Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia sehat 2010 (ganti dengan visi th 2015) adalah visi pembangunan
kesehatan nasional yang menggambarkan masyarakat Indonesia di masa depan
yang penduduknya hidup dalam lingkungan sehat. Dengan mengemban visi ini,
maka masyarakat diharapkan mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang
bermutu, adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Perilaku sehat adalah perilaku proaktif untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman
penyakit serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. Salah satu
perilaku sehat yang harus diciptakan untuk menuju Indonesia sehat 2010 adalah
perilaku pencegahan dan penanggulangan penyakit dengan kegiatan imunisasi
(Depkes, 2000).

Upaya yang dilakukan untuk menurunkan angka kesakitan, kematian,


kecacatan dari penyakit menular dan penyakit tidak menular termasuk penyakit
yang dapat dicegah dengan imunisasi adalah dengan meningkatkan kesadaran
bahwa betapa pentingnya kesehatan. Pemerintah telah mencanangkan kegiatan
imunisasi dari tahun 1956, yang dimulai di Pulau Jawa dengan vaksin cacar
dimulai pada tahun 1956. Pada tahun 1972 Indonesia telah berhasil membasmi
penyakit cacar. Selanjutnya mulai dikembangkan vaksinasi antara cacar dan BCG.
Pelaksanaan vaksin ini ditetapkan secara nasional pada tahun 1973. Bulan April
1974 Indonesia resmi dinyatakan bebas cacar oleh WHO. Tahun 1977 ditentukan
sebagai fase persiapan Pengembangan Program Imunisasi (PPI) (Dep. Kes. 2005).

Menurut Undang – Undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992, “Paradigma Sehat”


dilaksanakan melalui beberapa kegiatan antara lain pemberantasan penyakit. Salah
satu upaya pemberantasan penyakit menular adalah upaya peningkatan daya tahan
tubuh ( imunisasi ).

Berdasarkan Keputusan Mentri Kesehatan Republik Indonesia No.


1059/MENKES/SK/IX/2004, salah satu strategi tujuan pembangunan kesehatan
nasional untuk mewujudkan “Indonesia Sehat 2010” adalah menerapkan
pembangunan nasional berwawasan kesehatan, yang berarti setiap upaya program
pembangunan harus mempunyai kontribusi positif terhadap terbentuknya
lingkungan yang sehat dan perilaku yang sehat. Sebagai acuan pembangunan
kesehatan mengacu kepada konsep “Paradigma Sehat” yaitu pembangunan
kesehatan yang memberikan prioritas utama pada upaya pelayanan peningkatan
kesehatan (promotif) dan pencegahan (preventif) dibandingkan upaya pelayanan
penyembuhan/pengobatan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) secara
menyeluruh dan terpadu dan berkesinambungan.

Pemerintah mewajibkan setiap anak untuk mendapatkan imunisasi dasar


terhadap tujuh macam penyakit yaitu penyakit TBC, Difteria, Batuk Rejan
(Pertusis), polio, Campak (Meales, Morbili) dan Hepatitis B. imunisasi lain yang
tidak diwajibkan oleh pemerintah tetapi tetap dianjurkan antara lain terhadap
penyakit gondongan (mumps), rubella, tifus, radang selaput otak (meningitis), HiB,
Hepatitis A, cacar air (chicken pox, varicella) dan rabies (Thoephilus, 2000).

Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menyatakan 1,7 juta anak Indonesia
meninggal karena tidak mendapat imunisasi lengkap. Jumlah 1,7 juta itu
merupakan seperlima dari balita di Indonesia ( Dep. Kes, 2007 ).

Target yang ditetapkan pemerintah dalam dua tahun ke depan adalah bisa
mengimunisasi 4.725.470 anak. Jumlah ini diambil dari 7 provinsi, yaitu DKI
Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan
Sulawesi Selatan. Imunisasi ini juga meliputi 63 kabupaten dan kota dari provinsi
tersebut (Apriatni, 2008).

Walaupun pemerintah telah menargetkan imunisasi seperti yang telah


disebutkan diatas, namun pada kenyataannya kegiatan imunisasi sendiri masih
kurang mendapat perhatian dari para ibu yang memiliki bayi. Tidak sedikit ibu-ibu
yang tidak bersedia untuk mengimunisasikan anaknya dengan alasan yang sangat
sederhana yaitu ibu-ibu sibuk dengan urusan rumah tangga dan ketakutan ibu akan
efek samping dari pemberian imunisasi yang disertai pengetahuan ibu yang rendah
tentang imunisasi (Muhamad, 2005).

Banyak anggapan salah tentang imunisasi yang berkembang dalam


masyarakat. Banyak pula orang tua dan kalangan praktisi tertentu khawatir
terhadap resiko dari beberapa vaksin. Adapula media yang masih mempertanyakan
manfaat imunisasi serta membesar-besarkan resiko beberapa vaksin (Muhammad
Ali, 2003). Penulisannya (Ali.M, 2003)

Kendala utama untuk keberhasilan imunisasi bayi dan anak dalam sistem
perawatan kesehatan yaitu rendahnya kesadaran yang berhubungan dengan tingkat
pengetahuan dan tidak adanya kebutuhan masyarakat pada imunisasi, jalan masuk
ke pelayanan imunisasi tidak adekuat, melalaikan peluang untuk pemberian vaksin
dan sumber-sumber yang adekuat untuk kesehatan masyarakat dan program
pencegahannya (Nelson, 2000).

Pengetahuan ibu tentang imunisasi akan membentuk sikap positif terhadap


kegiatan imunisasi. Hal ini juga merupakan faktor dominan dalam keberhasilan
imunisasi, dengan pengetahuan yang baik yang ibu miliki maka kesadaran untuk
mengimunisasikan bayi akan meningkat. Pengetahuan yang dimiliki ibu tersebut
akan menimbulkan kepercayaan ibu tentang kesehatan dan mempengaruhi status
imunisasi (M. Ali, 2003).

Dalam hal ini peran orang tua, khususnya ibu menjadi sangat penting, karena
orang terdekat dengan bayi dan anak adalah ibu. Demikian juga tentang
pengetahuan, kepercayaan, dan perilaku kesehatan ibu. Pengetahuan, kepercayaan,
dan perilaku kesehatan seorang ibu akan mempengaruhi kepatuhan pemberian
imunisasi dasar pada bayi dan anak, sehingga dapat mempengaruhi status
imunisasinya. Masalah pengertian, pemahaman, dan kepatuhan ibu dalam program
imunisasi bayinya tidak akan menjadi halangan yang besar jika pendidikan dan
pengetahuan yang memadai tentang hal itu diberikan.

Berdasarkan data yang diperoleh di Puskesmas Kramat Watu pada tahun 2008
yang mentargetkan bayi usia 0-11 bulan untuk mendapatkan imunisasi dasar
sebesar 2021. Dari jumlah data yang ditargetkan di atas, data bayi yang
mendapatkan imunisasi dasar sebesar 1561 atau sekitar 77,24 % dan sekitar 460
atau 22,76 % bayi tidak masuk ke dalam data cakupan imunisai dasar.

Berdasarkan hasil pengamatan sementara (studi pendahuluan) pada tanggal 16


februari 2009 di Posyandu Pelamunan Kecamatan Kramat Watu didapatkan data
jumlah bayi usia 0-11 bulan pada tahun 2008 yang datang ke Posyandu untuk
mendapatkan imunisasi dasar lengkap sebesar 62 dari jumlah bayi yang tercatat di
Posyandu Pelamunan sebesar 162. Jadi sekitar 38,27 % bayi yang mendapatkan
imunisasi dasar di Posyandu Pelamunan.

Dari latar belakang inilah penulis ingin melakukan penelitian dengan judul
“Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Imunisasi Dasar Pada Bayi 0-11 bulan
Berdasarkan Karakteristik Ibu.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut dirumuskan bahwa rendahnya angka


cakupan imunisasi dengan persentasi 77,24 % pada bayi berdasarkan rendahnya
tingkat pengetahuan ibu terhadap imunisasi dasar. Rumusan masalah berupa
pertanyaan, Bagaimana tingkat pengetahuan ibu terhadap immunisasi dasar
di........

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Adapun tujuan umum dari penelitian ini dalah untuk mengetahui tingkat
pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar pada bayi 0-11 bulan berdasarkan
karakteristik ibu di Puskesmas Kramat Watu Khususnya di Posyandu Desa
Pelamunan.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Diketahuinya tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar

di Desa Pelamunan.

b. Diketahuinya tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar

berdasarkan usia ibu di Desa Pelamunan.

c. Diketahuinya tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar

berdasarkan paritas di Desa Pelamunan.

d. Diketahuinya tinkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar

berdasarkan tingkat pendidikan ibu di Desa Pelamunan.

e. Diketahuinya tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar

berdasarkan pekerjaan ibu di Desa Pelamunan.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Peneliti

Untuk mengetahui dan mendapatkan pengalaman yang nyata dalam


melakukan penelitian yang berhubungan dengan imunisasi dasar pada bayi.

1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang baik dan

sebagai bahan pendokumentasian serta perbandingan untuk penelitian

selanjutnya.
1.4.3 Bagi Ibu

Sebagai tambahan pengetahuan dan salah satu upaya untuk


meningkatkan pengetahuan responden khususnya tentang imunisasi

1.4.4 Bagi Petugas Kesehatan di Posyandu Pelamunan

Sebagai bahan masukkan dalam memberikan pelayanan kesehatan


untuk menigkatkan derajat kesehatan anak dengan memantau kelengkapan
dan ketepatan imunisasi.