Anda di halaman 1dari 23

Bab

Tinjauan Teori

1.1 Pengertian

Trauma abdomen merupakan suatu kondisi yang sulit untuk di evaluasi walau dirumah sakit
sekalipun, lebih – lebih bila dilapangan. Trauma tembus abdomen sudah pasti memerlukan
tindakan pembedahan. Trauma tembus abdomen mempunyai ancaman jiwa yang sama yaitu
perdarahan dan infeksi (Donna, 2014 ; 83).

Trauma abdomen adalah cidera pada abdomen, dapat berupa trauma tumpul dan tembus serta
trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2002).

1.2 Etiologi

Trauma abdomen di bagi menjadi 2, yaitu :

1. Trauma tumpul abdomen


Angka kematian pada trauma tumpul abdomen cukup tinggi, yaitu 10 – 30 %. Umumnya
karena adanya trauma pada bagian lain dari tubuh secara bersamaan.
a. Kompresi langsung pada abdomen, mengakibatkan patahnya organ perut dan
pecahnya organ berongga (usus)
b. Deselerasi mengakibatkan robeknya orga atau pembuluh darahnya. Hal di atas
merupakan mekanisme yang paling umum dari cidera abdomen, tetapi amsih belum
didapatkan cara penatalaksanaan pra rumah sakit yang terbaik. Hanya saja harus
diingat bahwa penderita yang mengalami trauma tumpul toraks mungkin saja tidak
merasa nyeri serta menunjukkan sedikitnya tanda-tanda trauma tumpul dibagian luar
tubuh. Hal ini dapat mengakibatkan keterlambatan pertolongan pada penderita.

2. Trauma tembus abdomen dibagi menajdi 2 yaitu:


a. Luka tembak abdomen
Harus ditolong dikamar operasi, angka kematiannya 2-15% angka kematian ini lebih
tinggi dari luka tusuk abdomen karena lebih sering mengenai organ viscera.

1
b. Luka tusuk abdomen
Luka tusuk abdomen angka kematian relatif rendah (1-2%) kecuali bila tusuk tepat
mengenai pembuluh darah besar atau organ seperti hati atau limfa. Penderita luka
tusuk mula-mula tak menunjukkan gejala klinis ditempat kejadian. Walaupun
demikian ada kemungkinan penderita akan menunjukkan peritonitis setelah beberapa
jam kemudian. Luka tembus abdomen memerlukan evaluasi yang hati-hati di rumah
sakit. Harus di ingat selalu bahwa jalur dari luka tembus tak selalu lurus dengan luka
dikulit. Luka didada dapat mengenai organ abdomen, begitu pula sebaliknya. Jalur
dapat melalui banyak struktur pada region tubuh yang berbeda. Pada fase pra Rumah
Sakit, harus diingat adanya pendarahan intra abdominal yang menyebabkan syok
akibat pendarahan (Donna, 2014 ; 85-86).
c. Kecelakaan motor
d. Jatuh
e. Pukulan (smeltzer, 2000: 2476)

1.3 Klasifikasi
1.3.1 Trauma Lambung
Cedera pada lambung relative jarang terjadi dan biasanya disebabkan oleh trauma
tembus, terutama penusukan. Cedera akibat trauma tumpul biasanya meningkat secara
mendadak tekanan intraabdomen. Lambung juga dapat mengalami cedera ketika terjadi
laserasi diagfragma dan lambung megalami herniasi melalui robekan tersebut. Iritasi
kimia akibat kebocoran asam lambung menyebakan nyeri abdomen dan peritonitis.
Cedera vascular pada arteri lambung dapat terjadi, terutama pada cedera tembus (Donna,
2014: 316)

1.3.2 Trauma Hati dan Kandung Empedu


Hati adalah organ padat yang terbesar dan bertanggung jawab untuk faktor
pembekuan( fibrinogen, protombrin), sintesis protein, konversi cadangan glukosa
menjadi glikogen, empedu dan penyimpanan darah. Hati juga memainkan peranan
penting dalam detoksifikasi darah, penyimpanan zat besi dan vitamin larut lemak A, D ,E
dan K. Hati juga berpartisipasi dalam metabolism karbohidrat, dan protein. Sampai

2
dengan 30% curah jantung disimpan dalam hati pada waktu tertentu, menyebabkan
terbentuknya koam besar darah untuk perdarahan. Cedera dapat terjadi akibat benturan
langsung, perlambatan cepat atau cedera tembus. Kandung empedu juga rentang terhadap
efek ledakan dan luka tembak atau perangkat ledakan. Kandung empedu adalah organ
yang berisi cairan yang berespon terhadap gelombang tekanan ( Donna, 2014: 322)

1.3.3 Trauma Limpa


Limfa adalah organ lain yang sering mengalami cedera, terutama akibat trauma
tumpul. Pendarahan dapat terjadi segera atau muncul seperti rupture yang tertunda.
Cedera limfa dinilai berdasarkan CT-Scan atau fisualisasi pada saat pembedahan.(Donna,
2014: 326)

1.3.4 Trauma ginjal


Cedera pada ginjal dapat menyebabkan perdarahan ‘’bebas’’, hematoma terbatas,
atau pembentukan thrombus intravascular. Cedera akibat deselarasi tiba-tiba dapat
menyebabkan ginjal berpindah, robekan pembuluh darah ginjal kecil atau robekan di
intima arteri renalis, yang juga dapat menyebabkan thrombosis di pembuluh darah.
Trauma tumpul dan tembus juga dapat menyebabkan laserasi atau kontusio di parenkim
ginjal atau robeknya system kolektivus (Morton, 2011: 527).

1.3.5 Trauma kandung kemih


Kandung kemih dapat mengalami laserasi, rupture, kontusio yang sering terjadi
akibat trauma tumpul (biasanya karena kandung kemih penuh pada saat terjadi cedera).
(Morton, 2011: 527)

1.3.6 Trauma usus kecil


Cedera pada usus kecil mirip dengan cedera lambung. Sebagi viskus berongga,
peningkatan tekanna mendadak didalam abdomen dapat menyebabkan rupture. Robekan
dapat terjadi pada tiitk tertentu didalam usus. Sabuk pengaman yang tidak dikenakan
dengan tepat dapat mengakibatkan cedera usus kecil. Kemungkinan fraktur tulang

3
belakang lumbal dengan atau tanpa cedera tulang belakang dapat berkaitan dengan cedera
sabuk pengaman dan hiperfleksi abdomen.
Cedera tembus, terutama luka tembak dapat menyebabkan perforasi atau cedera
serosal disatu tempat atau lebih. Efek ledakan dari luka tembak dapat mengakibatkan
memar pada daerah terpisah dari perforasi. Cedera duodenum dapat berkaitan dengan
cedera pancreas, saluran empedu, dan robekan vena cava termaksud saluran pancreas.
Cedera jejunum paling sering terjadi pada umbilicus ( Donna, 2014: 317)

1.3.7 Trauma Kolon dan rectum


Cedera usus besar memiliki efek yang sama dengan peningkatan yang cepat
tekanan intra abdomen. Colon transfersal rentan terhadap cedera tembus karena lokasinya
yang menonjol. Cedera pada colon menyebbakan kontaminasi fekal yang signifikan dan
selanjutnya terjadi sepsis, yang menyebabkan cedera mematikan jika dibiarkan tanpa
disadari. Cedera rectal ektraperitoneal terjadi pada fraktur pelvis, serta cedera tembus
(Donna, 2014: 319)

1.3.8 Trauma pancreas


Pankreas ini bertempat du retroperitoneum sehingga relative terlindungi dan cedera sulit
untuk didiagnosis(lebih dari 24-72 jam penundaan) Cedera disebabkan oleh pukulan
langsung, sering kali stang sepeda atau roda kemudi. Cedera pancreas juga dapat
mencangkup ductus yang melepaskan enzim kedalam abdomen.
.
1.4 Manifestasi Klinis
1. Trauma lambung
Cedera tembus pada daerah lambung, nyeri tekan abdomen, epigastrium,
hipotensi, hematemesis atau drainase berdarah dari selang lambung, tanda- tanda
peritonitis, rontgen abdomen menunjukan adanya udara bebas (Donna, 2014 : 316).

2. Trauma hati dan kandung empedu


Nyeri tekan pada kuadran kanan atas, dan dada kanan bawah, iritasi peritoneal,
distensi abdomen, ekimosis dada kanan bawah dan abdomen bagian atas, hipotensi,

4
penurunan hematokrit, abnormalitas masa protombin(PT) dan massa tromboplastin
parsial (PTT) (Donna, 2014 : 322).

3. Trauma ginjal
Tanda dan gejala jika ada terdiri atas hematuria, nyeri, hematuri makroskopik,
atau ekimosis di atas pinggang. Karena perdarahan terjadi di retroperitoneum, dapat sulit
untuk di deteksi.

4. Trauma limpa
Nyeri tekan/nyeri pada kuadran kiri atas , nyeri alihan ke bahu kiri, terutama
ketika terlentang, kekakuan, distensi, guarding, nyeri tekan, Hipotensi, penurunan
hematokrit, bunyi tumpul pada perkusi diatas kuadran kiri atas (Donna, 2014:326)

5. Trauma kandung kemih


Nyeri abdomen bagian bawah

a. Kesulitan berkemih
b. Hematuria
c. Sistogram (CT sistogram)-ekstravasi positif (Nayduch,2014: 334)

6. Trauma usus kecil


Nyeri periumbulikus transien nyeri meningkat sejalan dengan terjadinya
peritonitis, memar/abrasi, mual muntah, tidak ada bising usus, peningkatan inkonsisten
dari amylase dan lipase (Donna, 2014:318)

7. Trauma kolon dan rectum


Iritasi peritoneal, nyeri, emfisema subcutan, pemerikasaan rectal positif guaiak
(kemungkinan cedera kolon), Pemeriksaan rectal positif groos (cedera rectal), Tidak ada
bising usus, DPL- materi fekal, bakteri, serat (Donna, 2014 : 319)

5
8. Trauma pankreas
Nyeri abdomen yang menyebar, menjalar sampai kepunggung, iritasi peritoneal, distensi,
bising usus, bising usus menurun atau tidak ada, amylase yang terus meningkat,
peningkatan lipase (lebih spesifik) (Donna, 2014:329)
1.5 Patofisiologi
Trauma pada abdomen dibagi menajdi trauma tumpul dan tembus. Trauma
tumpul abdomen disebabkan konfresi dan deselerasi. Kompresi rongga abdomen oleh
benda-benda terfiksasi, seperti sabuk pengaman atau setir kemudi akan meningkatkan
tekanan intraluminal dengan cepat, sehingga mungkin menyebabkan ruktur usus atau
pendarahan organ padat. Gaya deselerasi( perlambatan) akan menyebabkan tarikan atau
renggangan antara struktur yang terfiksasi dan yang dapat bergerak. Deselerasi dapat
menyebabkan trauma pada mesenterium, pembuluh darah besar, atau kapsul organ padat,
seperti ligamentum teres pada hati. Organ padat, seperti limfa dan hati merupakan jenis
organ yang sering mengalami terluka setelah trauma tumpul abdomen terjadi.
Trauma tumpul pada abdomen juga disebbkan oleh penguntingan, penghancuran
atau kuatnya tekanan yang menyebabkan rupture pada usus atau struktur abdomen yang
lain. Luka tembak dapat menyebabkan kerusakan pada setiap struktur didalam abdomen.
Tembakan menyebabkan perforasi pada perut atau usus yang menyebabkan peritonitis
dan sepsis.

1.6 Pemeriksaan Penunjang

1. CT Scan
CT Scan lebih spesifik, tetapi kurang sensitive dibanding DPL. Biasanya, baik media
kontras oral dan IV diberikan untuk menegaskan spesifitas pemeriksaan. CT Scan
memberikan informasi yang berhubungan dengan cedera organ spesifik dan luasnya serta
memberi informasi yang berhubungan dengan pelvis dan retroperitoneum. Bila CT Scan
menunjukkan cairan bebas, DPL dapat dilakukan untuk mengevaluasi sifat cairan.
Keuntungan CT Scan versus DPL harus dipertimbangkan dengan cermat agar dapat member
perawatan optimal bagi pasien cedera. Bahkan pasien dengan stabilitas hemodinamik, tetapi
dengan pemeriksaan abdomen inpresif menunjukkan tanda peritoneal mungkin dicalonkan

6
untuk DPL. Pertimbangan lainnya adalah ketersediaan sumber di fasilitas dan waktu yang
diperlukan untuk menjalankan sumber-sumber ini bagi pasien, sebagai ganti memindahkan
pasien ke tingkat perawatan yang lebih tinggi. Keputusan ini harus dibuat secara kolabolatif
dengan dokter yang bertanggung jawab, dokte yang menerima, dan perawat yang
bertanggung jawab, dokter yang menerima, dan perawat yang bertanggung jawab
berdasarkan kondisi pasien dan fasilitas dengan sumber yang tersedia yang paling cocok
untuk kebutuhan pasien (Pamela, 2010 : 751-753)

2. Ultrasonografi abdomen: ultrasonografi abdomen baru-baru ini telah banyak diterima di


banyak pusat perawatan sebagai tambahan lain evaluasi, baik trauma abdomen tembus
maupun tumpul. Alat ultrasonografi harus siap tersedia, demikian juga dengan operator
yang terlatih untuk melakukan permeriksaan. Ultrasonografi abdomen mempunyai
banyak keuntungan karena alat ini portable dan dapat dilakukan di tempat tidur pasien,
tidak invasive, relative efisien waktu, dan relative tidak mahal. Kerugiannya meliputi
penurunan spesifitas cedera organ ketika dibandingkan dengan pemberian CT, hasil
buruk pada pasien gemuk atau pasien yang mempunyai emfisema subcutan luas, dan
bergantung pada pemahaman kelengkungan alat operator. Ultrasonografi abdomen dapat
diulangi dengan mudah, mengurangi beberapa kelemahannya diatas. Sensitivitas
ultrasonografi berkisar 80% sampai 100%, spesifitas 89% sampai 100% dan akurasi dari
86% sampai 99% (Pamela, 2010: 753).
3. DPL: DPL adalah sebuah prosedur diagnostic cepat yang digunakan selama fase
resusitasi pada perawatan pasien trauma yang hemodinamikanya tidak stabil untuk
menegakkan diagnosis perdarahan intra-abdomen (Morton, 2011)

1.6 Penatalaksanaan
A. Penatalaksanaan kedaruratan trauma tajam:
1. Berikan posisi Trendelenburg, dengan menengadahkan kaki lebih tinggi dari pada kepala
2. Untuk memperbaiki sirkulasi berikan infus ringer laktat isotonis dengan pemberian
hionatremik, hipovolemia atau alkalosis metabolik
3. Pemberian resusitasi cairan pada syok hipovolemik berupa cairan kristaloid, keuntungan
cairan tersebut antara lain tidak menyebabkan reaksi alergi.

7
4. Pertahankan pasien pada brankar atau tandu papan; gerakan dapat menyebabkan
fragmentasi bekuan pada pembuluh darah besar dan menimbulkan hemoragi massif.

a. Pastikan kepatenan jalan nafas dan kestabilan pernapasan serta system syaraf
b. Jika pasien koma, bebat leher sampai setelah sinar X leher didapatkan
c. Gunting baju dari luka
d. Hitung jumlah luka
e. Tentukan lokasi masuk dan keluar
5. Control perdarahan dan pertahankan volume darah sampai pembedahan dilakukan
a. Berikan kompresi pada luka perdarahan eksternal dan bendungan luka dada
b. Pasang kateter IV diameter besar untuk penggantian cairan cepat dan memperbaiki
dinamika sirkulasi
c. Perhatikan kejadian syok setelah respon awal terhadap terapi transfuse; ini sering
merupakan tanda adanya perdarahan internal
d. Dokter dapat melakukan parasentesis untuk mengidentifikasi tempat perdarahan.
6. Aspirasi lambung dengan selang nasigastrik. Prosedur ini membantu mendeteksi luka
lambung, mengurangi kontaminasi terhadap rongga peritoneum, dan mencegah
komplikasi paru karena aspirasi.
7. Tutup visera abdomen tutupi visera abdomen yang keluar dengan balutan steril, balutab
salin basah untuk menvcegah kekeringan visera.
a. Fleksikan lutut pasien; posisi ini mencegah protuksi lanjut
b. Tunda pemberian cairan oral untuk mencegah meningkatnya peristaltic dan muntah
8. Pasang kateter uretra menetap untuk mendapatkan kepastian adanya hematuria dan
pantau haluaran urin
9. Pertahankan lembar alur terus menerus tentang tanda vital , haluaran urine, pembacaan
tekanan vena sentral pasien ( bila diindikasikan), nilai hematokrit dan status neurologic\
10. Siapakan untuk parasentesis atau lavase peritoneum ketika terdapat ketidak pastian
mengenai perdarahan intraperitonium.
11. Siapkan sinografi untuk menentukan apakah terdapat penetrasi peritoneum pada kasus
luka tusuk
a. Jahitan dilakukan disekeliling luka
b. Kateter kecil dimasukan kedalam luka

8
c. Agens kontras dimasukan melalaui kateter ; sinar X menunjukan apakah penetrasi
peritonium telah dilakukan
d. Berikan profilaksis tetanus sesuai ketentuan
12. Berikan antibiotic spektrum luas sampai ketentuan untuk mencegah infeksi. Trauma
dapat menyebabkan infeksi akibat karena kerusakan barier mekanis, but akteri eksogen
dari lingkungan pada waktu cedera dan maneuver diagnostic dan terapeutik (infeksi
nosokomial)

13. Siapkan pasien untuk pembedahan jika terdapat bukti adanya syok, kehilangan darah,
adanya udara bebas dibawah diafragma, eviserasi , atau hematuria.
(Brunner & suddarth, 2001: 2476)

B. Penatalaksanaan kedaruratan trauma tembus:


1. Berikan posisi trendelenburg
2. Lakukan pengkajian fisik secara terus menerus : inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi
abdominal. Perubahan yang terlihat pada pemeriksaan lanjut dapat menunjukan cedera
abdomen yang tidak terdeteksi.
a) Hindarkan memindah pasien sampai pengkajian awal selesai. Gerakan dapat memecah
bekuan dalam pembuluh darah besar dan membuat hemoragi masif.
b) Dapatkan berbagai tanda dan gejala yang diakibatkan dari kehilangan darah, memar dan
robekan organ padat, dan kebocoran sekresi dari ruang visera abdomen.
c) Awasi cedera dada, khususnya fraktur iga bawah.
d) Inspeksi bagian depan tubuh, pinggang, dan punggung untuk adanya perubahan warna
kebiruan, asimetri, abrasi dan kontusi.
e) Evaluasi tanda dan gejala perdarahan, yang sering mengikuti cedera abdomen, khususnya
jiak hati dan limpa mengalami trauma. Perdarahan intraperitonium masif yang
berhubungan dengan syok.
f) Catat nyeri tekan, nyeri lepas, gerakan melindungi, kekakuan, dan spasme. Nyeri lepas
dikaji sebagai berikut:

9
- Tekan daerah nyeri , tekan maksimal (minta pasien menunjuk daerah luka)
- Angkat jari dengan cepat: nyeri pada daerah yang dicurigai menandakan iritasi
peritoneum.
g) Observasi pada peningkatan distensi abdomen. Ukur lingkar abdomen setinggi umbilicus
pada saat masuk; ini bertindak sebagai data dasar di mana adanya perubahan dapat
ditentukan.
h) Tanya tentang nyeri yang menyebar. Ini membantu dalam mendeteksi cedera
intraperitonium. Nyeri pada bahu kiri dapat dialami pada pasien yang mengalami
perdarahan karena rupture limpa; nyeri pada bahu kanan dapat diakibatkan laserasi hati.
i) Auskultasi bising usus (bising usus menghilang menyertai iritasi peritonium)
j) Catat hilangnya bunyi pekak diatas rongga padat (hati atau limpa), yang menandakan
adanya udara bebas. (bunyi pekak diatas region normal mengandung gas) menunjuk
adanya gas.
3. Bantu periksa rectal atau vagina untuk diagnosis cedera pada pelvis, kandung kemih dan
dinding usus.
4. Pantau tanda vital dengan sering dan hati-hati. Ini dapat menunjukan tanda perdarahan
intraabdomen.
5. Siapkan pasien untuk prosedur diagnostic
a. Pemeriksaan Labiratorium meliputi:
1. Urinalisis: sebagai pedoman untuk kemungkinan infeksi saluran urinari (hematuria)
2. Seri kadar hematokrit: cenderung menggambarkan ada atau tidaknya perdarahan.
3. Hitung darah lengkap (HDL): jumlah sel darah putih meningkat pada trauma adalah
umum.
4. Penentuan amilase serum: peningkatan kadar menandakan cedera ankreas atau
perforasi sauran gastrointestinal.
b. Pemeriksaan sinar x:
1. Pemindaian tomografi komputer (CT): memungkinkan evaluasi detil tentang isi
abdomen dan pemeriksaan retroperitoneal.
2. Sinar x dada dan abdomen: menunjukkan udara bebas dibawah diafragma, yang
menunjukkan ruptur viskus berongga (organ interior besar)

10
6. Siapkan lavase peritoneum diagnostic untuk menguji perdarahan intraperitonial; laserasi atau
perdarahan didiagnosa dengan pemeriksaan lengkap dan mikroskopi terhadap aliran balik
cairan setelah lavase peritoneum.
7. Bantu pemasangan selang nasogastrik untuk kmencegah muntah dan aspirasi. Ini juga
membantu dalam membuang cairan dan udara dari saluran gastrointestinal.
(Brunner&suddarth, 2001: 2476)

1.7 Komplikasi

1. Trauma hati
Komplikasi yang mungkin terjadi pada cedera hati adalah abses hati atau perihepatik,
sumbatan atau kebocoran kandung empedu, sepsis, ARDS, dan KID (Morton, 2011: 526).

2. Trauma Ginjal
Komplikasi utama terdiri atas thrombosis arteri dan vena dan gagal ginjal akut.
Komplikasi lain mencakup perdarahan, abses perinefrik, pembentukan fistula urinarius, dan
awitan lambat hipertensi (Morton, 2011: 527).
3. Trauma kandung kemih
Komplikasi jarang terjadi namun infeksi akibat kateter urine atau sepsis akibat
perembesan urine yang terinfeksi dapat terjadi. Pasien dapat mengeluh tidak dapat berkemih
atau mengalami nyeri bahu (disebabkan oleh perembesan urine ke dalam ruang peritoneum)
(Morton, 2011: 527).
4. Trauma lambung atau usus halus
Intoleransi terhadap pemberian makan lewat selang, Peritonitis, Perdarahan pasca
pembedahan, Hipovolemia, Pembentukan vistula atau obstuksi

5. Trauma duodenum dan pancreas


Trauma tumpul pada duodenum dapat menyebabkan hematoma intramural, yang dapat
menyebabkan obstruksi duodenum.
6. Trauma kolon

11
Kolon transversal rentan terhadap cedera tembus karena lokasinya yang menonjol.
Cedera pada kolon menyebabkan kontaminasi fekal yang signifikan dan selanjutnya terjadi
sepsis, yang menyebabkan cedera mematikan jika dibiarkan tanpa disadari (Nayduch,2014:
319).

12
Bab 2

Asuhan Keperawatan Trauma Abdomen

2.1 Pengkajian
1) Identitas

Trauma adalah penyebab utama kematian selama 4 dekade pertama kehidupan meskipun
secara historis orang muda yang menjadi pasien trauma, trauma adalah masalah yang banyak
terjadi pada populasi geriatrik mekanisme cidera berbeda pada usia ini. Pasien yang lebih
muda sering terlibat dalam kecelakaan bermotor (pengemudi, penumpang, dan pejalan kaki
atau pengendara sepeda) atau kekerasan. Jatuh adalah penyebab utama cedera pada populasi
geriatric (Pamela, 2010: 725).

2) Keluhan Utama

Keluhan utama sesuai dengan gejala cedera tergantung lokasinya.

3) Riwayat Penyakit Sekarang

Adanya darah dan cairan usus akan menimbulkan rangsangan peritoneum berupa nyeri
tekan, nyeri ketok, dan nyeri lepas, dan kekakuan dinding perut. Biasanya bising usus lemah
atau menghilang (Mansjoer, 2000 : 303).

4) Riwayat Penyakit Dahulu


Kondisi medis tertentuu dapat mencetuskan cedera pada pasien. Penyakit-penyakit ini
menimbulkan satu dari beberapa kondisi yang meningkatkan resiko cedera, seperti
perubahan tingkat kesadaran, perubahan input sensorik, atau perubahan proses pikir.
Penyakit yang terjadi bersamaan dapat mengubah respon fisiologik normal terhadap cedera.
Riwayat medis masa lalu pasien harus dengan cermat ditinjau untuk menentukan respons
‘’yang diharapkan’’terhadap stres akibat trauma (Pamela, 2010: hal 725).
5) ADL
1. Nutrisi
Pasien trauma abdomen mengalami penurunan makan kerena ada nyeri pada perut
dan terjadi distensi abdomen (Talbot, 1997:179).

13
2. Aktivitas dan istirahat
Kelemhan, lelah
3. Eliminasi
Pasien trauma abdominal mengalami konstipasi, atau diare. Hematuria tidak terjadi
pada semua pasien dengan cedera hginjal. Selain itu, tingkat hematuria tidak
berhubungan dengan tingkat cedar, namun adanya hematuria berhubungan dengan
kecenderungan adanya cedera intra-abdomen lainnya,kesulitan berkemih (Nayduch,
2014: 333; Doenges, 2010: 307).
4. Hygine Personal
Pasien trauma abdominal tidak mampu melakukan hygine personalya sehingga perlu
bantuan keluarga dan perawat

6) Pemeriksaan Fisik
1. B1 (Breath)
Dipsneu, takipneu, pernapasan cuping hidung
2. B2(Blood)
Hipotensi, membrane mukosa kering, takikardi,CRT >2 detik (Talbot, 1997:179,177)
3. B3(Brain)
Penurunan tingkat kesadaran, nyeri tekan (Morton, 2011 :318)
4. B4(Blader)
Hematuri, penurunan frekuensi berkemih (Morton, 2011 :331)
5. B5(Bowel)
Bising usus biasanya melemah atau hilang, terjadi peningkatan distensi abdomen, muntah
darah, mual muntah, adanya luka (tusuk, bacok, dll) pada area perut yang terjadi pada
trauma tajam dan memar pada trauma tumpul (Morton, 2011 :318)
6. B6(Bone)
Terdapat luka memar pada abdomen atau bekas tusukan, kekakuan otot, kulit pucat
(Talbot, 1997:178)

14
2.2 Diagnosa, Intervensi dan Rasional Keperawatan

1. Resiko syok hipovolemia berhubungan dengan penurunan volume darah ke


seluruh tubuh

Tujuan : Pasien mampu mempertahankan dan meningkatkan perfusi jaringan setelah


dilakukan tindakan keperawatan dengan kriteria hasil :

1. Tanda vital dalam rentang normal (TD : 110-120/80-90, N: 60-100)


2. Kulit teraba hangat
3. Denyut perifer teraba (CRT <2 detik)

Intervensi :

1. Menyelidiki perubahan tingkat kesadaran dan pusing atau sakit kepala


R/Perubahan mungkin mencerminkan memadai perfusi serebral sebagai akibat dari
berkurangnya tekanan darah arteri. catatan: perubahan sensorium juga mungkin
mencerminkan kadar amonia tinggi atau hati
2. Menyelidiki laporan nyeri dada. perhatikan lokasi, kualitas, durasi, dan apa yang
mengurangi rasa sakit
R/ iskemia jantung mungkin mencerminkan berhubungan dengan penurunan
perfusi.catatan: gangguan Status oksigenasi yang dihasilkan dari kehilangan darah dapat
membawa pada infark miokard (MI) di klien dengan penyakit jantung
3. Auskultasi denyut jantung , memonitor tingkat jantung dan irama
R/ disritmia dan iskemik perubahan dapat terjadi sebagai akibat dari hipotension,
hipoksia, asidosis, ketidakseimbangan elektrolit, atau pendinginan dekat jantung jika
lavage garam dingin digunakan untuk mengontrol perdarahan
4. Menilai keadaan kulit; pucat; diaphoresis; pengisian CRT, denyut perifer
R/ vasokonstriksi adalah respons simpatik untuk menurunkan volume sirkulasi dan dapat
terjadi sebagai efek samping pemberian vasopressin
5. Perhatikan output urin dan berat jenis. masukkan Foley kateter untuk mengukur urin
secara akurat

15
R/ penurunan perfusi sistemik dapat menyebabkan iskemia ginjal dan kegagalan.
dimanifestasikan oleh urin menurun. nekrosis tubular akut (ATN) dapat berkembang jika
negara hipovolemik berkepanjangan
6. Perhatikan laporan sakit perut, terutama yang tiba-tiba, sakit parah atau sakit yang
menjalar ke bahu
R/ rasa sakit yang disebabkan oleh luka lambung sering setelah perdarahan akut karena
penyangga efek darah. nyeri tiba-tiba mungkin mencerminkan iskemia karena
vasokonstriksi , perdarahan ke saluran empedu (hematobilia), atau perforasi dengan
timbulnya peritonitis
7. Memonitor GDA dan pulse oximetry. memberikan oksigen tambahan, jika diindikasikan.
mengelola cairan IV
R/ mengidentifikasi hipoksemia dan efektivitas untuk terapi. tanda hipoksemia dan
asidosis selama perdarahan akut. mempertahankan volume sirkulasi dan perfusi.
pedoman untuk penggantian cairan adalah 3 mL cairan untuk setiap 1 mL darah yang
hilang.

2. Nyeri akut berhubungan dengan adanya trauma abdomen


Tujuan : pasien menunjukkan nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan
setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan criteria hasil :
1. Pasien mengungkapkan nyeri berkurang sampai hilang
2. Nadi normal (60-100x permenit)
3. RR normal (16-20x permenit)
4. TD normal (sistole 110-120 mmHg, diastole 80-90 mmHg)
5. Skala VAS 0-1

Intervensi :

1. Perhatikan laporan nyeri, termasuk lokasi, durasi, dan intensitas (skala 0-10)

R/ nyeri tidak selalu hadir, tetapi jika ada, harus dibandingkan dengan gejala nyeri klien
sebelumnya. perbandingan ini dapat membantu dalam diagnosis etiologi perdarahan dan
pengembangan komplikasi

16
2. Kaji faktor-faktor yang memperburuk atau mengurangi rasa sakit

R/ Membantu dalam menegakkan diagnosis dan pengobatan kebutuhan

3. Ajarkan Pasien distraksi, relaksasi teknik napas dalam


R/ Distraksi membantu mengurangi rasa nyeri dengan mengalihkan perhatian pasien
terhadap nyeri dengan kegiatan yang disukai dan relaksasi untuk meminimalkan rasa
nyeri
4. Perhatikan isyarat nyeri nonverbal seperti kegelisahan, keengganan untuk bergerak,
penjagaan perut, takikardia, dan diaphoresis, menyelidiki perbedaan antara isyarat verbal
dan nonverbal

R/ isyarat nonverbal mungkin baik fisiologis dan psikologis dan dapat digunakan
bersama dengan petunjuk verbal sampai batas evalue dan keparahan masalah

Kolaborasi

5. Memberi obat, seperti yang ditunjukkan: analgesik, seperti morfin

R/ membantu menghilangkan rasa sakit akut atau parah. morfin juga mengurangi
aktivitas peristaltik.

3. Resiko Infeksi berhubungan dengan luka tusukan pada abdomen

Tujuan: tidak terjadinya infeksi pada luka tusukan setelah dilakukan tindakan
keperawatan dengan kriteria hasil :

1. Tidak adanya tanda- tanda infeksi (Demam, kemerahan, bengkak, fungtionlaesa)


2. Tanda- tanda vital dalam batas normal (TD : 110-120/80-90, N: 60-100, S: 36,5-37,2
C, R: 16-20)

Intervensi

1. Gunakan tehnik asepsis yang ketat ketika memasang kateter, penghisapan, pemberian
obat parentelar, atau melakukan prosedur invasive lainnya.

17
R/ penggunaan tehnik asepsis selama prosedur invasif menurunkan resiko masuknya
organisme.

2. Bantu pasien mengubah posisi, batuk, dan nafas dalam.

R/ perubahan posisi, batuk , dan nafas dalam dapat mengurangi resiko komplikasi pada
integument dan pernafasan.

3. Observasi dan ttv setiap 2 sampai 4 jam

R/ Tanda- tanda vital sebagian besar suhu badan meningkat mengindikasikan adanya
infeksi

4. Observasi luka yaitu bau, kemerahan, panas, bengkak, dan drainase yang banyak atau
drainase purulen

R/ untuk mengetahui adanya tanda- tanda infeksi

5. Kaji status imunisasi dan berikan toksoid tetanus atau human toxin antitoxin (TAT)
sesuai dengan yang diresepkan

R/ tetanus yang disebabkan oleh etotoxin dihasilkan oleh clostridium tetani, biasanya
masuk melalui luka terbuka.

6. Gunakan praktik hygine tangan yang cermat

R/ hygine tangan tetap menjadi faktor yang paling penting dalam mencegah penyebaran
infeksi.

7. Gunakan tindakan pencegahan standard an tehnik aseptic yang tepat ketika merawat luka

R/ tindakan pencegahan standar sangat penting untuk melindungi pasien dan perawat dari
infeksi

8. Berikan cairan dan nutrisi yang adekuat

R / cairan yang adekuat, kalori, dan protein penting untuk penyembuhan luka sehingga
resiko infeksi dapat di minimalkan.

18
(Priscilla, 2015 : 309)

4. Kekurangan Volume cairan berhubungan dengan perdarahan


Pasien dapat menunjukkan kebutuhan cairan yang adekuat setelah dilakukan
tindakan keperawatan dengan kriteria hasil:
- intake makanan dan intake cairan yang adekuat
- intake nutris dan cairan parenteral adekuat
- tekanan darah dalam rentang norma; ( 110-120/ 80-90 mMhg)
- Turgor kulit baik
- Membran mukosa lembab

Intervensi :
1. Pertahankan keseimbangan intake dan outpun cairan
2. Pasang kateter urine untuk memantau output cairan
3. Monitoring status hidrasi( kelembapan membrane mukosa, keadekuatan pulsasi dan
tekanan darah.
4. Monitoring tanda-tanda vital
R/ untuk mengidentifikasi deficit cairan
5. Monitoring status nutrisi
6. Monitor ketat intake dan output cairan
7. Observasi terjadinya dehidrasi(Turgor kulit, CRT, kelembapan membrane mukosa dan
outpun urine)
8. Rencanakan pemberian cairan parenteral isotonic untuk rehidrasi extra seluler
R/ untuk mengidentifikasi perdarahan
9. Rencanakan pemberian cairan hipotonis untuk rehidrasi intraseluler

5. Ketidakefektifas pola nafas berhubungan dengan distensi rongga abdomen


Tujuan : pasien dapat menunjukkan pola nafas yang efektif setelah dilakukan tindakan
keperawatan, dengan kriteria hasil :
- Jalan nafas yang paten( irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal,
tidak ada suara nafas abdonormal, tanda-tanda vital dalam rentang normal : TD 110-
120/ 80-90 mMhg, Nadi 90-100 x/menit)

19
- Klien tidak mengunakan otot bantu nafas, cuping hidung

Intervensi :
1. Jelaskan kepada pasien dan keluarga penyebab terjadinya ketidakefektifan pola
nafas
R/ ketidakefektifan pola naafs terjadi karena distensi abdomen yang menekan
diagfragma sehingga extansi toraks tidak maksimal
2. Ajarkan klien nafas dalam
R/ untuk meningkatkan kenyamanan
3. Berikan posisi semi fowler( jika ada kontraindikasi)
R/ untuk meningkatkan expansi dinding dada
4. Kalaborasi dengan dokter dalam pemberian O2
R/ untuk memenuhi kebutuhan oksigen, untuk membantu pernafasan adekuat, Bantu
intubasi jika pernafasan semakin memburuk dan siapkan pemasangan ventilator
sesuai indikasi
5. Observasi pernafasan, nafas cuping hidung, dan penggunaan otot bantu nafas
R/ untuk mengetahui derajat gangguan yang terjadi dan untuk menentukan intervensi
6. Observasi adanya sesak atau dipnue
R/ untuk mengetahui keadaan pernafasan pasien

6. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan distress lambung( trauma


abdomen)
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan ..x24 jam nutris klien terpenuhi dengan
kriteria hasil :
e. Nafsu makan meningkat
f. Tidak adanya mual muntah

Intervensi :
1. Ajarkan dan bantu klien untuk istirahat sebelum makan
R/ keletihan dapat menurunkan nafsu makan.
2. Awasi pemasukan jumlah kalori, tawarkan makanan sedikit tapi sering

20
R/ adanya trauma abdomen dapat menekan saluran gastrointestinal dan menurunkan
kapasitasnya
3. Pastikan kepatenan dari pipa nasogatrik atau intestinal,
R/ mempertahankan dekompresi dan mendorong penyembuhan dan mengembalikan
fungsi usus besar
4. Kalaborasikan dengan dokter, ahli diet, dan ahli farmasi
R/ memperkirakan kebutuhan metabolisme pasien pada dasar jenis cedera, tingkat
aktifitas
5. Observasi timbangan BB pasien
R/ mengevaluasi kecenderungan penurunan berat badan pada pasien

7. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan

Tujuan: pasien mengungkapkan tidak cemas setelah dilakukan tindakan keperawatan


dengan kriteria hasil:

1. Mendiskusikan ketakutan dan kekhawatiran mengakui sehat dibandingkan ketakutan


yang tidak sehat
2. Tampil santai dan melaporkan kecemasan berkurang ke tingkat yang dikelola
3. Menunjukkan pemecahan masalah dan sumber daya yang efektif digunakan

Intervensi:

1. Monitor tanggapan pysiological, seperti takipnea, palpitasi, pusing, sakit kepala, sensasi
kesemutan, dan isyarat perilaku, seperti kegelisahan atau perilaku menyerang.

R/ mungkin menunjukkan tingkat ketakutan klien. Klien yang mengalami ansietas


mungkin merasa di luar kendali, situasi atau mencapai keadaan panik. Namun, gejala
mungkin juga terkait kondisi fisik atau keadaan syok.

2. Dorong verbalisasi perhatian. membantu klien dalam mengekspresikan perasaan dengan


mendengarkan secara aktif

R/ Menetapkan hubungan terapeutik. membantu klien dalam berurusan dengan perasaan,


dan memberikan kesempatan untuk memperjelas kesalahpahaman

21
3. Mengakui bahwa ini adalah situasi yang menakutkan dan bahwa orang lain telah
menyatakan kekhawatiran yang sama

R/ ketika klien mengekspresikan ketakutan sendiri, validasi bahwa perasaan ini adalah
normal dapat membantu klien untuk merasa kurang terisolasi.

4. memberikan informasi yang akurat, informasi konkret tentang apa yang sedang
dilakukan, termasuk sensasi yang diharapkan dan prosedur yang biasa dilakukan

R/ melibatkan klien dalam rencana perawatan.

5. Memberikan kesempatan yang signifikan bagi yang lain untuk mengekspresikan perasaan
dan kekhawatirannya. mendorong kepentingan lainnya untuk proyek positif, sikap
realistis.

R/ membantu kepentingan lainnya untuk menangani kecemasan sendiri dan rasa takut
mati dapat ditularkan ke Klien mempromosikan sikap mendukung yang dapat
memfasilitasi pemulihan.

6. Menyediakan lingkungan yang tenang

R/ Memindahkan klein dari stres luardan memberikan efek relaksasi yang dapat
meningkatkan keterampilan koping

7. Kolaborasi : pemberian obat seperti diazepam (valium,), clorazepate (Tranxene),


alprazolam (xanax)

R/ obat penenang dan zat anti ansietas dapat digunakan kesempatan untuk mengurangi
kecemasan dan promotor istirahat, terutama pada klien dengan an ulcer.

8. Membantu klien mengidentifikasi dan memulai perilaku koping positif digunakan dengan
sukses di masa lalu

R/ perilaku sukses dapat dibina dalam menangani ketakutan saat ini, meningkatkan rasa
klien kontrol diri dan memberikan jaminan.

22
Bab 3

Penutup

3.1 Kesimpulan

Trauma abdomen merupakan suatu kondisi yang sulit untuk di evaluasi walau
dirumah sakit sekalipun, lebih – lebih bila dilapangan. Trauma tembus abdomen sudah
pasti memerlukan tindakan pembedahan. Trauma tembus abdomen mempunyai ancaman
jiwa yang sama yaitu perdarahan dan infeksi (Donna, 2014 ; 83). Trauma abdomen dibagi
menjadi trauma tumpul dan trauma tajam, kecelakaan motor, jatuh dan pukulan. Tanda
dan gejala trauma abdomen itu sendiri berbeda di lihat dari lokasi mana yang terkena
cedera.

23