Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN HASIL DISKUSI TUTORIAL BLOK 8 SISTEM STOMATOGNASI

MODUL 1

KELOMPOK 5

TUTOR : Drg. Ridha Syahri

VELYA APRO 1611411004

DINDA WIGATY RAHAJENG 1611411010

FIKA MELINDA PUTRI 1611411016

IZZAH DHIYAUL AUNI 1611411018

SARAH NABILA WIGUNA 1611411004

NAZIFA KHAIRUNNISA 1611412006

RAYHAN AGNA DANEO 1611412015

ALMIRA ULFA HARDA 1611413005

NAUFAL DELIHEFIAN 1611413009

RIKA IRMA YANTI 1611413011

ISWARA SARDI 1611413015

PENDIDIKAN DOKTER GIGI-FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG

2017
Modul 1

Oklusi

Skenario 1

Ohhh oklusi gigi… ya !!

Mahasiswa FKG semester awal melakukan praktikum mencetak maksilada dan


mandibular antara teman yang dibimbing oleh instruksi. Sebelum mereka melakukann
pencetakan mereka belajar tentang anatomi dan fisioligi rahang, gerakan fungsional
membuka dan menutup mulut.

Instruksi juga menjelaskan pada mereka tentag oklusi pada saat maksila dan
mandibular berkontak antara lain oklusi normal, overjet, overbite, dan free way space.

Instruksi juga menjelaskan ada kondisi saat menutup rahang atau dalam keadaan
istirahat yang disebut oklusi sentrik, relasi sentrik, oklusi fungsional. Walaupun masih agak
bingung, para mahasiswa semakin menarik mendalami anatomi rahang.

Bagaimana saudara menjelaskan kebingungan para mahasiswa tersebut ?

Langkah 1 : Mengklarifikasi terminology yang tidak diketahui dan medefenisikan hal –


hal yang dapat menimbulkan kesalahan interpretasi

 Oklusi : cara bagaimana gigi atas dan bawah berkontak satu sama lain baik saat
istirahat maupun mengunyah, oklusi merujuk pada bagaimana gigi saling bersentuhan
dan apakah selaras atau tidak.
 Overjet :jarak horizontal antara insisal edge incisivus rahang atas terhadap bidan
labial gigi incisive pertama rahang bawah.
 Overbite : overlap antara incisivus atas dengan inscisivus bawah dalam bidang
vertical
 Oklusi normal : suatu hubungan yang dapat diterima oleh gigi geligi pada rahang
yang sama dan rahang yang berlawanan, apabila gigi geligi dikontakkan dan condylus
berada dalam fossa glenoidale.
 Free way space : celah yang terdapat antara rahang atas dan rahang bawah dalam
keadaan istirahat
 Oklusi sentrik : hubungan kontak maksimal dari gigi rahang atas dan rahang bawah
waktu rahang bawah dalam keadaan relasi sentris
 Relasi sentrik : hubungan rahang bawah dangan rahang atas pada mana kepala sendi
atau condyle berada dalam keadaan paling dorsal dalam cekungan sendi atau glenoid
fossa tanpa mengurangi kebebasan untuk bergerak ke lateral.
 Oklusi fungsional : gerakan fungsional dari mandibular sehingga menyebabkan
kontak antara gigi geligi.

Langkah 2 : Menentukan masalah

1) Apa saja konsep dasar oklusi ?


2) Apa saja klasifikasi dari oklusi gigi ?
3) Apa saja kriteria dari oklusi normal ?
4) Apa faktor yang mempengaruhi oklusi ?
5) Apa saja hubunga maksila dengan mandibular ?
6) Apa saja faktor penyebab overbite dan overjet ?
7) Apa penyebab oklusi abnormal ?

Langkah 3 : Menganalisa masalah melalui brain storming dengan menggunakan prior


knowledge

1) Konsep dasar oklusi


a. Oklusi seimbang
oklusi seimbang (balanced occlusion) yang menyatakan suatu oklusi baik atau
normal, bila hubungan antara kontak geligi bawah dan geligi atas memberikan
tekanan yang seimbang pada kedua rahang, baik dalam kedudukan sentrik maupun
eksentrik.
b. Oklusi morfologis
oklusi morfologik (morphologic occlusion) yang penganutnya menilai baik-buruknya
oklusi melalui hubungan antar geligi bawah dengan lawannya dirahang atas pada saat
geligi tersebut berkontak.
c. Oklusi dinamis
oklusi dinamik/individual/fungsional (dinamic)/individual/functional occlusion).
Oklusi yang baik atau normal harus dilihat dari segi keserasian antara komponen-
komponen yang berperan dalam proses terjadinya kontak antar geligi tadi.
Komponen-komponen ini antara lain ialah geligi dan jaringan ini antara lain ialah
geligi dan jaringan penyangganya, otot-otot mastikasi dan sistem neuromuskularnya,
serta sendi temporo mandibula. Bila semua struktur tersebut berada dalam keadaan
sehat dan mampu menjalankan fungsinya dengan baik, maka oklusi tersebut dikatakan
normal.

2) Klasifikasi dari oklusi gigi


 Oklusi Ideal
merupakan konsep teoretis dari struktur oklusal dan hubungan fungsional yang
mencakup prinsip dan karakteristik ideal yang harus dimiliki suatu keadaan oklusi.
 Oklusi Normal
suatu kondisi oklusi yang berfungsi secara harmonis dengan proses metabolic untuk
mempertahankan struktur penyangga gigi dan rahang berada dalam keadaan sehat.
Oklusi gigi-geligi secara normal dapat dikelompokkan dalam 2 jenis, yaitu:
a. oklusi statik
merupakan hubungan gigi geligi rahang atas (RA) dan rahang bawah
(RB) dalam keadaan tertutup atau hubungan daerah kunyah gigi-geligi
dalam keadaan tidak berfungsi (statik
b. oklusi dinamik
merupakan hubungan antara gigi geligi RA dan RB pada saat
seseorang melakukan gerakan mandibula ke arah lateral (samping)
ataupun kedepan (antero-posterior).
c. Oklusi sentrik adalah posisi kontak maksimal dari gigi geligi pada
waktu mandibula dalam keadaan sentrik, yaitu kedua kondisi berada
dalam posisi bilateral simetris di dalam fossanya
 Berdasarkan angle, terdiri dari :
1. Klas I
Klas I maloklusi menurut Angle dikarakteristikkan dengan adanya hubungan
normal antar-lengkung rahang. Cusp mesio-buccal dari molar permanen
pertama maksila beroklusi pada groove buccal dari molar permanen pertama
mandibular.
2. Klas II
Klas II maloklusi menurut Angle dikarakteristikkan dengan hubungan molar
dimana cusp disto-buccal dari molar permanen pertama maksila beroklusi
pada groove buccal molar permanen pertama mandibula.
3. Klas III
Maloklusi ini menunjukkan hubungan molar Klas III dengan cusp mesio-
buccal dari molar permanen pertama maksila beroklusi pada interdental antara
molar pertama dan molar kedua mandibula.

3) Kriteria dari oklusi normal


 Susunan gigi dalam lengkung teratur dengan baik
 Kontak proksimal dan marginal ridge baik
 Kurva spee yang ideal
 Hubungan serasi antara gigi geligi rahang atas dan rahang bawah
 Hubungan yang baik antara gigi geligi, otot, sendi tmj.

4) Faktor yang mempengaruhi oklusi


 Variasi genetik
 Perkembangan gigi geligi secara acak
 Adanya gigi geligi yang supernumerary
 Ototmotot dan jaringan sekitar rongga mulut
 Kebiasaan
 Trauma
 Sistem neuromuscular

5) Hubunga maksila dengan mandibular


1. Relasi sentrik merupakan hubungan mandibula terhadap maksila, yang menunjukkan
posisi mandibula terletak 1-2 mm lebih kebelakang dari oklusi sentris (mandibula
terletak paling posterior dari maksila) atau kondil terletak paling distal dari fossa
glenoid, tetapi masih dimungkinkan adanya gerakan dalam arah lateral. Pada keadaan
kontak ini gigi-geligi dalam keadaanIntercuspal Contact Position (ICP) atau dapat
dikatakan bahwa ICP berada pada posisi RCP.
2. Jarak Inter-Oklusal (Psycological Rest Position) yaitu jarak antara oklusal premolar
RA dan RB dalam keadaan istirahat, rileks dan posisi tegak lurus. Pada keadaan ini
otot-otot pengunyahan dalam keadaan istirahat, hal ini menunjukkan otot-otot
kelompok elevator dan depressor tonus adan kontraksinya dalam keadaan seimbang,
dam kondil dalam keadaan netral atau tidak tegang. Posisi ini dianggap konstan untuk
setiap individu.

6) Faktor penyebab overbite dan overjet


1. overjet
 Ketidak sesusian geraham
 Ketidaksesuaian tulang atas dan bawah yaitu karena
overdevelop ataurahang terlalu kebelakang
 Gigi seri atas flare
 Karena menghisap ibu jari atau karena dorongan lidah
2. Overbite :
 Karena jumlah erupsi gigi depan tidak profersional

7) Penyebab oklusi abnormal


 Karena herediter
 Perkembangan abnormal yang tidak diketahui penyebabnya
 Trauma
 Kebiasaan (kebiasaan menghisap jempol atau jari )
 Kehilangan gigi posterior yang tidak cepat diatasi
Langkah 4. Membuat skema atau diagram dari komponen-komponen permasalahan

Mahasiswa FKG

Praktikum mencetak

Oklusi

Factor yang
Konsep dasar Klasifikasi oklusi
mempengaruhi

Oklusi normal Berdasarkan angle normal

overbite

overjet statik Dinamik/fungsion


al
Free way space

Relasi statik Oklusi statik


Kriteria oklusi normal

Langkah 5. Memformulasikan tujuan pembelajaran

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan konsep dasar oklusi normal ( kriteria,
overjet, overbite, free way space).
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan klasifikasi oklusi.
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan factor yang mempengaruhi oklusi.

Langkah 6. Mengumpulkan informasi di perpustakaan, internet, dan lain lain

1. Konsep dasar oklusi normal ( kriteria, overjet, overbite, free way space)
Oklusi adalah perubahan hubungan permukaan gigi geligi pada maksila dan
mandibula, yang terjadi selama pergerakan mandibula dan berakhir dengan kontak penuh dari
gigi geligi pada kedua rahang. Oklusi terjadi karena adanya interaksi antara dental system,
skeletal system dan muscular system. Oklusi gigi geligi bukanlah merupakan keadaan yang
statis selama mandibula bergerak, sehingga ada bermacam-macam bentuk oklusi, misalnya :
sentrik, eksentrik, habitual, supra-infra, mesial distal, lingual. dsb. Dikenal dua macam istilah
oklusi yaitu :
1. Oklusi ideal adalah merupakan suatu konsep teoritis oklusi yang sukar atau bahkan tidak
mungkin terdapat pada manusia.
2. Oklusi normal adalah suatu hubungan yang dapat diterima oleh gigi geligi pada rahang sama
dan rahang yang berlawanan, apabila gigi dikontakan dan kondilus berada dalam fosa
glenoidea.
Menurut Andrew yang dikutip oleh Bisara, terdapat enam kunci oklusi normal, sebagai
berikut:
1. Relasi molar menujukkan tonjol mesiobukal molar pertama rahang atas beroklusi dalam
celah antara mesial dan sentral dari molar pertama rahang bawah.
2. Angulasi mahkota yang benar.
3. Inklinasi mahkota menjamin dari keseimbangan maloklusi.
4. Inklinasi mahkota menjamin dari keseimbangan oklusi.
5. Tidak ada rotasi gigi.
6. Tidak ada celah diantara gigi geligi.

Kriteria oklusi yang baik


1. kedua lengkung gigi yang utuh dengan titik kontak yang tepat dan kontur permuaan
oklusal yang baik untuk melakukan fungsinya.
2. Bentuk dan susunan akar dapat menahan tekanan oklusal.
3. Posisi istirahat yang stabil dengan seal bibir yang baik.
4. Jarak antara oklusal 2-4 mm antara posisi istirahat dan posisi interkuspa.
5. Oklusi bilateral dan bergantian antara semua gigi-gigi pada lengkungan maksila dan
mandibular pada posisi interkuspa. Tidak ada kontak defleksi.
6. Oklusi bilateral dan bergantian pada kurva retrusi antara satu atau beberapa gigi-gigi
posterior yang mempunyai antagonis.
7. Oklusi tonjol fosa dan tonjol lingir mempunyai kontak tripod bila memungkinkan.
8. Setiap gigi dapat kembali ke posisi semula apabila tekanan oklusal ditiadakan.
9. Artikulasi antara posisi retrusi dan interkuspa bebas dari semua interferensi yang
mengakibatkan defleksi lateral.
10. Overlap vertical dan horizontal yang stabil.
11. Gerakan artikulasi pada kondisi rongga mulut yang kosong bebas dari kontak defleksi.
Dari aspek sejarah perkembangannya, dikenal tiga konsep dasar oklusi yang sejauh ini
diajarkan dalam pendidikan kedokteran gigi.
Pertama, konsep oklusi seimbang (balanced occlusion) yang menyatakan suatu oklusi baik
atau normal, bila hubungan antara kontak geligi bawah dan geligi atas memberikan tekanan
yang seimbang pada kedua rahang, baik dalam kedudukan sentrik maupun eksentrik.
Kedua, konsep oklusi morfologik (morphologic occlusion) yang penganutnya menilai baik-
buruknya oklusi melalui hubungan antar geligi bawah dengan lawannya dirahang atas pada
saat geligi tersebut berkontak.
Ketiga, konsep oklusi dinamik/individual/fungsional (dinamic)/individual/functional
occlusion). Oklusi yang baik atau normal harus dilihat dari segi keserasian antara komponen-
komponen yang berperan dalam proses terjadinya kontak antar geligi tadi. Komponen-
komponen ini antara lain ialah geligi dan jaringan ini antara lain ialah geligi dan jaringan
penyangganya, otot-otot mastikasi dan sistem neuromuskularnya, serta sendi temporo
mandibula. Bila semua struktur tersebut berada dalam keadaan sehat dan mampu
menjalankan fungsinya dengan baik, maka oklusi tersebut dikatakan normal.

 Hubungan rahang atas dan rahang bawah gigi anterior :

jarak gigit (overjet) : jarak horizontal antara insisal edge gigi incisivus rahang atas terhadap
bidang labial gigi incisivus rahang bawah.

tinggi gigit (overbite) : jarak vertical antara insisal edge rahang bawah sampai insisal edge
rahang atas.
 Pengertian relasi vertikal : Jarak vertical rahang atas dan rahang bawah yang dapat
memberikan ekspresi normal pada wajah seseorang. Relasi vertikal ada dua, yaitu :
1. Relasi vertikal posisi istirahat : adalah suatu hubungan rahang atas dimana otototot
membuka dan menutup mulut dalam keadaan seimbang. Relasi vertikal ini diukur pada waktu
rahang bawah dalam keadaan istirahat fisiologis.
2. Relasi vertikal oklusi : adalah suatu hubungan rahang bawah terhadap rahangatas, gigi
geligi atau oklusal rim dioklusikan. Relasi vertikal ini diukur sewaktu gigi dalam oklusi
sentrik. Selisih antara relasi vertikal posisi istirahat dengan relasi vertikal oklusi disebut
dengan FREE WAY SPACE yang dlam keadaan normal berkisar antara 2-4 mm. Yang
dimaksud dengan FREE WAY SPACE adalah celah yang terdapat antara rahang atas dan
rahang bawah dalam keadaan istirahat yang merupakan selisih antara relasi vertikal istirahat
dan relasi vertical oklusi.

2. Klasifikasi oklusi

a. Oklusi normal
Suatu hubungan yang dapat diterima oleh gigi geligi pada rahang yang sama dan rahang
berlawanan, apabila gigi dikontakkan, condylus berada dalam fossa glenoidale. Oklusi gigi
secara normal dikelompokkan menjadi dua jenis :
 Oklusi statik
Hubungan gigi geligi rahang atas dan rahang bawah dalam keadaan tertutup atau hubungan
daerah kunyah gigi geligi dalam keadaan tidak berfungsi (statik).

 Oklusi dinamik
Hubungan antara gigi rahang atas dan rahang bawah saat seseorang melakukan gerakan
mandibula kearah lateral, ataupun kearah anterior dan posterior. Oklusi dinamik timbul akibat
gerakan mandibula ke lateral, kedepan (anterior) dan kebelakang (posterior). Oklusi yang
terjadi karena pergerakan mandibula ini sering disebut artikulasi. Pada gerakan ke lateral
akan ditemukan sisi kerja (working side) yang ditunjukan dengan adanya kontak antara cusp
bukal RA dan cusp molar RB; dan sisi keseimbangan (balancing side). Working side dalam
oklusi dinamik digunakan sebagai panduan oklusi (oklusal guidance), bukan pada balancing
side.

Kontak gigi geligi karena gerakan mandibula dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

a. Intercupal contact postion (ICP)


kontak maksimal gigi geligi dengan antagonisnya

b Returded contact position (RCP)


kontak maksimal gigi geligi pada saat mandibula lebih ke posterior dari ICP,
namun rahang bawah masih mampu bergerak secara terbatas ke lateral
c Protursif contact position (PCP)
kontak gigi geligi anterior pada saat rahang bawah digerakkan ke anterior
d Working side contact position (WSCP)
kontak gigi geligi pada saat rahang bawah ke lateral

Selain klasifikasi diatas, secara umum pola oklusi akibat gerakan RB dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :

 Bilateral balanced occlusion, bila gigi geligi posterior pada kerja dan sisi
keseimbangn,keduanya dalam keadaan kontak;
 Unilateral balanced occlusion. Bila gigi geligi posterior pada sisi kerja kontak dan sisi
keseimbangan tidak kontak;
 Mutually protected occlusion. Dijumpai kontak ringan pada gigi geligi anterior,
sedang pada gigi posterior tidak kontak;
 Tidak dapat ditetapkan, bila tidak dapat dikelompokkan dalam klasifikasi diatas.

b. Berdasarkan angle
 Klas I

Klas I maloklusi menurut Angle dikarakteristikkan dengan adanya hubungan normal


antar-lengkung rahang. Cusp mesio-buccal dari molar permanen pertama maksila
beroklusi pada groove buccal dari molar permanen pertama mandibula. Pasien dapat
menunjukkan ketidakteraturan pada giginya, seperti crowding, spacing, rotasi, dan
sebagainya. Maloklusi lain yang sering dikategorikan ke dalam Klas I adalah bimaxilary
protusion dimana pasien menunjukkan hubungan molar Klas I yang normal namun gigi-
geligi baik pada rahang atas maupun rahang bawah terletak lebih ke depan terhadap profil
muka.

 Klas II

Klas II maloklusi menurut Angle dikarakteristikkan dengan hubungan molar dimana cusp
disto-buccal dari molar permanen pertama maksila beroklusi pada groove buccal molar
permanen pertama mandibula.

 Klas II, divisi 1.


Klas II divisi 1 dikarakteristikkan dengan proklinasi insisiv maksila dengan
hasil meningkatnya overjet. Overbite yang dalam dapat terjadi pada region
anterior. Tampilan karakteristik dari maloklusi ini adalah adanya aktivitas otot
yang abnormal.
 Klas II, divisi 2.
Seperti pada maloklusi divisi 1, divisi 2 juga menunjukkan hubungan molar
Klas II. Tampilan klasik dari maloklusi ini adalah adanya insisiv sentral
maksila yang berinklinasi ke lingual sehingga insisiv lateral yang lebih ke
labial daripada insisiv sentral. Pasien menunjukkan overbite yang dalam pada
anterior.
 Klas III

Maloklusi ini menunjukkan hubungan molar Klas III dengan cusp mesio-buccal dari
molar permanen pertama maksila beroklusi pada interdental antara molar pertama dan
molar kedua mandibula.

 True Class III


Maloklusi ini merupakan maloklusi skeletal Klas III yang dikarenakan genetic yang
dapat disebabkan karena :
· Mandibula yang sangat besar.
· Mandibula yang terletak lebih ke depan.
· Maksila yang lebih kecil daripada normal.
· Maksila yang retroposisi.
· Kombinasi penyebab diatas.
 Pseudo Class III
Tipe maloklusi ini dihasilkan dengan pergerakan ke depan dari mandibula ketika
rahang menutup, karenya maloklusi ini juga disebut dengan maloklusi ‘habitual’ Klas
III. Beberapa penyebab terjadinya maloklusi Klas III adalah :
· Adanya premature kontak yang menyebabkan mandibula bergerak ke depan.
· Ketika terjadi kehilangan gigi desidui posterior dini, anak cenderung
menggerakkan mandibula ke depan untuk mendapatkan kontak pada region
anterior.
 Klas III, subdivisi
Merupakan kondisi yang dikarakteristikkan dengan hubungan molar Klas III pada
satu sisi dan hubungan molar Klas I di sisi lain.

3. Factor yang mempengaruhi oklusi

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan oklusi dibagi menjadi dua kelompok yaitu :
1. faktor lokal

Merupakan faktoy yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan oklusi antara lain
posisi perkembangan gigi yang berjejal (crowded), gigi supernumerary dan hipodonsia.

2. faktor umum.

Factor umum terdiri dari dari faktor skeletal, faktor otot dan faktor dental. Hubungan skeletal
merupakan hubungan antero-posterior dari bagian basal rahang bawah dan rahang atas
dengan gigi-gigi pada keadaan oklusi. Klasifikasi hubungan skeletal dibagi menjadi tiga,
yaitu klas I, klas II dan klas III skeletal

Oklusi pada masing-masing individu tidaklah sama. Faktor-faktor yang mempengaruhi oklusi
gigi manusia antara lain:
 Trauma
Variasi genetic
Genetik merupakan faktor yang penting dalam menentukan ukuran dan bentuk rahang gigi.
Arya (1973), dan Hue (1991) menunjukkan bahwa faktor genetik berperan pada dimensi
lebar, panjang, dan keliling lengkung gigi.
Kebiasaan
Lingkungan Faktor lingkungannya termasuk kebiasaan oral, malnutrisi dan fisik. Kebiasaan
Oral Kebiasaan oral yang mempengaruhi lengkung gigi antara lain menghisap ibu jari atau
jari-jari tangan, menghisap dot, bernafas melalui mulut, dan penjuluran lidah.
Malnutrisi
Nutrisi yang baik adalah penting pada waktu remaja untuk memperoleh pertumbuhan oral
yang baik. Malnutrisi dapat mempengaruhi ukuran bagian badan, sehingga terjadi
perbandingan bagian yang berbeda-beda dan kualitasjaringan yang berbeda-beda seperti
kualitas gigi dan tulang. Adanya malnutrisi dapat berakibat langsung pada organ-organ tubuh.
Fisik Perubahan dalam kebiasaan diet seperti tekstur makanan yang lebih halus menyebabkan
penggunaan otot pengunyahan dan gigi berkurang. Akibat pengurangan pengunyahan akan
menyebabkan perubahan pada perkembangan fasial sehingga maksila menjadi lebih sempit.
DAFTAR PUSTAKA

Thomson, Hamish. 2007.oklusi.Edisi 2. Jakarta : EGC

Putz, R dan Pabst, R. 2000. Sobotta . Edisi 21. Jakarta : EGC

Foster, T. D. 1997. Buku Ajar ORTODONTI. Edisi III. Jakarta : EGC