Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM IKHTIOLOGI

“Identifikasi Taksonomi dan Morfologi pada Ikan Seluang


(Rasbora argyrotaenia), Ikan Nila (Oreochromis niloticus) dan
Ikan Pepetek (Leiognathus equulus)”

Oleh:
Riko
(2021611035)

JURUSAN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERTANIAN PERIKANAN DAN BIOLOGI
UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan Rahmat dan Karunia-
Nya, sehingga penulis dapat merampungkan laporan praktikum ikhtiologi dengan
judul: “Identifikasi Morfologi dan Anatomi pada Ikan”.
Laporan ini dapat tersusun tak lepas dari bantuan banyak pihak. Oleh karena
itu penulis berikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya
kepada,
1. Kedua orang tua yang senantiasa mendo’akan penulis dan segala fasilitas
yang mereka berikan
2. Dosen pengampu yaitu ibu Umroh yang menyampaikan materi dengan
baik
3. Asisten dosen yaitu Navisa Savira yang membimbing penulis dalam
praktikum
4. Teman-teman yang bekerja sama dengan baik pada saat praktikum
Akhir kata penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih jauh
dari kesempurnaan. Karena itu, penulis memohon saran dan kritik yang sifatnya
membangun demi kesempurnaannya dan semoga bermanfaat bagi kita semua.
Amiin.

Balunijuk, 03 Oktober 2017,


penulis

Riko
2021611035

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii
BAB I. PENDAHULUAN .................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................... 1
1.2 Tujuan ................................................................................................. 1

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................... 2


2.1 Ikan (Pisces)
2.2 Ikan Seluang (Rasbora argyrotaenia)................................................. 2
2.2.1Sistematika dan Morfologi ......................................................... 2
2.2.2 Habitat dan Penyebaran............................................................. 3
2.2.3 Ciri-ciri Ikan Jantan dan Ikan Betina ........................................ 3
2.2.4 Indeks Kematangan Gonad ....................................................... 3
2.2.5 Tingkat Kematangan Gonad ...................................................... 4
2.2.6 Fekunditas ................................................................................. 6
2.2.7 Kebiasaan Makan ...................................................................... 7
2.3 Ikan Nila (Oreochromis niloticus) ....................................................... 7
2.3.1 Morfologi Ikan Nila .................................................................. 8
2.3.2 Anatomi Tubuh Ikan ................................................................. 8
2.3.2.1 Anatomi Eksternal ......................................................... 8
2.3.2.2 Anatomi Internal ........................................................... 10
2.4 Ikan Pepetek (Leiognathus equulus) .................................................... 11

BAB III. METODOLOGI ................................................................................. 12


3.1 Waktu dan Tempat .............................................................................. 12
3.2 Alat dan Bahan .................................................................................... 12
3.3 Cara Kerja ........................................................................................... 12

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................... 13


4.1 Hasil .................................................................................................... 13
4.2 Pembahasan ......................................................................................... 14
4.2.1 Ikan Seluang (Rasbora argyrotaenia)........................................ 14
4.2.1.1 Bentuk Tubuh ................................................................ 14
4.2.1.2 Bentuk dan Fungsi Mulut) ............................................ 14
4.2.1.3 Bentuk Sirip Ekor.......................................................... 14
4.2.1.4 Ciri-Ciri ......................................................................... 14
4.2.2 Ikan Nila (Oreochromis niloticus) ............................................. 14
4.2.1.1 Bentuk Tubuh ................................................................. 15
4.2.1.2 Bentuk dan Fungsi Mulut) ............................................. 15
4.2.1.3 Bentuk Sirip Ekor........................................................... 15
4.2.1.4 Ciri-Ciri .......................................................................... 15

iii
4.2.3 Ikan Pepetek (Leiognathus equulus) .......................................... 15
4.2.1.1 Bentuk Tubuh .......................................................................... 15
4.2.1.2 Bentuk dan Fungsi Mulut) ...................................................... 15
4.2.1.3 Bentuk Sirip Ekor.................................................................... 15
4.2.1.4 Ciri-Ciri ................................................................................... 15
BAB V. SIMPULAN DAN SARAN .................................................................. 16
5.1 Simpulan .............................................................................................. 16
5.2 Saran ..................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA

iv
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebelum kita mengenal bentuk-bentuk tubuh ikan yang bisa menunjukkan
dimana habitat ikan tersebut, ada baiknya kita mengenal bagian-bagian tubuh ikan
secara keseluruhan beserta ukuran-ukuran yang digunakan dalam identifikasi
(Rohansyah, dkk., 2010). Identifikasi adalah tugas untuk mencari dan mengenal
ciri-ciri taksonomi individu yang beraneka ragam dan memasukkannya ke dalam
suatu takson. Prosedur identifikasi berdasarkan pemikiran yang bersifat deduktif.
Jadi dalam melakukan identifikasi kita harus selalu berhubungan dengan kunci
identifikasi. Pengertian identifikasi berbeda sekali dengan klasifikasi. Seringkali
kedua pengertian ini dicampur adukkan padahal prosedur klasifikasi bersifat
induktif. Identifikasi berhubungan dengan ciri taksonomi dalam jumlah sedikit
akan membawa specimen ke dalam suatu urutan kunci identifikasi, sedangkan
klasifikasi berhubungan dengan upaya mengevaluasi sejumlah besar ciri-ciri.
Klasifikasi adalah penataan hewan-hewan ke dalam kelompok yang didasarkan
atas kesamaan dan hubungan mereka. Identifikasi penting artinya bila ditinjau dari
segi ilmiahnya, sebab seluruh urutan pekerjaan berikutnya sangat tergantung
kepada hasil identifikasi yang benar dari suatu spesies (Ridho, dkk., 2012).
1.2 Tujuan

Untuk mengetahui identifikasi ikan berdasarkan bentuk tubuh, bentuk dan


posisi mulut, bentuk sirip ekor dan ciri-ciri.
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ikan (pisces)

Pisces atau ikan adalah anggota vertebrata poikilotermik (berdarah


dingin) yang hidup di air dan bernapas dengan insang. Ikan merupakan kelompok
vertebrata yang paling beraneka ragam dengan jumlah spesies lebih dari 27,000 di
seluruh dunia. Secara taksonomi, ikan tergolong kelompok paraphyletic yang
hubungan kekerabatannya masih diperdebatkan. Biasanya ikan dibagi menjadi
ikan tanpa rahang (kelas Agnatha, 75 spesies termasuk lamprey dan ikan hag),
ikan bertulang rawan (kelas Chondrichthyes, 800 spesies termasuk hiu dan pari),
dan sisanya tergolong ikan bertulang keras (kelas Osteichthyes) (Mariyani, 2008).

2.2 Ikan Seluang (Rasbora argyrotaenia)

2.2.1 Sistematika dan Morfologi

Sistematika ikan seluang (Rasbora argyrotaenia) adalah sebagai


berikut :

Phylum : Chordata

Sub phylum : Vertebrata

Kelas : Actynopterygii

Sub kelas : Teleostei

Ordo : Ostariophysi

Sub ordo : Cyprinoidea

Family : Cyprinidae

Genus : Rasbora

Species : Rasbora argyrotaenia

Ikan seluang berbadan pipih, bersisik tipis, warna putih kekuningan dan
mempunyai sepasang mata jernih, pada beberapa spesies terdapat garis
kehitaman di bagian tengah badan. Sangat mudah didapat menjelang banjir

2
karena ia bergerak bebas di permukaan air sambil mengejar makanan.
Namun, ketika suhu air naik terutama pada musim kemarau, seluang mulai
menyelinap berteduh di bawah pohon karena tidak tahan terhadap
peningkatan suhu air. Panjang tubuhnya berkisar antara 10 – 13 cm.
Sejumlah spesies dapat dijadikan ikan hias, karena warnanya yang indah,
seperti harlequin rasbora (Rasbora heteromorpha). Rasbora borapetensis
berukuran 6 cm, mendiami anak sungai, kolam, saluran-saluran drainase,
berada di badan air bagian tengah sampai permukaan. Merupakan jenis
ikan hias yang disenangi di beberapa kawasan Asia. Rasbora elegans
berukuran 13 cm, pada sisi tubuh terdapat bintik-bintik berwarna terang.
Terdapat di sungai berair jernih, berada di badan air bagian tengah
sampaipermukaan.

2.2.2 Habitat dan Penyebaran

Ikan seluang termasuk dalam Class Actinopterygii, family Cyprinidae.


Genus Rasbora ini terdiri dari sekitar 70 spesies, hidup di rawa dan sungai
yang dapat ditemukan di Asia Tenggara dan Afrika. Ikan seluang merujuk
kepada kesemua spesies Rasbora spp.. Ikan seluang merupakan ikan yang
banyak terdapat di sungai ASEAN, termasuk Malaysia, Brunei, dan
Indonesia. Ikan ini bersisik seperti ikan lampam tetapi berbentuk tirus
seperti anak ikan Jelawat. Bersaiz antara 2 hingga 4 inci.

2.2.3 Ciri-Ciri Ikan Jantan dan Ikan Betina

Induk ikan jantan seluang dan induk ikan betina seluang memiliki
perbedaan secara morfologi. Induk jantan seluang ditandai dengan warna
keperakan yang terlukis pada badan dan sirip ekornya, lebih mencolok
dibandingkan betina, seluruh siripnya mempunyai ujung yang berwarna
hitam, ikan betina berwarna perak samar-samar.

2.2.4 Indeks Kematangan Gonad

Secara morfologi perubahan-perubahan kondisi gonad dapat


dinyatakan dengan tingkat pematangannya. Pematangan secara morfologis
meliputi pewarnaan, penampakan dan ukuran gonad terhadap rongga

3
tubuh. Namun untuk perhitungan secara kuantitatif dapat dinyatakan
dengan ”Indeks Kematangan Gonad (IKG)” yaitu suatu nilai dalam persen
sebagai perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan.
Gonad semakin bertambah berat diikuti dengan semakin besar
ukurannya termasuk garis tengah tekurnya (Murtidjo, 2001).
2.2.5 Tingkat Kematangan Gonad

Tingkat kematangan gonad adalah tahap tertentu dari


perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan memijah. Gonad terdiri
dari gonad jantan dan betina. Gonad jantan disebut testes yang berfungsi
untuk menghasilkan sel kelamin jantan (sperma), dan gonad wanita disebut
ovarium yang berfungsi menghasilkan sel telur (ovum). Pembagian tingkat
kematangan gonad tidaklah sama diantara beberapa orang peneliti. Hal ini
bergantung kepada jenis ikan yang diteliti. Menurut Effendie (2002),
pembagian tahapan kematangan gonad menurut Kesteven dan Nikolsky.
a. Tingkat Kematangan Gonad menurut Kesteven
1. Dara
Organ seksual sangat kecil berdekatan dengan tulang punggung. Testes
dan ovarium transparan dan tidak berwarna sampai abu-abu. Telur tidak
terlihat dengan mata biasa
2. Dara Berkembang
Testes clan ovarium jernih, abu-abu sampai merah. Panjangnya lebih
sedikit dari panjang rongga bawah. Telur satu persatu dapat dilihat dengan
kaca pembesar
3. Perkembangan I
Testes dan ovarium bentuknya bulat telur kemerah-merahan dengan
pembuluh kapiler. Telur dapat dilihat dengan mata biasa seperti serbuk
putih
4. Perkembangan II
Testes putih kemerah-merahan. Tidak ada pati jantan atau sperma kalau
bagian part di tekan. Ovarium berwarna kemerah-merahan. Telur dapat
jelas dibedakan, bentuknya bulat, telurnya: Ovarium mengisi kira-kira 2/3
ruang bawah

4
5. Bunting
Organ seksual mengisi ruang bawah. Testes warnanya putih, telur
berbentuk bulat. Beberapa telur tampak bening dan juga sudah ada yang
masak
6. Mijah
Telur atau sperma keluar dengan sedikit ditekan. Kebanyakan telurnya
berwarna jernih dengan beberapa yang berbentuk bulat telur ovarium
7. Mijah Salin
Belum kosong sama sekali. Tidak ada telur yang berbentuk bulat telur
8. Salin atau Spent
Testes dan telur kosong dan berwarna merah. Beberapa telur dalam
keadaan sedang dihisap kembali
9. Putih Salin
Testes dan ovarium jernih, abu-abu sampai merah
b. Tingkat Kematangan Gonad Menurut Nikolsky
Menurut Effendie (2002), tingkat kematangan gonad menurut Nikolsky:
1. Belum masak
Individu muda belum berhasrat dalam reproduksi, gonad sangat kecil
2. Tahap Istirahat
Produksi seksual belum mulai berkembang, gonad kecil ukurannya, telur
belum dapat dibedakan dengan mata biasa
3. Pemasakan
Telur-telur dapat dibedakan oleh mata biasa. Pertambahan berat gonad
dengan cepat, sedang berjalan, testes berubah menjadi transparan ke warna
merah muda
4. Masak
Produksi seksual masak, gonad mencapai berat yang maksimum tetapi
produk seksual tersebut belum keluar bila perutnya diurut/di tekan
5. Reproduksi
Produk seksual akan keluar bila perut ditelan secara perlahan. Berat gonad
turun dengan cepat dari awal pemijahan sampai selesai
6. Kondisi Salin

5
Kondisi seksual telah dikeluarkan, lubang pelepasan kemerahan, gonad
seperti kantung kemis, ovarium berisi beberapa telur sisa dan testes berisi
sperma sisa
7. Tahap istirahat
Produksi seksual telah dilepaskan, lubang pelepasan tidak
kemerahmerahan, gonad berukuran kecil, telur belum dapat dibedakan
oleh mata biasa
2.2.6 Fekunditas
Jumlah telur yang telah masak dalam satu ovary sebelum
dikeluarkan pada waktu memijah, dinamakan fekunditas individu,
fekunditas mutlak atau fekunditas total. Fekunditas individu akan sukar
diterapkan untuk ikan-ikan yang mengadakan pemijahan beberapa kali
dalam satu tahun, karena mengandung telur dari berbagai tingkat.
Sedangkan fekunditas relatif adalah jumlah telur per satuan berat atau
panjang ikan. Dari fekunditas secara tidak langsung dapat menaksir jumlah
anakan ikan yang akan dihasilkan akan menentukan pula jumlah ikan
dalam kelas umur yang bersangkutan (Effendie, 2002).
Selain fekunditas mutlak dan fekunditas relatif, beberapa peneliti memberi
beberapa macam-macam fekunditas lainnya, yaitu fekunditas dengan
panjang, fekunditas dengan berat fekunditas dengan umur, fekunditas
dengan berganda, fekunditas memijah berganda, fekunditas dengan ukuran
telur, fekunditas dengan ras, fekunditas dan populasi (Effendie, 2002).
Potensi induk ikan dalam pemijahan sangat penting untuk diketahui
terutama yang berkaitan dengan jumlah telur yang dikandung individu
ikan. Pada umumnya, terdapat hubungan antara fekunditas, ukuran berat,
panjang, usia dan ukuran butir telur. Semakin berat atau panjang tubuh
ikan dan semakin krmatangan individu yang lebih gemuk dan mengurangi
antara siklus pemijahan (Effendie, 2002).
Pemijahan terjadi pada awal musim hujan bulan Sepember sampai
Oktober, telur ditebar di perairan terbuka. Pemijahan dimulai oleh ikan
betina pada perairan yang tertutup tanaman air. Telur berbentuk speris,

6
lunak dan terapung. Satu hari setelah fertilisasi telur akan menetas, dan
anakan akan mulai berenang 2 hari kemudian.
2.2.7 Kebiasaan Makan
Ukuran ikan dewasa dapat mencapai 15-30 cm. Tipe makan ikan
ini adalah omnivor, yang memakan semua jenis makanan terutama algae
bentos, tanaman air, plankton dan insekta permukaan. Ikan Tembakang
dapat mengambil algae yang menempel dengan menggunakan bibirnya.
Ikan jantan menonjolkan bibir sebagai upaya dominasi dan teritorialitas.
2.3 Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Awalnya ikan nila dimasukkan ke dalam jenis Tilapia nilotica atau
ikan dari golongan tilapia yang tidak mengerami telur atau larva di dalam
mulutnya. Dalam perkembangannya para pakar perikanan menggolongkan
ikan nila ke dalam jenis Sarotherodon niloticus atau kelompok ikan tilapia
yang mengerami telur dan larvanya di dalam mulut induk jantan dan
betinanya. Akhirnya diketahui bahwa yang mengerami telur dan larva di
dalam mulut ikan nila hanya induk betinanya. Para pakar perikanan kemudian
memutuskan nama ilmiah yang tepat untuk ikan nila adalah Orechromis
niloticus atau Orechromis sp. Nama nilotica menunjukkan tempat ikan ini
berasal, yaitu Sungai Nil di Benua Afrika (Amri dan Khairuman, 2003).
Berikut ini adalah klasifikasi dari ikan nila (Oreochromis niloticus)
(Amri dan Khairuman, 2003):
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Superclass : Pisces
Class : Osteichtyces
Subclass : Acanthopterigii
Ordo : Percomorphi
Familiy : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus

7
2.3.1 Morfologi Ikan Nila

Secara umum, bentuk tubuh ikan nila panjang dan ramping, dengan
sisik berukuran besar. Matanya besar, menonjol, dan bagian tepinya
berwarna putih. Gurat sisi (linea lateralis) terputus di bagian tengah badan
kemudian berlanjut, tetapi letaknya lebih ke bawah daripada letak garis
yang memanjang di atas sirip dada. Jumlah sisik pada gurat sisi jumlahnya
34 buah. Sirip punggung, sirip perut dan sirip dubur mempunyai jari-jari
lemah tetapi keras dan tajam seperti duri. Sirip punggungnya berwarna
hitam dan sirip dadanya juga tampak hitam. Bagian sirip punggung
berwarna abu-abu atau hitam (Amri dan Khairuman, 2003).
Ikan nila memiliki 5 buah sirip, yakni sirip punggung (dorsal fin),
sirip dada (pectoral fin), sirip perut (ventral fin), sirip anus (anal fin), dan
sirip ekor(caudal fin). Sirip punggungnya memanjang, dari bagian atas
tutup insang hingga bagian atas sirip ekor. Ada sepasang sirip dada dan
sirip perut yang berukuran kecil. Sirip anus hanya satu buah dan berbentuk
agak panjang. Sementara itu, sirip ekornya berbentuk bulat dan hanya
berjumlah satu buah (Amri dan Khairuman, 2003).
Jika dibedakan berdasarkan jenis kelaminnya, ikan nila jantan
memiliki ukuran sisik yang lebih besar daripada ikan nila betina. Alat
kelamin ikan nila jantan berupa tonjolan agak runcing yang berfungsi
sebagai muara urin dan saluran sperma yang terletak di depan anus. Jika
diurut perut ikan nila jantan akan mengeluarkan cairan bening. Sementara
itu, ikan nila betina mempunyai lubang genital terpisah dengan lubang
saluran urin yang terletak di depan anus (Amri dan Khairuman, 2003).
2.3.2 Anatomi Tubuh Ikan
2.3.2.1 Anatomi Eksternal
Tubuh ikan dibagi atas tiga bagian yaitu:
1.Caput (kepala)
Pada bagian caput (kepala) terdapat tulang operculum yang
menutupi insang dan saluran besar. Bagian kepala terdiri dari 2 lubang
hidung, 2 buah mata, mulut dan gigi. Tulang operculum menutupi insang
pada setiap sisi kepala. Setiap operculum memiliki 4 insang. Operculum

8
melekat di bagian dorsal kepala. Namun terbuka pada bagian belakang
(bagian lebih ventral) (Lytle dan Meyer, 2005).
2.Truncus (badan)
Pada bagian ventral terdapat anus dan lubang urogenital.
Oreochromis niloticus betina memiliki satu lubang urogenital, namun pada
jantan lubangnya terpisah antara lubang genital dengan lubang urinnya.
Siripnya mengkilap dan dilapisi membran yang licin. Sirip berfungsi
menjaga kestabilan ikan dan mengatur pergerakannya dalam air. Pada
setiap ikan, operkulumnya timbul lateral line yang merupakan sistem
organ sensori khusus yang dapat mendeteksi getaran dan arus dalam air
yang terdapat disepanjang belakang mata sampai ekor. Organ ini dapat
membantu ikan dalam menghindari predator dan melewati rintangan
dalam air (Lytle dan Meyer, 2005).
3. Caudal (ekor)
Bagian ini merupakan perpanjangan dari anus ke bagian posterior.
Bentuk ekor tidak simetris, dengan bagian dorsal yang panjang dan cuping
ventral kecil. Bentuk ekornya homocercal, memiliki rongga yang sama
dan muncul secara simetris (Kardong, 2002). Kulit memproduksi sisik
yang menutupi permukaan tubuhnya. Setiap sisik dibentuk dalam kantung
epidermis. Tumbuhnya terus-menerus selama ikan tersebut masih hidup
dan tidak mengalami regenerasi apabila mengalami kerusakan atau hilang.
Waktu pertumbuhannya bergantung pada cadangan material baru disekitar
pinggir atau tepi insang, sehingga ilmuwan dapat mengetahui umur ikan
tersebut dari lingkaran atau cincin pada sisik (Lytle dan Meyer, 2005)
Pada ikan nila terdapat sisik yang melingkupi tubuhnya. Sisik pada
ikan ini termasuk tipe teleost, yang tidak memiliki enamel, dentin dan
lapisan pembuluh tulang, hanya memiliki berkas lamelarnya saja. Terdapat
dua macam sisik teleost yang dikenali, yaitu cycloid dan ctenoid. Cycloid
tersusun dari cincin konsentris atau circuli. Sedangkan sisik ctenoid
dengan pinggiran yang keras sepanjang tepi posterior. Circuli yang baru,
terletak dibawah, seperti lingkaran tahun pada pohon yang dapat dijadikan

9
suatu bukti untuk melihat umur dari ikan yang akan diamati (Kardong,
2005).
2.3.2.2 Anatomi Internal
Sistem tubuh pada ikan adalah sebagai berikut yaitu :
1. Sistem Otot
Otot tubuh pada Oreochromis niloticus mengalami segmentasi
(myotome). Kontraksi myotome dihasilkan akibat kelenturan bagian tubuh
yang membantu berenang. Antar myotome dorsal dan ventral dipisahkan
oleh septum-septum transversum disebut otot epaksial dan segmen otot
ventral ke septum transversum disebut otot hepaksial (Lytle dan Meyer,
2005).
2. Sistem Sirkulasi
Oreochromis niloticus memiliki dua ruang pada jantungnya, yang
tersusun dari dinding tipis pada atrium dan yang tebal pada vetrikel otot.
Darah mengalir dari sinus venosum ke atrium dan dari atrium ke ventrikel
otot. Kontaksi ventrikel otot memaksa darah masuk ke dalam conus
arteriosus yang kecil dan keluar melaui ventral aorta pendek dan menuju
ke insang melalui empat pasang brachial arteries yang berbeda (Lytle dan
Meyer, 2005).
3. Sistem syaraf
Sistem syaraf terdiri dari dua bagian, yaitu sistem syaraf pusat
(otak dan tulang belang) dan sistem syaraf tepi (syaraf yang
menghubungkan otak dan tulang belakang dengan bagian lain dari tubuh).
Otak pada Oreochromis niloticus dewasa terdiri dari lima bagian utama,
yaitu telensephalon, diencephalon, mesencephalon, metencephalon dan
myelencephalon (Lytle dan Meyer, 2005).
4. Sistem Pencernaan
Rongga peutorial terdiri dari lambung, hati dan organ pencernaan.
Rongga peukardial terletak pada anterior ruang peutorial. Pada bagian
peritorium yang dipotong, dapat dilihat hati bagian bawahnya terdapat
esophagus, lambung, usus halus di bagian anterior usus bawahnya terdapat
usus besar dan bagian akhir terdapat anus (Lytle dan Meyer, 2005).

10
5. Sistem Kerangka
Bentuk tulang belakang pada Oreochromis niloticus adalah
silinder, pada bagian dorsal terdapat lengkung syaraf. Sisik, sirip dan
tulang dari tengkorak merupakan anggota dari dermal eksoskeleton,
namun struktur pendukung utama tubuh terdiri dari tulang-tulang
eksoskeleton. Axial eksoskeleton terdiri dari tengkorak, tulang belakang,
tulang rusuk, dan sirip bagian tenga. Bagian caudal dari tulang belakang
memiliki lengkung darah sentral yang dilewati arteri dan mensupport
darah pada tulang punggung. Viseral skeleton dibentuk dari tulang rawan /
kartilago dan kemudian berubah menjadi tulang keras yang mendukung
sirip (Lytle dan Meyer, 2005).
2.4 Ikan Pepetek (Leiognathus equulus)
Ikan Petek (Leiognathus fasciatus) Ikan Leiognathus fasciatus
adalah salah satu anggota dari family Leiognathidae yang memiliki 3
genus dan sekitar 20 spesies. Bentuk tubuh ikan ini sangat pipih berwarna
keperakan, memiliki kulit berlendir, mulut yang sangat protrusible,
memiliki filamen panjang di punggung tulang belakang, memiliki sisik
tipis pada dada dan memiliki 2 dorsal tulang belakang memanjang. Jenis
ikan ini kadang-kadang membentuk gerombolan-gerombolan besar dan
ditemukan pada siang hari (diurnal). Klasifikasi Family : Leiognathidae
Genus : Secutor Spesies : Karalla daura Nama Lokal : Cirik.

11
III. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 03 Oktober 2017 jam
10.00-11.30 WIB. Bertempat di Laboratrium Perikanan, Fakultas Pertanian,
Perikanan dan Biologi. Universitas Bangka Belitung.

3.2 Alat dan Bahan

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Ikan Seluang (Rasbora
argyrotaenia), Ikan Nila (Oreochromis niloticus), dan Ikan Pepetek (Leiognathus
equulus). Sedangkan alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah
nampan, pinset, tissue, dan alat-alat tulis seperti pena, pensil, buku gambar dan
penghapus.

3.3 Prosedur Kerja


Adapun langkah kerja yang dilakukan pada praktikum kali ini adalah:
pertama diambil ikan dari wadah setelah itu ikan dibunuh dengan menusukkan
jarum ke arah bagian kepala tepat diatas otaknya supaya ikan lebih mudah
diamati. Kedua diletakkan ikan diatas nampan selanjutnya dibentangkan bagian
sirip pada ikan baik itu sirip punggung, dada maupun sirip ekor. Kemudian
diamati bentuk bagian tubuh ikan mulai dar bentuk tubuh, bentuk dan posisi
mulut, bentuk sirip dan ciri-cirinya. Terakhir setelah semua bentuk bagiannya
mulailah memfoto dan menggambar ikan tersebut dibuku gambar untuk kemudian
diidentifikasi.

12
V. SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum kali ini adalah bahwa dari
ketiga spesies yang diamati yaitu Ikan Seluang (Rasbora argyrotaenia),
Ikan Nila (Oreochromis niloticus) dan Ikan Pepetek ( Leiognathus
equulus) ketiganya memiliki kesamaan yaitu tubuh yang berbentuk pipih
dan mulut yang berbentuk terminal.Sedangkan yang membedakannya
hanya lah bentuk sirip ekor dan ciri-ciri ikan tersebut.
5.2 Saran
Adapun saran yang dapat saya berikan yaitu supaya pemerintah
lebih bijak dalam melestarikan perairan Indonesia khususnya pemerintah
provinsi supaya perairan kita bebas dari pencemaran yang akan
mengakibatkan semakin berkurangnya jenis ikan yang ada di Indonesia.

16
16
DAFTAR PUSTAKA

Amri, K dan Khairuman. 2003. Budidaya Ikan Nila secara Intensif. Jakarta:
Agromedia Pustaka

Helfman, G.S., B.B. Collete, D.E. Facey dan B.W.Bowen. 2009. The Diversity of
Fishes, second edition. Blackwell Science. USA: Massachusetts

Hickman, C.P., L. S. Roberts dan A. Larson. 2003. Animal Diversity. North


America : McGraw-Hill Companies, Inc

Kardong, K.V.2002. Vertebrates Comparative Anatomy, Function, Evolution.


North America: McGraw-Hill. Companies, Inc

Lytle, C.F. dan Meyer J.R. 2005. General Zoology, Fourteenth Edition. New
York: McGraw Hill

Ridho, dkk.2012. Penuntun Praktikum Laboratorium Zoologi. Jurusan Biologi,


Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Palembang: Universitas
Sriwijaya

Rohansyah, dkk. 2010. Kaji Banding Karakter Morfologi Dua Varian Ikan
Papuyu (Anabas Testudineus Bloch). Media Sains. Volume II Nomor.
Fakultas Pertanian. Banjarmasin: Universitas Achmad Yani

17