Anda di halaman 1dari 3

23 agustus 2018

Impor Beras Jilid Ketiga Dinilai


Tidak Berpihak Pada Petani

Bisnis.com, BELITUNG — Keputusan pemerintah untuk menambah volume impor menjadi


2 juta ton pada 2018 dianggap tidak berpihak pada petani.

Ketua Departemen Data dan Informasi Bidang Kajian Strategis dan Advokasi (Kastrad)
Badan Pengurus Pusat Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Angga Hermanda
menilai bahwa izin impor yang ketiga kalinya dalam satu tahun ini harus lebih dikritisi,
karena instansi terkait seperti Kementerian Perdagangan, Perum Bulog dan Kementerian
Pertanian saling bersilang pendapat.

"Jika serapan Bulog tak memenuhi target, semestinya yang diperbaiki adalah Instruksi
Presiden (Inpres) Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah dan beras agar layak bagi
petani, sesuai situasi pasar, dan membantu Bulog mencapai target serapan, bukan justru
mengambil cara instan dengan melakukan impor", kata Angga pada Kamis (23/8).

Serapan Bulog saat ini, lanjutnya, masih mengacu pada Inpres 5/2015 tentang HPP yang
mengatur harga Gabah Kering Panen (GKP) Rp3.700 per kg, Gabah Kering Giling (GKG)
Rp4.600 per kg dan Beras Rp7.300 per kg. Padahal harga gabah dan beras ditingkat petani
sudah jauh diatas ketentuan yang diatur tersebut. Hal ini memang menjadi salah satu masalah
Bulog dalam memenuhi target serapan.

Sementara itu, Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian RI mengungkap data
per 19 Agustus 2018 penyerapan dalam negeri Bulog hanya sebesar 1,32 juta ton. Padahal
target serapan Bulog pada periode Januari-Agustus 2018 sudah ditentukan sebesar 2,44 juta
ton.

Angga menambahkan apabila Bulog tetap yakin serapan masih sesuai jalur untuk pemenuhan
target, maka yang perlu dipastikan kemudian adalah produksi gabah dilapangan. "Kekeringan
tengah mengancam produksi pada musim tanam kedua ini," tegasnya.

Badan Meterorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi sejumlah daerah
akan mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) ekstrim selama lebih dari 60 hari atau lebih yang
menyebabkan kekeringan. Daerah itu diantaranya sentra-sentra produksi padi seperti Banten,
Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta dan Jawa Timur.

Kekeringan juga mengintai beberapa daerah di Sumatera dan Nusa Tenggara. BMKG
memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi pada bulan Agustus dan September 2018.

Sementara itu, Kementan mencatat selama Januari-Juli 2018 kekeringan telah melanda
115.371 hektare persawahan padi di Indonesia dan seluas 23.895 hektare di antaranya
mengalami gagal panen atau puso. Sebagai upaya mengantisipasi kekeringan meluas,
Kementan melakukan beberapa upaya diantaranya pompanisasi untuk menjaga pertanaman 1
juta hektare pada bulan Agustus ini agar tetap bisa dipanen.

Menanggapi itu Ketua Bidang Kastrad BPP PISPI Pipink A. Bisma mengungkapkan
walaupun antisipasi telah dilakukan, patut diduga kekeringan ini akan mengoreksi target
produksi padi pemerintah pada tahun 2018.

"Hal ini seperti kekeringan yang terjadi tahun 2015 lalu, yang kemudian memicu impor beras
pada tahun yang sama dan setelahnya," katanya.

Sebagai catatan sebelumnya pemerintah meyakini bahwa tahun ini produksi GKG akan
meningkat 5% dibandingkan tahun lalu, yakni mencapai 82,3 juta ton. Dengan demikian
Kementan pada awal tahun 2018 mengklaim tidak akan melakukan impor beras.

Bersamaan dengan kegaduhan impor dan angka produksi padi, salah satu indikator
kesejahteraan petani tanaman pangan yakni Nilai Tukar Petani (NTP) terus merosot.
Berdasarkan data BPS, pada Januari 2018 NTP Tanaman Pangan tercatat sebesar 104,34
kemudian anjlok menjadi 100,30 pada Juli 2018.

"Penurunan ini diakibatkan jatuhnya harga GKP dan GKG ditingkat petani pada periode yang
sama. Pada bulan Juli 2018, rata-rata harga GKP Rp. 4.633 per kg dan GKG Rp. 5.206 per
kg. Harga ini jauh lebih rendah dibandingkan bulan Januari 2018 yang lalu, saat itu rata-rata
harga GKP Rp. 5.415 per kg dan GKG Rp. 6.002 per kg", tutur Angga.
Setali tiga uang angka kemiskinan di perdesaan juga masih lebih tinggi dibanding perkotaan
pada periode September 2017 - Maret 2018. Sebagai wilayah yang sebagian besar
penduduknya bekerja disektor pertanian, di daerah perdesaan terdapat 15,81 juta penduduk
miskin. Sementara di daerah perkotaan sebanyak 10,14 juta orang.

Berdasarkan itu, ditengah kisruh pemerintah dalam memutuskan impor beras sekarang ini,
nyata-nyata petani yang selalu menjadi korban. "Dikala petani dihadapkan pada ancaman
gagal panen karena kekeringan, saat panen tiba gabah dan beras petani diperkirakan akan
dihargai murah. Karena ada beras impor yang mempengaruhi psikologis pasar," kata pipink.

Oleh karena itu dia berharap pemerintah untuk mengevaluasi kembali kebijakan impor,
merevisi angka produksi pertanian yang lebih valid dan satu pintu, mengupayakan
optimalisasi dalam mengantisipasi kekeringan serta fokus pada peningkatan kesejahteraan
petani.

Persetujuan impor beras untuk Bulog ini pada tahap I dan II telah dikeluarkan bulan Februari
dan Mei 2018, masing-masing jumlahnya 500.000 ton. Sementara izin impor tahap III
dikeluarkan pada bulan Juli 2018 sebesar 1 juta ton dari Vietnam, Thailand, Myanmar, India,
dan Pakistan. Ditengah masa izin impor yang sudah hampir habis, Bulog bahkan diberikan
izin perpanjangan impor hingga 30 September 2018.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang Januari—Juli 2018 impor beras
melalui Bulog telah mencapai 1,181 juta ton atau senilai US$ 552,87 juta dengan volume
impor tertinggi dari Thailand sebesar 665,9 ribu ton, Vietnam 502,7 ribu ton, dan Pakistan
21.345 ton. Sehingga sekitar 820.000 ton beras lagi yang masih akan masuk ke Indonesia
hingga akhir September 2018 nanti.

Sumber: http://industri.bisnis.com