Anda di halaman 1dari 9

KASUS ( PSIKIATRIK)

Tn. A 25 tahun, anak kedua dari 4 bersaudara belum menikah, beragama islam,
lulusan SMA, sejak 1 minggu yang lalu klien dirawat di RSJ untuk yang pertama kali,
sebelumnya berobat jalan. Menurut keluarga kalau ada keinginan yang tidak bisa dicapai
klien marah-marah sambil melempar barang yang ada didekatnya, bicaranya kasar. Klien
marah apabila keinginannya tidak dipenuhi. Kadang klien menyendiri, duduk dengan tatapan
mata kosong sambil bicara sendiri, bicaranya tidak jelas. Ayah klien juga mengalami
gangguan jiwa.

Pada saat dikaji: Perawat menanyakan “boleh kita ngobrol?”, klien menjawab:
“males.. ah.. males ngomong.. saya mah bodoh”. Pada pergelangan tangan kiri tampak jejas.
Klien tampak sering menyendiri, lebih banyak tiduran di kamarnya. Sewaktu ditanya
bagaimana tidurnya semalam, klien mengatakan tidak bisa tidur karena sering diganggu
suara yang mengejek: “kamu bodoh.. ngerakeun euweuh kabisa” dan klien suka kesel dan
ingin marah saat mendengar suara tersebut. Klien mengatakan dirinya orang yang gagal dan
tidak berguna. Tidak seperti kakaknya yang berhasil lulus PT dan bekerja.

Dari hasil pengkajian fisik TD = 120/80 mmHg, N= 24x/menit, S=36,5 C, penampilan


kotor, bau, kuku panjang dan kotor, serta gigi tampak kuning.
FASE PRE INTERAKSI

Pada hari selasa tanggal 2 oktober 2018 perawat menemui CI diruangannya untuk
menyampaikan maksud dan tujuan tindakan yang akan dilakukan kepada pasien Tn.A

P : Assalamualaikum

CI : Waalaikumsallam

P: bu saya kemarin telah melakukan pengkajian kepada pasien Tn. A di ruang cemara, dari
data yang saya dapatkan menunjukkan bahwa pasien mengalami isolasi sosial. Klien marah
apabila keinginannya tidak dipenuhi. Kadang klien menyendiri, duduk dengan tatapan mata
kosong sambil bicara sendiri, bicaranya tidak jelas. Tujuan saya akan membantu klien untuk
mengatasi masalah isolasi sosialnya. Saya berarah klien dapat bekerja sama dengan saya. Di
perkuliahan saya telah mendapatkan pembelajaran baik itu teori maupun praktik di lab
menganai pasien dengan isolasi sosial. Tetapi saya belum pernah ke pasien secara langsung
sehingga saya masih merasa gugup. Untuk mengatsi rasa gugup ini saya sudah melakukan
latih nafas dalam dan berdoa kepada allah,alhamdulillah rasa gugup saya menurun.Saya
sudah membaca beberapa litelatur mengenai kasus ini insya allah saya akan berusaha untuk
melakukan tindakan ini dengan baik. Waktu tindakannya pukul 09.00 WIB lamanya sekitar
10 menit bertempat di kamar pasien dengan jarak yang terapeutik yaitu duduk berhadapan
dengan posisi pasien yang nyaman.

FASE ORIENTASI

P: “assalamualaikum (sambil tersenyum).

K: “Waalaikumsallam”

P: “Anna masih ingat dengan suster?”

K: “(menjawab dengan menganggukan kepala sambil menunduk)”

P : “boleh saya duduk disini?”

K : “(menjawab dengan menganggukan kepala sambil menunduk)”

P: “siapa coba nama suster?”

K: “suster rani”(menjawab dengan suara pelan)

P: “Iya benar, disini suster yang akan merawat anna dari pukul 7 sampai 2 siang jadi jika
nanti anna memerlukan bantuan anna bisa memanggil suster dan jika nanti ada yang mau
anna ceritakan kepada suster, InsyaAllah suster akan amanah kecuali jika diperlukan oleh
tim kesehatan lain untuk kesembuhan anna suster akan memberitahukannya. Suster harap
anna mau bekerjasama dengan suster “ .

K: “ iya sus”

P: “ Anna apakah sebelumnya ada suster yang datang kesini menemui anna?”
K:” tidak ada”

P: “baik jika begitu, Disini suster akan mengobrol dengan anna, tujuannya untuk membantu
mengatasi masalah yang sedang anna hadapi, Bagaimana apakah anna bersedia mengobrol
dengan suster? jika anna bersedia waktunya sekitar 15 menit bagaimana?

K: (mengangguk sambil masih menunduk)

P: “bagimana anna sudah nyaman disini tempatnya? Jika anna ingin diluar juga ayo kita
diluar menggobrolnya”

K: “gamau diluar,udah disini aja”

P:” baik kalau begitu posisinya sudah nyaman?”

K:” udah sus”

P: “oh iya baik jika begitu,kita tutup dulu gordennya ya agar lebih nyaman.”

P: “anna tadi sebelum suster dating udah ngapain aja?”

K: “udah makan sus”

P: “bagaimana perasaannya setelah makan?”

K: “kenyang”

P: “iya Alhamdulillah kalau begitu”

FASE KERJA

SP 1

P: “anna, disini teman anna siapa saja?”

K: “saya gak punya temen disini dan tidak ada yang saya kenal”

P: “kalau dirumah siapa aja yang deket dengan anna ?”

K: “sama ica, soalnya ica temen aku dirumah”

P: “oh temennya ica ya? Kalau suster boleh tahu gimana ceritanya anna bisa temenan sama
ica ?”

K: “aku itu temenan sama ica dari kecil karna rumah kita sebelahan .dia itu baik banget. dia
suka dengerin cerita aku dan dia suka bantuin aku kalau lagi kesusahan.”

P: “oh begitu ya..., suster lihat akhir-akhir ini anna lebih sering menyendiri di kamar, apa
yang menyebabkan anna seperti itu?”

K: “saya malu sus, saya itu bodoh tidak bisa apa-apa.”


P: “tidak seperti itu anna, kamu pintar buktinya anna pintar melukis dan hasilnya ini sungguh
indah. Nah sekarang suster mau nanya, dengan anna menjauh gini apa yang anna rasakan?”

K : “sedih sih tidak ada teman sama susah juga kalau apa apa, tapi yaudah engga apa-apa”

P: “nah anna merasa sedih kan ya, nah suster mau nanya lagi menurut anna manfaatnya kita
berhubungan dengan orang lain apa?”

K: “ya kalau kita punya temen nanti kita dibantuin kalau kesusahan”

P:” jika tidak mempunyai temen apa kerugiannya menurut anna?”

K:” ya nanti tidak ada temen untuk bicara,dan tidak ada yang membantu saat kita kesusahan.”

P: “nah benar sekali dengan semua yang anna ucapkan, jadi dengan anna menjauh nanti
ketika ada apa-apa tidak ada yang bisa membantu anna, sehingga anna akan kesusahan
sendiri. Beda halnya jika anna punya teman, jika nanti susah anna ada yang bantuin jadi tidak
akan terlalu kesulitan. Lalu kalau nanti anna ada masalah anna bisa menceritakannya kepada
teman anna. Anna maukan ngobrol-ngobrol dengan teman-teman yang lain?”

K: “iya sus mau, tapi aku malu”

SP 2

P: “sangat bagus, anna tidak perlu malu suster akan membantu anna ya bagaimana caranya
buat berkenalan dengan orang lain, bagaimana apakah anna mau?”

K: “iya sus aku mau, bagaimana caranya sus?”

P: “baiklah jika begitu, jadi gini pertama anna harus berhadapan dengan orang yang ingin
anna ajak berkenalan, lalu julurkan tangan anna ke orang tersebut, lalu katakan jika anna
ingin berkenalan dengan dia , lalu sebutkan nama anna dan tanya nama dia siapa, jangan lupa
yang harus diingat jika kita berbicara dengan orang lain mata kita harus menatap mata orang
yang kita ajak bicara juga,suster contohkan ya biar lebih jelas.”

Suster pun mendemostrasikan cara berkenalan kepada klien

P: “bagaimana apakah anna sudah paham sekarang?”

K: “iya sus”

P: “bagus, nah sekarang coba anna lakukan berkenalan pada suster”

k: “iya”

lalu klien pun melakukan cara berkenalan kepada perawat

p: “nah hebat anna, sudah bagus, mari kita ajak berkenalan para suster dan teman-teman anna
disini”

k: “ah gamau, aku malu”


p: “kenapa anna malu?”

K: “aku bodoh sus gabisa apa-apa”

P: “anna tidak bodoh malah anna hebat dan jago lukis. jika anna berkenalan dengan orang
lain anna bisa melukis dengan mereka dan mereka bisa dilukis juga oleh anna”

K: “oh iya ya sus, tapi aku gamau malu sus”

p:” tidak usah malu anna, anna ini tampan, baik, dan pintar , kan tadi juga anna sudah tau ya
kalau manfaat kita berhubungan dengan orang lain akan seperti apa dan kerugian kita tidak
berhubungan dengan orang lain juga seperti apa. gimana apa anna masih ingat?”

K: “oh iya sus nanti kalau susah aku tidak ada yang membantu”

P: “nah betul sekali, anna pintar. Jadi ayo kita berkenalan dengan orang-orang”

K: “iya ayo sus”

P: “ayo suster antar “

Lalu suster mengantar klien untuk berkenalan kesalah satu suster yang ada disitu

P : “itu ada suster hani, ayo ajak dia berkenalan anna. Sus ini ada yang mau berkenalan
dengan suster”

P2: “oh iya siapa sus?”

Klien pun mengajak bekenalan perawat 2

K: “aku ingin ngajak kamu kenalan,nama saya anna,nama kamu siapa?”

P2: “nama saya suster hani,senang berkenalan dengan kamu”

Klien pun tersenyum malu

P: “bagus anna good job, nah sekarang coba anna ajak kenalan lagi temen-temen anna yang
ada disini”

K: “iya sus”

Lalu mereka mendatangi klien lain yang ada disitu

P: “ayo anna ajak kenalan lagi temen kamu”

K: “iya”

Klien pun mengajak berkenalan

K: “aku ingin ngajak kamu kenalan, nama saya anna,nama kamu siapa?”

K 2: “nama aku putri,kita temen ya sekarang”


K: “iya (sambil tersenyum)”

P: “bagus anna, kamu sudah mau berkenalan dengan orang lain, sekarang kita kembali
kekamar kamu ya”

Lalu mereka pergi kekamar klien

P : “nah anna, suster mau nanya sekarang perasaan anna bagaimana setelah berkenalan
dengan yang lain?”

K: “aku seneng sus, aku juga jadi kenal sama yang lain sama aku juga jadi punya temen”

P: “bagus jika seperti itu,sekarang anna kan sudah tau cara berkenalan jadi nanti anna bisa
lebih banyak lagi berkenalan dengan orang-orang ya. Anna kan suka melukis,disini tersedia
tempat untuk melukis, disana anna akan bertemu banyak orang yang sama-sama suka
melukis jadi nanti anna bisa melukis bersama mereka dan anna bisa berkenalan juga.

K: “iya sus ”

P: “Nah kalau begitu bagaimana jika kita membuat jadwal harian untuk anna berkenalan
dengan teman teman yang lain, sehingga teman anna dapat bertambah banyak”

K: “iya”

P: “kapan saja anna ingin melakukannya?”

K: “hari senin,rabu,sabtu sesudah makan pagi aja’

P: “Baik kalau begitu suster akan menuliskan di jadwal harian anna ya, jadi anna akan
melakukan kegiatan berkenalan pada hari senin,rabu,sabtu sesudah makan pagi ya “

K: iya. Suster anna mau menggambar lagi ya”

SP 3

Ibu klien datang ke rumah sakit. Perawat mengajak ibu klien untuk berdiskusi tentang
kondisi anaknya.

Klg :” assalamualaikum,eh ada suster”

P: “waalaikumsallam ibu, silahkan bu, duduk. (perawat mempersilahkan keluarga klien


duduk) Ibu, perkenalkan saya perawat rani yang merawat anna. Kalau boleh tau nama ibu
siapa? “

Klg : “oh iya sus nama saya ibu dwi ”

P: “ibu, ada sesuatu yang mau saya diskusikan dengan ibu tentang kondisi anna. Bagaimana
bu? Kita mau diskusi dimana?

Klg : “ disitu saja sus di sofa.”


Ibu klien dan suster pindah ke sofa

P : “ saya sudah melakukan pemeriksaan kepada anna, hasil pemeriksaan anna menunjukan
tanda tanda menarik diri atau disebut isolasi sosial.“

Klg : “Astagfirullah lalu saya harus bagaimana sus?”

P : “tadi saya sama anna sudah latihan untuk mengatasi perilaku menarik dirinya dengan cara
latihan berkenalan dengan perawat dan pasien lain. Dan Alhamdulillah anna bisa
melakukannya walaupun masih malu malu. Saya dan anna juga sudah membuat jadwal untuk
kegiatan harian yang tujuannya untuk meningkatkan kepercayaan diri anna agar mau
bersosialisasi dengan orang lain. Tapi walaupun sudah ada pekembangan, dalam hal ini peran
dan dukungan keluarga sangat penting untuk mengoptimalkan proses peningkatan tingkat
kepercayaan dirinya “

Klg : “oh Alhamdulillah sus. Berarti sudah ada perkembangan?. Insyaallah saya akan lebih
memperhatikan dan memberi dukungan kepada anna”

P : “iya Alhamdulillah bu, tapi anna masih memerlukan dorongan dari kita semua untuk
dapat mengatasi masalahnya sekarang”

P: “sebelumnya saya meminta maaf, apakah ibu tahu apa itu menarik diri?”

Klg : “iya tahu sus,jadi menarik diri itu ngebuat anak saya seneng sendirian dan menjauhi
orang- orang “

P: “ya ibu benar dan syukur ibu sudah dapat menyadari mengenai kondisi anak ibu.
Selanjutnya saya akan menjelaskan mengenai apa itu menarik diri. Menarik diri adalah salah
satu gejala penyakit yang dialami oleh pasien-pasien gangguan jiwa yang lain. Tanda-
tandanya antara lain mengurung diri, tidak mau bergaul dengan orang lain, kalaupun
berbicara hanya sebentar dengan wajah menunduk, menolak berinteraksi dengan orang lain.
Biasanya masalah ini muncul karena pasien memiliki pengalaman yang mengecewakan saat
berhubungan dengan orang lain. Seperti ditolak, tidak dihargai, atau berpisah dengan orang-
orang tedekat, sering dikucilkan dengan mengata-ngatainya hal yang negatif. Biasanya
terjadinya proses menarik diri ini tidak sebentar, pasien mendapatkan tekanan yang cukup
besar dalam waktu yang lama namun pasien tidak mampu merespon positif terhadap
masalahnya sehingga merasa malu akan keadaan dirinya dan mulai menutup diri dari
lingkungan. nah ibu sajauh ini apakah ada yang ingin ditanyakan?”

Klg :”oh gitu ya sus saya ngerti”

P: “syukur jika ibu mengerti. Untuk menghadapi hal yang demikian, ibu bersama anggota
keluarga yang lain harus tetap sabar dalam menghadapi dan merawat anak ibu. Keluarga
perlu melakukan beberapa hal. Pertama, keluarga harus membina hubungan saling percaya
dengan anak ibu yang caranya adalah bersikap peduli kepadanya dan jangan ingkar janji.
Kedua, keluarga perlu memberikan semangat dan dorongan kepada anna untuk bisa
melakukan kegiatan bersama-sama dengan orang lain. Berilah pujian yang wajar dan jangan
mencela kondisinya. selanjutnya, jangan biarkan anna sendirian dan melamun. Buat rencana
atau jadwal bercakap-cakap dengan anna. Misalnya : sholat bersama, makan bersama,
rekreasi bersama, melakukan kegiatan di rumah bersama.”

Klg :” iya sus baik”

P : “apakah ibu sudah mengerti? bagaimana kalau kita sekarang laihan untuk melakukan cara
tersebut. Begini contoh komunikasinya : anna ibu lihat sekarang kamu sudah bisa bercakap-
cakap dengan orang lain, seperti : perawat dan teman sekamar. Perbincangannya juga
lumayan lama, ibu senang sekali melihat perkembangan kamu nak, coba kamu berbincang –
bincang dengan ibu, seperti dulu. Lalu bagaimana mulai sekarang kamu sholat berjamaah .
kalau diRS ini anna sholat dimana?kalau nanti dirumah anna sholat bersama-sama dengan
ibu, ayah dan kakak atau di mushola komplek. Bagaimana nak, kamu mau mencobanya kan
?. nah kurang lebih seperti itu ibu, coba sekarang ibu ulangi percakapan yang saya contohkan
tadi.”

Keluarga melakukan demonstrasi

P : “Bagus bu, ibu telah memperagakannya dengan baik. Sampai disini, apakah ada yang
ingin ibu tanyakan?”

Klg: “tidak sus Alhamdulillah saya sudah mengeti”

P: “ baik jika ibu sudah mengerti. bagaimana perasaan ibu setelah mencoba cara yang telah
saya ajarkan?”

Klg: “saya merasa senang bisa melakukannya dengan benar sus. Jadi nanti di rumah saya bisa
melakukannya dengan anna.”

P: “iya bu kita semua harus membantu anna agar segera bisa bersosialisasi dengan
masyarakat dan lingkungan. Mari bu kita menghampiri anna lagi di tempat tidur sambil
melihat hasil lukisan anna”

Klg : “mari sus”

FASE TERMINASI

P: “ibu, anna berhubung waktunya sudah hampir habis, mungkin diskusinya dicukupkan
terlebih dahulu. Bagaimana perasaannya anna setelah berdiskusi dan belajar berkenalan tadi
dengan suster?”

K:” anna merasa senang sus bisa berkenalan dengan teman-teman. “

P: “coba bisa anna ceritakan kembali apa yang telah suster sampaikan kepada anna?”

K: “tadi kita sudah belajar cara berkenalan dengan orang-orang yang ada disini, lalu
mempraktikannya dengan suster dan langsung berkenalan dengan orang-orang yang ada
disini.”
P: “bagus ya anna, anna dapat menceritakan kembali apa yang tadi sudah kita diskusikan.
Sekarang Anna sudah dapat memperaktika cara berkenalan dengan baik. Nanti anna bisa
mencoba sendiri untuk berkenalan dengan teman satu kamar lainnya seperti yang sudah kita
pratikan ya.”

K: “iya nanti anna akan mencoba berkenalan dengan teman yang ada di kamar ini”

P: “bagus sekali anna, nanti sekitar jam 12 suster akan kembali lagi kesini untuk memberikan
obat dan mengecek apakah anna sudah berkenalan dengan teman di satu kamar. Bagaimana,
apakah anna bersedia?”

K: “iya”

P: “kalau begitu suster kembali keruangan ya, jika anna ataupun ibu membutuhkan bantuan
boleh panggil saya. Mari. Assalamualaikum wr wb”

K dan Klg : “waalaikumsalam”