Anda di halaman 1dari 17

Nama: Ananda Putri Absari

NIM : 04011281520136
Kelompok 2
LEARNING ISSUES

A. Cedera kepala
1. Diagnosis Banding 12 7
Jika riwayat trauma kurang jelas dan pasien tidak sadar, kita hrs membedakan cedera kepala tertutup dengan
penyebab lainnya, seperti: koma diabetik, koma alkoholik, CVD atau epilepsy (jika pasien kejang).

2. Tatalaksana 1 10 7
Penatalaksanaan cedera kranioserebral dapat dibagi berdasarkan:
a. Kondisi kesadaran pasien
 Kesadaran menurun
 Kesadaran baik
b. Tindakan
 Terapi non-operatif
 Terapi operatif
c. Saat kejadian Manajemen prehospital Instalasi Gawat Darurat Perawatan di ruang rawat

Terapi non-operatif pada pasien cedera kranioserebral ditujukan untuk:


1) Mengontrol fisiologi dan substrat sel otak serta mencegah kemungkinan terjadinya tekanan tinggi intrakranial.
2) Mencegah dan mengobati edema otak (cara hiperosmolar, diuretik).
3) Minimalisasi kerusakan sekunder
4) Mengobati simptom akibat trauma otak
5) Mencegah dan mengobati komplikasi trauma otak, misal kejang, infeksi (antikonvulsan dan antibiotik)

Terapi operatif terutama diindikasikan untuk kasus:


1) Cedera kranioserebral tertutup
A. Fraktur impresi (depressed fracture)
B. Perdarahan epidural (hematoma epidural /EDH) dengan volume perdarahan lebih dari 30mL/44mL dan/atau
pergeseran garis tengah lebih dari 3 mm serta ada perburukan kondisi pasien
C. Perdarahan subdural (hematoma subdural/SDH) dengan pendorongan garis tengah lebih dari 3 mm atau
kompresi/ obliterasi sisterna basalis
D. Perdarahan intraserebral besar yang menyebabkan progresivitas kelainan neurologik atau herniasi
2) Pada cedera kranioserebral terbuka
a. Perlukaan kranioserebral dengan ditemukannya luka kulit, fraktur multipel, dura yang robek disertai laserasi
otak
b. Liquorrhea yang tidak berhenti lebih dari 14 hari
c. Pneumoencephali
d. Corpus alienum
e. Luka tembak
PASIEN DALAM KEADAAN SADAR (SKG=15)
a. Simple Head Injury (SHI)
Pada pasien ini, biasanya tidak ada riwayat penurunan kesadaran sama sekali dan tidak ada defisit neurologik,
dan tidak ada muntah. Tindakan hanya perawatan luka. Pemeriksaan radiologik hanya atas indikasi. Umumnya
pasien SHI boleh pulang dengan nasihat dan keluarga diminta mengobservasi kesadaran. Bila dicurigai
kesadaran menurun saat diobservasi, misalnya terlihat seperti mengantuk dan sulit dibangunkan, pasien harus
segera dibawa kembali ke rumah sakit.
b. Penderita mengalami penurunan kesadaran sesaat setelah trauma kranioserebral, dan saat diperiksa sudah sadar
kembali. Pasien ini kemungkinan mengalami cedera kranioserebral ringan (CKR).

PASIEN DENGAN KESADARAN MENURUN


1) CEDERA KEPALA RINGAN (GCS = 14–15 )
 Idealnya semua penderita cedera kepala diperiksa dengan CT scan, terutama bila dijumpai adanya
kehilangan kesadaran yang cukup bermakna, amnesia atau sakit kepala hebat. 3 % penderita CK. Ringan
ditemukan fraktur tengkorak
Klinis :
a. Keadaan penderita sadar
b. Mengalami amnesia yang berhubungna dengan cedera yang dialaminya
c. Dapat disertai dengan hilangnya kesadaran yang singkat
Pembuktian kehilangan kesadaran sulit apabila penderita dibawah pengaruh obat-obatan / alkohol.
d. Sebagain besar penderita pulih sempurna, mungkin ada gejala sisa ringan
 Fraktur tengkorak sering tidak tampak pada foto ronsen kepala, namun indikasi adanya fractur dasar
tengkorak meliputi :
a. Ekimosis periorbital
b. Rhinorea
c. Otorea
d. Hemotimpani
e. Battle’s sign
 Penilaian terhadap Foto ronsen meliputi :
a. Fractur linear/depresi
b. Posisi kelenjar pineal yang biasanya digaris tengah
c. Batas udara – air pada sinus-sinus
d. Pneumosefalus
e. Fractur tulang wajah
f. Benda asing
 Pemeriksaan laboratorium :
a. Darah rutin tidak perlu
b. Kadar alkohol dalam darah, zat toksik dalam urine untuk diagnostik / medikolagel
 Therapy :
a. Obat anti nyeri non narkotik
b. Toksoid pada luka terbuka
 Penderita dapat diobservasi selama 12 – 24 jam di Rumah Sakit

2) CEDERA KEPALA SEDANG (GCS = 9-13)


 Pada 10 % kasus :
o Masih mampu menuruti perintah sederhana
o Tampak bingung atau mengantuk
o Dapat disertai defisit neurologis fokal seperti hemi paresis
 Pada 10 – 20 % kasus :
o Mengalami perburukan dan jatuh dalam koma
o Harus diperlakukan sebagai penderita CK. Berat.
 Tindakan di UGD :
o Anamnese singkat
o Stabilisasi kardiopulmoner dengan segera sebelum pemeriksaan neulorogis
o Pemeriksaan CT. scan
 Penderita harus dirawat untuk diobservasi
 Penderita dapat dipulangkan setelah dirawat bila :
o Status neulologis membaik
o CT. scan berikutnya tidak ditemukan adanya lesi masa yang memerlukan pembedahan
 Penderita jatuh pada keadaan koma, penatalaksanaanya sama dengan CK. Berat.
 Airway harus tetap diperhatikan dan dijaga kelancarannya

3) CEDERA KEPALA BERAT (GCS 3 – 8)


 Kondisi penderita tidak mampu melakukan perintah sederhana walaupun status kardiopulmonernya telah
distabilkan
 CK Berat mempunyai resiko morbiditas sangat tinggi
 Diagnosa dan therapy sangat penting dan perlu dengan segara penanganan
 Tindakan stabilisasi kardiopulmoner pada penderita CK. Berat harus dilakukan secepatnya.

A. Primary survey dan resusitasi


Di UGD ditemukan :
 30 % hypoksemia ( PO2 < 65 mmHg )
 13 % hypotensia ( tek. Darah sistolik < 95 mmHg )  Mempunyai mortalitas 2 kali lebih banyak dari
pada tanpa hypotensi
 12 % Anemia ( Ht < 30 % )

1) Airway dan breathing


- Sering terjadi gangguan henti nafas sementara, penyebab kematian karena terjadi apnoe yang
berlangsung lama.
- Intubasi endotracheal tindakan penting pada penatalaksanaan penderita cedera kepala berat dengan
memberikan oksigen 100 %
- Tindakan hyeprveltilasi dilakukan secara hati-hati untuk mengoreksi sementara asidosis dan
menurunkan TIK pada penderita dengan pupil telah dilatasi dan penurunan kesadaran
- PCO2 harus dipertahankan antara 25 – 35 mm Hg
2) Sirkulasi
- Normalkan tekanan darah bila terjadi hypotensi
- Hypotensi petunjuk adanya kehilangan darah yang cukup berat pada kasus multiple truama, trauma
medula spinalis, contusio jantung / tamponade jantung dan tension pneumothorax.
- Saat mencari penyebab hypotensi, lakukan resusitasi cairan untuk mengganti cairan yang hilang
- UGS / lavase peritoneal diagnostik untuk menentukan adanya akut abdomen
B. Secondary survey
Lakukan pemeriksaan neurologis secara lengkap, antara lain:
Dilakukan segera setelah status kardiovascular penderita stabil, pemeriksaan terdiri dari :
 GCS
 Reflek cahaya pupil
 Gerakan bola mata
 Tes kalori dan Reflek kornea oleh ahli bedah syaraf
 Sangat penting melakukan pemeriksaan minineurilogis sebelum penderita dilakukan sedasi atau paralisis
 Tidak dianjurkan penggunaan obat paralisis yang jangka panjang
 Gunakan morfin dengan dosis kecil ( 4 – 6 mg ) IV
 Lakukan pemijitan pada kuku atau papila mame untuk memperoleh respon motorik, bila timbul respon
motorik yang bervariasi, nilai repon motorik yang terbaik
 Catat respon terbaik / terburuk untuk mengetahui perkembangan penderita
 Catat respon motorik dari extremitas kanan dan kiri secara terpisah
 Catat nilai GCS dan reaksi pupil untuk mendeteksi kestabilan atau perburukan pasien.

C. Prosedur Diagnosis
Pasien dengan cedera kepala sedang sampai berat harus dilakukan CT Scan secepatnya.

Terapi Medikamentosa Untuk Trauma Kepala


Tujuan utama perawatan intensif ini adalah mencegah terjadinya cedera sekunder terhadap otak yang telah
mengaalami cedera
a) Cairan Intravena
- Cairan intra vena diberikan secukupnya untuk resusitasi penderita agar tetap normovolemik
- Perlu diperhatikan untuk tidak memberikan cairan berlebih
- Penggunaan cairan yang mengandung glucosa dapat menyebabkan hyperglikemia yang berakibat buruk
pada otak yang cedera.
- Cairan yang dianjurkan untuk resusitasi adalah NaCl 0,9 % atau Rl
- Kadar Natrium harus dipertahankan dalam batas normal, keadaan hyponatremia menimbulkan oedema otak
dan harus dicegah dan diobati
b) Hyperventilasi
- Tindakan hyperventilasi harus dilakukan secara hati-hati, HV dapat menurunkan PCo2 sehingga
menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah otak
- HV yang lama dan cepat menyebabkan iskemia otak karena perfusi otak menurun
- PCO2 < 25 mmHg , HV harus dicegah
- Pertahankan level PCo2 pada 25 – 30 mmHg bila TIK tinggi.
c) Manitol
- Dosis 1 gram/kg BB bolus IV
- Indikasi penderita koma yang semula reaksi cahaya pupilnya normal, kemudian terjadi dilatasi pupil dengan
atau tanpa hemiparesis
- Dosis tinggi tidak boleh diberikan pada penderita hypotensi karena akan memperberat hypovolemia
d) Furosemid
- Diberikan bersamaan dengan manitol untuk menurunkan TIK dan akan meningkatkan diuresis
- Dosis 0,3 – 0,5 mg/kg BB IV
e) Steroid
- Steroid tidak bermanfaat
- Pada pasien cedera kepala tidak dianjurkan
f) Barbiturat
- Bermanfaat untuk menurunkan TIK
- Tidak boleh diberikan bila terdapat hypotensi dan fase akut resusitasi, karena barbiturat dapat menurunkan
tekanan darah
g) Antikonvulasan
- Penggunaan antikonvulsan profilaksisi tidak bermanfaat untuk mencegaah terjadinya epilepsi pasca trauma
- Phenobarbital & Phenytoin sering dipakai dalam fase akut hingga minggu ke I
- Obat lain diazepam dan lorazepam

Penatalaksanaan Pembedahan
a) Luka Kulit kepala
- Hal penting pada cedera kepala adalah mencukur rambut disekitar luka dan mencuci bersih sebelum
dilakukan penjahitan
- Penyebab infeksi adalah pencucian luka dan debridement yang tidak adekuat
- Perdarahan pada cedera kepala jarang mengakibatkan syok, perdarahan dapat dihentikan dengan penekanan
langsung, kauteraisasi atau ligasi pembuluh besar dan penjahitan luka
- Lakukan insfeksi untuk fraktur dan adanya benda asing, bila ada CSS pada luka menunjukan adanya robekan
dura. Consult ke dokter ahli bedah saraf
- Lakukan foto teengkorak / CT Scan
- Tindakan operatif
b) Fractur depresi tengkorak
- Tindakan operatif apabila tebal depresi lebih besar dari ketebalan tulang di dekatnya
- CT Scan dapat menggambarkan beratnya depresi dan ada tidaknya perdarahan di intra kranial atau adanya
suatu kontusio
c) Lesi masa Intrakranial
- Trepanasi dapat dilakukan apabila perdarahan intra kranial dapat mengancam jiwa dan untuk mencegah
kematian
- Prosedur ini penting pada penderita yang mengalami perburukan secara cepat dan tidak menunjukan respon
yang baik dengan terapy yang diberikan
- Trepanasi dilakukan pada pasien koma, tidak ada respon pada intubasi endotracheal , hiperventilasi moderat
dan pemberian manitol
B. EDH
1. Diagnosis Banding 9 7 1

Sebagian besar kasus EDH diakibatkan oleh robeknya arteri meningea media. Perdarahan terletak di antara
tulang tengkorak dan duramater. Gejala klinisnya adalah lucid interval, yaitu selang waktu antara pasien masih
sadar setelah kejadian trauma kranioserebral dengan penurunan kesadaran yang terjadi kemudian. Biasanya waktu
perubahan kesadaran ini kurang dari 24 jam; penilaian penurunan kesadaran dengan GCS. Gejala lain nyeri kepala
bisa disertai muntah proyektil, pupil anisokor dengan midriasis di sisi lesi akibat herniasi unkal, hemiparesis, dan
refleks patologis Babinski positif kontralateral lesi yang terjadi terlambat. Pada gambaran CT scan kepala,
didapatkan lesi hiperdens (gambaran darah intrakranial) umumnya di daerah temporal berbentuk cembung.
Epidural hematom utamanya disebabkan oleh gangguan struktur duramater dan pembuluh darah kepala biasanya
karena fraktur. Akibat trauma kapitis,tengkorak retak. Fraktur yang paling ringan, ialah fraktur linear. Jika gaya
destruktifnya lebih kuat, bisa timbul fraktur yang berupa bintang (stelatum), atau fraktur impresi yang dengan
kepingan tulangnya menusuk ke dalam ataupun fraktur yang merobek dura dan sekaligus melukai jaringan otak
(laserasio). Pada pendarahan epidural yang terjadi ketika pecahnya pembuluh darah, biasanya arteri, yang
kemudian mengalir ke dalam ruang antara duramater dan tengkorak
Terjadi akibat robeknya vena-vena jembatan, sinus venosus dura mater atau robeknya araknoidea.
Perdarahan terletak di antara duramater dan araknoidea. SDH ada yang akut dan kronik Gejala klinis berupa nyeri
kepala yang makin berat dan muntah proyektil. Jika SDH makin besar, bisa menekan jaringan otak, mengganggu
ARAS, dan terjadi penurunan kesadaran. Gambaran CT scan kepala berupa lesi hiperdens berbentuk bulan sabit.
Bila darah lisis menjadi cairan, disebut higroma (hidroma) subdural. Keadaan ini timbul setelah trauma kepala
hebat, seperti perdarahan kontusional yang mengakibatkan ruptur vena yang terjadi dalam ruangan subdural .
Pergeseran otak pada akselerasi dan de akselerasi bisa menarik dan memutuskan vena-vena. Pada waktu akselerasi
berlangsung, terjadi 2 kejadian, yaitu akselerasi tengkorak ke arah dampak dan pergeseran otak ke arah yang
berlawanan dengan arah dampak primer. Akselerasi kepala dan pergeseran otak yang bersangkutan bersifat
linear.Maka dari itu lesi-lesi yang bisaterjadi dinamakan lesi 5 kontusio. Lesi kontusio di bawah dampak disebut
lesi kontusio “coup” di seberang dampak tidak terdapat gaya kompresi, sehingga di situ tidak terdapat lesi. Jika di
situ terdapat lesi, maka lesi itu di namakan lesi kontusio “contercoup”.

2. Klasifikasi 7 6
Berdasarkan kronologisnya hematom epidural diklasifikasikan menjadi:
 Akut : ditentukan diagnosisnya waktu 24 jam pertama setelah trauma.
 Subakut : ditentukan diagnosisnya antara 24 jam–7 hari.
 Kronis : ditentukan diagnosisnya hari ke 7.

C. Visum et Repertum 2 7
1. Definisi dan Dasar Hukum Visum et Repertum
Visum et Repertum adalah keterangan tertulis yang dibuat dokter atas permintaan tertulis (resmi) penyidik
tentang pemeriksaan medis terhadap seseorang manusia baik hidup maupun mati ataupun bagian dari tubuh
manusia, berupa temuan dan interpretasinya, di bawah sumpah dan untuk kepentingan peradilan.
Yang berwenang meminta keterangan ahli adalah penyidik dan penyidik pembantu sebagaimana bunyi
pasal 7(1) butir h dan pasal 11 KUHAP. Penyidik yang dimaksud di sini adalah penyidik sesuai dengan pasal 6(1)
butir a, yaitu penyidik yang pejabat Polisi Negara RI. Penyidik ini adalah penyidik tunggal bagi pidana umum,
termasuk pidana yang berkaitan dengan kesehatan dan jiwa manusia. Oleh karena Visum et Repertum adalah
keterangan ahli mengenai pidana yang berkaitan dengan kesehatan jiwa manusia, maka penyidik pegawai negeri
sipil tidak berwenang meminta Visum et Repertum, karena mereka hanya mempunyai wewenang sesuai dengan
undang-undang yang menjadi dasar hukumnya masing-masing (Pasal 7(2) KUHAP).

2. Bagian bagian dari Visum et Repertum


Sudut kanan atas:
a. alamat tujuan SPVR(Rumah sakit atau dokter), dan tgl SPVR.
b. Rumah sakit (Direktur) :
- Kepala bagian / SMF Bedah
- Kepala bagian / SMF Obgyn
- Kepala bagian / SMF Penyakit dalam
- Kepala bagian I.K.Forensik.
Sudut kiri atas:
a. alamat peminta VetR,
b. nomor surat, hal dan
c. lampiran.
Bagian tengah :
a. Disebutkan SPVR korban hidup / mati
b. Identitas korban (nama, umur, kelamin, kebangsaan, alamat, agama dan pekerjaan).
c. Peristiwanya (modus operandi) antara lain
*Luka karena . . . . . . . . . . . . . . . .
*Keracunan (obat/racun . . . . . . . . . .).
*Kesusilaan (perkosaan/perzinahan/cabul).
*Mati karena (listrik, tenggelam, senjata api/tajam/tumpul).

1. PEMBUKAAN
Kata Projustitia dicantumkan disudut kiri atas, dan dengan demikian visum et repertum tidak perlu
bermaterai, sesuai dengan pasal 136 KUHAP.
2. PENDAHULUAN.
Bagian ini memuat antara lain :
- Identitas pemohon visum et repertum.
- Identitas dokter yang memeriksa / membuat visum et repertum.
- Tempat dilakukannya pemeriksaan (misalnya rumah sakit X Surabaya).
- Tanggal dan jam dilakukannya pemeriksaan.
- Identitas korban.
- Keterangan dari penyidik mengenai cara kematian, luka, dimana korban dirawat, waktu korban
meninggal.
- Keterangan mengenai orang yang menyerahkan / mengantar korban pada dokter dan waktu saat
korban diterima dirumah sakit.
3. PEMBERITAAN.
- Identitas korban menurut pemeriksaan dokter, (umur, jenis kel,TB/BB), serta keadaan umum.
- Hasil pemeriksaan berupa kelainan yang ditemukan pada korban.
- Tindakan-tindakan / operasi yang telah dilakukan.
- Hasil pemeriksaan tambahan.
Syarat-syarat :
- Memakai bahasa Indonesia yg mudah dimengerti orang awam.
- Angka harus ditulis dengan hurup, (4 cm ditulis empat sentimeter).
- Tidak dibenarkan menulis diagnose luka (luka bacok, luka tembak dll).
- Luka harus dilukiskan dengan kata-kata.
- Memuat hasil pemeriksaan yang objektif (sesuai apa yang dilihat dan ditemukan).
4. KESIMPULAN.
- Bagian ini berupa pendapat pribadi dari dokter yang memeriksa, mengenai hasil pemeriksaan sesuai
dgn pengetahuan yang sebaik-baiknya.
- Seseorang melakukan pengamatan dengan kelima panca indera (pengelihatan, pendengaran, perasa,
penciuman dan perabaan).
- Sifatnya subjektif.
5. PENUTUP
- Memuat kata “Demikianlah visum et repertum ini dibuat dengan mengingat sumpah pada waktu
menerima jabatan”.
- Diakhiri dengan tanda tangan, nama lengkap/NIP dokter.

Struktur Visum et Repertum


Unsur penting dalam VeR yang diusulkan oleh banyak ahli adalah sebagai berikut3 :
1. Pro Justitia
Kata tersebut harus dicantumkan di kiri atas, dengan demikian VeR tidak perlu bermeterai.
2. Pendahuluan
Pendahuluan memuat: identitas pemohon visum et repertum, tanggal dan pukul diterimanya
permohonan VeR, identitas dokter yang melakukan pemeriksaan, identitas subjek yang diperiksa :
nama, jenis kelamin, umur, bangsa, alamat, pekerjaan, kapan dilakukan pemeriksaan, dan tempat
dilakukan pemeriksaan.
3. Pemberitaan (Hasil Pemeriksaan)
Memuat hasil pemeriksaan yang objektif sesuai dengan apa yang diamati, terutama dilihat dan
ditemukan pada korban atau benda yang diperiksa. Pemeriksaan dilakukan dengan sistematis dari atas
ke bawah sehingga tidak ada yang tertinggal. Deskripsinya juga tertentu yaitu mulai dari letak
anatomisnya, koordinatnya (absis adalah jarak antara luka dengan garis tengah badan, ordinat adalah
jarak antara luka dengan titik anatomis permanen yang terdekat), jenis luka atau cedera, karakteristik
serta ukurannya. Rincian tersebut terutama penting pada pemeriksaan korban mati yang pada
saat persidangan tidak dapat dihadirkan kembali. Pada pemeriksaan korban hidup, bagian pemberitaan
terdiri dari:
a. Pemeriksaan anamnesis atau wawancara mengenai apa yang dikeluhkan dan apa yang diriwayatkan
yang menyangkut tentang penyakit yang diderita korban sebagai hasil dari kekerasan/tindak
pidana/didugakekerasan.
b. Hasil pemeriksaan yang memuat seluruh hasil pemeriksaan, baik pemeriksaan fisik maupun
pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya. Uraian hasil pemeriksaan korban
hidup berbeda dengan pada korban mati, yaitu hanya uraian tentang keadaan umum dan perlukaan
serta hal-hal lain yang berkaitan dengan tindak pidananya (status lokalis).
c. Tindakan dan perawatan berikut indikasinya, atau pada keadaan sebaliknya, alasan tidak
dilakukannya suatu tindakan yang seharusnya dilakukan. Uraian meliputi juga semua temuan pada
saat dilakukannya tindakan dan perawatan tersebut. Hal tersebut perlu diuraikan untuk
menghindari kesalahpahaman tentang tepat/ tidaknya penanganan dokter dan tepat/tidaknya
kesimpulan yang diambil.
d. Keadaan akhir korban’, terutama tentang gejala sisa dan cacat badan merupakan hal penting untuk
pembuatan kesimpulan sehingga harus diuraikan dengan jelas. Pada bagian pemberitaan memuat
6 unsur yaitu anamnesis, tanda vital, lokasi luka pada tubuh, karakteristik luka, ukuran luka, dan
tindakan pengobatan atau perawatan yang diberikan.
4. Kesimpulan
Memuat hasil interpretasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dari fakta yang ditemukan
sendiri oleh dokter pembuat VeR, dikaitkan dengan maksud dan tujuan dimintakannya VeR tersebut.
Pada bagian ini harus memuat minimal 2 unsur yaitu jenis luka dan kekerasan dan derajat kualifikasi
luka. Hasil pemeriksaan anamnesis yang tidak didukung oleh hasil pemeriksaan lainnya, sebaiknya
tidak digunakan dalam menarik kesimpulan. Pengambilan kesimpulan hasil anamnesis hanya boleh
dilakukan dengan penuh hati-hati. Kesimpulan VeR adalah pendapat dokter pembuatnya yang bebas,
tidak terikat oleh pengaruh suatu pihak tertentu. Tetapi di dalam kebebasannya tersebut juga terdapat
pembatasan, yaitu pembatasan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi, standar profesi dan ketentuan
hukum yang berlaku. Kesimpulan VeR harus dapat menjembatani antara temuan ilmiah dengan
manfaatnya dalam mendukung penegakan hukum. Kesimpulan bukanlah hanya resume hasil
pemeriksaan,melainkan lebih ke arah interpretasi hasil temuan dalam kerangka ketentuan hokum-
hukum yang berlaku.
5. Penutup
Memuat pernyataan bahwa keterangan tertulis dokter tersebut dibuat dengan mengingat sumpah atau
janji ketika menerima jabatan atau dibuat dengan mengucapkan sumpah atau janji lebih dahulu sebelum
melakukan pemeriksaan serta dibubuhi tanda tangan dokter pembuat VeR.

3. Kebijakan Visum et Repertum


Melalui pendekatan yuridis visum et repertum di dalam Undang-Undang No 8 tahun 1981 tentang
hukum acara pidana, menunjukkan terdapat masalah mendasar yaitu kedudukan visum et repertum masuk
dalam alat bukti keterangan ahli atau alat bukti surat yang kedua alat bukti ini sah menurut hukum sesuai
pasal 184 KUHAP. Berikut analisis yuridis peraturan perundang-undangan pidana di indonesia :
1. Pasal 120 KUHAP
“Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat minta pendapat orang ahli atau orang yang memiliki
keahlian khusus.”
2. Pasal 133 KUHAP
1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka,keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana,ia
berwenang mengajukan permintaan
2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis,
yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat
dan atau pemeriksaan bedah mayat.
3. Pasal 179 KUHAP
1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau
ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
2) Semua ketentuan tersebut diatas untuk saksi berlaku juga bagi saksi yang memberikan
keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan
memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang sebenar-benarnya menurut
pengetahuan dalam bidang keahliannya.
2. Pasal 180 KUHAP
1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang
pengadilan, hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta agar diajukan
bahan baru oleh yang berkepentingan.
2) Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukum terhadap hasil
keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hakim memerintahkan agar hal itu
dilakukan penelitian ulang.
3) Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulang sebagaimana
tersebut pada ayat (2)
4) Penelitian ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2) dan ayat (3) dilakukan oleh instansi semula
dengan komposisi personil yang berbeda dan instansi lain yang mempunyai wewenang untuk
itu.
3. Pasal 184 KUHAP ayat 1 huruf b
1) Alat bukti yang sah ialah :
1. Keterangan saksi
2. Keterangan ahli
3. Surat
4. Petunjuk
5. Keterangan terdakwa
6. Pasal 186 KUHAP
Keterangan ahli sidang pengadilan ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.
7. Pasal 187 KUHAP
Surat sebagaimana tersebut pada pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan atau dikuatkan
dengan sumpah adalah:
a. Berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang
berwenang atau yang dibuat dihadapannya, yang memuat keterangan tentang kejadian atau
keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri, disertai dengan alasan yang jelas
dan tegas tentang keterangannya itu;
b. Surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang dibuat
oleh pejabat mengenai hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi tanggung
jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu keadaan;
c. Surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai
sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi daripadanya;
d. Surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat pembuktian
yang lain.
8. Pasal 216 KUHAP
1) Barangsiapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang dilakukan menurut
undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan
tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana;
demikian pula barangsiapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan
dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.
Contoh Visum
Pekanbaru, 24 Agustus 2010
PRO JUSTITIA

VISUM ET REPERTUM
No. /TUM/VER/VIII/2010
Yang bertandatangan di bawah ini, Dedi Afandi, dokter spesialis forensik pada RSUD Arifin Achmad, atas
permintaan dari kepolisian sector Teluk Belanga dengan suratnya nomor B/37/VeR/VIII/Reskrim tertanggal 24
Agustus 2010 maka dengan ini menerangkan bahwa pada tanggal dua puluh empat Agustus tahun dua ribu sepuluh
pukul Sembilan lewat lima menit Waktu Indonesia Bagian Barat.bertempat di RSUD Arifin Achmad, telah
melakukan pemeriksaan korban dengan nomor registrasi 123456 yang menurut surat tersebut adalah:
Nama : xxxx
Umur : 34 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Warga negara : Indonesia
Pekerjaan : xxxx
Agama : xxxx
Alamat : xxxx

HASIL PEMERIKSAAN:
1. Korban datang dalam keadaan sadar dengan keadaan umum sakit sedang. Korban mengeluh sakit kepala dan
sempat pingsan setelah kejadian pemukulan pada kepala ————————————————————
2. Pada korban ditemukan ————————————————————
a. Pada belakang kepala kiri, dua sentimeter dan garis pertengahan belakang, empat senti meter diatas batas dasar
tulang, terdapat luka terbuka, tepi tidak rata, dinding luka kotor, sudut luka tumpul, berukuran tiga senti meter
kali satu senti meter, disekitarnya dikelilingi benjolan berukuran empat sentimeter kali empat senti meter ——
———————————
b. Pada dagu, tepat pada garis pertengahan depan terdapat luka terbuka tepi tidak rata, dasar jaringan bawah
kulit,dinding kotor, sudut tumpul, berukuran dua senti meter kali setengah sentimeter dasar otot.—————
c. Lengan atas kiri terdapat gangguan fungsi, teraba patah pada pertengahan serta nyeri pada penekanan. ———
————————----------------------
d. Korban dirujuk ke dokter syaraf dan pada pemeriksaan didapatkan adanya cedera kepala ringan. —————
—————————--------------------
3. Pemeriksaan foto Rontgen kepala posisi depan dan samping tidak menunjukkan adanya patah tulang.
Pemeriksaan foto rontgen lengan
atas kiri menunjukkan adanya patah tulang lengan atas pada pertengahan.
4. Terhadap korban dilakukan penjahitan dan perawatan luka, dan pengobatan. —————————————
——————————----
5. Korban dipulangkan dengan anjuran kontrol seminggu lagi.——————

KESIMPULAN :
Pada pemeriksaan korban laki-laki berusia tiga puluh empat tahun ini ditemukan cedera kepala ringan, luka terbuka
pada belakang kepala kiri dan dagu serta patah tulang tertutup pada lengan atas kiri akibat kekerasan tumpul.
Cedera tersebut telah mengakibatkan penyakit / halangan dalam menjalankan pekerjaan jabatan/pencaharian untuk
sementara waktu. Demikianlah visum et repetum ini dibuat dengan sebenarnya dengan menggunakan keilmuan
yang sebaik-baiknya, mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

Dokter Pemeriksa
ANALISIS MASALAH
1. 1 jam sebelum masuk RS, Mr. X 20 tahun dianiaya oleh tetangganya dengan menggunakan sepotong
kayu. Mr.X pingsan kurang lebih 5 menit kemudian sadar kembali dan melaporkan kejadian ini ke
kantor polisi terdekat.
a. Bagaimana mekanisme pingsan pada kasus? 1 7
 Trauma tumpul temporal  fraktur pada os. temporal  ruptur a.meningea media  hematoma epidural
 tekanan intrakranial meningkat mendadak  gangguan aliran darah ke otak  suplai oksigen dan
glukosa menurun  Mr.X pingsan beberapa saat (± 5 menit)  terjadi mekanisme kompensasi
intrakranial dengan cara membuang CSF dan darah vena keluar dari ruang intrakranial dengan volume
yang sama  TIK menurun ke keadaan normal Mr.X sadar kembali
 Pada saat terjadi pukulan, energi kinetik yang tinggi akan dihantarkan ke kepala. Getaran hebat dan tiba-
tiba akan diteruskan ke otak, yang dapat menyebabkan gangguan impuls sensori aferen yang
menstimulasi ARAS (Ascending Reticular Activating System) menuju korteks serebri yang dapat
menyebabkan penurunan aktivitas korteks yang menurunkan kesadaran. Penurunan kesadaran dapat juga
disebabkan karena perdarahan yang timbul dapat mengurangi aliran darah ke otak sehingga suplai
oksigen dan glukosa menurun yang menyebabkan aktivitas otak berkurang yang disertai penurunan
kesadaran.

2. Polisi mengantar Mr. X ke RSUD untuk dibuatkan visum et repertum, di RSUD Mr.X mengeluh
lukandan memar di kepala sebelah kanan disertai nyeri kepala hebat dan muntah.
a. Apa saja jenis-jenis visum et repertum? 7 13
Jenis-jenis visum et repertum, antara lain sebagai berikut.
1) Visum pada orang hidup
Visum yang diberikan untuk korban luka-luka karena kekerasan, keracunan, perkosaan, psikiatri dan
lain-lain. Berdasarkan waktu pemberiannya visum untuk korban hidup dapat dibedakan atas:
1. Visum seketika adalah visum yang dibuat seketika oleh karena korban tidak memerlukan tindakan
khusus atau perawatan dengan perkataan lain korban mengalami luka - luka ringan
2. Visum sementara adalah visum yang dibuat untuk sementara berhubung korban memerlukan tindakan
khusus atau perawatan. Dalam hal ini dokter membuat visum tentang apa yang dijumpai pada waktu
itu agar penyidik dapat melakukan penyidikan walaupun visum akhir menyusul kemudian
3. Visum lanjutan adalah visum yang dibuat setelah berakhir masa perawatan dari korban oleh dokter
yang merawatnya yang sebelumnya telah dibuat visum sementara untuk awal penyidikan. Visum
tersebut dapat lebih dari satu visum tergantung dari dokter atau rumah sakit yang merawat korban.
Visum et repertum orang hidup dapat terdiri dari luka :
1. Luka yang paling banyak terjadi adalah luka mekanis, biasanya luka ini bisa karena
a. Luka benda tumpul
b. Luka benda tajam
c. Luka tembakan senjata api
2. Kemudian luka akibat kekerasan fisis diantaranya adalah
a. Luka akibat suhu tinggi atau luka bakar
b. Luka akibat listrik.
3. Luka akibat zat kimia terdiri dari
a. Luka akibat asam kuat
b. Akibat basa kuat
2) Visum pada jenazah
Jenazah yang akan dimintakan visum et repertumnya harus diberi label yang memuat identitas mayat,
dilak dengan diberi cap jabatan, diikatkan pada ibu jari kaki atau bagian tubuh lainnya. Pada surat
permintaan visum et repertum harus jelas tertulis jenis pemeriksaan yang diminta, apakah pemeriksaan
luar (pemeriksaan jenazah) atau pemeriksaan dalam/autopsi (pemeriksaan bedah jenazah).
Jenis visum et repertum pada orang mati atau mayat:
 Pemeriksaan luar jenazah yang berupa tindakan yang tidak merusak keutuhan jaringan jenazah secara
teliti dan sistematik.
 Pemeriksaan dalam atau bedah jenazah, pemeriksaan secara menyeluruh dengan membuka rongga
tengkorak, leher, dada, perut, dan panggul. Kadangkala dilakukan pemeriksaan penunjang yang
diperlukan seperti pemeriksaan histopatologi, toksikologi, serologi, dan sebagainya.

3. Dari hasil pemeriksaan didapatkan:


RR: 28 x/menit, Tekanan darah: 130/90 mmHg, Nadi 50x/menit, GCS E4 M6 V5, Pupil isokor, reflex
cahaya pupil kanan reaktif, pupil kiri reaktif.
Regio Orbita: Dextra et sinistra tampak hematom, sub conjungtival bleeding (-)
Regio Temporal Dextra : Tampak luka ukuran 6x1 cm , tepi tidak rata, sudut tumpul dengan dasar
fraktur tulang
Regio Nasal: Tampak darah segarmengalir dari kedua lubang hidung
a. Bagaimana interpretasi pemeriksaan diatas? 1 7
No Pemeriksaan fisik Normal Interpretasi
1 RR : 28 x/mnt 16-24 Takipneu, merupakan kompensasi dari ↓ perfusi otak
x/menit untuk menjaga perfusi otak adekuat.
2 TD 130/90 mmHg 120/80 Hipertensi, kompensasi iskemik otak.
mmHg TIK (ICP) ↑  kompensasi untuk mempertahankan
CPP peningkatan MAP hipertensi
3 Nadi 50 x/mnt 60-100 Bradikardi, akibat penekanan pada medulla oblongata
mmHg yang selanjutnya merangsang pusat inhibisi jantung.
4 GCS E4M6V5 E4M6V5 Normal
5 Pupil isokor Isokor Normal, N. III normal
6 Reflex cahaya : pupil Reaktif Normal, N. III normal
kanan reaktif, pupil
kiri reaktif
7. Regio Orbita : Tidak ada Abnormal
Dextra et sinistra hematom
tampak hematom,
sub conjunctival
bleeding (-)
Darah dari epidural hematom menuju rongga orbita 
hematom orbita bilateral
8. Regio Temporal: Tidak ada Abnormal
Tampak luka ukuran hematom Vulnus laseratum atau luka robek adalah luka dengan
6x1 cm , tepi tidak tepi yang tidak beraturan atau compang camping
rata, sudut tumpul biasanya karena tarikan atau goresan benda tumpul,
dengan dasar fraktur kedalaman luka bisa menembus lapisan mukosa hingga
tulang lapisan otot. Pada kasus, Mr. X dipukul menggunakan
sepotong kayu sehingga goresan dari kayu tersebut
mengenai kepala Mr. X dan menyebabkan laserasi
tersebut. Pukulan ini juga menyebabkan fraktur tulang,
yang kemungkinan pada kasus merupakan fraktur fossa
anterior basis cranii yang terletak di regio temporal.
9. Regio Nasal: Tidak ada Abnormal
Tampak darah cairan
segarmengalir dari keluar
kedua lubang hidung

Darah segar mengalir menandakan adanya perdarahan


pada bagian anterior nasal. Akibat dari benturan kayu
yang mengenai bagian wajah (Fossa cranii anterior) 
rupturnya plexus kiesselbach  terjadi pendarahan dari
hidung.

4. Tak lama setelah dilakukan pemeriksaan, tiba-tiba pasien tak sadarkan diri
Dari hasil pemeriksaan pada saat terjadi penurunan kesadaran didapatkan:
Pasien ngorok, RR 24x/menit, Nadi 50x/menit tekanan darah 140/90 mmHg
Pasien membuka mata dengan rangsang nyeri, melokalisisr nyeri, dan mengerang dalam bentuk kata-
kata. Pupil anisokor dekstra, reflex cahaya pupil kanan negatif, reflex cahay kiri reaktif/normal.
Pada saat itu Anda merupakan dokter jaga UGD di RSUD tersebt dibantu oleh 3 orang perawat
a. Bagaimana mekanisme abnormal pemeriksaan diatas? 7 13
No. Keadaan Abnormal Mekanisme Abnormal
1. Mengorok Akibat dari kesadaran yang menurun  tonus otot lidah akan
menurun  lidah terjatuh kebelakang  saat melakukan inspirasi
terjadi turbulensi  timbulnya mengorok
2. RR meningkat lalu Merupakan mekanisme kompensasi akibat peningkatan TIK
menurun, HR menurun, Sesuai rumus: CPP = MAP – ICP
dan TD meningkat Sehingga bila terjadi peningkatan ICP akibat adanya epidural
hematom  kompensasi dengan peningkatan TD melalui
peningkatan MAP dan HR mengalami penurunan karena memiliki
hubungan terbalik dengan TD, sedangkan RR mengalami
peningkatan yang merupakan respon dari Peningkatan CPP
Peningkatan dan Penurunan RR
Awalnya : ↑TIK  perfusi otak inadekuat  tubuh melakukan
kompensasi dengan ↑RR
Kemudian, ↑TIK yang meningkat secara progresif  herniasi uncus
 menekan pusat nafas di batang otak  ↓RR
Penurunan HR
TIK↑  herniasi uncus  menekan batang otak  merangsang
pusat inhibisi jantung  bradikardi
Peningkatan TD
Trauma tumpul temporal  a. meningea media robek  perdarahan
epidural (perlu pemeriksaan CT scan untuk memastikan)  volume
intracranial ↑  compliance pertama oleh otak mengeluarkan CSF
ke ruang spinal  perdarahan masih berlangsung  compliance
pertama tidak adekuat  volume intracranial ↑  Tekanan
intracranial terus ↑  Cerebral Perfusion Pressure ↓  CBF ↓ 
kompensasi peningkatan tekanan sistemik  peningkatan tekanan
darah (140/90 mmHg)
3. Pasien membuka mata Pasien membuka mata dengan rangsang nyeri: 2 (Eye)
dengan rangsang nyeri, Melokalisir nyeri: 5 (Motoric response)
melokalisir nyeri, dan Mengerang dalam bentuk kata-kata: 3 (Verbal response)
mengerang dalam GCS = E+V+M = 2+3+5 = 10.
bentuk kata-kata Skor GCS 10 menandakan pasien mengalami cedera kepala sedang.
4. Pupil anisokor dekstra
dan reflex cahaya pupil
dekstra negatif

Akibat proses herniasi unkus  menekan saraf parasimpatis n. III 


tidak terjadi vasokonstriksi pupil  tidak ada hambatan terhadap
saraf simpatis  midriasis ipsilateral (mata kanan)  pupil anisokor
dextra dan reflex cahaya pupil kanan negatif

5. Perbandingan pemeriksaan sebelum dan sesudah tak sadarkan diri


Penurunan kesadaran (Penurunan GCS 15 10) dan suara ngorok
a. Apa makna klinis adanya penurunan GCS dan suara ngorok? 1 7
 Penurunan GCS menandakan pasien mengalami cedera kepala sedang
 Kesadaran menurun mengakibatkan tonus otot lidah akan menurun, sehingga lidah terjatuh kebelakang.
Menandakan terdapat hambatan jalan napas (airway)

DAFTAR PUSTAKA
https://www.amboss.com/us/knowledge/Epidural_hematoma
https://med.unhas.ac.id/kedokteran/wp-content/uploads/2016/09/epidural-dan-subdural-hematom.pdf
http://www.kalbemed.com/Portals/6/05_193Penatalaksanaan%20Kedaruratan.pdf
http://fk.unri.ac.id/wp-content/uploads/2017/10/Dedi-Afandi.-Visum-et-repertum-Ed-2.pdf