Anda di halaman 1dari 11

Judul : Darah Lengkap Dan Laju Endap Darah

Tujuan :

a. Tujuan Instruksional Umum


1. Mahasiswa dapat mengetahui cara penetapan Laju Endap Darah pada
darah vena.
2. Mahasiswa dapat menjelaskan cara penetapan Laju Endap Darah pada
darah vena.
b. Tujuan Instruksional Khusus
1. Mahasiswa dapat melakukan cara penetapan Laju Endap Darah pada
darah vena.
2. Mahasiswa dapat mengetahui kecepatan pengendapan eritrosit dalam
mm/jam I.
3. Mahasiswa dapat menginterpretasikan hasil penetapan Laju Endap Darah
pada darah vena.
Metode : Watergreen

Prinsip : Spesimen darah dengan antikoagulan yang telah dicampur dengan


baik dituangkan ke dalam tabung Westergreen dan diletakkan pada rak Westergreen
atau dituangkan dalam tabung Wintrobe dan ditunggu selama 1 jam itu adalah LED
nya.

Dasar Teori
Darah adalah media kompleks non-Newtonian yang terdiri dari plasma darah
dan sel-sel darah. Sel darah merah (eritrosit) menempati 30-50% dari volume darah
dan memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan sifat mekanik darah
sebagai media partikulat. (Anal Chem, 2012)

Berdasarkan penelitian mengenai darah, berbagai penyakit kardiovaskuler


menyebabkan perubahan sifat biofisik pada darah. Sifat biofisik darah diantaranya
adalah viskositas, viscoelasticity, deformabilitas, agregasi, dan tingkat sedimentasi
eritrosit (laju endap darah). Sifat biofisik darah diukur untuk memantau secara
efektif keadaan dan perkembangan penyakit tersebut. Di antara sifat – sifat biofisik
darah tersebut, LED (laju endap darah) disarankan oleh Westergreen pada tahun
1921 secara klinis digunakan untuk mendeteksi infeksi atau inflamasi penyakit,
termasuk anemia, penyakit ginjal, penyakit tiroid, rheumatoid arthritis,
aterosklerosis, dan bahkan kanker. Laju endap darah merupakan waktu dimana sel
– sel darah merah dengan antikoagulan jatuh dalam tabung vertical setelah 1 jam.
Perbedaan hasil LED tergantung pada kondisi fisiologis, seperti tingkat protein
plasma dan hematokrit. Selain itu, LED merupakan indicator RBC (Red Blood Cell)
agregasi dan vsikositas darah pada kondisi laju geser rendah. (Iomicrofluidics,
2014)

Pada tahun 1897 dokter Polandia Edmund Faustyn Biernacki menemukan


sebuah metode untuk mengukur LED. Kemudian, metode yang serupa juga
dilaporkan oleh Robert Sanno Fahraeus pada tahun 1918 dan Alf Vilhelm
Albertsson Westergren. Metode ini dinamakan metode Westergreen. Dalam metode
Westergreen, digunakan campuran 4 : 1 antara darah vena dengan natrium sitrat
dan dimasukkan dalam tabung dengan skala sedimentasi 200 mm. Tabung ini
diletakkan vertical dalam rak westergreen dalam suhu kamar. Setelah 1 jam, jarak
dari meniscus permukaan ke tingkat atas sedimen sel darah merah tercatat sebagai
LED dalam satuan mm/jam. Jatuhnya eritrosit ke bagian dasar pipet Westergreen
mengikuti sigmoid berbentuk kurva yang merupakan kurva eritrosit sedimentasi.
Kurva ini terdiri dari tiga tahap yaitu : tahap awal, yang meliputi agregasi dan
percepatan sedimentasi eritrosit; fase yang panjang, di mana ada tingkat konstan
jatuh; dan fase perlambatan akhir, yang meliputi kumpulan agregat di bagian bawah
tabung. (PLoS One, 2015).

Tingkat sedimentasi eritrosit tinggi menunjukkan kemungkinan adanya


peradangan atau tumor. Sedangkan, tingkat sedimentasi eritrosit rendah dapat
terjadi pada kondisi polisitemia vera. (Vasc Health Risk Manag, 2012).

Laju Endap Darah (LED) atau dalam bahasa inggrisnya Erythrocyte


Sedimentation Rate (ESR) merupakan salah satu pemeriksaan rutin untuk darah.
Proses pemeriksaan sedimentasi (pengendapan) darah ini diukur dengan
memasukkan darah kita ke dalam tabung khusus selama satu jam. Makin banyak
sel darah merah yang mengendap maka makin tinggi Laju Endap Darah (LED)-nya.
Tinggi ringannya nilai pada Laju Endap Darah (LED) memang sangat dipengaruhi
oleh keadaan tubuh kita, terutama saat terjadi radang. Namun ternyata orang yang
anemia, dalam kehamilan dan para lansia pun memiliki nilai Laju Endap Darah
(LED) yang tinggi.
Jadi orang normal pun bisa memiliki Laju Endap Darah (LED) tinggi, dan
sebaliknya bila Laju Endap Darah (LED) normalpun belum tentu tidak ada masalah.
Jadi pemeriksaan Laju Endap Darah (LED) masih termasuk pemeriksaan
penunjang, yang mendukung pemeriksaan fisik dan anamnesis dari sang dokter.
Bila memang Fe-nya yang turun tentunya harus cukup mengkonsumsi tablet besi
(Sulfusferrosus). Sekarang bentuknya tablet berbagai ragam. Ada yang disatukan
dengan Effervescent, atau dengan Vitamin B, dan sebagainya. Sedangkan bila kadar
proteinnya yang turun, tentunya harus konsumsi makanan atau minuman tinggi
protein. Ini pun bentuknya sudah beragam, ada yang berbentuk susu, berbentuk
minuman bertenaga dan yang paling banyak mungkin berbentuk makanan lauk-
pauk sehari-hari.

a. Standar Laju Endap Darah

Proses pengendapan darah terjadi dalam 3 tahap yaitu tahap pembentukan


rouleaux – sel darah merah berkumpul membentuk kolom, tahap pengendapan dan
tahap pemadatan. Di laboratorium cara untuk memeriksa Laju Endap Darah (LED)
yang sering dipakai adalah cara Wintrobe dan cara Westergren. Pada cara Wintrobe
nilai rujukan untuk wanita 0 — 20 mm/jam dan untuk pria 0 — 10 mm/jam, sedang
pada cara Westergren nilai rujukan untuk wanita 0 — 15 mm/jam dan untuk pria 0
— 10 mm/jam.
b. Faktor yang Mempengaruhi LED
1. Faktor eritrosit
Jumlah eritrosit untuk darah yang kurang dari normal. Ukuran eritrosit
yang lebih besar dari normal dan eritrosit yang mudah beraglutinasi akan
menyebabkan laju endap darah cepat.
2. Faktor Plasma
LED mencerminkan protein plasma yang akan meningkat ketika seseorang
mengalami infeksi akut atau kronis.
3. Faktor Teknik
Tabung tidak boleh miring, apabila terjadi kemiringan akan terjadi
kesalahan 30% dan tidak boleh banyak getaran
4. Faktor suhu
Suhu terbaik adalah 20⁰C
5. Faktor fiskositas
Variasi Laju Endap Darah
Pada orang yang lebih tua nilai Laju Endap Darah juga lebih tinggi.
Dewasa (Metode Westergren):
• Pria < 50 tahun = kurang dari 15 mm/jam
• Pria > 50 tahun = kurang dari 20 mm/jam
• Wanita < 50 tahun = kurang dari 20 mm/jam
• Wanita > 50 tahun = kurang dari 30 mm/jam
Anak-anak (Metode Westergren):
• Baru lahir = 0 – 2 mm/jam
• Baru lahir sampai masa puber = 3 – 13 mm/jam
Dalam keadaan normal nilai LED jarang melebihi 10 nm per jam. LED
ditentukan dengan mengukur tinggi cairan plasma yang kelihatan jernih berada di
atas sel darah merah yang mengendap pada akhir 1 jam ( 60 menit ). Nilai LED
meningkat pada keadaan seperti kehamilan ( 35 mm/jam ), menstruasi, TBC paru-
paru ( 65 mm/jam ) dan pada keadaan infeksi terutama yang disertai dengan
kerusakan jaringan. Metode yang dianjurkan oleh ICSH ( International Comunitet
for Standardization in Hematology ) adalah cara westergren.

Alat dan Bahan :

1. Alat
 Rak tabung
 Tabung reaksi 10 ml
 Push ball
 Botol semprot dengan akuades
 Rak Westergreen
 Pipet Westergreen
2. Bahan :
 Darah vena dengan antikoagulan EDTA
 NaCl 0,85 %
 Aquadest

Cara Kerja :
Menurut Westergreen:
1. Dihisap 50 mm NaCl 0,85 % dengan pipet Westergreen dan bantuan
push ball, kemudian dipindahkan ke dalam tabung reaksi.
2. Dihisap 200 mm darah vena dengan antikoagulan EDTA menggunakan
pipet Westergreen dan push ball, kemudian dipindahkan ke dalam
tabung reaksi yang telah berisi NaCl 0,85 %.
3. Dihomogenkan darah dengan NaCl 0,85 % dengan baik.
4. Dihisap campuran tersebut ke dalam pipet Westergreen sampai garis
tanda 0 mm kemudian dibiarkan pipet itu dalam sikap tegak lurus dalam
rak Westergreen selama 60 menit.
5. Dibaca tingginya lapisan plasma dengan milimeter dan dilaporkan
angka tersebut sebagai LED.

Pembahasan
Pada praktikum pengukuran laju endap darah (LED). LED adalah
kecepatan pengendapan eritrosit pada suatu sampel darah yang diletakkan dalam
tabung tertentu dan dinyatakan dalam satuan mm/jam. Laju endap darah memiliki
tiga kegunaan utama, yaitu alat bantu untuk mendeteksi proses peradangan,
pemantauan aktivitas atau perjalanan penyakit, dan pemeriksaan penapisan/penya-
ring (screening) untuk peradangan dan neoplasma yang tersembunyi. Metode
pengukuran laju endap darah yang digunakan pada praktikum ini adalah metode
Westergreen. Metode Westergreen adalah suatu metode pengukuran laju endap
darah yang menggunakan campuran 4 : 1 antara darah vena dengan Natrium sitrat
3,8 % yang diletakkan dalam pipet Westergreen secara vertical selama 1 jam.
Sampel yang digunakan pada praktikum ini adalah darah vena dengan
antikoagulan EDTA dari probandus laki – laki dewasa yang berumur 19 tahun.
Digunakan antikoagulan EDTA (ethylene diamine tetra acetate) karena, sebagai
garam natrium atau kaliumnya, garam – garam tersebut dapat mengubah ion
kalsium (Ca2+) dari darah menjadi bentuk yang bukan ion sehingga mencegah
terjadinya penggumpalan. Tiap 1 mg EDTA dapat mencegah membekunya 1 ml
darah. Antikoagulan ini sangat cocok digunakan untuk pemeriksaan hematologi
seperti pengukuran laju endap darah pada darah manusia. Pemeriksaan sampel
dengan antikoagulan EDTA harus dilakukan segera setelah darah dimasukkan ke
dalam tabung, namun jika pemeriksaan terpaksa harus ditunda, maka sampel dapat
diletakkan pada lemari es dengan suhu 4oC dalam waktu 24 jam. Jika tidak, maka
akan mempengaruhi hasil pemeriksaan.
Pengukuran laju endap darah dengan metode Westergreen dilakukan
dengan menggunakan pipet Westergreen, rak Westergreen, tabung reaksi 10 ml,
push ball, dan Natrium sitrat 3,8 % sebagai antikoagulan sekaligus pengencer.
Namun pada praktikum ini Natrium sitrat 3,8 % digantikan dengan Natrium Klorida
(NaCl) 0,85 %. Digunakan NaCl karena sampel darah vena yang digunakan telah
ditampung dalam tabung ungu yang berisi antikoagulan EDTA, sehingga telah
terjadi pengenceran darah dengan antikoagulan tersebut. Jika tetap digunakan
Natrium sitrat 3,8 % maka akan terjadi pengenceran darah berlebih karena Natrium
sitrat merupakan salah satu jenis antikoagulan, sehingga dapat mempengaruhi hasil
pengukuran laju endap darah. Selain itu, larutan Natrium klorida (NaCl) juga
berfungsi untuk membuat campuran menjadi isotonik karena NaCl memiliki pH
netral (7,0). Isotonik adalah keadaan dimana konsentrasi zat terlarut yang ada di
dalam dan diluar sel sama. Keadaan isotonik dibuat untuk menghindari terjadinya
kerusakan pada sel – sel darah terutama sel darah merah seperti terjadinya lisis
(pecah) atau krenasi (mengkerut).
Perbandingan darah vena dengan NaCl yang diguakan adalah 4 : 1, yaitu
200 mm darah vena dengan 50 mm NaCl. Sebanyak 50 mm NaCl yang telah diukur
dengan pipet Westergreen dipindahkan ke dalam tabung reaksi 10 ml, kemudian
sebanyak 200 mm darah vena dimasukkan ke dalam tabung reaksi tersebut dan
dilakukan penghomogenan. Campuran yang telah homogen dihisap ke dalam pipet
Westergreen sampai tanda batas 0 mm dan kemudian diletakkan secara vertikal
pada rak Westergreen selama 1 jam. Pipet Westergreen harus diletakkan secara
vertikal pada rak Westergreen agar tidak mempengaruhi kecepatan pengendapan
eritrosit. Karena semakin besar kemiringan penempatan pipet maka kecepatan
pengendapannya akan semakin tinggi sehingga hasil yang didapatkan tidak tepat.
Pengukuran LED dilakukan selama 1 jam karena kecepatan pengendapan eritrosit
melewati 3 fase yang masing – masing memiliki waktu tertentu. Fase – fase
tersebut yaitu, fase pembentukan rouleaux, fase pengendapan, dan fase pemadatan.
Jika waktu pengukuran kurang dari 1 jam maka fase – fase tersebut tidak akan
tercapai dengan baik, sedangkan jika waktu pengukuran tidak tepat. Setelah 1 jam,
ketinggian lapisan plasma yang terbentuk dibaca dalam satuan mm/jam dan
dilaporkan sebagai nilai laju endap darah (LED).
Berdasarkan hasil praktikum, didapatkan nilai laju endap darah pada
probandus laki – laki berusia 19 tahun adalah 5 mm/jam, yang artinya selama 1 jam
terjadi pembentukan plasma setinggi 5 mm. Hasil ini menunjukkan bahwa nilai
LED probandus masih dalam batas normal jika dibandingkan dengan nilai rujukan
yang ditetapkan yaitu s/d 10 mm/jam I. Dari hasil ini dapat dikatakan bahwa kondisi
tubuh probandus terutama sistem kardiovaskulernya dalam keadaan baik. Namun
pemeriksaan laju endap darah (LED) bukan merupakan pemeriksaan utama,
melainkan sebagai pemeriksaan pendukung untuk membantu dokter dalam
menegakkan diagnose penyakit. Nilai LED yang tinggi dapat terjadi pada :
 Peradangan (inflamasi) akut maupun kronis.
 Menstruasi dan kehamilan.
 Diskrasia sel plasma. Terjadi peningkatan kadar immunoglobulin yang
menyebabkan peningkatan pembentukan rouleaux eritrosit.
 Penyakit kolagen-vaskular, keganasan, kanker, dan TBC.
 Penyakit hemolitik pada bayi baru lahir.
 Penyakit lupus eritematosus sistemik.
 Pengaruh obat. (Riswanto, 2013)
Beberapa studi telah menemukan bahwa variasi nilai LED dipengaruhi oleh
perubahan musim, umur, jenis kelamin, kebiasaan merokok dan berat badan
probandus. Kecenderungan nilai - nilai LED meningkat pada usia tua. Selain itu,
beberapa studi telah menemukan bahwa nilai - nilai LED juga dipengaruhi oleh
faktor geografis. Sebagai contoh, beberapa studi menemukan bahwa LED secara
signifikan berkorelasi dengan ketinggian, lintang, kelembaban relatif, suhu rata-rata
tahunan dan curah hujan tahunan. (Int J Health Geogr, 2013)
Pengukuran nilai laju endap darah dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu
:
1. Kemampuan eritrosit membentuk rouleaux. Rouleaux adalah gumpalan sel
– sel darah merah yang disatukan bukan oleh antibodi atau ikatan kovalen,
tetapi semata – mata oleh gaya tarik permukaan.
2. Luas permukaan/ukuran eritrosit, semakin luas permukaan suatu eritrosit
maka LED semakin meningkat.
3. Bentuk eritrosit, sel sabit gagal membentuk rouleaux sehingga LED nya
rendah.
4. Rasio eritrosit terhadap plasma, pada anemia LED meningkat, sedangkan
pada polisitemia LED rendah.
5. Konsentrasi makromolekul dalam plasma, peningkatan kadar globulin atau
fibrinogen menyebabkan peningkatan pembentukan rouleaux sehingga
pengendapan eritrosit juga lebih cepat.
6. Viskositas (kekentalan) plasma, viskositas plasma yang tinggi menetralkan
tarikan ke bawah atau gumpalan sel – sel darah merah sehingga kecepatan
pengendapan berkurang.
7. Faktor teknis
- Letak posisi pipet, pipet yang diletakkan miring meningkatkan
kecepatan pengendapan eritrosit.
- Penampang pipet, makin besar diameter pipet, makin tinggi LED.
- Temperature, makin tinggi suhu, makin tinggi LED.
- Kelebihan antikoagulan dapat menyebabkan penurunan LED.
(Riswanto, 2013)
Pengukuran laju endap darah dengan metode Westergreen memiliki beberapa
kelemahan, seperti waktu pengukuran yang panjang (1 jam), memerlukan volume
yang besar, biaya tinggi karena instrumen berukuran massal dan spesimen tabung,
prosedur pembersihan tidak efektif, dan kesulitan dalam control kualitas hasil.
Keakuratan pengukuran LED dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk sudut
instalasi vertikal dan kontaminasi dari tabung spesimen. Selanjutnya, metode
pengukuran LED konvensional (contohnya Westergreen) hanya menyediakan nilai
tunggal untuk setiap sampel darah setelah 1 jam. Oleh karena itu, pendekatan
konvensional tidak cukup untuk memperoleh keadaan dinamis dari sel darah merah
selama percobaan karena pertemuan antara wilayah RBC-habis dan wilayah RBC-
kaya tidak jelas ditunjukkan dalam tabung spesimen.

Kesimpulan :

Dari hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa nilai laju endap darah (LED)
vena yang diukur dengan menggunakan metode Westergreen masih dalam batas
normal. Hal ini menunjukkan bahwa keadaan sistem kardiovaskuler vena dalam
keadaan baik.
Pengukuran laju endap darah sangat diperlukan sebagai pemeriksaan
pendukung dari beberapa pemeriksaan utama untuk membantu dalam penegakan
diagnosis terutama pada penyakit yang berhubungan dengan sistem kardiovaskuler.
DAFTAR PUSTAKA
Am J Hum Genet. 2011. Complement Receptor 1 Gene Variants are Associated
with Erythrocyte Sedimentation Rate. [online]. Tersedia :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3135803/. [diakses : 27
September 2015, 19.08 wita]
Anal Chem. 2012. Computational Analysis of Microfluidic Immunomagnetic Rare
Cell Separation from a Particulate Blood Flow. [online]. Tersedia :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3359653/. [diakses : 26
September 2015, 17.00 wita]
Int J Health Geogr. 2013. Incorporating Geographical Factors with Artificial
Neural Networks to Predict Reference Values of Erythrocyte
Sedimentation Rate. [online]. Tersedia :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3600041/. [diakses : 27
September 2015, 19.10 wita]
Iomicrofluidics. 2014. Microfluidic-based Measurement of Erythrocyte
Sedimentation Rate for Biophysical Assessment of Blood in an in
vivo Malaria-Infected Mouse. [online]. Tersedia :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4189293/. [diakses : 26
September 2015, 16.09 wita]
PLoS One. 2015. Effects of Aggregation on Blood Sedimentation and Conductivity.
[online]. Tersedia :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4457804/. [diakses : 26
September 2015, 16.11 wita]
R. Gandasoebrata. 2013. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta : Dian Rakyat.
Riswanto. 2013. Pemeriksaan Laboratorium Hematologi. Yogyakarta : Alfa Media
dan Kanal Media.
Sianny, dkk. 2015. Penuntun Praktikum Hematologi. Denpasar : Politeknik
Kesehatan Denpasar Jurusan Analis Kesehatan.
Vasc Health Risk Manag. 2012. Erythrocyte Sedimentation Rate as a Marker for
Coronary Heart Disease. [online]. Tersedia :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3333472/. [diakses : 26
September 2015, 17.03 wita]