Anda di halaman 1dari 6

Kaleng Bekas Made in Eni: Bernilai Ratusan Juta Hingga

Tembus Pasar Australia

kembali motif-motif kuno itu tidak hanya dalam bentuk kain karena dalam bentuk kain kan
relatif mahal. Nah kita ingin mengaplikasikan motif-motif kain itu ke berbagai perangkat,
termasuk perangkat rumah tangga, hiasan, dekorasi, dan sebagainya,” tulis pemilik
Wastraloka, Eni Aryani.

Bagi sebagian orang, sampah sering dianggap sebagai barang yang tidak berharga. Namun di
tangan Eni Aryani (37), sampah justru menjadi sumber pemasukan tambahan dengan omzet yang
cukup besar.

Dengan hanya bermodal kaleng dan kayu bekas, Eni mampu meraup omzet hingga puluhan
bahkan ratusan juta setiap bulannya. Ia berhasil menyulap sampah seperti kaleng dan kayu bekas
menjadi barang hiasan dan kerajinan tangan yang memiliki nilai jual.

“Jadi Wastraloka ini usaha yang bergerak di bidang hiasan dan dekorasi rumah yang dihias oleh
seni lukisan.” ujar Eni kepada indotrading.com, Jumat (28/10/2016).

Eni mengatakan barang hiasan kerajinan tangan yang ia buat biasanya berasal dari kaleng dan
kayu bekas serta memiliki ciri khas keunikan yang berbeda dari produk kerajinan tangan lainnya.
Selain itu, Eni juga memberikan sentuhan berbeda pada motif dan desain agar menarik perhatian
para pelanggannya.
Foto: berbagai jenis produk kerajinan tangan Wastraloka/ Dok: indotrading.com

Alhasil, wanita kelahiran Yogyakarta, 22 Desember 1979 ini telah berhasil membuat lebih dari
20 macam produk, misalnya kaleng kerupuk, tenong, guci tempel, vas bunga, ceret angkringan,
dan barang-barang keperluan rumah tangga lainnya.

“Ada kotak pos, kaleng untuk tempat kerupuk dan kue, ember, pensil, ceret angkringan, siraman
bunga, tenong, dan lain lain,” jelas Eni.

Meski hanya berasal dari kaleng dan kayu bekas, barang hiasan kerajinan tangan buatan Eni
ternyata dijual cukup mahal yaitu dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Salah satu alasannya
adalah karena semua barang hiasan kerajinan tangan dibuat sepenuhnya dengan menggunakan
tangan (handmade).

“Mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 1,2 juta (per item). Yang paling mahal itu biasanya hiasan
atau pajangan yang custom,” ucap Eni.

Ubah Barang Bekas Jadi Barang Berkualitas

Eni Aryani merintis bisnis Wastraloka sejak tahun 2014 lalu. Ia membuat berbagai macam
barang hiasan kerajinan tangan yang memiliki nilai jual hingga jutaan rupiah.

Namun siapa sangka saat pertama kali bisnis ini dirintis, Eni tidak mengeluarkan modal yang
cukup besar. Hal ini disebabkan karena Eni hanya memanfaatkan barang-barang bekas seperti
kaleng dan kayu bekas yang sudah tidak terpakai.

“Hampir sebagian besar kan kita menggunakan material nya kaleng dan seng, tapi ada juga kayu
dan benda-benda lainnya yang notabene-nya sudah tidak digunakan lagi,” kata Eni.
Karena terbuat dari barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai, Eni mengaku tidak pernah
merasa kesulitan mencari barang bekas. Barang bekas biasa ia dapatkan dari pabrik atau
peralatan elektronik rusak yang sudah tidak terpakai.

Baca juga: Dari Pengepul Sampah Kayu, Made Kini Jadi Pengusaha Beromzet Rp 300
Juta/Bulan

Eni juga kerap mendapatkan suplai barang bekas dari para pengepul. Kebetulan di sekitar tempat
tinggalnya banyak pengepul yang siap sedia memasok barang-barang bekas secara rutin
kepadanya.

“Kebetulan semua sumber daya itu ada di sekitar kita. Di daerah kami itu isinya adalah
pengrajin semua. Jadi bahan-bahan bekas untuk bahan material ini ada semua dan mudah
didapat. Bahan seperti seng dan kaleng ada pengepulnya sendiri juga,” papar Eni.

Setelah terkumpul, barang bekas tersebut kemudian dipilih dan dibersihkan. Kemudian barang
bekas kembali masuk ke tahap sortir hingga dirancang menjadi sebuah barang hiasan baru oleh
para pengrajin.

Eni juga menambahkan beberapa kreasi motif gambar unik di setiap barang hiasan kerajinan
tangan yang ia buat. Misalnya motif batik, bunga, sampai angsa yang terkesan eksotik.

“Kaleng kita ambil sisa-sisa dari pabrik, seperti kulkas. Dari sisa itu kita ada pengrajin untuk
membentuknya, dari desain kita sendiri juga ada, dari desain yang sudah jadi atau sudah umum
juga ada, misalnya kaleng kerupuk kan desain umum, tapi kita modifikasi, bagaiamna kaleng itu
bisa beda dengan kaleng yang lain. Nah setelah desain kaengnya suda jadi, kita membat cat dasar
putihnya,” tuturnya.

Eni mengklaim barang kerajinan tangan buatannya memiliki kualitas yang cukup tinggi meski
sebagian besar dibuat dari barang-barang bekas. Agar berkualitas dan barang tahan lama, Eni
menggunakan cat akrilik. Penggunaan cat akrilik diperlukan terutama agar barang kerajinan
tangan miliknya bisa bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama.

“Yang kita gunakan adalah cat akrilik. Sebenarnya cat tapi berbasis air dan dicampurnya juga
pake air, cat akriik itu tidak mudah terhapus. Setelah itu kita sketch dan kita warnai dengan cat
akrilik tadi kemudian di-coating agar ngunci, agar tidak luntur, dan kena panas pun masih
aman,” ujar Eni.

Dengan Modal Rp 5 Juta Mampu Raup Omzet Hingga Ratusan Juta

Pada saat bisnis Wastraloka berdiri di tahun 2014, Eni mengaku hanya menggelontorkan modal
sebesar Rp 5 juta. Modal tersebut sebagian besar digunakan untuk membeli bahan baku berupa
barang bekas serta cat akrilik yang digunakan sebagai pewarna.

“Saya waktu itu mengeluarkan modal awal sebesar Rp 5 juta,” ujar Eni.
Dengan modal tersebut, Eni berhasil membuat berbagai macam kerajinan tangan yang memiliki
nilai jual hingga jutaan rupiah. Misalnya kaleng kerupuk, tenong, guci tempel, vas bunga, ceret
angkringan, dan barang-barang keperluan rumah tangga lainnya.

Setelah berjalan satu tahun, usahanya terus berkembang. Permintaan barang kerajinan tangan
miliknya terus mengalami peningkatan setelah Eni membangun sistem pemasaran secara online.

“Kalau tempat workshop sih di Yogyakarta. Tapi unuk pemesanan bisa melalui telepon,
Whatsapp, Instagram, dan website,” tambahnya.

Dengan besarnya permintaan maka tidak heran bila omzet yang didapat Eni cukup besar. Eni
mampu meraup omzet hingga puluhan juta rupiah setiap bulannya. Bila beruntung, omzet yang
didapat bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah.

“Kalau omzet sih naik turun. Kalau saya mengikuti pameran omzetnya bisa mencapai puluhan
juta bahkan Rp 100 juta. Kalau bulan biasa, tidak mengikuti pameran, paling di atas Rp 20 juta,”
ucapnya.

Singkat cerita, produk Wastraloka semakin dikenal banyak orang. Apalagi setelah setahun
menjalankan bisnis ini atau tepatnya di tahun 2015, Eni mulai mendapatkan tawaran untuk
mengikuti ajang pameran kerajinan tangan terbesar di Indonesia, Inacraft.

Eni menceritakan awalnya ia mengalami dilema. Hal ini karena untuk bisa mengikuti ajang
Inacraft 2015, ia harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Untungnya, saat itu ia berhasil
mendapatkan modal mengikuti Inacraft 2015 dari uang asuransi.

“Tahun 2015 tiba-tiba ada tawaran untuk ikut Inacraft. Nah untuk modal ke Inacraft itu pas
kebetulan uang saya dari asuransi cair. Jadi bisa digunakan untuk modal ke Inacraft. Kan modal
untuk pameran Inacraft secara mandiri tidak sedikit, sekitar belasan juta. Itu pas saya diajak pas
ada permintaan produk dari customer,” papar Eni.
Foto: produk-produk Wastraloka/ Dok: indotrading.com

Eni mengaku beruntung bisa mengikuti ajang Inacraft 2015. Bagi Eni ajang Inacraft 2015 dapat
membantu dirinya membuka pasar kerajinan tangan yang jauh lebih luas. Namun saat mengikuti
ajang ini, Eni mengaku ada sedikit kendala teknis.

“Kita sebenarnya kesulitannya itu akses penyelenggaranya. Kalau awal-awal sebagai pemula
atau pengusaha-pengusaha startup lebih ke informasi persyaratannya. Inacraft kan ada saratnya
seperti harus jadi anggota ASEPHI (Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia),”
jelas Eni.

Sukses Diekspor ke Pasar Jepang Hingga Australia

Setelah dua tahun menggeluti bisnis barang kerajinan tangan Wastraloka dan mendapatkan
omzet yang cukup besar, Eni mengaku ingin lebih fokus menggarap bisnisnya. Wanita yang
sehari-hari bekerja sebagai karyawan swasta ini berniat ingin mengundurkan diri dari
perusahaannya saat ini.

“Saya sampai sekarang masih kerja kantoran juga dan tengah proses untuk resign karena ingin
fokus ke usaha saya,” tegas Eni.

Sementara itu ketika ditanya mengenai lokasi produksi Wastraloka, Eni mengatakan ia memiliki
tempat workshop kerajinan tangan yang berpusat di kota Yogyakarta. Namun, Wastraloka juga
memiliki sebuah galeri pemasaran di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Dari berbagai macambarang kerajinan tangan yang dihasilkan, Eni mengatakan peminat
produknya di dalam negeri cukup beragam. Pembeli tak hanya datang dari kalangan perorangan
atau individu tetapi juga dari korporasi besar seperti hotel dan restoran.

Tidak hanya itu, produk kerajinan tangan Wastraloka buatan Eni pun sudah dipasarkan ke
berbagai negara. Misalnya pasar Jepang dan Australia.

“Kita berusaha meraup pasar Indonesia. Kita juga sudah ada market di luar negeri, sudah ada di
Australia dan Jepang. Waktu itu yang dikirim ke Jepang konsepnya adalah untuk gift. Nah kalau
di Australia, kita sudah ada kerjasama dengan gallery seni di sana,” ujarnya.

Sedangkan dalam proses pengerjaannya, Eni dibantu oleh 8 orang pegawai. Namun jika
permintaan (order) sedang banyak, Eni juga mempekerjakan 5 orang freelancer.

“Kalau untuk pengrajin kalengnya ada tiga dan ada dua orang yang freelance. Kalau untuk
pelukisnya itu ada 5 orang dan 3 orang yang freelance. Jadi kalau produksi lagi full, kita
mempekerjakan freelance juga,” pungkas Eni.