Anda di halaman 1dari 3

Refraktori Material

TUGAS 1

Thermal Shock Resistance

Dalam aplikasinya, suatu material refraktori harus memiliki sifat ketahanan terhadap
thermal shock yang berarti material tersebut tahan terhadap perubahan temperature, baik
pemanasan maupun pendinginan dan pada kondisi charge atau normal. Ketahanan terhadap
thermal shock ini bergantung pada ikatan butir matriks penyusun material refraktori dan sistem
ikatan yang dapat membesar ketika dipanaskan dan menyusut jika didinginkan. Standar yang
digunakan untk menguji sifat ketahanan refraktori terhadap thermal shock adalah ASTM
C1171-16 dengan judul Standard Test Method for Quantitatively Measuring the Effect of
Thermal Shock and Thermal Cycling on Refractories.
Pada ASTM C1171-16 hasil yang didapat dari pengujian yang berhubungan dengan
ketahananan thermal shock adalah penurunan kekuatan dari sampel yang diuji dengan
menghitung pengurangan kehilangan sonic velocity dan modulus of rupture (MOR) dari sampel
yang telah melalui pengujian dan yang belum. Pengujiannya sendiri dapat dilakukan dengan
langkah-langkah berikut :
1. Menghitung sonic velocity dan cold modulus of rupture awal sampel dengan
pembebanan tiga titik dengan jarak 127 mm dan loading rate 778 N/mm.
2. Memanaskan dapur uji hingga temperature pengujian yaitu 1200 ± 15 oC, biasanya
pemanasan dilakukan semalam sebelumnya.
3. Masukan sampel ke dalam dapur uji selama 10-15 menit, lalu keluarkan dan biarkan di
udara selama 10-15 menit. Ulang prosedur ini sebanyak lima kali.
4. Menghitung kembali sonic velocity dan cold modulus of rupture setelah sampel
dipanaskan dan didinginkan selama 5 kali dengan pembebanan yang sama
5. Hitung % sonic velocity loss dengan rumus berikut :
𝑉𝑜 − 𝑉𝑓
× 100%
𝑉0

6. Hitung % modulus rupture strength loss dengan rumus berikut :


𝑀𝑜 − 𝑀𝑓
× 100%
𝑀0

Semakin besar kehilangan sonic velocity dan modulus rupture strength dari material refraktori
maka semakin buruk ketahanannya terhadap thermal shock.

Refractoriness Under Load (RUL)


Refraktori Material

Sifat Refractoriness Under Load adalah ketahanan material refraktori terhadap


peningkatan temperatur dan terjadinya deformasi saat diberikan beban yang konstan. Sifat ini
penting karena pada penggunaannya material refraktori harus dapat bekerja pada temperature
tinggi tanpa mengalami perubahan fasa walaupun saat diberi pembebanan akan mengalami
pelunakan. Nilai RUL suatu material refraktori dapat memberikan indikasi pada temperatur
berapa material tersebut akan hancur sehingga dapat menjadi acuan temperatur maksimal yang
dapat digunakan selama pemanasan material refraktori pada aplikasi beban yang sama dan
untuk mengantisipasi kegagalan material ketika diberikan pembebanan.
Rumus yang digunakan untuk memperoleh nilai RUL pada umumnya adalah :
𝑅𝑈𝐿 = 𝑇 × 0,6
RUL : Refractoriness Under Load
T : temperatur terjadinya fracture
Pengujian yang dapat dilakukan untuk mengukur nilai RUL salah satunya adalah
menggunakan ISO 1893:2007. Pengujian dengan standar ISO 19893:2007 dilakukan dengan
prosedur sebagai berikut :
1. Pemberian beban kepada sampel uji silindris berukuran diameter 50 mm secara konstan
hingga deformasi terjadi.
2. Deformasi tersebut lalu dicatat seiring dengan peningkatan suhu, kemudian ditentukan
berapa temperatur yang sesuai dengan terjadinya deformasi tersebut.
Komponen utama dari peralatan RUL terdiri dari measuring unit, controlling unit, dan data
acquisition. Measuring unit terdiri dari konsol, bingkai furnace, furnace (suhu maksimum
1700 oC), alat pemberat (maksimum 1000 N). Untuk memastikan suhu tetap terjaga maka
furnace harus tertutup.
Slag Resistance
Umur pakai suatu material refraktori sangat bergantung terhadap sifat ketahanannya
terhadap slag atau terak. Karena slag atau molten metal dapat sangat mudah bereaksi dengan
material refraktori dan menimbulkan korosi terutama pada temperature tinggi. Selain korosi,
slag pada material refraktori juga dapat menyebabkan slagging yaitu ketika slag tidak tetap
pada tempatnya, melainkan terlepas dan keluar membawa beberapa bagian dari material
refraktori dan memperlihatkan suatu bagian permukaan yang baru pada material refraktori
tersebut sehingga akan mudah mengalami serangan slag lebih lanjut. Hal tersebut disebabkan
oleh slag yang masuk ke dalam pori-pori material sehingga slag berikatan dengan komponen
penyusun kimia dari material refraktori tersebut dan mulai merusaknya. Sehingga suatu
material refraktori harus memiliki ketahanan slag yang baik untuk menghindari hal tersebut.
Refraktori Material

Untuk mengukur ketahanan material refraktori terhadap slag terdapat standar pengujian
ASTM C874-11a yang berjudul Standard Test Method for Rotary Slag Testing of Refractory
Materials. Pengujian ini dilakukan untuk mengevaluasi ketahanan relatif material refraktori
terhadap erosi slag. Komponen yang digunakan pada pengujian ini, yaitu short-kiln furnace
berupa cincin baja silindris yang ditempel pada roda pemutar dan digerakkan dengan motor
yang kecepatan putar dan sudut kemiringan yang dapat diatur, serta dipanaskan menggunakan
gas-oxygen torch hingga temperatur 1750oC.
Pengujian ini dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut :
1. Enam buah spesimen yang diletakkan sejajar dalam furnace yang dimiringkan
sebesar 3o dan dirotasi dengan kecepatan 2-3 rpm.
2. Slag awal kemudian dimasukkan ke dalam kiln yang akan melapisi spesimen
uji secara bertahap dengan interval konstan dengan kecepatan kurang lebih 1
kg/jam selama setidaknya selama 5 jam.
3. Perhitungan erosi kemudian dilakukan dengan menghitung ketebalan material
refraktori sepanjang permukaan yang terkena slag.
Pengujian ini umumnya dilakukan dalam atmosfer yang oksidatif. Namun, keadaan netral juga
dapat diperoleh dengan menggunakan api reduktif atau menambahkan bongkahan karbon ke
campuran slag.