Anda di halaman 1dari 16

PROPOSAL PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

SOSIALISASI DAN PENDIDIKAN PEMILIH UNTUK


MENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM
MENENTUKAN HAK POLITIKNYA PADA PEMILIHAN
UMUM TAHUN 2019

Oleh :
Dr. Ahmad Hanfan, M.M.

ROGRAM STUDI MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
2018

1
LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN

1. Judul Penelitian : Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih Untuk Meningkatkan


Partisipasi Masyarakat dalam Menentukan Hak
Politiknya pada Pemilihan Umum Tahun 2019.
2. Bidang Ilmu Pengabdian : Manajemen
3. Ketua Pengabdi
a. Nama Lengkap : Dr. Ahmad Hanfan, M.M.
b. Jenis Kelamin : Laki - laki
c. NIPY : 1586871972
d. Disiplin Ilmu : Ekonomi Manajemen
e. Pangkat / Golongan : Penata Muda / III A
f. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli
g. Fakultas / Jurusan : Ekonomi / Manajemen
h. Alamat kantor : Jl. Halmahera Km. 1 Tegal
Telepon : ( 0283 ) 355720
i. Alamat rumah : Jl. Setia Budi No. 31 Brebes
Telepon, E-mail : 08156531394, ahmadhanfan@yahoo.com
4. Jumlah anggota : 9 mahasiswa
5. Lokasi Penelitian : Desa Pamengger, Kec. Jatibarang, Kab. Brebes
6. Keluaran yang diharapkan : Masyarakat yang sudah punya hak pilih, akan aktif
memberikan hak suaranya dengan cerdas, sehingga
terpilihnya anggota DPR, DPD, Presiden dan Wakil
Presiden serta anggota DPRD Provinsi / Kabupaten –
Kota yang amanah pada pemilu tahun 2019.
7. Waktu Pengabdian : Bulan Juli 2018 - Bulan September 2018
8. Biaya : Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah).

Tegal, 16 Juli 2018


Mengetahui, Ketua Tim Pengabdian,
Dekan,

Mahben Jalil, S.E., M.M. Dr. Ahmad Hanfan, M.M.


NIPY. 12351131972 NIPY. 1586871972

Menyetujui,
Ka. LPPM

Dr. Purwo Susongko, M., Pd.


NIP. 197404171998021001

2
Judul : SOSIALISASI DAN PENDIDIKAN PEMILIH UNTUK
MENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENENTUKAN
HAK POLITIKNYA PADA PEMILIHAN UMUM TAHUN 2019.

1. PENDAHULUAN
Undang – Undang No. 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum menyatakan

bahwa penyelenggara pemilu terdiri dari KPU (Komisi Pemilihan Umum), Bawaslu

(Badan Pengawas Pemilihan Umum) dan DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara

Pemilu). Dalam pelaksanaannya, penyelenggara pemilu baik KPU, KPU Provinsi, KPU

Kaupaten / Kota beserta jajarannya sampai KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan

Suara) maupun lembaga pengawas yaitu Bawaslu, Bawaslu Provinsi maupun Panwas

Pemilihan Kabupaten / Kota beserta jajarannya sampai ke tingkat PTPS (Pengawas

Tempat Pemungutan Suara) terikat oleh kode etik penyelenggara pemilu yang

penanganannya dilakukan oleh DKPP.


Dengan perangkat yang lengkap baik penyelenggara maupun pengawas pemilu

disertai kode etik yang mengikat keduanya, diharapkan pilkada serentak dapat terlaksana

dengan baik. Ada tiga indikator suksesnya pelaksanaan pemilu serentak yaitu Sukses 3

(tiga) P yaitu (Hanfan, 2017):

A. Sukses Penyelenggara
Sukses penyelenggara adalah bahwa penyelenggara pemilu yaitu KPU, KPU

Provinsi, Kpu Kabupaten / Kota sebagai penyelenggara pemilu dapat melaksanakan

tahapan pemilu secara tepat waktu sesuai jadwal yang sudah dibuat. Kemudian Bawaslu ,

Bawaslu Provinsi dan Bawaslu Pemilihan Kabupaten / Kota sebagai pengawas pemilu

dapat melaksanakan dan mengawasi tahapan pemilu secara efetif. Di atas sudah

disebutkan bahwa penyelenggara pemilu yaitu KPU, KPU Provinsi, Kpu Kabupaten /

Kota serta Bawaslu , Bawaslu Provinsi dan Bawaslu Pemilihan Kabupaten / Kota terikat

3
oleh suatu kode etik penyelenggara pemilu yang pelaksanaannya dilakukan oleh Dewan

Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Salah satu indikator suksesnya

penyelenggara pilkada adalah manakala tidak ada pelanggaran yang dilakukan

penyelenggara dan tidak adanya laporan yang dilakukan oleh stake holder pilkada

terhadap penyelenggara pilkada kepada DKPP. Penyelenggara pemilu hendaknya juga

menganut positivisme dalam melaksanakan pilkada, artinya penyelenggara pilkada harus

menganut pada aturan – aturan yang ada dan bebas dari kepentingan apapun, atau

profesionalitas dan integritas merupakan harga mati bagi penyelenggara pemilu.


B. Sukses Penyelenggaraan
Sukses penyelenggaraan adalah manakala penyelenggara pemilu dapat

melaksanakan semua tahapan pemilu dengan tertib dan tepat waktu sesuai jadwal

tahapan yang sudah dibuat. Penyelenggara pemilu yaitu KPU, KPU Provinsi, Kpu

Kabupaten / Kota membuat tahapan, program dan jadwal penyelenggaraan pemilu sesuai

dengan UU tentang Pemilu dan peraturan KPU dan dapat melaksanakan tahapan tersebut

dengan disiplin dan tepat waktu. Kemudian lembaga penyelenggara pemilu yang lain

yaitu Bawaslu , Bawaslu Provinsi dan Bawaslu Pabupaten / Kota yang mengawasi

tahapan pemilu, dapat mengawasi tahapan yang dibuat oleh KPU secara efektif.

Paradigma pengawasan yang dilakukan oleh Bawaslu , Bawaslu Provinsi dan Bawaslu

Kabupaten / Kota adalah pengawasan yang bersifat preventif progresif atau pencegahan

pelanggaran terhadap tahapan pemilu, baik yang dilakukan oleh penyelenggara maupun

peserta pemilu, tetapi dengan tetap melakukan penindakan manakala pelanggaran

terhadap tahapan pemilu terjadi. Sedikitnya pelanggaran yang dilakukan oleh

penyelenggara maupun peserta pemilu terhadap tahapan maupun aturan pemilu

merupakan salah satu indikator keberhasilan penyelenggaraan pemilu.


C. Sukses Hasil Penyelenggaraan

4
Sukses hasil penyelenggaraan adalah manakala pemimpin daerah yaitu anggota

DPR, DPD, Presiden dan Wakil Presiden serta anggota DPRD terpilih sebagai hasil

penyelenggaraan pemilu mempunyai legitimasi yang kuat dari pemilihnya. Biasanya

indikator kuatnya legitimasi keterpilihan anggota DPR, DPD, Presiden dan Wakil

Presiden serta anggota DPRD adalah tingkat partisipasi politik pemilih. Beberapa

penelitian empirik mengajukan hipotesis hubungan antara tingkat partisipasi politik

pemilih dengan kuatnya legitimasi yaitu semakin tinggi tingkat partisipasi politik

pemilih dalam memberikan hak suaranya, semakin tinggi pula legitimasi yang diberikan

pemilih terhadap anggota DPR, DPD, Presiden dan Wakil Presiden serta anggota DPRD

tersebut. Hasil dari beberapa penelitian membenarkan hipotesis tersebut. Dengan

legitimasi yang tinggi dari pemilih, tentunya anggota DPR, DPD, Presiden dan Wakil

Presiden serta anggota DPRD yang terpilih akan lebih percaya diri dalam

mengaplikasikan visi misi nya dalam memimpin guna kemajuan bangsa dan negara.

2. TINJAUAN PUSTAKA

Partisipasi politik merupakan salah satu aspek penting pada demokrasi.

Partisipasi politik adalah ciri khas dari politik yang modern. Adanya keputusan politik

yang dibuat dan dilaksanakan oleh pemerintah menyangkut dan mempengaruhi

kehidupan warga negara, oleh sebab itu warga negara berhak ikut serta dalam

menentukan isi keputusan politik tersebut. Prof. Ramlan Surbakti memberikan definisi

mengenai partisipasi politik sebagai bentuk keikutsertaan warga negara biasa dalam

menentukan segala keputusan yang menyangkut atau mempengaruhi hidupnya.

5
Partisipasi politik pemilih adalah salah satu aspek penting suatu demokrasi. Partisipasi

politik merupakan ciri khas dari modernisasi politik (Hanfan, 2017).


Adanya keputusan politik yang dibuat dan dilaksanakan oleh pemerintah

menyangkut dan mempengaruhi kehidupan warga negara, maka warga negara berhak ikut

serta menentukan isi keputusan politik. Kemudian Miriam Budiarjo menyatakan bahwa

partisipasi politik secara umum merupakan kegiatan seseorang atau sekelompok orang

untuk ikut secara aktif dalam kehidupan politik, yaitu dengan jalan memilih pemimpin

negara dan langsung atau tidak langsung mempengaruhi kebijakan publik (public policy).

Kegiatan ini mencakup tindakan seperti memberikan suara dalam pemilihan umum,

mengahadiri rapat umum, menjadi anggota suatu partai atau kelompok kepentingan,

mengadakan hubungan (contacting) dengan pejabat pemerintah atau anggota perlemen

dan sebagainya.
Para ahli, mengemukakan faktor – faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi

politik pemilih dalam pemilu, yaitu :

A. Pemilih
Pemilih pemilu adalah warga negara yang berusia 17 tahun ke atas atau sudah

kawin pada saat hari pemungutan dan penghitungan suara pilkada (PKPU No. 10 Tahun

2018). Pemilih mempunyai kekuatan sosial dan politik yang dapat menentukan haknya

dalam memberikan suaranya untuk ikut berpartisipasi terhadap keberhasilan atau

tidaknya pelaksanaan pilkada secara demokratis. Karena pada dasarnya partisipasi,

keberanian dan kesukarealaan pemilihlah yang bisa menentukan peta percaturan politik

pada pilkada. Setiap warga negara, apapun latar belakangnya seperti suku, agama, ras,

jenis kelamin, status sosial dan golongan memiliki hak yang sama untuk berserikat dan

berkumpul, menyatakan pendapat, menyikapi secara kritis kebijakan pemerintah dan

6
pejabat negara. Hak ini disebut hak politik yang secara luas dapat langsung diaplikasikan

secara kongkrit melalui pilkada.

Beberapa penjelasan yang disampaikan oleh para ahli dan penyelenggara pemilu

tentang tinggi rendahnya tingkat partisipasi pemilih pada pemilu adalah : Pertama yaitu

administratif, seorang pemilih tidak ikut memilih karena terbentur dengan prosedur

administrasi seperti tidak terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT) dan tidak

mendapatkan formulir model C6 (undangan untuk memilih). Oleh karena itu kemudahan

untuk mangakomodir pemilih masuk dalam DPT dan menerima undangan memilih akan

meningkatkan minat pemilih datang ke tempat pemungutan suara (TPS). Kedua adalah

masalah teknis, yaitu pemilih memutuskan tidak ikut memilih karena tidak ada waktu

untuk memilih seperti harus bekerja, sedang ada keperluan pribadi yang tidak bisa

ditinggalkan dan harus ke luar kota pada saat pemilu. Ketiga, rendahnya keterlibatan atau

ketertarikan pada politik, pemilih tidak memilih karena memang tidak merasa tertarik

dengan politik, acuh dan tidak memandang pilkada sebagai hal yang penting. Keempat

yaitu kalkulasi rasional, pemilih memutuskan untuk tidak menggunakan hak pilihnya

karena secara sadar memang memutuskan tidak memilih. Pemilu dipandang oleh pemilih

tidak ada manfaatnya dan tidak akan membawa perubahan berarti terhadap

kehidupannya, atau tidak ada calon yang disukai. Kelima adalah tingkat status sosial

ekonomi yang meliputi tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan pemilih. Semakin

tinggi status sosial ekonomi pemilih maka akan meningkatkan tingkat partisipasi pemilih,

karena bagi pemilih yang mempunyai status sosial tinggi lebih mengerti akan hak,

kewajiban dan tanggung jawabnya terutama dalam bidang politik.


Sifat pemilihan yang berlaku pada suatu negara juga berpengaruh terhadap tingkat

partisipasi pemilih. Bagi negara yang menganut paham bahwa pemilihan adalah

7
merupakan hak setiap warga negara, di mana warga negara dapat memilih atau tidak

memilih tanpa adanya sanksi / hukuman, maka biasanya tingkat partisipasi pemilih tidak

setinggi seperti pada negara yang memberlakukan pemilihan sebagai sebuah kewajiban

bagi warga negaranya. Sifat pemilihan dalam pemilu di Indonesia adalah merupakan hak

bagi pemilih dan bukan kewajiban dalam memberikan suaranya pada pemilu di

Indonesia. Dengan demikian pemilih mempunyai kebebasan dalam memberikan hak

suaranya, apakah mau memilih atau tidak memilih.


B. Penyelenggara Pemilu
Undang – Undang No. 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum menyatakan

bahwa KPU beserta jajarannya sebagai penyelenggara pemilu, sedangkan Bawaslu

beserta jajarannya sebagai pengawas pemilu. Dalam pelaksanaannya, baik peyelenggara

maupun pengawas terikat oleh kode etik penyelenggara pemilu yang penanganannya

dilakukan oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Tugas utama DKPP

adalah menangani pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh penyelenggara pilkada dan

berhak memberikan sanksi mulai dari teguran sampai pemecatan tidak dengan hormat

manakala penyelenggara pilkada terbukti melanggar kode etik selaku penyelenggara

pilkada. Manakala penyelenggara dapat melaksanakan pelaksanaan tahapan pemilu dan

mengawasi tahapan pemilu sesuai jadwal, maka pelaksanaan pemilu dikatakan berhasil
Untuk bisa memilih, umumnya pemilih harus terdaftar sebagai pemilih terlebih

dahulu dalam daftar pemilih tetap (DPT), walaupun bagi pemilih yang tidak terdaftar

dalam DPT pun sebenarnya tetrap masih bisa memberikan hak suaranya dengan memakai

Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP El) atau surat keterangan domisili dari Dinas

Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) setempat. Beberapa ahli, menyatakan

bahwa secara umum ada dua sistem pendaftaran pemilih, yaitu sistem aktif dan sistem

pasif. Sistem aktif adalah sistem pendaftaran pemilih dengan cara warga sendirilah yang

8
aktif mendatangi petugas pendaftaran untuk didaftar sebagai pemilih. Pemilih punya hak

untuk menolak didaftar sebagai pemilih jika tidak menginginkannya. Sedangkan sistem

pasif adalah sistem pendaftaran pemilih dengan cara petugas pendaftaran pemilih

mendaftarkan warga negara yang memenuhi syarat sebagai pemilih. Kemudahan dalam

pendaftaran pemilih dapat mempengaruhi minat seseorang untuk terlibat dalam

pemilihan. Sebaliknya, sistem pendaftaran pemilih yang rumit dan tidak teratur bisa

mengurangi minat orang dalam pemilihan. Untuk itu hendaknya penyelenggara pemilu

untuk mempermudah proses pendaftaran pemilih agar pemilih masuk dalam daftar

pemilih tetap.
C. Peserta Pemilu
Dalam UU No. 7 Tahun 2017 Tentang Pemilu disebutkan bahwa peserta pemilu

adalah partai politik untuk calon anggota DPR, DPR Presiden dan wakil Presiden dan

perseorangan untuk calon anggota DPD. Beberapa penelitian tentang hubungan antara

tingkat partisipasi politik pemilih dengan peserta pemilu baik dari perseorangan maupun

parpol menunjukkan hubungan yang positif, artinya manakala peserta pemilu adalah

sosok yang berintegritas, cerdas dan popular akan meningkatkan partisipasi pemilih.
Disamping itu, kepercayaan dan kepuasan pemilih terhadap calon dan parpol juga

berpengaruh terhadap tingkat partisipasi pemilih. Semakin tinggi kepercayaan dan

kepuasan pemilih terhadap calon dan parpol akan meningkatkan partisipasi politik

pemilih pemilu. Kemudian persepsi pemilih terhadap calon dan parpol juga berpengaruh

terhadap tingkat partisipasi pemilih. Semakin tinggi persepsi positif pemilih terhadap

calon dan parpol akan meningkatkan partisipasi politik pemilih pilkada. Oleh karena itu,

hendaknya calon baik dari perseorangan maupun parpol perlu terus meningkatkan

integritas, kepercayaan dan popularitasnya kepada pemilih.

9
Untuk meningkatkan partisipasi politik pemilih, maka seluruh stake holder baik

pemilih, penyelenggara maupun peserta pemilu wajib meningkatkan partisipasi

masyarakat. Pada Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) No. 10 Tahun 2018

Tentang Sosialisasi, Pendidikan Pemilih dan Partisipasi Masyarakat dalam Pemilihan

Umum, yang dimaksud dengan partisipasi masyarakat adalah keterlibatan perorangan

dan/atau kelompok masyarakat dalam penyelenggaraan pemilihan. Untuk menaikkan

partispasi masyarakat, stake holder dapat melaksanakan soialisasi dan pendidikan

pemilih. Sosialisasi adalah proses penyampaian informasi tentang tahapan dan program

penyelenggaraan pemilihan, sedangkan pendidikan pemilih adalah proses penyampaian

informasi kepada pemilih untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan kesadaran

pemilih tentang pemilihan. Dengan meningkatnya partisipasi masyarakat, diharapkan

tingkat partisipasi politik pemilih juga naik.

3. PERUMUSAN MASALAH
Selama ini pada pelaksanaan pemilihan di Jawa Tengah, baik Pemilihan Gubernur

dan Wakil Gubernur, maupun pada pelaksanaan pemilihan Bupati dan Wakil Bupati

dan/atau Walikota dan Wakil Walikota, partisipasi politik pemilih selalu di bawah target

yang ditetapkan KPU RI yaitu 77,5 %. Pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur

Jawa Tengah tahun 2008, tingkat partisipasi politik 55,03 % (Antara Jateng, 2013).

Sedangkan Pada Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah tahun 2013

tingkat partisipasi politik 54 % (Metrotvnews.com, 2018).


Demikian juga pada pilkada serentak yang kedua tahun 2017 di Jateng diikuti

oleh 7 (tujuh) kabupaten/kota yaitu Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Batang,

Kabupeten Brebes, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Jepara, Kabupaten Pati dan Kota

10
Salatiga. Rerata tingkat partisipasi politik pemilih pada pilkada 2017 adalah 66,22%,

dengan rincian masing – masing tingkat partisipasi politik pemilih di Kabupaten

Banjarnegara (70,12%), Kabupaten Batang (74,86%), Kabupaten Brebes (55,05%),

Kabupaten Cilacap (63,94%), Kabupaten Jepara (74,53%), Kabupaten Pati (68,90%) dan

Kota Salatiga (83,35%). Dari nilai rerata tingkat partisipasi politik pemilih di atas, maka

tingkat partisipasi politik pemilih masih di bawah target KPU RI yang menargetkan

tingkat partisipasi politik pemilih pada angka 77,5% (Hanfan, 2017).

4. TUJUAN KEGIATAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Tujuan dari kegiatan pengabdian pada masyarakat ini antara lain adalah :

1. Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang jadwal

dan program tahapan, partisipasi politik pemilih dan partisipasi masyarakat pada

pemilu tahun 2019.

2. Memberikan sosialisasi dan pendidikan pemilih tentang

jadwal dan program tahapan, partisipasi politik pemilih dan partisipasi masyarakat

pada pemilu tahun 2019.

5. MANFAAT KEGIATAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Manfaat dari kegiatan pengabdian pada masyarakat ini antara lain adalah :

11
1. Bagi Pemilih

Pemilih akan mempunyai pemahaman tentang jadwal dan program tahapan ,

partisipasi politik pemilih dan partisipasi masyarakat pada pemilu tahun 2019.

2. Bagi Tim Pengabdian Pada Masyarakat

Kegiatan pengabdian ini merupakan wujud nyata salah satu kegiatan Tridharma

Perguruan Tinggi, yaitu Pengabdian Kepada Masyarakat.

6. SASARAN KEGIATAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Sasaran dalam kegiatan pengabdian pada masyarakat ini adalah para pemilih,

Pemilih adalah penduduk yang berusia paling rendah 17 (tujuh belas) tahun atau

sudah/pernah kawin pada tanggal 17 April 2019, yaitu pada saat dilakukan pemungutan

suara (PKPU No.5 Tahun 2018).

7. METODE KEGIATAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Tahap pertama, diawali dengan pemaparan materi tentang jadwal dan program

tahapan, partisipasi politik pemilih dan partisipasi masyarakat pada pemilu tahun 2019.

Setelah pemaparan, dilanjutkan dengan pendalaman materi dalam bentuk diskusi. Peserta

yang belum paham dapat bertanya dan berkonsultasi. Mereka dipersilakan bertanya dan

berkonsultasi tentang permasalahan yang ada pada materi sosialisasi dan pendidikan

pemilih.

Tahap selanjutnya, dilakukan evaluasi atas kegiatan sosialisasi dan pendidikan

pemilih ini dengan cara meminta kepada peserta untuk mengerjakan soal yang diberikan

12
tim pengabdian pada masyarakat. Hasil tes ini akan menjelaskan seberapa baik

pemahaman yang dimiliki pemilih tentang jadwal dan program tahapan, partisipasi

politik pemilih dan partisipasi masyarakat pada pemilu tahun 2019.

8. RANCANGAN EVALUASI

Evaluasi dalam pengabdian pada masyarakat ini dirancang dengan indikator

sebagai berikut :

a. Kehadiran dan partisipasi aktif peserta pelatihan dalam tahap pemaparan materi yang

diberikan tim pengabdian pada masyarakat.

b. Kemampuan peserta pelatihan menjawab soal tes di tahap akhir kegiatan sosialisasi

dan pendidikan pemilih ini.

9. JADWAL PELAKSANAAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Rencana kerja yang akan dilakukan dalam kegiatan pengabdian pada masyarakat

ini dimulai dengan studi pendahuluan. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan yang

digambarkan dalam barchart sebagai berikut :

No. KEGIATAN Bulan Pertama Bulan Kedua Bulan Ketiga


I II III IV I II III IV I II III IV

1. Persiapan
2. Pemaparan dan
sosialisasi materi
3. Evaluasi
4. Pelaporan hasil pengabdian

13
pada masyarakat

10. RENCANA BIAYA

Biaya pengabdian kepada masyarakat ini diusulkan dari Lembaga Pengabdian

Pada Masyarakat Universitas Pancasakti Tegal. Adapun rencana alokasi biaya tersebut

sebagai berikut :

No. Jenis Pengeluaran Volume Biaya Jumlah


Persatuan ( Rp. )
( Rp. )
1. Biaya Operasional :
a. Komunikasi 3 paket 50.000 150.000
b. Konsumsi 25 x 2 kegiatan 10.000 500.000
c. Honor penyaji 1 orang 300.000 300.000
d. Penggandaan makalah 30 orang x 10 150 45.000
e. Dokumentasi hal. 172.500 172.500
1 paket
2. Bahan dan Peralatan
a. Kertas HVS 2 rim 35.000 70.000
b. Alat – alat tulis 5 buah 5.000 25.000
c. Flash disk 1 buah 50.000 50.000
d. Tinta dan printer cartridge 1 kotak 335.000 335.000
e. Referensi makalah 5 buku 70.000 350.000
3. Transportasi
a. Pengurusan waktu acara 2 orang 50.000 100.000
b. Perjalanan ke tempat tujuan 3 orang x 1 sesi 100.000 300.000
c. Peserta pelatihan 17 orang 25.000 425.000
4. Laporan Pengabdian
a. Pembuatan laporan 25 hal. 5.000 125.000
b. Penggandaan laporan 6 eks. x 25 hal. 150 22.500
c. Penjilidan laporan 6 eks. 5.000 30.000

Jumlah : 3.000.000

11. PERSONALIA PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

a. Ketua Pengabdian Pada Masyarakat

Nama Lengkap : Dr. Ahmad Hanfan, M.M.

14
NIPY / Pangkat / Golongan : 1586871972 / Penata Muda / III A.

Bidang Keahlian : Ekonomi / Manajemen.

Jabatan Fungsional : Asisten Ahli.

Fakultas / Program Studi : Ekonomi / Manajemen.

Kedudukan dalam Tim : Ketua.

b. Anggota Pengabdian Pada Masyarakat

1…….

2….

3……

4. dst….

DAFTAR PUSTAKA

Antara Jateng, 2013, Partisipasi Pilgub Jateng Meningkat 0,7 Persen, Selasa, 4 Juni
2013.
Hanfan, Ahmad, 2017, SUKSES PILKADA SERENTAK, Harian Radar Tegal tanggal
15 Februari 2017.

Hanfan, Ahmad, 2017, MENYELISIK PARTISIPASI (POLITIK) PEMILIH PADA


PILKADA 2017 DI JATENG, Harian Radar Tegal tanggal 6 Maret 2017.

Metrotvnews.com, 2018, KPU Optimistis Pemilih di Jateng Capai 77,5 Persen, Rabu,
21 Februari.

Peraturan KPU No. 5 Tahun 2018 Tentang Perubahan PKPU No. 7


Tahun 2017 Tentang Tahapan, Program dan Jadwal
Penyelenggaraan Pemilihan Umum Tahun 2019.
Peraturan PKPU No. 10 Tahun 2018 Tentang Sosialisasi, Pendidikan Pemilih dan
Partisipasi Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pemilu.
Undang – Undang No. 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum.

15
16