Anda di halaman 1dari 19

ANMAL DAN LI RIFKA SKEN.

D BLOK 6

1d. Klasifikasi Fraktur

Fraktur dapat dibedakan jenisnya berdasarkan hubungan tulang dengan


jaringan disekitar, bentuk patahan tulang, dan lokasi pada tulang fisis.

Berdasarkan hubungan tulang dengan jaringan disekitar

Fraktur dapat dibagi menjadi :

a) Fraktur tertutup (closed),bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang


dengan dunia luar.

b) Fraktur terbuka (open/compound), bila terdapat hubungan antara fragmen


tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit. Fraktur terbuka
terbagi atas tiga derajat (menurut R. Gustillo), yaitu:

b.1. Derajat I :

i. Luka <1 cm

ii. Kerusakan jaringan lunak sedikit, tak ada tanda luka remuk
iii. Fraktur sederhana, transversal, oblik, atau kominutif ringan
iv. Kontaminasi minimal

b.2. Derajat II :

i. Laserasi >1 cm

ii. Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/ avulsi


iii. Fraktur kominutif sedang

iv. Kontaminasi sedang


b.3. Derajat III :

Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot,
dan neurovaskular serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur terbuka derajat III
terbagi atas:

i. Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat


laserasi luas/flap/avulsi atau fraktur segmental/sangat kominutif yang
disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukur an
luka.

ii. Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau
kontaminasi masif.

iii. Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa
melihat kerusakan jaringan lunak.

Berdasarkan bentuk patahan tulang

a) Transversal

Adalah fraktur yang garis patahnya tegak lurus terhadap sumbu panjang
tulang atau bentuknya melintang dari tulang. Fraktur semacam ini biasanya
mudah dikontrol dengan pembidaian gips.

b) Spiral

Adalah fraktur meluas yang mengelilingi tulang yang timbul akibat torsi
ekstremitas atau pada alat gerak. Fraktur jenis ini hanya menimbulkan sedikit
kerusakan jaringan lunak.
c) Oblik

Adalah fraktur yang memiliki patahan arahnya miring dimana garis patahnya
membentuk sudut terhadap tulang.

d) Segmental

Adalah dua fraktur berdekatan pada satu tulang, ada segmen tulang yang retak
dan ada yang terlepas menyebabkan terpisahnya segmen sentral dari suplai
darah.

e) Kominuta

Adalah fraktur yang mencakup beberapa fragmen, atau terputusnya keutuhan


jaringan dengan lebih dari dua fragmen tulang.

f) Greenstick

Adalah fraktur tidak sempurna atau garis patahnya tidak lengkap dimana
korteks tulang sebagian masih utuh demikian juga periosterum. Fraktur jenis
ini sering terjadi pada anak – anak.

g) Fraktur Impaksi

Adalah fraktur yang terjadi ketika dua tulang menumbuk tulang ketiga yang
berada diantaranya, seperti pada satu vertebra dengan dua vertebra lainnya.

h) Fraktur Fissura

Adalah fraktur yang tidak disertai perubahan letak tulang yang berarti,
fragmen biasanya tetap di tempatnya setelah tindakan reduksi.
Berdasarkan lokasi pada tulang fisis

Tulang fisis adalah bagian tulang yang merupakan lempeng pertumbuhan,


bagian ini relatif lemah sehingga strain pada sendi dapat berakibat pemisahan fisis pada
anak – anak. Fraktur fisis dapat terjadi akibat jatuh atau cedera traksi. Fraktur fisis
juga kebanyakan terjadi karena kecelakaan lalu lintas atau pada saat aktivitas olahraga.
Klasifikasi yang paling banyak digunakan untuk cedera atau fraktur fisis adalah
klasifikasi fraktur menurut Salter – Harris :

a) Tipe I : fraktur transversal melalui sisi metafisis dari lempeng


pertumbuhan, prognosis sangat baik setelah dilakukan reduks i tertutup.

b) Tipe II : fraktur melalui sebagian lempeng pertumbuhan, timbul


melalui tulang metafisis , prognosis juga sangat baik denga reduksi
tertutup.

c) Tipe III : fraktur longitudinal melalui permukaan artikularis dan


epifisis dan kemudian secara transversal melalui sisi metafisis dari
lempeng pertumbuhan. Prognosis cukup baik meskipun hanya dengan
reduksi anatomi.

d) Tipe IV : fraktur longitudinal melalui epifisis, lempeng pertumbuhan


dan terjadi melalui tulang metafisis. Reduksi terbuka biasanya penting
dan mempunyai resiko gangguan pertumbuhan lanjut yang lebih besar.

e) Tipe V : cedera remuk dari lempeng pertumbuhan, insidens dari


gangguan pertumbuhan lanjut adalah tinggi.

Untuk lebih jelasnya tentang pembagian atau klasifikasi fraktur dapat dilihat
pada gambar berikut ini :
Gambar 1. Fraktur Berdasarkan Hubungan Tulang

Fraktur Terbuka Fraktur Tertutup

Gambar 2. Fraktur Berdasarkan Bentuk Patahan Tulang

Transversal Spiral Oblik Segmental


Kominuta Greenstick Impaksi Fissura

Gambar 3. Fraktur Menurut Salter – Harris


2a. Patofisiologi

Fraktur ganggguan pada tulang biasanya disebabkan oleh trauma


gangguan adanya gaya dalam tubuh, yaitu stress, gangguan fisik, gangguan
metabolic, patologik. Kemampuan otot mendukung tulang turun, baik yang
terbuka ataupun tertutup. Kerusakan pembuluh darah akan mengakibatkan
pendarahan, maka volume darah menurun. COP menurun maka terjadi
peubahan perfusi jaringan. Hematoma akan mengeksudasi plasma dan poliferasi
menjadi edem lokal maka penumpukan di dalam tubuh. Fraktur terbuka atau
tertutup akan mengenai serabut saraf yang dapat menimbulkan ganggguan rasa
nyaman nyeri.

Selain itu dapat mengenai tulang dan dapat terjadi revral vaskuler yang
menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas fisik terganggau. Disamping itu
fraktur terbuka dapat mengenai jaringan lunak yang kemungkinan dapat
terjadi infeksi dan kerusakan jaringan lunak akan mengakibatkan kerusakan
integritas kulit.

Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma


gangguan metabolik, patologik yang terjadi itu terbuka atau tertutup. Baik fraktur
terbuka atau tertutup akan mengenai serabut syaraf yang dapat menimbulkan
gangguan rasa nyaman nyeri. Selaian itu dapat mengenai tulang sehingga akan
terjadi neurovaskuler yang akan menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas
fisik terganggu, disamping itu fraktur terbuka dapat mengenai jaringan lunak yang
kemungkinan dapat terjadi infeksi terkontaminasi dengan udara luar.

Pada umumnya pada pasien fraktur terbuka maupun tertutup akan


dilakukan immobilitas yang bertujuan untuk mempertahankan fragmen yang
telah dihubungkan tetap pada tempatnya sampai sembuh.(Sylvia, 1995 : 1183)
5a. Syok adalah kegagalan system kardiovaskuler untur
megantar O2 dan nutrient yang cukup untuk kebutuhan
meabolisme seluler.

Jenis syok :

1. syok Hypovolemic : penurunan volume darah

2. Syok Cardiogenic : fungsi jantung menurun

3. Syok Vaskular : Vasodilatasi yang tidak tepat

$. Syok Obstruktif : Obstruksi Aliran darah

1) Syok hipovolemik, penyebab umum ialah perdarahan


secara tiba-tiba. Blood loss exernal terjadi pada trauma.
Blood loss interna terjadi ketika rupture pada
pembengkakan pembuluh darah.
Penurunan hebat volume plasma intravaskuler merupakan faktor utama yang menyebabkan
gterjadinya syok. Dengan terjadinya penurunan hebat volume intravaskuler apakah akibat
perdarahan atau dehidrasi akibat sebab lain maka darah yang balik ke jantung (venous return)
juga berkurang dengan hebat, sehingga curah jantungpun menurun. Pada akhirnya ambilan
oksigen di paru juga menurun dan asupan oksigen ke jaringan atau sel (perfusi) juga tidak
dapat dipenuhi.
2) Syok kardiogenik terjadi ketika jantung gagal memompa secara adequate, yang paling umum
terjadi adalah Myocardial Infarction ( heart attack), penyebab lain adalah penurunan perfusi
jantung (iskemi), masalah katp jatung, preload dan afterload yang berlebihan, kontraktilitas
serabut otot jantung yang tidak baik lagi dan arrhythmias.
Begitu juga halnya bila terjadi gangguan primer di jantung, bila otot-otot jantung melemah
yang menyebabkan kontraktilitasnya tidak sempurna, sehingga tidak dapat memompa darah
dengan baik dan curah jantungpun menurun. Pada kondisi ini meskipun volume sirkulasi cukup
tetapi tidak ada tekanan yang optimal untuk memompakan darah yang dapat memenuhi
kebutuhan oksigen jaringan, akibatnya perfusi juga tidak terpenuhi.
3) Syok vascular :
i) Syok anafilaktik, Karena reaksi alergi contohnya terkena sengatan lebah, akan memicu
Histamine yang menyebabkan vasodilatasi.
ii) Syok Neurogenik, vasodilatasi bisa terjadi Karena adanya trauma di kepala
menyebabkan malfungsi pusat kardiovaskular di medulla
iii) Syok Septic, penggumpalan akibat toxin bakteri tertentu yang menyebabkan
vasodilatasi

Gangguan pada pembuluh dapat terjadi pada berbagai tempat, baik arteri (afterload), vena
(preload), kapiler dan venula. Penurunan hebat tahanan tahanan vaskuler arteri atau arteriol akan
menyebabkan tidak seimbangnya volume cairan intravaskuler dengan pembuluh tersebut sehingga
menyebabkan tekanan darah menjadi sangat rendah yang akhirnya juga menyebabkan tidak
terpenuhianya perfusi jaringan. Peningkatan tahanan arteri juga dapat mengganggu sistim sirkulasi
yang mengakibatkan menurunya ejeksi ventrikel jantung sehingga sirkulasi dan oksigenasi
jaringan menjadi tidak optimal. Begitu juga bila terjadi peningkatan hebat pada tonus arteriol, yang
secara langsung dapat menghambat aliran sirkulasi ke jaringan. Gangguan pada vena dengan
terjadinya penurunan tahanan atau dilatasi yang berlebihan menyebabkan sistim darah balik
menjadi sehingga pengisian jantung menjadi berkurang pula. Akhirnya menyebabkan volume
sekuncup dan curah jantung juga menurun yang tidak mencukupi untuk oksigenasi dan perfusi ke
jaringan.

4) Syok Obstruktif, terjadi Karena aliran darah di sirkulasi ter blok, penyebab umum berupa
embolisme pulmonary, pembekua darah yang memblok pembukuh darah di paru-paru.
1-3
Ganguan pada kapiler secara langsung seperti terjadinya sumbatan atau kontriksi sistemik
secara langsung menyebabkan terjadinya gangguan perfusi karena area kapiler adalah tempat
terjadinya pertukaran gas antara vaskuler dengan jaringan sel-sel tubuh.1-3

pada syok, konsumsi oksigen dalam jaringan menurun akibat berkurangnya aliran darah yang
mengandung oksigen atau berkurangnya pelepasan oksigen ke dalam jaringan. Kekurangan
oksigen di jaringan menyebabkan sel terpaksa melangsungkan metabolisme anaerob dan
menghasilkan asam laktat. Keasaman jaringan bertambah dengan adanya asam laktat, asam
piruvat, asam lemak, dan keton (Stene-Giesecke, 1991).

5c. Fase Kompensasi

Penurunan curah jantung (cardiac output) terjadi sedemikian rupa sehingga timbul gangguan
perfusi jaringan tapi belum cukup untuk menimbulkan gangguan seluler. Mekanisme kompensasi
dilakukan melalui vasokonstriksi untuk menaikkan aliran darah ke jantung, otak dan otot skelet
dan penurunan aliran darah ke tempat yang kurang vital. Faktor humoral dilepaskan untuk
menimbulkan vasokonstriksi dan menaikkan volume darah dengan konservasi air. Ventilasi
meningkat untuk mengatasi adanya penurunan kadar oksigen di daerah arteri. Jadi pada fase
kompensasi ini terjadi peningkatan detak dan kontraktilitas otot jantung untuk menaikkan curah
jantung dan peningkatan respirasi untuk memperbaiki ventilasi alveolar. Walau aliran darah ke
ginjal menurun, tetapi karena ginjal mempunyai cara regulasi sendiri untuk mempertahankan
filtrasi glomeruler. Akan tetapi jika tekanan darah menurun, maka filtrasi glomeruler juga
menurun.

4d. Tekanan nadi (mean arterial pressure: MAP) merupakan merupakan tekanan efektif rata-rata
pada aliran darah dalam arteri.

Penurunan tekanan darah sistolik lebih lambat terjadi karena adanya mekanisme kompensasi tubuh
terhadap terjadinya hipovolemia. Pada awal-awal terjadinya kehilangan darah, terjadi respon
sistim saraf simpatis yang mengakibatkan peningkatan kontraktilitas dan frekuensi jantung.
Dengan demikian pada tahap awal tekanan darah sistolik dapat dipertahankan. Namun kompensasi
yang terjadi tidak banyak pada pembuuh perifer sehingga telah terjadi penurunan diastolik
sehingga secara bermakna akan terjadi penurunan tekanan nadi rata-rata.13

Berdasarkan kemampuan respon tubuh terhadap kehilangan volume sirkulasi tersebut maka secara
klinis tahap syok hipovolemik dapat dibedakan menjadi tiga tahapan yaitu tahapan kompensasi,
tahapan dekompensasi dan tahapan irevesrsibel. Pada tahapan kompensasi, mekanisme
autoregulasi tubuh masih dapat mempertahankan fungsi srikulasi dengan meningkatkan respon
simpatis. Pada tahapan dekompensasi, tubuh tidak mampu lagi mempertahankan fungsinya
dengan baik untuk seluruh organ dan sistim organ. Pada tahapan ini melalui mekanisme
autoregulasi tubuh berupaya memberikan perfusi ke jaringan organ-organ vital terutama otak dan
terjadi penurunan aliran darah ke ekstremitas. Akibatnya ujung-ujung jari lengan dan tungkai
mulai pucat dan terasa dingin. Selanjutnya pada tahapan ireversibel terjadi bila kehilangan darah
terus berlanjut sehingga menyebabkan kerusakan organ yang menetap dan tidak dapat diperbaiki.
Kedaan klinis yang paling nyata adalah terjadinya kerusakan sistim filtrasi ginjal yang disebut
sebagai gagal ginjal akut.3,5

LEARNING ISSUE

Peranan Fisiologis Sistim Kardiovaskuler dan Saraf pada Syok

Untuk memahami patofisiologi atau memahami proses terjadinya berbagai jenis syok terutama
syok hipovolemik, maka pemahaman fisiologi jantung, sirkulasi dan sisitim saraf sangat
diperlukan.

Peranan Fungsi Kardiovaskuler

Jantung merupakan organ yang berfungsi untuk memompakan darah keseluruh tubuh. Jantung
bergerak secara otonom yang diatur melalui mekanisme sistim saraf otonom dan hormonal dengan
autoregulasi terhadap kebutuhan metabolime tubuh. Mekanisme otonom aktifitas otot jantung ini
berasal dari cetusan listrik (depolarisasi) pada otot jantung itu sendiri. Depolarisai otonom otot
jantung berasal dari sekelompok sel-sel yang menghasilkan potensial listrik yang disebut dengan
nodus sinoatrial [sinoatratrial (SA) node]. SA node terletak di atrium kanan berdekatan dengan
muara vena cava superior.6,7

Impuls listrik yang dihasilkan oleh SA node akan dialirkan keseluruh otot-otot jantung
(miokardium) sehingga menyebabkan kontraksi. Mekanisme penyebaran impuls ini teratur
sedemikian rupa sesuai dengan siklur kerja jantung. Pertama impuls dialirkan secara langsung ke
otot-otot atrium kiri dan kanan sehingga menyebabkan kontraksi atrium. Atrium kanan yang berisi
darah yang berasal dari sistim vena sitemik akan dipompakan ke ventrikel kana, dan darah pada
atrium kiri yang berasl dari paru (vena pulmonalis) akan dialirkan ke ventrikel kiri. Selanjutnya
impuls diteruskan ke ventrikel melalui sistim konduksi nodus atrioventrikuler [atrioventricular
(AV) node], terus ke atrioventricular (AV) bundle dan oleh serabut purkinje ke seluruh sel-sel otot
ventrikel jantung. Impils listrik yang ada di ventrikel terjadinya depolarisasi dan selanjutnya
menyebabkan otot-otot ventrikel berkontraksi. Kontraksi ventrikel inilah yang dikenal sebagai
denyut jantung. Denyut ventrikel kanan akan mengalirkan darah ke paru untuk pengambilan
oksigen dan pelepasan karbondioksida, dan denyut ventrikel kiri akan mengalirkan darah ke
seleuruh tubuh melalui aorta. Denyut jantung yang berasal dari depolarisai SA node berjumlah 60-
100 kali permenit, dengan rata-rat 72 kali permenit.6,7

Kontraksi ventrikel saat mengeluarkan darah dari jantung disebut sebagai fase sitolik atau ejeksi
ventrukuler. Jumlah darah yang dikeluarkan dalam satu kali pompan pada fase ejeksi ventrikuler
disebut sebagai ‘volume sekuncup’ atau stroke volume, dan pada dewasa rata-rata berjumlah 70
ml. Dengan jumlah kontraksi rata-rata 72 kali permenit, maka dalam satu menit jumlah darah yang
sudah melewati dan diponpakan oleh jantung sekitar 5 liter, yang dsiebut sebagai curah jantung
(cardiac output). Secara matematis fisiologis dapat dirumuskan sesuai gambar 1.

Keterangan:

CO : Cardiac Output (curah jantung)

HR : Heart Rate (laju atau frekuensi denyut jantung)

SV : Stroke Volume (volume sekuncup)

SVR : Systemic Vascular Resistant (tahanan pembuluh darah sistemik)

Gambar 1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Curah Jantung (Disarikan dari berbagai sumber6,7)
Aktifitas listrik pada SA node yang menyebabkan kontraksi otot jantung terjadi secara otonom
tanpa kontrol pusat kesadaran yang dipengaruhi oleh sistim saraf otonom simpatis dan
parasimpatis. Dengan demikian seperti yang terlihat pada gambar-1, sistim saraf otonom sangat
berperan dalam pengaturan kardiovaskuler dengan mempengaruhi frekuensi denyut dan
kontraktilitas otot jantung. Disamping itu sisitim saraf otonom juga mempengaruhi pembuluh
darah terhadap perubahan resistensi pembuluh darah.

Curah jantung mempunyai peranan penting sebagai salah satu faktor untuk memenuhi kebutuhan
oksigenasi atau perfusi kejaringan sebagai tujuan dari fungsi kardiovaskuler. Kecukupan perfusi
jaringan ditentukan oleh kemampuan fungsi sirkulasi menghantarkan oksigen ke jaringan yang
disebut sebagai oxygen delivery (DO2), dan curah jantung adalah faktor utama yang menentukan
DO2 ini,8,9 sebagaimana yang dapat dilihat pada gambar-2.

Keterangan:

DO2 : Oxygen Delivery (kapasitas pengangkutan oksigen ke jaringan)

CO : Cardiac output (curah jantung)

CaO2 : Arterial oxygen content (kandungan oksigen dalam arteri)

PaO2 : Tekanan parsial oksigen arteri

SaO2 : Saturasi oksigen

Gambar 2. Perhitungan Oxygen Delivery dan Hubungannya dengan Curah Jantung8,9


Gangguan pada faktor-faktor yang mepengaruhi curah jantung dapat mengakibatkan terjadinya
gangguan perfusi dan berujung kepada syok. Misalnya kehilangan volume plasma hebat akan
mengurangi preload dan dapat mengakibatkan terjadinya syok hipovolemik, gangguan
kontraktilitas dapat mengakibatkan terjadinya syok kardiogenik, dan gangguan resistensi vaskuler
sitemik dapat berujung ada syok distributif.

Peranan Fungsi Sistim Saraf Otonom

Sistim saraf otonom dibedakan menjadi dua macam, yaitu sistim saraf simpatis dan para simpatis.
Sistim saraf simpatis merupakan sistim saraf yang bekerja secara otonom terhadap respon stress
psikis dan aktifitas fisik. Respon simpatis terhadap stress disebut juga sebagai ‘faight of flight
response’ memberikan umpan balik yang spesisfik pada organ dan sistim organ, termasuk yang
paling utama adalah respon kardiovaskuler, pernafasan dan sistim imun. Sedangkan sistim para
simpatis mengatur fungsi tubuh secara otonom terutama pada organ-organ visceral, produksi
kelenjar, fungsi kardiovaskuler dan berbagai sistim organ lainnya dan bukan respon terhadap suatu
stressor ataupun aktifitas fisik.10,11

Sistim saraf simpatis berasal dari medulla spinalis pada segmen torakolumbal, tepatnya segmen
torakal-1 sampai lumbal-2, dengan pusat ganglion sarafnya berada di daerah paravertebre. Sistim
saraf simpatis menimbulkan efek pada organ dan sistim organ melalui perantra neurotrasmiter
adrenalin (epinefrin) atau noradrenalin (norepinefrin) endogen yang dhasilkan oleh tubuh.
Adrenalin di sekresikan oleh kelenjar adrenal bagian medula, sedangkan noradrenalin selain
dihasilkan oleh medulla adrenal juga disekresikan juga oleh sel-sel saraf (neutron) simpatis
pascaganglion.10,11

Respon yang muncul pada organ-organ target tergantung reseptor yang menerima neurotrasmiter
tersebut yang dikenal dengan reseptor alfa dan beta adrenergik. Pada jantung terdapat resesptor
beta, rangsangan simpatis pada otot jantung atau reaksi adrenalin dengan reseptor beta-1
menyebabkan peningkatan frekuensi (kronotropik) dan kontraktilitas otot jantung (inotropik). Efek
adrenergik pada pembuluh terjadi melalui reaksi neurotrasmiternya dengan reseptor alfa-1, yang
menyebabkan terjadinya vasokontriksi arteri dan vena. Sedangkan efek pada saluran pernafasan
terutama bronkhus adalah dilatasi (melalui reseptor beta-2).10,11
Sistim parasismpatis dari segmen kraniosakral, yaitu dari saraf kranial dan medulla spinalis
sekmen sakralis. Saraf kranial merupakan saraf tepi yang langsung keluar dari batang otak dan
terdapat 12 pasang, namun yang memberikan efek parasimpatis yaitu nervus-III (okulomotorius),
nervus-VII (fasialis), nervus-IX (glosofaringeus) dan nervus-X (vagus). Rangsangan parasimpatis
pada masing-masing saraf tersebut memberikan efek spesifik pada masing-masing organ target,
namun yang memberikan efek terhadap fungsi kardiovaskuler adalah nervus vagus. Sedangkan
yang berasal dari medulla spinalis yang menimbulkan efek parasimpatis adalah berasal dari daerah
sakral-2 hingga 4.

Efek parasimpatis muncul melalui perantara neurotrasnmiter asetilkolin, yang disekresikan oleh
semua neuron pascaganglion sisitim saraf otonom parasimpatis. Efek parasimpatis ini disebut juga
dengan efek kolinergik atau muskarinik. Sebagaimana halnya sistim saraf simpatis, sistim saraf
parsimpatis juga menimbulkan efek bermacam-macam sesuai dengan reaksi neurotransmitter
asetilkolin dengan reseptornya pada organ target. Efek yang paling dominan pada fungsi
kardiovaskuler adalah penurunan frekuensi jantung dan kontraktilitasnya (negatif kronotropik dan
inotropik) serta dilatasi pembuluh darah.

Dalam kedaan fisiologis, kedua sistim saraf ini mengatur funsgi tubuh termasuk kardiovaskuler
secara homeostatik melalui mekanisme autoregulasi. Misalnya pada saat aktifitas fisik meningkat,
tubuh membutuhkan energi dan metabolisme lebih banyak dan konsumsi oksigen meningkat,
maka sistim simpatis sebagai respon homestatik akan meningkatkan frekuensi denyut dan
kontraktilitas otot jantung, sehingga curah jantung dapat ditingkatkan untuk untuk mensuplai
oksigen lebih banyak. Begitu juga bila terjadi kehilangan darah, maka respon simpatis adalah
dengan terjadinya peningkatan laju dan kontraktilitas jantung serta vasokontriksi pembuluh darah,
sehingga kesimbangan volume dalam sirkulasi dapat terjaga dan curah jantung dapat
dipertahankan. Namun bila gangguan yang terjadi sangat berlebihan, maka kompensasi
autoregulasi tidak dapat lagi dilakukan sehingga menimbulkan gejala-gejala klinis.7,12

Patofisiologi dan Gambaran Klinis

Gejala-gejala klinis pada suatu perdarahan bisa belum terlihat jika kekurangan darah kurang dari
10% dari total volume darah karena pada saat ini masih dapat dikompensasi oleh tubuh dengan
meningkatkan tahanan pembuluh dan frekuensi dan kontraktilitas otot jantung. Bila perdarahan
terus berlangsung maka tubuh tidak mampu lagi mengkompensasinya dan menimbulkan gejala-
gejala klinis. Secara umum syok hipovolemik menimbulkan gejala peningkatan frekuensi jantung
dan nadi (takikardi), pengisian nadi yang lemah, kulit dingin dengan turgor yang jelek, ujung-
ujung ektremitas yang dingin dan pengisian kapiler yang lambat.1-3

Pemeriksaan yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis adanya syok hipovolemik tersebut
pemeriksaan pengisian dan frekuesnsi nadi, tekanan darah, pengisian kapiler yang dilakukan pada
ujung-uung jari (refiling kapiler), suhu dan turgor kulit. Berdasarkan persentase volume
kehilangan darah, syok hipovolemik dapat dibedakan menjadi empat tingkatan atau stadium.
Stadium syok dibagi berdasarkan persentase kehilangan darah sama halnya dengan perhitungan
skor tenis lapangan, yaitu 15, 15-30, 30-40, dan >40%. Setiap stadium syok hipovolemik ini dapat
dibedakan dengan pemeriksaan klinis tersebut.1-3,13

1. Stadium-I adalah syok hipovolemik yang terjadi pada kehilangan darah hingga maksimal 15%
dari total volume darah. Pada stadium ini tubuh mengkompensai dengan dengan vasokontriksi
perifer sehingga terjadi penurunan refiling kapiler. Pada saat ini pasien juga menjadi sedkit cemas
atau gelisah, namun tekanan darah dan tekanan nadi rata-rata, frekuensi nadi dan nafas masih
dalam kedaan normal.

2. Syok hipovolemik stadium-II afalah jika terjadi perdarahan sekitar 15-30%. Pada stadium ini
vasokontriksi arteri tidak lagi mampu menkompensasi fungsi kardiosirkulasi, sehingga terjadi
takikardi, penurunan tekanan darah terutama sistolik dan tekanan nadi, refiling kapiler yang
melambat, peningkatan frekuensi nafas dan pasien menjadi lebih cemas.

3. Syok hipovolemik stadium-III bila terjadi perdarahan sebanyak 30-40%. Gejala-gejala yang
muncul pada stadium-II menjadi semakin berat. Frekuensi nadi terus meningkat hingga diatas 120
kali permenit, peningkatan frekuensi nafas hingga diatas 30 kali permenit, tekanan nadi dan
tekanan darah sistolik sangat menurun, refiling kapiler yang sangat lambat.

4. Stadium-IV adalah syok hipovolemik pada kehilangan darah lebih dari 40%. Pada saat ini
takikardi lebih dari 140 kali permenit dengan pengisian lemah sampai tidak teraba, dengan gejala-
gejala klinis pada stadium-III terus memburuk. Kehilangan volume sirkulasi lebih dari 40%
menyebabkan terjadinya hipotensi berat, tekanan nadi semakin kecil dan disertai dengan
penurunan kesadaran atau letargik.
Selengkapnya stadium dan tanda-tanda klinis pada syok hemoragik dapat dilihat oada tabel-1.

Tabel 1. Stadium Syok Hipovolemik dan Gambaran Klinisnya

Tanda dan Pemeriksaan Klinis

Dikutip dari berbagai sumber1-3

Berdasarkan perjalanan klinis syok seiring dengan jumlah kehilangan darah terlihat bahwa
penurunan refiling kapiler, tekanan nadi dan produksi urin lebih dulu terjadi dari pada penurunan
tekanan darah sistolik. Oleh karena itu, pemeriksaan klinis yang seksama sangat penting dilakukan.
Pemeriksaan yang hanya berdasarkan perubahan tekanan darah sitolik dan frekuensi nadi dapat
meyebabkan kesalahan atau keterlambatan diagnosoa dan penatalaksanaan (neglected cases).

Tekanan nadi (mean arterial pressure: MAP) merupakan merupakan tekanan efektif rata-rata pada
aliran darah dalam arteri. Secara matematis tekanan ini dipadapatkan dari penjumlahan tekanan
sistolik dengan dua kali tekanan diastolik kemudian dibagi tiga (seperti yang terlihat pada gambar-

3).

Keterangan:

TN : Tekanan Nadi Rata-Rata

TS : Tekanan Darah Sistolik

TD : Tekanan Darah Diastolik

Gambar 3. Perhitungan Tekanan Nadi Rata-Rata2,14

Penurunan tekanan darah sistolik lebih lambat terjadi karena adanya mekanisme kompensasi tubuh
terhadap terjadinya hipovolemia. Pada awal-awal terjadinya kehilangan darah, terjadi respon
sistim saraf simpatis yang mengakibatkan peningkatan kontraktilitas dan frekuensi jantung.
Dengan demikian pada tahap awal tekanan darah sistolik dapat dipertahankan. Namun kompensasi
yang terjadi tidak banyak pada pembuuh perifer sehingga telah terjadi penurunan diastolik
sehingga secara bermakna akan terjadi penurunan tekanan nadi rata-rata.13

Berdasarkan kemampuan respon tubuh terhadap kehilangan volume sirkulasi tersebut maka secara
klinis tahap syok hipovolemik dapat dibedakan menjadi tiga tahapan yaitu tahapan kompensasi,
tahapan dekompensasi dan tahapan irevesrsibel. Pada tahapan kompensasi, mekanisme
autoregulasi tubuh masih dapat mempertahankan fungsi srikulasi dengan meningkatkan respon
simpatis. Pada tahapan dekompensasi, tubuh tidak mampu lagi mempertahankan fungsinya dengan
baik untuk seluruh organ dan sistim organ. Pada tahapan ini melalui mekanisme autoregulasi tubuh
berupaya memberikan perfusi ke jaringan organ-organ vital terutama otak dan terjadi penurunan
aliran darah ke ekstremitas. Akibatnya ujung-ujung jari lengan dan tungkai mulai pucat dan terasa
dingin. Selanjutnya pada tahapan ireversibel terjadi bila kehilangan darah terus berlanjut sehingga
menyebabkan kerusakan organ yang menetap dan tidak dapat diperbaiki. Kedaan klinis yang
paling nyata adalah terjadinya kerusakan sistim filtrasi ginjal yang disebut sebagai gagal ginjal
akut.3,5

1. Manifestasi Klinik

Manifestasi klinis tergantung pada penyebab syok (kecuali syok neurogenik) yang meliputi :

1. Sistim pernafasan : nafas cepat dan dangkal


2. Sistim sirkulasi : ekstremitas pucat, dingin, dan berkeringat dingin, na-
di cepat dan lemah, tekanan darah turun bila kehilangan darah menca-
pai 30%.
3. Sistim saraf pusat : keadaan mental atau kesadaran penderita bervariasi
tergantung derajat syok, dimulai dari gelisah, bingung sampai keadaan
tidak sadar.
4. Sistim pencernaan : mual, muntah
5. Sistim ginjal : produksi urin menurun (Normalnya 1/2-1 cc/kgBB/jam)
6. Sistim kulit/otot : turgor menurun, mata cowong, mukosa lidah kering.
Individu dengan syok neurogenik akan memperlihatkan kecepatan denyut jantung yang
normal atau melambat, tetapi akan hangat dan kering apabila kulitnya diraba.