadapannya. Mereka bertaqarrub kepada berhala mereka dengan berbagai bentuk
taqarrub/ibadah; mereka menyembelih dan berkorban untuknya dan dengan namanya.
Dua jenis penyembelihan ini telah disebutkan Allah di dalam firmanNya :
"…Dan apa yang disembelih untuk berhala…." (Al-Maidah: 3)
"Dan janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah
ketika menyembelihnya". (Al-An'am: 121).
Kondisi Sosial
Terdapat beragam klasifikasi dalam tatanan masyarakat Arab dimana antar satu
dengan lainnya, kondisinya berbeda-beda. Hubungan seorang laki-laki dengan
keluarganya di lapisan kaum bangsawan mendapatkan kedudukan yang amat
terpandang dan tinggi, kemerdekaan berkehendak dan pendapat yang mesti didengar
mendapatkan porsi terbesar. Hubungan ini selalu dihormati dan dijaga sekalipun dengan
pedang yang terhunus dan darah yang tertumpah. Seorang laki-laki yang ingin dipuji
karena kemurahan hati dan keberaniannya di mata orang Arab, maka hendaklah
waktunya yang banyak hanya dipergunakan untuk berbicara dengan wanita. Jika
seorang wanita menghendaki, dia dapat mengumpulkan suku-suku untuk kepentingan
perdamaian, namun juga dapat menyulut api peperangan diantara mereka. Meskipun
demikian, tak dapat disangkal lagi bahwa seorang laki-laki adalah kepala keluarga dan
yang menentukan sikap didalamnya. Hubungan antara laki-laki dan wanita yang
berlangsung melalui akad nikah dan diawasi oleh para walinya (wanita). Seorang wanita
tidak memiliki hak untuk menggurui mereka.

Sebelum Rasulullah diutus, kondisi dunia Arab kala itu adalah bangsa yang
terpinggirkan, sering berkecamuk perang, penuh dengan ketidakadilan, dekadensi
moral, degradasi akidah, hingga tak mengenal lagi asas ketauhidan yang dulu pernah
diajarkan oleh Nabi Ismail dan Ibrahim ‘alaihimassalam. Kerajaan yang ada dan silih
berganti tak lebih hanya sebagai sarana pemenuh hawa nafsu akan harta dan wanita.
Bangsa Arab yang terletak pada geografis dan geopolitik yang strategis butuh segera
dibenahi. Dan pada pertengahan abad ke-6 lahirlah seorang pria yang kelak namanya
terabadikan dalam sejarah. Bukan hanya sebagai nabi dan rasul, tetapi juga The Most
Influential Person in History.

Muhammad lahir dari kalangan suku yang terpandang di kalangan bangsa Arab,
yakni Suku Quraisy. Merekalah keturunan Ibrahim AS yang berhak dan memiliki
wewenang dalam pengelolaan ka’bah. Maka, tak heran saat Muhammad menyerukan
Islam yang dianggap baru, maka para petinggi Quraisy resah, gelisah, dan seolah
kehilangan arah. Mereka merasa terancam sistem ideologi berhala dan hegemoni
ekonomi yang selama ini telah membuat mereka nyaman dan terbuai. Sehingga, sangat
logis jikalau mereka tak sudi menerima ajakan Muhammad, bukan karena kepribadian
sang penyerunya, tetapi lebih pada kesombongan yang membuat hidayah tak mau
menghampiri. Perang kepentingan pun tak dapat dihindari. Sejak kemunculan risalah
yang penyempurna ini, para pejabat teras Quraisy dibuat pusing dan terus berdebat di
parlemen Darun Nadwah untuk bagaimana caranya menghentikan dakwah Islam.
Berbagai perlawanan dilakukan. Mulai dari penyerangan psikologis dengan menghina,
embargo ekonomi, hingga pada upaya pembunuhan yang terisistem. Dan memang sudah
menjadi sunnatullah bahwa semua rasul yang diutus pasti akan menghadapi berbagai
tekanan, rintangan, hingga ancaman yang sungguh luar biasa.

Berbagai strategi dakwah, Rasulullah lakukan. Mulai dari menyeru kerabat dan
sahabat terdekat secara sembunyi, lalu terang-terangan ke kabilah-kabilah Arab, hingga
ekspansi ke luar negeri (Thaif dan Habasyah). Bahkan, sampai era dakwah memasuki
fase Madinah, angkat senjata pun dilakukan untuk menjamin kemurnian akidah dan
keberlangsungan risalah. Perjuangan adalah keniscayaan yang tak pernah menjadi
pilihan. Bahkan, terkadang peperangan yang terjadi lebih pada sebuah pembuktian
enititas dan penentuan eksistensi umat. Dengan semangat jihad yang terus digelorakan
sang rasul, kaum muslimin hampir selalu memenangi medan dengan jumlah pasukan
yang lebih sedikit dibandingkan serdadu kaum kuffar.

Kaum kafir Quraisy pun akhirnya menyerah. Tanda-tandanya terlihat saat


mereka akhirnya harus terikat perjanjian gencatan senjata di Hudaibiyah.
Konsekuensinya, mereka harus mengakui kekuatan kaum muslimin. Mereka tak lagi
menganggap remeh, bahkan beberapa di antara mereka menyatakan masuk Islam.
Dalam memanfaatkan kondisi tenang ini, Rasulullah melakukan manuver dakwah lain,
yaitu upaya korespondensi dengan berkirim surat kepada raja-raja dan penguasa di
sekitar Jazirah Arab. Beberapa di antara mereka menerima hangat seruan dakwah Islam,
meskipun tak sedikit juga yang menentangnya. Efek dari upaya ini setidaknya ialah
mengenalkan kepada seluruh manusia bahwa Islam telah lahir dan kemunculan
Muhammad sebagai Rasulullah yang terakhir menjadi bukti bahwa kedzaliman dan
ketidakadilan akan segera berakhir serta akan siap menggoyang kekuasaan tiran yang
selama ini berkuasa.

Buah kemenangan dakwah berikutnya ialah berhasilnya penguasaan Kota


Makkah yang sebelumnya menjadi basis perlawanan dakwah. Dengan ditaklukkannya
Makkah, maka secara de facto dan de jure, Rasulullah telah menguasai pusat Jazirah
Arab. Dan dari situlah kemudian dakwah ini menyebar untuk menebar dan menaburkan
rahmat bagi seluruh alam. Meskipun Rasulullah tak lama setelah itu wafat, tetapi
sejatinya perjuangan ini adalah nafas panjang. Memang benar setelah Muhammad tak
ada nabi lagi, tetapi generasi penerusnya: sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in adalah
generasi terbaik umat ini berkat hasil kaderisasi sang Nabi.

Dakwah Islam terus berlanjut hingga kini. Karena dakwah ini adalah kewajiban
kaum muslimin. Dan sesungguhnya hakikat dakwah adalah al ishlah (perbaikan)
menuju tataran dunia yang lebih baik. Dakwah ini mengajarkan kepada kita akan nilai-
nilai luhur yang tak bisa kita temui di jalan-jalan lain. Di jalan dakwah kita sedang
meniti jalur yang dulu para rasul dan sahabat lalui dengan penuh perjuangan. Dakwah
ini pula yang bercerita tentang kepemimpinan sejati. Siapa yang bisa menyangkal kalau
Muhammad adalah pemimpin besar sepanjang zaman dengan segala kapasitas dan
kapabilitas yang dimilikinya? Sejak kecil terlatih di lingkungan yang kondusif dan
sekaligus menantang. Saat belia sudah belajar menggembala kambing sebelum akhirnya
dipercaya dalam membimbing umat ke jalan yang benar. Nabi Muhammad adalah
manusia paling berpengaruh dalam pangung sejarah dunia. Posisinya kala memimpin
Madinah saat itu jauh dibandingkan Kaisar Persia atau Romawi, lebih handal sebagai
enterpreneur, jago bergulat, tangguh sebagai panglima militer, sebagai ayah yang baik,
menjadi pemimpin di segala bidang.