Anda di halaman 1dari 62

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak (jamak : anak -anak ) adalah seorang lelaki atau perempuan yang

belum dewasa atau belum mengalami masa pubertas. Anak juga merupakan

keturunan kedua, dimana kata “Anak” merujuk pada awal dari orang tua,

orang dewasa adalah anak dari orang tua mereka, meskipun mereka telah

dewasa (Wikipedia).

Anak merupakan individu unik , dimana mereka mempunyai kebutuhan

yang berbeda - beda sesuai dengan tahapan usianya (Cahyaningsih, 2012)

Menurut Undang - undang no. 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak,

mendefinisikan anak sebagai seorang yang belum berusia 18 tahun (delapan

belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Anak merupakan masa depan masyarakat kita. Kesehatan keseluruhan

mereka telah mengalami peningkatan, angka kematian dan kesakitan di

beberapa area telah menurun tetapi kita masih harus berfokus pada kesehatan

anak di seluruh dunia. Kebiasaan dan praktik yang terbentuk di masa kanak -

kanak memiliki efek mendalam pada kesehatan dan kesakitan seumur hidup.

Sebagai sebuah masyarakat, menciptakan populasi yang peduli terhadap anak

- anak dan meningkatkan layanan kesehatan preventif dan kualitas layanan

kesehatan serta piliahan gaya hidup positif sangat penting (Kyle, 2015).

1
2

Sebagai negara berkembang, indonesian masih mengahadapi masalah

tingginya prevelensi penyakit infeksi trauma yang berkaitan dengan kondisi

2
3

sanitasi lingkungan yang belum baik. Salah satu penyakit yang

merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan. Hal tersebut dapat

dimengerti mengingat bahwa Indonesia adalah negara agraris dengan tingkat

sosial ekonomi, pengetahuan, keadaan sanitasi lingkungan dan higien

masyarakat yang masih rendah yang sangat mendukung untuk terjadinya

infeksi dan penularan cacing (Anwar, dkk. 2013)

Sebanyak 11 dari 20 jenis Neglected Tropical Disease (NTD) terdapat di

Indonesia salah satunya kecacingan. Penyakit kecacingan atau biasa disebut

cacingan masih dianggap sepele oleh sebagian besar masyarakat indonesia.

Insidens cacng di seluruh dunia cukup tinggi. Di Indonesia, Sutanti, dkk.

(1976) mendapatkan 79% dari 383 anak SD di Sumatra Utara. Pada

tahunyang sama di Jakarta Timur dilaporkan 95,10% dari 2.508 murid SD, di

Yogya / Sleman 23,08%; di Jawa Barat / Serpong 95,57%. di daerah

Kalimantan dilaporkan sekitar 56 - 65,80%. pada tahun 1988 di indramayu

dilaporkan 38,62%; di Sulawesi Utara 1,28% ( Rampengan, 2008)

Penelitian yang dilakukan oleh Rizka, dkk pada tahun 2013 di kota

Padang, didapatkan angka yang positif terinfeksi cacing usus sebanyak 47

orang dari 122 populasi (38.5%). Sedangkan untuk distribusi infeksi cacing

usus (Soil Transmitted Helminths) berdasarkan jenis cacing usus memiliki

persentase paling banyak adalah positif infeksi A.lumbricoides sebanyak 41

orang (33.6%), positif infeksi T.trichiura sebanyak 9 orang (7.4%) dan yang

terinfeksi cacing tambang hanya 1 orang (0.8%). Dari total 51 orang yang

3
4

terinfeksi, ada 4 orang yang terinfeksi oleh kedua jenis cacing usus yaitu

A.lumbricoides dan T.trichiura.

Penelitian juga dilakukan oleh Samarang, dkk pada tahun 2016 di

Sulawesi Tengah dengan hasil penelitian yaitu dari 241 sampel tinja anak

sekolah dasar yang diperiksa ditemukan sebanyak 17% terinfeksi kecacingan,

prevalensi kecacingan pada anak perempuan sebanyak 9,13% dan 7,88% pada

anak laki-laki. Akibat dari infeksi kecacingan yang terjadi pada balita atau

anak usia sekolah dapat menyebabkan kekurangan gizi sehingga tumbuh

kembang anak terganggu akibat berkurangnya energi protein, karbohidrat

dan dapat menyebabkan anemia.

Menurut WHO 2016, tiga infeksi cacing tanah atau Soil Transmitted

Helminths (STH) yaitu Ascariasis (cacing gelang), Trichuriasis (cacing

cambuk), Ankilostomiasis atau Nekatoriasis (cacing tambang) merupakan

infeksi cacing usus utama pada manusia. Hampir 2 Miliar orang (sekitar

seperempat populasi dunia) terinfeksi STH di deluruh dunia. Infeksi tersebar

luas di seluruh wilayah WHO, dengan jumlah terbesar terjadi di Afrika

sub-Sahara, Amerika, dan Asia Timur. Lebih dari 870 juta anak tinggal di

daerah dimana STH di tularkan secara intensif.

Prevelensi kecacingan di Indonesia juga sangat tinggi. Menurut data

Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL)

Kementrian Kesehatan RI, prevelensi cacingan di Indonesia mencapai

4
5

28,12%. untuk mengatasi permasalaha ini, Kementrian Kesehatan melakukan

kebijakan operasional berupa kerja sama lintas program seperti kemitraan

5
6

dengan pihak swasta dan organisasi profesi. Tujuannya untuk

menuntaskan rantai penularan, menurunkan prevelensi kecacingan menjadi

<20% pada tahun 2015, serta meningakatkan derajat kesehatan dan

produktivitas kerja.

Kegiatan yang dilakukan antara lain sosialisasi dan advokasi,

pemeriksaan tinja minimal 500 anak SD per kabupaten/kota, intervensi

melalui pengobatan dan promosi kesehatan (Depkes, 2010).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan urian latar belakang diatas maka peneliti membuat rumusa

masslah sebagai berikut “Bagaimana Gambaran Pengetahuan dan Sikap

Orang Tua Tentang Pencegahan Kecacingan Pada Anak Prasekolah? ”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Diketahui gambaran pengetahuan dan sikap orang tua tentang

pencegahan kecacingan pada anak prasekolah.

2. Tujuan Khusus

6
7

a) Diketahui gamabaran karakteristik orang tua ( umur, jenis kelamin,

pendidikan, pekerjaan), tentang pencegahan kecacingan pada anak

prasekolah.

b) Diketahuinya gambaran pengetahuan orang tua tentang pencegahan

kecacingan pada anak prasekolah.

7
8

c) Diketahuinya gambaran sikap orang tuan tentang pencegahan

kecacingan pada anak prasekolah.

D. Manfaat Penelitian

1. Peneliti

a) Menambah wawasan, pengalaman dan maningakatkan pengetahuan

tentang proses dan cara - cara penelitian deskriptif.

b) Mendapatkan informasi gambaran pengetahuan dan sikap orang tua

tentang gizi seimbang pada anak prasekolah.

c) Sebagai bahan acuan melakukan penelitian selanjutnya.

2. Institusi

a) Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa kesehatan, khususnya

mahasiswa keperawatan tentang Keperawatan Anak,

b) Sebagai data dasar penelitian selanjutnya,

c) Sebagai bahan acuan bagi mahasiswa keperawatan untuk promosi

kesehatan tentang pencegahan kecacingan pada anak prasekolah.

3. Responden

a) Menamabah wawasan, penalaman dan meningakatkan pengetahuan

dan sikap orangtua tentang pencegahan penyakit cacingan.

8
9

b) Meningkatkan kesadaran pada orang tua arti pentingnya

pengetahuan pencegahan kecacingan pada anak prasekolah.

9
10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP DASAR ANAK PRASEKOLAH

1. Definisi Anak Prasekolah

Anak merupakan makhluk rentan dan tergantung yang selalu

dipenuhi rasa ingin tahu, aktif, serta penuh harapan masa anak - anak

merupakan awal kehidupan awal untuk masa berikunya (Susilaningrum,

2013) . Menurut Undang - undang no. 31 tahun 2014 tentang

perlindungan anak, mendefinisikan anak sebagai seorang yang belum

berusia 18 tahun (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam

kandungan. Sedangkan menurut definisi WHO, batasan usia anak adalah

sejak anak di dalam kandungan sampai usia 19 tahun (Depkes, 2014)

Menurut Kyle, dkk (2015) periode presekolah adalah periode antara

3 dan 6 tahun. Ini adalah waktu kelanjutan pertumbuhan dan

perkembangan. Banyak tugas yang dimulai selama masa todler dikuasai

dan sempurna selama usia prasekolah. Anak belajar menoleransi

perpisahan dari orang tua, memiliki rentang perhatian lebih lama dan

terus mempelajari keterampilan yang akan memicu keberhasilan nanti

dalam periode usia sekolah.

2. Ciri - Ciri Anak Prasekolah

10
11

a. Pertumbuhan Fisik

11
12

Anak usia prasekolah rata - rata akan tumbuh 6.5 - 7,8 cm/tahun.

Pertambahan berat rata - rata selama periode ini adalah sekitar 2,3

kg/tahun. Kehilangan lemak bayi dan pertumbuhan otot selama

masa prasekolah memberikan tampilan anak yang lebih matang.

Panjang tengkorak meningakat, dengan rahang bawah menjadi

lebih menonjol. Rahang atas melebar selama masa prasekolah

sebagai persiapan unruk kemuculan gigi permanen, biasanya di

mulai sekitar usia 6 tahun.

b. Maturasi Sistem Organ

Sebagian besar sistem tubuh telah matang pada masa prasekolah.

Meilinasi medula spinalis memungkinkan kontrol usus dan

kandung kemih untuk sempurna pada sebagian besar anak pada

usia3 tahun. Ukuran struktur pernafasan terus tumbuh, dan jumlah

alveoli terus meningkat, memiliki 20 gigi susu, dan pada usia 4 - 5

tahun umumnya sudah memiliki kontrol defakasi dan kontrol

kandung kemih. Tulang terus tumbuh dan otot terus menguat. Akan

tetapi, sistem muskuloskeletal masih belum matang sehinnga anak

prasekolah rentan terhadap cedera.

c. Perkembangan Psikososial

Menurut Erik Erikson,tugas psikososial masa prasekolah adalah

membina rasa inisiatif versus bersalah. Anak prasekolah merasa

12
13

sensasi pencapaian ketika berhasil melaksanakan aktivitas dan

perasaan bangga dalam pencapaian seseorang membantu anak

untuk mengguankan inisiatif. Akan tetapi, ketika anak memperluas

dirinya lebih lanjut ia dapat merasakan rasa bersalah.

d. Perkembangan Kognitif

Menurut teori Jean Piaget (1969) dalam Kyle (2015), anak

prasekolah terus lanjut ke dalam tahap praoperasional. Pada fase

prakonseptual dari pemikiran praoperasional. Anak tetap bersifat

egosentrik dan mampu mendekati masalah hanya dari satu sudut

pandang. Pemikiran magisbadalah bagian normal dalam

perkembangan prasekolah sering kali memiliki seorang yeman

khayalan / imajiner. Teman ini berperan sebagai cara kreatif bagi

anak prasekolah untuk mencotohkan aktivitas dan perilaku yang

berbeda dan mempraktikan keterampilan percakapan. Anak yang

berada dalam fase intuitif dapat menghitung sebanyak 10 atau lebih

objek, dapat menyebutkan minimal empat warna.

e. Perkembangan Moral dan Spiritual

Anak prasekolah dapat memahami konsep benar salah dan

mengembangjan kesadaran. Kohlberg mengidentifikasi tahap ini

(antara 2 dan 7 tahun) sebagai tahap prakonvensional, yang

dicirikan dengan orientasi hukuman dan kepatuhan. Anak

prasekolah mematuhi standar moral orang tua mereka untuk

13
14

mendapatkan penghargaan atau menghindari hukuman. Ketika

perkembangan moral anak mengalami kemajuan, ia belajar cara

menangani perasaan marah dan mulai berbohong.

f. Perkembangan Keterampilan Motorik

1) Keterampilan Motorik Kasar

Anak Prasekolah ketika berdiri, berjalan, berlari, dan melompat.

Ia dapat naik dan turun tangga serta berjalan ke depan dan ke

belakang dengan mudah. Berdiri dengan satu kaki dan berjinjit

tapi tetap memerlukan konsentrasi ekstra.

2) Keterampilan Motorik Halus

Anak usia 3 tahun dapat memegang sendok, garpu dan crayon

dengan cara seperti cara orang dewasa. Ia juga dapat menulis

bebas, makan sendiri, dan menjiplak sebuah bentuk datar.

Keterampilanini dpat menjadi halus dalam 2 tahun selanjutnya

dan pada usia 5 tahun, anak dapat menulis, memotong dengan

guntingn dan mengikat tali sepatu.

g. Perkembangan Sensori

Pendengaran utuh saat lahir dan harus tetap utuh selama masa

prasekolah. Indra pencium dan peraba terus ber- kembang selama

masa prasekolah. Anak prasekolah muda mungkin kurang dapat

mendiskriminasi indra pengecapan dibandingkan anak yang lebih

14
15

besar, menempatkannya pada peningkatan risiko menelan zat yang

berbahaya. Ketajaman visual terus berkembang dan harus sama

secara bilateral. Anak usia 5 tahun biasanya memiliki ketajaman

visual 20/40 atau 20/30. Penglihatan warna juga utuh pada usia ini.

h. Perkembangan Komunikasi dan Bahasa

Anak usia 3 samapi 6 tahun mulai mengembangkan kefasihan

(kemampuan untuk menghubungkan suara, suku kata, dan kata -

kta secara lancar/ halus ketika berbicara). Bicara gagap biasanya

diawali pada usia 2 dan 4 tahun, dan sekitar 75% anak akan pulih

dari kondisi ini tanpa terapi. Orang tua harus memperlambat bicara

dan memberikan anak waktu untuk berbicara tanpa tergesa - gesa.

Beberapa suara yang sulit diucapkan oleh anak prasekolah :"f", "v",

"s", dan "z" biasanya dikuasai pada usia 5 tahun, tetapi beberapa

anak tidak menguasai suara "sh", "l", "th", dan "r" sampai mereka

berusia 6 tahun.

i. Perkembangan emosinal dan sosial

Pada saat anakmemasuki taman kanak - kanak harus

mengembangkan keterampilan sosial yang terdiri dari kerja sama,

berbagi, kebaikan, kemurahan hati, membantu orang lain, bercakap,

ekspresi perasaan, dan berteman. Anak praseoklah memiliki

emosional yang kuat. Mereka dapat bahagia di satu waktu dan

kecewa pada waktu selanjutnya.

15
16

B. KONSEP DASAR CACINGAN

1. Definisi Kecacingan

Menurut Depkes RI, kecacingan adalah infestasi oleh cacing,

biasanya hanya mengacu pada jenis cacing parasit di saluran pencernaan

seperti taenia (cacing pita), askris (cacing gelang), enterobius (cacing

kremi), dan ankilostoma (cacing tambang).

2. Etiologi

a. Cacing Tambang (Ankilostomiasis / Nekatoriasis)

Ankilostomiasis masih merupakan masalah kesehatan masyarakat,

terutama di daerah subtropis dan tropis. Infrksi cacing ini dapat

berakibat buruk bagi keadaan gizi dan dapat mengakibatkan anemi.

Adanya gangguan gizi dan anemi ini dapat menyebabkan penurunan

daya tahan tubuh dengan kemunduran kemampuan belajar dan

produktivitas kerja.

Spesies yang termasuk parasit pada manusia adalah Ankilostoma

Duodenale, Nekator Amerikanus, dan jarang oleh Ankilostoma

Braziliensis. Ankilostoma duodenale ditemukan di Papyrus Eber,

Mesir Kuno (1600 SM), Necator amerikanus pertama kali di temukan

oleh Stiles pada tahun 1902 di Texas.

b. Cacing Gelang (Ascariasis )

16
17

Ascariasis merupakan salah satu infestasi cacing yang paling sering

ditemukan di dunia. Ascariasis disebabkan oleh Ascaris

lumbricides atau cacing gelang. Infestasi askaris relatif ringan, sering

tidak tampak gejala klinis sampai penderita mengeluarkan cacing ini

bersama - sama dengan feses. Akan tetapi, pada kasus dengan

infestasi berat dapat timbul gejala selama fase dini dan malabsorbsi

usus bahkan terjadi obstruksi pada tahap lanjut. Terjadinya infestasi

askaris akibat tertelan telur cacing yang infektif yang akan bersarang

di bagian atas usus halus dan melepaskan larva rabditiformis.

c. Cacing Cambuk (Trichuriasis)

Trichuriasis mempunyai prevalensi yang hampir sama dengan infeksi

oleh cacing tambang, atau diperkirakan lebih dari 500 juta kasus di

dunia, tetapi infeksi ini sering asimtomatik karena kebanyakan kasus

gambaran klinisnya ringan. Penyebab Truchuriasis adalah Trichuris

trichiura atau disebut cacing cambuk, threadworm, whip worm.

Cacing ini banyak ditemukan di daerah tropis dan subtropis.

3. Patofisiologi

a. Cacing Tambang (Ankilostomiasis / Nekatoriasis)

Telur dihasilkan cacing betina dan dapat ditemukan pada tinja. Telur

menetas di tempat lembab dan basah menjadi larva rhabditiform yang

infektif dalam 1 -2 hari atau setelah 3 minggu. Larva rhabditiform

berubah menjadi larva filariform yang dapat menembus kulit manusia,

17
18

memasuki kapiler darah, daan menuju jantung kanan, paru, bronkus,

trakea, laring, serta usus halus, dimana larva kemudian menjadi

cacing dewasa.

b. Cacing Gelang (Ascariasis )

Cacing betina dewasa menghasilkan telur yang menjadi matang dan

infektif. Kemudian dikeluarkan bersamaan dengan feses. Telur

ditanah akan menjadi infeksius dalam 5 - 20 hari dan dapat bertahan

selama 17 bulan. Infeksi terjadi apabila ada kontaminasi tanah yang

tercemar pada makanan. Telur kemudian menetas menjadi larva yang

akan menembus dinding usus dan menuju paru melalui pembuluh

darah dan limfe. Larva kemudian bermigrasi ke bronkus dan faring

serta tertelan kembali ke esofagus dan usus halus. Di usus halus, larv

akan berkembang menjadi cacing dewasa yang selanjutnya kembali

memproduksi telur. Waktu yang diperlukan dari telur infektif tertelan

hingga menjadi cacing dewasa adalah sekitar 2 bulan. Cacing dewasa

memakan produk pencernaan dari pejamu sehingga dapat terjadi

defisiensi zat gizi.

c. Cacing Cambuk (Trichuriasis)

Cacing ini hidup secara komensal dalam usus besar. Telur

dikeluarkan bersamaan dengan tinja dan menjadi infektif dalam 1 - 2

minggu. Telur infektif termakan dan larva melekat di usus halus yang

kemudian menjadi dewasa dan menetap di sekum dan kolon

18
19

proksimal. Bagian posterior cacing melekat pada mukosa usus dan

meyebabkan kerusakan serta perdarahan kronik.

4. Manifestasi Klinis

a. Cacing Tambang (Ankilostomiasis / Nekatoriasis)

1) Larva filariform yang menembus kulit menimbulakn gejala

pruritus hinggan dermatitis, ruam makulopapula, atau vesikel.

Larva di paru dapat menyerang batuk darah akibat rusaknya

kapiler.

2) Stadium dewasa, gejala bergantung spesies, jumlah cacing, dan

keadaan gizi pasien. Kedua jenis cacing tambang dapat

menyebabkan anemia mikrisitik hipokrom sekitar 10 - 20 minggu

setelah penetrasi kulit. Tiap cacing N.amerikanus menyebabkan

kehilangan darah 0,005 - 0,1 ml/ hari sedangkan A.duodenale

0,008 - 0,34 ml/hari. Gejala lain adalah kembung, sering buang

angin, diare yang muncul sekitar 2 minggu setelah penetrasi kulit.

b. Cacing Gelang (Ascariasis )

1) Larva yang bermigrasi menyebabkan batuk, demam, eosinofilia,

dan gambaran infiltarat pada foto thoraks yang ,menghilang

dalam 3 minggu, di sebut sindrom loeffler.

2) Cacing dewasa menyebabkan meal, penurunan nafsu makan,

diare, atau konstipasi, malnutrisi pada anak, dan pada keadaan

19
20

berat menyebabkan malabsorbsi serta obstruksi usus apabila

mengumpal. Reaksi alergi berupa gatal - gatal dapat muncul.

c. Cacing Cambuk (Trichuriasis)

Manifestasi klinis muncul apabila jumlah cacing cukup banyak.

Nyeri perut, konstipasi, diare, kembung, sering buang angin, mual,

muntah, ileus, penurunan berat badan, perdarahan kronik, malnutrisi,

dan prolaps rekti dapat ditemukan. Perforasi usus dapat terjadi namun

jarang.

5. Penatalaksanaan

a. Cacing Tambang (Ankilostomiasis / Nekatoriasis)

1) Pyrentel pamoat

Adalah obat pilihan utama dosis tunggal 10 mg/ kgBB untuk

ankilostoma, sedangkan untuk nekator selama 3 hari berturut -

turut. Dapat diberikan sebelum atau sesudah makan tanpa

pencahar. Efek samping yang sering adalah keluha saluran

pencernaan dan sakit kepala.

2) Bephenium hidroksinaptoat

Obat ini disediakan dalam kantong yang berisi 5 gram bubuk

yang ekuivalen dwngan 2,5 gram bephenium basa. Dosis yang

diberikan adalah maksimum 5 gram, anak - anak yang dibawah

20
21

22 kg diberi 2,5 gram, dosis tunggal. Diberi pada waktu perut

kosong. Efek samping berupa mual dan muntah.

3) Tetrakloretile

Obat ini efektif untuk nekator dan kurang efektif untuk

ankilostoma. Dosis yang diberikan 0,12 mL/kgBB dosis

tunggal, tetapi dengan ulangan 2 kali atau lebih dengan interval

4 hari untuk pembasmian total. Efek samping berupa panas

pada lambung, mual, dan muntah, sakit kepala, vertigo.

Penderita harus istirahat setelah pemberian obat.

4) Mebendazole

Merupakan drug of choice untuk nekator dan ankilostoma.

Dosis yang diberikan adalah 100 mg, 2 kali sehari selama 3

hari tanpa pencahar. Dosis tidak dioengaruhi umur ataupun

berat badan.

5) Albendazole

Obat ini efektif untuk cacing dewasa, larva dan telur cacing.

Dosis yang diberikan 400 mg dosis tunggal dewasa dan 200 mg

untuk anak. Efek samping berupa nyeri perut, sakit kepala dan

kering dalam mulut.

6) Tiobendazole

21
22

Merupakan obat cacing dengan spektrum luas dan efektif untuk

berbagai namatoda pada manusia termasuk cacing tambang dan

juga dapat digunakan untuk cutaneus larva migrains. Dosis

yang dianjurkan adalah 25 mg/kgBB, 2 kali sehari tanpa

pencahar.

b. Cacing Gelang (Ascariasis )

1) Pyrentel pemoet

Dengan dosis tunggal 10 mg/kg BB dan jangan melebihi 1

gram ternyata sangat efektif.

2) Mebendazole

Obat altenatif yang lain dengan dosis tetap 100 mg 2 kali sehari

selama 3 hari juga cukup efektif.

3) Piperazine citrate (antepar)

Dengan dosis 75 - 150 mg/kg BB dosis tunggal, dengan total

dosis jangan melebihi 3 - 3,5 gram / hari.

4) Albendazole

400 mg dosis tunggal, didapatkan hasil yang memuaskan.

c. Cacing Cambuk (Trichuriasis)

1) Mebendazole

22
23

100 mg 2 kali sehari selama 3 hari berturut - turut. Tidak perlu

dipertimbangkan berat badan penderita karena obat ini tidak

diabsorbsi.

2) Albendazole 400 mg dosis tunggal

3) Ditiazanin iodida (delvex, telmid, delombrin, netocyd).

Dosis yang diberikan 10 - 15 mg/kgBB/hari , selama 3 - 5 hari

4) Stilazium iodida (menopar)

Dosis 10 mg/kgBB/hari, selama 3 hari.

5) Tiobendazole (mintezol)

Obat pilihan dengan dosis 25 - 30 mg/kgBB/hari selama 7- 30

hari.

6. Pencegahan

a. Cacing Tambang (Ankilostomiasis / Nekatoriasis)

Sejak tahun 1910 di Amerika Serikat telah dilakukan usaha

pemberantasan penyakit cacing dengan tujuan 3 tujuan :

1) Pemeriksaan feses semua penduduk dan memberi pengobatan.

2) Pendidikan kesehatan mengenai transmisi dan sifat - sifat

penyakit cacing tambang.

3) Membantu serta mendorong pembuatan jamban keluarga.

23
24

Di indonesia, usaha pemberantasanpenyakit ini secara terpadu telah

dimulai sejak tahun 1978 melalui lokakarya pemberantasan penyakit

cacing yang ditularkan melalui tanah dengan prioritas utama anak balita,

wanita hamil dan wanita menyusui. Intervensi yag dilakukan ialah :

1) Pengobatan massal

2) Perbaikan sanitasi lingkunagn

3) Penyuluhan kesehatan

Pengobatan massal dilakukan bila prevalensi dan intensitas infeksi

cacing lebih dari 10%. frekuensi pengobatan massal adalah 3x setahun.

Usaha - usaha ini semua tentu pula tidak lepas dari pihak yang ikut

terlibat di dalamnya.

b. Cacing Gelang (Ascariasis )

Infeksi hanya dapat diberantas dengan :

1) Mengusahakan pembuangan kotoran yang baik,

2) Penyuluhan kesehatan

3) Perbaikan sanitasi lingkungan

4) Perbaikan standar hidup secara keseluruhan

5) Pemberian periodik secara massal pirantel pamoate atau

mebendazole.

c. Cacing Cambuk (Trichuriasis)

24
25

Seperti pada pencegahan nematoda yang lain, perlu:

1) Perbaikan sanitasi lingkungan

2) Memperbaiki standar hidup masyarakat (paling penting)

3) Pengobatan yang bersifat perodik dengan Mebendazole dalam

masyarakat.

7. Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi dari kecacingan antara lain, yaitu:

Reaksi Alergi, Pneumotitis, Pneumonia , Dermatitis, Anemia Berat,

Gangguan Pertumbuhan dan Mental, Payah Jantung,

Perforasi usus, dan Prolaps Rekti

C. KONSEP DASAR PENGETAHUAN

1. Definisi Pengetahuan

Pengetahuan dapat di peroleh seorang secara alami atau

diintervensikan bak langsung maupun tidak langsung. Perkembangan teri

pengetahuan telah berlangsung sejak lama. Filsuf pengetahuan yaitu Plato

menyatakan pengetahuan sebagai “Kepercayaan sejati yang diberikan

(valid)” (Justified true belief). menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan

merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan

pengindraan pada suatu objek tertentu (Budiman,2013)

25
26

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005), pengetahuan adalah

sesuatu yang berkaitan dengan proses pembelajaran. Proses belajar ini

dipengaruhi berbagai faktor dari dalam, seperti motivasi dan faktor luar

berupa sarana informasi yang tersedia, serta keadaan sosial budaya.

Dalam Wikipedia, pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang

diketahui atau didasari oleh seseorang (Budiman, 2013)

2. Jenis Pengetahuan

Pemahaman masyarakat mengenai pengetahuan dalm konteks

kesehatan sangat beraneka ragm. Pengetahuan merupakan bagian perilaku

kesehatan. Jenis pengetahuan diantaranya sebagai berikut : (Budiman,

2013)

a. Pengetahuan Implisit

Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih tertanam

dalam bentuk pengalaman seseorang dan berisi faktor - faktor yang

bersifat nyata, seperti keyakinan pribadi, perspektif, dan prinsip.

Pengetahuan seseorang biasanya sulit untuk ditransfer ke orang lain

baik secara tertulis ataupun lisan. Pengetahuan implisit sering kali

berisi kebiasaan dan budaya bahkan bisa tidak disadari.

Contoh : seseorang mengetahui tentang bahata merokok bagi

kesehatan, namun ternyata dia merokok.

26
27

b. Pengetahuan Eksplisit

Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang telah

didokumentasikan atau disimpan dalam bentuk nyata, bisa dalam

wujud perilaku kesehatan. Pengetahuan nyata dideskripsikan dalam

tindakan - tindakan yang berhubungan dengan kesehatan.

Contoh : seseorang yang telah mengetahui tentang bahaya merokok

bagi kesehatan dan ternyata dia tidak merokok.

3. Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

a. Pendidikan

Pendidikan adalah sebuah proses pengetahuan sikap dan tata laku

seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasajan manusia

melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Pendidikan mempengaruhi

proses belajar, makin mudah orang tersebut menerima informasi.

Semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula

pengetahuaan yang didapat (Budiman, 2013).

b. Informasi atau media massa

Berkembangnya teknologi akan menyediakan bermacam - macam

media massa yang dapat mempengaruhi pengetahuan masyarakat

tentang inovasi baru. Dalam penyampaian informasi sebagai tugas

pokoknya, media massa juga membawa pesan - pesan yang berisi

27
28

sugesti yang dapat mangarahkan opini seseorang. Adanya informasi

baru mengenai suatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi

terbentuknya pengetahuan terhadap suatu hal (Budiman, 2013).

c. Sosial, budaya, dan ekonomi

Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang - orang tanpa penalaran

apakah yang dilakukan baik atau buruk. Dengan demikian,

seseorang akan bertambah pengetahuanya walaupun tidak

melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan menetukan

terdedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu

sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi

pengetahuan seseorang (Budiman, 2013).

d. Lingkungan

Lingkungkan adalah segala sesuatu yang ada disekitar individu,

baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan

berpengaruh terhadap proses masuknya pengetahuan ke dalam

individu yang berada dalam lingkunagan tersebut. Hal ini terjadi

karena adanya interaksi timbal balik ataupun tidak, yang akan

direspon sebagai pengetahuan oleh setip individu (Budiman, 2013).

e. Pengalaman

Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu cara untuk

memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengualang

28
29

kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah

yang dihadapi masa lalu (Budiman, 2013).

f. Usia

Usia memengaruhi daya tangkap dan poal pikir seseorang. Semakin

bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan

pola pikirnya sehingg pengetahuan yang diperoleh semakin

membaik (Budiman, 2013).

4. Tahapan Pengetahuan

Tahapan pengetahuan menurut Benjamin S. Bloom ( 1956) dalam

Budiman, (2013) ada enam tahapan, yaitu sebagai berikut.

a. Tahu (know)

Berisikan kemempuan untuk mengen dan mengingat peristilahan,

definisi, fakta - fakta, gagasan pola, urutan, metodeologi, dan

sebagainya. Misalnya ketika perawat diminta menjelaskan tentang

imunisasi campak, orang pada tahap inni dapat menguraikan

dengan baik dari definisi campak, manfaat imunisasi campak,

waktu yang tepat pemberian campak, dan sebagainya.

b. Memahami (comprehension)

Memehami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan

secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat

mempresentasikan materi tersebut secara benar.

29
30

c. Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi

tersebut secara benar.

d. Analisa (analysis)

Analisa adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu

objek ke dalam komponen - komponen, tetapi masih di dalam satu

organisasi, dan ada kaitanya satu sama lain.

e. Sintetis (synthesis)

Sintesis merujuk pada suatu kemampuan untuk meletakan atau

menghubungakan bagian - bagian di dalam suatu bentuk

keseluruhan yang baru.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan melakuakan justifikasi atau

penilaian terhadap suatu mateei atau objek.

5. Cara Memperoleh Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2010), cara memperoleh pengetahuan antara

lain :

a. Cara Memperoleh Kebenaran Nonilmiah

1) Cara coba salah (Trial and Error)

30
31

Cara memperoleh kebenaran non ilmiah, yang pernah

digunakan oleh manusia dalam memperoleh pengetahuan

adalah melalui cara coba - coba atau “trial and error”. cara

coba -coba ini dilakukan dengan menggunakan beberapa

kemungkinan dalam memecahkan masalah, dan apabila

kemungkinan itu tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang

lain. Apabila kemungkinan kedua gagal pula, maka dicoba

dengan kemungkianan yang ketiga, dan seterusnya, sampai

masalah tersebut dapat terpecahkan. Itulah sebabnya maka

cara ini disebut metode trial (coba) and error (gagal atau

salah) atau metode coba salah (coba - coba).

2) Secara Kebetulan

Penemuan kebenaran secara kebetulan terjadi karena tidak

disengaja oleh orang yang bersangkutan. Salah satu contoh

adalah penemuan enzim urease oleh summers pada tahun

1926. Pada suatu hari summers sedang bekerja dengan

ekstrak acetone, dan karena terburu-buru ingin bermain

tenis, maka esktrak acetone tersebut disimpan di dalam

kulkas. Keesokan harinya ketika ingin meneruskan

percobaannya, ternyata ekstrak acetone yang di simpan di

dalam kulkas tersebut timbul kristal-kristal yang kemudian

disebut enzim urease.

31
32

3) Cara kekuasaan atau Otoritas

Sumber pengetahuan tersebut dapat berupa pemimpiin -

pemimpin masyarakat baik formal maupun informal, para

pemuka agama, pemegang pemerintahan dan sebagainya.

Dengan kata lain, pengetahuan tersebut diperoleh

berdasarkan pada pemegang otoritas, yakni orang

mempunyai wibawa atau kekuasaan, baik tradisi, otoritas

pemerintahan, otoritas pemimpin agama, maupun ahli ilmu

pengetahuan.

4) Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Pengalaman adalah guru yang baik, demikian bunyi

pepatah. Oleh sebab itu pengalaman pribadi dapat

digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan.

5) Cara Akal Sehat (common sense)

Akal sehat atau common sense kadang kadang dapat

menemukan teori atau kebenaran. Sebelum ilmu

pendidikan berkembang, para orang tua zaman dahulu agar

anaknya mau menuruti nasihat orangtuanya, atau agr

anaknya disiplin menggunakan cara hukuman fisik bial

anaknya berbuat salah. Ternyata cara menghukum anak ini

sampai sekrang berkembang menjadi teori atau kebenaran,

32
33

bahwa hukuman adalah metode (meskipun bukan yang

paling baik) bagi pendidikan anak.

6) Kebenaran Melalui Wahyu

Ajaran dan norma agama adalah suatu kebenaran yang

diwahyukan dari tuhan melalui para nabi. Kebenaran ini

harus diterima dan diyakini oleh pengikut - pengikut agama

yang bersangkutan, terlepas dari apakah kebenaran tersebut

rasional atau tidak. Sebab kebnaran ini diterima oleh para

nabi adalah sebagai wahyu dan bukan karena hasil usaha

penalaran atau penyelidikan manusia.

7) Kebenaran secara Intuitif

Kebenaran secara intuitif diperoleh manusia secara cepat

sekali melalui proses diluar kesadaran dan tanpa melalui

proses penalaran atau berpikir. Kebenaran yang diperoleh

melalui intuitif sukar dipercaya karena kebenaran ini tidak

menggunakan cara - cara rasional dan sistematis.

Kebenaran ini diperoleh seseorang hanya berdasarkan

intuisi atau suara hati atau bisikan hati saja.

8) Melalui Jalan Pikir

Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia,

cara berfikir manusia pun ikut berkembang. Dari sini

33
34

manusia telah mampu menggunakan penalaranya dalam

memperoleh pengetahuanya.

9) Induksi

Induksi adalah proses penarikan kesimpulan yang dimulai

dari pernyataan - pernyataan khusus ke pernyataan -

pernyataan umum. Hal ini berarti dalam berpikir induksi

pembuatan kesimpulan tersebut berdasarkan pengalaman -

pengalaman empiris yang ditangkap indra. Kemudian

disimpulkan kedalam suatu konsep yang memungkinkan

seseorang untuk memahami suatu gejala.

10) Deduksi

Deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan -

pernyataan umum ke khusus. Aristoteles mengembangkan

cara berpikir deduksi ini kedalam suatu cara yang disebut

“ silogisme”. silogisme ini merupakan suatu bentuk

deduksi yang memungkinkan seseorang untuk dapat

mencapai kesimpulan yang lebih baik.

b. Cara Ilmiah dalam Memperoleh Pengetahuan

Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada

dewasa ini lebih sistematis, logis, dan ilmiah. Cara ini disebut

metode penelitian ilmiah, atau lebih populer disebut

metodeologi penelitian (research methodology). cara ini mula -

34
35

mula dikembangkan oleh Francis Bacom (1561 - 1626). Ia

adalah tokoh yang mengembangkan metode berpikir induktif.

Kemudian dilanjutkan oleh Deobold van Dallen.

6. Cara Mengukur Pengetahuan

Menurut skiner dalam Budiman (2013), bila seseorang mampu

menjawab mengenai materi tertentu baik secara lisan maupun tulisan,

maka dikatakan seseorang tersebut mengetahui bidang tersebut.

Sekumpulan jawaban yang diberikan tersebut dinamakan pengetahuan.

Pengukuran bobot pengetahuan seseorang ditetapkan menurut hal-hal

sebagai berikut.

1. Bobot I : tahap tahu dan pemahaman

2. Bobot II : tahap tahu, pemahaman, aplikasi, dan analisis.

3. Bobot III : tahap tahu, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesin dan

evaluasi

Pengukuran dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang

menanyakan tentang isi materi yang diukur dari subjek penelitian atau

responden. Dalam mengukur pengetahuan harus diperhatikan rumusan

kalimat pertanyaan menurut tahapan pengetahuan.

Arikunto (2006) dalam Budiman (2013) membuat kategori tingkat

pengetahuan seseorang menjadi tiga tingkatan yang didasarkan pada nilai

presentase yaitu sebagai berikut.

a. Tingkat pengetahuan kategori baik jika nilainya > 75%.

35
36

b. Tingkat pengetahuan kategori cukup jika nilainya 56-74%.

c. Tingkat pengetahuan kategori kurang jika nilainya < 55%.

Dalam membuat kategori tingkat pengetahuan bisa juga dikelompokkan

menjadi dua kelompok jika yang diteliti masyarakat umum, yaitu

sebagai berikut :

a. Tingkat pengetahuan kategori baik jika nilainya > 50%.

b. Tingkat pengetahuan kategori kurang baik jika nilainya < 50%.

Namun, jika yang diteliti respondennya petugas kesehatan, maka

persentasenya akan berbeda.

a. Tingkat pengetahuan kategori baik jika nilainya > 75%.

b. Tingkat pengetahuan kategori kurang baik jika nilainya < 75%.

D. KONSEP DASAR SIKAP

1. Definisi Sikap

Sikap adalah pernyataan evaluatif terhadap objek, orang, atau

peristiwa (Stepan, 2007). Pengertian lain dari sikap menurut Notoatmodjo

(2007) adalah reaksi atau respon yang masih tertutup terhadap stimulus

atau objek. Sedangkan menurut Fishbien dan Ajzen (1975) sikap adalah

suatupredisposisi yang di pelajari untuk merespon secara positif atau

negatif terhadap suatu objek.

Azwar (1995) menyatakan sikap dikategorikan menjadi tiga orientasi

pemikiran yaitu berorientasi pada respon, berorientasi pada kesiapan

36
37

respon, dan berorientasi pada skema triadik. Sikap berorientasi pada

respon adalah perasaan mendukung atau memihak (favourable) atau tidak

memihak (unfavourable) pada suatu objek. Sikap orietasi pada kesiapan

respon adalah kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara -

cara tertentu (Budiman, 2013)

2. Komponen Sikap

Sruktur sikap terdiri atas 3 komponen menurut Azwar (2000) dalam

Wawan,( 2011) yang saling menunjang yaitu :

a. Komponen Kognitif

Komponen kognitif adalah reprensentasi apa yang dipercayai oleh

individu pemilik sikap, komponen kognitif berisi kepercayaan

stereotip yang dimiliki individu mengenai sesuatu.

b. Komponen Afektif

Perasaan yang menyangkut aspek emosional. Aspek emosional inilah

yang biasanya berakar paling dalam sebagai komponen sikap.

Komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki

seseorang terhadap sesuatu.

c. Komponen Konotatif

Aspek kecendrungan berperilaku tertentu sesuai dengan sikap yang

dimiliki seseorang. Dan berisi terdensi atau kecenderungan untuk

bertindak / bereaksi terhadap sesuatu dengan cara - cara tertentu.

37
38

3. Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Sikap

Faktor - faktor mempengaruhi pembentukan sikap menurut anwar

(wawan, 2011) antara lain:

a. Pengalaman Pribadi

Pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat. Maka

sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi

tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional.

b. Orang Lain

Pada, umumnya, individu cenderung memiliki sikap yang

komfortis atau searah dengan sikap orang yang dianggap penting.

c. Kebudayaan

Tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan garis pengarah

sikap kita terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah memberi

corak pengalaman individu - individu masyarakat asuhnya.

d. Madia Massa

Dalam menyampaikan pemberitaan seharusnya faktual

disampaikan secara obyeksi canderung dipengaruhi oleh sikap

penulisnya, akibat berpengaruh terhadap sikap konsumenya.

e. Lembaga Pendidikan dan Lembaga Agama

38
39

Konsep moral dan ajaran dari lembaga pendidikan dan lembaga

agama sangat menentukan sistem kepercayaan, tidaklah heran jika

tersebut mempengaruhi sikap.

f. Faktor Emosional

Kadang kala, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang

didasari emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran

frustrasi atau penglihatan bentuk mekanisme pertahanan ego.

4. Tahapan Sikap

Dalam taksonomi Bloom (1956) dalam Budiman (2013) tahapan dominan

sikap adalah sebagai berikut.

a. Menerima

Tahap sikap menerima adalah kepekaan seseorang dalam menerima

rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada dirinya dalam

bentuk masalah, situasi, gejala, dan lain - lain. Recieving atau

attempting juga sering diberi pengertian sebagaiu kemampuan untuk

memperhatikan suatu kegiatan atau suatu objek. Pada tahap ini,

seseorang dibima agar mereka bersedia menerima nilai - nilai yang

diajarkan kepada mereka dan mau menggabungkan diri dalam nilai -

nilai tersebut atau mengidentifikasikan diri dengan nilai tersebut.

b. Menanggapi

39
40

Tahap sikap menangapi adalah kemampuan yang dimiliki oleh

seseorang untuk mengikutsertakan dirinya secara aktif dalam

fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadanya. Tahap ini lebih

tinggi daripada tahap menerima.

c. Menilai

Tahap sikap menilai adalah memberikan nilai atau memberikan

penghargaan terhadap suatu kegiatan atau objek sehingga apabila

kegiatan tersebut tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa

kerugian atau penyesalan. Menilai merupakan tingkat afektiif yang

lebih tinggi lagi dari pada menerima dan menanggapi.

Dalam kaitanya dengan perubahan perilaku, seseorang disini tidak

hanya mau menerima nilai yang diajarkan, tetapi mereka telah

berkemampuan untuk menilai konsep atau fenomena, yaitu baik atau

buruk. Bila suatu ajaran yang telah mampu mereka nilai dan mampu

untuk mengatakan “itu adalah baik”, maka hal ini berarti bahwa

seseorang telah menjalani proses penilaian. Nilai tersebut sudah

dicamkan (internalized) dalam dirinya. Dengan demikian, nilai

tersebut telah stabil dalam dirinya.

d. Mengelola

Tahap sikap mengelola adalah mempertemukan perbedaan nilai

sehingga terbentuk nilai baru yang universal, yang membawa pada

perbaikan umum. Mengatur atau mengorganisasikan merupakan

40
41

pengembangan dari nilai ke dalam satu sistem organisasi, termasuk

didalamnya hubungan satu nilai dengan nilai lainya, serta

pemantapan dan prioritas nilai yang telah dimilikinya.

e. Menghayati

Tahap sikap menghayati adalah keterpaduan semua sistem nilai yang

telah dimiliki oleh seeorang, yang mempengaruhi pola kepribadian

dan tingkah lakunya. Di sini proses internalisasi nilai telah

menempati tempat tertinggi dalam suatu hierarki. Nilai tersebut telah

tertanam secara konsisten pada sistemnya dan telah mempengaruhi

emosinya. Menghayati merupakan tingkat efektif tertinggi, karena

tahap sikap ini telah benar - benar bijaksana. Menghayati telah masuk

pada pemaknaan yang telah memiliki philosophy of life yang mapan.

5. Pengukuran Sikap

Menurut Azwar, 2002 pengukuran sikap dapat dilakukan dengan

menilai pernyataan sikap seseorang. Pernyataan sikap adalah rangkaian

kalimat yang mengatakan sesuatu objek sikap yang hendak diungkap.

Suatu skala sikap diusahakan berisi pernyataan favorable atau pernyataan

memihak atau positif dan tidak favorable atau peynyataan tidak

mendukung atau negatif dalam jumlah seimbang (Wawan, 2011).

Skala likert merupakan skala yang dapat dipergunakan untuk

mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang tentang suatu gejala

atau fenomena tertentu. Ada dua bentuk skala liket yaitu pernyataan

41
42

positif yang diberi skor : 5, 4, 3, 2, dan 1. Sementara pernyataan negatif

diberi skor : 1, 2, 3, 4, dan 5.

6. KERANGKA TEORI

Skema 2.1

Kerangka Teori

Faktor - faktor yang


mempengaruhi
pengetahuan :
1. Pendidikkan
2. Informasi dan
Media Massa
3. Sosial budaya dan
ekonomi
4. Lingkungan
Gambaran pengetahuan
5. Pengalaman dan sikap orang tua
6. Usia tentang kecacingan pada
anak prasekolah

Faktor - faktor yang


mempengaruhi sikap :
1. Pengalaman pribadi
2. Orang lain
3. Media massa
4. Lembaga
pendidikan dan
lembaga agama
5. Faktor emosional

42
43

Sumber : A, Wawan dan Dewi (2011)

43
44

BAB III

KERANGKA PEMIKIRAN

A. Kerangka Konsep

Skema 3.1

Kerangka Konsep

Pengetahuan dan Sikap orangtua tentang kecacingan


pada anak prasekolah

Infeksi kecacingan masih merupakan problem kesehatan yang terabaikan

di kalangan masyarakat, karena infeksi kecacingan kurang diperhatikan dan

penyakitnya bersifat kronis tanpa menimbulkan gejala klinis yang jelas serta

dampak yang ditimbulkannya baru terlihat dalam jangka panjang seperti

kekurangan gizi, gangguan tumbuh kembang dan gangguan kognitif pada

anak. Infeksi cacing terdapat luas di daerah yang beriklim tropis, terutama di

pedesaan, daerah kumuh, dan daerah yang padat penduduknya (Samarang,

2016).

Maka dari itu penelitian tentang pengetahuan dan sikap orang tua tentang

kecacingan pada anak prasekolah sangatlah penting untuk meningkatkan

kesehatan anak, agar mereka tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai

dengan tahapan umur mereka. Alasan ini yang mendorong peneliti tertarik

untuk melakukan penelitian yang berjudul “Gambaran Pengetahuan dan Sikap

Orangtua Tentang Kecacingan Pada Anak Prasekolah”

44
45

45
46

B. Definisi Operasional

Tabel 3.1

Variabel dan Operasional

Skala
No. Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur
Ukur

1. Karakteristik

Responden

a. Usia
Lamanya hidup Kuesioner / Membagikan 1. 17 - 25 Ratio

seorang yang di ukur angket kuisioner/ tahun

dari lahir sampai angket yang


2. 26 - 35
ulang tahun terakhir. berisikan data
tahun
umum klien
3. 36 - 45
mengenai usia
tahun

4. >45

tahun
47

b. Jenis Identitas responden Kuesioner / Membagikan 1. Laki - Nominal

Kelamin sesuai kondisi angket kuisioner/ laki

biologis dan fisiknya angket yang


2. Peremp
berisikan data
uan
umum klien

mengenai jenis

kelamin

c. Jenjang pendidikan Kuesioner / Membagikan 1. SD Ordinal

Pendidikan formal yang Angket kuisioner/


2. SMP
ditamatkan angket yang
3. SMA
responden sesuai berisikan data

ijazah terakhir. umum klien 4. SMK

mengenai 5. PT
pendidikan

d. Pekerjaan Suatu hubungan yang Kuesioner / Membagikan 1. PNS Nominal

melibatkan dua pihak Angket kuisioner/


2. Pegawai
antara peusahaan angket yang
Swasta
dengan para pekerja / berisikan data
3. Wiraswa
karyawan umum klien
sta
(wikipedia) mengenai

pekerjaan 4. Buruh

5. IRT
48

6. Dll.

2. Pengetahuan Hasil “ tahu” dan ini Kuesioner / Pengetahuan 1. Pengeta Ordinal

orang tua terjadi seolah orang Angket orang tua untuk huan

tentang melakukan menjawab baik

kecacingan pengindraan terhadap pertanyaan


2. Pengeta
pada anak suatu objek tertentu tentang
huan
(Notoadmodjo, 2010) kecacingan pada
cukup
anak, meliputi :
3. Pengeta
 Pengertian
huan
kecacingan
kurang

 Penyebab

Kecacingan

 Pengobatan

kecacingan

pada anak

 Dampak

kecacingan

pada anak

 Pencegahan

Kecacingan
49

3. Sikap remaja Sikap merupakan Kuesioner / Menjawab salah 1. Mendu Ordinal

tentang cara berpikir ( tegak, Angket satu dari pilihan kung

kecaingan teratur, atau jawaban yang


2. Tidak
pada anak. dipersiapkan untuk paling tepat,
mendu
bertindak) denagn memberi
kung
tanda memberi

tanda checklist

untuk jawaban

favorable :

 Sangat

setuju : 4

 Setuju : 3

 Tidak

setuju : 2

 Sangat tidak

setuju : 1

 Jawaban

unfavorable

 Sangat

setuju : 1
50

 Setuju : 2

 Tidak

setuju : 3

 Sangat tidak

setuju :4
BAB IV

METODEOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain Penelitian yang digunakan pada penelitian ini adlah metode

penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif dapat didefinisikan suatu penelitian

yang dilakukan untuk mendeskripsikan dan menggambarkan suatu fenomena

yang terjadi di dalam masyarakat (Notoatmodjo, 2010).

Penelitian deskriptif dilakukan terhadap sekumpulan objek yang biasanya

bertujuan untuk melihat gambaran fenomena (termasuk Kesehatan) yang

terjadi di dalam suatu populasi tertentu. Penelitian deskriptif digunakan untuk

membuat penilaian terhadap suatu kondisi di masa sekarang, kemudian

hasilnya digunakan untuk menyusun perencanaan perbaikan program tersebut.

Dalam bidang kesehatan masyarakat survei deskriptif digunakan untuk

menggambarkan masalah kesehatan sekelompok penduduk atau orang yang

tinggal di dalam komunitas tertentu (Notoatmdjo, 2010)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan sikap yang

terjadi di masyarakat, dan hasil penelitian ini dapat digunakan untuk dasar

penelitian selanjutnya. Penelitian ini dilakukan dengan penyebaran kuesioner

yang berisi pertanyaan terstruktur untuk mendapakan informasi yang

sebagaimana adanaya.

51
B. Waktu dan Tempat Penelitian

a) Waktu Penelitian

52
53

Penelitian ini dilaksanakan bertahap sesuai dengan kalender akademi.

Tabel 4.1

Waktu Penelitian

No. Tahap Kegiatan Waktu Pelaksanaan

1. Pembuatan Proposal 11 februari - 15 Marer 2019

2. Sidang Proposal 25 - 27 Maret 2019

3. Pengumpulan data 8 - 13 April 2019

4. Sidang Karya Ilmiah 22 - 30 April 2019

b) Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di salah satu TK Kemuning Bogor

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang di teliti

(Notoatmodjo, 2010). Pada penelitian ini populasi yang akan menjadi

sampel adalah orangtua murid di salah satu TK Kemuning Bogor

2. Sampel
54

Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh

populasi (Notoatmodjo, 2010). Pada penelitian ini yang menjadi sampel

adalah orantua murid di TK Kemuning Bogor. Dari setiap kelas akan

diambil sempel beberpa orangtua murid untuk mewakili setiap kelasnya.

a. Besar sampel minimal

Desain penelitian ini adalah deskriptif, sehingga untuk menentukan

besar sampel minimal menggunakan rumus sebagai berikut :

N
n
1  N (d ) 2

Keterangan :

n =besar sampel

N =Besar populasi

D = Tingakat kepercayaan / ketepatan yang diinginkan (0,1 atau

10%, atau 5% atau 1%) (Nodtoatmodjo, 2010)

Berdasarkan hal tersebut, dikarenakan peneliti belum

menemukan data yang valid dari peneliti sebelumnya tetang

gambaran pengetahuan dan sikap orangtua, rumus pun digunakan

dengan total populasi 64 orang


55

N
n
1  N (d ) 2
64
n
1  64(0,1) 2
64
n
1,64
n  39,02

Berdasarkan perhitungan diatas maka jumlah sampel sebanyak 39

orang. Untuk mencegah kesalahan , maka peneliti menambah 10%

dari jumlah sampel minimum menjadi 43 orang (Notoatmodjo,

2010)

b. Kriteria Sampel

Menurut Notoatmodjo (2010), agar karakteristik tidak menyimpang

perlu ditentukan kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria Inklusi

adalah ciri - ciri yang perlu dipenuhi setiap anggota populasi yang

dapat diambil sebagai sampai. Sedangkan kriteria eksklusi adalah

ciri - ciri anggota populasi yang tidak dapat diambil.

1) Kriteria inklusi

a) Orangtua murid Tk Kemunung Bogor anak berumur 3 - 6

tahun.

b) Orangtua yang dapat membaca membaca dan menulis.

c) Orangtua murid TK murid Kemuning yang bersedia

menjadi responden.
56

2) Kriteria eksklusi

a) Orantua murid TK Kemuning yang sakit saat pengambilan

data.

b) Orantua murid TK Kemuning berusia > 45tahun dan < 17

tahun.

c. Metode Pengambilan Sampel

Metode yang di unakan dalam penelitian ini adalah proporsi

random sampling, yaitu dengan caravpengambilan sampel yang

dikombinasikan dengan teknik lain yang berhubungan dengan

populasi yang berbeda (Notoatmodjo, 2010). maka dalam menetukan

anggota sampel, peneliti akan mengambi wakil dari tiap kelompok

yang ada dalam populasi yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah

anggota subjek yang ada dalam masing - masing anggota kelompok

tersebut. Cara pengambila sampel dilakukan dengan cara

membagikan kuesioner pada orang tua yang mengantar anaknya ke

kelas.

D. Pengumpulan Data

1. Instrumen Penelitian

a) Kuesioner
57

Penelitian ini menggunakan instrumen pengumpulan data berupa

kuesioner. kuesioner penelitian terdiri dari tiga bagian data

karakteristik responden, pertanyaan berkaitan tentang pengetahuan

tentang kecacingan dan sikap tentang kecacingan dengan pertanyaan

yang dibuat sendiri oleh peneliti yang mengacu pada konsep yang

telah duiraikan. Instrumen yang digunakan berupa :

1) Kuesioner A

Kuesioner yang berisi data karakteristik responden seperti nama

orangtua, umur, jenis kelamin. Pendidikan, dan pekerjaan.

2) Kuesioner B

Kuesioner B berisi pertanyaan pengetahuan orangtua tentang

kecacingan pada aak prasekolah sebanyak 20 pertanyaan.

Pertanyaan itu meliputi pengertian cacingan, penyebab

kecacingan, perjalanan penyakit kecacingan, ciri - ciri anak

kecacingan, komplikasi kecacingan, pengobatan dan pencegahan

cacingan.

3) Kuesioner C

Kuesioner C berisi 20 pertanyaan tentang sikap orangtua tentang

kecacingan pada anak prasekola mendukun dan tidak mendukung

b) Alat Tulis.
58

Alat tulis yang digunakan adalah pensil atau pulpen untuk mencatat

hasil pengumpulan data.

c) Komputer

Komputer digunakan untuk mengolah data dari responden.

2. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data diambil melaui pengisian kuesioner. Data yang

diperoleh berupa data primer,yaitu data yang langsung diambil dari

sumbernya yandiperoleh peneliti dari hasil pengukuran. Kuesioner

dibagikan kepada responden yang berisi pernyataan dimana responden

dimita untuk memilih salah satu jawaban dan menilai pernyataan dalam

bentuk pernyatan positif dan negatif.

3. Prosedur Penelitian

Dalam pengumpulan data, peneliti mengacu pada tahapan yang

ditetapkan dalam prosedur dibawah ini:

a. Membuat dan merancang proposal karya tulis ilmiah dan meminta

persetujuan pembimbing dan koordinator mata ajar.

b. Menyerahkan surat izin penelitian kepada pihak institusi.

c. Setelah mendapatkan izin dari pihak institusi, penelitian dimulai

dengan melakukan pendekatan dan memberikan penjelasan

kepada responden mengenai penelitianyang akan dilakukan.


59

d. Meminta persetujuan kepada calon responden untuk menjadi

responden.

e. Setelah responden setuju untuk menjadi responden, responden

mengisi informed consent kemudian dilakukan proses

pengambilan data, selama mengisi kuesioner peneliti memberikan

kesempatan pada responden untuk menjawab semua.

f. Bila pengisian kuesioner telah selesai, maka peneliti mengecek

kembali kuesioner yang telah diisi oleh responden untuk

selanjutnya dilakukan tahap pengolahan data dan dilanjutkan

dengan pembuatan laporan penelitian.

E. Pengolahan Data

Pengolahan data merupakan suatu proses untuk memperoleh data

ringkasan berdasarkan data mentah sehingga menghasilkan informasi yang

diperlukan. Pada bagian ini data yang telah terkumpul diolah dan

dianalisis melalui beberapa tahapan (Notoatmodjo, 2010).

a. Editing

Hasil wawancara, angket atau pengamatan dari lapangan harus

dilakukan penyuntingan (editing) terlebih dahulu. Secara umum

editing merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian

formulir atau kuesioner tersebut (Notoatmodjo, 2010). pada tahap ini

peneliti melakukan editing dengan memeriksa jawaban, kejelasan


60

penulisan, dan relevansi penulisan terkait pertanyaan dan pernyataan

di kuesioner. Hasil yang didapatkan semua pernyataan terisi lengkap

oleh responden.

b. Coding

Setelah semua kuesioner diedit atau disunting, selanjutnya dilakukan

peng”kodean” atau “coding”, yakni mengubah data berbentuk kalimat

atau huruf menjadi data angka atau bilangan. Koding atau pembetian

kode ini sangat berguna dalam memasukkan data (data entry)

(Notoatmojo, 2010).

c. Entry

Data entry adalah kegiatan mengisi kolom-kolom atau kotak-kotak

lembar kode atau kartu kode sesuai dengan jawaban masing-masing

pernyataan. Data, yakni jawaban-jawaban dari masing-masing

responden yang dalam bentuk “kode” (angka atau huruf)

dimasukkan ke dalam program atau “software” komputer

(Notoatmodjo, 2012). Peneliti menggunakan program komputer

Microsoft Excel untuk memasukkan dan mengolah data.

d. Cleaning

Pada tahap ini, apabila semua data dari setiap sumber data atau

responden selesai dimasukan, perlu dicek kembali untuk melihat

kemungkinan adanya kesalahan - kesalahan kode, ketidaklengkapan,


61

dan sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau

koreksi(Notoatmodjo, 2010).

4. Analisa Data

Analisa data yang digunakan yaitu univariat yang dilakukan terhadap

tiap variabel dari hasil penelitian. Dalam analisis ini didapatkan hasil

data dalam bentuk distribusi frekuensi dan presentase dari tiap variabel

(Notoatmodjo, 2010). Pada tahap ini peneliti menganalisa mengenai

pengetahuan dan karakteristik yang memperngaruhinya. Lalu hasil yang

didapat disajikan dalam bentuk presentase.

5. Interpretasi Data

Data diinterpretasikan dengan menggunakan skala menurut Arikunto

(2006) sebagai berikut :

a. 0% : tidak satupun

b. 1% - 25% : sebagian kecil

c. 26% - 49% : kurang dari setengahnya

d. 50% : setengahnya

e. 51% - 75% : lebih dari setengahnya

f. 76% - 99% : sebagian besar


62

g. 100% : seluruhnya.