Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN HASIL DISKUSI TUTORIAL BLOK 10 KESEHATAN KOMUNITAS

MODUL 1

KELOMPOK 5

TUTOR : Drg. Arimby P,MKes

IZZAH DHIYAUL AUNI 1611411018

ULFA RIZALNI 1611411008

RIKA IRMA YANTI 1611413011

NAUFAL DELIHEFIAN 1611413009

M REYGAN CARISTO ANWAR 1611413001

ELICYA EKA PUTRI 1611413014

RINNY MARYUSA 1611411011

MARSHA NADA MAGFIRA P 1611412010

RAYHAN AGNA DANEO 1611412015

IMAM HIDAYATSYAH 1611411009

PENDIDIKAN DOKTER GIGI-FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG

2018
Modul 1

SISTEM KESEHATAN NASIONAL

Skenario 1

Gratis………….!!

Melita (24 th) dibawa keluarganya ke Puskesmas Baru karena ada pembengkakan di
wajahnya. Meskipun tidak sakit tetapi membuatnya merasa rendah diri. Dari hasil anamnesa
dan pemeriksaan drg. Monita diketahui pembengkakan sudah terjadi sejak lima tahun yang
lalu. Gigi 16 dan 17 gangren radix. Drg. Monita mengatakan bahwa kemungkinan Melita
menderita kista pada region posterior atas kanan dan menyarankan untuk dibawa kedokter
spesialis bedah mulut. Ibu Melita menanyakan apakah tidak dapat diobati di RSUD yang ada
di kabupaten karena mereka mempunya kartu Jamkesda. Akhirnya drg. Monita merujuk
Melita ke RSUD dan RSUD merujuk ke RSUP yang ada di provinsi.

Di rumah sakit Melita dioperasi dan dirawat selama 10 hari dan tidak dipungut biaya
apapun. Suami melita menceritakan kepada tetangganyayang dating kerumah sakit bahwa
petugas yang melayani mereka di puskesmas dan rumah sakit sangat baik dan ramah.
Puskesmas da rumah sakitnya bersih dan nyaman. Dapatkah saudara menjelaskan system
pelayanan kesehatan nasional ?

Langkah 1 : Mengklarifikasi terminology yang tidak diketahui dan medefenisikan hal –


hal yang dapat menimbulkan kesalahan interpretasi

 Kista : tumor jinak yang terbungkus oleh selaput pipih semacam jaringan yang berisi
udara, cairan dan nanah.

 Jamkesda : jaminan kesehatan masyarakat daerah yang bersifat sosialyang di


elenggarakan oleh pemerintah.

 System pelayanan kesehatan nasional : suatu tatanan yang menghimpun berbagai


upaya bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin
tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Langkah 2 : Menentukan masalah


1) Apa fungsi dari kartu Jamkesda ?
2) Apa saja keuntungan dan kerugian kartu Jamkesda ?
3) Apakah ada kartu jaminan kesehatan selain Jamkesda ?
4) Kenapa Melita tidak langsung di rujuk ke RSUP ?
5) Apa saja tujuan dari system kesehatan nasional ?
6) Apa saja jaminan kesehatan yang ditanggung oleh Jamkesda ?
7) Kenapa melita tidak dipungut biaya apapun ?
8) Apa saja syarat pokok dari pelayanan kesehatan nasional ?
9) Apa saja prinsip dasar dari system kesehatan nasional ?

Langkah 3 : Menganalisa masalah melalui brain storming dengan menggunakan


prior knowledge
1. Fungsi dari kartu Jamkesda adalah memberi kemudahan untuk masyarakat kurang
mampu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
2. Keuntungan dan kerugian kartu Jamkesda
 Keuntungan
1. Kesehatan masyarakat merata kesemua orang
2. Masyarakat daerah bias mendapatkan pelaanan kesehatan yang
lebih memadai
3. Tidak dipungut biaya
 Kerugian
1. Lambatnya pelayanan kesehatan akibat banyaknya prosedur
2. Jamkesda hanya sampai kerumah sakit tipe B
3. Cakupan layanan kesehatan terbatas
4. Belum adanya database keanggotaan yang akurat
5. Belum meratanya ke keluarga kurang mampu yang lain
6. Perbedaan pelayanan pasien BPJS dan pasien umum
3. Kartu jaminan kesehatan selain Jamkesda
 JKN (Jaminan Kesehatan Nasional )
 KIS (Kartu Indonesia Sehat)
 KJS (Krtu Jakarta Sehat)
4. Melita tidak langsung di rujuk ke RSUP karena Melita harus melewati tingkat
yang ke 2 (RSUD) sebelum ke RSUP, dan pada RSUP memiliki pelayanan yang
luas untuk mengobati kista.
 Fasilitas kesehatan ada 3 macam :
1. -Puskesmas
-klinik (dr/drg)
-RS tipe D
2. RS tipe C dan B (RSUD)
3. RS tipe A (RSUP)
 Jenis-jenis rumah sakit di Indonesia menurut kemampuannya :
1. RS tipe A : spesialis dan subspesialis lebih luas, top referral
hospital.
2. RS tipe B : spesialis dan subspesialis terbatas, pelayanan rujukan
dari kabuaten.
3. RS tipe C : spesialis terbatas , pelayanan rujukan dari puskesmas.
4. RS tipe D :pelayanan rujukan dar puskesmas.
5. RS tipe E : rumah sakit khusus, seperti : RS jantung, RS paru dll.
5. Tujuan dari system kesehatan nasional
 Agar tersselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua oleh semua
komponen bangsa, seperti :pemerintah, pemda, masyarakat, badan
hokum,dll.
 Terwujudnya jaminn kesehatan yang tinggi dan kepuasan public dari
fasilitas dan layanan kesehatan.
 Pembukaan UUD 1945 dan pancasila. ‘mewujudkan cita-cita Negara
Indonesia.
6. Jaminan kesehatan yang ditanggung oleh Jamkesda
 Pada RS
1. Rawat inap
2. Rawat jalan
3. Rawat darurat
4. Pelayanan cuci darah (6 kali)
5. Kemoterapi
 Puskesmas
1. Rawat inap
2. Rawat jalan
3. Pelayanan gawat darurat
7. Melita tidak dipungut biaya apapun karena pemerintah sudah memberikan subsidi
bagi Melita, dengan adanya Jamkesda.
8. Syarat pokok dari pelayanan kesehatan nasional aalah :
 Bermutu
 Dapat diterima dan bersifat wajar
 Dapat di capai
 Mudah dan terjsngkau
 Tersedia dan berkesinambungan
9. Prinsip dasar dari system kesehatan nasional adalah :
 Perikemanusiaan
 Berdasarkan HAM
 Adil dan merata
 Pemberdayaan dan kemandirian masyarakat
 Kemitraan
 Pengutamaan dan pemanfaatan
 Good governance
 Dukungang regulasi
 Antisifatik dan proaktif
 Kearifan local
 Responsive gender
Langkah 4. Membuat skema atau diagram dari komponen-komponen permasalahan

Melita (24 th )

Mempunyai
Pembengkakan di
Jamkesda
wajahnya

Berobat ke puskesmas
Pelayanan

-Baik dan ramah


Tidak dipungut
-Bersih dan nyaman Dirujuk ke RSUD
biaya apapun

Di rujuk ke RSUP

Mutu Pelayanan Pembiayaan


kesehatan kesehatan

-Asuransi kesehatan
System kesehatan
-Tarif pelayanan
nasional

Langkah 5. Memformulasikan tujuan pembelajaran


1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan system kesehatan nasional
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pembiayaan kesehatan
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pelayanan kesehatan
4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan mutu pelayan kesehatan
5. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan jaminan kesehatan
6. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pengendalian biaya kesehatan /INA
CBGS
7. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan konsep pelayanan kesehatan nasional

Langkah 6. Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet, dan lain lain

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan system kesehatan nasional

SISTEM KESEHATAN

Pengertian Sistem Kesehatan menurut WHO, 2000 ialah semua kegiatan yang secara
bersama-sama diarahkan untuk mencapai tujuan utama berupa peningkatan & pemeliharaan
kesehatan. Adapun tujuan yang dimaksud adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat, merespon harapan-harapan/ kebutuhan-kebutuhan masyarakat sesuai harga diri
& hak azasi manusia (kepedulian) serta memberikan perlindungan finansial bagi masyarakat
terhadap kemungkinan biaya kesehatan (keadilan dalam pembiayaan).

Oleh karenanya pengertian SKN adalah suatu tatanan yang menghimpun berbagai
upaya bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya sebagai perwujudan kesejahteraan
umum seperti dimaksud dalam Pembukaan UUD 1945.

LANDASAN

SKN merupakan wujud dan metode penyelenggaraan pembangunan kesehatan.


Sedangkan pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional.
Oleh karenanya landasan SKN adalah sama dengan landasan pembangunan nasional yaitu :

 Landasan idiil yaitu Pancasila

 Landasan konstitusional yaitu Undang-undang Dasar 1945

1. Pasal 28 a

2. Pasal 28 b ayat (2)

3. Pasal 28 c ayat (1)

4. Pasal 28 h ayat (1) dan (3)

5. Pasal 34 ayat (2) dan (3)


- Pasal 28 A; setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan
kehidupannya

- Pasal 28 B ayat (2); setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan
berkembang

- Pasal 28 C ayat (1); setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan
kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu
pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya
dan demi kesejahteraan umat manusia

- Pasal 28 H ayat (1); setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat
tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak
memperoleh pelayanan kesehatan, dan ayat (3); setiap orang berhak atas jaminan
sosial yg memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yg
bermartabat

- Pasal 34 ayat (2); negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat
dan memperdayakan masyarakat yg lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat
kemanusiaan, dan ayat (3); negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas
pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

PRINSIP SKN

Prinsip dasar adalah norma, nilai, dan aturan pokok yang bermakna dari falsafah dan
budaya Bangsa Indonesia, yang dipergunakan sebagai acuan berfikir dan bertindak. Terdapat
7 (tujuh) Prinsip Dasar SKN, dengan penekanan pada masing-masing uraian sebagai berikut:

1. Perikemanusiaan;

Terabaikannya pemenuhan kebutuhan kesehatan adalah bertentangan dengan prinsip


kemanusiaan.

2. Hak Azasi Manusia;

Diperolehnya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi setiap orang adalah hak
azasi manusia, tanpa membedakan antara golongan, suku, agama, dan status sosial ekonomi.

3. Adil dan merata;

Pelayanan kesehatan harus merata, bermutu, dan terjangkau oleh seluruh lapisan
masyarakat secara ekonomi dan geografi.

4. Pemberdayaan dan kemandirian masyarakat;

Kesehatan merupakan tanggung jawab bersama, baik pemerintah maupun masyarakat dan
perorangan (individu).

5. Kemitraan;
Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan menggalang kemitran yang dinamis dan
harmonis antara pemerintah dan masyarakat termasuk swasta.

6. Pengutamaan dan manfaat;

Dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan lebih mengutamakan kepentingan


umum daripada kepentingan golongan dan perorangan. Pemanfaatan iptek dalam
pembangunan kesehatan.

7. Tata kepemerintahan yang baik;

Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara demokratis, berkepastian hukum,


terbuka, rasional/profesional, bertanggung jawab dan bertanggung gugat.

8. Perikemanusiaan

Penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip perikemanusiaan yg dijiwai, digerakkan,


dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan YME. Terabaikannya
pemenuhan kebutuhan kesehatan adalah bertentangan dengan prinsip kemanusiaan. Tenaga
kes dituntut untuk tidak diskriminatif serta selalu menerapkan prinsip-prinsip
perikemanusiaan dalam menyelenggarakan upaya kesehatan

9. HakAsasi Manusia

Penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip hak asasi manusia. Diperolehnya derajat
kesehatan yg setinggi-tingginya bagi setiap orang adalah salah satu hak asasi manusia tanpa
membedakan suku, golongan, agama, dan status sosial ekonomi. Setiap anak berhak atas
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi

10. Adil dan merata

Penyelenggaraan SKN berdasarkan prinsip adil dan merata. Dalam upaya mewujudkan
derajat kesehatan yg setinggi- tingginya, perlu diselenggarakan upaya kesehatan yg bermutu
dan terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat secara adil dan merata baik grafis maupun
ekonomis.

11. Pemberdayaan dan Kemandirian Masyarakat

Penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip pemberdayaan dan kemandirian


masyrakat. Setiap orang dan masyarakat bersama dengan pemerintah berkewajiban dan
bertanggungjawab untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan perorangan,
keluarga, masyarakat beserta lingkungannya. Penyelenggaraan pembangunan kesehatan harus
berdasarkan pada kepercayaan atas kemampuan dan kekuatan sendiri, kepribadian bangsa,
semangat solidaritas sosial, dan gotong royong

12. Kemitraan

Penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip kemitraan. Pembangunan kesehatan


harus diselenggarakan dengan menggafang kemitraan yg dinamis dan narmonis antara
pemerintah dan masyarakat termasuk swasta, dengan mendayagunakan potensi yg dimiliki.
Kemitraan antara pemerintah dengan masyarakat termasuk swasta serta kerjasama lintas
sektor dalam pembangunan kesehatan diwujudkan dalam suatu jejaring yg berhasil guna, agar
diperoleh sinergisme yg lebih mnatap dalam rangka mencapai derajat kesmas yg setinggi-
tingginya

13. Pengutamaan dan Manfaat

Penyelenggaraan SKN berdasarkan pada prinsip pengutamaan dan manfaat.


Pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan lebih mengutamakan kepentingan umum
daripada kepentingan perorangan maupun golongan. Upaya kesehatan yg bermutu
dilaksanakan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan pendekatan peningkatan
kesehatan dan pencegahan penyakit. Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara berhasil
guna dan berdaya guna, dengan mengutamakan upaya kesehatan yg mempunyai daya ungkit
tinggi agar memberikan manfaat yg sebesar- besarnya bagi peningkatan derajat kesmas
beserta lingkungannya

14. Tata kepemerintahan yang baik

Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara demokratis, berkepastian hukum,


terbuka (transparent), rasional/profesional, serta bertanggungjawab dan bertanggung gugat
(accountable)

TUJUAN SKN

SKN merupakan pedoman dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan. SKN


bukan pedoman penyelenggaraan kesehatan bagi Departemen Kesehatan saja, tapi bagi
semua potensi bangsa baik pemerintah (pusat, provinsi, kab/kota), masyarakat, maupun
swasta. Dengan demikian tujuan SKN adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh
semua potensi bangsa, baik masyarakat, swasta maupun pemerintah secara sinergis, berhasil-
guna dan berdaya-guna, sehingga tercapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-
tingginya.

KEDUDUKAN SKN

SKN merupakan subsistem dari sistem penyelenggaraan negara dan bersama


subsistem lainnya, (misal: pendidikan) diarahkan untuk mencapai tujuan Bangsa Indonesia.
Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang tidak hanya tanggung
jawab sektor kesehatan, tetapi tanggung jawab berbagai sektor terkait lainnya. Sebagai
subsistem-subsistem dari Sistem Penyelenggaran Negara, maka SKN berinteraksi dengan
berbagai sistem nasional lainnya (seperti: pendidikan, perekonomian, ketahanan pangan,
hankamnas, dan lain-lain). Di daerah perlu dikembangkan Sistem Kesehatan Daerah (SKD).
SKD merupakan subsistem dari SKN dalam wilayah NKRI. SKN juga merupakan bagian
dari sistem kemasyarakatan, yang dipergunakan sebagai acuan utama dalam mengembangkan
perilaku dan lingkungan sehat serta peran aktif masyarakat dalam pembangunan kesehatan.
SUBSISTEM SKN

Banyak buku referensi maupun pengalaman di beberapa negara yang menguraikan


tentang subsistem – subsistem dari suatu sistem kesehatan. Ada yang mengemukakan bahwa
dalam sistem kesehatan hanya ada 2 (dua) subsistem, yaitu subsistem upaya/pelayanan
kesehatan dan subsistempembiayaan kesehatan. Dalam hal ini sumberdaya kesehatan,
pemberdayaan masyarakat, dan manajemen kesehatan sudah termasuk dalam subsistem
upaya kesehatan. Dengan memperhatikan kondisi dan situasi di Indonesia serta kebutuhan
dewasa ini maka diputuskan terdapat 6 (enam) subsistem dari SKN, yaitu:

1. Subsistem upaya kesehatan

2. Subsistem pembiayaan kesehatan

3. Subsistem sumberdaya manusia kesehatan

4. Subsistem obat dan perbekalan kesehatan

5. Subsistem pemberdayaan masyarakat

6. Subsistem manajemen kesehatan

PERKEMBANGAN POKOK-POKOK SUBSTANSI SKN & KAITANNYA DENGAN


PEMBANGUNAN KESEHATAN

SKN 1982 yan ditetapkan dengan SK Menkes No. 999/1982 berisikan lengkap tata
nilai, proses, dan struktur & wujud pembangunan kesehatan. Lengkapnya substansi SKN
1982 ini telah dimanfaatkan dalam penyusunan UU No.23 tahun 1992 tentang kesehatan.

Sesuai amanat Tap MPR X/1998 tentang Reformasi, tata nilai pembangunan
kesehatan ini juga telah direformasi, yaitu dengan ditetapkannya Visi Indonesia sehat 2010
yang termuat dalam Rencana Pembangunan Kesehatan menuju indonesia 2010. Dalam
dokumen rencana kebijakan ini memuat pula proses pembangunan kesehatan yang meliputi
kebijakan dan program-program pembangunan kesehatan sampai dengan tahun 2010.

Sesuai Tap MPR No. VII/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan, yang menetapkan
pula visi antaranya yaitu Indonesia 2020, maka prosespembangunan kesehatan juga sedang
diperbaharui, dimana dewasa ini kita sedang menyusun RPJPK 2005-2020.

SKN yang ditetapkan tahun 2004 ini menyampaikan secara rinci struktur dan wujud
pembangunan kesehatan. Bila RPJPK 2005-2020 telah selesai disusun, maka diharapkan
materi yang meliputi tata nilai, proses, dan struktur & wujud pembangunan kesehatan
menjadi lengkap guna merevisi UU No. 23/1992 tentang Kesehatan.

2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pembiayaan kesehatan

Biaya Kesehatan ialah besarnya dana yang harus di sediakan untuk menyelenggarakan
dan atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang diperlukan oleh perorangan,
keluarga, kelompok dan masyarakat. (Azrul Azwar : 1996) Sistem pembiayaan kesehatan
didefinisikan sebagai suatu sistem yang mengatur tentang besarnya alokasi dana yang harus
disediakan untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang
diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat. (Helda : 2011) Sedangkan,
Subsistem Pembiayaan Kesehatan adalah tatanan yang menghimpun berbagai upaya
penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan sumber daya keuangan secara terpadu dan
saling mendukung untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan pembangunan kesehatan guna
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. (Ana Faiza : 2013)

Macam-macam Sistem Pembiayaan Kesehatan Nasional

Sistem pembiayaan kesehatan Indonesia secara umum terbagi dalam 2 sistem yaitu:

 Fee for Service ( Out of Pocket ) Sistem ini secara singkat diartikan sebagai sistem
pembayaran berdasarkan layanan, dimana pencari layanan kesehatan berobat lalu
membayar kepada pemberi pelayanan kesehatan (PPK). PPK (dokter atau rumah
sakit) mendapatkan pendapatan berdasarkan atas pelayanan yang diberikan, semakin
banyak yang dilayani, semakin banyak pula pendapatan yang diterima.

Kelemahan sistem Fee for Service adalah terbukanya peluang bagi pihak
pemberi pelayanan kesehatan (PPK) untuk memanfaatkan hubungan Agency Relationship,
dimana PPK mendapat imbalan berupa uang jasa medik untuk pelayanan yang diberikannya
kepada pasien yang besar-kecilnya ditentukan dari negosiasi. Semakin banyak jumlah pasien
yang ditangani, semakin besar pula imbalan yang akan didapat dari jasa medik yang
ditagihkan ke pasien. Dengan demikian, secara tidak langsung PPK didorong untuk
meningkatkan volume pelayanannya pada pasien untuk mendapatkan imbalan jasa yang lebih
banyak.

 Health Insurance , Sistem ini diartikan sebagai sistem pembayaran yang dilakukan
oleh pihak ketiga atau pihak asuransi setelah pencari layanan kesehatan berobat.
Sistem health insurance ini dapat berupa system kapitasi dan system Diagnose
Related Group (DRG system).

Sistem kapitasi merupakan metode pembayaran untuk jasa pelayanan kesehatan dimana
PPK menerima sejumlah tetap penghasilan per peserta untuk pelayanan yang telah
ditentukkan per periode waktu. Pembayaran bagi PPK dengan system kapitasi adalah
pembayaran yang dilakukan oleh suatu lembaga kepada PPK atas jasa pelayanan kesehatan
dengan pembayaran di muka sejumlah dana sebesar perkalian anggota dengan satuan biaya
(unicost) tertentu.

Salah satu lembaga di Indonesia adalah Badan Penyelenggara JPKM (Jaminan


Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat).

Sistem kedua yaitu DRG (Diagnose Related Group) tidak berbeda jauh dengan system
kapitasi di atas. Pada system ini, pembayaran dilakukan dengan melihat diagnosis penyakit
yang dialami pasien.
PPK telah mendapat dana dalam penanganan pasien dengan diagnosis tertentu dengan
jumlah dana yang berbeda pula tiap diagnosis penyakit. Jumlah dana yang diberikan ini, jika
dapat dioptimalkan penggunaannya demi kesehatan pasien, sisa dana akan menjadi
pemasukan bagi PPK.

Kelemahan dari system Health Insurance adalah dapat terjadinya underutilization dimana
dapat terjadi penurunan kualitas dan fasilitas yang diberikan kepada pasien untuk
memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Selain itu, jika peserta tidak banyak bergabung
dalam system ini, maka resiko kerugian tidak dapat terhindarkan. Namun dibalik kelemahan,
terdapat kelebihan system ini berupa PPK mendapat jaminan adanya pasien (captive market),
mendapat kepastian dana di tiap awal periode waktu tertentu, PPK taat prosedur sehingga
mengurangi terjadinya multidrug dan multidiagnose. Dan system ini akan membuat PPK
lebih kearah preventif dan promotif kesehatan.

Sumber Pembiayaan Kesehatan Nasional

Secara umum sumber biaya kesehatan dapat dibedakan sebagai berikut :

1. Bersumber dari anggaran pemerintah Pada sistem ini, biaya dan penyelenggaraan
pelayanan kesehatan sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Pelayanannya
diberikan secara cuma-cuma oleh pemerintah sehingga sangat jarang
penyelenggaraan pelayanan kesehatan disediakan oleh pihak swasta. Untuk negara
yang kondisi keuangannya belum baik, sistem ini sulit dilaksanakan karena
memerlukan dana yang sangat besar. Anggaran yang bersumber dari pemerintah ini
dibagi juga menjadi :

- Pemerintahan pusat dan dana dekonsentrasi, dana program kompensasi BBM dan
ABT

- Pemerintah provinsi melalui skema dana provinsi (PAD ditambah dana desentralisasi
DAU provinsi dan DAK provinsi)

- Pemerintah kabupaten atau kota melalui skema dana kabupaten atau kota (PAD
ditambah dana desentralisasi DAU kabupaten atau kota dan DAK kabupaten atau kota

- Keuntungan badan usaha milik daerah.

- Penjualan aset dan obligasi daerah

- Hutang pemerintah daerah

2. Bersumber dari anggaran masyarakat Dapat berasal dari individual ataupun


perusahaan. Sistem ini mengharapkan agar masyarakat (swasta) berperan aktif secara
mandiri dalam penyelenggaraan maupun pemanfaatannya. Hal ini memberikan
dampak adanya pelayanan-pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh pihak swasta,
dengan fasilitas dan penggunaan alat-alat berteknologi tinggi disertai peningkatan
biaya pemanfaatan atau penggunaannya oleh pihak pemakai jasa layanan kesehatan
tersebut. Contohnya CSR atau (Corporate Social Reponsibility) dan pengeluaran
rumah tangga baik yang dibayarkan tunai atau melalui sistem asuransi.

3. Dana yang bersumber dari swasta anatara lain :

- Perusahaan swasta

- Lembaga swadaya masyarakat

- Dana kemanusiaan (charity)

4. Bantuan biaya dari dalam dan luar negeri Sumber pembiayaan kesehatan, khususnya
untuk penatalaksanaan penyakit-penyakit tertentu cukup sering diperoleh dari
bantuan biaya pihak lain, misalnya oleh organisasi sosial ataupun pemerintah negara
lain. Misalnya bantuan dana dari luar negeri untuk penanganan HIV dan virus H5N1
yang diberikan oleh WHO kepada negara-negara berkembang (termasuk Indonesia).

5. Gabungan anggaran pemerintah dan masyarakat Sistem ini banyak diadopsi oleh
negara-negara di dunia karena dapat mengakomodasi kelemahan-kelemahan yang
timbul pada sumber pembiayaan kesehatan sebelumnya. Tingginya biaya kesehatan
yang dibutuhkan ditanggung sebagian oleh pemerintah dengan menyediakan layanan
kesehatan bersubsidi. Sistem ini juga menuntut peran serta masyarakat dalam
memenuhi biaya kesehatan yang dibutuhkan dengan mengeluarkan biaya tambahan.

Syarat Pokok Pembiayaan Kesehatan

Suatu biaya kesehatan yang baik haruslah memenuhi beberapa syarat pokok yakni :

- Jumlah

Syarat utama dari biaya kesehatan haruslah tersedia dalam jumlah yang cukup. Yang
dimaksud cukup adalah dapat membiayai penyelenggaraan semua upaya kesehatan yang
dibutuhkan serta tidak menyulitkan masyarakat yang ingin memanfaatkannya.

- Penyebaran

Berupa penyebaran dana yang harus sesuai dengan kebutuhan. Jika dana yang tersedia
tidak dapat dialokasikan dengan baik, niscaya akan menyulitkan penyelenggaraan setiap
upaya kesehatan.

- Pemanfaatan

Sekalipun jumlah dan penyebaran dana baik, tetapi jika pemanfaatannya tidak mendapat
pengaturan yang optimal, niscaya akan banyak menimbulkan masalah, yang jika
berkelanjutan akan menyulitkan masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

Untuk dapat melaksanakan syarat-syarat pokok tersebut maka perlu dilakukan


beberapa hal, yakni :
- Peningkatan Efektifitas Peningkatan efektifitas dilakukan dengan mengubah
penyebaran atau alokasi penggunaan sumber dana. Berdasarkan pengalaman yang
dimiliki, maka alokasi tersebut lebih diutamakan pada upaya kesehatan yang
menghasilkan dampak yang lebih besar, misalnya mengutamakan upaya pencegahan,
bukan pengobatan penyakit.

- Peningkatan Efisiensi Peningkatan efisiensi dilakukan dengan


memperkenalkan berbagai mekanisme pengawasan dan pengendalian. Mekanisme
yang dimaksud untuk peningkatan efisiensi antara lain:

a) Standar minimal pelayanan. Tujuannya adalah menghindari pemborosan. Pada


dasarnya ada dua macam standar minimal yang sering dipergunakan yakni:

- Standar minimal sarana, misalnya standar minimal rumah sakit dan standar
minimal laboratorium.

- Standar minimal tindakan, misalnya tata cara pengobatan dan perawatan


penderita, dan daftar obat-obat esensial.

b) Kerjasama. Bentuk lain yang diperkenalkan untuk meningkatkan efisiensi ialah


memperkenalkan konsep kerjasama antar berbagai sarana pelayanan kesehatan.
Terdapat dua bentuk kerjasama yang dapat dilakukan yakni:

- Kerjasama institusi, misalnya sepakat secara bersama-sama membeli peralatan


kedokteran yang mahal dan jarang dipergunakan. Dengan pembelian dan
pemakaian bersama ini dapat dihematkan dana yang tersedia serta dapat pula
dihindari penggunaan peralatan yang rendah. Dengan demikian efisiensi juga
akan meningkat.

- Kerjasama sistem, misalnya sistem rujukan, yakni adanya hubungan kerjasama


timbal balik antara satu sarana kesehatan dengan sarana kesehatan lainnya.

Fungsi Pembiayaan Kesehatan

Fungsi pembiayaan kesehatan antara lain :

 Penggalian dana

I. Penggalian dana untuk Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM). Sumber dana


untuk UKM terutama berasal dari pemerintah baik pusat maupun daerah, melalui
pajak umum, pajak khusus, bantuan dan pinjaman serta berbagai sumber lainnya.
Sumber dana lain untuk upaya kesehatan masyarakat adalah swasta serta
masyarakat. Sumber dari swasta dihimpun dengan menerapkan prinsip public-
private patnership yang didukung dengan pemberian insentif, misalnya keringanan
pajak untuk setiap dana yang disumbangkan. Sumber dana dari masyarakat
dihimpun secara aktif oleh masyarakat sendiri guna membiayai upaya kesehatan
masyarakat, misalnya dalam bentuk dana sehat atau dilakukan secara pasif yakni
menambahkan aspek kesehatan dalam rencana pengeluaran dari dana yang sudah
terkumpul di masyarakat, contohnya dana sosial keagamaan.

II. Penggalian dana untuk Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) berasal dari
masing-masing individu dalam satu kesatuan keluarga. Bagi masyarakat rentan dan
keluarga miskin, sumber dananya berasal dari pemerintah melalui mekanisme
jaminan pemeliharaan kesehatan wajib.

 Pengalokasian dana

I. Alokasi dana dari pemerintah yakni alokasi dana yang berasal dari pemerintah untuk
UKM dan UKP dilakukan melalui penyusunan anggaran pendapatan dan belanja baik
pusat maupun daerah sekurang-kurangnya 5% dari PDB atau 15% dari total anggaran
pendapatan dan belanja setiap tahunnya.

II. Alokasi dana dari masyarakat yakni alokasi dana dari masyarakat untuk UKM
dilaksanakan berdasarkan asas gotong royong sesuai dengan kemampuan. Sedangkan
untuk UKP dilakukan melalui kepesertaan dalam program jaminan pemeliharaan
kesehatan wajib dan atau sukarela.

 Pembelanjaan

- Pembiayaan kesehatan dari pemerintah dan public-private patnership digunakan untuk


membiayai UKM.

- Pembiayaan kesehatan yang terkumpul dari Dana Sehat dan Dana Sosial
Keagamaan digunakan untuk membiayai UKM dan UKP.

- Pembelajaan untuk pemeliharaan kesehatan masyarakat rentan dan kesehatan keluarga


miskin dilaksanakan melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan wajib.

3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pelayanan kesehatan

Pelayanan Kesehatan

Adalah setiap upaya yang dilaksanakan sendiri atau secara bersama2 dalam suatu organisasi
untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit
serta memulihkan dan meningkatkan kesehatan perorangan , keluarga, kelompok maupun
masyarakat

SYARAT POKOK PELAYANAN KESEHATAN

Syarat pokok pelayanan kesehatan yang dimaksud (Azwar, 1996) adalah :

1. Tersedia dan berkesinambungan

Syarat pokok pertama pelayanan kesehatan yang baik adalah pelayanan tersebut harus
tersedia di masyarakat (available) serta bersifat berkesinambungan (continuous). Artinya
semua jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat dan mudah dicapai oleh
masyarakat.

2. Dapat diterima dan wajar

Syarat pokok kedua pelayanan kesehatan yang baik adalah apa yang dapat diterima
(acceptable) oleh masyarakat serta bersifat wajar (appropriate). Artinya pelayanan kesehatan
tersebut tidak bertentangan dengan adat istiadat, kebudayaan, keyakinan, kepercayaan
masyarakat dan bersifat wajar.

3. Mudah dicapai

Syarat pokok ketiga pelayanan kesehatan yang baik adalah yang mudah dicapai
(accessible) oleh masyarakat. Pengertian ketercapaian yang dimaksud disini terutama dari
sudut lokasi. Dengan demikian untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang baik, maka
pengaturan sarana kesehatan menjadi sangat penting.

4. Mudah dijangkau

Syarat pokok pelayanan kesehatan yang ke empat adalah mudah dijangkau


(affordable) oleh masyarakat. Pengertian keterjangkauan di sini terutama dari sudut biaya.
Pengertian keterjangkauan di sini terutama dari sudut jarak dan biaya. Untuk mewujudkan
keadaan seperti ini harus dapat diupayakan pendekatan sarana pelayanan kesehatan dan biaya
kesehatan diharapkan sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat.

5. Bermutu

Syarat pokok pelayanan kesehatan yang kelima adalah yang bermutu (quality).
Pengertian mutu yang dimaksud adalah yang menunjuk pada tingkat kesempurnaan
pelayanan kesehatan yang diselenggarakan, yang disatu pihak dapat memuaskan para
pemakai jasa pelayanan, dan pihak lain tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik
serta standar yang telah ditetapkan.

TINGKATAN PELAYANAN KESEHATAN

Dapat dilakukan berdasarkan lima tingkat pencegahan (five levels of prevention)


menurut (leavel & clark) :

1. Promosi Kesehatan

2. Perlindungan Khusus

3. Diagnosis dini & pengobatan segera

4. Pembatasan cacat

5. Rehabilitasi

MACAM-MACAM PENCEGAHAN KESEHATAN


- Peningkatan kesehatan dan perlindungan khusus usaha-usaha prepatogenesis –
pencegahan primer

- Diagnosis dini & pengobatan segera dengan cara yg tepat – patogenesis – pencegahan
secondary

- Pembatasan cacat & pemulihan – pencegahan tersier

KEGIATAN MASING-MASING

- Promosi Kesehatan / peningkatan kesehatan

- Peningkatan gizi

- Peningkatan dan perbaikan kesehatan individu

- Perbaikan hygine dan sanitasi lingkungan

- Olahraga teratur

- Edukasi kesehatan

- Perkawinan yang tepat

- Perlindungan khusus

- Pemberian imunisasi

- Isolasi penderita penyakit

- Perlindungan kecelakaan kerja dll

- Pengendalian tempat2 tercemar

- Diagnosis dini

- Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin

- Pengawasan terhadap penyakit2 tertentu

- Pemberian pelayanan kesehatan yg tepat

- Meningkatan keteraturan pengobatan terhadap penderita

- Pembatasan cacat

- Pencegahan terhadap komplikasi kecacatan

- Perbaikan fasilitas kesehatan yg dapat menunjang dan mengurangi faktor resiko

- Penyempurnaan pengobatan sehingga tidak menimbulkan komplikasi

- Pemulihan
- Mengembangkan lembaga2 rehabilitasi dengan mengikutsertakan masyarakat

- Penyuluhan dan usaha2 kelanjutan yang harus dilakukan stelah sembuh dari penyakit

- Mengusahakan tempat rehabilitasi khusus, sehingga penderita yg telah cacat mampu


mempertahankan diri

- Pendidikan kesehatan serta pemberian motivasi hidup.

4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan mutu pelayan kesehatan

Definisi Mutu

Menurut Ali Gufran, 2007; Istilah mutu memiliki banyak penafsiran yang mungkin
berbeda-beda, ketika ia digunakan untuk menggambarkan sebuah produk atau pelayanan
tertentu. Bisa saja beberapa orang mengatakan bahwa sesuatu dikatakan bermutu tinggi
ketika sesuatu tersebut dianggap lebih baik, lebih cepat, lebih cemerlang, lux, lebih wah dan
biasanya lebih mahal dibandingkan produk atau layanan yang mutunya dianggap lebih
rendah. Hal ini tentu tidak sepenuhnya benar. Beberapa orang mengartikan layanan kesehatan
bermutu adalah layanan yang memuaskan pelanggan. Padahal layanan yang diberikan tidak
memenuhi standar pelayanan medis profesional. Bahkan bisa terjadi di sebuah institusi
layanan kesehatan seperti rumah sakit jika pasien datang di Unit Gawat Darurat langsung
ditangani “diinfus”. Pasien puas karena mereka merasa langsung “ditangani” padahal infus
tidak selalu diperlukan. Bahkan jika tidak terkontrol dapat menimbulkan efek samping seperti
oedem pulmo1,2.

Lebih lanjut dalam uraian Ali Gufran, 2007; Layanan bermutu dalam pengertian yang
luas diartikan sejauh mana realitas layanan kesehatan yang diberikan sesuai dengan kriteria
dan standar profesional medis terkini dan baik yang sekaligus telah memenuhi atau bahkan
melebihi kebutuhan dan keinginan pelanggan dengan tingkat efisiensi yang optimal. Abstrak
mutu dapat dinilai dan diukur dengan berbagai pendekatan. Pendekatan maupun metode
pengukuran yang digunakan dalam upaya meningkatkan mutu tersebut telah tersedia baik
dari dimensi input, proses dan output. Mutu memiliki kharakteristik melakukan pelayanan
yang benar dengan cara yang benar, pertama benar dan selanjutnya diharapkan benar1,2.

Prinsip penting dalam perbaikan mutu

Dua hal yang perlu dipantau dalam upaya perbaikan mutu adalah Kepuasan
Pelanggan dan Standar Pelayanan Kesehatan. Kedua aspek ini haruslah seimbang.

Kesetiaan dan Kepuasan Pelanggan

Dari berbagai sumber disebutkan bahwa, Prinsip utama perbaikan mutu dan kinerja
pelayanan kesehatan adalah kepedulian terhadap pelanggan. Pasien sebagai pelanggan
eksternal tidak hanya menginginkan kesembuhan dari sakit yang diderita yang merupakan
luaran (outcome) pelayan, tetapi juga merasakan dan menilai bagaimana ia diperlakukan
dalam proses pelayanan3,4. Hasil pelayanan kesehatan adalah luaran klinis, manfaat
yang diperoleh pelanggan, dan pengalaman pelanggan yang berupa kepuasan atau
kekecewaan. Pengalaman pelanggan tersebut sangat tergantung pada proses pelayanan pada
lini depan atau sistem mikro pelayanan, suatu sistem pelayanan yang bersentuhan langsung
dengan pelanggan3.

Standar Pelayanan Kesehatan

Keberadaan standar dalam pelayanan kesehatan akan memberikan manfaat, antara


lain mengurangi variasi proses, merupakan persyaratan profesi, dan dasar untuk mengukur
mutu. Ditetapkannya standar juga akan menjamin keselamatan pasien dan petugas penyedia
pelayanan kesehatan. Dikuranginya variasi dalam pelayanan akan meningkatkan konsistensi
pelayanan kesehatan, mengurangi morbiditas dan mortalitas pasien, meningkatkan efisiensi
dalam pelayanan, dan memudahkan petugas dalam pelayanan.

PERBAIKAN MUTU

Menurut Tjahyono Koentjoro 2004, Untuk melakukan perbaikan mutu pelayanan


kesehatan, perlu diperhatikan empat tingkat perubahan, yaitu :

- Pengalaman pasien dan masyarakat

- Sistem mikro pelayanan

- Sistem organisasi pelayanan kesehatan

- Lingkungan pelayan kesehatan

Berikut pendekatan-pendekatan yang dilakukan dalam upaya mewujudkan pelayanan


kesehatan yang harus berfokus pada pelanggan seperti Total Quality Management (TQM),
Layanan Prima.

Tabel 1. Perbandingan pemikiran tradisional dan Total Quality Management

Pemikiran Tradisional TQM

Peningkatan mutu merupakan tanggung Peningkatan mutu merupakan tanggung


jawab pihak manajemen jawab setiap anggota dalam organisasi

Pelanggan merupakan pihak luar dan kita Pelanggan (internal dan eksternal)
menjual kepada mereka merupakan bagian vital organisasi

Cukup baik adalah cukup baik Tidak ada yang kurang dari 100% usaha
yang dilakukan

Kita telah memiliki orang-orang terbaik


Kita membutuhkan orang-orang yang lebih untuk yang mereka kerjakan
baik untuk meningkatkan mutu
Vendor dan pemasok adalah anggota
Vendor dan pemasok adalah bukan bagian penting dari tim kita
dari kita, melainkan relasi
Mutu diperoleh dari inspeksi, rejeksi, dan Mutu dibangun dalam pelayanan dan
kerja ulang produk mulai dari awal input dan proses

Jika tidak ada yang rusak, tidak perlu “Jika tidak rusak, tingkatkankah”
diperbaiki Peningkatan yang terus-menerus
merupakan satu-satunya jalan

Peningkatan kualitas akan menurunkan


Peningkatan kualitas adalah suatu hal yang biaya dan meningkatkan produktivitas
mahal

Sumber : Ali Ghufron Mukti, Strategi Terkini Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan:
Konsep dan Implementasi, Pusat Pengembangan Sistem Pembiayaan dan Manajemen
Asuransi/ Jaminan Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, 2007.

Lebih lanjut Ali Gufran, 2007 mengulas, mengapa kita menggunakan Total Quality
management? Hal ini disebabkan karena keempat prinsip yang dimiliki oleh TQM akan
sangat membantu dalam upaya peningkatan mutu layanan kesehatan. Keempat prinsip itu
adalah:

- Mengukur mutu sehingga dapat mengelolanya;

- Melakukan perncanaan secara strategis sehingga dapat berpikir jangka panjang, tetapi
tetap melakukan aksi-aksi jangka pendek;

- Menghimpun kekuatan otak dan gagasan dari setiap orang di organisasi sehingga
diperoleh manfaat dari sinergi yang sedang dan telah dibangun, serta

- Berfokus kepada pasien (customer focused) sehingga dapat memberi mereka


kepuasan

- Pelayanan prima

Istilah pelayanan prima i merupakan terjemahan dari excellent service, yang secara
harfiah berarti pelayanan yang sangat baik atau pelayanan yang terbaik. Dalam usaha
untuk mencapai usaha Indonesia sehat 2010, Departemen Kesehatan menjelaskan bahwa
pelayanan prima seharusnya meliputi aspek-aspek berikut:

- Kemudahan akses informasi (aspek kepuasan pengguna)

- Pelaksanaan peraturan secara tepat, konsisten, dan konsekuen (aspek proses


pelayanan)

- Pelaksanaan hak dan kewajiban pemberi dan penerima pelayanan (aspek SDM dan
kepuasan pelanggan)
- Penanganan dan pendokumentasian kegiatan pelayanan dilakukan oleh tenaga yang
berwenang/kompeten (aspek proses dan SDM)

- Penciptaan pola pelayanan yang sesuai dengan sifat dan jenisnya sebagai efisiensi dan
efektivitas (aspek SDM, dan proses pelayanan)

- Penetapan tarif sesuai dengan kemampuan masyarakat dengan mekanisme pungutan


yang transparan serta adanya pengendalian dan pengawasan yang cermat (aspek
finansial dan kepuasan pelanggan)

- Tidak ada pembedaan dalam memberikan pelayanan serta pemerataan distribusi


cakupan (aspek kepuasan pelanggan)

- Kebersihan fasilitas pelayanan dan lingkungan (aspek proses pelayanan)

- Sikap ramah dan sopan petugas serta meningkatkan kinerja secara kualitatif dan
kuantitatif dengan kapasitas optimal (aspek kepuasan pelanggan dan aspek SDM) agar
mutu tetap terus terjaga.

Perbaikan Proses Berkesinambungan (Continuous Process Improvement)

Pada dasarnya, langkah perbaikan sistem mikro pelayanan model Nolan terdiri dari
tujuh langkah, yaitu:

- Bentuk tim

- Tetapkan sasaran perbaikan

- Tentukan pengukuran

- Pilih perubahan yang perlu dilakukan

- Uji coba beberapa perubahan dalam skala kecil

- Implementasikan perubahan

- Sebarkan ke unit yang lebih luas

ALAT-ALAT PENINGKATAN MUTU (QUALITY TOOLS)

Untuk menganalisis masalah, menetapkan sasaran mutu, menganalisis masalah, dan


menyusun rencana perbaikan digunakan berbagai alat perbaikan mutu, baik menggunakan
maupun tidak menggunakan metode statistik. Alat-alat tersebut adalah:

1. Alat-alat mutu bukan statistik (Non-statistical tools) merupakan alat untuk


mengembangkan ide, mengelompokkan, memprioritaskan, dan memberikan arah
dalam pengambilan keputusan. Alat-alat tersebut meliputi:

- curah pendapat

- multivoting
- matriks prioritas masalah

- fishbone

- bagan alir

- failure mode and effect analysis

- bagan gantt

2. Alat-alat mutu statistik (Statistical tools), yang meliputi:

- lembar periksa (check sheet)

- diagram kecendrungan (run chart)

- diagram pencar

- histogram

- diagram Pareto

- diagram kendali

5. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan jaminan kesehatan


Pada dasarnya yang dimaksud dengan asuransi kesehatan adalah asuransi yang secara
khusus mengatasi resiko atas kesehatan, asuransi kesehatan akan menanggung seluruh biaya
yang diperlukan jika anda jatuh sakit, termasuk juga jika sakit disebabkan oleh suatu
kecelakaan. Namun tentunya keuntungan yang anda dapatkan dari asuransi kesehatan ini
tidak gratis, jika tidak ada bantuan dari pemerintah atau dari tempat anda bekerja maka anda
diwajibkan untuk membayar premi. Besarnya premi ini dapat bervariasi tergantung banyak
hal seperti tingkat risiko yang ditanggung dan administratif, dan tentunya berapa premi yang
harus anda bayarkan ini juga akan ditentukan oleh perusahaan asuransi.
Asuransi kesehatan ini dapat anda peroleh di berbagai jenis perusahaan asuransi, tepatnya
di perusahaan asuransi sosial, perusahaan asuransi jiwa, atau juga dapat anda peroleh di
perusahaan asuransi umum.
Jika kesulitan untuk mendapatkan asuransi, pemerintah pusat dan juga beberapa
pemerintah daerah juga menyediakan bantuan, bantuan asuransi kesehatan dari pemerintah
atau sering disebut Jamkesmas (jaminan kesehatan masyarakat), dan juga jamkesda serta
jamkesos untuk bantuan asuransi kesehatan di level pemerintah daerah tingkat provinsi dan
kabupaten/kota, namun bantuan ini hanya diberikan kepada mereka yang berpenghasilan
rendah saja.
Mulai 1 Januari 2014 sistem Jaminan Sosial terbaru atau JKN (Jaminan Kesehatan
Nasional) resmi diberlakukan. Namun masih banyak warga yang belum tahu apa itu BPJS
(Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan dan JKN.

JKN dan BPJS Kesehatan dan bedanya

JKN merupakan program pelayanan kesehatan terbaru yang merupakan kepanjangan


dari Jaminan Kesehatan Nasional yang sistemnya menggunakan sistem asuransi. Artinya,
seluruh warga Indonesia nantinya wajib menyisihkan sebagian kecil uangnya untuk jaminan
kesehatan di masa depan. Semua rakyat miskin atau PBI (Penerima Bantuan Iuran)
ditanggung kesehatannya oleh pemerintah. Sehingga tidak ada alasan lagi bagi rakyat miskin
untuk memeriksakan penyakitnya ke fasilitas kesehatan.

Sementara BPJS adalah singkatan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. BPJS ini
adalah perusahaan asuransi yang kita kenal sebelumnya sebagai PT Askes. Begitupun juga
BPJS Ketenagakerjaan merupakan transformasi dari Jamsostek (Jaminan Sosial Tenaga
Kerja).

Antara JKN dan BPJS tentu berbeda. JKN merupakan nama programnya, sedangkan
BPJS merupakan badan penyelenggaranya yang kinerjanya nanti diawasi oleh DJSN (Dewan
Jaminan Sosial Nasional).

Peserta JKN

Sesuai Undang-undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional
(SJSN), dengan adanya JKN, maka seluruh masyarakat Indonesia akan dijamin kesehatannya.
Dan juga kepesertaanya bersifat wajib tidak terkecuali juga masyarakat tidak mampu karena
metode pembiayaan kesehatan individu yang ditanggung pemerintah.

Fasilitas yang didapat jika ikut JKN

A. Untuk peserta PBI (Penerima Bantuan Iuran)

- Pekerja penerima upah ( PNS, Anggota TNI/POLRI, Pejabat Negara, Pegawai


Pemerintah non Pegawai Negeri dan Pegawai Swasta, akan mendapatkan pelayanan
kelas I dan II

- Pekerja bukan penerima upah (Pekerja di luar hubungan kerja atau pekerja mandiri,
karyawan swasta) akan mendapatkan pelayanan kelas I, II dan III sesuai dengan premi
dan kelas perawatan yang dipilih.

- Bukan pekerja (investor, pemberi kerja, penerima pensiun, veteran, perintis


kemerdekaan serta janda, duda, anak yatim piatu dari veteran atau perintis
kemerdekaan. Termasuk juga wirausahawan, petani, nelayan, pembantu rumah
tangga, pedagang keliling dan sebagainya) bisa mendapatkan kelas layanan kesehatan
I, II, dan III sesuai dengan premi dan kelas perawatan yang dipilih.

B. Penerima Bantuan Iuran (PBI)


Orang yang tergolong fakir miskin dan tidak mampu yang dibayarkan preminya oleh
pemerintah mendapatkan layanan kesehatan kelas III

Manfaat dan layanan yang didapat peserta JKN

Manfaat JKN mencakup pelayanan pencegahan dan pengobatan termasuk pelayanan


obat dan bahan medis habis pakai sesuai dengan kebutuhan medis. Seperti misalnya untuk
pelayanan pencegahan (promotif dan preventif), peserta JKN akan mendapatkan pelayanan:

- Penyuluhan kesehatan, meliputi paling sedikit penyuluhan mengenai pengelolaan


faktor risiko penyakit dan perilaku hidup bersih dan sehat.

- Imunisasi dasar, meliputi Baccile Calmett Guerin (BCG), Difteri pertusis tetanus dan
Hepatitis B (DPT-HB), Polio dan Campak.

- Keluarga Berencana, meliputi konseling, kontrasepsi dasar, vasektomi dan tubektomi

- Skrining kesehatan diberikan secara selektif yang ditujukan untuk mendeteksi risiko
penyakit dan mencegah dampak lanjutan dari risiko penyakit tertentu.

- Jenis penyakit kanker, bedah jantung, hingga dialisis (gagal ginjal).

Alur pembuatan kartu BPJS Kesehatan

Direktur Pelayanan PT Askes Fadjriadinur mengatakan bahwa Anda bisa datang ke


kantor BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) kemudian melakukan hal berikut:

1. Mengisi formulir pendaftaran

2. Pembayaran premi

Anda akan diberikan virtual account atau kode bank untuk pembayaran premi pertama
yang bisa dilakukan melalui ATM atau bank terdekat yang saat ini sudah bekerjasama yaitu
bank BRI, BNI dan Mandiri.

Untuk biaya premi peserta mandiri dengan perawatan kelas 3, sebulan hanya Rp
25.500 per orang, untuk perawatan kelas II sebulan Rp 42.500 per orang dan perawatan kelas
I sebesar Rp 50.000 per orang.

Adapun besaran premi pada kelompok pekerja sebesar 5 persen dari gaji pokoknya, 2
persen dibayarkan oleh yang bersangkutan dan 3 persen dibayarkan oleh perusahaan tempat
pekerja bekerja.

3. Mendapat kartu BPJS Kesehatan yang berlaku di seluruh Indonesia

Setelah membayar premi, nantinya Anda akan mendapat kartu BPJS Kesehatan yang
menjadi bukti bahwa Anda merupakan peserta JKN. Saat ini fasilitas kesehatan yang dimiliki
pemerintah otomatis melayani JKN. Sementara fasilitas kesehatan milik swasta yang dapat
melayani JKN jumlahnya terus bertambah. Hanya tinggal sekitar 30 persen saja yang belum
bergabung.
Alur pelayanan kesehatan

- Untuk pertama kali setiap peserta terdaftar pada satu fasilitas kesehatan tingkat
pertama (Puskesmas) yang ditetapkan oleh BPJS Kesehatan setelah mendapat
rekomendasi dinas kesehatan kabupaten/kota setempat.

- Dalam jangka waktu paling sedikit 3 (tiga) bulan selanjutnya peserta berhak memilih
fasilitas kesehatan tingkat pertama yang diinginkan.

- Peserta harus memperoleh pelayanan kesehatan pada fasilitas kesehatan tingkat


pertama tempat peserta terdaftar, kecuali berada di luar wilayah fasilitas kesehatan
tingkat pertama tempat peserta terdaftar atau dalam keadaan kegawatdaruratan medis.

Perbedaan Fasilitas Kesehatan (Faskes) tingkat 1, 2 dan 3

Perbedaan fasilitas kesehatan tingkat 1, 2 dan 3 bpjs terletak pada jenis dan jumlah
layanan medik juga spesialis dan kelengkapan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh
fasilitas kesehatan tersebut, sebagai berikut:

1. Fasilitas Kesehatan tingkat pertama (FKTP 1)

Fasilitas kesehatan tingkat 1 terdiri dari puskesmas, klinik, praktek dokter, praktek
dokter gigi dan rumah sakit tipe D.

2. Fasilitas Kesehatan tingkat dua

Tingkat 2 menurut Sistem Rujukan Berjenjang diisi oleh dua tipe 2 rumah sakit yaitu
C, B. Di lapangan, BPJSK akan mengarahkan bahwa jika dari PPK 1 pasien tidak bisa
ditangani maka akan dirujuk secara berjenjang ke tipe D atau C lebih dulu, baru ke tipe B.
Bila diperlukan baru ke tipe A.

3. Fasilitas Kesehatan tingkat 3

Fasilitas keseahtan tingkat 3 diisi oleh rumah sakit tipe A, rumah sakit ini adalah
rumah sakit yang paling lengkap dengan sarana dan prasarana ini adalah rujukan terakhir
pasien BPJS jika pasien tdak bsa ditangai di PPK1 dan juga PPK2.

Perbedaan fasilitas keseahatan terutama rumah sakit A, B, C dan D tersebut juga ikut
menentukan tarif rawat inap bpjs di tiap-tiap rumah sakit, meskipun satu tindakan yang sama.
Sangat jelas bahwa itu sebenarnya berkaitan erat dengan kemampuan layanan dan kualifikasi
Dokter Spesialis di tiap-tiap tipe RS.

Pengawasan program JKN

Pengawasan terhadap BPJS dilakukan secara eksternal dan internal. Secara eksternal,
pengawasan akan dilakukan oleh DJSN (Dewan Jaminan Sosial Nasional) dan Lembaga
pengawas independen. Dan secara internal, BPJS akan diawasi oleh dewan pengawas satuan
pengawas internal.
Asuransi dibedakan menjadi 2 jenis: Sosial dan komersial berikut perbedaannya

 Sosial

1. kepersertaan wajib bagi seluruh penduduk

2. non profit

3. manfaat komperenshif

 komersial

1. kepersertaan suka rela

2. profit

3. manfaat sesuai yang dibayarakan

Beberapa yang tidak di tanggung asuransi

- Tidak sesuai prosedur

- Pelayanan di luar faskes yang bekerja sama

- Pelayanan bertujuan losmetik

- General chek up, pengobatan alternatif

- Yankes pada saat bencana

- Pasien bunuh diri , menyiksa diri sengaja

6. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan pengendalian biaya


kesehatan /INA CBGS

pengendalian biaya kesehatan /INA CBGS

INA-CBG merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Groups yaitu sebuah
aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. Menurut
kepala Dinas kesehatan DKI Jakarta, Dien Emmawati, INA-CBG merupakan sistem
pembayaran dengan sistem "paket", berdasarkan penyakit yang diderita pasien. KJS
menerapkan sistem pembayaran ini untuk pelayanan baru kesehatan bagi warga Jakarta. Arti
dari Case Base Groups (CBG) itu sendiri, adalah cara pembayaran perawatan pasien
berdasarkan diagnosis-diagnosis atau kasus-kasus yang relatif sama.

Perbedaan sistem INA DRG VS INA CBG’s:


INA DRG menggunakan CGS Grouper IR-DRG oleh PT. 3M sedangkan INA CBG’s
Menggunakan UNU Grouper dari UNU-IIGH.

INA DRG memerlukan Kode Lisensi / Kode security pada instalasi di setiap Komputer
sedangkan INA CBG’s tidak memerlukan kode Lisensi dan dapat langsung digunakan lebih
dari satu PC.

INA DRG terdapat 23 MDC (Major Diagnostic Category), label menggunakan numerik
01 s/d 23 dan mengacu pada ICD-10. Sedangkan INA CBG’s terdapat 31 CMG’s (Casemix
Main Groups), label menggunakan abjad A s/d Z serta mengacu pada ICD-10 dan ICD-9CM.
Kode pada INA DRG menggunakan 6 digit. Sedangkan INA CBG’s menggunakan 5 digit
kode alfanumerik.

Di Indonesia penerapan sistem INA CBGs mempunyai dasar hukum, antara lain:

a. UU Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)

b. UU Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran

c. UU Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

d. UU Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit

e. SK Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Nomor HK.03.05/I/589/2011

Pembiayaan kesehatan adalah bagian yang penting dalam implementasi program JKN.
Menurut Miller (2007), tujuan pembiayaan kesehatan adalah mendorong peningkatan mutu;
layanan berorientasi pasien; mendorong efisiensi tidak memberikan reward terhadap provider
yang melakukan over treatment, under treatment, maupun adverse event; dan mendorong
pelayanan tim. Sistem klaim jaminan kesehatan merupakan bagian penting dari sistem
pembiayaan kesehatan . Terdapat dua metode klaim pembiayaan kesehatan, yaitu: metode
retrospektif dan metode pembayaran prospektif. Metode retrospektif merupakan metode
klaim biaya kesehatan atau pembayaran yang dihitung berdasarkan layanan kesehatan yang
diberikan kepada pasien. Sedangkan metode prospektif adalah metode klaim biaya kesehatan
berdasarkan standar yang ditentukan di muka atau sebelum layanan kesehatan diberikan.
Sistem JKN menggunakan metode prospektif untuk pembayaran klaim biaya kesehatan
dengan menggunakan sistem INA-CBG. Sistem ini menggunakan dasar paket kelompok
diagnosis.

Pilihan sistem pembiayaan tergantung pada kebutuhan dan tujuan dari implementasi
pembayaran kesehatan tersebut. Sistem INA-CBG’s digunakan JKN dalam pembayaran
kepada fasilitas kesehatan rujukan atau rumah sakit. Sistem ini menjadi pilihan, karena :

 Dapat mengendalikan biaya kesehatan

 Mendorong pelayanan kesehatan tetap bermutu sesuai standar

 Membatasi pelayanan kesehatan yang tidak diperlukan, berlebihan, atau under use
 Mempermudah administrasi klaim

 Mendorong provider untuk melakukan cost containment

Sistem casemix pertama kali dikembangkan di Indonesia pada tahun 2006 sebagai INA-
DRG (Indonesia-Diagnosis Related Group). Implementasi pembayaran dengan INA-DRG
dimulai pada 1 September 2008 pada 15 rumah sakit vertikal, dan pada 1 Januari 2009
diperluas pada seluruh rumah sakit yang bekerja sama untuk program Jamkesmas. Sistem
casemix adalah pengelompokan diagnosis dan prosedur dengan mengacu pada ciri klinis
yang mirip/sama dan penggunaan sumber daya/biaya perawatan yang mirip/sama,
pengelompokan dilakukan dengan menggunakan software grouper. Sistem casemix saat ini
banyak digunakan sebagai dasar sistem pembayaran kesehatan di negara-negara maju dan
sedang dikembangkan di negara-negara berkembang.

Pada tanggal 31 September 2010 dilakukan perubahan nomenklatur dari INA-DRG


(Indonesia Diagnosis Related Group) menjadi INA-CBG (Indonesia Case Based Group)
seiring perubahan grouper 3M Grouper ke UNU (United Nation University) Grouper. Dengan
demikian, sejak Oktober 2010 sampai Desember 2013, pembayaran kepada Pemberi
Pelayanan Kesehatan (PPK) Lanjutan dalam Jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas)
menggunakan INA-CBG. Sejak diimplementasikannya sistem casemix di Indonesia,
dihasilkan 3 kali perubahan besaran tarif, yaitu tarif INA-DRG Tahun 2008, tarif INA-CBG
Tahun 2013 dan tarif INA-CBG Tahun 2014. Tarif INA-CBG mempunyai 1.077 kelompok
tarif terdiri dari 789 kode grup/kelompok rawat inap dan 288 kode grup/kelompok rawat
jalan, menggunakan sistem koding dengan ICD-10 untuk diagnosis serta ICD-9-CM untuk
prosedur/tindakan. Pengelompokan kode diagnosis dan prosedur dilakukan dengan
menggunakan grouper UNU (UNU Grouper). UNU-Grouper adalah Grouper casemix yang
dikembangkan oleh United Nations University (UNU).

Dalam implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah diatur pola pembayaran
kepada fasilitas kesehatan tingkat lanjutan adalah dengan INA-CBGs sesuai dengan Peraturan
Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2013. Untuk tarif yang berlaku pada 1 Januari
2014, telah dilakukan penyesuaian tarif INA-CBG Jamkesmas dan telah ditetapkan dalam
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 69 Tahun 2013 tentang Standar Tarif Pelayanan
Kesehatan pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dan Fasilitas Kesehatan Tingkat
Lanjutan dalam penyelenggaraan Jaminan Kesehatan. Kemudian pada Tahun 2014,
dikeluarkan juga Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 59 tahun 2014 tentang Standar Tarif
Pelayanan KesehatanDalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan.

Tarif INA-CBGs merupakan tarif paket yang meliputi seluruh komponen sumber daya
rumah sakit yang digunakan dalam pelayanan baik medis maupun non-medis.
Pengelompokan tarif berdasarkan penyesuaian setelah melihat besaran Hospital Base Rate
(HBR) sakit yang didapatkan dari perhitungan total biaya pengeluaran rumah sakit. Apabila
dalam satu kelompok terdapat lebih dari satu rumah sakit, maka digunakan Mean Base Rate.
Regionalisasi, tarif terbagi atas 5 Regional yang didasarkan pada Indeks Harga Konsumen
(IHK) dan telah disepakati bersama antara BPJS Kesehatan dengan Asosiasi Fasilitas
Kesehatan Tingkat Lanjutan.

Dasar pengelompokan dalam INA-CBGs menggunakan sistem kodifikasi dari diagnosis


akhir dan tindakan/prosedur yang menjadi output pelayanan, dengan acuan ICD-10 untuk
diagnosis dan ICD-9-CM untuk tindakan/prosedur. Pengelompokan menggunakan sistem
teknologi informasi berupa Aplikasi INA-CBG sehingga dihasilkan 1.077 Group/Kelompok
Kasus yang terdiri dari 789 kelompok kasus rawat inap dan 288 kelompok kasus rawat jalan.
Setiap group dilambangkan dengan kode kombinasi alfabet dan numerik.

Struktur Kode INA-CBGs terdiri atas :

Case-Mix Main Groups (CMGs)

Adalah klasifikasi tahap pertama

Dilabelkan dengan huruf Alphabet (A to Z)

Berhubungan dengan sistem organ tubuh

Pemberian Label Huruf disesuaikan dengan yang ada pada ICD 10 untuk setiap sistem organ

Terdapat 30 CMGs dalam UNU Grouper (22 Acute Care CMGs, 2 Ambulatory CMGs, 1
Subacute CMGs, 1 Chronic CMGs, 4 Special CMGs dan 1 Error CMGs)

Total CBGs sampai saat ini sebanyak 1220.

Case-Based Groups (CBGs) sebagai sub-group kedua yang menunjukkan tipe kasus (1-9)

Kode CBGs sebagai sub-group ketiga menunjukkan spesifik CBGs yang dilambangkan
dengan numerik mulai dari 01 sampai dengan 99

Severity Level sebagai sub-group keempat merupakan resource intensity level yang
menunjukkan tingkat keparahan kasus yang dipengaruhi adanya komorbiditas ataupun
komplikasi dalam masa perawatan. Keparahan kasus dalam INA-CBG terbagi menjadi :

“0” Untuk Rawat jalan

“I - Ringan” untuk rawat inap dengan tingkat keparahan 1 (tanpa komplikasi maupun
komorbiditi)

“II - Sedang” Untuk rawat inap dengan tingkat keparahan 2 (dengan mild komplikasi dan
komorbiditi)

“III - Berat” Untuk rawat inap dengan tingkat keparahan 3 (dengan major komplikasi dan
komorbiditi)

Istilah ringan, sedang dan berat dalam deskripsi dari Kode INA-CBGs bukan
menggambarkan kondisi klinis pasien maupun diagnosis atau prosedur namun
menggambarkan tingkat keparahan (severity level) yang dipengaruhi oleh diagnosis sekunder
(komplikasi dan ko-morbiditi).

7. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan konsep pelayanan kesehatan


nasional

Defenisi pelayanan kesehatan cukup beragam pendapat dari para pakar. Salah satunya
yang disampaikan oleh Levey dan Loomba (1973). Beliau mengatakan bahwa pelayanan
kesehatan ialah setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersama-sama dalam
suatu organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan
menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan keluarga, kelompok, dan
ataupun masyarakat.

Dari defenis tersebut diatas dapat di peroleh bahwa ciri pelayanan kesehatan mengandung
hal-hal sebagi beriut :

1. Usaha sendiri

Setiap usaha pelayanan kesehatan bisa dilakukan sendiri ditempat pelayanan. Misalnya
pelayanan dokter praktek.

2. Usaha lembaga atau organisasi.

Setiap usaha pelayanan kesehatan dilakukan secara kelembagaan atau organisasi kesehatan
ditempat pelayanan. Misalnya pelayanan kesehatan masyarakat di puskesmas.

3. Memiliki tujuan yang dicapai

Tiap pelayanan kesehatan memiliki produk yang beragam sebagai hasil ahir pelayanan yang
pada tujuan pokoknya adalah peningkatan derajat kesehatan masyarakat atau person.

4. Lingkup Program

Lingkup pelayanan kesehatan meliputi kegiatan pemeliharaan kesehatan, peningkatan


kesehatan, pencengah penyakit, penyembuhan penyakit, pemulihan kesehatan, atau gabungan
dari kseluruhan.

5. Sasaran pelayanan.

Tiap pelayanan kesehatan menghasilkan sasaran yang berbeda, tergantung dari program yang
akan dilakukan, bisa untuk perseorangan, keluarga, kelompok ataupun untuk masyarakat
secara umum
Sesuai dengan batasan yang seperti ini, segera dipahami bahwa bentuk dan jenis
pelayanan kesehatan yang dapat ditemukan banyak macamnya. Karena kesemuanya ini amat
ditentukan oleh :

1. Perorganisasian pelayanan, apakah dilaksanakan secara sendiri atau secara bersama-sama


dalam suatu organisasi.

2. Ruang lingkup kegiatan, apakah hanya mencangkup kegiatan pemeliharaan kesehatan,


peningkatan kesehatan, pencengah penyakit, penyembuhan penyakit, pemulihan kesehatan,
atau kombinasi dari padanya.

3. Sasaran pelayanan kesehatan, apakah untuk perseorangan, keluarga, kelompok ataupun


untuk masyarakat secara keseluruhan.

Secara umum yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan adalah setiap upaya yang
diselenggarakan secara bersama-sama dalam suatu organisasi untuk memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan, mencegah dan mengobati penyakit serta memulihkan
kesehatan perorangan, kelompok, keluarga ataupun masyarakat (Asrul Aswar, 1996). Tiga
faktor yang mempengaruhi pelayanan kesehatan menurut azwar (1996).

Pertama, unsur masukan meliputi tenaga medis, dana dan sarana yang tersedia sesuai
kebutuhan.

Kedua, unsure lingkungan meliputi kebijakan, organisasi dan manajemen.

Ketiga, unsur proses meliputi tindakan medis dan tindakan non medis sesuai standar profesi
yang telah ditetapkan.

Sekalipun bentuk dan jenis pelayanan kesehatan banyak macamnya namun jika
disederhanakan secara umum dapat dibedakan atas 2. bentuk dan jenis pelayanan kesehatan
tersebut, jika dijabarkan dari pendapat Hodgetts dan Cascio (1983)adalah :

1. Pelayanan kedokteran

Pelayanan kesehatan yang termaksud dalam kelompok pelayanan kedokteran(medical


services) ditandai dengan cara pengorganisasian yang dapat bersifat sendiri (solo practice)
atau secara bersama-sama dalam satu organisasi (institution), tujuan utamanya untuk
menyembuhkan penyakit dan memilihkan kesehatan serta sasarannya terutama untuk
perseorangan dan keluarga.

2. Pelayanan kesehatan masyarakat

Pelayanan kesehatan yang termaksud dalam kelompok pelayanan kesehatan


masyarakat (public health services) ditandai dengan cara pengorganisasian yang umumnya
secara bersama-sama dalam satu organisasi, tujuan utamanya untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit, serta sasarannya terutama untuk kelompok
dan masyarakat.
TEORI SISTEM

Sistem : Komponen yang saling berkaitan dan berfungsi kearah tercapainya tujuan yang
telah ditetapkan. Teori Sistem : Menekankan kesatuan, keutuhan bagian- bagian dari
keseluruhan sistem yang bekerjasama dalam sistem tersebut.Sistem terdiri dari :

 Input

Subsistem yang akan memberikan segala masukan untuk berfungsinya sebuah sistem, seperti
sistem pelayanan kesehatan :

– Potensi masyarakat

– Tenaga kesehatan

– Sarana kesehatan

 Proses

Kegiatan yg berfungsi untuk mengubah sebuah masukan menjadi sebuah hasil yg diharapkan
dari sistem tersebut, yaitu berbagai kegiatan dalam pelayanan kesehatan.

 Output

Hasil yang diperoleh dari sebuah proses, Output pelayanan kesehatan : pelayanan yang
berkualitas, efektif dan efisien serta terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat sehingga
pasien sembuh & sehat optimal.

 Dampak

Akibat yang dihasilkan sebuah hasil dari sistem, relative lama waktunya. Dampak sistem
Pelayanan kesehatan adalah masyarakat sehat, angka kesakitan & kematian menurun.

 Umpan balik (feedback)

Suatu hasil yang sekaligus menjadikan masukan dan ini terjadi dari sebuah sistem yang saling
berhubungan dan saling mempengaruhi, berupa kualitas tenaga kesehatan .

 Lingkungan

Semua keadaan di luar sistem tetapi dapat mempengaruhi pelayanan kesehatan.

Pelayanan Kesehatan

Menurut Leavel & Clark dalam memberikan pelayanan kesehatan harus memandang pada
tingkat pelayanan kesehatan yg akan diberikan, yaitu :
 Health promotion (promosi kesehatan), Merupakan tingkat pertama dalam
memberikan pelayanan melalui peningkatan kesehatan, Contoh : kebersihan
perorangan, perbaikan sanitasi lingkungan.

 Specifik protection (perlindungan khusus), Masyarakat terlindung dari bahaya/


penyakit2 tertentu. Cth : Imunisasi, perlindungan keselamatan kerja

 Early diagnosis and prompt treatment (diagnosis dini & pengobatan segera), Sudah
mulai timbulnya gejala penyakit, Cth : survey penyaringan kasus.

 Disability limitation (pembatasan cacat), Dilakukan untuk mencegah agar pasien atau
masyarakat tidak mengalami dampak kecacatan akibat penyakit yang ditimbulkan.

 Rehabilitation (rehabilitasi), Dilaksanakan setelah pasien didiagnosa sembuh. Sering


pada tahap ini dijumpai pada fase pemulihan terhadap kecacatan seperti latihan-
latihan yang diberikan pada pasien.

Lembaga pelayanan kesehatan

 Rawat jalan

 Institusi

 Hospice

 Community Based Agency

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI., (2009) Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta


Hidayat, A.A. A., (2008) Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, Edisi 2, Jakarta: Salemba
Medika.

Notoatmodjo Soekidjo., (2001) Peran Pelayanan Kesehatan Swasta dalam Menghadapi Masa
Krisis. Jakarta:Suara Pembaruan Daily.

Perry, Potter., (2009) Fundamental Keperawatan,Buku 1, Edisi 7. Jakarta: Salemba Medika.

Potter,Patricia.Perry,Anne Griffin., (2005) Buku Ajar Fundamental Keperawatan, Edisi 4,


Volume 1. EGC: Jakarta

Bagian Hukormas Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian

Kesehatan RI, 2013, Buletin BUK Mei 2013, Kemenkes RI, Jakarta.

Wibowo B, Pelaksanaan INA-CBG dI RSUP Dr. Kariadi, RSUP Dr. Kariadi, Semarang.

Maghfirah I, Sistem Pembiayaan Kesehatan di Indonesia.

http://www.scribd.com/doc/124740114/Sistem-Pembiayaan-Kesehatan-Indonesia

Hastomo, Buku Panduan software ina cbg 3.1.

http://www.scribd.com/doc/177137821/Buku-Panduan-software-ina-cbgs-3-1