Anda di halaman 1dari 38

Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

IV.2 Dasar Teori


IV.2.1 Definisi Mesin Milling
Pada tahun 1818 mesin milling pertama kali ditemukan di New
Heaven Conecticut oleh Eli Whitney. Pada tahun 1952 John Parson
mengembangkan milling dengan kontrol basis angka atau MNC (Milling
Numeric Control). Dalam perkembangannya mesin milling mengalami
berbagai perkembangan baik secara teknis maupun teknologi
pengoperasiannya.
Mesin milling adalah mesin yang digunakan secara akurat untuk
menghasilkan satu atau lebih pengerjaan permukaan benda dengan
menggunakan satu atau lebih alat potong. Mesin Milling adalah mesin yang
paling mampu melakukan banyak tugas dari segala mesin perkakas.
Milling adalah suatu proses permesinan yang pada umumnya
menghasilkan bentukan bidang datar dimana proses pengurangan material
benda kerja terjadi karena adanya kontak dengan alat pemotong yang
berputar pada spindel dengan benda kerja yang tercekam pada meja mesin.
Proses milling adalah proses yang menghasilkan Chips (Beram). Mesin
milling merupakan salah satu mesin konvensional yang mampu
mengerjakan suatu benda kerja dalam permukaan datar, sisi tegak, miring,
bahkan alur roda gigi.
Mesin milling adalah mesin yang paling mampu melakukan banyak
tugas jika dibandingkan dengan mesin perkakas yang lain. Hal ini
disebabkan karena selain mampu mengerjakan permukaan datar maupun
berlekuk dengan penyelesaian dan ketelitian yang istimewa, juga berguna
untuk menghaluskan atau meratakan benda kerja sesuai dengan dimensi
yang dikehendaki.
Mesin milling merupakan salah satu mesin konvensional yang mampu
mengerjakan suatu benda kerja dalam permukaan sisi datar, tegak, miring,
bahkan alur roda gigi. Mesin perkakas ini mengerjakan atau menyelesaikan
suatu benda kerja dengan menggunakan pisau milling (Cutter).
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

Permukaan yang datar maupun yang berlekuk, dapat diproses dengan


mesin ini dengan ketelitian yang tinggi termasuk pemotongan sudut, celah,
dan roda gigi juga dapat diproses dengan baik menggunakan mesin ini. Jika
alat pemotong dan bornya dilepas, maka dapat menggunakan pahat, alat
pembesar lubang, dan bor. Karena mesin ini dilengkapi mesin penyetel
micrometer untuk mengatur gerakan dari mejanya, maka lubang dan
pemotongan yang lain dapat diberi jarak secara tepat.
Pengerjaan logam dalam dunia manufacturing ada beberapa macam,
mulai dari pengerjaan panas, pengerjaan dingin, hingga pengerjaan secara
mekanis. Pengerjaan mesin mekanis loagam biasanya digunakan untuk
pengerjaan lanjutan maupun pengerjaan finishing, sehingga dalam
pengerjaan mekanis dikenal beberapa prinsip pengerjaan, salah satunya
adalah pengerjaan perataan permukaan dengan menggunakan mesin milling
atau biasa juga disebut mesin milling.
Memroses secara milling adalah mengerjakan logam dengan mesin
yang menggunakan pemotong yang berputar yang mempunyai sejumlah
mata potong. Ada dua jenis pahat milling yang paling banyak digunakan
yaitu : horizontal, dimana pahat milling dipasang pada sumbu utama
horizontal. Yang kedua yaitu vertikal, dimana pahat milling dipasang pada
ujung spindel vertikal. Milling horizontal merupakan suatu proses
pemakanan benda kerja yang pengerjaannya dilakukan dengan
menggunakan pahat yang berputar oleh poros spindel mesin. Pahat milling
(Milling Cutter) termasuk jenis pahat bersisi potong banyak (Multiple Point
Tool).

IV.2.2 Jenis Jenis Mesin Milling


Penggolongan mesin milling digolongkan menurut jenisnya dan
penamaannya disesuaikan dengan posisi spindel utama dan fungsi
pembuatan produknya. Dibawah ini akan dibahas beberapa jenis mesin
milling berdasarkan penggolongannya dalam dunia manufacturing antara
lain :
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

A. Berdasarkan Posisi Spindel Utama


1) Mesin Milling Tegak (Vertikal)
Mesin milling jenis ini pemasangan spindelnya pada kepala
mesin dipasang secara vertikal atau tegak. Pada mesin milling jenis
ini digolongkan menjadi beberapa macam menurut tipe kepalanya.
Terdapat dua tipe kepala tetap, yaitu:
a. Tipe kepala yang dapat dimiringkan
b. Tipe kepala bergerak.
Mesin milling tegak adalah suatu mesin milling yang arbornya
tegak (vertikal) seperti pada gambar 4.1. Sedangkan mejanya dapat
bergerak ke arah, sebagai berikut:
c. Memanjang/longitudinal
d. Melintang/cross slide dan naik turun

a
d

f h

Gambar 4.1 Mesin Milling Tegak (Vertikal)

Bagian-bagian mesin milling tegak:


a. Spindel
b. Kepala
c. Tuas Otomatis
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

d. Kolom
e. Engkol ke arah memanjang
f. Engkol ke arah naik turun
g. Alas mesin
h. Handle ke arah melintang

2) Mesin Milling Mendatar (Horizontal)


Mesin milling jenis ini mempunyai pemasangan spindel dengan
arah horizontal atau mendatar dan digunakan untuk melakukan
pemotongan benda kerja dengan arah mendatar.
Mesin milling horizontal, dapat dibedakan menurut fungsinya
yaitu:
a. Mesin Milling Sederhana (Plain Milling machine)
b. Mesin Milling Universal (Universal Milling machine)
Mesin milling mendatar/horizontal adalah suatu mesin milling
yang arbornya mendatar seperti pada gambar 4.2. Sedangkan
mejanya dapat bergerak ke arah, sebagai berikut :
a. Memanjang / longitudinal
b. Melintang / cross slide dan naik turun

c
e
b
f

Gambar 4.2 Mesin Milling Mendatar (Horizontal)


Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

Bagian-bagian mesin milling mendatar:


a. Lengan penahan arbor
b. Tuas otomatis meja memanjang
c. Meja/Bed Machine
d. Handle penggerak meja memanjang
e. Tuas pengunci meja mesin
f. Handle penggerak meja melintang

3) Mesin Milling Universal


Mesin milling universal adalah suatu mesin milling dengan
kedudukan arbornya mendatar dan gerakan mejanya dapat kearah
memanjang/longitudinal, melintang/cross slide, naik turun dan dapat
diputar membuat sudut tertentu terhadap body mesin.

a
b

c
e
g
d
i
f
j
h

Gambar 4.3 Mesin Milling Universal

Bagian-bagian mesin milling universal :


a. Lengan
b. Penyokong arbor
c. Tuas otomatis
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

d. Nok pembatas
e. Meja mesin
f. Engkol ke arah memanjang
g. Tuas pengunci
h. Baut penyetel
i. Engkol ke arah melintang
j. Engkol untuk ke arah naik turun
Mesin milling ini mempunyai fungsi bermacam-macam sesuai
dengan prinsipnya seperti :
1. Milling Muka
2. Milling Spiral
3. Milling Datar
4. Pemotongan Roda Gigi
5. Pengeboran
6. Reaming
7. Boring
8. Pembuatan Celah

B. Berdasarkan Fungsi Penggunaan


1) Plano Milling
Merupakan mesin yang digunakan untuk memotong permukaan
(face cutting) dengan benda kerja yang besar dan berat.

Gambar 4.4 Mesin Plano Milling


Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

2) Surface Milling
Mesin milling yang biasa digunakan untuk produksi masal, kepala
spindel dan cutter dinaik turunkan.

Gambar 4.5 Mesin Surface Milling


3) Thread Milling
Thread milling digunakan untuk pembuatan ulir.

Gambar 4.6 Mesin Thread Milling


4) Gear Milling
Mesin ini digunakan untuk pembuatan roda gigi.

Gambar 4.7 Mesin Gear Milling


Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

5) Copy Milling
Mesin ini digunakan untuk pembuatan benda kerja yang
mempunyai bentuk tidak beraturan. Merupakan mesin milling yang
digunakan untuk mengerjakan bentukan yang rumit, maka dibuat master
atau mal sebagai referensi untuk membuat bentukan yang sama. Mesin
ini dilengkapi dengan dua head mesin mesin yang fungsinya sebagai
berikut :
1. Head yang pertama berfungsi untuk mengikuti bentukan masternya.
2. Head yang kedua berfungsi memotong benda kerja sesuai bentukan
masternya.

Gambar 4.8 Mesin Copy Milling


6) Mesin Milling Hobbing
Mesin milling hobbing merupakan mesin yang digunakan untuk
membuat roda gigi/gear dan sejenisnya. Alat potong yang digunakan
juga spesifik, yaitu membentuk profil roda gigi (evolvente) dengan
ukuran yang presisi.

Gambar 4.9 Mesin Hobbing Milling


Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

7) Mesin Milling Gravier


Merupakan mesin yang digunakan untuk membuat gambar ataupun
tulisan dengan ukuran yang dapat diatur sesuai dengan keinginan dengan
skala tertentu.

Gambar 4.10 Mesin Gravier Milling


8) Mesin Milling CNC
Mesin milling CNC merupakan mesin yang digunakan untuk
mengerjakan benda kerja dengan bentukan-bentukan yang lebih rumit
dan komplek. Mesin ini merupakan pengganti mesin milling copy dan
gravier. Semua kontrol menggunakan sistem elektronik yang komplek.
Dibutuhkan operator yang ahli dalam menjalankan mesin ini, dan harga
mesin ini pun cukup mahal.

Gambar 4.11 Mesin Milling CNC


Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

IV.2.3 Bagian-Bagian Utama Mesin Milling dan Fungsinya


Mesin milling memiliki bentuk yang berbeda-beda, tetapi pada
prinsipnya mesin milling ini mempunyai beberapa komponen utama, yaitu:
a. Kolom Mesin/Badan Mesin
Badan mesin ini adalah berdiri tegak dan kokoh karena ia dipakai
sebagai patokan dan merupakan dudukan dan rumah dari roda gigi. Selain
dari itu juga akan jadi dudukan dari sumbu utama, bahkan untuk jadi
dudukan motor dan puli-pulinya itulah ditempatkan. Bagian depan yang
dikerjakan secara masinal, adalah bebentuk ekor burung tegak yaitu untuk
gerak turun naiknya knee yang membawa sadel dan meja. Pada bagian
sebelah atas kolom ini dipasang sumbu utama/spindel untuk dudukan dan
membawa arbor sebagai pemegang dari pisau milling itu sendiri, sehingga
dapat berputar. Pada bagian atas juga dibuat alur ekor burung mendatar
yaitu untuk dudukan lengan, dan arm ini dapat didorong maju ataupun
mundur untuk mencapai kedudukan tertentu.
b. Arm (Lengan Mesin)
Seperti dikatakan di atas bahwa lengan itu letaknya di bagian paling
atas dari badan mesin dan bawahnya mempunyai bentuk ekor burung yang
pas kepada alur ekor burung pada badan mesin, lengan ini dapat dikunci
dan dilepas untuk kebutuhan tertentu. Pada lengan ini dapat dipasang
dukungan arbor (support arbor) yang mempunyai alur ekor burung pas
kepada lengan tadi dan ia dapat dikunci pada posisi tertentu, sehingga
cocok untuk kebutuhan pekerjaan tertentu. Pada beberapa jenis mesin,
pendukung arbor ini jumlahnya ada yang satu ada yang dua buah untuk
lebih kokohnya dukungan terhadap arbor.
c. Table (Meja Mesin)
Meja ini letaknya adalah di atas sadel, bentuknya segi empat panjang
dan mempunyai alur-alur T yang berfungsi untuk penempatan baut dan
mur T yang berfungsi sebagai pengikat. Untuk jenis mesin tetentu meja ini
dapat diatur 0 samapai 45o, miring ke kiri atau ke kanan.
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

Pergerakan ke kiri atau ke kanan dari meja ini dengan bantuan


memutar sumbu transportir yang mempunyai kisar tertentu, yaitu ada yang
5 atau 6 mm ada juga yang berukuran inchi. Apabila perlu meja ini dapat
dikunci kepada sadel dan untuk proses milling dengan pemakanan
menurun/dlimb milling, maka pada meja mesin ini dipasang backlash
eliminator untuk menahan loncatan dari meja karena pemakanan.

Gambar 4.12 Meja Mesin Milling


d. Sadel/Dudukan Meja
Sadel ini bentuknya persegi artinya mempunyai ukuran lebar sama
dengan ukuran panjangnya, dan sadel ini mempunyai alur ekor burung
yang pas kepada lutut , sehingga sadel ini dapat bergerak mundur maju
searah dan sejajar dengan gerakan lengan tadi, jadi sadel ini gerakannya
tidak bisa kearah kiri atau kearah kanan, artinya hanya dua arah saja yaitu
mundur maju dan sadel ini dapat dikunci kepada lutut apabila diperlukan.
Di bagian atas dari sadel ini dibuat alur T melingkar 360o, dengan
tujuan untuk membautkan meja kepada sadel agar kokoh, dan alur bentuk
melingkar ini yang memungkinkan meja diputar beberapa derajat menurut
kebutuhan tertentu. Dan penunjukan besarnya derajat terdapat pada
permukaan sadel itu sendiri. Di atas permukaan sadel itu juga dipasang
handel pembalik arah gerakan otomatis dari meja.
e. Knee (Lutut)
Lutut ini adalah mempunyai dua alur ekor burung yang saling
tegak lurus, yaitu satu alur dipaskan kepada kolom dan satunya lagi
dipaskan kepada sadel itu tadi. Lutut ini berbentuk rongga, dan dalam
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

rongga itulah dipasang roda-roda gigi untuk gerakan otomatis, mundur


maju, naik turun dan kiri kanan. Gerakan dari lutut ini hanya dua arah
yaitu turun dan naik saja, lutut ini juga dapat dikuncikan kepada kolom,
agar kokoh pada waktu proses milling.
f. Alas Mesin
Alas mesin ini letaknya sama dengan namanya yaitu alas, artinya
bagian paling bawah dari mesin, alas ini berfungsi untuk menumpu
seluruh beban yang ada pada mesin, seperti berat mesin ditambah berat
bahan yang dikerjakan dan berat perlengkapan yang dipakai serta berat
dari alas itu sendiri. Pada alas mesin ini dibuat rongga sebagai bak
penampung, yaitu untuk menampung cairan pendingin. Pompa air untuk
mengalirkan cairan pendingin kepada cutter dan benda kerja, juga
dipasang pada alas ini untuk membuat sirkulasi air pendingin itu tadi.

Gambar 4.13 Alas Mesin

IV.2.4 Alat Potong Mesin Milling


Alat potong yang digunakan pada waktu memroses milling adalah pisau
(cutter) milling. Umumnya pisau milling berbentuk bulat panjang dan
sekelilingnya bergerigi dan beralur. Pada lubangnya terdapat pasak agar pisau
Milling tidak ikut berputar. Keuntungan cutter dibanding dengan pahat bubut
dan pahat ketam adalah setiap sisi potong dari pisau milling mengenai benda
kerja hanya dalam waktu yang pendek. Bahan pisau milling umumnya terbuat
dari HSS atau karbida. Adapun macam-macam pisau milling, yaitu :
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

a. Cutter Mantel
Cutter jenis ini digunakan untuk mesin milling horizontal.

Gambar 4.14 Cutter Mantel


b. Cutter Alur
Cutter ini digunakan untuk membuat alur-alur pada batang atau
permukaan benda lainnya.

Gambar 4.15 Cutter Alur


c. Cutter Modul
Cutter ini dalam satu set terdapat 8 buah. Cutter ini digunakan untuk
membuat roda-roda gigi.

Gambar 4.16 Cutter Modul


d. Cutter Radius Cekung
Cutter ini dipakai untuk membuat benda kerja yang bentuknya
memiliki radius dalam (cekung).
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

Gambar 4.17 Cutter Radius Cekung


e. Cutter Radius Cembung
Cutter ini dipakai untuk membuat benda kerja yang bentuknya
memiliki radius luar (cembung).

Gambar 4.18 Cutter Radius Cembung


f. Cutter Alur “T”
Cutter ini hanya digunakan untuk membuat alur berbentuk “T” seperti
halnya pada meja mesin milling.

Gambar 4.19 Cutter Alur “T”


g. Cutter Ekor Burung
Cutter ini dipakai untuk membuat alur ekor burung. Cutter ini sudut
kemiringannya terletak pada sudut-sudut istimewa, yaitu 30º, 45º, 60º, 75º,
90º, 105º, 120º, 135º, 150º, 165º, 180º, 195º, 210º, 225º, 240º, 255º, 270º,
285º, 300º, 315º, 330º, 345º, dan 360º.
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

Gambar 4.20 Cutter Ekor Burung


h. Cutter End Mill
Ukuran Cutter ini sangat bervariasi mulai dari ukuran kecil sampai
yang ukuran besar. Cutter ini biasanya dipakai untuk membuat alur pasak
dan ini hanya dapat dipasang pada mesin Milling vertikal.

Gambar 4.21 Cutter End Mill


i. Cutter Heavy Duty End Mill
Cutter ini mempunyai satu ciri khas yang berbeda dari cutter yang
lain. Pada sisinya berbentuk alur helik yang dapat digunakan untuk
menyayat benda kerja dari sisi potong cutter, sehingga cutter ini mampu
melakukan penyayatan yang cukup besar.

\
Gambar 4.22 Cutter Heavy Duty End Mill

Dibawah ini terdapat sebuah tabel ketebalan pisau milling dalam


memotong sebuah benda. Karena selain jenis pisaunya, jenis bahan bendanya
juga memengaruhi ketebalan pisau dalam memotong ketebalan sebuah benda.
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

Tabel 4.1 Ketebalan Pemotongan Jenis Pisau Milling

Jenis Bahan Benda


Jenis Pisau
Milling Baja Baja Baja Besi
Alumunium Kuningan Perunggu
Sedang Keras Campuran Tuang

Muka 0,55 0,55 0,45 0,23 0,20 0,18 0,33

Spiral 0,43 0,43 0,35 0,18 0,15 0,13 0,25

Sisi dan
0,33 0,33 0,28 0,15 0,13 0,10 0,20
Muka

Jari 0,28 0,28 0,23 0,13 0,10 0,10 0,15

Bentuk 0,15 0,15 0,13 0,07 0,07 0,05 0,10

Gergaji 0,15 0,13 0,10 0,07 0,05 0,05 0,07

Bahan cutter sangat berpengaruh terhadap kemampuan cutter dalam


menyayat benda kerja. Cutter mesin milling dibuat dari berbagai jenis bahan
antara lain :
1) Unalloyed Tool Steel
Unalloyed tool steel merupakan baja perkakas bukan paduan dengan
kadar karbon 0,5 – 1,5% kekerasannya akan hilang jika suhu kerja mencapai
250oC, oleh karena itu material ini tidak cocok untuk kecepatan potong
tinggi.
2) Alloy Tool Steel
Alloy tool steel merupakan baja perkakas paduan yang mengandung
karbon kromium dan vanadium. Baja ini terdiri dari baja paduan tinggi dan
paduan rendah. HSS (High Speed Steel) adalah baja paduan tinggi yang
tahan terhadap keausan sampai suhu 600oC.
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

3) Cemented Carbide
Susunan bahan ini terdiri dari tungsten, kobalt serta karbon. Cemented
Carbide biasanya di buat dalam bentuk tip yang pemasangannya dibaut pada
pemegang alat potongnya. Pada suhu 900oC bahan ini masih mampu
memotong dengan baik. Cemented carbide sangat cocok untuk proses
milling dengan kecepatan tinggi. Dengan demikian waktu pemotongan dapat
dipersingkat dan putaran yang tinggi dapat menghasilkan kualitas
permukaan yang halus.

IV.2.5 Macam-Macam Pahat


Ada bermacam-macam pahat pada mesin milling. Berikut ini jenis pahat
milling adalah:
1. Pahat Silindris
Pahat ini digunakan untuk menghasilkan permukaan horizontal dan
dapat mengerjakan permukaan yang lebar dan pekerjaan berat
2. Pahat Muka dan Sisi
Pahat ini memiliki gigi potong di kedua sisinya digunakan untuk
menghasilkan celah dan ketika digunakan dalam pemsangan untuk
menghasilkan permukaan rata, kotak, hexadiagonal, dan lain-lain. Untuk
ukuran yang besar, gigi dibuat terpisah dan dimasukkan kedalam badan
pahat. Keuntungan ini memungkinkan cutter dapat dicabut dan dipasang
jika mengalami kerusakan.
3. Slotting Cutter
Pahat ini hanya memiliki gigi di bagian kelilingnya dan pahat ini
digunakan untuk pemotongan celah dan alur pasak
4. Metal Slitting Saw
Pahat ini memiliki gigi hanya di bagian keliling saja, atau memiliki
gigi keduanya di bagian keliiling dan sisinya saja. Digunakan untuk
memotong kedalaman celah dan untuk pemotongan panjang dari material.
Ketipisan pahat bermacam macam, dari 1 mm–5 mm, dan ketipisan pada
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

bagian tengah lebih tipis dari bagian tepinya, hal ini untuk mencegah pahat
untuk terjepit di celah.
5. Milling Ujung
Biasanya berukuran dari diameter 4 mm-40 mm
6. Shell and Mill
Kelopak ujung milling dibuat untuk disesuaikan di bar pendek yang
dipasang dibagian poros. Kelopak milling ujung lebih mudah untuk diganti
dari pada milling ujung padat.
7. Milling Muka
Pahat ini dibuat untuk mengerjakan pemotongan berat dan juga
digunakan untuk menghasilkan permukaan yang datar. Ini lebih akurat dari
pada Sylindrical Slab Mill atau Milling Slab Silindris. Milling muka
memiliki gigi diujung muka dan kelilingnya. Panjang dari gigi di
kelilingnya selalu kurang dari separuh diameter dari pisaunya.
8. Tee Slot Cutter
Pahat ini digunakan untuk milling celah awal, suatu celah atau alur
harus dibuat pada benda kerja sebelum pahat digunakan.

Tabel 4.2 Nomor Pahat Freis dalam Pembuatan Roda Gigi

Nomor Pahat Freis Untuk Roda Gigi Antara

1 12 – 13 Gigi

2 14 – 16 Gigi

3 17 – 20 Gigi

4 26 – 34 Gigi

5 35 – 54 Gigi

6 55 – 134 Gigi

7 135 – Batang Gigi

8 135 – Batang Gigi


Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

IV.2.6 Perlengkapan Mesin Milling

Untuk menunjang berbagai macam jenis pekerjaan pada mesin milling,


mesin ini dilengkapi beberapa perlengkapan diantaranya:
a) Arbor
Arbor digunakan sebagai dudukan alat potong/pisau (mantel, side and
face, slitting saw, dll) yang dipasang pada spindel utama pada posisi
mendatar (horizontal).

Gambar 4.23 Arbor


b) Stub Arbor
Stub arbor digunakan sebagai dudukan alat potong/pisau (Face mill,
Shell endmill, dll), yang dipasang pada spindel utama atau tegak. Jadi
posisinya dapat dipasang dalam posisi mendatar (horizontal) atau tegak
vertikal.

Gambar 4.24 Stub Arbor


c) Collet Chuck
Collet chuck digunakan sebagai pengikat alat potong/pisau (End mill,
Slot drill, dll), yang dipasang pada spindel utama atau tegak. Jadi
posisinya dapat dipasang dalam posisi mendatar (horizontal) atau tegak
vertikal.
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

Gambar 4.25 Collet Chuck


d) Ragum
Ragum digunakan untuk mengikat benda kerja pada saat proses
millingan. Pemasangan ragum diikatkan pada meja/bed mesin.
Berdasarkan gerakannya ragum terbagi menjadi 3 jenis yaitu :
1. Ragum Biasa
Ragum ini digunakan untuk menjepit benda kerja yang bentuknya
sederhana dan biasanya hanya digunakan untuk mengeMilling bidang
datar saja.

Gambar 4.26 Ragum Biasa


2. Ragum Berputar
Ragum ini digunakan untuk menjepit benda kerja yang harus
membentuk sudut terhadap spindel. Bentuk ragum ini seperti ragum
biasa tetapi pada bagian bawahnya terdapat alas yang dapat diputar
360o.
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

Gambar 4.27 Ragum Berputar


3. Ragum Universal
Ragum ini mempunyai dua sumbu perputaran sehingga dapat
diatur tegak atau datar.

Gambar 4.28 Ragum Universal


e) Meja Putar
Meja putar (Rotary Table) digunakan untuk membagi jarak-jarak
lubang, alur, radius (melingkar) dan bentuk-bentuk segi banyak.

Gambar 4.29 Meja Putar


f) Kepala Pembagi
Kepala pembagi (dividing head) adalah peralatan mesin milling yang
digunakan untuk membentuk segi-segi yang beraturan pada poros benda
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

kerja. Peralatan ini biasanya dilengkapi dengan plat pembagi yang


berfungsi untuk membantu pembagian yang tidak dapat dilakukan dengan
pembagian langsung.
g) Penjepit / Klem Mesin
Klem Mesin ini digunakan untuk memegang/menjepit benda kerja
yang tidak dapat dijepit pada ragum, yang umumnya benda panjang atau
lebar. Penjepitan langsung benda kerja itu ditaruh di meja mesin milling
bila slindris ditaruh pada alur meja, bila lebih ditempatkan sesuai dengan
kemampuan langkah kerja sehubungan dengan jangkauan pisau milling
(cutter).

Gambar 4.30 Macam-macam Klem

IV.2.7 Cara Kerja Mesin Milling


1. Langkah Pengoperasian Mesin Milling
Pekerjaan dengan mesin milling harus mempunyai tiga gerakan kerja,
yaitu :
a. Gerakan Pemotongan
Sisi potong cutter yang dibuat berbentuk bulat dan berputar dengan
pusat sumbu utama.
b. Gerakan Pemakanan
Benda kerja digerakkan sepanjang ukuran yang akan dipotong dan
digerakkan mendatar searah gerakan yang dipunyai oleh alas.
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

c. Gerakan Penyetelan
Gerakan ini untuk mengatur posisi pemakanan, kedalaman
pemakanan, dan pengembalian untuk memungkinkan benda kerja
masuk ke dalam posisi potong cutter. Gerakan ini juga dapat disebut
gerakan pengikatan.
Pengoperasian mesin milling pada dasarnya sama dengan
pengoperasian mesin perkakas lainnya. Mesin milling digunakan untuk
membuat benda-benda kerja dengan berbagai bentuk tertentu dengan jalan
penyayatan. Dari berbagai mesin perkakas yang ada, mesin milling yang
mampu digunakan untuk membuat berbagai macam bentuk komponen.
Oleh sebab itu diperlukan langkah-langkah sistematis yang perlu
dipertimbangkan sebelum mengoperasikan sebuah mesin milling.
Langkah-langkah tersebut antara lain :
a) Mempelajari gambar kerja untuk menentukan langkah kerja yang
efektif dan efesien.
b) Menentukan karakteristik bahan yang akan dikerjakan untuk
menentukan jenis cutter dan media pendingin yang akan digunakan.
c) Menetapkan kualitas hasil penyayatan yang diinginkan.
d) Menentukan geometri cutter yang digunakan
e) Menentukan alat bantu yang dibutuhkan didalam proses.
f) Menentukan roda-roda gigi pengganti apabila dikehendaki adanya
pengerjaan-pengerjaan khusus.
g) Menentukan parameter-parameter pemotongan yang berpengaruh
dalam prosese pengerjaan (kecepatan potong, kecepatan sayat,
kedalaman pemakanan, waktu pemotongan, dll).
Untuk melaksanakan langkah-langkah diatas, kita terlebih dulu harus
dapat menghidupkan mesin. Setiap mesin mempunyai bagian sendiri-
sendiri yang digunakan untuk menghidupkan mesin, sebagai contoh pada
mesin Milling HMT. Untuk menghidupkan kita harus mengaktifkan saklar
aliran listrik kemudian kita menekan tombol “on” untuk mengalirkan arus
listrik, sedangkan untuk mematikan kita cukup menekan tombol “off”
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

maka dengan demikian putaran mesin akan berhenti. Sedangkan pada


mesin Bridge port peletakan handle-handle untuk menghidupkan mesin
tidak sama dengan mesin HMT. Tetapi pada prinsipnya cara
menghidupkan sama dengan mesin HMT.
2. Menentukan Kecepatan Penyayatan dan Putaran Spindel
a) Kecepatan Penyayatan
Kemampuan mesin menghasilkan panjang sayatan tiap menit
disebut kecepatan potong (sayat). Pada prinsipnya kecepatan
pemotongan suatu material tidak dapat dihitung secara matematis.
Karena setiap material memiliki kecepatan potong sendiri-sendiri
berdasarkan karakteristiknya dan harga kecepatan potong dari tiap
material ini dapat dilihat didalam tabel yang terdapat didalam buku
atau referensi. Untuk lebih jelasnya mengenai daftar beberapa harga
kecepatan potong dari tiap material dapat dilihat pada tabel dibawah
ini :

Tabel 4.3 Tabel Harga Kecepatan Potong

Cutter HSS Cutter Karbida

Bahan
Halus Kasar Halus Kasar

Baja Perkakas 75-100 25-45 185-230 110-140

Baja Karbon Rendah 70-90 25-40 170-215 90-120

Baja Karbon Menengah 60-85 20-40 140 - 185 75 - 110

Besi Cor Kelabu 40 - 45 25 - 30 110 - 140 60 - 75

Kuningan 85 - 110 45 - 70 185 - 215 120 - 150

Alumunium 70 - 110 30 - 45 140 - 215 60 - 90


Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

b) Kecepatan Spindel
Kecepatan spindel utama dapat dihitung apabila kecepatan
penyayatan telah diketahui. Untuk itu langkah pertama yang harus
dilakukan untuk menghitung kecepatan spindel adalah dengan melihat
harga kecepatan potong dari bahan yang akan disayat berdasarkan
pada tabel/referensinya.
c) Memahami Metode Pemotongan
Terdapat beberapa jenis metode pemotongan pada kerja milling.
Diantaranya digolongkan menjadi 3 jenis, antara lain :
a. Pemotongan Searah Jarum Jam
Pemotongan yang datangnya benda kerja seiring dengan
putaran sisi potong cutter. Pada pemotongan ini hasilnya kurang
baik karena meja (benda kerja) cenderung tertarik oleh cutter.

Gambar 4.31 Pemotongan Searah Jarum Jam


b. Pemotongan Berlawanan Arah Jarum jam
Pemotongan yang datangnya benda kerja berlawanan
dengan putaran sisi potong cutter. Pada pemotongan ini hasilnya
dapat maksimal karena meja (benda kerja) tidak tertarik oleh
cutter.
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

Gambar 4.32 Pemotongan Berlawanan Arah Jarum Jam


c. Pemotongan Netral
Pemotongan yang terjadi apabila lebar benda yang disayat
lebih kecil dari ukuran diameter cutter. Pemotongan jenis ini hanya
berlaku untuk mesin milling vertikal.

3. Memahami alat Bantu yang digunakan


Terdapat beberapa macam alat bantu yang dapat digunakan untuk
membantu proses milling, diantaranya adalah :
a. Dividing Head
Dividing head adalah peralatan mesin milling yang terdiri dari 2
bagian utama yaitu roda gigi cacing dan ulir cacing. Perbandingan
antara jumlah gigi cacing dengan ulir cacing nya disebut rasio. Rasio
dividing head ada dua jenis 1:40 dan 1:60, tetapi yang paling banyak
dipakai adalah 1:40. Posisi kedudukan dividing head dapat diputar 900
sehingga dividing head juga dapat berfungsi sebagai rotary table.
Dalam pelaksanaannya untuk membuat segi-segi ke-n, jika tidak
dapat digunakan pembagian langsung, pembagiannya ini
menggunakan bantuan plat pembagi.
b. Rotary Table
Rotary table adalah suatu alat yang digunakan untuk membagi
jarak suatu bentuk benda dalam satuan derajat sampai ketelitian detik.
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

IV.2.8 Jenis-jenis Pengerjaan Mesin Milling


Terdepat beberapa jenis-jenis pengerjaan dalam proses milling,
diantaranya adalah :
a. Proses Milling Datar
Pengerjaan yang dilakukan untuk membuat datar permukaan benda
kerja.
b. Proses Milling Sudut
Pengerjaan yang dilakukan untuk membentuk sudut dengan
kemiringan tertentu pada benda kerja.
c. Proses Milling Alur
Bentuk atau ukuran pahat Milling yang digunakan untuk menMilling
alur adalah tergantuk dari bentuk alur itu.

d. Proses Milling Alur T


Proses milling alur T adalah pengerjaan dasar proses milling untuk
membentuk alur T atau langkah pertamanya yaitu benda kerja dijalankan
dengan alur kemudian alur T nya digunakan milling Alur T
e. Proses Milling Ekor Burung
Pengerjaan datar proses milling untuk membentuk alur atau celah
ekor burung

IV.2.9 Teknik Proses Milling


Teknik proses milling tergantung dari jenis mesin milling dan posisi alat
potong. Ada 2 macam teknik proses milling, yaitu:
1. Proses Milling Sisi
Sisi mata potong sejajar dengan permukaan bidang benda kerja.
Teknik ini menggunakan mesin milling datar.
2. Proses Milling Muka
Isi mata potong tegak lurus terhadap bidang permukaan benda kerja.
Pahat milling mempunyai mata potong sisi dan muka yang keduanya dapat
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

melakukan pemotongan secara bersamaan. Proses milling ini menggunakan


mesin milling tegak.

IV.2.10 Perencanaan Perhitungan Pada Mesin Milling


1. Kecepatan potong (Cutting speed) – Cs
Pada saat proses milling berlangsung, cutter berputar memotong
benda kerja yang diam dan menghasilkan potongan atau sayatan yang
menyerupai chip, serpihan-serpihan tersebut dapat juga berbentuk seperti
serbuk (tergantung dari bahan). Kemampuan mesin menghasilkan
panjang sayatan tiap menit disebut kecepatan potong (sayat), yang diberi
simbol Cs (Cutting Speed). Apabila ukuran diameter alat potong dan
kecepatan putaran mesin diketahui, maka untuk mencari kecepatan
pemotong rumusnya adalah:

Cs = π. d . n (m/menit) (E.q. 4.1)

Keterangan:
Cs = Cutting Speed (m/menit)
D = Diameter Cutter (mm)
n = Putaran Spindel (Rpm)
π = Konstanta (3,14)
Pada prinsipnya kecepatan pemotongan suatu material tidak dapat
dihitung secara matematis. Karena setiap material memiliki kecepatan
potong sendirisendiri berdasarkan karakteristiknya dan harga kecepatan
potong dari tiap material ini dapat dilihat didalam table yang terdapat
didalam buku atau referensi. Untuk lebih jelasnya mengenai harga
kecepatan potong dari tiap material dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Dibawah ini dijelaskan kecepatan potong untuk beberapa jenis bahan
yang berbeda.
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

Tabel 4.4 Kecepatan Potong untuk Beberapa Jenis Bahan

No Bahan Benda Kerja CS (m/menit)

1 Kuningan, Perunggu keras 30 – 45

2 Besi tuang 14 – 21

3 Baja >70 10 – 14

4 Baja 50-70 14 – 21

5 Baja 34-50 20 – 30

6 Tembaga, Perunggu lunak 40 – 70

7 Alumunium murni 300 – 500

8 Plastik 40- 60

2. Kecepatan Putaran Mesin (Spindle Machine)


Sebagaimana telah dijelaskan pada materi mesin bubut, yang
dimaksud kecepatan putaran mesin adalah kemampuan kecepatan putaran
mesin dalam satu menit. Dalam hal ini mengingat nilai kecepatan potong
untuk setiap jenis bahan sudah ditetapkan secara baku, maka komponen
yang bisa diatur dalam proses penyayatan adalah putaran mesin/benda kerja.
Dengan demikian rumus untuk menghitung putaran adalah:

Cs
n=
𝜋.d (E.q. 4.2)

Karena satuan Cs dalam meter/menit sedangkan satuan diameter


pisau/benda kerja dalam millimeter. Disini perlu pengerjaan untuk
menyamakan satuannya terlebih dahulu, sehingga rumusnya diubah
menjadi:
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

1000 Cs
n=
𝜋.d (E.q. 4.3)

Keterangan:
n = Putaran Spindel (rpm)
Cs = Kecepatan Potong (m/menit)
D = Diameter cutter (mm)
π = Konstanta (3,14)
n = 119,42 ≈ 119 rpm
Hasil perhitungan di atas pada dasarnya hanya digunakan sebagai titik
acuan dalam menyalakan putaran mesin agar sesuai dengan putaran mesin
yang tertulis pada tabel yang ditempel di mesin tersebut. Artinya, putaran
mesin sebenarnya dipilih dalam tabel pada mesin yang nilainya paling dekat
dengan hasil perhitungan di atas.
3. Kecepatan Pemakanan (Feeding)
Pada umumnya mesin milling, dipasang tabel kecepatan pemakanan
atau feeding dalam satuan mm/menit. Jadi misalnya pada mesin disetel besar
kecepatan pemakannya 28, artinya kecepatan pemakanan pisau milling
sebesar 28 mm/menit. Makin kecil kecepatan pemakanan pisau milling,
kekasarannya makin rendah atau lebih halus. Tabel besar pemakanan pada
mesin baru berlaku jika mesin milling tersebut dijalankan dengan cara/mode
otomatis.

Menghitung kecepatan pemakanan (E.q. 4.3)


F (mm/menit) =
Feeding

F (mm/menkit) = f (mm/putaran) x n (put/menit) (E.q. 4.4)


Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

Keterangan :
f = bergesernya pisau milling (mm) dalam satu putaran
4. Sistem Pembagian (Devider Head)
Di dalam mesin milling atau milling machine, selain mengerjakan
pekerjaan-pekerjaan proses milling rata, menyudut, membelok, mengatur
dsb, dapat pula mengerjakan benda kerja yang berbidang-bidang atau
bersudut-sudut. Yang dimaksud benda kerja yang berbidang-bidang ialah
benda kerja yang mempunyai beberapa bidang atau sudut atau alur beraturan
misalnya segi banyak beraturan, batang beralur, roda gigi, roda gigi cacing,
dan sebagainya. Untuk dapat mengerjakan benda-benda kerja tersebut di
atas, mesin milling dilengkapi dengan kepala pembagi (dividing head) dan
kelengkapannya. Kepala pembagi ini berfungsi untuk membuat pembagian
atau mengerjakan benda kerja yang berbidang-bidang tadi dalam sekali
pencekaman.

Dalam pelaksanaannya, operasi di atas terdapat lima cara, yang


merupakan tingkatan cara pengerjaan, yaitu :
a. Pembagian Langsung (Direct Indexing)
Yang dimaksud dengan pembagian langsung adalah cara
mengerjakan benda kerja dibagi menjadi berbidang-bidang dengan cara
pembagian langsung, yang dilakukan dengan memutar spindel kepala
pembagi yang mengacu pada aluralur/lubang-lubang plat pembagi.
Kepala pembagi langsung, pada umumnya dilengkapi beberapa
plat/piring pembagi yang beralur V atau berlubang-lubang yang dapat
diganti dan dipasang langsung pada spindel. Pada gambar 4.33
diperlihatkan kepala pembagi langsung dengan alur.
Plat/piring pembagi dengan alur V pada umumnya memilki jumlah
alur yang genap, diantaranya ada yang beralur 24 dan 60.
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

Gambar 4.33 Plat/Piring Pembagi dengan Alur V

Untuk pelat pembagi beralur 24 dapat dipergunakan untuk


pembagian: 2, 3, 4, 6, 12,dan 24. Untuk mempermudah menempatkan
posisi yang baru, pada umumnya pelat pembagi mempunyai angka
jumlah pembagian yang dapat dibuat. Rumus untuk pembagian langsung
adalah:

Jumlah alur V pada pelat pembagi (E.q. 4.5)


Jumlah Alur =
Jumlah bidang yang akan dibuat

Sedangkan plat pembagi dengan lubang-lubang, mempunyai satu


lingkaran lubang dan terdapat pula angka-angka yang menyatakan
nomor lubang itu. Cara kerjanya sama dengan plat pembagi beralur V,
hanya saja fungsi pengunci indeks diganti dengan pen indeks.
Jadi untuk mengerjakan setiap bidang, maka spindel kepala
pembagi (benda kerja) diputar sebanyak 3 alur, dan pengunci indeks
dimasukkan pada alur keempat bila dihitung dari tempat semula. Atau
sebaiknya, pengunci indeks ditempatkan pada angka yang sesuai dengan
pembagian yang dikehendaki.
Untuk pembagian yang lebih presisi, misalnya pembuatan roda gigi,
maka di bantu plat pembagi dengan jumlah lubang seperti yang ada
dalam tabel di bawah ini.
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

Tabel 4.5 Plat Pembagi

Plat
Brown And Sharpe
Pembagi

Plat 1 15 – 16 – 17 – 18 – 19 – 20

Plat 2 21 – 23 – 27 – 29 – 31 – 33

Plat 3 37 – 39 – 41 – 43 – 47 – 49

b. Pembagian Sederhana (Simple Indexing)


Melakukan pembagian dengan kepala pembagi langsung, jumlah
pembagian dan sudut putarnya sangat terbatas. Untuk jumlah pembagian
dan sudut putar banyak, digunakan kepala pembagi universal.
Kepala pembagi jenis ini terdiri dari dua bagian utama yaitu, roda
gigi cacing dan ulir cacing. Perbandingan antara jumlah gigi cacing
dengan ulir cacing disebut rasio. Rasio kepala pembagi pada umumnya
1:40 dan 1:60, akan tetapi yang paling banyak digunakan adalah yang
rasionya 1:40. Artinya, satu putaran roda gigi cacing memerlukan 40
putaran ulir cacing. Dalam pelaksanaannya untuk membuat segi-segi n-
beraturan, kepala pembagi universal dapat digunakan untuk pembagian
langsung. Namun apabila pembagian tidak dapat dilakukan dengan
system pembagian langsung, pembagiannya dapat dilakukan
menggunakan bantuan plat/piring pembagi (Indexing plate), yang
diputar dengan engkol kepala pembagi (Indexs Crank) dan dibatasi
dengan lengan/gunting penepat.
Fungsi dari indexing plate ini adalah untuk menempatkan
pemutaran/pembagian benda kerja yang diinginkan. Dengan lubang-
lubang yang ada pada indexing plate itulah dapat menempatkan
pembagian benda kerja sesuai dengan yang diinginkan. Dengan
demikian, semakin banyak lingkaran lubang yang ada, makin banyak
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

pula kemungkinan benda kerja dapat membuat segi n-beraturan lebih


banyak. Pembuatan/pembagian benda kerja yang dapat dilaksanakan
dengan lubang-lubang yang ada, inilah yang disebut pembagian
sederhana. Sedangkan engkol pembagi (Indexs Crank) berfungsi untuk
memutar batang ulir cacing. Lengan penempat gunanya untuk
menempatkan pen indeks. Pada beberapa kepala pembagi, ulir cacing
dapat diputar lepas dari roda gigi cacing. Kepala pembagi universal
biasanya dilengkapi dengan 3 buah plat pembagi, tetapi ada juga yang
hanya mempunyai 2 buah. Jumlah lubang setiap lingkaran harus dipilih
untuk pembagian yang mungkin dibuat dalam hubungannya dengan ulir
cacing pada kepala pembagi.
Dibawah ini ditunjukkan beberapa contoh set indexing plate.
1) Mesin Milling Accera :
Keping I : 15; 18; 21; 29; 37; 43
Keping II : 16; 19; 23; 31; 39; 47
Keping III : 17; 20; 27; 33; 41; 49
2) Mesin Milling Brown & Sharpe :
Keping I : 15; 16; 17; 18; 19; 20
Keping II : 21; 23; 27; 29; 31; 33
Keping III : 37; 39; 41; 43; 47; 49
3) Mesin Milling Hero :
Keping I : 20; 27; 31; 37; 41; 43; 49; 53.
Keping II : 23; 29; 33; 39; 42; 47; 51; 57.
4) Mesin Milling Vilh Pedersen :
Keping I : 30; 41; 43; 48; 51; 57; 69; 81; 91; 99; 117.
Keping II : 38; 42; 47; 49; 53; 59; 77; 87; 93; 111; 119.
Apabila diketahui perbandingan antara jumlah gigi cacing dengan ulir
cacing (rasionya) = 40:1 atau i = 40:1, berarti 40 putaran ulir cacing atau
putaran engkol pembagi, membuat satu putaran roda gigi cacing atau
benda kerja. Untuk T pembagian yang sama dari benda kerja, setiap satu
bagian memerlukan:
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

Ratio 40:1 i (E.q. 4.6)


nc = = = putaran
T T T

Keterangan :
nc = Putaran Indeks
i = Angka Pemindahan (Rasio)
T = Pembagian Benda Kerja
Perlu diingat bahwa, apabila pembagian yang dikehendaki lebih
dari 40, ulir cacing diputar kurang dari satu putaran, dan bila pembagian
kurang dari 40, ulir cacing diputar lebih dari satu putaran.

IV.2.11 Metode Milling


Ada terdapat beberapa metode dalam proses milling, yaitu:
1. Climb Mill
Merupakan cara proses milling dimana putaran cutter searah
dengan arah gerakan benda kerja. Gaya potong menarik benda kerja
kedalam cutter sehingga factor kerusakan pahat akan lebih besar. Hanya
mesin yang mempunyai alat pengukur keregangan yang boleh melakukan
metode ini.

Gambar 4.34 Climb Mill


Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018

2. Conventional Milling
Merupakan metode konvensional, dimana putaran benda kerja
berlawanan arah dengan cutternya. Pemotongan ini dimulai dengan
beram yang tipis dan metode ini digunakan untuk semua jenis mesin
milling.

Gambar 4.35 Conventional Milling


Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018
Laporan Proses Manufaktur

Kelompok C

Tahun 2018