Anda di halaman 1dari 262

1

Kompetensi :
Setelah mempelajari materi di bawah ini mahasiswa mampu menjelaskan kedudukan,
fungsi dan peran bahasa Indonesia dalam pembangunan.

BAB 1
KEDUDUKAN, FUNGSI DAN PERAN BAHASA INDONESIA

A. Pengertian Bahasa
Yang kita dengar istilah “bahasa“ sebenarnya sama dengan “taal“ dalam bahasa
Belanda, “language“ dalam bahasa Inggris, “langue“ dalam bahasa Perancis, “sprache“
dalam bahasa Jerman, “kokugo“ dalam bahasa Jepang, “lughatun“ dalam bahasa Arab,
dan “bhasa“ dalam bahasa Sanksekerta. Tetapi apakah sebenarnya bahasa itu ?
Bahasa adalah alat untuk menyampaikan pikiran, peralatan dan kehendak, dengan
menggunakan lambang-lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat-alat ucap manusia, dan
antara lambang dengan yang dilambangkan itu bersifat mana suka (arbitrer)
Definisi di atas mengandung pokok pikiran sebagai berikut :
a. Bahasa itu alat komunikasi
Seseorang menyampaikan pikiran, perasaan dan kehendaknya kepada orang
lain dengan menggunakan bahasa sebagai alatnya. Ini berarti bahwa bahasa itu
dipakai sebagai alat komunikasi/alat berhubungan antara anggota masyarakat yang
satu dengan anggota masyarakat yang lain.
b. Hanya bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang disebut bahasa
Alat komunikasi antar anggota masyarakat dapat berupa : isyarat, bunyi
lonceng, peluit, sirine, bel dsb. Tetapi semua macam sarana komunikasi itu bukan
bahasa. Bahasa adalah alat komunikasi yang dihasilkan oleh alat-alat ucap manusia.
Memang tidak semua bunyi yang dihasilkan oleh alat-alat ucap manusia
merupakan bahasa, misalnya bersin, juga dihasilkan oleh alat-alat ucap manusia, akan
tetapi tidak termasuk bahasa karena tidak menyampaikan maksud apa-apa. Demikian
pula dengan bentuk mendehem, bunyi-bunyi ini mungkin bisa dimasukkan ke dalam
bahasa apabila telah memperoleh pengertian konvensional di masyarakat,
umpamanya bahasa ringan berarti peringatan, meskipun kedudukannya tidaklah sama
benar dengan bahasa yang sebenarnya.
c. Lambang-lambang bunyi itu berarti mana suka
Lambang adalah sesuatu yang adanya hanya merupakan wakil dari sesuatu yang
lain. Dalam pengertian lambang tercakup dua aspek, yaitu sesuatu sebagai wakil dan
sesuatu sebagai yang diwakili. Umpamanya pohon beringin (wakil) dan pemerintahan
yang sifatnya memberi perlindungan (yang diwakili).
2

Dalam bahasa sesuatu yang menjadi wakil itu berupa bunyi yang di hasilkan
oleh alat-alat ucap, dan yang diwakili itu dapat berupa benda, perkara, hal, sifat,
peristiwa dan lain-lain, kalau anda mengucapkan bunyi (uang) itu hanya merupakan
lambang/wakil dari benda yang ada dalam saku tadi.
Kalau kita perhatikan antara lambang dengan yang dilambangkan, nyata sekali
bahwa keduanya tidak ada hubungan. Amatilah keadaan sekeliling mengapa benda ini
dilambangkan dengan bunyi (meja), benda itu dengan bunyi (kaca); mengapa
kegiatan ini dilambangkan dengan bunyi (makan) dan seterusnya, semuanya tak dapat
dijelaskan. Jelaslah bahwa lambang-lambang itu diciptakan secara suka saja
(arbitrer).

B. Fungsi Bahasa
Manusia adalah mahkluk sosial, yaitu mahkluk yang hidup berkelompok. Dalam
kegiatan kelompok itu, manusia selalu bergantung pada pemakaian bahasa tidak ada
kegiatan yang tanpa memakai bahasa.
Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi adalah fungsi umum. Maka kita dapat
mengatakan bahwa bahasa mempunyai fungsi sebagai berikut :
a) Untuk tujuan praktis, yaitu untuk mengadakan hubungan antar manusia dalam
kehidupan sehari-sehari.
b) Untuk tujuan artistik, yaitu manusia mengolah dan mempergunakan seindah-
indahnya untuk kebutuhan seninya.
c) Menjadi kunci untuk mempelajari pengetahuan-pengetahuan yang lain.
d) Tujuan filologis, yaitu untuk mempelajari naskah-naskah tua guna menyelediki latar
belakang sejarah manusia, sejarah budaya dan adat istiadat.
e) Tujuan politis, bahasa sebagai alat pemersatu bangsa dan untuk menyelenggarakan
administrasi pemerintahan.
f) Tujuan edukatif, bahasa sebagai alat untuk menyimpan dan mengembangkan ilmu
pengetahuan.
Sementara itu Santoso, dkk. (2004) berpendapat bahwa bahasa sebagai alat
komunikasi memiliki fungsi sebagai berikut:
a) Fungsi informasi
b) Fungsi ekspresi diri
c) Fungsi adaptasi dan integrasi
d) Fungsi kontrol sosial
Menurut Hallyday (1992) Fungsi bahasa sebagai alat komunikasi untuk keperluan:
a) Fungsi instrumental, bahasa digunakan untuk memperoleh sesuatu
b) Fungsi regulatoris, bahasa digunakann untuk mengendalikan prilaku orang lain
3

c) Fungsi intraksional, bahasa digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain


d) Fungsi personal, bahasa dapat digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain
e) Fungsi heuristik, bahasa dapat digunakan untuk belajar dan menemukan sesuatu
f) Fungsi imajinatif, bahasa dapat difungsikan untuk menciptakan dunia imajinasi
g) Fungsi representasional, bahasa difungsikan untuk menyampaikan informasi
Perincian fungsi-fungsi bahasa tersebut merupakan fungsi umum semua bahasa. Di
samping itu setiap bahasa mempunyai fungsi khusus dengan kepentingan nasional dari
suatu bangsa.
C. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah dan Bahasa Asing
a. Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia
Salah satu kedudukan bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa nasional.
Kedudukan sebagai bahasa nasional ini dimiliki oleh bangsa Indonesia sejak
dicetuskannya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Kemudian ini
dimungkinkan oleh kenyataan bahwa bahasa Melayu, yang mendasari bahasa
Indonesia itu, telah dipakai sebagai “Lingua franca“ selama berabat-abat sebelumnya
di seluruh tanah air kita. Dengan demikian, pengumandangan bahasa Indonesia
sebagai bahasa nasional di dalam Sumpah Pemuda 1928 itu tidak menimbulkan
kesukaran apa-apa.
Dalam kedudukan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai:
(1) Lambang kebanggaan nasional.
(2) Lambang identitas nasional.
(3) Alat yang memungkinkan penyatuan berbagai-bagai suku bangsa dengan latar
belakang sosial budaya dan bahasanya masing-masing ke dalam kesatuan
kebangsaan Indonesia.
(4) Alat perhubungan antar daerah dan antar budaya.
Selain berkedudukan sebagai bahasa negara. Hal ini sesuai dengan ketentuan
yang tercantum dalam UUD 1945, bab XV, Pasal 36 yang menyatakan “Bahasa
negara ialah bahasa Indonesia“.
Dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia fungsi sebagai :
(1) Bahasa resmi kenegaraan.
(2) Bahasa pengantar dalam dunia pendidikan.
(3) Alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan nasional serta kepentingan pemerintahan.
(4) Alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Catatan :
a. Bahasa Negara : Yaitu bahasa yang digunakan oleh negara (jawatan-jawatan
pemerintahan dan rakyat) untuk memberi isi kepada kebangsaan.
4

b. Bahasa Nasional : Yaitu bahasa yang dipakai oleh negara sebagai bahasa
persatuan dalam lingkungan politik, sosial, dan kebudayaan.
c. Bahasa kebudayaan : Yaitu bahasa yang digunakan dalam lapangan ke-
budayaan ilmu dan teknologi.
d. Bahasa pengantar : Yaitu bahasa yang digunakan dalam menyampaikan
pelajaran di sekolah-sekolah.
e. Bahasa pergaulan : Yaitu bahasa yang dipakai dalam pergaulan sehari-hari di
kalangan masyarakat.
f. Bahasa ibu : Yaitu bahasa yang pertama kali dikuasai dalam dan
dipergunakan oleh setiap orang untuk berkomunikasi.
g. Bahasa kedua : Yaitu bahasa yang dipergunakan sebagai alat komunikasi umum
(dalam tingkat nasional).
h. Bahasa asing : Yaitu selain bahasa ibu dan bahasa kedua.
i. Bahasa resmi : Yaitu bahasa yang dipergunakan dalam melaksanakan tugas-
tugas pemerintahan legislatif, eksekutif dan yudikatif.
j. Bahasa daerah : Yaitu bahasa yang di samping bahasa Indonesia atau nasi-onal
di pakai sebagai bahasa perhubungan intra daerah.

b. Kedudukan dan fungsi bahasa daerah


Dalam hubungan dengan kedudukan bahasa Indonesia, bahasa-bahasa seperti
Sunda, Jawa, Bali, Madura, Bugis, Bima dan Batak, yang terdapat di wilayah
Republik Indonesia, berkedudukan sebagai bahasa daerah. Kedudukan ini
berdasarkan kenyataan bahwa bahasa daerah itu adalah salah satu unsur kebudayaan
nasional dan dilindungi oleh negara, sesuai dengan bunyi penjelasan Pasal 36, Bab
XV, UUD 1945
Dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, bahasa-bahasa tersebut berfungsi
sebagai :
(1) Lambang kebanggaan daerah.
(2) Lambang identitas daerah.
(3) Alat perhubungan dalam keluarga dan masyarakat daerah.
Dalam hubungan dengan fungsi bahasa Indonesia, bahasa daerah berfungsi
sebagai :
(1) Pendukung bahasa nasional.
(2) Bahasa pengantar di sekolah dasar, di daerah tertentu pada tingkat permulaan
untuk memperlancar pembelajaran bahasa Indonesia dan mata pelajaran lain.
(3) Alat pengembangan serta pendukung kebudayaan daerah.
5

c. Kedudukan dan fungsi bahasa asing


Bahasa asing adalah bahasa selain bahasa ibu dan bahasa kedua. Berdasarkan
penjelasan ini, maka bahasa batak merupakan bahasa asing bagi orang Jawa, karena
bahasa Batak bukan bahasa Ibu dan juga bukan bahasa kedua bagi orang Jawa.
Demikian juga bahasa Madura merupakan bahasa asing bagi orang Ambon. Tetapi
apabila jika dilihat secara nasional, bahasa Batak, bahasa Madura dan sebagainya
merupakan bahasa-bahasa daerah di Indonesia.
Bahasa asing untuk Indonesia ialah semua bahasa kecuali bahasa Indonesia,
bahasa-bahasa daerah serta bahasa Melayu. Bahasa Inggris, Perancis, Jerman,
Belanda dan sebagainya yang berkedudukan sebagai bahasa asing.
Kedudukan ini didasarkan atas kenyataan bahwa bahasa-bahasa asing tertentu
itu diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan tingkat tertentu, dan bahasa-bahasa
tersebut tidak bersaing dengan bahasa-bahasa daerah di Indonesia.
Dalam kedudukanya sebagai bahasa asing, bahasa-bahasa tersebut berfungsi
sebagai berikut :
(1) Alat perhubungan antar bangsa.
(2) Alat pembantu pengembangan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern.
(3)Alat pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi modern untuk pembangunan
nasional.

D. Perkembangan Bahasa Indonesia


Sebagai suatu bangsa patutlah kita merasa bangga, karena kita telah mempunyai
bahasa nasional dan sekaligus sebagai bahasa negara. Kebanggaan kita ini cukup
beralasan apabila kita ingat bahwa dalam negara kita yang terdiri dari lima buah pualu
besar dan 13.677 buah pulau kecil-kecil ini terdapat bahasa. Seandainya pada tanggal 28
Oktober 1928 para pemuda Indonesia tidak berhasil menetapkan satu bahasa sebagai
bahasa nasional, bisa dibayangkan betapa sulitnya mengadakan komunikasi antar
daerah. Kebanggaan seperti ini tentunya tidak dimiliki oleh negara-negara tetangga yang
sebaya dengan Indonesia. Negara-negara itu sampai sekarang masih bergumul dengan
bahasa persatuan mereka (misalnya negara Singapura, Filipina, Malaysia, India).
Bahasa Indonesia yang kini telah tersebar luas ke seluruh pelosok tanah air dan
bahkan juga ke luar negeri, berasal dari bahasa Melayu. Bahasa Melayu adalah salah
satu bahasa daerah yang ada di Indonesia. Perkembangan bahasa Melayu menjadi
bahasa Indonesia tidak terjadi dalam suatu masa yang singkat tetapi mengalami proses
pertumbuhan berabat-berabat lamanya. Pertumbuhan itu lambat, tetapi terus-menerus.
Oleh karena itu, kalau kita perhatikan bahasa Indonesia yang kita gunakan dewasa ini
memang tidak lagi sama dengan bahasa Melayu yang dipakai pada zaman Tun
Muhammad Sri Lanang, atau pada zaman, Abdullah bin Abdulkhadir Munsyi, juga tidak
sama dengan bahasa Indonesia pada zaman Balai Pustaka.
6

Bahasa Indonesia dengan perlahan-lahan tetapi tetap dan pasti, tumbuh dan
berkembang terus. Malahan perkembangannya pada akhir-akhir ini boleh dikatakan
sangat pesat.
Apabila kita ingat bahwa jumlah pemakai bahasa Jawa hampir separuh penduduk
Indonesia dan kesusastraan Jawa jauh lebih maju dibandingkan dengan kesusastraan
Melayu, maka terpilihnya bahasa Melayu menjadi bahasa nasional dalam kongres
pemuda tahun 1928 agak mengherankan. Tentu ada faktor-faktor lain yang menentukan
terpilihnya bahasa Melayu menjadi bahasa nasional.
Menurut Prof. Drs. Slamet Muljana dan empat faktor yang menjadi penyebar
yaitu:
1. Faktor sejarah
Berdasarkan bukti-bukti tertulis, bahasa yang dipergunakan oleh Sriwijaya pada
abat ke-7 adalah bahasa Melayu, yaitu Melayu kuno. Ini dapat ditemukan :
1. Prasasti Kota Kapur (di Bangka, 686)
2. Prasasti karang Birahi (di Jambi, 686)
3. Prasasti kedukan Bukit (di Palembang 683)
4. Prasasti Talang Tuo (di Palembang 684)
Dari Sriwijaya inilah bahasa Melayu tersebar di daerah-daerah lain di
Nusantara, karena Sriwijaya pada waktu itu bukan saja sebagai pusat politik dan
perdagangan, tetapi juga pusat ilmu pengetahuan, terutama pengetahuan agama
Budha.
Pada abat XV Malaka menjadi pusat perdagangan dan penyebar agama Islam,
bahasa Melayu disebarkan ke seluruh Nusantara terutama di kota-kota pelabuhan.
Bahasa Melayu menjadi bahasa penghubung antara individu.
Dalam masa penjajahan Belanda bahasa Melayu dipakai sebagai bahasa
pengantar di sekolah-sekolah untuk mendidik calon pegawai negeri bangsa bumi
putra. Dengan demikian kedudukan bahasa Melayu semakin penting dan semakin
banyak pemakainya, yaitu dipakai oleh penduduk yang tersebar di seluruh Nusantara.
2. Faktor kemudahan bahasa
Ditinjau dari segi fonologi, morfologi, dan sintaksis, bahasa Melayu
mempunyai sistem yang sederhana, sehingga mudah dipelajari oleh orang lain.
Bahasa Melayu tidak mengenal tingkat-tingkat kehalusan bahasa (speech level)
seperti bahasa Jawa.
3. Faktor psikologi
Suku bangsa Jawa dan Sunda dengan suka rela menerima bahasa Melayu
menjadi bahasa nasional berdasarkan keinsyafan akan manfaat segera memiliki
bahasa nasional. Seandainya orang Jawa “ngotot “ agar bahasa Jawa diangkat
menjadi bahasa nasional, kemungkinan bahasa Melayu tidak menjadi bahasa
nasional, karena jumlah orang Jawa hampir separuh penduduk Indonesia.
7

4. Faktor kesanggupan bahasa


Jika suatu bahasa tidak mempunyai kesanggupan untuk dipakai menjadi bahasa
kebudayaan dalam arti yang luas, tentulah bahasa itu tak dapat berkembang menjadi
bahasa yang sempurna. Kenyataan membuktikan bahwa bahasa Indonesia adalah
bahasa yang dapat dipakai untuk mewadahi dan mengungkapkan kebudayaan
nasional. Jadi bahasa Indonesia sanggup menjadi bahasa nasional.
Bahasa Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat, sehingga perlu
dibakukan atau distandarkan.
a) Ejaan Van Ophuijen (1901)
b) Ejaan Soewandi (1947)
c) Ejaan yang Disempurnakan (EYD, tahun 1972)
d) Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan dan Pedoman Istilah
(1975)
e) Kamus besar Bahasa Indonesia, dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988)
Selain itu, Bahasa Indonesia juga memiliki fungsi-fungsi yang dimiliki oleh
bahasa baku, yaitu:
a) Fungsi pemersatu, bahasa Indonesia memersatukan suku bangsa yang berlatar budaya
dan bahasa yang berbeda-beda.
b) Fungsi pemberi kekhasan, bahasa baku memperbedakan bahasa itu dengan bahasa
yang lain.
c) Fungsi penambah kewibawaan, bagi orang yang mahir berbahasa indonesia dengan
baik dan benar.
d) Fungsi sebagai kerangka acuan, bahasa baku merupakan norma dan kaidah yang
menjadi tolok ukur yang disepakati bersama untuk menilai ketepatan penggunaan
bahasa atau ragam bahasa.

E. Kesamaan Bahasa
Bahasa dipakai oleh segolongan orang, suku bangsa atau oleh bangsa-bangsa.
Suatu bangsa mempunyai nenek moyang bahasa. Beberapa bahasa yang memiliki
kesamaan-kesamaan berarti berasal dari suatu nenek moyang bahasa yang sama. Bahasa-
bahasa yang mempunyai kesamaan-kesamaan itu disebut serumpun.
Hasil penelitian Wihelm Van Humbolt, sarjana besar berkembang Jerman
membuktikan bahwa bahasa Indonesia termasuk rumpun bahasa Austronesia (latin :
austro=selatan ; nesia, dari kata “nesos“ =kepulauan/pulau-pulau). Yang di maksud ialah
pulau-pulau di sebelah selatan benua Asia.
Secara geografis, bahasa-bahasa austronesia terbentang dari pulau Formusa
(Taiwan) di utara sampai New Zealand di selatan. Dari pulau Madagaskara di barat
sampai pulau Paas (Pasca) di timur (Samudra Pasifik, sebelah barat chili, Amerika
selatan). Jadi termasuk di dalamnya bahasa-bahasa di philipina, Malaysia, Indonesia,
dan pulau-pulau di lautan Teduh.
8

Rumpun bahasa-bahasa lainnya ialah :


(1) Rumpun Austro Asia, di benua Asia bagian selatan, Vietnam, Kamboja, Muangthai.
(2) Rumpun Tibeto Tionghoa, di Tibet dan RRC.
(3) Rumpun Indo Jerman, misalnya : bahasa Jerman, bahasa Sanksekerta.
(4) Rumpun Hamito Semit, misalnya : bahasa Arab, bahasa Persia.
(5) Rumpun Ural Altai, di benua Asia bagian barat laut dan perbatasan Eropa dan lain-
lain masih ada delapan rumpun bahasa yang tidak disebutkan di sini.
Bahasa Austronesia sendiri dibagi atas dua rumpun besar, yaitu :
a. Bahasa Austronesia sebelah Timur, meliputi :
1. Bahasa Polinesia
2. Bahasa di Melanesia
3. Bahasa Mikronesia
b. Bahasa Austronesia sebelah barat, meliputi :
1. Bahasa di Formusa
2. Bahasa di Philipina
3. Bahasa Nusantara (termasuk bahasa Indonesia).
Di lingkungan wilayah Indonesia ada beberapa yang tidak termasuk rumpun
bahasa Austronesia, misalnya; bahasa-bahasa Papua, bahasa-bahasa di bagian utara
pulau Halmahera, bahasa-bahasa di Ternate dan Tidore.

F. Idialek dan Dialek


Idialek ialah keseluruhan ciri khas seseorang dalam berbahasa (variasi bahasa
perseorangan).
Dialek ialah variasi bahasa yang ditandai oleh keseluruhan ciri-ciri khas kelompok
atau daerah tertentu, misalnya dialek Surabaya (“kon“ “awak peno “).

G. Tahun-tahun Penting
Tahun-tahun yang penting yang mengandung arti dalam perkembangan bahasa
Indonesia ialah :
1. Tahun 1901 disusunlah ejaan resmi bahasa Melayu oleh Ch. A.Van Ophuysen.
2. Tahun 1908 pemerintah Belanda mendirikan suatu badan penerbitan buku-buku
bacaan yang diberi nama “Commisio voor de Volslektuur“ (Taman bacaan yang di
tahun 1917 menjadi “Balai Pustaka”)
3. Pada tanggal 25 juli 1918 pemerintahan Belanda menetapkan undang-undang isinya
mengijinkan pemakaian bahasa Melayu sebagai bahasa resmi dalam Dewan Rakyat
(Volsraad).
4. Pada tanggal 28 Oktober 1928 bahasa Melayu diangkat sebagai bahasa persatuan.
9

5. Tahun 1933 resmi berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang bernama
“Angkatan Pujangga Baru“ dipimpin oleh Sultan Takdir Alisyahbana. Pada
angkatan ini bahasa Melayu keminangkabau-minangkabauan telah berkembang
menjadi bahasa Melayu modern yakni bahasa Indonesia.
6. Tahun 1938 kongres bahasa Indonesia I di Solo.
7. Tahun 1942-1945 masa pendudukan Jepang, bahasa Indonesia menjadi bahasa
utama dalam pergaulan dan dalam acara resmi.
8. Tahun 1945 bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi atau bahasa negara. (Pada
tanggal 18 Agustus 1945)
9. Tahun 1954 (28 Oktober-2 Nopember) konggres bahasa Indonesia II di Medan.
10. Tanggal 19 Maret 1947 berlakunya Ejaan suwandi atau Ejaan Republik.
11. Pada tanggal 17 Agustus 1972 diresmikan oleh Presiden RI tentang EYD.
12. Pada tahun 1975 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan meresmikan berlakunya
“Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan” dan “Pedoman
Pembentukan Istilah“.
13. Tahun 1978 konggres Bahasa Indonesia III di Jakarta.
10

Kompetensi :
Setelah mempelajari materi di bawah ini mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan
fungsi dan peran Bahasa Indonesia dalam pembangunan bangsa

BAB 2
FUNGSI DAN PERAN BAHASA INDONESIA
DALAM PEMBANGUNAN BANGSA

A. Fungsi Bahasa Indonesia dalam Pembangunan Bangsa


Pernyataan sikap, "Bertanah air satu, tanah air Indonesia. Berbangsa satu, bangsa
Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia" dalam Kongres Pemuda
28 Oktober 1928 merupakan perwujudan politik bangsa Indonesia yang menempatkan
bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) bangsa Indonesia. Bahasa
Indonesia telah menyatukan berbagai lapisan masyarakat ke dalam satu-kesatuan bangsa
Indonesia. Bahasa Indonesia mencapai puncak perjuangan politik sejalan dengan
perjuangan politik bangsa Indonesia dalam mencapai kemerdekaan pada tanggal 17
Agustus 1945. Hal ini dibuktikan dengan dijadikannya bahasa Indonesia sebagai bahasa
negara (lihat pasal 36 UUD 1945, lihat juga hasil amandemen UUD, Agustus 2002).
Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara telah
menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
(ipteks). Ipteks berkembang terus sejalan dengan perkembangan yang terjadi dalam
kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Perkembangan ipteks yang didukung oleh
perkembangan teknologi komunikasi dan informasi (seperti internet, e-mail, e-business,
e-commerce, TV-edukasi, dan lain-lain) melaju dengan pesat terutama memasuki abad
ke-21 sekarang.
Di sisi lain, perkembangan bahasa Indonesia terasa belum seimbang dengan
perkembangan ipteks dan zamannya. Pengalihan konsep-konsep ipteks dari bahasa asing
terutama bahasa Inggris belum seluruhnya dapat dicarikan padanannya dalam bahasa
Indonesia. Sebagai akibatnya, kosakata dan istilah asing itu mengalir deras ke dalam
khasanah kosakata bahasa Indonesia. Dengan demikian, peran strategis bahasa Indonesia
sebagai bahasa peradaban modern masih memerlukan pengembangan yang lebih serasi
dan serius sesuai dengan perkembangan ipteks.
1. Bahasa Indonesia dalam Menyongsong Peradaban Modern
Dalam rangka menuju ke arah peradaban modern, kita perlu memahami,
menguasai, dan mengembangkan konsep-konsep ipteks modern, yang pada umumnya
masih tertulis dalam bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Agar konsep-konsep
ipteks modern tidak hanya diserap oleh mereka yang memahami bahasa asing yang
jumlahnya tentu tidak sebanding dengan jumlah anggota masyarakat Indonesia yang
memerlukannya dalam rangka perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, maka
penyebarluasan konsep-konsep ipteks modern itu harus dilakukan dengan
menggunakan bahasa Indonesia.
11

Dalam rangka lebih memasyarakatkan peristilahan modern itu, istilah-istilah


yang telah berhasil disusun kemudian diolah lebih lanjut menjadi berbagai kamus
istilah. Tentu saja, selain mengandung padanan istilah dalam bahasa Indonesia, kamus
istilah itu juga mencantumkan rumusan atau penjelasan setiap istilah yang
dicantumkan. Sampai sekarang, telah berhasil disusun tidak kurang dari 40 buah
kamus istilah. Penerbitan daftar dan kamus istilah itu sangat penting dan bermanfaat
dalam rangka memasyarakatkan dan menyebarluaskan perangkat istilah yang sudah
dibakukan. Jika upaya penerbitan dan publikasi itu tidak dilakukan, maka hasil
penyusunan dan pembakuan istilah itu akan tetap tertinggal sebagai harta karun.
Para ilmuwan dari berbagai disiplin diharapkan menggunakan istilah yang telah
dibakukan itu dengan taat asas. Oleh karena itu, harus pula diupayakan adanya arus
balik yang dapat dimanfaatkan sebagai masukan dalam proses pengembangan bahasa
selanjutnya. Dipandang dari segi pembinaan dan pengembangan bahasa, masuknya
istilah-istilah yang sudah dibakukan itu ke dalam buku ajar, makalah, laporan
penelitian, jurnal-jurnal ilmiah, karangan-karangan ilmiah lainnya, dan media
komunikasi dan informasi (baca: komputer) merupakan langkah berikutnya yang
tidak dapat ditawar-tawar lagi. Bahasa Indonesia memiliki dua sifat utama yang
menguntungkan, yaitu bentuk yang sederhana, sehingga mudah dipelajari dan
kelenturan (fleksibel) untuk dikembangkan. Hal ini didukung oleh latar belakang
sejarah kebahasaan yang kuat. Kaum cerdik-cendekia yang hidup pada zaman
kemerdekaan pun, pada umumnya yakin bahwa bahasa Indonesia mempunyai
kemampuan berkembang luas dengan cepat di tanah air ini, dari Sabang sampai
Merauke. Danzer Carr misalnya, berkeyakinan bahwa bahasa Indonesia dapat
menggantikan kedudukan bahasa Inggris di Asia. Bahasa Indonesia tidak diragukan
lagi kemampuannya untuk menjadi bahasa ipteks modern.
2. Bahasa Indonesia dalam Pengembangan Ipteks
Bahasa ragam ipteks itu harus hemat dan cermat karena menghendaki respons
yang pasti dari pendengar dan pembacanya. Kaidah-kaidah sintaktis dan bentukan-
bentukan bahasa dan ranah penggantinya harus mudah dipahami. Kehematan
penggunaan kata, kecermatan dan kejelasan sintaktis yang berpadu dengan
penghapusan unsur-unsur yang bersifat pribadi dapat menghasilkan ragam ipteks
yang umum.
Kalimat ipteks yang panjang-panjang hanya dapat direspons secara langsung
oleh pembaca yang terlatih. Pembaca dan penyimak ragam bahasa ipteks itu
diharapkan tidak memperoleh informasi yang keliru. Kelugasan, keobjektifan, dan
keajegan/konsistensi bahasa ipteks itulah yang membedakannya dengan bahasa
ragam sastra yang subjektif, halus, dan lentur, sehingga interpretasi pembaca yang
satu kerapkali sangat berbeda dengan interpretasi dan apresiasi pembaca lainnya.
12

Ihwal pengembangan bahasa Indonesia ragam ipteks, hal itu dapat dihubungkan
dengan klasifikasi bidang ilmu yang lazim berlaku di Indonesia, yaitu ilmu
pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dan ilmu pengetahuan budaya. Yang
menjadi masalah sekarang adalah unsur ip (ilmu pengetahuan) pada ipteks itu
merujuk pada bidang ilmu yang mana? Apalagi sekarang ini telah berkembang
teknologi komunikasi dan informasi, seperti internet, e-mail, e-business, e-commerce,
cybertechnology, teleducation, cybercity, dan lain-lain.
Berdasarkan pemakaian kata ilmu pengetahuan sebagai padanan kata science
(s) dengan muatan makna natural science, maka unsur ip pada kata ipteks itu merujuk
pada ilmu pengetahuan alam. Dengan demikian, bahasa Indonesia ragam ipteks itu
adalah bahasa Indonesia yang digunakan dalam bidang ilmu pengetahuan alam dan
teknologi (science and technology).
Upaya pengembangan konsep ipteks modern dalam bahasa Indonesia itu hanya
mungkin dapat dilakukan dengan baik apabila istilah-istilah yang biasa digunakan
dalam bidang ipteks itu sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Hal itu
berarti, untuk dapat mengembangkan bahasa Indonesia menjadi ragam ipteks,
langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyusun peristilahannya.
Untuk keperluan itulah Pusat Bahasa yang ada sekarang, dengan bantuan
sejumlah pakar perguruan tinggi, lembaga-lembaga penelitian di Indonesia telah
berhasil menyusun peristilahan untuk berbagai bidang ilmu, dengan memberikan
prioritas pada empat bidang ilmu dasar, yakni fisika, kimia, biologi, dan matematika.
Keempat bidang ilmu dasar itu masing-masing diberi judul Glosarium Fisika,
Glosarium Kimia, Glosarium Biologi, dan Glosarium Matematika.
Di tengah perubahan sosial-politik dan teknologi informasi serta komunikasi
yang ada sekarang, apalagi menuju bahasa Indonesia menjadi peradaban modern,
para pakar dari berbagai disiplin ilmu harus bahu-membahu menjadikan bahasa
Indonesia sejajar dengan bahasa asing lainnya, terutama bahasa Inggris.
Kita ambil contoh kata valid yang dipungut dari bahasa Inggris. Orang Inggris
menyerap kata itu dari kata validus dari bahasa Latin. Dengan menggunakan proses
morfologis bahasa Inggris, terbentuklah kata-kata validity, validate, validly, dan
validness. Kata-kata itu dalam kamus bahasa Inggris ada dalam satu lema (entry).
Jika kita bandingkan kata-kata pungut dalam kamus bahasa Inggris dengan kata
pungut dalam kamus bahasa Indonesia, maka akan terlihat adanya perbedaan yang
mencolok.
Dalam rangka mengembangkan kosakata bahasanya, orang Inggris
mempertahankan sistem dan kaidah kebahasaannya secara ajeg (konsisten). Sikap
bahasa yang demikian itu tidak tampak dalam kamus-kamus bahasa Indonesia,
termasuk Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam edisi terbarunya. Kata valid dan
validitas diserap langsung dari bahasa Inggris tanpa mengalami proses morfologis
bahasa Indonesia, sehingga kedua kata tersebut merupakan dua lema yang berbeda.
13

Untuk kata valid itu, para leksikograf Kamus Besar Bahasa Indonesia tidak
menurunkan kevalidan sebagai padanan kata validness. Bahkan akhir-akhir ini kita
sering mendengar dan membaca pemakaian kata validasi sebagai padanan kata
validation.
Penyerapan kata validate sangat sulit bahkan tidak mungkin dilakukan tanpa
proses morfologis bahasa Indonesia. Dengan menggunakan kaidah morfologi bahasa
Indonesia, dapat diturunkan kata memvalidkan. Dengan menggunakan kaidah
morfologi bahasa Indonesia, penyerapan itu sesungguhnya dapat berlangsung lebih
mudah dan ajeg. Dari kata valid dapat diturunkan kata-kata kevalidan, memvalidkan,
pemvalidan, dan secara valid, yang merupakan sinonim kata keabsahan,
mengabsahkan, pengabsahan, dan secara absah.
Dari uraian di atas dapat disenaraikan karakteristik bahasa Indonesia ragam
ipteks sebagai berikut: Pertama, kelugasan dan kecermatan yang menghindari segala
macam kesamaran dan ketaksaan (ambiguity). Kedua, keobjektifan yang sedapat
mungkin tidak menunjukkan selera perseorangan (impersonal). Ketiga, pembedaan
dengan teliti, nama, ciri, atau kategori yang mengacu ke objek penelitian atau
telaahnya agar tercapai kecermatan dan ketertiban bernalar. Keempat, penjauhan
emosi agar tidak mencampurkan perasaan sentimen dalam tafsirannya. Kelima,
kecenderungan membakukan makna kata dan ungkapannya dan gaya pemeriannya
berdasarkan perjanjian. Keenam, langgamnya tidak bombastis atau dogmatis, dan
ketujuh, penggunaan kata dan kalimat dengan ekonomis agar tidak lebih banyak
daripada yang diperlukan.
Kini, 28 Oktober 2015 kita berada pada jarak 87 tahun dari para pendahulu kita
yang sangat peduli terhadap martabat bahasa Indonesia itu. Marilah kita bersama-
sama merefleksi kembali apakah keyakinan, kebulatan semangat kebangsaan
(nasionalisme) untuk mempersatukan berbagai kelompok masyarakat, sehingga
bahasa Indonesia sebagai sarana penghubung antarsuku, antardaerah, anatarbudaya,
dan sarana pengembangan ipteks modern itu digunakan dengan sebaik-baiknya?
Malu, rasanya aku jadi bangsa Indonesia (meminjam istilah Taufiq Ismail), kita yang
hidup di alam kemerdekaan dengan kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi
sekarang tidak dapat memanfaatkan peluang untuk mempersatukan seluruh
komponen masyarakat dan bangsa ini.
Namun, ada satu harapan baru ketika para pemuda kita lima belas tahun lalu,
bersamaan dengan peringatan Sumpah Pemuda 2000 telah mengikrarkan adanya
Sumpah Internet Pemuda, yang dapat diakses langsung dari seluruh pelosok tanah air.
Ini merupakan sebuah upaya nyata agar masyarakat dan bangsa kita di tengah krisis
multidimensional sekarang tidak terpecah-pecah dan berakibat pada disintegrasi
bangsa. Oleh karena itu, perlu dukungan dan tindak lanjut dari berbagai kelompok
masyarakat, seperti elite politik, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, pers, para
pemuda, dan mahasiswa agar Sumpah Internet Pemuda tersebut dapat
diimplementasikan menuju peradaban modern.
14

B. Peran Bahasa Indonesia Dalam Pembangunan Bangsa


Bahasa Indonesia memiliki peran penting di dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. Peran tampak di dalam kehidupan bermasyarakat di berbagai
wilayah tanah tumpah darah Indonesia. Komunikasi perhubungan pada berbagai
kegiatan masyarakat telah memanfaatkan bahasa Indonesia di samping bahasa daerah
sabagai wahana dan piranti untuk membangun kesepahaman, kesepakatan dan persepsi
yang memungkinkan terjadinya kelancaran pembangunan masyarakat di berbagai
bidang. Bahasa Indonesia sebagai milik bangsa, dalam perkembangan dari waktu ke
waktu telah teruji keberadaannya, baik sebagai bahasa persatuan maupun sebagai resmi
negara. Adanya gejolak dan kerawanan yang mengancam kerukunan dan kesatuan
bangsa Indonesia bukanlah bersumber dari bahasa persatuannya, bahasa Indonesia yang
dimilikinya, melainkan bersumber dari krisis mutidimensional terutama krisis ekonomi,
hukum, dan politik, serta pengaruh globalisasi.
Justru, bahasa Indonesia hingga kini menjadi perisai pemersatu yang belum pernah
dijadikan sumber permasalahan oleh masyarakat pemakainya yang berasal dari berbagai
ragam suku dan daerah. Hal ini dapat terjadi, karena bahasa Indonesia dapat
menempatkan dirinya sebagai sarana komunikasi efektif, berdampingan dan bersama-
sama dengan bahasa daerah yang ada di Nusantara dalam mengembangkan dan
melancarkan berbagai aspek kehidupan dan kebudayaan, termasuk pengembangan
bahasa-bahasa daerah. Dengan demikian bahasa Indonesia memiliki peran penting di
dalam memajukan pembangunan masyarakat di dalam berbagai aspek kehidupan.
Peran bahasa Indonesia semakin penting dalam era otonomi daerah.
Penyelenggaraan otonomi daerah yang dilaksanakan dengan prinsip-prinsip demokrasi,
peran serta masyarakat akan mendorong dan menumbuhkan prakarsa dan kreativitas
daerah. Hal ini tercermin dari kewenangan-kewenangan yang telah diserahkan ke daerah
dalam wujud otonomi yang luas, nyata, dan tanggung jawab. Dengan prinsip tersebut
diharapkan dapat mengakselarasi pencapaian tujuan yang telah direncanakan dalam
pembangunan masyarakat.
Pengembangan Bahasa, termasuk sastra berhubungan dengan kewenangan
pemerintahan di bidang pendidikan dan kebudayaan, baik yang dimiliki pemerintah
pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Kewenangan pemerintah pusat berupa penyediaan
standar, pedoman, fasilitas dan bimbingan dalam rangka pengembangan bahasa dan
sastra. Sedangkan kewenangan untuk penyelenggaraan kajian sejarah dan nilai
tradisionil serta pengembangan bahasa dan budaya daerah merupakan bagian dari
kewenangan provinsi. Oleh karena bahasa dan sastra daerah pada dasarnya berkembang
dari masyarakat di desa-desa, kampung-kampung serta kelompok masyarakat tradisional
yang secara kewilayahan berada dalam wilayah kabupaten/kota, maka mulai di
kabupaten/kota dilakukan kegiatan operasional pengembangan bahasa dan sastra daerah.
15

Di tingkat nasional sudah ada Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional


sebagai lembaga yang mendapat mandat dari pemerintah untuk melakukan perencanaan
bahasa. Pada tingkat provinsi dan kabupaten/kota dibentuk lembaga perpanjangan
penyelenggaraan Pusat Bahasa berupa balai atau kantor bahasa yang berfungsi untuk
membina dan mengembangkan bahasa dan sastra. Penyelenggaraan kegiatan pada
lembaga bahasa di tingkat provinsi/kabupaten ini terkait langsung dengan rangkaian
penyelenggaraan pendidikan dan kebudayaan.
Pembinaan dan pengembangan bahasa pada era otoda seharusnya semakin
mendapat tempat yang penting, karena era otoda memerlukan, sumberdaya manusia
yang berkualitas, akselarasi manajemen yang tepat, masyarakat yang peduli, dan
keterhubungan pihak lain secara komunkatif. Keseluruhan unsur tadi berkaitan langsung
dengan bahasa sebagai piranti utama dalam berinteraksi.
Perubahan sistem pemerintahan negara dari sentralistik menjadi desentralistik
yang diwujudkan melalui sistem otonomi daerah memberikan peluang dan tantangan
bagi upaya pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia. Bahasa mengalami
perubahan sejalan dengan perubahan yang terjadi di dalam masyarakat penuturnya.
Bahasa digunakan sebagai sarana ekspresi dan komunikasi dalam kegiatan kehidupan
manusia, seperti dalam bidang kebudayaan, ilmu, dan teknologi.
Seiring dengan perkembangan zaman, kebudayaan dan ilmu serta teknologi
berkembang sedemikian rupa. Bahasa Indonesia pun berkembang mengikuti
perkembangan tersebut. Pesatnya perkembangan kebudayaan, ilmu dan teknologi di
dunia Barat membawa pengaruh terhadap perkembangan bahasa Indonesia, khususnya
di bidang kosakata/ peristilahan. Di samping itu, luas wilayah pemakaian (tersebar
dipulau-pulau yang secara geografis terpisahkan dengan oleh laut) dan besarnya jumlah
penutur yang berlatar belakang (bahasa daerah dan kebudayaannya), memungkinkan
terjadinya perubahan-perubahan di tiap-tiap daerah yang lama kelamaan akan
berkembang menjadi dialek tersendiri. Oleh karena itu, perlu diadakan kontak terus
menerus antara daerah yang satu dan daerah yang lain untuk menjaga keutuhan bahasa
Indonesia.
Perkembangan bahasa Indonesia itu harus diarahkan menuju ragam bahasa baku.
Selanjutnya, ada beberapa dasar pembinaan bahasa Indonesia yang diharapkan
memberikan semangat dan motivasi tinggi dalam membina dan mengembangkan
bahaasa Indoensia. Landasan tersebut bersifat keagamaan (religius), kesejarahan
(historis, politis), kecendekian (intelektual), bersifat kemasyarakatan (sosial). Dengan
landasan tersebut, pembinaan bahasa Indonesia yang dilakukan pada era otonomi daerah
menjadi kuat, tidak tergoyahkan oleh kondisi yang bersifat memecah-belah, dan dapat
dijadikan referensi dalam menjaga kesatuan dan persatuan demi keutuhan
bangsaIndonesia. Landasan yang bersifat keagamaan adalah bahwa bahasa Indonesia itu
karunia Tuhan yang harus kita syukuri. Membina dan mengembangkan bahasa Indonesia
16

berarti mensyukuri karunia Tuhan. Sebaliknya, mengabaikan pemeliharaan bahasa


Indonesia adalah sama dengan tidak mensyukuri karunia Tuhan. Landasan kedua bersifat
kesejarahan, yaitu bahasa Indonesia merupakan amanat para pejuang atau pahlawan
bangsa.
Butir ke-3 Sumpah Pemuda tahun 1928 menyatakan, bahwa "Kami putra-putri
Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia". Demikian pula Pasal 36
UUD 1945 menyatakan, bahwa "Bahasa negara adalah bahasa Indonesia". Generasi
penerus harus mengamalkan amanat itu. Menghargai bahasa Indonesia dengan jalan
“Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar dalam suasana resmi” berarti
mengamalkan amanat para pahlawan tersebut.
Dasar berikutnya adalah landasan kecendekiaan. Bahasa Indonesia adalah bahasa
yang mampu mengemban konsep, mutu, dan dan keilmiahan, karena diemban oleh
intelektualisme para cendekiawan atau orang terpelajar, bukan awam. Kemampuan
intelektual orang terpelajar jauh lebih tinggi daripada orang awam. Pengalaman
intelektual mereka pun jauh lebih banyak daripada orang awam. Atas dasar itu, bahasa
Indonesia orang terpelajar harus lebih bermutu daripada orang awam. Bahasa Indonesia
beragam. Dasar ini juga merupakan landasan dalam pembinaan bahasa Indonesia, karena
secara sosial, penutur bahasa Indonesia berasal dari berbagai strata dan kelompok
masyarakat. Ragam bahasa Indonesia di antaranya: ragam baku, nonbaku, ragam ilmiah,
dan ragam lainnya.
Fokus dan Arah Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia Pada prinsipnya,
pembinaan dan pengembangan bahasa adalah upaya dan penyelenggaraan kegiatan yang
ditujukan untuk memelihara dan mengembangkan bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan
pengajaran bahasa asing. ini supaya dapat memenuhi fungsi dan kedudukannya.
Pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia difokuskan melalui usaha-usaha
pembakuan agar tercapai pemakaian yang cermat, tepat dan efisien dalam
berkomunikasi. Sehubungan dengan itu, perlu diciptakan kaidah (aturan) dalam bidang
ejaan, kosakata/istilah, dan tata bahasa.
Dalam usaha pembinaan bahasa Indonesia perlu diarahkan dan didahulukan pada
bahasa Indonesia ragam tulis karena coraknya lebih tetap dan batas cakupannya lebih
jelas. Di samping itu, pembakuan lafal perlu dilakukan sebagai pegangan guru, penyiar
televisi/radio dan masyarakat luas.
Untuk kepentingan praktis, telah diambil sikap bahwa; (1) pembinaan terutama
difokuskan kepada penuturnya, yaitu masyarakat pemakai bahasa Indonesia dan (2)
pengembangan terutama difokuskan kepada bahasa dalam segala aspeknya.
Pembinaan dan pengembangan bahasa mencakup dua arah, yaitu (1)
pengembangan bahasa mencakup dua masalah pokok (masalah bahasa dan masalah
kemampuan/sikap) dan (2) pembinaan yang mencakup dua arah (masyarakat luas dan
generasi muda).
17

Pengembangan aspek bahasa meliputi ragam bahasa lisan dan bahasa tulis. Ragam
bahasa lisan mencakup lafal, tata bahasa, kosakata/istilah dan ejaan. Dalam ragam
bahasa tulis yang digarap lebih dahulu adalah ejaan, dengan peresmian penggunaan
Ejaan Yang Disempurnakan oleh Presiden Republik Indonesia tahun 1972. Kemudian,
disusul dengan usaha pembakuan di bidang kosakata/istilah yang pemakaiannya
diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1975.
Di samping itu, dilakukan pula pengolahan kembali Kamus Umum Bahasa
Indonesia karangan M.J.S. Poewadarminta oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa yang terbit mulai cetakan V tahun 1976. Kemudian, pada tahun 1988 terbit
Kamus Besar Bahasa Indonesia dan disempurnakan dalam edisi kedua yang terbit
pertama tahun 1991.
Usaha pembakuan dalam bidang tata bahasa secara resmi telah dirintis dengan
diadakannya Seminar Penyusunan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia 1988. Dalam hal
pengembangan kemampuan dan sikap, telah ditempatkan dasar yang kuat, yaitu
dicantumkannya di dalam GBHN bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa
dilakukan dengan mewajibkan peningkatan mutu pengguna bahasa Indonesia, sehingga
penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar dapat menjangkau seluruh lapisan
masyarakat. Di samping itu, telah dan terus dilakukan pengembangan kemampuan dan
sikap positif pemakai bahasa Indonesia dengan media televisi dan radio.
Ada pula upaya penyuluhan kebahasaan secara langsung bagi para pelaku ekonomi
dan pembangunan, baik ditingkat pusat maupun ditingkat daerah, di berbagai propinsi.
Dengan demikian, diharapkan akan diperoleh keseragaman kaidah dan penerapannya
dalam berbagai laras bahasa (jenis penggunaan bahasa) sehingga tujuan pengembangan
bahasa-salah satu tujuan itu adalah pembakuan bahasa dapat dicapai. Pada era otoda ini,
pembinaan bahasa tetap mengacu kepada sikap kebijakan pembinaan bahasa, yaitu
ditujukan kepada masyarakat penutur bahasa.
Pembinaan ini mencakup dua arah, yaitu vertikal dan horizontal. Arah vertikal
dengan sasaran pembinaan kepada generasi muda, termasuk pelajar dan mahasiswa,
yang merupakan generasi penerus. Arah horizontal dengan sasaran pembinaan kepada
generasi sekarang, yaitu masyarakat luas minus generasi muda. Pada masyarakat
generasi sekarang diutamakan pembinaan ragam bahasa tulis, karena merekalah yang
akan mewariskan penggunaan bahasa yang baik dan benar kepada generasi penerus.
Berdasarkan paparan tersebut di atas, dapat dipahami bahwa pembinaan dan
pengembangan bahasa pada era otoda sekarang ini meliputi usaha pengembangan bahasa
(yang salah satu sasarannya berupa pembakuan bahasa) dan usaha meningkatkan
kemampuan dan sikap penutur bahasa Indonesia agar dapat menggunakan bahasa
Indonesia dengan baik dan benar.
18

Pembinaan bahasa Indonesia sudah lama dilakukan, bahkan sejak zaman Pejangga
Baru (1933). Tetapi, sampai sekarang masih banyak kendala yang dihadapi dan
dialaminya, khususnya di era otoda. Masalah utama adalah persoalan sikap terhadap
pembinaan bahasa Indonesia. Ada sebagian masyarakat pengguna bahasa Indonesia yang
meremehkan bahasa Indonesia. Sikap mereka terhadap pembinaan bahasa Indonesia
acuh tak acuh. Mereka menilai; (1) pelaksanaan pembinaan bahasa Indonesia kurang
menarik, (2) hasilnya kurang nyata, (3) bahasa Indonesia dianggap mudah. Karena
dianggap mudah, orang Indonesia tidak perlu mempelajari bahasa Indonesia.
Persoalan sikap tersebut semakin menjadi masalah, karena sikap negatif itu bukan
berasal dari kelompok awam, melainkan kelompok cendekia atau terpelajar. Mereka itu
sebagian adalah pelaku utama dan pemegang peranan penting dalam roda otonomi
daerah Jika orang awam bersikap negatif terhadap bahasa Indonesia, itu dapat dipahami.
Tetapi, jika orang terpelajar bersikap seperti orang awam itu, tampaknya tidak berterima.
Masalahnya, orang awam berbeda dengan orang terpelajar. Orang awam tidak banyak
berkaitan dengan dunia pemikiran. Kegiatannya terbatas pada pemenuhan kebutuhan
hidup sehari-hari. Sedangkan seorang terpelajar berkaitan erat dengan dunia pemikiran.
Pemikiran-pemikirannya melahirkan konsep-konsep, perencanaan, dan kebijakan-
kebijakan. Karena orang terpelajar pencetus konsep, perencana kegiatan, dan pembuat
kebijakan, orang terpelajar selalu bergulat dengan masalah mutu sumberdaya manusia.
Dalam pergulatan itulah bahasa Indonesia tampil sebagai piranti yang penting karena
bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi, bahasa negara. Berdasarkan hal tersebut di
atas, dapat dipahami bahwa orang terpelajar (kita semua) pada hakikatnya
berkepentingan dengan pembinaan bahasa Indonesia. Bahkan orang terpelajar dengan
sendirinya menjadi pembina bahasa Indonesia. Sebab sekali lagi, orang terpelajar terlibat
dalam dunia pemikiran.
Sebab lain, orang terpelajar sering terlibat dalam suasana resmi, suasana
kenegaraan, dan yang terakhir, orang terpelajar berpengaruh kuat terhadap orang lain
(anak buah, bawahan). Alasan tersebut di atas yang menjadikan kelompok terpelajar, kita
semua, harus berperan sebagai pembina bahasa Indonesia. Konsekuensi logisnya adalah
mau tak mau, kita haruslah menjadi contoh, teladan, anutan, model bagi orang lain.
Setidaknya, bahasa Indonesia kita harus bermutu. Apakah bahasa Indonesia yang
bermutu itu? Bahasa Indonesia yang bermutu ialah bahasa Indoensia yang bersih dari
kesalahan, baik kesalahan kaidah, kesalahan logika, maupun kesalahan budaya.
Kesalahan kaidah sudah sering dibahas. Jadi pembicaraannya tidak perlu untuk
sementara. Kesalahan logika tampak pada penggunaan pola seperti: “Dalam seminar itu
membicarakan masalah pengentasan kemiskinan”. “Beberapa seniman diberikan
penghargaan”, dan yang lain. Kesalahan budaya terlihat pada penggunaan kata-kata
asing seperti oke, sorry, point, complain, no comment, coffee morning, dan yang lain.
19

Begitu pula penggunaan pola-pola seperti: “tujuan daripada pembangunan”, “banyak


teori-teori”, “tidak masalah”, dan yang lain. Pola-pola seperti itu merupakan kesalahan
budaya yang melahirkan kesalahan kaidah.
Bacaan Halim, Amran. 1976. Politik bahasa Nasional II. Jakarta: Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa. Halim, Amran. 1979. Pembinaan Bahasa Indonesia. Jakarta:
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Kridalaksana, Harimurti. 1976. Fungsi
Bahasa dan Sikap Bahasa. Ende: Nusa Indah. Mawardi, Oentarto S. Peran Bahasa dan
Sastra Daerah dalam Memperkukuh Ketahanan Budaya Bangsa. Makalah dalam
Kongres Bahasa Indonesia VIII, Jakarta, 14 – 17 Oktober 2003 Sugono, Dendy. 1999.
Berbahasa Indoensia dengan Benar. Jakarta: Puspa Swara. Sumowijoyo, G. Susilo. 2001.
Pos Jaga Bahasa Indonesia.
Surabaya: Unipress Unesa Abstrak Bahasa Indonesia memiliki peran penting di
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Peran tampak di dalam
kehidupan bermasyarakat di berbagai wilayah tanah tumpah darah Indonesia.
Komunikasi perhubungan pada berbagai kegiatan masyarakat telah memanfaatkan
bahasa Indonesia di samping bahasa daerah sabagai wahana dan piranti untuk
membangun kesepahaman, kesepakatan dan persepsi yang memungkinkan terjadinya
kelancran pembangunan masyarakat di berbagai bidang Bahasa Indonesia sebagai milik
bangsa, dalam perkembangan dari waktu ke waktu telah teruji keberadaannya, baik
sebagai bahasa persatuan maupun sebagai resmi negara.
Adanya gejolak dan kerawanan yang mengancam kerukunan dan kesatuan bangsa
Indonesia bukanlah bersumber dari bahasa persatuannya, bahasa Indonesia yang
dimilikinya, melainkan bersumber dari krisis mutidimensional terutama krisis ekonomi,
hukum, dan politik, serta pengaruh globalisasi. Justeru, bahasa Indonesia hingga kini
menjadi perisai pemersatu yang belum pernah dijadikan sumber permasalahan oleh
masyarakat pemakainya yang berasal dari berbagai ragam suku dan daerah. Hal ini dapat
terjadi, karena bahasa Indonesia dapat menempatkan dirinya sebagai sarana komunikasi
efektif, berdampingan dan bersama-sama dengan bahasa daerah yang ada di Nusantara
dalam mengembangkan dan melancarkan berbagai aspek kehidupan dan kebudayaan,
termasuk pengembangan bahasa-bahasa daerah.
Dengan demikian bahasa Indoensia dan juga bahasa daerah memiliki peran
penting di dalam memajukan pembangunan masyarakat di dalam berbagai aspek
kehidupan. Peran bahasa Indoensia dan bahasa daerah semakin penting di dalam era
otonomi daerah. Penyelenggaraan otonomi daerah yang dilaksanakan dengan prinsip-
prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, akan mendorong dan menumbuhkan prakarsa
dan kreativitas daerah. Hal ini tercermin dari kewenangan-kewenangan yang telah
diserahkan ke daerah dalam wujud otonomi yang luas, nyata, dan tanggung jawab.
Dengan prinsip tersebut diharapkan dapat mengakselarasi pencapaian tujuan yang telah
direncanakan dalam pembangunan masyarakat.
20

C. Peranan Bahasa Indonesia dalam Kehidupan Sehari-Hari


“kami poetera dan poeteri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, Bahasa
Indonesia”. Itulah penggalan dari isi Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada 28 Oktober
1928. Lahirnya Sumpah Pemuda merupakan sebuah awal menjadikannya bahasa
Indonesia sebagai bahasa Negara.
Dalam era globalisasi, kita sebagai warga negara Indonesia sudah sepantasnya
bangga dan menjunjung tinggi bahasa persatuan kita, yaitu bahasa Indonesia. Jati diri
bahasa Indonesia perlu dibina dan dimasyarakatkan. Hal ini diperlukan, agar bangsa
Indonesia tidak terbawa arus oleh pengaruh budaya asing yang masuk ke Indonesia.
Bahasa Indonesia memiliki fungsi sebagai berikut :
a. Sebagai Bahasa Nasional
Sebagai lambang kebanggaan dan identitas nasional, bahasa persatuan kita
memiliki nilai-nilai sosial budaya luhur bangsa yang harus dipertahankan dan
direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari tanpa ada rasa renda diri, malu, dan acuh
tak acuh. Indonesia memiliki banyak budaya dan bahasa yang berbeda-beda hampir
di setiap daerah. Pastinya, tidak akan mungkin kita bisa saling memahami ketika
berkomunikasi antar sesama. Oleh karena itulah betapa pentingnya kedudukan bahasa
Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa dan sebagai alat penghubungan
antarbudaya dan daerah.
b. Bahasa Negara
Dalam “Hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional” yang
diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25 s.d. 28 Februari 1975 dikemukakan bahwa
dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia memiliki fungsi
sebagai; bahasa dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta menjadi bahasa resmi kenegaraan,
pengantar di lembaga-lembaga pendidikan/pemanfaatan ilmu pengetahuan,
pengembangan kebudayaan, pemerintah dll. Fungsi itu harus dilaksanakan, sebab
itulah ciri penanda bahwa suatu bahasa dapat dikatakan berkedudukan sebagai bahasa
negara.
Era globalisasi merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia untuk dapat
mempertahankan diri di tengah-tengah pergaulan antarbangsa yang sangat rumit.
Untuk itu, bangsa Indonesia harus mempersiapkan diri dengan baik dan harus bangga
menggunakan bahasa indonesia dalam kehidupan sehari-hari.
Kalau kita cermati, sebenarnya ada satu lagi fungsi bahasa yang selama ini
kurang disadari oleh sebagian anggota masyarakat, yaitu sebagai alat untuk berpikir.
Dalam proses berpikir, bahasa selalu hadir bersama logika untuk merumuskan
konsep, proposisi, dan simpulan. Segala kegiatan yang menyangkut penghitungan
atau kalkulasi, pembahasan atau analisis, bahkan berangan-angan atau berkhayal,
hanya dimungkinkan berlangsung melalui proses berpikir disertai alatnya yang tidak
lain adalah bahasa.
21

Sejalan dengan uraian di atas dapat diformulasikan bahwa makin tinggi


kemampuan berbahasa seseorang, makin tinggi pula kemampuan berpikirnya. Makin
teratur bahasa seseorang, maka makin teratur pula cara berpikirnya. Dengan
berpegangan pada formula itulah, dapat dikatakan bahwa seseorang tidak mungkin
menjadi intelektual tanpa menguasai bahasa. Seorang intelektual pasti berpikir, dan
pasti memerlukan bahasa indonesia untuk mempermudah dalam proses berfikirnya.

D. Peranan Bahasa Indonesia dalam Konteks Ilmiah


Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Negara Republik Indonesia, sebagaimana
yang telah disahkan pada sumpah pemuda 1928. Selain itu bahasa Indonesia mempunyai
kedudukan yang sangat penting bagi waga Negara Indonesia. Dalam peranannya bahasa
Indonesia dalam penulisan atau dalam konteks ilmiah sangatlah penting. Dikarenakan
dalam penulisan ilmiah membutuhkan penggunaan tata bahasa Indonesia yang baik.
Penggunaan tata bahasa Indonesia dalam konteks ilmiah ialah penggunaan tata bahasa
yang telah mengikuti aturan EYD yang benar; dalam segi penggunaan tata bahasa, segi
pemilihan kata, dan segi penggunaan tanda baca.

E. Cara Melestarikan Bahasa Indonesia Sebagai Alat Pemersatu Bangsa


Sebagai salah satu dari pemuda Indonesia, saya melestarikan Bahasa Indonesia
dengan cara bersikap bahasa. Bersikap bahasa menurut saya adalah menggunakan
bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu
untuk rajin mengungkapkan pemikiran saya dengan bahasa Indonesia dan dengan sering
membaca karena membaca merupakan salah satu pintu terbukanya wawasan sehingga
kemampuan bahasa akan bertambah. Bahasa Indonesia dapat lestari karena setelah
membaca kumpulan ide dengan bahasa Indonesia kemudian kita salurkan ide kita sendiri
dengan tulisan dalam bahasa Indonesia juga bila hal ini terjadi terus menerus dan
berkesinambungan. Selain itu, cara lain adalah dengan mengurangi pengunaan bahasa
gaul yang kebarat-baratan sehingga bahasa Indonesia tidak tergeser nilai keberadaannya.
22

Kompetensi (Pengembangan):
Setelah mempelajari materi di bawah ini mahasiswa mampu berbahasa dengan
menggunakan kalimat yang baik dan benar.

BAB 3
KALIMAT

A. Kalimat
1. Pengertian Kalimat
Banyak sekali batasan tentang kalimat. Secara garis besar batasan itu dapat
dikelompokan menjadi dua, yaitu:
a) Menurut maknanya, kalimat ialah kesatuan bahasa yang terkecil yang mengandung
pikiran yang terlengkap
b) Menurut strukturnya, kalimat ialah satu bagian ujaran yang didahului oleh
kesenyapan, sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu telah
selesai.
Contoh :
Kopi itu telah habis diminum kawan saya
Perempuan itu tidak berubah kelakuanya
Pantai Parangtritis banyak dikunjungi oleh wisatawan
2. Arti atau makna kalimat dipengaruhi oleh :
a) Bentuk kata adalah wujud kata itu sendiri. Bentuk kata sangat menentukan arti
kalimat. Maksudnya, perbedaan bentuk kata dapat menyebabkkan perbedaan
maksud kalimat.
Contoh :
Kakak Herman dipanggil Edi
Kakak Herman memanggil Edi
b) Intonasi adalah lagu kalimat. Intonasi juga berfungsi menentukan arti ka-limat.
Contoh :
Kakak/Herman memanggil Edi
Kakak Herman/memanggil Edi
23

c) Situasi adalah keadaan pada waktu kalimat tersebut diucapkan. Munculnya suatu
kalimat berhubungan erat dengan situasi/. Oleh karena itu, perbedaan situasi
menyebabkan perbedaan makna kalimat.
Contoh :
Dina sakit. (memberi tahu)
Dina sakit ? (sangsi)
Dina sakti ! (seruan)
3. Hakikat kalimat Bahasa Indonesia (BI)
a. Kalimat itu kita ucapan (kita ujarkan)
b. Kalimat itu mengandung arti (makna)
c. Kalimat itu dapat berdiri sendiri dalam hubungannya dengan kalimat yang lain
d. Kalimat itu terdiri dari urutan frase/kelompok kata (bersistem)
e. Kalimat itu mempunyai jeda
f. Kalimat Itu Tidak Menjadi Bagian Kalimat Yang Lebih Besar
g. Kalimat itu diakhiri dengan berhentinya lagu (intonasi)
Keterangan :
1. Yang tidak dapat berdiri sendiri bukanlah kalimat
2. Kalimat-kalimat tersebut membentuk sebuah rangkaian gagasan yang saling
berhubungan
3. Kalimat paling sedikit terdiri atas dua frase.
4. Kalimat itu tidak dibentuk dengan menjajarkan begitu saja kata yang satu dengan
kata lain, tetapi merangkaikan frase yang satu dengan yang lain.
5. Jeda membatasi subjek dengan kalimat
Misalnya : buku tebal
buku/tebal
6. Kalimat yang menjadi satu bagian yang lebih besar disebut : K l a u s e
Misalnya: Setelah tiga jam mereka berjalan kaki, mereka tidak melihat apa-apa,
sebab hari sudah menjadi gelap.
24

B. Kelompok Kata
1. Pengertian Kelompok Kata
Kelompok kata adalah kesatuan dua buah kata atau lebih yang tidak mempunyai
bagian subjek dan predikat. Kelompok kata disebut juga frase/frasa. Kelompok kata
dipelajari dalam sintaksis karena kelompok kata menyangkut hubungan antar kata.
Contoh :
terlalu sopan
mudah sekali
sedang berpidato
buku kecil
2. Ciri-ciri Frase adalah :
a. Di awali, di apit, atau di akhiri jeda
b. Berfungsi gramatikal
c. Tidak mempunyai jeda
d. Terdiri atas satu kata/beberapa kata
e. Merupakan bagian (bagian) kalimat
f. Anggota frase tidak dapat digantikan, dipindahkan, atau dihilangkan
g. Dapat dipindah-pidahkan tanpa menimbulkan perubahan makna (dapat di
permutasikan)
Keterangan :
1. Pada awal kalimat frase diakhiri jeda, pada tengah kalimat frase diapit jeda, dan
pada akhir kalimat frase diawali jeda
2. Fungsi frase dapat berupa; subjek, predikat, objek, keterangan
3. Hubungan antar anggota frase tidak dapat diganggu sebab frase itu sebuah sistim
4. Karena frase itu bagian (suku) kalimat, maka frase tidak dapat berdiri sendiri
sebagai kalimat.
5. Perpindahan frase dalam kalimat disebut “permutasi“
3. Beberapa Jenis Frase :
a. Frase Nomina (FN) : Frase yang berintikan nomina (kata benda)
25

b. Frase Verba (FV) : Frase yang berintikan berba (kata kerja)


c. Frase Ajektive (FA) : Frase yang berintikan berba (kata sifat)
d. Frase Numeral (FNU) : Frase yang berintikan numeral (kata bilangan)
e. Frase Preposisi (FP) : Frase yang berintikan preposisi (kata depan)
Misalnya :
a. Tentara Vietnam/menyerang Thailand
FN FV
b. Mereka /Orang Surabaya
FN FN
c. Tanah air kami ini/kaya raya
FN FA
d. Jumlah pengikut ujian /150 orang
FN FN
e. Mokhtar Koesoemo Atmadja/ke Bangkok
FN FP

C. Hukum Diterangkan-Menerangkan (DM)


Pada umumnya kelompok kata Bahasa Indonesia disusun dengan mengikuti hukum
DM. Bagian yang diterangkan diikuti oleh bagian yang menerangkan. Aturan demikian
dinamakan hukum DM (diterangkan- menerangkan).
Contoh :
Luka dalam
D M
Matahari pagi
D M
Indah sekali
D M
Walaupun demikian, ada pula kelompok kata yang disusun tidak mengikuti aturan
tersebut. Kelompok kata itu bagian yang diterangkan mengikuti bagian yang
menerangkan. Aturan semacam itu disebut hukum MDI menerangkan-diterangkan).
Dalam tata bahasa tradisional hal semacam itu disebut perkecualian hukum MD.
26

Contoh :
sangat lucu
M D
akan belajar
M D
seutas tali
M D
pada dinding
M D

D. Jabatan Kalimat
1. Pengertian Jabatan kalimat
Setiap kata dalam kalimat biasanya menduduki jabatan atau fungsi tertentu. Jabatan
kalimat itu meliputi subjektif predikat, objek, dan keterangan. Sebuah kalimat
paling sedikit harus mempunyai subjek dan predikat. Jika sebuah kalimat tidak
mempunyai subjek atau predikat, kalimat tersebut dianggap kurang sempurna.
2. Subjektif (S)
Subjek disebut juga pokok kalimat. Untuk mencari subjek biasanya di gunakan kata
tanpa apa atau siapa. Ada beberapa ciri yang menandai subjek, antara lain :
a) Berupa kata benda
Contoh :
Ani meniduri adiknya di kamar tidur
Ayah mengizinkan saya menonton film
Kamu harus memakai pakaian seragam
b) Dapat di ikuti oleh ini atau itu
Contoh :
Perbuatan itu menurunkan martabatnya
Murid-murid itu rajin belajar
Daerah ini pernah dikunjungi presiden
27

c) Dapat diikuti oleh pun


Contoh :
Tuti pun belajar dimuka rumah
Saya pun mendengarkan keterangan yang panjang lebar itu
Marlan pun berangkat ke jakarta
Macam-macam Subjek
a) Subjek pelaku ialah yang melakukan perbuatan. Subjek jenis ini selalu terdapat
dalam kalimat aktif
Contoh :
Penduduk bergotong-gotong membangun masjid
Rakyat berbondong-bondong datang ke balai desa
Bu Guru sedang menulis dipapan tulis
b) Subjek penderita ialah subjek yang dikenai perbuatan subjek ini selalu ter- dapat
dalam kalimat pasif
Contoh :
Padi itu sedang dijemur supaya kering
Perusahaan itu didirikan oleh pemerintah
Buku itu kupinjam kemarin sore
1. Predikat (P)
Predikat juga disebut-sebutan. Biasanya predikat memberi penjelasan mengenai
subjek.
Menurut sifat predikat dapat dibedakan menjadi :
a) Predikat verbal ialah pedikat yang terdiri dari kata kerja. Biasanya predikat jenis
ini menyatakan perbuatan atau tindakan.
Contoh :
Kalian boleh mengunjungi tempat ini sekarang
Ahmad berlibur ke Jakarta
Ia mengerjakan tugasnya dengan baik
28

b) Predikat nominal ialah predikat yang terdiri dari kata-kata selain kata kerja. Atau
kata bilangan. Biasanya, predikat nominal menjelaskan subjek.
Contoh :
Tulisan anak itu rapi dan bagus (kata sifat)
Pemandangan itu sangat indah (kata sifat)
Ali seorang pedagang kopra. (kata benda)
Minyak tanah itu bahan cair. (kata benda)
Kerbau pak Mardi dua ekor. (kata bilangan)
Kelereng Budi sangat banyak. (kata bilangan)
2. Objek (O)
Objek di sebut juga pelengkap. Biasanya objek berupa kata benda atau kata ganti.
Letaknya kebanyakanya dibelakang predikat. Objek kalimat aktif dapat menjadi
subjek kalimat pasif atau sebaliknya.
Menurut sifatnya objek dapat dibagi menjadi :
a) Objek penderita ialah objek yang dikenai perbuatan. Objek ini selalu terdapat
dalam kalimat aktif. Jenis objek inilah yang terdapat dalam kalimat aktif. Dalam
kalimat pasif. Objek penderita dapat disebut pula pelengkap penderita.
Contoh :
Kita harus menyediakan sebuah buku tulis
Amin meletakkan bukunya diatas meja
Ibu membaca novel diruang tamu
b) Objek pelaku ialah objek yang melakukan perbuatan. Objek ini selalu terdapat
dalam kalimat pasif. Jenis objek ini dapat diubah menjadi subjek kalimat aktif.
Objek pelaku disebut juga pelengkap pelaku.
Contoh :
Murid-murid dilarang oleh gurunya bermain-main didalam kelas
Hasan dimarahi oleh ibunya
Ida diajak teman-teman nya ke kebun binatang
c) Objek penyerta ialah objek yang menyertai perbuatan biasanya terletak di-
belakang objek pelaku atau objek penderita. Objek penyerta disebut juga
pelengkap penyerta atau objek berkepentingan.
29

Contoh :
Anak-anak membawa bingkisan untuk Rita
Ibu membuat surat untuk Bambang
Ratna menyampaikan undangan kepada jadi
d) Objek berkata depan ialah objek yang di depannya diikuti oleh kata depan.
Contoh : tidak ada
e) Objek semu ialah objek yang seolah-olah dikenai pekerjaan oleh subjek.
Contoh : tidak ada
3. Keterangan (K)
Bagian kalimat yang memberi penjelasan mengenai kalimat atau bagian kalimat
disebut keterangan. Jenis keterangan itu bermacam-macam, antara lain :
a) Keterangan tempat
Dina mempunyai beberapa pencil di dalam tas
Di jalan itu ada beberapa polisi lalu lintas
Budi menuangkan air ke dalam botol
Bagian kalimat yang dicetak tebal di atas menerangkan tepat. Karena itu, disebut
keterangan tempat. Biasanya keterangan ini didahului oleh kata depan di, ke dari
dan pada
b) Keterangan waktu
Layang-layang itu dibuat Iwan tadi siang
Lukman membeli sepatu ditoko kemarin
Ketika ayah datang ibu sedang menyiapkan makan
c) Keterangan sebab
Bagian kalimat yang menjelaskan sebab-sebab terjadinya suatu peristiwa
keterangan sebab. Keterangan ini biasanya di dahului oleh kata depan karena,
oleh karena, sebab.
Contoh :
Anak lelaki itu tidur nyenyak sebab terlalu lelah
Karena datang terlambat, Mariana di panggil Bu Guru
Oleh karena sakit, Burhan di rawat dirumah sakit
30

d) Keterangan akibat
Bagian kalimat yang menjelaskan akibat berlangsung nya sesuatu peristiwa,
disebut keterangan akibat. Pada umumnya, jenis keterangan ini didahului oleh
kata sehingga, hingga, sampai.
Contoh :
Ali tertidur hingga pekerjaan rumahnya tidak selesai
Mereka berbincang-bincang sampai larut malam
Murni kurang tidur sehingga kelihatan pucat
e) Keterangan syarat
Bagian kalimat yang menjelaskan syarat terjadinya suatu peristiwa disebut
keterangan syarat. Kata-kata yang sering digunakan dalam keterangan ini antara
lain : bila, apabila, jika, kalau.
Contoh :
Dia akan tetap sehat bila tidak merokok
Rudi mempu mengerjakan jika mau belajar
Apabila Darmawan rajin belajar, Darmawan pasti naik kelas
f) Keterangan tujuan
Contoh :
Agar selamat kita harus berhati-hati dijalan
Ayah selalu berolah raga supaya badan tetap sehat
Harga barang itu diturunkan agar cepat laku
Bagian kalimat yang dicetak tebal di atas menerangkan tujuan perbuatan, karena
itu disebut keterangan tujuan. Biasanya keterangan tujuan dimulai dengan kata
agar atau supaya.
5. Uraian Jabatan Kalimat
Dari uraian mengenai jabatan kalimat diatas, jelaslah bahwa setiap kalimat terbagi
menjadi beberapa bagian. Setiap bagian kalimat menduduki jabatan tertentu. Oleh
karena itu, setiap kalimat dapat diuraikan menurut jabatanya.
Contoh :
Hari ini Toni berpakian seragam
hari ini = keterangan
Toni = subjek
Tidak berpakaian seragam = predikat
31

Hasil wawancara belum dimuat dalam surat kabar


hasil wawancara = subjek
belum dimuat = predikat
dalam surat kabar = keterangan
Air bersih diperlukan manusia sebab menyegarkan tubuh
air bersih = subjek
di perlukan = predikat
manusia = objek
sebab menyegarkan tubuh = keterangan
Ayah teman saya baru saja membeli sepeda mini
ayah teman saya = subjek
baru saja membeli = predikat
sepeda mini = objek
Kita harus mempersiapka diri dari sekarang
kita = subjek
harus mempersiapkan diri = predikat
sepeda mini dari sekarang = keterangan
6. Pola-pola Kalimat Bahasa Indonesia
Dengan titik total kalimat tunggal, maka pola-pola struktur kalimat Bahasa
Indonesia terlihat seperti dibawah ini:
1. S + P : Budi sedang bermain
2. S + P + 01 : Anak itu makan nasi
3. S + P + K : Budi sedang bermain di kebun
4. S + P + 01 + K : Anak itu makan nasi dengan senangnya
5. S + P + 01 + 02 : Pemerintah memberikan penghargaan kepada guru-guru
teladan
6. S + P + 01 + 02 + K: Pemerintahan memberikan penghargaan kepada guru
teladan baru-baru ini.
7. S + P + 02 + 01 : Pemerintah memberi para guru teladan penghargaan.
32

8. S + P + 02 + 01 + K : Pemerintah memberi para guru teladan penghargaan


baru-baru ini.
9. S + P + 03 : Seorang pencuri ditangkap (oleh) petugas
10. S + P + 03 + K : Seorang pencuri ditangkap (oleh) petugas dari Surabaya
11. S + P + 04 : Si Budi sadar akan kesalahannya.
12. S + P + 04 + K : Si Budi sadar akan kesalahannya setelah peristiwa itu
13. S + P + 05 : Ayahnya berdagang beras
14. S + P + 05 + K : Ayahnya berdagang beras di Wonokromo
Keterangan :
(1) S = Subjek; P = Predikat; 01 = Objek penderita; 02= objek penerima; 03 =
objek pelaku; 4 = objek berkata depan; 05 = objek semu; dan K = keterangan
(2) Semuan pola tersebut dapat dipermutasikan
(3) 01 pada pola S + P + 01 dapat dipindahkan kebagian depan kalimat dengan
perubahan struktur. Perubahannya : “Nasi dimakan (oleh) anak itu “(S+P +03)
(4) 01 pada pola nomor 7 tidak dapat dipindahkan meskipun sebuah frase. Tidak
mungkin terjadi : penghargaan/Pemerintahan/memberi para guru teladan. Hal
ini menunjukan keistimewaan pola tersebut.
(5) 05 pada pola nomor 13 tidak dapat dipindahkan
(6) Pada kalimat lengkap tidak ada pola :
a. P + O
b. P + O + K
c. P + K
d. O + K
7. Unsur-Unsur Kalimat
Pada bagian 4 (empat) dihalaman yang lalu telah kita singgung mengenai unsur-
unsur kalimat. Lebih lengkap akan saya uraikan secara garis besar seperti di bawah :
Unsur-unsur kalimat itu dibagi menjadi :
1. Subjek : bagian kalimat yang diterangkan
2. Predikat : bagian kalimat uang menerangkan subjek
33

3. Objek : bagian kalimat yang merupakan keterangan amat erat


hubungannya dengan predikat, yang mungkin merupakan sasaran,
pelaku, penyerta dari perbuatan yang dinyatakan oleh predikat.
Jenis objek : - Objek penderita
- Objek pelaku
- Objek penyerta
- Objek berkata depan/berpreposisi
4. Keterangan : bagian kalimat yang berfungsi memberi keterangan kepada
predikat, yang hubungannya dengan predikat tidak terlalu erat.
Jenis ketarangan :
1. Keterangan waktu (temporial)
2. Keterangan tempat (lokatif)
3. Keterangan keadaan (kualitatif)
4. Keterangan situasi (situasional)
5. Keterangan jumlah (kuantitas)
6. Keterangan derajad (kuantitas)
7. Keterangan perbandingan (komparatif)
8. Keterangan alat (instrumental)
9. Keterangan syarat (kondisional)
10. Keterangan sebab (kausal)
11. Keterangan asasan (kausal)
12. Keterangan kesertaan (kibat komitatif)
13. Keterangan kesertaan (komitatif)
14. Keterangan tujuan (final)
15. Keterangan perlawanan (konsentatif)
16. Keterangan perawatasan
17. Keterangan kesungguhan / kecaraan / modelitas :
a. kepastian
b. kemungkinan
c. kesangsian
d. keinginan
18. Keterangan aspek
34

E. Alat Kalimat
Alat kalimat mempunyai peranan yang amat penting dalam pembentukan kalimat.
Bahasa bukanlah sekedar kumpulan kata. Kata-kata harus dirangkai menjadi bermacam-
macam kesatuan yang lebih besar ; frase, kalimat dan lain-lain.
Menurut bermacam-macam hubungan makna pula. Untuk itu diperlukan sarana
yang disebut Alat Kalimat. Jadi alat kalimat inilah yang merangkaikan bermacam-
macam kata itu serta menentukan hubungan makna rangkaian yang terjadi yang disebut
makna struktural.
Macam alat kalimat yang kita kenal ialah :
1. Urutan kata :
Yang menempatkan kata menurut urutan waktu dan tempat. Susunan ini
menujukan makna struktural, yang memberitahu kepada kita kata mana yang
menunjukan pelaku, yang dilakukan, yang menerima perlakuan, yang diterangkan
yang menerangkan dan sebagainya. Ada urutan yang erat, yang tidak dapat diubah
sama sekali tanpa mengubah makna atau tanpa merusak tata kalimat. Apa pula urutan
yang langgar.
2. Bentuk Kata
Yang ditandai oleh imbuhan/afiks, dan perulangan kata. Bentuk kata
menunjukan makna struktural yang bermacam-macam seperti; perulangan, ketidak
sengajaan, derajat paling, prosen, hasil keanehan. Bentuk kata juga membentuk kata
dengan jenis teretentu.
3. Intonasi
Yakni sistem pertentangan dalam nada, tekanan, dan peralihan Dari intonasi
kita dapat mengetahui apakah kita menghadapi berita, pertanyaan, perintah dan
sebagainya.
4. Kata tugas
Yang berupa sejumlah kecil kata yang pada umumnya tidak dapat menerima
imbuhan, tidak bermakna leksikal, namun kehadiranya sangat diperlukan dalam
pembentukan kalimat. (kata depan dan kata penghubung) kata tugas penghubung
penegasan, pembatasan, pemilihan, perlawanan, persyaratan, sebab, akibat dan
sebagainya.

F. Segmental dan Suprasegmental


Bila kita perhatikan kenyataan kalimat pada umumnya, maka suatu kalimat
mempunyai ciri-ciri :
a. Bersifat segmental
Segmental (segmen = unsur), ialah unsur-unsur yang bersifat tampak/dapat dilihat,
seperti ; urutan morfem, ejaan, tanda baca.
b. Bersifat suprasegmental
Suprasegmental, ialah unsur-unsur bahasa yang bersifat tidak tampak secara material,
seperti ; intonasi, ucapan, tekanan kata, struktural dan sistem.
35

G. Hakikat Kalimat Bahasa Indonesia


1. Kalimat itu di ujarkan. (lagu sangat penting) pada mulanya bahasa itu berbentuk lisan
2. Kalimat itu mengandung makna.
Karena bahasa itu alat untuk menyatakan ide (pikiran dan perasaan) manusia, maka
kalimat-kalimat yang mendukungnya mengandung dua hal tersebut. (pikiran dan
perasaan).
3. Kalimat itu ada dalam hubungan (relasi) dengan kalimat lain.
Kalimat-kalimat membentuk hubungan antar kalimat atau wacana (percakapan)
4. Kalimat itu bersistim urutan frase (urutan kelompok kata)
5. Kalimat itu diakhiri dengan berhentinya lagu kalimat lagu kalimat (intonasi)

H. Gatra
Gatra ialah kata kelompok kata (frase) dalam kalimat yang mendukung suatu fungsi. Ciri
dari gatra yaitu rekontruksi : penataan/perpindahan unsur-unsur pembentuk kalimat yang
tidak menyebabkan perubahan makna.
Rekontruksi dapat dibedakan atas :
1. Permuatasi (rekontruksi)
2. Transformasi, perubahan bentuk kalimat. Misalnya; dari kalimat aktif ke kalimat
pasif.
Macam-macam gatra :
1. Gatra inti : - gatra pangkal / gatra diterangkan / gatra digolongkan
(subjek)
- gatra perbuatan/gatra menerangkan/gatra mengge-
lengkan (predikat)
2. Gatra tambahan : - gatra pelengkap penderita
- gatra pelengkap penyerta
- gatra pelengkap pelaku
- gatra keterangan waktu
- gatra keterangan tempat, dan sebagainya.
36

G. Jenis Kalimat
Kalimat dapat ditinjau dari beberapa sudut, oleh karena itu tiap kalimat dapat
mempunyai beberapa nama, bergantung dari sudut mana kalimat itu ditinjau.

1. Ditinjau berdasarkan lagu (isi atau maksud)

Berdasarkan lagu (isi atau maksud) kalimat tunggal dapat digolongkan menjadi 3
golongan besar, yaitu : 1. Kalimat berita biasa : a. langsung
A. Kalimat Berita b. tak langsung

2. Kalimat Syarat / perjanjian

3. Kalimat pengandaian

4. Kalimat ingkar
1. Kalimat Tanya Biasa

2. Kalimat Tanya Retoris


B. Kalimat Tanya 3. Kalimat Tanya Oratoris

4. Kalimat Tanya yang senilai dengan


perintah (kalimat permintaan)

1. Kalimat Perintah Biasa

2. Kalimat Permintaan
3. Kalimat pengharapan

4. Kaliamat Izin

5. Kalimat Ajakan

c. Kalimat perintah 6. Kalimat Larangan

7. Kalimat peringatan

8. Kalimat penyeru
9. Kalimat Ejekan

Contoh-contoh :
37

A. Kalimat Berita : ialah kalimat yang berisikan suatu berita sedang intonasi (lagu)
netral (biasa).
Misalnya : 1. a. Ayah berpesan, “Belajarlah engkau rajin-rajin“
b. Ayah berpesan agar saya belajar rajin-rajin
2. Bila belajar giat, engkau pasti naik kelas
3. Bila Kartini masih hidup, pasti akan bangga melihat kemajuan
kaum wanita sekarang.
4. Saya tidak pernah mengirimkan surat kepadanya
B. Kalimat Tanya ialah kalimat yang mengandung suatu permintaan agar diberitahu
sesuatu yang belum ketahui (yang diketahui oleh orang lain).
Ciri-ciri kalimat tanya :
- menggunakan lagu tanya
- menggunakan kata tanya
- menggunakan akhiran tanya (kah, tah)
- menggunakan tanda tanya.
(tidak memerlukan jawab), ialah kalimat tanya yang tidak bertanya (tidak
memerlukan jawab), yakni kalimat tanya retoris dan kalimat tanya oratoris.
Kalimat tanya retoris (dipakai oleh pengarang dalam gaya bahasa karangannya :
Apa mau dikata, bila ini sudah garis hidupmu ?). Kalimat tanya oratoris
(pertanyaan yang biasa dipakai dalam pidato-pidato Orasi = pidato. Contoh,
Maukah kita dijajah lagi, saudara-saudara ?)
C. Kalimat Perintah :
1. Kalimat perintah biasa : mengandung suatu perintah yang diucapkan oleh orang
yang lebih berkuasa/tua dari pada yang diperintah.
Biasanya sangat pendek : Pergi (lah) !
Tulis (lah) !
Berhati-hatilah !
Belajar lah !
38

2. Kalimat Permintaan : Kalimat perintah yang diperhalus, sifatnya minta


kerelaan. Kecuali diucapkan dengan nada lembut biasanya dipergunakan juga
kata : silakan, berilah, beri apalah, coba, sudilah, sudilah kiranya, jika boleh,
hendakya dan sebagainya.
Misalnya : Silakan menunggu sebentar, Tuan !
Beri apakah saya air barang setegak !
3. Kalimat penghargaan : suatu permintaan biasanya ditujukan kepada yang
mahakuasa. Dinyatakan dengan kata : semoga, mudah-mudahan, hendaknya.
Misalnya : Mudah-mudahan Tuhan menyertai kita !
4. Kalimat Izin : memperkenankan seseorang untuk melakukan sesuatu. Bawalah,
bila masih kau perlukan !
5. Kalimat Ajakan.
Orang yang menyuruh biasanya turut bersama-sama melakukannya kecuali
dengan nada lembut, biasanya dipakai kata ; mari, baiklah, sebaliknya,
seyogyanya, hendaknya, alangkah baiknya.
Misalnya : Marilah tugas ini kita lakukan sebaik-sebaiknya !
Sebaiknya tunggu saja hasilnya !
6. Kalimat Larangan : semacam perintah yang mencegah dilakukannya sesuatu.
Biasanya dipakai kata : jangan, tak usah dsb.
Misalnya : Jangan pergi kau !
Tak usah kau hiraukan !
7. Kalimat Peringatan
Berisi suatu peringatan atau ancaman. Dapat dikenal dari intonasi keras pada
awal kalimat.
Misalnya : Awas, kalau kau ulangi lagi !
Awas, cat basah !
8. Kalimat Penyeru
Ialah kalimat yang menyatakan : keheranan, pujian selaan rasa takut, terkejut,
menawarkan sesuatu. Ditandai dengan nada tinggi pada akhir kalimat.
Misalnya : Aduh, Dingin sekali udara pagi hari ini
Amboi, menakjubkan sekali pemandangannya
39

9. Kalimat Ejekan.
Arti perintah menjadi terbaik, yaitu menjadi suatu yang tidak akan dilakukan.
Misalnya : Adukan saya, kalau engkau berani !
Ayo buktikan, aku ingin tahu !
2. Ditinjau Berdasarkan Bentuk
A. Kalimat aktif : 1. kalimat Aktif Transitif
2. Kalimat Aktif Intransitif
B. Kalimat Pasif : 1. Kalimat Pasif Transitif
2. Kalimat Pasif Intransitif
A. Kalimat Aktif Transitif dengan ciri-ciri :
1. Predikatnya berawalan me
2. Mempunyai objek penderita
3. Dapat dijadikan pasif
Contoh : - Ayah membaca surat kabar
- Adik menyanyikan lagu kegemarannya.
Kalimat Aktif intransitif dengan ciri-ciri :
1. Predikatnya berawalan ber-
2. Ada juga sedikit verba dengan awalan me-intransitif (seperti : menyanyi,
menari, dsb.)
3. Predikatnya berupa kata kerja aus (pergi, pulang, datang hidup, mati, tidur,
mandi, duduk, dsb.)
4. Tidak mempunyai objek penderita
5. Tidak dapat dijadikan pasif.
Contoh : - Adik menyanyi di kamar
- Adik bernyanyi di kasur
- Kakak pergi ke jakarta
- Adik tidur dikamar tamu.
B. Kalimat pasif intransitif dengan ciri-ciri :
1. Predikat berawalan di-, ke-
40

2. Menyatakan suatu perbuatan


3. Menyatakan suatu peristiwa/perbuatan yang sedang berlangsung
4. Menyatakan suatu peristiwa/perbuatan yang disengaja
Contoh : - Jendela itu ditutup Ali sejak tadi
- Suara itu kedengaran oleh mereka.
Kalimat Pasif transitif ciri-ciri :
1. Predikatnya berawalan ter-, ke-an
2. Menyatakan suatu keadaan
3. Menyatakan suatu peristiwa/perbuatan yang sudah berlangsung
4. Menyatakan suatu peristiwa/perbuatan yang tak disengaja
Contoh : - Jendela itu tertutup sejak tadi
- Suara itu kedengaran oleh mereka.
3. Ditinjau berdasarkan hubungannya dengan kalimat-kalimat lain:

A. Kalimat Tunggal
a. Penggabungan
1. Kalimat majemuk b. Pemilihan
setara c. perlawanan
d. sebab akibat

2. Kalimat Majemuk Bertingkat


B. Kalimat Majemuk

3. Kalimat Majemuk Campuran


A. Kalimat Tunggal
Yaitu kalimat yang terdiri atas dua unsur inti dan boleh diperluas dengan satu
atau lebih unsur-unsur tambahan, asal unsur-unsur tambahan itu tidak
membentuk pola baru.
Misalnya : a. ayah guru
b. Dulu ayah guru
c. Ayah memanggil Doni
41

Uraian Kalimat Tunggal


Ayah : subjek/gatra pangkal
Memanggil : predikat/gatra perbuatan
Doni : objek penderita/gatra pelengkap penderita
Macam-macam dalam kalimat Tunggal :
1. Keterangan waktu : Besok kami akan ke Jombang
2. Keterangan tempat : Ayah pergi ke kantor
3. Keterangan keadaan : Ia berjalan dengan cepat. (ket kualitas)
4. Keterangan situasi : Sambil tersenyum ia menjawabnya
5. Keterangan jumlah : Tokoh itu mempunyai banyak pengge-mar
6. Keterangan derajat : Harganya lebih mahal
7. Keterangan perbandingan : Ia sangat rajin seperti kakaknya
8. Keterangan alat : Tulislah surat itu dengan baal point.
9. Keterangan syarat : Jika setuju kita berangkat hari ini.
10. Keterangan kausal : Pohon itu tumbang karena angin besar.
11. Keterangan alasan : Saya tidak hadir dalam pertemuan kemarin karena
tidak ada penunggu rumah sesuatu pun.
12. Keterangan waktu : Kami bekerja keras sampai letih
13. Keterangan tujuan : Saya belajar giat agar lulus EBTA
14. Keterangan perlawanan : Meskipun hujan, saya akan datang
15. Keterangan perbatasan : Peraturan ini baik, kecuali pasal dua
16. Keterangan kesertaan : Siswa-siswa mengadakan pelatihan drama sama
gurunya
17. Keterangan kesungguhan / kecaraan / modalitas : Menjelaskan bagaimana
suatu proses berlaku secara subyektif, yaitu seperti dikehendaki atau
ditafsirkan oleh bicara.
a. Keterangan kesungguhan : Ia pasti dating. Saya tidak membawa bukumu
b. Keterangan kemungkinan : Mungkin dia biang keladinya
c. Keterangan kesangsian : Barangkali ayah yang menyimpannya
42

d. Keterangan keinginan : Keterangan keinginan/harapan : Mudah-


mudahan ia tiba hari ini !
18. Keterangan aspek : Ialah keterangan yang menjelaskan terjadinya suatu
proses secara obyektif
a. Aspek inkoatif : Menyatakan peristiwa yang baru mulai.
Para siswa mulai mengerjakan Soal-soal itu.
b. Aspek Kompelatif/perfektif : Menyatakan suatu peristiwa yang telah
selesai
Ayah telah pergi.
c. Aspek implopletif : Menyatakan suatu peristiwa yang belum selesai
Pertandingan basket itu belum sedang
dilangsungkan di stadion.
d. Aspek futuratif : Menyatakan suatu proses akan berlangsung.
Saya akan pergi ke Bandung besok
e. Aspek refetitif : Menyatakan suatu proses terjadi sekali lagi.
Saya lagi kerumahnya.
f. Aspek frekuentif : Menyatakan suatu proses yang terjadi berulang-
berulang.
Anak itu sering melakukan hal-hal yang negatif.
g. Aspek spotanitas : Menyatakan bahwa suatu proses terjadi dengan
tiba-tiba atau tidak diduga-duga.
Ia jatuh terduduk karena ketakutan.
Catatan :
Segala keterangan diatas dapat dinyatakan dengan cara eksplisit maupun implisit.
Cara eksplisit : Bila keterangan itu dinyatakan dengan jelas memakai alat-alat
bahasa, yaitu kata-kata tugas.
Cara meliput : Tidak memakai kata-kata tugas atau alat-alat bahasa, jadi maksud
kalimat harus ditafsirkan dari hubungan kalimat.
Keterangan yang menerangkan kata benda: Maksudnya keterangan yang
menerangkan kata benda sesuai dengan fungsi tertentu dalam kalimat, misalnya :
subjek, objek dsb.
43

a. Keterangan aposisi : Keterangan yang menyatakan gelar dari benda yang


diterangkan.
Pak Rahmad, kepala desa kami amat memerhatikan
warganya.
b. Keterangan posesif : Keterangan yang menyatakan bahwa kata itu
menjadi pemilik dari kata benda yang diterangkan.
c. Keterangan Ablatif : Keterangan yang menyatakan asal sesuatu.
Arloji emasnya dirampas orang didalam colt.
B. Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk ialah perluasan kalimat tunggal dengan memperluas bagian-
bagiannya, sehingga perluasan itu membentuk satu atau lebih pola kalimat yang
baru, disamping pola yang sudah ada.
Macam-macam kalimat Majemuk :
1. Kalimat majemuk setara ; kalimat yang dibentuk dari penggabungan dua atau
lebih pola kalimat yang baru, disamping pola lain)
Contoh :
1. Saya makan - Saya makan, saya minum, saya merokok
2. Saya minum - Saya makan, saya minum, dan saya merokok
3. Saya merokok - Saya makan, minum, merokok.
- Saya makan, minum, dan merokok.
Macam-macam kalimat majemuk setara :
a. Kalimat majemuk setara penggabungan :
- Saya memanggil ikan disungai, dan Ibu menggorengnya
- Ia berdiri, lalu meninggalkan kami.
b. Kalimat majemuk setara pemilihan :
- Engkau rajin, tinggal saja disini, atau ikut dengan membawakan ini.
- Yang mana saja boleh kau lakukan, baik yang sudah maupun yang sukar.
c. Kalimat majemuk setara perlawanan :
- Adiknya rajin, tetapi dia malas.
d. Kalimat majemuk setara sebab akibat :
- Kemarin saya tidak bersekolah, sebab ibu sakit.
44

2. Kalimat Majemuk Bertingkat : kalimat majemuk yang terjadi dari perluasan


bagian-bagian kalimat tunggal.
Pola kalimat baru yang memakai merupakan perluasan tadi disebut anak
kalimat.
Pola kalimat yang pertama (lama) disebut induk kalimat.
Macam-macam Kalimat antara lain :
a. Anak kalimat pengganti subjek (gatra pangkal) :
- Yang meyatakan berita itu baru saja pergi.
b. Anak kalimat pengganti keterangan subjek :
- Kemarin siswa-siswa yang telah menempuh tes saringan, berkumpul di
sekolah untuk melihat hasil tes
c. Anak kalimat pengganti predikat. (yang dapat diperluas hanya predikat
nominal).
- Ia menjadi yang diharapkan orangtuanya.
d. Anak kalimat pengganti objek penderita.
- Bapak guru menerangkan yang belum dimengerti anak-anak se-kali lagi.
e. Anak kalimat pengganti objek pelaku.
- Dia tanya oleh orang yang memberikan pelajaran kepadanya.
f. Anak kalimat pengganti keterangan waktu.
- Ketika mereka tiba disini, saya tidak ada di rumah
g. Anak kalimat keterangan perlawanan.
- Saya tetap berhasil mengerjakannya, meskipun saya telah mencobanya
berkali-kali.
Demikian pula fungsi-fungsi kalimat tunggal pada hakikatnya dapat
mengalami perluasan seperti di atas.
Uraian kalimat majemuk bertingkat :
Yang saya maksudkan tidak dimengerti olehnya.
1. Yang saya maksudkan = anak kalimat subjek
Yang = subjek (gatra pelengkap pelaku)
45

2. Tidak di mengerti olehnya = induk kalimat


tidak = keterangan modalitas
dimengerti = predikat (gatra perbuatan)
olehnya = objek pelaku (gatra pelengkap pelaku).
Catatan :
Induk kalimatnya tidak mempunyai subjek, karena anak kalimatnya pengganti
subjek.
3. Kalimat Majemuk Campuran : kalimat majemuk yang terdiri atas sebuah
kalimat majemuk sederajat (pola atasan) dan sekurang-kurangnya dua kalimat
majemuk bertingkat (pola bawahan), atau sekurang-kurang nya dua pola
atasan dan satu lebih pola bawahan.
a. Satu pola atasan dan dua pola bawahan :
Kami telah menyelenggarakan malam kesenian yang dimeriahkan oleh para
artis ibu kota serta di hadiri pula oleh para pejabat kota ini.
b. Dua pola atasan dan satu bawahan :
Bapak menyesalkan perbuatan itu dan meminta agar kamu, berjanji tidak
akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama yang dapat merugikan
nama baik keluarga dan kedudukan.
4. Ditinjau Berdasarkan Susunan (Letak Predikat)
A. Kalimat tertib (susun biasa = S-P)
Contoh :
Pemandangan ini indah sekali.
B. Kalimat Inversi (susun balik = P-S)
Fungsi ineversi : a. untuk mementingkan predikat
b. untuk memperkenalkan benda pokok baru
Inversi sering dipakai pada :
a. Kalimat tanya
b. Kalimat perintah, penyilahkan
c. Kalimat penyeru
d. Kalimat peringatan/ancaman.
Contoh :
Indah sekali pemandangan ini.
Mampukah ia ?
46

5. Ditinjau Berdasarkan Jenis Predikat


A. Kalimat verbal/kalimat fill kalimat kerja yaitu kalimat yang predikatnya
berupa kata kerja/verba.
B. Kalimat nominal/kalimat isim yaitu kalimat yang predikatnya selain kata
kerja (kata benda), kata sifat, kata ganti, kata bilangan, atau kata keterangan).
- Ibuku perawat
- Temanya banyak sekali
- Adiku cerdas sekali
- Ayah di kantor

6. Ditinjau Berdasarkan Lengkap Tidaknya Bagian Kalimat


A. Kalimat sempurna : mengandung dua unsur pokok (subjek, predikat)
- Ayah belum dating.
- Kakak sedang mandi.
B. Kalimat tak sempurna/kalimat elips : bila salah satu dari unsur tersebut tidak ada.
- Ibu !
- Tolong !
- Masih jauh dari sini.

7. Ditinjau Berdasarkan Banyaknya Predikat Verba


A. Kalimat Akoordinasi : Hanya mempunyai satu predikat verba.
- Ibu menjahit pakaian adik.
B. Kalimat Koordinasi : Predikat verba lebih dari satu.
- Setiap pagi ayah pergi berjalan-jalan menikmati udara pagi

8. Ditinjau Berdasarkan Dapat Tidaknya Dipecahkan atas Kontur (Bagian


Ujaran) Yang Lebih Kecil
A. Kalimat Minim : Kalimat yang tidak dapat dipecahkan atas kontur-kontur yang
lebih kecil.
- Diam !
47

- Pergi !
- Sangat mahal !
- Yang akan datang !
B. Kalimat Panjang : Kalimat yang secara potensial dapat dipecah la-gi atas kontur-
kontur yang lebih kecil.
- Ia mengambil buku itu.
- Dia ada didalam.

9. Ditinjau Berdasarkan Jumlah Unsur Pusat (Unsur Inti) Yang menjadi Bentuk
Suatu Kalimat
A. Kalimat Minor : Kalimat yang hanya mengandung satu unsur pu sat.
- Diam !
- Yang akan datang !
- Sangat Mahal !
B. Kalimat Mayor : Kalimat yang sekurang-kurangnya mengandung- dua unsur
pusat (inti).
- Dia mengambil buku itu (buku itu = unsur tambahan)
- Dia ada di dalam (di dalam = unsur tambahan)

10. Ditinjau Berdasarkan ; (a) tata urut kata, (b) jumlah kata (ada tidaknya
unsur tambahan yang melengkapi kedua unsur pusat) dan (c) intonasi
(intonasi yang netral), kalimat dibedakan atas :
A. Kalimat Inti :
Jenis kalimat mayor yang hanya terdiri atas dua unsur pusat (tanpa unsur
tambahan).
- Ayah datang
- Adik bermain-main.
B. Kalimat Luas :
Kalimat yang mengandung dua unsur pusat disertai satu atau lebih unsur
tambahan.
- Ayah baru saja datang dari kantor
- Adik sedang bermain-main dihalaman
48

C. Kalimat Tranpornational :
Suatu struktur kalimat baru, hasil perubahan dari struktur-struktur kalimat lain,
balik kalimat inti maupun kalimat luas, tercakup juga perubahan intonasinya.
- Ayah datang ?
- Baru saja ayah datang darui kantor.

11. Tambahan :
a. Kalimat Bervariasi :
Yaitu kalimat yang didalamnya terkandung variasi-variasi lain baik bentuk,
struktur, maupun penjelasan, serta gaya bahasa tanpa mengubah makna pokok.
Ujud kalimat bervariasi di antaranya :
1. Kalimat majemuk (khususnya kalimat majemuk bertingkat)
2. Kalimat yang bergaya bahasa
3. Pencampuran beberapa bentuk
b. Kalimat Elips Nominal :
Yaitu kalimat yang kehilangan predikat verba (predikat kerja). Kalimat ini
berasal dari kalimat verbal (dengan predikat verba ada, pergi/berangkat,
datang/pulang) yang disertai keterangan tempat. Kemudian predikat tersebut
sama dengan kata depan yang mengawali keterangan tempat yang menyertainya
(di, ke, dari).
Misalnya :
1. Ibu ada di kamar Ibu di kamar
2. Ayah pergi ke kantor Ayah ke kantor
3. Kakak datang dari Pare Kakak dari Pare.
c. Kalimat Lanjut dan Kalimat Gabungan :
1. Kalimat Lanjut : Kalimat kedua atau kalimat yang merupakan kelanjutan dari
kalimat pertama atau yang mendahuluinya.
- Cangkir itu diisinya dengan sirup.
Merupakan kalimat lanjut dari : Ani mengambil sebuah cangkir
2. Kalimat Gabungan : Sebuah Kalimat baru sebagai hasil penggabungannya dua
atau lebih pola kalimat dasar, yang didalam ini penggabungannya secara
eksplisit.
a. Adik jatuh tergelincir dikamar mandi
b. Ibu sedang ke pasar.
49

Ketika Ibu sedang ke pasar, adik jatuh tergelincir dikamar mandi.


d. Kalimat Refleksif :
Hartini sedang berdandan
Burhan sedang berkaca
Dewi akan berhias.
Kalimat-kalimat di atas subjeknya melakukan perbuatan. Perbuatan itu mengenai
pelakunya sendiri. Kalimat semacam itu disebut kalimat refleksif. Maksudnya,
kalimat yang objek pelaku perbuatan itu yang melakukan perbuatan itu sendiri.
e. Kalimat Resiprok :
Mereka akan berdialog di aula
Kedua orang tua itu sedang bertanya jawab
Kedua anak itu selalu berdebat.
Kalimat-kalimat di atas menyatakan perbuatan yang mengandung maksud saling
membalas. Kalimat yang demikian itu disebut kalimat resiprok. Maksudnya,
kalimat yang menyatakan makna perbalasan.
50

Kompetensi :
Setelah mempelajari materi di bawah ini mahasiswa mampu membuat kalimat efektif
dalam penulisan yang baik dan benar.

BAB 4
KALIMAT EFEKTIF

A. Pengertian Kalimat Efektif


Kalimat adalah satuan bahasa berupa kata atau rangkaian kata yang dapat berdiri
sendiri dan menyatakan makna yang lengkap. Kalimat adalah satuan bahasa terkecil
yang mengungkapkan pikiran yang utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan. Dalam
wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun, dan keras lembut, disela jeda,
dan diakhiri dengan intonasi akhir. Sedangkan dalam wujud tulisan berhuruf latin,
kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. (.), tanda tanya (?)
dan tanda seru (!). Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi, baik lisan maupun
tertulis, harus memiliki sebuah subjek (S) dan sebuah predikat (P). Kalau tidak memiliki
kedua unsur tersebut, pernyataan itu bukanlah kalimat melainkan hanya sebuah frasa.
Itulah yang membedakan frasa dengan kalimat.
Efektif mengandung pengertian tepat guna, artinya sesuatu akan berguna jika
dipakai pada sasaran yang tepat. Pengertian efektif dalam kalimat adalah dan ketepatan
penggunaan kalimat dan ragam bahasa tertentu dalam situasi kebahasaan tertentu pula.
Dari pengertian di atas, di bawah ini beberapa definisi kalimat efektif menurut
beberapa ahli bahasa :
1. Kalimat efektif adalah kalimat yang bukan hanya memenuhi syarat-syarat
komunikatif, gramatikal, dan sintaksis saja, tetapi juga harus hidup, segar, mudah
dipahami, serta sanggup menimbulkan daya khayal pada diri pembaca. (Rahayu:
2007)
2. Kalimat efektif adalah kalimat yang benar dan jelas sehingga dengan mudah
dipahami orang lain secara tepat. (Akhadiah, Arsjad, dan Ridwan:2001)
3. Kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi kriteria jelas, sesuai dengan kaidah,
ringkas, dan enak dibaca. (Arifin: 1989)
4. Kalimat efektif dipahami sebagai kalimat yang dapat menyampaikan informasi dan
informasi tersebut mudah dipahami oleh pembaca. (Nasucha, Rohmadi, dan
Wahyudi: 2009)
5. Kalimat efektif dipahami sebagai sebuah kalimat yang dapat membantu menjelaskan
sesuatu persoalan secara lebih singkat jelas padat dan mudah di mengerti serta di
artikan. (Arif H.P.: 2013)
51

Dari beberapa uraian di atas dapat diambil kata kunci dari definisi kalimat efektif
yaitu sesuai kaidah bahasa, jelas, dan mudah dipahami. Jadi, kalimat efektif adalah
kalimat yang sesuai dengan kaidah bahasa, jelas, dan mudah dipahami oleh pendengar
atau pembaca.

B. Syarat-syarat Kalimat Efektif


Kalimat dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan pesan, gagasan,
perasaan, maupun pemberitahuan sesuai dengan maksud si pembicara atau penulis.
Untuk itu penyampaian harus memenuhi syarat sebagai kalimat yang baik, yaitu;
strukturnya benar, pilihan katanya tepat, hubungan antarbagiannya logis, dan ejaannya
pun harus benar.

C. Ciri-Ciri Kalimat Efektif

1. Kesatuan Gagasan atau Kepaduan


Memiliki subjek, predikat serta unsur-unsur lain (O/K) yang saling mendukung serta
membentuk kesatuan tunggal. Atau Kesatuan atau kepaduan di sini maksudnya
adalah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu, sehingga informasi yang
disampaikannya tidak terpecah-pecah, subjek dan predikat serta unsur-unsur lain
(O/K) yang saling mendukung serta membentuk kesatuan tunggal.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menciptakan kepaduan kalimat,
yaitu:
a. Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang
tidak simetris.
b. Kalimat yang padu mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib
dalam kalimat-kalimat yang berpredikat pasif persona.
c. Kalimat yang padu tidak perlu menyisipkan sebuah kata seperti daripada atau
tentang antara predikat kata kerja dan objek penderita.
Contoh 1:
Makalah ini membahas tentang teknologi fiber optik. (tidak efektif)
Makalah ini membahas teknologi fiber optik. (efektif)
Contoh 2:
Di dalam keputusan itu merupakan kebijaksanaan yang dapat membantu keselamatan
umum.
Kalimat di atas tidak memiliki kesatuan karena tidak didukung subjek. Unsur di
dalam keputusan itu bukanlah subjek, melainkan keterangan. Ciri bahwa unsur itu
merupakan keterangan ditandai oleh keberadaan frase depan di dalam (ini harus
dihilangkan).
52

2. Kesejajaran
Memiliki kesamaan bentukan/imbuhan. Jika bagian kalimat itu menggunakan kata
kerja berimbuhan di-, bagian kalimat yang lainnya pun harus menggunakan di- pula.
Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan.
Kalimat tersebut tidak memiliki kesejajaran antara predikat-predikatnya. Yang satu
menggunakan predikat aktif, yakni imbuhan me-, sedang yang satu lagi menggunakan
predikat pasif, yakni menggunakan imbuhan di-.
Kalimat itu harus diubah :
1. Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan.
2. Anak itu ditolong kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan.
3. Kehematan
Kalimat efektif tidak boleh menggunakan kata-kata yang tidak perlu. Kata-kata yang
berlebih. Penggunaan kata yang berlebih hanya akan mengaburkan maksud kalimat.
Bunga-bunga mawar, anyelir, dan melati sangat disukainya. Pemakaian kata bunga-
bunga dalam kalimat di atas tidak perlu. Dalam kata mawar, anyelir dan melati
terkandung makna bunga. Kalimat yang benar adalah: Mawar, anyelir dan melati
sangat disukainya.
4. Penekanan
Kalimat yang dipentingkan harus diberi penekanan.
Caranya:
a) Mengubah posisi dalam kalimat, yakni dengan cara meletakkan bagian yang
penting di depan kalimat.
Contoh:
1. Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan
lain.
2. Pada kesempatan lain, kami berharap kita dapat membicarakan lagi soal ini.
b) Menggunakan partikel; penekanan bagian kalimat dapat menggunakan partikel –
lah, -pun dan –kah.
Contoh:
1. Saudaralah yang harus bertanggung jawab dalam soal itu.
2. Kami pun turut dalam kegiatan itu.
3. Bisakah dia menyelesaikannya?
c) Menggunakan repetisi, yakni dengan mengulang-ulang kata yang dianggap
penting.
Contoh :
Dalam membina hubungan antara suami istri, antara guru dan murid, antara
orang tua dan anak, antara pemerintah dan rakyat, diperlukan adanya
komunikasi dan sikap saling memahami antara satu dan lainnya.
53

d) Menggunakan pertentangan, yakni menggunakan kata yang bertentangan atau


berlawanan makna/maksud dalam bagian kalimat yang ingin ditegaskan.
Contoh :
1. Anak itu tidak malas, tetapi rajin.
2. Ia tidak menghendaki perbaikan yang sifatnya parsial, tetapi total dan
menyeluruh.
5. Kelogisan
Kalimat efektif harus mudah dipahami. Dalam hal ini hubungan unsur-unsur dalam
kalimat harus memiliki hubungan yang logis/masuk akal.
Contoh :
Waktu dan tempat saya persilakan.
Kalimat ini tidak logis/tidak masuk akal karena waktu dan tempat adalah benda mati
yang tidak dapat dipersilakan. Kalimat tersebut harus diubah misalnya ;
Bapak penceramah, saya persilakan untuk naik ke podium.
6. Kesepadanan
Suatu kalimat efektif harus memenuhi unsur gramatikal yaitu unsur subjek (S),
predikat (P), objek (O), keterangan (K). Di dalam kalimat efektif harus memiliki
keseimbangan dalam pemakaian struktur bahasa.
Contoh:
Budi (S) pergi (P) ke kampus (KT).
Tidak Menjamakkan Subjek
Contoh:
Tomi pergi ke kampus, kemudian Tomi pergi ke perpustakaan (tidak efektif)
Tomi pergi ke kampus, kemudian ke perpustakaan (efektif)
7. Kevariasian
Variasi merupakan suatu upaya yang bertolak belakang dengan repetisi. Variasi tidak
lain daripada menganeka-ragamkan bentuk-bentuk bahasa agar tetap terpelihara
minat dan perhatian orang. Variasi dalam kalimat dapat diperoleh dengan beberapa
macam cara, yaitu:
a) Variasi sinonim kata
Penjelasan-penjelesan yagn berbentuk kelompok kata pada hakikatnya tidak
mengubah isi dari amanat yang akan disampaikan.
Seribu puspa di taman bungan seribu wangi menyegar cita (BKI).
Demikian pula puspa dan wangi sebenarnya menyatakan yang sama.
b) Variasi panjang pendeknya kalimat
Variasi dalam panjang pendeknya struktur kalimat akan mencerminkan dengan
jelas pikiran pengarang, serta pilihan yang tepat dari struktur panjangnya sebuah
kalimat dapat memberi tekanan pada bagian-bagian yang diinginkan.
54

c) Variasi penggunaan bentuk me- dan di-


Pemakaian bentuk gramatikal yang sama dalam beberapa kalimat berturut-turut
dapat menimbulkan kelesuan.
Contoh:
Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya ke pinggir jalan. (tidak efektif)
Kakak menolong anak itu dengan memapahnya ke pinggir jalan. (efektif)
Anak itu ditolong kakak dengan dipapahnya ke pinggir jalan. (efektif)

D. Contoh Kalimat Efektif

No. Kalimat Kurang Efektif Kalimat Efektif


1. Bagi semua mahasiswa Stikes Karya Semua mahasiswa Stikes Karya Husada
Husada Kediri di Pare ini harus segera Kediri di Pare harus mengumpulkan data
mengumpulkan data pribadi. pribadi.
2. Penyusunan laporan praktikum itu saya Dalam menyusun laporan praktikum itu,
dibantu oleh para dosen. saya dibantu oleh beberapa dosen.
3. Soal anatomi itu saya kurang jelas. Saya kurang jelas mengenai soal anatomi
itu
4. Kami datang agak terlambat. Sehingga Kami datang terlambat, sehingga tidak
kami tidak dapat mengikuti acara mengikuti acara pertama.
pertama.
5. Kakaknya menjadi seorang pengusaha. Kakaknya menjadi seorang pengusaha,
Sedangkan dia sedang kuliah di Stikes sementara dia sedang kuliah di Stikes
Karya Husada Kediri di Pare. Karya Husada Kediri di Pare.
6. Kampus kami yang terletak di Bendo, Kampus kami yang di Bendo, Pare.
Pare.
7. Teman kami yang memiliki prestasi Teman kami memiliki prestasi dalam
dalam bidang kesenian. bidang kesenian.
8. Harga minyak dibekukan atau kenaikan Harga minyak dibekukan atau dinaikkan
secara luwes. secara luwes.
9. Tahap terakhir penyelesaian gedung itu Pengecatan tembok merupakan tahapan
adalah kegiatan pengecatan tembok. terakhir penyelesaian gedung itu.
10. Direktur Akper mengharapkan agar Direktur Akper mengharapkan
mahasiswa memiliki motivasi yang mahasiswa memiliki motivasi yang
tinggi saat kuliah. tinggi dalam mengikuti perkuliahan.
11. Harapan Direktur Stikes Karya Husada Direktur Stikes Karya Husada Kediri di
Kediri di Pare ialah agar mahasiswa Pare mengharapkan mahasiswa memiliki
memiliki motivasi yang tinggi saat motivasi yang tinggi dalam mengikuti
kuliah. perkuliahan.
12. Bukan hanya setriliyun, sejuta, atau Bukan hanya seratus, sejuta, melainkan
seratus, melainkan berjuta-juta rupiah sudah triliyunan rupiah telah dikeluarkan
telah dikeluarkan untuk menanggulangi pemerintah untuk menanggulangi
semburan lumpur di Sidoarjo. semburan lumpur di Sidoarjo.
55

13. Rakyat suka akan presiden yang rendah Rakyat menyukai presiden yang rendah
hati, rakyat suka akan presiden yang hati, dan yang mengerti keinginan
mengerti keinginan rakyat. rakyatnya.
14. Mahasiswa itu tidak malas dan curang, Mahasiswa itu rajin dan jujur.
tetapi rajin dan jujur.
15. Saudaralah yang harus bertanggung Saudara yang harus bertanggung jawab
jawab atas pelaksanaan kegiatan atas pelaksanaan kegiatan penyuluhan
penyuluhan kesehatan ini. kesehatan ini.
16. Karena dia tidak mengikuti kuliah Dia tidak dapat menjawab pertanyaan
dengan baik, dia tidak dapat menjawab itu, karena tidak mengikuti kuliah.
pertanyaan itu.
17. Peserta ospek serentak berdiri setelah Peserta ospek serentak berdiri setelah
mereka mengetahui bahwa Direktur mengetahui direktur Stikes Karya
Stikes Karya Husada Kediri di Pare Husada Kediri di Pare datang.
datang.
18. Mahasiswa peserta praktek di rumah Mahasiswa peserta praktik di rumah
sakit berangkat dengan mengendarai sakit berangkat menggunakan bus.
kendaraan bus.
19. Rambutnya berwarna putih di bagian Di bagian pelipis, rambutnya berwarna
pelipisnya. putih.
20. Sejak dari kemarin pasien itu mengalami Sejak kemarin pasien itu mengalami
deman tinggi. deman tinggi.
21. Perawat itu hanya membawa peralatan Perawat itu hanya membawa peralatan
yang penting saja. yang penting.
22. Pada saat awan mulai menyelimuti Awan mulai menyelimuti puncak
puncak gunung, banyak tenaga medis gunung, banyak tenaga medis yang takut
yang takut turun ke bawah. turun.
23. Dalam situasi seperti itu banyak pasien- Dalam situasi seperti itu banyak pasien
pasien yang belum ditangani oleh tenaga yang belum ditangani.
medis.
24. Mahasiswa perguruan tinggi yang Mahasiswa itu menerima penghargaan.
terkenal itu menerima penghargaan.
25. Yang diceritakan menceritakan tentang Ia menceritakan tentang kondisi para
kondisi para pasien-pasien yang terkena pasien yang terkena flu burung, HIV dan
flu burung, HIV, dan demam berdarah. demam berdarah.
26. Dokter itu segera mengubah rencananya Dokter segera mengubah rencana setelah
setelah dia mengetahui kondisi pasien mengetahui kondisi pasien makin
makin menurun. menurun.
27. Menteri kesehatan menjelaskan bahwa Menteri kesehatan menjelaskan, bahwa
penanggulangan daripada meluasnya flu penanggulangan meluasnya flu burung
56

burung harus diutamakan. harus diutamakan.


28. Makalah ini akan membahas tentang Makalah ini tentang cara menangani
cara menangani pasien demam berdarah pasien demam berdarah yang benar.
yang benar.
29. Untuk mempersingkat waktu, kita Untuk menyingkat waktu, kita teruskan
teruskan acara ini. acara ini.
30. Saran yang di kemukakannya kami akan Saran yang dikemukakannya akan kami
pertimbangkan. pertimbangkan.
31. Sejak dari pagi dia bermenung Sejak pagi dia bermenung
57

Kompetensi :
Setelah mempelajari materi di bawah ini mahasiswa mampu menggunakan kalimat baku
dalam penulisan.

BAB 5
KALIMAT BAKU

A. Ciri-ciri kalimat baku ialah :


a. Sesuai dengan tata bahasa (gramatika)
1. Fungsi-fungsi bagan kalimat (S P O K) terlihat dengan jelas
Misalnya : Untuk mengetahui tinggi rendahnya pendidikan seseorang dapat
dinilai dari cara dia berbicara.
Yang baku : Tinggi rendahnya pendidikan seseorang dapat diketahui dari
caranya berbicara.
2. Kalimat itu paling sedikit terdiri atas subjek dan predikat.
Misalnya : Demikian untuk dimaklumi
Yang baku : Demikian (lah), saya harap Bapak/Ibu maklum.
3. Kalimat itu dapat kita tata kembali (kita permutasikan) atas dasar frase-frasenya.
Misalnya : Soal itu saya kurang jelas
Yang baku : Soal itu bagi saya kurang jelas
4. Suku kalimat tidak dapat berdiri sendiri sebagai kalimat
Misalnya : Peristiwa itu perlu mendapat perhatian kita. Sehingga kita tidak
menghadapi kesulitan pada masa mendatang.
5. Suku-suku kalimat yang terdiri atas kelompok-kelompok kata tersusun menurut
keindahan yang berlaku.
Misalnya : Yang membatasinya hanyalah badan sensor, film-film mana yang
boleh ditonton untuk segala unsur.
Yang baku : Yang membatasinya film-film mana yang boleh di-tonton untuk
segala umur hanyalah badan sensor.
6. Penggadaan subjek yang tidak berfungsi, bukan kalimat baku.
Misalnya : Penyusunan laporan ini kami mendapat bimbingan Bapak dosen.
Yang baku : Dalam menyusun laporan ini kami mendapat bimbingan Bapak dosen
58

7. Kalimat baku tidak mencampur adukan dua pola struktur yang berbeda
Misalnya : - Harga minyak dibekukan ataukah kenaikan secara luwes.
- Cara menulisnya dibekukan ataukah dari bawah ke atas.
Yang baku : - Harga minyak dibekukan ataukah dinaikan secara luwes
- Rapat Cara menulisnya dari bawah keatas
8. Kontaminasi (perancuan) struktural merupakan kalimat yang tidak ba-ku.
Misalnya : Dalam rapat itu membicarakan kenaikan harga
Kalimat tersebut perancuan dari :
- Dalam rapat itu dibicarakan kenaikan harga
- Rapat itu membicarakan kenaikan harga.
9. Subjek tidak diawali : bagi, untuk, dengan, sebagai, pada, ke pada dalam, di, ke,
dari, dalam.
Misalnya : Kepada para pemenang diberi hadiah.
Yang baku : Para pemenang diberi hadiah
10. Unsur-unsur gramatikal yang berasal dari dialek setempat dan bahasa daerah
terhindari pemakainya.
Misalnya : Duduk (lah) yang baik !
Yang baku : Duduk (lah) baik-baik !
11. Pola frase verbal (aspek + agend + verba) terpakai secara tertib
Misalnya : surat itu saya sudah baca
Yang baku : surat itu sudah saya baca
12. Hubungan antara kata kerja transitif dengan objek penderita tidak tersisipi
(terpisah) oleh kata depan (preposisi)
Misalnya : Dengan ini kami mengharapkan atas kehadiran Ibu
Yang baku : Dengan ini kami mengharapkan kehadiran Ibu.
13. Kata-kata tanya : apa, apakah, mana, dimana, yang mana, siapa, yang berfungsi
predikat dalam kalimat tanya terpakai secara tepat.
Misalnya : Apa anda sudah mengerti ?
Yang baku : Anda sudah mengerti ?
Sudah mengertikah Anda ?
Sudahkah Anda mengerti ?
59

14. Unsur-usur : yang, bahwa, tetapi, maka, terpakai secara tepat.


Misalnya : Siapa menyanyikan lagu itu ?
Yang baku : Siapa yang menyanyikan lagu itu ?
15. Awalan, akhiran, dan gabungan awalan dengan akhiran, terpakai seca-ra tepat.
Misalnya : Atas perhatian diucapkan terima kasih
Yang baku : Atas perhatian Bapak/Ibu kami ucapkan terima kasih.
16. Kata benda yang sudah dijamakan dengan kata-kata yang menyatakan banyak
tidak memerlukan perulangan lagi.
Misalnya : pada bulan desember para Ibu-ibu merayakan hari Ibu.
Yang baku : pada bulan desember para Ibu-ibu merayakan hari Ibu.
b. Cermat
Pengertian cermat : a. Tepat dalam pemilihan kata-kata
b. Tidak menimbulkan tafsiran ganda
c. Tidak boros, Tidak berlebih-lebihan
Misalnya : Berdasarkan atas surat keputusan menteri ia diperhentikan dengan
secara tidak hormat.
Sebernanya untuk memberi difinisi serta pengertian apa sebenarnya
bimbingan atau guindance itu timbulnya bermacam-macam difinisi
dan pengertian.
Yang baku : Berdasarkan surat keputusan menteri ia diperhentikan secara tidak
hormat.
Sebernanya, definisi bimbingan atau guidance itu bermacam-
macam.
c. Tidak bertele-tele (berbelit-belit)
Kalimat yang bertele-tele mencerminkan cara berpikir yang tidak sistimatis dan jalan
pikiran yang berbelit-belit (ruwet).
Kalimat yang demikian mengakibatkan gagasan pokoknya kabur.
d. Masuk akal (logis)
Misalnya : sekarang acara sambutan ketua panitia. Waktu dipersilakan
Yang baku : ……….waktu kami berikan/ketua panitia kami persilakan.
60

e. Sesuai dengan ejaan yang berlaku

Agar pemakai Bahasa Indonesia tidak melanggar ejaan yang berlaku, perlu
menguasai ejaan yang berlaku sekarang. (lihat pedoman umum ejaan Bahasa
Indonesia) dan pedoman umum pembentukan istilah, pusat pembinaan dan
pengembangan Bahasa).

f. Sesuai dengan lafal ejaan yang berlaku

Lafal Indonesia ialah lafal yang sudah disepakati kebenaranya oleh penutur bahasa
Indonesia bukanlah lafal dialek.

B. Fungsi Bahasa Indonesia Baku :


a. Pemersatu

Sebagai bahasa naasioal, bahasa Indonesia telah dapat menyatukan suku-suku bangsa
dan bahasanya dengan mengatasi batas-batas kesukuan dan kedaerahannya.

b. Penanda kepribadian

Fungsi ini terlihat jika dalam pergaulan dengan bangsa lain.

Kita ingin menyatakan identitas kita lewat bahasa Indonesia.

c. Penambah wibawa

Fungsi ini merupakan unsur yang menduduki tempat tinggi pada skala tata nilai
dalam masyarakat bahasa. Gengsi yang melekat pada bahasa Indonesia yang baku,
karena dipakai oleh kalangan masyarakat ynag berpengaruh, menambah wibawa pada
orang yang dapat menguasai bahasa tersebut dengan mahir.

Fungsi yang menyangkut kewibawaan yang tinggi juga terlaksana apa bila bahasa
Indonesia dapat di gunakan dengan hasil teknologi modern dan unsur kebudayaan
baru.

d. Kerangka acuan

Kerangka acuan tidak lain adalah ukuran yang disepakati secara umum tentang tepat
tidaknya pemakaian bahasa Indonesia dalam situasi tertentu. Fungsi tersebut akan
terpenuhi jika pembinaan suatu tolak (model) diusahakan diberbagai bidang, seperti :
surat-menyurat, bentuk surat keputusan dan akta-akta, risalah dan laporan, undangan,
iklan, pengumuman, ceramah, dan pidato.
61

C. Interferensi (Gangguan Pencampuran)


Interferensi yaitu penyiapan kebahasaan yang diakibatkan oleh pengenalan dengan
bahasa lain.
Jenis Interferensi : a. Interferensi leksikal
b. Interferensi struktural
a. Interferensi Leksikal
Dalam hal ini mengenai kosa kata bahasa lain (asing) yang tidak memperkaya kosa
kata Indonesia, karena pengertian untuk kata-kata asing tersebut dalam bahasa sudah-
ada.
Misalnya : way out, up grading, put put, drop out, dead lock dan sebagainya.
b. Interferensi Struktural
1. Interferensi fonologi : penyimpangan (kesalahan) dalam hal lafal.
Misalnya : pendidikan diucapkan pendidi’an
Menjadikan diucapkan menjadiken
2. Interferensi Frasional Morfologis : penyimpangan yang menyangkut bidang
morfologi, karena terpengaruh oleh proses morfologi bahasa daerah atau asing.
Misalnya : Anak-anak sedang latihan. Seharusnya Anak-anak sedang
berlatih…..bunuh-bunuhan seharusnya…berbunuh-bunuhan.
3. Interferensi Frasiologis : penyimpangan dalam hal penyusunan frase.
Misalnya : Tujuan dari pada penataran
Dasar dari analisis ini
Bukunya teman saya
4. Interferensi Sintaksis : penyimpangan dalam hal sintaksis, karena terpengaruh oleh
pola kalimat bahasa daerah atau asing.
Misalnya : 1. Belajarlah yang rajin ! (Jawa : Sinaua sing sregep !)
2. Apa kamu sudah mengerti ? (opo kowe wis ngerti ?)
3. Adalah sulit untuk memecahkan persoalan itu (Inggris:It is difficult
to selve that problem).
Melihat kenyataan contoh-contoh di atas, jelas bagi kita bahwa interprestasi
melahirkan kalimat tidak laku.
62

Kompetensi :
Setelah memelajari materi di bawah ini mahasiswa diharapkan mampu menulis paragraf
yang efektif, baik dan benar

BAB 6
PARAGRAF EFEKTIF

A. Pengertian
Paragraf merupakan bagian dari sebuah tulisan yang berisi kumpulan kalimat. Ada
banyak pengertian paragraf. Salah satunya, dari sebuah situs di internet paragraf adalah
sekumpulan kalimat yang saling berhubungan dan semua kalimat tersebut memiliki
hubungan dengan sebuah topik yang sama.
Menurut Lunsford dan Connors, paragraf adalah sekelompok kalimat atau sebuah
kalimat tunggal yang membentuk satu kesatuan. Jadi sebuah paragraf bukanlah sekedar
sekelompok kalimat saja, tetapi sekelompok kalimat yang saling berhubungan dan
memiliki sebuah inti yang disebut ide pokok.
Dengan demikian, maka paragraf efektif adalah rangkaian kalimat yang saling
berhubungan secara efektif dan membentuk satu kesatuan pokok pembahasan. Paragraf
efektif bisa hanya terdiri dari satu kalimat (berupa kalimat utama saja), tapi bisa juga
terdiri dari beberapa kalimat (kalimat utama dan kalimat penjelas). Kalimat-kalimat itu
saling bertalian dengan mengusung sebuah gagasan tertentu.
Paragraf efektif disampaikan dengan bahasa yang padat, jelas, dengan informasi
yang mudah dimengerti, dan dapat mewakili gagasan pembicara atau penulis serta dapat
diterima maksudnya/arti serta tujuannya seperti yang dimaksud penulis/pembicara.

B. Syarat-syarat Paragraf Efektif


Sebuah paragraf harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Paragraf yang baik
setidaknya harus memenuhi syarat kohesi, koherensi, kelengkapan dan kevariasian.
1. Kesatuan (kohesi): Sebuah paragraf dianggap memenuhi kriteria kesatuan apabila
kalimat-kalimat dalam paragraf tersebut bersama-sama mendukung suatu hal atau
tema tertentu yang diangkat. Hal ini karena sebuah paragraf yang baik biasanya hanya
mengangkat satu gagasan pokok saja.
63

2. Kepaduan (koherensi): Sebuah paragraf dianggap memenuhi kriteria kepaduan


apabila semua kalimat yang membangun paragraf saling terkait antara kalimat yang
satu dan kalimat lainnya yang membentuk paragraf tersebut.
3. Kelengkapan: Sebuah paragraf dianggap lengkap jika paragraf tersebut dibangun
oleh beberapa kalimat yang terdiri atas kalimat utama dan kalimat-kalimat uraian atau
penjelas.
4. Kevariasian: Sebuah paragraf dinyatakan memenuhi kriteria kevariasian apabila
kalimat-kalimat yang membangun paragraf tersebut bervariasi baik dari segi struktur
kalimat, bentuk kata, maupun pilihan kata (diksi) yang digunakan.
Contoh paragraf tidak efektif :
Budi adalah seorang pria tampan, ganteng dan menawan. Ia sangat di gemari
dikelasnya. Budi juga merupakan anak paling teladan di sekolah maka ia sangat
disayangi oleh orangtunya.Ia setiap hari pergi makan dan mandi pada jam 5 pagi.
Sudah menjadi kebiasaanya untuk selalu belajar dan dikembangkan bakatnya.
Contoh Paragraf Efektif :
Budi adalah pria yang tampan. Ia sangat digemari di kelasnya. Budi juga
merupakan anak paling teladan di sekolah ia sangat disayangi oleh orangtunya.Ia
setiap hari pergi untuk makan dan mandi pada jam 5 pagi. Kebiasaannya belajar
dan mengembangkan bakatnya
Sedikit kesalahan yang sering terjadi ketika menulis sebuah paragraf, sehingga
paragrafnya menjadi tidak efektif.

C. Unsur-unsur Paragraf Efektif


Secara umum, paragraf dibentuk oleh dua unsur, yakni gagasan utama dan
beberapa gagasan penjelas. Kedua bagian tersebut memiliki keterkaitan. Bagian yang
kedua menerangkan apa yang ada di dalam bagian pertama. Gagasan utama merupakan
gagasan yang menjadi dasar pengembangan suatu paragraf. Dengan demikian, fungsinya
sebagai pokok, patokan, atau dasar acuan suatu paragraf. Sementara itu, gagasan
penjelasan merupakan gagasan yang berfungsi menjelaskan suatu gagasan utama.
Penjelasannya itu dalam bentuk uraian-uraian kecil, contoh-contoh atau ilustrasi,
kutipan-kutipan, dan sebagainya.
64

Perhatikan penggalan wacana di bawah ini!

Kalau kita amati, sekarang ini muncul gejala serba ingin tampil beda dalam
berbagai bidang kehidupan. Keinginan untuk tampil beda itu kita
terjemahkan dengan mencari “jalur lain” atau yang disebut indie. Hal ini,
tanpa kita sadari, semua remaja melakukan itu. Yang terjadi adalah kita,
teman kita, saudara, hingga orang lain yang kita temui di mal, bergaya
sama. Mereka juga mendengarkan musik indie dan nonton film indie. He-
he-he, kok buntutnya jadi kompak, ya?
Padahal, inti dari indie itu kan independen. Mandiri, tidak sama dengan orang
lain. Akan tetapi, kalau semua kompak tampil beda, ya, kesannya malah
kia mengikuti tren juga. Tren indie, he-he-he.....

Gagasan utama dan gagasan pendukung kedua paragraf di atas adalah sebagai
berikut:

Paragraf Gagasan utama Gagasan pendukung


1 Sekarang ini muncul  Keinginan untuk tampil beda itu kita
gejala serba ingin terjemahkan dengan mencari ”jalur lain” atau
tampil beda dalam yang disebut indie.
berbagai bidang  Tanpa kita sadari, semua remaja melakukan
kehidupan itu.
 Yang terjadi adalah kita, teman kita, saudara,
hingga orang lain yang kita temui di mal,
bergaya sama.
 Mereka juga mendengakan musik indie dan
nonton film indie.
 Buntutnya (semua) jadi kompak, ya?
2 Inti dari indie itu kan  Mandiri, tidak sama dengan orang lain
independen  Akan tetapi, kalau semua kompak tampil beda,
ya, kesannya malah kita mengikuti tren juga.

D. Jenis-Jenis Paragraf
a. Paragraf Deduktif
Paragraf deduktif adalah paragraf yang gagasan utamanya terletak di awal
paragraf. Gagasan utama atau pokok persoalan paragraf itu dinyatakan dalam kalimat
pertama.
65

Contoh:

Industrialisasi di negara kita mendorong didirikannya berbagai macam


pabrik yang memproduksi beraneka barang. Pabrik-pabrik itu memberikan
lapangan kerja kepada ribuan tenaga kerja baik yang berasal dari masyarakat di
sekitar pabrik maupun di daerah-daerah lain. Dengan demikian, adanya berbagai
pabrik dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di samping itu, beraneka
barang yang diproduksi oleh pabrik-pabrik tersebut telah meningkatkan ekspor
nonmigas serta menghasilkan devisa bagi negara.

Kutipan di atas memperlihatkan bahwa kalimat pertama merupakan kalimat


yang mengandung ggasan utama. Kalimat tersebut merupakan dasar atau induk dari
perumusan gagasan-gagasan yang ada di bawahnya. Dinyatakan dalam paragraf
tersebut bahwa didirikannya pabrik sebagai adanya industrialisasi dapat memberikan
lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan meningkatkan ekspor
nonmigas serta menghasilkan devisa negara.
b. Paragraf Induktif
Paragraf induktif adalah paragraf yang gagasan utamanya terletak di akhir
paragraf atau pada kalimat penutup paragraf itu.
Contoh:
Gerakan pecinta alam dengan dasar “sadar lingkungan sehat” telah mulai
menggejala secara luas di kalangan remaja. Tidak sedikit perkumpulan pecinta
lingkungan yang anggotanya terdiri atas siswa-siswa sekolah, baik itu siswa
SLTP maupun SLTA. Keberanian untuk melakukan penelitian ilmiah telah
makin meluas, khususnya di tingkat SLTA Fenomena-fenomena semacam itu
merupakan bukti bahwa remaja pada tahun-tahun terakhir ini tidak selalu
bernilai negatif.

Paragraf di atas dengan jelas mengungkapkan gagasan bahwa remaja tidak


selalu bernilai negatif. Gagasan tersebut terdapat dalam kalimat terakhir. Kalimat-
kalimat sebelumnya merupakan bukti-bukti yang menunjukkan fenomena positif
kiprah kalangan remaja.
66

c. Paragraf Campuran (Deduktif-Induktif)


Paragraf campuran adalah paragraf yang gagasan utamanya terletak pada
kalimat pertama dan kalimat terakhir. Dalam paragraf ini terdapat dua kalimat utama.
Kalimat terakhir merupakan penegasan dari pernyataan yang dikemukakan dalam
kalimat pertama.
Contoh:

Saya berkeyakinan kalau Indonesia memfokuskan diri pada sektor


agrobisnis, tidak ada negara lain yang mampu menandingi kita. Agar
reformasi tersebut dapat terjadi, yang over valued harus dihndari. Memang,
krisis ekonomi yang sedang berlangsung, telah mengoreksi nilai tukar kita.
Dalam hal ini, pemerintah tidak perlu memaksa rupiah menguat, tetapi biarkan
mekanisme pasar menemukan keseimbangannya. Yang perlu dilakukan adalah
menyesuaikan diri terhadap nilai tukar yang ada dengan mendorong industri-
industri yang mampu survive pada nilai tukar yang ada, yakni sektor
agrobisnis. Bagi sektor agrobisnis, semakin melemah rupiah keadaan semakin
terpuruk. Asal stabil saja maka keadaan akan semakin baik. Apabila sektor ini
sudah berjalan dengan baik, tidak mustahil negara kita akan menjadi salah
satu negara yang ekonominya tertangguh di dunia.

Gagasan utama paragraf tersebut adalah agrobisnis merupakan sektor terpenting


bagi bangkitnya perekonomian Indonesia. Gagasan tersebut dinyatakan dalam kalimat
pertama. Setelah diselingi dengan kalimat-kalimat penjelas, gagasan tersebut
ditegaskan kembali dalam kalimat terakhir dengan rumusan yang berbeda.
d. Paragraf Naratif/deskriptif
Paragraf Naratif/deskriptif adalah paragraf yang gagasan utamanya menyebar
di semua bagian paragraf. Semua kalimat merupakan kalimat utama.

Setiap anak memiliki bakat yang berbeda, orangtua bertugas mencermati


dan mengembangkannya saat berada di rumah bersama mereka. Orangtua juga
bisa bekerjasama dengan guru, sehingga tercipta program yang dapat
menantang intelektual mereka. Langkah ini menunjukkan respon orangtua pada
kebutuhan edukasi dan emosional anak.

Gagasan pokoknya, orangtua bertugas mengembangkan potensi anak saat di


rumah maupun di sekokah melalui kerja sama dengan guru.
67

Berdasarkan pola umum pengembangannya atau isinya, paragraf terbagi ke dalam


paragraf narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.
a. Paragraf Narasi
Paragraf narasi adalah paragraf yang menceritakan suatu peristiwa atau
kejadian. Dengan paragraf ini, pembaca seolah-olah mengalami sendiri kejadian yang
diceritakan.
Contoh:

Aku mau membantah. Tapi, sebelum aku dapat memilih kata-kata, dia
berkata lagi. ”Seperti tadi saja. Kalau bukan aku yang menyapamu, kau takkan
tahu siapa aku, bukan? Sedangkan matamu melihatku tadi, kau seolah-olah
melihat pengemis yang dijijiki. Alangkah cepatnya segalanya berubah. Lebih
cepat lagi seseorang melupakan seseorang lainnya meski pernah orang itu
dicintainya.” (Angin dari Gunung”, A.A. Navis).

Dalam karangan cerita di dalamnya terdapat alur, penokohan, peristiwa dan


penyelesaiannya. Hal-hal penting yang harus diingat dalam menyusun cerita antara
lain :
1. Walaupun berkhayal/berimajinasi tidak boleh sesuka hati menciptakan cerita.
Pelaku harus bersikap wajar, sesuai dengan watak dan kepribadian yang diberikan
kepadanya.
2. Harus ada logika. Kalau tidak cerita akan kacau dan sukar dimengerti pembaca.
3. Dalam alur harus diingat urutan peristiwa secara kronologis (waktu), urutan tidak
penting, urutan tidak penting-penting.
4. Roman, novel, cerpen, dongeng, hikayat, kisah, perjalanan drama, lelucon,
anekdot termasuk jenis cerita.
b. Paragraf Deskripsi
Paragraf deskripsi adalah jenis karangan yang menggambarkan suatu hal, baik
itu benda, peristiwa, keadaan, ataupun manusia. Dengan paragraf ini, pembaca dapat
seolah-olah menyaksikan atau merasakan hal yang diceritakan itu.
Gambaran itu harus kita sajikan sehidup-hidupnya, hingga pembaca seolah-olah
dapat melihat apa yang dilihat dan dapat merasakan apa yang dirasakan. Jadi
pembaca diajak mengalami apa yang dialami penulis.
Cara supaya lukisan itu hidup, maka apa yang dilihat, yang didengar dan yang
dirasakan ditulis dengan teliti.
68

Mari kita amati warung kopi, tidak jauh dari tempat tinggal kita. Yang mula-
mula tampak tidak banyak warung kecil dan beberapa orang duduk di bangku. Ada
yang minum dan ada yang asyik bercakap-cakap. Tetapi makin lama kita
memperhatikan makin banyak yang akan kita lihat. Misalnya, tampak bahwa penjaga
warung sedang menggoreng pisang di atas tungku batu. Agaknya kayu bakarnya
kering benar karena api berkobar besar. Dua orang duduk di bangku asyik bercakap-
cakap sambil makan juadah. Seorang menghirup kopinya yang panas. Seorang lagi
duduk bersandar, menikmati rokoknya. Di meja tampak beberapa piring panganan.
Demikianlah makin lama kita mengamati warung itu makin bertambah banyak
hal kecil-kecil yang tampak. Hal kecil-kecil itu kita sebut perincian. Misalnya tingkah
laku dan pakaian-dua orang bercakap-cakap, kucing dibawah bangku, tempat cucian
di belakang warung dan lain-lain.
Contoh:

Tak ingin menyia-nyiakan liburan. Esoknya kami menuju Tanjung Lesung


Resort. Air laut yang tenang memberi keindahan tersendiri saat memandangnya
dari beranda Krakatau Bar, Tanjung Lesung Resort. Sebuah pemandangan yang
menakjubkan serasa berada persis di bibir pantai karena pantulan warna air dari
kolam renang di depan bar seakan menyatu dengan air laut. Tak berlebihan jika
banyak yang melukiskan keindahan pantai ini laksana surga.

c. Paragraf Eksposisi
Paragraf eksposisi adalah paragraf yang memaparkan atau menerangkan suatu
hal atau objek dengan sejelas-jelasnya. Paragraf eksposisi menggunakan contoh,
grafik, serta berbagai bentuk fakta dan data lainnya untuk memperjelas masalah yang
dikemukakan.
Contoh:

Rampak bedug (Sunda) berarti sekumpulan orang yang memukul bedug.


Bedug biasanya digunakan masyarakat Sunda sebagai alat komunikasi baik itu
untuk mengabarkan berita kematian, kelahiran, atau berita khusus lain kepada
warga. Lama-kelamaan bedug dijadikan ajang kompetisi antarkampung hingga
lahirlah kesenian rampak bedug.
69

Dalam paparan ingin dijelaskan sesuatu kepada pembaca. Semua fakta dan
bahan yang dapat dikumpulkan disusun supaya masalah, persoalan yang dihadapi
jelas bagi pembaca. Penelitian dan pengamatan sangat diperlukan untuk melengkapi
fakta dan bahan lain, selain itu diperlukan pula keterampilan menganalisis dan
membuat sintesis.
Jadi dengan paparan ingin diberikan penjelasan atau keterangan tentang suatu
masalah. Misalnya ; 1) menjelaskan bagaimana terjadinya minyak bumi, 2) memberi
petunjuk tentang apa yang harus dilakukan jika ada rumah terbakar, 3)
mengembangkan gagasan akan membuat jalan raya melintasi Kalimantan untuk
membuka daerah pedalaman.
Sering kali paparan itu pendek dan sederhana, misalnya; petunjuk bagaimana
menggunakan obat mata atau dimana letak sekolah kita. Tidak jarang paparan itu
panjang dan sukar, misalnya; menguraikan teori gagasan baru. Tetapi panjang atau
pendek, sukar atau mudah setiap paparan harus dipersiapkan dengan seksama.
Sebelum memaparkan sesuatu, kita sendiri harus memahaminya terlebih dahulu, jika
paparan kita menjadi kabur.
Gagasan demi gagasan kita susun secara teratur, hingga mudah diikuti. Supaya
paparan kita bertambah jelas, sering kita menyertakan gambar, denah, peta, dan lain-
lain. Ada orang mengatakan satu gambar sama nilainya dengan seribu kata.
Contoh ;

Perairan Indonesia dapat menyumbangkan pangan yang sangat besar


jumlahnya. Jika penangkapan ikan kita berjalan dengan efisien, produksi ikan
akan dapat ditingkatkan menjadi 7,4 juta ton setahun. Tetapi produksi dewasa
ini hanya 1.2 juta ton setahun hanya 16,2% dari pada potensi yang
diperkirakan.
Mengapa demikian ?
Banyak sebabnya. Di antaranya dapat kami sebutkan beberapa yang
penting-penting, misalnya; alat dan cara penangkapan ikan masih sangat
sederhana, nelayan kita sukar menerima pembaharuan, mereka terikat oleh
kebiasaan yang diwariskan nenek moyang, pemasaran ikan tidak dikuasai oleh
nelayan dan kesulitan transport menyebabkan ikan tidak dapat sampai kepada
konsumen yang jauh.
70

d. Paragraf Argumentasi
Argumen bermakna ’alasan’. Argumentasi berati ’pemberian alasan yang kuat
dan meyakinkan’. Dengan demikian, paragraf argumentasi adalah paragraf yang
mengemukakan alasan, contoh, dan bukti-bukti yang kuat dan meyakinkan. Alasan-
alasan, bukti, dan sejenisnya, digunakan penulis untuk memengaruhi pembaca agar
mereka menyetujui pendapat, sikap, atau keyakinan.
Contoh:

Industrialisasi di negara kita mendorong didirikannya berbagai macam


pabrik yang memproduksi beraneka barang. Pabrik-pabrik itu memberikan
lapangan kerja kepada ribuan tenaga kerja, baik yang berasal dari masyarakat di
sekitar pabrik maupun dari daerah-daerah lain. Dengan demikian, adanya
berbagai macam pabrik dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di
samping itu, beraneka barang yang diproduksi oleh pabrik-pabrik tersebut telah
meningkatkan ekspor nonmigas serta menghasilkan devisa bagi negara kita.

Menyiapkan argumentasi yang pertama-tama dilakukan sebelum menulis ialah


menetapkan tujuan berargumentasi. Dengan karangan ini akan diberikan alasan yang
kuat untuk meyakinkan pembaca, bahwa gagasan, pendapat atau sikap tentang
sesuatu itu benar, maka topik dan tujuan penulisan harus jelas.
Sebelum mulai mengarang, dirumuskan terlebih dahulu topik dan tujuan,
misalnya :
Topik : Bangsa Indonesia mutlak harus membangun.
Tujuan penulisan : Meyakinkan pembaca, bahwa tanpa membangun, bangsa
Indonesia tidak akan dapat tegak berdiri, dan akhirnya akan hancur. Maka
membangun itu mutlak perlu bagi bangsa Indonesia.
Sesudah tujuan penulisan selesai dirumuskan, baru boleh dikumpulkan bahan.
Argumentasi hampir sama paparan. Ada yang pendek dan ada pula yang panjang.
Argumentasi dapat terdiri dari satu kalimat saja, atau beberapa kalimat saja.
Misalnya:
a. Selokan ini harus segera akan kita bersihkan, karena air yang- menggenang akan
menjadi tempat nyamuk bersarang dan bertelur. (satu kalimat)
b. Selokan ini sudah kotor. Rumput liar rimbun sekali dan sampah berserak-serak.
Nyamuk senang bersarang dan bertelur disini, karena airnya lama tergenang. Maka
kita harus membersihkannya segera, supaya airnya lancar jalannya dan tidak
sempat menggenang. Dengan demikian nyamuk tidak akan bersarang dan bertelur
di sini. (beberapa kalimat).
71

e. Paragraf Persuasi
Paragraf persuasi adalah paragraf yang bertujuan untuk memengaruhi
emosionalitas pembaca. Paragraf ini juga membutuhkan data dan contoh-contoh
konkret untuk memengaruhi pembaca.
Contoh:

Jadi, teman-teman, dengan banyaknya teknologi dan kebebasan, memang


kita bisa berbuat apa saja. Kita bisa tampil beda dengan orang lain. Akan tetapi,
harus benar lho ya; mau melakukannya karena kita ingin ”mengekspresikan diri”
secara beda. Kita melakukannya Bukan sekadar mengikuti tren indie itu sendiri.
Percaya deh, kalau kita serius dengan satu bidang, kita bisa jadi pribadi yang
beda. Tidak peduli hal itu indie atau bukan.

E. Cara Mudah Menulis Paragraf Efektif


Menulis sebuah paragraf yang baik memang ada aturan dan seninya. Karena
paragraf adalah seperangkat kalimat yang berkaitan erat antara kalimat satu dan lainnya,
maka kalimat-kalimat tersebut harus disusun menurut aturan tertentu, sehingga makna
yang dikandungnya dapat dibatasi, dikembangkan, dan diperjelas.
Dalam menulis sebuah paragraf yang harus diperhatikan adalah; 1) bahwa setiap
paragraf mempunyai makna, pesan, pikiran, atau ide pokok yang sesuai dengan tema
keseluruhan karangan, 2) dalam setiap paragraf hanya ada satu pokok pikiran, 3)
paragraf dibangun oleh sejumlah kalimat atau mungkin hanya 1 kalimat, 4) paragraf
adalah satu kesatuan ekspresi pikiran, 5) paragraf adalah kesatuan yang koheren dan
padu dan 6) kalimat-kalimat dalam paragraf tersusun secara logis dan sistematis.
Sesuai dengan ciri-ciri paragraf di atas, maka sebuah paragraf yang baik itu harus
koheren dan padu (kohesif). Untuk membuat paragraf efektif yang koheren dan kohesif,
bisa diikuti langkah-langkah; 1) menentukan kalimat topik, 2) menentukan Kalimat
penjelas, 3) menentukan kalimat-kalimat pengembang dan 4) menentukan kalimat
simpulan.
Keempat langkah itu harus dilakukan secara urut. Kalau tidak, akan sulit membuat
paragraf yang koheren dan padu. Hasilnya justru akan membuat para pembaca
kebingungan saat membaca apa yang ditulis dalam paragraf.
Contoh paragraf yang kurang baik dan kurang efektif:
Nasi adalah makanan pokok masyarakat Indonesia. Hampir di setiap daerah di
Indonesia mengkonsumsi nasi sebagai makanan sehari-hari. Masyarakat Indonesia
bagian timur berbeda. Mereka masih mengkonsumsi sagu sebagai bahan pokoknya.
Penggunaan nasi sebagai bahan makanan pokok karena proses penanamannya yang
mudah dan cepat. Para petani membutuhkan sawah dan merawatnya selama 6 bulan
72

untuk menghasilkan beras yang akan menjadi nasi. Sekali panen, biasanya petani akan
menghasilkan beras yang sangat banyak. Proses penanamannya yang cepat dan mudah,
nasi juga memiliki kandungan karbohidrat yang lebih tinggi dibandingkan dengan
makanan lainnya. Nasi sangat cocok untuk orang Indonesia yang sangat membutuhkan
energi yang banyak untuk mendukung aktivitsnya sehari-hari.
Paragraf di atas bukanlah paragraf yang baik karena tidak mengandung syarat-
syarat yang telah disebutkan di atas. Unsur Kelengkapan tidak terpenuhi karena
memiliki dua gagasan utama yang saling bertolak belakang; yang pertama adalah nasi
menjadi bahan makanan pokok bagi hampir seluruh masyarakat Indonesia dan yang
kedua adalah masyarakat Indonesia bagian barat mengkonsumsi sagu. Unsur Kesatuan;
gagasan-gagasan utama pada paragraf di atas tidak terjalin dengan sangat baik, sehingga
pembaca bingung dengan apa yang menjadi topik pembicaraannya. Gagasan-gagasan
paragraf di atas juga tidak saling mendukung. Unsur Kepaduan; kalimat-kalimat dalam
paragraf di atas tidaklah padu karena tidak menggunakan konjungsi, sehigga susunannya
menjadi tidak logis. Pada kalimat terakhir seharusnya ditambah konjungsi antar kalimat
“oleh karena itu” agar menajdi lebih padu.
Contoh paragraf yang baik dan efektif:
Nasi adalah makanan pokok masyarakat Indonesia. Hampir di setiap daerah di
Indonesia mengkonsumsi nasi sebagai makanan sehari-hari. Penggunaan nasi sebagai
bahan makanan pokok karena proses penanamannya yang mudah dan cepat. Para petani
hanya membutuhkan sawah dan merawatnya selama 6 bulan untuk menghasilkan beras
yang akan menjadi nasi. Sekali masa panen, para petani bisa menghasilkan puluhan
kwintal beras. Di samping proses penanamannya yang cepat dan mudah, nasi juga
memiliki kandungan karbohidrat yang lebih tinggi dibandingkan dengan bahan makanan
lainnya. Karbohidrat inilah yang menjadi sumber energi bagi kita. Oleh karena itu, nasi
sangatlah cocok untuk orang Indonesia yang sangat membutuhkan energi yang banyak
untuk mendukung aktivitsnya sehari-hari.
73

Kompetensi :
Setelah memelajari materi di bawah ini mahasiswa mampu menulis dengan menggunakan
Bahasa Indonesia yang baik dan benar

BAB 7
METODE PENULISAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR
SESUAI PERMENDIKBUD NOMOR 50 TAHUN 2015

A. PEMAKAIAN HURUF
1. Huruf Abjad
Huruf
Nama Pengucapan
Kapital Nonkapital
A a a a
B b be bé
C c ce cé
D d de dé
E e e é
F f ef èf
G g ge gé
H h ha ha
I i i i
J j je jé
K k ka ka
L l el èl
M m em èm
N n en èn
O o o o
P p pe pé
Q q ki ki
R r er èr
S s es ès
T t te té
U u u u
V v ve vé
W w we wé
X x eks èks
Y y ye yé
Z z zet zèt

2. Huruf Vokal
Huruf yang melambangkan vokal dalam bahasa Indonesia terdiri atas lima huruf,
yaitu a, e, i, o, dan u.
74

Misalnya Pemakaian dalam Kata


Huruf Vokal
Posisi Awal Posisi Tengah Posisi Akhir
a api padi lusa
e* enak petak sore
ember pendek -
emas kena tipe
i itu simpan murni
o oleh kota radio
u ulang bumi ibu

Keterangan:
* Untuk pengucapan (pelafalan) kata yang benar, diakritik berikut ini dapat
digunakan jika ejaan kata itu dapat menimbulkan keraguan.
a. Diakritik (é) dilafalkan [e].
Misalnya:
Anak-anak bermain di teras (téras).
Kedelai merupakan bahan pokok kecap (kécap).
b. Diakritik (è) dilafalkan [ɛ].
Misalnya:
Kami menonton film seri (sèri).
Pertahanan militer (militèr) Indonesia cukup kuat.
c. Diakritik (ê) dilafalkan [ə].
Misalnya:
Pertandingan itu berakhir seri (sêri).
Upacara itu dihadiri pejabat teras (têras) Bank Indonesia.
Kecap (kêcap) dulu makanan itu.

3. Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas 21 huruf,
yaitu b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.
Huruf Misalnya Pemakaian dalam Kata
Konsonan Posisi Awal Posisi Tengah Posisi Akhir
b bahasa sebut adab
c cakap kaca -
d dua ada abad
f fakir kafan maaf
g guna tiga gudeg
h hari saham tuah
j jalan manja mikraj
k kami paksa politik
l lekas alas akal
m maka kami diam
n nama tanah daun
p pasang apa siap
75

q qariah iqra -
r raih bara putar
s sampai asli tangkas
t tali mata rapat
v variasi lava molotov
w wanita hawa takraw
x xenon - -
y yakin payung -
z zeni lazim juz

Keterangan:
* Huruf q dan x khusus digunakan untuk nama diri dan keperluan ilmu. Huruf x pada
posisi awal kata diucapkan [s].

4. Huruf Diftong
Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat diftong yang dilambangkan dengan
gabungan huruf vokal ai, au, ei, dan oi.
Huruf Misalnya Pemakaian dalam Kata
Diftong Posisi Awal Posisi Tengah Posisi Akhir
ai - balairung pandai
au autodidak taufik harimau
ei eigendom geiser survei
oi - boikot amboi

5. Gabungan Huruf Konsonan


Gabungan huruf konsonan kh, ng, ny, dan sy masing-masing melambangkan satu
bunyi konsonan.
Huruf Misalnya Pemakaian dalam Kata
Gabungan Konsonan Posisi Awal Posisi Tengah Posisi Akhir
kh khusus akhir tarikh
ng ngarai bangun senang
ny nyata banyak -
sy syarat musyawarah arasy

6. Huruf Kapital
a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama awal kalimat.
Misalnya:
Apa maksudnya?
Dia membaca buku.
Kita harus bekerja keras.
Pekerjaan itu akan selesai dalam satu jam.
b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama orang, termasuk julukan.
Misalnya:
Amir Hamzah
Dewi Sartika
76

Halim Perdanakusumah
Wage Rudolf Supratman
Jenderal Kancil
Dewa Pedang
Alessandro Volta
André Marie Ampère
Mujair
Rudolf Diesel
Catatan:
(1) Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang
merupakan nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya:
ikan mujair
mesin diesel
5 ampere
10 volt
(2) Huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata yang
bermakna "anak dari", seperti bin, binti, boru, dan van, atau huruf pertama
kata tugas.
Misalnya:
Abdul Rahman bin Zaini
Siti Fatimah binti Salim
Indani boru Sitanggang
Charles Adriaan van Ophuijsen
Ayam Jantan dari Timur
Mutiara dari Selatan
c. Huruf kapital dipakai pada awal kalimat dalam petikan langsung.
Misalnya:
Adik bertanya, "Kapan kita pulang?"
Orang itu menasihati anaknya, "Berhati-hatilah, Nak!"
"Mereka berhasil meraih medali emas," katanya.
"Besok pagi," kata dia, "mereka akan berangkat."
d. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata nama agama, kitab suci,
dan Tuhan, termasuk sebutan dan kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
Islam Alquran
Kristen Alkitab
Hindu Weda
Allah
Tuhan
Allah akan menunjukkan jalan kepada hamba-Nya.
Ya, Tuhan, bimbinglah hamba-Mu ke jalan yang Engkau beri rahmat.
e. 1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan,
keturunan, keagamaan, atau akademik yang diikuti nama orang, termasuk gelar
akademik yang mengikuti nama orang.
77

Misalnya:
Sultan Hasanuddin
Mahaputra Yamin
Haji Agus Salim
Imam Hambali
Nabi Ibrahim
Raden Ajeng Kartini
Doktor Mohammad Hatta
Agung Permana, Sarjana Hukum
Irwansyah, Magister Humaniora
e. 2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar kehormatan,
keturunan, keagamaan, profesi, serta nama jabatan dan kepangkatan yang
dipakai sebagai sapaan.
Misalnya:
Selamat datang, Yang Mulia.
Semoga berbahagia, Sultan.
Terima kasih, Kiai.
Selamat pagi, Dokter.
Silakan duduk, Prof.
Mohon izin, Jenderal.
f. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang
diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama
instansi, atau nama tempat.
Misalnya:
Wakil Presiden Adam Malik
Perdana Menteri Nehru
Profesor Supomo
Laksamana Muda Udara Husein Sastranegara
Proklamator Republik Indonesia (Soekarno-Hatta)
Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Gubernur Papua Barat
g. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan
bahasa.
Misalnya:
bangsa Indonesia
suku Dani
bahasa Bali
Catatan:
Nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata
turunan tidak ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
pengindonesiaan kata asing
keinggris-inggrisan
kejawa-jawaan
78

h. 1. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, dan hari
besar atau hari raya.
Misalnya:
tahun Hijriah tarikh Masehi
bulan Agustus bulan Maulid
hari Jumat hari Galungan
hari Lebaran hari Natal
h. 2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama peristiwa sejarah.
Misalnya:
Konferensi Asia Afrika
Perang Dunia II
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Catatan:
Huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama tidak ditulis
dengan huruf kapital.
Misalnya:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Perlombaan senjata membawa risiko pecahnya perang dunia.
i. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Misalnya:
Jakarta Asia Tenggara
Pulau Miangas Amerika Serikat
Bukit Barisan Jawa Barat
Dataran Tinggi Dieng Danau Toba
Jalan Sulawesi Gunung Semeru
Ngarai Sianok Jazirah Arab
Selat Lombok Lembah Baliem
Sungai Musi Pegunungan Himalaya
Teluk Benggala Tanjung Harapan
Terusan Suez Kecamatan Cicadas
Gang Kelinci Kelurahan Rawamangun
Catatan:
(1) Huruf pertama nama geografi yang bukan nama diri tidak ditulis dengan huruf
kapital.
Misalnya:
berlayar ke teluk mandi di sungai
menyeberangi selat berenang di danau
(2) Huruf pertama nama diri geografi yang dipakai sebagai nama jenis tidak
ditulis dengan huruf kapital.
Misalnya:
jeruk bali (Citrus maxima)
kacang bogor (Voandzeia subterranea)
nangka belanda (Anona muricata)
petai cina (Leucaena glauca)
79

(3) Nama yang disertai nama geografi dan merupakan nama jenis dapat
dikontraskan atau disejajarkan dengan nama jenis lain dalam kelompoknya.
Misalnya:
Kita mengenal berbagai macam gula, seperti gula jawa, gula pasir, gula tebu,
gula aren, dan gula anggur.
Kunci inggris, kunci tolak, dan kunci ring mempunyai fungsi yang berbeda.
Contoh berikut bukan nama jenis.
Dia mengoleksi batik Cirebon, batik Pekalongan, batik Solo, batik
Yogyakarta, dan batik Madura.
Selain film Hongkong, juga akan diputar film India, film Korea, dan film
Jepang.
Murid-murid sekolah dasar itu menampilkan tarian Sumatra Selatan, tarian
Kalimantan Timur, dan tarian Sulawesi Selatan.
j. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur
bentuk ulang sempurna) dalam nama negara, lembaga, badan, organisasi, atau
dokumen, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan untuk.
Misalnya:
Republik Indonesia
Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2010 tentang
Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pidato Presiden dan/atau Wakil Presiden
serta Pejabat Lainnya
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
k. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata (termasuk unsur kata
ulang sempurna) di dalam judul buku, karangan, artikel, dan makalah serta nama
majalah dan surat kabar, kecuali kata tugas, seperti di, ke, dari, dan, yang, dan
untuk, yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
Tulisan itu dimuat dalam majalah Bahasa dan Sastra.
Dia agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Ia menyajikan makalah "Penerapan Asas-Asas Hukum Perdata".
l. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat,
atau sapaan.
Misalnya:
S.H. sarjana hukum
S.K.M. sarjana kesehatan masyarakat
S.S. sarjana sastra
M.A. master of arts
M.Hum. magister humaniora
M.Si. magister sains
K.H. kiai haji
Hj. hajah
80

Mgr. monseigneur
Pdt. pendeta
Dg. daeng
Dt. datuk
R.A. raden ayu
St. sutan
Tb. tubagus
Dr. doktor
Prof. profesor
Tn. tuan
Ny. nyonya
Sdr. saudara
m. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan,
seperti bapak, ibu, kakak, adik, dan paman, serta kata atau ungkapan lain yang
dipakai dalam penyapaan atau pengacuan.
Misalnya:
"Kapan Bapak berangkat?" tanya Hasan.
Dendi bertanya, "Itu apa, Bu?"
"Silakan duduk, Dik!" kata orang itu.
Surat Saudara telah kami terima dengan baik.
"Hai, Kutu Buku, sedang membaca apa?"
"Bu, saya sudah melaporkan hal ini kepada Bapak."
Catatan:
(1) Istilah kekerabatan berikut bukan merupakan penyapaan atau pengacuan.
Misalnya:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga.
(2) Kata ganti Anda ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
Sudahkah Anda tahu?
Siapa nama Anda?
7. Huruf Miring
a. Huruf miring dipakai untuk menuliskan judul buku, nama majalah, atau nama
surat kabar yang dikutip dalam tulisan, termasuk dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Saya sudah membaca buku Salah Asuhan karangan Abdoel Moeis.
Majalah Poedjangga Baroe menggelorakan semangat kebangsaan.
Berita itu muncul dalam surat kabar Cakrawala.
Pusat Bahasa. 2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Edisi Keempat
(Cetakan Kedua). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
b. Huruf miring dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata,
kata, atau kelompok kata dalam kalimat.
Misalnya:
Huruf terakhir kata abad adalah d.
Dia tidak diantar, tetapi mengantar.
Dalam bab ini tidak dibahas pemakaian tanda baca.
Buatlah kalimat dengan menggunakan ungkapan lepas tangan.
81

c. Huruf miring dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam bahasa daerah
atau bahasa asing.
Misalnya:
Upacara peusijuek (tepung tawar) menarik perhatian wisatawan asing yang
berkunjung ke Aceh.
Nama ilmiah buah manggis ialah Garcinia mangostana.
Weltanschauung bermakna 'pandangan dunia'.
Ungkapan bhinneka tunggal ika dijadikan semboyan negara Indonesia.
Catatan:
(1) Nama diri, seperti nama orang, lembaga, atau organisasi, dalam bahasa asing
atau bahasa daerah tidak ditulis dengan huruf miring.
(2) Dalam naskah tulisan tangan atau mesin tik (bukan komputer), bagian yang
akan dicetak miring ditandai dengan garis bawah.
(3) Kalimat atau teks berbahasa asing atau berbahasa daerah yang dikutip secara
langsung dalam teks berbahasa Indonesia ditulis dengan huruf miring.
8. Huruf Tebal
1. Huruf tebal dipakai untuk menegaskan bagian tulisan yang sudah ditulis miring.
Misalnya:
Huruf dh, seperti pada kata Ramadhan, tidak terdapat dalam Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan.
Kata et dalam ungkapan ora et labora berarti "dan".
2. Huruf tebal dapat dipakai untuk menegaskan bagian- bagian karangan, seperti
judul buku, bab, atau subbab.
Misalnya:
1.1 Latar Belakang dan Masalah
Kondisi kebahasaan di Indonesia yang diwarnai oleh satu bahasa standar dan
ratusan bahasa daerah ditambah beberapa bahasa asing, terutama bahasa Inggris
membutuhkan penanganan yang tepat dalam perencanaan bahasa. Agar lebih jelas,
latar belakang dan masalah akan diuraikan secara terpisah seperti tampak pada
paparan berikut.
1.1.1 Latar Belakang
Masyarakat Indonesia yang heterogen menyebabkan munculnya sikap yang
beragam terhadap penggunaan bahasa yang ada di Indonesia, yaitu (1) sangat
bangga terhadap bahasa asing, (2) sangat bangga terhadap bahasa daerah, dan (3)
sangat bangga terhadap bahasa Indonesia.
1.1.2 Masalah
Penelitian ini hanya membatasi masalah pada sikap bahasa masyarakat Kalimantan
terhadap ketiga bahasa yang ada di Indonesia. Sikap masyarakat tersebut akan
digunakan sebagai formulasi kebijakan perencanaan bahasa yang diambil.
1.2 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengukur sikap bahasa masyarakat
Kalimantan, khususnya yang tinggal di kota besar terhadap bahasa Indonesia,
bahasa daerah, dan bahasa asing.
82

B. PENULISAN KATA
1. Kata Dasar
Kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan.
Misalnya:
Kantor pajak penuh sesak.
Saya pergi ke sekolah.
Buku itu sangat tebal.
2. Kata Berimbuhan
a. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran, serta gabungan awalan dan akhiran) ditulis
serangkai dengan bentuk dasarnya.
Misalnya:
berjalan
berkelanjutan
mempermudah
gemetar
lukisan
kemauan
perbaikan
Catatan:
Imbuhan yang diserap dari unsur asing, seperti -isme, -man, -wan, atau -wi, ditulis
serangkai dengan bentuk dasarnya.
Misalnya:
sukuisme
seniman
kamerawan
gerejawi
b. Bentuk terikat ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
Misalnya:
adibusana infrastruktur proaktif
aerodinamika inkonvensional purnawirawan
antarkota kontraindikasi saptakrida
antibiotik kosponsor semiprofesional
awahama mancanegara subbagian
bikarbonat multilateral swadaya
biokimia narapidana telewicara
dekameter nonkolaborasi transmigrasi
demoralisasi paripurna tunakarya
dwiwarna pascasarjana tritunggal
ekabahasa pramusaji tansuara
ekstrakurikuler prasejarah ultramodern

Catatan:
(1)Bentuk terikat yang diikuti oleh kata yang berhuruf awal kapital atau singkatan
yang berupa huruf kapital dirangkaikan dengan tanda hubung (-).
83

Misalnya:
non-Indonesia
pan-Afrikanisme
pro-Barat
non-ASEAN
anti-PKI
(2) Bentuk maha yang diikuti kata turunan yang mengacu pada nama atau sifat
Tuhan ditulis terpisah dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
Marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.
Kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Pengampun.
(3)Bentuk maha yang diikuti kata dasar yang mengacu kepada nama atau sifat
Tuhan, kecuali kata esa, ditulis serangkai.
Misalnya:
Tuhan Yang Mahakuasa menentukan arah hidup kita.
Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Esa melindungi kita.
3. Bentuk Ulang
Bentuk ulang ditulis dengan menggunakan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya.
Misalnya:
anak-anak biri-biri lauk-pauk berjalan-jalan
buku-buku cumi-cumi mondar-mandir mencari-cari
hati-hati kupu-kupu ramah-tamah terus-menerus
kuda-kuda kura-kura sayur-mayur porak-poranda
mata-mata ubun-ubun serba-serbi tunggang-langgang
Catatan:
Bentuk ulang gabungan kata ditulis dengan mengulang unsur pertama.
Misalnya:
surat kabar surat-surat kabar
kapal barang kapal-kapal barang
rak buku rak-rak buku
kereta api cepat kereta-kereta api cepat
4. Gabungan Kata
a. Unsur gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus,
ditulis terpisah.
Misalnya:
duta besar model linear
kambing hitam persegi panjang
orang tua rumah sakit jiwa
simpang empat meja tulis
mata acara cendera mata
b. Gabungan kata yang dapat menimbulkan salah pengertian ditulis dengan
membubuhkan tanda hubung (-) di antara unsur-unsurnya.
Misalnya:
anak-istri pejabat anak istri-pejabat
ibu-bapak kami ibu bapak-kami
buku-sejarah baru buku sejarah-baru
84

c. Gabungan kata yang penulisannya terpisah tetap ditulis terpisah jika mendapat
awalan atau akhiran.
Misalnya:
bertepuk tangan
menganak sungai
garis bawahi
sebar luaskan
d. Gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran sekaligus ditulis serangkai.
Misalnya:
dilipatgandakan
menggarisbawahi
menyebarluaskan
penghancurleburan
pertanggungjawaban
e. Gabungan kata yang sudah padu ditulis serangkai.
Misalnya:
acapkali hulubalang radioaktif
adakalanya kacamata saptamarga
apalagi kasatmata saputangan
bagaimana kilometer saripati
barangkali manasuka sediakala
beasiswa matahari segitiga
belasungkawa olahraga sukacita
bilamana peribahasa sukarela
bumiputra perilaku syahbandar
darmabakti hulubalang wiraswata
dukacita kacamata radioaktif
padahal puspawarna

5. Pemenggalan Kata
a. Pemenggalan kata pada kata dasar dilakukan sebagai berikut.
1) Jika di tengah kata terdapat huruf vokal yang berurutan, pemenggalannya
dilakukan di antara kedua huruf vokal itu.
Misalnya:
bu-ah
ma-in
ni-at
sa-at
2) Huruf diftong ai, au, ei, dan oi tidak dipenggal.
Misalnya:
pan-dai
au-la
sau-da-ra
sur-vei
am-boi
85

3) Jika di tengah kata dasar terdapat huruf konsonan (termasuk gabungan huruf
konsonan) di antara dua huruf vokal, pemenggalannya dilakukan sebelum huruf
kon-sonan itu.
Misalnya:
ba-pak
la-wan
de-ngan
ke-nyang
mu-ta-khir
mu-sya-wa-rah
4) Jika di tengah kata dasar terdapat dua huruf konsonan yang berurutan,
pemenggalannya dilakukan di antara kedua huruf konsonan itu.
Misalnya:
Ap-ril
cap-lok
makh-luk
man-di
sang-gup
som-bong
swas-ta
5) Jika di tengah kata dasar terdapat tiga huruf konsonan atau lebih yang masing-
masing melambangkan satu bunyi, pemenggalannya dilakukan di antara huruf
konsonan yang pertama dan huruf konsonan yang kedua.
Misalnya:
ul-tra
in-fra
ben-trok
in-stru-men
Catatan:
Gabungan huruf konsonan yang melambangkan satu bunyi tidak dipenggal.
Misalnya:
bang-krut
bang-sa
ba-nyak
ikh-las
kong-res
makh-luk
masy-hur
sang-gup
b. Pemenggalan kata turunan sedapat-dapatnya dilakukan di antara bentuk dasar dan
unsur pembentuknya.
Misalnya:
ber-jalan mem-pertanggungjawabkan
mem-bantu memper-tanggungjawabkan
di-ambil mempertanggung-jawabkan
86

ter-bawa mempertanggungjawab-kan
per-buat me-rasakan
makan-an merasa-kan
letak-kan per-buatan
pergi-lah perbuat-an
apa-kah ke-kuatan
kekuat-an
Catatan:
1) Pemenggalan kata berimbuhan yang bentuk dasarnya mengalami perubahan
dilakukan seperti pada kata dasar.
Misalnya:
me-nu-tup
me-ma-kai
me-nya-pu
me-nge-cat
pe-mi-kir
pe-no-long
pe-nga-rang
pe-nge-tik
pe-nye-but
2) Pemenggalan kata bersisipan dilakukan seperti pada kata dasar.
Misalnya:
ge-lem-bung
ge-mu-ruh
ge-ri-gi
si-nam-bung
te-lun-juk
3) Pemenggalan kata yang menyebabkan munculnya satu huruf di awal atau akhir
baris tidak dilakukan.
Misalnya:
Beberapa pendapat mengenai masalah itu
telah disampaikan ….
Walaupun cuma-cuma, mereka tidak mau
mengambil makanan itu.
c. Jika sebuah kata terdiri atas dua unsur atau lebih dan salah satu unsurnya itu dapat
bergabung dengan unsur lain, pemenggalannya dilakukan di antara unsur-unsur
itu. Tiap unsur gabungan itu dipenggal seperti pada kata dasar.
Misalnya:
biografi bio-grafi bi-o-gra-fi
biodata bio-data bi-o-da-ta
fotografi foto-grafi fo-to-gra-fi
fotokopi foto-kopi fo-to-ko-pi
introspeksi intro-speksi in-tro-spek-si
introjeksi intro-jeksi in-tro-jek-si
87

kilogram kilo-gram ki-lo-gram


kilometer kilo-meter ki-lo-me-ter
pascapanen pasca-panen pas-ca-pa-nen
pascasarjana pasca-sarjana pas-ca-sar-ja-na

d. Nama orang yang terdiri atas dua unsur atau lebih pada akhir baris dipenggal di
antara unsur-unsurnya.
Misalnya:
Lagu "Indonesia Raya" digubah oleh Wage Rudolf
Supratman.
Buku Layar Terkembang dikarang oleh Sutan Takdir
Alisjahbana.
e. Singkatan nama diri dan gelar yang terdiri atas dua huruf atau lebih tidak
dipenggal.
Misalnya:
Ia bekerja di DLLAJR.
Pujangga terakhir Keraton Surakarta bergelar R.Ng. Rangga Warsita.
Catatan:
Penulisan berikut dihindari.
Ia bekerja di DLL-
AJR.
Pujangga terakhir Keraton Surakarta bergelar R.
Ng. Rangga Warsita.
6. Kata Depan
Kata depan, seperti di, ke, dan dari, ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Di mana dia sekarang?
Kain itu disimpan di dalam lemari.
Dia ikut terjun ke tengah kancah perjuangan.
Mari kita berangkat ke kantor.
Saya pergi ke sana mencarinya.
Ia berasal dari Pulau Penyengat.
Cincin itu terbuat dari emas.
7. Partikel
a. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Bacalah buku itu baik-baik!
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Siapakah gerangan dia?
Apatah gunanya bersedih hati?
b. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa pun permasalahan yang muncul, dia dapat mengatasinya dengan bijaksana.
Jika kita hendak pulang tengah malam pun, kendaraan masih tersedia.
Jangankan dua kali, satu kali pun engkau belum pernah berkunjung ke rumahku.
88

Catatan:
Partikel pun yang merupakan unsur kata penghubung ditulis serangkai.
Misalnya:
Meskipun sibuk, dia dapat menyelesaikan tugas tepat pada waktunya.
Dia tetap bersemangat walaupun lelah.
Adapun penyebab kemacetan itu belum diketahui.
Bagaimanapun pekerjaan itu harus selesai minggu depan.
c. Partikel per yang berarti "demi", "tiap", atau "mulai" ditulis terpisah dari kata yang
mengikutinya.
Misalnya:
Mereka masuk ke dalam ruang rapat satu per satu.
Harga kain itu Rp50.000,00 per meter.
Karyawan itu mendapat kenaikan gaji per 1 Januari.
8. Singkatan dan Akronim
a. Singkatan nama orang, gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda
titik pada setiap unsur singkatan itu.
Misalnya:
A.H. Nasution Abdul Haris Nasution
H. Hamid Haji Hamid
Suman Hs. Suman Hasibuan
W.R. Supratman Wage Rudolf Supratman
M.B.A. master of business administration
M.Hum. magister humaniora
M.Si. magister sains
S.E. sarjana ekonomi
S.Sos. sarjana sosial
S.Kom. sarjana komunikasi
S.K.M. sarjana kesehatan masyarakat
Sdr. saudara
Kol. Darmawati Kolonel Darmawati
b. 1) Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata nama lembaga pemerintah
dan ketatanegaraan, lembaga pendidikan, badan atau organisasi, serta nama
dokumen resmi ditulis dengan huruf kapital tanpa tanda titik.
Misalnya:
NKRI Negara Kesatuan Republik Indonesia
UI Universitas Indonesia
PBB Perserikatan Bangsa-Bangsa
WHO World Health Organization
PGRI Persatuan Guru Republik Indonesia
KUHP Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
2) Singkatan yang terdiri atas huruf awal setiap kata yang bukan nama diri ditulis
dengan huruf kapital tanpa tanda titik.
Misalnya:
PT perseroan terbatas
MAN madrasah aliah negeri
89

SD sekolah dasar
KTP kartu tanda penduduk
SIM surat izin mengemudi
NIP nomor induk pegawai
c. Singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:
hlm. halaman
dll. dan lain-lain
dsb. dan sebagainya
dst. dan seterusnya
sda. sama dengan di atas
ybs. yang bersangkutan
yth. yang terhormat
ttd. tertanda
dkk. dan kawan-kawan
d. Singkatan yang terdiri atas dua huruf yang lazim dipakai dalam surat-menyurat
masing-masing diikuti oleh tanda titik.
Misalnya:
a.n. atas nama
d.a. dengan alamat
u.b. untuk beliau
u.p. untuk perhatian
s.d. sampai dengan
e. Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak
diikuti tanda titik.
Misalnya:
Cu kuprum
cm sentimeter
kVA kilovolt-ampere
l liter
kg kilogram
Rp rupiah
f. Akronim nama diri yang terdiri atas huruf awal setiap kata ditulis dengan huruf
kapital tanpa tanda titik.
Misalnya:
BIG Badan Informasi Geospasial
BIN Badan Intelijen Negara
LIPI Ilmu Pengetahuan Indonesia
LAN Administrasi Negara
PASI Persatuan Atletik Seluruh Indonesia
g. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan
suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal kapital.
Misalnya:
Bulog Badan Urusan Logistik
Bappenas Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
90

Kowani Kongres Wanita Indonesia


Kalteng Kalimantan Tengah
Mabbim Majelis Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia
Suramadu Surabaya Madura
h. Akronim bukan nama diri yang berupa gabungan huruf awal dan suku kata atau
gabungan suku kata ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya:
iptek ilmu pengetahuan dan teknologi
pemilu pemilihan umum
puskesmas pusat kesehatan masyarakat
rapim rapat pimpinan
rudal peluru kendali
tilang bukti pelanggaran
9. Angka dan Bilangan
Angka Arab atau angka Romawi lazim dipakai sebagai lambang bilangan atau nomor.
Angka Arab : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Angka Romawi : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), M
(1.000), V (5.000), M (1.000.000)
a. Bilangan dalam teks yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis
dengan huruf, kecuali jika dipakai secara berurutan seperti dalam perincian.
Misalnya:
Mereka menonton drama itu sampai tiga kali.
Koleksi perpustakaan itu lebih dari satu juta buku.
Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5
orang abstain.
Kendaraan yang dipesan untuk angkutan umum terdiri atas 50 bus, 100 minibus,
dan 250 sedan.
b. 1. Bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf.
Misalnya:
Lima puluh siswa teladan mendapat beasiswa dari pemerintah daerah.
Tiga pemenang sayembara itu diundang ke Jakarta.
Catatan:
Penulisan berikut dihindari:
50 siswa teladan mendapat beasiswa dari pemerintah daerah.
3 pemenang sayembara itu diundang ke Jakarta.
2. Apabila bilangan pada awal kalimat tidak dapat dinyatakan dengan satu atau
dua kata, susunan kalimatnya diubah.
Misalnya:
Panitia mengundang 250 orang peserta.
Di lemari itu tersimpan 25 naskah kuno.
Catatan:
Penulisan berikut dihindari:
250 orang peserta diundang panitia.
25 naskah kuno tersimpan di lemari itu.
91

c. Angka yang menunjukkan bilangan besar dapat ditulis sebagian dengan huruf
supaya lebih mudah dibaca.
Misalnya:
Dia mendapatkan bantuan 250 juta rupiah untuk mengembangkan usahanya.
Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 550 miliar rupiah.
Proyek pemberdayaan ekonomi rakyat itu memerlukan biaya Rp10 triliun.
d. Angka dipakai untuk menyatakan (a) ukuran panjang, berat, luas, isi, dan waktu
serta (b) nilai uang.
Misalnya:
0,5 sentimeter
5 kilogram
4 hektare
10 liter
2 tahun 6 bulan 5 hari
1 jam 20 menit
Rp5.000,00
US$3,50
£5,10
¥100
e. Angka dipakai untuk menomori alamat, seperti jalan, rumah, apartemen, atau
kamar.
Misalnya:
Jalan Tanah Abang I No. 15 atau
Jalan Tanah Abang I/15
Jalan Wijaya No. 14
Hotel Mahameru, Kamar 169
Gedung Samudra, Lantai II, Ruang 201
f. Angka dipakai untuk menomori bagian karangan atau ayat kitab suci.
Misalnya:
Bab X, Pasal 5, halaman 252
Surah Yasin: 9
Markus 16: 15—16
g. Penulisan bilangan dengan huruf dilakukan sebagai berikut.
1) Bilangan Utuh
Misalnya:
dua belas (12)
tiga puluh (30)
lima ribu (5.000)
2) Bilangan Pecahan
Misalnya:
setengah atau seperdua (1/2)
seperenam belas (1/16)
tiga perempat (3/4)
dua persepuluh (2/10)
tiga dua-pertiga (3 2/3)
satu persen (1%)
satu permil (1o/oo)
92

h. Penulisan bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut.


Misalnya:
abad XX
abad ke-20
abad kedua puluh
Perang Dunia II
Perang Dunia Ke-2
Perang Dunia Kedua
i. Penulisan angka yang mendapat akhiran -an dilakukan dengan cara berikut.
Misalnya:
lima lembar uang 1.000-an (lima lembar uang seribuan)
tahun 1950-an (tahun seribu sembilan ratus lima puluhan)
uang 5.000-an (uang lima ribuan)
j. Penulisan bilangan dengan angka dan huruf sekaligus dilakukan dalam peraturan
perundang-undangan, akta, dan kuitansi.
Misalnya:
Setiap orang yang menyebarkan atau mengedarkan rupiah tiruan, sebagaimana
dimaksud dalam pasal 23 ayat (2), dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1
(satu) tahun dan pidana denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta
rupiah).
Telah diterima uang sebanyak Rp2.950.000,00 (dua juta sembilan ratus lima puluh
ribu rupiah) untuk pembayaran satu unit televisi.
k. Penulisan bilangan yang dilambangkan dengan angka dan diikuti huruf dilakukan
seperti berikut.
Misalnya:
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp900.500,50 (sembilan ratus ribu lima
ratus rupiah lima puluh sen).
Bukti pembelian barang seharga Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) ke atas harus
dilampirkan pada laporan pertanggungjawaban.
l. Bilangan yang digunakan sebagai unsur nama geografi ditulis dengan huruf.
Misalnya:
Kelapadua
Kotonanampek
Rajaampat
Simpanglima
Tigaraksa
10. Kata Ganti ku-, kau-, -ku, -mu, dan –nya
Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya,
sedangkan -ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Rumah itu telah kujual.
Majalah ini boleh kaubaca.
Bukuku, bukumu, dan bukunya tersimpan di perpustakaan.
Rumahnya sedang diperbaiki.
93

11. Kata Sandang si dan sang


Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.
Misalnya:
Surat itu dikembalikan kepada si pengirim.
Toko itu memberikan hadiah kepada si pembeli.
Ibu itu menghadiahi sang suami kemeja batik.
Sang adik mematuhi nasihat sang kakak.
Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.
Dalam cerita itu si Buta berhasil menolong kekasihnya.
Catatan:
Huruf awal sang ditulis dengan huruf kapital jika sang merupakan unsur nama
Tuhan.
Misalnya:
Kita harus berserah diri kepada Sang Pencipta.
Pura dibangun oleh umat Hindu untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa.

C. PEMAKAIAN TANDA BACA


1. Tanda Titik (.)
a. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat pernyataan.
Misalnya:
Mereka duduk di sana.
Dia akan datang pada pertemuan itu.
b. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar, atau
daftar.
Misalnya:
a. I. Kondisi Kebahasaan di Indonesia
A. Bahasa Indonesia
1. Kedudukan
2. Fungsi
B. Bahasa Daerah
1. Kedudukan
2. Fungsi
C. Bahasa Asing
1. Kedudukan
2. Fungsi
b. 1. Patokan Umum
1.1 Isi Karangan
1.2 Ilustrasi
1.2.1 Gambar Tangan
1.2.2 Tabel
1.2.3 Grafik
2. Patokan Khusus

...
94

Catatan:
(1)Tanda titik tidak dipakai pada angka atau huruf yang sudah bertanda kurung
dalam suatu perincian.
Misalnya:
Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai
1) bahasa nasional yang berfungsi, antara lain,
a) lambang kebanggaan nasional,
b) identitas nasional, dan
c) alat pemersatu bangsa;
2) bahasa negara ….
(2)Tanda titik tidak dipakai pada akhir penomoran digital yang lebih dari satu
angka (seperti pada Misalnya 2b).
(3)Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau angka terakhir dalam
penomoran deret digital yang lebih dari satu angka dalam judul tabel, bagan,
grafik, atau gambar.
Misalnya:
Tabel 1 Kondisi Kebahasaan di Indonesia
Tabel 1.1 Kondisi Bahasa Daerah di Indonesia
Bagan 2 Struktur Organisasi
Bagan 2.1 Bagian Umum
Grafik 4 Sikap Masyarakat Perkotaan terhadap Bahasa Indonesia
Grafik 4.1 Sikap Masyarakat Berdasarkan Usia
Gambar 1 Gedung Cakrawala
Gambar 1.1 Ruang Rapat
c. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang
menunjukkan waktu atau jangka waktu.
Misalnya:
pukul 01.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik
atau pukul 1, 35 menit, 20 detik)
01.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
00.20.30 jam (20 menit, 30 detik)
00.00.30 jam (30 detik)
d. Tanda titik dipakai dalam daftar pustaka di antara nama penulis, tahun, judul
tulisan (yang tidak berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru), dan tempat terbit.
Misalnya:
Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Peta Bahasa di Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Jakarta.
Moeliono, Anton M. 1989. Kembara Bahasa. Jakarta: Gramedia.
e. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang
menunjukkan jumlah.
Misalnya:
Indonesia memiliki lebih dari 13.000 pulau.
Penduduk kota itu lebih dari 7.000.000 orang.
Anggaran lembaga itu mencapai Rp225.000.000.000,00.
95

Catatan:
(1) Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya
yang tidak menunjukkan jumlah.
Misalnya:
Dia lahir pada tahun 1956 di Bandung.
Kata sila terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa
halaman 1305.
Nomor rekening panitia seminar adalah 0015645678.
(2) Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan,
ilustrasi, atau tabel.
Misalnya:
Acara Kunjungan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Bentuk dan Kedaulatan (Bab I UUD 1945)
Gambar 3 Alat Ucap Manusia
Tabel 5 Sikap Bahasa Generasi Muda Berdasarkan Pendidikan
(3) Tanda titik tidak dipakai di belakang (a) alamat penerima dan pengirim surat
serta (b) tanggal surat.
Misalnya:
Yth. Direktur Taman Ismail Marzuki
Jalan Cikini Raya No. 73
Menteng
Jakarta 10330
Yth. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Jalan Daksinapati Barat IV
Rawamangun
Jakarta Timur
Indrawati, M.Hum.
Jalan Cempaka II No. 9
Jakarta Timur
21 April 2013
Jakarta, 15 Mei 2013 (tanpa kop surat)
2. Tanda Koma (,)
a. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu pemerincian atau
pembilangan.
Misalnya:
Telepon seluler, komputer, atau internet bukan barang asing lagi.
Buku, majalah, dan jurnal termasuk sumber kepustakaan.
Satu, dua, ... tiga!
b. Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung, seperti tetapi, melainkan, dan
sedangkan, dalam kalimat majemuk (setara).
Misalnya:
Saya ingin membeli kamera, tetapi uang saya belum cukup.
Ini bukan milik saya, melainkan milik ayah saya.
Dia membaca cerita pendek, sedangkan adiknya melukis panorama.
96

c. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat yang mendahului induk
kalimatnya.
Misalnya:
Kalau diundang, saya akan datang.
Karena baik hati, dia mempunyai banyak teman.
Agar memiliki wawasan yang luas, kita harus banyak membaca buku.
Catatan:
Tanda koma tidak dipakai jika induk kalimat mendahului anak kalimat.
Misalnya:
Saya akan datang kalau diundang.
Dia mempunyai banyak teman karena baik hati.
Kita harus banyak membaca buku agar memiliki wawasan yang luas.
d. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat,
seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan itu, dan
meskipun demikian.
Misalnya:
Mahasiswa itu rajin dan pandai. Oleh karena itu, dia memperoleh beasiswa belajar
di luar negeri.
Anak itu memang rajin membaca sejak kecil. Jadi, wajar kalau dia menjadi
bintang pelajar
Orang tuanya kurang mampu. Meskipun demikian, anak-anaknya berhasil menjadi
sarjana.
e. Tanda koma dipakai sebelum dan/atau sesudah kata seru, seperti o, ya, wah, aduh,
atau hai, dan kata yang dipakai sebagai sapaan, seperti Bu, Dik, atau Nak.
Misalnya:
O, begitu?
Wah, bukan main!
Hati-hati, ya, jalannya licin!
Nak, kapan selesai kuliahmu?
Siapa namamu, Dik?
Dia baik sekali, Bu.
f. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam
kalimat.
Misalnya:
Kata nenek saya, "Kita harus berbagi dalam hidup ini."
"Kita harus berbagi dalam hidup ini," kata nenek saya, "karena manusia adalah
makhluk sosial."
Catatan:
Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung yang berupa
kalimat tanya, kalimat perintah, atau kalimat seru dari bagian lain yang
mengikutinya.
Misalnya:
"Di mana Saudara tinggal?" tanya Pak Lurah.
"Masuk ke dalam kelas sekarang!" perintahnya.
"Wow, indahnya pantai ini!" seru wisatawan itu.
97

g. Tanda koma dipakai di antara (a) nama dan alamat, (b) bagian-bagian alamat, (c)
tempat dan tanggal, serta (d) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis
berurutan.
Misalnya:
Sdr. Abdullah, Jalan Kayumanis III/18, Kelurahan Kayumanis, Kecamatan
Matraman, Jakarta 13130
Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Salemba Raya 6, Jakarta
Surabaya, 10 Mei 1960
Tokyo, Jepang
i. Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya
dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Gunawan, Ilham. 1984. Kamus Politik Internasional. Jakarta: Restu Agung.
Halim, Amran (Ed.) 1976. Politik Bahasa Nasional. Jilid 1. Jakarta: Pusat Bahasa.
Tulalessy, D. dkk. 2005. Pengembangan Potensi Wisata Bahari di Wilayah
Indonesia Timur. Ambon: Mutiara Beta.
j. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki atau catatan akhir.
Misalnya:
Sutan Takdir Alisjahbana, Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia, Jilid 2 (Jakarta:
Pustaka Rakyat, 1950), hlm. 25.
Hadikusuma Hilman, Ensiklopedi Hukum Adat dan Adat Budaya Indonesia
(Bandung: Alumni, 1977), hlm. 12.
W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Jogjakarta:
UP Indonesia, 1967), hlm. 4.
k. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan singkatan gelar akademis yang
mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau
marga.
Misalnya:
B. Ratulangi, S.E.
Ny. Khadijah, M.A.
Bambang Irawan, M.Hum.
Siti Aminah, S.H., M.H.
Catatan:
Bandingkan Siti Khadijah, M.A. dengan Siti Khadijah M.A. (Siti Khadijah Mas
Agung).
l. Tanda koma dipakai sebelum angka desimal atau di antara rupiah dan sen yang
dinyatakan dengan angka.
Misalnya:
12,5 m
27,3 kg
Rp500,50
Rp750,00
m. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan atau keterangan
aposisi.
98

Misalnya:
Di daerah kami, Misalnya, masih banyak bahan tambang yang belum diolah.
Semua siswa, baik laki-laki maupun perempuan, harus mengikuti latihan paduan
suara.
Soekarno, Presiden I RI, merupakan salah seorang pendiri Gerakan Nonblok.
Pejabat yang bertanggung jawab, sebagaimana dimaksud pada ayat (3), wajib
menindaklanjuti laporan dalam waktu paling lama tujuh hari.
Bandingkan dengan keterangan pewatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda
koma!
Siswa yang lulus dengan nilai tinggi akan diterima di perguruan tinggi itu tanpa
melalui tes.
n. Tanda koma dapat dipakai di belakang keterangan yang terdapat pada awal
kalimat untuk menghindari salah baca/salah pengertian.
Misalnya:
Dalam pengembangan bahasa, kita dapat memanfaatkan bahasa daerah.
Atas perhatian Saudara, kami ucapkan terima kasih.
Bandingkan dengan:
Dalam pengembangan bahasa kita dapat memanfaatkan bahasa daerah.
Atas perhatian Saudara kami ucapkan terima kasih.
3. Tanda Titik Koma (;)
a. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk
memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara yang lain di dalam
kalimat majemuk.
Misalnya:
Hari sudah malam; anak-anak masih membaca buku.
Ayah menyelesaikan pekerjaan; Ibu menulis makalah; Adik membaca cerita
pendek.
b. Tanda titik koma dipakai pada akhir perincian yang berupa klausa.
Misalnya:
Syarat penerimaan pegawai di lembaga ini adalah
(1) berkewarganegaraan Indonesia;
(2) berijazah sarjana S-1;
(3) berbadan sehat; dan
(4) bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
c. Tanda titik koma dipakai untuk memisahkan bagian-bagian pemerincian dalam
kalimat yang sudah menggunakan tanda koma.
Misalnya:
Ibu membeli buku, pensil, dan tinta; baju, celana, dan kaus; pisang, apel, dan
jeruk.
Agenda rapat ini meliputi
a. pemilihan ketua, sekretaris, dan bendahara;
b. penyusunan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, dan program kerja; dan
c. pendataan anggota, dokumentasi, dan aset organisasi.
99

4. Tanda Titik Dua (:)


a. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap yang diikuti
pemerincian atau penjelasan.
Misalnya:
Mereka memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan: hidup atau mati.
b. Tanda titik dua tidak dipakai jika perincian atau penjelasan itu merupakan
pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
Misalnya:
Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
Tahap penelitian yang harus dilakukan meliputi
1) persiapan,
2) pengumpulan data,
3) pengolahan data, dan
4) pelaporan.
c. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Misalnya:
Ketua : Ahmad Wijaya
Sekretaris : Siti Aryani
Bendahara : Aulia Arimbi
Narasumber : Prof. Dr. Rahmat Effendi
Pemandu : Abdul Gani, M.Hum.
Pencatat : Sri Astuti Amelia, S.Pd.
d. Tanda titik dua dipakai dalam naskah drama sesudah kata yang menunjukkan
pelaku dalam percakapan.
Misalnya:
Ibu : "Bawa koper ini, Nak!"
Amir : "Baik, Bu."
Ibu : "Jangan lupa, letakkan baik-baik!"
e. Tanda titik dua dipakai di antara (a) jilid atau nomor dan halaman, (b) surah dan
ayat dalam kitab suci, (c) judul dan anak judul suatu karangan, serta (d) nama kota
dan penerbit dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Horison, XLIII, No. 8/2008: 8
Surah Albaqarah: 2—5
Matius 2: 1—3
Dari Pemburu ke Terapeutik: Antologi Cerpen Nusantara
Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Jakarta: Pusat Bahasa.
5. Tanda Hubung (-)
a. Tanda hubung dipakai untuk menandai bagian kata yang terpenggal oleh
pergantian baris.
Misalnya:
Di samping cara lama, diterapkan juga ca-
ra baru ….
100

Nelayan pesisir itu berhasil membudidayakan rum-


put laut.
Kini ada cara yang baru untuk meng-
ukur panas.
Parut jenis ini memudahkan kita me-
ngukur kelapa.
b. Tanda hubung dipakai untuk menyambung unsur kata ulang.
Misalnya:
anak-anak
berulang-ulang
kemerah-merahan
mengorek-ngorek
c. Tanda hubung dipakai untuk menyambung tanggal, bulan, dan tahun yang
dinyatakan dengan angka atau menyambung huruf dalam kata yang dieja satu-satu.
Misalnya:
11-11-2013
p-a-n-i-t-i-a
d. Tanda hubung dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian kata atau
ungkapan.
Misalnya:
ber-evolusi
meng-ukur
dua-puluh-lima ribuan (25 x 1.000)
23/25 (dua-puluh-tiga perdua-puluh-lima)
mesin hitung-tangan
Bandingkan dengan
be-revolusi
me-ngukur
dua-puluh lima-ribuan (20 x 5.000)
20 3/25 (dua-puluh tiga perdua-puluh-lima)
mesin-hitung tangan
e. Tanda hubung dipakai untuk merangkai
Misalnya:
a. se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital (se-Indonesia, se-
Jawa Barat);
b. ke- dengan angka (peringkat ke-2);
c. angka dengan –an (tahun 1950-an);
d. kata atau imbuhan dengan singkatan yang berupa huruf kapital (hari-H, sinar-X,
ber-KTP, di-SK-kan);
e. kata dengan kata ganti Tuhan (ciptaan-Nya, atas rahmat-Mu);
f. huruf dan angka (D-3, S-1, S-2); dan
g. kata ganti -ku, -mu, dan -nya dengan singkatan yang berupa huruf kapital (KTP-
mu, SIM-nya, STNK-ku).
Catatan:
101

Tanda hubung tidak dipakai di antara huruf dan angka jika angka tersebut
melambangkan jumlah huruf.
Misalnya:
BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja
Indonesia)
LP3I (Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia)
P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan)
f. Tanda hubung dipakai untuk merangkai unsur bahasa Indonesia dengan unsur
bahasa daerah atau bahasa asing.
Misalnya:
di-sowan-i (bahasa Jawa, "didatangi")
ber-pariban (bahasa Batak, "bersaudara sepupu")
di-back up
me-recall
pen-tackle-an
g. Tanda hubung digunakan untuk menandai bentuk terikat yang menjadi objek
bahasan.
Misalnya:
Kata pasca- berasal dari bahasa Sanskerta.
Akhiran -isasi pada kata betonisasi sebaiknya diubah menjadi pembetonan.
6. Tanda Pisah (—)
a. Tanda pisah dapat dipakai untuk membatasi penyisipan kata atau kalimat yang
memberi penjelasan di luar bangun kalimat.
Misalnya:
Kemerdekaan bangsa itu—saya yakin akan tercapai—diperjuangkan oleh bangsa
itu sendiri.
Keberhasilan itu—kita sependapat—dapat dicapai jika kita mau berusaha keras.
b. Tanda pisah dapat dipakai juga untuk menegaskan adanya keterangan aposisi atau
keterangan yang lain.
Misalnya:
Soekarno-Hatta—Proklamator Kemerdekaan RI—diabadikan menjadi nama
bandar udara internasional.
Rangkaian temuan ini—evolusi, teori kenisbian, dan pembelahan atom—telah
mengubah konsepsi kita tentang alam semesta.
Gerakan Pengutamaan Bahasa Indonesia—amanat Sumpah Pemuda—harus terus
digelorakan.
c. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan, tanggal, atau tempat yang berarti
'sampai dengan' atau 'sampai ke'.
Misalnya:
Tahun 2010—2013
Tanggal 5—10 April 2013
Jakarta—Bandung
7. Tanda Tanya (?)
a. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
Misalnya:
Kapan Hari Pendidikan Nasional diperingati?
Siapa pencipta lagu "Indonesia Raya"?
102

b. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang
disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Misalnya:
Monumen Nasional mulai dibangun pada tahun 1961 (?).
Di Indonesia terdapat 740 (?) bahasa daerah.
8. Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan
atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau emosi yang
kuat.
Misalnya:
Alangkah indahnya taman laut di Bunaken!
Mari kita dukung Gerakan Cinta Bahasa Indonesia!
Bayarlah pajak tepat pada waktunya!
Masa! Dia bersikap seperti itu?
Merdeka!
9. Tanda Elipsis (...)
a. Tanda elipsis dipakai untuk menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau kutipan
ada bagian yang dihilangkan.
Misalnya:
Penyebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.
Dalam Undang-Undang Dasar 1945 disebutkan bahwa bahasa negara ialah….
..., lain lubuk lain ikannya.
Catatan:
(1) Tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi.
(2) Tanda elipsis pada akhir kalimat diikuti oleh tanda titik (jumlah titik empat
buah).
b. Tanda elipsis dipakai untuk menulis ujaran yang tidak selesai dalam dialog.
Misalnya:
Menurut saya … seperti … bagaimana, Bu?‖
Jadi, simpulannya … oh, sudah saatnya istirahat.‖
Catatan:
(1) Tanda elipsis itu didahului dan diikuti dengan spasi.
(2) Tanda elipsis pada akhir kalimat diikuti oleh tanda titik (jumlah titik empat
buah).
10. Tanda Petik ("…")
a. Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung yang berasal dari
pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.
Misalnya:
"Merdeka atau mati!" seru Bung Tomo dalam pidatonya.
"Kerjakan tugas ini sekarang!" perintah atasannya. "Besok akan dibahas dalam
rapat."
Menurut Pasal 31 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, "Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan."
b. Tanda petik dipakai untuk mengapit judul sajak, lagu, film, sinetron, artikel,
naskah, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
103

Misalnya:
Sajak "Pahlawanku" terdapat pada halaman 125 buku itu.
Marilah kita menyanyikan lagu "Maju Tak Gentar"!
Film ―Ainun dan Habibie‖ merupakan kisah nyata yang diangkat dari sebuah
novel.
Saya sedang membaca "Peningkatan Mutu Daya Ungkap Bahasa Indonesia"
dalam buku Bahasa Indonesia Menuju Masyarakat Madani.
Makalah "Pembentukan Insan Cerdas Kompetitif" menarik perhatian peserta
seminar.
Perhatikan "Pemakaian Tanda Baca" dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan.
c. Tanda petik dipakai untuk mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata
yang mempunyai arti khusus.
Misalnya:
"Tetikus" komputer ini sudah tidak berfungsi.
Dilarang memberikan "amplop" kepada petugas!
11. Tanda Petik Tunggal ('…')
a. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit petikan yang terdapat dalam petikan
lain.
Misalnya:
Tanya dia, "Kaudengar bunyi 'kring-kring' tadi?"
"Kudengar teriak anakku, 'Ibu, Bapak pulang!', dan rasa letihku lenyap seketika,"
ujar Pak Hamdan.
"Kita bangga karena lagu 'Indonesia Raya' berkumandang di arena olimpiade
itu," kata Ketua KONI.
b. Tanda petik tunggal dipakai untuk mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan
kata atau ungkapan.
Misalnya:
tergugat 'yang digugat'
retina 'dinding mata sebelah dalam'
noken 'tas khas Papua'
tadulako 'panglima'
marsiadap ari 'saling bantu'
tuah sakato 'sepakat demi manfaat bersama'
policy 'kebijakan'
wisdom 'kebijaksanaan'
money politics 'politik uang'
12. Tanda Kurung ((…))
a. Tanda kurung dipakai untuk mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Misalnya:
Dia memperpanjang surat izin mengemudi (SIM).
Warga baru itu belum memiliki KTP (kartu tanda penduduk).
Lokakarya (workshop) itu diadakan di Manado.
b. Tanda kurung dipakai untuk mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan
bagian utama kalimat.
104

Misalnya:
Sajak Tranggono yang berjudul "Ubud" (nama tempat yang terkenal di Bali)
ditulis pada tahun 1962.
Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru pasar
dalam negeri.
c. Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau kata yang keberadaannya di
dalam teks dapat dimunculkan atau dihilangkan.
Misalnya:
Dia berangkat ke kantor selalu menaiki (bus) Transjakarta.
Pesepak bola kenamaan itu berasal dari (Kota) Padang.
d. Tanda kurung dipakai untuk mengapit huruf atau angka yang digunakan sebagai
penanda pemerincian.
Misalnya:
Faktor produksi menyangkut (a) bahan baku, (b) biaya produksi, dan (c) tenaga
kerja.
Dia harus melengkapi berkas lamarannya dengan melampirkan
(1) akta kelahiran,
(2) ijazah terakhir, dan
(3) surat keterangan kesehatan.
13. Tanda Kurung Siku ([…])
a. Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata
sebagai koreksi atau tambahan atas kesalahan atau kekurangan di dalam naskah
asli yang ditulis orang lain.
Misalnya:
Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.
Penggunaan bahasa dalam karya ilmiah harus sesuai [dengan] kaidah bahasa
Indonesia.
Ulang tahun [Proklamasi Kemerdekaan] Republik Indonesia dirayakan secara
khidmat.
b. Tanda kurung siku dipakai untuk mengapit keterangan dalam kalimat penjelas
yang terdapat dalam tanda kurung.
Misalnya:
Persamaan kedua proses itu (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat
halaman 35-38]) perlu dibentangkan di sini.
14. Tanda Garis Miring (/)
a. Tanda garis miring dipakai dalam nomor surat, nomor pada alamat, dan
penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
Misalnya:
Nomor: 7/PK/II/2013
Jalan Kramat III/10
tahun ajaran 2012/2013
a. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau, serta setiap.
Misalnya:
mahasiswa/mahasiswi 'mahasiswa dan mahasiswi'
dikirimkan lewat darat/laut 'dikirimkan lewat darat atau lewat laut'
buku dan/atau majalah 'buku dan majalah atau buku atau majalah'
harganya Rp1.500,00/lembar 'harganya Rp1.500,00 setiap lembar'
105

c. Tanda garis miring dipakai untuk mengapit huruf, kata, atau kelompok kata
sebagai koreksi atau pengurangan atas kesalahan atau kelebihan di dalam naskah
asli yang ditulis orang lain.
Misalnya:
Buku Pengantar Ling/g/uistik karya Verhaar dicetak beberapa kali.
Asmara/n/dana merupakan salah satu tembang macapat budaya Jawa.
Dia sedang menyelesaikan /h/utangnya di bank.
15. Tanda Penyingkat atau Apostrof (')
Tanda penyingkat dipakai untuk menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian
angka tahun dalam konteks tertentu.
Misalnya:
Dia 'kan kusurati. ('kan = akan)
Mereka sudah datang, 'kan? ('kan = bukan)
Malam 'lah tiba. ('lah = telah)
5-2-'13 (‘13 = 2013)

D. Penulisan Unsur Serapan


Dalam perkembangannya bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa,
baik dari bahasa daerah, seperti bahasa Jawa, Sunda, dan Bali, maupun dari bahasa
asing, seperti bahasa Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, Cina, dan Inggris. Berdasarkan
taraf integrasinya, unsur serapan dalam bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi dua
kelompok besar. Pertama, unsur asing yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa
Indonesia, seperti force majeur, de facto, de jure, dan l’exploitation de l'homme par
l'homme. Unsur-unsur itu dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi cara
pengucapan dan penulisannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur asing yang
penulisan dan pengucapannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal
ini, penyerapan diusahakan agar ejaannya diubah seperlunya sehingga bentuk
Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.
Kaidah ejaan yang berlaku bagi unsur serapan itu adalah sebagai berikut.
1. a (Arab, bunyi pendek atau bunyi panjang) menjadi a (bukan o)
mażhab ()‫مذ هب‬ mazhab
qadr (‫) قدر‬ kadar
ṣaḥābat (‫) صحا بة‬ sahabat
haqīqat (‫ ) حقيقة‬hakikat
‘umrah (‫) عمرة‬ umrah
gā’ib (‫ ) غائب‬gaib
iqāmah (‫) إقامة‬ ikamah
khātib (‫) خاطب‬ khatib
riḍā’ (‫) رضاء‬ rida
ẓālim (‫) ظالم‬ zalim
2. ‘ain (‫ ع‬Arab) pada awal suku kata menjadi a, i, u
‘ajā’ib (‫) عجائب‬ ajaib
sa‘ādah (‫ ) سعادة‬saadah
‘ilm (‫) علم‬ ilmu
106

qā‘idah (‫ ) قاعدة‬kaidah
‘uzr (‫) عذر‬ uzur
ma‘ūnah (‫) معونة‬ maunah
3. ‘ain (‫ ع‬Arab) di akhir suku kata menjadi k
’i‘ tiqād (‫ ) إعتقاد‬iktikad
mu‘jizat (‫) معجزة‬ mukjizat
ni‘mat (‫) نعمة‬ nikmat
rukū‘ (‫) ركوع‬ rukuk
simā‘ (‫ ) سماع‬simak
ta‘rīf (‫) تعريف‬ takrif
4. aa (Belanda) menjadi a
paal pal
baal bal
octaaf oktaf
5. ae tetap ae jika tidak bervariasi dengan e
aerobe aerob
aerodinamics aerodinamika
6. ae, jika bervariasi dengan e, menjadi e
haemoglobin hemoglobin
haematite hematit
7. ai tetap ai
trailer trailer
caisson kaison
8. au tetap au
audiogram audiogram
autotroph autotrof
tautomer tautomer
hydraulic hidraulik
caustic kaustik
9. c di depan a, u, o, dan konsonan menjadi k
calomel kalomel
construction konstruksi
cubic kubik
coup kup
classification klasifikasi
crystal kristal
10. c di depan e, i, oe, dan y menjadi s
central sentral
cent sen
circulation sirkulasi
coelom selom
cybernetics sibernetika
cylinder silinder
11. cc di depan o, u, dan konsonan menjadi k
accomodation akomodasi
acculturation akulturasi
107

acclimatization aklimatisasi
accumulation akumulasi
acclamation aklamasi
12. cc di depan e dan i menjadi ks
accent aksen
accessory aksesori
vaccine vaksin
13. cch dan ch di depan a, o, dan konsonan menjadi k
saccharin sakarin
charisma karisma
cholera kolera
chromosome kromosom
technique teknik
14. ch yang lafalnya s atau sy menjadi s
echelon eselon
machine mesin
15. ch yang lafalnya c menjadi c
charter carter
chip cip
16. ck menjadi k
check cek
ticket tiket
17. ç (Sanskerta) menjadi s
çabda sabda
çastra sastra
18. ḍad (‫ ض‬Arab) menjadi d
’afḍal ( ‫) أفضل‬ afdal
ḍa’īf (‫) ضعيف‬ daif
farḍ (‫) فرض‬ fardu
hāḍir (‫) حاضر‬ hadir
19. e tetap e
effect efek
description deskripsi
synthesis sintesis
20. ea tetap ea
idealist idealis
habeas habeas
21. ee (Belanda) menjadi e
stratosfeer stratosfer
systeem sistem
22. ei tetap ei
eicosane eikosan
eidetic eidetik
einsteinium einsteinium
108

23. eo tetap eo
stereo stereo
geometry geometri
zeolite zeolit
24. eu tetap eu
neutron neutron
eugenol eugenol
europium europium
25. fa (‫ ف‬Arab) menjadi f
'afḍal (‫ ) أفضل‬afdal
‘ārif (‫) عارف‬ arif
faqīr (‫ ) فقير‬fakir
faṣīh (‫) فصيح‬ fasih
mafhūm (‫ ) مفهوم‬mafhum
26. f tetap f
fanatic fanatik
factor faktor
fossil fosil
27. gh menjadi g
ghanta genta
sorghum sorgum
28. gain (‫ غ‬Arab) menjadi g
gā’ib (‫ ) غائب‬gaib
magfirah (‫ ) مغفرة‬magfirah
magrib (‫) مغرب‬ magrib
29. gue menjadi ge
igue ige
gigue gige
30. ḥa (‫ ح‬Arab) menjadi h
ḥākim (‫) حاكم‬ hakim
iṣlāḥ (‫) إصلح‬ islah
siḥr (‫ ) سحر‬sihir
31. hamzah (‫ ء‬Arab) yang diikuti oleh vokal menjadi a, i, u
’amr (‫) أمر‬ amar
mas’alah (‫ ) مسألة‬masalah
’iṣlāḥ (‫) إصلح‬ islah
qā’idah (‫ ) قاعدة‬kaidah
’ufuq ( ‫) أفق‬ ufuk
32. hamzah (‫ ء‬Arab) di akhir suku kata, kecuali di akhir kata, menjadi k
ta’wīl (‫ ) تأويل‬takwil
ma’mūm (‫) مأموم‬ makmum
mu’mīn (‫) مؤمن‬ mukmin
33. hamzah (‫ ء‬Arab) di akhir kata dihilangkan
imlā’ (‫) إملء‬ imla
istinjā’ (‫) إستنجاء‬ istinja/tinja
munsyi’ (‫) منشىء‬ munsyi
wuḍū’ (‫) وضوء‬ wudu
109

34. i (Arab, bunyi pendek atau bunyi panjang) menjadi i


'i‘tiqād (‫ ) إعتقاد‬iktikad
muslim (‫ ) مسلم‬muslim
naṣīḥah (‫) نصيحة‬ nasihat
ṣaḥīḥ (‫) صحيح‬ sahih
35. i pada awal suku kata di depan vokal tetap i
iambus iambus
ion ion
iota iota
36. ie (Belanda) menjadi i jika lafalnya i
politiek politik
riem rim
37. ie tetap ie jika lafalnya bukan i
variety varietas
patient pasien
hierarchy hierarki
38. jim (‫ ج‬Arab) menjadi j
jāriyah (‫) جارية‬ jariah
janāzah (‫ ) جنازة‬jenazah
'ijāzah (‫) إجازة‬ ijazah
39. kha (‫ خ‬Arab) menjadi kh
khuṣūṣ (‫) خصوص‬ khusus
makhlūq (‫) مخلوق‬ makhluk
tārīkh (‫ ) تاريخ‬tarikh
40. ng tetap ng
contingent kontingen
congres kongres
linguistics linguistik
41. oe (oi Yunani) menjadi e
foetus fetus
oestrogen estrogen
oenology enologi
42. oo (Belanda) menjadi o
komfoor kompor
provoost provos
43. oo (Inggris) menjadi u
cartoon kartun
proof pruf
pool pul
44. oo (vokal ganda) tetap oo
zoology zoologi
coordination koordinasi
45. ou menjadi u jika lafalnya u
gouverneur gubernur
coupon kupon
contour kontur
110

46. ph menjadi f
phase fase
physiology fisiologi
spectograph spektograf
47. ps tetap ps
pseudo pseudo
psychiatry psikiatri
psychic psikis
psychosomatic psikosomatik
48. pt tetap pt
pterosaur pterosaur
pteridology pteridologi
ptyalin ptialin
49. q menjadi k
aquarium akuarium
frequency frekuensi
equator ekuator
50. qaf ( ‫ ق‬Arab) menjadi k
‘aqīqah (‫ ) عقيقة‬akikah
maqām (‫) مقام‬ makam
muṭlaq (‫) مطلق‬ mutlak
51. rh menjadi r
rhapsody rapsodi
rhombus rombus
rhythm ritme
rhetoric retorika
52. sin ( ‫ س‬Arab) menjadi s
asās (‫ ) أساس‬asas
salām (‫ ) سلم‬salam
silsilah (‫ ) سلسة‬silsilah
53. śa ( ‫ ث‬Arab) menjadi s
Aśiri ( ‫) أثيرى‬ asiri
'adiś (‫ ) حديث‬hadis
śulāśā (‫) ا لثثل ثاء‬ selasa
wāriś (‫) وارث‬ waris
54. ṣad ( ‫ ص‬Arab) menjadi s
‘aṣr ( ‫) عصر‬ asar
Muṣībah (‫) مصيبة‬ musibah
khuṣūṣ (‫) خصوص‬ khusus
ṣaḥḥ ( ‫ ) صح‬sah
55. syin ( ‫ ش‬Arab) menjadi sy
‘āsyiq (‫) عاشق‬ asyik
‘arsy (‫) عرش‬ arasy
syarṭ (‫ ) شرط‬syarat
111

56. sc di depan a, o, u, dan konsonan menjadi sk


scandium skandium
scotopia skotopia
scutella skutela
sclerosis sklerosis
57. sc di depan e, i, dan y menjadi s
scenography senografi
scintillation sintilasi
scyphistoma sifistoma
58. sch di depan vokal menjadi sk
schema skema
schizophrenia skizofrenia
scholastic skolastik
59. t di depan i menjadi s jika lafalnya s
actie aksi
ratio rasio
patient pasien
60. ṭa ( ‫ ط‬Arab) menjadi t
khaṭṭ ( ‫) خط ث‬ khat
muṭlaq (‫) مطلق‬ mutlak
ṭabīb (‫ ) طبيب‬tabib
61. th menjadi t
theocracy teokrasi
orthography ortografi
thrombosis trombosis
methode (Belanda) metode
62. u tetap u
unit unit
nucleolus nukleolus
structure struktur
institute institut
63. u (Arab, bunyi pendek atau bunyi panjang) menjadi u
rukū’ (‫) ركوع‬ rukuk
syubḥāt (‫) شبها ت‬ syubhat
sujūd (‫ ) سجود‬sujud
’ufuq ( ‫) أفق‬ ufuk
64. ua tetap ua
aquarium akuarium
dualisme dualisme
squadron skuadron
65. ue tetap ue
consequent konsekuen
duet duet
suede sued
112

66. ui tetap ui
conduite konduite
equinox ekuinoks
equivalent ekuivalen
67. uo tetap uo
fluorescein fluoresein
quorum kuorum
quota kuota
68. uu menjadi u
lectuur lektur
prematuur prematur
vacuum vakum
69. v tetap v
evacuation evakuasi
television televisi
vitamin vitamin
70. wau ( ‫ و‬Arab) tetap w
jadwal (‫ ) جدول‬jadwal
taqwā (‫ ) تقوى‬takwa
wujūd (‫) وجود‬ wujud
71. wau ( ‫ و‬Arab, baik satu maupun dua konsonan) yang didahului u dihilangkan
nahwu (‫) نحو‬ nahu
nubuwwah ( ‫) نبثو ة‬ nubuat
quwwah ( ‫) قثو ة‬ kuat
72. aw (diftong Arab) menjadi au, termasuk yang diikuti konsonan
awrāt ( ‫) عورة‬ aurat
hawl (‫) هول‬ haul
mawlid (‫) مولد‬ maulid
walaw ( ‫) ولو‬ walau
73. x pada awal kata tetap x
xanthate xantat
xenon xenon
xylophone xilofon
74. x pada posisi lain menjadi ks
executive eksekutif
express ekspres
latex lateks
taxi taksi
75. xc di depan e dan i menjadi ks
exception eksepsi
excess ekses
excision eksisi
excitation eksitasi
76. xc di depan a, o, u, dan konsonan menjadi ksk
excavation ekskavasi
excommunication ekskomunikasi
excursive ekskursif
exclusive eksklusif
77. y tetap y jika lafalnya y
113

yakitori yakitori
yangonin yangonin
yen yen
yuan yuan
78. y menjadi i jika lafalnya ai atau i
dynamo dinamo
propyl propil
psychology psikologi
yttrium itrium
79. ya ( ‫ ي‬Arab) di awal suku kata menjadi y
‘ināyah (‫ ) عناية‬inayah
yaqīn (‫ ) يقين‬yakin
ya‘nī (‫ ) يعني‬yakni
80. ya ( ‫ ي‬Arab) di depan i dihilangkan
khiyānah (‫ ) خيانة‬khianat
qiyās (‫ ) قياس‬kias
ziyārah (‫ ) زيارة‬ziarah
81. z tetap z
zenith zenit
zirconium zirkonium
zodiac zodiak
zygote zigot
82. zai ( ‫ ز‬Arab) tetap z
ijāzah (‫) إجازة‬ ijazah
khazānah (‫) خزانة‬ khazanah
ziyārah (‫ ) زيارة‬ziarah
zaman (‫) زمن‬ zaman
83. żal ( ‫ ذ‬Arab) menjadi z
ażān (‫) أذان‬ azan
iżn (‫) إذن‬ izin
ustāż (‫ ) أستاذ‬ustaz
żāt (‫) ذات‬ zat
84. ẓa ( ‫ ظ‬Arab) menjadi z
ḥāfiẓ (‫ ) حافظ‬hafiz
ta‘ẓīm (‫ ) تعظيم‬takzim
ẓālim (‫) ظالم‬ zalim
85. Konsonan ganda diserap menjadi konsonan tunggal, kecuali kalau dapat
membingungkan.
Misalnya:
accu aki
'allāmah alamah
commission komisi
effect efek
ferrum ferum
gabbro gabro
114

kaffah kafah
salfeggio salfegio
tafakkur tafakur
tammat tamat
'ummat umat
86. Perhatikan penyerapan berikut!
'Allah Allah
mass massa
massal massal
Catatan:
Unsur serapan yang sudah lazim dieja sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia tidak perlu
lagi diubah.
Misalnya:
bengkel nalar Rabu dongkrak
napas Selasa faedah paham
Senin kabar perlu sirsak
khotbah pikir soal koperasi
populer telepon lahir

Selain kaidah penulisan unsur serapan di atas, berikut ini disertakan daftar istilah asing
yang mengandung akhiran serta penyesuaiannya secara utuh dalam bahasa Indonesia.
1. -aat (Belanda) menjadi -at
advocaat advokat
2. -age menjadi -ase
percentage persentase
etalage etalase
3. -ah (Arab) menjadi -ah atau -at
'aqīdah (‫ )عقيدة‬akidah
'ijāzah (‫)إجازة‬ ijazah
‘umrah (‫)عمرة‬ umrah
'ākhirah (‫)آخرة‬ akhirat
'āyah (‫)أية‬ ayat
ma‘siyyah ( ‫)معصثية‬ maksiat
'amānah (‫)أمانة‬ amanah, amanat
hikmah (‫)حكمة‬ hikmah, hikmat
‘ibādah (‫ )عبادة‬ibadah, ibadat
sunnah (‫)سنة‬ sunah, sunat
sūrah (‫ ) سورة‬surah, surat
4. -al (Inggris), -eel dan -aal (Belanda) menjadi -al
structural, structureel struktural
formal, formeel formal
normal, normaal normal
5. -ant menjadi -an
accountant akuntan
consultant konsultan
informant informan
6. -archy (Inggris), -archie (Belanda) menjadi arki
115

anarchy, anarchie anarki


monarchy, monarchie monarki
oligarchy, oligarchie oligarki
7. -ary (Inggris), -air (Belanda) menjadi -er
complementary,complementair komplementer
primary, primair primer
secondary, secundair sekunder
8. -(a)tion (Inggris), -(a)tie (Belanda) menjadi -asi, -si
action, actie aksi
publication, publicatie publikasi
9. -eel (Belanda) menjadi -el
materieel materiel
moreel morel
10. -ein tetap -ein
casein kasein
protein protein
11. -i, -iyyah (akhiran Arab) menjadi –i atau -iah
‘ālamī (‫) عالمي‬ alami
'insānī (‫) إنساني‬ insani
‘āliyyah ( ‫) عالثية‬ aliah
‘amaliyyah ( ‫) عملثية‬ amaliah
12. -ic, -ics, dan -ique (Inggris), -iek dan -ica (Belanda) menjadi -ik, ika
dialectics, dialektica dialektika
logic, logica logika
physics, physica isika
linguistics, linguistiek linguistik
phonetics, phonetiek fonetik
technique, techniek teknik
13. -ic (Inggris), -isch (adjektiva Belanda) menjadi -ik
electronic, elektronisch elektronik
mechanic, mechanisch mekanik
ballistic, ballistisch balistik
14. -ical (Inggris), -isch (Belanda) menjadi -is
economical, economisch ekonomis
practical, practisch praktis
logical, logisch logis
15. -ile (Inggris), -iel (Belanda) menjadi -il
mobile, mobiel mobil
percentile, percentiel persentil
projectile, projectiel proyektil
16. -ism (Inggris), -isme (Belanda) menjadi -isme
capitalism, capitalisme kapitalisme
communism, communisme komunisme
modernism, modernisme modernisme
17. -ist menjadi -is
116

egoist egois
hedonist hedonis
publicist publisis
18. -ive (Inggris), -ief (Belanda) menjadi -if
communicative,communicatief komunikatif
demonstrative, demonstratief demonstratif
descriptive, descriptief deskriptif
19. -logue (Inggris), -loog (Belanda) menjadi -log
analogue, analoog analog
epilogue, epiloog epilog
prologue, proloog prolog
20. -logy (Inggris), -logie (Belanda) menjadi -logi
technology, technologie teknologi
physiology, physiologie fisiologi
analogy, analogie analogi
21. -oid (Inggris), oide (Belanda) menjadi -oid
anthropoid, anthropoide antropoid
hominoid, hominoide hominoid
22. -oir(e) menjadi -oar
trotoir trotoar
repertoire repertoar
23. -or (Inggris), -eur (Belanda) menjadi -ur, -ir
director, directeur direktur
inspector, inspecteur inspektur
amateur amatir
formateur formatur
24. -or tetap -or
dictator diktator
corrector korektor
distributor distributor
25. -ty (Inggris), -teit (Belanda) menjadi -tas
university, universiteit universitas
quality, kwaliteit kualitas
quantity, kwantiteit kuantitas
26. -ure (Inggris), -uur (Belanda) menjadi -ur
culture, cultuur kultur
premature, prematuur prematur
structure, struktuur struktur
27. -wi, -wiyyah (Arab) menjadi -wi, -wiah
Dunyāwī (‫ ) دنياوى‬duniawi
kimiyāwī (‫ ) کيمياوى‬kimiawi
lugawiyyah (‫ ) لغوثىة‬lugawiah
117

Kompetensi :
Setelah memelajari materi di bawah ini diharapkan mahasiswa mampu membaca untuk
menulis dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar

BAB 8
RANGKUMAN

A. Pengertian
Rangkuman dapat diartikan sebagai suatu hasil merangkum atau meringkas suatu
tulisan atau pembicaraan menjadi suatu uraian yang lebih singkat dengan perbandingan
secara proporsional antara bagian yang dirangkum dengan rangkumannya (Djuharni,
2001). Rangkuman dapat pula diartikan sebagai hasil merangkai atau menyatukan
pokok-pokok pembicaraan atau tulisan yang terpencar dalam bentuk pokok-pokoknya
saja. Rangkuman sering pula disebut ikhtisar, yakni penyajian singkat dari suatu
karangan. Pada tulisan jenis rangkuman, urutan isi bagian demi bagian, dan sudut
pandang (pendapat) pengarang tetap diperhatikan dan dipertahankan. Namun,
rangkuman lebih identik dengan ringkasan untuk karangan yang lebih panjang, misalnya
yang berbentuk buku. Ide-ide pokok yang tersebar dalam banyak bab atau beberapa
buku, disatukan ke dalam satu bentuk karangan yang ringkas. Adapun ikhtisar
merupakan ringkasan untuk karangan-karangan singkat, misalnya untuk satu atau dua
bab.

B. Manfaat Rangkuman
Rangkuman besar sekali manfaatnya, yakni sebagai sarana untuk membantu kita
dalam mengingat isi sebuah buku atau suatu uraian yang begitu panjang. Rangkuman
memuat ide-ide pokok yang mewakili setiap bagian bacaan aslinya. Dengan membaca
rangkuman, kita seakan-akan memahami keseluruhan buku secara utuh.

C. Langkah-langkah
Untuk dapat menghasilkan sebuah rangkuman yang baik, seorang penulis pemula
perlu memperhatikan empat hal pokok, yaitu:
Pertama : Mampu membaca dengan baik bacaan yang akan dirangkum
Kedua : Mampu memahami isi secara utuh terhadap bacaan yang akan dirangkum
Ketiga : Mampu menemukan ide-ide pokok ataupun kalimat topik dalam bacaan
yang akan dirangkum
Keempat : Mampu menyusun kembali ide-ide maupun kalimat topik yang telah
ditemukan menjadi sebuah tulisan utuh
118

Untuk mencapai hal di atas, langkah-langkah yang harus ditempuh bagi seorang
penulis rangkuman adalah sebagai berikut:
1. Perangkum harus membaca uraian asli pengarang sampai tuntas agar memperoleh
gambaran atau kesan umum dan sudut pandang pengarang. Pembacaan hendaklah
dilakukan secara saksama dan diulang sampai dua atau tiga kali untuk dapat
memahami isi bacaan secara utuh.
2. Perangkum membaca kembali bacaan yang akan dirangkum dengan membuat catatan
pikiran utama atau menandai pikiran utama setiap uraian untuk setiap bagian atau
setiap paragraf.
3. Dengan berpedoman hasil catatan, perangkum mulai membuat rangkuman dan
menyusun kalimat-kalimat yang bertolak dari hasil catatan dengan menggunakan
bahasa perangkum sendiri. Hanya saja, apabila perangkum merasa ada yang kurang
enak, perangkum dapat membuka kembali bacaan yang akan dirangkum.
4. Perangkum perlu membaca kembali hasil rangkuman dan mengadakanperbaikan
apabila dirasa ada kalimat yang kurang koheren.
5. Perangkum perlu menulis kembali hasil rangkumannya berdasarkan hasil perbaikan
dan memastikan bahwa rangkuman yang dihasilkan lebih pendek dibanding dengan
bacaan yang dirangkum.

D. Cara Membuat Rangkuman dan Ikhtisar


Merangkum atau meringkas suatu bacaan bertujuan untuk menguji kemampuan
penulis pemula dalam menemukan pokok-pokok permasalahan sebuah tulisan, kemudian
menyusun kembali dalam sebuah tulisan yang lebih ringkas.
Dalam membuat suatu rangkuman, penulis bisa langsung mengemukakan isi suatu
uraian atau pembicaraan itu tanpa harus menggunakan kalimat penyambung. Yang
dimaksud dengan kalimat penyambung itu adalah menggunakan pernyataan dengan
kata-kata: “Pada buku yang berjudul Terampil Meringkas, pengarang memulai dengan
penjelasan tentang masalah menulis ringkasan bagi para penulis pemula sebagai
berikut.” atau “Pengarang buku yang berjudul Ayo Menulis memulai uraiannya dengan
menyebutkan hal-hal sebagai berikut.” Kalimat penyambung dalam sebuah rangkuman
seperti contoh di atas tidak diperlukan. Penulis dapat langsung melakukan kegiatan
mencari pokok-pokok permasalahan terhadap tulisan yang akan dirangkum sesuai
dengan tulisan yang telah dibaca dan dipahami.
Pokok-pokok permasalahan dalam sebuah tulisan dapat diambil dari kalimat-
kalimat utama dalam setiap paragraf. Kalimat-kalimat utama tersebut selanjutnya
dihubung-hubungkan dengan menggunakan konjungsi atau dengan menambah kalimat
penghubung agar tampak koheren (padu).
119

Hal yang harus diperhatikan di dalam membuat rangkuman adalah penggunaan


bahasa yang digunakan di dalam rangkuman. Bahasa rangkuman harus berbeda dengan
bahasa asli penulis buku yang dirangkum. Akan tetapi, bahasa rangkuman yang dibuat
bertolak dari ide pokok pengarang yang tertuang dalam setiap paragraf atau bacaan.
Dengan demikian, jika akan merangkum uraian pengarang dari suatu paragraf, penulis
terlebih dahulu perlu menemukan ide pokok yang terdapat di dalam paragraf tersebut,
kemudian diungkap ulang dengan menggunakan bahasa yang berbeda dan singkat. Agar
hasil rangkuman itu tidak menyimpang dari uraian aslinya, ide-ide pokok setiap paragraf
jangan diabaikan.
Ikhtisar adalah tulisan ringkas yang berisi pokok persoalan dalam sebuah bacaan.
Dalam pembuatan ikhtisar, penulis dapat langsung mengungkapkan persoalan dari suatu
bahan bacaan atau pembicaraan yang akan diikhtisarkan. Penulis dapat membuat catatan
atau memberi tanda tertentu pada bagian-bagian penting dalam bacaan yang akan
diikhtisarkan ketika membaca.
Dalam membuat ikhtisar, urutan isi tidak perlu dipersoalkan dan bahasa disusun
dengan gaya bahasa yang mudah sehingga dapat dipahami oleh pembacanya. Dalam
membuat ikhtisar dapat pula dilakukan dengan cara menyesuaikan bahasa ikhtisar
dengan pembaca atau yang akan memahami ikhtisar tersebut. Penulis dapat pula
memberikan penafsiran isi bacaan sesuai dengan kajian ilmu yang didalaminya, namun
tetap mempertahankan pokok persoalan yang diungkapkan.
Cara membuat ringkasan:
1. Membaca Naskah Asli
Bacalah naskah asli sekali atau dua kali, kalau perlu berulang kali agar Anda
mengetahui kesan umum tentang karangan tersebut secara menyeluruh. Penulis
ringkasan juga perlu mengetahui maksud dan sudut pandangan penulis naskah asli.
Untuk mencapainya, judul dan daftar isi tulisan (kalau ada) dapat dijadikan pegangan
karena perincian daftar isi memunyai pertalian dengan judul dan alinea-alinea dalam
tulisan menunjang pokok-pokok yang tercantum dalam daftar isi.
2. Mencatat Gagasan Utama
Jika Anda sudah menangkap maksud, kesan umum, dan sudut pandangan pengarang
asli, silakan memperdalam dan mengonkritkan semua hal itu. Bacalah kembali
karangan itu bagian demi bagian, alinea demi alinea sambil mencatat semua gagasan
yang penting dalam bagian atau alinea itu. Pokok-pokok yang telah dicatat dipakai
untuk menyusun sebuah ringkasan. Langkah kedua ini juga menggunakan judul dan
daftar isi sebagai pegangan. Yang menjadi sasaran pencatatan adalah judul-judul bab,
judul anak bab, dan alinea, kalau perlu gagasan bawahan alinea yang betul-betul
esensial untuk memperjelas gagasan utama tadi juga dicatat.
120

3. Mengadakan Reproduksi
Pakailah kesan umum dan hasil pencatatan untuk membuat ringkasan. Urutan isi
disesuaikan dengan naskah asli, tapi kalimat-kalimat dalam ringkasan yang dibuat
adalah kalimat-kalimat baru yang sekaligus menggambarkan kembali isi dari
karangan aslinya. Bila gagasan yang telah dicatat ada yang masih kabur, silakan
melihat kembali teks aslinya, tapi jangan melihat teks asli lagi untuk hal lainnya agar
Anda tidak tergoda untuk menggunakan kalimat dari penulis asli. Karena kalimat
penulis asli hanya boleh digunakan bila kalimat itu dianggap penting karena
merupakan kaidah, kesimpulan, atau perumusan yang padat.
Ketentuan Tambahan :
Setelah melakukan langkah ketiga, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan
agar ringkasan itu diterima sebagai suatu tulisan yang baik.
a. Susunlah ringkasan dalam kalimat tunggal daripada kalimat majemuk.
b. Ringkaskanlah kalimat menjadi frasa, frasa menjadi kata. Jika rangkaian gagasan
panjang, gantilah dengan suatu gagasan sentral saja.
c. Besarnya ringkasan tergantung jumlah alinea dan topik utama yang akan dimasukkan
dalam ringkasan. Ilustrasi, contoh, deskripsi, dsb. dapat dihilangkan, kecuali yang
dianggap penting.
d. Jika memungkinkan, buanglah semua keterangan atau kata sifat yang ada, meski
terkadang sebuah kata sifat atau keterangan masih dipertahankan untuk menjelaskan
gagasan umum yang tersirat dalam rangkaian keterangan atau rangkaian kata sifat
yang terdapat dalam naskah.
e. Anda harus mempertahankan susunan gagasan dan urutan naskah. Tapi yang sudah
dicatat dari karangan asli itulah yang harus dirumuskan kembali dalam kalimat
ringkasan Anda. Jagalah juga agar tidak ada hal yang baru atau pikiran Anda sendiri
yang dimasukkan dalam ringkasan.
f. Agar dapat membedakan ringkasan sebuah tulisan biasa (bahasa tak langsung) dan
sebuah pidato/ceramah (bahasa langsung) yang menggunakan sudut pandang orang
pertama tunggal atau jamak, ringkasan pidato atau ceramah itu harus ditulis dengan
sudut pandangan orang ketiga.
g. Dalam sebuah ringkasan ditentukan pula panjangnya. Karena itu, Anda harus
melakukan seperti apa yang diminta. Bila diminta membuat ringkasan menjadi
seperseratus dari karangan asli, maka haruslah membuat demikian. Untuk
memastikan apakah ringkasan yang dibuat sudah seperti yang diminta, silakan hitung
jumlah seluruh kata dalam karangan itu dan bagilah dengan seratus. Hasil pembagian
itulah merupakan panjang karangan yang harus ditulisnya. Perhitungan ini tidak
dimaksudkan agar Anda menghitung secara tepat jumlah riil kata yang ada. Tapi
121

perkiraan yang dianggap mendekati kenyataan. Jika Anda harus meringkaskan suatu
buku yang tebalnya 250 halaman menjadi sepersepuluhnya, perhitungan yang harus
Anda lakukan adalah sebagai berikut:
1. Panjang karangan asli (berupa kata) adalah: Jumlah halaman x Jumlah baris per
halaman x Jumlah kata per baris = 250 x 35 X 9 kata = 78.750 kata.
2. Panjang ringkasan berupa jumlah kata adalah: 78.750 : 10 = 7.875 kata. Panjang
ringkasan berupa jumlah halaman ketikan adalah; jika kertas yang dipergunakan
berukuran kuarto, jarak antar baris dua spasi, tiap baris rata-rata sembilan kata,
pada halaman kertas kuarto dapat diketik 25 baris dengan jarak dua spasi, maka:
Jumlah kata per halaman adalah: 25x 9 kata = 225. Jumlah halaman yang
diperlukan adalah: 7.875:225 = 35 halaman.

E. Perbedaan antara Ikhtisar, Abstrak dan Ringkasan


Hal yang juga harus mendapat perhatian dari penulis rangkuman adalah tidak
memberikan penafsiran baru terhadap suatu pengertian yang diuraikan oleh pengarang
asli. Selain itu, perangkum tidak boleh memasukkan hasil pemikirannya sendiri ke
dalam rangkuman sebab akan mengaburkan pengertian gagasan yang diungkapkan oleh
pengarang asli.
1. Ikhtisar
Ikhtisar adalah rangkuman gagasan yang dianggap penting oleh penyusun
ikhtisar yang digali dari sebuah teks. Penyusun ikhtisar dapat langsung
mengemukakan inti atau pokok permasalahan yang berkaitan dengan kepentingan
atau perhatiannya. Ciri ikhtisar adalah merupakan tulisan baru yang mengandung
sebagian gagasan dari teks, tidak mengandung hal baru (pikiran atau opini penyusun
ikhtisar, baik yang dimasukkan secara sadar maupun tidak sadar, menggunakan kata-
kata dari penyusun sendiri).
2. Abstrak
Abstrak dan ikhtisar merupakan dua kata yang bermakna sama.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tercantum bahwa kata abstrak berarti
’ringkasan’ inti ikhtisar (karangan, laporan, dsb), sedangkan kata ikhtisar berarti
‘pandangan secara ringkas’ (yang penting-penting saja) ringkasan. Istilah abstrak
berasal dari bahasa Inggris, sedangkan istilah ikhtisar berasal dari bahasa Arab.
Jadi, kedua istilah itu berpadanan. Akan tetapi, di Indonesia, istilah ikhtisar dibedakan
dari istilah abstrak. Ikhtisar merupakan rangkuman gagasan yang berlaku dalam laras
umum, sedangkan abstrak merupakan rangkuman atau iktisar yang berlaku dalam
laras ilmiah. Oleh karena itu, berlaku format tertentu bagi abstrak, baik untuk jurnal
maupun untuk karya ilmiah.
122

3. Ringkasan
Ringkasan adalah penyajian karangan atau peristiwa yang panjang dalam
bentuk yang singkat dan efektif. Ringkasan adalah sari karangan tanpa hiasan.
Ringkasan itu dapat merupakan ringkasan sebuah buku, bab ataupun artikel.
Fungsi sebuah ringkasan adalah memahami atau mengetahui sebuah buku atau
karangan. Dengan membuat ringkasan, kita mempelajari cara seseorang menyusun
pikirannya dalam gagasan-gagasan yang diatur dari gagasan yang besar menuju
gagasan penunjang. Melalui ringkasan kita dapat menangkap pokok pikiran dan
tujuan penulis.

F. Contoh Rangkuman
Contoh 1
Sebagai contoh perhatikan cuplikan berikut.

Lebih dari seratus ribu pemudik, Sabtu (22/11) memadati sejumlah terminal
bus antarkota antarprovinsi, stasiun kereta apa, dan Bandara Internasional Soekarno
Hatta. Mereka meninggalkan Kota Jakarta untuk mudik ke kampung halaman atau
mengisi liburan panjang Lebaran.
Di Stasiun KA Senen, sampai pukul 21.30, sekitar 22.00 penumpang telah
diberangkatkan dengan 19 KA. Adapun pada pukul 22.35, diberangkatkan kereta
tambahan KA Progo. Sejak tiba di Stasiun Senen, semua KA itu langsung diserbu
penumpang. KA Kertajaya yang seharusnya berangkat pukul 16.55 terpaksa
diberangkatkan pukul 01.25 karena penumpangnya sudah penuh.
KA Kertajaya tak mampu mengangkut penumpang. Akibatnya, ratusan calon
penumpang tertahan di stasiun. Namun, pada pukul 20.45 mereka diangkut dengan
KA Tawang Jaya jurusan Surabaya, yang diteruskan ke Surabaya (Kompas,
23/11/2003).

Teks di atas dapat dinyatakan kembali dalam susunan yang lebih ringkas, seperti
berikut.

Ribuan penduduk Jakarta pulang kampung. Mereka memadati terminal, stasiun


kereta api, dan bandara. Di Stasiun KA Senen, misalnya. Sekitar 22.000 penumpang
telah diberangkatkan. Gerbong-gerbong kereta selalu penuh. Tidak sedikit
penumpang yang tertinggal. Namun, untunglah ada kereta bantuan sehingga mereka
pada akhirnya semuanya dapat terangkut.
123

Contoh 2
Bacalah teks di bawah ini!
Cahaya Tersebut Kukira Senter, Ternyata Bukan
Pengalaman I.B. Putra

Cerita yang akan kuceritakan ini, sebenarnya merupakan cerita yang sudah
”lumrah” bagi masyarakat Bali.
Penampakan berbagai hal-hal aneh, sebagai salah satu bagian dari aktivitas
”dunia malam”, sudah seringkali terjadi di Bali. Hal-hal aneh tersebut bisa berwujud
binatang jadi-jadian seperti kera, babi, anjing, bola api, dsb. yang tentu saja apabila
secara ilmiah tidak bisa diterima oleh alam pikiran biasa.
Cerita yang alami ini, terjadi pada tahun 1980-an. Saat itu aku, istri, dan
keluargaku dalam perjalanan pulang setelah menghadiri upacara nyiramang (upacara
memandikan jenazah sebagai rangkaian upacara ngaben) di rumah salah seorang
keluarga di daerah Karang Asem.
Setelah rangkaian upacara tersebut selesai dan mengingat malam semakin larut,
kami sekeluarga kemudian pamit untuk pulang. Saat itu kami sekeluarga
mengendarai sepeda motor. Rombongan yang terdiri dari lima sepeda motor tersebut,
kemudian berangkat dari tempat berlangsungnya upacara.
Dalam perjalanan, aku dan istriku tidak mempunyai perasaan apa-apa.
Pikiranku saat itu hanyalah satu, yakni cepat sampai di rumah untuk kemudian bisa
beristirahat. Selang beberapa lama, sekitar 10 kilometer dari tempat berlangsungnya
upacara tersebut, tiba-tiba saja aku melihat sebuah cahaya yang mirip lampu senter.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, aku menyaksikan cahaya tersebut tampak
melewati/menyeberang melintasi jalan di depanku. Semakin didekati, cahaya itu
semakin jelas. Cahaya tersebut kemudian jatuh di sebuah got di seberangnya untuk
kemudian diam. Dari dalam got tersebut aku menyaksikan cahaya tersebut berkelap-
kelip secara terus-menerus.
Dengan spontan aku kemudian mengurangi laju motorku untuk mencari tahu
lebih jauh tentang cahaya tersebut. Sepeda motor lainnya yang berada di belakangku
juga ikut mengurangi laju kendaraan mereka. Sambil berjalan secara perlahan,
mereka kemudian bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Salah seorang anggota
keluarga kemudian menyarankan untuk tetap melanjutkan perjalanan, mengingat
lokasi tempat jatuhnya cahaya tersebut merupakan kuburan yang cukup angker.
Berdasarkan anjuran tersebut, akhirnya kami pun langsung melanjutkan perjalanan
tanpa menoleh-noleh ke belakang lagi (Sumber: BaliAge.com).
124

Gagasan-gagasan utama cerita tersebut adalah sebagai berikut.


1. Cerita ini, sudah “lumrah” bagi masyarakat Bali.
2. Penampakan berbagai hal-hal aneh, sudah seringkali terjadi di Bali.
3. Cerita yang aku alami ini, terjadi dalam perjalanan pulang setelah
menghadiri upacara Nyimarang.
4. Saat itu kami sekeluarga mengendarai sepeda motor
5. Selang beberapa lama, tiba-tiba saja aku melihat sebuah cahaya yang mirip
lampu senter.
6. Cahaya tersebut melewati/menyeberang melintasi jalan kemudian jatuh di
got dan berkelap-kelip secara terus-menerus.
7. Aku kemudian mencari tahu lebih jauh tentang cahaya tersebut.
8. Salah seorang anggota keluarga menyarankan untuk tetap melanjutkan
perjalanan dan akhirnya kami pun mengikuti anjuran tersebut.
Berdasarkan gagasan-gagasan utama tersebut, kita dapat menuliskan ringkasan
untuk cerita di atas seperti berikut.

Cerita ini, ”lumrah” bagi masyarakat Bali. Penampakan berbagai hal-hal aneh,
sudah seringkali terjadi di Bali. Cerita yang aku alami ini, terjadi dalam perjalanan
pulang setelah menghadiri upacara nyiramang. Saat itu kami sekeluarga
mengendarai sepeda motor. Selang beberapa lama, tiba-tiba saja aku melihat sebuah
cahaya yang mirip lampu senter. Cahaya tersebut melewati/ menyeberang melintasi
jalan kemudian jatuh di got dan berkelap-kelip secara terus-menerus. Aku kemudian
mencari tahu lebih jauh tentang cahaya tersebut. Salah seorang anggota keluarga
menyarankan untuk tetap melanjutkan perjalanan dan akhirnya kami pun mengikuti
anjuran tersebut.

Contoh 3

Wartawan : Bagaimana kondisi anemia bagi kaum perempuan?


dr. Risa Anwar : Perempuan memang paling rentan terhadap anemia, terutama
anemia karena kekurangan zat besi. Darah memang sangat
penting bagi perempuan. Hal ini terutama pada saat hamil, zat
besi itu dibagi dua, yaitu bagi si ibu dan janinnya. Bila si ibu
anemia, bisa terjadi abortus, lahir prematur, dan juga kematian ibu
melahirkan. Padahal, kita ingat, di Indonesia, angka kematian ibu
melahirkan dan kematian bayi masih cukup tinggi. Bahkan, bagi
janin, zat besi juga dibutuhkan, terutama juga ada kaitannya
dengan kecerdasan.
125

Wartawan : Apakah bisa mengetahui anemia lewat gejalanya saja?


dr. Risa Anwar : Ya, bisa. Untuk mengetahui apakah dirinya anemia atau tidak, bisa
dilihat dari situ, yaitu 5L, letih, lelah, lemah, lesu, dan lunglai.
Sering pula terjadi rasa pusing dan mata berkunang-kunang. Bila
sudah demikian, maka bisa langsung meminum asupan zat besi.
Apalagi, untuk sediaan itu banyak dijual bebas. Namun, untuk
lebih pastinya, lebih baik periksa ke dokter. Dilihat kadar
Hemoglobinnya. Biasanya, bagi perempuan, baru dibilang anemia
kalau Hb kurang dari 12 mg, dan laki-laki kurang dari 15 mg.
Bahkan, bila seseorang diharuskan untuk dosis zat besi yang
tinggi seperti lewat suntikan, jelas rekomendasi dokter perlu
sekali.
Wartawan : Bila sudah terkena anemia, bagaimana pengobatannya?
dr.Risa Anwar : Kalau memang sudah terkena anemia, jenis-jenis asupan alamiah
seperti dari makanan, sudah tak praktis lagi. Ini disebabkan,
makanan berzat besi perlu dikonsumsi banyak dalam jumlah yang
banyak dan itu tak memungkinkan. Makanya, asupan zat besi
perlu ditambahkan sampai anemianya terkoreksi. Biasanya,
mereka merasa kembali sehat ketika sehari-dua hari setelah
mengonsumsi asupan zat besi. Namun, itu menghilangkan
gejalanya saja. Padahal, penyakitnya masih ada sewaktu-waktu
bisa muncul kembali. Karena itu, agar anemianya terkoreksi,
dibutuhkan zat besi yang cukup sebagai cadangan di dalam tubuh.
Cadangan zat besi itu berguna untuk mengganti sel darah merah
yang hilang. Biasanya, asupan itu terus dikonsumsi selama satu-
tiga bulan sampai anemianya terkoreksi betul. (Republika,
11/11/2003).
Penggalan wawancara di atas dapat dicatat pokok-pokok pikirannya sebagai
berikut:
a. Perempuan paling rentan terhadap anemia.
b. Untuk mengetahui seseorang itu terkena anemia atau tidak, bisa dilihat dari
gejalanya.
c. Kalau sudah terkena anemia, jenis-jenis asupan alamiah seperti dari
makanan, sudah tak praktis lagi.
d. Agar anemianya terkoreksi, dibutuhkan zat besi yang cukup sebagai
cadangan di dalam tubuh.
Perempuan mudah terkena anemia. Penyakit tersebut dapat dikenali dari
gejala-gejalanya. Untuk mengatasinya, tidak cukup dengan jenis-jenis asupan seperti
makanan. Tubuh kita memerlukan suplai zat besi yang cukup.
126

Kompetensi :
Setelah memelajari materi di bawah ini mahasiswa diharapkan mampu menulis dengan
metode Bahasa Indonesia yang baik dan benar

BAB 9
PROPOSAL

A. Proposal Kegiatan
1. Pengertian
Proposal merupakan suatu program kegiatan yang sifatnya sebagai usulan.
Proposal merupakan usulan tertulis untuk melakukan suatu kegiatan yang ditujukan
kepada pihak tertentu.
Proposal disebut pula dengan usul kegiatan. Proposal disusun apabila kita
hendak melakukan suatu kegiatan dan kegiatan itu perlu mendapat persetujuan
(donator). Dalam usulan tersebut perlu diterangkan segala rencana yang akan
dilakukan dengan jelas dan selengkap-lengkapnya.
2. Fungsi
Proposal ditujukan untuk didapatkannya persetujuan atau bantuan dari pihak
lain, Misalnya, sekolah akan mengadakan lomba menulis puisi dan berpidato. Untuk
kegiatan tersebut, panitia memerlukan dukungan dan bantuan sejumlah pihak. Oleh
karena itu, panitia harus membuat proposalnya.
3. Syarat-syarat
Agar usulan kegiatan itu diterima donatur, proposal itu harus memenuhi
persyaratan berikut:
a. Memiliki struktur dan logika yang jelas. Hindarilah kata-kata seperti mungkin,
sebaiknya, ataupun kata-kata lainnya yang menunjukkan sikap ragu-ragu. Untuk
itu, gunakanlah kata-kata harus, akan, dan kata-kata lainnya yang bersifat
meyakinkan.
b. Hasil kegiatan itu harus terukur. Gunakan angka-angka yang pasti dan bukan
perkiraan.
c. Rumuskanlah jenis kegiatan secara jelas, inovatif dan terperinci dan yang betul-
betul dapat dikuasai atau dikerjakan.
d. Hubungan kegiatan dengan dana yang diperlukan harus rasional, antara dana dan
kegiatan anda.Mengapa Anda meminta dari donatur tersebut,
e. Apakah misalnya karena mereka membantu kegiatan regional, tidak mengada-
ada.
127

4. Sistematika
Sistematika ataupun unsur-unsur dalam proposal berbeda-beda. Hal tersebut
bergantung pada jenis kegiatannya.
Berikut sistematika proposal kegiatan:
a. Latar belakang masalah
b. Tema
c. Tujuan
d. Ragam acara
e. Kepanitiaan
f. Anggaran
g. Penutup
5. Contoh Proposal Kegiatan

PROPOSAL PAMERAN REGIONAL FILATELI


BALI ECOPHILEX 2015
Gianyar, 6 -- 8 Juni 2015

I. Latar Belakang
Kegiatan filateli merupakan salah satu bentuk kegiatan yang mesti
dilakukan secara kontinu khususnya di Propinsi Bali. Filateli bermanfaat dalam
menambah pengetahuan dan wawasan tentang ilmu pengetahuan, sejarah,
budaya maupun lingkungan hidup. Filateli juga menambah wawasan dan
memupuk persahabatan antarbangsa dan budaya melalui kegiatan tukar-
menukar koleksi atau korespondensi.
Oleh karena itu, untuk lebih memperkenalkan filateli di kalangan
masyarakat serta meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kegiatan
filateli, maka Perkumpulan Filatelis Indonesia menganggap penting untuk
menyelenggarakan Pameran Regional Filateli yang kemudian kami bertajuk
BALI ECOPHILEX 2015.
II. Tema
Melalui kegiatan filateli kita tingkatkan kepedulian terhadap lingkungan
hidup dan pembangunan nasional.
III. Tujuan
1. Mempromosikan segala aspek filateli di Bali pada umumnya dan Kabupaten
Gianyar pada khususnya.
2. Memperluas dan mengembangkan ikatan persaudaraan dan kerja sama yang
erat antar filatelis se-Propinsi Bali.
128

3. Memperkenalkan kepada masyarakat luas mengenai perkembangan filateli


dalam seluruh aspeknya.
4. Membangkitkan minat filatelis untuk mengikuti kompetisi filateli.
5. Menunjukkan kepada masyarakat umum khususnya kaum generasi muda di
Gianyar, bahwa filateli merupakan sarana pendidikan, memperkaya
khazanah nilai budaya, bersifat historis, serta daya tariknya sebagai suatu
kegemaran universal yang menyenangkan dan bersifat aktif rekreatif.
IV. Ragam Acara
1. Pameran Regional Filateli
Pameran ini bertajuk BALI ECOPHILEX 2015. Acara ini merupakan
pameran yang dilombakan atau dikompetisikan dan diikuti oleh para filatelis
remaja se-Bali. Acara ini juga menampilkan koleksi filateli dari para filatelis
senior seperti Koleksi The Penny Black, Raja Willem, surat-surat tempo
dulu, dan koleksi tema lingkungan hidup (ecophila).
Tempat : Balai Budaya Kab. Gianyar
Tanggal : 6 -- 8 Juni 2015
Pukul : 09.00 – 21.00
2. Rapat tahunan Daerah PFI
Acara ini merupakan agendatahunan PD PFI Bali yang diikuti oleh
utusan pengurus cabang dari semua kabupaten se-Bali serta instansi terkait
seperti PT Pos Indonesia dan Dinas Perhubungan.
Tempat : Balai Budaya Kab. Gianyar
Tanggal : 6 Juni 2015
Pukul : 14.00 – selesai
3. Pelatihan Filatelis Remaja se-Bali
Tempat : Balai Budaya Kab. Gianyar
Tanggal : Sabtu, 7 Juni 2015
Pukul : 09.00 – 16.00
Materi : Teori Filateli dan Praktik Penyusunan Koleksi
4. Lomba Mewarnai Prangko untuk Tingkat TK dan SD
Lomba ini diselenggarakan untuk memberikan sarana belajar dan
bermain bagi para siswa TK dan SD sehingga kegiatan filateli makin dikenal
dan dihayati.
Tempat : Balai Budaya Kab. Gianyar
Tanggal : 7 – 8 Juni 2015
Pukul : 09.00 – 11.30
129

5. Lomba Menata Perangko untuk Tingkat SLTP dan SLTA


Diikuti oleh para siswa SLTP/SLTA se-Kota Gianyar
Tempat : Balai Budaya Kab. Gianyar
Tanggal : 7 Juni 2015
Pukul : 09.00 – 11.30
6. Penyuluhan Filateli
Acara ini diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman
masyarakat tentang manfaat filateli dalam arti yang seluas-luasnya.
Tempat : Balai Budaya Kab. Gianyar
Tanggal : 6 – 8 Juni 2015
Pukul : 09.00 – 11.00
7. Bursa dan Lelang Filateli
Acara ini menyediakan benda-benda filateli yang baru diterbitkan dan
koleksi-koleksi lama baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.
V. Kepanitiaan
(Terlampir)
VI. Estimasi Dana Dan Rencana Anggaranbelanja
(Terlampir)
VII.Penutup
Demikian proposal kegiatan ini dibuat sebagai usulan kegiatan PARFILA
BALI ECOPHILEX 2015 untuk menjadi pertimbangan dalam penyelenggaraan
kegiatan. Oleh karena itu kami sangat mengharapkan partisipasi dan peran serta
Bapak/Ibu/Sdr dalam kegiatan ini.

Asar, 26 April 2015


Ketua Harian
PD-PFI Propinsi Bali,

G.N. Surya Hadinata, A.Par.


(Sumber: indonesianewsonline.com dengan beberapa penyesuaian)
130

B. Proposal Penelitian
1. Latar Belakang Masalah
Latar belakang masalah merupakan uraian hal-hal yang menyebabkan
perlunya dilakukan penelitian terhadap sesuatu masalah atau problematika yang
muncul dapat ditulis dalam bentuk uraian paparan,atau poin-poinnya saja. Pada
bagian ini dikemukakan :
a. Pentingnya masalah masalah yang akan dibahas.
b. Telaah pustaka yang telah ada tentang teknologi yang berhubungan dengan
masalah yang dibahas.
c. Manfaat praktis hasil bahasan.
d. Perumusan masalah pokok yang dibahas secara eksplisit. Biasakan perumusan
masalah dalam bentuk pertanyaan .
Dalam bagian latar belakang ini diharapkan penulis menuliskan sebab-sebab ia
memilih judul atas permasalahan tersebut. Alasan-alasan yang dapat dikemukakan
antara lain:
a. Pentingnya masalah tersebut diteliti karena akan membantu pelaksanaan kerja
yang lebih efektif misalnya,atau akan dicari pemecahannya karena berbahaya
apabila tidak.Jadi pentingnya diadakan penelitian.
b. Menarik minat peneliti karena dari pengalamannya peneliti mendapatkan
gambaran bahwa hal itu sangat menarik.
c. Sepanjang sepengetahuan peneliti belum ada orang yang meneliti masalah
tersebut.
Latar belakang masalah menguraikan alasan-alasan mengapa masalah dan/atau
pertanyaan penelitian serta tujuan penelitian menjadi fokus penelitian. Dalam latar
belakang masalah secara tersurat harus jelas subtansi permasalahan (akar
permasalahan) yang dikaji dalam penelitian atau hal yang menimbulkan pertanyaan
penelitian, yang akan dilakukan untuk menyiapkan skripsi. Secara operasional
permasalahan penelitian yang dimaksud harus gayut (relevan) dengan rumusan
masalah dan/atau pertanyaan penelitian yang diajukan. Pokok isi uraian latar
belakang masalah hendaknya mampu meyakinkan pihak lain, terutama pembimbing
dan penguji.
Dengan kata lain, unsur yang perlu diketengahkan dalam latar belakang
masalah penelitian sekurang-kurangnya memuat hal-hal berikut:
1) Penjelasan dan/atau alasan mengapa masalah dan/atau pertanyaan penelitian
yang diteliti itu penting dan menarik untuk diteliti.
2) Beberapa bukti bahwa masalah yang diajukan belum ada jawaban atau
pemecahan yang memuaskan. Harus dijelaskan bahwa masalah yang
131

diajukan/diteliti belum pernah diteliti oleh siapapun, dan jika ini merupakan
penelitian ulang (replikasi) harus dijelaskan alasannya mengapa hal itu
dilakukan.
3) Kedudukan masalah yang diteliti dalan konteks permasalahan yang lebih luas
dengan memperhatikan perkembangan bidang yang dikaji.
Dalam hal ini para penulis sebaiknya menyadari bahwa pemilihan masalah
harus didasarkan atas minat dan penghayatan sendiri. Alasan pemilihan masalah
yang paling tepat adalah adanya kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan
apa yang terjadi. Menurut Prof. Dr. Winarno memilih masalah adalah mendalami
masalah itu,sehingga harus dilakukan secara lebih sestematis dan intensif.
Selanjutnya oleh Prof. Dr. Winarno dikatakan bahwa setelah studi
eksploratoris ini penulis menjadi jelas terhadap masalah yang dihadapi; dari aspek
historis, hubungannya dengan ilmu yang lebih luas, situasi dewasa ini dan
kemungkinan-kemungkinan yang akan datang dan lain-lainnya. Penulis menjadi:
1. Mengetahui dengan pasti apa yang akan diteliti.
2. Tahu dimana/kepada siapa informasi dapat diperoleh.
3. Tahu bagaimana cara memperoleh data atau informasi.
4. Dapat menentukan cara yang tepat untuk menganalisis data.
5. Tahu bagaimana harus mengambil kesimpulan serta memanfaatkan hasil.
2. Batasan Masalah
Membuat batasan masalah dalam kerangka penelitian meliputi hal – hal seperti
jumlah responden yang akan kita teliti. Agar tidak melebar, masalah penelitian perlu
dibatasi. Sebab, jika tidak dibatasi, masalah tersebut mungkin tidak sesuai dengan
kemampuan penulis, baik dari segi pengetahuan, ekonomi, maupun waktu. Selain
itu, hasilnya pun akan dangkal sehingga tidak memenuhi salah satu syarat karya
ilmiah.
3. Rumusan Masalah
Rumusan masalah ditulis untuk menspesifikasikan masalah yang akan dibahas
dalam karangan. Masalah yang dirumuskan harus merupakan hasil penspesifikasian
atau pengkhususan masalah utama yang harus dijawab pada bab kesimpulan.
Jawabannya diperoleh dari hasil analisis data. Kemudian yang harus diamati adalah
wilayah penelitian. Biasanya dalam wilayah penelitian yang sifatnya sangat besar,
bisa ditentukan dari beberapa kota, atau jika ingin ruang lingkup yang lebih kecil
maka kita bisa membuatnya hanya di satu tempat. Misalnya saja, bagi teman –
teman yang akan melakukan penelitian menyangkut skripsinya bisa membuat
penelitiannya di satu kampus saja. Tujuannya agar lebih efisien dan fleksibel.
132

4. Tujuan Penelitian
 Sebagai wahana melatih mengungkapkan pemikiran atau hasil penelitiannya
dalam bentuk tulisan ilmiah yang sistematis dan metodologis.
 Menumbuhkan etos ilmiah di kalangan mahasiswa, sehingga tidak hanya menjadi
konsumen ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi penghasil (produsen)
pemikiran dan karya tulis dalam bidang ilmu pengetahuan, terutama setelah
penyelesaian studinya.
 Karya ilmiah yang telah ditulis itu diharapkan menjadi wahana transformasi
pengetahuan antara sekolah dengan masyarakat, atau orang-orang yang berminat
membacanya.
 Membuktikan potensi dan wawasan ilmiah yang dimiliki mahasiswa dalam
menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam bentuk karya ilmiah setelah yang
bersangkutan memperoleh pengetahuan dan pendidikan dari jurusannya.
 Melatih keterampilan dasar untuk melakukan penelitian.
5. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian bagi penulis adalah berikut:
 Melatih untuk mengembangkan keterampilan membaca yang efektif;
 Melatih untuk menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber;
 Mengenalkan dengan kegiatan kepustakaan;
 Meningkatkan pengorganisasian fakta/data secara jelas dan sistematis;
 Memperoleh kepuasan intelektual;
 Memperluas cakrawala ilmu pengetahuan;
 Sebagai bahan acuan/penelitian pendahuluan untuk penelitian selanjutnya

6. Hipotesis
Hipotesis atau hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah yang
masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya. Hipotesis
berasal dari bahasa Yunani: hypo = di bawah;thesis = pendirian, pendapat yang
ditegakkan, kepastian. Artinya, hipotesis merupakan sebuah istilah ilmiah yang
digunakan dalam rangka kegiatan ilmiah yang mengikuti kaidah-kaidah berpikir
biasa, secara sadar, teliti, dan terarah. Dalam penggunaannya sehari-hari hipotesis
ini sering juga disebut dengan hipotesis, tidak ada perbedaan makna di dalamnya.
Tahap-tahap pembentukan hipotesis pada umumnya sebagai berikut:
1. Penentuan masalah
Dasar penalaran ilmiah ialah kekayaan pengetahuan ilmiah yang biasanya timbul
karena sesuatu keadaan atau peristiwa yang terlihat tidak atau tidak dapat
diterangkan berdasarkan hukum atau teori atau dalil-dalil ilmu yang sudah
diketahui. Dasar penalaran pun sebaiknya dikerjakan dengan sadar dengan
133

perumusan yang tepat. Dalam proses penalaran ilmiah tersebut, penentuan


masalah mendapat bentuk perumusan masalah.
2. Hipotesis pendahuluan atau hipotesis preliminer (preliminary hypothesis)
Dugaan atau anggapan sementara yang menjadi pangkal bertolak dari semua
kegiatan. Ini digunakan juga dalam penalaran ilmiah. Tanpa hipotesis preliminer,
pengamatan tidak akan terarah. Fakta yang terkumpul mungkin tidak akan dapat
digunakan untuk menyimpulkan suatu konklusi, karena tidak relevan dengan
masalah yang dihadapi. Karena tidak dirumuskan secara eksplisit, dalam
penelitian, hipotesis priliminer dianggap bukan hipotesis keseluruhan penelitian,
namun merupakan sebuah hipotesis yang hanya digunakan untuk melakukan uji
coba sebelum penelitian sebenarnya dilaksanakan.
3. Pengumpulan fakta
Dalam penalaran ilmiah, di antara jumlah fakta yang besarnya tak terbatas itu
hanya dipilih fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis preliminer yang
perumusannya didasarkan pada ketelitian dan ketepatan memilih fakta.
4. Formulasi hipotesis
Pembentukan hipotesis dapat melalui ilham atau intuisi, dimana logika tidak
dapat berkata apa-apa tentang hal ini. Hipotesis diciptakan saat terdapat
hubungan tertentu di antara sejumlah fakta. Sebagai contoh sebuah anekdot yang
jelas menggambarkan sifat penemuan dari hipotesis, diceritakan bahwa sebuah
apel jatuh dari pohon ketika Newton tidur di bawahnya dan teringat olehnya
bahwa semua benda pasti jatuh dan seketika itu pula dilihat hipotesanya, yang
dikenal dengan hukum gravitasi.
5. Pengujian hipotesis
Artinya, mencocokkan hipotesis dengan keadaan yang dapat diamati dalam
istilah ilmiah hal ini disebut verifikasi (pembenaran). Apabila hipotesis terbukti
cocok dengan fakta maka disebut konfirmasi. Falsifikasi (penyalahan) terjadi jika
usaha menemukan fakta dalam pengujian hipotesis tidak sesuai dengan hipotesis.
Bilamana usaha itu tidak berhasil, maka hipotesis tidak terbantah oleh fakta yang
dinamakan koroborasi (corroboration). Hipotesis yang sering mendapat
konfirmasi atau koroborasi dapat disebut teori.
6. Aplikasi/penerapan
Apabila hipotesis itu benar dan dapat diadakan menjadi ramalan (dalam istilah
ilmiah disebut prediksi), dan ramalan itu harus terbukti cocok dengan fakta.
Kemudian harus dapat diverifikasikan/koroborasikan dengan fakta.
Ciri-ciri hipotesis yan baik :
134

Sebuah hipotesis atau dugaan sementara yang baik hendaknya mengandung


beberapa hal. Hal – hal tersebut di antaranya :
1) Hipotesis harus mempunyai daya penjelas.
2) Hipotesis harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada di antara variabel-
variabel-variabel.
3) Hipotesis harus dapat diuji.
4) Hipotesis hendaknya konsistesis dengan pengetahuan yang sudah ada.
5) Hipotesis hendaknya dinyatakan sesederhana dan seringkas mungkin.
Berikut ini beberapa penjelasan mengenai hipotesis yang baik :
- Hipotesis harus menduga hubungan diantara beberapa variabel
Hipotesis harus dapat menduga hubungan antara dua variabel atau lebih, disini
harus dianalisis variabel-variabel yang dianggap turut mempengaruhi gejala-
gejala tertentu dan kemudian diselidiki sampai dimana perubahan dalam variabel
yang satu membawa perubahan pada variabel yang lain.
- Hipotesis harus dapat diuji
Hipotesis harus dapat di uji untuk dapat menerima atau menolaknya, hal ini dapat
dilakukan dengan mengumpulkan data-data empiris.
- Hipotesis harus konsisten dengan keberadaan ilmu pengetahuan-
Hipotesis tidak bertentangan dengan pengetahuan yang telah ditetapkan
sebelumnya. Dalam beberapa masalah, dan terkhusus pada permulaan penelitian,
ini harus berhati-hati untuk mengusulkan hipotesis yang sependapat dengan ilmu
pengetahuan yang sudah siap ditetapkan sebagai dasar. Serta poin ini harus sesuai
dengan yang dibutuhkan untuk memeriksa literatur dengan tepat oleh karena itu
suatu hipotesis harus dirumuskan bedasar dari laporan penelitian sebelumnya.
- Hipotesis Dinyatakan Secara Sederhana
Suatu hipotesis akan dipresentasikan kedalam rumusan yang berbentuk kalimat
deklaratif, hipotesis dinyatakan secara singkat dan sempurna dalam
menyelesaikan apa yang dibutuhkan peneliti untuk membuktikan hipotesis
tersebut.
7. Kajian Pustaka/Landasan Teori
Kajian pustaka dalam penelitian, baik penelitian pustaka maupun penelitian
lapangan mempunyai kedudukan yang sangat penting. Bahkan tidak berlebihan jika
dikatakan bahwa kajian pustaka merupakan merupakan variabel yang menentukan
dalam suatu penelitian. Karena akan menentukan cakrawala dari segi tujuan dan
hasil penelitian. Di samping itu, berfungsi memberikan landasan teoritis tentang
mengapa penelitian tersebut perlu dilakukan dalam kaitannya dengan kerangka
pengetahuan.
135

Oleh karena itu, pengertian kajian pustaka umumnya dimaknai berupa


ringkasan atau rangkuman dan teori yang ditemukan dari sumber bacaan (literatur)
yang ada kaitannya tema yang akan diangkat dalam penelitian.
Tujuan utama kajian pustaka adalah untuk mengorganisasikan penemuan-
penemuan peneliti yang pernah dilakukan. Hal ini penting karena pembaca akan
dapat memahami mengapa masalah atau tema diangkat dalam penelitiannya. Di
samping itu, kajian pustaka juga bermaksud untuk menunjukkan bagaimana
masalah tersebut dapat dikaitkan dengan hasil penelitian dengan pengatahuan yang
lebih luas.
Secara lebih rinci tujuan kajian pustaka, dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Menentukan dan membatasi permasalahan penelitian.
2) Meletakkan penelitian pada perspektif sejarah dan asosiasoinal.
3) Menghindari replikasi yang tidak disengaja dan tidak perlu. Replikasi yang tidak
sengaja terhadap penelitian yang pernah dilakukan oleh peneliti perlu dihindari
karena hanya merupakan pemborosan.
4) Menghubungkan penemuan dengan pengatahuan yang ada dan ususlan untuk
penelitian lebih lanjut.
Karena tujuan ini, kajian pustaka bukanlah proses yang mudah dilakukan.
Pembuatan kajian pustaka menuntut pemahaman yang komprehensif dari peneliti
tentang pengatahuan yang pernah ditulis oleh orang lain dalam bidang yang menjadi
konsepnya. Kajian pustaka meliputi kegiatan mencari, membaca, mengevaluasi,
menganalisis dan membuat sistesis laporan-laporan penelitian dan teori, serta
melaporkan amatan dan pendapat yang berhubungan dengan penelitian yang
direncanakan.
Dalam kajian pustaka dimuat esensi-esensi hasil penelitian literatur yaitu
berupa teori-teori. Uraian teori yang disusun bisa dengan kata-kata penulis secara
bebas dengan tidak mengurangi makna teori tersebut, dapat juga dalam bentuk
kutipan dari tulisan orang lain, yaitu kutipan langsung tanpa mengubah kata-kata
atau tanda bacaan, kemudian dianalisis dibandingkan dan dikonstuksikan, teori-teori
dan temuan-temuan itu harus relevan dengan permasalahan penelitian yang akan
dilakukan. Kegunaannya adalah untuk bahan acuan penelitian. Kebenaran yang
diperoleh dari penelitian tersebut karena ada acuan disebut kebenaran koherensi,
artinya terdapat relevansi dengan teori-teori yang telah dikemukakan para ahli
terdahulu.
8. Metodologi Penelitian
a) Pengertian Variabel
136

1. Suharsimi Arikunto (1998:99) variabel penelitian adalah objek penelitian, atau


apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.
2. Ibnu Hajar (1999:156) yang mengartikan variabel adalah objek pengamatan
atau fenomena yang diteliti.
3. Sutrisno Hadi (1982:437) variabel adalah semua keadaan, faktor, kondisi,
perlakuan, atau tindakan yang dapat mempengaruhi hasil eksperimen.
4. M. Nazir (1999:149) variabel adalah konsep yang mempunyai bermacam-
macam nilai.
5. Variabel adalah gejala atau obyek penelitian yang bervariasi, contoh; 1)
variabel jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), 2) variabel profesi (guru,
petani, pedagang).
b) Pengertian Sampel
Sampel adalah contoh, monster, representan atau wakil dari suatu populasi
yang cukup besar jumlahnya atau satu bagian dari keseluruhan yang dipilih dan
representatif sifatnya. Aktivitas pengumpulan sampel disebut sampling.
Sedangkan populasi adalah totatlitas semua kasus, kejadian, orang atau hal.
Populasi dapat berwujud sejumlah manusia, kurikulum, manajemen, alat-alat
mengajar, cara mengajar, peristiwa. Dari semua populasi harus dapat
ditegaskan/ditemukan ciri-ciri atau sifat-sifat populasi bila akan dijadikan obyek
penelitian.
Tujuan peneliti mengambil sampel adalah memperoleh keterangan
mengenai obyek penelitian dengan jalan hanya mengamati sebagian saja dari
populasi. Hal ini dilakukan karena berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan.
c) Sumber Data
Berdasarkan sumbernya, data penelitian dapat dikelompokkan dalam dua
jenis yaitu data primer dan data sekunder.
1. Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara
langsung dari sumber datanya. Data primer disebut juga sebagai data asli atau
data baru yang memiliki sifat up to date. Untuk mendapatkan data primer,
peneliti harus mengumpulkannya secara langsung. Teknik yang dapat
digunakan peneliti untuk mengumpulkan data primer antara lain observasi,
wawancara, diskusi terfokus (focus grup discussion – FGD) dan penyebaran
kuesioner.
2. Data Sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari
berbagai sumber yang telah ada (peneliti sebagai tangan kedua). Data
sekunder dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti Biro Pusat Statistik
(BPS), buku, laporan, jurnal, dan lain-lain.
d) Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dapat dilakukan dengan berbagai cara sebagai berikut:
1) Teknik observasi
137

Teknik observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara peneliti


melakukan pengamatan secara langsung di lapangan. Pengamatat disebut
observer yang diamati disebut observe.
Kriteria pengamatan sebagai alat pengumpulan data dalam penelitian adalah
sebagai berikut:
a. Pengamatan termasuk kegiatan penelitian untuk mengumpulkan data yang
direncanakan.
b. Pengamatan dilakukan untuk memenuhi target yang telah ditetapkan.
c. Pengamatan dilakukan dengan pencatatan yang cermat.
d. Pengamatan mengumpulkan data yang objektif dan dapat
dipertanggungjawabkan.
Macam-macam teknik observasi meliputi hal-hal berikut :
a. Teknik observasi partisipasi
Bila observer terlibat di dalamnya bersama dengan observe untuk beberapa
waktu.
b. Teknik observasi nonpartisipasi
Bila observer tidak terlibat di dalamnya.
c. Teknik pengamatan berstruktur.
Bila observer sudah mengetahui aspek/gejala yang akan diamati.
d. Teknik pengamatan tidak berstruktur.
Bila observer belum mengetahui aspek/gejala yang akan diamati,tetapi
hanya mencatat gejala yang terjadi pada objek yang diamati.
Kebaikan teknik observasi adalah :
a. Murah dan mudah dilaksanakan.
b. Dapat dilakukan secara serempak dengan observer lebih dari satu.
c. Observer yang sibuk biasanya tidak keberatan untuk diamati.
Kelemahan teknik observasi adalah :
a. Banyak peristiwa psikis yang tidak dapat diamati, misalnya cinta, simpatik,
harapan,dll.
b. Observee dapat sengaja memberikan kesan yang menyenangkan atau
sebaliknya.
c. Observasi banyak dipengaruhi oleh factor-faktor yang tidak dapat diamati.
2. Teknik wawancara/interview
Teknik wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan cara bertanya
langsung kepada responden. Orang yang mewawancarai disebut interviewer
dan orang yang diwawancarai disebut interviewe.
Pedoman wawancara meliputi hal-hal berikut :
a. Berstruktur : Pedoman wawancara disusun secara terinci.
b. Semi berstruktur : Pedoman wawancara hanya memuat garis besar.
c. Tidak berstrukur : Tanpa pedoman, spontanitas
Langkah-langkah pelaksanaan wawancara meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Membuat pedoman wawancara.
138

b. Menetapkan sampel bila memakai sampel


c. Pelatihan wawancara.
d. Mulai wawancara yang sebenarnya.
Kebaikan teknik wawancara adalah sebagai berikut :
a. Dapat mengubah data kualitatif menjadi data kuantitatif.
b. Hasil kesimpulan lebih teliti.
c. Bila daftar pertanyaan uniform (seragam) dapat dilakukan oleh petugas.
Kelemahan teknik wawancara adalah sebagai berikut:
a. Mudah terpengaruh oleh situasi sekitar.
b. Kurang efisiensi waktu, biaya, dan tenaga.
c. Pelaksanaannya kaku.
3. Teknik angket (kuesioner)
Teknik angket adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengajukan
daftar pertanyaan yang harus diisi oleh responden.
Jenis-jenis angket menurut cara penyampaiannya meliputi hal-hal berikut :
a. Angket langsung : informasi tentang dirinya sendiri.
b. Angket tidak langsung : informasi tentang orang lain.
Langkah penyusunan angket meliputi hal – hal berikut :
a. Menentukan variabel yang akan dipergunakan.
b. Menentukan variabel yang dibutuhkan setiap variabel.
c. Menentukan jawaban yang dibutuhkan setiap variable.
d. Menentukan jenis data yang akan dikumpulkan.
Kebaikan teknik angket adalah sebagai berikut :
a. Efisiensi waktu, biaya, dan tenaga.
b. Hasil dapat segera diumumkan.
c. Dapat menjangkau daerah yang luas dan jumlah populasi yang banyak.
Kelemahan teknik angket adalah sebagai berikut :
a. Banyak unsur pribadi yang tidak terungkap.
b. Sulit menyusun item yang tepat.
c. Jawaban bisa subjektif.
4. Teknik kepustakaan / studi pustaka
Teknik kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan melalui telaah/
studi dari berbagai laporan penelitian dan buku literature yang relevan.
Faktor-faktor yang harus diperhatikan meliputi hal-hal berikut :
a. Diperlukan sebanyak mungkin pustaka yang relevan.
b. Harus tetap berpegang pada kerangka penelitian.
c. Diperhatikan keserasian tujuan penelitian dengan pustaka yang digunakan.
d. Diperlukan sumber pustaka dan penulis pustaka tersebut.
Keuntungannya yaitu tidak menghabiskan banyak biaya dan waktu.
139

Kelemahannya yaitu kurangnya tingkat kedalaman masalah yang dianalisis


dan kurangnya ketergantungan hasil penelitian terhadap pustaka yang
digunakan.
5. Teknik analisis isi media massa
Teknik analisis isi media massa adalah teknik pengumpulan data dengan cara
menganalisis isi media massa. Media massa dijadikan sumber untuk
pengumpulan data, misalnya radio, televisi, Koran, majalah, dan buletin.
Berita yang dapat dijadikan data adalah sebagai berikut :
a. Berita yang objektif / apa adanya.
b. Tidak memihak sehingga tidak menyesatkan pengumpulan data.
c. Mengandung wawasan ilmiah.
d. Beritanya aktual.
Cara mengumpulkan data adalah sebagai berikut :
a. Apabila data bersumber dari radio atau televise biasanya direkam dengan
kaset, ditulis isi beritanya ditulis kapan berita itu disiarkan, dan ditulis
nama sumber berita itu.
b. Apabila data bersumber dari surat kabar, majalah, dan bulletin dibuat
kliping yang lengkap, ditulis nama sumber berita, dan tanggal pemberitaan
serta dibuat pengelompokkan kliping sesuai dengan jenis data yang
dikumpulkan.
Kelebihannya adalah sebagai berikut :
a. Ruang lingkup luas.
b. Dapat diperoleh data sebanyak – banyaknya sesuai dengan keinginan.
c. Tidak hanya memuat data tentang fakta, tetap[I juga opini dan interpretasi.
Kelemahannya adalah sebagai berikut :
Pengungkapan fakta yang kurang teliti karena singkatnya waktu dan
keterbatasan menyelami peristiwa.
6. Teknik test
Untuk pengumpulan data dapat juga dengan cara test. Test adalah serentetan
pertanyaan yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan,
intelegensi, kemampuan, atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok.
Ada dua macam test, yaitu :
a. Test buatan perorangan (missal buatan guru) yang belum melalui uji coba
berkali-kali sehingga belum teruji kebaikannya.
b. Test standard yaitu tes yang dibuat oleh para ahli yang telah diujicobakan
dan cukup baik,misalnya test IQ.
Pedoman pelaksanaan test meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Harus ada panduan yang jelas tentang cara mengisi test.
b. Tersedianya waktu yang memadai.
140

c. Pada waktu pelaksanaan test situasi lingkungan harus mendukung, tenang,


aman, dan terang.
d. Test diberikan lebih dari satu orang sebagai bahan pembanding.
e. Mempunyai izin dari lembaga / instansi tempat pelaksanaan test
141

Kompetensi (Pengembangan):
Setelah memelajari materi di bawah ini diharapkan mahasiswa mampu mengidentifikasi
karangan ilmiah untuk membuat karangan sesuai kaidah ilmiah

BAB 10
LAPORAN DAN NOTULA RAPAT

A. Laporan
a. Pengertian
Laporan merupakan sajian fakta secara objektif mengenai suatu peristiwa.
Laporan kemudian diartikan sebagai suatu cara komunikasi untuk menyampaikan
hal-hal penting kepada seseorang atau suatu badan hukum sehubungan dengan tugas
yang dibebankan kepadanya.
b. Fungsi Laporan
Laporan merupakan media komunikasi ke atas dalam suatu organisasi.
Dengan adanya laporan itu, seorang pemimpin dapat memberikan umpan balik atas
kegiatan yang telah dilaksanakan. Pimpinan dapat mengevaluasi dan
menindaklanjuti kegiatan itu, baik itu dalam tataran perencanaan,
pengkoordinasasian, pengambilan keputusan, pengawasan, dan pengendalian.
Laporan juga berguna untuk kepentingan-kepentingan berikut:
1) mengatasi suatu masalah,
2) mengambil suatu keputusan yang lebih efektif,
3) mengetahui kemajuan dan perkembangan suatu masalah,
4) mengadakan pengawasan dan perbaikan, dan
5) menemukan teknik-teknik baru.
c. Syarat-syarat Laporan
Sebuah laporan akan dianggap baik atau buruk tergantung dari
keberhasilannya dalam memenuhi fungsinya sesuai dengan hasil-hasil yang
diharapkan. Hasil yang diharapkan itu hanya mungkin dicapai apabila sifat laporan
itu baik. Laporan yang baik harus ditulis dalam bahasa yang benar dan jelas. Bahasa
yang baik dan jelas dapat menimbulkan pengertian yang tepat, bukan kesan atau
sugesti. Isinya pun harus disusun dengan sistematika yang logis. Fakta-fakta atau
bahan-bahan yang disajikan harus dapat menimbulkan kepercayaan, terutama bila
laporan itu dimaksudkan untuk bahan pengambilan suatu tindakan.
Di samping itu, sebuah laporan harus pula mengandung sifat-sifat berikut:
1) Laporan itu harus mengandung imaginasi. Pelapor dalam hal ini harus
mengetahui secara tepat tentang pihak yang menerima laporannya.
2) Laporan harus sempurna dan lengkap. Hal ini berarti dalam laporan itu tidak
boleh ada hal penting yang terabaikan. Laporan yang baik jugatidak boleh
memasukkan hal-hal yang menyimpang, mengandung prasangka atau
pemihakan.
142

3) Laporan harus disajikan secara menarik. Suatu laporan dikatakan menarik bukan
karena penerima laporan memerlukan laporan itu, tetapi karena nilai lebih yang
tersaji dalam laporan itu, baik dalam hal bahasa yang jelas, isinya yang
berbobot, ataupun sistematikanya yang logis dan gampang dicerna.
d. Sistematika Laporan
Karangan ilmiah bentuk formal disusun dengan memenuhi unsur-unsur
kelengkapan akademis secara lengkap. Unsur-unsur karangan ilmiah bentuk formal,
meliputi hal-hal sebagai berikut:
1) Judul
2) Tim Pembimbing
3) Kata Pengantar
4) Abstrak
5) Daftar Isi
6) Bab Pendahuluan
7) Bab Telaah Kepustakaan / Kerangka Teoritis
8) Bab Metode Penelitian
9) Bab Pembahasan Hasil Penelitian
10) Bab Simpulan dan Rekomendasi
11) DaftarPustaka
12) Lampiran-lampiran
13) Riwayat Hidup

B. Notula
Notula termasuk ke dalam jenis laporan. Hanya saja laporan tersebut khusus
ditujukan untuk kegiatan-kegiatan diskusi, yang salah satunya berupa rapat. Laporan
rapat disajikan dengan sistematika berikut.
a. Judul/tema diskusi
b. Waktu dan tempat pelaksanaan
c. Peserta diskusi
d. Pembicara atau pemakalah
e. Moderator
f. Pokok-pokok acara
g. Keputusan-keputusan penting
h. Simpulan
i. Tindak lanjut
j. Lampiran-lampiran
143

Kompetensi :
Setelah memelajari materi di bawah ini diharapkan mahasiswa mampu mengidentifikasi
karangan ilmiah untuk membuat karangan sesuai kaidah ilmiah

BAB 11
KARYA ILMIAH

A. Pengertian
Karya ilmiah adalah tulisan atau karangan yang disusun dengan metode ilmiah.
Adapun yang dimaksud dengan metode ilmiah itu sendiri adalah metode berpikir yang
menggunakan daya nalar dan berdasarkan bukti atau fakta-fakta.

B. Ciri-ciri Karya Ilmiah


Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan ciri-ciri karangan ilmiah sebagai
berikut :
a. Masalah diungkapkan dan dipecahkan secara ilmiah atau dengan metode-metode
keilmuan. Metode keilmuan tampak pada penggunaannya yang mengutamakan
kelogisan, fakta atau evidensi yang terpercaya, serta analisis yang objektif.
b. Pendapat-pendapat yang dikemukakan berdasarkan fakta dan tidak berdasarkan
imajinasi, perasaan, atau pendapat yang bersifat subjektif.
c. Tulisan disusun secara sistematis dan logis, yang ditandai oleh hubungan antar
bagian-bagian tulisan itu yang membentuk suatu kesatuan (kohesif) dan kepaduan
(koheren).
d. Ragam bahasa yang digunakan bersifat lugas.
1) Menggunakan kalimat secara efektif
2) Menghindari kalimat yang bermakna ambigu (bermakna ganda)
3) Menghindari penggunaan kata konotatif.

C. Manfaat Karya Ilmiah


Sering kali pada konteks ilmiah bahasa diartikan sebagai buah pikir penulis,
sebagai hasil dari pengamatan, tinjauan, penelitian yang dilakukan oleh si penulis
tersebut pada ilmu pengetahuan tertentu. Dalam konteks karya ilmiah isi dari karya
ilmiah harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, baik dalam penulisan
dan tata bahasanya.
Dalam penulisan karya ilmiah yang harus diperhatikan ialah dalam pemilihan
kata, penggunaan tanda baca, dan harus mengikuti EYD.
Adapun manfaat penyusunan karya ilmiah bagi penulis adalah berikut:
144

1.Melatih untuk mengembangkan keterampilan membaca yang efektif.


2.Melatih untuk menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber.
3.Mengenalkan dengan kegiatan kepustakaan.
4.Meningkatkan pengorganisasian fakta/data secara jelas dan sistematis.
5.Memperoleh kepuasan intelektual.
6.Memperluas cakrawala ilmu pengetahuan.
Jadi dapat disimpulkan peranan dan fungsi bahasa Indonesia dalam konteks ilmiah
sangatlah penting. Karena hasil baik dari penulisan ilmiah tidak lepas dari segi
penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

D. Jenis-jenis Karangan Ilmiah


Karangan ilmiah tidak selalu identik dengan karangan hasil penelitian. Karangan
hasil penelitian merupakan salah satu jenis dari karangan ilmiah. Apabila kita merujuk
pada pengertian dan ciri-ciri di atas, akan banyak sekali jenis karangan tulis atau
karangan yang dapat dimasukkan ke dalam karangan ilmiah. Namun demikian, secara
umum karangan ilmiah terbagi ke dalam jenis-jenis berikut.
1. Laporan
Laporan adalah suatu cara komunikasi dari penulis untuk menyampaikan hal-
hal penting kepada seseorang atau suatu badan hukum sehubungan dengan tugas
yang dibebankan kepadanya. Menurut isinya, sebuah laporan dapat berupa laporan
buku, laporan wawancara, laporan diskusi, laporan perjalanan, laporan pengamatan,
laporan peristiwa, dan laporan penelitian.
2. Makalah
Makalah adalah karangan ilmiah yang membahas suatu persoalan dengan
pemecahan yang didasarkan hasil kajian literatur atau kajian lapangan. Makalah
biasanya disusun untuk pertemuan-pertemuan ilmiah, seperti simposium, seminar,
atau karakarya. Makalah sering pula disebut paper, yakni tugas tertulis pada suatu
mataperkuliahan/pelajaran, yang penyusunannya bisa berupa hasil kajian terhadap
buku, permasalahan dalam suatu perkuliahan, ataupun hasil kajian lapangan. Selain
itu, dikenal pula istilah kertas kerja, yakni jenis makalah yang disusun oleh seorang
pejabat yang dibawakannya dalam suatu pertemuan.
Dalam surat kabar atau majalah sering pula dijumpai karangan yang berjenis
dengan makalah. Makalah yang dimuat dalam media massa disebut dengan artikel,
yakni karangan faktual yang membahas suatu persoalan, misalnya seni, budaya, dan
pariwisata yang dimuat di surat kabar, majalah, buletin, dan sebagainya dengan
tujuan untuk menyampaikan gagasan dan fakta guna meyakinkan, mendidik, atau
menghibur.
145

3. Skripsi
Skripsi adalah karangan ilmiah yang disusun oleh mahasiswa S-1 untuk
menyelesaikan pendidikannya. Skripsi merupakan bukti kemampuan akademik
mahasiswa yang bersangkutan dalam penelitian yang berhubungan dengan
pemecahan masalah yang sesuai dengan bidang studinya. Skripsi berisikan hasil
penelitian. Hasil penelitian itu diolah, dianalisis, dan disimpulkan sesuai dengan
tujuan penulisan.
4. Tesis
Tesis adalah karangan ilmiah yang ditulis mahasiswa S-2 untuk memperoleh
gelar master atau magister. Tesis memiliki taraf keilmiahan yang lebih tinggi
ketimbang skripsi. Tesis ditulis secara lebih teliti dan mendalam, baik itu dari segi
permasalahannya, kajian teoritik, maupun pembahasannya. Pernyataan, pendapat,
atau teori yang dikemukakan harus didukung argumen yang kuat.
5. Disertasi
Disertasi adalah karangan ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa S-3 untuk
memperoleh gelar doktor. Doktor adalah gelar akademis tertinggi yang diberikan
oleh suatu perguruan tinggi.Oleh karena itu, disertasi memiliki tingkat keilmiahan
yang lebih berbobot ketimbang skripsi atau tesis. Dalam disertasi, permasalahan
yang dikaji lebih kompleks, lebih mendalam, lebih problematik, dan lebih
komprehensif.

E. Sistematika Penulisan
Karangan ilmiah dapat ditulis dalma berbagai bentuk penyajian. Secara umum,
bentuk penyajian karangan ilmiah terbagi ke dalam tiga jenis.
1. Bentuk Populer
Karangan ilmiah bentuk ini bentuknya manasuka. Karangan ilmiah bentuk ini
bisa diungkapkan dalam bentuk surat atau esey. Ragam bahasanya bersifat santai
(populer). Karangan ilmiah populer umumnya dijumpai dalam media massa, seperti
koran atau majalah. Istilah populer digunakan untuk menyatakan topik yang akrab,
menyenangkan bagi populus (rakyat) atau disukai oleh orang kebanyakan, karena
gayanya yang menarik dan bahasanya mudah dipahami. Kalimat-kalimatnya
sederhana, lancar, namun tidak berupa senda gurau dan tidak pula bersifat fantasi
(rekaan).
2. Bentuk Semiformal
Secara garis besar karangan ilmiah bentuk ini terdiri dari:
1) halaman judul,
2) kata pengantar,
3) daftar isi,
4) pendahuluan,
5) pembahasan,
6) simpulan, dan
7) daftar pustaka.
Bentuk karangan ilmiah semacam ini umumnya digunakan dalam berbagai
jenis laporan dan makalah.
146

3. Bentuk Formal
Karangan ilmiah bentuk formal disusun degan memenuhi unsur-unsur
kelengkapan akademis secara lengkap. Unsur-unsur karang ilmiah bentuk formal,
meliputi hal-hal sebagai berikut:
8) Judul
9) Tim Pembimbing
10) Kata Pengantar
11) Abstrak
12) Daftar Isi
13) Bab Pendahuluan
14) Bab Telaah Kepustakaan / Kerangka Teoritis
15) Bab Metode Penelitian
16) Bab Pembahasan Hasil Penelitian
17) Bab Simpulan dan Rekomendasi
18) Daftar Pustaka
19) Lampiran-Lampiran
20) Riwayat Hidup
Ada yang menyebutkan beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam karya
tulis ilmiah berupa penelitian yaitu :
a. Bermakna isinya
b. Jelas uraiannya
c. Berkesatuan yang bulat
d. Singkat dan padat
e. Memenuhi kaidah kebahasaan
f. Memenuhi kaidah penulisan dan format karya ilmiah
g. Komunikasi secara ilmiah

F. Catatan Kaki dan DaftarPustaka


1. Catatan Kaki
Catatan kaki (footnote) dibuat untuk menunjukkan sumber suatu kutipan,
pendapat, fakta atau ikhtisar. Catatan kaki ditandai dengan angka arab (1, 2, 3, dst).
Catatan kaki diletakkan di bagian bawah halaman yang sama dengan bagian kalimat
yang ditandai itu, tidak boleh menempatkannya pada halaman yang terpisah.
Contoh:
1. David Nurian. 1991. Language Teaching Methodology: A Text-book for
Teachers. New York: Prentice Hall, hal. 233.
147

2. Richard Rodger. 1999. The Nature of Language, terj. Oleh Ronald Wardough.
New Jersey: Pergamon Ltd., hal. 5.
3. Keith Davis dan John W. Newstorm. 1985. Human Behavior at Work:
Organizational Behavior, Seventh edition, terj. oleh Agus Darma. Jakarta:
Erlangga, hal. 31, 32.
4. Julia S. Falk. 1998. Thinking and Speaking in Nature, il. oleh Ahmeed Hassan.
Cambridge: Cambridge Press, hal. 49.
5. Joshua Jackson. 2000. Man in Uttering Ideas, Second edition. New York:
Prentice Hall, hal. 121.
Apabila suatu buku dikutip berkali-kali, maka penulisan catatan kaki yang
kedua dan seterusnya dapat menggunakan singkatan. Ketentuannya adalah sebagai
berikut:
1. ibid.
Ibid. adalah kependekan dari ibidiem yang mengandung arti ‘pada tempat yang
sama’ atau ‘pada pekerjaan yang sama’. Ibid. dipakai apabila suatu kutipan
diambil dari sumber atau buku yang sama dengan sumber atau buku yang
disebutkan sebelumnya secara berturut-turut dengan halaman yang berbeda.
Setelah kata ibid, sumber itu cukup ditulis nomor halamannya saja.
Contoh:
1
A Chaedar Alwasilah. 1998. Bunga Rampai Pengajaran Bahasa. IKIP
Bandung Press, hal 3.
2
Ibid., hal.7
2. op. cit.
Op. cit. adalah kependekan dari opere citato. Artinya, ‘pada karangan yang telah
dikutip’. Op. cit. dipakai apabila suatu kutipan diambil dari sumber yang telah
disebutkan sebelumnya, namun sumber itu telah diselingi oleh sumber lain
dalam halaman yang berbeda.
Contoh:
1.
Daniel Gile. 1990. Basic Concepts and Models for Interpreter and
Translator Training. Philadelphia: John Benjamin Publishing Company, hal.
47.
2.
Nancy Frisberg. Interpreting: An Introduction, revised edition. Maryland:
RID Publication, hal. 13.
3.
Daniel Gile. op .cit., hal. 56.
3. loc. cit.
Loc. Cit. adalah kependekan dari loco citato. Artinya, pada tempat/halaman
yang telah dikutip. Loc. Cit. Dipakai apabila suatu kutipan yang diambil dari
sebuah sumber yang sama tetapi telah diselingin oleh sumber kutipan lain dalam
halaman yang sama.
148

1
Ronal Wardhaugh. 1997. Introduction to Linguistics. New York: McGraw-
Hill Book, hal. 198.
2
Victoria Fromkin. 1978. An Introduction to Language. Los Angeles:
Rinehart and Winston Publication, hal. 57.
3
Ronal, Wardhaugh. Op. cit., hal. 198.
4
Victoria Fromkin. Loc. cit.
5
Ronal, Wardhaugh. Loc. cit.
2. Daftar Pustaka
Daftar pustaka (bibliografi) adalah daftar yang berisi judul buku-buku, artikel-
artikel, dan bahan-bahan penerbitan lainnya, yang mempunyai pertalian dengan
sebuah atau sebagai karangan yang disertanya. Unsur-unsur daftar pustaka meliputi:
a. nama pengarang, yang dikutip secara terbalik;
b. judul buku, termasuk judul tambahannya;
c. data publikasi, yangmeliputi: penerbit, kota terbit, tahun terbit;
d. untuk sebuah artikel diperlukan pula judul artikel yang bersangkutan, nama
majalah, jilid, nomor, dan tahun penerbitan.
Contoh:
Aminudin. 1989. Semantik, Pengantar Studi tentang Makna. Bandung: Sinar Baru.
Badudu, J.S. 1981. Sari Kesusastraan Indonesia. Bandung: Pustaka Prima.
Chaniago, NurArifin, dkk. (2000). Kamus Sinonim Antonim Bahasa Indonesia.
Bandung: Pustaka Setia.
Curtis, Dan B. Dkk. (1998). Komunikasi Bisnis dan Profesional (terjemahan).
Bandung: Rosda Karya.
Dardjowidjojo, Soenjono. 1995. Pelba 8 (Penyebaran Bahasa Indonesia pada
Masa Purba, Skemata dalam Bahasa Indonesia, Wanita dalam Bahasa).
Yogyakarta: Kanisius.
DePorter, Bobi & Mike Hernacki (1999). Quantum Leraning, Membiasakan
Belajar Nyaman dan Menyenangkan (terjemahan). Bandung: Mizan.
Farbey, A.D. (1997). How to Produce Successful Advertising (terjemahan). Jakarta:
Gramedia.
Iskandar, Eddy D. (2000). Menulis Skenario. Bandung: Rosda Karya.
Keraf. Gorys (1979). Komposisi. Ende: Nusa Indah.
149

Kompetensi :
Setelah memelajari materi di bawah ini diharapkan mahasiswa mampu mengidentifikasi
karangan ilmiah untuk membuat karangan sesuai kaidah ilmiah

BAB 12
ARTIKEL, KRITIK DAN ESAI

A. Artikel
Artikel adalah karya tulis lengkap yang dimuat di koran, majalah, atau internet.
Bila kita menulis masalah komunikasi, misalnya, dan dimuat di koran atau di media
lainnya, maka tulisan itu disebut dengan artikel.
Contoh :
Berbagai Gejala Strategi Komunikasi Verbal
dalam Tulisan Ilmiah Populer
oleh: Iyo Mulyono

Pendahuluan
Tulisan ini disusun karena adanya dorongan yang berawal dari ketertarikan diri
saya terhadap beberapa artikel atau tulisan semiilmiah lainnya seperti laporan
perjalanan atau feature. Setelah tulisan-tulisan itu saya baca dan saya cermati, benak
saya mencatat bahwa ketertarikan tersebut disebabkan karena informasinya dan
terutama karena gaya pengungkapannya yang dalam tulisan ini disebut gejala strategi
komunikasi verbal. Ketertarikan tersebut berkembangmenjadi kekaguman akan
kemampuan penulis artikel tersebut yang kemudian menjadi dorongan untuk mencoba
mendeskripsikan sisi strategi komunikatif yang dimainkannya walaupun sebatas gejala-
gejalanya.
Data-data atau lebih tepat disebut contoh-contoh gejala yang disajikan dalam
tulisan ini dipetik dari tulisan yang tersebar di harian umum dan majalah khususnya
Tempo. Contoh-contoh ditampilkan dalam satuan konteks paragraf atau kalimat. Karena
itu, tulisan ini akan terkesan lebih banyak mengandungcontoh daripada penguraian atau
pembahasan.
Selain penyajian contoh seperti yang dikemukakan di atas, sistem dan bahasa
penyajiannya pun tidak sepenuhnya menunjukkan sifat artikel ilmiah. Unsur emosional
masih terasa terangkat dalam ungkapan tertentu. Dan hal itu saya sadari benar.
Malahan, ada pesan sampingan dari saya, yakni layakkah pembahasan seperti ini
dikembangkan untuk tulisan ilmiah dalam jurnal baik lokal maupun nasional.
150

Strategi Komunikatif
Strategi komunikatif merupakan salah satu kompetensi komunikatif yang diangkat
Michael Canale dalam Richards (Ed. 1983 : 6-27). Tiga komponen kompetensi yang
lain adalah kompetensi gramatikal, kompetensi sosiolinguistik, dan kompetensi bidang
wacana.
Kompetensi strategi komunikatif merupakan kompetensi yang berurusan dengan
keberlangsungan komunikasi pada saat seseorang mendapatkan kesulitan atau
berurusan dengan keinginan seseorang untuk meningkatkan efektivitas komunikasi.
Richards (Ed. 1983 : 10-11) mencatat dua alasan seseorang menggunakan strategi
komunikatif. Pertama, untuk memelihara keberlangsungan komunikasi, karena adanya
kesulitan gramatikal, sosiolinguistik, dan kesulitan bidang wacana. Misalnya, seorang
pembelajar asing, karena lupa atau tidak mengetahui kata gado-gado, maka dia
memparafrasekannya dengan makanan yang terbuat dari berbagai jenis sayuran. Kedua,
alasan untuk meningkatkan efektivitas komunikasi. Sebuah komunikasi kadar
kekomunikatifannya bisa meningkat karena penutur atau penulis memetik ungkapan
baik dari bahasa yang bersangkutan maupun dari bahasa lain: bahasa daerah atau bahasa
asing. Panjang pendeknya kalimat, keras lunaknya tekanan kata, pengaturan intonasi,
penggunaan kiasan, dan lain-lain relatif berpengaruh terhadap efektivitas, komunikasi.
Dalam hubungannya dengan pembelajar bahasa kedua atau bahasa asing, tentang
strategi komunikatif ini dapat dirumuskan hal-hal sebagai berikut:
(1) Alasan penggunaan strategi yangpertama akan dimunculkan oleh pembelajar bahasa
yang mengalami kesulitan gramatikal, sosiolinguistik, dan kesulitan bidang
pengembangan wacana. Pembelajaran tipe ini (untuk keterampilan berbicara)
cenderung masih berada di level lanjut (advanced) ke bawah.
(2) Alasan penggunaan strategi komunikatif yang kedua akan muncul dari pembelajar
bahasa atau pengguna bahasa level lanjut dan terutama level superior (unggul).
Mereka memilih dan mengoperasionalkan strategi komunikatif dan bukan karena
adanya kesulitan (walaupun tidak tertutup kemungkinan karena hal itu) melainkan
terutama karena adanya kesadaran bahwa strategi komunikatif itu dapat
meningkatkan kadar kebagusan dan keefektifan komunikasi. Salah satu ciri
kemampuan berbicara level unggul adalah mainpu menggunakan strategi wacana
dengan bagus (Brown, 1994:10).
(3) Jika pembelajarbahasa level superior dalam berbicara sudah dituntut mampu
menggunakan strategi komunikatif tertentu, maka penuturasli selayaknya cekatan
dan mahir dalam operasionalisasi berbagai strategi komunikatif untuk kepentingan
efektivitas teratur.
151

Jenis Strategi Komunikatif (Verbal)


Dengan merujuk jenis kompetensi strategi menurut Richards (Ed. 1984 -24),
tulisan ini memilih strategi komunikatif yang terdiri atas tiga jenis, yaitu:
(1) strategi komunikatif bidang gramatika,
(2) strategi komunikatif bidang sosiolinguistik,
(3) strategi komunikatif bidang pengembangan wacana.
Strategi komukatif bidang gramatika di antaranya menggejala dalam bentuk
linguistik: pilihan kata (diction), variasi panjang pendeknya kalimat,variasi intonasi dan
tekanan kata, penggunaan parafrase, repetisi, paralelisme, dan variasi susunan fungtor
kalimat. Strategi komunikatif bidang sosiolinguistik lazimnya berwujud alih bahasa,
alih ragambahasa, penggunaan slogan, ungkapan, dan kiasan. Gejala strategi
komunikatif bidang wacana dapat berupa pilihan wacana, pilihan nalar wacana, dan
penggunaan organisasi isi wacana.
Gejala Strategi Komunikatif dalam Wacana (Ilmiah Populer)
Petikan-petikan di bawah ini menurut hemat saya (mungkin subjektif), selain
mengandung daya tarik dalam hati intonasinya, juga mengandung daya tarik dalam
bahasanya. Daya tarik dalam, hal bahasa inilah yang dalam tulisan ini dimaksudkan
dengan gejala-gejala strategi komunikatif verbal.
Petikan 1
Inti masalah Kota Jakarta yang hypergrowth sebetulnya adalah kemiskinan
perkotaan. Bahkan di kota-kota besar di negara maju pun, penanggulangan kemiskinan
dan pengurangan kesenjangan kaya-miskin masih saja menjadi kepedulian utama dan
landasan kebijakan pemerintah dalam mengelola kotanya. Warga permukiman liar
perkotaan memang memiliki keterbatasan dalam tingkat pendidikan dan keterampilan,
tetapi mereka memiliki keunggulan, keuletan, dan ketangguhan untuk bertahan hidup.
Akan sangat disayangkan bila kepopuleran itu terdegradasi dengan kekeliruan
penanganan pemukiman kumuh liar akibat cara-cara yang tidak manusiawi.......
sementara dalam masalah persampahan sudah dirintis aneka cara pendaurulangan yang
bermanfaat sehingga muncul slogan “Garbage today, gold tomorrow”.
Manakala Singapura mencanangkan diri sebagai Kota 3D: dynamic, delight,
distinctive (The Future of Singapore : 2001), Jakarta tidak perlu kecil hati dan dapat
pula mencanangkan prinsip serupa, 3D dengan pengertian yang berbeda, yaitu al-dien,
al-dunya, dan al-daulah. Hal ini bukannya tidak mungkin dilaksanakan, asal kita semua
memiliki komitmen, niat, dan tekad yang sama untuk menanggulanginya (“Jakarta yang
Hypergrowth” oleh Eko Budihardjo, Tempo).
152

Petikan 2
Para pengusaha film Amerika pernah dibuat panik dan bingung oleh rakyat India.
Berbagai film yang meledak dan sukses di berbagai negeri di belahan dunia tak berdaya
menembus pasar India. Selain meledak filmnya, Jurasic Park yang kaos dan mainannya
bertebaran di Indonesia itu, sama sekali tidak laku di negara yang jumlah penduduknya
sudah mendekati hitungan miliar itu. Berkali-kali mereka banting tulang mencoba
menembus pasar India yang besar itu. Berkali-kali pula mereka melakukan uji coba dan
mencermati format film India. Dalam mencermati film India itu para pengusaha
Holywood memang berhasil menyimpulkan ciri utama film India, yakni lagu dan tarian.
Maka jika di Barat ada ungkapan say it with flower, di Indonesia menurut orang yang
sama sekali tidak bisa dipercaya – ada ungkapan say it with envelope, maka di India ada
ungkapan say it with song and dance. Sebab, dalam film India memang semua hal
dikemukakan lewat lagu dan tarian, baik tokohnya sedang gembira maupun sedih,
sedang jatuh cinta atau patah hati, bahkan juga sedang berkelahi atau tawuran.
(“Dubbing dan Bahasa Indonesia Kita” oleh Agus R. Sardjono, Pilihan Rakyat).
Petikan 3
Bumi kita ini punya titik-titik ekstrim, seperti suhu terendah, terpanas, tertinggi,
dan banyak lagi. Nah, titik tertinggi adalah Pegunungan Himalaya yang memiliki
puncak-puncak tertinggi di dunia. Paling tinggi adalah Puncak Everest. Uniknya puncak
tertinggi pegunungan yang menjadi bagian negara Nepal itu suka berubah-ubah karena
pengaruh gerakan kulit bumi, meski perubahan ukuran tinggi itu tidak mencolok.
(”Tunanetra Menakhlukkan Himalaya” oleh Agah Nugraha).
Petikan 4
Demam chikunguya mampir di Bogor (Tempo, 12-2001). Penyakit “misterius”
menyergap Kosasih, MA 42 tahun. Sabtu pagi Kosasih masih tampak segar bugar.
Menjelang siang, warga kampung Kedungpandak, Bogor, Jawa Barat itu mulai
merasakan gejala tak beres: badan lemas dan kedua kakinya sulit digerakkan. (”Demam
Cikunguya Mampir di Bogor”, Tempo 2001).
Petikan 5
Raja tanpa kabinet atau bintang film tanpa pengagum tidak berbeda dengan ikan
hidup di luar air. Profesor tanpa mahasiswa atau pelawak tanpa penonton sama halnya
dengan pohon jeruk yang ditanam di laut. Pameran tanpa pengunjung atau pasar tanpa
pembeli sama halnya dengan tanaman hidup di atas batu. Begitulah, setiap orang
mendapatkan harga diri dalam hubungan dengan lingkungannya. (”Harga Diri
Seseorang Berhubungan dengan Lingkungannya” oleh M.A. Brower)
153

Petikan 6
Emas memang menggiurkan. Bagi masyarakat, dia menjadi bahan perhiasan yang
utama. Perhiasan emas merupakan simbol status sosial yang penting. Para raja sejak
zaman Firaun sangat mendambakannya. Kina dalam masa krisis moneter dan ekonomi,
ia juga merupakan bentuk kekayaan yang menarik untuk disimpan masyarakat daripada
uang disimpan di bank. Lebih aman, kata orang (”Emas dan Minamata” oleh Otto
Soemarwoto).
Petikan 7
Pada hari kedua, ketika pesta siap dimulai, terdengar ledakan bergelegar. Ruang
diskotek bergetar. Staf diskotek berhamburan ke luar. Mereka terpana melihat langit
yang mendadak terbakar. Empat kilometer dari tempat itu dua bom meledakkan Sari
Club dan Paddy’s Club, dua bar terkemuka di Kuta.
Ultimate Explosion pun dibatalkan. Keesokan harinya sejumlah polisi mendatangi
Diskotek Skandal, dan membawa pergi Andrea Sortani, pemodal tempat hiburan itu.
Lelaki muda Italia yang sudah lama menetap di kawasan Sanur itu meringkuk di
tahanan kepolisian tanpa status yang jelas: saksi atau tersangka (”Sandi, Sorban, dan
Poster Teroris”, Tempo).
Gejala strategi komunikatif yang menonjol dalam Petikan 1 adalah alih kode
sekaligus penggunaan slogan atau ungkapan seperti the ugliest aspect; Garbage today,
gold tomorrow; al-dien, al-dunya, dan al-daulah. ”Gejala dalam rangkaian pilihan kata
menimbulkan perasaan nyaman sewaktu membacanya, seperti rangkaian,”
......pengurangan kesenjangan kaya-miskin masih saja menjadi kepedulian utama dan
landasan kebijakan pemerintah dalam mengelola kotanya.” Begitupun diksi yang
cermat dapat kita rasakan kehadirannya, seperti dalam petikan,” ........kepopuleran itu
terdegradasi dengan kekeliruan penanganan pemukiman kumuh liar akibat cara-cara
yang tidak manusiawi.....” Gejala lain muncul dalam bentuk susunan bentuk pararel
(parallelism structure) seperti petikan, ”Warga permukiman liar perkotaan memang
memiliki keterbatasan dalam tingkat pendidikan dan keterampilan, tetapi memiliki
keunggulan dalam keuletan dan ketangguhan untuk bertahan hidup..... Hal ini bukannya
tidak mungkin dilaksanakan asal kita semua memiliki komitmen, niat, tekad yang sama
untuk menanggulanginya.
Petikan 2 memiliki kesamaan dengan Petikan 1 dalam penggunaan strategi alih
kode yang sekaligus berupa ungkapan, seperti say it with flower, say it with envelope,
say it with song and dance. Gejala strategi komunikatif yang lain muncul dalam bentuk
repetisi dan pilihan kata yang menimbulkan kesan terbentuknya irama dan kemerduan,
seperti, ”Berkali-kali mereka banting tulang berkali-kali pula mereka melakukan, baik
tokohnya sedang gembira atau sedih, sedang jatuh cinta atau patah hati, bahkan juga
sedang berkelahi atau tawuran.”
154

Gejala strategi komunikatif Petikan 2 muncul juga dalam bentuk ungkapan dan
kiasan, seperti banting tulang, berbagai film yang meledak dan sukses ..... tak berdaya
menembus pasar......, dan dalam bentuk parafrase” .... tidak laku di negara yang jumlah
penduduknya sudah mendekati hitungan miliar itu”
Bentuk parafrase sebgai gejala strategi komunikatif juga dimanfaatkan Tempo
seperti tertera dalam Petikan 3 dan 4. Pegunungan Himalaya diparafrasekan menjadi
pegunungan yang menjadi bagian negara Nepal; (Nama) Kosasih diparafrasekan
menjadi warga kampung Kedungpandak, Bogor, Jawa Barat.
Gejala strategi komunikatif paralelisme yang dimanfaatkan oleh Eko Budihardjo
dalam artikelnya ”Jakarta yang Hypergowth” juga dimanfaatkan oleh M.A. Brower
seperti yang terungkap dalam petikan 5, berupa penjelasan struktur atau pola kalimat
pertama, kedua, dan ketiga paragraf atau unit informasi diakhiri dengan kesimpulan
”Begitulah, setiap orrang mendapat harga diri dalam hubungan dengan ligkungannya.
Otto Soemarwoto dalam artikelnya ”Emas dan Minamala” mengangkat strategi
yang berupa variasi panjang-pendeknya kalimat, seperti yang terungkap dalam petikan
6. Kalimat kesatu, kedua, ketiga dan kalimat keempat relatif pendek (singkat). Kalimat
kelima relatif panjang, kurang lebih sekitar tiga kali panjang kalimat sebelumnya.
Selain menggunakan strategi yang berupa variasi panjang-pendek kalimat, Petikan
dalam kalimat, juga digunakan strategi bercerita atau dengan bergaya narasi. Seperti
Petikan 6 dan Petikan 7 menyajikan inormasi aktual peristiwa bom Bali dengan wacana
bentuk narasi yang di sana-sini dibumbui pengiasan, persamaan-persamaan bunyi, dan
parafrase. Variasi kalimat panjang-pendek ,emperkuat kualitas pengungkapan sehingga
komunikasi terasa lebih kental di benak para pembaca.
Begitulah sejumput uraian tentang berbagai gejala strategi komunikatif dalam
tulisan ilmiah populer termasuk di dalamnya feature artikel, feature laporan, dan feature
berita. Di dalamnya diangkat kajian yang emosional dan subjektif karena memang salah
satu sisi wacana-wacana tersebut menuntut kita untuk menyelaminya seperti itu.

B. Kritik
Kritik sering diartikan sebagai celaan atau kecaman. Akan tetapi, kritik dapat pula
bermakna analisis, bahasan, atau ulasan terhadap suatu karya, misalnya puisi, cerpen,
atau pementasan drama.
Sebagai suatu bentuk karangan, kritik haruslah disampaikan secara objektif dan
berdasarkan kerangka keilmuan yang jelas.
Contoh:
The Bow: Pernyataan Cinta Nyaris Tanpa Kata-kata
Pemain:
1. Jeon-Seongt-hwan
155

2. Han-Yeo-reum
3. Seo Ji-seok
Sutradara:
Kim Ki-duk
Korea Selatan, 2005
Kebayang nggak sih, bertahun-tahun hidup di tengah lautan tanpa pernah bicara
atau bersosialisasi dengan orang lain? Kira-kira beginilah cerita yang akan digambarkan
oleh sutradara kawakan Kim Ki-duk dalam film unik yang menceritakan kehidupan
seorang kakek yang hidup berdua dengan seorang gadis berusia 17 tahun di atas kapal
miliknya di tengah laut.
Diceritakan bertahun-tahun yang lalu, si kakek menemukan seorang anak berusia
tujuh tahun yang terpisah dari kedua orang tuanya. Tidak diceritakan apa yang
menyebabkan hilangnya anak ini. Singkatnya, si kakek kemudian membawa dan
merawat anak perempuan ini seperti anaknya sendiri di rumahnya di atas perahu yang
terapung jauh dari daratan.
Kakek ini memang hidup sendiri di kapalnya. Setiap beberapa hari, sebagai mata
pencahariannya, ia membawa beberapa pemancing dari daratan yang menyewa lokasi
memancing di kapalnya. Meskipun demikian, ia melarang anak perempuan itu untuk
ikut ke daratan. Ternyata, mereka berdua telah sepakat untuk menikah tepat pada saat si
gadis berumur 17 tahun. Untuk itu, si kakek membubuhkan satu tanda setiap hari pada
kalender sampai tiba waktunya hari pernikahan mereka.
Setelah tumbuh dewasa, anak ini tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang
cantik, namun kuper, karena memang tidak pernah bergaul dengan orang lain. Karena
kepolosannya, anak ini sering jadi objek pelecehan seksual para pemancing yang iseng
menggodanya. Tapi untunglah ada si kakek yang selalu menjaganya dengan cara
langsung mengusir pemancing yang berniat iseng.
Demikianlah selama sepeluh tahun mereka menjalani kehidupan rutin yang
tenang, sampai suatu ketika datanglah pemuda ganteng yang terpikat pada kecantikan si
gadis. Tampaknya, si gadis pun naksir pada pemuda ini. Sang kakek rupanya mulai
menyadari suatu perubahan terjadi pada ’calon istrinya’ tersebut, maka ia berusaha
mengancam si pemuda agar tidak menggoda anak gadis tersebut. Tapi ternyata,
dorongan cinta di antara keduanya terlalu kuat, bahkan si gadis pun mulai berani
melawan kehendak si kakek.
Karena rasa takut yang berlebihan, si kakek berusaha memajukan hari pernikahan
mereka sesegera mungkin, dengan cara memberikan lebih banyak tanda di kalender. Ia
bahkan mulai membeli perlengkapan untuk upacara pernikahan.
156

Satu hari menjelang pernikahan, si pemuda datang lagi ke kapal untuk membujuk
si kakek agar melepaskan gadis itu, dengan mengatakan bahwa ia telah mengetahui
orangtua si gadis yang masih mencari anak mereka yang hilang bertahun-tahun yang
lalu. Akhirnya si gadis memutuskan untuk pergi dengan pemuda tersebut ke daratan.
Untuk mencegah hal ini, si kakek berniat bunuh diri, dengan cara mengikatkan tali
tambat perahu ke lehernya.
Karena merasa kasihan dan rasa cintanya yang besar pada si kakek yang telah
merawatnya hingga dewasa, si gadis akhirnya kembali untuk menikah dengan si kakek.
Film ini berakhir dengan adegan mistis, ketika akhirnya perahu si kakek tenggelam ke
dasar samudera. Sementara si gadis yang telah menjadi istrinya kembali ke daratan
bersama pemuda tersebut.
Film yang cukup ’disturbing’ karya Kim Kiduk ini diwarnai dengan shoot-shoot
pemandangan laut yang indah. Tak banyak kata-kata atau fakta yag diungkap oleh Kim
dalam film ini, tapi secara visual film ini cukup layak untuk ditonton bila kamu sudah
17 tahun, tapinya! (Kompas, RD).
C. Esai
Esai merupakan karangan yang berisi uraian populer dan santai. Usulan-usulannya
bersifat pribadi, akrab, dan asyik dibaca layaknya obrolan biasa. Masalah yang
dibicarakannya bisa berkenaan dengan masalah sastra, filsafat, ekonomi, politik,
hukum, sosial, kesehatan, dan hal-hal lainnya.
Contoh:
Si Kontet yang Makin Dicari
Punya bentuk unik dan makin dicari. Ada dua pilihan mendapatkannya. Gerilya
bagian satu per satu, atau membelinya utuh. Tetapi, kendala mengendarai justru menjadi
halangan utama. Kenalan yuk sama sepeda ”low rider”.
Sepeda itu lebih cocok dipakai anak kecil dibandingkan orang dewasa. Ukurannya
mungil dan berbentuk enggak seperti sepeda biasa. Tampilannya semarak. Rangkanya
dicat meriah, bahkan ada yang di-chrome dengan finishing perak mengilat, atau emas
yang kiclong.
Setang sepedanya pun dibikin ala motor gede, dengan style choopper (itu lho
setang motor yang tegak ke atas hingga kala mengendarainya posisi tangan hampir
tegak lurus ke atas). Bahan untuk membuat setang sepedanya pun bukan dari besi biasa.
Rantai kapal, sampai besi tempa untuk bahan dasar pagar rumah bisa dijadikan aksesosi
sepeda.
Semua sepeda ”ajaib” itu terjejer rapi di halaman rumah Beri, di kawasan Pondok
Indah. Siang itu bareng seorang kawannya, Rezi, keduanya lagi asyik berdiskusi tentang
ke empat sepeda yang mereka bangun sendiri.
157

”Gue sih sudah lama banget pengen punya sepeda kayak gini,” beber Beri.
Maklum sepeda yang kental dengan gaya hidup orang kulit hitam di Amrik itu punya
bentuk yang seru.
”Biasanya sepeda jenis ini yang memakai anak geng kulit berwarna hitam di
Amerika,” jelas Rezi.
Tren yang sudah ada dari zaman dulu itu makin naik seiring dengan seringnya
video klip yang kental nuansa hi hop atau punk-nya di puter di televisi. Macam video
klip Anthem-nya Good charlote, atau malah Muka Tebal-nya Superman is Dead.
Enggak heran kalau sepeda seperti ini selalu dikaitkan dengan komunitas kulit berwarna
di Amerika.
Sayangnya, buat memiliki sepeda ini susahnya minta ampun. Enggak ada satu
toko sepeda pun di Indonesia yang menjual sepeda jenis ini. ”Waktu gue lagi di
Amerika, gue enggak menemukan toko yang menjual sepeda seperti ini,” ungkap Beri.
Sesampainya di Indonesia, Beri juga harus mengubur mimpinya dalam-dalam.
Tapi, niatnya itu terwujud ketika tiga bulan lalu seorang kawan menawarkan sebuah
rangka sepeda zaman dulu. ”Gue pikir bisa nih dijadiin sepeda low rider (sebutan karib
si sepeda kontet),” cetusnya lagi.
Mulai deh hari dan kehidupannya (duh segitunya) dihabiskan untuk memenuhi
impiannya sejak dulu. Aksesori tambahan yang enggak dijual di Indonesia dibikin
secara prakarya olehnya. ”Setangnya gue pakai rantai kapal. Gue las listrik dulu, baru
gue finishing chrome,” tukas Beri lagi. Sekitar empat minggu dia habiskan waktu untuk
membangun sepeda impiannya. ”Kalau sudah tahu apa yang kita mau, pasti gampang
sih. Soalnya sudah kebayang inginnya seperti apa,” tambah Beri.
Order
Bak seniman yang habis menyelasaikan karyanya. Beri pun melakukan ”pameran”
kecil-kecilan. Apalagi kalau bukan mengendarai sepeda kontetnya keliling daerah
rumahnya. Ternyata ada yang melihat aksinya keliling kompleks. Sesampainya di
rumah, beberapa kawannya menelepon dan meminta dibuatkan sepeda seperti miliknya.
”Mulai deh gue kebanjiran order buat bikin sepeda seperti ini,” kenang Beri.
Toh order yang datang kepada dirinya enngak bisa begitu saja dikerjakan.
”Banyak yang datang ke gue, tapi belum tau mau dibikin apa sepedanya. Gue kasih
masukan pasti ada saja yang kurang. Utamanya sih masalah dana,” tukasnya cuek.
”Tapi, berhubung yang datang ke gue teman-teman gue juga, enggak mungkin gue
tolak,” akunya lagi.
Kalau kita tertarik, sebenarnya ada dua cara yang bisa kita lakukan untuk
mengoleksi si kontet ini. Pertama, cara gerilya macam yang dilakukan Beri. Hunting
satu per satu sampai semua parts lengkap.
158

”Gue beli semuanya satu per satu. Rangkanya gue hunting sendiri,” ungkapnya.
Maklum rangka sepeda low rider biasanya menggunakan “bangkai” sepeda kuno. Tahu
sendiri dong barangnya enggak mungkin dicari di toko sepeda. “Kalau yang lain sih
gampang. Ban sama velg biasanya masih ada yang jual,” ujarnya lagi.
Cara kedua, cara instan seperti yang dilakukan Rezi. Alih-alih hunting ke tukang
loak, nih cowok langsung membeli di negara pusatnya sepeda low rider, Amerika.
“Kebetulan pas gue ke sana dan ada uang sisa ya sudah gue beli aja yang sudah jadi,”
jelas cowok yang hobi memakai kacamata ini.
Maklum, di Amerika pasar sepeda seperti ini sudah jelas. Jadi, toko yang menjual
sepeda utuh dan aksesorisnya juga bejibun. “Gue beli utuh mereknya Low Rider sekitar
300-an dollar,” ungkap Rezi.
Capek
Lambat laun komunitas – yang lebih suka disebut Beri sebagai habitat – mulai
terbentuk. Dari hanya sendirian, kini Beri punya sekitar lima orang teman untuk
diajaknya berkeliling dengan si kontet.
Toh dari semua keasyikan membangun si kontet, ada satu kendala yang enggak
Beri suka. Berhubung sepeda ini didesain sangat pendek, mau enggak mau mengayuh
pedalnya memang agak ribet. “Kalau sudah ketemu tanjakan malas banget rasanya.
Jadi, gue enggak pernah main jauh-jauh. Paling sekitaran rumah,” tukas Beri.
“Soalnya, kalau di Amerika sendiri, nih sepeda memang bukan di desain untuk di
kayuh, melainkan di dayung menggunakan kaki. Karena negro-negro di Amerika
menggunakan sepeda ini hanya di seputaran blok rumah mereka,” tambah Rezi lagi.
Selain Beri, masih ada beberapa kelompok lain yang hobi mendandani sepeda low
rider seperti ini. “Biasanya mereka nongkrong di Circle K Jalan KH Ahmad Dahlan.
Mereka serius benar. Soalnya sepeda itu memang dipakai jalan,” jelas Beri.
Atau malah di Bandung. Komunitas streetball yang ada di sana cukup akrab
dengan komunitas sepeda low rider. “Biasanya kami ngumpulnya setiap hari Rabu
malam. Gabung sama anak-anak break dance dan streetball,” beber Insane dedengkot
streetball dari tim Future asal Bandung.
Dengan bentuknya yang unik, sepeda seperti ini memang asyik untuk dikoleksi.
Tinggal pilih caranya, mau yang instan apa yang gerilya? Pilihan ada di tangan kita
(Adhityaswara Nuswandana, Kompas)
159

Kompetensi :
Setelah memelajari materi di bawah ini mahasiswa mampu berbicara untuk keperluan
akademik dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

BAB 13
DISKUSI DAN SEMINAR

A. Diskusi
a. Pengertian
Diskusi ialah bentuk tukar pikiran di antara dua orang atau lebih tentang suatu
masalah untuk mencapai tujuan tertentu. Pada hakikatnya diskusi merupakan suatu
metode untuk memecahkan masalah-masalah dengan proses berpikir kelompok. Oleh
karena itu diskusi merupakan suatu kegiatan kerja sama atau aktivitas koordinatif
yang mengandung langkah-langkah dasar tertentu yang harus dipatuhi oleh seluruh
kelompok.
b. Masalah dalam Diskusi
Tujuan utama berdiskusi ialah memecahkan masalah. Hal-hal yang perlu
diperhatikan ketika menentukan masalah untuk diskusi adalah sebagai berikut :
1) Menarik para peserta
2) Sesuai dengan kapasitas pengetahuan para peserta
3) Memiliki kejelasan
4) Sesuai dengan waktu dan situasi
c. Para Pelaksana Diskusi
Diskusi merupakan bentuk pemecahan masalah yang melibatkan banyak orang.
Untuk melancarkan proses pemecahan masalah, orang-orang tersebut perlu diatur
berdasarkan peran yang saling menunjang dan menentukan. Secara umum peran-
peran pelaksana diskusi terdiri atas pimpinan diskusi, sekretaris atau notulis, peserta
diskusi dan narasumber (pemrasaran).
1) Pimpinan/Ketua Diskusi
Seorang pemimpin diskusi memiliki tugas sebagai berikut :
a. Membuat persiapan yang matang dari diskusi
b. Mengumumkan judul masalah, dan mengemukakan tujuan diskusi
c. Menyediakan serta menetapkan waktu bagi :
1) Pendahuluan
2) Diskusi
d. Menjaga keteraturan susunan diskusi
160

e. Memberi kesempatan kepada setiap orang yang ingin mengemukakan pikiran


f. Menjaga agar minat para peserta tetap besar
g. Menjaga agar diskusi tetap bergerak maju
h. Membuat catata-catatan mengenai hal-hal yang penting selama diskusi
berlangsung
i. Membuat rangkuman singkat pada akhir diskusi.
2) Sekretaris
Tugas umum sekretaris diskusi adalah mendampingi ketua terutama dalam
urusan tulis-menulis. Secara khusus, sekretaris diskusi mempunyai tugas sebagai
berikut :
a) Mencatat nama peserta serta tanggapan-tanggapan yang
disampaikan.
b) Mencatat hal-hal khusus yang terjadi selama diskusi.
c) Membuat catatan dan simpulan-simpulan sementara diskusi
d) Membuat laporan diskusi secara lengkap setelah diskusi itu
berakhir.
3) Peserta
Kehadiran peran serta para peserta merupakan hal yang sangat esensial bagi
suatu diskusi. Diskusi yang tidak dihadiri para peserta sama artinya dengan diskusi
itu tidak ada. Dari para peserta diskusi itulah, pendapat-pendapat, pemecahan
masalah, dan simpulan itu dapat dirumuskan. Untuk itu, tentu para peserta itu tidak
sekadar hadir, tetapi diperlukan peran aktif mereka selama proses diskusi
berlangsung.
Peran aktif serta berbagai sumbangan pemikiran dari para peserta itu akan
sesuai dengan harapan apabila mereka mempersiapkan diri dengan baik. Para
peserta mempelajari mengetahui dan mempelajari betul-betul masalah yang akan
didiskusikan. Sebelum diskusi berlangsung, mereka mempersiapkan diri dengan
membaca berbagai sumber pustaka, wawancara dengan pihak-pihak lain, atau
bahkan melakukan serangkaian penelitian. Dari persiapan-persiapan seperti itulah,
pendapat, pemecahan masalah, serta kesimpulan yang berbobot akan didapatkan.
Apabila tidak, maka jalannya diskusi akan lebih banyak diisi dengan perdebatan-
perdebatan kosong yang kebenarannya tidak bisa dipertanggung-jawabkan.
Dalam diskusi setiap peserta memiliki kesempatan sama untuk
menyampaikan pendapat, menambahkan bukti dan alasan, menyanggah, memberi
tanggapan dan saran, serta partisipasi aktif lainnya. Pendapat-pendapat yang
disampaikan harus ditunjang oleh alasan, fakta, contoh, atau pendapat pakar.
161

Tugas peserta diskusi sebagai berikut :


1) Turut mengambil bagian dalam diskusi
2) Berbicara hanya kalau pemimpin diskusi mempersilakan kita
3) Berbicara dengan tepat dan tegas
4) Menyampaikan pertanyaan-pertanyaan dengan ditunjang fakta-fakta, contoh-
contoh atau pendapat-pendapat para ahli
5) Mengikuti dengan saksama dan dengan penuh perhatian diskusi yang sedang
berlangsung
6) Mendengarkan dengan penuh perhatian
7) Bertindak secara sopan santun dan bijaksana
8) Menghargai dan memahami pandangan orang lain.
Hal lainnya yang perlu diperhatikan peserta dalam menyampaikan pendapat
adalah sebagai berikut :
1) Pendapat disampaikan dengan jelas, lancar, dan tidak bertele-tele.
2) Pendapat disampaikan dengan jujur, sopan, dan bijaksana.
3) Pendapat disampaikan setelah disilakan moderator.
d. Pelaksanaan Diskusi
Secara umum, proses diskusi dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai
berikut :
1) Mula-mula dibicarakan latar belakang masalah yang akan dibicarakan.
2) Setelah itu dibicarakan penyebab yang menimbulkan masalah itu serta
tujuan-tujuan yang diharapkan.
3) Lalu dibicarakan kemungkinan-kemungkinan pemecahannya. Tiap-tiap
pemecahan dipertimbangkan baik-buruknya untuk kemudian disimpulkan
kemungkinan yang terbaik.
4) Di akhir kegiatan tersebut, moderator dengan dibantu notulen diharapkan
untuk menyusun laporan atas jalannya diskusi tersebut.
e. Jenis-Jenis Diskusi
Agar kita dapat memperoleh gambaran yang memadai, maka di bawah ini
ditampilkan beberapa jenis diskusi :
1) Diskusi Meja Bundar
Jika jumlah peserta diskusi tidak terlalu banyak (5-15 orang), diskusi meja bundar
ini dapat dilakukan.
2) Diskusi Berkelompok-kelompok.
162

Bila peserta cukup banyak, atau masalah yang dibicarakan bermacam-macam


maka diskusi dapat dilaksanakannya berkelompok-kelompok. Tiap kelompok kecil
mempunyai ketua.
3) Diskusi Panel
Diskusi Panel adalah suatu kelompok diskusi yang terdiri dari tiga sampai enam
orang ahli. Yang di tunjuk untuk mengemukakan pandangan dari berbagai segi
mengenai suatu masalah. Seorang mederator memimpin jalannya diskusi. Pada
bagian lain duduk kelompok besar sebagai pendengar. Adapun persiapan yang
lazim dilaksanakan bagi suatu diskusi panel adalah sebagai berikut ini. Kira-kira
seminggu sebelum diskusi itu berlangsung, maka ketua panel mengundang para
anggota menyusun oraganisasi diskusi itu. pada pertemuan ini, para anggota
haruslah melakukan hal-hal sebagai berikut :
a. Membatasi pokok pembicara dengan jelas
b. Pengutaraan perbedaan-perbedaan pendapat, sehingga para anggota panel
mengetahui dimana masing-masing berpijak
c. Menetapkan tahap-tahap setiap pembicara atas pokok masalah tersebut
d. Menentukan urutan atau susunan para pembicara
e. Menetapkan batas waktu bagi setiap pembicara.
Untuk diskusi tersebut, maka para anggota panel mengambil tempat duduk yang
berbentuk setengah lingkaran mengharap para pemirsa atau sepangjang satu sisi
meja panjang, dan ketua duduk di tengah. Diskusi itu terdiri dari bagian-bagian
berikut :
a. Pendahuluan
Ketua mengumumkan pokok pembicaraan dan membatasi setiap istilah yang
membutuhkan penjelasan, kemudian dia memperkenalkan para anggota panel
dan mengemukakan tahap khusus pokok pembicaraan yang akan diutarakan
setiap anggota.
b. Pembicaraan-pembicaraan oleh para anggota panel.
Kemudian ketua mempersilahkan para anggota panel bergiliran menyampaikan
pembicaraan mereka.
c. Diskusi bebas
Setelah pembicaraan-pembicaraan pribadi itu, maka anggota panel memberi
komentar terhadap setiap ide lainya, menerangkan setiap butir yang
memerlukan penyelesaian yang lebih terperinci dan mempertahankan setiap-
setiap pertanyaan yang tantang.
d. Partisipasi para pendengar
Ketua mempersilahkan para pendengar untuk mengemukakan pendapat mereka
sendiri atau bertanya kepada para pembicara.
e. Rangkuman
163

Kata merangkumkan hasil diskusi dengan jalan menyatakan butir-butir yang


sama-sama disepakati oleh para anggota panel, dan butir-butir yang masih
menimbulkan perbedaan pendapat, serta butir-butir yang tidak disepakati.
4) Seminar
Kata seminar berasal dari bahasa latin “semin” yang berarti ”biji atau benih. Jadi
seminar berarti “tempat benih-benih kebijaksanaan diseminarkan”. Seminar
dipimpin oleh Maha Guru dan orang lain.
5) Konferensi
Koferensi sebagai suatu bentuk diskusi kadang-kadang mengacau kepada diskusi
pengambilan tindakan, karena berusaha membuat suatu keputusan dan bertindak
berdasarkan keputusan tersebut.
6) Simposium
Pada dasarnya simposium merupakan variasi dari diskusi panel. Dalam simposium
tiga orang ahli atau lebih diundang untuk menyampaikan pandangan-pandangan
mereka yang berbeda-beda mengenai pokok pembicaraan tertentu. Seorang ketua
bertugas mengatur jalanya diskusi.
7) Kolokium
Beberapa orang ahli diundang untuk memberi jawaban dari pertanyaan yang
diajukan oleh pendengar, mengenai topik yang telah ditentukan.
Bedanya dengan simposium, dalam kolokium ini para ahli tidak berpidato/ tidak
menyampaikan pandangan mereka, para ahli itu menjawab pertanyaan saja.
8) Debat
Debat artinya berbicara kepada lawanya untuk membela pendirianya/ pendapat
lawannya. Debat ini bisa dilakukan satu lawan satu atau kelompok lawan
kelompok.
9) Fishbowl
Jenis diskusi ini agak unik, panitia menyediakan kursi-kursi yang diatur dalam
formasi setengah lingkaran (seperti mangkok) menghadap kepada para pendengar.
Ketua mempersilahkan pendengar untuk menduduki kursi kosong (seperti ikan
masuk mangkok).

B. Seminar
Seminar merupakan pertemuan berkala yang diadakan oleh seseorang dalam
rangka penyelesaian suatu tugas. Tujuannya untuk menemukan cara atau jalan keluar
atas masalah yang mungkin timbul selama penyelesaian tugas-tugasnya itu. Masalah-
masalah yang ada kemudian dibahas dari berbagai aspek dan sudut pandang. Terjadilah
pada kesempatan itu, tukar pikiran di antara penyaji dengan peserta seminar (penguji).
164

Misalnya, kita diberi tugas oleh seorang guru untuk melakukan pengamatan
terhadap suatu perusahaan. Setelah pengamatan itu dilakukan, kita perlu menyusun
dalam bentuk laporan makalah untuk kemudian kita seminarkan. Berdasarkan makalah
itulah, kita jelaskan ihwal pelaksanaan pengamatan yang telah dilakukan itu. Para
peserta, misalnya dewan guru dan para peserta lainnya memberikan tanggapan-
tanggapannya, mungkin itu berupa pertanyaan, koreksi, masukan, atau kritik.
Seandainya terdapat kekeliruan atau pun kekurangan pada makalah itu, kita perlu
menyempurnakannya sesuai dengan permintaan dari pihak penanggap.
Agar penyajian itu berlangsung sukses, perlu kita perhatikan rambu-rambu
penyusunan makalah yang baik.
a. Makalah merupakan hasil kajian literatur dan atau laporan pelaksanaan
kegiatan lapangan.
b. Makalah disusun dengan sistematika berikut :
1) Pendahuluan, mengemukakan persoalan yang akan dibahas.
2) Isi pembahasan, menguraikan jawaban atau pembahasan atau persoalan-persoalan
yang dirumuskan. Bagian ini boleh saja terdiri atas lebih dari satu bab.
3) Simpulan, adalah makna yang diberikan penulis terhadap hasil pembahasan yang
dilakukannya dalam bagian isi. Dalam mengambil simpulan tersebut, penulis harus
kembali ke permasalahan yang diajukan dalam bagian pendahuluan.
Menyajikan makalah tidak berarti membacakan isi makalah itu secara keseluruhan.
Dalam kesempatan itu kita hanya menyampaikan garis-garis besarnya dan penemuan-
penemuan yang diangap penting. Data atau alat-alat bukti yang berupa gambar, tabel,
bagan, atau hal-hal lainnya, penting dikemukakan untuk meyakinkan para peserta.

C. Menyampaikan Pendapat dalam Berdiskusi/Seminar


Penyampaian pendapat, saran, sanggahan, dan yang lainnya harus disampaikan
secara argumentatif. Sertakalah pada setiap pendapat yang kita kemukakan itu alasan-
alasan yang meyakinkan dan data yang lengkap. Kalau kita sandingkan dengan kegiatan
tulis-menulis, berpendapat dalam diskusi sama dengan mengarang teks argumentasi.
Sampaikanlah pendapat itu kepada para peserta diskusi sehingga mereka meyakini
kebenarannya.
Setiap kali kita berpendapat sertakanlah bukti yang akurat, baik itu berdasarkan
pengalaman, penelitian, ataupun hasil membaca dari berbagai sumber.
Dari dua contoh pendapat di bawah ini, manakah yang paling meyakinkan.
a. Menurut penelitian Dr. Ahmadi pada sejumlah kesenian rakyat di daerah Jawa
Barat, sebagian besar dari kesenian-kesenian tersebut berisi pesan-pesan keagamaan
ataupun pesan-pesan moral. Kesenian-kesenian tersebut tidak semata-mata untuk
tujuan hiburan, tetapi lebih banyak diisi dengan petatah-petitih kepada
masyarakatnya untuk selalu eling kepada Tuhan dan berbuat kebaikan kepada sesama.
165

b. Sepertinya kesenian rakyat di daerah Jawa Barat banyak menyampaikan pesan-


pesan keagamaan ataupun pesan-pesan moral. Kesenian-kesenian di daerah tersebut
tidak hanya ditujukan untuk kepentingan hiburan, tetapi ditujukan pula untuk
menyampaikan misi keagamaan dan kemanusiaan.
Agar mudah dipahami, gagasan atau pendapat harus dipola dengan baik; dengan
kata lain, organisasinya harus jelas. Organisasi penyampaian gagasan dapat memiliki
berbagai pola, yang di antaranya adalah pola deduktif dan induktif.
Pola deduktif dimulai dengan menyatakan dulu gagasan utama kemudian
memperjelasnya dengan keterangan penunjang, ilustrasi, dan bukti-bukti. Sebaliknya,
dalam pola induktif kita mengemukakan perincian-perincian dan kemudian menarik
kesimpulannya. Bila kita menyatakan dulu mengapa perlu menghindari rokok lalu
menguraikan alasan-alasannya, berarti kita menggunakan pola deduktif. Akan tetapi, bila
kita menceritakan sekian banyak contoh penyakit yang timbul akibat merokok dan
kemudian kita menyimpulkan bahwa merokok itu berbahaya, berarti kita telah
mengembangkan pola induktif. Kedua pola ini tidaklah saling bertentangan, tapi justru
dapat saling menguatkan.
Semua gagasan atau pendapat, juga perlu ditunjang oleh keterangan yang baik dan
relevan dengan yang disampaikan itu. Keterangan-keterangan tersebut bisa berupa
contoh atau tanda-tanda penguatan. Tujuannya, untuk menambah kesan, menambah daya
tarik, dan mempermudah pengertian.
Di bawah ini adalah uraian singkat tentang teori Eisntein.
Tahun 1905, Albert Einstein menyatakan persamaan terkenal yang
menunjukkan penggunaan praktis energi atom. Persamaan itu ialah E = mc 2, yang
berarti E adalah energi, m itu massa, dan c adalah kecepatan cahaya (186,280 mil per
detik). Persamaan ini menyatakan bahwa materi dan energi adalah hal yang sama dan
bahwa yang satu dapat diubah menjadi yang lain. Ini berarti bahwa sejumlah kecil
massa dapat diubah menjadi sejumlah energi yang luar biasa.
Uraian di atas diungkapkan dalam bahasa sederhana. Setelah pernyataan
persamaan E = mc2, penyaji memberikan penjelasan. Walaupun demikian, kita hanya
memperoleh gambaran sedikit saja tentang teori ini. Dengan menggunakan penanda
contoh dan pengutamaan, uraian tersebut dapat dibuat sebagai berikut :
Hukum kekekalan tenaga dan massa itu disimpulkan oleh Einstein ke dalam suatu
rumusnya yang terkenal: E = mc2. E artinya tenaga, m berarti berat atau massa zat,
dan c sama dengan kecepatan cahaya (300.00 km per detik) menurut hukum ini, bila
suatu zat atau benda apapun jenisnya yang ada di alam ini – diubah menjadi tenaga
akan terjadilah tenaga yang sangat besar. Satu gram saja dari benda, bila diubah
menjadi tenaga, maka tenaganya akan sama besar dengan tenaga hasil pembakaran
20 juta ton batu bara. Satu kilogram saja, anak-anak dacin di toko Tionghoa itu
misalnya, kita mengubahnya menjadi tenaga, maka ia akan sanggup menjalankan
seluruh industri, lokomotif-lokomotif, kapal-kapal, dan menerangi seluruh rumah di
tanah air kita ini selama bertahun-tahun.
Penanda-penanda pengutamaan dan penanda contoh, digunakan seorang
penyaji untuk menjadikan pendapatnya lebih jelas. Dalam paragraf itu kita
menemukan kata misalnya dan partikel –lah, yang keduanya merupakan jenis
penanda yang berfungsi menguatkan dan lebih menjelaskan suatu paparan. Dengan
penanda-penanda itulah, uraian di atas lebih mudah dipahami daripada uraian
sebelumnya.
166

Kompetensi (Pengembangan) :
Setelah memelajari materi di bawah ini mahasiswa mampu berbicara/berkomunikasi untuk
menciptakan suasana terapiutik dengan klien dan sejawat pada saat di rumah sakit dengan
menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

BAB 14
WAWANCARA

A. Pengertian
Wawancara (interview) adalah tanya jawab dengan maksud memperoleh data untuk
keperluan tertentu. Tanya jawab itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara, yakni
orang mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan yang diwawancara (narasumber), yakni
orang yang memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.
Wawancara merupakan bagian yang penting untuk memperoleh informasi dibalik
pengalaman partisipan. Interviewer bisa memengaruhi tingkat kedalaman informasi
tentang suatu topik. Wawancara digunakan sebagai tindak lanjut terhadap responden
untuk menginvestigasi respon mereka. (McNamara, 1999)
Wawancara banyak digunakan dalam penelitian kualitatif. Wawancara dalam
penelitian kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan dan mengartikan tema pusat dari
subjek yang ada di dunia. Arti penting dari proses interview adalah untuk mengerti
makna dari apa yang diucapkan interviewe. (Kvale, 1996)
Walaupun wawancara adalah proses percakapan yang berbentuk tanya jawab
dengan tatap muka, wawancara adalah suatu proses pengumpulan data untuk suatu
penelitian. Beberapa hal dapat membedakan wawancara dengan percakapan sehari-hari
adalah antara lain:
• Pewawancara dan responden biasanya belum saling kenal-mengenal sebelumnya.
• Responden selalu menjawab pertanyaan.
• Pewawancara selalu bertanya.
• Pewawancara tidak menjuruskan pertanyaan kepada suatu jawaban, tetapi harus selalu
bersifat netral.
• Pertanyaan yang ditanyakan mengikuti panduan yang telah dibuat sebelumnya.
Pertanyaan panduan ini dinamakan interview guide.
167

B. Jenis-jenis Wawancara
Kegiatan wawancara dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya adalah
sebagai berikut :
a. Wawancara secara serta-merta (wawancara tidak terstruktur), dilakukan secara
spontan dan dilakukan dalam situasi yang alamiah. Hubungan pewawancara dengan
yang diwawancarai berlangsung secara wajar. Pertanyaan dan jawaban berjalan
sebagaimana layaknya obrolan sehari-hari.
b. Wawancara dengan petunjuk umum (wawancara semi terstruktur), pewawancara
membuat kerangka atau pokok-pokok masalah yang akan ditanyakan dalam proses
wawancara. Penyusunan pokok-pokok itu dilakukan sebelum wawancara
dilangsungkan.
c. Wawancara dengan menggunakan seperangkat pertanyaan (wawancara
terstruktur) yang telah dibakukan. Urutan, kata-kata, serta cara penyajian pertanyaan
untuk jenis wawancara ini sudah ditetapkan. Pewawancara tunggal membacakan
secara apa adanya atas pertanyaan-pertanyaan yang telah dipersiapkan itu.

C. Tahap-tahap Wawancara
Secara umum, langkah-langkah wawancara adalah sebagai berikut :
a. Menentukan topik-topik persoalan yang akan ditanyakan.
b. Mengembangkan pokok-pokok persoalan itu ke dalam bentuk daftar pertanyaan.
c. Menentukan narasumber.
d. Melaksanakan wawancara sesuai dengan yang telah direncanakan.
Pelaksanaan wawancara dibagi ke dalam tiga tahap :
1) Tahap pembukaan
Pewawancara memperkenalkan diri sekaligus mengemukakan maksud dan
tujuannya.
2) Tahap inti
Ajukanlah pertanyaan-pertanyaan secara sistematis. Kemukakan pertanyaan-
pertanyaan secara jelas dan singkat. Jumlah pertanyaan hendaknya disesuaikan
dengan situasi dan waktu. Di samping memerlukan kemampuan mendengar yang
akurat, pewawancara hendaknya memiliki kemampuan berkomunikasi (bertanya)
yang baik.
3) Tahap akhir
168

Akhiri kegiatan wawancara dengan kesan yang baik dan menyenangkan. Tetaplah
pelihara hubungan baik dengan narasumber.
e. Mencatat hasil wawancara
f. Melaporkan dan membahas hasil wawancara

6. Melaporkan hasil 1. Menentukan topik

5. Menuliskan hasil 2. Mengembangkan


Tahap-tahap
topik
wawancara

4. Melaksanakan 3. Menentukan
wawancara narasumber

D. Hubungan dengan Orang yang Diwawancara


Keberhasilan suatu wawancara sangat ditentukan oleh bagaimana hubungan antara
subjek dan pewawancara (Lerbin,2007). Suasana hubungan yang kondusif (disebut juga
sebagai rapport) untuk keberhasilan suatu wawancara mencakup adanya sikap saling
mempercayai dan kerja sama di antara mereka. Suasana yang demikian dapat
diusahakan melalui beberapa cara, diantaranya pewawancara sebaiknya lebih dulu
memperkenalkan diri dan mengemukakan secara jelas dan lugas tujuan wawancara yang
akan dilakukannya. Hal itu dilakukan dengan sikap rendah hati dan bahwa yang
berkepentinagan adalah pewawancara. Pada awal pertemuan, pewawancara juga harus
menciptakan suasana yang santai dan bebas serta tidak formal agar proses wawancara
dapat berlangsung secara lebih alamiah.
Pewawancara sebaiknya mengawali pembicaraan dengan mengajukan pertanyaan-
pertanyaan ‘pemanasan’ sebagai pendahuluan, sekalipun pertanyaan itu mungkin tidak
berkaitan langsung dengan tujuan penelitian. Kemudian, secara perlahan-lahan,
169

pewawancara mengarahkan pembicaraan pada tujuan penelitian. Hal itu dilakukan untuk
memperlancar proses wawancara. Hal-hal yang ditanyakan pada pendahuluan itu
sebaiknya adalah hal-hal yang menarik minat subjek. Dalam keadaan yang demikian,
penggunaan ‘bahasa ibu’ dari subjek mungkin akan sangat membantu.
Pada pelaksanaan wawancara, pewawancara jangan menunjukkan sikap tidak
percaya terhadap dan kurang menghargai jawaban yang diberikan subjek dan ajngan
menunjukkan siakp yang tergesa-gesa. Adakalanya subjek mengalami blocking,
pikirannya ‘tersumbat’ sehingga proses wawancara tidak berjalan dengan lancar. Dalam
keadaan yang demikian, pewawancara harus dapat membantu subjek untuk keluar dari
keadaan itu. Itu dapat dilakukan, misalnya denagn mengalihkan topik pembicaraan ke
topik lain untuk sementara waktu.
Hal lain yang perlu diperhatikan oleh pewawancara adalah bahwa ia harus dapat
memahami keadaan subjek, ia harus memiliki empati. Dengan cara yang demikain,
pewawancara akan lebih dapat mengarahkan wawancara sesuai dengan kondisi subjek.
Suatu hal yang penting dalam wawancara adalah si pewawancara dapat mengganti
subjeknya (Nazir, 1988). Jika seorang responden misalnya tidak ingin memberikan
keterangan tentang suatu hal, maka peneliti dapat pindah mencari responden lain. Tidak
demikian halnya dalam pengamatan langsung. Karena itu, si peneliti harus dapat
mencari jalan supaya pengamatan terhadap kejadian yang ingin diamati tidak boleh
gagal.
Sebelum pewawancara turun untuk melaksanakan wawancara, maka dia harus
lebih dahulu memeutuskan apakah ia akan memperkenalkan dirinya sebagai peneliti,
ataukah ia akan bekerja sebagai incognito. Tetapi, pengalaman memprlihatkan bahwa
sebaiknya si peneliti atau pewawancara memperkenalkan dirinya sebagai peneliti
kelompok objek.
Hal ini memberikan beberapa keuntungan antara lain:
• Hal tersebut adalah hal yang sederhana untuk dilakukan, karena dengan pemunculan
orang asing secara tiba-tiba dapat menimbulkan kecurigaan.
• Akan mempertinggi kemungkinan memperoleh keterangan yang diinginkan.
• Jika ia bekerja secara incognito, maka ada perasaan kesalahan secara etika dalam diri
si peneliti dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh objek yang
sedang diteliti.
Yang paling penting dalam hal hubungan antara pengamat denagn yang diamati
adalah si pengamat harus dapat meyakinkan objek atau harus dapat memberikan alasan-
alasan yang tepat mengapa ia harus mengadakan pengamatan terhadap perilaku atau
fenomena yang ingin diamati. Dalam partisipasi langsung untuk pengamatan kejadian
atau fenomena maka adalah sangat penting bagi si peneliti untuk membuat dirinya dapat
diterima dalam anggota kelompok di mana pengamatan akan dilakukan.

E. Pelatihan Wawancara
170

Pelatihan wawancara dilakukan untuk memberikan bekal keterampilan kepada


pewawancara untuk mengumpulkan data dengan hasil baik. Karena tidak ada ukuran
standar untuk survey ataupun pewawancara, maka tidak ada pula program pelatihan
yang baku. Sifat, materi, dan lamanya program pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan
survey yang akan dilakukan. Misalnya tergantung pada jumlah dan kualitas
pewawancara, waktu yang disediakan, mudah atau sukarnya kuisioner yang harus
dipelajari dan juga besarnya anggaran yang tersedia (Masri Singarimbun dan Sofian
Effendi, 1989). Pada prinsipnya yang harus diberikan selama masa pelatihan formal
adalah:
1. Penjelasan tujuan penelitian
2. Penjelasan tujuan tugas pewawancara dan menekankan pentingnya peranan
pewawancara
3. Penjelasan tiap nomor pertanyaan dalam kuisioner, baik konsep yang terkandung di
dalamnya maupun tujuan pertanyaan tersebut. Pewawancara harus mengetahui
dengan tepat maksud semua pertanyaan, agar dapat mengumpulkan informasi yang
tepat dan jelas.
4. Penjelasan cara mencatat jawaban responden.
5. Penjelasan cara pengisian dan arti dari semua tanda-tanda pengisian kuisioner.
6. Pengertian yang mendalam mengenai pedoman wawancara, untuk mengurangi
sejauh mungkin kegagalan dalam mendekati responden. Pedoman wawancara
mencakup etika, sikap, persiapan, dan taktik wawancara.
7. Prosedur wawancara, dari mulai memperkenalkan diri sampai dengan meninggalkan
respponden.
8. Orientasi tentang masalah apa yang dapat timbul di lapangan dan bagaimana
mengatasinya.
9. Pelatihan wawancara
10. Diskusi tentang masalah pelatihan wawancara tersebut.
Pelatihan biasanya diarahkan pada cara-cara berkomunikasi dan cara memperoleh
informasi secara lebih mendalam serta cara-cara untuk menciptakan suasana wawancara
yang kondusif untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan tujuan penelitian.
Selain itu, cara untuk melakukan pencatatan jawaban subjek juga perlu dilatih, terutama
mengenai hal-hal apa saja yang perlu dicatat dan tidak. Hal lain yang perlu ditekankan
pada pelatihan adalah kewajiban pewawancara untuk menyampaikan ucapan terima
kasih dan meminta maaf apabila ada hal-hal yang tidak berkenan selama wawancara
berlangsung dan meminta kesediaan subjek untuk diwawancara kembali seandainya
masih diperlukan. Pada pelatihan juga perlu ditekankan agar pewawancara memeriksa
kelengkapan maupun kejelasan jawaban atas tiap pertanyaan yang diberikan oleh subjek
sebelum mengakhiri wawancara. Pewawancara perlu dilatih untuk agar bersikap faktual,
171

tidak menggunakan sudut pandang pewawancara untuk melakukan penilaian atas


jawaban subjek.
Pada pelatihan yang berkaitan dengan cara pencatatan jawaban subjek, pencatatan
sebaiknya dilakukan dengan segera, tapi jangan sampai menimbulkan kesan yang tidak
baik bagi subjek. Hasil pelatihan terhadap pewawancara sebaiknya diujicobakan terlebih
dahulu untuk memperoleh umpan balik guna memperbaiki kualitasnya. (Lerbin R.
Aritonang, 2007)
Pewawancara pada suatu penelitian dapat terdiri atas suatu atau beberapa orang.
Wawancara itu seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang telah terlatih. Hal itu
terutama dibutuhkan pada wawancara mendalam dan wawancara kelompok focus.
Pewawancara itu biasanya dipilih dari orang-orang yang memiliki disiplin psikologi
yang telah memperoleh pelatihan tambahan pada waktu kuliah (Lerbin, 2007).
Pelatihan biasanya diarahkan pada cara-cara berkomunikasi dan cara memperoleh
informasi secara lebih mendalam serta cara-cara untuk menciptakan suasana wawancara
yang kondusif untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan tujuan penelitian.
Selain itu, cara untuk melakukan pencatatan jawaban subjek juga perlu dilatih,
terutamamengenai hal-hal apa saja yang perlu dan tidak perlu untuk dicatat, bagaimana
cara mencatatnya dengan mudah, dan dalam keadaan yang bagaimana pencatatan
dilakukan.
Hal lain yang perlu ditekankan pada pelatihan adalah kewajiban pewawancara
untuk menyampaikan ucapan terima kasih dan meminta maaf seandainya ada hal-hal
yang tidak berkenan selama wawancara berlangsung serta meminta kesediaan subjek
untuk diwawancarai kembali seandainya masih diperlukan.
Dalam mengajukan pertanyaan, pewawancara jangan bersikap seperti polisi, hakim
ataupun pihak yang paling mengetahui mengenai topik yang dijelaskan. Demikian juga
dengan nada bicara pewawancara. Dalam keadaan tertentu, pewawancara perlu juga
dilatih mengenai cara-cara mendorong subjek untuk memberikan jawaban maupun
mengorek lebih mendalam informasi yang dibutuhkan, termasuk motivasi subjek serta
kejelasan maksud dari subjek atas jawaban yang diberikannya.
Pada pelatihan perlu juga ditekankan agar pewawancara memeriksa kelengkapan
maupun kejelasan jawaban atas tiap pertanyaan yang diberikan oleh subjek sebelum
mengakhiri wawancara. Pada wawancara, pewawancara sering kali harus memberikan
penilaian sendiri atas jawaban yang diberikan subjek. Sehubungan dengan itu,
pewawancara perlu dilatih agar bersikap factual, tidak menggunakan sudut pandang
pewawancara untuk melakukan penilaian atas jawaban subjek.
Pada pelatihan yang berkaitan dengan cara pencatatan jawaban subjek, pencatatan
sebaiknya dilakukan dengan segera, tetapi jangan sampai menimbulkan kesan yang tidak
172

baik bagi subjek. Hasil pelatihan terhadap pewawancara sebaiknya diujicobakan lebih
dulu untuk memperoleh umpan balik guna memperbaiki kualitasnya. Wawancara
dilakukan setelah persiapan, untuk itu dimantapkan.
Dalam persiapan wawancara, sampel responden, kriteria-kriteria responden,
pewawancara, serta interview guide, telah disiapkan dahulu (Nazir, 1988). Interview
guide sudah harus disusun dan pewawancara harus mengerti sekali akan isi serta makna
dari interview guide tersebut. Segala pertanyaan yang ditanyakan haruslah tidak
menyimpang dari panduan yang telah digariskan dalam interview guide tersebut.
Pelatihan wawancara harus diadakan sebelum wawancara diadakan.
Umumnya pewawancara memegang peranan yang amat penting dalam memulai
wawancara. Pewawancara harus dapat menggali keterangan-keterangan dari responden,
dan harus dapat merasa serta membawa responden untuk memberikan informasi, baik
dengan jalan:
1. Membuat responden merasa bahwa dengan memberikan keterangan tersebut
responden telah melepaskan kepuasannya karena suatu tujuan tertentu telah tercapai.
2. Menghilangkan pembatas antara pewawancara dan responden sehingga wawancara
dapat berjalan lancar.
3. Keterangan diberikan karena kepuasannnya bertatap muka dan berbicara dengan
pewawancara.
Umumnya urutan-urutan prosedur dalam memulai wawancara adalah sebagai
berikut:
1. Menerangkan kegunaan serta tujuan dari penelitian.
2. Menjelaskan mengapa responden terpilih untuk diwawancarai.
3. Menjelaskan institusia atau badan apa yang melaksanakan penelitian tersebut.
4. Menerangkan bahwa wawancara tersebut merupakan suatu hal yang confidensial.
Penjelasan tentang kegunaan dan tujuan penelitian dapat memberikan motivasi
kepada responden untuk berwawancara. Kesangsian responden serta rasa curiga tentang
keterlibatan atau pemilihan responden untuk menjawab pertanyaan dapat dihilangkan
dengan menjelaskan bagaimana caranya dan mengapa responden yang bersangkutan
terpilih sebagai responden. Penjelasan tentang institusi atau badan yang melaksanakan
penelitian dapat membuat responden percaya bahwa keterangan-keterangan yang
diberikan akan digunakan untuk keperluan yang objektif pula. Sifat wawancara yang
konfidensial akan lebih mendorong responden untuk memberikan keterangan tanpa
sembunyi-sembunyi dan mendorong responden memberikan keterangan secara jujur.
Kelancaran wawancara sangat dipengaruhi oleh adanya rapport. Rapport adalah
suatu situasi di mana telah terjadi hubungan psikologis antara pewawancara dan
responden, di mana rasa curiga responden telah hilang; antara responden dan
173

pewawancara terjalin suasana berkomunikasi secara wajar dan jujur. Rapport adalah
suasana atau atmosfir yang wajar dalam berbincang-bincang, bukan sesuatu yang dibuat-
buat atau yang ditanamkan ke dalam suatu wawancara. Jika wawancara dimulai dengan
“Assalamualaikum” atau selamat pagi, kemudian menanyakan keadaan anak-anak dan
sebagainya, belum tentu rapport sudah ada. Rapport adalah hubungan yang mendalam,
seperti keterbukaan, toleransi, ramah, dan pengertian dan sebangsanya dalam proses
wawancara. Cara berpakaian, cara menggunakan kata-kata, sikap hormat dan ramah
tamah serta sifat tidak sok dari pewawancara dapat menghasilkan suatu rapport sehingga
komunikasi dapat terjalin secara wajar dan tidak artificial. Air muka yang manis tanpa
terlalu banyak berbasa-basi juga perlu diperhatikan dalam mengadakan rapport.
Dalam mencari keterangan, pewawancara janganlah mengalihakan perhatiannya
terhadap dan terlalu asyik dengan kertas dan pensilnya saja. Pemendekan kata-kata dan
merangkainya kembali kemudian, dapat dibenarkan dalam mencatat wawancara.
Beberapa sikap pewawancara dalam bertanya harus diperhatikan. Sikap-sikap tersebut
adalah sebagai berikut:
a. Netral. Jangan memberikan reaksi terhadap jaawaban, baik denagn kata-kata atau
dengan perbuatan atau dengan gerak-gerik. Baik tidak baik, senang tidak senang,
setuju tidak setuju jangan sekali-kali diperlihatkan oleh pewawancara dalam
wawancara. Janagan memberikan sugesti.
b. Adil. Dalam wawancara, semua responden harus dianggap sama, jangan memihak
pada sebagian responden sehingga responden merasa aman dalam memberikan
keterangannya.
c. Ramah. Tunjukkan keramahan yang wajar, tidak dibuat-buat, segar, bermuka manis.

F. Pedoman Wawancara
Kesan pertama dari penampilan pewawancara, yang pertama diucapkan dan
dilakukan pewawancara, sangatlah untuk merangsang sikap kerja sama dari pihak
responden. Berdasarkan pengalaman Michigan Survey Research Center diketahui,
bahwa responden lebih mengingat pewawancara dan cara dia mewawancarai daripada isi
wawancara. Karena itu, segala cara untuk mendapatkan sambutan simpatik dan sikap
kerjasama dari responden sebaiknya dipahami dan dilatih dengan seksama. Dalam
melaksanakan tugas wawancara, pewawancara harus selalu sadar bahwa dialah yang
membutuhkan dan bukan sebaliknya (Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, 1989).
Pedoman untuk mencapai tujuan wawancar dengan baik adalah:
1. Berpakaian sederhana, rapi, tanpa perhiasan
2. Sikap rendah hati
3. Sikap hormat kepada responden
174

4. Ramah dalam sikap dan ucapan (tetapi efisien, jangan terlalu banyak berbasa-basi),
dan disertai dengan air muka yang cerah
5. Sikap yang penuh pengertian terhadap responden dan netral
6. Bersikap seolah-olah tiap responden yang kita hadapi selalu ramah dan menarik
7. Sanggup menjadi pendengar yang baik
Penggunaan metode wawancara biasanya diikuti dengan pedoman untuk
melaksanakan wawancara itu. Pedoman tersebut berisi butir-butir yang akan ditanyakan,
cara pencatatan dan pemberian skor (bila diperlukan) atas jawaban responden. Selain itu,
peralatan dan kondisi yang dibutuhkan untuk pelaksanaan wawancara juga perlu
dispesifikasikan pada pedoman wawancara. Pada pedoman itu perlu juga dikemukakan
persyaratan atau karakteristik subjek yang akan diwawancarai (Lerbin, 2007).
Mewawancarai hampir sama dengan bermain piano – skill yang cukup bisa
diperoleh tanpa membutuhkan pelatihan formal. Tapi ada dunia yang berbeda dalam
keterampilan, dalam hal teknik, dan dalam kemahiran antara seorang amatir yang
bermain “dengan menggunakan telinga” dan seorang pianis konser yang ahli. Pemain
yang belajar sendiri secara mekanis pada keyboardnya memainkan melodi-melodi
tertentu yang melekat pada ingatannya; sang seniman, yang dengan ahli menggabungkan
penguasaan teori musik, pelatihan yang tak terhitung lamanya, dan interpretasi pribadi,
menciptakan suatu efek yang secara teknik pas, menyenangkan di telinga para
pendengar, dan mengekspresikan perasaan paling mendalam dari sang pianis (Charles
Stewart dan W. B. Cash, 2003).
Wawancara biasanya adalah suatu pertukaran lisan yang saling berhadapan
langsung. Orang-orang yang terlibat berada di hadapan yang lainnya dan melisankan
pesan-pesan yang ingin mereka sampaikan dengan suara keras. Ini memberikan
wawancara sejumlah keuntungan dibandingkan dengan kuesioner, karena; (a) para
responden memiliki kemungkinan lebih besar untuk berbicara lebih banyak
dibandingkan dengan menulis, (b) orang-orang menjadi lebih termotivasi dengan
kehadiran orang lain, dan (c) pertukaran-pertukaran lisan menawarkan lebih banyak
peluang-peluang langsung untuk menyelidik, mengklarifikasi jawaban-jawaban dan
memberikan feedback.
Proses-proses yang berhubungan dengan melaksanakan wawancara adalah
mensetting suasananya, mendengarkan, menyelidiki, memotivasi, dan mengendalikan
wawancara. Hal-hal ini melibatkan suatu teknik komunikasi tingkat tinggi, dan panduan-
panduan yang relevan.
Komunikasi dua arah umumnya lebih efektif dari komunikasi satu arah.
Komunikasi satu arah dicirikan oleh pesan-pesan yang pada dasarnya berjalan ke satu
arah saja, misalnya, dari pewawancara ke yang diwawancarai. Pengirimnya tidak begitu
175

tertarik pada respon-respon, pertanyaan-pertanyaan, komentar-komentar, atau reaksi-


reaksi dari si penerima. Sebagai akibatnya, dalam sebuah situasi satu arah si
pewawancara tidak merasa bahwa sudah terjadi saling pengertian atau bahwa pesannya
sudah efektif karena tidak ada umpan balik (feedback). (Banyak orang yang merasa
nyaman dengan situasi satu arah karena hal ini efisien dalam hal menghemat waktu dan
mereka tidak harus merasa khawatir tentang reaksi mereka terhadap pertanyaan-
pertanyaan atau komentar-komentar).
Hindari keliru mengasumsikan objek sudah tahu dengan pasti hasil-hasil yang
mereka inginkan, si penerima pasti juga tahu. Sehingga, mereka seringkali mengabaikan
untuk memberikan rincian-rincian penjelas. (Robert Kahn dan Charles Channel, 2003)

G. Kelebihan dan kekurangan dari wawancara


Berikut adalah beberapa kelebihan dan kekurangan dari wawancara.
1. Kelebihan wawancara :
a) Fleksibel
Boleh memnggunakan kata-kata yang lebih fleksibel, namun tetap urut dan
terarah. Dapat mengklarifikasi atau memparafrase pertanyaan jika interviewe
mengalami kebingungan. Juga dengan mudah mengeksplore topik yang terlalu
kompleks atau abstrak.
b) Penambahan informasi
Memperbolehkan untuk mengevaluasi interpersonal skill, bahasa nonverbal,
perilaku dibawah stres dan konsistensi internal dari jawaban interwiewe.
c) Alasan teknis
Menggunakan cara Seperti tidak memperbolehkan interviewe kembali ke
pertanyaan sebelumnya, atau tidak membatasi waktu interviewe dalam
memberikan respon, memungkinkan bagi interwiewer untuk melakukan inquiry
untuk memperoleh informasi yang lebih dalam dengan menggunakan pendekatan
emosional.
2. Kekurangan wawancara :
a) Memerlukan pelatihan dan praktik
Interviewer harus mendengarkan ( proses verbal atau non verbal ) memandu dan
mencatat atau mengingat secara bersamaan.
b) Menghabiskan waktu
c) Harus terjaga kerahasiaannya
d) Ada potensi untuk bias terhadap respon
e) Karakter dari interviewer bisa mempengaruhi respon dari interviewe
176

H. Menulis Laporan Wawancara


Wawancara merupakan salah satu teknik pengumpulan informasi. Karena itu,
setelah proses wawancara berlangsung, pewawancara harus menuangkan hasilnya ke
dalam sebuah laporan. Penuangan hasilnya itu perlu dilakukan dengan segera karena
pikiran masih segar dalam mengingat jalannya wawancara.
Menulis laporan merupakan kegiatan terakhir dari proses wawancara. Laporan
wawancara dapat disusun dalam bentuk artikel jurnalistik seperti yang kita lihat di
koran-koran; dapat pula disusun dalam bentuk formal, yang meliputi tiga bagian-bagian
berikut :
a. Pendahuluan, yang meliputi:
1) Latar belakang pelaksanaan wawancara.
2) Tujuan wawancara.
3) Nama instansi atau narasumber yang diwawancarai.
4) Waktu dan tempat dilaksanakan wawancara.
b. Isi, yang meliputi:
1) Informasi tentang berbagai hal sesuai dengan pokok-pokok masalah yang telah
direncanakan.
2) Uraian tentang analisis atas hasil wawancara.
c. Penutup, yang meliputi:
1) Simpulan.
2) saran-saran.
Laporan wawancara juga dapat disusun dengan format seperti berikut:
Narasumber : …………………. Tanggal ……………….
Topik : …………………. Tempat ………………..
Pertanyaan : …………………………………………………………
Jawaban : …………………………………………………………
Tanggapan wawancara :
…………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………..

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan laporan hasil wawancara:


a. Penulisan hendaknya memerhatikan ejaan dan tata bahasa baku.
b. Penulisan hendaknya tidak melakukan penafsiran yang terlalu jauh
(berlebihan) batas hasil wawancara.
177

c. Pilihlah informasi yang penting dan relevan dengan masalah-masalah yang


telah dirumuskan.
d. Penulis hendaknya memelihara kerahasiaan dan menjaga nama baik
narasumber.

Kompetensi :
Setelah memelajari materi di bawah ini mahasiswa diharapkan mampu berbicara untuk
keperluan akademik dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar

BAB 15
PIDATO

A. Pengertian
Pidato adalah penyajian lisan kepada sekelompok masa. Seorang berbicara secara
langsung di atas podium atau mimbar dan isi pembicaraannya diarahkan pada orang
banyak.
Berpidato memerlukan sejumlah kemahiran dasar, yakni:
1. Mampu mengungkapkan pikiran secara lisan dengan lancar,
2. Menguasai bahasa secara baik dan benar,
3. Keberanian tampil di depan umum.

B. Ciri-ciri Pidato Yang Baik


Pidato yang baik memiliki ciri-ciri berikut:
1. Mengandung tujuan yang jelas
2. Isi pidato mengandung kebenaran
3. Cara penyampaiannya sesuai dengan kondisi pendengar.
4. Penyampaian jelas dan menarik.

C. Metode Berpidato
Menurut metode penyampaiannya, pidato terbagi ke dalam empat jenis:
1. Metode Impromtu
Pidato impromtu disebut juga metode pidato spontan atau pidato serta merta. Pidato
impromtu disampaikan dengan tanpa persiapan. Pembicara secara langsung berbicara
berdasarkan kemampuan seadanya.
2. Metode Membaca Naskah
178

Pidato tersebut sering pula disebut pidato manuskrip. Pidato ini umumnya dilakukan
oleh pejabat negara. Pidato membacakan naskah dilakukan untuk menghindari
kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi.
3. Metode Menghapal
Metode menghapal disebut juga memoriter. Metode ini dilakukan dengan penuh
persiapan. Naskah yang akan dipidatokan dipersiapkan lebih dahulu kemudian
dihapalkan kata demi kata.
4. Metode Ekstemporan
Metode ekstemporan dilakukan dengan cara menuliskan pokok-pokok pikiran
(outline) yang akan dipidatokan. Juru pidato kemudian menyampaikan masalah yang
telah disampaikan itu dengan kata-katanya sendiri. Ia menggunakan catatan itu untuk
mengingatkannya tentang urutan dan ide-ide penting yang hendak disampaikannya.

Impromtu

Empat macam Membacaka


Ekstempora
Metode Berpidato n naskah
n

Menghapal

D. Macam-macam Tujuan Pidato


1. Rekreatif (Menghibur)
Pidato yang bertujuan menghibur pendengar. Respon atau tangggapan yang
diharapkan; pendengar merasa senang dan terhibur. Contoh, pidato berupa lawakan
Opera Van Java (OVJ), dan sebagainya
2. Persuatif (Memengaruhi)
Pidato yang bertujuan memengaruhi pendengar. Respon atau tangggapan yang
diharapkan; pendengar mau melakukan sesuatu seperti yang diharapkan pidatowan.
Contoh, pidato kampanye.
3. Informatif (Memberitahu)
179

Pidato yang bertujuan memberitahukan sesuatu kepada pendengar. Respon atau


tangggapan yang diharapkan; pendengar nantinya tahu dan mengerti. Contoh, pidato
ketua kelas saat menyampaikan pengumuman.
Catatan :
Jarang ada pidato yang hanya menggunakan satu tujuan.

E. Langkah-langkah Berpidato
Langkah-langkah berpidato adalah sebagai berikut:
a. Menentukan topik dan tujuan pidato
b. Mengumpulkan bahan
1) Koran atau buku yang menyajikan masalah yang berhubungan dengan materi yang
akan dipidatokan.
2) Teknik-teknik dan gaya berpidato.
3) Contoh naskah pidato.
4) Istilah-istilah populer, cerita, atau humor-humor yang relevan.
c. Mensortir materi
1) Pilihlah materi yang terbaik.
2) Pisahkan materi yang pokok dengan materi penunjang,
d. Pemahaman dan penghayatan materi
2) Mengkaji materi secara kritis.
3) Meninjau kelayakan materi dengan khalayak (audien).
4) Meninjau materi yang kemungkinan menimbulkan pro dan kontra.
5) Menyusun sistematika materi.
6) Menguasai materi pidato berdasarkan jalan pikiran yang logis.
e. Menyusun materi pidato secara sistematis
f. Pelatihan berpidato
1) Menguasai secara utuh materi yang sudah dipersiapkan.
2) Penghayatan terhadap suasana dan audien yang akan dihadapi.
g. Menyampaikan pidato dengan memerhatikan lafal, intonasi, nada, dan sikap
yang tepat.

F. Berikut Contoh Pidato


Contoh 1
Bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudara yang kami hormati.
Sekarang ini bangsa Indonesia di seluruh Nusantara dalam suasana memperingati
Hari Kartini. Hari ini sangat bersejarah bagi kita, khususnya bagi kaum wanitanya. Hari
ini adalah hari kebangkitan kaum wanita Indonesia.
180

Kita tahu bahwa Raden Ajeng Kartini adalah pelopor kaum wanita Indonesia.
Beliau telah menggugah semangat kaumnya untuk beremansipasi sesuai dengan harkat
dan martabat wanita. Berkat perjuangan beliau, wanita Indonesia bisa menyingkap tabir
yang sebelumnya membelenggu di dalam semua segi kehidupan. Wanita yang pada
waktu itu hidup dalam kebodohan, akhirnya tersadar bahwasanya mereka pun punya hak
hidup layak sebagai orang terhormat dan merdeka sesuai dengan kodrat kewanitaannya.
Saudara-saudara yang kami hormati.
Sesungguhnya bukan hanya di Indonesia orang menganggap remeh kaum wanita.
Hampir di seluruh pelosok dunia, pada abad kegelapan, selalu merendahkan kaum
wanita. Di negeri Arab misalnya, kaum wanita dianggap barang yang tidak berguna yang
hanya memberi beban kaum lelaki. Karena itu, tidak ayal lagi kalau mereka mempunyai
anak perempuan lalu mereka menguburnya hidup-hidup.
Zaman itulah yang kita kenal sebagai jaman jahiliyah atau jaman kebodohan.
Dengan kata lain, orang-orang yang menghinakan kaum wanita, merendahkan harkat
dan martabatnya, mereka itulah orang-orang bodoh yang tidak mengerti hak
kewajibannya terhadap kaum wanita, terutama terhadap istrinya. Sebenarnya nilai
wanita tidak berbeda dengan nilai lelaki. Di antara keduanya mempunyai kedudukan
yang sama dengan fungsi yang saling mengisi.
Bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudara yang kami hormati.
Sebagai orang beragama yang memegang teguh ajaran Tuhan, tidak sepantasnya
kita memperlakukan wanita tanpa diberi kesempatan melaksanakan haknya. Bagaimana
mungkin wanita bisa menjadi pendamping lelaki yang baik serta dapat menjalankan
tugas sehari-harinya dengan baik pula jika tidak diberi kesempatan sesuai dengan hak
dan kodratnya.
Bagaimana mungkin wanita bisa menjadi wanita salih dan cerdas, jika dia tidak
memiliki ilmu akibat tiadanya kesempatan belajar? Ingatlah bahwa wanita mempunyai
tugas sebagai seorang istri. Ia harus bisa menguasai seluk beluk rumah tangga; mengatur
kelancaran jalannya kehidupan di dalam rumah, mendidik dan merawat anak-anak agar
tumbuh menjadi orang yang baik, berbudi luhur dan mempunyai rasa tanggung jawab
setelah dewasa. Apakah mungkin wanita dapat melaksanakan tugas-tugas seperti itu bila
dia tidak diberi kesempatan menuntut haknya sebagai hamba Allah yang dimuliakan?
Apalagi jika sampai menghinakannya.
Di masa kebodohan itu berakhir nasib kaum wanita mulai diperhatikan setelah
sekian lama hidup dalam kehinaan. Mereka diperlakukan oleh kaum lelaki sebagai
budak belian. Wanita dengan diberikannya hak-hak yang pantas sesuai dengan kodrat
181

kewanitaannya. Para gadis diberikan hak untuk menentukan pilihan jodohnya, serta
berhak menerima mas kawin.
Saudara-saudara yang kami cintai,
Pada akhirnya, marilah kita tingkatkan amal kita dengan berbuat baik kepada
kaum wanita. Kita dudukkan kaum wanita sesuai dengan kodratnya, memiliki
kesempatan belajar yang luas. Kaum wanita harus memiliki kebebasan dalam
mengembangkan tugas kewanitaannya, baik itu menyangkut kepentingan dirinya sendiri,
sebagai ibu rumah tangga, maupun dalam hubungannya dengan kemasyarakatan
(Sumber: Teks Pidato dan Pembawa Acara, Ahmad Sunarto dengan beberapa
perubahan).
Contoh 2
Saudara-saudara yang kami hormati,
Ikan hias merupakan komoditi estetis yang berfungsi menambah kesegaran,
keindahan dan kesejukan lingkungan. Nilai estetis yang dihasilkan tergantung pada jenis,
warna, ukuran dan bentuk tubuh ikan. Jenis ikan arwana misalnya, mempunyai warna
dan bentuk tubuh yang indah sekali ditambah lagi mempunyai nilai mistis yang tinggi,
sehingga harganya pun menjadi cukup mahal, bahkan sampai mencapai jutaan rupiah.
Dengan nilai jual yang cukup tinggi tersebut dapat dijadikan peluang oleh pembudidaya,
pengusaha, eksportir dalam pengembangan usahanya.
Perkembangan budidaya dan bisnis ikan hias di Jawa Barat menunjukkan tren
yang meningkat. Permintaan dari pembeli pada tahun 1999 mencapai 98.084.500 ekor
dengan nilai mencapai Rp. 3.064.777.500,-. Pada tahun 2000 permintaan mencapai
119.008.230 ekor dengan nilai Rp. 11.900.823.000,- meningkat hampir 400%.
Rumah tangga perikanan (RTP) budidaya ikan hias air tawar di Jawa Barat telah
tumbuh sejak tahun 1982 terutama di Kab/Kota Bogor, Bekasi, Cianjur, Sukabumi,
Bandung, Garut, Karawang, dan Purwakarta. Pertumbuhannya meningkat tajam pada
tahun 1986, yaitu 217 RTP dengan luas kolam 37,83 Ha dibanding tahun 1982 hanya 38
RTP dan Kolam 9,03 ha, dan terus meningkat setiap tahunnya. Selain untuk memenuhi
kebutuhan lokal dan antarpulau, ekspor ikan hias dilakukan diantaranya ke Amerika
Serikat, Negara-negara di Eropa, Asia Barat dan Asia Tenggara. Negara-negara tersebut
menyerap 70% impor ikan hias dunia dan diperkirakan akan terus meningkat.
Kami yakin bahwa Propinsi-propinsi dilingkungan Mitra Praja Utama, yaitu
Propinsi Lampung, Banten, DKI, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB
dan Jawa Barat, tentunya memiliki unggulan-unggulan dalam produksi ikan hias. Dan
melalui temu usaha ini masing-masing pengusaha dari tiap propinsi dapat saling tukar
menukar informasi pada sesi kontak bisnis. Oleh karena itu, melalui temu usaha ikan
182

hias ini diharapkan pertumbuhan bisnis ikan hias dapat terus berkembang dengan tetap
memerhatikan peluang-peluang pasar ekspor serta peluang pasar yang baru.
Dengan adanya koordinasi dalam pembudidayaan dan pemasaran ikan hias, serta
terjalinnya kemitraan dalam pengembangan ikan hias, maka akan terwujudnya jejaring
bisnis atau networking yang fungsional di antara para pengusaha ikan hias di seluruh
Indonesia. Dengan networking itulah kita dapat meningkatkan usaha ikan hias sebagai
sektor industri andalan yang dapat ikut memacu pertumbuhan ekonomi nasional
(Sumber: Humas Pemda Jabar dalam www.jabar.go.id dengan beberapa penyesuaian)

Contoh 3
Bapak-bapak, ibu-ibu dan saudara-saudara yang kami hormati,
Tidak beberapa lama lagi kita akan memperingati Hari Pendidikan Nasional yang
jatuh pada tanggal 2 Mei. Pada tanggal tersebut Bapak Ki Hajar Dewantara, tokoh
pendidikan nasional kita, yang telah berjasa mendirikan Perguruan Taman Siswa, itu
dilahirkan. Kita tetapkan hari lahir beliau sebagai Hari Pendidikan Nasional karena
beliaulah yang menjadi pelopor, mendorong bangsa Indonesia untuk maju melalui
pendidikan secara formal.
Kita tahu bahwa pada masa itu bangsa Indonesia masih diliputi kebodohan akibat
politik penjajah Belanda yang menutup pintu pendidikan bagi bangsa pribumi. Hanya
orang-orang tertentulah yang bisa menikmati pendidikan secara formal meski itu pun
tidak sampai seutuhnya. Tetapi dengan berdirinya Perguruan Taman Siswa, maka bangsa
Indonesia baru bisa menikmati pendidikan secara formal dengan tanpa membedakan
pangkat dan derajat seseorang.
Saudara-saudara sebangsa dan setanag air.
Berbicara mengenai pendidikan, hal itu bagi kita merupakan prioritas utama.
Pendidikan adalah perkara besar yang harus benar-benar diperhatikan. Bahkan
pendidikan itu merupakan amanat Allah yang harus dilaksanakan oleh setiap orangtua
kepada anak-anaknya. Orangtua tidak boleh lalai sedikit pun terhadap pendidikan anak-
anaknya. Karena anak adalah generasi yang bakal mengganti kedudukan orangtua. Bila
anak-anak kita ini dibiarkan bodoh, jangan harapkan negara kini bisa maju dan kuat.
Anak-anak adalah buah hati kita, sebagai tumpuan harapan di kemudian hari.
Kalau anak-anak itu terlantar, tidak terdidik, bagaimana jadinya. Kita sebagai orangtua
yang akan merugi, bahkan negara kita tercinta ini akan terjajah lagi oleh bangsa lain,
baik itu dalam hal perekonomian, teknologi, kebudayaan, maupun dalam pertahanan
keamanannya. Karena itu, orangtua mempunyai tugas berat di dalam membentuk
kepribadian anak. Anak tumbuh menjadi orang yang berbudi luhur, cerdas, dan terampil
terletak pada orangtua dalam memerhatikan pendidikan anaknya. Kalau orangtua tidak
183

benar-benar mendidik anaknya berarti ia telah menerlantarkan amanat Allah yang


dibebankan kepadanya dan sudah barang tentu ia akan menanggung dosanya.
Menurut seorang filosof Imam Ghazali, bahwa anak itu merupakan suatu amanat
dari Allah yang diberikan kepada orangtuan atau walinya. Hati anak yang masih suci itu
bagaikan mutiara yang indah dan mahal harganya. Bilamana ia sejak kecil telah dididik
dan dibiasakan kepada kebaikan, sudah pasti dia akan tumbuh dengan mencintai pada
semua yang baik. Sebaliknya jika anak itu selalu dididik dan dibiasakan kepada
keburukan, dibiarkan saja tanpa diberi pengertian kepada kebaikan, niscaya pada
akhirnya dia akan menjadi orang yang jahat, yang korup.
Saudara-saudara yang kami hormati,
Sehubungan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional ini, marilah kita
sebagai warga negara mengambil hikmahnya. Lebih-lebih lagi negara kita sekarang ini
sedang bersusah payah untuk bangkit dari krisis dan kebangkrutan. Agar krisis ini dapat
kita lalui dengan selamat, maka hendaklah kita perluas ilmu pengetahuan, meningkatkan
keahlian dan keterampilan.
Saudara-saudara sebangsa dan setanah air.
Demikianlah kalau kita mau berperan serta dalam pembangunan nasional, maka
ilmu harus lebih dulu dipersiapkan dengan matang melalui berbagai pendidikan. Dengan
demikian, pembangunan akan terarah dengan baik. Apabila para pelaksana
pembangunan bangsa ini berilmu, termasuk juga ilmu-ilmu keagamaan, maka kecil
kemungkinan untuk terjadinya penyelewengan. Semoga semangat dan jiwa Hari
Pendidikan Nasional ini dapat menggugah hati kita semua untuk lebih memerhatikan
pendidikan kepada anak-anak kita dan seluruh generasi muda agar mereka ini menjadi
orang-orang yang berilmu yang berguna bagi masyarakat, bangsa dan negaranya.
184

Kompetensi :
Setelah mempelajari materi di bawah ini mahasiswa mampu berbahasa Indonesia secara
baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari.

BAB 16
BERBAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR
DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

A. Enam Sikap dan Perilaku Negatif Berbahasa


Seorang pakar kebudayaan yang terkenal di Indonesia, yakni Kuncaraningrat
(1974) menyinyalir bahwa bangsa Indonesia mempunyai enam sikap negatif. Keenam
sikap negatif itu muncul karena proses dekolonisasi yang terlalu lama dan akibat buruk
sesudah revolusi. Keenam sikap negatif itu sebagai berikut :
1. Sikap meremehkan mutu yang membuat orang puas dengan hasil karya yang asal
tadi. Keinginan untuk menjaga nama dan menjaga mutu tidak berkembang.
2. Sikap suka menerabas yang membuat orang senang mencari jalan pintas. Semua
masalah dapat diatur sehingga tujuan dapat dicapai dengan cepat
3. Sikap tuna harga diri yang menyebabkan orang beranggapan bahwa produk bangsa
lain lebih bermutu atau lebih berharga dari produk bangsa sendiri.
4. Sikap menjauhi disiplin yang menghasilkan pandangan bahwa terhadap peraturan apa
pun dapat dibuat pengecualian dan penyimpangan yang sering disebut sebagai
kebijaksanaan
5. Sikap enggan bertanggung jawab dengan alasan bahwa sesuatu itu bukan tanggung
jawabnya, bukan urusannya melainkan urusan orang lain, pemerintah dan sebagainya.
6. Sikap latah yang cenderung meniru orang lain tanpa daya kritik atau daya cipta.
Anton M. Moeliono (1987) menarik hubungan antara sikap negatif Indonesia itu
dengan sikap bangsa Indonesia dalam berbahasa. Keenam sikap negatif itu diterapkan
oleh Anton M. Moeliono pada sikap berbahasa. Dalam berbahasa, sikap negatif itu juga
muncul. Dalam berbahasa terdapat sikap negatif (1) meremehkan mutu (2) suka
menerabas (3) tuna harga diri (4) menjauhi disiplin (5) enggan bertanggung jawab, dan
(6) latah atau suka ikut-ikutan.
Sikap meremehkan mutu tercermin pada perilaku berbahasa yang sudah puas
dengan mutu bahasa yang tidak tinggi., asal saja dapat dimengerti. Yang penting dalam
berbahasa adalah dapat dimengerti oleh orang lain atau asal komunikatif. Soal mutu
tidak penting asalkan komunikatif. Label komunikatif itu digunakan untuk menutupi
kekurangmampuan mengungkapkan pikiran atau perasaan dengan bahasa yang baik dan
benar. Penutur semacam itu tidak akan memperdulikan kaidah bahasa Indonesia,
perekayasaan bahasa Indonesia, santun berbahasa dan sebagainya. Ia tidak peduli apakah
bahasanya itu dapat menyinggung perasaan orang lain atau tidak. Ia tidak peduli apakah
185

bahasanya itu tertib atau tidak. Yang penting orang lain memahami tuturannya. Contoh
konkret adalah seorang mahasiswa yang berbicara di kelas dengan menggunakan bahasa
Indonesia dialek Cina Peranakan dengan pilihan kata ndak, isa, tak ambik, enti, entar,
gitu, dikasih, bikin bersih, bukan gitu, dikerjai, dan sejenisnya. Dengan pilihan kata
semacam itu sang dosen dapat tersinggung karena merasa diremehkan, dianggap kelas
sebagai tempat santai atau semacam itu. Sang mahasiswa mungkin berpikir bahwa
bentuk tuturan itu tidak penting karena yang penting adalah asal komunikatif.
Sikap suka menerabas terpantul pada sikap orang yang merasa dapat memperoleh
kemahiran berbahasa tanpa bertekun. Orang semacam itu tidak melihat manfaat
penambahan kosakata dan ragam fungsional yang disebut laras bahasa (Moeliono,
1987). Usaha semacam itu menurut dia akan mempersulit diri saja. Segala macam
perekayasaan bahasa itu dianggapnya semakin mempersulit bahasa Indonesia dan
menjadikan bahasa Indonesia tidak menarik, sulit, rumit, dan terikat pada terlalu bayak
aturan yang membingungkan. Misalnya, ketika terjadi perubahan bentuk serapan bahasa
Belanda ke bentuk serapan bahasa Inggris seperti formil, strukturil, evaluir, legalisir,
analisa, sintesa menjadi formal, struktural, evaluasi, legalisasi, analisis, sintesis, orang
yang mempunyai sikap suka menerabas akan berperilaku acuh tak acuh dan bahkan
menjadi sangat sinis terhadap perekayasaan semacam itu. Mereka beranggapan bahwa
bentuk analisa dan sejenisnya itu sudah lazim dipakai. Mengapa kita harus
mengubahnya menjadi analisis dan sejenisnya?
Sikap tuna harga diri terwujud dalam perilaku berbahasa yang beranggapan bahwa
bahasa asing seperti bahasa Inggris dan juga bahasa etnisnya sendiri lebih bergengsi,
lebih bermutu daripada bahasa Indonesia. Masih banyak orang beranggapan bahwa
menggunakan bahasa asing lebih bergengsi daripada menggunakan bahasa Indonesia.
Sikap menjauhi disiplin tercermin pada perilaku orang yang merasa tidak perlu
mutlak mengikuti kaidah bangsa. Bagaimana pun, bahasa itu untuk manusia dan bukan
manusia untuk bahasa. Anjuran penggunaan bahasa Indonesia secara bertaat asas
ditafsirkan sebagai pemaksaan, pemerkosaan hak asasi manusia. Manusialah yang
mengatur bahasa. Mengapa kita sebagai manusia mesti harus diatur-atur ketika
berbahasa? Orang semacam itu lupa bahwa tidak ada satu wilayah pun di dunia ini yang
dapat berjalan tanpa aturan termasuk aturan berbahasa.
Sikap tidak bertanggung jawab tercermin pada seringnya orang berkilah bahwa ia
bukanlah pakar bahasa Indonesia, ia bukan guru bahasa Indonesia. Jadi, kalau ia
berbahasa Indonesia tidak benar dan tidak baik itu merupakan hal yang biasa. Urusan
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah urusan pakar bahasa dan
guru bahasa. Lagi pula urusan kebahasaan itu belum merupakan hal yang mendesak
benar di negara kita. Masih banyak hal yang perlu diselesaikan, yakni pangan, papan,
sandang. Mengapa kita harus memikirkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan
benar?
186

Sikap latah atau suka ikut-ikutan terwujud dalam perilaku orang yang suka
mengambil alih diksi dan gaya bahasa yang mutakhir tanpa kritik. Jika seorang
memimpin mengucapkan - ken, semangkin, ampat, anem, ibukota daripada Indonesia,
dan sebagainya, para pemimpin yang lain lalu ikut-ikutan menggunakan bentuk-bentuk
itu. Dengan berbuat semacam itu seakan-akan kedudukannya atau martabatnya sebagai
pemimpin akan lebih sah.

B. Pencemaran Bahasa dan Sikap Tuna Harga Diri


Sikap tuna harga diri tampaknya menjadi fenomena yang menarik untuk disoroti
secara khusus. Hal itu perlu dilakukan sehubungan dengan semakin menggilanya
pencemaran bahasa di negeri kita. Bahasa Indonesia yang diharapkan menjadi tuan
rumah di negeri sendiri itu ternyata sudah mulai terdesak oleh munculnya kosakata asing
yang berlebihan. Bahasa Indonesia yang berkedudukan sebagai bahasa nasional dan
bahasa negara dikhawatirkan akan mengalami erosi, baik sosial, politik maupun budaya.
Globalisasi dan pasar bebas akan berpengaruh pada bahasa Indonesia, tetapi
jangan dilupakan bahwa arus globalisasi tak terbatas pada Indonesia saja. Di dalam era
globalisasi ini batas antara negara menjadi samar. Namun, masyarakat yang bahasanya
bukan bahasa Inggris, seperti Cina, Jepang, Jerman, Prancis tidak mengalami
penginggrisan secara berlebihan seperti di Indonesia. (Djojonegoro, 1995)
Pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu patut diperhatikan benar-
benar. Kita harus berani mawas diri. Mengapa kita tergila-gila untuk berlagak
menggunakan bahasa asing, terutama bahasa Inggris? Sementara itu, negara-negara lain
tidak berbuat seperti kita. Apakah kita tidak harus becermin pada Jepang dan Prancis,
misalnya ? Di Jepang bahasa Jepang tetap merupakan tuan rumah yang sangat dihargai.
Di Prancis, bahasa Prancis dijaga mutunya, dijaga jangan sampai terdesak oleh bahasa
Jerman atau Inggris. Bahkan disana diberlakukan peraturan yang cukup ketat dengan
denda yang tinggi bagi pelanggar bahasa, yaitu yang menggunakan bahasa asing tidak
pada tempatnya.
Bahasa Indonesia mempunyai kedudukan yang mantap, yakni sebagai bahasa
nasional dan sebagai bahasa negara. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia
mempunyai fungsi yang ampuh, yakni sebagai:
1. Lambang kebanggaan nasional
2. Lambang identitas nasional
3. Alat mempersatukan berbagai masyarakat yang berbeda latar belakang sosial, budaya
dan bahasanya.
4. Alat perhubungan budaya antar daerah (Halim, 1980)
Sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia mempunyai fungsi sebagai ; bahasa
resmi kenegaraan, bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan, bahasa
resmi dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan
pembangunan serta pemerintahan dan sebagai bahasa resmi di dalam pengembangan
kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi modern (Halim, 1980).
187

Di negara kita pencemaran bahasa terjadi dimana-mana. Karena terlalu parahnya


pencemaran itu, para pemimpin bangsa kita turun tangan. Bahkan Presiden Soeharto
pada tanggal 30 Mei 1995 mencanangkan gerakan disiplin nasional dalam menggunakan
bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebenarnya jauh sebelum itu sudah ada berbagai
upaya untuk mengikis terjadinya polusi bahasa itu. Menteri Dalam Negeri pernah
mengeluarkan instruksi No. 20 Tahun 1991 tentang permasyarakatan bahasa Indonesia
dalam rangka pemantapan persatuan dan kesatuan bangsa. Kedua instruksi itu muncul
sebagai tanggapan serius terhadap pencemaran bahasa Indonesia. Pencemaran bahasa
Indonesia, khususnya dalam kosakata dianggap sangat serius. Penggunaan kosakata
asing yang tidak pada tempatnya benar-benar telah mendesak bahasa Indonesia. Gejala
yang merupakan sikap tuna harga diri itu harus dikikis untuk mengukuhkan jati diri
bangsa, untuk menggalang kesatuan dan persatuan bangsa.
Masih banyak orang merasa bangga apabila dapat menggunakan bahasa asing. Ada
sopir yang merasa rendah martabatnya kalau disebut sebagai sopir. Ia akan mengatakan
bahwa profesinya adalah driver. Demikian juga satpam di sebuah perusahaan akan malu
menyebutnya sebagai satpam. Ia akan mengatakan bahwa profesinya adalah petugas
security dan sebagainya. Seorang penjahit akan menyebut dirinya dan papan nama
usahanya dengan sebutan tailor. Gejala itu terus merebak. Ironisnya berbahasa Inggris
mereka belum memadai dan kadang-kadang muncul hal-hal yang menggelikan.
Muncullah banyak istilah berbahasa Inggris, padahal di negeri Inggris sendiri tidak
dimengerti karena istilah tersebut diciptakan oleh orang Indonesia yang sebenarnya
kurang mampu berbahasa Indonesia. Seperti Full Ac, Full Music, Full Video, malam old
and new, dan sebagainya.
Di Surabaya, misalnya, pemakaian kosakata asing ya tidak pada tempatnya itu
menjamur. Dalam survey awalnya Ardiana (1995), menemukan berbagai bentuk
pemakaian bahasa asing yang dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Pemakaian kosakata bahasa asing yang sebenarnya ada padanannya dalam bahasa
Indonesia. Di plaza-plaza , misalnya, ditemukan kata exit, push, sale, discount, no
smoking dan sebagainya. Kata-kata itu mempunyai padanan dalam bahasa Indonesia.
Mengapa tidak digunakan kata-kata keluar, dorong, obral, dilarang merokok dan
sebagainya?
2. Pemakaian bahasa Indonesia dan bahasa asing secara bersamaan dengan struktur
bahasa asing. Di Surabaya dapat kita jumpai bentuk-bentuk Sejahtera Garden, BRI
Tower, Tata Bank, dan sebagainya. Bentuk-bentuk itu menggunakan struktur asing.
Dalam penyusunan frase, bentuk itu menggunakan susunan MD (Menerangkan –
Diterangkan) yang berbeda dengan kebanyakan sistem frase bahasa Indonesia yang
menggunakan hukum DM (Diterangkan – Menerangkan). Bentuk-bentuk itu, demi
kecintaan, kebanggaan dan kesetiaan kita terhadap bahasa Indonesia. Perlu diubah
menjadi Taman Sejahtera, Menara BRI, Bank Tata, dan sebagainya.
188

3. Pemakaian kosakata asing digabung dengan kosakata bahasa Indonesia dengan


struktur bahasa Indonesia. Gejala semacam itu dapat dilihat pada bentuk-bentuk ;
pelengkapan baby, susu baby, discount 5%, pameran home exibition, dan sebagainya.
Bentuk itu akan lebih tepat apabila diubah menjadi perlengkapan bayi, susu bayi,
rabat 5%, pameran rumah dan sebagainya.
Kita harus bangga menjadi bangsa Indonesia dan harus bangga menggunakan
bahasa Indonesia seperti yang diamanatkan dalam kedudukan dan fungsi bahasa
Indonesia. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, menyatakan bahwa :
“Kebanggaan pada bahasa Indonesia dapat diwujudkan antara lain: dengan
kesediaan untuk mengembangkannya agar setara dengan bahasa dunia yang lain.
Kebanggaan itu juga akan nyata jika kita bersedia menghubungkan bahasa nasional itu
dengan semua hasil pembangunan. Gedung jangkung diberi nama Indonesia, kawasan
perumahan diberi nama Indonesia, jalan tol yang besar diberi nama Indonesia. Jika hal
itu terjadi, maka yang bangga bukan saja kaum pemodal yang berhasil membangunnya,
melainkan juga orang kebanyakan di tepi jalan yang mengidentikkan gedung yang
mewah dengan keindonesiaannya. Ia tidak perlu berpikir lagi bagi kedai tempat minum
kopi disebut warkop sedangkan tempat yang sama di hotel berbintang disebut coffee
shop”. (Djojonegoro, 1985)
Pernyataan itu bukan tidak beralaskan. Sekarang ini penggunaan bahasa Indonesia
untuk papan nama toko, perusahaan, kawasan, iklan dan sebagainya begitu menjamur.
Oleh sebab itu, Menteri Dalam Negeri menginstruksikan supaya pemakaian bahasa asing
pada papan nama toko, perusahaan, kawasan, serta iklan-iklan harus diganti dengan
bahasa Indonesia.
Sikap bangga berbahasa Indonesia itu dapat diwujudkan dalam bentuk
menempatkan bahasa Indonesia pada tempat yang utama dan tidak sebaliknya
menempatkan bahasa Indonesia di posisi kedua atau ketiga. Kita tidak menolak bahasa
asing, tapi bahasa Indonesia harus diutamakan. Jika kita ingin menggunakan bahasa
asing untuk dikonsumsi orang asing kita dapat menempatkan di bawah nama Indonesia
atau di belakang nama Indonesia dengan huruf yang relatif lebih kecil. Dengan
demikian nama Indonesia tetap ditonjolkan. Misalnya, dalam pintu masuk toko atau
plaza tercantum kata open atau close. Selayaknya kataitu diganti dengan buka atau tutup;
dan kalau kata asing itu mau dipertahankan maka dituliskan sebagai berikut :
Buka / open Tutup / close
atau
Buka Tutup
Open Close
Dalam rangka menegakkan disiplin penggunaan bahasa Indonesia, pe,perintah
sekarang membuat gebrakan baru dengan menginstruksikan kepada pengusaha untuk
mengubah nama asingnya. Pemerintah daerah benar-benar tanggap dan sudah mulai
189

menentukan sikap dan bekerja. Dibentuklah panitia yang bertugas untuk menggarap
pengindonesiaan nama-nama asing tersebut. Kegiatan semacam itu sebenarnya
merupakan bagian dari sebuah kerangka kerja yang sangat besar yang disebut
perencanaan bahasa atau rekayasa bahasa, yaitu sebuah usaha sadar dan disengaja yang
didukung oleh lembaga pemerintah yang berlangsung secara terus menerus, berjangka
panjang dan difungsikan untuk mengubah fungsi bahasa dalam masyarakat serta untuk
memecahkan masalah komunikasi dalam masyarakat (Sadtono, 1988 ; Fishman, 1974;
Jernudd dan Rubin, 1971). Gebrakan-gebrakan semacam itu jelaslah tidak boleh hanya
seperti pepatah panas-panas tahi ayam. Ia harus berkesinambungan. Apalah artinya
sebuah nama asing diubah sekarang, tetapi esok hari akan tumbuh seribu nama asing?
Maka tak kurang penting sebenarnya adalah menumbuhkan sikap positif dalam
berbahasa Indonesia, terutama untuk cinta terhadap bangsa Indonesia, bangsa ber bahasa
Indonesia dan untuk selalu setia terhadap bahasa Indonesia. (Djojonegoro, 1995;
Moeliono , 1987). Sikap tunaharga diri itu harus benar-benar kita kikir habis.
Mengapa sebenarnya orang-orang suka menggunakan bahasa asing? Ada beberapa
alasan yang dapat dikemukakan, yakni :
1. Alasan Ekonomis
Nama asing memang memudahkan untuk berkomunikasi dengan badan-badan dagang
di luar negeri. Komunikasi dengan perekonomian luar negeri akan bertambah lancar
dan jelas itu akan berdampak ekonomi secara luas. Keperluan dagang mengorbankan
semangat nasionalisme yang dilandasi oleh unifikasi, otentifikasi, dan modernisasi.
2. Alasan Kebahasaan
Nama asing lebih ekonomis ditinjau dari segi jumlah huruf-hurufnya. Hal itu kita
akui, karena bahasa Inggris memang lebih ringkas daripada bahasa Indonesia.
3. Alasan Sosial
Nama asing masih dianggap sebagai nama yang bergengsi tinggi. Dengan
menggunakan nama asing, seakan-akan harga diri kita ikut terangkat naik, meski
sebenarnya hal itu hanya semu saja. Hal itu tidak lepas dari pandangan masyarakat
yang masih terlalu berpikir bahwa asing itu lebih bergengsi dan bermutu.
Dalam rangka menepis sikap negatif tuna harga diri dan menepis pemakaian
bahasa asing yang berlebihan itu, Pusat Pembinaan Bahasa sebagai tempat lembaga
resmi yang ditunjuk pemerintah yang ditugasi untuk merekayasa bahasa Indonesia
mencoba memberikan tuntunan pengindonesiaan nama - nama asing itu, khususnya
untuk nama-nama badan usaha, kawasan, dan bangunan. (Pusat Pembinaan Bahasa,
1995). Tuntunan itu berangkat dari Pedoman Umum Pembentukan Istilah.
Pengindonesiaan itu tetap memprioritaskan bahasa Indonesia, baik yang masih hidup
maupun yang sudah tidak lazim lagi dipakai. Baru kemudian penggunaan bahasa
serumpun, baik yang masih hidup maupun yang tidak lazim lagi, dan terakhir adalah
mengadaptasi istilah asing dengan mengutamakan bahasa Inggris. Pertimbangan nilai
190

rasa tetap ada, yakni istilah itu harus bersifat eufoni (sedap didengar) serta tidak
berkonotasi buruk. Berdasarkan pada ketentuan itu dalam tuntunan Pusat Pembinaan
Bahasa itu akan muncul kosakata bahasa Sanskerta, Kawi, Jawa dan bentuk-bentuk
adaptasi di samping bentuk bahasa Indonesianya.

C. Contoh Pemakaian Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar


A. Penulisan Kata
1. Penulisan Gabungan Kata
a. Gabungan kata – termasuk kata majemuk – bagian-bagiannya ditulis terpisah.
Salah Benar
daurulang daur ulang
dutabesar duta besar
kantorpos kantor pos
kartupos kartu pos
kerjasama kerja sama
kotakpos kotak pos
rumahsakit rumah sakit
sandangpangan sandang pangan
serahterima serah terima
tandatangan tanda tangan
tanggungjawab tanggung jawab
tatabahasa tata bahasa
tataboga tata boga
tatabusana tata busana
tatakerja tata kerja
tatalaksana tata laksana
tatasurya tata surya
tatatertib tata tertib
tatatulis tata tulis
terimakasih terima kasih
tukarguling tukar guling
tukartambah tukar tambah
ujiambang uji ambang
ujibanding uji banding
ujicoba uji coba
ujiklinis uji klinis
ujimateri uji materi
ujipetik uji petik
wajibpajak wajib pajak
191

weselpos wesel pos


wisatakarya wisata karya
wisataburu wisata buru

b. Gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata dan sudah senyawa
harus ditulis serangkai.
Salah Benar
dari pada daripada
barang kali barangkali
pada hal padahal
bila mana bilamana
apa bila apabila
segi tiga segitiga
segi lima segilima

c. Gabungan kata yang salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri sebagai kata
yang mengandung arti penuh dituliskan serangkai.
Salah Tidak Dianjurkan Benar
a moral a-moral amoral
antar anggota antar-anggota antaranggota
antar kota antar-kota antarkota
antar mahasiswa antar-mahasiswa antar mahasiswa
antar RT antarRT antar-RT
catur wulan catur-wulan caturwulan
dasa wisma dasa-wisma dasawisma
maha bijaksana maha-bijaksana mahabijaksana
maha kuasa maha-kuasa mahakuasa
mahapenguasa maha-penguasa maha penguasa
Tuhan Mahaesa Tuhan Maha-Esa Tuhan Maha Esa
makro ekonomi makro-ekonomi makroekonomi
makro hara makro-hara makrohara
makro keadaan makro-keadaan makrokeadaan
mikro meter mikro-meter mikrometer
mikro organisme mikro-organisme mikroorganisme
mikro sekon mikro-sekon mikrosekon
mini basket mini-basket minibasket
mini komputer mini-komputer minikomputer
mini market mini-market minimarket
non blok non-blok nonblok
192

non islam non-islam non-Islam


non teknis non-teknis nonteknis
nir aksara nir-aksara niraksara
nir kabel nir-kabel nirkabel
nir guna nir-guna nirguna
pasca panen pasca-panen pascapanen
pasca pilpres pasca-pilpres pascapilpres
pasca sarjana pasca-sarjana pascasarjana
peri bahasa peri-bahasa peribahasa
peri laku peri-laku perilaku
poli gami poli-gami poligami
poli klinik poli-klinik poliklinik
poli kristalin poli-kristalin polikristalin
sapta pesona sapta-pesona saptapesona
sub kontrak sub-kontrak subkontrak
sub pokok bahasan sub-pokok bahasan subpokok bahasan
sub unit sub-unit subunit
tuna daksa tuna-daksa tunadaksa
tuna grahita tuna-grahita tunagrahita
tuna wicara tuna-wicara tunawicara
Kata maha serangkai dengan kata yang berawalan serta ditulis terpisah jika
diikuti kata esa yang mengacu kepada Tuhan karena hal itu telah tertulis dalam
dokumen resmi kenegaraan.

d. Awalan atau akhiran yang diimbuhkan pada gabungan kata ditulskan serangkai
dengan unsure gabungan yang palig dekat dengan imbuhan tersebut.
Salah Benar
bertanggungjawab, bertanggung-jawab Bertanggung jawab
bertindaktanduk, bertindak-tanduk bertindak tanduk
bertitiktolak, bertitik-tolak bertitik tolak
berunjukrasa, berunjuk-rasa berunjuk rasa
menyebarluas, menyebar-luas menyebar luas
disebarluas, disebar-luas disebar luas
sebarluaskan, sebar-luaskan sebar luaskan
tandatangani, tanda-tangani tanda tangani
ujicobakan, uji-cobakan uji cobakan
diujicoba, diuji-coba diuji coba
mengujicoba, menguji-coba menguji coba
tumbuhkembangkan, tumbuh-kembangkan tumbuh kembangkan
193

tindaklanjuti, tindak-lanjuti tindak lanjuti


dicampuraduk, diampur-aduk diampur aduk
campuradukkan, campur-adukkan campur adukkan

e. Awalan dan akhiran sekaligus yang diimbuhkan pada gabungan kata ditulskan
serangkai seluruhnya.
Salah Tidak Dianjurkan Benar
diserah terimakan diserah-terimakan diserahterimakan
ditanda tangani ditanda-tangani ditandatangani
dilatar belakangi dilatar-belakangi dilatarbelakangi
diuji cobakan diuji-cobakan diujicobakan
disalah tafsirkan disalah-tafsirkan disalahtafsirkan
melatar belakangi melatar-belakangi melatarbelakangi
menyebar luaskan menyebar-luaskan menyebarluaskan
pecampur adukan pecampur-adukan pecampuradukan
pertanggung jawaban pertanggung-jawaban pertanggungjawaban
penguji cobaan penguji-cobaan pengujicobaan
penyalah gunaan penyalah-gunaan penyalahgunaan
kekurang laziman kekurang-laziman kekuranglaziman
ketidaklurusan ketidak-lurusan ketidaklurusan
ketidakberhasilan ketidak-berhasilan ketidakberhasilan

2. Penulisan Kata Depan


Kata depan harus dituliskan terpisah dengan kata yang mengikutinya.
Salah Benar
diantaranya di antaranya
dibawah di bawah
dimana di mana
disana di sana
disekitar di sekitar
disini di sini
dipasar di pasar
darimana dari mana
kemana ke mana
kesamping ke samping
kesana ke sana
kesana kemari ke sana kemari
kesini ke sini

3. Penulisan Partikel
194

a. Partikel pun setelah kata benda, kata kerja, kata depan, atau kata bilangan
dituliskan terpisah karena pun yang seperti itu merupakan suatu kata utuh yang
mempunyai makna penuh.
Salah Benar
apapun apa pun
berapapun berapa pun
datangpun datang pun
ke manapun ke mana pun
satu kalipun satu kali pun
sayapun saya pun

b. Partikel pun yang terdapat pada kata penghubung dituliskan serangkai karena
dianggap padu benar.
Salah Benar
ada pun adapun
andai pun andaipun
atau pun ataupun
bagaimana pun bagaimanapun
biar pun biarpun
kalau pun kalaupun
kendati pun kendatipun
meski pun meskipun
sekali pun (yang berarti ‘walau’) sekalipun
sungguh pun sungguhpun
walau pun walaupun

c. Partikel per yang berarti mulai, demi, dan tiap dituliskan terpisah dari bagian
kalimat yang mendampinginya.
Salah Benar
per-Januari per Januari
satu persatu, satu per-satu satu per satu
perhari, per-hari per hari

d. Per yang merupakan bagian bilangan pecahan dituliskan serangkai.


Salah Benar
dua per tiga dua pertiga
tujuh dua per tiga tujuh dua pertiga
4. Penulisan Kata Ganti
195

Kata ganti orang aku, kamu, engkau, atau dia yang dipendekkan menjadi ku, mu,
kau, atau nya (disebut klitik) dituliskan serangkai dengan kata yang mengikutinya
atau yang diikutinya.
Salah Benar
ku katakana kukatakana
proposal ku proposalku
laporan mu laporanmu
kau nasihati kaunasihati
hidup nya hidupnya
kepada nya kepada-Nya

5. Penulisan Angka dan Lambang Bilangan


a. Lambang bilangan dituliskan dengan angka jika berhubungan ukuran (panjang,
luas, isi, berat) satuan waktu, nilai uang, atau yang dipakai untuk menandai
nomor jalan, rumah, dan kamar pada alamat yang bukan pada dokumen resmi.
Salah Benar
lima sentimeter 5 sentimeter, 5 cm
sepuluh meter persegi 10 meter persegi, 10 m2
dua puluh tiga liter 23 liter, 23 l
enam puluh kilogram 60 kilogram, 60 kg
dua jam sepuluh menit 2 jam 10 menit
tujuh ribu rupiah Rp 7.000,00
Jalan Karah Empat Jalan Karah IV
Nomor tiga puluh sembilan Nomor 39

b. Bilangan yang menunjukkan jumlah dituliskan dengan huruf bila dapat


dinyatakan tidak lebih dari dua kata, kecuali yang menunjukkan rincian
dituliskan dengan angka.
Salah Benar
Hari ini 3 karyawan…. Hari ini tiga karyawan….
… terdiri atas 15 komponen. … terdiri atas lima belas komponen.
… tiga siswa dan dua guru … 3 siswa dan 2 guru
30 subjek dihadirkan…. Tiga puluh subjek dihadirkan….
21 data hari ini telah…. Hari ini 21 data telah….
Dua puluh satu data…. Sebanyak 21 data….
Catatan : “karena awal kalimat harus menggunakan huruf kapital, angka tidak
boleh dituliskan pada awal kalimat.
196

c. Bilangan yang mendapatkanakhiran –an dituliskan serangkai dengan unsur


yang terdekat bila dinyatakan dengan huruf atau digunakan tanda hubung (-)
bila dinyatakan dengan angka.
Salah Benar
… 5.000 an … 5.000-an…, … lima ribuan…
… angkatan 60 an … angkatan 60-an…,
… angkatan enam puluhan….

d. Kata bilangan tingkat dituliskan serangkai dengan unsur yang terdekat bila
dinyatakan dengan huruf, dituliskan dengan tanda hubung (-) bila dinyatakan
dengan angka arab, atau dapat dinyatakan dengan angka romawi.
Salah Benar
ke dua belas kedua belas, ke-12, XII
ke x kesepuluh, ke-10, X
ke 7 ketujuh, ke-7, VII

e. Bilangan yang ditulis dalam dokumen resmi, seperti akta, kuitansi, wesel pos,
dan cek dapat menggunakan angka dan huruf sekaligus.
Contoh
1. Telah dijual sebidang tanah seluas 145 m2 (seratus empat puluh lima meter
persegi) dengan harga Rp29.000.000,00 (dua puluh sembilan juta rupiah).
2. Pada hari ini Minggu, 5 Juli 2009 (lima Juli dua ribu sembilan) telah
menghadap Saudara Hambali Sarjana Hukum….

B. Pemakaian Tanda Baca


1. Pemakaian Tanda Titik
a. Tanda titik digunakan untuk (a) singkatan gelar, (b) singkatan nama orang, (c)
singkatan kata yang menggunakan huruf kecil, serta (d) angka yang
menyatakan jumlah untuk memisahkan ribuan, jutaan, dan seterusnya.
Salah Benar
Amanda SH, Amanda S.H Amanda, S.H.
Basuki AS, Basuki.AS, Basuki A.S Basuki A.S.
Basuki, an., a/n, a/n. a.n.
da, da., d/a, d/a. d.a.
ub, ub., u/b, u/b. u.b.
sd, sd., s/d, s/d. s.d.
up, up., u/p, u/p. u.p.
d.k.k., dkk dkk.
d.l.l., dll dll.
d.s.b., dsb dsb.
t.s.b, tsb tsb.
12000 orang 12.000 orang
197

b. Tanda titik tidak digunakan untuk (a) singkatan umum yang menggunakan
huruf kapital seluruhnya, (b) singkatanlambang kimia, satuan ukuran, takaran,
timbangan, dan mata uang, (c) akhir judul bab/subbab, ilustrasi, atau tabel, (d)
akhir angka digit lebh dari satu angka, serta (e) akhir tanggal surat, nomor surat,
pokok surat, lampiran surat, sifat surat, atau alamat penerima surat.
Salah Benar
D.P.R.D., DPRD. DPRD
cu. (cuprum) cu
5 cm. 5 cm
5 kg. 5 kg
Rp. 5.000,- Rp 5.000,00
A. Latar Belakang. A. Latar Belakang
1.1.2. Masalah Penelitian. 1.1.2 Masalah Penelitian
Tabel 2: Frekuensi Kehadiran. Tabel 2 Frekuensi Kehadiran
Perihal: Undangan Rapat. Hal: Undangan rapat

Kepada Yth. Sdr. Arqoma Veda c.


Yth. Sdr. Arqoma Veda c. Jalan Karah IV No. 39
Jalan Karah IV No. 39 Surabaya
Surabaya.

2. Pemakaian Tanda Koma


a. Tanda koma digunakan untuk (a) perincian yang lebih dari dua unsur, (b)
setelah nama orang yang diikuti gelar, (c) setelah klausa pertama pada kalimat
majemuk setara berlawanan, (d) setelah anak kalimat yang mendahului induk
kalimat pada kalimat majemuk bertiungkat, (e) setelah kata atau ungkapan
penghubung antarkalimat, (f) pemisah alamat yang ditulis berurutan, serta (g)
mengampit keterangan tambahan.
Salah Benar
… lurah, camat dan bupati. … lurah, camat, dan bupati.
… mendapat 2 emas, dan 3 perak. … mendapat 2 emas dan 3 perak.
Prof. Dr. Dimyati M.Si.telah …. Prof. Dr. Dimyati, M.Si. telah ….
Bukan dia melainkan …. Bukan dia, melainkan ….
Karena … penelitian ini …. Karena …, penelitian ini ….
Oleh karena itu penyelesaian …. Oleh karena itu, penyelesaian ….
Jokowi, Presiden Republik Indonesia Jokowi, Presiden Republik Indonesia,
mengharapkan ….. mengharapkan …..

b. Tanda koma tidak dugunakan untuk memisahkan anak kalimat yang didahului
induk kalimat.
Salah Benar
Penelitian ini …, karena …. Penelitian ini … karena ….
Karena …, penelitian ini ….
Penelitian telah …, agar …. Penelitian telah … agar ….
Agar …, penelitian telah ….
198

3. Pemakaian Tanda Titik Koma


Tanda titik koma digunakan untuk (a) memisahkan klausa dalam kalimat majemuk
setara yang tidak menggunakan kata penghubung, (b) membedakan perincian yang
lebih kecil, yang menggunakan tanda koma, dan (c) perincian yang berupa klausa
yang ditulis dalam suatu senarai (daftar).
Salah Benar
Saya bekerja, kakak beristirahat Saya bekerja; kakak beristirahat.
Saya bekerja dan kakak beristirahat

Kegiatan ini memiliki tiga tujuan : Kegiatan ini memiliki tiga tujuan :
memberikan pengetahuan tentang memberikan pengetahuan tentang
bahasa Indonesia, membekali bahasa Indonesia; membekali
keterampilan berbahasa Indonesia, keterampilan berbahasa Indonesia;
serta menanamkan penghargaan, serta menanamkan penghargaan, nilai,
nilai, dan sikap untuk mencintai dan sikap untuk mencintai bahasa
bahasa Indonesia. Indonesia.

Kegiatan ini memiliki 3 tujuan : Kegiatan ini memiliki tiga tujuan :


memberikan pengetahuan tentang memberikan pengetahuan tentang
bahasa indonesia, bahasa indonesia;
membekali keterampilan berbahasa membekali keterampilan berbahasa
indonesia, dan menanamkan indonesia; menanamkan penghargaan,
penghargaan, nilai, dan sikap untuk nilai, dan sikap untuk mencintai
mencintai bahasa indonesia. bahasa Indonesia.

Kegiatan ini bertujuan : (a) Kegiatan ini bertujuan : (a)


memberikan pengetahuan tentang memberikan pengetahuan tentang
bahasa Indonesia, (b) membekali bahasa Indonesia; (b) membekali
keterampilan berbahasa Indonesia, keterampilan berbahasa Indonesia;
dan (c) menanamkan penghargaan, serta (c) menanamkan penghargaan,
nilai, dan sikap untuk mencintai nilai, dan sikap untuk mencintai
bahasa Indonesia. bahasa Indonesia.

4. Pemakaian Tanda Titik Dua


Tanda titik dua digunakan untuk memisahkan rincian yang mengikuti klausa
lengkap.
Salah Benar
Penelitian ini bertujuan untuk Penelitian ini bertujuan untuk
memperoleh: memperoleh deskripsi tentang hal-hal
(a) Deskripsi tentang keterlaksanaan berikut :
perencanaan model pembelajaran (a) keterlaksanaan perencanaan
tipe STAD. model pembelajaran tipe STAD;
(b) Deskripsi tentang hasil belajar siswa (b) hasil belajar siswa akibat
akibat pelaksanaan model pelaksanaan model pembelajaran
pembelajaran tipe STAD. tipe STAD.
199

5. Pemakaian Tanda Hubung


Tanda hubung digunakan untuk (a) menyatakan kata ulang, (b) pengimbuhan
terhadap kata yang ditulis dengan huruf kapital atau angka, dan (c) pemenggalan
kata.
Salah Benar
… ragu2 … ragu-ragu
… ber KTP … ber-KTP
… pada 2009 an … pada 2009-an
… meluka- … melu-
i kai
… mempelaja- … mempela-
ri sesuatu jari sesuatu
… di antaranya i- … di antaranya
kan dan beras ikan dan beras
… menginginkan … mengi-
sesuatu nginkan sesuatu
… selambat-lam- … selambat-
batnya lambatnya

6. Pemakaian Tanda Pisah


Tanda pisah digunakan untuk (a) membatasi keterangan tanbahan dan (b)
menyatakan jarak yang berarti sampai dengan. Tanda pisah dapat diganti dengan
tanda hubung rangkapan.
Salah Benar
Subjek penelitian, istilah ini sering Subjek penelitian – istilah ini sering
digunakan untuk penelitian kualitatif digunakan untuk penelitian kualitatif –
tidak terikat oleh kehadiran peneliti. tidak terikat oleh kehadiran peneliti.

… kehadiran saudara pada : … kehadiran Saudara pada :


Hari : Minggu hari : Minggu
Waktu : Pukul 10.00-13.15 WIB waktu : pukul 10.00–13.15

… kehadiran Saudara pada


hari : Minggu
waktu : pukul 10.00–13.15

… kehadiran saudara pada : … kehadiran saudara pada :


Hari : Minggu Hari : Minggu
Waktu : Pukul 10.00 s/d 13.15 WIB Waktu : Pukul 10.00 s.d. 13.15 WIB
200

C. Pelafalan Kata
Huruf e pada kata berikut dilafalkan seperti e pada lepas, e dilafalkan seperti e pada
dewa, e dilafalkan seperti e pada nenek, x dilafalkan seperti kh pada makhluk, k
dilafalkan seperti k pada cicak, serta k dan ŋ dilafalkan seperti k dan ng pada kita dan
bunga.
Kata Lafal Tidak Baku Lafal Baku
teras (‘inti’) teras təras
peka pəka peka
peta peta pəta
senjang sənjaŋ senjaŋ
esa esa əsa
teknik texnik, tehnik teknik
subjek subyek subjek
baik baik baIk
pendidikan pendidikan pəndidikan
perbankan pərbaŋan pərbankan
konsisten konsistən konsisten
target tarjət target

D. Pembentukan Kata
1. Pengimbuhan meng –
a. Fonem k, t, s, p yang mengawali bentuk dasar akan luluh sehingga yang terjadi
adalah urutan bentuk meng-, men-, meny-, mem- dalam kata pembentukannya,
bukan mengk-, ment-, memp-, mens-, seperti berikut ini.
meng- + komunikasikan > mengomunikasikan bukan mengkomunikasikan
meng- + kiaskan > mengiaskan bukan mengkiaskan
meng- + pengaruhi > memengaruhi bukan mempengaruhi
meng- + pelopori > memelopori bukan mempelopori
meng- + perkosa > memerkosa bukan memperkosa
meng- + terjemahkan > menerjemahkan bukan menterjemahkan
meng- + taati > menaati bukan mentaati
meng- + tafsirkan > menafsirkan bukan mentafsirkan
meng- + sukseskan > menyukseskan bukan mensukseskan
meng- + sejahterakan > menyejahterakan bukan mensejahterakan
meng- + survai > menyurvai bukan mensurvai

b. Fonem c dan sy yang mengawali bentuk dasar tidak luluh; yang muncul dalam
kata bentuknya semestinya menye-, menysy-, tetapi dalam bahasa tulis hal itu
cukup dituliskan menc-, mensy-, bukan meny-, seperti yang berikut.
men- + contek > mencontek bukan menyontek
men- + contoh > mencontoh bukan menyontoh
men- + cinta > mencintai bukan menyintai
meng- + syiarkan > mensyiarkan bukan menyiarkan
meng- + syariatkan > mensyariatkan bukan menyariatkan
201

c. Fonem k, t, s, p yang mengawali suatu kata bentuk dasar tidak diluluhkan


dengan awalan meng- apabila fonem tersebut merupakan awalan atau bagian
dari kluster (konsonan rangkap).
meng- + klimaks > mengklimaks bukan menglimaks
meng- + kristal > mengkristal bukan mengristal
meng- + praktikkan > mempraktikan bukan memraktikan
meng- + program > memprogram bukan memrogram
meng- + traktir > mentraktir bukan menraktir
meng- + transfer > mentransfer bukan menransfer
meng- + terpelajarkan > menterpelajarkan bukan menerpelajarkan
meng- + pergunakan > mempergunakan bukan memergunakan

d. Kata dasar ekasuku (bersuku tunggal) tidak diluluhkan dengan awalan meng-
atau langsung mengikutinya, tetapi dilekatkan dengan awalan menge-.
meng- + bom > mengebom bukan membom
meng- + cat > mengecat bukan mencat
meng- + cek > mengecek bukan mencek
meng- + las > mengelas bukan melas
meng- + rem > mengerem bukan merem

2. Pengimbuhan ber-
a. Awaln ber-, yang bertemu dengan bentuk dasar bersuku pertama mengandung –
er atau berawal dengan fonem r, berubah menjadi be-.
Salah Benar
bercermin becermin
berpermata hijau bepermata hijau
berruas beruas

b. Kata kerja berikut seharusnya dinyatakan dengan awalan ber-


Salah Benar
… sedang kuliah …. … sedang berkuliah ….
… jalan kaki …. … berjalan kaki ….
… ketemu …. … bertemu ….
Sampai jumpa …. Sampai berjumpa ….
Hati-hati banyak orang kerja. Hati-hati banyak orang bekerja.

3. Pengimbuhan peng-, pe-, dan penge-


a. Imbuhan peng- digunakan untuk kata dasar yang maknanya mengacu kepada
verba meng-.
Kata Dasar Kata Kerja Salah Benar
cinta mencintai pecinta alam pencinta alam
candu mencandui pecandu pencandu
jabat menjabat pejabat penjabat
sapa menyapa pesapa penyapa
suluh menyuluh pesuluh penyuluh
tatar menatar petatar penatar
202

b. Imbuhan pe- digunakan untuk kata dasar yang maknanya mengacu kepada
verba ber-.
Kata Dasar Kata Kerja Salah Benar
buru berburu pemburu peburu
jabat berjabatan penjabat pejabat
judi berjudi penjudi pejudi
juang berjuang penjuang pejuang
tinju bertinju peninju petinju
ziarah berziarah penziarah peziarah

c. Imbuhan pe- digunakan untuk kata dasar yang maknanya mengacu kepada
verba di-.
Kata Dasar Kata Kerja Salah Benar
sapa disapa penyapa pesapa
suluh disuluh penyuluh pesuluh
tatar ditatar penatar petatar

d. Imbuhan pe- digunakan untuk kata dasar yang maknanya mengacu kepada
verba meng- apabila bertemu dengan kata yang berawal dengan fonem y, w, l,
atau r.
Kata Dasar Kata Kerja Salah Benar
yakin menyakin pengyakin peyakin
rokok merokok pengrokok perokok
rusak merusak pengrusak perusak
waris mewarisi - pewaris
lunak melunakkan penglunak pelunak

e. Imbuhan penge- digunakan untuk kata dasar yang ekasuku.


Kata Dasar Kata Kerja Salah Benar
bom mengebom pembom pengebom
cat mengecat pencat pengecat
cek mengecek pencek pengecek
las mengelas penglas pengelas
lem mengelem penglem pengelem
rem mengerem pengrem pengerem

4. Pengimbuhan -an
a. Imbuhan -an berfungsi membentuk kata benda. Oleh karena itu, -an tidak
dipelukan pada pembentukan kata yang berasal dari kata benda.
Salah Benar
sekolahan sekolah
ruangan ruang
usulan usul
(ber)peranan (ber)peran
203

b. Imbuhan -an membentuk makna sesuatu yang di-.


Salah Benar
kesimpulan simpulan
keputusan putusan
keunggulan unggulan
buronan buron / buruan

5. Pengimbuhan -i dan -kan


Salah Benar
Indonesia tidak pernah menginginkan Indonesia tidak pernah mengingini
senjata kimia. senjata kimia.
Pak lurah menugaskan warga Pak lurah menugasi warga
kampungnya untuk membersihkan kampungnya untuk membersihkan
saluran air saluran air
Kabupaten Magetan membawahi lima Kabupaten Magetan membawahkan
belas kecamatan. lima belas kecamatan.
Persebaya memenangkan pertandingan Persebaya memenangi pertandingan

6. Bentuk Terikat Baru


a. Bentuk adi- berarti agung atau besar sekali. Bentuk ini dipakai untuk
menerjemahkan awalan bahasa Inggris super- atau bentuk lain.
adikuasa (superpower)
adikodrati (supernatural)
adibunyi (supersonic)

b. Bentuk alih berarti pindah. Bentuk ini dipergunakan untuk menerjemahkan


awalan bahasa Inggris trans-.
alih bahasa (translation)
alih tulis (transcript)
alih tempat (translocation)

c. Bentuk antar- berarti diantar, yang dipergunakan untuk menerjemahkan awalan


bahasa Inggris inter- atau intra-.
antarbenua (intercontinental)
antarpulau (interisland)
antarjawatan (interoffice)
antarnegara (interstate)

d. Bentuk anti- berarti malawan, menentang, bertentangan dengan, atau tidak


setuju.
antikomunis
antiteroris
antikorupsi/antirasuah
antinarkoba
204

e. Bentuk awa- berarti menghilangkan. Bentuk ini dipakai untuk menerjemahkan


awalan bahasa Inggris de- atau dis-.
awahama (disenfection)
awaracun (detoxification)
awanilai (devaluation)
awabau (deodorant)

f. Bentuk terikat baku berarti saling.


baku hantam baku tembak
baku pukul baku serang

g. Bentuk terikat bawah berarti di bawah. Bentuk ini dipakai untuk


menerjemahkan awalan bahasa Inggris sub- atau under-.
bawah sadar (subconsciousness)
bawah tanah (subsoil)
bawah tangan (underhanded)
bawah umur (underage)

h. Bentuk terikat dwi- berarti dua. Bentuk ini dipakai untuk menerjemahkan
awalan bahasa Inggris di-, dua, bi-, atau bentuk lain.
dwibahasa (bilingualism)
dwitunggal (duamivirate)
dwiwarna (two colored flag)
dwisuku (bisyllabe)

i. Bentuk terikat maha- dipakai untuk menerjemahkan istilah bahasa Inggris yang
di dalamnya terkandung makna besar atau sangat.
mahakuasa (onmipotent)
mahatahu (onmiscient)
mahaguru (professor)
mahapenting (very important)

j. Bentuk nara- dipakai untuk menerjemahkan istilah bahasa Inggris yang berarti
orang.
Narapidana (convicted person)
Narasumber (resource person)
narasandi (informan)

k. Bentuk terikat nir- berarti tidak dengan atau tanpa. Bentuk ini dipakai untuk
menerjemahkan awalan bahasa Inggris a-, an-, in-, non- atau bentuk lain.
Namun, pemakai bahasa Indonesia sering pula menggunakan tanpa sebagai
imbuhan untuk menandai nir.
nirnama tanpa nama (nomen nescio)
nirgelar tanpa gelar (nondegree)
nirarti tanpa makna (nonsense)
nirsuara tanpa suara (voiceless)
205

l. Bentuk terikat pasca- berarti sesudah. Bentuk pasca- dipakai untuk


menerjemahkan awalan bahasa Inggris post-.
pascasarjana (postgraduante)
pascaperang (postwar)
pascabedah (postoperative)

m. Bentuk terikat pramu- dipergunakan untuk menyatakan orang yang


memberikan jasa atau pemberi jasa.
pramuniaga pramuwisma
pramuwisata pramusaji

n. Bentuk terikat pra- berarti sebelum atau di muka. Bentuk ini dipakai untuk
menerjemahkan awalan bahasa Inggris ante-, pre-, atau bentuk lain.
Prasejarah (prehistory)
Prasyarat (precondition)
Praduga (preasumption)
Prasaran (preadvice)
prasangka (prejudice)

o. Bentuk purna- dipakai untuk menyatakan makna lengkap atau sempurna.


purnawirawan
purnakarya
paripurna
purnajual
purnatugis
purnabakti
purnasidang

p. Bentuk salah berarti tidak betul, kurangbaik, atau tidak sebagaimana mestinya.
Bentuk ini digunakan untuk menerjemahkan awalan bahasa Inggris mis-.
Salah tafsir (misconstrue)
Salah paham (misunderstanding)
Salah sebut (miscall)
Salah kelola (mismanagement)

q. Bentuk terikat saling berarti timbal balik. Bentuk ini dipakai untuk
menerjemahkan awalan bahasa Inggris inter-.
Saling tukar (interchange)
Saling susup (interpenetrate)
Saling kait (interlink)
Saling tindak (interact)
Saling hubung (interconnection)
Saling bergantung (interdependency)
206

r. Bentuk serba berarti semua. Bentuk ini berpadanan dengan makna terjemahan
awalan bahasa asing omni-, all-, multi-, atau bentuk lain.
serba bisa (allround)
serbaneka (omnifarious)
serba cuaca (all-weather)
serba sama (homo negeous)

s. Bentuk swa-, yang berarti sendiri, dipakai untuk menerjemahkan awalan bahasa
Inggris self-, auto-, atau bentuk lain.
swasembada (selfsupporting)
swadaya (autoactivity)
swalayan (selfservice)
swadiri (selfdom)

t. Bentuk terikat tak- dipergunakan untuk menunjukkan bentuk ingkar yang


berarti tidak. Bentuk ini digunakan sebagai padanan terjemahan awalan bahasa
Inggris a-, ab-, in-, non-, atau bentuk lain.
taknormal (abnormal)
takjelas (unclear)
taktentu (indefinite)
takcakap (uncompetent)

u. Bentuk tan- berarti bukan. Bentuk tersebut dipakai untuk menerjemahkan


awalan bahasa Inggris an-, in-, non-.
taninsan (nonhuman)
tanorganik (anorganik)
tanwarna (uncolor)

v. Bentuk terikat tata- berarti susunan, tatanan. Bentuk ini dipakai untuk
menerjemahkan awalan bahasa Inggris order atau bentuk lain.
tata masyarakat (social order)
tata surya (solar system)
tata ekonomi (economic order)
tata warna (technicolor)

w. Bentuk tuna- berarti kurang, tidak memiliki, atau cacat. Bentuk ini digunakan
untuk menerjemahkan awalan bahasa Inggris a-, under- dan akiran –less atau
bentuk lain.
tunasusila (amoral)
tunawisma (rootless)
tunaaksara (analphabetic)
tunakarya (underemployed)
tunanetra (blind)
207

x. Bentuk wajib dipergunakan dengan makna (yang) harus melakukan sesuatu.


wajib militer
wajib belajar
wajib pajak
wajib lapor

z. Akhiran -isasi merupakan imbuhan serapan dari bahasa Inggris. Imbuhan ini
sejajar dengan imbuhan peng-an, yang mengandung makna proses sesuatu.
nasionalisasi (penasionalan)
listrikisasi (pelistrikan)
sengonisasi (penyegonan)
turinisasi (penurian)
pisangisasi (pemisangan)
standardisasi (penstandaran)

aa. Akhiran -wan, -man, dan -wati merupakan imbuhan serapan dari bahasa
sanskerta yang bermakna orang yang ahli dalam hal tertentu, orang yang
tugasnya berhubungan dengan se-suatu, atau bersifat sesuatu. Akhiran –wan,
dan -man menunjuk pada jenis kelamin laki-laki, sedang -wati menunjuk pada
wanita. Namun, dalam perkembangannya, bentuk -wati kurang produktif.
Bentuk -wan yang lebih produktif karena akhir-akhir ini -wan digunakan pula
untuk menunjuk pada wanita. Bentuk -wan pada akhiranya lebih netral sebab
secara khusus dalam bahasa Indonesia tidak dikenal bentuk gender (jenis
kelamin pada kata).
sastrawan - sastrawati
negarawan - negarawati
wartawan - wartawati
angkasawan - angkasawati
seniman - seniwati
Bentukan pada lajur kanan jarang ditemukan. Sementara itu, bentuk di lajur
kiri dapat dipakai untuk merujuk jenis kelamin laki-laki maupun perempuan.

bb. Akhiran -isme merupakan akhiran serapan dari bahasa Inggris -ism yang
berarti paham, aliran, atau ajaran. Akhiran ini selain melekat dengan bentuk
aslinya, juga melekat pada bentuk dasar bahasa Indonesia.
nasionalisme (nationalism)
sosialisme (socialism)
daerahisme
sukuisme
pancasilaisme
cc. Bentuk akhiran -is erat hubungannya dengan -isme. Akhiran ini berasal dari
bahasa Inggris -ist, yang berarti bersifat … Seperti halnya -isme, akhiran -is
selain melekat dengan bentuk aslinya, juga dapat melekat pada bentuk dasar
bahasa Indonesia.
linguis (linguist)
nasionalis (nationalist)
sosialis (socialist)
sukuis
pancasilais
208

dd. Bentuk terikat ulang berarti kembali lagi. Bentuk ini dipakai untuk
menerjemahkan awalan bahasa Inggris re-.
Cetak ulang (reprint)
Tulis ulang (rewrite)
Daur ulang (recycle)
Terbit ulang (republication)
Isi ulang (refill)

E. Pemilihan Kata (Diksi)


1. Ketepatan Penggunaan Kata
Salah Benar
Ketika pulang kampung, dia bertemu Ketika pulang kampung, dia bertemu
dengan bekas gurunya. dengan mantan gurunya.

“Berapa lama lagi saya harus “Berapa lama lagi saya harus menunggu
menunggu keputusan Bapak?” kata keputusan Bapak?” tanya Agus kepada
Agus kepada Bambang. Bambang.

Demikianlah yang ingin kami Demikianlah yang (mampu) kami


sampaikan. Atas perhatiannya sampaikan. Atas perhatian
diucapkan terima kasih. Bapak/Ibu/Saudara, kami sampaikan
terima kasih.

Kami minta maaf. Sebagai seorang Saya minta maaf. Sebagai seorang guru,
guru, kami tidak bisa berbuat apa-apa. saya tidak bisa berbuat apa-apa.

Dihujat bagaimanapun dia tidak Dihujat bagaimanapun dia bergeming


bergeming sedikit pun. sedikit pun.

Meskipun sudah berkali-kali ditegur, Meskipun sudah berkali-kali ditegur,


Anggraeni tetap saja mengacuhkan Anggraeni tetap saja tidak
nasihat ibunya mengacuhkan nasihat ibunya

Dandanan dan pakaiannya malam itu Dandanan dan pakaiannya malam itu
seronok benar sehingga ibu-ibu tidak seronok sehingga ibu-ibu
berbisik-bisik dan mencibirnya. berbisik-bisik dan mencibirnya.

Dandanan dan pakaiannya malam itu


seronok benar sehingga pantas bahwa
ibu-ibu berbisik-bisik karena
mengaguminya.
Keterangan :
bergeming : diam saja, tidak bergerak sedikit juga
mengacuhkan : memperhatikan, mengindahkan, menuruti, atau mengikuti.
seronok : menyenangkan hati, sedap dilihat atau didengar
209

2. Kebenaran Penggunaan Kaidah


Benar Salah
Sebaiknya Anda tidak merubah Sebaiknya Anda tidak mengubah posisi
posisi tempat duduk yang ada. tempat duduk yang ada.

Siapa yang mengkoordinir kegiatan Siapa yang mengoordinasikan kegiatan


itu ? itu?

Jangan mentertawakan kesalahan Jangan menertawakan kesalahan orang


orang lain. lain.

Penterjemahan buku asing kedalam Penerjemahan buku asing kedalam bahasa


bahasa Indonesia hendaknya Indonesia hendaknya memperhatikan
memperhatikan aspek budaya. aspek budaya.

Kelompok pecinta alam Green Peace Kelompok pencinta alam Green Peace
mengadakan ulang tahun. mengadakan ulang tahun.

Berdasarkan hasil analisa, frekwensi Berdasarkan hasil analisis, frekuensi


maksimum dapat terjadi bila tekanan maksimal dapat terjadi bila tekanan udara
udara dikurangi. dikurangi.

Tingkat objektifitas penilaian Tingkat objektivitas penilaian


mempengaruhi prosentase hasilnya. memengaruhi persentase hasilnya.

3. Kelaziman Penggunaan Kata


Salah Benar
Dia bertemu dua adiknya. Dia bertemu dengan dua adiknya.
Hal itu bermanfaat untuk… Hal itu bermanfaat bagi…
Jangan mendiskusikan tentang… Jangan berdiskusi tentang…
Kami berterima kasih untuk… Kami berterima kasih atas…
Fakta itu terdiri dari… Fakta itu terdiri atas…
Fakta itu terjadi dari…
Fakta itu terbagi dalam…
Hal itu sesuai fakta… Hal itu sesuai dengan fakta…

E. Pemakaian Istilah
Istilah ialah kata atau gabungan kata ang dengan cermat mengungkapkan
makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu. Sebagai
bentuk bahasa yang berbeda dengan kata, istilah lebih bersifat internasional. Namun,
sumber peristilahan dalam bahasa Indonesia tidak selurhnya berasal dari bahasa
asing. Secara luas yang menjadi sumber istilah dalam bahasa Indonesia adalah (a)
kosakata bahasa Indonesia, (b) kosakata bahasa Serumpun, dan (c) kosakata bahasa
asing. Urutan tersebut menjadi prioritas penentuannya.
210

Di samping itu, istilah yang dipilih harus memenuhi syarat (1) mengungkapkan
makna secara tepat, misalnya oksigen lebih tepat dipakai daripada zat asam, (2) lebih
singkat, misalnya gulma leih singkat dibandingkan dengan tumbuhan pengganggu,
serta (3) tidak bernilai rasa buruk dan sedap didengar, misalnya pramuria bernilai rasa
lebih baik daripada hostes.
Karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat dan
kemampuan peristilahan dari sokakata bahasa Indonesia yang sangat terbatas, istilah
bahasa asing akan banyak mewarnai kosakata bahasa Indonesia. Untuk tu, diperlukan
kaidah penyerapan bahasa asing, baik dengan penyesuaian ucapan maupun ejaannya.
Hal itu dimaksudkan agar tejadi keseragaman pemakaian dengan mempertimbangkan
konteks situasi, kemudahan belajar bahasa, dan kepraktisannya.
Bedasarkan kenyataan di atas, ada tiga kategori penyerapan istilah bahasa
asing : (1) unsur-unsur yang sudah lama terserap kedalam bahasa Indonesia yang
tidak perlu diubah ejaannya, seperti iklan, otonomi, dan dongkrak, (2) unsure asing
yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia dengan pengucapan
mengikuti bahasa asing dan ejaannya juga seperti bahasa asing, seperti shuttle cock
dan real estate, dan (3) unsure yang pengucapannya dan penulisannya disesuaikan
dengan kaidah bahasa Indonesia, seperti berikut ini.
Salah Benar
ambulan ambulans
anaemia anemia
analisa analisis
anarkhi anarki
anti klimak, anti klimaks antiklimaks
asesoris aksesoris
atlit atlet
atmosfir atmosfer
charter carter
chek, check cek
china cina
diagnosa diagnosis
ekosan, ikosan eikosan
enerji energy
erobik aerobic
erosol aerosol
filem film
formatir formatur
formil formal
frekwensi frekuensi
haemoglobin hemoglobin
211

hidrolik hidraulik
hiper sesitif hipersesitif
hipotesa hipotesis
hirarki hierarki
idialis idealis
infra merah inframerah
inspektor inspektur
intra molekular intramolekular
kharisma karisma
kliptomani, kleptomani kleptomania
kondite konduite
konggres kongres
konskwen, konskuen konsekuen
kontinyum, kontinuum kontinum
kordinasi, kordinir koordinasi
korp korps
korum kuorum
kwalitet, kwalitas kualitas
kwantitet, kwantitas kuantitas
kwartil kuartil
kwesioner, kuesener kuesioner
legalisir legalisasi
mass media media massa
meta morfosa, meta morfosis metamorfosis
minimum minimal
monarkhi monarki
netron neutron
obyektif objektif
objektifitas, obyektifitas objektivitas
on ons
optimum optimal
otomatis automatis
pasen pasien
poli teknik politeknik
pool pul
prosen, prosentase persen, persentase
proto plasma protoplasma
rematik reumatik
sekema skema
semi final semifinal
semi permanen semipermanen
sigot zigot
sintesa sintesis
212

sistim, system sistem


spagheti spageti
sprint sprin
sub unit subunit
sufik sufiks
super natural supernatural
supra segmental suprasegmental
taxi taksi
team tim
tehnik teknik
tradisionil tradisional
ultra violet ultraviolet
uni lateral unilateral
varitas varietas

F. Penyusunan Kalimat Efektif


1. Kejelasan Kalimat
Salah Benar
Dari segi kekomunikatifan, kejelasan Segi kekomunikatifan, kejelasan
bahasa, keterbacan, penyajian gambar, bahasa, keterbacan, penyajian gambar,
grafik, dan rumus-rumus, disepakati grafik, dan rumus-rumus, disepakati
untuk ditinjau dan disempurnakan. untuk ditinjau dan disempurnakan.

Di dalam pengadaan tenaga akademis Pengadaan tenaga akademis baru,


baru khusus untuk tenaga dokter khusus untuk tenaga dokter, yang
supaya diusahakan peraturan yang peraturannya membatasi hanya untuk
membatasi hanya diizinkan untuk bidang nonklinik (praklinik) perlu
bidang non klinik (praklinik) ditinjau ditinjau kembali.
kembali.
Di dalam pengadaan tenaga akademis
Baru, khusus untuk tenaga dokter,
peraturan yang membatasi hanya untuk
bidang nonklinik (praklinik) perlu
ditinjau kembali.

Sebagai pandangan hidup bangsa Pandangan hidup bangsa dapat


dapat dipergunakan untuk pedoman dipergunakan untuk pedoman dalam
dalam kehidupan nyata, dan kehidupan nyata dan perwujudannya
perwujudannya sehari-hari, baik dapat dirasakan dalam kehidupan
dalam lingkungan kerja maupun sehari-hari, baik dalam lingkungan
masyarakat. kerja maupun masyarakat.
213

Sebagai pandangan hidup bangsa,


Pancasila dapat dipergunakan untuk
pedoman dalam kehidupan nyata dan
perwujudannya dapat dirasakan dalam
kehidupan sehari-hari, baik dalam
lingkungan kerja maupun masyarakat.

Sesuai prosedur yang biasa dilakukan Sesuai dengan prosedur yang biasa
dalam menangani masalah serupa ini, dilakukan dalam menangani masalah
sebelum menyelenggarakan lelang serupa ini, sebelum menyelenggarakan
Proyek terlebih dahulu menyiapkan lelang proyek, panitia terlebih dahulu
pedoman, petunjuk berupa RKS menyiapkan pedoman, petunjuk berupa
(Rencana Kerja dan Syarat-syarat), RKS (Rencana Kerja dan Syarat-
petunjuk teknis, proofreading, dan syarat), petunjuk teknis, proofreading,
petunjuk teknis setting. dan petunjuk teknis setting.

Sesuai dengan prosedur yang biasa


dilakukan dalam menangani masalah
serupa ini, sebelum menyelenggarakan
lelang proyek, terlebih dahulu
disiapkan pedoman, petunjuk berupa
RKS (Rencana Kerja dan Syarat-
syarat), petunjuk teknis, proofreading,
dan petunjuk teknis setting.

Jumlah dosen tetap IKIP MALANG Jumlah dosen tetap IKIP Malang
sebanyak 885 orang tersebar pada FIP sebanyak 885 orang, yang tersebar
236 orang, FPBS 147 orang, FPMIPA pada FIP 236 orang, FPBS 147 orang,
186 orang, FPIPS 175 orang, dan FPMIPA 186 orang, FPIPS 175 orang,
FPTK 141 orang, (secara kepangkatan dan FPTK 141 orang, (secara rinci
/ golongan dan jabatan fungsional menurut kepangkatan/golongan dan
lihat pada lampiran 5 Tabel 11 dan jabatan fungsional lihat pada lampiran
Tabel 12) 5 Tabel 11 dan Tabel 12)

Jumlah dosen tetap IKIP Malang, yang


sebanyak 885 orang, tersebar pada FIP
236 orang, FPBS 147 orang, FPMIPA
186 orang, FPIPS 175 orang, dan
FPTK 141 orang, (secara rinci
menurut kepangkatan/golongan dan
jabatan fungsional lihat pada lampiran
5 Tabel 11 dan Tabel 12)
214

2. Kepaduan Unsur Kalimat


Salah Benar
Apakah menurut anda Penataran ini Menurut anda, apakah penataran ini
adalah cara yang terbaik untuk adalah cara yang terbaik untuk
mencapai tujuan tsb? mencapai tujuan tsb?

Dengan pengetahuan anda sekarang Dengan pengetahuan Anda sekarang ini


ini mengenai tujuan Penataran, apakah mengenai tujuan penataran, menurut
menurut anda Metode Penataran ini Anda, apakah metode penataran ini
merupakan cara yang terbaik? merupakan cara yang terbaik?

Pada pertemuan-pertemuan tersebut Pada pertemuan-pertemuan tersebut


Tim menyerahkan pula kepada Rektor Tim menyerahkan pula Buku Pedoman
Buku Pedoman PTA, kecuali untuk PTA kepada Rektor, kecuali untuk IPB
IPB karena belum selesai pada waktu karena belum selesai pada waktu itu.
itu.

Sehingga dalam hal ini peran saudara- …sehingga dalam hal ini peran
saudara dan juga para pelaku saudara-saudara dan juga para pelaku
pendidikan di Perguruan Tinggi sangat pendidikan di Perguruan Tinggi sangat
kami harapkan…. kami harapkan…..

3. Kecermatan
a. Penggunaan Kata secara Tepat
Salah Benar
Tujuan diskusi adalah memahami Tujuan diskusi adalah memahami dan
dan menyakini bahwa kemajuan menyakini bahwa kemajuan ilmu
ilmu pengetahuan dan teknologi, pengetahuan dan teknologi, bila salah
bila salah penerapannya bahkan penerapannya akan menimbulkan
akan menimbulkan bahaya dan bahaya dan bencana, yang justru
bencana yang justru bertentangan bertentangan dengan kepribadian kita.
dengan kepribadian kita.

Mengingat bahwa pembimbing Mengingat bahwa pembimbing


dalam program pencangkokan ini dalam program pencangkokan ini
memperoleh imbalan, maka perlu memperoleh imbalan, hal itu perlu
diperhatikan agar jangan sampai diwaspadai agar jangan sampai
mengakibatkan tenaga-tenaga mengakibatkan tenaga-tenaga muda
muda di perguruan tinggi sumber di perguruan tinggi sumber kurang
kurang diperhatikan diperhatikan pembinaannya.
pembinaannya.
Karena pembimbing dalam program
pencangkokan ini memperoleh
imbalan, hal itu perlu diwaspadai
agar jangan sampai mengakibatkan
tenaga-tenaga muda di perguruan tinggi
sumber kurang diperhatikan
pembinaannya.
b. Penghindaran Unsur Mubazir
215

Salah Benar
Buku pedoman ini adalah Buku pedoman ini merupakan konsep
merupakan konsep II, II, yakni penyempurnaan dari konsep I
penyempurnaan dari konsep I yang yang telah dibagikan pada kunjungan ke
telah dibagikan pada kunjungan ke PTS
PTS

Hasil dari kunjungan ke PTS ini Hasil kunjungan ke PTS ini merupakan
merupakan unsur yang sangat unsur yang sangat penting bagi
penting bagi pelaksanaan kegiatan- pelaksanaan kegiatan kegiatan
kegiatan selanjutnya. selanjutnya.

Tujuan daripada kegiatan…. Tujuan kegiatan….


Dia membicarakan tentang…. Dia membicarakan ….
Hal itu agar supaya…. Hal itu agar ….
Perjuangan ini demi untuk…. Perjuangan ini demi ….
Hal itu sangat baik sekali…. Hal itu sangat baik ….
Banyak kegiatan-kegiatan…. Banyak kegiatan….
Karena…, maka penelitian ini…. (20) Karena…, penelitian ini….

c. Pembentukan Frasa yang Tepat


Salah Benar
Berdasarkan surat Saudara Berdasarkan surat Saudara beberapa
beberapa waktu yang lalu, kami waktu yang lalu, telah kami kirimkan
telah kirimkan beberapa peserta beberapa peserta penataran
penataran

Lain kali kemukakan dulu gagasan Kali lain kemukakan dulu gagasan
Saudara, setelah itu…. Saudara, setelah itu….

d. Pemakaian Konjungsi secara Tepat


Salah Benar
Baik penelaah dan penulis sangat Baik penelaah maupun penulis
terbuka dan merasa bahwa saling sangat terbuka dan merasa bahwa saling
terbuka dapat saling menukar terbuka dapat saling menukar informasi
informasi untuk menyempurnakan untuk menyempurnakan isi, bahasa,
buku baik mengenai isi, bahasa, dan format buku.
maupun formatnya.

… tidak …, melainkan … … tidak …, tetapi …


… bukan …, tetapi …. … bukan …, melainkan ….
Tetapi banyak hal yang…. Akan tetapi, banyak hal yang….
e. Pembentukan Kata yang Sejajar
216

Salah Benar
Adapun langkah-langkah pokok Adapun, langkah-langkah pokok
PPSI adalah : PPSI adalah
1. Merumuskan tujuan instruksiona 1. merumuskan tujuan instruksional
2. Pengembangan alat evaluasi 2. mengembangkan alat evaluasi
3. Merumuskan kegiatan belajar 3. merumuskan kegiatan belajar
4. Merencanakan program kegiatan 4. merencanakan program kegiatan
5. Pelaksanaan program 5. melaksanakan program

Adapun, langkah-langkah pokok


PPSI adalah
1. perumusan tujuan instruksional
2. pengembangan alat evaluasi
3. perumusan kegiatan belajar
4. perencanaan program kegiatan
5. pelaksanaan program

Adapun, langkah-langkah pokok


PPSI adalah (1) perumusan tujuan
instruksional (2) pengembangan alat
evaluas (3) perumusan kegiatan
belajar (4) perencanaan program
kegiatan (5) pelaksanaan program

f. Penalaran yang Logis


Salah Benar
Selamat dirgahayu HUT Selamat HUT ke-65 Kemerdekaan
Kemerdekaan RI ke-65 RI

Dirgahayu Kemerdekaan RI

Dirgahayu Kemerdekaan RI dalam


HUT ke-65

Saya mengajar mata pelajaran Saya mengajarkan mata pelajaran


Biologis di kelas A Biologi di kelas A

Saya mengajar kelas A mata


pelajaran Biologi

Mendiknas memberi beasiswa Mendiknas memberikan beasiswa


kepada mahasiswa berprestasi kepada mahasiswa berprestasi.

Mendiknas memberi mahasiswa


berprestasi beasiswa
Keterangan :
Dirga = pandang dan hayu = usia, umur
G. Penulisan Surat Dinas
217

1. Penulisan Kepala Surat


Dalam kepala surat ada tiga unsure pokok yang harus tercantum, yakni (a)
nama instansi/kantor/badan, (b) alamat, dan (c) logo. Alamat dapat meliputi nama
tempat/lokasi, nomor telepon nomor teleks, ataupun nomor kotak pos. adapun cara
penulisan komponen-komponen itu adalah sebagai berikut .
a. Nama instansi ditulis dengan huruf kapital seluruhnya. Bila instansi itu berada
di tingkat daerah (cabang), urutan penulisannya dimulai dari instansi tingkat
yang lebih tinggi (pusat) berangsur-angsur ke tingkat terendah. Nama-nama
instansi itu ditulis pada baris yang berbeda.
b. Alamat kantor/instansi ditulis dengan huruf kapital hanya pada bagian awal
masing-masing kata ( unsur alamat). Huruf kapital seluruhnya juga dibenarkan
asalkan ukuran hurufnya lebih kecil daripada ukuran huruf nama instansi. Bila
di samping nama tempat sebagai unsure utama terdapat unsure penjelas, seperti
nomor telepon, nomor teleks, nomor kotak pos, atau nomor lain sebagai
pelengkap, unsur-unsur penjelas itu ditulis dengan dipisahkan tanda koma.
Tanda koma itu berlaku pada bagian tengah baris, bukan pada ujung baris.
Dengan demikian, bila unsur penjelas itu berada dalam baris yang berbeda
dengan unsur utama alamat, di antara keduanya tidak terdapat tanda koma. Kata
jalan, telepon, teleks, dan kotak pos, misalnya, dituliskan dengan huruf awal
capital. Kata-kata tersebut sebaiknya tidak disingkatkan menjadi Jl. atau Jln.,
telp. Atau tilp. Ataupun salah penulisannya, seperti telephone, tilpun, tilpon,
telpon, telex, kotakpos, atau P.O.Box.
c. Komponen-komponen di atas pada setiap barisnya ditulis secara simetri
d. Pada ujung setiap baris tidak terdapat tanda koma, termasuk tanda titik pada
akhir komponen.
e. Logo atau lambang instansi ditempatkan di sebelah kiri.
f. Antara bagian kepala surat ini dengan bagian berikutnya, yakni pembuka surat,
biasanya terdapat garis pemisah.

PEMERINTAH KABUPATEN KEDIRI


DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Jalan Mayor Bismo 37B Kediri
Telepon (0354) 83780, Teleks 33217 IDC SB

PEMERINTAH KABUPATEN KEDIRI


DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
JALAN MAYOR BISMO 37B KEDIRI
TELEPON (0354) 83780, TELEKS 33217 IDC SB

PEMERINTAH KABUPATEN KEDIRI


DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
Jalan Mayor Bismo 37B KediriTelepon (0354) 83780, Teleks 33217 IDC SB

2. Penulisan Pembukaan Surat


218

a. Penulisan Tanggal Surat


Salah Benar
5 – 09 – 2009 5 September 2009
5 – 09 – 2009
5 – 9 – 09
05 – 09 – ‘09
5 Sep 2009
Surabaya, 5 – 9 – 2009.
Surabaya, 5 September 2009.

b. Penulisan Nomor Surat


Salah Benar
Nomor : 13/104.4/J/2009. Nomor: 13/104.4/J/2009
Nomer : 13/104.4/J/09
Nomor : 13/ 104.4 / J / 2009
No. : 13/104.4/J/2009

c. Penulisan Laporan Surat


Salah Benar
Lampiran : 2 lembar Lampiran : Dua lembar
Lampiran : 2 (dua) lembar
Lamp. : Dua Lembar
Lampiran : 21 Lembar Lampiran : 21 lembar
Lampiran : Duapuluh satu lembar Lamp. : 21 lembar
Lamp. : Duapuluh satu Lembar
Lamp. : Dua puluh satu lembar

d. Penulisan Pokok Surat


Salah Benar
Hal : UNDANGAN RAPAT. Hal : Undangan rapat
Perihal : UNDANGAN RAPAT.
Perihal : UNDANGAN RAPAT.
Perihal : UNDANGAN RAPAT.
Hal : Undangan Rapat
Hal : Undangan rapat
Hal : Undangan rapat
Hal : Undangan rapat

e. Penulisan Tujuan Surat


219

Salah Benar
Kepada Yth. Kepala SDN Karah II
Yth. Bapak Kepala SDN Karah II Jalan Karah 432 Surabaya
Jalan Karah 432 Surabaya
Yth. Bapak Kepala SDN Karah II
Jalan Karah 432 Surabaya

Yth. Bapak Drs. Budiyono Yth. Bapak Budiono


Kepala SDN Karah II Kepala SD Negeri 2 Karah
Jalan Karah 432 Jalan Karah 432 Surabaya
SURABAYA
Yth. Drs. Budiyono
Kepala SD Negeri 2 Karah
Jalan Karah 432 Surabaya

Kepada Kepada
Yth: PT Jatayu PT Jatayu
Jalan Martadinata 27 Lamongan Jalan Martadinata 27 Lamongan
u.p. Kabag Personalia u.p. Kabag Personalia

f. Penulisan Bagian Tubuh Surat


1) Penulisan Salam Pembuka
Salah Benar
Dengan hormat Dengan hormat,
Dengan hormat;
Dengan Hormat

Asalamualaikum wr. wb. Asalamualaikum w. w.,


Asalamu’alaikum W.W.,

Salam Sejahtera Salam sejahtera,


Salam Sejahtera,

3. Penulisan Bagian Isi Surat


a. Penulisan Paragraf Pembuka
Salah Benar
Surat saudara kami telah terima Surat saudara telah kami terima
tanggal …. tanggal ….
Memenuhi surat Bapak tertanggal…, Memenuhi permintaan Bapak melalui
220

nomor…, dengan ini kami surat nomor…, tanggal…, dengan ini


kirimkan…. kami kirimkan….

Dengan menyesal kami beritahukan, Dengan menyesal kami beritahukan


bahwa …. bahwa ….

Dalam rangka, maka kami Dalam rangka, kami beritahukan ….


beritahukan ….

Mendasarkan pada hasil Berdasarkan hasil pemantauan ….


pemantauan….

Mengharap kedatangan Saudara Kami mengharap kehadiran Saudara


pada …. pada ….

b. Penulisan Paragraf Inti


Salah Benar
Mengharap kedatangan saudara pada : Dalam rangka penyusunan proposal
Hari : Senin BOS untuk sekolah, dengan ini kami
Waktu : jam 12.00 – 12.00 W.I.B mengharapkan kehadiran Saudara pada
Tempat : Ruang Guru hari : Senin
Acara : Penyusunan proposal tanggal : 14 mei 2009
dana BOS waktu : pukul 12.00 – 12.00
tempat : Ruang Guru

Salah Benar
Yang bertanda tangan di bawah ini : Yang bertanda tangan di bawah ini,
Nama : Dra. Sri Purwaningsih nama : Dra. Sri Purwaningsih
Tempat dan tanggal lahir : Blitar, 2 April 1965 tempat dan tanggal lahir : perempuan
Alamat : Jalan Kanigoro 76 alamat : Jalan Kanigoro 76
Blitar Blitar
Dengan ini mengajukan permohonan untuk menjadi guru dengan ini mengajukan permohonan untuk menjadi guru
bahasa Indonesia di sekolah yang bapak pimpin Bahasa Indonesia di sekolah yang Bapak pimpin

c. Penulisan Paragraf Penutup


Salah Benar
Atas perhatiannya kami ucapkan Atas perhatian Saudara, kami
terima kasih. sampaikan terima kasih.
Demikian atas perhatian dan Demikian pemberitahuan ini. Atas
kehadirannya kami ucapkan terima perhatian dan kehadiran Bapak, kami
kasih. sampaikan terima kasih.
221

Demikian untuk digunakan Demikian petunjuk ini agar


sebagaimana mestinya. digunakan sebagaimana mestinya

Demikian yang dapat kai laporkan Demikian laporan ini agar Bapak,
untuk dapatnya menjadikan maklum. maklum. Atas perhatian Bapak, kami
Atas perhatiannya disampaikan sampaikan terima kasih.
terima kasih.

d. Penulisan Salam Penutup


Salah Benar
Hormat kami Hormat kami,
Hormat Kami,
Salam Takzim, Salam takzim,

4. Penulisan Bagian Penutup Surat


a. Penulisan Tanda Tangan, Nama Pengirim, Jabatan/NIP
Salah Benar
Kepala Sekolah, Kepala,

(Drs. Bunangin Siregar, M.Pd.) Drs. Bunangin Siregar, M.Pd.


NIP 197007071990041001 NIP 197007071990041001

Kepala,

Drs. Bunangin Siregar, M.Pd.


NIP 197007071990041001

Salah Benar
A.n. Kepala SMPN 1 Madiun, a.n. Kepala
Wakasek Kurikulum, Wakasek Kurikulum,

Eni Aida Pakarti, S.Pd. Eni Aida Pakarti, S.Pd.


NIP 196905211990041003 NIP 196905211990041003

a.n. Direktur, a.n. Direktur,


u.b. Pembantu Direktur Akademik, Pembantu Direktur Akademik,
Kabag TU, u.b.
Kabag TU,

ABDUL SULAIMAN, S.Pd. ABDUL SULAIMAN, S.Pd.


NIP 196510301990041003 NIP 196510301990041003
b. Penulisan Tembusan Surat
Salah Benar
Tembusan: Tembusan:
222

Rektor Unesa (sebagai laporan) Rektor Unesa

Tembusan: Disampaikan Tembusan:


Kepada Yth. Rektor Unesa Rektor Unesa
Kepada Yth. PR I Unesa PR I Unesa
Pertinggal.

H. Penulisan Format Karya Ilmiah


1. Pola Ukuran Pengetikan
Untuk penulisan karya ilmiah dibutuhkan kertas HVS yang berukuran kuarto
(21,5 x 28 cm) atau A4 (21,5 x 29 cm). Pola ukuran pengetikan pada halaman
biasa berlaku ukuran sebagai berikut: pias atas 3 cm, pias bawah 3,5 – 4 cm, pias
kiri 4 cm, pias kanan 3 cm. Pada halaman bertajuk berlaku aturan sebagai berikut:
pias kiri 4 cm, pias kanan 3 cm, pias atas 5 cm, dan pias bawah 3,5 – 4 cm.
Yang termasuk halaman bertajuk adalah kata pengantar, daftar isi, bab I
pendahuluan, daftar pustaka, lampiran, daftar tabel, dan sebagainya. Tajuk tersebut
dituliskan denganhuruf capital seluruhnya, terletak ditengah-tengah antara margin
kiri dengan margin kanan.

2. Spasi
a. Jarak Satu Spasi
Jarak antarbaris pada kutipan langsung yang panjangnya empat baris atau
lebih. Kutipan tersebut ditulis dengan menjorok ke dalam sepanjang 5 – 7
ketukan atau sesuai dengan awal paragraph.
b. Jarak Dua Spasi
Dua spasi digunakan untuk
1) Jarak antarbaris dalam teks (uraian);
2) Jarak antarbaris pada kutipan tidak langsung
3) Jarak antarbaris pada kutipan langsung yang kurang dari empat baris;
4) Jarak antara tajuk anak bab dengan baris partama uraian;
5) Jarak antara tajuk anak bab dengan tajuk sub-anak bab yang langsung
mengikutinya;
6) Jarak antara baris terakhir uraian dengan kutipan langsung yang satu spasi;
7) Jarak antara baris terakhir kutipan langsung yang satu spasi dengan baris
pertama uraian berikutnya.
c. Jarak Tiga Spasi
Tiga spasi digunakan untuk
1) Jarak antara baris terakhir uraian dengan tajuk anak bab yang mengikutinya;
2) Jarak antara baris terakhir uraian dengan tajuk sub-anak bab yang
mengikutinya;
3) Jarak baris terakhir uraian dengan judul tabel;
4) Jarak baris terakhir uraian dengan bagan, diagram, atau gambar,
5) Jarak tabel (termasuk catatan yang mengikutinya, bukan uraian penjelas)
dengan uraian berikutnya.
6) Jarak judul bagan, diagram, atau gambar dengan uraian berikutnya.
223

d. Jarak Empat Spasi


Empat spasi digunakan untuk
1) Jarak antara baris terakhir tajuk (judul) bab dengan tajuk anak bab yang
mengikutinya;
2) Jarak antara baris terakhir tajuk (judul) bab dengan uraian yang langsung
mengikutinya.

3. Penomoran
a. Angka romawi
Angka romawi kecil (I, ii, iii, iv, v, dsb.) digunakan untuk nomor halaman
sebelum bab pendahuluan, misalnya halaman kata pengantar, daftar isi, dll.
Angka romawi besar (I, II, III, IV, V, dsb.) digunakan untuk nomor bab.
b. Angka arab
Angka arab digunakan untuk:
1) Nomor halaman untuk halaman bab pendahuluan hingga akhir (lampiran,
bila ada);
2) Penomoran anak bab dan sub-anak bab yang menggunakan system digital,
seperti 1.1 Latar Belakang;
3) Penomoran judul tabel, bagan, diagram, atau gambar anak bab yang
menggunakan system digital, seperti Tabel 4.1 Distribusi Nilai Siswa;
4) Penomoran anak bab dan sub-anak bab yang tidak menggunakan system
digital, seperti 2. Tujuan Khusus;
5) Penomoran judul tabel, bagan, diagram, atau gambar anak bab yang
menggunakan system digital, seperti Tabel 1 Distribusi Nilai Siswa.
6) Penomoran urutan suatu uraian, baik diapit tanda kurung maupun tidak,
seperti
7) Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan hal-hal berikut :
a) Prestasi belajar siswa kelas X SMAN 5 Surabaya;
b) Minat belajar siswa kelas X SMAN 5 surabaya;
c) Hubungan antara prestasi belajar dengan minat belajar siswa kelas X
SMAN 5 Surabaya.

4. Letak Nomor Halaman


Nomor halaman pada halaman bertajuk pada pias bawah ini tengah-tengah
antara margin kiri dengan margin kanan dan berjarak dua spasi dari batas bawah
uraian terakhir (batas bawah pengetikan), sedangkan pada halaman biasa nomor
halaman diletakkan pada pias atas berbatas dengan margin kanan dan berjarak dua
spasi dari batas atas uraian. Nomor halaman bertajuk dapat tidak dituliskan,
namun kehadirannya tetap diperhitungkan.
5. Penulisan Catatan Kaki
224

Untuk menuliskan kutipan, baik kutipan langsung, diperlukan aturan-aturan


yang disebut catatan pustaka. Catatan pustaka dicantumkan di dalam uraian (teks).
Singkatan ibid. (dari ibidem, yang artinya pada tempat yang sama), op.cit. (dari
opera citato, yang berarti telah dikutip lebih dahulu), ataupun loc.cit. (dari loco
citato, yang berarti pada tempat yang dikutip) sebaiknya tidak digunakan.
Aturan penulisan catatan pustaka sebagai berikut : (1) kutipan langsung yang
kurang dari empat baris dimasukkan dalam uraian, yang berarti berjarak dua spasi
dan diapit oleh tanda petik serta (2) kutipan langsung yang terdiri atas empat baris
atau lebih ditempatkan secara terpisah, yaitu di bawah uraian yang ditulis satu
spasi antar baris dan menjorok ke dalam sepanjang 5 – 7 ketuk dari margin kiri
atau menjorok seperti awal paragraf.
a. Jika dalam uraian nama pengarang disebutkan, nama tersebut langsung diikuti
tahun penerbitan pustaka ataupun diikuti nomor halaman yang ditempatkan
diantara dua kurung. Antara tahun dengan nomor halaman dipisahkan dengan
tanda titik dua, tanpa jarak satu ketukan. Penulisan nama pengarang dilakukan
dengan menyebut nama akhir, kecuali nama-nama Tionghoa.
(1) Hal ini secara tegas dituliskan oleh Yulianto (2009:11) sebagai berikut.
Dalam otonomi pendidikan terbuka peluang untuk menciptakan
pendidikan di daerah menjadi lebih berkualitas karena pejabat daerah
memiliki wewenang yang luas untuk melakukan antisipasi dalam
rangka meningkatkan kualitas pendidikan di daerahnya.
b. Jika nama pengarang tidak disebutkan sebelumnya, nama pengarang itu
disebutkan di belakang sesudah uraian yang dikutip. Nama itu diikuti tahun
penerbit buku yang dipisahkan dengan tanda koma, kemudian jika diperlukan
dapat diikuti nomor halaman yang dipisahkan dengan titik dua. Seluruhnya
dituliskan di antara tanda kurung.
(1) … memerlukan pengembangan. “Karena itu maka definisi yang paling
umum dari berpikir adalah perkembangan idea dan konsep (Bochenski,
2007:52)
(2) … falsafah diartikan sebagai cara berfikir yang radikal dan menyeluruh
(Suriasumantri, 1999)
(3) Berkaitan dengan tujuan di atas, berikut ini diutarakan tujuan pengajaran
bahasa Indonesia.
Tujuan pengajaran bahasa Indonesia dilembaga-lembaga pendidikan
kita adalah (1) menjadikan anak didik kita manusia susila Indonesia
yang memiliki kepercayaan dasar filsafat negaranya, serta
kebanggaan atas bahasa dan sastra nasionalnya, dan (2) memberikan
anak didik kita penguasaan atas pemahaman bahasa Indonesia
(Halim, 1981 : 19).
225

c. Jika terdapat dua pengarang pada buku yang diacu, kedua nama akhir
pengarangnya digunakan, dan di antara keduanya dipisahkan dengan kata dan.
Jika pengarangnya lebih dari dua orang, nama yang disebutkan adalah nama
akhir pengarang urutan pertama kemudian diikuti singkatan dkk. (dan kawan-
kawan).
(1) Purwantono dan Yulianto (1984:36) menegaskan bahwa bentuk pe- dalam
pecinta….
(2) Pengelolaan kelas yang efektif terjadi bila guru mampu membagi
perhatiannya kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu
yang sama (Yulianto dkk., 2007:14).
d. Jika terdapat beberapa buku yang dijadikan acuan, yang ditulis oleh seorang
pengarang pada tahun yang sama di belakang tahun terbitan dipakai huruf a, b,
c, dan seterusnya (bukan kapital). Penulisan ini harus sesuai dengan yang ada
pada daftar pustaka.
(1) Secara teliti Purwo (2007a:21) menegaskan apakah pragmatik itu ….
(2) Verbal pasif berpelaku biasanya memiliki bentuk yang mirip dengan
kalimat aktifnya (Purwo, 2007b:72).
e. Jika uraian yang dikutip itu terdapat pada beberapa buku yang berbeda dan
dijadikan acuan seluruhnya, nama-nama pengarang dan tahun terbit ditulis
berturut-turut; masing-masing dipisahkan dengan tanda titik koma bila lebih
dari dua sumber dan kata dan bila hanya dua sumber, serta diapit dalam tanda
kurung.
(1) … bunyi yang fungsional (Samsuri, 1980:78 dan Yulianto, 1989:13).
(2) … bersifat distingtif (Samsuri, 1980:88 ; Yulianto, 1989:44; dan Yulainto,
2007a:78).
f. Jika acuan itu tidak bertahun terbit, bagian tahun terbit tersebut digantikan
dengan kata Tanpa Tahun dengan kedua “t” capital.
(1) … disebut jamu tradisional (Supartinah, Tanpa Tahun:15).
(2) … jamu tradisional (Subroto, 2007:16 dan Supartinah, Tanpa Tahun:15).
g. Jika acuan itu tidak bernama pengarang atau penulisnya, bagian nama penulis
digantikan dengan nama penerbit, lembaga, atau alamat situs.
(1) … disebut Kurikulum Berbasis Kompetensi (Depdiknas, 2004:21).
(2) … terlibat pengembangan home schooling (www.wikipedia, 2009).

6. Penulisan Daftar Pustaka


Aturan penulisan daftar pustaka adalah sebagai berikut :
a. Memuat sumber pustaka yang digunakan dalam karangan;
b. Sumber pustaka yang dicantumkan dalam daftar pustaka haruslah sumber yang
digunakan dalam catatan pustaka (kutipan), bukan seluruh sumber yang dipakai
penulis tetapi tidak pernah digunakan untuk kutipan (catatan pustaka);
c. Disajikan dengan urutan sumber secara alfabetis dan kronologis;
d. Tanpa nomor urut;
e. Jika penulisannya tidak termuat dalam satu baris, digunakan baris kedua dan
seterusnya, yang diawali menjorok ke dalam sepuluh ketukan dari margin kiri
(bentuk paragraf bergantung, hanging paragraf).
226

a. Buku sebagai Sumber Acuan


1) Jika ada nama pengarang, urutan penulisannya sebagai berikut :
(a) nama pengarang (titik)
(b) tahun penerbitan (titik)
(c) judul buku (dicetak miring, titik)
(d) kota penerbitan (titik dua)
(e) nama penerbit (titik)
Contoh: Sapir, Edward.1984. Language. New York: A Harvest Book.
2) Jika tidak terdapat nama pengarang, urutannya sebagai berikut :
(a) nama lembaga penerbitan / nama penerbit (titik)
(b) tahun penerbitan (titik)
(c) judul buku (dicetak miring, titik)
(d) kota penerbitan (titik)
Contoh : Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan :
Standar Isi. Jakarta.
b. Majalah / Jurnal sebagai Sumber Acuan
1) Jika ada nama pengarang, urutan penulisannya sebagai berikut :
(a) nama pengarang (titik)
(b) tahun penerbitan (titik)
(c) judul artikel (diapit tanda petik dua, titik)
(d) nama majalah (dicetak miring dan didahului kata dalam, titik)
(e) nomor majalah (kurung buka)
(f) bulan penerbitan [bila ada] (koma)
(g) tahun penerbitan yang ke berapa / nomor urut tahun penerbitan [bila
ada] (kurung tutup, titik)
(h) kota penerbitan (titik)
Contoh : Suparno. 1987. “Manfaat Logika Matematika bagi Orang Teknik
untuk Komunikasi Sehari-hari”. Dalam Media Pendidikan dan
Ilmu Pengetahuan. 26 (Januari, XI). Surabaya.
2) Jika tidak ada nama pengarang, urutan pertama adalah nama majalah dan
diikuti komponen lainnya, seperti dibawah ini.
Contoh : Tempo. 2000. “ Kedaulatan di Tangan Siapa”. 13 (April, XXX).
Jakarta
c. Koran sebagai Sumber Acuan
1) Jika ada nama pengarang, urutan penulisannya sebagai berikut :
(a) nama pengarang (titik)
(b) tahun penerbitan (titik)
(c) judul artikel (diapit tanda petik dua, titik)
(d) nama koran (dicetak miring dan didahului kata dalam, titik)
(e) tanggal penerbitan (titik)
(f) kota penerbitan (titik)
Contoh : Laksono, Haryanto Noor. 2009. “Hubungan Stress dengan
Kegemukan”. Dalam Jawa Pos. 5 November. Surabaya.
227

2) Jika tidak ada nama pengarang, urutan pertama adalah nama Koran dan
diikuti komponen lainnya, seperti di bawah ini.
Contoh : Jawa Pos. 2009. “Tarik TKI Bermasalah dari Joedania”. 26
November. Surabaya.
d. Antologi (Kumpulan Karangan) sebagai Sumber Acuan
1) Jika ada nama pengarang, urutan penulisannya sebagai berikut :
(a) nama pengarang (titik)
(b) tahun penerbitan [bila ada] (titik)
(c) judul karangan (diapit tanda petik dua, titik)
(d) nama editor (didahului dalam dan diakhiri (Ed.), titik)
(e) tahun penerbitan antologi (titik)
(f) judul antologi (dicetak miring, titik)
(g) kota penerbitan (titik dua)
(h) nama penerbitan (titik)
Contoh: Highel, Gilbert. 1972. “Pikiran Manusia yang Tak
Tertundukkan”. Dalam Suriasumantri, Jujun S. (Ed.). 1978. Ilmu
dalam Perspektif. Jakarta: Gramedia.
2) Jika tidak ada nama editor, urutan keempat (nama editor) diganti nama
penerbit dan diikuti komponen lainnya, seperti di bawah ini.
Contoh: Suyanto. 2008. “Pengembangan Profesionalisme Guru”. Dalam
Depdiknas. 2008. Kumpulan Tulisan Kebijakan. Jakarta.
e. Internet sebagai Sumber Acuan
1) Jika ada nama pengarang, urutan penulisannya sebagai berikut :
(a) nama pengarang (titik)
(b) tahun mengakses (titik)
(c) judul artikel (diapit tanda petik dua, titik)
(d) alamat situs (didahului kata dalam, titik)
(e) tanggal pengaksesan / pengunduhan (titik)
Contoh: Jamaluddin, Akhmad. 2009. “Manajemen Pendidikan Masa
Kini”. Dalam www.wikipedia. 2 Desember.
2) Jika tidak ada nama pengarang, urutan penulisannya sebagai berikut:
(a) Alamat situs (titik)
(b) Tahun pengaksesan (titik)
(c) Judul artikel / berita (diapit tanda petik dua, titik)
(d) Tanggal pengaksesan (titik)
Contoh: www.wikipedia. 2009. “Korban Pesawat yang Selamat Hari ini
Mulai Ditemukan”. 7 Juli.
228

D. Pelatihan Berbahasa Yang Baik dan Benar


Pilihlah salah satu jawaban yang Anda anggap benar dan berlah tanda (X)
1. Penulisan tanggal surat yang benar adalah
a. 27 Agustus 2007 (benar)
b. 27-08-2007 (salah/tidak ada nama bulan 8, yang ada agustus)
c. 27-Agustus-2007
d. 27-8-2007
2. Berikut deret bentukan kata yang benar:
a. pengaruh – memengaruhi
b. pesona – mempesona
c. peduli – memperdulikan
d. punya – mempunyai
3. Manakah kalimat yang baku?
a. DIRGAHAYU HUT RI KE 62
b. HUT KE-62 REPUBLIK INDONESIA
c. DIRGAHAYU RI KE 62
d. DIRGAHAYU HUT KEMERDEKAAN KE-62
4. Awalan self- pada kata self service diindonesiakan menjadi
a. swa- b. diri c. sendiri d. pribadi
5. Take-off diindonesiakan menjadi
a. tinggal landas b. lepas landas c. mendarat d. mengudara
6. Manakah kalimat yang baku ?
a. Pengembangan fungsi bahasa Indonesia diperlukan kebijakan yang terkoordinasi.
b. Pembinaan bahasa Indonesia diperlukan kebijakan yang terkoordinir.
c. Pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia memerlukan langkah-langkah
koordinatif.
d. Pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia diperlukan langkah-langkah
koordinatif.
7. Manakah kalimat yang baku ?
a. Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih.
b. Atas perhatian Saudara, saya ucapkan terima kasih.
c. Atas perhatian Saudara, saya ucapkan banyak-banyak terima kasih.
d. Atas perhatian Saudara, saya haturkan terima kasih.
8. Sebelum diputuskan siapa pasangan suami-istri terawet, lebih dulu diumumkan para
….
a. nominatornya b. nominenya c. nominasinya d. nominalnya
229

9. Kepala Dinas ……. beberapa Kepala Sekolah untuk menyelenggarakan pelatihan


penyuluhan bahsa Indonesia.
a. menugaskan b. menugasi c. tugaskan d. ditugaskan
10. Penulisan unsur gabungan yang salah ……..
a. adikuasa, ekstrakurikuler, subbagian
b. antarkota, inkonvensional, reinkarnasi
c. tritunggal, transmigrasi, ultramodern
d. duka cita, rumahsakit, sapu tangan
11. Penulisan Daftar Pustaka yang sesuai EYD
a. Haryanto, Agus. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. SIC: Surabaya. 2004.
b. Agus, Haryanto. 2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: SIC.
c. Haryanto, Agus. 2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya : SIC.
d. Agus, Haryanto. 2004, Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: SIC.
12. Arus urbanisasi yang kian meningkat perlu mendapat perhatian yang serius
dari aparat pemerintah. Oleh karena itu, diharapkan seluruh masyarakat memiliki
kesadaran yang tinggi guna menekan arus urbanisasi yang kian meningkat.
Berbagai masalah kini bermunculan akibat arus urbanisasi yang sulit
dihentikan. Kota-kota semakin padat. Secara otomatis tempat tinggal menjadi
kurang memadai. Lapangan kerja menjadi berkurang sehingga tidak mustahil bila
banyak terjadi kasus kriminalitas demi sesuap nasi. Kesehatan semakin menurun
karena lingkungan yang kumuh, dan semakin banyaknya pencemaran. Hal-hal
semacam itu tentunya sangat sangat mengganggu jalannya pembangunan.
Cara mengakhiri karangan pada paragraf di atas menggunakan hubungan.
a. sebab – akibat
b. akibat – sebab
c. perbandingan
d. kesetaraan
13. Pemerintah daerah DKI Jakarta pada 25 April lalu menaikkan PKB (Pajak
Kendaraan Bermotor) secara diam-diam. Kenaikan PKB tersebut dirasakan sangat
fantastis karena mencapai 100% lebih, sehingga dapat membuat panik.
Pemda DKI Jakarta sibuk merencanakan pemasukan dana melalui pajak
kendaraan bermotor, ternyata pajak hotel senilai miliaran rupiah dibiarkan tidak
tertagih.
Untuk menggabungkan dua paragraf di atas digunakan kata penghubung ………..
a. sementara itu
b. jika
c. bahkan
d. sebab
230

14. Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai


bahasa lain. Bahasa lain itu dapat berupa bahasa daerah dan dapat juga berupa
bahasa asing. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur serapan dalam bahasa Indonesia
dapat dibagi atas tiga golongan besar.
Berdasarkan letak kalimat utamanya, paragraf di atas termasuk paragraf …….
a. deduktif b. induktif c. deduktif- induktif d. deskriptif
15. Nasib petani garam makin terpuruk saja. Setelah harga garam yang terus anjlok,
kini lahan garam mereka diterjang air pasang. Musibah ini menimpa petani Desa
Pinggir Papas Kecamatan Kalianget, Sumenep.
Pola pengembangan paragraf di atas termasuk jenis …..
a. narasi b. deskriptif c. argumentasi d. persuasi
16. Manakah kalimat yang baku?
a. Presiden mengunjungi beberapa negara-negara Asean.
b. Kota dimana saya pernah tinggal, sekarang sedang dilanda banjir.
c. Tahun ini merupakan tahun terakhir masa dinasnya sebagai pegawai negeri.
d. Dalam pertemuan itu membicarakan kenaikan pangkat pegawai.
17. …….
Dalam kesempatan ini, penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak
yang membantu penulis untuk menyelesaikan karya tulis ini.
…….
Penggalan karya tulis di atas merupakan bagian dari …….
a. pendahuluan
b. kata pengantar
c. penutup
d. isi
18. Manakah yang baku!
a. Meskipun ia bukan koruptor kelas kakap, tetap harus diadili sesuai dengan b.
perbuatannya.
b. Warga yang saling memengaruhi sehingga terjadi akulturasi budaya.
c. Bagaimanapun prestasi adalah hasil yang paling berarti bagi orang lain.
d. Demikian surat kami, mohon menjadi periksa.
19. Manakah yang benar?
a. Saya percaya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
b. Tindakan itu sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku.
c. Beberapa ekor kambing ada di ladang.
d. Ia harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya.
20. Manakah kalimat yang baku?
a. Kepada hadirin dimohon berdiri.
b. Hadirin dimohon berdiri.
c. Bagi hadirin dimohon berdiri.
d. Kepada semua hadirin dimohon berdiri.
231

Pilih dan berilah tanda (X) kata-kata yang baku di bawah ini!
21. a. zaman b. jaman
22. a. standarisasi b. standardisasi
23. a. aktivitas b. aktifitas
24. a. nasihat b. nasehat
25. a. shalat b. salat
26. a. kredit b. kridit
27. a. sekadar b. sekedar
28. a. ijin b. izin
29. a. kualitas b. kwalitas
30. a. bagaimanapun b. bagaimana pun
31. a. seksama b. saksama
32. a. Jumat b. Jum’at
33. a. tanda tangan b. tandatangan
34. a. tiga persepuluh b. tiga per sepuluh
35. a. pertanggungjawaban b. pertanggung jawaban
36. a. subunit b. sub unit
37. a. kongres b. konggres
38. a. terima kasih b. terimakasih
39. a. teoritis b. teoretis
40. a. mengkambinghitamkan b. mengambinghitamkan

Berilah tanda (X) pada huruf B jika pernyataan benar, dan S jika pernyataan
salah!
41. B – S Disebabkan karena naiknya harga BBM, harga beras ikut naik.
42. B – S Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau dan tiap
Misalnya: Harganya Rp 500,00/eksemplar
43. B – S Kenaikan gajinya tahun ini tidak lebih dari Rp. 200.000,-
44. B – S Rapat guru hari ini berlangsung pukul 09.30 s/d 12.00.
45. B – S Kami beri tahukan bahwa pada tanggal 16 Juli 2007 siswa harus
masuk sekolah.
46. B – S Pilihan kata dalam kalimat berikut ini benar:
Indosiar menyiarkan secara langsung perlombaan tinju profesional secara
rutin.
Salah satu pertandingan yang banyak peminatnya adalah baca puisi.
47. B – S Tanda koma yang digunakan untuk memisahkan nama orang dari
gelar akademik yang mengiringinya harus memakai spasi.
Misalnya: Abdul Kadir, M.A., S.H.
232

48. B – S Pada awal kalimat tidak digunakan angka, tetapi digunakan huruf
untuk menyatakan suatu bilangan.
Misalnya: Seratus dua puluh mahasiswa IKIP Jakarta ber-KKN ke Jember.
49. B – S Kata depan di-, ke-, dan dari dituliskan terpisah yang kata yang
mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap
sebagai satu kata, seperti kepada dan daripada
Misalnya: ke sampingkan saja persoalan yang tidak penting itu.
50. B – S Banyak perguruan tinggi yang bekerja sama dengan pihak swasta
untuk membantu siswa yang kurang mampu.

Pilihlah kalimat yang benar di bawah ini dengan cara memberi tanda (X)
1. Anggaran tahun ini sangat tinggi sekali.
2. Dalam pertemuan itu membicarakan pembangunan desa terpencil.
3. Bapak berangkat ke sekolahan SD Mangundikaran I pagi ini.
4. Pembangunan yang mana dananya berasal dari bantuan asing sedang berjalan.
5. Sehubungan dengan peraturan pemerintah terbaru maka kehadiran karyawan harus
dibuktikan dengan daftar hadir.
6. Sekedar cindera mata, benda antik ini diserahkan bupati.
7. Waktu dan tempat saya persilakan.
8. Tidak ada sejarahnya, orang digigit ular mati.
9. Membicarakan masalah itu perlu keterlibatan semua pihak.
10. Tugas karyawan adalah merupakan kewajiban pimpinan untuk mengaturnya.

Kalimat di bawah ini salah. Cobalah dibenahi sehingga menjadi benar!


1. Bagaimanapun juga motivasi kerja sangat diperlukan dalam membangun kinerja
yang maksimal.
2. Program kerja tersebut tidak dapat dilaksanakan disebabkan karena dana yan ada
tidak mencukupi.
3. Potensi kerja adalah merupakan modal dasar dalam mengembangkan karier.
4. Baju warna merah itu dijahit tanggal 12 bulan Desember tahun 2007.
5. Kita wajib menjunjung tinggi simbol negara agar supaya Indonesia dapat jaya
selamanya.
6. Banyak pengguna bahasa Indonesia yang melakukan kesalahan berbahasa, misalnya
contoh para mahasiswa di kampus.
7. Bapak sedang melakukan penertiban cara kerja di kantor ini.
8. Dia sangat sering sekali pulang sebelum jam kantor usai.
9. Para bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, izinkan saya mengawali acara pertemuan
ini.
10. Penerima penghargaan diharapkan maju ke depan untuk menerima piagam.
11. Belok kiri jalan terus.
12. Kendaraan diharap turun.
233

13. Ada ibu di rumah silakan diambil.


14. Yang telah selesai mohon dikumpulkan.
15. Beli dua dapat satu.
16. Setelah dilihat polisi telah mati.
17. Demikian surat ini harap maklum adanya.
18. Waktu dan tempat kami silakan.
19. Saat buang air mohon disiram.
20. Hadirin dimohon mendaftarkan diri.

Ubahlah paragraf di bawah ini sehingga menjadi benar!


1. Karyawan merupakan tumpuan dalam pekerjaan di sebuah kantor. Karyawan
mempunyai tugas untuk menyelesaikan administrasi kantor dengan cepat dan tepat.
Karyawan juga harus memperhatikan etika kerja sehingga terjalin kerjasama dengan
sesama karyawan. Karyawan yang baik ditandai oleh prestasi kerja yang baik pula.
Karyawan yang buruk biasanya tidak mempunyai prestasi apa-apa. Karyawan bukan
tidak bermakna tetapi malah menjadi tumpuan dan harapan pimpinan.

2. Semakin sering sekali banyak bencana-bencana yang terjadi di sekitar kita


menyebabkan rusaknya alam-alam dan lingkungan-lingkungan membuat tidak asri.
Semua itu terjadi akibat ulah para manusia-manusia yang sangat tidak mengerti
sekali masalah tentang akibat dari rusaknya alam. Mereka menebangi kayu tanpa
berpikir panjang tentang akibatnya. Padahal, jika bencana datang maka mereka pun
juga akan terkena bencana tersebut di atas.

E. Kamus Kata Baku


No. Kata Baku Kata Tidak Baku
1. Aberasi abrasi
2. Abjad abjat
3. Absorpsi absorsi
4. Adab adap
5. Adagio adegio
6. Adhesi adesi
7. Adibusana adi busana
8. Adjektif ajektif
9. Administrator admin
10. Adven advent
11. Advokat adpokat
12. Afdal afdol
13. Agamais agamis
14. Ajek ajeg
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
234

15. Akhir ahir


16. Akhirulkalam akhirul kalam
17. Aki accu
18. Akseptor aseptor
19. Aksesori asesori
20. Akta akte
21. Aktif aktip
22. Aktivitas aktifitas
23. Aktual aktuil
24. Akuades aquades
25. Aliah aliyah
26. Alfa alpha
27. Almari lemari
28. Alquran Al-Quran, Al-Qur'an, Al Qur'an
29. Ambeien ambeyen
30. Ambin amben
31. Ambulans ambulan/ambulance
32. Amendemen amandemen
33. Amirulhaji amirulhaj
34. Ampere amper
35. Andal handal
36. Analisis analisa
37. Antarinstansi antar instansi
38. Anestesi anestesia
39. Anode anoda
40. Antena antene
41. Antre antri
42. Anugerah anugrah
43. Aplaus aplus
44. Aparat aparatur
45. Apotek apotik
46. Apostrof apostrop/opostrop
47. Arbitrer arbiter
48. Asas azas
49. Asar ashar/’ashar
50. Asasi azasi
51. Ateis atheis
52. Ateret atret
53. Astronaut astronot
54. Atlet atlit
55. Atmosfer atmosfir
56. Audiensi audiens
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
235

57. Auditorium aditorium/oditorium


58. Aulia auliya
59. Autentik otentik
60. Autopsi otopsi
61. azan adzan
62. Azimat ajimat
63. Ensambel ansambel
64. Baka baqa
65. Balans balance
66. Balig baligh
67. Balsam balsem
68. Banderol bandrol
69. Bapanda bapaknda/bapakda
70. Bargajul bergajul
71. Barzakh barzah
72. Barzanj berjanji
73. Batalion batalyon
74. Baterai baterei
75. Batil bathil
76. Baut baud
77. Bayangkara bhayangkara
78. Bazar bazaar
79. Beha BH
80. Belacu blacu
81. Belantika blantika
82. Benatu binatu
83. Bengkuang bengkoang/bengkowang
84. Benzol bensol
85. Berahi birahi
86. Berandal brandal
87. Berengsek brengsek
88. Bertemu ketemu
89. Beterbangan berterbangan
90. Biksu bhiku
91. Biliar bilyar
92. Biliun bilyun
93. Biosfer biosfir
94. Biseps bisep
95. Bitgula gulabit
96. Blangko belangko
97. Blender belender
98. Blokade blokir
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
236

99. Bobon bombon


100. Boling bowling
101. Bolpoin bolpoint/bolpen/polpen
102. Bonafide bonafid
103. Braille braile
104. Bramacorah bromocorah
105. Brankas brangkas
106. Bredel breidel/bridel
107. Bronkhitis bronkitis
108. Bewok brewok
109. Budek budeg
110. Bujet budget
111. Bungker bangker
112. Bumiputra bumiputera
113. Bumper bemper
114. Bungalo bungalow
115. Bungkuk bongkok
116. Bus bis
117. Cabai cabe
118. Camilan cemilan
119. Capcai cap cai
120. Capai cape/capek
121. Cedera cidera
122. Celurit clurit
123. Cendekiawan cendikiawan
124. Cenderamata cinderamata
125. Cengkeram cengkram
126. Cengkerama cengkrama
127. Cengkih cengkeh
128. Cokelat coklat
129. Comro combro
130. Dai da’i
131. Daif dhoif
132. Dajal dajjal
133. Dakwah da’wah
134. Damping dumping
135. Darma dharma
136. Debit debet
137. Debitor debitur
138. Detail detil
139. Definisi divinisi
140. Depot depot
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
237

141. Dekret dekrit


142. Deodoran deodorant
143. Depolitisasi depolitisir
144. Deputi deputy
145. Desersi disersi/diserse
146. Deskripsi diskripsi
147. Desain disain
148. Detail detil/detel
149. Detergen deterjen
150. Deviasi defiasi
151. Diagnosis diagnosa
152. Diesel disel
153. Diferensial differensial
154. Digresi degresi
155. Diode dioda
156. Disko disco
157. Diskotek diskotik
158. Dispenser despenser
159. Distilasi destilasi
160. Dividen deviden
161. Domein domain
162. Donator donatur
163. Dolar dollar
164. Doping dopping
165. Dramatisasi dramatisir
166. Drumben drum band/dramben
167. Durian duren
168. Elips elip
169. Elite elit
170. E-mail email, imel
171. Embus hembus
172. Empas hempas
173. Empu mpu
174. Enjin engine
175. Eksem eksim
176. Ekshibisi eksebisi/eksibisi
177. Ekspor eksport
178. Ekstra extra
179. Ekstrem ekstrim
180. Ekuivalen ekwivalen
181. Episode episod
182. Epos ephos
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
238

183. Esai esei


184. Esens esen/esense
185. Eskadron sekuadron
186. Etanol ethanol
187. Fakih faqih
188. Faksimile Faksimili/faksimil/facsimil/faximil
189. Familier familiar
190. Farmakope farmakop
191. Februari Pebruari
192. Feri ferri/fery
193. Filipina Philipina
194. Film filem
195. Filosof filsof/filsuf
196. Finis finish
197. Fisik phisik
198. Fitotoksoit fitoksoid
199. Flat plat/plet
200. Fobi phobi
201. Folio polio
202. Folklor foklor
203. Fondasi pondasi
204. Formal formil
205. Foto photo
206. Fotokopi foto copy, photo copy, photo kopi
207. Fotosintetis fotosintesa/fotosintesis
208. Frasa frase
209. Frekuensi frekwensi
210. Frigid frigit
211. Front fron
212. Frustrasi frustasi
213. Gaet guide
214. Gaib ghaib/ghoib
215. Galaktosa galaktose
216. Galeri galleri/galery
217. Game gamma
218. Gana-gini gono-gini
219. Gandewa gendewa/gandewo
220. Gap gep
221. Gazal gasal
222. Geiser geyser
223. Geladi bersih geladi resik/gladibersih
224. Gelondong glondong
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
239

225. Genealogi geneologi/geneaologi


226. Genius jenius
227. Genting genteng
228. Gerebek grebek
229. Gereget greget
230. Gerendel grendel
231. Gerejawi gerejani
232. Gerogol grogol
233. Gips gip
234. Glamor glamour
235. Glaukoma glukoma
236. Glosarium glosary
237. Gongseng ongseng/oseng-oseng
238. Gorden korden/horden
239. Gria griya
240. Gros gross
241. Gua goa
242. Gudek gudeg
243. Guncang goncang
244. Hadis hadist
245. Hafal hapal
246. Hakikat hakekat
247. Hal-hal hal-ihwal
248. Hanacaraka honocoroko
249. Handaitulan handaitaulan
250. Hektare hektar
251. Heterogen hetrogen
252. Hibrida hybrida
253. Hidraulis hidrolis
254. Hieroglif hiroglif
255. Hierarki hirarki
256. Higiene higiena/hygiene
257. Himne hymne
258. Hipermetripia hipermetri
259. Hipotek hipotik
260. Hipotesis hipotesis
261. Hipovitaminosis hipovitaminose
262. Ibtidaiah ibtidaiyah
263. Idah iddah
264. Ideal idiil/idial
265. Ideologi idiologi
266. Ihwal ikhwal
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
240

267. Ijazah ijasah


268. Ijmak ijma’
269. Imbau himbau
270. Impit himpit
271. Impor import
272. Inkam income
273. Ikhlas iklas/ihlas
274. Iktibar i’tibar
275. Iktikaf i’tikaf
276. Ilusi illusi
277. Innalillahi wa innalillahi rajiun innalillahiwa innalillahi roji’un
278. Influenza influensa/influinza
279. Inframerah infra merah
280. Ingar-bingar hingar-bingar
281. Inkarsunah ingkarsunah/inkar sunah
282. Inkognito incognito
283. Infus inpus
284. Insaf insyaf
285. Interkontinental intercontinental/inter kontinental
286. Inset inzet
287. Insting instink
288. Intelegensi intelejensi
289. Intelijen intel/inteligen
290. Intens inten
291. Interes interest
292. Intermeso intermezo
293. Internis internist
294. Interogasi interograsi
295. Interpelasi interplasi
296. Interpretasi interprestasi
297. Interupsi intrupsi
298. Introspeksi interospeksi
299. Introvert introver
300. Inventarisasi inventarisir
301. Ionosfer ionosfir
302. Iradat iradah/irodah
303. Irasional irasionil/irrasional
304. Izin ijin
305. Isap hisap
306. Islamiah Islamiyah
307. Israk isra’
308. Istigfar istighfar
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
241

309. Istikamah istiqomah


310. Istinjak istinja’
311. Istri isteri
312. Italia Itali
313. Jadwal jadual
314. Jagat jagad
315. Jahiliah jahiliyah
316. Jajar jejer
317. Jalangkung jaelangkung/jailangkung
318. Jamaah jemaah/jemaat
319. Jenazah jenasah
320. Jenderal jendral
321. Jenius genius
322. Jerembab jerembap
323. Jip jep/jeep
324. Jisim jizim
325. Joging jogging
326. Join joint
327. jorjoran jor-joran
328. Juadah jadah
329. Jubileum jubilum
330. Judikatif yudikatif
331. Judisial yudisial
332. Judo yudo
333. Jujitsu jiujitsu/yuyitsu
334. Jumat Jum’at
335. Junior yunior
336. Junktur jungtur
337. Jurisdiksi yurisdiksi
338. Justru justeru
339. Juz jus
340. Kacamata kaca mata
341. Kacoak kecoak
342. Kadariah qodariyah (kadariah
343. Kadi qodi/qadi
344. Kadiriah Qodiriyah
345. Kafah kaffah
346. Kafetaria cafetaria
347. Kaidah kaedah
348. Kakaktua kakatua/kakak tua
349. Kakawin kekawin
350. Kakbah ka’bah/kaabah
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
242

351. Kalam qolam/qalam


352. Kalbu qolbu
353. Kaleidoskop kaleidioskop
354. Kalkarium kalkarim
355. Kamariah Qomariyah
356. Kamat qomat
357. Kamerawan kameramen/kameraman
358. Kamuflase kamuplase
359. Kanaah qona’ah
360. Kanguru kangguru
361. Kanker kangker
362. Kantong kantung
363. Karapan kerapan
364. Karawitan kerawitan
365. Karburasi kaburasi
366. Karburator kaburator
367. Kardus kerdus
368. Karena karna
369. Karier karir
370. Karisma kharisma
371. Karismatik kharismatik
372. Karunia kurnia
373. Kasidah qasidah/qosidah
374. Kasip kasep
375. Kasturi kesturi
376. Katai kate
377. Katalepsi katalepsia
378. Katalisis katalisa
379. Katapel ketapel
380. Kategori katagori
381. Katekis kataketis
382. Katering katring/cathering
383. Katode katoda
384. Katolik Katholik
385. Kaul khaul
386. Kaus kaos
387. Kayangan kahyangan/khayangan
388. Kemboja kamboja
389. Kedaluwarsa kadaluwarsa
390. Kedelai kedele
391. Kedip kerdip
392. Kejibeling keji beling/kecibeling
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
243

393. Kelekatu kelakatu


394. Kelemak-kelemek Klemak-klemek
395. Kelengar kelenger/klenger
396. Kelengkeng klengkeng
397. Kelenik klenik
398. Kelop klop
399. Keloter kloter
400. Keluak kluwak
401. Keluih kluwih
402. Ke mana kemana
403. Kemenyan menyan
404. Kempis kempes
405. Kendur kendor
406. Kerja sama kerjasama
407. Kilowatt kilo watt
408. Kenop knop
409. Kepok gepok
410. Keram kram
411. Keramat kramat
412. Keremi kremi
413. Keresek kresek k
414. Keretek kretek
415. Kerucil krucil
416. Kesuma kusuma/kesumah
417. Khotbah khutbah
418. Klab club
419. Klep kelep
420. Kleptomani kleptomania
421. Kles clash
422. Klien clien
423. Klier kelar
424. Klor chlor
425. Kloropil klorofil
426. Kloset closet
427. Knalpot kenalpot
428. Koboi koboy
429. Kokpit cockpit
430. Koktail cocktail
431. Kolintang kulintang
432. Kolumnis kolomnis
433. Komersial komersil
434. Komoditas komoditi
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
244

435. Kompleks komplek


436. Komplet komplit
437. Konduite kondite
438. Konferensi konperensi
439. Konfirmasi komfirmasi
440. Kongko kongkow
441. Konkret kongkret/kongkrit/konkrit
442. Kongres konggres
443. Konsekuen konsekwen
444. Konsepsional konsepsionil
445. Kontinu kontinyu
446. Koordinasi koordinir
447. Korps korp
448. Korsleting konsleting
449. Kosen kusen
450. Kosmonaut kosmonot
451. Kreativitas kreatifitas
452. Kredit kridit
453. Krol kerol
454. Kru krew/cru
455. Kuaci kwaci
456. Kualifikasi kwalifikasi
457. Kualitatif kwalitatif
458. Kualitas kwalitas
459. Kuantitatif kwantitatif
460. Kuartal kwartal
461. Kuitansi kwitansi/kwitangsi
462. Kucar-kacir kocar-kacir
463. Kumpul kerbau kumpul kebo
464. Kumulus cumulus
465. Kuna kuno
466. Kungfu kung fu
467. Kunut qunut
468. Kuota kwota
469. Kuraisy Quraisy
470. Kurma korma
471. Labah-labah Laba-laba
472. Lafal lapal/rapal
473. Lahir zahir/zohir/dhohir
474. Laknat la’nat
475. Lamtaragung lamtorogung
476. Laskar lasykar
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
245

477. Lazim lajim/lasim


478. Leding ledeng
479. Legalisasi legalisir
480. Legende legenda
481. Lembab lembap
482. Leukemia leukimia
483. Lever liver
484. Leveransir laveransir
485. Limfa limpha/limpa
486. Linear linier
487. Litoral literal
488. Lobi loby
489. Lokalisasi lokalisir
490. Longmars longmarch/long march
491. Lotre lotere
492. Luak luwak
493. Lubang lobang
494. Luks lux
495. Luntang-lantung lontang-lantung
496. Lusin losin/dozen/dosin
497. Maaf ma’af
498. Mabuk mabok
499. Madukara madukoro
500. Mafhum mafum/ma’fum
501. Mag maag
502. Magnet mahnet
503. Magrib maghrib
504. Mahabharata Mahabarata
505. Mahaesa Maha Esa
506. Mahardika mahardhika
507. Mahakuasa Maha Kuasa
508. Maha Pengasih Mahapengasih
509. Mahesa maesa
510. Mahfuz mahfudz
511. Maizena maisena
512. Makam maqam/maqom
513. Mak comblang makcomblang
514. Makhdum makdum
515. Makhluk mahluk
516. Makrifat ma’rifat
517. Makroekonomi makro ekonomi
518. Makruf ma’ruf
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
246

519. Malapraktik malpraktik


520. Mampat mampet
521. Manajemen managemen
522. Manajer manager
523. Mandam mendem/mendam
524. Mandek mandeg
525. Mangkuk mangkok
526. Mantra mantera
527. Manuskrip manuskrif
528. Maraton marathon
529. Margarin margarine
530. Marginal marjinal
531. Masal massal
532. Masjid mesjid
533. Maskawin mas kawin
534. Masyhur mashur
535. Matahari mentari
536. Matematika matematik
537. Mazhab madzab
538. Mbalela mbalelo
539. Mebel mebeler
540. Media massa mass media
541. Megaton mega ton
542. Melodi melody
543. Mencuci menyuci
544. Menerapkan menterapkan
545. Menerjemahkan menterjemahkan
546. Mengapa kenapa
547. Menopause monopause
548. Mentimun timun/ketimun
549. Mentol menthol
550. Merek merk
551. Merem meram
552. Merkurokrom merkurokrum
553. Metanol methanol
554. Meterai meterei
555. Metode metoda
556. Mes mess
557. Mesti musti
558. Mestika mustika
559. Mi mie
560. Mikraj mi’raj
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
247

561. Mikrobe mikroba


562. Miliampere mill ampere
563. Miliar milyar
564. Miliuner milyoner/milyuner
565. Miopia miopi
566. Misi missi
567. Mitos mithos
568. Mobilisasi mobilisir
569. Modern moderen
570. Monarki monarkhi
571. Monoteis monotheis
572. Monotipe monotype
573. Montase montage
574. Moral moril
575. Mosaik mozaik
576. Motif motip
577. Motivasi motifasi
578. Motto moto
579. Muamalat muamalah
580. Muasal asal muasal
581. Muazin muadzin
582. Mubalig mubaligh
583. Mubazir mubadir
584. Mukadimah muqadimah/muqaddimah
585. Mukjizat mu’jizat
586. Mulia mulya
587. Multifungsi multi fungsi
588. Mumi mummi
589. Muncikari mucikari
590. Mungkir pungkir
591. Mursyid mursid
592. Musafir musyafir
593. Musala mushala/musholah/musholla
594. Musabab sebab-musabab
595. Museum musium
596. Musim hujan musim penghujan
597. Naas nahas
598. Nanas nenas
599. Napas nafas
600. Nakhoda nahkoda/nakoda
601. Narasumber nara sumber
602. Narkotik narkotika
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
248

603. Nasihat nasehat


604. Nazar nadar/nadzar
605. Negeri negri
606. Negosiasi negoisasi
607. Neka-neka neko-neko
608. Neokolonialisme neo kolonialisme
609. Neting netting
610. Neto netto
611. Netralisasi netralisir
612. Nifas nipas
613. Nikmat ni’mat
614. ninabobo nina bobo
615. Nomad nomaden
616. Nomor nomer
617. nonaktif non aktif/non-aktif
618. non-Indonesia nonIndonesia/non Indonesia
619. Nonsens nonsen
620. Notula notulen
621. November Nopember
622. Objek obyek
623. Objektif obyektif
624. Olahraga olah raga
625. Omzet omset
626. Ons on
627. Opelet oplet
628. Oranye orange
629. Organisasi organisir
630. Orisinal orisinil
631. Orkestra orkhestra/orchestra
632. Osmose osmosis
633. Oto otto
634. Otobiografi autobiografi
635. Otomatis automatis/automatic
636. Pacat pacet
637. Paderi padri
638. Paham faham
639. Palm palem
640. Pamflet pamfelet/famplet
641. Pancaindera panca indra
642. Panitera panitra
643. Pankreas pangkreas
644. Paradoks paradox
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
249

645. Paramedis paramedik


646. Parasut parasit
647. Parogog paragoge
648. Pascapanen pasca panen/pasca-panen
649. Pasfoto pas foto/pas photo
650. Paspor pasport
651. Pasif pasip, pasive, fasip
652. Paten patent
653. Patri pateri
654. Patriarkat patriakat
655. Patrilineal patrilinial
656. Paviliun pavilyun/paviliyun
657. Pedas pedes
658. Pedepokan padepokan
659. Peduli perduli
660. Pelamin pelaminan
661. Pelesetan plesetan
662. Pelesir plesir
663. Peleton pleton
664. Pelihara peliara/piara
665. Pelintir plintir
666. Pelonco plonco
667. Pelontos plontos
668. Pempek Empek-empek
669. Pemirsa pirsawan
670. Pendapa pendopo
671. Penembahan panembahan
672. Pengawa punggawa
673. Perajin pengrajin
674. Peranti piranti
675. Personel personil
676. Petai pete, petay
677. Pikir fikir
678. Praktik praktek
679. Problematik problimatik
680. Produktivitas produktifitas
681. Proklamasi proklamir
682. Provinsi propinsi
683. Proyek projek, project
684. Psikotes psikotest
685. Putra putera
686. Qari qori
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
250

687. Rabu rebo


688. Radioaktif radio aktif
689. Rakaat raka’at
690. Rama romo
691. Ramadan Ramadhan/Romadhon/Romadlon
692. Ramai rame
693. Ranking rangking/rengking
694. Ransel ranzel/rangsel
695. Rapi rapih
696. Rapor rapot/raport
697. Rasialis rasialist
698. Rasional rasionil
699. Razia rasia/rajia
700. Real riil
701. Realisasi realisir
702. Reaumur Reamur
703. Rekrut rekruit
704. Relai rilai/rile
705. Relief relif
706. Rematik reumatik
707. Renaisans renaisance/renaisan
708. Reptilia reptil
709. Reservoar reservoir
710. Respons respons
711. Restoran restauran/restaurant
712. Resume resum
713. Rezim rejim
714. Rida ridho
715. Risiko resiko
716. Risleting resleting
717. Ritma ritme
718. Rezeki rizki, rejeki, riski, rizqi
719. Roboh rubuh
720. Roker rocker
721. Romusa romusha
722. Rongrong rong-rong
723. Rontgen ronsen
724. Ruh roh
725. Ruhaniwan rohaniawan
726. Rukuk ruku’
727. Rute route
728. Saf shaf
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
251

729. Sah syah


730. Sahabat sobat
731. Sahdu syahdu
732. Sahib sokhib
733. Sai sa’i
734. Sajak sanjak
735. Sakaguru saka guru/sokoguru/soko guru
736. Sakarin sakharin
737. Sakelar saklar
738. Saksama seksama
739. Salat Shalat/sholat
740. Sambal sambel
741. Sampo shampo
742. Sanawiah sanawiyah/tsanawiyah
743. Sanggama senggama
744. Sanskerta Sansekerta
745. Saptapesona sapta pesona
746. Saraf syaraf
747. Sarsaparila saparila
748. Satai sate
749. Satir satire
750. Saus saos
751. Sedekah sodakoh/sodaqoh
752. Sediakala sedia kala
753. Sein seign/sign/sen
754. Sekadar sekedar
755. Sekop skop
756. Sekretaris sekertaris
757. Sekring sekering
758. Seks sex
759. Seksi sie
760. Seksual seksuil
761. Sektarian sekterian
762. Sekte sekta
763. Sekular sekuler
764. Selebritas selebriti
765. Selendro slendro
766. Selesma salesma
767. Selulosa selulose
768. Semadi semedi/samadi
769. Sembrana sembrono
770. Semenda semanda
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
252

771. Senapati senopati


772. Sengkalan sangkalan
773. Sengse sense/sinse
774. Sentimeter centimeter
775. Sentimental sentimentil
776. Sentosa sentausa
777. Sentral central
778. Sepatbor sepakbor/spakbor/spakbort
779. Seprai seprei
780. Sepur spur/spor
781. Serban sorban
782. Serbaneka serba neka/serba aneka
783. Seriawan sariawan
784. Serigala srigala
785. Serunai seruni
786. Servis service
787. Setagen stagen/tagen
788. Setan syetan/syaiton
789. Setip stip
790. Setir stir
791. Setrika seterika
792. Setrip strip
793. Seyogianya seyogyanya
794. Sfing spink/sping/spinx
795. Siar syiar/syi’ar
796. Sifilis sipilis/siphilis
797. Sigaret cigaret
798. Silakan silahkan
799. Silaturahmi silaturahim
800. Silinder selinder/slinder
801. Simpel simple
802. Sinagoge sinagog
803. Sindrom sindrome
804. Sinekdoke senikdok
805. Sinkop sinkope
806. Sintesis sintesa
807. Sirene sirine
808. Sirup syrup/sirop
809. Sistem sistim
810. Ski sky
811. Skolastik sekolastik/skholastik
812. Skore sekor/score
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
253

813. Skors sekores/sekors/skorsing


814. Slang sleng/slank/slenk
815. Smes smash
816. Sombrero sambrero/sopmberero
817. Sodet sudet
818. Sofbal softball/sofball
819. Solenoide solenoid
820. Sop sup/soup
821. Sopir supir
822. Sosiodrama sosio drama
823. Spageti spagheti/spagetti
824. Spanduk sepanduk
825. Spesial sepesial/special
826. Spesies spesis
827. Spionase sepionase
828. Spiritual spiritual
829. Spiritus sepirtus/sepiritus/spritus
830. Spitbot speedboat/speedbot
831. Sprin sprint
832. Spons sepon/spon
833. Sportif sportip
834. Srek sreg
835. Stan stand
836. Standar standard/standart
837. Standardisasi standarisasi
838. Stanza stansa/setansa
839. Stasiun setasiun
840. Starter stater
841. Stereotip stereotipe
842. Stok stock
843. Stoples toples
844. Stres stress
845. Striker setriker/stricker
846. Stroberi strawberi, strawbery
847. Stroke strok
848. Studio foto foto studio
849. Subbab sub bab
850. Subjek subjek
851. Subjektif subyektif
852. Subsider subsidair
853. Substansi subtansi
854. Substitusi subtitusi
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
254

855. Subtropik sub tropik


856. Subunit sub unit
857. Sukacita suka cita
858. Suling seruling
859. Sunah sunnah
860. Sundal sundel
861. Suplemen saplemen/suplement
862. Supremasi supermasi
863. Surga sorga
864. Survei survai
865. Susastra susastera
866. Sutera sutra
867. Suvenir souvenir
868. Swasembada swa sembada
869. Sweter suiter
870. Swipoa sipoa/sempoa
871. Syafaat syafa’at
872. Syahadat sahadat
873. Syahid sahid/syahit
874. Syahwat sahwat
875. Syariat syareat
876. Syarikat syarekat
877. Syekh she/syeikh
878. Syirik sirik
879. Syiwa Siwa
880. Syogun shogun
881. Syubhat syubat/syubkhat
882. Syuhada suhada
883. Syukur sukur
884. Syur sur
885. Taala ta’ala
886. Tablig tabligh
887. Tafsiran tapsiran
888. Tahiat tahiyat
889. Takhta tahta
890. Taksi taxi
891. Takwa taqwa
892. Takzim ta’zim/takjim
893. Talk talek
894. Tampak nampak
895. Tamsil tamzil
896. Tanda tangan tandatangan
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
255

897. Tanker tangker


898. Taoco tauco
899. Taoge tauge, toge
900. Tapai tape
901. Taplak tapelak
902. Tarif tarip
903. Tarikat thoriqoh/thoriqot
904. Tarkhim tarkim/tarhim
905. Tata niaga tataniaga
906. Tato tatto
907. Tawaf thawaf
908. Tawakal tawakkal
909. Teater theater
910. Tekad tekat
911. Teknik tehnik
912. Teknologi tehnologi
913. Teladan taulada/toladan
914. Telanjur terlanjur
915. Telantar terlantar
916. Telentang terlentang
917. Telepon telpon, telfon, telefon, telephone
918. Telur telor
919. Temugiring temu giring
920. Tenggiling trenggiling
921. Tenteram tentram
922. Teologi theologi
923. Teoretis teoritis
924. Tepaselira tepa selira/ tepo seliro
925. Terampil trampil
926. Terburu keburu
927. Terengginas trengginas
928. Terima kasih terimakasih
929. Teripang tripang
930. Teritis tritis
931. Teromol tromol
932. Tertawa ketawa
933. Terubus trubus
934. Teruna taruna
935. Terung terong
936. Terwelu truwelu/teruwelu
937. Terzina tersina
938. Tetapi tapi
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
256

939. Tes test


940. Tesis thesis
941. Tiket ticket
942. Tim team
943. Tip tips
944. Tipe type
945. Toapekong toa pekong/tepekong
946. Tobat taubat
947. Tokek teke/tekek
948. Toleransi tolerir
949. Tolok ukur tolak ukur
950. Tonil tonel
951. Topas topaz
952. Tophit top hit
953. Torpedo terpedo
954. Tradisional tradisionil
955. Trafo trapo
956. Trakom trakhom/trachome
957. Trans-Jakarta Trans Jakarta
958. Tribune tribun
959. Trienale trinale
960. Triliun trilyun
961. Tripleks triplek/triplex
962. Trofi trophi/tropi
963. Trofosfer trofosfir
964. Trotoar trotoir
965. Tumenggung temenggung
966. Tunanetra tuna netra
967. Tungra tungro
968. Tur tour
969. Turbojet turbo jet
970. Turis touris
971. Turnamen tournamen/turnament
972. Tuts tut
973. Ubah rubah
974. Ujian ulang ujian ulangan
975. Ukhrawi ukhrowi
976. Ukulele okulele
977. Ultramodern ultra modern
978. Urine urin
979. Usada husada
980. Utang hutang
981. Ustaz ustadz, ustad
982. Ustazah ustadzah
983. Vak fak
984. Vakum fakum/vacum
985. Vaksinasi faksinasi
No. Kata Baku Kata Tidak Baku
257

986. Valentine valentin


987. Valid falid
988. Vampir vampire
989. Vanili vanilli/panili
990. Varietas varitas
991. Varises varices
992. Vas fas
993. Vaskular vaskuler
994. Vegetaris vegetarian
995. Vermak vermaks
996. Vernis pernis
997. Vila villa
998. Vinyet vignet
999. Wakaf waqaf
1000. Wali kota walikota
1001. Wudu wudlu/wudhu/udu/uduk
1002. Wujud ujud
1003. Wukuf wukup
1004. Yudikatif yudikatip
1005. Zaman jaman
1006. Zamrud jamrud
1007. Zamzam Zam-zam
1008. Zat dzat
1009. Zarafah jerapah/zerafah
1010. Zhuhur dzuhur, dhuhur, zhuhur
1011. Zigzag zig-zag
1012. Zigot zygot/zigote
1013. Zikir dzikir
1014. Zina zinah/jina
1015. Ziter siter/sitar
1016. Zona zone

Catatan :

orangtua (disatukan, jika yang dimaksud “ayah-ibu”)


orang tua (dipisah, jika yang dimaksud “orang yang sudah/berusia tua”)

optimistis (sifat/sikap) – optimis (orangnya)


pesimistis (sifat/sikap) – pesimis (orangnya)

permukiman (tempat mukim/perumahan) – pemukiman (proses memukimkan)

Seringkali dijumpai kesalahan dalam penggunaan kata dalam bahasa Indonesia. Misalnya
kata tolak ukur yang seharusnya tolok ukur, merubah seharusnya mengubah.
258

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................................. ii
BAB I : KEDUDUKAN, FUNGSI DAN PERAN BAHASA INDONESIA ...... 1
A. Pengertian Bahasa ............................................................................ 1
B. Fungsi Bahasa .................................................................................. 2
C. Kedudukan dan Fungsi Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah dan Bahasa
Asing ................................................................................................ 3
D. Perkembangan Bahasa Indonesia ..................................................... 5
E. Kesamaan Bahasa ............................................................................. 7
F. Idialek dan Dialek ............................................................................ 8
G. Tahun-tahun Penting ......................................................................... 8
BAB II : FUNGSI DAN PERAN BAHASA INDONESIA DALAM
PEMBANGUNAN BANGSA ................................................................ 10
A. Fungsi Bahasa Indonesia dalam Pembangunan Bangsa ................... 10
1. Bahasa Indonesia dalam Menyongsong Peradaban Modern....... 10
2. Bahasa Indonesia dalam Pengembangan Ipteks.......................... 11
B. Peran Bahasa Indonesia Dalam Pembangunan Bangsa .................... 14
C. Peranan Bahasa Indonesia dalam Kehidupan Sehari-Hari ............... 20
D. Peranan Bahasa Indonesia dalam Konteks Ilmiah ........................... 21
E. Cara Melestarikan Bahasa Indonesia Sebagai Alat Pemersatu Bangsa 21
BAB III : KALIMAT .............................................................................................. 22
A. Kalimat ............................................................................................. 22
B. Kelompok Kata................................................................................. 24
C. Hukum Diterangkan-Menerangkan (DM) ........................................ 25
D. Jabatan Kalimat ................................................................................ 26
E. Alat Kalimat ..................................................................................... 34
F. Segmental dan Suprasegmental ........................................................ 34
G. Hakikat Kalimat Bahasa Indonesia .................................................. 35
H. Gatra ................................................................................................. 35
I. Jenis Kalimat .................................................................................... 36
BAB IV : KALIMAT EFEKTIF ............................................................................ 50
A. Pengertian Kalimat Efektif .............................................................. 50
B. Syarat-syarat Kalimat Efektif .......................................................... 51
C. Ciri-Ciri Kalimat Efektif ................................................................. 51
D. Contoh Kalimat Efektif ................................................................... 54
BAB V : KALIMAT BAKU ................................................................................. 57
A. Ciri-ciri Kalimat Baku ...................................................................... 57
B. Fungsi Bahasa Indonesia Baku ........................................................ 60
C. Interferensi (Gangguan Pencampuran) ............................................. 61
BAB VI : PARAGRAF EFEKTIF .......................................................................... 62
A. Pengertian ........................................................................................ 62
B. Syarat-syarat Paragraf Efektif ......................................................... 62
259

C. Unsur-unsur Paragraf ...................................................................... 63


D. Jenis-Jenis Paragraf ......................................................................... 64
E. Cara Mudah Menulis Paragraf Efektif ............................................ 71
BAB VII : METODE PENULISAN BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN
BENAR SESUAI PERMENDIKBUD NOMOR 50 TAHUN 2015....... 73
A. Penulisan Huruf .............................................................................. 73
B. Penulisan Kata ................................................................................. 82
C. Pemakaian Tanda Baca..................................................................... 93
D. Penulisan Unsur Serapan.................................................................. 105
BAB VIII : RANGKUMAN .................................................................................... 117
A. Pengertian ........................................................................................ 117
B. Manfaat Rangkuman ....................................................................... 117
C. Manfaat Rangkuman ....................................................................... 117
D. Cara Membuat Rangkuman dan Ikhtisar ......................................... 118
E. Perbedaan antara Ikhtisar, Abstrak dan Ringkasan ......................... 121
F. Contoh Rangkuman ......................................................................... 122
BAB IX : PROPOSAL .......................................................................................... 126
A. Proposal Kegiatan ............................................................................ 126
B. Proposal Penelitian ........................................................................... 130
BAB X : LAPORAN PENELITIAN DAN NOTULA RAPAT ........................... 141
A. Laporan ............................................................................................. 141
B. Notula ............................................................................................... 142
BAB XI : KARYA ILMIAH .................................................................................. 143
A. Pengertian ......................................................................................... 143
B. Ciri-ciri Karya Ilmiah ....................................................................... 143
C. Manfaat Karya Ilmiah ...................................................................... 143
D. Jenis-jenis Karangan Ilmiah ............................................................. 141
E. Sistematika Penulisan ....................................................................... 145
F. Catatan Kaki dan Daftar Pustaka ..................................................... 146
BAB XII : ARTIKEL, KRITIK DAN ESAI ........................................................... 149
A. Artikel ............................................................................................... 149
B. Kritik ................................................................................................ 152
C. Esai ................................................................................................... 154
BAB XIII : DISKUSI DAN SEMINAR .................................................................. 159
A. Diskusi ............................................................................................. 159
B. Seminar ........................................................................................... 163
C. Menyampaikan Pendapat dalam Berdiskusi/Seminar...................... 164
BAB XIV : WAWANCARA ..................................................................................... 166
A. Pengertian ........................................................................................ 166
B. Jenis-jenis Wawancara .................................................................... 166
C. Tahap-tahap Wawancara................................................................... 167
D. Hubungan dengan Orang yang Diwawancara ................................. 168
260

E. Pelatihan Wawancara ...................................................................... 169


F. Pedoman Wawancara ...................................................................... 173
G. Kelebihan dan Kekurangan dari Wawancara .................................. 175
H. Menulis Laporan Wawancara .......................................................... 175
BAB XV : PIDATO ................................................................................................. 177
A. Pengertian ........................................................................................ 177
B. Ciri-ciri Pidato Yang Baik ............................................................... 177
C. Metode Berpidato ............................................................................ 177
D. Macam-macam Tujuan Pidato ......................................................... 178
E. Langkah-langkah Berpidato ............................................................ 178
F. Contoh Pidato .................................................................................. 179
BAB XVI : BERBAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR DALAM
KEHIDUPAN SEHARI-HARI ............................................................. 184
A. Enam Sikap dan Perilaku Negatif Berbahasa .................................. 184
B. Pencemaran Bahasa dan Sikap Tuna Harga Diri ............................. 186
C. Contoh Pemakaian Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar .......... 190
D. Pelatihan Berbahasa Yang Baik dan Benar...................................... 228
E. Kamus Kata Baku............................................................................. 233
261

MODUL KPA11102

Oleh :

AGUS HARYANTO, S.Pd. MM.

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA PARE KEDIRI


Izin Mendiknas RI No. 164/D/O/2005 Rekomendasi Depkes RI No. HK.03.2.4.1.03862
PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
Jl. Soekarno Hatta, Kotak Pos 153, Telp/Fax. (0354) 395203 Pare Kediri
Website: www.stikes-khkediri.ac.id
2017
262