Anda di halaman 1dari 5

Terdapat 5 fisik penyebab beban tambahab di tempat kerja:

1. fisik: penerangan, suhu, kelembaban


2. kimia: gas, uap, debu
3. biologi: golongan tumbuhan dan hewan
4. fisiologi: konstruksi mesin, sikap dan cara kerja
5. psikologi: suasana kerja, hubungan antar pekerja

Pengertian Potensial Hazard Lingkungan Fisik


Lingkungan fisik (physical environment) yang ada di sekitar kita sangat berarti bagi
kehidupan kita. Kondisi lingkungan sekitar secara terus-menerus memberikan pemaparan
pada kita, jika lingkungan sesuai dengan kebutuhan aktivitas manusia, maka dia akan
mendorong bagi kondisi yang baik, dan jika kondisi lingkungan tidak sesuai dengan
kebutuhan atau melampaui ambang batas toleransi sangat berpengaruh negatif bagi
kesehatan biologis dan kesehatan mental (http://jeffy-louis.blogspot.com).
Lingkungan fisik yang ada di sekitar kita dapat berakibat pada tekanan-tekanan
psikologis dan/atau berakibat pada kecelakaan, yang tidak menguntungkan bagi kondisi
kesehatan mental. Banyak dijumpai bahwa agresivitas, stress, tekanan mental, dan
sebagainya menjadi meningkat jika kondisi fisik itu terjadi di atas batas ambang
toleransi(http://jeffy-louis.blogspot.com).

LINGKUNGAN FISIK yang perlu memperoleh perhatian karena sangat mempengaruhi


kesehatan mental, di antaranya:
1. Tata Ruang dan Teritori
Kita semua membutuhkan ruang untuk memenuhi segenap kebutuhan, baik yang
berhubungan dengan diri sendiri maupun dalam berinteraksi dengan orang lain. Tata
ruang yang kita tempati dan miliki perlu memberikan jaminan keamanan, kenyamanan,
dan keleluasaan bagi segenap aktivitas kita. Tata ruang yang tidak kondusif akan
mempersulit dalam mengatur diri, hubungan sosial, kerja, dan sekaligus berpotensi sebagai
hazard. Karena itu rekayasa terhadap lingkungan selalu diperlukan sehingga sesuai dengan
kebutuhan aktivitas manusia(http://jeffy-louis.blogspot.com).
Hal yang terkait dengan tata ruang adalah soal teritori. Tiap orang memiliki teritori,
meskipun secara subyektif ada perbedaan luas tidaknya teritori pada tiap individu, luas
tidaknya sangat dipengaruhi oleh kultur di mana dia dibesarkan dan belajar. Dalam
masyarakat yang dianggap tidak agresif dan mementingkan keserasian hubungan sosial
pun diketahui memiliki wilayah teritori ini. Penelitian terhadap masyarakat primitif
menunjukkan bahwa mereka juga memiliki teritori (http://jeffy-louis.blogspot.com).
Teritori dimiliki seseorang untuk menjaga egonya. Orang yang teritorinya
terganggu, ego menjadi tidak aman dan dia akan berusaha untuk mempertahankan diri
sesuai dengan cara yang dapat dilakukan, misalnya dengan marah, penyerangan, atau cara-
cara lain yang dianggap lebih aman. Teritori berkaitan dengan kepadatan, meskipun tidak
selalu kepadatan itu mengganggu teritorinya, tergantung pada situasi yang terjadi dan
persepsi individual terhadap wilayah teritorinya dapat mengancam kenyamanan dan
keamanan dirinya (http://jeffy-louis.blogspot.com).
Kepadatan internal yaitu kepadatan dalam ruang tertentu. Sedang kepadatan
eksternal yaitu kepadatan di wilayah tertentu, terkait dengan teritori ini. Semakin padat
jumlah populasi dalam suatu atau wilayah tertentu akan mengganggu teritori yang diakui
oleh setiap anggota masyarakatnya. (http://jeffy-louis.blogspot.com).
2. Penyinaran dan Udara
Aktivitas manusia membutuhkan penyinaran dan udara yang memadai. Berbagai
macam tipe penyinaran, ada yang tidak terang, cukup, atau menyilaukan. Jika penyinaran
tidak sesuai kebutuhan aktivitasnya, maka akan membuat banyak kesalahan kerja, dan
penyinaran yang terlalu silau membuat gangguan konsentrasi.
Begitu juga dengan temperatur udara yang diterima manusia harus sesuai dengan
kewajaran kemampuan pengindraan. Udara yang terlalu dingin atau panas tidak
menguntungkan bagi manusia. Seringkali temperatur yang tidak enak membuat jenuh
misalnya dalam bekerja, belajar atau kegiatan lainnya. Hal ini menjadi sumber stres bagi
manusia(http://jeffy-louis.blogspot.com).
3. Kebisingan dan Polusi
Kehidupan modern terutama di perkotaan menunjukkan tingginya kebisingan dan
polusi. Kepadatan penduduk, industrialisasi, dan peningkatan penggunaan kendaraan
bermotor telah membuat lingkungan menjadi sangat bising dan penuh polusi. Kebisingan
juga dapat mempengaruhi perilaku manusia, pemaparan suara keras secara terus-menerus
dapata mempengaruhi tingkat penangkapan indra pendengaran terhadap kebisingan.
Artinya tidak menganggap suatu yang keras sebagai sesuatu yang bising tapi secara
fisiologis telah terjadi perubahan kepekaan menangkap suara, karena tidak mampu lagi
menerima suara yang kurang keras (http://jeffy-louis.blogspot.com).
Kebisingan yang sangat tinggi mempengaruhi penyesuaian individu terhadap
aktivitasnya, dalam sebuah penelitian dijumpai bahwa kebisingan tidak mempengaruhi
kecepatan kerja, tapi kualitasnya dapat menurun. Kebisingan itu secara langsung dapat
mengurangi konsentrasi dan sering kali menimbulkan tekanan. Demikian juga dengan
polusi. Karena aktivitas manusia yang sangat menonjol saat ini adalah transportasi dan
indistri, maka lingkungan perkotaan yang banyak menghasilkan polusi. Polusi yang
dikeluarkan dapat berbentuk partikel, karbon monoksida, gas, dan limbah cair lain yang
sekaligus menjadi pencemar udara dan lingkungan. Pulosi dalam bentuk apapun tidak
mudah untuk dikendalikan (http://jeffy-louis.blogspot.com).

Hazard LINGKUNGAN KIMIA


Banyak lingkungan kimiawi yang mempengaruhi kesehatan mental. Lingkungan kimiawi
ini dapat merupakan produk industri, pertanian, makanan, dan sebagainya. kimiawi secara
umum mengganggu kesehatan mental setalah mengganggu atau merusak otak melalui
makanan, obat-obatan, atau udara yang dihirup. Berbagai kimiawi itu menyebabkan
kerusakan pada otak secara permanen, menimbulkan psikosis karena toksikasi, atau
menginfeksi janin melalui plasenta. Misalnya, penggunaan alkohol dalam jangka panjang
dapat mengakibatkan sindroma penarikan diri (wihtdrawal syndrom), yang terjadi karena
keracunan pada sistem syaraf pusat. Gangguan ini disebut delirium tremen, yaitu sindroma
yang ditandai dengan gemetar pada tangan dan adanya halusinasi bawah kulitnya
dikerubuti oleh binatang kecil (http://jeffy-louis.blogspot.com).
Gruenberg (Last, 1980) mengemukakan berbagai macam zat kimiawi yang menjadi hazard
dan dapat menimbulkan gangguan mental. Zat-zat kimia itu adalah: amphetamine, alkyl
mercury, barbiturates, black window spider, caffein, carbon disulphide, carmon monoxide,
cocain, morphine, mercury.

HAZARD Lingkungan biologi


Lingkungan biologis terutama dalam bentuk virus, bakteri, jamur, parasit, yang masuk
dalam tubuh manusia, dapat menimbulkan penyakit-penyakit tertentu, sekaligus
menyerang otak manusia dan selalu berakibat psikosis bagi penderitanya jika tidak segera
diprevensi atau disembuhkan. Kontak manusia dengan lingkungan biologis dapat melalui
vektor tertentu sebagai transmisinya, misalnya orang lain, binatang atau udara(http://jeffy-
louis.blogspot.com).
Prinsip dasarnya, mikroorganisme pada mulanya dapat menyerang tubuh manusia
sehingga dia sakit secara fisik, namun jika tidak segera dicegah lebih lanjut dapat
menyerang otak manusia (http://jeffy-louis.blogspot.com).

HAZARD LINGKUNGAN PSIKOLOGIS adalah suatu lingkungan yang berpotensi mengganggu dan
mengakibatkan PAK seperti psikologi perasaan nyaman dan sejahtera dalam bekerja yang
didapatkan oleh pekerja. Hal ini dapat terjadi karena lingkungan kerja (cahaya, ventilasi, posisi
kerja) yang dapat menimbulkan stress pada pekerja(http://www.scribd.com).

Penyebab kecelakaan kerja di tempat kerja pada dasarnya dapat dikelompokkan


menjadi 2, yaitu :
1. Kondisi berbahaya yang selalu berkaitan dengan: Mesin, peralatan, bahan, dan lain-lain.

- Lingkungan kerja: kebisingan, penerangan, dan lain-lain .

- Proses produksi: waktu kerja, sistem, dan lain-lain,

- Sifat kerja

- Cara kerja

2. Tindakan berbahaya yang dalam beberapa hal dapat dilatarbelakangi oleh -:

- kurangnya pengetahuan dan ketrampilan

- cacat tubuh yang tidak kelihatan,

- keletihan dan kelelahan,

- sikap dan tingkah laku yang tidak aman. (Sukri Sahab, 1997)

Sedangkan penyebab dasarnya terdiri dari dua manusia atau pribadi (personal
faktor) dan kerja atau lingkungan kerja.

1. manusia atau pribadi, meliputi ; kurangnya kemampuan fisik, mental dan psikologi,
kurangnya atau lemahnya pengetahuan dan keterampilan atau keahlian, stres, motivasi
yang tidak cukup atau salah.

2. kerja atau lingkungan meliputi; tidak cukup kepemimpinan dan pengawasan, tidak cukup
rekayasa (engineering), tidak cukup pembelian atau pengadaan barang, tidak cukup
perawatan (maintenance), tidak cukup alat-alat, perlengkapan dan barang-barang atau
bahan-bahan, tidak cukup standar-standar kerja, penyalahgunaan. (Sugeng Budiono,2003).
penyakit akibat kerja pada usaha sector formal maupun sektor informal khususnya pada usaha
penjahitan antara lain :

Sikap Tubuh dalam Bekerja


Sikap tubuh dalam pekerjaan sangat dipengaruhi oleh bentuk, susunan, ukuran dan tata
letak peralatan, penempatan alat petunjuk, cara memperlakukan peralatan seperti macam
gerak, arah dan kekuatan (Anies, 2005)

Sikap duduk

Pada posisi duduk berat badan seseorang secara parsial ditopang oleh tempat
duduk, tetapi konsumsi energi dan ketegangan saat posisi duduk lebih tinggi dibandingkan
posisi berbaring, karena tangan dapat bergerak dengan bebas tetapi ruang gerak sangat
terbatas oleh luas tempat duduk (Kroemer, 2001).

Sikap duduk yang keliru merupakan penyebab adanya masalah punggung


(Nurmianto, 2003). Menurut Sastrowinoto (1985), kerugian yang diakibatkan sikap duduk
yaitu otot perut mengendor, perkembangan punggung melengkung, tidak menguntungkan
bagi jalur pencernaan dan paru-paru.

3. Kelelahan

Menurut Sutalaksana (1979) beberapa penyebab kelelahan pada industri adalah intensitas
dan lamanya kerja fisik atau mental, lingkungan (seperti iklim, pencahayaan dan
kebisingan), irama circadian, masalah psikis (seperti tanggung jawab, kekhawatiran,
konflik), penyakit yang dialami, dan nutrisi. Sedangkan gejala kelelahan yang penting
adalah perasaan letih, mengantuk, pusing dan tidak enak dalam bekerja. Gejala kelelahan
lainnya adalah semakin lamban dalam berpikir, menurunnya kewaspadaan, persepsi yang
lemah dan lambat, tidak semangat bekerja dan penurunan kinerja tubuh dan mental.
Apabila kelelahan tidak disembuhkan, suatu saat akan terjadi kelelahan kronis, yang
menyebabkan meningkatnya ketidakstabilan psikis (perilaku), depresi, tidak semangat
dalam bekerja, dan meningkatnya kecenderungan sakit.

Prestasi yang diukur pada output industri merupakan petunjuk yang pertama kali dipakai
untuk menilai akibat dari kelelahan. Perubahan prestasi atau performansi kerja berubah
secara teratur selama hari kerja dan selama minggu kerja yang berkolerasi dengan
perubahan ketegangan dan kelelahan (Grandjean, 1993).