Anda di halaman 1dari 15

SOP :Pemeriksaan Nervus

1. Pengertian : Pemeriksaan Fisik Saraf Kranial adalah sebuah pemeriksaan yang


dilakukan dalam rangka menentukan diagnosa keperawatan tepat dan
melakukan tindakan perawatan yang sesuai.
2. Tujuan : Untukmengevaluasikeadaanfisikkliensecaraumumdanjugamenilaiapakaha
daindikasipenyakitlainnyaselainkelainanneurologis.
3. Prosedur
3.1 Persiapa :  Kondisi umum klien tenang.
npasien  Komunikasi verbal baik
 Klienmampuberinteraksidalamwaktu yang cukup lama (fokus)
3.2 Alatdan : Siapkanalat-alat yang meliputi:
Bahan 1. Refleks hammer
2. Garputala
3. Kapas dan lidi
4. Penlight atau senter kecil
5. Opthalmoskop
6. Jarum steril
7. Spatel tongue
8. 2 tabung berisi air hangat dan air dingin
9. Objek yang dapat disentuh seperti peniti atau uang receh
10. Bahan-bahan beraroma tajam seperti kopi, vanilla atau parfum
11. Bahan-bahan yang berasa asin, manis atau asam seperti garam,
gula, atau cuka
12. Baju periksa
13. Sarung tangan
3.3 Cara : A. Tahap Preinteraksi
kerja 1. Siapkan alat-alat yang meliputi:
a. Refleks hammer
b. Garputala
c. Kapas dan lidi
d. Penlight atau senter kecil
e. Opthalmoskop
f. Jarum steril
g. Spatel tongue
h. 2 tabung berisi air hangat dan air dingin
i. Objek yang dapat disentuh seperti peniti atau uang receh
j. Bahan-bahan beraroma tajam seperti kopi, vanilla atau parfum
k. Bahan-bahan yang berasa asin, manis atau asam seperti garam,
gula, atau cuka
l. Baju periksa
m. Sarung tangan

B. Tahap Pemeriksaan
1. Saraf I (N. Olfaktorius)
Cara Pemeriksaan
- Kedua mata ditutup
- Lubang hidung ditutup
- Dilihat apakah tidak ada gangguan pengaliran udara
- Kemudian bahan satu persatu didekatkan pada lubang hidung yang
terbuka dan penderita diminta menarik nafas panjang, kemudian
diminta mengidentifikasi bahan tersebut.
2. Saraf II (N. Opticus)
Pemeriksaan meliputi
a. Penglihatan sentral
Untuk keperluan praktis, membedakan kelainan refraksi dengan retina
digunakan PIN HOLE (apabila penglihatan menjadi lebih jelas maka
berarti gangguan visus akibat kelainan refraksi). Lebih tepat lagi dengan
optotype Snellen. Yang lebih sederhana lagi memakai jari-jari tangan
dimana secara normal dapat dilihat pada jarak 60 m dan gerakan tangan
dimana secara normal dapat dilihat pada jarak 300 m.
b. Penglihatan Perifer
Cara pemeriksaan
Tes Konfrontasi.
- Pasien diminta untuk menutup satu mata, kemudian menatap mata
pemeriksa sisi lain.
- Mata pemeriksa juga ditutup pada sisi yang lain, agar sesuai
denganlapang pandang pasien.
- Letakkan jari tangan pemeriksa atau benda kecil pada lapang
pandang pasien dari 8 arah.
- Pasien diminta untuk menyatakan bila melihat benda tersebut.
Bandingkan lapang pandang pasien dengan lapang pandang
pemeriksa.
- Syarat pemeriksaan tentunya lapang pandang pemeriksa harus
normal.
c. Melihat warna
Persepsi warna dengan gambar stilling Ishihara. Untuk mengetahui
adanya polineuropati pada N II.
d. Pemeriksaan Fundus Occuli
Pemeriksaan ini menggunakan alat oftalmoskop. Pemeriksaan ini
dilakukan untuk melihat apakah pada papilla N II terdapat :
- Stuwing papil atau protusio N II Kalau ada stuwing papil yang
dilihat adalah papilla tersebut mencembung atau menonjol oleh
karena adanya tekanan intra cranial yang meninggi dan
disekitarnya tampak pembuluh darah yang berkelok-kelok dan
adanya bendungan.
- Neuritis N II
Pada neuritis N II stadium pertama akan tampak adanya udema
tetapi papilla tidak menyembung dan bial neuritis tidak acut lagi
akan terlihat pucat.
3. Saraf III (N. Oculo-Motorius
Pemeriksaan meliputi
a. Retraksi kelopak mata atas
Bisa didapatkan pada keadaan :
- Hidrosefalus (tanda matahari terbit)
- Dilatasi ventrikel III/aquaductus Sylvii
- Hipertiroidisme
b. Ptosis
Pada keadaan normal bila seseorang melihat kedepan, maka batas
kelopak mata atas akan memotong iris pada titik yang sama secara
bilateral. Bila salah satu kelopak mata atas memotong iris lebih rendah
daripada mata yang lain, atau bila pasien mendongakkan kepala ke
belakang/ ke atas (untuk kompensasi) secara kronik atau mengangkat alis
mata secara kronik dapat dicurigai sebagai ptosis. Penyebab Ptosis
adalah:
- False Ptosis : enophtalmos (pthisis bulbi), pembengkakan kelopak
mata (chalazion).
- Disfungsi simpatis (sindroma horner).
- Kelumpuhan N. III
- Pseudo-ptosis (Bell’s palsy, blepharospasm)
- Miopati (miastenia gravis).
c. Pupil bola mata
Pemeriksaan pupil meliputi :
- Bentuk dan ukuran pupil. Bentuk yang normal adalah bulat, jika
tidak maka ada kemungkinan bekas operasi mata. Pada sifilis
bentuknya menjadi tidak teratur atau lonjong/segitiga. Ukuran
pupil yang normal kira-kira 2-3 mm (garis tengah). Pupil yang
mengecil disebut Meiosis, yang biasanya terdapat pada Sindroma
Horner, pupil Argyl Robertson( sifilis, DM, multiple sclerosis).
Sedangkan pupil yang melebar disebut mydriasis, yang biasanya
terdapat pada parese/ paralisa m. sphincter dan kelainan psikis
yaitu histeris
- Perbandingan pupil kanan dengan kiri Perbedaan diameter pupil
sebesar 1 mm masih dianggal normal. Bila antara pupil kanan
dengan kiri sama besarnya maka disebut isokor. Bila tidak sama
besar disebut anisokor. Pada penderita tidak sadar maka harus
dibedakanapakah anisokor akibat lesi non neurologis(kelainan iris,
penurunan visus) ataukah neurologis (akibat lesi batang otak, saraf
perifer N. III, herniasi tentorium.
- Refleks pupil
Terdiri atas
- Reflek cahaya Diperiksa mata kanan dan kiri sendiri-sendiri. Satu
mata ditutup dan penderita disuruh melihat jauh supaya tidak ada
akomodasi dan supaya otot sphincter relaksasi. Kemudian diberi
cahaya dari samping mata. Pemeriksa tidak boleh berada ditempat
yang cahayanya langsung mengenai mata. Dalam keadaan normal
maka pupil akan kontriksi. Kalau tidak maka ada kerusakan pada
arcus reflex (mata---N. Opticus---pusat---N. Oculomotorius)
- Reflek akomodasi Penderita disuruh melihat benda yang dipegang
pemeriksa dan disuruh mengikuti gerak benda tersebut dimana
benda tersebut digerakkan pemeriksa menuju bagian tengah dari
kedua mata penderita. Maka reflektoris pupil akan kontriksi.
Reflek cahaya dan akomodasi penting untuk melihat pupil Argyl
Robetson dimana reflek cahayanya negatif namun reflek
akomodasi positif.
- Reflek konsensual Adalah reflek cahaya disalah satu mata, dimana
reaksi juga akan terjadi pada mata yang lain. Mata tidak boleh
langsung terkena cahaya, diantara kedua mata diletakkan selembar
kertas. Mata sebelah diberi cahaya, maka normal mata yang lain
akan kontriksi juga.
d. Gerakan bola mata
Gerakan bola mata yang diperiksa adalah yang diinervasi oleh nervus III,
IV dan VI. Dimana N III menginervasi m. Obliq inferior (yang menarik
bala mata keatas), m. rectus superior, m. rectus media, m. rectus inferior.
N IV menginervasi m. Obliq Superior dan N VI menginervasi m. rectus
lateralis.N III selain menginervasi otot-otot mata luar diatas juga
menginervasi otot sphincter pupil. Pemeriksaan dimulai dari otot-otot
luar yaitu penderita disuruh mengikuti suatu benda kedelapan jurusan.
Yang harus diperhatikan ialah melihat apakah ada salah satu otot yang
lumpuh. Bila pada 1 atau 2 gerakan mata ke segala jurusan dari otot-otot
yang disarafi N III berkurang atau tidak bisa sama sekali, maka disebut
opthalmoplegic externa. Kalau yang parese otot bagian dalam (otot
sphincter pupil) maka disebut opthalmoplegic interna. Jika hanya ada
salah satu gangguan maka disebut opthalmoplegic partialis, sedangkan
kalau ada gangguan kedua macam otot luar dan dalam disebut
opthalmoplegic totalis.
e. Sikap bola mata
Sikap bola mata yaitu kedudukan mata pada waktu istirahat. Kelainan-
kelaian yang tampak diantaranya adalah :
- Exopthalmus, dimana mata terdorong kemuka karena proses
mekanis retroorbital
- Strabismus yang dapat divergen atau convergen.Secara subyektif
ditanyakan apakah ada diplopia. Pemeriksaan subyektif ini penting
karena kadang-kadang strabismus yang ringan tak kelihatan pada
pemeriksaan obyektif.
- Nystagmus atau gerakan bola mata yang spontan. Dalam hal ini
tidak hanya memeriksa otot-otot yang menggerakkan bola mata
sja, tetapi sekaligus melihat adanya kelainan dalam keseimbangan
atau N VIII.
- Deviasi conjugae, adalah sikap bola mata yang dalam keadaan
istirahat menuju kesatu jurusan tanpa dapat dipengaruhi oleh
kesadaran, dengan sumbu kedua mata tetap sejajar secara
terusmenerus. Lesi penyebab bisa di lobus frontalis atau di batang
otak, bisa lesi destruktif (infark) atau irirtatif (jaringan sikatriks
post trauma/ epilepsi fokal & perdarahan)
4. Saraf V (N. Trigeminus)
Pemeriksaan meliputi :
a. Sensibilitas
Sensibilitas N V ini dapat dibagi 3 yaitu :
- Bagian dahi, cabang keluar dari foramen supraorbitalis
- Bagian pipi, keluar dari foramen infraorbitalis
- Bagian dagu, keluar dari foramen mentale.
Pemeriksaan dilakukan pada tiap cabang dan dibandingkan kanan
dengan kiri.
b. Motorik
Penderita disuruh menggigit yang keras dan kedua tangan pemeriksa
ditruh kira-kira didaerah otot maseter. Jika kedua otot masseter
berkontraksi maka akan terasa pada tangan pemeriksa. Kalau ada
parese maka dirasakan salah satu otot lebih keras.
c. Reflek
Penderita diminta melirik kearah laterosuperior, kemudian dari arah
lain tepi kornea disentuhkan dengan kapas agak basah. Bila reflek
kornea mata positif, maka mata akan ditutupkan
5. Saraf VII (N. Facialis)
Dalam keadaan diam, perhatikan :
- Asimetri muka (lipatan nasolabial)
- Gerakan-gerakan abnormal (tic fasialis, grimacing, kejang
tetanus/rhesus sardonicus, tremor, dsb)
Atas perintah pemeriksa
- Mengangkat alis, bandingkan kanan dengan kiri.
- Menutup mata sekuatnya (perhatikan asimetri), kemudian
pemeriksa mencoba membuka kedua mata tersebut (bandingkan
kekuatan kanan dan kiri).
- Memperlihatkan gigi (asimetri).
- Bersiul dan mencucu (asimetri/deviasi ujung bibir).
- Meniup sekuatnya (bandingkan kekuatan udara dari pipi
masingmasing).
- Menarik sudut mulut ke bawah (bandingkan konsistensi otot
platisma kanan dan kiri). Pada kelemahan ringan, kadang-kadang
tes ini dapat untuk mendeteksi kelemahan saraf fasialis pada
stadium dini.
Sensorik khusus (pengecapan 2/3 depan lidah)
Melalui chorda tympani. Pemeriksaan ini membutuhkan zat-zat yang
mempunyai rasa :
- Manis, dipakai gula
- Pahit, dipakai kinine
- Asin, dipakai garam
- Asam, dipakai cuka
Paling sedikit menggunakan 3 macam. Penderita tidak boleh menutup
mulut dan mengatakan perasaannya dengan menggunakan kode-kode
yang telah disetujui bersama antara pemeriksa dan penderita. Penderita
diminta membuka mulut dan lidah dikeluarkan. Zat-zat diletakkan di
2/3 bagian depan lidah. Kanan dan kiri diperiksa sendiri-sendiri, mula-
mula diperiksa yang normal.
6. Saraf VIII (N. Acusticus)
Pemeriksaan pendengaran
- Arloji ditempelkan ditelinga, kemudian dijauhkan sedikit demi
sedikit, sampai tak mendengar lagi, dibandingkan kanan dan kiri.
- Gesekan jari
- Tes Weber, Garpu tala yang bergetar ditempelkan dipertengahan
dahi. Dibandingkan mana yang lebih keras, kanan/ kiri.
- Garpu tala yang bergetar ditempelkan pada Processus mastoideus.
Sesudah tak mendengar lagi dipindahkan ke telinga maka
terdengar lagi. Ini karena penghantaran udara lebih baik daripada
tulang.
Pemeriksaan dengan garpu tala penting dalam menentukan nervus
deafness atau tranmission deafness. Pemeriksaan pendengaran
lebih baik kalau penderita ditutup matanya untuk menghindari
kebohongan.
7. Saraf IX-X (N. Glossopharyngeus-N. Vagus)
Pemeriksaan saraf IX dan X terbatas pada sensasi bagian belakang
rongga mulut atau 1/3 belakang lidah dan faring, otot-otot faring dan pita
suara serta reflek muntah/menelan/batuk.
- Gerakan Palatum Penderita diminta mengucapkan huruf a atau ah
dengan panjang, sementara itu pemeriksa melihat gerakan uvula
dan arcus pharyngeus. Uvula akan berdeviasi kearah yang normal
(berlawanan dengan gerakan menjulurkan lidah pada waktu
pemeriksaan N XII).
- Reflek Muntah dan pemeriksaan sensorik Pemeriksa meraba
dinding belakang pharynx dan bandingkan refleks muntah kanan
dengan kiri. Refleks ini mungkin menhilang oada pasien lanjut
usia.
- Kecepatan menelan dan kekuatan batuk
8. Saraf XI (N. Accesssorius)
Hanya mempunyai komponen motorik.
Pemeriksaan :
- Kekuatan otot sternocleidomastoideus diperiksa dengan menahan
gerakan fleksi lateral dari kepala/leher penderita atau
sebaliknya(pemeriksa yang melawan/ mendorong sedangkan
penderita yang menahan pada posisi lateral fleksi).
- Kekuatan m. Trapezius bagian atas diperiksa dengan menekan
kedua bahu penderita kebawah, sementara itu penderita berusaha
mempertahankan posisi kedua bahu terangkat (sebaliknya posisi
penderita duduk dan pemeriksa berada dibelakang penderita)
9. Saraf XII (N. Hypoglossus)
Pada lesi LMN, maka akan tamapk adanya atrofi lidah dan fasikulasi
(tanda dini berupa perubahan pada pinggiran lidah dan hilangnya papil
lidah) Pemeriksaan :
- Menjulurkan lidah Pada lesi unilateral, lidah akan berdeviasi
kearah lesi. Pada Bell,s palsy (kelumpuhan saraf VII) bisa
menimbulkan positif palsu.
- Menggerakkan lidah kelateral Pada kelumpuhan bilateral dan
berat, lidah tidak bisa digerkkan kearah samping kanan dan kiri.
- Tremor lidah Diperhatikan apakah ada tremor lidah dan atropi.
Pada lesi perifer maka tremor dan atropi papil positip
- Articulasi Diperhatikan bicara dari penderita. Bila terdapat parese
maka didapatkan dysarthria
a. Sikappe : a) Posisitubuhtegak, kontakmatapositif, tersenyum
rawat b) Sapa klien dengan ramah baik verbal dan non verbal.
c) Perkenalkannama, namapanggilandantujuanperawatberkenalan.
d) Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai klien.
e) Buatkontrak yang jelas.
f) Tunjukkan sikap jujur. dan menepati janji setiap kali interaksi.
g) Tunjukkansikapempatidanmenerimaapaadanya.
h) Beri perhatian pada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien.
i) Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi klien.
j) Dengarkan dengan penuh perhatian ekspresi perasaan klien.
k) Membantu klien mengenal halusinasinya (jenis, isi, waktu, frekuensi,
situasi, dan respons klien)
l) Mengajarkankliencaramengontrolhalusinasidengancaramenghardik,
yaitumintaklien:
- tutuptelingandanmengatakankepadadirisendiribahwainitidaknyata
(“sayatidakmaudengar”)
- menemui orang lain (perawat, teman, ataukeluarga)
untukberceritatentanghalusinasinya
- membuatdanmelaksanakanjadwaldankegiatansehari-hari yang
telahdisusun
- memintakeluargaatauperawat,
temanuntukmenegurnyajikaiasedangberhalusinasi
b. Hal-hal :  Sikapterbuka
yang  Tersenyum
perludip  Posisitubuhtegak
erhatika Ada kontakmata
n Berjabattangansaatberkenalan
Menunjukkanempati
C. Dokumente : Catatan keperawatan
rkait
D. Sumber : Juwono, Pemeriksaanklinikneurologikdalampraktek, Jakarta, EGC, 1996

http://endeavor.med.nyu.edu/neurosurgery/cranials.html Wirawan,
PemeriksaanNeurologi, Semarang,
SenatMahasiswaUniversitasDiponegoro
SOP TERAPI BEKAM

Bagian tubuh yang tidak boleh dibekam

1. Bagian perut wanita yang sedang hamil


2. Tepat dibagian varises
1. Lubang tubuh alami seperti : bagian kelamin, mata, telinga, anus, hidung,
mulut, puting susu
2. Bagian leher depan ( kerongkongan ) kecuali juru bekam yang benar benar ahli
dan berpengalaman.
3. Pada daerah lipatan tubuh seperti ketiak dan selangkangan.
4. Tepat dibagian tumor & luka.
5. Tepat di urat nadi kecuali juru bekam yang ahli dan berpengalaman
6. Pada lipatan sendi kecuali juru bekam yang sudah ahli.

Waktu Berbekam

Berkenaan dengan waktu, maka ada waktu-waktu yang mustajab sebagaimanapun Allah
menetapkan waktu-waktu yang paling baik dalam beribadah dan berdoa kepada nya :

 Waktu saat berbuka


 Waktu 1/3 malam
 Waktu Adzan dan iqomat
 Waktu saat Sujud dalam Sholat
 Waktu saat wukuf di arafah
 dsb
ORANG YANG TIDAK BOLEH DIBEKAM

Beberapa hal yang harus menjadi perhatian setiap para pembekam diantaranya :

1. Penderita diabetes mellitus (kecing manis) kronis, kecuali juru bekam yang benar
benar ahli dan berpengalaman dalam menangani penyakit seperti ini.
2. Pasien yang fisiknya sangat lemah
3. Infeksi kulit yang merata
4. Orang tua yang sudah lemah
5. Anak-anak penderita dehidrasi ( kekurangan cairan)
6. Penderita penyakit kanker darah ( kondisi pasien dalam keadaan lemah )
7. Penderita yang sering mengalami keguguran kandungan (pada saat kondisi hamil)
8. penderita penyakit gila, kesurupan, terkena sihir, dan sebagainya kecuali juru bekam
yang telah mampu menghadapi kasus-kasus semacam ini.
9. Penderita penyakit hepatitis A dan B apabila sedang dalam kondisi akut (kronis)
10. Penderita penyakit kuning (akut) karena hepatitis kecuali dalam pengawasan dokter.
Atau orang berpengalaman dalam menangani penyakit seperti ini.
11. Pasien setelah mengalami muntah sehingga kondisinya kembali stabil.
12. Pasien yang sedang melakukan cuci darah ( gagal ginjal ). Kecuali pembekam yang
berpengalaman.
13. Pasien yang mengalami kelainan klep jatung, kecuali dibawah pengawasan dokter dan
orang benar-benar ahli bekam.
14. Orang yang sedang menderita kedinginan, sementara suhu badannya sangat tinggi.
15. Wanita yang sedang menstruasi sementara kondisinya dalam keadaan lemah dan
mengalami pendarahan cukup banyak.
16. Orang yang kondisinya tidak stabil karena menerita tekanan darah rendah.
17. Tidak dianjurkan meletakkan gelas bekam diatas urat sendi yang robek bagi pasien
yang mengalami robek urat persendian
18. Pada penderita dengan kelainan cairan sendi, dalam pembekaman jangan sampai gelas
bekam diletakkan pada daerah yang sakit, melainkan diletakkan disekitarnya
19. Tidak dianjurkan melakukan bekam tepat pada varises, tetapi dilakukan pada bagian
kanan atau kiri di sekitarnya, dan sebaiknya dilakukan secara hati-hati.
20. Jangan dilakukan langsung sesudah makan, tapi 1.5 – 2 jam sesudah makan.
21. Wanita hamil terutama didaerah sekitar perut
22. Orang yang baru saja memberikan donor darah, kecuali setelah berlalu dua atau tiga
hari, tergantung pada kondisi kesehatannya
23. Penderita vertigo (pusing tujuh keliling) sampai keadaannya rileks.
24. Orang yang mengalami ketakutan sampai jiwanya tenang.
25. Orang yang sedang kelelahan
26. Orang yang sedang kekenyangan atau orang yang sedang dalam keadaan kelaparan
27. Tidak dianjurkan melakukan mandi air dingin sesudah berbekam, tetapi boleh mandi
dengan menggunakan air hangat minimal setengah jam sesudah bekam.
28. Pasien yang menderita anemia (kurang darah) kronis.
29. Pasien yang memiliki riwayat penyakit hemofilia.

D. TAHAPAN BERBEKAM

Ada beberapa tahapan dalam berbekam yang harus diketahui oleh setiap pembekam agar apa
yang dilakukannya didasari dengan pengetahuan. Bekam tidak semudah mengatakannya, hal
ini perlu adanya tekhnik dan perlakukan (manipulasi) bekam yang lebih serius sehingga
proses pembekaman dapat berjalan dengan sempurna. Beberapa hal langkah-langkah yang
harus diperhatikan dalam berbekam diantaranya :
1. Pra Bekam

Pertanyaan dasar sebelum melakukan proses pengobatan bekam

1. Tanyakan apa yang menjadi keluhan utamanya

2. Tanyakan apakah pasien ada keluhan tambahan atau tidak

3. Tanyakan sejak kapan perjalanan penyakit mulai diderita

4. Tanyakan pada pasien ada riwayat penyakit diabetes atau tidak, kalau ya apakah pernah
melaukan pengecekkan kadar gula darahnya

5. Tanyakan pada pasien berapa tekanan darahnya atau juru bekam mengukur tekanan darah
si pasien jika data tekanan darah belum ada

6. Tanyakan apakah pasien dalam keadaan kekenyangan atau tidak

7. Tanyakan apakah pasien semalaman cukup istirahat atau tidak

8. Tanyakan apakah pasien dalam keadaan fit atau tidak

9. Tanyakan pada pasien apa telah menggunakan Narkoba bila juru bekam mengetahui adanya
indikasi/gejala pengguna Narkoba. Seperti: Pasien terlihat lemas dan menggigil, mual dan
muntah, adanya jamur dan luka-luka pada lidahnya dsb.

1. Khusus untuk pasien wanita tanyakan apakah dalam keadaan hamil, sedang menstruasi
atau tidak.
2. Dan hal-hal lain yang dianggap perlu.

Mencatat keadaan pasien dalam Rekam medik yang meliputi Nama, tgl lahir, alamat, jenis
kelamin, pekerjaan dan keluhan penyakit serta Kondisi organ pasien dan sebagainya.

Ada 3 hal yang harus dipersiapkan dalam berbekam agar mendapatkan hasil yang optimal,
sebagai berikut :

1. Persipan peralatan bekam :

 Gelas Kop/kaca pastikan sudah dalam keadaan Steril


 Jarum atau surgical blade hanya satu kali pakai/satu orang satu
 Sarung tangan sekali pakai
 Kapas/ kasa steril
 Gunting
 Alat cukur.
 Masker
 Tempat sampah/Limbah cair & Kering
 Minyak Zaitun
 Antiseptik

2. Persiapan untuk pasien :

 Pasien dalam keadaan rileks, nyaman dan jangan terlalu tegang atau takut.
 Pasien dalam keadaan tidak terlalu kenyang
 Pastikan bahwa pasien tidak sedang mengkonsumsi obat pengencer darah.
 Pasien harus menceritakan keadaan penyakit yang dideritanya
 Pasien hendaknya selalu membaca do’a kesembuhan dirinya

3. Persiapan untuk pembekam :

 Pembekam harus dalam keadaan sehat, sebaiknya dalam keadaan berwudhu.


 Awali pembekaman dengan Do’a , minimal sbb :
o Al baqarah ayat 1 – 5
o Al Baqarah 255 – 257
o Al Baqarah 285-286
o Doa kesembuhan seperti :

‫ﺍﻟﻟﻬﻣ ﺭﺏﺂﻟﻧﺎﺲ ﺍﺫﻫﺐﺍﻟﺑﺄﺲ ﺍﺷﻑ ﻭﺍﻧﺕﺍﻟﺷﺎﻓﻲ ﻻﺷﻓﺎ ﺍﻻﺷﻓﺎﺆﻙ ﺷﻓﺎﺀ ﻻﻴﻐﺎﺪﺭﺴﻗﻣﺎ‬

Allohumma robbanas adzhibil ba’tsa isyfi wa antasy syafii laa syifa a illa syifaa uka syifaa al
layughodiru saqomaa

 Jelaskan kepada pasen segala sesuatu tentang bekam dan pastikan pasien sudah
mengisi lembar persetujuan tindakan
 Lakukan wawancara mengenai riwayat kesehatan pasien.
 Lakukan pemeriksaan / diagnosa tanda vital dan fisik pasien dan catat dalam lembar
pemeriksaan.
 Perhatikan Suhu Udara pasien dan lingkungan / ruangan,
 Penentuan titik bekam disesuaikan dengan keluhan pasien.
 Tentukan titik yang akan di bekam, bersihkan dan disinfeksi daerah tersebut.
 Sebaiknya lakukan pembekaman di titik – titik bekam yang disunnahkan.
 Buat pasien yang baru pertama kali, titik bekam perlu dibatasi.
 Setelah titik bekam ditentukan, lakukanlah relaksasi ringan pada daerah yang akan di
bekam, dengan jalan di pijat atau di dikop luncur.
 Pasang alat bekam atau gelas sesui dengan ukuran, kemudian divacum
 Kekuatan pemvakuman disesuaikan dengan kondisi pasien
 Setelah 3 – 5 menit gelas vacuum dibuka, kemudian ditusuk atau disayat.
 Jumlah penusukan disesuaikan dengan besarnya kop dengan jarak antara tusukan
kurang lebih 0.5 – 1 cm dengan arah melingkar, horizontal atau vertical dan melintang
.
 Bagi yang menggunakan sayatan, arah sayatan adalah mengikuti arah anatomi kulit /
langerhans dengan hanya satukali proses pengulangan.

 Pasang kembali gelas divacuum pada titik tersebut


 Setelah 3 – 5 menit, gelas dibuka dan darahnya dibersihkan dengan kapas atau kasa
steril
 Pembekaman dengan menggunakan penusukan jarum dapat diulang kurang lebih 2 – 3
kali pengulangan.
 Setelah proses vakum selesai, bekas penusukan atau sayatan dibersihkan dengan
antiseptic, kemudian di beri zaitun/habasauda oil dan dilakukan pemijatan ringan.

4. Pada Saat Bekam

 Maksimal Jumlah titik : sesuai titik sunah


 Lamanya pengulangan : 2 – 3 kali
 Jumlah darah maksimal 250 cc
o Titik – titik pembekaman wajib di awasi oleh pembekam sejak awal hingga
akhir selama proses pembekaman.
o Perhatikan dan komunikasikan mengenai kondisi pasien selama pembekaman,
seperti kenyamanan dan keadaan fisik.
o Bila pasien mengalami ketidak nyamanan misalnya mual, muntah atau
mukanya pucat, maka segera lepaskan pembekaman.
o Bila pasien pingsan, lepaskan alat bekam, bersihkan luka bekamnya kemudian
pasien dibaringkan.
o Lakukanlah penekanan (akupresur) pada titik dibawah hidung
o Berikan minuman manis hangat seperti madu, jahe, atau jus kurma.

5. Paska Bekam

 Setelah pembekaman selesai berikan pijatan ringan disekitar titik bekam,


 Bersihkan atau sterilkan peralatan dan rapikan
 Menganjurkan pasien untuk mengkonsumsi supplement/obat-obatan herba untuk
menunjang kesehatannya

6. Penanganan Limbah

 Sampah bekam berupa tissue, hanskun sebaiknya dimusnahkan dengan cara dibakar
 Sampah bekam berupa jarum sebaiknya di tanam atau bekerjasama dengan dinas
kesehatan atau puskesmas setempat dalam pembuangan limbah.

7. Penangan khusus penyakit kronik

Khusus untuk pasien yang terinveksi HIV – AIDS dan hepatitis sebaiknya memiliki alat
bekam sendiri.

KONDISI DARURAT PADA KASUS PEMBEKAMAN.

Untuk pasien yang mengalami pusing dan muntah atau mual pada saat dibekam hendaknya
proses bekam di hentikan, alat kop di lepas, kemudian bersihkan dan pasien diberi minuman
manis lagi hangat. Pasien di baringkan kemudian dilakukan relaksasi pada daerah sekitar
kepala, lengan dan kaki.

STERILISASI PERALATAN BEKAM

Alat/Material yang dipakai untuk melakukan sterilisasi diantaranya

 Clorin
 Alkohol
 H2O2
Standar Operasional Prosedur (SOP)
Tindakan Keperawatan : Suction

1 Pengertian Melakukan tindakan penghisapan lendir di jalan nafas


2 Tujuan 1. Mengeluarkan secret/cairan pada jalan nafas
2. Melancarkan jalan nafas
3 Petugas Perawat, Mahasiswa Keperawatan, Mahasiswa Pendidikan Dokter Umum
4 Prosedur : Persiapan alat
Persiapan a. Bak instrument berisi: pinset anatomi 2, kasa secukupnya
b. NaCl atau air matang
c. Canule suction
d. Perlak dan pengalas
e. Mesin suction
f. Kertas tissue
5 Pelaksanaan Persiapan pasien dan lingkungan
 Tahap PraInteraksi
a. Mengecek program terapi
b. Mencuci tangan
c. Menyiapkan alat
 Tahap Orientasi
a. Memberikan salam dan sapa nama pasien
b. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan
c. Menanyakan persetujuan/kesiapan pasien
 Tahap Kerja
a. Memberikan posisi yang nyaman pada pasien kepala sedikit
Ekstensi
b. Memberikan Oksigen 2 – 5 menit
c. Meletakkan pengalas di bawah dagu pasien
d. Memakai sarung tangan
e. Menghidupkan mesin, mengecek tekanan dan botol
penampung
f. Memasukkan kanul section dengan hati-hati (hidung ± 5 cm,
mulut ±10 cm)
g. Menghisap lendir dengan menutup lubang kanul, menarik
keluar perlahan sambil memutar (+ 5 detik untuk anak, + 10
detik untuk dewasa)
h. Membilas kanul dengan NaCl, berikan kesempatan pasien
bernafas
i. Mengulangi prosedur tersebut 3-5 kali suctioning
j. Mengobservasi keadaan umum pasien dan status
pernafasannya
k. Mengobservasi secret tentang warna, baud an volumenya
 Tahap Terminasi
a. Mengevaluasi tindakan yang baru dilakukan
b. Merapikan pasien dan lingkungan
c. Berpamitan dengan pasien
d. Membereskan dan kembalikan alat ketempat semula
e. Mencuci tangan
f. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan
Standar Operasional Prosedur (SOP)
Tindakan Keperawatan : Nebulizer

1 Pengertian Pemberian inhalasi uap dengan obat/tanpa obat menggunakan nebulator


2 Tujuan 1. Merelaksasi jalan nafas.
2. Mengencerkan dan mempermudah mobilisasi sekret.
3. Menurunkan edema mukosa. Pemberian obat secara langsung pada
saluran pernafasan untuk pengobatan penyakit, seperti : bronkospasme
akut, produksi sekret yang berlebihan, dan batuk yang disertai dengan
sesak nafas.

3 Petugas Perawat, Mahasiswa Keperawatan, Mahasiswa Pendidikan Dokter Umum


4 Prosedur : 1. Persiapan alat
Persiapan a) Tabung O2
b) Obat untuk bronchodilator antara lain : ventolin, dexamethasone
c) Masker oksigen
d) Nebulizer 1 set.
e) Obat untuk terapi aerosol dan pengencernya bila diperlukan.
f) Stetoskop.
g) Tissue.
h) Nierbeken/bengkok.
i) Suction (kalau perlu).
5 Pelaksanaan Persiapan pasien dan lingkungan
Tahap Pra Interaksi
a. Melakukan verifikasi program pengobatan klien
b. Mencuci tangan
c. Menempatkan alat di dekat pasien dengan benar
Tahap Orientasi
a. Memberikan salam dan menyapa nama pasien
b. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan
Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan

Tahap Kerja
1. Menjaga privacy
2. Mencuci tangan
3. Membawa alat-alat ke dekat pasien.
4. Mengatur posisi pasien sesuai dengan keadaan pasien
5. Memasukkan obat kewadahnya (bagian dari alat nebulizer).
6. Menghubungkan nebulizer dengan listrik
7. Menyalakan mesin nebulizer (tekan power on) dan mengecek out flow
apakah timbul uap atau embun.
8. Menghubungkan alat ke mulut atau menutupi hidung dan mulut (posisi)
yang tepat.
9. Menganjurkan agar klien untuk melakukan nafas dalam, tahan sebentar,
lalu ekspirasi.
10.Setelah selesai, mengecek keadaan umum klien, tanda-tanda vital, dan
melakukan auskultasi paru secara berkala selama prosedur.
11.Menganjurkan klien untuk melakukan nafas dalam dan batuk efektif
untuk mengeluarkan sekret.
1. Perhatian :
a. Tetap mendampingi klien selama prosedur (tidak meninggalkan
klien).
b. Observasi adanya reaksi klien apabila terjadi efek samping obat.
c. Tempatkan alat nebulizer pada posisi yang aman (jangan
sampai jatuh).

Tahap Terminasi
1. Mengevaluasi hasil tindakan
2. Berpamitan dengan pasien
3. Membereskan dan kembalikan alat ke tempat semula
4. Mencuci tangan
5. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan

6 Unit terkait 1. Unit Stroke


7 Referensi Nursalam. 2008. Manajemen Keperawatan Aplikasi dalam Praktik
Keperawatan Profesional. Jakarta: Salemba Medika.