Anda di halaman 1dari 7

7.

Jaring Sama-Luas

7.1. Pendahuluan

Pada proyeksi stereografi dengan menggunakan jaring Wulf, terlihat bahwa


distribusi bidang ataupun garis tidak merata pada keseluruhan luas jaring.
Bidang-bidang atau garis-garis dengan kecondongan kecil akan tersebar lebih
renggang dibagian tepi lingkaran, sedangkan yang mempunyai kecondongan
besar akan tersebar lebih rapat pada bagian pusat jaring. Hal ini disebabkan
karena pembuatan jaring tersebut didasarkan pada sudut yang sama yang ditarik
dari Zenith, sehingga pada bidang equator tidak merata.

Didalam analisa struktur lebih lanjut, ketidak-teraturan ini, disamping kesalahan


pengukuran, akan memperbesar penyebaran yang tidak merata dari proyeksi
unsur-unsur struktur tersebut, terutama apabila data pengukuran yang diambil
tidak banyak. Selain itu, apabila data yang diolah dan dievaluasi, distribusi titik
yang menyebar akan menyulitkan. Untuk ini, diperlukan pengolahan secara
statistik, atau dibuat diagram konturnya (>> dibahas pada bab Analisa struktur),
untuk mendapatkan hasil yang sesuai.

Untuk kepentingan ini diperlukan jaring stereografi yang dibuat berdasarkan


proyeksi sama luas yang disebut sebagai Proyeksi Sama-luas (Lambert).

7.2. Prinsip Proyeksi Sama-luas (Equal-area projection)

Dasar geometri dari proyeksi ini ditunjukkan pada gambar 7.1. Suatu bidang
diametral vertikal dibatasi dalam kerangka permukaan bola dengan jari-jari R.
Garis ZO’ adalah diameter vertikal, dan OP adalah garis miring pada bidang
diametral. Titik P’ adalah proyeksi dari P pada bidang proyeksi. Jarak d dari
lengkung pusat proyeksi O’ ke P’ adalah :
d = O’P’ = O’P’ = 2R sin (φ/2) *)
dimana p adalah kecondongan garis, dan φ = 900 - p. Dengan cara yang sama,
jari-jari dari lengkung proyeksi adalah :
r = 2R sin (900/2) = 2R/√2
Besaran jari-jari ini dan jari-jari lingkaran kerangka dibuat sama dengan
memisalkan d - 2R, bilamana p = 00. Ini diselesaikan dengan membagi
persamaan *) dengan 2/√2, didapatkan :
d = R√2 sin (φ/2)
Dengan hasil ini, suatu seri lengkungan dapat digambarkan, yang identik
lingkaran besar dan lingkaran kecil pada jaring Wulf. Hasilnya merupakan jaring
sama-luas atau Jaring Schmidt.

Cara untuk menggambarkan dan menggunakan data pada jaring ini identik
dengan cara yang dipakai pada jaring Wulf. Perbedaannya adalah, lingkaran
besar dan kecil pada Schmidt tidak diproyeksikan sebagai garis lengkung busur.
Praktikum Geologi Struktur 56

Gambar 7.1 :Proyeksi sama-luas Lambert


a) metoda proyeksi
b) jaring sama-luas atau Schmidt Net

7.3 Kutub suatu bidang

Pada setiap bidang, terdapat suatu garis normal (garis tegak lurus) pada bidang,
yang disebut sebagai kutub dari bidang tersebut. Didalam proyeksi stereografi,
57
Jaring Sama-Luas

suatu bidang dapat direpresentasikan sebagai titik, yang merupakan proyeksi


dari kutub nya. Pada dasarnya garis ini adalah garis yang tegak lurus pada suatu
bidang, atau mempunyai sudut 90 terhadap bidangnya (gambar 7.2).

Gambar 7.2 Proyeksi stereografi bidang dan kutubnya dengan jaring Wulf
a) gambaran perspektif
b) posisi stereogram dan kutubnya pada jaring
c) gambaran hasil proyeksi

Untuk mendapatkan kutub dari suatu bidang, cukup dengan menggambarkan


titik proyeksi pada jaring sebesar 900 dari kemiringan bidangnya. Demikian pula
sebaliknya, stereogram bidang dapat digambarkan dari proyeksi titik kutubnya.

Perlu diketahui bahwa untuk penggunaan umum, proyeksi bidang atau kutub
dari suatu bidang dapat digunakan kedua jaring, baik Wulf ataupun Schmidt.
Akan tetapi untuk kepentingan analisa struktur lebih lanjut, akan lebih baik
digunakan jaring Schmidt mengingat distribusinya yang lebih merata pada
keseluruhan luas permukaan jaring.

Untuk menggambarkan kutub suatu bidang pada jaring stereografi secara langsung,
perlu diperhatikan arah jurusnya apakah N-E atau NW. Secara praktis, untuk arah
N-E, kertas transparan diputar sebesar jurus berlawanan arah jarum jam, sebaliknya
untuk arah N-W, kertas transparan diputar sebesar jurus searah jarum
Praktikum Geologi Struktur 58

jam. Untuk menentukan kemiringannya, kembalikan dengan cara penggambaran


stereogramnya, dihitung pada sisi berlawanan dengan arah kemiringannya,
yaitu ; pada sisi E bila arah kemiringannya NW, SW, W dan S, pada sisi W bila
arah kemiringannya NE, SE, E dan S. Besaran kemiringannya diukur dengan 00
pada saat pusat jaring dan 900 dipinggir jaring.
Catatan :
Hal yang agak menyulitkan dan perlu diperhatikan didalam pengeplotan letak
kemiringannya, baik stereogram ataupun kutubnya, bahwa dengan pemakaian
kompas berskala 00-3600, harga jurus dapat mencapai antara 900-2700 yang
sebenarnya sudah berada pada arah NW atau NE. Dalam hal ini, walaupun
penentuan arah tetap disesuaikan dengan N-E, akan tetapi ketentuan untuk
menetapkan kemiringan menjadi terbalik, misalnya bidang dengan kedudukan
N160E/30SW, setelah arah N nya diputar berlawanan jarum jam sebesar 160,
stereogramnya akan diperhitungkan pada sisi E, dan kutubnya akan
diperhitungkan pada sisi W dari jaring, demikian pula bidang N220E/30SE,
stereogramnya akan diperhitungkan pada sisi W, dan kutubnya akan
diperhitungkan pada sisi E.

Beberapa contoh cara pengeplotan ditunjukkan pada gambar 7.3.

Bidang N750W/300SW
1. Putar transparan searah jarum
jam sebesar jurus
2. Plot kemiringan 300 pada sisi E
3. Kembalikan pada posisi semula

Garis 300, S 500E


1. Putar transparan searah jarum
jam sebesar jurus
2. Plot kemiringan 300

Gambar 7.3. Cara mem-plot kutub suatu bidang secara langsung pada jaring Schmidt
59
Jaring Sama-Luas

7.4 Beberapa contoh penyelesaian geometri struktur dengan proyeksi kutub

-Menentukan kedudukan perpotongan dua buah bidang

Suatu bidang ABC mempunyai kedudukan N600E/400SE berpotongan dengan


bidang DFG, kedudukan N450W/500SW.
1. Gambarkan kutub dari kedua bidang tersebut
2. Putarlah transparan sehingga kedua kutub berada pada satu lingkaran besar
3. Kedudukan garis didapat dengan membuat garis tegak lurus (mengukur 90) terhadap
lengkungan besar tersebut.
4. Baca kedudukan garis setelah dikembalikan pada posisi semula, didapat 38 0, S60E.

N
D

F
O
W E
B

S
A
N W

L
M
L
W E S
N
90º

S E

B C

Gambar 7.4 a) Gambar stereogram dari bidang-bidang yang berpotongan


b) Gambar kutub dari kedua bidang
c) Penentuan kedudukan garis perpotongan kedua bidang

- Menentukan sudut antara dua bidang

Dua bidang N500E/450NW (I) dan N800W/100SW (H). Besar sudut antara
kedua bidang diukur dengan meletakkan kedua proyeksi kutub bidang tersebut
pada satu garis lingkaran besar yang sama (gambar 7.5).
Praktikum Geologi Struktur 60

N
N
W
A
H

H
D
59º
W E

I E
F
I

C S

S
A B

Gambar 7.5 a) Gambar stereogram dan kutub dari kedua bidang


b) Penentuan besaran sudut antara dua bidang

- Menentukan sudut antara garis dan bidang

Sudut tersebut dibentuk oleh garis dan proyeksi ortografi garis tersebut pada
bidang. Pada gambar 7.6. Suatu bidang dengan kedudukan N900E/450S (BCD/P)
dan garis dengan kedudukan 450, N470E (OA/A). Proyeksi garis tersebut pada
bidang BCD adalah perpotongan bidang yang memuat P dan A dengan bidang BCD
tersebut, yaitu garis ON. Sudut yang didapat adalah 560 (NA).

N W F

B
A
P
A
N
P
B O C O
W E
D
S
F A

S Q N E
A B

Gambar 7.6 a) Gambar stereogram bidang dan kedudukan garis OA


b) Penentuan besaran sudut antara bidang dan garis
61
Jaring Sama-Luas

- Menentukan garis bagi sudut antara dua garis

Gambar 7.7 menunjukkan dua buah garis, OA, 200, N800E dan OB, 600, N450W.
Setelah dua kutub tersebut diletakkan pada satu lengkungan besar, didapat dua
garis yaitu C, garis bagi sudut lancip dan D, garis bagi sudut tumpul.

Gambar 7.7 a) Gambar kutub kedudukan garis OA dan OB


b) Penentuan garis bagi sudut antara dua garis

- Menentukan bidang bagi sudut antara dua bidang

Pada gambar 7.8 dua bidang N170E/65SW (ABC/F) dan N90E/40N (DBE/H).
OB adalah garis perpotongannya. F dan H diletakkan pada satu lingkaran besar
yang sama dan N adalah garis bagi kedua bidang tersebut. Bidang bagi adalah
bidang yang melalui garis potong dan garis bagi.

Gambar 7.8 a) Gambar stereogram dan kutub dari kedua bidang


b) Penentuan garis bagi sudut antara dua garis
c) Pembuatan bidang bagi pada satu lingkaran besar