Anda di halaman 1dari 40

LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTERMI

A. Definisi
Hipertermi adalah peningkatan suhu tubuh diatas kisaran normal (NANDA
International 2009-2011)

B. Klasifikasi Hipertermia
1. Hipertermia yang disebabkan oleh peningkatan produksi panas
a. Hipertermia maligna
Hipertermia maligna biasanya dipicu oleh obat-obatan anesthesia.
Hipertermia ini merupakan miopati akibat mutasi gen yang diturunkan
secara autosomal dominan. Pada episode akut terjadi peningkatan
kalsium intraselular dalam otot rangka sehingga terjadi kekakuan otot
dan hipertermia. Pusat pengatur suhu di hipotalamus normal sehingga
pemberian antipiretik tidak bemanfaat.

b. Exercise-Induced hyperthermia (EIH)


Hipertermia jenis ini dapat terjadi pada anak besar/remaja yang
melakukan aktivitas fisik intensif dan lama pada suhu cuaca yang
panas. Pencegahan dilakukan dengan pembatasan lama latihan fisik
terutama bila dilakukan pada suhu 300C atau lebih dengan
kelembaban lebih dari 90%, pemberian minuman lebih sering (150 ml
air dingin tiap 30 menit), dan pemakaian pakaian yang berwarna
terang, satu lapis, dan berbahan menyerap keringat.

c. Endocrine Hyperthermia (EH)


Kondisi metabolic/endokrin yang menyebabkan hipertermia lebih
jarang dijumpai pada anak dibandingkan dengan pada dewasa.
Kelainan endokrin yang sering dihubungkan dengan hipertermia
antara lain hipertiroidisme, diabetes mellitus, phaeochromocytoma,
insufisiensi adrenal dan Ethiocolanolone suatu steroid yang diketahui
sering berhubungan dengan hipertermi (merangsang pembentukan
pirogen leukosit).

2. Hipertermia yang disebabkan oleh penurunan pelepasan panas.


a. Hipertermia neonatal
Peningkatan suhu tubuh secara cepat pada hari kedua dan ketiga
kehidupan bisa disebabkan oleh:
1) Dehidrasi
Dehidrasi pada masa ini sering disebabkan oleh kehilangan cairan
atau paparan oleh suhu kamar yang tinggi. Hipertermia jenis ini
merupakan penyebab kenaikan suhu ketiga setelah infeksi dan
trauma lahir. Sebaiknya dibedakan antara kenaikan suhu karena
hipertermia dengan infeksi. Pada hipertermi karena infeksi biasanya
didapatkan tanda lain dari infeksi seperti leukositosis/leucopenia,
CRP yang tinggi, tidak berespon baik dengan pemberian cairan, dan
riwayat persalinan prematur/resiko infeksi.
2) Overheating
Pemakaian alat-alat penghangat yang terlalu panas, atau bayi
terpapar sinar matahari langsung dalam waktu yang lama.
3) Trauma lahir
Hipertermia yang berhubungan dengan trauma lahir timbul pada
24%dari bayi yang lahir dengan trauma. Suhu akan menurun pada1-
3 hari tapi bisa juga menetap dan menimbulkan komplikasi berupa
kejang. Tatalaksana dasar hipertermia pada neonatus termasuk
menurunkan suhu bayi secara cepat dengan melepas semua baju bayi
dan memindahkan bayi ke tempat dengan suhu ruangan. Jika suhu
tubuh bayi lebih dari 390C dilakukan tepid sponged 350C sampai
dengan suhu tubuh mencapai 370C.
4) Heat stroke
Tanda umum heat stroke adalah suhu tubuh > 40.50C atau sedikit
lebih rendah, kulit teraba kering dan panas, kelainan susunan saraf
pusat, takikardia, aritmia, kadang terjadi perdarahan miokard, dan
pada saluran cerna terjadi mual, muntah, dan kram.
5) Haemorrhargic Shock and Encephalopathy (HSE)
HSE diduga berhubungan dengan cacat genetic dalam produksi atau
pelepasan serum inhibitor alpha-1-trypsin. Kejadian HSE pada anak
adalah antara umur 17 hari sampai dengan 15 tahun (sebagian besar
usia < 1 tahun dengan median usia 5 bulan).
Pada umumnya HSE didahului oleh penyakit virus atau bakterial
dengan febris yang tidak tinggi dan sudah sembuh (misalnya infeksi
saluran nafas akut atau gastroenteritis dengan febris ringan).

C. Etiologi
Hipertermi terjadi bila pembentukan panas melebihi pengeluaran.
Hipertermi dapat berhubungan dengan infeksi, penyakit kolagen, keganasan,
penyakit metabolik maupun penyakit lain. (Julia, 2000). Menurut Guyton
(1990) hipertermi dapat disebabkan karena kelainan dalam otak sendiri atau
zat toksik yang mempengaruhi pusat pengaturan suhu, penyakit-penyakit
bakteri, tumor otak atau dehidrasi.
Penyebab hipertermi selain infeksi juga dapat disebabkan oleh keadaan
toksemia, keganasan atau reaksi terhadap pemakaian obat, juga pada
gangguan pusat regulasi suhu sentral (misalnya: perdarahan otak, koma).
Pada dasarnya untuk mencapai ketepatan diagnosis penyebab hipertermi
diperlukan antara lain: ketelitian penggambilan riwayat penyakit pasien,
pelaksanaan pemeriksaan fisik, observasi perjalanan penyakit dan evaluasi
pemeriksaan laboratorium.serta penunjang lain secara tepat dan holistik.
Beberapa hal khusus perlu diperhatikan pada hipertermi adalah cara timbul
hipertermi, lama hipertermi, tinggi hipertermi serta keluhan dan gejala lian
yang menyertai hipertermi.
D. Patofisiologi
Hipertermi terjadi sebagai respon tubuh terhadap peningkatan set point,
tetapi ada peningkatan suhu tubuh karena pembentukan panas berlebihan
tetapi tidak disertai peningkatan set point(Julia, 2000). Hipertermi adalah
sebagai mekanisme pertahanan tubuh (respon imun) terhadap infeksi atau zat
asing yang masuk ke dalam tubuhnya. Bila ada infeksi atau zat asing masuk
ke tubuh akan merangsang sistem pertahanan tubuh dengan dilepaskannya
pirogen. Pirogen adalah zat penyebab hipertermi, ada yang berasal dari dalam
tubuh (pirogen endogen) dan luar tubuh (pirogen eksogen) yang bisa berasal
dari infeksi oleh mikroorganisme atau merupakan reaksi imunologik terhadap
benda asing (non infeksi).Pirogen selanjutnya membawa pesan melalui alat
penerima (reseptor) yang terdapat pada tubuh untuk disampaikan ke pusat
pengatur panas di hipotalamus. Dalam hipotalamus pirogen ini akan
dirangsang pelepasan asam arakidonat serta mengakibatkan peningkatan
produksi prostaglandin (PGEZ). Ini akan menimbulkan reaksi menaikkan
suhu tubuh dengan cara menyempitkan pembuluh darah tepi dan menghambat
sekresi kelenjar keringat. Pengeluaran panas menurun, terjadilah
ketidakseimbangan pembentukan dan pengeluaran panas. Inilah yang
menimbulkan hipertermi.

E. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala Hipertermi antara lain :
1. .Kulit kemerahan
2. Hangat pada sentuhan
3. Peningkatan frekuensi pernapasan
4. Menggigil
5. Dehidrasi
6. Kehilangan nafsu makan

Banyak gejala yang menyertai hipertermi termasuk gejala nyeri


punggung, anoreksia dan somnolen. Batasan mayornya yaitu suhu tubuh lebih
tinggi dari 37,5 ºC-40ºC, kulit hangat, takichardi, sedangkan batasan
karakteristik minor yang muncul yaitu kulit kemerahan, peningkatan
kedalaman pernapasan, menggigil/merinding perasaan hangat dan dingin,
nyeri dan sakit yang spesifik atau umum (misal: sakit kepala verigo),
keletihan, kelemahan, dan berkeringat (Isselbacher. 1999, Carpenito. 2000).

F. Penatalaksanaan
1. Secara Fisik
a. Pengukuran suhu secara berkala setiap 4-6 jam
b. Bukalah pakaian dan selimut yang berlebihan
c. Memperhatikan aliran udara di dalam ruangan
d. Jalan nafas harus terbuka untuk mencegah terputusnya suplai oksigen
ke otak yang akan berakibat rusaknya sel – sel otak.
e. Berikan cairan melalui mulut, minum sebanyak –banyaknya
f. Tidur yang cukup agar metabolisme berkurang
g. Kompres dengan air biasa pada dahi, ketiak,lipat paha.

2. Obat-obatan Antipiretik
Antipiretik bekerja secara sentral menurunkan suhu di pusat pengatur suhu
di hipotalamus. Antipiretik berguna untuk mencegah pembentukan
prostaglandin dengan jalan menghambat enzim cyclooxygenase sehinga
set point hipotalamus direndahkan kembali menjadi normal yang mana
diperintah memproduksi panas diatas normal dan mengurangi pengeluaran
panas.
G. Komplikasi
1. Dehidrasi : hipertermi ↑penguapan cairan tubuh
2. Pusing
H. Pengkajian Fokus
1. Pengkajian
a. Identitas : umur untuk menentukan jumlah cairan yang diperlukan
b. Riwayat kesehatan
c. Keluhan utama (keluhan yang dirasakan pasien saat pengkajian) :
panas.
d. Riwayat kesehatan sekarang (riwayat penyakit yang diderita pasien saat
masuk rumah sakit): sejak kapan timbul hipertermi, sifat hipertermi,
gejala lain yang menyertai hipertermi (misalnya: mual, muntah, nafsu
makan, eliminasi, nyeri otot dan sendi dll), apakah menggigil, gelisah.
e. Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit yang sama atau penyakit
lain yang pernah diderita oleh pasien).
f. Riwayat kesehatan keluarga (riwayat penyakit yang sama atau penyakit
lain yang pernah diderita oleh anggota keluarga yang lain baik bersifat
genetik atau tidak)
2. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : kesadaran, vital sign, status nutrisi
3. Pemeriksaan persistem
a. Sistem persepsi sensori
b. Sistem persyarafan
c. Sistem pernafasan
d. Sistem kardiovaskuler
e. Sistem gastrointestinal
f. Sistem integumen
g. Sistem perkemihan
4. Pada fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
b. Pola nutrisi dan metabolisme
c. Pola eliminasi
d. Pola aktivitas dan latihan
e. Pola tidur dan istirahat
f. Pola kognitif dan perseptual
g. Pola toleransi dan koping stress
h. Pola nilai dan keyakinan
i. Pola hubungan dan peran
5. Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium
b. foto rontgent
c. USG
DAFTAR PUSTAKA

Nanda International.2009-2011.Diagnosa Keperawatan Definisi dan


Klasifikasi.Jakarta.EGC

Mubarak, Wahit chayatin, N. 2007. Buku ajar kebutuhan dasar manusia : Teori
& Aplikasi dalam praktek. Jakarta: EGC.
Tarwanto, Wartonah. 2006. Kebutuhan dasar manusia dan proses keperawatan
edisi 3. Salemba:Medika.
https://mryahya.wordpress.com/hipertermia/
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/162/jtptunimus-gdl-intandewim-8084-1-babi.pdf
LAPORAN PENDAHULUAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
NUTRISI

A. PENGERTIAN
Nutrisi adalah keseluruhan berbagai proses dalam tubuh makhluk hidup untuk
menerima bahan-bahan dari lingkungan hidupnya dan menggunakan bahan-
bahan tersebut agar menghasilkan berbagai aktivitas penting dalam tubuhnya
sendiri.Atau nutrisi bisa didefinisikan sebagai proses pengambilan zat-zat
makanan penting dengan kata lain nutrient adalah apa yang manusia makan
dan bagaimana tubuh menggunakannya.
Gangguan nutrisi terjadi kalau diet mengandung satu atau lebih nutrient dalam
jumlah yang tidak tepat.

B. FISIOLOGI
Proses mencerna nutrisi:
1. Ingesti: masuknya makanan ke dalam rongga mulut
2. Digesti: mulut-lambung-usus halus-usus besar
3. Absorbsi
4. Metabolisme
5. Ekskresi: defekasi, miksi, diaphoresis, ekspirasi

C. ETIOLOGI
Faktor-faktor yang mempengaruhi
1. Fisiologis
a. Intake nutien
1) Kemampuan mendapat dan mengolah makanan
2) Pengetahuan
3) Gangguan menelan
4) Perasaan tidak nyaman setelah makan
5) Anoreksia
6) Nausea dan vomitus
7) Intake kalori dan lemak yang berlebih
b. Kemampuan mencerna nutrient
1) Obstruksi saluran cerna
2) Malaborbsi nutrient
3) DM
2. Kebutuhan metabolism
a. Pertumbuhan
b. Stres
c. Kondisi yang meningkatkan BMR (latihan,hipertyroid)
d. Kanker
3. Gaya hidup dan kebiasaan
Kebiasaan makan yang baik perlu diterapkan pada usia toddler
4. Kebudayaan dan kepercayaan
Kebudayaan orang asia lebih memilih padi sebagai makanan pokok
5. Sumber ekonomi
Tinggal sendiri, Seseorang yang hidup sendirian sering tidak
mempedulikan tugas memasak untuk menyediakan makanannya.
6. Kelemahan fisik
Contohnya atritis atau cedera serebrovaskular (CVA) yang menyebabkan
kesulitan untuk berbelanja dan masak. Mereka tidak mampu
merencanakan dan menyediakan makanannya sendiri.
7. Kehilangan
Terutama terlihat pada pria lansia yang tidak pernah memasak untuk
mereka sendiri. Mereka biasanya tidak memahami nilai suatu makanan
yang gizinya seimbang.
8. Depresi
Menyebabkan kehilangan nafsu makan. Mereka tidak mau bersusah payah
berbelanja, memasak atau memakan makanannya.
9. Pendapatan yang rendah
Ketidakmampuan untuk membeli makanan yang cermat untuk
meningkatkan pengonsumsian makanan yang bergizi.
10. Penyakit saluran pencernaan
Termasuk sakit gigi, ulkus
11. Obat
Pada lansia yang mendapat lebih banyak obat dibandingkan kelompok usia
lain yang lebih muda ini berakibat buruk terhadap nutrisi lansia.
Pengobatan akan mengakibatkan kemunduran nutrisi yang semakin jauh.

D. MANIFESTASI KLINIK
Tanda Dan Gejala
1. Gigi tidak lengkap dan ompong
2. Nafsu makan menurun
3. Lesu
4. Tidak semangat
5. BB kurang / lebih dari normal
6. Perut terasa kembung
7. Sukar menelan
8. Mual muntah
9. Berkurangnya indera pengecapan mengakibatkan penurunan terhadap cita
rasa manis, asin, asam, dan pahit.
10. Esophagus/kerongkongan mengalami pelebaran.
11. Rasa lapar menurun, asam lambung menurun.
12. Gerakan usus atau gerak peristaltic lemah dan biasanya menimbulkan
konstipasi.
13. Penyerapan makanan di usus menurun

E. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Riwayat keperawatann dan diet.
1) Anggaran makan, makanan kesukaan, waktu makan.
2) Apakah ada diet yang dilakukan secara khusus.
3) Adakah penurunan dan peningkatan berat badan dan berapa lama
periode waktunya?
4) Adakah sttus fisik pasien ang dapat meningkatakan diet seperti
luka bakar dan demam?
5) Adakah toleransi makanan/minumam tertentu?
b. Factor yang mempengaruhi diet
1) Status keehatan
2) Kultur dan keperrcayaan
3) Status sosial ekonomi.
4) Factor psikolpgis.
5) Informasi yang salah tentang makanan dan cara berdiet.
c. Pemeriksaan fisik
1) Keadaan fisik:apatis,lesu
2) Berat badan :obesitas,kurus.otot : flaksia,tonus Kurang,tidak
mampu bekerja.
3) Sistem saraf:bigung,rasa terbakar,reflek menurun.
4) Fungsi gastrointestinal: anoreksia,konstipasi,diare,pembesaran
liver.
5) Kardiovaskuler:denyut nadi lebih dari 100 kali/menit,irama
abnormal,tekanan darah rendah/tinggi.
6) Rambut: kusam,kering,pudar,kemerahan,tipis,pecah/patah-patah.
7) Kulit: kering,pucat,iritasi,petekhie,lemak disubkutan tidak ada.
8) Bibir: kering,pecah-pecah,bengkak,lesi,stomatitis,membrane
mukosa pucat.
9) Gusi: perdarahan,peradangan.
10) Lidah: edema,hiperemasis.
11) Gigi: karies,nyeri, kotor.
12) Mata: konjungtiva pucat,kering,exotalmus,tanda-tanda infeksi.
13) Kuku: mudah patah.
d. Pengukuran antopometri:
1) Berat badan ideal: (TB- 100)*10%
2) Lingkar pergelangan tangan
3) Lingkar lengan atas (mac) :
Nilai normal
Wanita :28,5 cm
Pria :28,3 cm
4) Lipatan kulit pada otot trisep (TSF)
Nilai normal
Wanita : 16,5-18 cm
Pria :12,5-16,5 cm
e. Laboratorium
1) Albumin (N :3,5 - 5 mg/100ml)
2) Transferin (N :170-25 mg/100 ml)
3) Hb
(N: Laki-laki : 14-18 mg%, Wanita: 12-16 mg%)
4) BUN (N:10-20 mg/100ml)
5) Ekskresi kreatinin untuk 24 jam
(N :Laki-Lak1: 0,6-1,3 Mg/100 Ml, Wanita: 0,5-1,0 Mg/ 100 Ml)
2. Diagnosa
a. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d.
ketidakmampuan untuk mengunyah atau mengabsorbsi nutrisi
dikarenakan faktor biologis, psikologi atau ekonomi.
Tujuan: Status nutrisi intake makanan dan cairan, dengan kriteria hasil
pasien memiliki:
 Intake makanan secara TPN yang adekuat
 Intake cairan secara TPN dengan adekuat
Intervensi:
 Monitor intake makanan dan minuman yang dikonsumsi klien
setiap hari.
 Kaji kebutuhan klien akan pemasangan NGT.
 Beri makanan lewat oral, bila memungkinkan.
 Lepas NGT bila klien sudah bisa makan lewat oral.
2) Ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh b.d. intake yang
berlebihan.
Tujuan: Status nutrisi intake zat gizi, dengan kriteria hasil pasien
mendapatkan intake yang normal dari:
 Kalori
 Protein
 Lemak
 Karbohidrat
 Vitamin
 Mineral
 Zat besi
 Kalsium
Intervensi:
 Diskusikan dengan pasien tentang kebiasaan dan budaya serta
faktor hereditas yang mempengaruhi berat badan.
 Diskusikan resiko kelebihan berat badan.
 Kaji berat badan ideal klien.
 Kaji persentase normal lemak tubuh klien.
 Beri motivasi kepada klien untuk menurunkan berat badan.
 Timbang berat badan setiap hari.
 Buat rencana untuk menurunkan berat badan klien.
 Buat rencana olahraga untuk klien.
 Ajari klien untuk diet sesuai dengan kebutuhan nutrisinya.
3) Resiko ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh.
Tujuan: kontrol berat badan, dengan kriteria hasil pasien mampu:
 Memonitor berat badan
 Mempertahankan intake kalori harian secara optimal
 Menyeimbangkan antara olahraga dengan intake kalori
 Mempertahankan berat badan yang optimal
Intervensi:
 Kaji kebutuhan kalori dan tipe nutrisi yang sesuai dengan
kebutuhan klien, bekerjasama dengan ahli gizi.
 Pastikan intake kalori klien sesuai dengan tipe tubuh dan gaya
hidup.
 Sesuaikan diet dengan gaya hidup klien.
 Ajari klien untuk membuat catatan intake makanan setiap hari.
 Berat badan klien pada angka yang tepat.
DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2008. Konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien. Jakarta : Salemba
Medika
NANDA. 2005-2006. Panduan Diagnosa Keperawatan. Jakarta: Prima Medika
Mubarak, Wahit Iqbal. 2007. Buku ajar kebutuhan dasar manusia : Teori &
Aplikasi dalam praktek. Jakarta: EGC.
Potter. Patricia A. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta: EGC
Tarwanto, Wartonah. 2006. Kebutuhan dasar manusia dan proses keperawatan
edisi 3. Salemba:Medika.
Willkinson. Judith M. 2007. Diagnosa Keperawatan.Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran Kozier. Fundamental of Nursing
LAPORAN PENDAHULUAN

KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

A. PENGERTIAN CAIRAN

Cairan adalah volume air bisa berupa kekurangan atau kelebihan air. Air tubuh
lebih banyak meningkat tonisitus adalah terminologi guna perbandingan
osmolalitas dari salah satu cairan tubuh yang normal. Cairan tubuh terdiri dari
cairan eksternal dan cairan internal. Volume cairan intrasel tidak dapat diukur
secara langsung dengan prinsip difusi oleh karena tidak ada bahan yang hanya
terdapat dalam cairan intrasel. Volume cairan intrasel dapat diketahui dengan
mengurangi jumlah cairan ekternal, terdiri dari cairan tubuh total.

Cairan Eksternal terdiri dari cairan tubuh total :

1. Cairan Interstitiel: bagian cairan ekstra sel yang ada diluar pembulu darah.
Plasma darah.
2. Cairan Transeluler, cairan yang terdapat pada rongga khusus seperti dalam
pleura, perikardium, cairan sendi, cairan serebrospinalis. Merupakan suatu
proses dinamik karena metabolisme tubuh membutuhkan perubahan yang
tetap dalam berespon terhadap stressor fisiologis dan lingkungan. Cairan dan
elektrolit saling berhubungan, ketidakseimbangan yang berdiri sendiri jarang
terjadi dalam bentuk kelebihan atau kekurangan.

Kebutuhan cairan dan elektrolit adalah suatu proses dinamik karena


metabolisme tubuh membutuhkan perubahann yang tetap dalam berespons
terhadap stressor fisiologis dan lingkungan.

KONSEP DASAR

a. Volume dan Distribusi Cairan Tubuh

1) Volume cairan

Total jumlah volume cairan tubuh (Total Body Water = TBW) kira2 60% dari BB
pria dan 50% dari BB wanita. Usia juga berpengaruh terhadap TBW di mana
makin tua usia maka sedikit kandungan airnya. Jadi jumlah volume ini tergantung
pada kandungan lemak badan dan usia.

Contoh: BBL-TBW nya 70-80 %, usia pubertas sampai dengan 39 th untuk pria
60% dari BB dan untuk wanita 52 % dari BB. Usia 45-60 th untuk pria usia 55%
dari BB dan wanita 47 % dari BB. Usia diatas 60 tahun untuk pria 52 % dari BB
dan wanita 46 % dai BB.

Lemak jaringan sangat sedikit meyimpan cairan, dimana lemak pada wanita lebih
banyak daripada pria sehingga volume cairan lebih rendah dari pria.

2) Distribusi cairan

Cairan tubuh didistribusikan diantara 2 kompartemen yaitu pada intra seluler dan
ekstraselular.

Cairan Intraseluler (CIS) kira-kira 2/3 atau 40% dari BB, sedangkan Cairan
Ekstraseluler (CES) 20% dari BB. Cairan ini terdiri atas plasma (Cairan
Intravaskuler) 5%, Cairan Interstisial CIT (Cairan disekitar tubuh seperti limfe)
10-15 % dan Cairan Transeluler (CTS) (misalnya cairan cerebrospinalis, sinovial,
cairan dalam peritoneum, cairan dalam rongga mata, dan lain-lain) 1-3 %.
b. Fungsi Cairan

1) Mempertahnkan panas tubuh dan pengaturan temperature tubuh.

2) Transport nutrient ke sel

3) Transport hasil sisa metabolism

4) Transport hormone

5) Pelumas antar organ

6) Memperthanakan tekanan hidrostatik dalam system kardiovaskuler.

c. Keseimbangan Cairan

Keseimbangan cairan ditentukan oleh intake dan output cairan. Intake cairan
berasal dari minuman dan makanan. Kebutuhan cairan setiap hari antara 1.800 –
2.500 ml/hari. Sekitar 1.200ml berasal dari minuman dan 1.000 ml dari makanan.

Sedangkan pengeluaran cairan melalui ginjal dalambentuk urine 1.200-1.500


ml/hari, paru-paru 300-500 ml, dan kulit 600-800 ml.

d. Pergerakan Cairan Tubuh

Mekanisme pergerakan cairan tubuh melalui 3 proses yaitu ;

1) Difusi

Merupakan proses dimana partikel yang terdapat dala cairan bergerak rai
konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah sampai terjadi keseimbangan. Cairan dan
elektrolit didisfusikan menembus membrane sel. Kecepatan difusi dipengaruhi
oleh ukuran moleku, konsentrasi larutan, dan temperature.

2) Osmosis

Merupakan bergeraknya pelarut bersih seperti air, melalui membrane


semipermeabel dari larutan yang berkonsentrasi lebih rendah ke kkonsentrasi
yang lebih tinggi yang sifatnya menarik.

3) Transpor aktif

Merupakan proses partikel bergerak dari konsentrasi rendah ke tinggi karena


adanya daya aktif dari tubuh seperti pompa jantung.
e. Pengaturan Keseimbangan Cairan

1) Rasa dahaga

Mekanisme rasa dahaga :

a) Penurunan fungsi ginjal merangsang pelepasan renin, yang pada akhirnya


menimbulkan produksi angiotensin II yang dapat merangsang hipotalamus untuk
melepaskan substrat neuron yang bertanggungjawab terhadap sensasi haus.

b) Osmoreseptor di hipotalamus mendeteksi penigkatan tekanan osmotic dan


mengaktivasi jaringan saraf yang dapat mengakibatkan sensasi rasa dahaga.

2) Anti Diuretik Hormon (ADH)

ADH dibentuk di hipotalamus dan disimpan dalam neurohipofisisi dari hipofisis


posterior. Stimuli utama untuk sekresi ADH adalah peningkatan osmolaritas dan
penurunan cairan ekstrasel. Hormone ini meningkatkan rearbsorbsi air pada
duktus koligentes, dengan demikian dapat menghemat air.

3) Aldosteron

Hormone ini disekresi oleh kelenjar adrenal yang bekerja pada tubulus ginjal
untuk meningkatkan absrsorsi natrium. Pelepasan aldosteron dirangsang
konsentrasi kalium, natrium serum dan system angiotensin rennin serta sangat
efektif dalam mengendalikan hiperkalemia.

4) Prostaglandin

Adalah asam lemak alami yang terdapat dalam banyak jaringan dan berfungsi
dalam merespn radang, pengendalian tekanan darah, kontraksi uterus dan
mobilitas gastro intestinal. Dalam ginjal, prostaglandin bereran mengatur sirkulasi
ginjal, respons natrium dan efek ginjal pada ADH.

5) Glukokortikoid

Menigkatkan rearbsorbsi natrium dan air, sehingga volume darah naik dan terjadi
retensi natrium. Perubahan kadar glukokortikoid menyebabkan perubahan pada
keseimbangan cairan (volume darah).

f. Cara Penularan Cairan

Pengeluaran cairan terjadi melalui organ-organ seperti :

1) Ginjal
a) Merupakan pengatur utama keseimbangan cairan yang menerima 170 liter
darah untuk disaring setiap hari.

b) Produksi urine untuk semua usia 1 ml/kg/jam

c) Pada orang dewaasa produksi urine sekitar 1,5 liter/hari.

d) Jumlah urine yang dipprosuksi oleh ADH dan Aldosteron.

2) Kulit

a) Hilangnya cairan melalui kulit diatur oleh saraf simpatis yang menerima
rangsang aktivitas kelenjar keringat

b) Rangsangan kelenjar keringat dapat dihasilkan dari aktivitas otot, temperature


lingkungan yang meningkat dan demam.

c) Disebut Insensible Water Loss (IWL) sekitar 15 – 20 ml/24 jam.

3) Paru – paru

a) Menhasilkan IWL sekitar 400 ml/hari

b) Meningkatkan cairan yang hilang sebagai respon terhadap perubahan kecepatan


dan kedalaman nafas akibat pergerakan atau demam.

4) Gastrointestinal

a) Dalam kondisi normal cairan yang hilang dari gastrointestinal setiap hari
sekitar 100 – 200 ml.

b) Perhitungan IWL secara keseluruhan adalah 10 – 15 cc/kg BB/24 jam, dengan


kenaikan 10 % dari IWL pada setiap kenaikan suhu 1O C.

g. Masalah keseimbangan cairan

1) Hipovolemik

Adalah kondisi akibat kekurangan volume Cairan Ekstraseluler (CES), dan dapat
terjadi kehilangan melalui kulit, ginjal, gastrointestinal, pendarahan sehingga
menimbulkan syok hipovolemik. Mekanisme kompensasi pada hipovolemik
adalah peningkatan rangsangan saraf simpatis (peningkatan frekuensi jantung,
kontraksi jantung, dan tekanan vaskuler), rassa haus, pelepasan hormone ADH
dan aldosteron. Hipovolemik yang berlangsung lama dapat menimbulkan gagal
ginjal akut.
Gejala : pusing, lemah, letih, anoreksia, mual, muntah, rasa haus, gangguan
mental, konstipasi dan oliguri, penurunan tekanan darah, suhu meningkat, turgor
kulit menurun, lidah kering dan kasar, mukosa mulut kering. Tanda – tanda
penurunan brat badan akut , mata cekung pengosongan vena jugularis. Pada bayi
dan anak – anak adanya penurunana jumlah air mata.

2) Hipervolemia

Adalah penambaha/kelebihan volume cairan CES dapat terjadi pada saat :

a) Stimulasi kronis ginjal untuk menahan natrium dan air

b) Fungsi ginjal abnormal, dengan penurunan ekskresi natrium dan air

c) Kelebihan pembarian cairan

d) Perpindaha CIT ke plasma.

Gejala : sesak nafas, peningkatan dan penurunan tekana darah, nadi kuat,
asietes, edema, adanya ronchi, kulit lembab, distensi vena leher dan irama
gallop.

h. Ketidakseimbangan asam basa

1) Asidosis respiratorik

Disebabkan karena kegagalan system pernafasan dalam membuang CO2 dari


cairan tubuh. Kerusakan pernafasan, peningkatan PCO2 arteri diatas 45 mmHg
dengan penurunan pH < 7,35.

Penyebab ; penyait obstruksi, retraksi paru, polimielitis, penurunan aktivitas pusat


pernafasan (trauma kepala, pendarahan, narkotik, anestesi, dll).

2) Alkalosis respiratorik

Disebabkan karena kehilangan CO2 dari paru-paru pada kecepatan yang lebih
tinggi dari produksinya dalam jaringan. Hal ini menimbulkan PCO2 arteri < 35
mmHg, pH > 7,45.

Penyebab : hiperventilasi alveolar, anxietas, demam, meningitis, keracunan


aspirin, pneumonia dan emboli paru.
3) Asidosis metabolic

Terjadi akibat akumulasi abnormal fixed acid atau kehilangan basa. pH arteri <
7,35, HCO3 menurun diawah 22 mEq/lt.

Gejala ; pernafasan kusmaul (dalam dan cepat), disorientasi dan koma.

4) Alkalosis metabolic

Disebabkan oleh kehilangan ion hidrigen atau penambahan basa pada cairan
tubuh. Bikarbonat plasma meningkat > 26 mEq/ltd an pH arteri > 7,45.

Penyebab : mencerna sebagian besar basa ( missal : BaHCO3 antasid, soda kue)
untuk mengatasi ulkus peptikumatau rasa keembung.

Gejala : apatis, lemah, gengguan mental, kram dan pusing

Perbandingan antara Bikarbonat, pH dan PaCo2 pada gangguan asam basa


sederhana dapat dilihat pada table di bawah ini :

Gangguan
HCO3 Plasma pH Plasma PaCO2
Asam Basa

As. Metabolik

Alk. Metabolik

As. Respiratorik

Alk.
Respiratorik
Kebutuhan Cairan Menurut Umur dan Berat Badan.

CAIRAN (ML/24
NO UMUR BB (KG)
JAM)

1 3 hari 3,0 250 – 300

2 1 tahun 9,5 1150 – 1300

3 2 tahun 11,8 1350 – 1500

4 6 tahun 20 1800 – 2000

5 10 tahun 28,7 2000 – 2500

6 14 tahun 45 2200 – 2700

7 18 tahun (Adult) 54 2200 - 2700

B. PENGERTIAN ELEKTROLIT

Elektrolit adalah substansi yanag menyebabkan ion kation (+) dan anion (-). Ada
tiga cairan elektrolit yang paling esensial yaitu :

1. Pengaturan elektrolit

a. Natrium (sodium)

1) Merupakan kation paling banyak yang terdapa pada Cairan Ekstrasel


(CES)

2) Na+ mempenagruhi keseimbangan air, hantaran implus araf dan


kontraksi otot.

3) Sodium diatur oleh intake garam aldosteron, dan pengeluaran urine.


Normalnya sekitar 135-148 mEq/lt.

b. Kalium (potassium)

a) Merupakan kation utama dalam CIS

b) Berfungsi sebagai excitability neuromuskuler dan kontraksi otot.


c) Diperlukan untuk pembentukan glikkogen, sintesa protein, pengaturan
keseibangan asam basa, karena ion K+ dapat diubah menjadi ion H+. Nilai
normalnya sekitar 3,5-5,5 mEq/lt.

c. Kalsium

a) Berguna untuk integritas kulit dan struktur sel, kondusi jantung,


pembekuan darah serta pembentukan tulang dan gigi.

b) Kalsium dalam cairan ekstrasel diatur oleh kelenjar paratiroid dan


tiroid.

c) Hormone paratiroid mengarbsobsi kalsium melalui gastrointestinal,


sekresi melalui ginjal.

d) Hormon thirocaltitonim menghambat penyerapan Ca+ tulang.

d. Magnesium

a) Merupakan kation terbanyak kedua pada cairan intrasel.

b) Sangat penting untuk aktivitas enzim, neurocemia, dn muscular


excibility. Nilai normalnya 1,5-2,5 mEq/lt.

e. Klorida

a) Terdapat pada CES dan CIS, normalnya 95-105 mEqlt.

f. Bikarbinat

a) HCO3 adalh buffer kimia utama dalam tubuh dan terdapat pada cairan
CES dan CIS.

b) Bikarbonat diatur oleh ginjal.

g. Fosfat

a) Merupakan anion buffer dalam CIS dan CES

b) Berfungsi untuk meningkatkan kegiatan neuromuskuler, metabolism


karbohidrat, dan pengaturan asam basa.

c) Pengaturan oleh hormone paratiroid


2. Gejala klinis kekurangan elektrolit :

a. Haus

b. Anoreksia

c. Perubahan tanda-tanda vital

d. Lemas atau pucat

e. Anak rewel

f. Kejang-kejang

g. Kulit dingin

h. Rasa malas

C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESEIMBANGAN CAIRAN


DAN ELEKTROLIT

1. Usia
Variasi usia berkaitan dengan luas perkembangan tubuh, metabolism yang
diperlukan dan berat badan.

2. Temperature lingkungan
Panas yang berlebihan menyebabkan berkeringat. Seseorang dapat kehilangan
NaCl melalui keringat sebanyak 15-30 g/hari.

3. Diet
Pada saat tubuh kekurangan niutrisi, tubuh akan memecah cadangan energi,
proses ini menimblkan pergerakan carian dari interstitial ke intraseluler.

4. Stres
Stres dapat menimbulkan paningkatan metabolism sel, konsentrasi darah dan
glikolisis otot, mekanisme ini dapat menimbulkan retensi sodium dan air.
Proses ini dapat meningkatkan produksi ADH dan menurunkan produksi urine
.
5. Sakit
Keadaan pembedahan, trauma jaringan, kelainan ginjaldan jantung, gangguan
hormone akan mengganggu keseimbangan cairan.
D. CARA MENGHITUNG INFUS

a. Dewasa (Makro dengan 20 tetes / menit)

Tetesan / menit = Jumlah cairan yang masuk


Lamanya infuse (jam) x 3

Atau tetesan / menit = Jumlah kebutuhan cairan x factor tetesan


Lama infuse (jam) x 60 menit

Catatan : factor tetesan infuse bermacam – macam, dapat dilihat pada label infuse
(10 per menit, 15 per menit, 20 tetes per menit).

b. Anak

Tetesan / menit (mikro) = Jumlah cairan yang masuk


Lamanya infuse (jam)

E. PENATALAKSANAAN

1. Penatalaksanaan medis utama diarahkan pada pengendalian atau pengobatan


penyakit dasar. Obat-obatan tersebut misalnya; prednison yang dapat
mengurangi beratnya diare dan penyakit.

2. Untuk diare ringan cairan oral dengan segera ditingkatkan dan glukosa oral
serta larutan elektrolit dapat diberikan untuk rehydrasi pasien.
Untuk diare sedang, akibat sumber non infeksius, obat-obatan tidak spesifik
seperti defenosiklat (lomotil) dan loperamit (imodium) juga diberikan untuk
menurunkan motilitas.

3. Preparat anti mikrobial diberikan bila preparat infeksius telah teridentifiksi


atau bila diare sangat berat.

4. Terapi cairan intra vena mungkin diperlukan untuk hydrasi cepat, khususnya
untuk anak kecil dan lansia.
ASUHAN KEPERAWATAN

KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

A. PENGKAJIAN

Tanggal :
Jam :
Ruang :

1. BIODATA

a. Identitas klien
Nama :

Ttl :

Umur :

Jenis kelamin :

Alamat :

Agama :

Suku :

Pendidikan :

No. CM :

Tgl masuk :

Tgl pengkajian :

Sumber informasi :

Diagnosa medis :
b. Identitas penanggung jawab

Nama :

Jenis kelamin :

Umur :

Pendidikan :

Pekerjaan :

Agama :

Status perkawinan :

Alamat :

Kewarganegaraan :

Hub. dengan klien :

2. RIWAYAT KESEHATAN

a. Keluhan utama

Yang biasa muncul pada pasien dengan ganguan kebutuhan cairan dan elektrolit
antara lain: nyeri abdomen, kram, bising usus hiperaktif atau hipoaktif, anoreksia,
borborigmi, distensi abdomen, perasaan rektal penuh, fefes keras dan berbentuk,
kaleatihan umum, sakit kepala, tidak dapat makan, nyeri saat defekasi, mual,
muntah, konstipasi, inkontenensia defekasi, diare.

Konstipasi

Yaitu penurunan pada frekuensi normal defekasi yang disertai oleh kesulitan atau
pengeluaran tidak lengkap feses dan atau pengeluaran feses yang keras, kering
dan banyak

Inkontenensia Defekasi

Perubahan pada kebiasaan defekasi normal yang dikarakteristikan dengan pasase


feses involunter.
Diare

Adalah pasase feses yang lunak dan tidak berbentuk.

b. Riwayat kesehatan sekarang

Ditanyakan / menjelaskan kronologi berjalannya penyakit pasien :

1) Waktu terjadinya sakit

Ditanyakan :

· Berapa lama sudah terjadinya sakit

2) Proses terjadinya sakit

Ditanyakan :

· Kapan mulai terjadinya sakit

· Bagaimana sakit itu mulai terjadi

3) Upaya yang telah dilakukan

Ditanyakan :

· Selama sakit sudah berobat kemana

· Obat-obatan yang pernah dikonsumsi

4) Hasil pemeriksaan sementara / sekarang

Yang perlu dikaji dan ditanyakan :

· TTV meliputi tekanan darah, suhu, respiratorik rate, dan nadi

· Adanya patofisiologi lain seperti saat dipalpasi adanya nyeri abdomen, sakit
kepala, kram,.

· Apakah merasa mual, muntah, anoreksia dsb.

c. Riwayat kesehatan terdahulu

Ditanyakan:

1) Pengobatan saat ini dan masa lalu


2) Alergi terhadap obat dan makanan

3) Tempat tinggal / lingkungan

d. Riwayat kesehatan keluarga

Ditanyakan :

1) Apakah ada anggota keluarga pasien yang menderita penyakit yang sama
dengan pasien.

2) Adakah riwayat penyakit keturunan dalam keluarga

e. Genogram

Dikaji :

1) Jumlah anggota keluarga

2) Garis keturunan / silsilah keluarga

3) Anggota keluarga yang tinggal serumah dengan paien

4) Anggota keluarga lain yang mengalami sakit yang sama dengan pasien

5) Anggota keluarga yang berpotensi memiliki penyakit menular.

3. POLA FUNGSI KESEHATAN (GORDON)

a. Persepsi terhadap kesehatan – manajemen kesehatan


1) Tingkat pengetahuan kesehatan / penyakit

· Apakah pasien mengetahui penyakitnya, cara perawatannya dan cara


pengobatannya.

2) Perilaku untuk mengatasi masalah kesehatan

· Apa yang dilakukan jika pasien sakit, bagaimana cara untuk mengobati
penyakitnya.

3) Faktor-faktor resiko sehubungan dengan kesehatan

Perlu ditanyakan :

· Apakah pasien minum – minuman beralkohol


· Sering merokok

b. Pola aktivitas dan latihan

Menggunakan tabel aktifitas yang didasarkan pada skala 0 sampai 4, meliputi


makan, mandi berpakaian, eliminasi, mobilisaasi di tempat tidur, berpindah,
ambulansi, naik tangga.

c. Pola istirahat tidur

Ditanyakan :

1) Jam berapa biasa pasien mulai tidur dan bangun tidur

2) Sonambolisme

3) Kualitas dan kuantitas jam tidur

d. Pola nutrisi - metabolic

Ditanyakan :

1) Berapa kali makan sehari

2) Makanan kesukaan

3) Berat badan sebelum dan sesudah sakit

4) Frekuensi dan kuantitas minum sehari

e. Pola eliminasi

Dikaji :

1) Frekuensi dan kuantitas BAK dan BAB sehari

2) Nyeri

3) Kuantitas

f. Pola kognitif perceptual

Adakah gangguan penglihatan, pendengaran (Panca Indra)

g. Pola konsep diri

1) Gambaran diri

2) Identitas diri
3) Peran diri

4) Ideal diri

5) Harga diri

h. Pola koping

Ditanyakan :

1) Cara / metode pemecahan dan penyelesaian masalah

2) Hasil koping dari metode yang dilakukan

i. Pola seksual – reproduksi

Ditanyakan : adakah gangguan pada alat kelaminnya.

j. Pola peran hubungan

1) Hubungan dengan anggota keluarga

2) Dukungan keluarga

3) Hubungan dengan tetangga dan masyarakat.

k. Pola nilai dan kepercayaan

1) Persepsi keyakinan

2) Tindakan berdasarkan keyakinan

4. PEMERIKSAAN FISIK

a. Data klinik, meliputi:


1) Pengukuran Klinik

a) Berat Badan

Kehilangan/ bertambanhnya berat badan menunjukkan adanya masalah


keseimbangan asam basa cairan :

+2% : ringan

+5% : sedang

+ 10 % : berat
Pengukuran berat badan dilakukan setiap hari pada waktu yang sama

b) Keadaan Umum

1) Pengukuran TTV seperti nadi, tekanan darah, suhu dan pernafasan

2) Tingkat kesadaran

c) Pengukuran pemasukan cairan

1) Cairan oral ; NGT dan oral

2) Cairan parenteral termasuk obat-obatan IV

3) Makanan yang cenderung mengandung air

4) Irigasi kateter atau NGT

d) Pengukuran pengeluaran cairan

1) Urine : volume, kelernihan/kepekatan

2) Fesef : jumlah dan konsisten

3) Muntah

4) Tube drainase

5) IWL

e) Ukuran keseimbangan cairan dengan akurat : normalnya + 200 cc

2) Data hasil pemeriksaan yang mungkin ditemukan:

a) Integumen : keadaan turgor kulit, edema, kelemahan otot, tetani dan sensasi
rasa.

b) Kardiovaskuler : distensi vena jugularis, tekanan darah, Hemoglobin dan bunyi


jantung.

c) Mata : cekung, air mata kering.

d) Neurologi : reflex, gangguan motorik dan sensorik, tingkat kesadaran.

e) Gastrointestinal : keadaan mukosa mulut, mulut dan lidah, muntah-untah dan


bising usus.

b. Pemasukan dan pengeluaran cairan dan makanan (oral, parental)


c. Tanda umum masalah elektrolit

d. Tanda kekurangan dan kelebihan cairan

e. Proses penyakit yang menyebabkan gangguan homeostatis cairan dan elektrolit.

f. Pengobatan tertentu yang sedang dijalani dapat mengganggu status cairan

g. Status perkembangan seperti usia atau situasi social

h. Faktor psikologis seperti perilaku emosional yang mengganggu pengobatan.

5. PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Pemeriksaan elektrolit,

b. Darah lengkap,

c. pH,

d. Berat jenis urin,

e. AGD.( Analisa Gas darah)

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Aktual / Resiko defisit Volume Cairan

Definisi : Kondisi dimana pasien mengalami resiko kekurangan cairan pada


ekstraseluler (CES) dan Vaskuler (CIV).

Ø Berhubungan dengan :

a. Kehilangan cairan secara berlebihan

b. Berkeringant secara terus menerus

c. Menurunnya intake oral

d. Penggunaa diuretic

e. Pendarahan

Ø Ditandai dengan :

a. Hipotensi
b. Takhikardia

c. Pucat

d. Keklemahan

e. Konsentrasi urin pekat

Ø Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada :

a. Penyakit Addison

b. Koma

c. Ketoasidosis pada disbetik

d. Pendarahn gastrointestinal

e. Muntah diare

f. Intake cairan tidak adekuat

g. AIDS

h. Pendarahan

i. Ulcer kolon

Ø Tujuan yang diharapkan :

a. Mempertahnkan keseimbangan cairan

b. Menunjukkkan adannya keseimbangan cairan seperti output adekuat, tekanan


darah normal, membrane mukosa lembab, turgor kulit baik.

c. Secara verbal pasien mengatakan penyebab kekurangan cairan dapat teratasi.

NO INTERVENSI RASIONAL

1 Ukur dan catat setiap 4 jam : Menentukan kehilangan makan


dan minum
· Intkae dan output cairan

· Warna muntahan, urine dan feses

· Monitor turgor kulit


· Tanda – tanda vital

· Monitor IV infuse

· CVP

· Elektrolit, BUN, hematokrit dan


Hb

· Status mental

· Berat badan

2 Berikan makanan dan cairan Memenuhi kebutuhan makan dan


minum

3 Berikan pengobatan seperti antidiare Menurunkan pergerakan usus dan


dan antimuntah muntah

4 Berikan dukungan verbal dalam Meningkatkan konsumsi yang


pemberian cairan lebih

5 Lakukan kebersihan mulut sebelum Meningkatkan nafsu makan


makan

6 Ubah posisi pasien setiap 4 jam Meningkatkan sirkulasi

7 Berikan pendidikan kesehatan Meningkatkan informasi dann


tentang : kerjasama.

· Tanda dan gejala dehidrasi

· Intake dan output cairan

· Terapi

2. Volume cairan tubuh

Definisi: Kondisi diman terjadi peningkatan retensi dan edema

Ø Berhubungan dengan :

a. Retensi garam dan air

b. Efek dari pengobatan


c. Malnutrisi

Ø Ditandai dengan :

a. Orthopnea

b. Oliguria

c. Edema

d. Distensi vena jugularis

e. Distress pernafasan

f. Anasarka

g. Edema paru

Ø Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada :

a. Obesitas

b. Hipothiroidism

c. Pengobatan dengan kortikosteroid

d. Cushings syndrome

e. Gagal ginjal

f. Sirosis hepatis

g. Kanker

h. Toxemia

Ø Tujuan yang diharapkan :

a. Mempertahankan keseimbangan intake dan output cairan

b. Menurunkan kelebihan cairan

NO INTERVENSI RASIONAL

1 · Ukur dan monitor : Dasar pengkajian kardiovaskuler


dan respon terhadap penyakit.
· Intake dan output cairan, BB, tensi,
CVP distensi vena, jugularis dan
bunyi paru

2 Monitor rongtgen paru Mengetahui adanya edema paru

3 Kolaborasi dengan dokter dalam Kerjasama disiplin ilmu dalam


pemberian cairan, obat dan efek perawatan
pengobatan

4 Hati – hati dalam pembarian cairan Mengurangi kelebihan cairan

5 Pada pasien yang bedrest : Mengurangi edeme

· Ubah posisi setiap 2 jam

· Latihan pasif dan aktif

6 Pada kluit yang edeme, berikan Mencegah kerusakan kulit


losion, hindari penekanan yang
teruis – menerus.

7 Berikan pengetahuan kesehatan Pasien dan keluarga mengetahui


tentang : dan kooperatif.

· Intake dan output cairan

· Edema, Berat badan

· Pengobatan
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall.1995.”Diagnosa Keperawatan”.Jakarta : EGC

Harnawatiaj.2008.Keseimbangan Cairan dan Elektrolit, (http://wordpress.com/,


diakses 13 Agustus 2018)

Mubarak, Wahid.I & Chayatin, NS.Nurul..2008.”Kebutuhan Dasar Manusia”.


Jakarta: EGC.

Faqih, Moh. Ubaidillah.2009.”Cairan dan Elektrolit dalam Tubuh Manusia”,


(http://www.scribd.com/ diakses 13 Agustus 2018)

Obet.2010.Kebutuhan Cairan dalam Tubuh, (http://akarrumput21.blogspot.com/,


diakses 13 Agustus 2018 )