Anda di halaman 1dari 3

Berdasarkan penelitian Noelia., et al.

, (2014), sebesar 39,6 % depresi pada pasien kanker


payudara dipengaruhi oleh kelelahan berkaitan dengan kanker, tingkat aktivitas fisik, efek samping
sistemik serta masalah gambaran diri. Depresi banyak dialami oleh pasien kanker akibat
ketidakmampuan pasien untuk menyesuaikan diri dengan keadaan penyakitnya. Respon stres atau
kecemasan akut merupakan suatu kontinum, yaitu respon stres akut pada awal penyakit dan selanjutnya
terjadi gangguan depresi. Selain itu, adanya stigma di masyarakat yang juga diyakini oleh pasien bahwa
kematian pasti akan dialami oleh penderita kanker payudara dapat menjadi suatu stressor atau trauma
psikis yang cukup berat (Everdingen., et al., 2008.

.Depresi dapat dipicu oleh beberapa hal, yaitu kecemasan terhadap hal yang tidak diketahui atau
kecemasan yang mengambang, ketakutan terhadap kematian dan kecemasan terhadap perpisahan,
ketakutan terhadap mutilasi atau kecemasan yang berkaitan dengan kerusakan integritas tubuh, fungsi
tubuh atau terjadinya distorsi body image, kecemasan terhadap prosedur pemeriksaan, perawatan yang
lama, bed rest dan adanya keluhan fisik lain seperi nyeri, mual dan muntah. Depresi juga dapat
disebabkan oleh peningkatan aktivitas inflamatori akibat kanker atau pengobatannya (Amir, 2005).

Kondisi fisik yang buruk, distress emosional, hospitalisasi, terapi rutin yang harus dijalani, serta
efek samping dari terapi kuratif yang mungkin timbul dapat menyebabkan adanya gangguan psikososial
dan depresi yang berkontribusi terhadap perubahan kualitas hidup individu yang menderita kanker
payudara. Reaksi psikologis umumnya muncul setelah ditegakkan diagnosis kanker payudara, reaksi
tersebut seringkali berupa shock mental, takut, tidak bisa menerima kenyataan hingga depresi. Akan
tetapi dari angka kejadian depresi yang cukup tinggi itu hanya sedikit pasien yang mendapatkan terapi
untuk depresi yang dialami (Hartati, 2008).

Depresi seringkali tidak terdiagnosa dan tidak mendapatkan penanganan karena pasien mungkin
tidak menyadari gejala depresi yang dialami, pasien enggan melaporkan gejala depresi, kurangnya
perhatian tenaga kesehatan untuk menganalisis dan mengkaji apakah pasien mengalami depresi, pasien
dan tenaga medis seringkali menganggap bahwa depresi merupakan reaksi yang normal dan bukan
sebagai gangguan serius yang harus ditangani dan gejala yang muncul seperti perubahan nafsu makan,
kelelahan, gangguan tidur, perubahan berat badan, kurang energi serta gangguan pada ingatan dan
konsentrasi seringkali hanya terdiagnosa sebagai manifestasi gejala dari penyakit kanker saja. Onset
kejadian depresi pada pasien kanker pada umumnya adalah saat pasien mengetahui diagnosis, stadium
kanker dan terapi yang diperoleh (Konginan, 2008).

Berbagai gejala fisik serta stres psikologis yang dialami oleh pasien kanker payudara dapat
mempengaruhi kualitas hidupnya. Dampak negatif dari depresi juga berpengaruh terhadap luaran
penyakit. Depresi akan menurunkan aktifitas sel Natural Killer (sel NK) dan gamma interferon, memicu
disregulasi kortisol serta sekresi hormon stress seperti ACTH, epinephrine dan norepinephrine sehingga
memperburuk kondisi pasien kanker payudara (Bennet dan Lengacher, 2008). Adanya dampak negatif
depresi pada prognosis penyakit menjadikan deteksi dini dan penatalaksanaan depresi menjadi poin
penting dalam penyusunan intervensi 1baik intervensi medis maupun keperawatan bagi pasien kanker
payudara. Penanganan depresi pada setiap pasien kanker tidak selalu sama, sehingga diperlukan
pemahaman yang benar dan diagnosis yang tepat agar pemilihan terapi dapat secara adekuat
memperbaiki kualitas hidup pasien. Kualitas hidup secara umum terdiri atas beberapa domain yang
meliputi fungsi fisik, kesejahteraan psikologis dan dukungan sosial. Selain itu, kualitas hidup juga
dipertimbangkan sebagai hasil pengukuran yang penting terhadap intervensi terapeutik (Mintian, 2008).
2

Survei terakhir di Amerika Serikat tentang aktivitas fisik di waktu senggang (rekreasi) menunjukkan
bahwa 30% orang dewasa tidak aktif beraktivitas fisik, 45% kurang aktif dan hanya 25% aktif. Menurut
WHO (2013), lebih banyak lagi ketidakaktifan secara fisik diperkirakan dapat menyebabkan kurang lebih
21–25% terjadinya kasus kanker payudara dan kanker kolon, 27% kasus diabetes dan sekitar 30%
penyakit jantung iskemik. Di Indonesia, menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), pada tahun
2013 ditemukan bahwa di 22 provinsi yang ada di Indonesia, terdapat penduduk yang memiliki
prevalensi aktivitas fisik tergolong kurang aktif, dan data tersebut berada di atas rata-rata penduduk yang
ada di seluruh Indonesia. Hal ini dapat dilihat dengan adanya 5 daerah tertinggi dengan penduduk yang
memiliki aktivitas fisik yang kurang aktif, yaitu Provinsi DKI Jakarta (44,2%), Papua (38,9%), Papua Barat
(37,8 %), Sulawesi Tenggara dan Aceh (37,2 %).2

Pada penelitian ini dilihat hubungan dan besar risiko dari beberapa faktor risiko yang dapat
meningkatkan risiko kanker. Faktor-faktor risiko yang akan diteliti adalah usia, status gizi, pengetahuan
gizi, konsumsi makanan berlemak, konsumsi makanan diawetkan dan dibakar, konsumsi sayur, konsumsi
buah, riwayat kanker payudara pada keluarga, usia menstruasi pertama, usia menopause, lama
menyusui, lama menggunakan alat kontrasepsi hormonal, lama melakukan aktivitas fisik, serta perokok
pasif. Dari beberapa penelitian tersebut belum ditemukan penelitian yang meneliti konsumsi makanan
diawetkan dan dibakar secara sekaligus bersama dengan faktor risiko lainnya. Menurut Harris dan
Karmas (1989) nitrosamin adalah sekelompok senyawa kimia yang ternyata bersifat karsinogen.
Nitrosamin dideteksi ada dalam daging yang diawetkan dengan curing dan pengasapan. Menurut Mahan
dan Escott-Stump (2008) risiko kanker yang mungkin meningkat ditimbulkan oleh pembentukan polisiklik
hidrokarbon aromatik dan hetrosiklikamina selama memasak dengan metode pemanasan seperti grilling,
broiling, barbecuing, dan daging yang diasapkan. Selain itu, beberapa peneliti juga telah menemukan
aktivitas mutagenik dalam makanan setelah digoreng dan dipanggang dengan arang. Menurut Depkes
(2007) faktor risiko yang utama kejadian kanker berhubungan dengan keadaan hormonal (esterogen
dominan) dan genetik. Penyebab terjadinya keadaan esterogen dominan dapat terjadi karena beberapa
faktor risiko. Salah satu golongan faktor risiko tersebut adalah diet dan faktor yang berhubungan dengan
diet. Faktor risiko ini dapat dibagi dua yaitu faktor risiko memperberat dan mengurangi terjadinya kanker.
Beberapa faktor yang memperberat seperti peningkatan berat badan yang bermakna pada saat
menopause, diet ala barat yang tinggi lemak, dan minuman beralkohol. Faktor risiko yang mempunyai
dampak positif atau dapat mengurangi terjadinya kanker seperti peningkatan konsumsi serat serta
peningkatan konsumsi sayur dan buah. Seperti kebanyakan penelitian yang telah dilakukan, konsumsi
sayur dan buah ditempatkan sebagai faktor penghambat atau protektor terhadap kejadian kanker
payudara. Namun, pada penelitian ini konsumsi sayur dan buah ditempatkan sebagai faktor risiko kanker
payudara dengan melihat konsumsi sayur dan buah dalam sehari yang telah memenuhi anjuran atau
belum memenuhi anjuran. Suatu organisasi penelitian dan penyuluhan kanker di Amerika Serikat yaitu
World Cancer Research Fund dan American Institute for 3

Cancer Research pada tahun 2007 mengeluarkan rekomendasi guna mencegah dan mengendalikan
penyakit kanker di dunia. Salah satu rekomendasi tersebut adalah seseorang memakan sedikitnya 5
porsi/penyajian (sedikitnya 400 g) berbagai sayuran non pati dan buah-buahan setiap hari (Damayanthi
2008). Menurut Depkes (2007) salah satu cara mencegah penyakit kanker adalah mengonsumsi sayur
dan buah lebih dari 500 gram per hari. Oleh sebab itu, pada penelitian ini konsumsi sayur dan buah
dianalisis sebagai faktor risiko kanker payudara. Penelitian ini juga melihat besar risiko antara
pengetahuan gizi dengan kanker payudara yang belum ada pada penelitian-penelitian sebelumnya.
Pengetahuan termasuk di dalamnya pengetahuan gizi dapat diperoleh melalui pendidikan formal dan
pendidikan informal (Suhardjo 1989). Menururt (Khomsan et al. 2009) tingkat pengetahuan akan
berpengaruh terhadap sikap dan perilaku seseorang karena berhubungan dengan daya nalar,
pengalaman, dan kejelasan konsep mengenai objek tertentu. Harper et al. (1985) menyatakan bahwa
faktor pribadi yang mempengaruhi jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi adalah banyaknya
informasi yang dimiliki seseorang mengenai kebutuhan tubuh akan zat gizi dan kemampuan seseorang
untuk menerapkan pengetahuan gizi ke dalam pemilihan pangan. 3