Anda di halaman 1dari 25

ASUHAN KEPERAWATAN SISTEM INTEGUMEN

PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT VARICELLA

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 2
AYU WULANDARI
M. ARIF AL-AMIN
M. RASYID RIDHA
RAHMATULLAH
RISA AMELIA
SINTYA PERMATA DEVI
WENNY WIDYASARI

PROGRAM STUDI S-1 ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
CAHAYA BANGSA BANJARMASIN
TAHUN 2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan karunia-Nya
jualah kami dapat menyelesaikan makalah tepat pada waktunya. Makalah ini
berjudul “Asuhan Keperawatan Sistem Integumen Pada Pasien Dengan Penyakit
Varicella” Makalah ini disusun guna memenuhi persyaratan untuk menyelesaikan
tugas Mata Kuliah Sistem Integumen
Pada kesempatan ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang
sedalam-dalamnya kepada :
Bapak DR. Drs. Akhmad Murjani, M.Kes.,SH.,MH selaku Ketua Yayasan
Cahaya Bangsa Banjarmasin.
1. Ibu Dra. Hj. Sri Erliani, MM.,M.MKes selaku Ketua STIKES Cahaya Bangsa
Banjarmasin.
2. Bapak Doni Wibowo, S.Kep.,Ns.,M.Kep selaku Ketua Program Studi Ilmu
Keperawatan STIKES Cahaya Bangsa Banjarmasin.
3. Bapak Fadhil Al Mahdi, S.Kep.,Ns.,M.Mkes dan Ibu Agustina Lestari,
S.Kep.,Ns selaku Dosen Mata Kuliah Sistem Integumen
Akhirnya kami mengharapkan semoga makalah ini dapat memberi
manfaat bagi dunia kesehatan dan masyarakat umumnya.

Banjarmasin, 29 September 2018

Kelompok 2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Varicella adalah penyakit infeksi virus akut dan cepat menular, yang disertai
gejala konstitusi dengan kelainan kulit yang polimorf, terutama berlokasi dibagian
sentral tubuh. (Prof. Dr. Maswali Harahap, 2000:94).
Varicella pada umumnya menyerang anak-anak; di negara-negara bermusim 4,
90% kasus Varicella tejadi sebelum usia 15 tahun. Pada anak-anak, pada
umumnya penyakit ini tidak begitu berat. Namun, di negara-negara tropis, seperti
di Indonesia, lebih banyak remaja dan orang dewasa yang terserang varicella. 50%
kasus varicella terjadi di atas usia 15 tahun. Dengan demikian semakin
bertambahnya usia pada remaja dan dewasa, gejala varicella semakin bertambah
berat.

B. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui konsep dasar dan teori penyakit varicella.
Untuk mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan untuk penyakit varicella.

C. Manfaat
Agar lebih mengetahui tentang penyakit varicella.
Agar terhindar dari bahayanya penyakit varicella.
Agar meningkatkan pengetahuan asuhan keperawatan varicella bagi perawat.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Anatomi Kulit
Kulit adalah lapisan jaringan yang terdapat pada bagian luar menutupi dan
melindungi permukaan tubuh, berhubungan dengan selaput lendir yang melapisi
rongga-rongga, lubang-lubang masuk. Pada permukaan kulit bermuara kelenjar
keringat dan kelenjar mukosa. Kulit tersusun dari 3 lapisan, yaitu epidermis,
dermis, dan jaringan sub-kutan. Setiap lapisan akan semakin berdiferensiasi
(menjadi masak dan memiliki fungsi yang lebih spesifik) ketika tumbuh dari
lapisan stratum germinativum basalis ke lapisan stratum korneum yang letaknya
paling luar.
Epidermis
Ada dua jenis sel yang lazimnya terdapat dalam epidermis, yaitu sel-sel Merkel
dan Langerhans. Fungsi sel Merkel belum dipahami dengan jelas, tetapi
diperkirakan berperanan dalam lintasan neuroendokrin epidermis. Sel Langerhans
diyakini mempunyai peranan yang signifikan dalam respons antigen-antigen
kutaneus.
Epidermis mengalami modifikasi pada berbagai daerah tubuh yang berbeda.
Lapisan ini paling tebal pada daerah telapak tangan serta kaki, dan mengandung
keratin dalam jumlah yang lebih besar. Ketebalan epidermis dapat meningkat jika
bagian tersebut banyak digunakan dan bisa mengakibatkan pembentukan kalus
pada tangan atau klavus (corns) pada kaki.Epidermis terdiri dari beberapa lapisan
sel, yaitu:
Stratum Korneum. Selnya sudah mati, tidak mempunyai inti sel, inti selnya sudah
mati, dan mengandung zat keratin. Keratin merupakan protein fibrosus insolubel
yang membentuk barrier paling luar kulit dan memliki kemampuan untuk
mengusir mikroorganisme patogen serta mencegah kehilangan cairan yang
berlebihan dari tubuh. Keratin merupakan unsur utama yang mengeraskan rambut
dan kuku.
Stratum Lusidum. Selnya pipih, bedanya dengan stratum granulosum ialah sel-sel
sudah banyak yang kehilangan inti dan butir-butir sel telah menjadi jernih sekali
dan tembus sinar. Lapisan ini hanya terdapat pada telapak tangan dan telapak
kaki. Dalam lapisan terlihat seperti suatu pita yang bening dan batas-batas sel
sudah tidak begitu terlihat.
Stratum Granulosum. Stratum ini terdiri dari sel-sel pipih seperti kumparan, sel-
sel tersebut terdapat hanya 2-3 lapis yang sejajar dengan permukaan kulit. Dalam
sitoplasma, terdapat butir-butir yang disebut keratohialin yang merupakan fase
dalam pembentukan keratin oleh karena banyaknya butir-butir stratum
granulosum.
Stratum Spinosum / Stratum Akantosum. Lapisan ini merupakan lapisan yang
paling tebal da daat mencapai 0,2 mm terdiri dari 5-8 lapisan. Sel-selnya disebut
spinosum karena jika kita lihat di bawa mikroskop bahwa sel-selnya terdiri dari
sel yang bentuknya poligonal/banyaknya sudut dan mempunyai tanduk (spina).
Disebut akantosum karena sel-selnya berduri. Ternyata spina atau tanduk tersebut
ada hubungan antara sel yang lain yang disebut intercelulair bridges atau jembatan
inter seluler.
Stratum Basal / Stratum Germinativum. Disebut stratum basal karena sel-selnya
terletak di bagian basal/ basis, stratum germinativum menggantikan sel-sel yang
diatasnya dan merupakan sel-sel induk. Bentuknya silindris (tabung) dengan inti
yang lonjong. Di dalamnya terdapat butir-butir yang halus disebut butir melanin
warna. Sel tersebut disusun seperti pagar (palisade) dibagian bawah sel tersebut
terdapat suatu membran yang disebut membran basalis, sel-sel basalis dengan
membran basalis merupakan batas terbawah dari pada epidermis dengan dermis.
Ternyata batas ini tidak datar tapi bergelombang, pada waktu korium menonjol
pada epidermis tonjolan ini disebut papila kori (papila kulit). Dipihak lain
epidermis menonjol ke arah korium, tonjolan ini disebut Rete Ridges atau rete
pegg = Prosesus inter papilaris.
2. Dermis
Dermis merupakan lapisan kedua dari kulit, batas dengan epidermis dilapisi oleh
membran basalis dan disebelah bawah berbatasan dengan subkutan tapi batas ini
tidak jelas, hanya kita ambil sebagai patokan ialah mulainya terdapat sel lemak.
Dermis terdiri dari 2 lapisan:
Bagian atas: Pars Papilaris (stratum papilar), berada langsung di bawah epidermis
dan tersusun terutama dari sel-sel fibroblast yang dapat menghasilkan salah satu
bentuk kolagen, yaitu suatu komponen dari jaringan ikat.
Bagian bawah: Retikularis (stratum retikularis), terletak di bawah lapisan papilaris
dan juga memproduksi kolagen serta berkas-berkas serabut elastik.Dermis juga
tersusun dari pembuluh darah serta limfe, serabut saraf, kelenjar keringat serta
sebasea dan akar rambut. Dermis sering disebut sebagai ”kulit sejati”.
3. Hypodermis (Jaringan Subkutan)
Ini merupakan lapisan kulit yang paling dalam. Lapisan ini terutama berupa
jaringan adiposa yang memberikan bantalan antara lapisan kulit dan struktur
internal seperti otot dan tulang. Jaringan ini memungkinkan mobolitas kulit,
perubahan kontur tubuh, dan penyekatan panas tubuh. Lemak atau gajih akan
bertumpuk dan tersebar meurut jenis kelamin seseorang dan secara parsial
menyebabkan bentuk tubuh laki-laki dan perempuan berbeda. Makan yang
berlebihan akan meningkatkan penimbunan lemak di bawah kulit.
Jaringan subkutan dan jumlah lemak yang tertimbun merupakan faktor penting
dalam pengaturan suhu tubuh. Subkutan terdiri dari kumpulan-kumpulan sel
lemak dan diantar gerombolan ini berjalan serabut-serabut jaringan ikat dermis.
Sel-sel lemak ini bentuknya bulat dengan intinya terdesak ke pinggir sehingga
membentuk seperti cincin. Lapisan lemak ini disebut penikuus adiposus yang
tebalnya tidak sama pada tiap-tiap tempat dan juga pembagian antara laki-laki dan
perempuan tidak sama. Guna penikulus adiposus adalah sebagai shok breker,
yaitu pegas / bila tekanan trauma mekanis yang menimpa pada kulit, isolator
panas atau untuk mempertahankan suhu tubh, penimbunan kalori, dan tambahan
untuk kecantikan tubuh.
A. Fisiologi Kulit
Kulit mempunyai banyak fungsi. Bahan lemak yang bisa larut dapat menembus
kulit melalui folikel rambut dan kelenjar sebasea. Kulit yang atropi atau senil
mengandung lebih sedikit folikel rambut, jadi permeabilitas bahan lemak yang
bisa larut melalui kulit berkurang pada saat sudah lanjut usia. Secara umum,
fungsi kulit adalah sebagai berikut:
Perlindungan
Kulit yang menutupi sebagaian besar tubuh memiliki ketebalan sekitar 1 atau 2
mm saja, padahal kulit memberikan perlindungna yang sangat efektif terhadap
invasi bakteri dan benda asing lainnya. Kulit telapak tangan dan kaki yang
menebal memberikan perlindungan terhadap pengaruh trauma yang terus-menerus
terjadi di daerah tersebut.
Sensibilitas
Ujung-ujung reseptor serabut pada kulit memungkinkan tubuh untuk memantau
secara terus-menerus keadaan lingkungan di sekitarnya. Fungsi utama reseptor
pada kulit adalah untuk mengindera suhu, rasa nyeri, sentuhan dan tekanan (atau
sentuhan yang berat). Berbagai ujung saraf bertanggung jawab untuk bereaksi
terhadap setiap stimuli yang berbeda. Meskipun tersebar diseluruh tubuh, ujung-
ujung saraf lebih terkonsentrasi pada sebagian daerah dibandingkan bagian
lainnya. Sebagai contoh, ujung-ujung jari tangan jauh lebih terinervasi ketimbang
kulit pada bagian punggung tangan.
Keseimbangan Air
Stratum korneum memiliki kemampuan untuk menyerap air dan dengan demikian
akan mencegah hilangnya air dan elektrolit yang berlebihan dari bagian internal
tubuh dan mempertahankan kelembaban dalam jaringan subkutan. Bila kulit
mengalami kerusakan, misalnya pada luka bakar, cairan dan elektrolit dalam
jumlah besar dalam hilang dengan cepat sehingga bisa terjadi kolaps sirkulasi,
syok, serta kemati
Pengaturan Suhu
Tubuh secara terus-menerus akan menghasilkan panas sebagai hasil metabolisme
makanan yang memproduksi energi. Panas ini akan hilang terutama lewat kulit.
Tiga proses fisik yang penting terlibat dalam kehilangan panas dari tubuh ke
lingkungan. Proses pertama, yaitu radiasi, merupakan pemindahan panas ke benda
lain yang suhunya lebih rendah dan berada pada suatu jarak tertentu. Proses
kedua, yaitu konduksi, merupakan pemindahan panas dari tubuh ke benda lain
yang lebih dingin yang bersentuhan dengan tubuh. Panas yang dipindahkan lewat
konduksi ke udara yang melingkupi tubuh akan dihilangkan melalui proses ketiga,
yaitu konveksi, yang terdiri atas pergerakan massa molekul udara hangat yang
meninggalkan tubuh.
Pengeluaran keringat merupakan proses lannya yang digunakan tubuh untuk
mengatur laju kehilangan panas. Pengeluaran keringat tidak akan tejadi sebelum
suhu internal tubuh melampaui 37 derajat Celcius tanpa tergantung pada suhu
kulit. Pada hawa lingkungan yang sangat panas, laju produksi keringat dapat
setinggi 1L/jam. Dalam keadaan tertentu,misalnya pada stres emosional,
pengeluaran keringat dapat terjadi secara refleks dan tidak ada hubungannya
dengan keharusan untuk menghilangkan panas dari tubuh.
Produksi Vitamin
Kulit yang terpajan sinar ultraviolet dapat mengubah substansi yang diperlukan
untuk mensintesis vitamin D. Vitamin D merupakan unsur esensial untuk
mencegah penyakit riketsia, suatu keadaan yang terjadi akibat defisiensi vitamin
D, kalsium serta fosfor dan yang menyebabkan deformita tulang.
Fungsi Respon Imun
Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa sel dermal merupakan
komponen penting dalam sistem imun. Penelitian yang masih berlangsung harus
mendefinisikan lebih jelas peranan sel-sel dermal ini dalam fungsi imun.

B. Konsep Dasar Penyakit


Definisi Varisela
Varisela berasal dari bahasa latin, Varicella. Penyakit varisela di Indonesia
dikenal dengan istilah cacar air, sedangkan diluar negeri terkenal dengan
nama Chicken-pox.
Varisela adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh virus Varicella
zoster, ditandai dengan erupsi yang khas pada kulit.
Varisela atau cacar air merupakan penyakit yang sangat menular, dengan gejala-
gejala demam dan timbul bintik-bintik merah yang kemudian mengandung cairan.
Varisela adalah penyakit infeksi virus akut dan cepat menular, yang disertai gejala
konstitusi dengan kelainan kulit yang polimorf, terutama berlokasi di bagian
sentral tubuh. (Prof. Dr. Maswali Harahap, 2000 : 94)
Varisela merupakan penyakit akut menular yang ditandai oleh vesikel di kulit dan
selaput lendir yang disebabkan oleh virus varisella. Varisela adalah infeksi akut
prime yang menyerang kulit dan mukosa secara klinis terdapat gejala konstitusi,
kelainan kulit polimorfi terutama berlokasi di bagian sentral tubuh, disebut juga
cacar air, chicken pox (Kapita Selekta, 2000).
Etiologi
Virus Varicella zoster, termasuk family herpes virus. Menurut Richar .E, varisela
disebabkan oleh herpes virus varicella-zoster (virus V-Z). Virus tersebut dapat
pula menyebabkan herpes zoster. Kedua penyakit ini mempunyai manifestasi
klinis yang berbeda. Diperkirakan bahwa setelah ada kontak dengan virus V-Z
akan terjadi varisela; kemudian setelah penderita varisela tersebut sembuh,
mungkin virus itu tetap ada dalam bentuk laten (tanpa ada manifestasi klinis) dan
kemudian virus V-Z diaktivasi oleh trauma sehingga menyebabkan herpes zoster.
Virus V-Z dapat ditemukan dalam cairan vesikel dan dalam darah penderita
varisela dapat dilihat dengan mikroskop elektron dan dapat diisolasi dengan
menggunakan biakan yang terdiri dari fibroblas paru embrio manusia.
Klasifikasi
Menurut Siti Aisyah (2003), klasifikasi varisela dibagi menjadi 2, yaitu:
Varicella Conginetal
Varicella conginetal adalah sindrom yang terdiri atas parut sikatrisial, atrofi
ekstremitas, serta kelaian mata dan susunan saraf pusat. Sering terjadi ensefalitis
sehingga menyebabkan kerusakan neuropatiki. Risiko terjadinya varicella
congenital sangat rendah (2,2%). Walaupun pada kehamilan trimester pertama ibu
menderita varisela. Varisela pada kehamilan paruh kedua jarang sekali
menyebabkan kematian bayi pada saat lahir. Sulit untuk mendiagnosis infeksi
varisela intrauterin. Tidak diketahui apakah pengobatan dengan antivirus pada ibu
dapat mencegah kelainan fetus.
Varicella Neonatal
Varicella neonatal terjadi bila terjadi varisela maternal antara 5 hari sebelum
sampai 2 hari sesudah kelahiran. Kurang lebih 20% bayi yang terpajan akan
menderita varisela neonatal. Sebelum penggunaan varicella-zoster
immuneglobulin (VZIG), kematian varisela neonatal sekitar 30%. Namun,
neonatus dengan lesi pada saat lahir atau dalam 5 hari pertama sejak lahir jarang
menderita varisela berat karena mendapat antibody dari ibunya. Neonatus dapat
pula tertular dari anggota keluarga lainnya selain ibunya. Neonatus yang lahir
dalam masa resiko tinggi harus diberikan profilaksis VZIG pada saat lahir atau
saat awitan infeksi maternal bila timbul dalam 2 hari setelah lahir. Varisela
neonatal biasanya timbul dalam 5-10 hari walaupun telah diberikan VZIG. Bila
terjadi varisela progresif (ensefalitis, pneumonia, varicella, hepatitis, diatesis,
pendarahan) harus diobati dengan acyclofir intravena. Bayi yang terpajan dengan
varisela neonatal dalam 2 bulan sejak lahir harus diawasi. Tidak ada indikasi
klinis untuk memberikan antivirus pada varisela neonatal atau acyclofir
profilaksis bila terpajan varisela maternal.
Manifestasi Klinis
Masa tunas penyakit berkisar antara 8-12 hari.
Didahului stadium prodromal yang ditandai:
Demam
Malaise
Sakit kepala
Anoreksia
Sakit punggung
Batuk kering
3. Stadium: erupsi yang ditandai dengan terbentuknya verikula yang khas, seperti
tetesan embun (teardrops) vesikula akan berubah menjadi pustule, kemudian
pecah menjadi kusta, sementara proses ini berlangsung, timbul lagi vesikel baru
sehingga menimbulkan gambaran polimorfi.
4. Penyebaran lesi terutama adalah di daerah badan kemudian menyebar secara
satrifugal ke muka dan ekstremitas (Prof. Dr. Marwali Harahap, 2000: 94-95).
Patofisiologi
Menyebar hematogen. Virus Varicella Zoster juga menginfeksi sel satelit disekitar
Neuron pada gang lion akar darsal sumsum tulang belakang. Dari sini virus bisa
kembali menimbulkan gejala dalam bentuk herpes zoster. Sekitar 250-500
benjolan akan timbul menyebar diseluruh bagian tubuh, tidak terkecuali pada
muka, kulit kepala, mulut bagian dalam, mata, termasuk bagian tubuh yang paling
intim. Namun dalam waktu kurang dari seminggu, lesi tersebut akan mengering
dan bersamaan dengan itu terasa gatal. Dalam waktu 1-3 minggu bekas pada kulit
yang mengering akan terlepas. Virus varicella zoster penyebab penyakit cacar air
ini berpindah dari satu orang ke orang lain melalui percikan ludah yang berasal
dari batuk atau bersin penderita dan diterbangkan melalui udara atau kontak
langsung dengan kulit yang terinfeksi. Virus ini masuk ke tubuh manusia melalui
paru-paru dan tersebar ke bagian tubuh melalui kelenjar getah bening.
Setelah melewati periode 14 hari virus ini akan menyebar dengan pesatnya ke
jaringan kulit. Memang sebaiknya penyakit ini dialami pada masa kanak-kanak
dan pada kalau sudah dewasa. Sebab seringkali orang tua membiarkan anak-
anaknya terkena cacar air lebih dini.
Varisela pada umumnya menyerang anak-anak; di negara-negara bermusim 4,
90% kasus varisela terjadi sebelum usia 15 tahun. Pada anak-anak, pada
umumnya penyakit ini tidak begitu berat, namun di negara-negara tropis seperti
Indonesia lebih banyak remaja dan orang dewasa yang terserang varisela. 50%
kasus varisela terjadi di atas usia 15 tahun. Dengan demikian semakin
bertambahnya usia pada remaja dan dewasa, gejala varisela semakin bertambah
berat.
Komplikasi
– Komplikasi tersering terjadi secara umum:
Pnemonia
Kelainan ginjal
Ensefalitis
Meningiti
– Komplikasi yang langka:
Radang sumsum tulang
Hepatitis
Sindrom reye
-Komplikasi yang biasa terjadi pada anak-anak hanya berupa infeksi varisela pada
kulit, sedangkan pada orang dewasa kemungkinan terjadinya komplikasi berupa
randang paru-paru atau pnemonia 10-25 lebih tinggi dari anak-anak.
7. Treatment
Karena umumnya bersifat ringan, kebanyakan penderita tidak memerlukan terapi
khusus selain istrahat dan pemberian asupan cairan yang cukup. Yang justru
sering menjadi masalah adalah rasa gatal yang menyertai erupsi. Bila tidak
ditahan-tahan, jari kita tentu ingin segera menggaruknya. Masalahnya, bila jari
tergaruk sampai hebat, dapat timbul jaingan parut pada bekas gelembun yang
pecah. Tentu tidak menarik untuk dilihat.
Umum:
Isolasi untuk mencegah penularan
Diet bergizi tinggi (tinggi kalori dan protein)
Bila demam tinggi, kompres dengan air hangat
Upayakan agar tidak terjadi infeksi pada kulit, misalnya pemberian antiseptik
pada air mandi
Upayakan agar vesikeltidak pecah
Jangan menggaruk vesikel
Kuku jangan diberikan panjang
Bila hendak mengeringkan badan, cukup tepal-tepalkan handuk pada kulit, jangan
digosok.
8. Farmakoterapi
– Antivirus dan Asiklovir
Biasanya diberikan pada kasus-kasus yang berat, misalnya pada penderita
leukimia atau penyakit-penyakit lain yang melemahkan daya tahan tubuh.
– Antipiretik dan untuk menurunkan demam

Parasetamol atau ibuprofen


Jangan berikan aspirin pada anak anda, pemakaian aspirin pda infeksi virus
(termasuk virus varisela) telah dihubungkan dengan sebuah komplikasi fatal, yaitu
syndrom reye
– Salep antibiotik
Untuk mengobati ruam yang terinfeksi
– Antibiotik
Bila terjadi komplikasi pnemonia atau infeksi bakteri pada kulit

9. Hindari kontak dengan penderita


Tingkatkan daya tahan tubuh
Imunoglobulin Varicella Zoster
Dapat mencegah atau setidaknya meringankan terjadinya cacar air. Bila diberikan
dalam waktu maksimal 96 jam sesudah terpapar
Dianjurkan pula bagi bayi baru lahir yang ibunya menderita cacar air beberapa
saat sebelum atau sesudah melahirkan
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN VARICELLA

A. Kasus
Tn B (20 tahun) datang ke poli kulit RS Guna Sehat. Ia mengeluhkan badannya
terasa demam seperti akan flu, karena menyangka akan flu akhirnya ia meminum
obat flu untuk menyembuhkan flunya tersebut. Namun setelah beberapa hari di
area sekitar tubuhnya muncul ruam yang berisi air, pertama kali muncul Tn B
mengira bahwa ia terkena alergi, tetapi setelah dibiarkan beberapa hari ruam yang
muncul diarea sekitar tubuh semakin bertambah banyak, ruam tesebut berwarna
merah, berisi air, dan ketika dipegang terasa nyeri. Setelah beberapa hari
badannya mengalami demam tinggi dan ruam yang muncul semakin bertambah
banyak, ruam tersebut muncul diarea tubuh, wajah, leher, tangan, dan kepala. Saat
dilakukan pemeriksaan didapat TTV; TD:150/110 mmHg, ND: 90 x/menit, RR:
22 x/menit, S: 38oC.
Pengkajian
Identitas Klien:
Nama : Tn. B
Umur : 20 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Swasta
Status : Belum menikah
Alamat : Sleman, Yogyakarta
Suku Bangsa : Jawa
Tgl Masuk : 13 November 2015
Tgl Pengkajian : 13 November 2015
No. RM : 22055

Penanggung Jawab:
Nama : Ny. F
Umur : 51 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Alamat : Sleman, Yogyakarta
Hubungan : Ibu Kandung

Keluhan Utama
Klien mengalami demam, dan muncul ruam berisi air di seluruh tubuhnya

Riwayat Kesehatan
Riwayat Kesehatan Sekarang
Pasien datang ke RS Guna Sehat diantar oleh orang tuanya dengan keluhan klien
mengalami demam, dan muncul ruam berisi air di seluruh tubuhnya.
Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada

Pemeriksaan Fisik
Pola Fungsi Kesehatan
Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Keluarga klien khawatir kalau penyakit yang diderita klien semakin parah, dan
berharap agar cepat sembuh.

Pola Nutrisi dan Metabolisme


Diet/Suplemen khusus : Tidak ada
Nafsu makan : Menurun
Penurunan sensasi kecap, mual, stomatitis : Tidak ada
Kesulitan menelan (disfagia) : Tidak ada
Gigi : Lengkap
Frekuensi Makan : 1-2x sehari
Jenis Makanan : Nasi, Sayur, dan buah
Pantangan/alergi : Ikan

Pola Eliminasi
BAB:
Frekuensi : 2x sehari
Warna : Kuning
Waktu : Tidak teratur
Konsistensi : Lunak
Kesulitan (diare, konstipasi, inkontinensia) : Tidak ada
BAK:
Frekuensi : 4-5x sehari
Kesulitan : Tidak ada

Pola Aktivitas dan Latihan


Kekuatan Otot : Normal
Kemampuan ROM : Normal
Keluhan saat beraktivitas :–

Pola Istirahat dan Tidur


Lama tidur : 4-6 jam
Waktu : Malam

Pola Kognitif dan Persepsi


Status mental : Normal
Bicara : Normal
Kemampuan memahami : normal
Tingkat Ansietas : Sedang
Penglihatan : Normal
Ketidaknyamanan/Nyeri : Nyeri Akut

Persepsi Diri dan Konsep Diri


Perasaan Klien tentang masalah kesehatan ini : Klien merasa malu dan minder

Pola peran hubungan


Pekerjaan : Swasta
Sistem Pendukung : Keluarga

Pola Koping dan toleransi aktivitas


Hal yang dilakukan saat ada masalah : Cerita dengan orang terdekat
atau keluarga
Penggunaan obat untuk menghilangkan stress : Tidak ada
Keadaan emosi dalam sehari-hari : Tegang

Keyakinan dan Kepercayaan


Agama : Islam
Pengaruh agama dalam kehidupan : Percaya akan ajaran agamanya

Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : Tampak gelisah
Penampilan Umum : Bersih dan rapi
Klien tampak sehat/sakit/sakit berat : Sakit
Kesadaran : Compos Mentis
BB : 60 kg
TB : 170 cm

Tanda-tanda vital
TD : 150/110 mmHg
ND : 90 x/menit
RR : 22 x/menit
S : 38oC

Kulit
Warna Kulit : Tampak kemerahan
Kelembaban : Kering
Turgor Kulit : Elastic berkurang
Ada/Tidaknya edema : Tidak ada

Kepala
Inspeksi : Rambut bersih
Palpasi : Ada ruam berisi air

Mata
Inspeksi : Simetris
Fungsi penglihatan : Normal
Ukuran pupil : Normal
Konjungtiva : Anemis
Sklera : Putih

Telinga
Fungsi pendengaran : Tidak ada gangguan fungsi pendengaran
Kebersihan : Bersih
Sekret : Tidak ada
Hidung dan Sinus
Fungsi Penciuman : Baik
Pembengkakan : Tidak ada
Perdarahan : Tidak ada
Kebersihan : Bersih
Sekret : Tidak ada

Mulut dan Tenggorokan


Membran Mukosa : Kering
Kebersihan Mulut : Bersih
Keadaan Gigi : Lengkap
Tanda Radang : Tidak ada
Trismus : Tidak ada
Kesulitan Menelan : Tidak ada

Leher
Trakea : Simetris
Kelenjar Limfe : Ada
Kelenjar Tiroid : Tidak ada pembesaran

Thorak/Paru
Inspeksi : Dada simetris
Perkusi : Tidak ada massa dan peningkatan produksi mukus
Auskultasi : Pernafasan stridor (ngorok)

Jantung
Inspeksi : Iktus kordis terlihat

Abdomen
Inspeksi : Simetris
Auskultasi : Peristaltik usus
Palpasi : Tidak ada benjolan atau massa, tidak ada ascites

Ekstremitas
Ekstremitas Atas : Pergerakan Normal
Ekstremitas Bawah : Pergerakan Normal

Neurologis
Status Mental : Normal
Motorik : Normal
Sensorik : Tidak ada gangguan pada sistem sensorik

A. Analisa Data
Hari/Tgl/Jam Data Fokus Etiologi Problem
Jumat, 13 DO: Penyakit Varicella Hipertermi
November – TD : 150/110
2015 mmHg
Jam 09.00 wib – ND : 90 x/menit
– RR : 22 x/menit
– S : 38oC
– Kulit kemerahan
– Kulit terasa hangat
– Peningkatan suhu tubuh
diatas kisaran normal
DS:
– Klien mengeluh
badannya demam
Jumat, 13 DO: Penyakit Varicella Nyeri Akut
November – Terdapat ruam berisi
2015 air, berwarna kemerahan
Jam 09.30 wib DS:
– Klien mengatakan nyeri
saat dipegang
Jumat, 13 DO: Penyakit Varicella Kerusakan
November – Ruam yang muncul integritas kulit
2015 semakin banyak, ruam tersebut
Jam 10.00 wib muncul diarea tubuh, wajah,
leher, tangan dan kepala
DS:
– —
B. Diagnosa Keperawatan
Hipertermi b.d Penyakit Varicella
Nyeri akut b.d Penyakit Varicella

Kerusakan integritas kulit b.d Penyakit Varicella

C. Intervensi
Tujuan dan Kriteria
Hari/Tgl/Jam Dx Hasil Intervensi Rasional
Setelah dilakukan 1. Observasi TTV: 1. TTV
asuhan keperawatan suhu, nadi, tekanan merupakan acuan
selama 1×24 jam darah, pernapasan untuk mengetahui
diharapkan 2. Berikan keadaan umum
Hipertermi teratasi, penjelasan tentang pasien
Jumat, 13 dengan KH: penyebab demam atau 2. Keterlibatan
November 1. Menunjukkan peningkatan suhu tubuh keluarga sangat
2015 temperatur dalam 3. Beri kompres berarti dalam proses
Jam 10.30 batas normal hangat didaerah ketiak penyembuhan pasien
wib 1 atau dahi di rumah sakit
4. Anjurkan klien 3. Kompres
untuk istrahat ditempat hangat memberikan
tidur/tirah baring efek vasodilatasi
5. Anjurkan untuk pembuluh darah
menggunakan pakaian sehingga dapat
yang tipis dan meningkatkan
menyerap keringat pengeluaran panas
6. Monitor dan catat tubuh melalui pori-
intake atau output dan pori
berikan cairan intervena 4. Mencegah
sesuai program medic terjadinya
7. Kolaborasi peningkatan
dengan dokter dalam metabolisme tubuh
pemberian obat dan membantu
antipiretik proses penyembuhan
5. Pakaian yang
tipis akan membantu
mengurangi
penguapan tubuh
6. Peningkatan
intake cairan perlu
untuk mencegah
dehidrasi
7. Antipiretik
berfungsi dalam
menurunkan suhu
tubuh
Jumat, 13 Setelah dilakukan 1. Observasi reaksi 1. memantau respon
November asuhan keperawatan nonverbal dari nyeri
2015 2 selama 1×24 jam ketidaknyamanan 2. Untuk mengurangi
Jam 11.00 diharapkan Nyeri 2. Ajarkan teknik nyeri
wib akut teratasi, dengan relaksasi 3. Dapat menekan
KH: 3. Kolaborasi skala nyeri
1. Mampu pemberian analgetik
mengontrol nyeri untuk mengurangi nyeri
(tahu penyebab nyeri,
mampu
menggunakan tehnik
nonfarmakologi
untuk mengurangi
nyeri, menyari
bantuan)
2. Melaporkan
bahwa nyeri
berkurang dengan
menggunakan
manajemen nyeri
3. Mampu
mengenali nyeri
(skala, intensitas,
frekuensi dan tanda
nyeri)
4. Menyatakan
rasa nyaman setelah
nyeri berkurang

Jumat, 13 Setelah dilakukan 1. Anjurkan pasien 1. Pakaian yang


November asuhan keperawatan untuk menggunakan longgar agar
2015 3 selama 1×24 jam pakaian yang longgar meminimalkan
Jam 11.30 diharapkan 2. Hindari kerutan gesekan dengan kulit
wib Kerusakan integritas pada tempat tidur 2. mencegah
kulit teratasi, dengan 3. Jaga kebersihan terjadinya
KH: kulit agar tetap bersih tekanan dari
1. Integritas kulit dan kering jaringan lunak
yang baik bisa 4. Monitor kulit 3. agar luka cepat
dipertahankan akan adanya kemerahan sembuh dan tidak
(sensasi, elastisitas, 5. Edukasi dalam terjadi infeksi
temperatur, hidrasi, menghindari penyebab 4. mengantisipasi
pigmentasi) varicella terjadinya iritasi
2. Tidak ada 5. mengajarkan
luka/lesi pada kulit kepada keluarga dan
3. Perfusi jaringan pasien dari
baik pencegahan
4. Menunjukkan penyebab penyakit
pemahaman dalam varicella
proses perbaikan
kulit dan mencegah
terjadinya cedera
berulang
5. Mampu
melindungi kulit dan
mempertahankan
kelembaban kulit dan
perawatan alami
D. Evaluasi
Dx Evaluasi
S : Klien mengatakan demamnya sudah mulai turun
O: TD; 110/90 mmHg
1 N; 80 x/mnt
RR; 22 x/menit
S; 37oC
A : Masalah teratasi
P : Hentikan Intervensi

S : Klien mengatakan nyeri sudah mendingan


O: Skala nyeri; 1-2
TD: 110/80
N: 80 x/menit
RR; 20 x/menit
S; 37oC
A : Masalah teratasi
2 P : Hentikan Intervensi
S : klien mengatakan sudah merasa agak nyaman
O: Klien sudah tampak tenang
TD: 110/80
N: 78 x/menit
RR; 20 x/menit
S; 37oC
A : Masalah teratasi
3 P : Hentikan Intervensi
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Varicella adalah infeksi akut primer oleh virus Varicella Zoster yang menyerang
kulit dan mukosa.
Penyakit ini disebabkan oleh virus Varicella Zoster. Penamaan virus ini memberi
pengertian bahwa infeksi primer virus ini menyebabkan penyakit varicella.
Sedangkan kreativitasnya menyebabkan herpes zoster.
Pada beberapa kelompok yaitu: bayi dibawah usia 28 hari dan orang dengan
kekebalan tubuh randah.
B. Saran
Kami sebagai penulis mengharapkan agar kita dapat mengetahui apa itu penyakit
varicella dan cara pencegahannya.
DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilynn. E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. EGC : Jakarta.
Tarwoto dan Wartonah. (2000). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses
Keperawatan. Salemba Medika : Jakarta.
Varisela. http://www.aventispasteur.co.id/news.asp?id7
Varisela Klinikku. http://www.klinikku.com/pustaka/medis/integ/varisela-
klinis.html
Cacar Air. http://www.medicastore.com/med/detail_pyk_php?id=&iddtl