Anda di halaman 1dari 47

Kekerasan Seksual

(Laporan Kasus)

Oleh:
Indrani Nur Winarno Putri (1618012068)
Sayyidatun Nisa (1618012154)
Serafina Subagio (1618012068)
Teguh Dwi Wicaksono (1618012135)

Preseptor:
dr. Muhammad Galih Irianto., Sp.F

ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL


RSUD Dr. Hi. ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2018

1
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat
dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Kasus dengan judul
“Kekerasan Seksual” sebagai rangkaian kegiatan Kepaniteraan Klinik di SMF
Forensik RSUD Dr. Abdoel Moeloek Bandar Lampung.

Dengan ketulusan hati penulis juga ingin menyampaikan rasa terima kasih dr. M.
Galih I, Sp.F selaku dosen pembimbing di bagian Forensik, atas semua bantuan
dan kesabarannya membimbing penulis sehingga penulis dapat menjalani
kepaniteraan klinik di bagian Forensik RSUD Dr. Abdoel Moeloek Bandar
Lampung.

Penulis menyadari bahwa Laporan Kasus ini tentu tidak terlepas dari kekurangan
karena keterbatasan waktu, tenaga, dan pengetahuan penulis. Maka sangat
diperlukan masukan dan saran yang membangun. Semoga Laporan Kasus ini
dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Bandar Lampung, Agustus 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI

Daftar Isi

BAB 1 Pendahuluan ..................................................................................................... 4

BAB 2 Visum et Repertum .......................................................................................... 6

BAB 3 Tinjauan Pustaka ............................................................................................. 10

BAB 4 Pembahasan .................................................................................................... 39

BAB 5 Kesimpulan ..................................................................................................... 41

Daftar Pustaka

3
BAB I
PENDAHULUAN

Tindak kekerasan seksual merupakan kejahatan yang cukup sering dijumpai saat
ini dan mendapat perhatian khusus di masyarakat. Banyak pemberitaan di media
massa baik cetak maupun elektronik memberitakan perihal kejadian kekerasan
seksual. Tindak kekerasan seksual sebenarnya merupakan tindak kejahatan klasik
karena dalam sejarah perkembangannya, tindak kejahatan seksual memang telah
ada sejak dahulu, namun bentuk-bentuknya berkembang mengikuti perkembangan
zaman yang ada dan kebudayaan manusia.

Bentuk kejahatan/kekerasan seksual yang sering diberitakan contohnya adalah


pemerkosaan yang sejak dahulu telah ada dan akan selalu ada dan berkembang
setiap saat walaupun mungkin tidak terlalu berbeda jauh dengan sebelumnya.
Kekerasan seksual tidak hanya terjadi di kota-kota besar yangpenduduknya
dianggap relatif lebih maju dalam hal kebudayaan dan kesadaran atau
pengetahuan akan hukum, tapi juga terjadi di pedesaan dimana penduduknya
masih lebih memegang nilai-nilai tradisi dan adat istiadat.(1,2,3) Maka dari itu,
pengertian dan pembedaan antara bentuk-bentuk kekerasan seksual seyogyanya
perlu untuk dikenali bahkan dipahami.

Perlakuan kejahatan/kekerasan seksual ini dalam perjalanannya dapat dan perlu


dibuktikan secara hukum sebagai suatu tindak pidana yang mampu menjerat
pelakunya. Di dalam upaya membuktikan tindak kejahatan seksual tersebut, maka
salah satunya dibutuhkan pembuktian secara ilmiah melalui kedokteran
forensik.Namun demikian, adapun beberapa hal yang bisa saja menjadi
penghambat proses pembuktian ini contohnya; faktor keterbatasan di dalam ilmu

4
kedokteran, faktor waktu, faktor keaslian dari barang bukti (korban), maupun
faktor-faktor dari pelaku kejahatan seksual itu sendiri.

Pemeriksaan kasus-kasus persetubuhan/ perlakuan kekerasan seksual lainnya yang


merupakan tindak pidana ini, hendaknya dilakukan dengan teliti dan waspada.
Visum et Repertum yang dihasilkan mungkin menjadi dasar untuk membebaskan
terdakwa dari penuntutan atau sebaliknya untuk menjatuhkan hukuman. Di
Indonesia, pemeriksaan korban persetubuhan yang diduga merupakan tindak
kejahatan seksual umumnya dilakukan oleh dokter ahli Ilmu Kebidanan dan
Penyakit Kandungan, kecuali di tempat yang tidak ada dokter ahli tersebut, maka
pemeriksaan harus dilakukan oleh dokter umum.(2,3)

5
BAB II

VISUM ET REPERTUM

Visum Et Repertum nomor : 357 / / 4.13 / I / 2018

Halaman pertama dari dua halaman

PEMERINTAH PROPINSI LAMPUNG

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. H. ABDUL MOELOEK

Jl. Dr. Riva’i No. 6 Telp. 0721-703312 Fax. 703952

BANDAR LAMPUNG

Nomor : 357/ / 4.13 / I / 2018 Bandar Lampung, 24


Juli 2018

Lamp :

Perihal : Hasil pemeriksaan kejahatan susila

Atas Nama M

PRO JUSTITIA

VISUM ET REPERTUM

Yang bertanda tangan di bawah ini…………, dokter Spesialis Forensik


pada Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung, atas
permintaan tertulis dari…… pangkat…. NRP…., jabatan,…, atas nama Kepala
Kepolisian Daerah Lampung, dengan suratnya nomor : LP/ B/ VII / 2018 / LPG /

6
RESTABALAM/ SEK TKT, tertanggal dua puluh empat Juli tahun dua ribu
delapan belas. Maka dengan ini menerangkan bahwa pada tanggal dua puluh
enam Juli tahun dua ribu delapan belas, bertempat di Ruang Forensik RSUD dr.
H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung, telah melakukan pemeriksaan korban
dengan nomor registrasi…., dengan identitas yang menurut surat permintaan
tersebut adalah---------------------------------------------------------------------------------

Nama : M J S -------------------------------------------------------
Jenis Kelamin : Laki-laki----------------------------------------------------
Tempat Tanggal Lahir : Tanjung Karang / 19 November 2008------------------
Pekerjaan : Pelajar------------------------------------------------------
Warga Negara : Indonesia---------------------------------------------------
A g a m a : Islam--------------------------------------------------------
Alamat : Jl. P. Antasari no. 44 Kel Tanjung Baru Kec.
Kedamaian Bandar Lampung----------------------------

Korban datang diantar oleh ibu kandung korban dalam keadaan sadar, dengan
keadaan umum baik. Korban telah mengalami persetubuhan sesama jenis oleh
satu orang yang di kenal pada bulan Juli tahun dua ribu delapan belas, di belakang
rumah pelaku, Kedamaian Bandar Lampung----------------------------------------------

HASIL PEMERIKSAAN : ----------------------------------------------------------------

1. Penampilan umum: emosi stabil, afek negatif, waham negatif, semua jawaban
dijawab sesuai pertanyaan--------------------------------------------------------------
2. Penampilan fisik: pasien menggunakan kaos berkerah polo T-shirt berwarna
hitam dan jeans tanpa ada sobekan----------------------------------------------------
3. Penampilan korban baik dan kooperatif dalam pemeriksaan.---------------------
4. Gigi Geligi berjumlah dua puluh dan masih utuh-----------------------------------
5. Luka luka : tidak ditemukan luka-luka akibat trauma tajam dan tumpul pada
seluruh tubuh-----------------------------------------------------------------------------
6. Rambut kemaluan belum tumbuh-----------------------------------------------------
7. Pada pemeriksaan colok dubur, otot anus normal, tidak melebar dan tidak
ditemukan luka akibat trauma tajam dan tumpul------------------------------------
8. Zakar belum disunat---------------------------------------------------------------------

7
KESIMPULAN : --------------------------------------------------------------------------

Pada pemeriksaan seorang korban laki-laki berumur kurang lebih


Sembilan tahun ini tidak ditemukan luka-luka akibat trauma tajam dan tumpul
pada seluruh tubuh, pada pemeriksaan colok dubur, otot anus normal, tidak
melebar dan tidak ditemukan luka akibat trauma tajam dan tumpul-------------------

Demikian Visum Et Repertum ini dibuat dengan sebenar - benarnya dengan


menggunakan keilmuan saya yang sebaik - baiknya, mengingat sumpah sesuai
pada waktu menerima jabatan -------------------------------------------------------------

dokter tersebut di atas

8
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi

Menurut Kamus Besar Indonesia (1990) pengertian pelecehan seksual


adalah pelecehan yang merupakan pembendaaan dari kata kerja
melecehkan yang berarti menghinakan, memandang rendah, mengabaikan.
Sedangkan seksual memiliki arti hal yang berkenaan dengan seks atau
jenis kelamin, hal yang berkenan perkara persetubuhan antara laki-laki dan
perempuan. Berdasarkan pengertian tersebut maka pelecehan seksual
berarti suatu bentuk penghinaan atau memandang rendah seseorang karena
hal-hal yang berkenaan dengan seks, jenis kelamin, atau aktifitas seksual
antara laki-laki dan perempuan.

Kekerasan adalah hal yang bersifat atau berciri keras yaitu perbuatan
seseorang yang menyebabkan cedera atau menyebabkan kerusakan fisik
atau barang orang lain atau paksaan. Secara spesifik yang dimaksud
kekerasan seksual adalah suatu prilaku seksual deviatif atau menyimpang,
merugikan korban dan merusak kedamaian di masyarakat.(2,3)

Bentuk dan jenis kekerasan seksual bisa ditemukan dalam bentuk


perkataan maupun perbuatan. Bentuk paling umum dijumpai adalah
pelecehan seksual dimana si pelaku memberikan perhatian bersifat seksual
yang tidak diinginkan seseorang (kebanyakan para wanita) yang dialami
dimana saja. Ini dapat meliputi ekspresi dan gerakan, seperti kerlingan
mata, kontak fisik yang meliputi cubitan, rabaan, komentar verbal, tekanan
halus untuk melakukan aktivitas seksual, sampai pada serangan seksual
dan pemerkosaan.(2,3)

9
Komisi nasional (komnas) perempuan menyimpulkan bahwa kekerasan
seksual terhadap perempuan dimaknai sebagai sebuah pelanggaran hak
asasi manusia yang berakar pada diskriminasi berbasis gender yang
disertai oleh tindakan seksual, atau percobaan untuk mendapatkan
tindakan seksual, atau ucapan yang menyasar seksual, atau tindakan untuk
memperdagangkan atau tindakan yang menyasar seksualitas seseorang
yang dilakukan dengan paksaan, intimidasi, ancaman, penahanan, tekanan
psikologis atau penyalahgunaan kekuasaan, atau dengan mengambil
kesempatan dari lingkungan yang koersif, atau atas seseorang yang tidak
mampu memberikan persetujuan yang sesungguhnya tindakan yang
bersifat seksual itu tidak terbatas pada serangan fisik kepada tubuh
seseorang dan dapat termasuk tindakan-tindakan yang tidak melibatkan
penetrasi ataupun kontak fisik.(4)

Setiap wilayah memiliki definisi yang berbeda terkait dengan kekerasan


seksual. Di Inggris (2003) tindakan kekerasan seksual didefinisikan
sebagai berikut (8):
1. Definisi dari pencabulan adalah
Apabila seseorang (A) melakukan tindakan
- dengan sengaja melakukan penetrasi ke vagina, anus atau mulut orang
lain dengan penisnya
- B (korban) tidak pernah menunjukkan persetujuan
- A Tidak mempedulikan adanya persetujuan dari B
2. Definisi dari kejahatan “assault by penetration”
Apabila seseorang (A) melakukan tindakan
- dengan sengaja melakukan penetrasi vagina atau anus ke orang lain (B)
dengan bagian tubuh atau benda lain
- penetrasi tersebut adalah tindakan untuk menyalurkan hasrat seksual
- B (korban) tidak pernah menunjukkan persetujuan
- A Tidak mempedulikan adanya persetujuan dari B
3. Definisi dari kekerasan seksual
Apabila seseorang (A) melakukan tindakan
- dengan sengaja menyentuh bagian tubuh orang lain

10
- tindakan tersebut adalah salah satu cara untuk menyalurkan hasrat
seksual
- B (korban) tidak membutuhkan persetujuan
- A tidak mempedulikan adanya persetujuan dari B

3.2 Epidemiologi

Di Amerika Serikat angka perkosaan pada tahun 2001 (1,7%) dan tahun
2002 (2,1%) dari tindak kejahatan yang ada.(11) Di Indonesia kasus
kekerasan seksual setiap tahun mengalami peningkatan, korbanya bukan
hanya dari kalangan dewasa saja sekarang sudah merambah ke remaja,
anak-anak bahkan balita. Dan yang lebih tragis lagi pelakunya adalah
kebanyakan dari lingkungan keluarga sendiri.

Gambar 1. Diambil dari Kepustakaan 4

Di Jakarta, angka perkosaan pada tahun 2002 naik 20,22% (tahun 2001: 89
kasus dan tahun 2002: 107 kasus), Surabaya pada tahun 2002 sebanyak
165 kasus (naik 15,5%) dan korban meninggal akibat kejahatan seksual di
Instalasi Kedokteran Forensik RSU Dr. Soetomo tahun 1998-2002
sebanyak 3 kasus.(4,5,6,10)

Dokumentasi Komnas Perempuan memperlihatkan bahwa dari total kasus


kekerasan seksual di Indonesia yaitu 93.960 kasus, kurang dari 10 persen
saja kasus kekerasan seksual yang berdiri sendiri, yaitu 8.784 kasus.

11
Sisanya sebanyak 85.176 kasus adalah gabungan dari kasus perkosaan,
pelecehan seksual dan eksploitasi seksual. Sementara tiga jenis kekerasan
seksual meliputi prostitusi paksa, pemaksaan kehamilan, praktik tradisi
bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan
seperti halnya sunat perempuan,meski ditemukan di dalam berbagai
dokumentasi Komnas Perempuan namun tidak memiliki angka yang
pasti.(4,5,12)

Gambar 2. Diambil dari Kepustakaan 4

Pada periode Januari-April 2012 menurut Program Sistem Pemantauan


Kekerasan Nasional / National Violence Monitoring System(NVMS) di
Jabodetabek tercatat 249 korban pemerkosaan, 205 diantaranya adalah
perempuan sedangkan sisanya adalah anak-anak. Database juga
menunjukkan 187 kasus KDRT, yang mengakibatkan 52 tewas dan
121 cedera.Dari jumlah tersebut, 40% korban tewas dan 70% korban
cedera adalah perempuan. Program NVMS mencatat data KDRT dan
kekerasan seksual tersebut karena keduanya penting dalam perumusan
kebijakan untuk menangani kekerasan sosial. .(4,5,6,11,12,15)

12
3.3 Jenis-Jenis Kekerasan Seksual

Bedasarkan data dari Komnas Perempuan ada 3 ranah yang menyebabkan


terjadinya kekerasan seksual, yaitu personal, public, dan Negara. Ranah
personal artinya kekerasan seksual dilakukan oleh oleh orang yang
memiliki hubungan darah, kekerabatan, perkawinan maupun relasi intim
dengan korban. Jumlah kedua adalah kasus-kasus kekerasan seksual yang
terjadi di ranah publik, yaitu 22.284 kasus. Di ranah publik berarti kasus
dimana korban dan pelaku tidak memiliki hubungan kekerabatan, darah
ataupun perkawinan yang dapat disebabkan oleh orang-orang sekitar atau
orang yang tidak dikenali oleh korban. Dalam berbagai dokumentasi,
ditemukan pula bahwa pelaku kekerasan adalah aparatur negara dalam
kapasitas tugas. Jumlahnya mencapai 1.561 kasus. Dalam konteks pelaku
adalah aparat negara dalam kapasitas tugasnya inilah yang dimaksudkan
sebagai ranah negara. Termasuk di dalam kasus di ranah negara adalah
ketika pada peristiwa kekerasan, aparat negara berada di lokasi kejadian
namun tidak berupaya untuk menghentikan atau justru membiarkan
tindak kekerasan tersebut berlanjut. .(4,5,12)

Gambar 3. Diambil dari Kepustakaan 4

13
Jenis-jenis kekerasan seksual [4]

1. Perdagangan perempuan

Untuk tujuan seksual adalah tindakan perekrutan,pengangkutan, penampungan,


pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman
kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan,
penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau
memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang
yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam
negara maupun antar negara, untuk tujuan prostitusi ataupun eksploitasi seksual
lainnya.

2. Pelecehan seksual

Merujuk pada tindakan bernuansa seksual yang disampaikan melalui kontak


fisik maupun non fisik yang menyasar pada bagian tubuh seksual atau
seksualitas seseorang, termasuk dengan menggunakan siulan, main mata,
komentar atau ucapan bernuansa seksual, mempertunjukan materi-materi
pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh,
gerakan atau isyarat yang bersifat seksual sehingga mengakibatkan rasa tidak
nyaman, tersinggung merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin sampai
menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan.

3. Penyiksaan seksual

Perbuatan yang secara khusus menyerang organ dan seksualitas perempuan


yang dilakukan dengan sengaja, sehingga menimbulkan rasa sakit atau
penderitaan yang hebat, baik jasmani, rohani maupun seksual, pada seseorang
untuk memperoleh pengakuan atau keterangan darinya, atau dari orang ketiga,
dengan menghukumnya atas suatu perbuatan yang telah atau diduga telah
dilakukan olehnya ataupun oleh orang ketiga, untuk mengancam atau
memaksanya atau orang ketiga, dan untuk suatu alasan yang didasarkan pada
diskriminasi atas alasan apapun, apabila rasa sakit dan penderitaan tersebut

14
ditimbulkan oleh, atas hasutan dari, dengan persetujuan, atau sepengetahuan
pejabat publik.

4. Eksploitasi Seksual

Merujuk pada aksi atau percoban penyalahgunaan kekuatan yang berbeda atau
kepercayaan, untuk tujuan seksual termasuk tapi tidak terbatas pada
memperoleh keuntungan dalam bentuk uang, sosial maupun politik dari
eksploitasi seksual terhadap orang lain.

5. Perbudakan Seksual

Sebuah tindakan penggunaan sebagian atau segenap kekuasaan yang melekat


pada “hak kepemilikan” terhadap seseorang, termasukakses seksual melalui
pemerkosaan atau bentuk-bentuk lain kekerasan seksual.Perbudakan seksual
juga mencakup situasi-situasi dimana perempuan dewasa dananak-anak
dipaksa untuk menikah, menjadi pelayan rumah tangga, ataubentuk kerja
paksa lainnya yang pada akhirnya memaksa korban untuk melakuakan
kegiatan seksual termasuk di dalamnya perkosaan oleh “pemilik”.

6. Intimidasi/serangan bernuansa seksual, termasuk ancaman/percobaan perkosaan

Tindakan yang menyerang seksualitas untuk menimbulkan rasa takut atau


penderitaan psikis pada perempuan. Serangan dan intimidasi seksual
disampaikan secara langsung maupun tidak langsung melalui surat, sms, email,
media sosial, dan lain-lain.

7. Kontrol seksual, termasuk pemaksaan busana dan kriminalisasi perempuan


lewat aturan diskriminatif beralasan moralitas dan agama

Mencakup berbagai tindak kekerasan secara langsung maupun tidak langsung,


dan tidak hanya melalui kontak fisik, yang dilakukan untuk mengancam atau
memaksakan perempuan mengenakan busana tertentu atau dinyatakan
melanggar hukum karena cara ia berbusana atau berelasi sosial dengan lawan
jenisnya. Termasuk di dalamnya adalah kekerasan yang timbul akibat aturan

15
tentang pornografi yang melandaskan diri lebih pada persoalan moralitas
daripada kekerasan seksual.

8. Pemaksaan Aborsi

Pengguguran kandungan yang dilakukan karena adanya tekanan, ancaman,


maupun paksaan dari pihak lain.

Gambar 4(7). Seorang wanita yang tewas akibar emboli udara setelah percobaan menginduksi aborsi

9. Penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual

Cara menghukum yang menyebabkan penderitaan, kesakitan, ketakutan, atau


rasa malu yang luar biasa yang tidak bisa tidak termasuk dalam
penyiksaan.Termasuk dalam penghukuman tidak manusiawi adalah hukuman
cambuk dan hukuman-hukuman yang merendahkan martabat manusia yang
ditujukan bagi mereka yang dituduh melanggar norma-norma kesusilaan.

10. Pemaksaan perkawinan

Kawin paksa dan kawin gantung adalah situasi dimana perempuan terikat
perkawinan di luar kehendaknya sendiri, termasuk di dalamnya situasi dimana
perempuan merasa tidak memiliki pilihan lain kecuali mengikuti kehendak
orang tuanya agar ia menikah, sekalipun bukan dengan orang yang ia
inginkan atau dengan orang yang tidak ia kenali, untuk tujuan mengurangi
beban ekonomi keluarga maupun tujuan lainnya.

16
11. Prostitusi Paksa

Situasi dimana perempuan dikondisikan dengan tipu daya, ancaman maupun


kekerasan untuk menjadi pekerja seks. Pengondisian ini dapat terjadi pada
masa rekrutmen maupun untuk membuat perempuan tersebut tidak berdaya
untuk dapat melepaskan dirinya dari prostitusi, misalnya dengan penyekapan,
penjeratan hutang, atau ancaman kekerasan.

12. Pemaksaan kehamilan

Ketika perempuan melanjutkan kehamilan yang tidak ia kehendaki akibat


adanya tekanan, ancaman, maupun paksaan dari pihak lain. Kondisi ini
misalnya dialami oleh perempuan korban perkosaan yang tidak diberikan
pilihan lain kecuali melanjutkan kehamilannya akibat perkosaan tersebut.

13. Praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi

Praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi


perempuan merujuk padakebiasaan berdimensi seksual yang dilakukan
masyarakat , kadang ditopang dengan alasan agama dan/atau budaya, yang
dapat menimbulkan cidera secara fisik, psikologis maupun seksual pada
perempuan atau dilakukan untuk mengontrol seksualitas perempuan dalam
perspektif yang merendahkan perempuan.

14. Pemaksaan kontrasepsi/sterilisasi,

Pemaksaan penggunaan alat-alat kontrasepsi bagi perempuan untuk mencegah


reproduksi, atau pemaksaan penuh organ seksual perempuan untuk berhenti
bereproduksi sama sekali, sehingga merebut hak seksualitas perempuan serta
reproduksinya.

15. Pemerkosaan

Pemerkosaan adalah kekerasan seksual yang serius, hal ini hanya dapat
dilakukan oleh laki-laki, namun tidak menutup kemungkinan bisa dilakukan
oleh perempaun. Pemerkosaan didefinisikan oleh “Criminal Justice and
Public Order Act” 1994 sebagai, penetrasi penis ke vagina atau anus tanpa

17
persetujuan.(7,15)Dalam ulasannya, komnas perempuan juga mendefinisikan
permerkosaan sebagai serangan yang diarahkan pada bagian seksual dan
seksualitas seseorangdengan menggunakan organ seksual (penis) ke organ
seksual (vagina), anusatau mulut, atau dengan menggunakan bagian tubuh
lainnya yang bukanorgan seksual atau pun benda-benda lainnya. Serangan itu
dilakukandengan kekerasan, dengan ancaman kekerasan ataupun dengan
pemaksaansehingga mengakibatkan rasa takut akan kekerasan, di bawah
paksaan,penahanan, tekanan psikologis atau penyalahgunaan kekuasaan
ataudengan mengambil kesempatan dari lingkungan yang koersif, atau
seranganatas seseorang yang tidak mampu memberikan persetujuan
yangsesungguhnya.

Maka, dalam kasus pemerkosaan dapat dikatakan bahwa persetujuan adalah


hal yang paling penting dan dalam pelaksanaan, si pelaku mengetahui kalau
korbannya tidak menyetujui penetrasi yang dilakukan.

3.4 Pembuktian Kekerasan Seksual

Secara umum, pembuktian terjadinya kekerasan seksual meliputi


pemeriksaan tubuh dan pakaian korban serta pelaku, perkiraan umur,
bekas-bekas kekerasan pada tubuh korban ataupun pelaku, dan hasil dari
pemeriksaan laboratorium.

3.4.1 Pemeriksaan Korban

a. Pemeriksaan tubuh

Pada korban wanita,pemeriksaan dilakukan pada selaput dara,


apakah ada ruptur atau tidak. Bila ada, tentukan ruptur baru atau
lama dan catat lokasi ruptur tersebut, teliti apakah sampai ke
insertio atau tidak. Tentukan besar orifisium, Harus diingat bahwa
tidak terdapatnya robekan pada selaput dara, tidak dapat
dipastikan bahwa pada wanita tidak terjadi penetrasi.Apabila pada
persetubuhan tersebut disertai dengan ejakulasi dan ejakulat

18
tersebut mengandung sperma, maka adanya sperma di dalam liang
vagina merupakan tanda pasti adanya persetubuhan.(2,3,9)

Bila pada kejahatan seksual yang disertai dengan persetubuhan itu


tidak sampai berakhir dengan ejakulasi, dengan sendirinya
pembuktian adanya persetubuhan secara kedokteran forensik tidak
mungkin dapat dilakukan secara pasti. Maka, dokter tidak dapat
secara pasti pula menentukan bahwa pada seorang wanita tidak
terjadi persetubuhan; maksimal dokter harus mengatakan bahwa
pada diri wanita yang diperiksanya itu tidak ditemukan tanda-
tanda persetubuhan, yang mencakup dua kemungkinan: pertama,
memang tidak ada persetubuhan dan yang kedua persetubuhan ada
tapi tanda-tandanya tidak dapat ditemukan.(2,3,9)

Dalam waktu 4-5 jam postkoital sperma di dalam liang vagina


masih dapat bergerak; sperma masih dapat ditemukan namun
tidak bergerak sampai sekitar 24-36 jam postkoital, dan masih
dapat ditemukan sampai 7-8 hari bila wanita yang menjadi korban
meninggal. Perkiraan saat terjadinya persetubuhan juga dapat
ditentukan dari proses penyembuhan selaput dara yang robek.
Pada umumnya penyembuhan tersebut dicapai dalam waktu 7-10
hari postkoital.(2,3,9)

Gambar 2[7]. Bentuk vagina pada korban pemerkosaan anak-anak

19
3.4.2 .Pemeriksaan Pakaian

Dalam hal pembuktian adanya persetubuhan, pemeriksaan dapat dilakukan


pada pakaian korban untuk menentukan adanya bercak ejakulat. Dari
bercak tersebut dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan
bahwa bercak yang telah ditemukan adalah air mani serta dapat
menentukan adanya sperma.(2,3,9)

3.4.3 Pemeriksaan Pelaku

a.Pemeriksaan tubuh

Untuk mengetahui apakah seorang pria baru melakukan persetubuhan,


dapat dilakukan pemeriksaan ada tidaknya sel epitel vagina pada glans
penis. Perlu juga dilakukan pemeriksaan sekret uretra untuk menentukan
adanya penyakit kelamin(2,3,9)

b. Pemeriksaan pakaian

Pada pemeriksaan pakaian, catat adanya bercak semen, darah, dan


sebagainya. Bercak semen tidak mempunyai arti dalam pembuktian
sehingga tidak perlu ditentukan. Darah mempunyai nilai karena
kemungkinan berasal dari darah deflorasi. Di sini penentuan golongan
darah penting untuk dilakukan. Trace evidence pada pakaian yang dipakai
ketika terjadi persetubuhan harus diperiksa. Bila fasilitas untuk
pemeriksaan tidak ada, kirim ke laboratorium forensik di kepolisian atau
bagian Ilmu Kedokteran Forensik, dibungkus, segel, serta dibuat berita
acara pembungkusan dan penyegelan(2,3,9)

3.4.4 Pembuktian Kekerasan

Luka-luka akibat kekerasan seksual biasanya berbentuk luka lecet bekas


kuku, gigitan (bite marks) serta luka-luka memar.lokasi luka-luka yang
sering ditemukan, yaitu di daerah mulut dan bibir, leher, puting susu,
pergelangan tangan, pangkal paha serta di sekitar dan pada alat genital.
Harus diingat bahwa tidak semua kekerasan meninggalkan bekas atau jejak

20
berbentuk luka. Maka, tidak ditemukannya luka tidak berarti bahwa pada
wanita korban tidak terjadi kekerasan itulah alasan mengapa dokter harus
menggunakan kalimat tanda-tanda kekerasan di dalam setiap Visum et
Repertum yang dibuat, oleh karena tidak ditemukannya tanda-tanda
kekerasan mencakup dua pengertian: pertama, memang tidak ada kekerasan,
dan yang kedua kekerasan terjadi namun tidak meninggalkan bekas (luka)
atau bekas tersebut sudah hilang. (2,3,9)

3.4.5 Perkiraan Umur

Penentuan umur bagi wanita yang menjadi korban kejahatan seksual seperti
yang dikehendaki oleh pasal 284 dan 287 KUHP adalah hal yang tidak
mungkin dapat dilakukan (kecuali didapatkan informasi dari akte keahiran).
Dengan teknologi kedokteran yang canggih pun maksimal hanya sampai
pada perkiraan umur saja(2,3,9)

Perkiraan umur dapat diketahui dengan melakukan serangkaian pemeriksaan


yang meliputi pemeriksaan fisik, ciri-ciri seks sekunder, pertumbuhan gigi,
fusi atau penyatuan dari tulang-tulang khususnya tengkorak serta
pemeriksaan radiologi lainnya.(2,3,9)

3.4.6 Pemeriksaan Laboratorium

Adanya cairan mani atau bercak yang dihasilkan bisa menjadi petunjuk
adanya pemerkosaan atau upaya pemerkosaan, pembunuhan seksual pada
wanita dan biasa juga terjadi pada bestiality.bercak pada pakaian, di kulit
perineum, paha, labium minor, rambut pubis, vagina dan lubang anus. Ini
tidak pasti membuktikan bahwa cairan semen masuk ke vagina, ini cukup
sering ditemukan pada labium minor atau rambut pubis sejak adanya
penetrasi penis meskipun bukan penetrasi komplit. Cairan semen yang telah
kering pada perineum atau labia minor paling baik dikumpulkan
menggunakan swab. Sampel rambut pubis, yang mungkin juga dibutuhkan
untuk perbandingan dengan rambut yang ada pada pakaian terdakwa, harus
diambil secara hati-hati dan dipindahkan ke kemasan kecil dari gelas.

21
Rambut yang dipotong tidak akan disertai akarnya sehingga menjadi tidak
memuaskan.(2,3,9)

Pemeriksaan lebih detail terhadap organ-organ tubuh beserta cairan


tubuhnya, bagaimana metodenya, dan apa implikasi medisnya; diperlukan
untuk dipahami agar pemeriksaan berlangsung secara sistematis.

Berikut adalah deskripsinya[9]

22
3.4.7 Kulit

Semua area kulit yang belum dibersihkan yang terkena


jilatan/ciuman/digigit/cairan ejakulasi baik pada korban ataupun pelaku
harus diambil sampel nya. Seluruh kepala harus diinspeksi dengan seksama
untuk menemukan ada tidaknya noda (contoh; kotoran dan darah), luka,
penyakit kulit, dan skar. Beberapa penelitian melaporkan bahwa payudara
wanita digigit pada 7-19% kasus kekerasan seksual. Cara satu-satunya yang
dipakai untuk mengetahui adanya cairan liur adalah dengan terdeteksinya
enzyme amylase.

Namun, pada prakteknya, enzyme ini sulit ditemukan dalam kadar


konsentrasi yang cukup pada sampling kulit, tetapi dimungkinkan untuk
mendapatkan profil DNA dari bekas cairan liur yang didapat pada bekas
gigitan pada kulit cadaver jika cairan liur terdeposit 48 jam sebelumnya;
maka, sangatlah penting untuk mengambil sampel pada area tubuh yang
relevan sesegera mungkin. Permukaan tubuh juga perlu di palpasi untuk
mengidentifikasi area dan ukuran bagian yang sakit.

3.4.8 Rambut : Kepala dan Pubis

Rambut paling sering diambil unutk sampel untuk mendeteksi cairan tubuh
atau mengambil rambut asing (rambut yang bukan milik orang yang diambil
sampel nya) atau partikel asing. Telah diketahui selama beberapa decade
bahwa banyak obat-obatan yang terdeposit di rambut (contoh :barbiturat,
amfetamin, opiat, kokain, benzodiazepi,  - hidroksi butirat, dan ganja). Hal
ini sangat penting karena korban kekerasan seksual yang kemungkinan
dibawah pengaruh obat-obatan, sering tidak melaporkan kejadian tersebut
secepatnya karena amnesia dan / atau ragu tentang apa yang mungkin terjadi,
dan obat-obatan memiliki akses untukdianalisis lebih lama pada rambut
dibandingkan dengan darah atau urine.

23
Selain itu, dapat digunakan sebagai sampel acuan untuk analisis DNA.
Metode Yang digunakan untuk mengambil sampel rambut adalah
pemotongan (cutting) dan menyisir(combing).
a. Cutting
Tempat yang ideal untuk pengambilan sampel adalah mahkota kepala,
meskipun ini mungkin tidak dapat diterima oleh pelapor. Rambut harus
diluruskan, dengan ujung dipotong dibatasi oleh karet gelang. Sampel
rambut kemudian dibungkus dalam aluminium foil. Untuk analisis obat,
kira-kira 50 rambut harus dipotong dekat dengan kulit kepala setidaknya 7
hari setelah kekerasan seksual terjadi. Jika pasien tidak menyetujui untuk
rambut yang terkontaminasi dipotong atau jika tidak praktis untuk
memotong karena tingkat kontaminasi bahan asing, maka bidang yang
relevan dapat dilakukan swab.
b. Combing
Setiap partikel asing atau rambut teridentifikasi pada kepala atau rambut
kemaluan harus dikumpulkan dengan forceps dan diajukan untuk analisis.
Beberapa studi tentang materi kasus pelanggaran seksual telah
menunjukkan tingkat yang lebih rendah dalam hal transfer rambut
kemaluan antara korban dan pelaku. Transfer rambut kemaluan ke laki-
laki (23,6 %) lebih umum daripada transfer ke perempuan (10,9 %) . Oleh
karena itu penulis menganjurkan bahwa rambut kemaluan korban /
tersangka harus disisir dan ditaruh pada selembar kertas yang tidak
terkontaminasi (ukuran A4), dengan korban dalam posisi semilithotomy
saat diambil sampel nya; kertas yang melampirkan sisir harus dilipat ke
dalam dan diajukan untuk analisis. Namun, jika balaclava atau artikel
lainnya yang dikenakan di kepala selama serangan itu, rambut harus
disampel dengan pita perekat rendah, yang kemudian melekat pada asetat.

Kadang-kadang, rambut kepala atau kemaluan mungkin telah dengan


sengaja atau tidak ditarik keluar saat terjadinya tindakan kekerasan seksual;

24
identifikasi perdarahan folikel rambut dan / atau rambut rusak akan
mendukung keluhan ini sebagai bukti medis.

3.4.9 Kuku

Penetrasi vagina dengan menggunakan jari diduga telah terjadi di hampir


satu dari lima (18 %) dari kasus kekerasan seksual. Oleh karena itu, sampel
kuku harus diperoleh dari korban jika keadaan pelanggaran menunjukkan
bahwa jejak bahan mungkin ada; misalnya, jika telah ada perlawanan atau
jika rincian serangan tidak pasti dan praktisi forensik, dalam mengamati
tangan korban, meemukan bahan yang menarik di bawah atau di
permukaan kuku. Mereka juga harus dipertimbangkan jika kuku pecah
selama pelanggaran dan bagian yang rusak dapat ditemukan dari tempat
kejadian.

Sampel harus diperoleh dari tersangka jika dituduh bahwa tangan nya
memiliki kontak langsung dengan alat kelamin perempuan atau jika ia
tergores korban. Metode optimal sampling adalah kliping dari seluruh kuku
Namun, dalam beberapa kasus, kuku mungkin terlalu pendek untuk
dipotong atau pengadu dapat tidak memberikan persetujuannya untuk
kukunya disampling; misalnya pengadu sangat menghargai kuku yang
terawat mereka. Dalam kasus tersebut, kerokan bahan di bawah kuku harus
diambil dengan menggunakan tongkat runcing atau kedua sisi kuku
sebaiknya diswab menggunakan teknik double-swab.

Ketika mendapatkan kerokan kuku, praktisi forensik harus mencoba untuk


tidak mengganggu bantalan kuku. Masing-masing tangan harus sampel dan
spesimen dikemas secara terpisah melampirkan tongkat (diselimuti
selembar kertas dilipat), jika digunakan. Pada kesempatan langka ketika
paku telah rusak dalam insiden itu dan fragmen patah kuku ditemukan, sisa
pada jari yang relevan harus dipotong dalam waktu 24 jam untuk
memungkinkan perbandingan striasi kuku, karena striasi kuku adalah unik
untuk jari tertentu. Panjang dan kerusakan pada kuku harus dicatat.

25
3.4.10 Rongga mulut

Tindakan seksual tertentu yang dapat memberikan bukti forensik atau


medis fellatio, cunnilingus, dan anilingus.
a. Fellatio (irrumation)
Merupakan aktivitas seksual di mana penis dimasukkan ke dalam mulut ;
rangsangan seksual dicapai dengan mengisap penis saat bergerak masuk
dan keluar dari rongga mulut . Ejakulasi mungkin atau tidak terjadi.
Setelah kontak oral - penis, rongga mulut harus disampling saat fellatio
dilakukan selama serangan seksual atau dalam keadaan di mana rincian
kejadian tidak diketahui. Tidak ada konsensus di seluruh dunia saat ini
untuk menetukan metode terbaik sampling. Praktek yang umum adalah
untuk mendapatkan 10 mL air liur sebagai sampel pertama. Kemudian dua
penyeka secara berurutan yang digosok atas margin gusi dalam dan luar
(dengan perhatian khusus pada margin sekitar gigi) ; atas dan , jika dapat
ditoleransi , langit-langit lunak keras ; di bagian dalam pipi dan bibir ; dan
lebih dari kedua permukaan lidah.

Mulut kemudian dibilas dengan 10 ml air steril, yang disimpan dalam


botol sebagai sampel akhir. Sampel dapat diperoleh oleh seorang polisi
atau professional lain sebelum kedatangan praktisi forensik, hal ini untuk
meminimalkan penundaan sampling. Beberapa laporan kasus telah
mendokumentasikan lesi palatal setelah fellatio. Area perdarahan petekie
dan konfluen memar telah dijelaskan pada langit-langit lunak dan di
persimpangan antara selera keras dan lunak. Daerah memar ini bervariasi
dari lesi diskrit tunggal atau bilateral 1,0-1,5 cm , terletak pada atau kedua
sisi garis tengah , sampai pada memar yang berukuran lebih besar yang
melintasi garis tengah. Memar ini tidak menyakitkan dan sembuh dalam 7-
10 hari, meskipun mungkin muncul lagi karena fellatio berulang. Seorang
praktisi forensik dapat diminta untuk menjelaskan kepada pengadilan
mengapa memar ini terjadi. Meskipun mekanisme yang tepat tidak
diketahui, hipotesis berikut telah disodorkan : kontraksi berulang otot
palatum, mengisap , trauma tumpul.

26
Dalam suatu kasus, mucositis bisa saja pada akhirnya didiagnosis sebagai
kandidiasis oral didapat dari kontak langsung dengan penis yang
terinfeksi. Setiap kali memar palatal , eritema , atau erosi yang
teridentifikasi selama pemeriksaan korban yang mungkin telah mengalami
fellatio; penjelasan alternatif harus disertakan dengan mengambil riwayat
medis , gigi , dan sosial secara rinci, melakukan pemeriksaan umum
komprehensif ; dan , jika perlu , melakukan penyelidikan khusus yang
relevan . Setiap kali keluhan dari fellatio nonconsensual dibuat, kepala dan
wajah harus dicermati karena mungkin ada luka lain di sekitar rongga
mulut yang mendukung tuduhan itu , seperti memar di wajah dan leher
atau laserasi dari frenula tersebut.

b. Cunnilingus and Anilingus


Cunnilingus (cunnilinctus) adalah aktivitas seksual di mana alat kelamin
perempuan dijilat, dihisap, atau digosok dengan bibir dan / atau lidah.
Anilingus (analingus atau " rimming ") adalah aktivitas seksual di mana
anus dijilat, dihisap, atau digosok dengan bibir dan / atau lidah. Secara
tradisional, deteksi enzim amilase pada penyeka vulva dan vagina
dianggap bukti konfirmasi kehadiran air liur. Penyodoran berulang lidah
atas tepi gigi seri rahang bawah selama cunnilingus atau anilingus dapat
menyebabkan ulserasi pada frenulum lingual, yang dapat sembuh
sempurna dalam waktu 7 hari. Lesi tersebut harus dicari secara spesifik
selama pemeriksaan rongga mulut tersangka ketika tindakan seperti itu
telah dijelaskan oleh korban atau ketika rincian tepat dari serangan tidak
diketahui.

3.4.11 Genital

Pemeriksaan area genital dari perempuan dan laki-laki korban / tersangka


adalah langkah yang pasti yang harus dilakukan untuk mengungkap
terjadinya kekerasan seksual.

27
a. Female
Meskipun secara hukum tidak perlu memiliki bukti ejakulasi untuk
membuktikan bahwa hubungan intercourse telah terjadi, laboratorium ilmu
forensic sering diminta untuk menentukan apakah air mani hadir pada
swab diambil dari alat kelamin perempuan karena bukti air mani dapat
memainkan peran sentral dalam identifikasi pelaku. Hal ini juga penting
untuk mendapatkan sampel vagina , vulva , dan perineum secara terpisah
ketika diduga hanya terjadi hubungan seks anal yang kemungkinannya
terjadi kebocoran dari vagina untuk menjelaskan cairan semen di lubang
anus . Hal yang diperiksa dari sampel yang spermatozoa , cairan
mani ,darah , dan pelumas. Praktisi forensik harus memeriksa mons pubis
dan perhatikan warna, kekasaran, dan distribusi dari setiap rambut
kemaluan, serta pemeriksaan hymen.
Daerah vulva harus hati-hati diperiksa sebelum penyisipan spekulum,
karena bahkan traksi lembut pada fourchette posterior atau fossa
navicularis selama pemeriksaan medis dapat menyebabkan laserasi
superficial di situs tersebut. Bila mungkin, vagina dan serviks harus
diperiksa melalui spekulum transparan setelah sampel vagina tinggi telah
diperoleh. Kolposkopi dan penerapan toluidin pewarna biru dua spesialis
teknik yang digunakan oleh beberapa praktisi forensik selama pemeriksaan
alat kelamin perempuan.
b. Male

Selama pemeriksaan alat kelamin laki-laki, praktisi forensic diharapkan


untuk mendokumentasikan setiap fitur yang bisa membantu identifikasi
selanjutnya dari pelaku, perlu diperhatikan kondisi yang diperoleh atau
bawaan yang bisa membuat tindakan seksual yang diduga tidak mungkin
dilakukan, untuk menjelaskan secara rinci cedera yang bisa berhubungan
dengan tindakan seksual, dan untuk mengambil bukti forensik. Setelah
tuduhan fellatio, penyeka dari penis bisa diperiksa untuk air liur; namun,
kemungkinan identifikasi definitif air liur dengan estimasi amilase rendah.

28
Meskipun demikian, dapat diperoleh bahan yang cukup untuk analisis
DNA.

Ketika dugaan hubungan seks vaginal atau anal dibuat, penyeka penis dari
tersangka dapat diperiksa untuk sel, kotoran, rambut, serat, darah, dan
pelumas. Perlu dicatat bahwa cairan vagina dari hubungan seksual yang
terbaru sebelum kejadian yang tidak terkait dengan tuduhan tersebut, dapat
dideteksi dengan analisis DNA dari penyeka yang diambil dari penis yang
belum dicuci. Profil DNA perempuan telah diperoleh pada penyeka penis
hingga 24jam postcoitus. Darah dan kotoran telah pulih dari penis penyeka
diambil 15 dan 18 jam, masing-masing, setelah kejadian itu. Ketika
mendapatkan sampel forensik yang relevan, praktisi forensic harus
memeriksa alat kelamin pria dengan poin pemeriksaan adalah: rambut
kemaluan, kelainan bawaan dan diperoleh, tanda PMS, benda asing,
penilaian cedera.

3.4.12 Perianal dan Anal

Buggery adalah istilah awam yang digunakan untuk merujuk pada


penetrasi penis ke dalam lubang anus (anal intercourse) seorang pria ,
seorang wanita , atau binatang (juga dikenal sebagai bestiality) .

Sodomi adalah hubungan seks anal antara manusia saja. Dua sampel
pertama harus diperoleh dari daerah perianal. Sama seperti ketika
sampling kulit di tempat lain, jika kulit perianal lembab, noda harus
diambil pada swab kering. Jika tidak ada pewarnaan terlihat atau noda
kering, teknik double-swab harus digunakan. Dalam keadaan normal,
maksimum interval antara melakukan hubungan anal dan identifikasi
spermatozoa pada usap dubur adalah 65 jam.

Namun, dalam satu kasus yang luar biasa di mana seorang wanita tetap
berada di rumah sakit selama beberapa hari karena luka yang diderita
selama penyerangan seksual, air mani terdeteksi pada penyeka dubur
diambil 113 jam setelah melakukan hubungan anal. Penyekaan harus tetap
dilakukan bahkan jika korban telah buang air besar sejak serangan itu.

29
Bukti medis yang harus diperiksa adalah: fisura anal , air mata , dan
laserasi ; tonus spchinter anal ; dan laserasi rektum.

3.4.13 Lubricants

Jejak pelumas yang ditemukan di penyeka dubur vagina atau internal anal
dapat memberikan bukti konfirmasi penetrasi baru terjadi ini dari lubang
tubuh. Ini memiliki relevansi tertentu jika kondom dipakai selama
tindakan penetratif. Dalam hal analisis pelumas, permintaan yang paling
sering diterima oleh layanan ilmu forensik adalah untuk memeriksa swab
vagina untuk kehadiran pelumas kondom. Konstituen pelumas kondom
(misalnya , silikon dan polietilen glikol) juga ditemukan dalam berbagai
produk perawatan kulit lainnya dan supositoria.

Oleh karena itu, jika relevan, praktisi forensik harus menanyakan apakah
korban telah mengoleskan sesuatu ke daerah genital / anal dalam 2 hari
sebelum kejadian. Untuk memaksimalkan kemungkinan deteksi pelumas,
sampel penyeka yang diperlukan harus diperoleh sesegera mungkin setelah
kejadian. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi lamanya waktu yang
pelumas akan bertahan pada kulit atau dalam lubang tubuh.

Pelumas kondom dapat terdeteksi pada swab yang diambil dari penis yang
belum dibersihkan 50 jam setelah hubungan seksual, dan dalam kasus
yang berbeda, pada swab vagina (juga saat korban tidak mencucuci)
diambil 24 jam setelah hubungan seksual , tapi deteksi lebih dari periode
yang berkepanjangan tersebut akan menjadi pengecualian; pelumas
berbahan dasar air (misalnya , yang mengandung polyethylene glycol)
hanya telah terdeteksi dalam waktu 8 jam dari tindakan seksual.

3.4.14 Darah dan Urin

Ketika obat-obatan atau alkohol telah dikonsumsi atau mungkin diberikan


sebelum atau selama serangan seksual, pertimbangan harus diberikan
kepada kebutuhan untuk mendapatkan sampel darah dan urin untuk analisis
toksikologi. Lamanya waktu bahwa obat atau metabolitnya tetap terdeteksi

30
dalam darah atau urin tergantung pada beberapa faktor, termasuk jumlah
yang diambil, metabolisme individu, dan sensitivitas dan spesifisitas
metode analisis yang digunakan oleh laboratorium.
a. Darah
Merupakan praktik yang baik untuk meminta sampel darah untuk analisis
obat / alkohol ketika insiden itu terjadi tidak lebih dari 4 hari. Sampel
tunggal 10 mL darah vena harus ditempatkan dalam sebuah wadah dengan
antikoagulan (misalnya, kalium oksalat) dan pengawet yang mencegah
dekomposisi dan fermentasi (misalnya, natrium fluoride) untuk analisis
obat dan alkohol. Jika volatil dicurigai, sebagian darah harus dikumpulkan
ke dalam sebuah wadah dengan karet bung intrinsik untuk mengaktifkan
ruang mati di atas darah yang akan dianalisis.
b. Urin
Merupakan praktik yang baik untuk meminta sampel urin untuk analisis
obat / alkohol ketika insiden itu terjadi tidak lebih dari 4 hari. Idealnya, 20
mL urin harus ditempatkan dalam wadah dengan pengawet yang
mencegah dekomposisi dan fermentasi (misalnya, natrium fluoride),
meskipun sampel dalam botol biasa pun dapat dianalisis. Urine harus
dikumpulkan sesegera dan sepraktis mungkin. Sampel dari korban tidak
perlu disaksikan. Korban harus disarankan untuk tidak membuang handuk,
panty line, atau tampon pada tahap ini.

Informasi tertentu diperlukan untuk membantu ilmuwan forensik dengan


interpretasi dari hasil toksikologi; yaitu :
• Jenis kelamin, berat badan, dan bentuk tubuh individu.
•Waktu yang obat-obatan / alkohol dikonsumsi atau diyakini telah
diberikan. Apakah dosis tunggal atau lebih ?
• Waktu yang tepat saat sampel darah dan urin diambil.
• Rincian dari setiap obat yang diresepkan atau zat lain yang biasanya
dikonsumsi oleh individu, termasuk kuantitas dan tanggal dan waktu
penggunaan terbaru.

31
3.5 Aspek Hukum Kekerasan Seksual

Dasar hukum kekerasan seksual adalah


Pasal 288 KUHP
(1) Barang siapa dalam perkawinan bersetubuh dengan seorang wanita yang
diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa yang bersangkutan
belum waktunya untuk dikawin, apabila perbuatan mengakibatkan luka-
luka diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan luka-luka berat, dijatuhkan pidana
penjara paling lama delapan tahun.
(3) Jika mengakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara paling lama dua belas
tahun.

Dengan demikian dari Visum et Repertum yang dibuat oleh dokter


diharapkan dapat membuktikan bahwa korban memang belum pantas
dikawin, memang terdapat tanda-tanda persetubuhan, tanda-tanda
kekerasan dan dapat menjelaskan perihal sebab kematiannya.(2)

Di dalam upaya menentukan bahwa seseorang belum mampu dikawin


dapat timbul permasalahan bagi dokter karena penentuan tersebut
mencakup dua pengertian, yaitu pengertian secara biologis dan pengertian
menurut undang-undang. Secara biologis seorang perempuan dikatakan

32
mampu untuk dikawin bila ia telah siap untuk dapat memberikan
keturunan, dimana hal ini dapat diketahui dari menstruasi, apakah ia belum
pernah mendapat menstruasi atau sudah pernah. Sedangkan menurut
undang-undang perkawinan, maka batas umur termuda bagi seorang
perempuan yang diperkenankan untuk melangsungkan perkawinan adalah
16 tahun. Dengan demikian dokter diharapkan dapat menentukan berapa
umur dari perempuan yang diduga merupakan korban seperti yang
dimaksud dalam pasal 288 KUHP. .(2)

Dalam kasus-kasus persetubuhan di luar perkawinan yang merupakan


kejahatan, dimana persetubuhan tersebut memang disetujui oleh si
perempuan maka dalam hal ini pasal-pasal dalam KUHP yang dimaksud
adalah pasal 284 dan 287. .(2)

Pasal 284 KUHP

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan:


1. a. seorang pria yang telah kawin yang melakukan gendak padahal
diketahui bahwa pasal 27 BW ,berlaku baginya.
b. seorang wanita yang telah kawin yang melakukan gendak padahal
diketahui bahwa pasal 27 BW berlaku baginya.

2. a. seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal


diketahuinya bahwa yang turut bersalah telah kawin.

b. seorang wanita yang telah kawin yang turut serta melakukan


perbuatan itu, padahal diketahuinya bahwa yang turut bersalah
telah kawin dan pasal 27 BW berlaku baginya.

(2) Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/isteri yang


tercemar,dan bila bagi mereka berlaku pasal 27 BW dalam tenggang waktu
tiga bulan diikuti dengan permintaan bercerai atau pisah meja da pisah
ranjang karena alasan itu juga.
(3) Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, 73, dan 75.

33
(4) Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang
peradilan belum dimulai.
(5) Jika bagi suami-isteri berlaku pasal 27 BW pengaduan tidak diindahkan
selama perkawinan belum diputuskan karena perceraian atau sebelum
putusan yang menyatakan pisah meja dan tempat tidur menjadi tetap.

Pasal 27 BW

Dalam waktu yang sama seorang laki hanya diperbolehkan mempunyai satu
orangperempuan sebagai isterinya, seorang perempuan hanya satu orang laki
sebagai suaminya. .(2)

Pasal 287 KUHP

(1) Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan,


padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya
belum lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak jelas bahwa belum
waktunya untuk dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama
sembilan tahun.
(2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita
belum sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan
pasal 291 dan pasal 294.

Tindak pidana ini merupakan persetubuhan dengan wanita yang menurut undang-
undang belum cukup umur. Jika umur korban belum cukup 15 tahun tetapi sudah
di atas 12 tahun, penuntutan baru dilakukan bila ada pengaduan dari yang
bersangkutan. Jadi dengan keadaan itu persetubuhan tersebut merupakan delik
aduan, bila tidak ada pengaduan, tidak ada penuntutan. .(2)

Tetapi keadaan akan berbeda jika:

a. Umur korban belum sampai 12 tahun

b. Korban yang belum cukup 15 tahun itu menderita luka berat atau mati
akibat perbuatan itu (KUHP pasal 291); atau

34
c. Korban yang belum cukup 15 tahun itu dalah anaknya, anak tirinya,
muridnya, anak yang berada di bawah pengawasannya, bujangnya atau
bawahannya (KUHP pasal 294).

Dalam keadaan di atas, penuntutan dapat dilakukan walaupun tidak ada


pengaduan karena bukan lagi merupakan delik aduan.

Pada pemeriksaan akan diketahui umur korban. Jika tidak ada akte kelahiran maka
umur korban yang pasti tidak diketahui. Dokter perlu memperkirakan umur
korban baik dengan menyimpulkan apakah wajah dan bentuk tubuh korban sesuai
dengan umur yang dikatakannya, melihat perkembangan payudara dan
pertumbuhan rambut kemaluan, melalui pertumbuhan gigi (molar ke-2 dan molar
ke-3), serta dengan mengetahui apakah menstruasi telah terjadi. .(2)

Hal di atas perlu diperhatikan mengingat bunyi kalimat: padahal diketahuinya atau
sepatutnya harus diduganya bahwa wanita itu umurnya belum lima belas tahun
atau kalau umurnya tidak jelas bahwa belum waktunya untuk dikawin. Perempuan
yang belum pernah mengalami menstruasi dianggap belum patut untuk dikawin.
.(2)

Pasal 291 KUHP

(1) Kalau salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 286, 287, 288
dan 290 itu berakibat luka berat, diancam dengan pidana penjara paling
lama dua belas tahun.
(2) Kalau salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 285, 286, 287,
289 dan 290 itu berakibat matinya orang, diancam dengan pidana penjara
paling lama lima belas tahun.

Pasal 294 KUHP

Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya atau anak
piaraannya, anak yang di bawah pengawasannya, orang di bawah umur yang
diserahkan kepadanya untuk dipelihara, dididiknya atau dijaganya, atau bujangnya

35
atau orang yang di bawah umur, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh
tahun.

Dengan itu maka dihukum juga:

1. Pegawai negeri yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang di


bawahnya/orang yang dipercayakan/diserahkan kepadanya untuk dijaga.

2. Pengurus, dokter, guru, pejabat, pengurus atau bujang di penjara, di tempat


bekerja kepunyaan negeri, tempat pendidikan, rumah piatu, RS jiwa atau
lembaga semua yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang
dimaksudkan di situ.

Pada kasus persetubuhan di luar perkawinan yang merupakan kejahatan dimana


persetubuhan tersebut terjadi tanpa persetujuan wanita, seperti yang dimaksud
oleh pasal 285 dan 286 KUHP; maka untuk kasus-kasus tersebut Visum et
Repertum harus dapat membuktikan bahwa pada wanita tersebut telah terjadi
kekerasan dan persetubuhan. Kejahatan seksual seperti yang dimaksud oleh pasal
285 KUHP disebut perkosaan, dan perlu dibedakan dari pasal 286 KUHP. .(2)

Pasal 285 KUHP

Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang


wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan
perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

Pada tindak pidana di atas perlu dibuktikan telah terjadi persetubuhan dan telah
terjadi paksaan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Dokter dapat
menentukan apakah persetubuhan telah terjadi atau tidak, apakah terdapat tanda-
tanda kekerasan. Tetapi ini tidak dapat menentukan apakah terdapat unsur paksaan
pada tindak pidana ini.

Ditemukannya tanda kekerasan pada tubuh korban tidak selalu merupakan


akibat paksaan, mungkin juga disebabkan oleh hal-hal lain yang tak ada
hubungannya dengan paksaan. Demikian pula bila tidak ditemukan tanda-tanda
kekerasan, maka hal itu belum merupakan bukti bahwa paksaan tidak terjadi. Pada

36
hakekatnya dokter tak dapat menentukan unsur paksaan yang terdapat pada tindak
pidana perkosaan; sehingga ia juga tidak mungkin menentukan apakah perkosaan
telah terjadi.

Yang berwenang untuk menentukan hal tersebut adalah hakim, karena perkosaan
adalah pengertian hukum bukan istilah medis sehingga dokter jangan
menggunakan istilah perkosaan dalam Visum et Repertum. .(2)

Pasal 286 KUHP

Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan padahal


diketahuinya bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya,
diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. .(2)

Pada tindak pidana di atas harus terbukti bahwa korban berada dalam keadaan
pingsan atau tidak berdaya. Dokter perlu mencari tahu apakah korban sadar waktu
persetubuhan terjadi, adakah penyakit yang diderita korban yang sewaktu-waktu
dapat mengakibatkan korban pingsan atau tidak berdaya. Jika korban mengatakan
ia menjadi pingsan, maka perlu diketahui bagaimana terjadinya pingsan itu,
apakah terjadi setelah korban diberi minuman atau makanan. Pada pemeriksaan
perlu diperhatikan apakah korban menunjukkan tanda-tanda bekas kehilangan
kesadaran, atau tanda-tanda telah berada di bawah pengaruh obat-obatan. .(2)

Jika terbukti bahwa si pelaku telah telah sengaja membuat korban pingsan atau
tidak berdaya, ia dapat dituntut telah melakukan tindak pidana perkosaan, karena
dengan membuat korban pingsan atau tidak berdaya ia telah melakukan
kekerasan. .(2)

Pasal 89 KUHP

Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan


kekerasan.

Kejahatan seksual yang dimaksud dalam KUHP pasal 286 adalah pelaku tidak
melakukanupaya apapun; pingsan atau tidak berdayanya korban bukan
diakibatkan oleh perbuatan si pelaku kejahatan seksual. .(2)

37
3.6 Pencegahan terjadinya kekerasan seksual
3.6.1 Promosi Dan Edukasi
Mempromosikan kesadaran akan kekerasan seksualmerupakan hal
yang paling penting dalam sebuah kebijakan. Semakin baik
programnya maka semakin kecil kemungkinan munculnya aduan
mengenai pelecehan seksual. \

Upaya promosi dalam rangka mencegah (preventif) dan menangani


(kuratif) pelecahan seksual di tempat kerja, harus dilakukan secara
efektif karena akan memberikan pemahaman pada pekerja maupun
manajemen tentang “apa itu pelecehan seksual?”, dan “apa yang
harus mereka lakukan jika mereka mengalaminya?, Menjadi dasar
pengembangan standart dan mekanisme/prosedur yang tepat dan
dapat diterima semua pihak serta memberikan peringatan akan
tindakan/sanksi yang diberikan jika terjadi tindakan pelecehan
seksual.(4,14)

Peringatan ini dimungkinkan berdampak adanya perubahan sikap


dan perilaku dikalangan pekerja dan manajemen. Upaya
pencegahan bisa dilakukan melalui komunikasi, edukasi, dan
pelatihan. Ada pun informasi yang disebarluaskan diantaranya
mencakup Penjelasan tentang kebijakan dan prosedur/mekanisme
perusahaan definisi dan contoh pelecehan seksual, motivasi atau
alasan pelaku tindak pelecehan termasuk relasi kekuasaan yang
melatari tindakan yang terjadi, serta factor social budaya, pihak-
pihak yang bisa dihubungi apabil ada pertanyaan/informasi
lanjutan maupun bantuan jika aduan itu akan dibuat dan juga dapat
menjamin bahwa semua penyelidikan dan aduan akan ditangani
secara pribadi dan rahasia..(4,14)

38
3.6.2 Pendidikan Seks Dini
Menurut dr. Archibald D. Hart, Dekan Graduate School of Psychology
di Fuller Theological Seminary Pasadena California,menjelaskan
bahwa naluri seks dikendalikan olehbagian paling atas dari otak kita,
yaitu korteks. Korteks merupakan bagian otak yang membuat manusia
dapatmempelajari segala hal. Ekspresi seksual dari manusia hanya
mengandung sedikit naluri. Alam memberi kita dorongan seks, tetapi
kita belajar sendiri cara menyalurkannya. Pada manusia, hal ini
berhubungan dengan perasaan, indera, kehendak, gagasan-gagasan,
imajinasi, dan pemikiran. Tidak sepertihewan, manusia tidak perlu
mencium bau-bau yang unik agar terangsang. Hanya manusia yang
sanggup melakukan seks setiap waktu. Organ pemicu seks pada
manusia adalah otak, bukan system reproduksi.Oleh itu, otak perlu di
program dengan cara yang benar. Pikiran-pikiran bukan hanya dapat
merangsang timbulnya dorongan seksual, melainkan juga
mencegahnya. Tidak semua “pemograman” itu sehat dan alami.
Sebagian di antaranya justru dapat mendistorsi respon seksual, yang
menyebabkan individu menjadi responsive terhadap objek-objek yang
salah..(4,14)

3.6.3 Rehabilitasi Untuk Korban Kekerasan Seksual

Kekerasan seksual dan perkosaan dapat menimbulkan efek trauma


yang mendalam pada korban. Korban pelecehan seksual dan perkosaan
dapat mengalami stres akibat pengalaman traumatis yang telah
dialaminya. Gangguan stres yang dialami korban pelecehan seksual
dan perkosaan seringkali disebut Gangguan Stres Pasca Trauma (Post
Traumatic Stress Disorder atau PTSD).

PTSD merupakan sindrom kecemasan, labilitas autonomic,


ketidakrentanan emosional, dan kilas balik daripengalaman yang amat
pedih itu setelah stress fisik maupun emosi yang melampaui batas
ketahanan orang biasa. Korban kekerasan seksual melewati tahap

39
emosi seperti tahap penyangkalan, tahap kemarahan, dan tahap depresi
sebelum akhirnya mencapai tahap penerimaan. Dalam proses
pemulihan dirinya, korban kekerasan seksual mengalami pengalaman
traumatis seperti perasaan takut mencemarkan nama keluarga,
perasaan aib, dan perasaan kotor. Mereka juga mengalami gangguan
tidur, sikap yang mudah curiga, emosi yang tidak adekuat, dan
sebagainya. Sebagai usaha memulihkan diri, korban harus
berkonsultasi ke psikolog, psikiater, latihan meditasi dan yoga,
bercerita kepada teman, dan mengikuti kegiatan spiritual. Faktor yang
mendukung mereka adalah dukungan lingkungan, keyakinan agama,
dan karakteristik kepribadian.(6,7,14,16)

Pedoman perawatan terhadap korban-korban kekerasan seksual dapat


di jabarkan di dalam beberapa poin penting di bawah ini;(9)

3.6.4 Medikamentosa

Fasilitas medis harus diisi dengan ketentuan yang diperlukan untuk


memungkinkan luka ringan untuk dibersihkan dan dibalut. Analgesia
mungkin diperlukan. Pada kesempatan yang ada, booster tetanus bisa
saja dianjurkan.

3.6.5 Fasilitas Kesehatan

Fasilitas pemeriksaan harus memberikan fasilitas membersihkan badan


untuk pengadu setelah pemeriksaan medis selesai, dan pakaian ganti
harus tersedia (sebaiknya pakaian pasien sendiri). Pengadu harus
memiliki akses ke telepon sehingga mereka dapat menghubungi teman
atau kerabat dan harus didorong untuk menghabiskan waktu beberapa
hari ke depan bersama seseorang yang mereka percaya. Pada
kesempatan yang lain, akomodasi alternatif darurat bisa diaturkan.

40
3.6.6 Kehamilan

Pertimbangan harus diberikan kepada pasien yang beresiko hamil. Setiap


kali resiko apapun diidentifikasi, pasien harus diberi konseling mengenai
ketersediaan metode hormonal dan intrauterin kontrasepsi darurat; metode
yang paling cocok akan tergantung pada profil pasien dan waktu sejak
serangan. Ketika pasien memilih untuk pemasangan kontrasepsi intrauterine,
mereka harus diberikan antibiotik profilaksis baik sebelum atau pada saat
pemasangan. Follow up harus dilakukan di tempat yang nyaman di mana tes
kehamilan yang tersedia. Jika ternyata pasien hamil karena tindak kejahatan
asusila, korban harus diberikan konseling simpatik. Jika kehamilan
dihentikan, sangat relevan untuk meminta izin dari pasien terlebih dahulu
untuk hasil konsepsi yang di terminasi dipakai untuk analisis DNA.

3.6.7 Sexually Transmitted Infections

Pengadu perempuan dewasa kekerasan seksual beresiko tertular infeksi


menular seksual (IMS) akibat serangan. Beberapa pengadu laki-laki juga
melaporkan tertular IMS setelah kekerasan seksual. Pada anak-anak yang
mungkin telah mengalami pelecehan seksual, prevalensi kejadian infeksi
yang ditularkan secara seksual adalah rendah, meskipun organisme lain yang
mungkin terkait dengan aktivitas seksual dapat diidentifikasi. Oleh karena
itu, pengujian IMS harus ditawarkan ketika ada riwayat dan / atau temuan
fisik menunjukkan kemungkinan adanya kontak oral , genital , atau dubur.

Beberapa pusat kesehatan memberikan antibiotik profilaksis untuk semua


pengadu serangan seksual penetratif penis pada saat mereka memeriksakan /
melaporkan diri. Penggunaan antibiotik profilaksis mengurangi kebutuhan
untuk pemeriksaan berulang, menghindari kecemasan yang terjadi dalam
menunggu hasil, dan dapat diterima oleh sebagian besar perempuan korban
tindak kekerasan seksual. Profilaksis antibiotik harus mencakup spectrum
luas organisme yang dapat diobati pada populasi lokal, dan saran harus
dicari dari pusat pengendalian penyakit local mengenai rejimen yang sesuai.

41
3.6.8 Perawatan Psikologi

Pengadu kekerasan seksual harus ditawarkan konseling segera dan


berkelanjutan untuk membantu mereka mengatasi gejala sisa psikologis saat
ini dan jangka panjang yang didapat sebagai akibat tindak kekerasan seksual.
Beberapa fasilitas pemeriksaan memiliki akses 24 jam untuk konselor
terlatih.

42
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada tanggal 26 Juli 2018, Pukul 08.50WIB, bertempat di Ruang Administrasi


Bagian Forensik Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi
Lampung, telah melakukan pemeriksaan terhadap korban bernama An. MJS usia 9
tahun 8 bulan. Korban datang diantar ibu karena mencurigai anaknya menjadi
korban tindakan asusila, yaitu persetubuhan sesama jenis. Berdasarkan informasi
kronologi yang didapat dari ibu korban, korban menjadi korban asusila tersangka
yang merupakan teman korban sendiri pada tanggal 24 Juli 2018 pukul 17.00
bertempat di Jln. Pangeran Antasari Gg. H. Thoyib, Tanjung Barat. Korban
mengaku mendapat luka pada bagian lubang anus akibat pelaku memasukkan alat
kelaminnya ke lubang anus korban. Selain itu pelaku meminta korban mengulum
kelaminnya tanpa menggunakan kondom hingga terjadi ejakulasi. Pakaian pasien
saat kejadian adalah rapi dan tidak ada sobekan.

Prosedur medikolegal pada kasus ini sudah memenuhi persyaratan dikarenakan


sudah ada surat permintaan visum tertulis dari kepolisian. Hal ini sesuai dengan
pasal 133 ayat 1 dan 2 KUHAP,”Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan
menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga
karena peristiwa yang merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan
permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan
atau ahli lainnya.” Permintaan tersebut dilakukan secara tertulis yang dalam surat
itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan
atau pemeriksaan bedah mayat.Samasekalitidakdibenarkan tindakan pemeriksaan
visum tanpa adanya surat tertulispermintaan visum et repertum atas korban.

43
Permintaan dilakukan secara tertulis dan disebutkan untuk jenis pemeriksaannya.
Dengan adanya SPV tersebut berarti dokter wajib untuk memberikan bantuan
sesuai dengan kemampuannya, dan dapat diancam pidana penjara atau denda jika
terjadi pelanggaran peraturan tersebut. Hal ini diterangkan dalam pasal 216 ayat 1
KUHP yang berbunyi : ”Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah
atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang
tugasnya mengawasi sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian
pula barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau
menggagalkan tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana
penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak sembilan
ribu rupiah.”

Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan, tidak ditemukan luka-luka akibat


trauma tajam dan tumpul pada seluruh tubuh, pada pemeriksaan colok dubur, otot
anus normal, tidak melebar dan tidak ditemukan luka akibat trauma tajam dan
tumpul. Dalam Ilmu forensik, penulisan visum et repertum hanyalah menuliskan
apa yang dilihat atau ditemukan, namun tidak dapat memberikan keterangan
secara langsung untuk mengonfirmas bahwa suatu kejadian memang benar
adanya.

44
BAB IV
KESIMPULAN

1. Terdapat 15 jenis perbuatan-perbuatan yang digolongkan sebagai bentuk


kekerasan seksual, antara lain perkosaan; pelecehan seksual; eksploitasi
seksual; penyiksaan seksual; perbudakan seksual;intimidasi/serangan
bernuansa seksual termasuk ancaman atau percobaanperkosaan; prostitusi
paksa; pemaksaan kehamilan;pemaksaan aborsi; pemaksaan perkawinan;
perdagangan perempuan untuk tujuan seksual; kontrol seksual termasuk
pemaksaan busana dan kriminalisasi perempuan lewat aturandiskriminatif
beralasan moralitas dan agama; penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa
seksual; praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau
mendiskriminasi perempuan, pemaksaan kontrasepsi/sterilisasi.
2. Upaya pembuktian secara kedokteran forensik pada setiap kasus kejahatan
seksual sebenarnya terbatas di dalam pembuktian ada tidaknya tanda-tanda
persetubuhan, ada tidaknya tanda-tanda kekerasan, perkiraan umur serta
pembuktian apakah seseorang itu memang sudah pantas atau sudah mampu
untuk dikawin atau tidak. Pemeriksaan detail pada organ-organ tubuh korban
dan pelaku sangat perlu dilakukan untuk membuat pembuktian semakin
sistematis; pemeriksaan yang dilakukan antara lain terhadap kuku, rongga
mulut, rambut, genitalia, lubricant, darah dan urin, perianal dan anal.
3. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan, tidak ditemukan luka-luka akibat
trauma tajam dan tumpul pada seluruh tubuh, pada pemeriksaan colok dubur,
otot anus normal, tidak melebar dan tidak ditemukan luka akibat trauma tajam
dan tumpul.

45
DAFTAR PUSTAKA

1. Brenner JC. Forensic Science An Illustrated Dictionary. USA: CRC Press; 2004.
p411.
2. Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. 1st ed. Jakarta: Binarupa
Aksara; 1997. p215-41.
3. Abdul Mun'im Idries ALT. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik Dalam Proses
Penyidikan. Jakarta: Sagung Seto; 2011. p113-32.
4. Kekerasan Seksual : Kenali dan Tangani [database on the Internet]. Komnas
Perempuan. 2013 [cited on 17-12-2014]. Available from:
http://www.komnasperempuan.or.id/wp content/uploads/2013/12/Kekerasan-
Seksual-Kenali-dan-Tangani.pdf.
5. Sexual Violence [database on the Internet]. WHO. 2002 [cited on 17-12-2014].
Available from:
http://www.who.int/violence_injury_prevention/violence/world_report/en/.
6. Petrak J. The Trauma of Sexual Assault. Jenny Petrak BH, editor. USA: John
Wiley & Sons, Ltd; 2002. p1-15.
7. Shepherd R. Simpson's Forensic Medicine. 12th ed. London: Arnold; 2003. p128-
33.
8. Vincent J Dimaio DD. Forensic Pathology 2nd ed. USA: CRC Publisher; 2001.
p449-66.
9. Deborah Rogers and Mary Newton. Clinical Forensic Medicine : A Physician's
Guide. 3rd ed. Stark MM, editor. USA: Humana Press; 2011. P61-115.
10. Hertinjung WS. The Dinamic of Causes of Chiled Sexual Abuse Based on
Availability of Personal Space and Piracy.
11. Michael Planty LL, Christopher Krebs, MArcus Berzosky, Hope Smiley. Female
Victims of Sexual Violence, 1994-2010. BJS. 2013.
12. Fuadi MA. Dianmika Psikologis Kekerasan Seksual : Sebuah Studi Fenomologi.
Jurnal Psikologi Islam. 2011;Volume 8:191-2018.
13. Diana M Elliot DSM. Adult Sexual Assault: Prevalence, Symptomatology, and
Sex Differences in the General Population. Journal of Traumatic Stress, Vol. 17,
No. 3, June 2004, pp. 203-211.

46
14. Barnyard VL. Sexual Violence Prevention Through Bystandar education : An
Experimental Evaluation.JOURNAL OF COMMUNITY PSYCHOLOGY, Vol.
35, No. 4.p463–481.
15. Dumond RW. Inmate Sexual Assault : The Plague That Persist. THE PRISON
JOURNAL, Vol. 80 No. 4, December 2000. p407-414.
16. Linden JA. Care of the Adult Patient after Sexual Assault. N Engl J Med
2011;365:834-41.

47