Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Salah satu penyebab striktur uretra adalah pemasangan kateter dalam


waktu yang cukup lama. Pola penyakit striktur uretra yang ditemukan di Rumah
Sakit Hasan Sadikin Bandung menyebutkan sebagian besar pasien (82%) masuk
dengan retensi urin. Penyebab utama terjadinya striktur adalah manipulasi uretra
(44%) dan trauma (33%).5 Salah satu manipulasi uretra adalah pemasangan
kateter Folley.
Studi yang dilakukan di India menyebutkan penyebab dari striktur uretra
meliputi trauma pelvis (54%), post-kateterisasi (21,1%), infeksi (15,2%), dan
post-instrument (5,6%). Study ini menunjukkan kesimpulan bahwa etiologi diatas
menentukan prognosis dari penatalaksanaan striktur uretra.6 Studi yang dilakukan
oleh Lumen,et all juga mendapatkan hasil7 sebanyak 45,5% striktur uretra
disebabkan iatrogenik yang didalamnya termasuk reseksi transuretral, kateterisasi
uretra, cystoscopy, prostatectomy, brachytherapy, dan pembedahan
hypospadia.8 Penelitian ini menjadi penting mengingat prosedur pemasangan
kateter uretra merupakan prosedur rutin pada penanganan kasus retensi urin akut
seperti benign prostat hiperplasia, adanya bekuan darah, urethritis, kronik
obstruksi yang menyebabkan hidronefrosis, dan dekompresi kantung kemih akibat
permasalahan saraf.17
Keteterisasi urin merupakan salah satu tindakan yang membantu eliminasi
urin maupun ketidakmampuan melakukan urinasi. Prosedur pemasangan kateter
uretra merupakan tindakan invasif. Pasien akan dipasangkan sejenis alat yang
disebut kateter Dower pada muara uretra. Dalam melakukan prosedur ini
diperlukan keprofesionalan. Banyak pasien merasa cemas, takut akan rasa nyeri,
dan tidak nyaman pada saat dilakukan kataterisasi uretra. Hasil studi11 dari
Mushhab,2006 menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara lama waktu
terpasang kateter dengan tingkat kecemasan pada pasien yang terpasang kateter
uretra.
Melihat data diatas timbul ide untuk mencegah terjadinya striktur uretra
pada pemasangan kateter uretra. Dengan berkurangnya angka kejadian diharapkan
tindakan pembedahan yang dilakukan pada pasien tidaklah terlalu banyak. Selain
itu lama pasien menjalani rawat inap juga akan berkurang sehingga angka
morbiditas akan berkurang. Hal ini mengingat penatalaksanaan yang paling
banyak dilakukan di pusat rujukan urologi adalah pembedahan guna
merekontruksi saluran uretra yang mengalami striktur. Selain itu terdapat resiko
terjadi striktur uretra yang berulang setelah menjalani prosedur pembedahan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Pernyataan Masalah

Asuhan keperawatan pada pasien dengan Striktur Uretra

2. Pernyataan Masalah

1. Bagaimanakah anatomi fisiologi dari uretra?


2. Apakah definisi dari stricture uretra?
3. Apakah etiologi dari stricture uretra?
4. Apakah patofisiologi stricture uretra?
5. Apakah manifestasi klinis stricture uretra?
6. Apakah derajat penyempitan dari stricture uretra?
7. Apakah macam-macam pemeriksaan diagnostik dari stricture
uretra?
8. Bagaimanakah penatalaksanaan pada pasien stricture uretra?
9. Apakah prognosis dari stricture uretra?
10. Bagaimana asuhan keperawatan dari stricture uretra?
1.3 Tujuan

1. Tujuan Khusus

Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien dengan Striktur


Uretra
2. Tujuan Khusus

1. Menjelaskan definisi dari striktur uretra.


2. Menjelaskan etiologi/ faktor pencetus dari striktur uretra.
3. Menjelaskan manifestasi klinis dari striktur uretra.
4. Menjelaskan patofisiologi striktur uretra.
5. Menjelaskan pemeriksaan diagnostik pada striktur uretra.
6. Menjelaskan penatalaksanaan klien dengan striktur uretra.
7. Menjelaskan prognosis dari striktur uretra.
8. Menjelaskan asuhan keperawatan pasien dengan striktur uretra.
9. Diharapka Mahasiswa dapat memehami dan mengetahui pemahaman
tentang Striktur Uretra
10. Diharapkan Mahasiswa mampu memahami asuhan Keperawatan
Striktur Uetra

1.4 Manfaat
1. Manfaat Praktis
Baik anggota kelompok maupun para audience bisa memahami bagaimana
askep Striktur Uretra
2. Manfaat Teori
Banyak pengetahuan yang awalnya tidak tahu menjadi tahu.
3. Manfaat Akademisi
Semakin tinggi tingkatan maka semakin tinggi pula ilmu yang didapat.
1.5 Metode Penulisan
Metode yang dipakai dalam karya tulis ini adalah:
1. Metode Pustaka
Yaitu metode yang dilakukan dengan mempelajari dan
mengumpulkan data dari pustaka yang berhubungan dengan alat, baik
berupa buku maupun informasi di internet.
2. Diskusi
Yaitu mendapatkan data dengan cara bertanya secara langsung kepada
PJ konsultasi dan teman-teman yang mengetahui tentang informasi
yang diperlukan dalam membuat proyek.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Anatomi dan Fisiologi Uretra

Uretra merupakan alur sempit yang berpangkal pada kandung kemih dan
fungsinya menyalurkan urine keluar.

a. Anatomi dan Fisiologi Uretra Pria

Uretra pria mulai dari orifisium uretra iterna didalam vesika urinaria sampai
orifisium uretra eksterna pada penis, panjangnya 17,5 – 20 cm yang terdiri dari :
1. Uretra prostatika, merupakan saluran terlebar, panjang 3 cm, berjalan hampir
vertikal melalui glandula prostat, mulai dari basis sampai ke apeks dan lebih
dekat ke permukaan anterior. Bentuk salurannya seperti kumparan yang
bagian tengah lebih luas, makin ke bawah makin dangkal kemudian
bergabung dengan pars membranasea. Potongan transversal saluran ini
menghadap ke depan. Pada dinding posterior terdapat krista uretralis yang
berbentuk penonjolan membran mukosa dan jaringan bawahnya dengan
panjang 15 – 17 cm tinggi 3 cm.
2. Uretra pars membranase. Saluran uretra ini yang paling pendek dan paling
dangkal, berjalan mengarah ke bawah dan ke depan di antara apeks gradula
prostata dan bulbus uretra.
3. Uretra pars kavernosus, merupakan saluran terpanjang dari uretra, terdapat di
dalam korpus kanvernosus uretra ke orifisium seperfisialis, panjangnya kira-
kira 15 cm mulai dari pars membranasea sampai diafragma urogenetalis.
4. Orifisium uretra eksternal, merupakan bagian erektor yang paling
berkontraksi, berupa sebuah cela vertikal. Kedua sisi ditutup oleh dua bibir
kecil, panjangnya 6 mm.
b. Anatomi dan Fisiologi Uretra Wanita

Uretra wanita terletak dibelakang simfisis, berjalan sedikit miring ke arah


atas. Salurannya dangkal, panjang kira-kira 4 cm mukai dari orifisium uretra
interna sampai ke orifisium utretran eksterna . uretra ini terdapat di belakang
simfisis pada dinding anterior vagina , menjurus obliq ke bawah dan menghadap
ke depan.
Apabila tidak berdilatasi diameternya 6 cm. Uretra ini menembus fasia
oris. Glandula uretra bermuara ke uretra , yang terbesar diantaranya adalah
galandula para uretralis (Skene) yang bermuara ke dalam orifisium uretra dan
hanya berfungsi sebagai saluran ekskresi. Lapisan uretra wanita terdiri :
1. Tunika muskularis
2. Lapisan spongeosa
3. Lapisan mukosa sebelah didalam.

Diafragma Urogenitalis dan ofisium eksterna langsung di depan


permukaan vagian 2,5 cm di belakang gland klitoris. (Drs. H. Syaifuddin, AMK.
Anatomi Fisiologi Kurikulum berbasis Kompetensi. Hal : 456 – 457)

2.2 Striktur Uretra


Striktur Uretra adalah penyempitan lumen uretra akibat adanya jaringan
parut dan kontraksi. Penyebab striktur umumnya adalah cedera uretral (akibat
insersi peralatan bedah selaa operasi transuretral, kateter indwelling, atau prosedur
sistoskopi), cedera akibat pereganggan dan cedera yang berhubungan dengan
kecelakaan mobil, uret – ritis gonorbeal yang tidak di tangani, dan abnormalitas
kongenital.
Kekuatan pancaran dan jumlah urin berkurang dan gejala infeksi dan
retensi urinarius terjadi. Striktur menyebabkan urin mengalir baik dan
mencetuskan sistitis, prostatitis, dan pielonefritis.
Pencegahan. Elemen penting dalam pencegahan adala menagani infeksi
uretral dengan tepat. Pemakain kateter uretral untuk drainase dalam waktu lama
harus dihindari dan perawatan menyeluruh harus dilakukan pada setiap jenis alat
uretral, termasuk kateterisasi.
Pentalaksanaan. Penangganan dapat mencakup dilatasi secara bertahap
terhadap area yang menyempit ( menggunakan logam yang kuat atau bougies)
atau secara bedah. Jika striktur menghambat pasasw kateter, ahli urologi
menggunakan beberapa filiform bougies untuk

2.3 Etiologi
Struktur uretra dapat terjadi secara :
1. Kongenital
Striktur uretra dapat terjadi secara terpisah ataupun bersamaan dengan
anomali saluran kemih yang lain.
2. Didapat
- Cedera uretral (akibat insersi peralatan bedah selama operasi transuretral,
kateter indwelling, atau prosedur sitoskopi).
- Cedera akbiat peregangan
- Cedera akbibat kecelakaan
- Uretritis gonorheal yang tidak ditangani
- Spasmus otot
- Tekanan dari luar misalnya pertubumbuhan tumor
(C.Smeltzer,Suzanne ; 2002 hal 1468 dan C.Loang, Barbara, hal 338)
3. Post Operasi
Beberapa operasi pada saluran kemih dapat menimbulkan striktur uretra,
seperti operasi prostat, operasi dengan alat endoskopi.
4. Infeksi
Merupakan faktor yang paling sering menimbulkan striktur uretra, seperti
infeksi oleh kuman gonokokus yang menyebabkan uretritis gonorrhoikaatau non
gonorrhoika telah menginfeksi uretra beberapa tahun sebelumnya namun sekarang
sudah jarang akibat pemakian antibiotik, kebanyakkan striktur ini terletak pars
membranasea, walaupun juga terdapat pada tempat lain; infeksi clamidia sekarang
merupakan penyebab utama tapi dapat dicegah dengan menghindari kontak
dengan individu yang terinfeksi atau menggunakan kondom.
2.4 Manifestasi Klinis
1. Kekuatan pancaran dan jumlah urin berkurang
2. Gejala infeksi
3. Retensi urinarius
4. Adanya aliran balik dan mencetuskan sistitis, prostatitis dan pielonefritis

Derajat penyempitan uretra :

- Ringan : jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen.
- Sedang : oklusi 1/3 s.d ½ diameter lumen uretra.
- Berat : oklusi lebih besar dari ½ diameter lumen uretra.

Ada derajat berat kadang teraba jaringan keras di korpus spongiosum yang
dikenal dengan spongiofibrosis.
2.5 Pemeriksaan Diagnostik
a. Urinalisis : warna kuning, coklat gelap, merah gelap/terang, penampilan
keruh, pH : 7 atau lebih besar, bakteria.
b. Kultur urin: adanya staphylokokus aureus. Proteus, klebsiella,
pseudomonas, e. coli.
c. BUN/kreatin : meningkat
d. Uretrografi: adanya penyempitan atau pembuntuan uretra. Untuk
mengetahui panjangnya penyempitan uretra dibuat foto iolar (sisto)
uretrografi.
e. Uroflowmetri : untuk mengetahui derasnya pancaran saat miksi
f. Uretroskopi : Untuk mengetahui pembuntuan lumen uretra (Basuki B.
Purnomo; 2000 hal 126 dan Doenges E. Marilynn, 2000 hal 672)

Di buku lain, disebutkan bahwa pemeriksaan diagnostik untuk stricture uretra


yaitu :
1. Laboratoriun
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk pelengkap pelaksanaan
pembedahan. Selain itu, beberapa dilakukan untuk mengetahui adanya tanda
–tanda infeksi melalui pemeriksaan urinalisis dan kultur urine.
2. Uroflowmetri
Uroflowmetri adalah pemeriksaan untuk menentukan kecepatan pancaran
urine. Volume urine yang dikeluarkan pada waktu miksi dibagi dengan
lamanya proses miksi. Kecepatan pancaran urine normal pada pria adalah 20
ml/detik dan pada wanita 25 ml/detik. Bila kecepatan pancaran kurang dari
harga normal menandakan adanya obstruksi.

3. Radiologi

Diagnosis pasti dibuat dengan uretrografi sehingga dapat melihat letak


penyempitan dan besarnya penyempitan uretra. Untuk mengetahui lebih
lengkap mengenai panjang striktur adalah dengan sistouretrografi yaitu
memasukkan bahan kontras secara antegrad dari buli-buli dan secara retrograd
dari uretra. Dengan pemeriksaan ini, panjang striktur dapat diketahui sehingga
penting untuk perencanaan terapi atau operasi. ( Muttaqin.A, 2011 hal 234)
2.6 Penatalaksanaan
1. Filiform bougies untuk membuka jalan jika striktur menghambat
pemasangan kateter
2. Medika mentosa Analgesik non narkotik untuk mengendalikan nyeri.
Medikasi antimikrobial untuk mencegah infeksi.
3. Pembedahan
a. Sistostomi suprapubis
b. Businasi ( dilatasi) dengan busi logam yang dilakukan secara hati-
hati.
c. Uretrotomi interna : memotong jaringan sikatrik uretra dengan
pisau otis/sachse. Otis dimasukkan secara blind ke dalam buli–
buli jika striktur belum total. Jika lebih berat dengan pisau sachse
secara visual.
d. Uretritimi eksterna: tondakan operasi terbuka berupa
pemotonganjaringan fibrosis, kemudian dilakukan anastomosis
diantara jaringan uretra yang masih baik. (Basuki B. Purnomo;
2000 hal 126 dan Doenges E. Marilynn, 2000 hal 672)
4. Terapi
a. Kalau penderita datang dengan retensio urine maka pertolongan
pertama dengan cystostomi kemudian baru dibuat pemeriksaan
uretrogafi untuk memastikan adanya striktura urethra.
b. Kalau penderita datang dengan infiltrat urine atau abses dilakukan
insisi infiltrat dan abses dan dilakukan cystostomi baru kemidian
dibuat uretrografi.
5. Trukar Cystostomi
Kalau penderita datang dengan retensio urine atau infiltrat urine,
dilakukan cystostomi. Tindakan cystostomie dilakukan dengan trukar,
dilakukan dengan lokal anestesi, satu jari di atas pubis di garis tengah,
tusukan membuat sudut 45 derajat setelah trukar masuk, dimasukan kateter
dan trukar dilepas, kater difiksasi dengan benar sutra kulit.
6. Bedah endoskopi
a. Setelah dibuat diagnosis striktura urethra ditentukan lokasi dan
panjang striktura Indikasi untuk melakukan bedah endoskopi
dengan alat sachse adalah striktura urethra anterior atau posterior
yang masih ada lumen walaupun kecil dan panjang tidak lebih 2
cm serta tidak fistel kateter dipasang selama 2 hari pasca
tindakan.
b. Setelah penderita dipulangkan, penderita harus kontrol tiap
minggu sampai 1 bulan kemudian.Tiap bulan sampai 6 bulan dan
tiap 6 bulan seumur hidup.Pada waktu kontrol dilakukan
pemeriksaan uroflowmer kalau Q maksimal <10 dilakukan
bauginasi
7. Uretroplasti
a. Indikasi untuk uretroplasti adalah dengan setriktur urethra
panjang lebih 2 cm atau dengan fistel urethrokutan atau penderita
residif striktur pasca urethratomi sachse
b. Operasi urethroplasti ini bermacam – macam , pada umunya
setelah daerah striktur diexsisi, urethra diganti dengan kulit
preputium atau kulit penis dan dengan free graf atau pedikel graf
yaitu dibuat tambung urethra baru dari kulit preputium atau kulit
penis dengan menyertakan pembuluh darahnya.
8. Otis uretrotomi
a. Tindakan otis uretrotomi di kerjakan pada striktura urethra
anterior terutama bagian distal dari pendulan urethra dan fossa
manicularis.
b. Otis uretrotomi ini juga dilakukan pada wanita dengan striktura
urethra

2.7 Prognosis

Striktur urethra sering kali kambuh, sehingga pasien harus sering


menjalani pemeriksaan secara teratur ke dokter. Penyakit ini dinyatakan sembuh
bila setelah dilakukan observasi selama 1 tahun tidak menunjukkan tanda-tanda
kekambuhan. (Purnomo BB., Seto S, 2003)
2.8 Patofisiologi

Congenital Didapat : Infeksi, spame otot,


tekanan dari luar tumor, cidera
Anomalai saluran
kemih yang lain uretra,cidera pereganggan

Jaringan Perut

Total Tersumbat Penyemitan Lumen Uretra

Kelebihan Volume Obstruksi saluran Kekuatan Pancaran


Cairan kemih yang dan jumlah urine
bermuara kevesika bekurang
urinari Perubahan eliminasi Urine

Refluk urine Peningkatan Tekanan


vesika urinaria
Hidroureter

Penebalan dinding VU Gangguan rasa nyaman


Hidronefrosisi nyeri

Penurunan kontraksi otot


Pyelonefritis
VU

Gagal Ginjal Kesulitan Berkemih

Perubahan Nutrisi
Retensi Urine

Resiko Infeksi Sitostomi

Luka Insisi Perubahan Pola Berkemih

Gangguan Rasa Retensi Urine


Nyeri
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN UMUM

3.1 Pengkajian
Pengkajian pada klien dengan gangguan system perkemihan dengan
melakukan anamnesa keperawatan dan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan
diagnostic.
1. Anamnesis
Anamnesa pada klien dengan gangguan system perkemihan
mencakup tanda dan gejala yang cenderung kearah penyakit pada saluran
kemih. Yang meliputi:
1) Rasa nyeri
Rasa nyeri akibat ginjal biasanya disebabkan oleh obstruksi dan distensi
mendadak pada kapsula ginjal. Nyeri ginjal dapat dirasakan sebagai rasa
sakit yang tumpul pada sudut kostovertebral ( daerah yang berbentuk oleh
selubung iga dan kolumna vertebralis ) dan rasa sakit ini dapat menjalar
sampai ke umbilicus.
Kelainan ureter akan menimbulkan rasa nyeri didaerah punggung
dan menjalar ke abdomen, paha bagian atas, testis atau labium. Nyeri
dibagian pinggang yang menjalar ke abdomen bawah ataau epigastrium, dan
sering disertai mual, muntah, serta ilius paralitik dapat menunjukkan adanya
kolik renal.
Nyeri kandung kemih dapat disebabkan oleh distensi yang
berlebihan atau infeksi kandung kemih. Sering dijumpai perasaan ingin
berkemih, tenesmus ( nyeri ketika mengejan ), dan disuria terminal ( nyeri
pada akhir berkemih ).
Nyeri meatus uretra akan terjadi pada iritasi kandung kemih atau
uretra yang disebabkan oleh infeksi ( uretritis ), trauma atau adanya baenda
asing dalam saluran perkemihan bagian anterior ( depan ).
2) Perubahan pada eliminasi ( pengeluaran ) urin
Eliminasi urin atau mikturisi biasanya tanpa nyeri dengan frekuensi 5-6 kali
sehari dan kadang kadang sekali pada malam hari. Rata-rata individu
membentuk dan mengeluarkan urin sebanyak 200-1500 ml dalam waktu 24
jam.
Masalah umum yang menyertai eliminasi urin adalah keluhan sering
berkemih, inkontinensia ( tidak mampu menahan kemih ), poliuria ( sering
berkemih ), oliguria ( sedikit berkemih ), dan hematuria ( air kemih
mengandung darah ).
3) Gejala gastrointestinal ( saluran pencernaan )
Hubungan anatomis ginjal kanan dengan kolon, duodenum, kaput pancreas,
hati dan kandung empedu dapat menyebabkan gangguan gastrointestinal.
Kedekatan ginjal kiri dengan kolon, lambung, dan pancreas limpa juga
menimbulkn gejala intestinal. Gejala ini mencakup mual, muntah, diare,
gangguan rasa nyaman abdomen dan ilius paralitik.
4) Riwayat keperawatan
pengkajian riwayat keperawatan harus mencakup informasi yang
berhubungan dengan fungsi ginjal dan saluran perkemihan:
a. Keluhan utama klien atau alas an utama mengapa dating kerumah
sakit atau dokter/perawat.
b. Adanya rasa nyeri: lokasi, karakter, durasi dan factor yang
memicunya.
c. Riwayat infeksi saluran perkemihan:
(1) Terapi dan perawatan dirumah sakit yang pernah dialami.
(2) Adanya gejala panas atau menggigil
(3) Riwayat penggunaan kateter atau sistoskopi sebelumnya.
d. Gejala kelainan buang air kemih
(1) Disuria: nyeri pada saat akan berkemih, kapan keluhan ini terjadi.
(2) Hesistansi: nyeri selama dan sesudah berkemih
(3) Inkontinensia
e. Riwayat salah satu keadaan berikut ini:
(1) Hematuri: perubahan warna atau volume urin.
(2) Nokturi ( sering berkemih di malam hari , kapan dimulainya.
(3) Riwayat penyakit pada masa anak-anak sepertiimpetigo atau
sindrom nefrotik.
(4) Riwayat batu ginjal
(5) Riwayat penyakit diabetetes mellitus , hipertensi, trauma abdomen,
cedera medulla spinalis, atau kelainan neurologi lain.
f. Adanya riwayat lesi pada genital atau penyakit menular seksual.
g. Riwayat penggunaan obat-obatan.
h. Riwayat merokok.
i. Riwayat penyalagunaan obat atau alcohol.

2. Pemeriksaan Fisik
1) B1 (breathing)
Kaji bentuk hidung, pergerakan cuping hidung pada waktu bernafas,
kesimetrisan gerakan dada pada saat bernafas, auskultasi bunyi nafas dan
gangguan pernafasan yang timbul. Apakah bersih atau ada ronchi, serta
frekuensi nafas.
2) B2 (blood)
Adanya peningkatan TD (efek pembesaran ginjal) dan peningkatan
suhu tubuh.
3) B3 (brain)
Kaji fungsi serebral, fungsi saraf cranial, fungsi sensori serta fungsi
refleks.
4) B4 (bladder)
Penurunan aliran urin, ketidakmampuan untuk
mengosongkan kandung kemih dengan lengkap, dorongan dan frekwensi
berkemih meningkat.
5) B5 (bowel)
Kaji apakah ada nyeri tekan abdomen, apakah ada kram abdomen,
apakah ada mual dan muntah, anoreksia, dan penurunan berat badan.
6) B6 (bone)
Kaji derajat Range of Motion dari pergerakan sendi mulai dari kepala
sampai anggota gerak bawah, ketidaknyamanan atau nyeri yang dilaporkan
klien waktu bergerak, dan toleransi klien waktu bergerak. Kaji keadaan
kulitnya, rambut dan kuku, pemeriksaan kulit meliputi : tekstur, kelembaban,
turgor, warna dan fungsi perabaan.

3.2 Analisa Data


Data Etiologi Masalah Keperawatan
DS: Pasien mengeluh dapat Penyempitan lumen uretra Retensi Urine
kencing tetapi kencingnya ↓
sedikit dan pancarannya Kekuatan pancaran dan
lemah. jumlah urine berkurang
DO: Terasa distensi pada ↓
kandung kemih saat
dipalpasi. Haluaran urine berkurang

Retensi urine
DS: Pasien mengeluh nyeri Obstruksi saluran kemih Nyeri Akut
pada daerah yang bermuara ke vesikula
pinggang,suprapubik dan urinaria
perineal saat berkemih. ↓
DO: Wajah pasien tampak Refluks urine
meringis saat berkemih ↓
P : Obstruksi pada kandung Hidroureter
kemih karena tumor ↓
Q: seperti tertekan benda Hidronefrosis
tumpul ↓
R: Suprapubik,perineal dan Iskemia
apnggul ↓
S: skala 6 Nyeri akut
T: nyeri hilang timbul
DS: klien mengatakan suhu Obstruksi saluran kemih Resiko Infeksi
badan meningkat. yang bermuara ke vesika
DO: muncul keringat urinaria
dingin, akral hangat, Suhu : ↓
37,5°C. Peningkatan tekanan vesika
urinaria

Penebalan dinding vesika
urinaria

Penurunan kontraksi otot
vesika urinaria

Kesulitan berkemih

Retensi urine

Resiko Infeksi

DS: Klien mengeluh sering Obstruksi saluran kemih Gangguan Eliminasi Urine
kencing dengan jumlah yang bermuara ke vesika
urine sedikit. urinaria
DO: intake dan output tidak ↓
seimbang Peningkatan tekanan vesika
urinaria

Penebalan dinding vesika
urinaria

Penurunan kontraksi otot
vesika urinaria

Kesulitan berkemih

Retensi urine

Sitostomi

Gangguan eliminasi urine
3.3 Diagnosa keperawatan
1. Kelebihan volume cairan b/d mekanisme regulatori ( gagal ginjal )
dengan retensi urine
2. Perubahan eliminasi urin b/d stimulasi kandung kemih, iritasi
ginjal atau uretra, obstruksi mekanik, inflamasi atau trauma
jaringan
3. Retensi urine ( akut/kronik ) b/d obstruksi mekanik, pembesaran
prostat, ketidakmampuan kandung kemih untuk bermkontraksi
secara adekuat.
4. Nyeri akut b/d iritasi mukosa kandubg kemih, spasme otot, trauma
jaringan peningkatan frekuensi / dorongan kontraksi uretra.
5. Kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan
b/d kurang terpajaan informasi, salah mengartikan informasi, tidak
mengenal sumber informasi
3.4 Perencanaan dan implementasi keperawatan
a. Kelebihan volume cairan b/d mekanisme regulatori ( gagal ginjal )
dengan retensi urine
Perencanaan dan implementasi Rasional
 Pantau nadi dan tekanan darah, - Takikardi dan hipertensi
serta central Venous pressure ( terjadi karena kegagalan
CVP ) ginjal mengeluarkan urin;
pemberian cairan berlebihan
selama pengobatan
hipovolemia;perubahan fase
oliguri.
- Manajemen cairan diukur
untuk menggantikan
pengeluaran dari semua
- Batasi cairan sesuai indikasi sumber ditambah insensible
water loss.

- Membantu menghindari
periode tanpa cairan;
menurunkan rasa haus.

- Kelebihan cairan dapat


- Rencanakan pengantian variasi menimbulkan edema paru
cairan daalam pemberian. dan gagal jantung yang
Berikan minuman yang disukai. dibuktikan adanya suara paru
tambahan dan bunyi jantung
ekstra.
- Kateterisasi mengeluarkan
- Auskultasi paru dan bunyi obstruksi saluran bawah dan
jantung. memudahkan pengawasan
akurat pengeluaran urin.

- Mengkaji adanya disfungsi


ginjal, hipo/hipernatremia,
hipo/hiperkalemia, dan
adanya anemia.
- Pasang atau pertahankan kateter
sesuai indikasi. - Untuk melebarkan lumen
tubular, menurunkan
hiperkalemia, dan
meningkatkan pengeluaran
urine.

- Untuk melebarkan lumen


- Pantau hasil-hasil pemeriksaan tubular, menurunkan
laboratorium seperti BUN, hiperkalemia, dan
kreatinin, elektrolit, Hb/Ht. meningkatkan pengeluaran
urine.
- Diberikan untuk mengatasi
hipertensi akibat dari
- Kolaborasi pemberian obat kelebihan volume cairan.
diuretic ( furosemid/lasix ).

- Kolaborasi pemberian obat


antihipertensi
( catapres,metildopa, prazosin )

- Kolaborasi pemberian obat


antihipertensi ( catapres,
metildopa, prazosin ).

b. Perubahan eliminasi urin b/d obstruksi mekanik


Perencanaan Dan Implementasi Rasional
- Pantau masukan dan pengeluaran - Memberikan informasi tentang
serta karakteristik urin. fungsi ginjal dan adanya
komplikasi. Contoh infeksi
dan perdarahan.
- Dorong untuk meningkatkan - Kaji adanya keluhan nyeri
pemasukan cairan. kandung kemih: palpasi
adanya distensi suprapubik,
dan perhatikan penurunan
haluaran urin dan adanya
edema periorbital.

- Pantau hasil pemeriksaan - Peningkatan BUN dan


laboratorium : elektrolit, BUN, kreatinin serta elektrolit
kreatinin. menandakan disfungsi ginjal.
- Kolaborasi pemberian obat sesuai
dengan indikasi ( misalnya diamox, - Diamox dapat meningkatkan
HCT, kalium atau natrium fosfat, pH urin; HCT digunakan untuk
biknat, dan antibiotic. mencegah statis urin; K atau
Na fosfat untuk menurunkan
pembentukan batu fosfat;
biknat untuk mencegah
pembentukan batu kalkuli
akibat alkalinisasi urin; dan
antibiotic untuk mengobati
infeksi.
- Pasang atau pertahankan kateter - Memudahkan pemantauan
sesuai indikasi. akurat pengeluaran urin.
- Siapakan klien untuk prosedur - Supaya klien siap dan tidak
pemeriksaan endoskopi. cemas.

c. Retensi urine ( akut/kronik ) b/d obstruksi mekanik


Perencanaan dan implementasi Rasional
- Dorong klien untuk berkemih tiap - Meminimalkan retensi urine dan
2-4 jam dan saat ada keinginan. distensiberlebihan pada kandung
kemih.
- Observasi aliran urin perhatikan - Berguna untuk mengevaluasi
ukuran dan kekuatan. obstruksi dan pilihan intervensi.
- Anjurkan klien untukminum - Peningkatan cairan
sampai 300 ml sehari, jika masih mempertahankan perfusi ginjal
toleransi. serta kandung kemih dari
bakteri.
- Perkusi/palpasi area suprapubik. - Distensi kandung kemih dapat
dirasakan diarea suprapubik.
- Pantau tanda vital, edema, - Kehilangan fungsi ginjal
perubahan mental dan timbang mengakibatkan penurunan
berat badan tiap hari. eliminsi cairan dan akumulasi
sisa toksik.
- Berikan rendam duduk sesuai - Meningkatkan relaksasi
indikasi. otot,penurunan edema,dan dapat
meningkatkan upaya berkemih.
- Kateterisasi untuk residu urin dan - Menghilangkan / mencegah
pertahankan kateter sesuai retensi urin.

- indikasi. - Mempertahankan patensi aliran


- Irigasi kateter sesuai indikasi urine.

d. Nyeri akut b/d peningkatan frekuensi / dorongan kontraksi uretra


Perencanaan dan implementasi Rasional
- Kaji nyeri, perhatikan lokasi dan - Nyeri tajam, intermiten sekitar
intensitas nyeri. kateter menunjukkan spasme
kandung kemih.
- Berikan rasa nyaman ( sentuhan
terapiutik perubahan posisi, - Menurunkan tegangan otot,
pijatan/kompres hangat pada memfokuskan kembali
punggung) dan dorong perhatian, dan dapat
penggunaan tehnik relaksasi ( meningkatkan kemampuan
latihan nafas dalam, visualisasi koping.
atau imagery).

- Kolaborasi pemberian obat


analgetik, antispasmodic dan
kortokosteroid. - Menurunkan rasa nyeri akut
dan meningkatkan relaksasi
otot. Anti spasmodic dapat
menurunkan spasme otot.
Sedangkan kortikosteroid
dapat menurunkan edema
jaringan.

e. Kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan b/d


kurang terpajaan informasi, salah mengartikan informasi, tidak
mengenal sumber informasi.
Perencanaan dan implementasi Rasional
- Kaji tingkat pengetahuan klien - Memberikan dasar
tentang proses penyakit, prognosis pengetahuan dimana klien
dan pengobatan yang belum dapat membuat pilihan
diketahui. informasi.

- Diskusikan tentang proses penyakit,


prognosis dan pemeriksaan dan - Meningkatkan pengetahuan
pengobatan yang akan diberikan. klien tentang penyakitnya,
prognosis dan program
pengobatan.

4. Evaluasi Keperawatan
a. Haluaran urine tepat, dengan berat jenis ( hasil pemeriksaan laboratorium
) mendekati normal; berat badan stabil; tanda vital dalam batas normal;
tidak ada edema.
b. Buang air kecil dengan pola dan jumlah yang normal tanpa adanya
obstruksi
c. Buang air kecil yang cukup dan tak teraba adanya distensi kandung
kemih.
d. Rasa nyeri klien hilang atau berkurang atau terkontrol dengan
menunjukkan keterampilan relaksasi, tampak rileks dan istirahat/ tidur
dengan nyaman.
e. Klien menyatakan mengetahui proses penyakit, prognosis dan
pengobatan.

BAB III

PENUTUP

3.2 Simpulan
Striktur Uretra adalah penyempitan atau kontraksi dari lumen uretra akibat
adanya obstruksi. Striktur uretra adalah penyempitan akibat dari adanya
pembentukkan jaringan fibrotik (jaringan parut) pada uretra atau daerah uretra.
Striktur uretra adalah berkurangnya diameter atau elastisitas uretra yang
disebabkan oleh jaringan uretra di ganti jaringan ikat yang kemudian mengerut
menyebabkan jaringan lumen uretra mengecil.
Faktor – faktor yang mempengaruhi timbulnya masalah :
1. Infeksi
2. Trauma internal maupun eksternal pada uretra
3. Kelainan bawaan dari lahir

3.3 Kritik
Sebagai seorang perawat untuk menanggapi masalah tentang striktur
uretra, perawat harus mempunya skill dan kemampuan untuk mengatasi suatu
masalah yang terjadi pada striktur uretra. Dimana sebagai seorang perawat
berperan sebagai preventif, kuratif, rehabilitatif,promotif. Perawat dituntut untuk
menjadi perawat yang profesional dimana perawat dapat berpikir kritis dalam
mengatasi masalah yang terjadi dimana perawat dapat melakukan asuhan
keperawatan dengan baik. Perawat harus tanggap dalam menangani setiap
permasalahan yang terjadi. Perawat juga harus tau konsep-konsep dasar dan
sistem anatomi striktur uretra.