Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mikrologi adalah ilmu yang mempelajari tentang seluruh seluk-beluk
kehidupan jamur. Peranan jamur sudah sejak lama diketahui disegala aspek
kehidupan manusia antara lain di makanan, minuman, kesehatan, dan lain-
lain. Hingga saat ini ilmu tersebut telah memberi warna wawasan dan
cakrawala baru bagi kehidupan terutama dalam perkembangan bioteknologi
modern yang melibatkan ilmu mikologi.
Fungi atau cendawan adalah mikroorganisme heterotrofik, mereka
memerlukan senyawa organik untuk nutrisinya. Bila mereka hidup dari benda
organik mati yang terlarut, mereka disebut saprofit. Saprofit menghancurkan
sisa – sisa tumbuhan dan hewan yang kompleks, menguraikannya menjadi zat
– zat kimia yang lebih sederhana, yang kemudian dikembalikan ke dalam
tanah, dan selanjutnya meningkatkan kesuburannya. Jadi mereka dapat
menguntungkan bagi manusia. Sebaliknya mereka juga dapat merugikan kita
bilamana mereka membusukkan kayu, makanan, dan bahan – bahan lainnya.
Banyak kapang dan jamur ini digunakan dalam industri fermentasi, seperti
pembuatan asam-asam organik, pembuatan antibiotika, pembuatan alkohol
dan lain sebagainya. Beberapa kapang dan jamur yang digunakan untuk
memberi rasa bagi keju yang baik, pembuatan bir, minuman anggur, peragian
adonan, dan produksi antibiotika seperti penisilin.
Pada umumnya bahan–bahan yang berasal dari alam mudah untuk
ditumbuhi jamur atau cendawan, misalnya pada buah–buahan. Jamur atau
cendawan tersebut biasanya akan mengakibatkan rusaknya bahan-bahan
tersebut. Selain itu kapang atau jamur juga memiliki kerugian bagi manusia
apabila orang tersebut kurang memperhatika sanitasi serta kurang
menerapakn konsep hygiene sehingga seseorag aka mudah untuk terjangkit
oleh penyakit yang disebabkan oleh jamur seperti seperti kutu air panu dan
lain-lain
Dari uraian diatas maka dilakukan pembuatan makalah tentang kapang
untuk mengetahui nama genus dan spesies suatu biakan mikroorganisme,

3
sehingganya pada makalah ii akan dibahas mengenai identifiksi makro mikro
kapang, ciri – ciri morfologi jamur.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu
1. Bagaimana Pengertian Kapang Dan Khamir?
2. Bagaimana Ciri-Ciri Dan Morfologi Kapang Dan Khamir?
3. Penyakit Apa Saja Yang Disebabkan Oleh Kapang dan Khamir?
C. Tujuan
Adapun tujuan dalam makalah ini yaitu
1. Untuk Mengetahui Pengertian Kapang dan Khamir
2. Untuk Mengetahui Ciri-Ciri Dan Morfologi Kapang dan Khamir
3. Untuk Mengetahui Penyakit Apa Saja Yang Disebabkan Oleh Kapang dan
Khamir

3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Kapang
Kapang adalah fungi multiseluler yang mempunyai filamen, dan
pertumbuhannya pada makanan mudah dilihat karena penampakannya yang
berserabut seperti kapas. Pertumbuhannya mula-mula akan berwarna putih,
tetapi jika spora telah timbul akan terbentuk berbagai warna tergantung dari
jenis kapang. Kapang terdiri dari suatu thallus (jamak=thalli) yang tersusun
dari filamen yang bercabang yang disebut hifa (tunggal=hypha, jamak=
hyphae). Kumpulan dari hifa disebut miselium ( tunggal = mycelium, Jamak=
mycelia) (Kudit, 2014).
Tubuh atau talus kapang pada dasarnya terdiri dari 2 bagian yaitu
miselium dan spora (sel resisten, istirahat atau dorman).Miselium merupakan
kumpulan beberapa filamen yang dinamakan hifa.Setiap hifa lebarnya 5-10
μm, dibandingkan dengan sel bakteri yang biasanya berdiameter 1μm.
Disepanjang setiap hifa terdapat sitoplasma bersama (Kudit, 2014).
Menurut fungsinya ada dua macam hifa, yaitu hifa fertil dan hifa
vegetatif.Hifa fertil dapat membentuk sel-sel reproduktif atau badan buah
(spora).Biasanya arah pertumbuhannya ke atas sebagai hifa udara.Hifa
vegetatif berfungsi mencari makanan ke dalam substrat. Sedangkan menurut
morfologinya, ada 3 macam hifa: (1) Aseptat atau senosit, hifa seperti ini
tidak mempunyai dinding sekat atau septum; (2) Septat dengan sel-sel
uninukleat, sekat membagi hifa menjadi ruang-ruang atau sel-sel berisi
nucleus tunggal, pada setiap septum terdapat pori ditengah-tengah yang
memungkinkan perpindahan nucleus dan sitoplasma dari satu ruang keruang
yang lain, setiap ruang suatu hifa yang bersekat tidak terbatasi oleh suatu
membrane sebagaimana halnya pada sel yang khas, setiap ruang itu biasanya
dinamakan sel; (3) Septat dengan sel-sel multinukleat, septum membagi hifa
menjadi sel-sel dengan lebih dari satu nukleus dalam setiap ruang. (Syamsuri
2004).
Kapang melakukan reproduksi dan penyebaran menggunakan spora.Spora
kapang terdiri dari dua jenis, yaitu spora seksual dan spora aseksual.Spora

3
aseksual dihasilkan lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak
dibandingkan spora seksual.Spora aseksual memiliki ukuran yang kecil
(diameter 1-10 μm) dan ringan, sehingga penyebarannya umumnya secara
pasif menggunakan aliran udara. Apabila spora tersebut terhirup oleh manusia
dalam jumlah tertentu akan mengakibatkan gangguan kesehatan (Syamsuri,
2004).
B. MORFOLOGI KAPANG

MORFOLOGI KAPAN

Gambar b.1 Morfologi kapang


Klasifikasi Kapang
Kingdom : Fungi
Filum : Ascomycota
Sub : Pezizomycotina
Kelas : Dothideomycetes
Order : Pleosporales
Genus : Alternaria
Spesies : Alternaria sp
Tubuh atau talus suatu kapang pada dasarnya terdiri dari dua bagian :
miselium dan spora (sel resisten,istirahat atau dorman). Miselium merupakan
kumpulan beberapa filamen yang dinamakan hifa. Setiap hifa lebarnya 5
sampai 10 μm, dibandingkan dengan sel bakteri yang biasanya berdiameter 1
μm. Di sepanjang setiap hifa terdapat sitoplasma bersama. Ada tiga macam
morfologi hifa (Kudit, 2014):

3
1. Aseptat atau senosit. Hifa seperti ini tidak mempunyai dinding sekat atau
septum
2. Septat dengan sel-sel uninukleat. Sekat membagi hifa menjadi ruang-ruang
atau sel-sel berisi nukleus dan sitoplasma dari satu ruang ke ruang yang
lain. Sungguhpun setiap ruang suatu hifa yang bersekat tidak terbatasi oleh
suatu membran sebagaimana halnya pada sel yang khas, setiap ruang itu
biasanya dinamakan sel.
3. Septat dengan sel-sel multinukleat. Septum membagi hifa menjadi sel-sel
dengan lebih dari satu nukleus dalam setiap ruang.
Miselium dan vegetatif (somatik) atau reproduktif. Beberapa hifa dari
meselium somatik menembus ke dlm medium untuk mendapatkan zat
makanan. Miselium reproduksi bertanggung jawab untuk pembentukan spora
dan biasanya tumbuh meluas ke udara dari medium. Miselium suatu kapang
dapat merupakan jaringan untuk terjalin lepas atau dapat merupakan struktur
padat yang teorganisasi seperti pada jamur (Fardiaz,s. 1989)
Sifat-sifat kapang baik penampakan makroskopik ataupun mikroskopik
digunakan untuk identifikasi dan klasifikasi kapang. Kapang dapat dibedakan
menjadi dua kelompok berdasarkan struktur hifa yaitu hifa tidak bersekat atau
nonseptat dan hifa bersekat atau septat yang membagi hifa dalam ruangan-
ruangan, dimana setiap ruangan mempunyai satu atau lebih inti sel (nukleus).
Dinding penyekat yang disebut septum tidak tertutup rapat sehingga
sitoplasma masih bebas bergerak dari suatu ruangan ke ruangan lainnya.
C. IDENTIFIKASI KAPANG (Waluyo, L. 2007)
Identifikasi kapang biasanya dilakukan dengan melihat morfologi terutama
secara mikroskopik.
Sifat-sifat yang digunakan untuk identifikasi kapang adalah :
1. Hifa berseptat atau non septet
2. Miselium terang atau keruh
3. Miselium berwarna atau tidak berwarna
4. Memproduksi atau tidak memproduksi spora seksual dan jenis sporanya
yaitu oospora, zigospora atau askospora
5. jenis spora seksual : sporangiospora, konidia atau arhospora (oidia)

3
6. Ciri kepala pembawa spora :
a. Sporangium : ukuran, warna, bentuk dan lokasi
b. Kepala spora pembawa konidia : tunggal, berantai, pertunasan atau
kumpulan (massa), bentuk dan rangkaian sterigmata atau fialides.
7. Penampakan sporangiofora atau konidiofora: sederhana atau bercabang,
jika bercabang bentuk percabangan, ukuran dan bentuk kolumela pada
ujung sporangiofora, konidiofora tunggal atau bergerombol.
8. Penampakan mikroskopik spora aseksual, terutama konidia : bentuk,
ukuran, warna, halus atau kasar, satu, dua atau banyak sel.
9. Adanya struktur atau spora spesifik : stolon, rhizoid, “foot cell”(sel kaki),
D. Ciri-Ciri Kapang
Kapang adalah mikroorganisme yang termasuk dalam anggota Kingdom
Fungi yang membentuk hifa. Kapang bukan merupakan kelompok taksonomi
yang resmi, sehingga anggota-anggota dari kapang tersebar ke dalam filum
Glomeromycota, Ascomycota, dan Basidiomycota. Kapang adalah fungi
multiseluler yang mempunyai filamen dan pertumbuhannya pada makanan
mudah dilihat karena penampakannya yang berserabut seperti kapas.
Pertumbuhannya mula-mula akan berwarna putih, tetapi jika spora telah
timbul akan terbentuk berbagai warna tergantung dari jenis kapang (Ali,
2005).
Adapun ciri-ciri dari kapang dalah sebagai berikut :
1. Bersifat multiseluler
2. Mempunyai hifa
3. Fungi yang bersel banyak tubuhnya tersusun dari benang-benang yang
disebut hifa
4. Bersifat eukarion (mempunyai inti yang sejati
5. Berkembang biak secara vegetatif dan generatif
6. Mempunyai inti sel
Hifa pada kapang terbagi menjadi hifa yang bersekat atau berseptat dan
yang tidak bersekat atau nonseptat. Septat inilah yang membagi hifa dalam
ruangan-ruangan dimana setiap ruangan mempunyai satu atau lebih inti sel.
Dinding penyekat yang disebut septum tidak tertutup rapat sehingga

3
sitoplasma masih bebas bergerak dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Hifa
septat ada yang disebut dengan hifa septat dengan sel uninukleat yaitu hifa
yang bersekat dimana di setiap sekatnya mempunyai satu inti sel ; selain itu
ada juga hifa septat dengan sel multinukleat yaitu hifa yang bersekat dimana
setiap sekatnya terdiri dari banyak inti sel.Selain dibedakan berdasarkan ada
atau tidaknya sekat, hifa juga dibedakan atas dua macam yaitu hifa vegetatif
atau hifa tumbuh; dan hifa fertil yang membentuk bagian reproduksi. Pada
kebanyakan kapang, hifa fertil tumbuh di atas permukaan. Penyerapan nutrien
terjadi pada permukaan miselium. Spora aseksual yaitu (Ali, 2005):
1. Konidiospora atau konidia, yaitu spora yang dibentuk di ujung atau di sisi
suatu hifa. Konidia kecil dan bersel satu disebut disebut mikrokonidia.
Sedangkan konidia besar dan banyak disebut makrokonidia.
2. Sporangiospora. Spora bersel satu, terbentuk di dalam kantung spora yang
disebut sporangium di ujung hifa khusus yang disebut sporangiofora.
3. Oidium atau arthrospora, spora bersel satu ini terjadi karena segmentasi
pada ujung-ujung hifa. Sel-sel tersebut selanjutnya membulat dan
akhirnya melepaskan diri sebagai spora.
4. Klamidospora, spora ini berdinding tebal, dan sangat resisten terhadap
keadaan yang buruk yang terbentuk pada sel-sel hifa vegetatif.
5. Blastospora, terbentuk dari tunas pada miselium yang kemudian tumbuh
menjadi spora. Juga terjadi pada pertunasan sel-sel khamir. (Ali, 2005).
Perkembangbiakan secara generatif atau seksual dilakukan dengan
isogamet atau heterogamet. Pada beberapa spesies perbedaan morfologi
antara jenis kelamin belum nampak sehingga semua disebut isogamet. Tapi
pada beberapa spesies mempunyai perbedaan gamet besar dan kecil sehingga
disebut mikrogamet (sel kelamin jantan) dan makrogamet (sel kelamin
betina). Spora seksual yaitu: Askospora. Spora bersel satu terbentuk di dalam
kantung yang disebut dengan askus. Biasanya terdapat 8 askospora di dalam
setiap askus. Basidiospora. Spora bersel satu terbentuk gada yang dinamakan
basidium.Zigospora. Spora besar dan berdinding tebal yang terbentuk apabila
ujung-ujung dua hifa yang secara seksual serasi dinamakan gametangia.
Oospora. Spora terbentuk di dalam struktur betina khusus yang disebut

3
oogonium. Pembuahan telur atau oosfer oleh gamet jantan di anteridium
menghasilkan oospora (Ali, 2005).
E. Penyakit Yang Disebabkan Oleh Kapang
Pada umumnya kapang yang tumbuh pada makanan yang diolah dengan
panas tidak menyebabkan penyakit pada manusia. Spora kapang ini tahan
terhadap pemanasan selama 1 menit pada 920C dalam kondisi asam atau pada
makanan yang diasamkan. Akan tetapi untuk mencapai konsistensi yang
seperti ini, kapang tersebut memerlukan waktu untuk membentuk spora,
sehingga sanitasi sehari-hari terhadap peralatan sangat penting untuk
mencegah pertumbuhan kapang ini dan pembentukan sporanya (Ading,
2012).
Selain itu spora kapang juga dapat menyebabkan penyakit pada manusia.
Gangguan kesehatan yang diakibatkan spora kapang terutama akan
menyerang saluran pernapasan. Asma, alergi rinitis, dan sinusitis merupakan
gangguan kesehatan yang paling umum dijumpai sebagai hasil kerja sistem
imun tubuh yang menyerang spora yang terhirup. Penyakit lain adalah infeksi
kapang pada saluran pernapasan atau disebut mikosis. Salah satu penyakit
mikosis yang umum adalah Aspergillosis, yaitu tumbuhnya kapang dari
genus Aspergillus pada saluran pernapasan. Selain genus Aspergillus,
beberapa spesies dari genus Curvularia dan Penicillium juga dapat
menginfeksi saluran pernapasan dan menunjukkan gejala mirip seperti
Aspergillosis (Ading, 2012).
F. Defiinisi Khamir Atau Ragi
Khamir adalah fungi bersel satu yang mikroskopik, beberapa genara
adalah yang membentuk miselium dengan percabangan. Khamir hidupnya
sebagai sporofit dan ada beberapa yang parasitik. Penyebaran khamir luas
dialam, tetapi tidak seluas daerah penyebaran bakteri. Pada umumnya khamir
terdapat dipermukaan buah-buahan, didalam debu, ditanah-tanah perkebunan
buah-buahan, daun dari beberapa tanaman, dipermukaan dan didalam tubuh
serangga, didalam cairan yang mengandung gula misalnya cairan buah, madu,
sirup, dan lain – lain. (Syamsuri, 2004)

3
Khamir atau disebut yeast, merupakan jamur bersel satu yang
mikroskopik, tidak berflagela. Beberapa genera membentuk filamen
(pseudomiselium). Cara hidupnya sebagai saprofit dan parasit. Hidup di
dalam tanah atau debu di udara, tanah, daun-daun, nektar bunga, permukaan
buah-buahan, di tubuh serangga, dan cairan yang mengandung gula seperti
sirup, madu dan lain-lain. Khamir berbentuk bulat (speroid), elips, batang
atau silindris, seperti buah jeruk, sosis, dan lain-lain. Bentuknya yang tetap
dapat digunakan untuk identifikasi. Khamir dapat dimasukkan ke dalam klas
Ascomycetes, Basidiomycetes dan Deuteromycetes (Syamsuri, 2004)
G. Morfologi Khamir

Gambar f.1 morfologi khamir


Klasifikasi khamir
Kerajaan : Jamur
Filum : Ascomycota
Kelas : Saccharomycetes
Orde : Saccharomycetales
Family : Saccharomycetaceae
Genus : Saccharomyces
Spesies :Saccharomyces cerevisiae
H. Ciri –Ciri Khamir
Khamir mempunyai ukuran yang bervariasi dengan panjang 1-5 µm
sampai 20-50 µm, dan lebar 1-10 µm. Sel khamir mempunyai bentuk yang

3
bermacam-macam seperti bulat, oval, silinder, ogival yaitu bulat. Bentuk-
bentuk dari sel khamir tersebut dapat membantu dalam indentifikasi dari
khamir. Ada beberapa khamir dalam keadaan tertentu dapat mengalami
dimorfisme yaitu fase khamir, bentuk sel tunggal dan filamen, bentuk benang
(Pelczar, 2007).
Ukuran sel khamir berkisar antara 1-9 mikron kali 2-20 mikron, tergantung
spesiesnya. Khamir tidak mempunyai flagella sehingga tidak dapat
melakukan gerakan aktif. (Natsir, 2008)Kamir dapat melakukan reproduksi
atau perkembangbiakan dengan beberapa cara yaitu (Syamsuri, 2004) :
1. Pertunasan
2. Pembelahan
3. Pembelan tunas, yaitu kombinasi antara pertunasan dan pembelahan
4. Sporulasi atau pembetukan spora yang dapat dibedakan atas 2
macam yaitu : spora aseksual, spora seksual
5. Perkembang biakan sel khamir. Perkembang biakan sel khamir dapat
terjadi secara vegetatif maupun secara generatif (seksual). Secara vegetatif
(aseksual), (a) dengan cara bertunas (Candida sp., dan khamir pada
umumnya), (b) pembelahan sel (Schizosaccharomyces sp.), dan (c)
membentuk spora aseksual (klas Ascomycetes). Secara generatif dengan
cara konyugasi (reproduksi seksual). Konyugasi khamir ada 3 macam,
yaitu (a) konyugasi isogami ( Schizosaccharomyces octosporus), (b)
konyugasi heterogami (Zygosaccharomyces priorianus), dan konyugasi
askospora pada Zygosaccharomyces sp. dan Schizosaccharomyces sp. (sel
vegetatif haploid), serta pada Saccharomyces sp., dan Saccharomycodes
sp. (sel vegetatif diploid)
I. Penyakit Akibat Khamir
1. Kandidiasis adalah penyakit jamur yang bersifat akut atau subakut
disebabkan oleh spesies Candida, biasanya oleh Candida albicans dan
dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronki, atau paru, kadang-
kadang dapat menyebabkan septikemia, endokarditis, atau meningitis.
Berdasarkan tempat yang terkena, kandidiasis dibagi sebagai berikut
(Dona, 2015):

3
a. Kandidosis selaput lendir :
1. Kandidosis oral (thrush)
2. Perleche
3. Vulvovaginitis
4. Balanitis atau balanopostitis
5. Kandidosis mukokutan kronik
6. Kandidosis bronkopulmonar dan paru
b. Kandidosis kutis :
1. Lokalisata dibagi berdasarka area yaitu daerah intertriginosa.
daerah perianal
2. Generalisata
3. Paronikia dan onikomikosis
4. Kandidiasis kutis granulomatosa.
c. Kandidosis sistemik :
1. Endokarditis
2. Meningitis
3. Pielonefritis
4. Septikemia
2. Kriptokokus (Cryptococcus) adalah suatu genus fungi. Kriptokokus
tumbuh di biakan sebagai khamir. Bentuk sempurna (seksual) atau
teleomorph disebut Filobasidiella, tetapi bentuk tidak sempurna (aseksual)
atau anamorph disebut Cryptococcus. Nama Cryptococcus tidak benar
ketika digunakan pada konteks medis karena bentuk tidak efektif adalah
bentuk tidak sempurna. Cryptococcus neoformans adalah spesies yang
paling penting secara medis. Cryoptococcus neoformans diketahui
menyebabkan beberapa bentuk meningitis dan meningo-ensefalitis pada
orang yang terinfeksi HIV dan AIDS. Terdapat sekitar 37 spesies
Cryptococcus. Cryptococcosis merupakan suatu penyakit yang disebabkan
oleh infeksi dari jamur Cryptococcus. Terdapat 2 spesies, Cryptococcus
neoformans dan Cryptococcus gattii, yang bersifat patogenik pada manusia
dan dapat menyebabkan cryptococcosis pada manusia (Dona, 2015).

3
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang diperoleh dari makalah ini yaitu
1. Kapang merupakan fungi multiseluler yang mempunyai filamen
sedangkan khamir yaitu fungi bersel satu yang mikroskopik.
2. Ciri-ciri dan morfologi Kapang yaitu Bersifat multiseluler mempunyai
hifa, bersifat eukarion, berkembang biak secara vegetatif dan generative,
mempunyai inti sel dan Khamir memiliki panjang 1-5 µm sampai 20-50
µm, dan lebar 1-10 µm. Sel khamir mempunyai bentuk yang bermacam-
macam seperti bulat, oval, silinder, ogival yaitu bulat
3. Penyakit yang Disebabkan Oleh Kapang yaitu penyakit mikosis yaitu
tumbuhnya kapang dari genus Aspergillus pada saluran pernapasan.
Sedangkan Khamir dapant menyebabkan penyakit Candidian Candida
albican.
B. Saran
Sebaiknya dilakukan pembahasan lebih lanjut mengenai kapang dan
khamir secara mikroskopis.

3
DAFTAR PUSTAKA
Ading, 2012. Kapang. http://adingpintar.files.wordpress.com/2012/04/kapang.
pdf. Diakses Taggal 25 September 2018

Ali, A. 2005. Mikrobiologi Dasar Jilid 1. State University of Makassar Press.


Makassar

Dona A. M. 2015. Penyakit Infeksius Yang Disebabkan Oleh Khamir.Fakultas


Kedokteran Hewan :Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

Fardiaz,s. 1989.Mikrobiologi Pangan. IPB: PAU Pangan dan Gizi. Bogor

Kudit, K. 2014. Kapang dan Khamir http://kunilkudit.blogspot.com/2014/03/


kapang-dan-khamir.html. Diakses Taggal 25 September 2018

Pelczar, 2007. Dasar-dasar Mikrobiologi. UIP: Bandung

Syamsuri, Istamar. 2004. Biologi. Erlangga :Jakarta.

Waluyo, L. 2007.Mikrobiologi Umum. UMM Press. Malang

3
MAKALAH
MIKOLOGI
KAPANG DAN KHAMIR

DISUSUN
OLEH

NAMA : RADA DEWI


NPM : 85AK16023

PROGRAM STUDY D-III ANALIS KESEHATAN


STIKES BINA MANDIRI GORONTALO
2018

3
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA
sehingga laporan ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari berbagai pihak yang telah
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikiran.
Dan harapan kami semoga laporan ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi laporan agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin
masih banyak kekurangan dalam dalam laporan ini. Oleh karena itu kami sangat
sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca
demi kesempurnaan makalah Mikologi tentang pemeriksaan Kapang dan Khamir.

Gorontalo, September 2018

Penulis

3
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................... i
DAFTAR ISI ............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1
A. Latar Belakang ........................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................... 2
C. Tujuan ........................................................................................ 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................... 3
A. Denisi Kapang ............................................................................ 3
B. Morfologi Kapang ...................................................................... 4
C. Identifikasi kapang .................................................................... 5
D. Ciri-ciri kapang .......................................................................... 6
E. Penyakit yang Sisebabkan Oleh Kapang .................................... 8
F. Defenisi Khamir ......................................................................... 8
G. Morfologi Khamir ...................................................................... 9
H. Ciri-ciri Khamir .......................................................................... 9
I. Penyakit Akibat Khamir ............................................................. 10
BAB III PENUTUP ................................................................................... 12
A.Kesimpulan ................................................................................ 12
B.Saran ............................................................................................ 12
DAFTAR PUSTAKA