Anda di halaman 1dari 26

PRESENTASI KASUS

SEORANG ANAK LAKI – LAKI 8 BULAN DENGAN DIARE


AKUT DEHIDRASI RINGAN-SEDANG

DISUSUN OLEH:
Edbert Wielim G99162149 (H-8)
Peter Darmaatmaja Setiabudi G99162143 (H-6)
Rizal Rhian Dalas G99181057 (H-18)

PEMBIMBING :
dr. Argadia Yuniriyadi, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK/ PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER


BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PANDAN ARANG
2018
HALAMAN PENGESAHAN

Presentasi kasus ini disusun untuk memenuhi persyaratan Kepaniteraan Klinik


Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret / RSUD
Pandan Arang Boyolali. Presentasi kasus dengan judul:

Seorang Anak Laki – Laki 8 Bulan dengan Diare Akut Dehidrasi


Ringan-Sedang

Hari, tanggal : Kamis, 30 Agustus 2018

Oleh:
Edbert Wielim G99162149 (H-8)
Peter Darmaatmaja Setiabudi G99162143 (H-6)
Rizal Rhian Dalas G99181056 (H-18)

Mengetahui dan menyetujui,


Pembimbing Presentasi Kasus

dr. Argadia Yuniriyadi, Sp.A

2
BAB I
STATUS PASIEN

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. D
Tanggal lahir : 26 Desember 2017 ( 8 bulan )
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Kringinan
BB : 7.6 kg
TB : cm
Tanggal masuk : 27 Agustus 2018
Tanggal Pemeriksaan : 28 Agustus 2018
No. CM : 185734xx

B. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama
BAB cair

2. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke IGD RSUD Pandan Arang dibawa oleh kedua
orang tuanya dengan keluhan BAB cair sejak 3 hari SMRS. BAB cair
berwarna kuning kehijauan sebanyak 5x, cair > ampas, darah (-), lendir
(+). Sekali BAB kurang lebih 1/4 gelas belimbing. Demam (+), orang
tua pasien tidak mengukur suhu dengan termometer. Oleh keluarga
pasien dibawa ke spesialis anak dan diberi obat tetapi pasien tidak
mengetahui obat apa yang diberikan. Muntah (+), setiap kali diberi
makan dan minum sebanyak kurang lebih 2 sendok. BAB dalam batas
normal kurang lebih 1/4 gelas belimbing. Pasien masih mau makan dan
minum, pasien terlihat rewel .
2 hari SMRS, pasien masih diare. BAB cair berwarna kuning
kehijauan sebanyak 7x, cair > ampas, darah (-), lendir (+), darah (-).

3
Sekali BAB kurang lebih 1/4 gelas belimbing. Demam (+), tapi tidak
diukur dengan termomter Muntah (+), setiap kali diberi makan dan
minum sebanyak kurang lebih 2 sendok. BAB dalam batas normal
kurang lebih 1/4 gelas belimbing. Pasien masih mau makan dan minum,
pasien terlihat rewel .
1 hari SMRS, pasien masih diare. BAB cair berwarna kuning
kehijauan sebanyak 5x, cair > ampas, darah (-), lendir (+), darah (-).
Sekali BAB kurang lebih 1/4 gelas belimbing. Demam (+), tapi tidak
diukur dengan termomter Muntah (+), setiap kali diberi makan dan
minum sebanyak kurang lebih 2 sendok. BAB dalam batas normal
kurang lebih 1/4 gelas belimbing. Makan dan minum pasien sudah mulai
berkurang, pasien terlihat rewel .
HMRS, kondisi pasien masih sama dan tidak ada perbaikan. Oleh
keluarga pasien dibawa ke IGD RSUD Pandan Arang. Saat di IGD,
pasien masih rewel, masih mau makan dan minum walaupun tidak
seperti 3 hari SMRS. BAB cair masih ada dan sudah sebanyak 5x. BAB
warna kuning kehijauan, cair> ampas, lendir (+), darah (-). Pasiren sudah
tidak demam. BAK terakhir 6 jam SMRS.

3. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat keluhan serupa : disangkal
Riwayat mondok : disangkal
Riwayat alergi obat/makanan : disangkal

4. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat BAB cair : disangkal
Riwayat alergi obat/makanan : disangkal
Riwayat asma : (-)
Riwayat hipertensi : (-)

4
Riwayat diabetes mellitus : (-)

5. Riwayat Lingkungan Sekitar


Berdasarkan alloanamnesis dengan ibu pasien, pasien tinggal
dengan kedua orang tua dan kakaknya. Anggota keluarga yang lain
maupun tetangga pasien tidak ada yang mengeluhkan keluhan serupa
dengan pasien.

6. Riwayat Kehamilan dan Prenatal


Ibu pasien hamil dalam usia 37 tahun dan merupakan kehamilan
yang ketiga. Ibu pasien mengaku tidak merasakan keluhan apapun saat
hamil. Ante natal care dilakukan secara rutin setiap bulan di bidan desa.
Ibu pasien mengaku mendapatkan suplemen tambah darah dari bidan.
Ibu pasien tidak mengonsumsi obat-obatan.

7. Riwayat Kelahiran
Pasien lahir spontan di RSUD Pandan Arang Boyolali saat usia
kehamilan 37 minggu, dengan berat lahir 3700 gram, panjang badan 49
cm, menangis spontan (+), kebiruan (-) dan geraknya aktif (+).

8. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan


a. Pertumbuhan
BB lahir 3700 gram, PB lahir 49 cm. Sejak kecil anak selalu dibawa ke
posyandu dan tidak didapatkan penurunan berat badan Umur sekarang 8
bulan , BB 7.6 kg, PB 75 cm.
b. Perkembangan
i. Motorik kasar dalam batas normal
ii. Motorik halus dalam batas normal
iii. Bahasa dalam batas normal
iv. Personal sosial dalam batas normal
Kesan : pertumbuhan dan perkembangan sesuai usia

5
9. Status Imunisasi
0 bulan : Hep B 0
1 bulan : BCG, Polio 1
2 bulan : DPT, Hep. B 1, HiB 1, Polio 2
3 bulan : DPT, Hep. B 2, HiB 2, Polio 3
4 bulan : DPT, Hep. B 3, HiB 3, Polio 4
9 bulan : -
Kesan : imunisasi dasar telah lengkap sesuai jadwal Kemenkes 2017

10. Riwayat Nutrisi


ASI eksklusif diberikan sejak lahir sampai sekarang, diberikan
setiap kali menangis. Pasien juga sering mendapatkan minum air putih
dan teh dari ibunya. Kesan : kualitas dan kuantitas asupan gizi cukup.

11. Riwayat Sosial


Pasien merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara, dimana ayah
pasien bekerja sebagai karyawan swasta, sedangkan ibu pasien adalah
buruh pabrik. Ayah Ibu pasien merupakan suku Jawa. Ayah, Ibu, dan
pasien beragama Islam. Pasien memeriksakan diri ke RSUD Pandan
Arang Boyolali menggunakan layanan BPJS kelas II.

12. Pohon Keluarga

6
An. E
(1 tahun 5 hari)

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum
Sikap / keadaan umum : tampak sakit sedang, gelisah, rewel
Derajat kesadaran : kompos mentis
Derajat gizi : baik
2. Tanda vital
BB : 7,6 kg
PB : 75 cm
SiO2 : 99%
Nadi : 106 x/menit, reguler
Pernafasan : 24 x/menit, reguler
Suhu : 36,9⁰ C (per axilla)
3. Perhitungan Status Gizi
a) Secara klinis
Gizi kesan baik
b) Secara Antropometris
BB : 7,6 kg, Umur : 8 bulan , PB : 75 cm
Perhitungan Status Gizi
BB/U : -2 SD < z score < 0 SD (normoweight)

7
TB/U : z score = 2 SD (normoheight)
BB/TB : -2 SD < z score < - 1 SD gizi baik
Status gizi secara antropometri: gizi baik, normoweight,
normoheight\
4. Kepala
Normosefal, lingkar kepala (LK): 48 cm (-2 SD < LK < +2 SD)
(Nellhaus).
5. Mata
Oedem palpebra (-/-), bulu mata rontok (-), konjunctiva pucat (-/-),
cekung (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil isokor (+ 3 mm/ + 3mm), air mata
(+/+)
6. Hidung
Napas cuping hidung (-), sekret (-/-), darah (-/-)
7. Mulut
Bibir sianosis (-), mukosa sedikit kering, lidah kotor dan hiperemis (-)
8. Telinga
Sekret (-/-), tragus pain (-/-)
9. Tenggorok
Uvula di tengah, tonsil T1-T1, hiperemis (-), faring hiperemis (-)
10. Leher
Bentuk normocolli, trakea di tengah, kelenjar getah bening tidak
membesar
11. Toraks
Bentuk : normochest, retraksi (-)
Pulmo : Inspeksi : pengembangan dinding dada kanan = kiri
Palpasi : fremitus raba sulit dievaluasi
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : suara dasar: vesikuler (+/+), suara
tambahan: RBH (-/-), RBK (-/-), wheezing
(-/-)
Cor : Inspeksi : iktus kordis tidak tampak

8
Palpasi : iktus kordis tidak kuat angkat
Perkusi : batas jantung kesan tidak melebar
Auskultasi : bunyi jantung I-II intensitas normal,
regular, bising (-)
12. Abdomen
Inspeksi : dinding perut lebih tinggi dari dinding dada
Auskultasi : bising usus (+) meningkat 18x/ menit
Perkusi : timpani
Palpasi : supel, hepar tidak teraba, lien tidak teraba, ascites (-),
pekak alih (-), undulasi (-), nyeri tekan (-), turgor kulit
kembali cepat
13. Ekstremitas
Akral hangat - - edema - -
- - - -
ADP kuat
CRT < 2 detik

D. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Pemeriksaan 20/08/18 Satuan Rujukan
HEMATOLOGI RUTIN
Hemoglobin 11.2 ↓ g/dl 11.3 – 14.1
Hematokrit 33.7 % 31 – 41
Leukosit 9.6 ribu/ul 6.0-17.5
Eritrosit 4.36 juta/ul 4.00 - 5.20
Trombosit 401 ribu/ul 150 – 450
Protein plasma - g/dl 6–8
INDEX ERITROSIT
MCV 77.3↓ /um 80.0 - 100.0
MCH 25.8↓ Pg 27.0 - 32.0
MCHC 33.3 g/dl 32.0 - 36.0
RDW 12.5 %
HITUNG JENIS
Eosinofil 0.0↓ % 1–3
Basofil 0.1 % 0–1

9
Neutrofil 29.6↓ % 50 – 70
segmen
Limfosit 61.1↑ % 20 – 40
Monosit 9.2↑ % 2–8

Pemeriksaan 21/08/18 Satuan Rujukan


FESES
Warna kuning kuning
Kejernihan jernih jernih
Bau Khas khas
KIMIA
Blood negatif negatif
Bilirubin negatif negatif
Urobilinogen normal normal
Benda Keton negatif negatif
Reduksi negatif negatif
Protein negatif negatif
Nitrit negatif negatif
Leukosit negatif negatif
pH 7.0 4.6-8.5
Berat Jenis 1.015 1.003-1.030
SEDIMEN
Epitel 1(+) 1(+)/LPB
Leukosit 1(+) 1(+)/LPB
Eritrosit 1(+) 1(+)/LPB
Silinder negatif negatif/LPK
Kristal negatif negatif
Lain-lain negatif negatif

E. RESUME
Pasien datang ke IGD RSUD Pandan Arang dibawa oleh kedua orang
tuanya dengan keluhan BAB cair sejak 3 hari SMRS. BAB cair berwarna
kuning kehijauan sebanyak 5x, cair > ampas, darah (-), lendir (+). Sekali
BAB kurang lebih 1/4 gelas belimbing. Demam (+), orang tua pasien tidak
mengukur suhu dengan termometer. Oleh keluarga pasien dibawa ke spesialis
anak dan diberi obat tetapi pasien tidak mengetahui obat apa yang diberikan.

10
Muntah (+), setiap kali diberi makan dan minum sebanyak kurang lebih 2
sendok. BAB dalam batas normal kurang lebih 1/4 gelas belimbing. Pasien
masih mau makan dan minum, pasien terlihat rewel .
Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan didapatkan pasien tampak
sakit sedang, gelisah dan rewel, BB: 7.6 kg, PB: 75 cm, SiO2: 99%, nadi: 106
x/menit, pernafasan: 24 x/menit, suhu 36,9˚C, air mata (+/+) , mukosa bibir
sedikit kering, bising usus meningkat 18 kali/menit.
F. DAFTAR MASALAH
1. Anamnesis:
a. BAB cair berwarna kunig kehijauan, cair>ampas, lendir (+), darah
(-)
b. Demam (+), dan muntah setiap kali diberi dua sendok makan dan
minum.
c. Pasien terlihat rewel dan makan serta minum masih banyak

2. Pemeriksaan Fisik:
a. KU: gelisah, rewel
b. Nadi 106 kali/menit
c. Pernapasan 24 kali/menit
d. Suhu: 36.9o C per axilla
e. Air mata (+/+)
f. Mukosa bibir sedikit kering
g. Bising usus meningkat 18 kali/menit, turgor kulit abdomen kembali
cepat
h. CRT < 2 detik
i. ADP kuat

G. DIAGNOSIS BANDING
1. Diare akut dehidrasi ringan-sedang ec rotavirus dd shigella
2. Gizi baik

11
H. DIAGNOSIS KERJA
1. Diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang ec rotavirus dd shigella
2. Gizi baik

I. PENATALAKSANAAN
1. IVFD RL 60 tpm mikro
2. Zinc 1x1
3. Edukasi keluarga untuk tetap diberika minum

J. PLAN
1. Rawat inap bangsal anak
2. Feses rutin

K. MONITORING
Keadaan umum, tanda vital, status hidrasi, balance cairan dan diuresis tiap 8
jam.

L. PROGNOSIS
Ad vitam : bonam
Ad sanam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam

12
BAB II
ANALISIS KASUS

Pada kasus ini diagnosis diare akut dengan dehidrasi ringan-sedang


ditegakkan berdasarkan:

A. Anamnesis
1. BAB cair berwarna kuning kehijauan, cair>ampas, lendir (+), darah (-)
2. Pasien rewel dan sering meminta makan dan minum

B. Pemeriksaan Fisik
1. KU: gelisah, rewel
2. Nadi 106 kali/menit
3. Pernapasan 24 kali/menit
4. Suhu: 36.9o C per axilla
5. Air mata (+/+)
6. Mukosa bibir sedikit kering
7. Bising usus meningkat 18 kali/menit, turgor kulit abdomen kembali
cepat
8. CRT < 2 detik
9. ADP kuat

C. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium darah didapatkan peningkatkan limfosit dan
monosit

2. Pemeriksaan feses didapatkan

Diare cair akut merupakan diare yang terjadi secara akut dan berlangsung
kurang dari 14 hari (bahkan kebanyakan kurang dari 7 hari), dengan
pengeluaran tinja yang lunak/cair. Mungkin disertai muntah dan panas. Diare
cair akut menyebabkan dehidrasi, dan bila masukan makanan kurang dapat
mengakibatkan kurang gizi.

13
Kriteria rawat inap pada pasien anak dengan diare akut adalah jika pasien
tidak mau makan dan minum (intake sulit) dan jika pasien sering muntah.

14
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
I. Diare Akut
A. Definisi
Diare cair akut merupakan diare yang terjadi secara akut dan
berlangsung kurang dari 14 hari (bahkan kebanyakan kurang dari 7 hari),
dengan pengeluaran tinja yang lunak/cair. Mungkin disertai muntah dan
panas. Diare cair akut menyebabkan dehidrasi, dan bila masukan makanan
kurang dapat mengakibatkan kurang gizi. Kematian yang terjadi disebabkan
karena dehidrasi. Penyebab terpenting diare pada anak-anak adalah
Shigella, Campylobacter jejuni dan Cryptosporidium, Vibrio cholera,
Salmonella, E. coli, rotavirus (Behrman, 2009).

B. Epidemiologi
Kuman penyebab diare menyebar masuk melalui mulut antara lain
makanan dan minuman yang tercemar tinja atau yang kontak langsung
dengan tinja penderita.
Terdapat beberapa perilaku khusus meningkatkan resiko terjadinya
diare yaitu tidak memberikan ASI secara penuh 4-6 bulan pertama
kehidupan, menggunakan botol susu yang tercemar, menyimpan makanan
masak pada suhu kamar dalam waktu cukup lama, menggunakan air
minuman yang tercemar oleh bakteri yang berasal dari tinja, tidak mencuci
tangan setelah buang air besar, sesudah membuang tinja atau sebelum
memasak makanan, tidak membuang tinja secara benar (Ardhani, 2008).
Faktor yang meningkatkan kerentanan terhadap diare antara lain tidak
memberikan ASI sampai umur 2 tahun, kurang gizi, campak,
imunodefisiensi/ imunosupressif.
Umur Kebanyakan diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan,
insiden paling banyak pada umur 6 – 10 bulan (pada masa pemberian
makanan pendamping).
Variasi musiman pola musim diare dapat terjadi melalui letak
geografi. Pada daerah sub tropik, diare karena bakteri lebih sering terjadi

15
pada musim panas sedangkan diare karena virus (Rotavirus) puncaknya
pada musim dingin. Pada daerah tropik diare Rotavirus terjadi sepanjang
tahun, frekuensi meningkat pada musim kemarau sedangkan puncak diare
karena bakteri adalah pada musim hujan.
Kebanyakan infeksi usus bersifat asimtomatik atau tanpa gejala dan
proporsi ini meningkat di atas umur 2 tahun karena pembentukan imunitas
aktif.

C. Etiologi
1. Faktor infeksi
Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan
penyebab utama diare, meliputi infeksi bakteri (Vibrio, E. coli,
Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dsb), infeksi
virus (Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus, dll), infeksi parasit
(E. hystolytica, G.lamblia, T. hominis) dan jamur (C. albicans).
Infeksi parenteral yaitu infeksi di luar sistem pencernaan yang
dapat menimbulkan diare seperti otitis media akut, tonsilitis,
bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya. (Behrman, 2009).
2. Faktor Malabsorbsi
Malabsorbsi karbohidrat yaitu disakarida (intoleransi laktosa,
maltosa dan sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan
galaktosa). Intoleransi laktosa merupakan penyebab diare yang terpenting
pada bayi dan anak. Di samping itu dapat pula terjadi malabsorbsi lemak
dan protein.
3. Faktor Makanan
Diare dapat terjadi karena mengkonsumsi makanan basi, beracun
dan alergi terhadap jenis makanan tertentu.
4. Faktor Psikologis
Diare dapat terjadi karena faktor psikologis (rasa takut dan cemas).

16
Gambar 3. Bagan Penyebab Diare

Gejala Klinis Rotavirus Shigella Salmonella ETEC EIEC Kolera

Konsistensi Cair Lembek Lembek Cair Lembek Cair

Lendir darah - Sering Kadang - + -

Bau - - Busuk + - Amis khas


Warna Kuning- Merah- Kehiajauan Tak Merah- Seperti air
hijau hiaju berwana hijau cucian beras
Leukosit - + + - - -

Lain lain Anoreksia Kejang Sepsis Meteorismus Infeksi -


sistemik
Tabel 1. Mikroorganisme Penyebab Diare dan Gejala Klinisnya
D. Patofisiologi
Terdapat beberapa mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare
yaitu:

17
1. Gangguan osmotik
Adanya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat sehingga
terjadi pergeseran air dan elektroloit ke dalam lumen usus. Isi rongga
usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya
sehingga timbul diare (Poorwo, 2003).
2. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus
akan terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam lumen usus
dan selanjutnya timbul diare karena peningkatan isi lumen usus.
3. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus
untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila
peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh
berlebihan, selanjutnya dapat timbul diare (Poorwo, 2003).

E. Diagnosis
Pada diare cair akut dapat ditemukan gejala dan tanda-tanda sebagai berikut:
1. BAB lebih cair/encer dari biasanya, frekuensi lebih dari 3 kali sehari
2. Apabila disertai darah disebut disentri (diare akut invasif)
3. Dapat disertai dengan muntah, nyeri perut dan panas
4. Pemeriksaan fisik :
Pada pemeriksaan fisik harus diperhatikan tanda utama, yaitu kesadaran,
rasa haus, turgor kulit abdomen. Perhatikan juga tanda tambahan, yaitu
ubun-ubun besar cekung atau tidak, mata cekung atau tidak, ada atau
tidak adanya air mata, kering atau tidaknya mukosa mulut, bibir dan
lidah. Jangan lupa menimbang berat badan.
Penilaian derajat dehidrasi dilakukan sesuai kriteria sebagai berikut:
1. Tanpa dehidrasi (kehilangan cairan < 5% berat badan)
a. Tidak ditemukan tanda utama dan tanda tambahan
b. Keadaan umum baik, sadar
c. Tanda vital dalam batas normal
d. Ubun-ubun besar tidak cekung, mata tidak cekung, air mata ada,
mukosa mulut dan bibir basah
e. Turgor abdomen baik, bising usus normal
f. Akral hangat

18
g. Pasien dapat dirawat di rumah, kecuali apabila terdapat komplikasi
lain (tidak mau minum, muntah terus-menerus, diare frekuen)
(Ardhani, 2008).
2. Dehidrasi sedang (kehilangan cairan 5-10% berat badan)
a. Apabila didapatkan dua tanda utama ditambah dua atau lebih tanda
tambahan
b. Keadaan umum gelisah atau cengeng
c. Ubun-ubun besar sedikit cekung, mata sedikit cekung, air mata
kurang, mukosa mulut dan bibir sedikit kering
d. Turgor kurang
e. Akral hangat
f. Pasien harus rawat inap(Ardhani, 2008).
3. Dehidrasi berat (kehilangan cairan > 10% berat badan)
a. Apabila didapatkan dua tanda utama ditambah dengan dua atau
lebih tanda tambahan
b. Keadaan umum lemah, letargi atau koma
c. Ubun-ubun sangat cekung, mata sangat cekung, air mata tidak ada,
mucosa mulut dan bibir sangat kering
d. Anak malas minum atau tidak bisa minum
e. Turgor kulit buruk
f. Akral dingin
g. Pasien harus rawat inap (Ardhani, 2008).
Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam,
tenesmus, hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat paling
fatal dari diare yang berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah
kematian akibat dehidrasi yang menimbulkan renjatan hipovolemik atau
gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik yang berlanjut. Seseorang
yang kekurangan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang, mata
cekung, lidah kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit
menurun serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh
deplesi air yang isotonik. (Behrman, 2009).
Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan
asam karbonat berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang
merangsang pusat pernapasan sehingga frekuensi pernapasan meningkat dan
lebih dalam (pernapasan Kussmaul).

19
Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat
berupa renjatan dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit),
tekanan darah menurun sampai tidak terukur. Pasien mulai gelisah, muka
pucat, akral dingin dan kadang-kadang sianosis. Karena kekurangan kalium
pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung.
Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun
sampai timbul oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan
timbul penyulit nekrosis tubulus ginjal akut yang berarti suatu keadaan
gagal ginjal akut.

F. Tatalaksana
Apabila derajat dehidrasi yang terjadi akibat diare sudah di tentukan, baru
kemudian menentukan tatalaksana yang akan diterapkan secara konsisten..
Terdapat lima lintas tatalaksana diare, yaitu:
1. Rehidrasi
2. Dukungan nutrisi
3. Supplement zinc
4. Antibiotik selektif
5. Edukasi orang tua
1. Diare cair akut tanpa dehidrasi
Penanganan lini pertama pada diare cair akut tanpa dehidrasi antara lain
sebagai berikut:
a. Memberikan kepada anak lebih banyak cairan daripada biasanya
untuk mencegah dehidrasi. Dapat kita gunakan cairan rumah tangga
yang dianjurkan, seperti oralit, makanan cair (seperti sup dan air tajin)
dan bila tidak ada air matang, kita dapat menggunakan larutan oralit
untuk anak. Pemberian larutan diberikan terus semau naak hingga
diare berhenti. Volume cairan untuk usia kurang dari 1tahun : 50-
100cc, untuk usia 1-5 tahun mendapat 100-200cc, untuk usia lebih
dari 5 tahun dapat diberikan semaunya.
b. Pemberian tablet Zinc
Pemberian tablet zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut
meskipun anak telah sembuh dari diare. Dosis zinc untuk anak
bervariasi, untuk anak usia dibawah 6 bulan sebesar 10mg (1/2 tablet)
perhari, sedangkan untuk usia diatas 6 bulan sebesar 20 mg perhari.

20
Zinc diberikan selama 10-14 hari berturut-turut, meskipun anak telah
sembuh dari diare.
c. Memberikan anak makanan untuk mencegah kekurangan gizi
d. Membawa anak kepada petugas kesehatan bila anak tidak membaik
dalam 3 hari atau menderita sebagai berikut buang air besar cair lebih
sering, muntah terus menerus, rasa haus yang nyata, makan atau
minum sedikit, demam, dan tinja berdarah.
e. Anak harus diberi oralit di rumah Formula oralit baru yang berasal
dari WHO dengan komposisi sebagai berikut:
i. Natrium : 75 mmol/L
ii. Klorida : 65 mmol/L
iii. Glukosa, anhydrous : 75 mmol/L
iv. Kalium : 20 mmol/L
v. Sitrat : 10 mmol/L
vi. Total osmolaritas : 245 mmol/L
Ketentuan pemberian oralit formula baru :
Larutkan 1 bungkus oralit formula baru dalam 200 ml air matang,
berikan larutan oralit pada anak setiap kali buang air besar dengan
ketentuan untuk anak usia kurang dari 1 tahun berikan 50-100 ml
setiap kali buang air besar, sedangkan untuk anak berumur lebih dari 1
tahun berikan 100-200 ml tiap kali buang air besar.
2. Diare cair akut dengan dehidrasi ringan-sedang
Rehidrasi dapat menggunakan oralit 75cc/kgBB dalam 3 jam
pertama dilanjutkan pemberian kehilangan cairan yang sedang
berlangsung sesuai umur seperti diatas setiap kali buang air besar.
3. Diare Cair akut dengan Dehidrasi Berat
Anak-anak dengan tanda-tanda dehidrasi berat dapat meninggal
dengan cepat karena syok hipovolemik, sehingga mereka harus
mendapatkan penanganan dengan cepat.
Rehidrasi sebagai prioritas utama terapi. Ada beberapa hal yang
penting diperhatikan agar dapat memberikan rehidrasi yang cepat dan
akurat, yaitu:

21
a. Menentukan cara pemberian cairan
Penggantian cairan melalui intravena merupakan pengobatan pilihan
untuk dehidrasi berat, karena cara tersebut merupakan jalan tercepat
untuk memulihkan volume darah yang turun. Rehidrasi IV penting
terutama apabila ada tanda-tanda syok hipovolemik (nadi sangat
cepat dan lemah atau tidak teraba, kaki tangan dingin dan basah,
keadaan sangat lemas atau tidak sadar). Cara lain pemberian cairan
pengganti hanya boleh bila rehidrasi IV tidak memungkinkan atau
tidak dapat ditemukan disekitarnya dalam waktu 30 menit.
b. Jenis cairan yang hendak digunakan
Pada saat ini cairan Ringer Laktat merupakan cairan pilihan karena
tersedia cukup banyak di pasaran meskipun jumlah kaliumnya rendah
bila dibandingkan dengan kadar kalium tinja. Bila RL tidak tersedia
dapat diberikan NaCl isotonik (0,9%) yang sebaiknya ditambahkan
dengan 1 ampul Natrium Bikarbonat 7,5% 50 ml pada setiap satu liter
NaCl isotonik. Pada keadaan diare akut awal yang ringan dapat
diberikan cairan oralit untuk mencegah dehidrasi dengan segala
akibatnya.
c. Jumlah cairan yang hendak diberikan.
Pada prinsipnya jumlah cairan pengganti yang hendak
diberikan harus sesuai dengan jumlah cairan yang keluar dari badan.
Jika memungkinkan, penderita sebaiknya ditimbang sehingga
kebutuhan cairannya dapat diukur dengan tepat. Kehilangan cairan
pada dehidrasi berat setara dengan 10% berat badan (100 ml/kg).
Bayi harus diberi cairan 30 ml/kg BB pada 1 jam pertama,
diikuti 70ml/kg BB 5 jam berikutnya, jadi seluruhnya 100 ml/kgBB
selama 6 jam. Anak yang lebih besar dan dewasa harus diberi 30
ml/kgBB pada 30 menit pertama, diikuti 70 ml/kgBB dalam 2,5 jam
berikutnya sehingga seluruhnya 100 ml/kgBB selama 3 jam. Sangat
berguna memberi tanda pada botol, untuk menunjukan jumlah cairan
yang harus diberikan setiap jam bagi setiap penderita.

22
Sesudah 30 ml/kg cairan pertama diberikan, nadi radialis yang
kuat dapat teraba. Bila masih lemah dan cepat, infus 30 ml/kg harus
diberikan lagi dalam waktu yang sama. Meskipun begitu hal ini
jarang dibutuhkan. Larutan oralit dalam jumlah kecil harus juga
diberikan melalui mulut (sekitar 5ml/kg BB per jam) segera setelah
penderita dapat minum, untuk memberi tambahan kalium dan basa.
Hal ini biasa dilakukan setelah 3-4 jam untuk bayi dan 1-2 jam untuk
penderita yang lebih besar.
d. Jalan masuk atau cara pemberian cairan
Rute pemberian cairan meliputi oral dan intravena. Larutan
oralit dengan komposisi berkisar 29 g glukosa, 3,5 g NaCl, 2,5 g
Natrium Bikarbonat dan 1,5 g KCl setiap liternya diberikan per oral
pada diare ringan sebagai upaya pertama dan juga setelah rehidrasi
inisial untuk mempertahankan hidrasi.
Tata kerja terarah untuk mengidentifkasi penyebab infeksi.
Untuk mengetahui penyebab infeksi biasanya dihubungkan dengan
dengan keadaan klinis diare tetapi penyebab pasti dapat diketahui melalui
pemeriksaan biakan tinja disertai dengan pemeriksaan urine lengkap dan
tinja lengkap (Hasan, 2007).
Gangguan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa diperjelas
melalui pemeriksaan darah lengkap, analisa gas darah, elektrolit, ureum,
kreatinin dan berat jenis plasma.
Bila ada demam tinggi dan dicurigai adanya infeksi sistemik
pemeriksaan biakan empedu, Widal, preparat malaria serta serologi
Helicobacter jejuni sangat dianjurkan. Pemeriksaan khusus seperti serologi
amoeba, jamur dan Rotavirus biasanya menyusul setelah melihat hasil
pemeriksaan penyaring (Hasan, 2007).
Secara klinis diare karena infeksi akut digolongkan sebagai berikut:
i. Koleriform, diare dengan tinja terutama terdiri atas cairan saja.
ii. Disentriform, diare dengan tinja bercampur lendir kental dan kadang-
kadang darah.

23
Memberikan terapi simtomatik
Terapi simtomatik harus benar-benar dipertimbangkan kerugian dan
keuntungannya. Antimotilitas usus seperti Loperamid akan memperburuk
diare yang diakibatkan oleh bakteri entero-invasif karena memperpanjang
waktu kontak bakteri dengan epitel usus yang seyogyanya cepat dieliminasi.
(Pusponegoro, 2004).
Memberikan terapi definitif.
Terapi kausal dapat diberikan pada infeksi:
1. Kolera : Tetrasiklin atau Kotrimoksasol atau Kloramfenikol.
2. V. parahaemolyticus, E. coli tidak memerlukan terapi spesifik
3. A. aureus : Kloramfenikol
4. Salmonellosis : Ampisilin atau Kotrimoksasol atau golongan
Quinolon seperti Siprofloksasin
5. Shigellosis : Ampisilin atau Kloramfenikol
6. Helicobacter : Eritromisin
7. Amebiasis : Metronidazol atau Trinidazol atau Secnidazol
8. Giardiasis : Quinacrine atau Chloroquineitiform atau Metronidazol
9. Balantidiasis : Tetrasiklin
10. Candidiasis : Mycostatin
11. Virus : simtomatik dan suportif (Hasan, 2007)

24
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang, pasien tersebut didiagnosis dengan diare akut dengan
dehidrasi ringan-sedang
2. Pada pasien tersebut telah dilakukan penanganan yang tepat sesuai
dengan Pedoman Pelayanan Medis IDAI 2010

B. Saran
1. Perlu edukasi pada keluarga pasien untuk menjaga kebersihan
lingkungan dan diri sendiri untuk mencegah terjadinya sakit yang
berulang.

25
DAFTAR PUSTAKA

1. Pudjiadi, Antonius H. et al. (2009). Pedoman Pelayanan Medis Ikatan


Dokter Anak Indonesia. Jakarta Pusat: Badan Penerbit IDAI.
2. Abdullah M. (2006). Perdarahan Saluran Cerna Bagian Bawah dan
Perdarahan Samar. Dalam: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I.
Jakarta: Bagian Penyakit Dalam FKUI, pp: 295.
3. Ardhani Punky. (2008). Art of Theraphy: Ilmu Penyakit Anak, Pustaka
Cendekia Press: Jogjakarta
4. Hasan Rusepno et al. (2007). Ilmu Kesehatan Anak 1: cetakan ke 11,
Infomedika : Jakarta.
5. Hassan R, Alatas H. (2007). Ilmu Kesehatan Anak, Buku Kuliah 2. Jakarta:
6. Price SA, Wilson LM. (2007). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit 6th Edition. Jakarta: EGC, pp: 1332-1333.
7. Poorwo sumarso et al. (2003). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak: Infeksi
dan Penyakit Tropis, Ikatan Dokter Anak Indonesia.
8. Pusponegoro hardiyono et al. (2004). Standar Pelayanan Medis Kesehatan
Anak : Edisi I. Ikatan Dokter Anak Indonesia.
9. Liberato dan Mullholand. (2014). Zinc supplementation in young children:
A review of the literature focusing on diarrhoea prevention and treatment
http://www.clinicalnutritionjournal.com/article/S0261-5614(14)00206-
4/abstract – Diakses Agustus 2018
10. Naeem S dan Perveen S. (2014). Role of Bottle Feedind and Parental
Education in Children Diarrhea. Research Journal Vol. 5 Issue 2 Updated
14-01-2016
11. Zander R. (2009). Fluid Management Second expanded edition. Bibliomed
– Medizinische Verlagsgesellschaft mbH, Melsungen.
12. Cortés DO, Bonor AR, Vincent JL. (2014). Isotonic crystalloid solutions: a
structured review of the literature. Br. J. Anest.

26