Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN HASIL DISKUSI TUTORIAL BLOK 10 KESEHATAN KOMUNITAS

MODUL 1

KELOMPOK 3

TUTOR : Drg. Fristadeina Reskiannisa

RAUDATUL AGVA ZAHIRA 16114113002(KETUA)

RAHMA FUADDIAH 16114110O7( SEKRETARIS)

FIYONA OKADELA 1611411002(SEKRETARIS)

ALMIRA ULFA HARDA 1611413005

SHAFIRA AULIA FIKRIE 1611413007

FAHIRA OCSA VISRA 1611411015

FIKA MELINDA PUTRI 1611411016

RINDU DINANTI 1611411020

TATHA FEBILLA KRISWANDI 1611413008

VICTORIA SURYA DHARMA 1611412012

PENDIDIKAN DOKTER GIGI-FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG

2018

1
Modul 1

SISTEM KESEHATAN NASIONAL

Skenario 1

Gratis………….!!

Melita (24 th) dibawa keluarganya ke Puskesmas Baru karena ada pembengkakan di
wajahnya. Meskipun tidak sakit tetapi membuatnya merasa rendah diri. Dari hasil anamnesa
dan pemeriksaan drg. Monita diketahui pembengkakan sudah terjadi sejak lima tahun yang
lalu. Gigi 16 dan 17 gangren radix. Drg. Monita mengatakan bahwa kemungkinan Melita
menderita kista pada region posterior atas kanan dan menyarankan untuk dibawa kedokter
spesialis bedah mulut. Ibu Melita menanyakan apakah tidak dapat diobati di RSUD yang ada
di kabupaten karena mereka mempunya kartu Jamkesda. Akhirnya drg. Monita merujuk
Melita ke RSUD dan RSUD merujuk ke RSUP yang ada di provinsi.

Di rumah sakit Melita dioperasi dan dirawat selama 10 hari dan tidak dipungut biaya
apapun. Suami melita menceritakan kepada tetangganyayang dating kerumah sakit bahwa
petugas yang melayani mereka di puskesmas dan rumah sakit sangat baik dan ramah.
Puskesmas da rumah sakitnya bersih dan nyaman. Dapatkah saudara menjelaskan system
pelayanan kesehatan nasional ?

Langkah 1 : Mengklarifikasi terminology yang tidak diketahui dan medefenisikan hal –


hal yang dapat menimbulkan kesalahan interpretasi

 Kista : tumor jinak yang terbungkus oleh selaput pipih semacam jaringan yang berisi
udara, cairan dan nanah.

 Jamkesda : jaminan kesehatan masyarakat daerah yang bersifat sosialyang di


elenggarakan oleh pemerintah.

 System pelayanan kesehatan nasional : suatu tatanan yang menghimpun berbagai


upaya bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin
tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.
Langkah 2: Menentukan Masalah

1.Apa fungsi sistem kesehatan nasional ?

2.Apa saja faktor SKN?

3.Apa prinsip dasar SKN?

4.Apa tujuan SKN?

5.Apa syarat pokok dari pelayanan kesehatan?

6.Apa saja ruang lingkup pelayanan kesehatan?

7. Apa tingkat pelayan kesehatan ?

8 Apa faktor yang mempengaruhi pelayanan kesehatan?

9. Apa metode pembayaran dalam pelayanan kesehatan?

10.Apa keunggulan Jamkesda?

11.Dari mana Sumber dana Jamkesda?

12.Hal yang dapat di asuransikan apa saja?

13.jenis asuransi kesehatan selain jamkesda?

14.apakah yang sudah terdaftar asuransi kesehatan sebelum nya angsung terdaftar bpjs?

15.Apa Perbedaan Memahami Pebedaan JKN, KIS, KJS, BPJS Jamkesmas dan Jamkesda?

16.Hubungan antara JKN, KIS, KJS, BPJS Jamkesmas dan Jamkesda?

17. kenapa pasien harus di rujuk ke RSUD dahulu baru RSUP?

Langkah 3: Menganalisa Masalah

1.Apa fungsi sistem kesehatan nasional ?

 Mengatur pembiayaan sumber daya


 Aturan yang umum dan tidak jauh berbeda akibat perbedaan masyarakat di masing-
masing daerah
 Paket manfaat
 Sasaran pembentukan iuran
 Pola manajemen kesehatan pola kemampuan fisikal

2. faktor SKN

 Masyarakat (kurang sadar)


 Pemerintah(kurang sadar)
 Politik
 IPTEK terbaru

3 prinsip dasar SKN

 Perikemanusiaan
 Asas manfaat
 Keadilan
 Perlindungan
 Legalitas
 Non driskiminatif
 Kemandirian masyarakat
 Kemitraan

4.Tujuan SKN

Adalah terselenggaranya upaya kesehatan yg tercapai (accessible), terjangkau


(affordable), dan bermutu (quality) untuk menjamin terselenggaranya pembangunan
kesehatan guna meningkatkan derajat kesmas yg setingginya

5. syarat pokok dari pelayanan kesehatan?

1. Tersedia dan berkesinambungan (Available and Continous)


2. Dapat diterima dan wajar (Acceptable and Apropriate)
3. Mudah dicapai (Accesible)
4. Mudah dijangkau (Affordable ).
5. Bermutu (Quality)

6.ruang lingkup pelayanan kesehatan?


pelayanan dokter, pelayanan keperawatan, pelayanan kesehatan masyarakat.
Subsistem pelayanan kesehatan tersebut memiliki tujuan masing-masing dengan tidak
meninggalkan tujuan umum dari pelayanan kesehatan. Dalam pelayanan kesehatan terdapat 3
bentuk, yaitu :

1. Primary Health Care (pelayanan kesehatan tingkat pertama)

Ini dilakukan pada masyarakat yang memiliki masalaha kesehatan yang ringan atau
masyarakat yang sehat tetapi ingin mendapatkan peningkatan kesehatan agar sejahtera.

2. Secondary Health Care (pelayanan kesehatan tingkat kedua)

Ini dilakukan bagi klien yang membutuhkan perawatan dirumah sakit atau rawat inap. Ini
dilaksanakan di rumah sakit yang tersedia tenaga spesialis atau sejenisnya.

3. Tertiary Health Services (pelayanan kesehatan tingkat tiga)


Ini merupakan tingkat pelayanan tertinggi, biasanya pelayanan ini membutuhkan tenaga-
tenaga yang ahli atau subspesialis dan sebagai rujukan utama seperti rumah sakit yang tipe A
atau B.

7.Apa tingkat pelayan kesehatan ?

Menurut Leavel dan Clark tingkat pelayanan kesehatan dalam sistem pelayanan
kesehatan adalah sebagai berikut :

1. Healt promotion (promosi kesehatan)

2. Specific protection (perlindungan khusus)

3. Early diagnosis and prompt treatment (diagnosis dini dan pengobatan segera)

4. Disability limitation (pembatasan cacat)

5. Rehabilitation (rehabilitasi)

8.Apa faktor yang mempengaruhi pelayanan kesehatan?

1. Ilmu pengetahuan dan teknologi baru

2. Pergeseran nilai masyarakat

3. Aspek legal dan etik

4. Ekonomi

5. Politik

9. Apa metode pembayaran dalam pelayanan kesehatan?

Pemerintah:
 Dana Pemerintah Pusat
 Dana Pemerintah Propinsi
 Dana Pemerintah Kabupaten Kota
 Saham Pemerintah dalan BUMN
 Premi bagi jaminan kesehatan masyarakat miskin, yang dibayarkan oleh pemerintah.
Swasta dan Masyarakat

 CSR (Corporate Social Responsibility)


 Pengeluaran Rumah Tangga, baik yang dibayarkan tunai atau melalui sistem Asuransi
 Bantuan dari Luar Negeri
 Hibah dan Donor dari LSM
Slain yang diatas ada sistem secara INA CBG’S sebelum nya DRG

10. Apa keunggulan Jamkesda?

JAMKESDA adalah program jaminan bantuan pembayaran biaya pelayanan kesehatan yang
diberikan Pemerintah Daerah Kabupaten atau provinsi, untuk menyasar warga fakir miskin
yang belum memililiki jamkesmas, sedangkan JAMKESMAS adalah program yang ruang
lingkupnya lebih luas yang diperuntukan untuk warga miskin di seluruh indonesia.

Adanya Jamkesda karena tidak semua warga miskin terutama yang tinggal di daerah terjaring
program JAMKESMAS oleh karena itu untuk mengatasi masalah tersebut diluncurkan
program JAMKEDA yang diselenggarakan pemerintah daerah sehingga seluruh warga miskin
indonesia bisa mendapatkan jaminan kesehatan dari pemerintah.

11.Dari mana Sumber dana Jamkesda?

diberikan Pemerintah Daerah Kabupaten atau provinsi

12.Hal yang dapat di asuransikan apa saja?

 Resiko murni (penyakit mendadak)


 Resiko yang dapat ditentukan kejadiannya
 Resiko yang berdampak fiancial(cacat/kematian)

13. jenis asuransi kesehatan selain jamkesda?

 JKN (adSa pada zaman sby)


 KIS (ada pada zaman Jokowi)
 JAMKESNAS
 KJS

14.apakah yang sudah terdaftar asuransi kesehatan sebelum nya angsung terdaftar bpjs?

 KIS,JAMKESDAKJAMKESNAS=BPJS PBI
 SKN&ASKES=BPJS PPU

15.Apa Perbedaan Memahami Pebedaan JKN, KIS, KJS, BPJS Jamkesmas dan Jamkesda

Perbedaan:

1.KIS, Jamkesmas dan Jamkesda diberikan kepada penduduk miskin dan tidak mampu yang
mendapatkan bantuan iuran dari pemerintah (PBI) untuk menjadi peserta BPJS kesehatan.
2.KIS diberikan kepada PMKS yang mendapatkan bantuan iuran dari pemerintah untuk
menjadi peserta BPJS keseahtan.
3.JKN untuk orang yang mampu (pekerja dan bukan pekerja) dan non PBI.
4.JKN mendapatkan pelayanan kesehatan perorangan dengan indikasi medis, baik promotif,
preventf, kuratif dan rehabilitatif kecuali penyakit tertentu karena terkait dengan prilaku
(HIV/AIDS, pecandu narkoba).

16.Hubungan antara JKN, KIS, KJS, BPJS Jamkesmas dan Jamkesda

JKN adalah program Jaminan kesehatan dan penyelenggaranya adalah BPJS kesehatan dan
BPJS ketenagakerjaan yang memberikan jaminan kesehatan, sosial dan ekonomi.

sedangkan KIS, KJS, Jamkesmas dan Jamkesda, adalah warga kurang mampu yang sudah
mendapatkan jaminan kesehatan yang dapat dikategorikan sebagai Peserta BPJS Penerima
bantuan iuran) PBI yang diperuntukan untuk fakir miskin dan warga tidak mampu.
pemegang Kartu KIS, KJS, Jamkesda ataupun Jamkesmas, sudah secara otomatis terdaftar
sebagai peserta BPJS PBI dan masih bisa menggunakan kartu anda untuk mendapatkan
pelayanan kesehatan sama halnya seperti Peserta BPJS PBI kelas III yang iuran bulannaya
dibayarkan oleh pemerintah.

17. kenapa pasien harus di rujuk ke RSUD dahulu baru RSUP?


Rujukan berjenjang dari

 Pelayanan kesehatan tingakat 1


 Pelayanan kesehatan tingakat 2
 Pelayanan kesehatan tingakat 3
Langkah 4. Membuat skema atau diagram dari komponen-komponen permasalahan

Melita (24 th )

Mempunyai
Pembengkakan di
Jamkesda
wajahnya

Berobat ke puskesmas
Pelayanan

-Baik dan ramah


Tidak dipungut
-Bersih dan nyaman Dirujuk ke RSUD
biaya apapun

Di rujuk ke RSUP

Mutu Pelayanan Pembiayaan


kesehatan kesehatan

-Asuransi kesehatan
System kesehatan
-Tarif pelayanan
nasional

Langkah 5. Memformulasikan tujuan pembelajaran

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan konsep dasar system kesehatan


nasional
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pembiayaan kesehatan dan INA
CBG’S
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pelayanan kesehatan dan mutu
pelayanan kesehatan
4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Jaminan Kesehatan atau asuransi
kesehatan

Langkah 6. Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet, dan lain lain

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan konsep dasar system kesehatan


nasional

SISTEM KESEHATAN

Pengertian Sistem Kesehatan menurut WHO, 2000 ialah semua kegiatan yang secara
bersama-sama diarahkan untuk mencapai tujuan utama berupa peningkatan & pemeliharaan
kesehatan. Adapun tujuan yang dimaksud adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat, merespon harapan-harapan/ kebutuhan-kebutuhan masyarakat sesuai harga diri
& hak azasi manusia (kepedulian) serta memberikan perlindungan finansial bagi masyarakat
terhadap kemungkinan biaya kesehatan (keadilan dalam pembiayaan).

Oleh karenanya pengertian SKN adalah suatu tatanan yang menghimpun berbagai
upaya bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya sebagai perwujudan kesejahteraan
umum seperti dimaksud dalam Pembukaan UUD 1945.

LANDASAN

SKN merupakan wujud dan metode penyelenggaraan pembangunan kesehatan.


Sedangkan pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional.
Oleh karenanya landasan SKN adalah sama dengan landasan pembangunan nasional yaitu :

 Landasan idiil yaitu Pancasila

 Landasan konstitusional yaitu Undang-undang Dasar 1945

1. Pasal 28 a

2. Pasal 28 b ayat (2)

3. Pasal 28 c ayat (1)

4. Pasal 28 h ayat (1) dan (3)

5. Pasal 34 ayat (2) dan (3)


- Pasal 28 A; setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan
kehidupannya

- Pasal 28 B ayat (2); setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan
berkembang

- Pasal 28 C ayat (1); setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan
kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu
pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya
dan demi kesejahteraan umat manusia

- Pasal 28 H ayat (1); setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat
tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak
memperoleh pelayanan kesehatan, dan ayat (3); setiap orang berhak atas jaminan
sosial yg memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yg
bermartabat

- Pasal 34 ayat (2); negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat
dan memperdayakan masyarakat yg lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat
kemanusiaan, dan ayat (3); negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas
pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

PRINSIP SKN

Prinsip dasar adalah norma, nilai, dan aturan pokok yang bermakna dari falsafah dan
budaya Bangsa Indonesia, yang dipergunakan sebagai acuan berfikir dan bertindak. Terdapat
7 (tujuh) Prinsip Dasar SKN, dengan penekanan pada masing-masing uraian sebagai berikut:

1. Perikemanusiaan;

Terabaikannya pemenuhan kebutuhan kesehatan adalah bertentangan dengan prinsip


kemanusiaan.

2. Hak Azasi Manusia;

Diperolehnya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi setiap orang adalah hak
azasi manusia, tanpa membedakan antara golongan, suku, agama, dan status sosial ekonomi.

3. Adil dan merata;

Pelayanan kesehatan harus merata, bermutu, dan terjangkau oleh seluruh lapisan
masyarakat secara ekonomi dan geografi.

4. Pemberdayaan dan kemandirian masyarakat;

Kesehatan merupakan tanggung jawab bersama, baik pemerintah maupun masyarakat dan
perorangan (individu).

5. Kemitraan;
Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan menggalang kemitran yang dinamis dan
harmonis antara pemerintah dan masyarakat termasuk swasta.

6. Pengutamaan dan manfaat;

Dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan lebih mengutamakan kepentingan


umum daripada kepentingan golongan dan perorangan. Pemanfaatan iptek dalam
pembangunan kesehatan.

7. Tata kepemerintahan yang baik;

Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara demokratis, berkepastian hukum,


terbuka, rasional/profesional, bertanggung jawab dan bertanggung gugat.

8. Perikemanusiaan

Penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip perikemanusiaan yg dijiwai, digerakkan,


dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan YME. Terabaikannya
pemenuhan kebutuhan kesehatan adalah bertentangan dengan prinsip kemanusiaan. Tenaga
kes dituntut untuk tidak diskriminatif serta selalu menerapkan prinsip-prinsip
perikemanusiaan dalam menyelenggarakan upaya kesehatan

9. HakAsasi Manusia

Penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip hak asasi manusia. Diperolehnya derajat
kesehatan yg setinggi-tingginya bagi setiap orang adalah salah satu hak asasi manusia tanpa
membedakan suku, golongan, agama, dan status sosial ekonomi. Setiap anak berhak atas
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi

10. Adil dan merata

Penyelenggaraan SKN berdasarkan prinsip adil dan merata. Dalam upaya mewujudkan
derajat kesehatan yg setinggi- tingginya, perlu diselenggarakan upaya kesehatan yg bermutu
dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat secara adil dan merata baik grafis maupun
ekonomis.

11. Pemberdayaan dan Kemandirian Masyarakat

Penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip pemberdayaan dan kemandirian


masyrakat. Setiap orang dan masyarakat bersama dengan pemerintah berkewajiban dan
bertanggungjawab untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan perorangan,
keluarga, masyarakat beserta lingkungannya. Penyelenggaraan pembangunan kesehatan harus
berdasarkan pada kepercayaan atas kemampuan dan kekuatan sendiri, kepribadian bangsa,
semangat solidaritas sosial, dan gotong royong

12. Kemitraan

Penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip kemitraan. Pembangunan kesehatan


harus diselenggarakan dengan menggafang kemitraan yg dinamis dan narmonis antara
pemerintah dan masyarakat termasuk swasta, dengan mendayagunakan potensi yg dimiliki.
Kemitraan antara pemerintah dengan masyarakat termasuk swasta serta kerjasama lintas
sektor dalam pembangunan kesehatan diwujudkan dalam suatu jejaring yg berhasil guna, agar
diperoleh sinergisme yg lebih mnatap dalam rangka mencapai derajat kesmas yg setinggi-
tingginya

13. Pengutamaan dan Manfaat

Penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip pengutamaan dan manfaat.


Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan lebih mengutamakan kepentingan umum
daripada kepentingan perorangan maupun golongan. Upaya kesehatan yg bermutu
dilaksanakan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan pendekatan peningkatan
kesehatan dan pencegahan penyakit. Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara berhasil
guna dan berdaya guna, dengan mengutamakan upaya kesehatan yg mempunyai daya ungkit
tinggi agar memberikan manfaat yg sebesar- besarnya bagi peningkatan derajat kesmas
beserta lingkungannya

14. Tata kepemerintahan yang baik

Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara demokratis, berkepastian hukum,


terbuka (transparent), rasional/profesional, serta bertanggungjawab dan bertanggung gugat
(accountable)

TUJUAN SKN

SKN merupakan pedoman dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. SKN


bukan pedoman penyelenggaraan kesehatan bagi Departemen Kesehatan saja, tapi bagi
semua potensi bangsa baik pemerintah (pusat, provinsi, kab/kota), masyarakat, maupun
swasta. Dengan demikian tujuan SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh
semua potensi bangsa, baik masyarakat, swasta maupun pemerintah secara sinergis, berhasil-
guna dan berdaya-guna, sehingga tercapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-
tingginya.

KEDUDUKAN SKN

SKN merupakan subsistem dari sistem penyelenggaraan negara dan bersama


subsistem lainnya, (misal: pendidikan) diarahkan untuk mencapai tujuan Bangsa Indonesia.
Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak hanya tanggung
jawab sektor kesehatan, tetapi tanggung jawab berbagai sektor terkait lainnya. Sebagai
subsistem-subsistem dari Sistem Penyelenggaran Negara, maka SKN berinteraksi dengan
berbagai sistem nasional lainnya (seperti: pendidikan, perekonomian, ketahanan pangan,
hankamnas, dan lain-lain). Di daerah perlu dikembangkan Sistem Kesehatan Daerah (SKD).
SKD merupakan subsistem dari SKN dalam wilayah NKRI. SKN juga merupakan bagian
dari sistem kemasyarakatan, yang dipergunakan sebagai acuan utama dalam mengembangkan
perilaku dan lingkungan sehat serta peran aktif masyarakat dalam pembangunan kesehatan.
SUBSISTEM SKN

Banyak buku referensi maupun pengalaman di beberapa negara yang menguraikan


tentang subsistem – subsistem dari suatu sistem kesehatan. Ada yang mengemukakan bahwa
dalam sistem kesehatan hanya ada 2 (dua) subsistem, yaitu subsistem upaya/pelayanan
kesehatan dan subsistempembiayaan kesehatan. Dalam hal ini sumberdaya kesehatan,
pemberdayaan masyarakat, dan manajemen kesehatan sudah termasuk dalam subsistem
upaya kesehatan. Dengan memperhatikan kondisi dan situasi di Indonesia serta kebutuhan
dewasa ini maka diputuskan terdapat 6 (enam) subsistem dari SKN, yaitu:

1. Subsistem upaya kesehatan

2. Subsistem pembiayaan kesehatan

3. Subsistem sumberdaya manusia kesehatan

4. Subsistem obat dan perbekalan kesehatan

5. Subsistem pemberdayaan masyarakat

6. Subsistem manajemen kesehatan

PERKEMBANGAN POKOK-POKOK SUBSTANSI SKN & KAITANNYA DENGAN


PEMBANGUNAN KESEHATAN

SKN 1982 yan ditetapkan dengan SK Menkes No. 999/1982 berisikan lengkap tata
nilai, proses, dan struktur & wujud pembangunan kesehatan. Lengkapnya substansi SKN
1982 ini telah dimanfaatkan dalam penyusunan UU No.23 tahun 1992 tentang kesehatan.

Sesuai amanat Tap MPR X/1998 tentang Reformasi, tata nilai pembangunan
kesehatan ini juga telah direformasi, yaitu dengan ditetapkannya Visi Indonesia sehat 2010
yang termuat dalam Rencana Pembangunan Kesehatan menuju indonesia 2010. Dalam
dokumen rencana kebijakan ini memuat pula proses pembangunan kesehatan yang meliputi
kebijakan dan program-program pembangunan kesehatan sampai dengan tahun 2010.

Sesuai Tap MPR No. VII/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan, yang menetapkan
pula visi antaranya yaitu Indonesia 2020, maka prosespembangunan kesehatan juga sedang
diperbaharui, dimana dewasa ini kita sedang menyusun RPJPK 2005-2020.

SKN yang ditetapkan tahun 2004 ini menyampaikan secara rinci struktur dan wujud
pembangunan kesehatan. Bila RPJPK 2005-2020 telah selesai disusun, maka diharapkan
materi yang meliputi tata nilai, proses, dan struktur & wujud pembangunan kesehatan
menjadi lengkap guna merevisi UU No. 23/1992 tentang Kesehatan.

2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pembiayaan kesehatan

Biaya Kesehatan ialah besarnya dana yang harus di sediakan untuk menyelenggarakan
dan atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang diperlukan oleh perorangan,
keluarga, kelompok dan masyarakat. (Azrul Azwar : 1996) Sistem pembiayaan kesehatan
didefinisikan sebagai suatu sistem yang mengatur tentang besarnya alokasi dana yang harus
disediakan untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang
diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat. (Helda : 2011) Sedangkan,
Subsistem Pembiayaan Kesehatan adalah tatanan yang menghimpun berbagai upaya
penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan sumber daya keuangan secara terpadu dan
saling mendukung untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan pembangunan kesehatan guna
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. (Ana Faiza : 2013)

Macam-macam Sistem Pembiayaan Kesehatan Nasional

Sistem pembiayaan kesehatan Indonesia secara umum terbagi dalam 2 sistem yaitu:

 Fee for Service ( Out of Pocket ) Sistem ini secara singkat diartikan sebagai sistem
pembayaran berdasarkan layanan, dimana pencari layanan kesehatan berobat lalu
membayar kepada pemberi pelayanan kesehatan (PPK). PPK (dokter atau rumah
sakit) mendapatkan pendapatan berdasarkan atas pelayanan yang diberikan, semakin
banyak yang dilayani, semakin banyak pula pendapatan yang diterima.

Kelemahan sistem Fee for Service adalah terbukanya peluang bagi pihak
pemberi pelayanan kesehatan (PPK) untuk memanfaatkan hubungan Agency Relationship,
dimana PPK mendapat imbalan berupa uang jasa medik untuk pelayanan yang diberikannya
kepada pasien yang besar-kecilnya ditentukan dari negosiasi. Semakin banyak jumlah pasien
yang ditangani, semakin besar pula imbalan yang akan didapat dari jasa medik yang
ditagihkan ke pasien. Dengan demikian, secara tidak langsung PPK didorong untuk
meningkatkan volume pelayanannya pada pasien untuk mendapatkan imbalan jasa yang lebih
banyak.

 Health Insurance , Sistem ini diartikan sebagai sistem pembayaran yang dilakukan
oleh pihak ketiga atau pihak asuransi setelah pencari layanan kesehatan berobat.
Sistem health insurance ini dapat berupa system kapitasi dan system Diagnose
Related Group (DRG system).

Sistem kapitasi merupakan metode pembayaran untuk jasa pelayanan kesehatan dimana
PPK menerima sejumlah tetap penghasilan per peserta untuk pelayanan yang telah
ditentukkan per periode waktu. Pembayaran bagi PPK dengan system kapitasi adalah
pembayaran yang dilakukan oleh suatu lembaga kepada PPK atas jasa pelayanan kesehatan
dengan pembayaran di muka sejumlah dana sebesar perkalian anggota dengan satuan biaya
(unicost) tertentu.

Salah satu lembaga di Indonesia adalah Badan Penyelenggara JPKM (Jaminan


Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat).

Sistem kedua yaitu DRG (Diagnose Related Group) tidak berbeda jauh dengan system
kapitasi di atas. Pada system ini, pembayaran dilakukan dengan melihat diagnosis penyakit
yang dialami pasien.
PPK telah mendapat dana dalam penanganan pasien dengan diagnosis tertentu dengan
jumlah dana yang berbeda pula tiap diagnosis penyakit. Jumlah dana yang diberikan ini, jika
dapat dioptimalkan penggunaannya demi kesehatan pasien, sisa dana akan menjadi
pemasukan bagi PPK.

Kelemahan dari system Health Insurance adalah dapat terjadinya underutilization dimana
dapat terjadi penurunan kualitas dan fasilitas yang diberikan kepada pasien untuk
memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Selain itu, jika peserta tidak banyak bergabung
dalam system ini, maka resiko kerugian tidak dapat terhindarkan. Namun dibalik kelemahan,
terdapat kelebihan system ini berupa PPK mendapat jaminan adanya pasien (captive market),
mendapat kepastian dana di tiap awal periode waktu tertentu, PPK taat prosedur sehingga
mengurangi terjadinya multidrug dan multidiagnose. Dan system ini akan membuat PPK
lebih kearah preventif dan promotif kesehatan.

Sumber Pembiayaan Kesehatan Nasional

Secara umum sumber biaya kesehatan dapat dibedakan sebagai berikut :

1. Bersumber dari anggaran pemerintah Pada sistem ini, biaya dan penyelenggaraan
pelayanan kesehatan sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Pelayanannya
diberikan secara cuma-cuma oleh pemerintah sehingga sangat jarang
penyelenggaraan pelayanan kesehatan disediakan oleh pihak swasta. Untuk negara
yang kondisi keuangannya belum baik, sistem ini sulit dilaksanakan karena
memerlukan dana yang sangat besar. Anggaran yang bersumber dari pemerintah ini
dibagi juga menjadi :

- Pemerintahan pusat dan dana dekonsentrasi, dana program kompensasi BBM dan
ABT

- Pemerintah provinsi melalui skema dana provinsi (PAD ditambah dana desentralisasi
DAU provinsi dan DAK provinsi)

- Pemerintah kabupaten atau kota melalui skema dana kabupaten atau kota (PAD
ditambah dana desentralisasi DAU kabupaten atau kota dan DAK kabupaten atau kota

- Keuntungan badan usaha milik daerah.

- Penjualan aset dan obligasi daerah

- Hutang pemerintah daerah

2. Bersumber dari anggaran masyarakat Dapat berasal dari individual ataupun


perusahaan. Sistem ini mengharapkan agar masyarakat (swasta) berperan aktif secara
mandiri dalam penyelenggaraan maupun pemanfaatannya. Hal ini memberikan
dampak adanya pelayanan-pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh pihak swasta,
dengan fasilitas dan penggunaan alat-alat berteknologi tinggi disertai peningkatan
biaya pemanfaatan atau penggunaannya oleh pihak pemakai jasa layanan kesehatan
tersebut. Contohnya CSR atau (Corporate Social Reponsibility) dan pengeluaran
rumah tangga baik yang dibayarkan tunai atau melalui sistem asuransi.

3. Dana yang bersumber dari swasta anatara lain :

- Perusahaan swasta

- Lembaga swadaya masyarakat

- Dana kemanusiaan (charity)

4. Bantuan biaya dari dalam dan luar negeri Sumber pembiayaan kesehatan, khususnya
untuk penatalaksanaan penyakit-penyakit tertentu cukup sering diperoleh dari
bantuan biaya pihak lain, misalnya oleh organisasi sosial ataupun pemerintah negara
lain. Misalnya bantuan dana dari luar negeri untuk penanganan HIV dan virus H5N1
yang diberikan oleh WHO kepada negara-negara berkembang (termasuk Indonesia).

5. Gabungan anggaran pemerintah dan masyarakat Sistem ini banyak diadopsi oleh
negara-negara di dunia karena dapat mengakomodasi kelemahan-kelemahan yang
timbul pada sumber pembiayaan kesehatan sebelumnya. Tingginya biaya kesehatan
yang dibutuhkan ditanggung sebagian oleh pemerintah dengan menyediakan layanan
kesehatan bersubsidi. Sistem ini juga menuntut peran serta masyarakat dalam
memenuhi biaya kesehatan yang dibutuhkan dengan mengeluarkan biaya tambahan.

Syarat Pokok Pembiayaan Kesehatan

Suatu biaya kesehatan yang baik haruslah memenuhi beberapa syarat pokok yakni :

- Jumlah

Syarat utama dari biaya kesehatan haruslah tersedia dalam jumlah yang cukup. Yang
dimaksud cukup adalah dapat membiayai penyelenggaraan semua upaya kesehatan yang
dibutuhkan serta tidak menyulitkan masyarakat yang ingin memanfaatkannya.

- Penyebaran

Berupa penyebaran dana yang harus sesuai dengan kebutuhan. Jika dana yang tersedia
tidak dapat dialokasikan dengan baik, niscaya akan menyulitkan penyelenggaraan setiap
upaya kesehatan.

- Pemanfaatan

Sekalipun jumlah dan penyebaran dana baik, tetapi jika pemanfaatannya tidak mendapat
pengaturan yang optimal, niscaya akan banyak menimbulkan masalah, yang jika
berkelanjutan akan menyulitkan masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

Untuk dapat melaksanakan syarat-syarat pokok tersebut maka perlu dilakukan


beberapa hal, yakni :
- Peningkatan Efektifitas Peningkatan efektifitas dilakukan dengan mengubah
penyebaran atau alokasi penggunaan sumber dana. Berdasarkan pengalaman yang
dimiliki, maka alokasi tersebut lebih diutamakan pada upaya kesehatan yang
menghasilkan dampak yang lebih besar, misalnya mengutamakan upaya pencegahan,
bukan pengobatan penyakit.

- Peningkatan Efisiensi Peningkatan efisiensi dilakukan dengan


memperkenalkan berbagai mekanisme pengawasan dan pengendalian. Mekanisme
yang dimaksud untuk peningkatan efisiensi antara lain:

a) Standar minimal pelayanan. Tujuannya adalah menghindari pemborosan. Pada


dasarnya ada dua macam standar minimal yang sering dipergunakan yakni:

- Standar minimal sarana, misalnya standar minimal rumah sakit dan standar
minimal laboratorium.

- Standar minimal tindakan, misalnya tata cara pengobatan dan perawatan


penderita, dan daftar obat-obat esensial.

b) Kerjasama. Bentuk lain yang diperkenalkan untuk meningkatkan efisiensi ialah


memperkenalkan konsep kerjasama antar berbagai sarana pelayanan kesehatan.
Terdapat dua bentuk kerjasama yang dapat dilakukan yakni:

- Kerjasama institusi, misalnya sepakat secara bersama-sama membeli peralatan


kedokteran yang mahal dan jarang dipergunakan. Dengan pembelian dan
pemakaian bersama ini dapat dihematkan dana yang tersedia serta dapat pula
dihindari penggunaan peralatan yang rendah. Dengan demikian efisiensi juga
akan meningkat.

- Kerjasama sistem, misalnya sistem rujukan, yakni adanya hubungan kerjasama


timbal balik antara satu sarana kesehatan dengan sarana kesehatan lainnya.

Fungsi Pembiayaan Kesehatan

Fungsi pembiayaan kesehatan antara lain :

 Penggalian dana

I. Penggalian dana untuk Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM). Sumber dana


untuk UKM terutama berasal dari pemerintah baik pusat maupun daerah, melalui
pajak umum, pajak khusus, bantuan dan pinjaman serta berbagai sumber lainnya.
Sumber dana lain untuk upaya kesehatan masyarakat adalah swasta serta
masyarakat. Sumber dari swasta dihimpun dengan menerapkan prinsip public-
private patnership yang didukung dengan pemberian insentif, misalnya keringanan
pajak untuk setiap dana yang disumbangkan. Sumber dana dari masyarakat
dihimpun secara aktif oleh masyarakat sendiri guna membiayai upaya kesehatan
masyarakat, misalnya dalam bentuk dana sehat atau dilakukan secara pasif yakni
menambahkan aspek kesehatan dalam rencana pengeluaran dari dana yang sudah
terkumpul di masyarakat, contohnya dana sosial keagamaan.

II. Penggalian dana untuk Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) berasal dari
masing-masing individu dalam satu kesatuan keluarga. Bagi masyarakat rentan dan
keluarga miskin, sumber dananya berasal dari pemerintah melalui mekanisme
jaminan pemeliharaan kesehatan wajib.

 Pengalokasian dana

I. Alokasi dana dari pemerintah yakni alokasi dana yang berasal dari pemerintah untuk
UKM dan UKP dilakukan melalui penyusunan anggaran pendapatan dan belanja baik
pusat maupun daerah sekurang-kurangnya 5% dari PDB atau 15% dari total anggaran
pendapatan dan belanja setiap tahunnya.

II. Alokasi dana dari masyarakat yakni alokasi dana dari masyarakat untuk UKM
dilaksanakan berdasarkan asas gotong royong sesuai dengan kemampuan. Sedangkan
untuk UKP dilakukan melalui kepesertaan dalam program jaminan pemeliharaan
kesehatan wajib dan atau sukarela.

 Pembelanjaan

- Pembiayaan kesehatan dari pemerintah dan public-private patnership digunakan untuk


membiayai UKM.

- Pembiayaan kesehatan yang terkumpul dari Dana Sehat dan Dana Sosial
Keagamaan digunakan untuk membiayai UKM dan UKP.

- Pembelajaan untuk pemeliharaan kesehatan masyarakat rentan dan kesehatan keluarga


miskin dilaksanakan melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan wajib.

pengendalian biaya kesehatan /INA CBGS

INA-CBG merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Groups yaitu sebuah
aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. Menurut
kepala Dinas kesehatan DKI Jakarta, Dien Emmawati, INA-CBG merupakan sistem
pembayaran dengan sistem "paket", berdasarkan penyakit yang diderita pasien. KJS
menerapkan sistem pembayaran ini untuk pelayanan baru kesehatan bagi warga Jakarta. Arti
dari Case Base Groups (CBG) itu sendiri, adalah cara pembayaran perawatan pasien
berdasarkan diagnosis-diagnosis atau kasus-kasus yang relatif sama.

Perbedaan sistem INA DRG VS INA CBG’s:

INA DRG menggunakan CGS Grouper IR-DRG oleh PT. 3M sedangkan INA CBG’s
Menggunakan UNU Grouper dari UNU-IIGH.
INA DRG memerlukan Kode Lisensi / Kode security pada instalasi di setiap Komputer
sedangkan INA CBG’s tidak memerlukan kode Lisensi dan dapat langsung digunakan lebih
dari satu PC.

INA DRG terdapat 23 MDC (Major Diagnostic Category), label menggunakan numerik
01 s/d 23 dan mengacu pada ICD-10. Sedangkan INA CBG’s terdapat 31 CMG’s (Casemix
Main Groups), label menggunakan abjad A s/d Z serta mengacu pada ICD-10 dan ICD-9CM.
Kode pada INA DRG menggunakan 6 digit. Sedangkan INA CBG’s menggunakan 5 digit
kode alfanumerik.

3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pelayanan kesehatan dan mutu


pelayanan Kesehatan

Pelayanan Kesehatan

Adalah setiap upaya yang dilaksanakan sendiri atau secara bersama2 dalam suatu organisasi
untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit
serta memulihkan dan meningkatkan kesehatan perorangan , keluarga, kelompok maupun
masyarakat

SYARAT POKOK PELAYANAN KESEHATAN

Syarat pokok pelayanan kesehatan yang dimaksud (Azwar, 1996) adalah :

1. Tersedia dan berkesinambungan

Syarat pokok pertama pelayanan kesehatan yang baik adalah pelayanan tersebut harus
tersedia di masyarakat (available) serta bersifat berkesinambungan (continuous). Artinya
semua jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat dan mudah dicapai oleh
masyarakat.

2. Dapat diterima dan wajar

Syarat pokok kedua pelayanan kesehatan yang baik adalah apa yang dapat diterima
(acceptable) oleh masyarakat serta bersifat wajar (appropriate). Artinya pelayanan kesehatan
tersebut tidak bertentangan dengan adat istiadat, kebudayaan, keyakinan, kepercayaan
masyarakat dan bersifat wajar.

3. Mudah dicapai

Syarat pokok ketiga pelayanan kesehatan yang baik adalah yang mudah dicapai
(accessible) oleh masyarakat. Pengertian ketercapaian yang dimaksud disini terutama dari
sudut lokasi. Dengan demikian untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang baik, maka
pengaturan sarana kesehatan menjadi sangat penting.

4. Mudah dijangkau
Syarat pokok pelayanan kesehatan yang ke empat adalah mudah dijangkau
(affordable) oleh masyarakat. Pengertian keterjangkauan di sini terutama dari sudut biaya.
Pengertian keterjangkauan di sini terutama dari sudut jarak dan biaya. Untuk mewujudkan
keadaan seperti ini harus dapat diupayakan pendekatan sarana pelayanan kesehatan dan biaya
kesehatan diharapkan sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat.

5. Bermutu

Syarat pokok pelayanan kesehatan yang kelima adalah yang bermutu (quality).
Pengertian mutu yang dimaksud adalah yang menunjuk pada tingkat kesempurnaan
pelayanan kesehatan yang diselenggarakan, yang disatu pihak dapat memuaskan para
pemakai jasa pelayanan, dan pihak lain tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik
serta standar yang telah ditetapkan.

TINGKATAN PELAYANAN KESEHATAN

Dapat dilakukan berdasarkan lima tingkat pencegahan (five levels of prevention)


menurut (leavel & clark) :

1. Promosi Kesehatan

2. Perlindungan Khusus

3. Diagnosis dini & pengobatan segera

4. Pembatasan cacat

5. Rehabilitasi

MACAM-MACAM PENCEGAHAN KESEHATAN

- Peningkatan kesehatan dan perlindungan khusus usaha-usaha prepatogenesis –


pencegahan primer

- Diagnosis dini & pengobatan segera dengan cara yg tepat – patogenesis – pencegahan
secondary

- Pembatasan cacat & pemulihan – pencegahan tersier

KEGIATAN MASING-MASING

- Promosi Kesehatan / peningkatan kesehatan

- Peningkatan gizi

- Peningkatan dan perbaikan kesehatan individu

- Perbaikan hygine dan sanitasi lingkungan

- Olahraga teratur
- Edukasi kesehatan

- Perkawinan yang tepat

- Perlindungan khusus

- Pemberian imunisasi

- Isolasi penderita penyakit

- Perlindungan kecelakaan kerja dll

- Pengendalian tempat2 tercemar

- Diagnosis dini

- Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin

- Pengawasan terhadap penyakit2 tertentu

- Pemberian pelayanan kesehatan yg tepat

- Meningkatan keteraturan pengobatan terhadap penderita

- Pembatasan cacat

- Pencegahan terhadap komplikasi kecacatan

- Perbaikan fasilitas kesehatan yg dapat menunjang dan mengurangi faktor resiko

- Penyempurnaan pengobatan sehingga tidak menimbulkan komplikasi

- Pemulihan

- Mengembangkan lembaga2 rehabilitasi dengan mengikutsertakan masyarakat

- Penyuluhan dan usaha2 kelanjutan yang harus dilakukan stelah sembuh dari penyakit

- Mengusahakan tempat rehabilitasi khusus, sehingga penderita yg telah cacat mampu


mempertahankan diri

- Pendidikan kesehatan serta pemberian motivasi hidup.

Definisi Mutu

Menurut Ali Gufran, 2007; Istilah mutu memiliki banyak penafsiran yang mungkin
berbeda-beda, ketika ia digunakan untuk menggambarkan sebuah produk atau pelayanan
tertentu. Bisa saja beberapa orang mengatakan bahwa sesuatu dikatakan bermutu tinggi
ketika sesuatu tersebut dianggap lebih baik, lebih cepat, lebih cemerlang, lux, lebih wah dan
biasanya lebih mahal dibandingkan produk atau layanan yang mutunya dianggap lebih
rendah. Hal ini tentu tidak sepenuhnya benar. Beberapa orang mengartikan layanan kesehatan
bermutu adalah layanan yang memuaskan pelanggan. Padahal layanan yang diberikan tidak
memenuhi standar pelayanan medis profesional. Bahkan bisa terjadi di sebuah institusi
layanan kesehatan seperti rumah sakit jika pasien datang di Unit Gawat Darurat langsung
ditangani “diinfus”. Pasien puas karena mereka merasa langsung “ditangani” padahal infus
tidak selalu diperlukan. Bahkan jika tidak terkontrol dapat menimbulkan efek samping seperti
oedem pulmo1,2.

Lebih lanjut dalam uraian Ali Gufran, 2007; Layanan bermutu dalam pengertian yang
luas diartikan sejauh mana realitas layanan kesehatan yang diberikan sesuai dengan kriteria
dan standar profesional medis terkini dan baik yang sekaligus telah memenuhi atau bahkan
melebihi kebutuhan dan keinginan pelanggan dengan tingkat efisiensi yang optimal. Abstrak
mutu dapat dinilai dan diukur dengan berbagai pendekatan. Pendekatan maupun metode
pengukuran yang digunakan dalam upaya meningkatkan mutu tersebut telah tersedia baik
dari dimensi input, proses dan output. Mutu memiliki kharakteristik melakukan pelayanan
yang benar dengan cara yang benar, pertama benar dan selanjutnya diharapkan benar1,2.

Prinsip penting dalam perbaikan mutu

Dua hal yang perlu dipantau dalam upaya perbaikan mutu adalah Kepuasan
Pelanggan dan Standar Pelayanan Kesehatan. Kedua aspek ini haruslah seimbang.

Kesetiaan dan Kepuasan Pelanggan

Dari berbagai sumber disebutkan bahwa, Prinsip utama perbaikan mutu dan kinerja
pelayanan kesehatan adalah kepedulian terhadap pelanggan. Pasien sebagai pelanggan
eksternal tidak hanya menginginkan kesembuhan dari sakit yang diderita yang merupakan
luaran (outcome) pelayan, tetapi juga merasakan dan menilai bagaimana ia diperlakukan
dalam proses pelayanan3,4. Hasil pelayanan kesehatan adalah luaran klinis, manfaat
yang diperoleh pelanggan, dan pengalaman pelanggan yang berupa kepuasan atau
kekecewaan. Pengalaman pelanggan tersebut sangat tergantung pada proses pelayanan pada
lini depan atau sistem mikro pelayanan, suatu sistem pelayanan yang bersentuhan langsung
dengan pelanggan3.

Standar Pelayanan Kesehatan

Keberadaan standar dalam pelayanan kesehatan akan memberikan manfaat, antara


lain mengurangi variasi proses, merupakan persyaratan profesi, dan dasar untuk mengukur
mutu. Ditetapkannya standar juga akan menjamin keselamatan pasien dan petugas penyedia
pelayanan kesehatan. Dikuranginya variasi dalam pelayanan akan meningkatkan konsistensi
pelayanan kesehatan, mengurangi morbiditas dan mortalitas pasien, meningkatkan efisiensi
dalam pelayanan, dan memudahkan petugas dalam pelayanan.

PERBAIKAN MUTU

Menurut Tjahyono Koentjoro 2004, Untuk melakukan perbaikan mutu pelayanan


kesehatan, perlu diperhatikan empat tingkat perubahan, yaitu :

- Pengalaman pasien dan masyarakat


- Sistem mikro pelayanan

- Sistem organisasi pelayanan kesehatan

- Lingkungan pelayan kesehatan

Berikut pendekatan-pendekatan yang dilakukan dalam upaya mewujudkan pelayanan


kesehatan yang harus berfokus pada pelanggan seperti Total Quality Management (TQM),
Layanan Prima.

Tabel 1. Perbandingan pemikiran tradisional dan Total Quality Management

Pemikiran Tradisional TQM

Peningkatan mutu merupakan tanggung Peningkatan mutu merupakan tanggung


jawab pihak manajemen jawab setiap anggota dalam organisasi

Pelanggan merupakan pihak luar dan kita Pelanggan (internal dan eksternal)
menjual kepada mereka merupakan bagian vital organisasi

Cukup baik adalah cukup baik Tidak ada yang kurang dari 100% usaha
yang dilakukan

Kita telah memiliki orang-orang terbaik


Kita membutuhkan orang-orang yang lebih untuk yang mereka kerjakan
baik untuk meningkatkan mutu
Vendor dan pemasok adalah anggota
Vendor dan pemasok adalah bukan bagian penting dari tim kita
dari kita, melainkan relasi
Mutu dibangun dalam pelayanan dan
Mutu diperoleh dari inspeksi, rejeksi, dan produk mulai dari awal input dan proses
kerja ulang
“Jika tidak rusak, tingkatkankah”
Jika tidak ada yang rusak, tidak perlu Peningkatan yang terus-menerus
diperbaiki merupakan satu-satunya jalan

Peningkatan kualitas akan menurunkan


Peningkatan kualitas adalah suatu hal yang biaya dan meningkatkan produktivitas
mahal

Sumber : Ali Ghufron Mukti, Strategi Terkini Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan:
Konsep dan Implementasi, Pusat Pengembangan Sistem Pembiayaan dan Manajemen
Asuransi/ Jaminan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, 2007.

Lebih lanjut Ali Gufran, 2007 mengulas, mengapa kita menggunakan Total Quality
management? Hal ini disebabkan karena keempat prinsip yang dimiliki oleh TQM akan
sangat membantu dalam upaya peningkatan mutu layanan kesehatan. Keempat prinsip itu
adalah:

- Mengukur mutu sehingga dapat mengelolanya;

- Melakukan perncanaan secara strategis sehingga dapat berpikir jangka panjang, tetapi
tetap melakukan aksi-aksi jangka pendek;

- Menghimpun kekuatan otak dan gagasan dari setiap orang di organisasi sehingga
diperoleh manfaat dari sinergi yang sedang dan telah dibangun, serta

- Berfokus kepada pasien (customer focused) sehingga dapat memberi mereka


kepuasan

- Pelayanan prima

Istilah pelayanan prima i merupakan terjemahan dari excellent service, yang secara
harfiah berarti pelayanan yang sangat baik atau pelayanan yang terbaik. Dalam usaha
untuk mencapai usaha Indonesia sehat 2010, Departemen Kesehatan menjelaskan bahwa
pelayanan prima seharusnya meliputi aspek-aspek berikut:

- Kemudahan akses informasi (aspek kepuasan pengguna)

- Pelaksanaan peraturan secara tepat, konsisten, dan konsekuen (aspek proses


pelayanan)

- Pelaksanaan hak dan kewajiban pemberi dan penerima pelayanan (aspek SDM dan
kepuasan pelanggan)

- Penanganan dan pendokumentasian kegiatan pelayanan dilakukan oleh tenaga yang


berwenang/kompeten (aspek proses dan SDM)

- Penciptaan pola pelayanan yang sesuai dengan sifat dan jenisnya sebagai efisiensi dan
efektivitas (aspek SDM, dan proses pelayanan)

- Penetapan tarif sesuai dengan kemampuan masyarakat dengan mekanisme pungutan


yang transparan serta adanya pengendalian dan pengawasan yang cermat (aspek
finansial dan kepuasan pelanggan)

- Tidak ada pembedaan dalam memberikan pelayanan serta pemerataan distribusi


cakupan (aspek kepuasan pelanggan)

- Kebersihan fasilitas pelayanan dan lingkungan (aspek proses pelayanan)

- Sikap ramah dan sopan petugas serta meningkatkan kinerja secara kualitatif dan
kuantitatif dengan kapasitas optimal (aspek kepuasan pelanggan dan aspek SDM) agar
mutu tetap terus terjaga.

Perbaikan Proses Berkesinambungan (Continuous Process Improvement)


Pada dasarnya, langkah perbaikan sistem mikro pelayanan model Nolan terdiri dari
tujuh langkah, yaitu:

- Bentuk tim

- Tetapkan sasaran perbaikan

- Tentukan pengukuran

- Pilih perubahan yang perlu dilakukan

- Uji coba beberapa perubahan dalam skala kecil

- Implementasikan perubahan

- Sebarkan ke unit yang lebih luas

ALAT-ALAT PENINGKATAN MUTU (QUALITY TOOLS)

Untuk menganalisis masalah, menetapkan sasaran mutu, menganalisis masalah, dan


menyusun rencana perbaikan digunakan berbagai alat perbaikan mutu, baik menggunakan
maupun tidak menggunakan metode statistik. Alat-alat tersebut adalah:

1. Alat-alat mutu bukan statistik (Non-statistical tools) merupakan alat untuk


mengembangkan ide, mengelompokkan, memprioritaskan, dan memberikan arah
dalam pengambilan keputusan. Alat-alat tersebut meliputi:

- curah pendapat

- multivoting

- matriks prioritas masalah

- fishbone

- bagan alir

- failure mode and effect analysis

- bagan gantt

2. Alat-alat mutu statistik (Statistical tools), yang meliputi:

- lembar periksa (check sheet)

- diagram kecendrungan (run chart)

- diagram pencar

- histogram

- diagram Pareto
- diagram kendali

4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan jaminan kesehatan


Pada dasarnya yang dimaksud dengan asuransi kesehatan adalah asuransi yang secara
khusus mengatasi resiko atas kesehatan, asuransi kesehatan akan menanggung seluruh biaya
yang diperlukan jika anda jatuh sakit, termasuk juga jika sakit disebabkan oleh suatu
kecelakaan. Namun tentunya keuntungan yang anda dapatkan dari asuransi kesehatan ini
tidak gratis, jika tidak ada bantuan dari pemerintah atau dari tempat anda bekerja maka anda
diwajibkan untuk membayar premi. Besarnya premi ini dapat bervariasi tergantung banyak
hal seperti tingkat risiko yang ditanggung dan administratif, dan tentunya berapa premi yang
harus anda bayarkan ini juga akan ditentukan oleh perusahaan asuransi.
Asuransi kesehatan ini dapat anda peroleh di berbagai jenis perusahaan asuransi, tepatnya
di perusahaan asuransi sosial, perusahaan asuransi jiwa, atau juga dapat anda peroleh di
perusahaan asuransi umum.
Jika kesulitan untuk mendapatkan asuransi, pemerintah pusat dan juga beberapa
pemerintah daerah juga menyediakan bantuan, bantuan asuransi kesehatan dari pemerintah
atau sering disebut Jamkesmas (jaminan kesehatan masyarakat), dan juga jamkesda serta
jamkesos untuk bantuan asuransi kesehatan di level pemerintah daerah tingkat provinsi dan
kabupaten/kota, namun bantuan ini hanya diberikan kepada mereka yang berpenghasilan
rendah saja.

Mulai 1 Januari 2014 sistem Jaminan Sosial terbaru atau JKN (Jaminan Kesehatan
Nasional) resmi diberlakukan. Namun masih banyak warga yang belum tahu apa itu BPJS
(Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan dan JKN.

JKN dan BPJS Kesehatan dan bedanya

JKN merupakan program pelayanan kesehatan terbaru yang merupakan kepanjangan


dari Jaminan Kesehatan Nasional yang sistemnya menggunakan sistem asuransi. Artinya,
seluruh warga Indonesia nantinya wajib menyisihkan sebagian kecil uangnya untuk jaminan
kesehatan di masa depan. Semua rakyat miskin atau PBI (Penerima Bantuan Iuran)
ditanggung kesehatannya oleh pemerintah. Sehingga tidak ada alasan lagi bagi rakyat miskin
untuk memeriksakan penyakitnya ke fasilitas kesehatan.

Sementara BPJS adalah singkatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. BPJS ini
adalah perusahaan asuransi yang kita kenal sebelumnya sebagai PT Askes. Begitupun juga
BPJS Ketenagakerjaan merupakan transformasi dari Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga
Kerja).
Antara JKN dan BPJS tentu berbeda. JKN merupakan nama programnya, sedangkan
BPJS merupakan badan penyelenggaranya yang kinerjanya nanti diawasi oleh DJSN (Dewan
Jaminan Sosial Nasional).

Peserta JKN

Sesuai Undang-undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
(SJSN), dengan adanya JKN, maka seluruh masyarakat Indonesia akan dijamin kesehatannya.
Dan juga kepesertaanya bersifat wajib tidak terkecuali juga masyarakat tidak mampu karena
metode pembiayaan kesehatan individu yang ditanggung pemerintah.

Fasilitas yang didapat jika ikut JKN

A. Untuk peserta PBI (Penerima Bantuan Iuran)

- Pekerja penerima upah ( PNS, Anggota TNI/POLRI, Pejabat Negara, Pegawai


Pemerintah non Pegawai Negeri dan Pegawai Swasta, akan mendapatkan pelayanan
kelas I dan II

- Pekerja bukan penerima upah (Pekerja di luar hubungan kerja atau pekerja mandiri,
karyawan swasta) akan mendapatkan pelayanan kelas I, II dan III sesuai dengan premi
dan kelas perawatan yang dipilih.

- Bukan pekerja (investor, pemberi kerja, penerima pensiun, veteran, perintis


kemerdekaan serta janda, duda, anak yatim piatu dari veteran atau perintis
kemerdekaan. Termasuk juga wirausahawan, petani, nelayan, pembantu rumah
tangga, pedagang keliling dan sebagainya) bisa mendapatkan kelas layanan kesehatan
I, II, dan III sesuai dengan premi dan kelas perawatan yang dipilih.

B. Penerima Bantuan Iuran (PBI)

Orang yang tergolong fakir miskin dan tidak mampu yang dibayarkan preminya oleh
pemerintah mendapatkan layanan kesehatan kelas III

Manfaat dan layanan yang didapat peserta JKN

Manfaat JKN mencakup pelayanan pencegahan dan pengobatan termasuk pelayanan


obat dan bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis. Seperti misalnya untuk
pelayanan pencegahan (promotif dan preventif), peserta JKN akan mendapatkan pelayanan:

- Penyuluhan kesehatan, meliputi paling sedikit penyuluhan mengenai pengelolaan


faktor risiko penyakit dan perilaku hidup bersih dan sehat.

- Imunisasi dasar, meliputi Baccile Calmett Guerin (BCG), Difteri pertusis tetanus dan
Hepatitis B (DPT-HB), Polio dan Campak.

- Keluarga Berencana, meliputi konseling, kontrasepsi dasar, vasektomi dan tubektomi


- Skrining kesehatan diberikan secara selektif yang ditujukan untuk mendeteksi risiko
penyakit dan mencegah dampak lanjutan dari risiko penyakit tertentu.

- Jenis penyakit kanker, bedah jantung, hingga dialisis (gagal ginjal).

Alur pembuatan kartu BPJS Kesehatan

Direktur Pelayanan PT Askes Fadjriadinur mengatakan bahwa Anda bisa datang ke


kantor BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) kemudian melakukan hal berikut:

1. Mengisi formulir pendaftaran

2. Pembayaran premi

Anda akan diberikan virtual account atau kode bank untuk pembayaran premi pertama
yang bisa dilakukan melalui ATM atau bank terdekat yang saat ini sudah bekerjasama yaitu
bank BRI, BNI dan Mandiri.

Untuk biaya premi peserta mandiri dengan perawatan kelas 3, sebulan hanya Rp
25.500 per orang, untuk perawatan kelas II sebulan Rp 42.500 per orang dan perawatan kelas
I sebesar Rp 50.000 per orang.

Adapun besaran premi pada kelompok pekerja sebesar 5 persen dari gaji pokoknya, 2
persen dibayarkan oleh yang bersangkutan dan 3 persen dibayarkan oleh perusahaan tempat
pekerja bekerja.

3. Mendapat kartu BPJS Kesehatan yang berlaku di seluruh Indonesia

Setelah membayar premi, nantinya Anda akan mendapat kartu BPJS Kesehatan yang
menjadi bukti bahwa Anda merupakan peserta JKN. Saat ini fasilitas kesehatan yang dimiliki
pemerintah otomatis melayani JKN. Sementara fasilitas kesehatan milik swasta yang dapat
melayani JKN jumlahnya terus bertambah. Hanya tinggal sekitar 30 persen saja yang belum
bergabung.

Alur pelayanan kesehatan

- Untuk pertama kali setiap peserta terdaftar pada satu fasilitas kesehatan tingkat
pertama (Puskesmas) yang ditetapkan oleh BPJS Kesehatan setelah mendapat
rekomendasi dinas kesehatan kabupaten/kota setempat.

- Dalam jangka waktu paling sedikit 3 (tiga) bulan selanjutnya peserta berhak memilih
fasilitas kesehatan tingkat pertama yang diinginkan.

- Peserta harus memperoleh pelayanan kesehatan pada fasilitas kesehatan tingkat


pertama tempat peserta terdaftar, kecuali berada di luar wilayah fasilitas kesehatan
tingkat pertama tempat peserta terdaftar atau dalam keadaan kegawatdaruratan medis.

Perbedaan Fasilitas Kesehatan (Faskes) tingkat 1, 2 dan 3


Perbedaan fasilitas kesehatan tingkat 1, 2 dan 3 bpjs terletak pada jenis dan jumlah
layanan medik juga spesialis dan kelengkapan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh
fasilitas kesehatan tersebut, sebagai berikut:

1. Fasilitas Kesehatan tingkat pertama (FKTP 1)

Fasilitas kesehatan tingkat 1 terdiri dari puskesmas, klinik, praktek dokter, praktek
dokter gigi dan rumah sakit tipe D.

2. Fasilitas Kesehatan tingkat dua

Tingkat 2 menurut Sistem Rujukan Berjenjang diisi oleh dua tipe 2 rumah sakit yaitu
C, B. Di lapangan, BPJSK akan mengarahkan bahwa jika dari PPK 1 pasien tidak bisa
ditangani maka akan dirujuk secara berjenjang ke tipe D atau C lebih dulu, baru ke tipe B.
Bila diperlukan baru ke tipe A.

3. Fasilitas Kesehatan tingkat 3

Fasilitas keseahtan tingkat 3 diisi oleh rumah sakit tipe A, rumah sakit ini adalah
rumah sakit yang paling lengkap dengan sarana dan prasarana ini adalah rujukan terakhir
pasien BPJS jika pasien tdak bsa ditangai di PPK1 dan juga PPK2.

Perbedaan fasilitas keseahatan terutama rumah sakit A, B, C dan D tersebut juga ikut
menentukan tarif rawat inap bpjs di tiap-tiap rumah sakit, meskipun satu tindakan yang sama.
Sangat jelas bahwa itu sebenarnya berkaitan erat dengan kemampuan layanan dan kualifikasi
Dokter Spesialis di tiap-tiap tipe RS.

Pengawasan program JKN

Pengawasan terhadap BPJS dilakukan secara eksternal dan internal. Secara eksternal,
pengawasan akan dilakukan oleh DJSN (Dewan Jaminan Sosial Nasional) dan Lembaga
pengawas independen. Dan secara internal, BPJS akan diawasi oleh dewan pengawas satuan
pengawas internal.

Asuransi dibedakan menjadi 2 jenis: Sosial dan komersial berikut perbedaannya

 Sosial

1. kepersertaan wajib bagi seluruh penduduk

2. non profit

3. manfaat komperenshif

 komersial

1. kepersertaan suka rela

2. profit
3. manfaat sesuai yang dibayarakan

Beberapa yang tidak di tanggung asuransi

- Tidak sesuai prosedur

- Pelayanan di luar faskes yang bekerja sama

- Pelayanan bertujuan losmetik

- General chek up, pengobatan alternatif

- Yankes pada saat bencana

- Pasien bunuh diri , menyiksa diri sengaja


DAFTAR PUSTAKA

http://jurnalbidandiah.blogspot.co.id/2012/05/syarat-pokok-pelayanan-kesehatan.html?m=1

https://www.scribd.com/mobile/doc/125093922/5-tingkat-pelayanan-kesehatan-docx

https://inacbg.blogspot.co.id/2015/01/tata-cara-rujukan-berjenjang.html?m=1

http://mahendro.staff.umy.ac.id/rujukan-berjenjang-jaminan-kesehatan-nasional/

http://www.pasienbpjs.com/2016/09/perbedaan-faskes-tingkat-1-2-dan-3-bpjs.html?m=1

https://www.academia.edu/9792807/BAB_I_KONSEP_DASAR_MUTU_PELAYANAN_KE
SEHATAN

http://niszk-pharmacy.blogspot.co.id/2017/03/pembiayaan-kesehatan.html?m=1

https://staff.blog.ui.ac.id/wiku-a/files/2009/10/sistem-kesehatan-nasional.pdf

fkm-uvri.blogspot.co.id/2012/04/sistem-kesehatan-nasional.html?m=1

https://kangadangsetiana.wordpress.com/2014/04/14/antara-ina-drgs-dengan-ina-cbgs/