Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN HASIL DISKUSI TUTORIAL BLOK 8 SISTEM STOMATOGNASI

MODUL 5

KELOMPOK 5
ANGGOTA KELOMPOK:
TUTOR : Drg. Ridha Syahri
VELYA APRO 1611411004
DINDA WIGATY RAHAJENG 1611411010
FIKA MELINDA PUTRI 1611411016
IZZAH DHIYAUL AUNI 1611411018
SARAH NABILA WIGUNA 1611411004
NAZIFA KHAIRUNNISA 1611412006
RAYHAN AGNA DANEO 1611412015
ALMIRA ULFA HARDA 1611413005
NAUFAL DELIHEFIAN 1611413009
RIKA IRMA YANTI 1611413011
ISWARA SARDI 1611413015

PENDIDIKAN DOKTER GIGI-FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2017
MODUL 5
CAIRAN RONGGA MULUT
Skenario 5

Air ludahnya melimpah..?


Yoda (20 tahun ) seorang mahasiswa kesehatan, datang ke prakter Drg. Umar, dengan
keluhan merasa terganggu di rongga mulutnya karena kondisi air liurnya yang berlebihan.
Yoda bingung darimana asalnya air liur berlebihan dan merasa tidak normal.
Drg. Umar menjelaskan pada Yoda tentang cairan dalam rongga mulut yang dikenal
dengan saliva. Dokter menunjukkan gambar anatomi Glandula Saliva, yang ternyata
mempunya jenis yang berbeda-beda. Drg. Umar menerangkan bahwa setiap ada rangsanga
pada rongga mulut selalu akan mengaktifkan kelenjar saliva dan mengeluarkan sekresi
berupa cairan saliva. Kondisi tersebut dapat dirasakan apabila ada benda asing yang masuk ke
dalam mulut. Yoda bertanya-tanya bagaimana mekanisme tersebut dapat terjadi, dan
mengapa saat mengunyah makanan dengan bantuan saliva lama kelamaan makanan tersebut
akan terasa manis ? apakah dalam saliva terdapat berbagai macam zat atau unsur kimia ? apa
ada juga unsur bakteri dalam saliva ? tapi bila ada kenapa tidak menyebabkan kita sakit ?
apakah ada yang mempengaruhi timbulnya air liur ?
Bagaimana saudara menjelaskan cairan rongga mulut yang dikeluhkan Yoda ?
Langkah 1. Mengklarifikasi terminologi yang tidak diketahui dan mendefinisikan
hal-hal yang dapat menimbulkan kesalahan interpretasi

 Saliva : suatu cairan kompleks, tidak berwarna. Campuran sekresi kelenjar saliva
mayor dan minor yang ada pada oral sekresi lender.
 Glandula salivarius : kelenjar yang menghasilkan saliva

Langkah 2. Menentukan Masalah

1. Apa saja anatomi dan fisiologi dari glandula salivarius ?


2. Apa saja histologi dari glandula salivarius ?
3. Apa saja kandungan dan komposisi saliva ?
4. Apa saja fungsi saliva ?
5. Bagaiman mekanisme pembentukan saliva ?
6. Apa saja fakto yang menyebabkan timbulnya saliva ?
7. Bagaiman saliva yang normal ?
8. Apa saja kelainan saliva ?
9. Mengapa air liur Yoda berlebihan ? Bagaiman cara mengatasinya ? dan Apa
dampaknya ?
10. Apa yang menyebabkan dengan makan dan dibantu oleh saliva makanan lama-
kelamaan terasa manis ?
11. Apa ada bakteri dalam saliva ? jika ada kenapa tidak menyebabkan sakit ?
Langkah 3. Menganalisa masalah

1. Anatomi dan fisiologi dari glandula salivarius


 Glandula saliva mayor
o Kelenjar parotis
Kelenjar parotis merupakan kelenjar ludah terbesar yang terletak di anterior
dari aurikel telinga dimana posisinya antara kulit dan otot masseter. Duktus kelenjar
ini bermuara pada vestibulus oris pada lipatan antara mukosa pipi. Kelenjar ini
dibungkus oleh jaringan ikat padat dan mengandung sejumlah besar enzim antara lain
amilase lisozim, fosfatase asam, aldolase, dan kolinesterase. Saluran keluar utama
disebut duktus stenon (stenson) terdiri dari epitel berlapis semu.
o Kelenjar submandibularis

Kelenjar submandibularis merupakan kelenjar yang memproduksi air liur


terbanyak .Kelenjar submandibularis mempunyai saluran keluar (duktus ekskretoris) yaitu
duktus Whartoni yang bermuara pada dasar rongga mulut pada frenulum lidah, dibelakang
gigi seri bawah. Seperti juga kelenjar parotis, kelenjar ini terdiri dari jaringan ikat yang padat.

o Kelenjar sublingualis
Kelenjar sublingualis mempunyai banyak duktus yang menyalurkan ke dalam
rongga mulut. Duktus kelenjar ini disebut duktus Rivinus. Duktus ini terletak
berdekatan dengan papilla dari duktus kelenjar submandibular.

 Glandula salivarius minor


Kebanyakan kelenjar saliva minor merupakan kelenjar kecil-kecil yang
terletak di dalam mukosa atau submukosa. Kelenjar minor hanya menyumbangkan
5% dari pengeluaran ludah dalam 24 jam. Kelenjar-kelenjar ini diberi nama
berdasarkan lokasinya atau nama pakar yang menemukannya.Kelenjar labial
(glandula labialis) terdapat pada bibir atas dan bibir bawah dengan asinus-asinus
seromukus. Kelenjar bukal (glandula bukalis) terdapat pada mukosa pipi, dengan
asinus-asinus seromukus. Kelenjar Bladin-Nuhn (Glandula lingualis anterior)
terletak pada bagian bawah ujung lidah. Kelenjar Von Ebner (Gustatory Gland =
albuminous gland) dan Kelenjar Weber terletak pada pangkal lidah. Kelenjar Von
Ebner dan Weber disebut juga glandula lingualis posterior.
 Kelenjar ludah disarafi oleh saraf simpatis dan parasimpatis (N VII)
- Saraf parasimpatis = merangsang keluarnya saliva
- Saraf simpatis = merangsang reseptor α dan β

Fisiologi :
 Menghaluskan makanan
 Membentuk bolus.
 Sebagai antibakterial.
 Mempunyai sistem buffer.
 Self cleansing.
 Berperan dalam fungsi pengecapan.
 Membantu proses berbicara.

2. Histologi dari glandula salivarius


Setiap kelenjar terdiri dari :
1. Parenkim, yaitu bagian kelenjar yang terdiri dari asinus-asinus dan duktus-duktus
bercabang.
2. Stroma / jaringan ikat interstisial yang merupakan jaringan antara asinus dan
duktus tersebut.

Kelenjar saliva mayor terdiri dari beberapa jens yaitu :


1. Unit sekretori Terdiri dari : sel-sel asinar , duktus interkalaris , duktus striata , dan
main excretory ducts.
2. Unit non sekretori, terdiri dari myoepitel sel dan sel saraf.
Menurut sekretnya , asinus dapat dibedakan menjadi asinus serus, mukus, dan
tercampur:
 Asinus serus
 Asinus mucus
 Asinus campuran

Duktus

 Duktus interkalaris (Duktus Boll)


 Duktus sekretorius (Pfluger)
 Duktus Interlobularis

Sel Myoepitel
Terdapat dalam asinar Fungsinya untuk mengatur pergerakan saliva dari asinar
kesistem duktus dengan cara kontraksi asinar

3. Kandungan dan komposisi saliva


Saliva terdiri atas 99,5% air dan 0,5% substansi lainnya.Komposisi saliva terdiri dari
komponen organik dan anorganik.
-Komponen organik
Komponen organik yang terkandung di dalam saliva seperti urea, uric acid,
glukosa, asam amino, asam laktat dan asam lemak. Makromolekul yang juga
ditemukan di dalam saliva seperti protein, amilase,peroksidase, thiocyanate, lisozym,
lemak, IgA, IgM, dan IgG.
-Komponen anorganik
Komponen anorganik yang penting yang ditemukan di dalam saliva yaitu ion-
ion seperti Ca, Mg, F, HCO3, K, Na, Cl, NH4. Gas yang terdapat dalam saliva seperti
CO2, N2, dan O2. Air dan substansi lain yang terkandung di dalam saliva seperti sel
epitel yang deskuamasi, polymorphonuclear leukosit dari cairan krevikular, dan
bakteri.

4. Fungsi saliva
 Menghaluskan makanan
 Membentuk bolus.
 Sebagai antibakterial.
 Mempunyai sistem buffer.
 Self cleansing.
 Berperan dalam fungsi pengecapan.
 Membantu proses berbicara.
 Berpartisipasi dalam proses pembekuan dan penyembuhan luka karena terdapat faktor
pembekuan darah dan epidermal growth factor pada saliva
 Jumlah sekresi air ludah dapat dipakai sebagai ukuran tentang keseimbangan air
dalam tubuh.
 Membantu dalam berbicara (pelumasan pada pipi dan lidah)

5. Mekanisme pembentukan saliva


Fase asinus : terjadi sintesa dan produksi saliva dalam kelenjar saliva.
Fase duktus : terjadi transpor aktif dari ion-ion.

6. Fakto yang menyebabkan timbulnya saliva


 Faktor mekanis,contohnya mengunyah makanan keras.
 Faktor kimiawi,melalui rangsangan rasa.
 Faktor neuronal dengan adanya kontrol dari saraf otonom.
 Faktor psikis,contohnya stress dapat menghambat sekresi saliva.
 Rangsangan rasa sakit contohnya gingivitis
 Pertambahan umur mengakibatkan sel-sel kelenjar menjadi atropi.
 Pemakaian obat-obatan.
 Jenis kelamin
 Jenis makanan
 Penyakit xerostamia.

7. Saliva yang normal


Pembentukan kelenjar ludah dimulai pada awal kehidupan fetus (4 – 12 minggu) sebagai
invaginasi epitel mulut yang akan berdiferensiasi ke dalam duktus dan jaringan asinar. Saliva
terdapat sebagai lapisan setebal 0,1-0,01 mm yang melapisi seluruh jaringan rongga mulut.
Pengeluaran air ludah pada orang dewasa berkisar antara 0,3-0,4 ml/menit sedangkan apabila
distimulasi, banyaknya air ludah normal adalah 1-2 ml/menit. Menurunnya pH air ludah
(kapasitas dapar / asam) dan jumlah air ludah yang kurang menunjukkan adanya resiko
terjadinya karies yang tinggi. Dan meningkatnya pH air ludah (basa) akan mengakibatkan
pembentukan karang gigi.

8. Kelainan saliva

- Serostomia
Adalah kekeringan mulut karena adanya gangguan fungsi kelenjar saliva
- Sialorrhea (Hipersalivasi)
Adalah suatu keadaan terjadinya sekresi saliva yang berlebihan. Sialorrhea bukanlah
suatu penyakit, tetapi suatu symptom dari banyak kelainan yang berhubungan dengan
kelenjar-kelenjar saliva, baik dalam keadaan lokal maupun sistemik
- Sialadenitis
Peradangan kelenjar saliva krn infeksi dan non infeksi
- Sialolith : “batu” atau kalkulus yg menyumbat dan mengiritasi kel saliva akibat
pengendapan garam-garam kalsium di sekitar duktus kel.saliva. penyumbatan yang
terjadi bisa sebagian atau total. Materi penyumbat dapat sebagai hasil dari predisposisi
dan pengendapan materi yang terkalsifikasi, batu penyumbat tersebut dapat dipalpasi
atau dirontgen.
- Sialosis (Sialadenosis)
Pembesaran kel.saliva bukan karena inflamasi
- Tumor dari Glandula Saliva
- Malignant tumor
9. Air liur Yoda berlebihan karena makanan-makanan keras.
Cara mengatasinya
- Menghilangkan penyebab
- Mebggunakan obat kumur
- Antihistamin
- Memperhatikan oral hygiene
- Kontro ke dokter
Dampaknya
- Gigi berlubang
- Sariawan
- Racun
- Gigi palsu
10. Yang menyebabkan dengan makan dan dibantu oleh saliva makanan lama-kelamaan
terasa manis adalah Ransangan makanan dalam rongga mulut dapat mengaktifkan
saliva karena pada saat itu impuls dibawa ke pusat saliva di medula oblongata
melalui saraf otonom ekstrinsik ke glandula salivarius untuk mensekresikan saliva.
Dan karena di dalam saliva terdapat enzim amilase yang mengubah makanan
(polisakarida) menjadi glukosa (monosakarida).
11. Bakteri dalam saliva
• Streptococcus sp.
• Peptostreptococcus sp.
• Veillonella sp.
• Enterococcus
• Corynebacterium sp.
• Neisseria sp.
• Fusobacterium sp.
• Bacteroides sp.
• Lactobacillus sp.
• Actinomyces sp.
• Spirochaeta sp.
• Basil Gram +
Tidak menyebabkan sakit karena Di dalam komposisi saliva tidak ada unsur
bakteri namun bakteri itu terdapat di dalam rongga mulut dan bercampur dengan
saliva. Bakteri itu tidak menyebabkan sakit karena dalam saliva terdapat antibakterial.
Langkah 4. Membuat skema atau diagram dari komponen-komponen permasalahan

Yoda (20 th)

Drg. Umar
Air liur berlebih

Glandula saliva Anatomi, histologi


dan patologi

Saliva

Fungsi Komposisi Factor Mekanisme Saliva normal


sekresi sekresi dan abnormal

Langkah 5. Memformulasikan tujuan pembelajaran

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan anatomi, histologi dan patologi


glandula saliva
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan fungsi dan komposisi saliva (
mikroflora, biokimia, dan system imun)
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan factor dan mekanisme sekresi saliva

Langkah 6. Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet, dan lain lain

1. Anatomi glandula saliva


Berdasarkan ukurannya kelenjar saliva terdiri atas 2 jenis:

a. Kelenjar saliva mayor


Kelenjar saliva mayor terdiri dari:
1) Kelenjar parotis
Kelenjar ini merupakan kelenjar terbesar yang terletak secara bilateral
didepan telinga antara ramus mandibula dan prosesus mastoideus dengan
bagian yang meluas ke muka di bawah lengkung zigomatik. Kelenjar
parotis terbungkus dalam selubung parotis berupa jaringan ikat padat.
Saluran kelenjar parotis melintas horizontal dari tepi anterior otot
masseter, saluran parotis berbelok kearah medial, menembus otot
buccinator, dan memasuki rongga mulut di vestibulum dekat gigi molar
kedua atas. Saluran utama kelenjar ini disebut duktus stenon (stenson)
yang terdiri dari sel epitel berlapis semu.
Kelenjar ini menyekresikan serous namun pada anak-anak masih
mengandung mucus.
2) Kelenjar submandibularis
Kelenjar ini merupakan kelenjar saliva terbesar kedua yang terletak pada
dasar mulut di bawah korpus mandibula. Kelenjar ini berbentuk oval.
Saluran kelenjar submandibularis bermuara melalui satu sampai tiga
lubang yang terdapat pada satu papil kecil di samping frenulum lingualis.
Muara ini dapat terlihat terutama saat sekresi saliva.
Kelenjar ini merupakan kelenjar dengan sekresi saliva paling banyak.
Kelenjar ini memiliki saluran keluar yang disebut dengan duktus whartoni
yang bermuara pada dasar rongga mulut pada frenulum lingualis.
Kelenjar ini bersifat campuran dan yang paling dominan bersifat serosa.

3) Kelenjar sublingualis
Kelenjar ini merupakan kelenjar saliva yang terkecil dan terdalam.
Masing-masing kelenjar berbentuk badam, terletak pada dasar mulut
antara mandibula dan otot genioglossus. Kelenjar ini memiliki banyak
duktus yang menyalurkan ke dalam rongga mulut, duktus kelenjar ini
disebut duktus rivinus yang terletak berdekatan dengan papilla dari duktus
submandibularis.
Kelenjar ini bersifat campuran dengan sifat mucus yang paling dominan.

b. Kelenjar saliva minor


1) Kelenjar labial
Kelenjar ini terdapat pada bibir bagian atas dan bibir bagian bawah dengan
asinus-asinus seromukus. Jumlah kelenjar ini semakin banyak pada posisi
midline.
2) Kelenjar bukal
Kelenjar ini terdapat pada mukosa pipi dengan asinus-asinus seromukus. Pada
bagian pipi kelenjar ini jarang, agak melebar, dan bejarak irregular satu
dengan yang lain. Sedangkan di bagian posterior kelenjarnya lebih besar-besar
dan banyak. Kelenjar posterior ini berada pada sudut belakang bawah pipi,
yang dikenal dengan nama retromolar glands.
3) Kelenjar bladin-nuhn
Kelenjar ini terletak pada bagian bawah ujung lidah
4) Kelenjar von ebner
Kelenjar ini terletak pada pangkal lidah
5) Kelenjar weber
Kelenjar ini juga terletak di pangkal lidah. Kelenjar von ebner dan weber
disebut juga glandula lingualis posterior
6) Kelenjar palatinal
Kelenjar ini merupkan kelenjar yang sifatnya rapat terletak pada palatum
lunak dan uvula serta region posterolateral dari palatum keras. Semakin ke
posterior kelenjar ini ketebalan dan ukurannya meningkat. Kelenjar ini bersifat
murni mucus.
7) Kelenjar glossopalatinal
Kelenjar ini terletak pada lipatan glossopalatinal. Memiliki sifat sekresi yang
sama dengan kelenjar palatinal dengan sifat sekresi mucus.

Histologi glandula saliva


Secara histology , struktur kelenjar saliva mirip dengan kelenjar eksokrin. Tiap
kelenjar saliva dibangun oleh lobus yang terdiri atas kompartemen yaitu, asinus, duktus
interkalata, dan duktus striata. Asinus glandula submandibular dan sublingual manusia di
sekitar sel asinar mucus masih memiliki sel sekresi serus yang disebut sel-sel bulan sabit.
Asinus dan duktus pada bagian basal dapat dikelilingi oleh sel mioepitel. Dari berbagai lobus
kelenjar, saluran-saluran pembuangan berkumpul di dalam muara pembuangan interlobular
dan berakhir pada pembuangan besar contohnya duktus stenson pada kelenjar parotis. Hasil
sekresi saliva dikumpulkan di dalam sel-sel sekretori dan ditimbun di dalam granula sekresi
di dalam sel-sel asinar. Disamping itu, di dalam glandula submandibularis juga terdapat
granula sekresi di dalam sel-sel duktus interkalata dan sel-sel GCT.
Fig. 2. Sublingual gland with mucous acini and Fig. 4. Submandibular gland.
scattered serous demilunes (arrow). Masson. 100X Anterior lobe composed of mixed
(m) and serous acini (s). Masson.
400X.

Kelenjar saliva dipersarafi oleh system saraf otonom, baik saraf simpatis maupun
saraf parasimpatis, terutama dipersarafi oleh saraf parasimpatis. Sinyal parasimpatis
dihantarkan oleh saraf facialis dan saraf glossofaringeal. Impuls parasimpatis bersifat
sekremotor dan vasodilator. Jalur persarafan parasimpatis sebagai jalur sekremotor berujung
pada kelenjar saliva menuju nucleus salivarius di medulla. Nukleus salivarius terdiri dari
nucleus salivarius superior dan inferior. Nukleus salivarius superior mengatur kelenjar
submandibularis dan kelenjar sublingual, sedangkan nucleus salivarius inferior mengatur
kelenjar parotis dan von ebner.

Sirkulasi darah ke kelenjar saliva sangat penting dalam proses sekresi saliva.
Rangsangan parasimpatis menyebabkan peningkatan aliran darah. Vaskularisasi kelenjar
parotis didapat dari arteri fasialis dan arteri karotis eksterna. Vaskularisasi kelenjar
submandibular didapat dari arteri fasialis dan arteri lingualis, sedangkan untuk kelenjar
sublingual, vaskularisasi didapat dari arteri sublingualis dan arteri submental. Secara
anatomis, distribusi vaskularisasi di duktus lebih kaya daripada vaskularisasi di asinus.

Patologi glandula saliva


1. Parotitis

Parotitis ialah penyakit virus akut yang biasanya menyerang kelenjar ludah terutama
kelenjar parotis (sekitar 60% kasus). Gejala khas yaitu pembesaran kelenjar ludah terutama
kelenjar parotis. Penyakit ini merupakan penyebab edema kelenjar parotis yang paling
sering. Pada saluran kelenjar ludah terjadi kelainan berupa pembengkakan sel epitel,
pelebaran dan penyumbatan saluran. Onset penyakit ini diawali dengan adanya rasa nyeri dan
bengkak pada daerah sekitar kelenjar parotis. Masa inkubasi berkisar antara 2 hingga 3
minggu. Gejala lainnya berupa demam, malaise, mialgia, serta sakit kepala. Virus tersebut
masuk tubuh bisa melalui hidung atau mulut. Infeksi akut oleh virus mumps pada kelenjar
parotis dibuktikan dengan adanya kenaikan titer IgM dan IgG secara bermakna dari serum
akut dan serum konvalesens. Semakin banyak penumpukan virus di dalam tubuh sehingga
terjadi proliferasi di parotis/epitel traktus respiratorius kemudian terjadi viremia (ikurnya
virus ke dalam aliran darah) dan selanjutnya virus berdiam di jaringan kelenjar/saraf yang
kemudian akan menginfeksi glandula parotid. Keadaan ini disebut parotitis. Akibat
terinfeksinya kelenjar parotis maka dalam 1-2 hari akan terjadi demam, anoreksia, sakit
kepala dan nyeri otot. Kemudian dalam 3 hari terjadilah pembengkakan kelenjar parotis yang
mula-mula unilateral kemudian bilateral, disertai nyeri rahang spontan dan sulit menelan.

2. Tuberkulosis primer kelenjar saliva

Penyakit ini biasanya unilateral. Kelenjar saliva yang paling sering terkena adalah
kelenjar parotis. Kebanyakan penyakit ini merupakan penyebaran dari fokus infeksi
tuberkulosis pada tonsil atau gigi. Penyakit ini biasanya terlihat dalam dua jenis yaitu dalam
bentuk lesi inflamasi akut atau lesi berbentuk tumor yang kronis. Diagnosis ditegakkan
dengan pemeriksaan acid fast salivary stain dan purified proteine derivative skin test. Terapi
terhadap penyakit ini sama dengan terapi pada infeksi tuberkulosis akut.

3. Sialadentis
 Sialadenitis supuratif akut

Sebagian besar penyakit ini melibatkan kelenjar parotis, dan terkadang juga melibatkan
kelenjar submandibula. Seringnya terjadi keterlibatan kelenjar parotis dibandingkan dengan
kelenjar saliva lainnya disebabkan karena aktivitas bakteriostatis pada kelenjar parotis lebih
rendah dibandingkan pada kelenjar saliva lainnya.

Kemungkinan penyakit ini disebabkan karena adanya stasis saliva, akibat adanya
obstruksi atau berkurangnya produksi saliva. Faktor predisposisi lain terjadinya penyakit ini
adalah striktur duktus atau kalkuli. Gejala yang sering dirasakan pada penderita penyakit ini
adalah adanya pembengkakan yang disertai dengan rasa nyeri. Bisa didapatkan adanya saliva
yang purulen pada orifisium duktus saliva, yang mudah didapatkan dengan sedikit pemijatan
di sekitar kelenjar.

Organisme penyebab infeksi dapat berupa Staphylococcus aureus, Streptococcus


pneumonia, Eschericia coli, serta Haemophylus influenzae. Bakteri anaerob penyebab yang
paling sering adalah Bacteroides melaninogenicus dan Streptocccus micros.

 Sialadenitis kronis

Etiologi dari sialadenitis kronis adalah sekresi saliva yang sedikit dan adanya stasis
saliva.. Kelainan ini lebih sering terjadi pada kelenjar parotis. Beberapa pasien dengan
sialadenitis kronis merupakan rekurensi dari parotitis yang diderita saat masih kecil. Sebagian
besar penderita menunjukkan adanya kerusakan yang permanen pada kelenjar yang
disebabkan infeksi supuratif akut. Penyakit ini dapat memudahkan terjadinya sialektasis,
ductal ectasia, serta destruksi asinar yang progresif.

4. Sialolitiasis

Salah satu penyakit pada kelenjar saliva adalah terdapatnya batu pada kelenjar saliva.
Angka kejadian terdapatnya batu pada kelenjar submandibula lebih besar dibandingkan
dengan kelenjar saliva lainnya. Salah satu penyakit sistemik yang bisa menyebabkan
terbentuknya batu adalah penyakit gout, dengan batu yang terbentuk mengandung asam urat.
Kebanyakan, batu pada kelenjar saliva mengandung kalsium fosfat, sedikit mengandung
magnesium, amonium dan karbonat. Batu kelenjar saliva juga dapat berupa matriks organik,
yang mengandung campuran antara karbohidrat dan asam amino.

Duktus pada kelenjar submandibula lebih mudah mengalami pembentukan batu


karena saliva yang terbentuk lebih bersifat alkali, memiliki konsentrasi kalsium dan fosfat
yang tinggi, serta kandungan sekret yang mukoid. Disamping itu, duktus kelenjar
submandibula ukurannya lebih panjang, dan aliran sekretnya tidak tergantung gravitasi. Batu
pada kelenjar submandiula biasanya terjadi di dalam duktus, sedangkan batu pada kelenjar
parotis lebih sering terbentuk di hilum atau di dalam parenkim. Gejala yang dirasakan pasien
adalah terdapat bengkak yang hilang timbul disertai dengan rasa nyeri. Dapat teraba batu
pada kelenjar yang terlibat.

5. Sindroma Sjogren

Sindroma Sjogren dapat ditandai dengan adanya destruksi kelenjar eksokrin yang
dimediasi oleh limfosit. Hal ini menyebabkan terjadinya xerostomia dan keratokonjuntivitis
sika. Sindroma ini diklasifikasikan menjadi 2 tipe yaitu primer dan sekunder. Pada tipe
primer, penyakit ini hanya melibatkan kelenjar eksokrin saja, sedangkan pada tipe sekunder
berhubungan dengan penyakit autoimun seperti rematoid artritis. Gejala yang ada meliputi
rasa terbakar pada mulut, rasa ada pasir pada mata, xerostomia, pembengkakan pada kelenjar
saliva (pada tipe primer terjadi sekitar 80% dan pada tipe sekunder antara 30-40%).
Pembengkakan bisa terjadi secara intermiten ataupun permanen.

6. Sialadenosis

Kelainan ini merupakan istilah nonspesifik untuk mendeskripsikan suatu pembesaran


kelenjar saliva yang bukan merupakan reaksi inflamasi maupun neoplasma. Patofisiologi
penyakit ini masih belum jelas. Pembesaran kelenjar saliva biasanya terjadi asimtomatik.
Pada penderita obesitas dapat terjadi pembengkakan kelenjar parotis bilateral karena
hipertrofi lemak. Namun perlu dilakukan pemeriksaan endokrin dan metabolik yang lengkap
sebelum menegakkan diagnosis tersebut karena obesitas dapat berkaitan dengan berbagai
macam penyakit seperti diabetes melitus, hipertensi, hiperlipidemia dan menopause.
2. Komposisi saliva
Cairan rongga mulut mengandung air sebesar 94 % - 99,5 % . Komponen saliva dapat
dibedakan menjadi komponen anorganik dan komponen organik.

a) Komponen anorganik
Komponen anorganik yang terdapat di dalam saliva berupa ion kalsium, magnesium,
flourida, bikarbonat, kalium, natrium, klorida. Selain itu, juga terdapat gas seperti
karbondioksida, nitrogen, dan oksigen. Dari kation-kation tersebut, natrium dan
kalium memiliki konsentrasi yang paling tinggi di dalam ludah. Kadar natrium
meningkat bila sekresi meningkat, berperan dalam menjaga keseimbangan ionik.
Klorida sangat penting untuk aktivitas enzim α-amilae dan menjaga keseimbanagn
elektrokimia, dihasilkan oleh sel asinus. Fosfat banyak ditemukan sebagai fosfat
organik. Fosfat dan kalsium sangat penting untuk remineralisasi email gigi dan
berperan dalam pembuatan karang gigi dan plak bakteri. Peningkatan pH atau
peningkatan konsentrasi kalsium atau fosfat dapat menyebabkan pengendapan garam
kalsium yang membentuk kalkulus. Kadar flourida di dalam saliva dipengaruhi oleh
konsentrasi flourida dalam air minum dan makanan. Rodanida atau thiocynate (CNSˉ)
berperan sebagai agensia antibakterial yang bekerja sama dengan laktoperioksidase.
Bikarbonat adalah ion buffer penting dalam saliva. Di dalam saliva yang distimulasi,
ion ini menghasilkan 85% dari kapasitas buffer sedangkan 14% dipengaruhi oleh
sistem fosfat.
Konsentrasi ion-ion tertentu di dalam saliva sangat bervariasi dengan kecepatan
sekresi dan waktu menetap di dalam duktus.

b) Komponen organik
Komponen organiik saliva yang utama adalah protein. Selain itu, juga terdapat aam
lemak, lipida, glukosa,asam amino, ureum, dan amoniak. Komponen ini, selain dari
kelenjar saliva juga berasal dari sisa makanan dan pertukaran zat bakterial. Protein
yang secar kuantitatif penting adalah α-amilase,protein kaya prolin, musin, dan
imunoglobulin.
 α-amilase mengubah tepung kanji dan glikogen menjadi kesatuan karbohidrat
yang lebih kecil. Juga karena pengaruh α-amilase, polisakarida menjadi mudah
dicerna
 lisozim mampu membunuh bakteri tertentu, sehingga berperan dalam sistem
imun
 kalikrein dapat merusak sebagian protein tertentu, di antaranya faktor
pembekuan darah XII sehingga berperan dalam sistem pembekuan darah.
Selain itu, kalikrein mengubah serum beta globulin menjadi bradikmin
berguna untuk vasodilatasi untuk meningkatkan sekresi kelenjar.
 laktoperoksidase mengkatalisis oksidasi CNSˉ menjadi OCNSˉ, yang mampu
menghambat pertukaran zat bakteri dan pertumbuhannya
 protein kaya-ptolin membentuk suatu kelas protein dengan berbagai fungsi
penting yaitu membentuk bagian utama pelikel muda pada email yang
berfungsi sebagai bahan penghambat pertumbuhan kristal dan
menggumpalkan bakteri-bakteri tertentu.
 musin, membuat ludah pekat, sehingga tidak mengalir seperti air karena
mempunyai selubung air dan terdapat pada semua permukaan mulut. Musin
berperan dalam melindungi jaringan mulut dari kekeringan. Musin merupakan
glikoprotein yang mengandung lebih dari 40% karbohidrat, memiliki protein
core dengan oligosakarida pada rantainya yang diikat oleh O-glycosidic
linkage.
 imunoglobulin terlibat dan sistem imun. Dalam saliva terdapat IgA, IgG ,IgM,
albumin, dan beberapa alfa dan beta globulin
 laktoferin mengikat ion-ion Fe³⁺, ion ini diperlukan bagi pertumbuhan bakteri
 gustin mempunyai fungsi dalam proses kesadaran pengecapan
 faktor pertumbuhan saraf dan faktor pertumbuhan endodermal
 karbohidrat, sebagai ikatan dalam protein saliva dimana konsentrasinya sama
dengan darah
 lipid, sebagai pelindung dan antibakterial.

Susunan global beberapa komponen penting dalam saliva dalam keadaan istirahat (tanpa
stimulasi) dan setelah stimulasi dengan asam sitrun 2%

mM/l Gl.parotis Gl.submandibularis Ludah total


Tanpa Dengan Dengan plasma
Dengan stimulasi
stimulasi stimulasi stimulasi
Ca²⁺ 1,5 1,0 1,8 1-2 2,5
HCO₃ˉ 1,0 20 18 2-30 27
HPO₄²ˉ 15 6 4,5 2-5 2
CNSˉ 5,5 3,2 - 0,4-1,3 -
(mg/100ml)
protein 250 150 7000
lipida 2,8 2,0
ureum 2,5 7 25
pH 5,9 6,8-7,2 6,8-7,2 6,2-7,6 7,4

System imun saliva

Di dalam rongga mulut, gigi dilindungi oleh sistem imun, dimana komponen-
komponen yang dihasilkan oleh kelenjar ludah merupakan hal yang sangat berperan pada
sistem imun di dalam rongga mulut. Didalam saliva terdapat antibodi berupa imunoglobulin
A sekretori dan komponen-komponen alamiah non spesifik seperti protein kaya prolin (PRP),
laktoferin, laktoperoksidase, lisozim serta faktor-faktor agregasi dan aglutinasi bakteri yang
berperan melindungi gigi dari karies. Dewasa ini, untuk membangun sistem imun tubuh yang
efektif dalam usaha pencegahan karies tengah dikembangkan metode imunisasi. Bahan
imunisasi yang banyak digunakan berasal dari antigen S.mutans yaitu berupa enzim glukosil
transferase dan antigen 1/11; Metode imunisasi telah dilakukan dalam beberapa cara yaitu
imunisasi secara oral, imunisasi sistemik (subkutan), imunisasi gingivo salivari aktif, dan
imunisasi dental pasif.

Mikroflora di rongga mulut

Saat lahir, selaput lendir(mukosa) pada mulut akan terkontaminasi oleh flora. Kemudian
setelah 4 – 12 jam setelah lahir flora seperti Streptococcus viridians menjadi flora tetap yang
utama sepanjang hidup. Ketika gigi mulai tumbuh, akan muncul spirochaeta anaerob, spesies
prevotella (terutama P. melaninogenica), spesies fusobakterium, spesies rothia dan spesies
capnocytophaga muncul secara bersamaan dengan vibrio anaerob dan lactobasili. Spesies
Actinomyces secara normal terdapat pada jaringan tonsil dan pada gingival orang dewasa,
begitu pula dengan beberapa protozoa. Begitu pula dengan ragi (spesies Candida) terdapat
pada mulut.
- Ekologi rongga mulut
Studi ekologi rongga mulut:
Meliputi organisme dari rongga mulut dalam hubungannya dengan lingkungan, walaupun
jumlah organisme didalam rongga bervariasi tergantung keadaan lokal dan sistemik. Mereka
tetap dalam keadaan sistem mikrobiologi yang seimbang, hal ini terjadi didalam rongga
mulut selama periode kesehatan yang baik. Jumlah mikrobial saliva yang terhitung ±
750.000/ml saliva dan dalam sulcus gingival, pocket periodontal atau plaque gigi dan jumlah
ini mungkin lebih besar lagi.
Mikroorganisme ini meliputi tipe parasit (yang ada pada suatu keseimbangan biologi dengan
yang lain dan tuan rumah (host)). Rongga mulut mendapat suplai mikroorganisme yang
melimpah setiap saat, beberapa terlihat sebagai organisme asli (organisme yang selalu ada) di
area tersebut, dimana yang lain hanya lewat, karena lingkungan tidak memungkinkan mereka
untuk hidup.
Mikroorganisme yang seumur hidupnya tinggal di rongga mulut adalah: Lactobacilli,
Streptococcus, Veillonellae, Spirochetes, bentuk filamen, Bacillus fusiformis dan Vibria.
Organisme yang secara normal ditemukan pada semua individu dan merupakan
mikroorganisme panghuni asli (tetap) yang ada pada semua orang. Walaupun jumlah dari
Spirocheta dan Baciilus fusiformis sangat bervariasi dari waktu ke waktu dan pada orang
yang berbeda.
Pada permulaan kehidupan, jenis mikroorganisme bertambah lagi dengan, stafilococcus
aerob dan anaerob, diplococcus gram negatif (neisseria, branhamella), difteroid dan kadang-
kadang lactobacillus. Bila gigi geligi mulai keluar spirocheta anaerob, bakteriodes
(khususnya bakteriodes melaninogenicus), fusobakteria dan beberapa vibrio anaerob serta
laktobasil akan menetap.
- Peranan flora normal mulut pada karies gigi.
Karies adalah suatu desintegrasi gigi yang dimulai pada permukaan dan berkembang kearah
dalam. Mula-mula permukaan email, yang keseluruhannya nonseluler mengalami
demineralisasi. Hal ini akibat pengaruh asam hasil peragian kuman. Selanjutnya, dekomposisi
dentin dan semen melibatkan pencernaan matriks protein oleh kuman.
Langkah pertama yang penting pada karies adalah pembentukan “plaque” pada permukaan
email yang keras dan halus. Plaque ini terutama terdiri atas endapan-endapan gelatin dari
glukan yang mempunyai berat molekul besar, dimana kuman penghasil asam melekat pada
email. Polimer-polimer karbohidrat (glukan) terutama dihasilkan oleh streptococcus (s.
mutans, peptostreptococcus),
Enzim disekresi didalam saliva dan mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme sebagai
contoh, Amylase, membantu memecahkan pati/kanji/karbohidrat menjadi maltose, sehingga
mendukung organisme gycolitic. Katalase menguraikan hydrogen peroxidase dan sangat
bermanfaat bagi pertumbuhan Lactobacillus, Streptococcus dan Pneumococcus. Suatu upaya
stabilisasi selalu dipelihara oleh suatu antagonisme (perbedaan-perbedaan) dari berbagai
organisme antara satu dari yang lainnya. Saliva sendiri menghambat pertumbuhan dari
spesies mikroorganisme tertentu.

Fungsi saliva
 Melicinkan dan membasahi rongga mulut sehingga membantu proses mengunyah dan
menelan makanan.
 Membasahi dan melembutkan makanan menjadi bahan setengah cair ataupun
cair sehinggamudah ditelan dan dirasakan.
 Membersihkan rongga mulut dari sisa-sisa makanan dan kuman.
 Mempunyai aktivitas antibacterial dan sistem buffer .
 Membantu proses pencernaan makanan melalui aktivitas enzim ptyalin (amilase
ludah) danlipase ludah.

3. Factor sekresi saliva


Faktor Internal
 Stimulasi
Faktor terpenting yang mempengaruhi sekresi dan proporsi dari saliva adalah derajat
dari stimulasi yang diberikan. Tiga jenis stimulasi yang dapat diberikan untuk
merangsang pengeluaran saliva adalah stimulasi ektra oral dengan cara mencium,
melihat dan memikirkan makanan atau produk makanan lain.

 Jenis Kelamin dan Usia


Jenis kelamin dapat mempengaruhi saliva telah dibuktikan oleh banyak penelitian.
Anak laki-laki diketahui mempunyai produksi saliva lebih tinggi dibandingkan anak
perempuan. Hal ini dapat terjadi karena pengaruh ukuran kelenjar saliva wanita yang
lebih kecil dibandingkan laki-laki.

 Penyakit-penyakit sistemik
Penyakit diabetes melitus yang tidak terkontrol serta berhubungan dengan polidipsia
dan poliuria, dapat menyebabkan xerostomia. Diabetes insipidus dengan sifat
dehidrasi yang dimilikinya, dapat menimbulkan xerostomia. Dehidrasi medis atau
operasi dari penyebab apapun dapat memberi efek xerostomia, keadaan tersebut
sangat bervariasi, dari pendarahan sampai hipertiroidism.
 Faktor neuronal yaitu melalui sistem syaraf autonom baik simpatis maupun
parasimpatis.
Faktor Eksternal
o Faktor mekanis yaitu dengan mengunyah makan yang keras atau
permen karet.
o Faktor kimiawi yaitu melalui rangsangan seperti asam, manis, asin, pahit dan pedas.
o Rangsangan rasa sakit, misalnya oleh radang, gingivitis, dan pemakaian protesa

 Radioterapi

Penyinaran dengan ionisasi dapat menyebabkan kerusakan jaringan kelenjar ludah


berupa atropi pada kelenjar ludah, terutama pada kelenjar parotid, sehingga dapat
menyebabkan xerostomia. Tetapi dengan teknik radioterapi yang baru dan lebih baik,
kelenjar ludah dapat dilindungi untuk mencegah terjadinya kerusakan.
 Obat-obatan
Terdapat sejumlah obat yang salah satu efek sampingnya berupa xerostomia.
Ada beberapa obat dari tiap kelompok yang berhubungan dari xerostomia, Obat yang
bekerja pada daerah otak yang tinggi.
Semua obat yang menghalangi aktivitas pusat otak dapat menghalangi sistem
saraf simpatik dan parasimpatik. Yang termasuk kelompok tersebut adalah semua
obat yang tergolong kategori penenang, narkotik, dan penghilang rasa sakit. Menurut
Crispian Scully, salah satu obat penghilang rasa sakit yang dapat menyebabkan
xerostomia adalah dari golongan opioid.

Mekanisme sekresi saliva


Sekresi saliva sebagian besar berada pada kontrol sistem saraf baik, sebagian kecil lain
berada di dalam konrtol hormonal. Sekresi saliva sebagian besar adalah proses aktif, yang
menunjukkan bahwa proses tersebut memakan energi. Dalam proses ini dibedakan dua fase,
yaitu:

a. Sintesis dan sekresi cairan asinar oleh sel-sel sekretori (asinosa)


Pada sekresi kelenjar ludah, sel melalui eksitosis dapat memberikan cairan
sekresinya pada lumen. Rangsangan dapat berupa simpatis (adrenergik) dan
parasimpatis (kolinergik).
Rangsangan adrenergik disampaikan oleh neurotransmiter noreadrenalin,
rangsangan tersebut diterima oleh reseptor sel yaitu α-adrenergik dan β-adrenergik.
Reseptor β-adrenergik akan meyebabkan terbentuknya cyclic adenosin
monophosphate(cAMP) inraseluler dalam sel asinosa sehingga mengaktifkan protein
kinase yang menggiatkan proses fosforilase-kinase. Hal ini menyebabkan fosforilasi
mikrofilamen, proses ini mengakibatkan kontraksi mikrofilamen, sehingga granula
sekresi diangkut ke membran plasma luminal. Kemudian isi granular melebur dengan
membran plasma luminal dan diteruskan ke duktus melalui lumen. Pada rangsangan
α-adrenergik, diperlukan ion Ca²⁺ untuk mengaktifkan proses fosforilase
mikrofilamen sehingga mikrofilamen berkontraksi dan seterusnya sampai saliva
primer diangkut ke duktus melalui lumen. Rangsangan adrenergik ini menyebabkan
vasokontriksi sehingga menghasilkan sekrei ludah pekat dan kaya protein.
Pada rangsangan kolinergik neurotransmiter asetilkolin menghasilkan sekresi ludah
yang banyak dengan kadar protein yang rendah. Rangsangan ini diperlukan ion-ion
Ca²⁺ untuk menyekresikan air dan elektrolit.
b. Perubahan yang terjadi pada saluran pembuangan (tubular)
Setelah saliva primer disekresikan di dalam lumen, kemudian diangkut melalui
duktus yang melibatkan kontraksi sel-sel mio-epitel. Selama pengangkutan ke rongga
mulut ini susunan saliva diubah.
Air dan elektrolit-elektrolit (ion Ca⁺², K⁺, Na⁺,Clˉ, HCO₃ˉ) disekresikan atau
diresorpsi oleh sel-sel epitel. Sekresi elektrolit adalah suatu proses aktif yang
melibatkan enzim Na⁺,K⁺-ATP-ase di dalam membran plasma. Natrium dan klorida
diresorpsi sedangkan kalium, kalsium, dan bikarbonat disekresi. Seluruh proses
sekresi dikontrol oleh sistem saraf autonom. Akibat dari proses ini saliva menjadi
hipotonik terhadap plasma darah.
Kecepatan air ludah pada duktus juga mempengaruhi konsentrasi akhir komponen
ludah. Untuk glandula parotis, saliva yang memilik konsentrasi natrium dan
bikarbonat yang meningkat sebanding dengan kecepatan sekresi. Klorida pada
mulanya turun dan kemudian naik pada peningkatan aliran sekresi. Kalium, kalsium,
dan magnesium serta fosfat turun dan kemudian stabil setelah mencapai kecepatan
tertentu.
Disamping itu, siang dan malam juga mempengaruhi konsentrai komponen
saliva. Konsentrasi natrium dan klorida maksimal pada puku 06.00 ddan minimal
pada pukul 18.00. kadar protein minimal paa pukul 06.00 dan maksimal antara pukul
12.00 dan 24.00. konsentrasi fosfat dan kalsium hampir konstan selama 24 jam.

Adapun refleksi saliva dapat ditingkatkan melalui reflex saliva terstimulus dan refeks
tidak terstimulus. Reflex saliva terstimulus terjadi sewaktu kemoreseftor atau reseptor
tekanan di rongga mulut berespon terhadap adanya makanan. Respon-respon tersebut
memulai implus di serat aferenyang membawa informasi ke pusat saliva di medulla
batang otak. Pusat saliva kemudian mengirim implus melalui saraf otonom ekstrinsik ke
kelenjar saliva untuk mrningkatkan sekresi saliva. Gerakan mengunyah merangsang
sekresi saliva walaupun tidak terdapat makanan karena adanya manipulasi terhadap
reseptor tekanan yang terdapat di mulut. Pada reflex saliva tidak terstimulasi,
pengeluaran saliva terjadi tanpa rangsangan oral. Hanya berpikir, melihat, membaui,
atau mendengar suatu makanan lezat dapat memicu pengeluaran saliva.
KEPUSTAKAAN

Amerogen AV. Ludah dan Kelenjar Ludah Arti Bagi Kesehatan Gigi. AlihBahasa Rafiah Abyono.
Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press. 1988
Guyton. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 7th. Jakarta: EGC. 19943 . A t l a s
Anatomi Manusia Sobotta. EGC
Dixon, Andrew D. Anatomi untuk Kedokteran Gigi ed.5. Jakarta:Hipokrates. 1993
Roth GL, Calmes R.Oral Biology. St. Louis: CV Mosby. 1981
Geneser, Finn. Buku Teks Histologi, Jilid 2. Jakarta: Binarupa Aksara.1994.