Anda di halaman 1dari 13

KEDOKTERAN FORENSIK: SUMBER DAN JALUR UNTUK PENGENALAN DALAM DISASTER VICTIM IDENTIFICATION (IDENTIFIKASI KORBAN BENCANA)

Abstrak

Vidhi Soni

Kematian massal umumnya ditafsirkan sebagai kejadian berbahaya yang menimbulkan korban dalam jumlah besar yang memerlukan identifikasi dan investigasi medikolegal. Dalam hal seperti ini, identifikasi korban secara sensitif merupakan hal yang harus dilakukan, begitu juga dengan penyediaan jaminan peradilan dan dukungan kepada anggota keluarga korban. Tim identifikasi korban bencana atau disaster victim identification (DVI) bekerja secara interdisipliner, melibatkan berbagai ahli dalam beberapa disiplin ilmu yang terdiri dari dokter forensik, ahli patologi, ahli antropologi, ahli odontologi, ahli radiologi, begitu juga dengan ahli DNA dan sidik jari untuk bekerjasama dalam proses pemeriksaan korban. Sesuai dengan panduan internasional DVI yang disusun oleh INTERPOL (international police), standar kualitas dasar merupakan hal yang harus dilakukan, serta korban harus ditangani secara bermartabat dan terhormat. Artikel ini berfokus pada aplikasi dinamis dan signifikansi kedokteran forensik yang berperan sebagai sumber yang efisien dari pengenalan korban, khususnya pada proses DVI dalam hal merencanakan dan mengatur prosedur pemakaman sementara yang terkontrol untuk hal-hal terkait korban yang belum teridentifikasi. Berbagai studi kasus berbeda yang disertakan dalam artikel ini mengungkapkan bahwa lingkup kedokteran forensik yang luas dapat membuka jalur untuk menghubungkan hal-hal terkait korban dan pengelolaan jenazah. Selanjutnya, ulasan yang berkaitan dengan bidang ini turut disertakan pada domain ini.

Pendahuluan

Bencana merupakan gangguan yang serius bagi keberlangsungan fungsi masyarakat, dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan, kerugian material, dan kehilangan nyawa, dan hal itu melebihi kemampuan masyarakat yang terkena dampaknya untuk bertahan dengan segala sumber daya yang tersisa. Istilah bencana juga dapat didefinisikan sebagai kekacauan, kecelakaan, malapetaka, atau kejadian buruk di area mana pun, yang timbul dari penyebab alami maupun

buatan manusia atau kecelakaan dan kelalaian, yang dapat mengakibatkan kerugian besar dalam kehidupan, dapat menyebabkan penderitaan manusia juga kerusakan dan kehancuran dari properti, lingkungan, dan sifat atau besarnya melebihi kemampuan masyarakat yang terkena dampak untuk mengatasi bencana tersebut. Suatu negara rentan terhadap bencana karena sejumlah faktor, baik yang disebabkan oleh alam maupun manusia, termasuk kondisi topografi yang merugikan, degradasi atau kerusakan lingkungan, pertumbuhan penduduk, urbanisasi, industrialisasi, praktik pembangunan yang buruk, dan lain sebagainya. Dari 35 Negara dan Wilayah Union di negara ini, 27 diantaranya rentan terhadap bencana. Hampir 58,6 persen daratan rawan terhadap gempa bumi intensitas sedang hingga intensitas sangat tinggi; lebih dari 40 juta hektar (12 persen dari tanah) tanah rentan terhadap banjir dan erosi sungai; dari garis pantai sepanjang 7.516 km, 5.700 km diantaranya rawan terhadap angin topan/taifun dan tsunami; dan 68 persen dari daerah yang bisa dibudidayakan rentan mengalami kekeringan. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa insiden bencana massal meningkat di seluruh dunia, begitu juga dengan jumlah korban meninggal dan korban yang terkena dampak dari bencana tersebut. Di India saja, sebanyak 59.072 kematian terjadi pada tahun 1991-2000 dan jumlah kematian meningkat menjadi sekitar 63.611 pada tahun 2001-2010 karena berbagai bencana.

Beberapa peristiwa bencana massal bersejarah di India meliputi: terbakarnya tenda dalam acara tahunan sekolah Mandi Dabwali di Haryana (1995) yang menewaskan lebih dari 400 orang termasuk anak-anak, topan/taifun super di Orissa pada bulan Oktober 1999, gempa bumi Bhuj pada tahun 2001, tragedi sekolah Kumbakonam tahun 2004, gempa Kashmir (juga dikenal sebagai Gempa Pakistan Utara atau Gempa Asia Selatan tahun 2005, dan bencana terburuk di India tahun 2004 yaitu Gempa laut, yang dikenal oleh komunitas ilmiah sebagai bencana Tsunami serta bencana Uttrakhand atau Tsunami Himalaya.

Kedokteran Forensik Kedokteran forensik saat ini adalah suatu bidang kedokteran besar yang mencakup banyak sub-bidang. Namun,

Kedokteran Forensik

Kedokteran forensik saat ini adalah suatu bidang kedokteran besar yang mencakup banyak sub-bidang. Namun, secara umum, ketika seseorang berbicara atau berfikir tentang kedokteran forensik, bidang ini selalu dihubungkan dengan kematian, otopsi, dan masalah terkait. Kenyataannya, hal ini hanya merupakan satu dari banyak bagian medikolegal. Berbagai pendekatan baru dan sub spesialisasi kedokteran forensik muncul karena kemajuan dalam ilmu kedokteran dan perubahan iklim sosio-politik di seluruh dunia. Asal usul kedokteran forensik di masa lalu sampai saat ini masih belum diketahui dengan jelas, namun pada prinsipnya kedokteran forensik adalah ketika ilmu kedokteran bertemu dengan hukum dan keadilan. Mungkin kedokteran forensik diawali oleh kode Hammurabi (1792-1750 SM), yang membahas pemberian sanksi atas kesalahan dalam tindakan medis dan tindakan pembedahan. Jenis hukuman yang sama juga ada di Persia. Kemudian, Visigoth mengundangkan hukuman bagi tindakan meracuni orang lain, infanticide (pembunuhan bayi), dan pembunuhan. Digambarkan sebagai suatu bidang/badan medis yang berperan dalam menegakkan keadilan, kedokteran forensik memiliki berbagai cabang. Salah satu yang paling khas adalah patologi forensik, yang dikenal di banyak negara latin sebagai tanatologi (thanatos berarti “dewa kematian”). Beberapa cabang kedokteran forensik lainnya banyak bermunculan dan memiliki signifikansi klinis yang penting seperti forensik klinis, keperawatan forensik, antropologi forensik, odontologi, osteologi, dan lain-lain. Namun, kehilangan besar dalam kehidupan manusia dapat berpotensi diselamatkan dengan mengatur sistem yang sangat terkoordinasi secara efisien yang dijalankan oleh para profesional dalam bidang

kedokteran forensik. Ada beberapa penghalang yang sering dihadapi yang diakibatkan karena kekurangan personel terlatih untuk triase dan stabilisasi awal, kurangnya fasilitas transportasi yang memadai untuk transportasi massal, kurangnya sistem level yang terorganisasi, dan kurangnya kemampuan atau potensi untuk memberikan pendapat ahli. Hal-hal tersebut dapat mengarah kepada berbagai masalah sosio-ekonomi yang serius, namun masih dapat dicegah. Pada kenyataannya, dalam berbagai “rencana bencana massal standar”, peran ahli kedokteran forensik sering diabaikan, padahal kenyataannya ahli kedokteran memiliki peran penting yang tidak tergantikan dalam kasus kematian massal. Rasio dari korban bervariasi tergantung pada jumlah bencana dan individu karakteristik, misalnya, penyebab cedera, pola cedera yang dialami, lokasi korban, dan lain-lain., karena faktor-faktor ini menggarisbawahi sistem mitigasi bencana.

Mayoritas orang tidak sadar akan pentingnya pengawetan dan pemeriksaan jenazah, dan mereka masih berlanjut dengan sikap kasual kuno. Kedokteran forensik adalah pendekatan terkoordinasi dari berbagai disiplin medis terbukti sangat membantu dalam menentukan berbagai aspek medikolegal dari kematian dalam kasus kematian massal. Peran signifikan dari kedokteran forensik dalam proses identifikasi korban bencana dideskripsikan sebagai berikut:

Menetapkan identitas korban, yang merupakan kebutuhan terpenting dalam setiap bencana untuk mendeteksi identitas individu sehingga informasi tersebut dapat diberikan kepada anggota keluarga mereka. Kebanyakan orang akan menemukan sedikit kesulitan untuk menentukan identitas jika hanya melihat morfologi dari tubuh yang utuh. Dalam kasus seperti itu, patologi forensik dapat membantu menentukan identitas dari morfologi, anatomi, kekhasan individu, sidik jari, profil DNA, dan lain-lain. Menentukan identitas merupakan suatu hal yang penting karena keluarga yang korban seringkali gagal mengidentifikasi orang yang mereka cintai karena kondisi jenazah yang buruk, adanya mutilasi tubuh, pembusukan, formasi adipocere, dan lain-lain. Rekonstruksi sisa-sisa potongan tubuh korban adalah kepentingan sekunder sehingga membuat para korban dapat diperlihatkan kepada keluarga korban. Pengawetan yang tepat dan penanganan sisa-sisa potongan tubuh oleh para ahli dapat membantu mencegah kehilangan bukti penting, mencegah pembusukan lebih lanjut atau formasi adipocere, serta meminimalisir bahaya kesehatan yang umum terjadi pada suatu kematian massal.

Menganalisa penyebab bencana dengan mengumpulkan bukti seperti: pecahan bom atau detonator yang tertanam di dalam tubuh korban, bukti toksikologi, bukti patologis, bukti biologis dalam kasus beberapa epidemi atau tragedi yang memiliki unsur sabotase biologis atau kimia. Rekonstruksi penyebab bencana dapat dicapai dengan menetapkan penyebab kematian, asal dan penyebab cedera, posisi sisa-sisa potongan tubuh (pada lokasi tragedi). Penentuan periode hidup korban dapat disimpulkan dengan mempelajari waktu sejak kematian. Hal ini dapat membantu dalam menentukan rentang waktu kejadian pada operasi pencarian dan penyelamatan.

Oleh karena itu, kedokteran forensik sebagai ilmu ahli dapat secara efisien memandu analisis korban kematian massal dan dapat membantu dalam proses manajemen bencana. Aspek medikolegal dalam kematian dan cedera yang tercakup dalam ilmu kedokteran forensik, dapat sangat membantu pada kejadian kematian massal.

Mempertimbangkan skala kehancuran besar-besaran yang disebabkan oleh suatu bencana, tidak mengherankan bahwa jenazah korban masih dapat ditemukan di daerah bencana bahkan setahun setelah operasi pencarian dihentikan karena musim dingin pada daerah itu telah dimulai sehingga daerah tersebut menjadi tertutup salju. Setelah memindahkan 545 jenazah ke lembah Kedar pada bulan Juli 2013, 21 jenazah lainnya kembali ditemukan selama operasi pencarian pada tahun ini dan sangat mungkin bahwa masih banyak jenazah akan ditemukan di kemudian hari karena jenazah yang masih terperangkap di bawah puing-puing di daerah tersebut akan cenderung muncul ke permukaan saat hujan. Pemerintah Uttrakhand telah mengeluarkan sertifikat kematian untuk 2.801 orang. Menariknya, bahkan satu tahun setelah terjadinya bencana tersebut, sertifikat kematian masih belum dikeluarkan untuk 471 orang. Alasan utama yang dikutip adalah dokumentasi yang kurang baik termasuk pada Laporan Informasi Pertama atau First Information Reports (FIR), data sel yang hilang, keterangan tertulis yang diajukan oleh keluarga korban, teknik identifikasi yang tidak benar, dan kurangnya dukungan dari pemerintah negara bagian lain.

Studi Kasus: Bencana Uttarakhand

Negara Bagian Uttrakhand disebut juga sebagai "Dev Bhumi" atau "Tanah Dewa" dan berada di bagian utara India. Negara bagian ini menerima sejumlah besar peziarah selama musim panas karena waktu ini merupakan waktu yang sangat penting untuk Peziarah Hindu dan Peziarah Sikh. Menjadi negara bukit dan tempat bagi banyak stasiun bukit yang indah, negara bagian ini juga menarik sejumlah besar wisatawan. Menurut Departemen Meteorologi India, curah hujan di Uttarakhand selama minggu 17 - 26 Juni 2013 telah kelebihan sebesar 37 persen dari curah hujan normal. Selama periode ini, Uttrakhand menerima curah hujan sebesar 73,3 sentimeter sementara curah hujan normal biasanya hanya 53,6 sentimeter. Pada 17 Juni 2013, Lembah Mandakini dan Alaknanda di Garhwal serta Lembah Saryu dan Kali Ganga di Kumaon Himalaya mengalami hujan deras yang mengakibatkan banjir bandang yang diperparah oleh meluapnya Danau Besoka, sehingga menyebabkan kerusakan besar. Hujan deras di wilayah tersebut menyebabkan banjir bandang, tanah longsor dan kerusakan properti dan kehidupan. Aliran di Sungai Mandakini dan Sungai Alaknanda melanda daerah Kuil Suci Kedarnath dan Badrinath.

Pihak berwenang yang berada di tempat peristiwa itu terjadi biasanya akan mengatur dan memulai upaya identifikasi segera setelah insiden. Namun pada kasus ini, bantuan dari luar sangat dibutuhkan karena besarnya dampak bencana yang melebihi kapasitas otoritas lokal. Segera setelah insiden, NDMA memulai Respons Awal Operasi Penyelamatan (Operasi Rahat & Surya) dengan memanfaatkan Aset Pertahanan Sipil bersama NDRF. Setelah operasi penyelamatan yang berat, Pemerintah Uttrakhand mempublikasikan daftar orang hilang yang terdiri dari 4.120 orang (termasuk 92 warga asing) yang diduga meninggal. Pencarian korban merupakan langkah pertama dalam suatu pengelolaan jenazah. Komunikasi dan koordinasi antar kelompok-kelompok masyarakat sangat dibutuhkan dalam hal ini. Fase pencarian korban berlangsung selama beberapa hari karena medan yang sulit, jalan rusak, dan kondisi cuaca yang tidak mendukung operasi pencarian. Seharusnya, pencarian korban secara cepat harus menjadi prioritas karena dapat membantu identifikasi dan mengurangi beban psikologis korban yang selamat. Pada kasus ini, prioritas utamanya adalah penyelamatan korban selamat oleh pasukan militer, kemudian dilanjutkan dengan operasi pencarian untuk orang hilang. Namun pencarian jenazah tidak boleh terganggu oleh intervensi lain yang ditujukan untuk membantu korban yang selamat. Pencarian dilakukan secara serentak oleh anggota polisi dengan bantuan pendaki gunung, penduduk lokal,

dan anggota komunitas yang masih hidup. Petugas medis yang ada berperan untuk merawat luka- luka, memberikan bantuan pertama (first aid), dan memberikan bantuan medis lainnya yang dibutuhkan. Sejumlah anggota operasi pencarian pada saat itu memerlukan vaksinasi tetanus.

Manajemen dan Identifikasi Jenazah (Aspek Medikolegal)

Pada akhir operasi pencarian, jenazah yang telah ditemukan ditempatkan bersama-sama di situs kremasi. Bagian tubuh korban diperlakukan sebagaimana jenazah yang utuh. Setiap jenazah diberikan nomor identifikasi unik atau unique identification number (UID) yang terdiri dari nomor tim, nomor lokasi, dan tanggal ditemukan. Artikel-artikel yang diambil dari masing-masing jenazah ditempatkan pada kantung terpisah dengan UID yang sama dan disegel oleh polisi. Dari Sekitar 4.120 orang dari di seluruh negara bagian yang telah dilaporkan hilang dan diyakini telah meninggal setelah tragedi banjir bandang dan tanah longsor, Centre for DNA Fingerprinting and Diagnostics (CDFD) telah menyelesaikan profil DNA dari sekitar 550 korban yang dikirim oleh pemerintah Uttrakhand, dan setelah analisis awal hasil yang diperoleh sejauh ini hanya dapat menunjukkan identitas dari 20 orang korban. Sekitar 200 sampel darah dari keluarga korban telah dikirim oleh pemerintah Uttrakhand yang sekali lagi merupakan pecahan yang sangat kecil dari total sampel yang diperlukan untuk Pencocokan DNA.

dan anggota komunitas yang masih hidup. Petugas medis yang ada berperan untuk merawat luka- luka, memberikan

Tinjauan Literatur

Puri et al. (2015) menunjukkan aspek bencana massal dengan proses pemulihan korban dan evakuasi, yang menurut penelitian, perencanaan respon bencana harus mencakup prosedur yang sudah ditetapkan prosedur untuk identifikasi para korban bencana. Selain itu, identifikasi korban pada dasarnya bergantung pada ilmu antropologi forensik, odontologi, sidik jari, radiologi, dan analisis DNA. Artikel ini bertujuan membahas peran odontologi forensik pada Identifikasi Korban Bencana atau Disaster Victim Investigation (DVI), statusnya di India dan beberapa saran untuk pengembangan proses ini.

Winskog et al. (2016) membahas kompleksitas DVI dan variasi dalam situasi dan jumlah korban karena sulit untuk menyediakan contoh yang dapat digunakan untuk setiap jenis kematian. Dalam artikel ini penulis menyertakan berbagai masalah yang perlu ditangani selama latihan DVI, dari pengaturan awal kamar jenazah ke repatriasi akhir dari orang yang meninggal. Kekurangan sumber daya dan lokasi yang terisolir memberikan tantangan bagi sejumlah besar individu yang mungkin terlibat yang sering kali berbeda kebangsaan, bahasa, keyakinan, agama, dan pengalaman. Meningkatnya peran beberapa disiplin ilmu seperti kedokteran gigi, biologi, patologi dan antropologi dijelaskan pada artikel ini, begitu juga dengan perbaikan dan integrasi layanan, formulasi dan implementasi protokol internasional, dan gambaran proses untuk memastikan bahwa mereka memenuhi peran mereka secara tepat. Lebih jauh lagi, mereka juga membahas evolusi identifikasi korban sederhana ke dalam pendekatan multidisiplin terintegrasi yang kompleks yang saat ini terlihat dalam begitu banyak peristiwa bencana/kematian massal, yang seharusnya sekarang lebih tepat disebut sebagai manajemen korban bencana atau disaster victim management (DVM).

Obafunwa et al. (2015) membahas keadaan terkait hukum kerangka kerja dan ketersediaan personil dalam pandangan untuk menyajikan investigasi bencana massal yang baik di Nigeria. Artikel ini merupakan tinjauan retrospektif bencana massal di Nigeria yang terjadi dalam 20 tahun terakhir. Oleh karena itu studi ini meninjau keadaan investigasi forensik pada suatu bencana massal serta upaya yang dilakukan untuk mengidentifikasi korban bencana. Pada artikel ini, proses penyelidikan forensik yang tepat dari tahap evaluasi tempat kejadian, proses pencarian dan pengambilan jenazah, sampai proses identifikasi terakhir korban disajikan untuk dapat dijadikan sebagai protokol di Nigeria. Penilaian dari keadaan kesiapan saat ini di Nigeria juga diperiksa

dengan tujuan untuk meningkatkan praktik berstandar internasional. Data diambil dari dokumen resmi dari industri penerbangan dan laporan berita di Nigeria. Protokol standar untuk identifikasi korban bencana diambil dari panduan yang dirilis oleh INTERPOL. Keadaan kesiapan negara dan rekomendasi untuk perbaikan disajikan pada artikel ini. Keadaan federasi tidak boleh terus menunda untuk menempatkan proses tinjauan hukum sistem Coroner dan menyediakan lingkungan yang ideal untuk investigasi forensik yang sesuai. Kurikulum pelatihan yang penanggap pertama harus memasukkan investigasi bencana massal untuk menghasilkan petugas dan personil yang efisien. Tim fungsional identifikasi korban bencana atau disaster victim investigation (DVI) sangat dianjurkan untuk melibatkan berbagai tenaga profesional (dari beberapa bidang ilmu yang berbeda) untuk terlibat dalam pengelolaan bencana massal.

See et al. (2016) membagikan pandangannya dalam konteks insiden kematian massal, bahwa sangat penting untuk mengidentifikasi korban dengan cepat dan akurat, baik untuk alasan yuridis dan untuk memberikan kepastian untuk anggota keluarga korban. Tim DVI bekerja secara interdisipliner, dengan melibatkan ahli dari berbagai disiplin ilmu, yang terdiri dari ahli patologi, ahli antropologi, ahli odontologi, ahli radiologi, serta ahli sidik jari dan DNA untuk bekerja sama dalam proses identifikasi korban. Proses DVI dilakukan dengan mengadopsi prinsip dasar dimana standar kualitas tertinggi harus diterapkan dan korban harus diperlakukan secara bermartabat dan terhormat, sesuai dengan yang panduan DVI INTERPOL yang telah diakui secara internasional. Artikel ini berfokus pada evolusi dinamis dan berkelanjutan, khususnya penerapan proses DVI dalam menyiapkan prosedur untuk pemakaman terkontrol sementara untuk semua korban atau potongan tubuh korban yang tidak teridentifikasi dalam dua kasus kematian massal di Malaysia. Dua kasus yang dibahas pada artikel ini menyampaikan pentingnya memperluas proses DVI untuk memasukkan prosedur identifikasi dan pengarsipan di masa yang akan datang. Versi protokol DVI yang diperpanjang ini dapat digunakan untuk penguburan terkontrol sementara untuk semua korban dan potongan tubuh korban yang tidak teridentifikasi sebagai sarana alasan kemanusiaan forensik serta untuk investigasi kriminal.

Lessig et al. (2011) memasukkan studinya di bawah spesialis dari Departemen Kedokteran Kehakiman dari "Sapienza" Universitas Roma (Italia) yang dulu terlibat dalam penyelidikan sepuluh bencana massal selama lima puluh tahun (1964-2005). Para korban yang diperiksa adalah sebanyak 230 orang. Kasus-kasus yang terdapat pada artikel ini, berlokasi di Italia dan di luar

Italia, termasuk diantaranya empat serangan teroris, tiga kecelakaan pesawat, dua bangunan runtuh, dan satu kapal tenggelam di sungai. Salah satu tugas terpenting dalam bencana massal adalah identifikasi korban. Masalah utama lainnya adalah penentuan penyebab kematian dan kontribusinya untuk rekonstruksi kejadian. Dalam semua kasus tersebut, pelatihan dan kemampuan spesialis kami untuk berinteraksi dengan semua entitas yang terlibat dalam manajemen bencana massal memainkan peran penting. Jadwal operasi diberikan untuk semua kasus, dimulai dengan kumpulan informasi antemortem. Spesialis dari Departemen kami ikut serta dalam tim antemortem, atas dasar pengalaman mereka di bidang tersebut. Untuk pengumpulan informasi postmortem, institut kami secara historis memainkan peran sentral, terutama karena semua orang Italia yang menjadi korban kecelakaan yang terjadi di luar negeri, diperiksa di “Sapienza”. Tujuan artikel/kontribusi ini adalah untuk menyoroti perubahan yang terjadi selama bertahun-tahun dalam pengelolaan investigasi bencana massal di Roma yang melibatkan organisasi para spesialis (dalam bidang forensik) yang telah matang.

Binz (2007) membahas manajemen yang tepat orang mati dari bencana, bersama dengan penyelamatan dan merawat korban dan ketentuan dan rehabilitasi layanan penting. Pada tahun 2006 Pan Organisasi Kesehatan Amerika (PAHO) dan Komite Internasional Palang Merah (ICRC), bersama dengan World Health Organization (WHO) dan Federasi Internasional Palang Merah dan Merah Crescent Societies (IFRC), menerbitkan pedoman untuk manajemen orang mati, untuk membantu meningkatkan manajemen orang mati setelah bencana. Ini publikasi membantu menghilangkan mitos utama yang sering mempersulit tugas yang sulit ini: yang tidak berdasar asosiasi mayat dengan epidemi. Manual memiliki terbukti menjadi alat yang berharga untuk responden pertama, termasuk pekerja kemanusiaan, untuk tanggap bencana dan kesiapan dalam berbagai konteks operasional.

Jain et al. (2006) membahas definisi dan makna bencana massal, kebutuhan untuk rencana manajemen dari ahli kedokteran forensik sehingga petugas medis dan ahli forensik dapat bekerja secara efisien selama bencana massal. Terdapat beberapa prinsip fundamental tertentu yang seharusnya dipahami sepenuhnya oleh semua orang yang memiliki tanggung jawab untuk membantu korban bencana, dan merupakan hal penting untuk menerapkan prinsip-prinsip ini dalam urutan yang tepat; karena jika tidak, tim yang bekerja dalam suatu bencana massal akan kehilangan keefektivitasannya atau bahkan menyebabkan lebih banyak cedera dan kematian.

Sharma et al. (2006) mendiskusikan konsep perawatan minimal yang dapat diterima adalah kunci dalam pendekatan manajemen selama insiden dengan korban massal. Namun, rencana apapun tanpa provisi untuk korban meninggal selama insiden dengan korban massal akan mengakibatkan suatu krisis besar dan ketidaksiapan untuk menghadapinya. Dalam kejadian yang menelan beberapa korban, banyaknya korban akan berdampak buruk pada kualitas perawatan trauma yang diberikan kepada pasien secara individu. Dari perspektif perawatan trauma, tujuan penanganan gawat darurat rumah sakit adalah untuk memberikan pasien yang sangat terluka perawatan yang kualitasnya kira-kira sama dengan yang diberikan kepada pasien dengan kondisi serupa dalam kondisi normal (bukan kejadian dengan korban multipel). Karena itu, kapasitas penerimaan pasien yang realistis dari sebuah rumah sakit ditentukan terutama oleh jumlah tim trauma yang dapat dikerahkan di rumah sakit tersebut. Triase yang efektif dari korban ini seringkali tidak jelas. Algoritma triase sederhana dapat menjadi alternatif praktis daripada skema yang lebih rumit.

Lessig et al. (2006) mengevaluasi studi kasus tsunami setelah gempa laut di Asia Tenggara pada 26 Desember 2004 yang merupakan salah satu dari bencana terbesar di dunia modern. Sekitar 228.000 orang dari negara-negara sekitar Samudra Hindia meninggal. Sejumlah besar wisatawan dari berbagai negara Eropa yang tinggal untuk liburan Natal di Thailand dan Sri Lanka menjadi korban bencana alam tersebut. Besarnya jumlah korban warga negara asing di negara-negara ini membutuhkan tambahan investigasi forensik yang diorganisir oleh tim DVI yang bekerja secara internasional. Identifikasi korban pada kejadian ini memiliki tantangan yang besar karena kondisi lingkungan yang mempercepat pembusukan jenazah. Dengan demikian investigasi kedokteran forensik sangat penting untuk mengidentifikasi korban. Langkah-langkah berbeda dari investigasi kedokteran forensik, odonto-stomatologis dan genetika molekuler dimulai pada akhir 2004 dengan identifikasi sejumlah kecil korban dan berakhir dengan penutupan TTVI IMC (Thai Tsunami Victim Identification Information Management Center) di Phuket satu tahun kemudian dijelaskan dan secara kritis didiskusikan dalam artikel ini. Hingga 31 Tim DVI internasional bekerja di IMC TTVI selama tahun 2005.

Taylor (2009) meringkas beberapa penggunaan awal odontologi forensik secara internasional dan di austrailia, serta membahas perkembangan odontologi forensik dan praktik identifikasi korban bencana di masing-masing negara bagian dan teritori Australia. Pengembangan

praktik DVI di Australia dimulai setelah kejadian kecelakaan dari pesawat Viscount Vickers ke Botany Bay pada tahun 1961, dan seperti halnya praktik internasional, praktik DVI di Australia telah berevolusi menjadi disiplin ilmu spesialis yang profesional dan dapat diandalkan di mana odontologi forensik memainkan peranan penting.

Ishwer et al. (2014) membahas mengenai aspek-aspek dari kesiapan, kesigapan, dan peran forensik India dalam hal DVI. Studi kasus saat ini adalah tentang bencana banjir karena hujan lebat tiba-tiba di Uttrakhand, India pada tahun 2013, penugasan ahli forensik di tempat bencana, dan pekerjaan mereka terkait pencarian dan manajemen korban meninggal untuk kemudian mengidentifikasi korban-korban tersebut.

Diskusi dan Kesimpulan

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan ruang lingkup identifikasi dengan ilmu forensik yang efektif yaitu, kedokteran forensik. Lebih lanjut penelitian ini membantu proses manajemen dalam berbagai kematian massal. Suatu bencana massal mengambil nyawa jutaan orang yang harus menderita dengan cara yang tidak memadai. Studi ini juga berfokus pada pandangan dan saran untuk peningkatan teknik kedokteran forensik dan mengisi dan mempercepat proses DVI di bawah pengawasan ahli. Hal ini telah didiskusikan pada artikel yang ditulis oleh Sharma et al. (2006) yang telah membahas peran kedokteran forensik dalam suatu bencana massal, sementara artikel di atas membahas mengenai ruang lingkup dan signifikansi kedokteran forensik dalam proses manajemen bencana yang dapat membantu dalam meningkatkan dan memperluas cakupan ilmu kedokteran forensik, dan pada akhirnya dapat memberikan hasil analisis yang lebih baik. Hambatan yang muncul selama pemeriksaan medikolegal dari potongan tubuh korban juga sedang telah didiskusikan. Lebih lanjut lagi, sebuah studi kasus tentang bencana di Uttarakhand menghasilkan contoh dari jenis penghalang yang mungkin muncul pada proses identifikasi, serta memberikan evaluasi berbagai konsep penting medikolegal dalam bidang ini.

Sharma et al. (2006) mendiskusikan konsep perawatan minimal yang dapat diterima adalah kunci dalam pendekatan manajemen selama insiden dengan korban massal. Namun, rencana apapun tanpa provisi untuk korban meninggal selama insiden dengan korban massal akan mengakibatkan suatu krisis besar dan ketidaksiapan untuk menghadapinya. Dalam kejadian yang

menelan beberapa korban, banyaknya korban akan berdampak buruk pada kualitas perawatan trauma yang diberikan kepada pasien secara individu. Dari perspektif perawatan trauma, tujuan penanganan gawat darurat rumah sakit adalah untuk memberikan pasien yang sangat terluka perawatan yang kualitasnya kira-kira sama dengan yang diberikan kepada pasien dengan kondisi serupa dalam kondisi normal (bukan kejadian dengan korban multipel). Karena itu, kapasitas penerimaan pasien yang realistis dari sebuah rumah sakit ditentukan terutama oleh jumlah tim trauma yang dapat dikerahkan di rumah sakit tersebut. Triase yang efektif dari korban ini seringkali tidak jelas. Algoritma triase sederhana dapat menjadi alternatif praktis daripada skema yang lebih rumit.

Soni (2017) menjelaskan bahwa kematian massal umumnya ditafsirkan sebagai kejadian berbahaya yang menimbulkan korban dalam jumlah besar yang memerlukan identifikasi dan investigasi medikolegal. Dalam hal seperti ini, identifikasi korban secara sensitif merupakan hal yang harus dilakukan, begitu juga dengan penyediaan jaminan peradilan dan dukungan kepada anggota keluarga korban. Tim identifikasi korban bencana atau disaster victim identification (DVI) bekerja secara interdisipliner, melibatkan berbagai ahli dalam beberapa disiplin ilmu yang terdiri dari dokter forensik, ahli patologi, ahli antropologi, ahli odontologi, ahli radiologi, begitu juga dengan ahli DNA dan sidik jari untuk bekerjasama dalam proses pemeriksaan korban. Sesuai dengan panduan internasional DVI yang disusun oleh INTERPOL (international police), standar kualitas dasar merupakan hal yang harus dilakukan, serta korban harus ditangani secara bermartabat dan terhormat. Artikel ini berfokus pada aplikasi dinamis dan signifikansi kedokteran forensik yang berperan sebagai sumber yang efisien dari pengenalan korban, khususnya pada proses DVI dalam hal merencanakan dan mengatur prosedur pemakaman sementara yang terkontrol untuk hal-hal terkait korban yang belum teridentifikasi. Berbagai studi kasus berbeda yang disertakan dalam artikel ini mengungkapkan bahwa lingkup kedokteran forensik yang luas dapat membuka jalur untuk menghubungkan hal-hal terkait korban dan pengelolaan jenazah. Selanjutnya, ulasan yang berkaitan dengan bidang ini turut disertakan pada domain ini.