Anda di halaman 1dari 26

A.

Critical Review

1. Ringkasan Artikel

Manajemen laba muncul sebagai dampak persoalan keagenan


dimana terjadi ketidakselarasan kepentingan antara pemilik dan
manajemen (Beneish, 2001). Menurut teori keagenan, konflik
kepentingan terjadi ketika kedua belah pihak (pemilik dan manajer)
ingin memaksimalkan kekayaan mereka sendiri, dengan demikian
menyebabkan terciptanya masalah keagenan (Jensen & Meckling,
1976). Manajemen laba (earning management) merupakan suatu kondisi
dimana manajemen melakukan intervensi dalam proses penyusunan
laporan keuangan sehingga dapat meratakan, menaikkan, atau
menurunkan laba (Schipper, 1989). Manajemen laba terjadi ketika
manajemen menggunakan keputusan tertentu dalam pelaporan
keuangan dan penyusunan transaksi-transaksi yang mengubah informasi
laba (Healy & Wahlen, 1985)
Manajemen laba berkaitan dengan Teori Akuntansi Positif,
dimana Teori Akuntansi Positif berusaha untuk menjelaskan, mengatasi
dan memprediksi praktik akuntansi, salah satunya adalah parktik
manajemen laba (Watts & Zimmerman, 1986). Teori Akuntansi Positif
pada prinsipnya beranggapan untuk menjelaskan, memprediksi dan
mengatasi praktik-praktik akuntansi. Teori Akuntansi Positif sebagai
suatu penalaran logis dalam bentuk suatu prinsip yang merupakan
kerangka acuan, mengatasi dan menilai praktik-praktik akuntansi.
Muliati (2011) menemukan bahwa ukuran perusahaan dengan
manajemen laba berpengaruh negatif. Sari (2015) menunjukan hasil bahwa
leverage berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Sampel dari
penelitian ini menjadi value added yaitu perusahaan food and beverage,
dikarenakan sektor perusahaan ini dalam penelitian jarang digunakan.

1
2. Metodologi

Isu pada artikel “Pengaruh Bonus, Ukuran Perusahaan, dan


Leverage pada Manajemen Laba” adalah manajemen laba, fenomena
yang ditemukan dalam artikel ini adalah manipulasi laba. Laba digunakan
sebagai alat untuk mengukur kinerja perusahaan yang diukur dengan dasar
akrual. Namun, informasi laba tidak selamanya akurat dan sering menjadi
target rekayasa dan tindakan oportunistis manajemen dengan
memaksimumkan kepuasannya dan merugikan pemegang saham atau
investor. Tindakan oportunistis tersebut dilakukan dengan cara memilih
kebijakan akuntansi tertentu, sehingga laba dapat diatur.

3. Perumusan Masalah Penelitian


Dalam artikel ini disebutkan ada dua rumusan masalah
1) Apakah pengaruh bonus pada manajemen laba?
2) Apakah pengaruh ukuran perusahaan pada manajemen laba?
3) Apakah pengaruh leverage pada manajemen laba?

4. Kontribusi Penelitian
Adapun kontribusi penelitian ini adalah dapat menjadi masukan
dan pertimbangan bagi manajemen perusahaan food and beverage di
Indonesia dalam pengambilan keputusan, terutama memberikan informasi
laba kepada investor dan pemegang saham tanpa melakukan perilaku
manajemen laba.

5. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bukti empiris
mengenai pengaruh bonus, ukuran perusahaan, dan leverage pada
manajemen laba. Penelitian dilakukan pada perusahaan food and beverage
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2014- 2016.

2
6. Teori yang digunakan
a. Teori Keagenan

Teori keagenan dapat dilihat sebagai suatu bentuk kontrak antara


dua orang (pihak) atau lebih, dimana pihak disebut agent dan pihak lain
disebut principal. Rahmawati,dkk (2006:11) menyatakan bahwa
wewenang dan tanggung jawab agent maupun principal diatur dalam
kontrak kerja atas persetujuan bersama. Hubungan keagenan adalah
sebuah kontrak dimana satu atau beberapa orang (principal) berharap
pelayanan dari seseorang lainya (agent) untuk melakukan sebuah tugas
atas namanya atau nama mereka. Asumsi dalam agency theory masing-
masing individu termotivasi semata-mata untuk kepentingan diri sendiri
sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent.

b. Manajemen Laba

Manajemen laba menurut Sulistyanto (2008:51) dilakukan dengan


mempermainkan komponen-komponen akrual dalam laporan keuangan,
sebab pada komponen akrual dapat dilakukan permainan angka melalui
metode akuntansi yang digunakan sesuai dengan keinginan orang yang
melakukan pencatatan dan penyusunan laporan keuangan. Manajemen
laba merupakan salah satu faktor yang dapat mengurangi kredibilitas
laporan keuangan, manajemen laba menambah bias dalam laporan
keuangan dan dapat mengganggu pemakai laporan keuangan yang
mempercayai angka laba hasil rekayasa tersebut sebagai angka laba tanpa
rekayasa (Setiawati dan Na’im, 2000:424). Dapat disimpulkan bahwa
manajemen laba adalah perilaku opurtunistik yang dilakukan oleh
manajemen terhadap kebijakan-kebijakan akuntansi dalam proses
pelaporan keuangan untuk mencapai tujuan tertentu.
c. Bonus
Bonus merupakan suatu kebijakan yang diberikan kepada manajer
yang didasarkan pada hasil kinerjanya demi mencapai tujuan perusahaan
(Pujiati & Arfan, 2013). Pemberian bonus yang dibagikan kepada manjer,

3
akan memicu perilaku manjer untuk meningkatkan profit atau laba
perusahaan semaksimal mungkin sehingga laporan keuangan yang
dihasilkan akan terlihat bagus Tanomi (2012). Manajer sebagai pihak
internal, memiliki informasi atas laba bersih pada perusahaan cenderung
untuk bertindak oportunis dalam melakukan praktik manajemen laba guna
mendapatkan bonus yang tinggi (Pujiati & Arfan, 2013).

d. Leverage

Leverage adalah rasio total utang dibandingkan total asset.


Leverage menunjukkan bebarapa banyak utang yang digunakan untuk
membiayai asset-asset perusahaan. Manajemen keuangan mengartikan
leverage sebagai penggunaan sumber dana yang memiliki beban tetap,
dengan harapan akan memberikan tambahan keuntungan yang lebih besar
dari pada beban tetapnya, sehingga keuntungan pemegang saham
bertambah (Husnan, 2008). Rasio leverage juga menunjukkan risiko yang
dihadapi perusahaan, semakin besar risiko yang dihadapi oleh perusahaan
maka ketidakpastian untuk menghasilkan laba dimasa depan juga akan
makin meningkat dan juga untuk memprediksi keuntungan yang
kemungkinan bias diperoleh bagi investor jika berinvestasi pada suatu
perusahaan (Husnan, 2008).

7. Objek, Populasi, Sampel dan Pengukuran Variabel

a. Objek penelitian dalam artikel ini adalah manajemen laba pada laporan
keuangan perusahaan food and beverage yang memenuhi kriteria
sampel penelitian yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2014-
2016
b. Teknik pemilihan sampel yang digunakan pada artikel adalah teknik
purposive sampling, yaitu metode penentuan sampel dengan
pertimbangan tertentu. Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut:
1) Sektor perusahaan food and beverage yang terdaftar berturut-turut

4
di BEI periode 2014-2016. 2) Perusahaan yang bisa di akses di BEI
maupun web perusahaan. 3) Perusahaan yang menyajikan angka-angka
dengan mata uang rupiah.
c. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan food
and beverage tahun 2014-2016 yaitu 16 perusahaan.
d. Dalam penelitian ini variabel yang digunakan dibagi menjadi dua,
yaitu variabel terikat (dependent variable) dan variabel bebas
(independent variable). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah
manajemen laba, sedangkan variabel bebas dalam penelitian ini adalah
Bonus, Ukuran Perusahaan, dan Leverage

8. Teknik Analisis Data


Teknik analisis dalam penelitian ini adalah Analisis regresi linier
berganda, dengan melakukan pengujian asumsi klasik terlebih dahulu,
yaitu uji normalitas data, uji heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi.
Pengujian dilakukan untuk menguji apakah data dalam penelitian ini
terdistribusi norma, gejala heteroskedastisitas, dan gejala autokorelasi.
Metode analisis linier sederhana dinilai koefisien korelasi, koefisen
determinasi, dan uji t.

9. Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini konsisten dengan Sosiawan (2012), Wijaya dan
Yulius (2014), Nugroho (2015), dan (Sosiawan, 2012). Dalam
penelitiannya menunjukkan bahwa bonus tidak berpengaruh pada
manajemen laba.
Hasil penelitian ini konsisten dengan Muliati (2011), Jao dan
Pagalung (2011) menemukan bahwa ukuran perusahaan mempunyai
pengaruh negatif pada manajemen laba. Perusahaan yang besar lebih
diperhatikan oleh masyarakat sehingga mereka akan lebih berhati-hati
dalam melakukan pelaporan keuangan, sehingga berdampak perusahaan
tersebut melaporkan kondisinya lebih akurat.

5
Hasil penelitian ini konsisten dengan Tiya (2016), Veliandina
(2013) Husnan (2001) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa leverage
berpengaruh positif pada manajemen laba. Apabila perusahaan memiliki
utang yang tinggi untuk mendanai aset-aset atau investasinya maka,
manajer akan melakukan manajemen laba untuk mengatur angka laba yang
dihasilkan dengan memiliki tujuan untuk menarik investor ataupun
kreditor yang ingin memberikan pinjaman dana atau perpanjangan
kontrak. semakin tinggi leverage perusahaan dapat memicu peningkatan
manajemen laba.

10. Kelemahan Artikel

Adapun kelemahan dalam artikel ini adalah sebagai berikut:


1) Terdapat beberapa kekeliruan penulisan, baik pengejaan ataupun
penggunaan tanda baca

6
B. PROPOSAL PENGEMBANGAN

Hal-hal yang dikembangkan antara lain:

1. Penambahan variabel yaitu Kepemilikan Manajerial

Judul : “Pengaruh Bonus, Ukuran Perusahaan, Leverage, dan


Kepemilikan Manajerial pada Manajemen Laba”

1. Latar Belakang Masalah

Perkembangan dunia usaha yang semakin pesat, laporan keuangan


menjadi media penting dalam pengambilan keputusan bagi setiap perusahaan.
Laporan keuangan merupakan suatu informasi yang menggambarkan kondisi
keuangan suatu perusahaan, dan lebih jauh informasi tersebut dapat dijadikan
sebagai gambaran kinerja keuangan perusahaan. Laporan keuangan yang
dipublikasikan dianggap memiliki arti penting dalam menilai suatu
perusahaan, sehingga pihak-pihak yang membutuhkan dapat memperoleh
laporan keuangan dengan mudah dan dapat membantu dalam proses
pengambilan keputusan (Fahmi, 2011). Dalam laporan keuangan, laba adalah
salah satu indikator yang digunakan untuk menaksir kinerja manajemen.
Informasi laba sering menjadi target rekayasa tindakan oportunis manajemen
untuk memaksimumkan kepuasannya. Tindakan oportunis tersebut dilakukan
dengan cara memilih kebijakan akuntansi tertentu, sehingga laba perusahaan
dapat diatur, dinaikkan maupun diturunkan sesuai dengan keinginannya.
Perilaku manajemen untuk mengatur laba sesuai dengan keinginannya ini
dikenal dengan istilah manajemen laba (earnings management).
Manajemen laba muncul sebagai dampak persoalan keagenan dimana
terjadi ketidakselarasan kepentingan antara pemilik dan manajemen (Beneish,
2001). Menurut teori keagenan, konflik kepentingan terjadi ketika kedua belah
pihak (pemilik dan manajer) ingin memaksimalkan kekayaan mereka sendiri,
dengan demikian menyebabkan terciptanya masalah keagenan (Jensen dan
Meckling, 1976). Sebagai agen, manajer secara moral bertanggung jawab

7
untuk mengoptimalkan keuntungan para pemilik (prinsipal) dan sebagai
imbalannya akan memperoleh kompensasi sesuai dengan kontrak (Jensen dan
Meckling, 1976). Eisenhardt (1989) menyatakan bahwa teori keagenan
menggunakan tiga asumsi sifat dasar manusia, yaitu manusia pada umumnya
mementingkan diri sendiri, manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai
persepsi masa mendatang, dan manusia selalu menghindari risiko. Berdasarkan
asumsi sifat dasar manusia tersebut manajer sebagai manusia akan bertindak
opportunistic, yaitu mengutamakan kepentingan pribadinya.
Manajemen laba dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, namun dalam
penelitian ini menggunakan leverage, ukuran perusahan, kompensasi bonus
dan kepemilikan manajerial sebagai variabel terikat sedangkan manajemen
laba sebagai variabel bebas. Penelitian Sari (2015) menunjukan hasil bahwa
leverage berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Koefisisen yang positif
menunjukkan bahwa leverage yang tinggi mendorong manajemen perusahaan
untuk melakukan pengelolaan laba agar terhindar dari pelanggaran kontrak
hutang. Sedangkan hasil yang berbeda ditemukan dalam penelitian Indriyani
(2010). Yang menguji pengaruh leverage terhadap manajemen laba bahwa
leverage tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Hal ini
dikarenakan kebijakan hutang yang tinggi menyebabkan perusahaan dimonitor
oleh pihak debtholders (pihak ketiga). Karena monitoring dalam perusahaan
yang ketat menyebabkan manajer akan bertindak sesuai dengan kepentingan
debtholders dan shareholders.
Muliati (2011) menemukan bahwa ukuran perusahaan dengan
manajemen laba berpengaruh negatif. Perusahaan besar kurang memiliki
motivasi dalam melakukan praktik manajemen laba. Hal ini dikarenakan
pemegang saham dan pihak luar di perusahaan besar dianggap lebih kritis
dibandingkan dengan perusahaan kecil. Namun, Rahmani dan Mir (2013)
menemukan bahwa ukuran perusahaan dan manajemen laba berpengaruh
positif. Perusahaan besar mempunyai dorongan yang cukup besar untuk
melaksanakan praktik manipulasi laba, alasan utamanya karena perusahaan
yang berukuran besar harus dapat memenuhi ekspektasi yang tinggi dari

8
pemegang saham atau investornya.
Watts and Zimmerman (1986) dalam hipotesis bonus menyatakan
bahwa manajer yang memilih untuk merencanakan bonus yang didapatnya
akan cenderung untuk memilih metode akuntansi yang meningkatkan laba
pada periode berjalan. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh
Tanomi (2012). Yang menyatakan bahwa kompensasi manajemen berpengaruh
positif terhadap manajemen laba. Manajer yang memiliki informasi atas laba
bersih pada perusahaan akan bertindak oportunis untuk melakukan praktik
manajemen laba untuk mendapatkan bonus yang tinggi (Pujiati & Arfan,
2013). Namun berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Pujiati & Arfan
(2013) yang menyatakan bahwa kompensasi bonus berpengaruh negatif
terhadap manajemen laba. Yaitu semakin tinggi bonus yang diberikan maka
semakin rendah tingkat manajemen laba yang dilakukan.
Midiastuty dan Mahfoedz (2003) dimana hubungannya menyatakan
bahwa kepemilikan manajerial dengan manajemen laba berhubungan negatif.
Penelitian Ujiyantho dan Pramuka (2007) menyatakan bahwa kepemilikan
manajerial berpengaruh negatif signifikan terhadap manajemen. Jadi semakin
besar saham yang dimiliki oleh manajer dimungkinkan tindakan manajer yang
melakukan manajemen laba akan berkurang karena manajer merasa ikut
mempunyai perusahaan.
Adanya perbedaan hasil penelitian pada penelitian-penelitian
sebelumnya maka penelitian ini dilakukan untuk melihat apakah ada pengaruh
antara bonus, leverage, ukuran perusahaan, dan kepemilikan manajerial pada
manajemen laba. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian lebih lanjut mengenai “Pengaruh Bonus, Leverage,
Ukuran Perusahaan, dan Kepemilikan Manajerial pada Manajemen Laba studi
empiris pada Perusahaan Manufakur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
tahun 2015-2017”.

9
2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

2.1 Apakah pengaruh bonus pada manajemen laba?


2.2 Apakah pengaruh ukuran perusahaan pada manajemen laba?
2.3 Apakah pengaruh leverage pada manajemen laba?
2.4 Apakah pengaruh kepemilikan manajerial pada manajemen laba?
3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

3.1 Untuk mengetahui pengaruh bonus pada manajemen laba di


perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Periode 2015-2017.
3.2 Untuk mengetahui pengaruh ukuran perusahaan pada manajemen laba
di perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Periode 2015-2017.
3.3 Untuk mengetahui pengaruh leverage pada manajemen laba di
perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Periode 2015-2017.
3.4 Untuk mengetahui pengaruh kepemilikan manajerial pada manajemen
laba di perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Periode 2015-2017.
4. Kegunaan Penelitian

Manfaat dari hasil penelitian meliputi:

1. Bagi investor dan kreditor

Sebagai stakeholders dari perusahaan publik yakni bermanfaat


memberikan informasi pengaruh tingkat manajemen laba sehingga dapat
menjadi informasi dalam pengambilan keputusan dalam berinvestasi.

2. Bagi perusahaan

10
Dalam hal ini pihak manajemen perusahaan manufaktur, yaitu
memberikan masukan untuk menelaah lebih lanjut mengenai pengaruh
asimetri dan leverage, sehingga dapat menghasilkan laporan keuangan
yang handal dan terbebas dari kecurangan akuntansi.

3. Bagi akademis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan, dan ilmu


pengetahuan serta referensi yang berguna bagi peneliti selanjutnya yang
berkaitan dengan manajemen laba.

11
5. Kajian Pustaka

5.1 Teori Keagenan

Hubungan keagenan merupakan suatu kontrak dimana satu atau lebih


orang (prinsipal) memerintah orang lain (agen) untuk melakukan suatu jasa atas
nama prinsipal serta memberi wewenang kepada agen membuat keputusan yang
terbaik bagi prinsipal. Jika kedua belah pihak tersebut mempunyai tujuan yang
sama untuk memaksimumkan nilai perusahaan, maka diyakini agen akan
bertindak dengan cara yang sesuai dengan kepentingan prinsipal.
Teori keagenan mendeskripsikan hubungan antara pemegang saham
(shareholders) sebagai prinsipal dan manajemen sebagai agen. Manajemen
merupakan pihak yang dikontrak oleh pemegang saham untuk bekerja demi
kepentingan pemegang saham.
Menurut teori keagenan, konflik antara prinsipal dan agen dapat dikurangi
dengan mensejajarkan kepentingan antara prinsipal dan agen. Kehadiran
kepemilikan saham oleh manajerial (insider ownership) dapat digunakan untuk
mengurangi agency cost yang berpotensi timbul, karena dengan memiliki saham
perusahaan diharapkan manajer merasakan langsung manfaat dari setiap
keputusan yang diambilnya.
5.2 Manajemen Laba

Manajemen laba menurut Sulistyanto (2008:51) dilakukan dengan


mempermainkan komponen-komponen akrual dalam laporan keuangan, sebab
pada komponen akrual dapat dilakukan permainan angka melalui metode
akuntansi yang digunakan sesuai dengan keinginan orang yang melakukan
pencatatan dan penyusunan laporan keuangan. Manajemen laba merupakan salah
satu faktor yang dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan, manajemen laba
menambah bias dalam laporan keuangan dan dapat mengganggu pemakai laporan
keuangan yang mempercayai angka laba hasil rekayasa tersebut sebagai angka
laba tanpa rekayasa (Setiawati dan Na’im, 2000:424). Dapat disimpulkan bahwa
manajemen laba adalah perilaku opurtunistik yang dilakukan oleh manajemen

12
terhadap kebijakan-kebijakan akuntansi dalam proses pelaporan keuangan untuk
mencapai tujuan tertentu.
5.3 Bonus
Bonus merupakan suatu kebijakan yang diberikan kepada manajer yang
didasarkan pada hasil kinerjanya demi mencapai tujuan perusahaan (Pujiati &
Arfan, 2013). Pemberian bonus yang dibagikan kepada manjer, akan memicu
perilaku manjer untuk meningkatkan profit atau laba perusahaan semaksimal
mungkin sehingga laporan keuangan yang dihasilkan akan terlihat bagus Tanomi
(2012). Manajer sebagai pihak internal, memiliki informasi atas laba bersih pada
perusahaan cenderung untuk bertindak oportunis dalam melakukan praktik
manajemen laba guna mendapatkan bonus yang tinggi (Pujiati & Arfan, 2013).

5.4 Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan adalah besarnya laba yang dihasilkan oleh perusahaan


dalam satu tahun buku, dimana penjualan lebih besar daripada biaya variabel dan
biaya tetap, maka akan diperoleh jumlah pendapatan sebelum pajak. Sebaliknya
jika penjualan lebih kecil daripada biaya variabel dan biaya tetap maka
perusahaan akan menderita kerugian (Brigham dan Houston, 2001:117-119).
Ukuran perusahaan menggambarkan besar kecilnya suatu perusahaan yang
ditunjukkan oleh total aktiva, jumlah penjualan, rata–rata total penjualan dan rata–
rata total aktiva. Jadi ukuran perusahaan merupakan ukuran atau besarnya asset
yang dimiliki oleh perusahaan.

5.5 Leverage

Leverage adalah rasio total utang dibandingkan total asset. Leverage


menunjukkan bebarapa banyak utang yang digunakan untuk membiayai asset-
asset perusahaan. Manajemen keuangan mengartikan leverage sebagai
penggunaan sumber dana yang memiliki beban tetap, dengan harapan akan
memberikan tambahan keuntungan yang lebih besar dari pada beban tetapnya,
sehingga keuntungan pemegang saham bertambah (Husnan, 2008). Rasio leverage
juga menunjukkan risiko yang dihadapi perusahaan, semakin besar risiko yang

13
dihadapi oleh perusahaan maka ketidakpastian untuk menghasilkan laba dimasa
depan juga akan makin meningkat dan juga untuk memprediksi keuntungan yang
kemungkinan bias diperoleh bagi investor jika berinvestasi pada suatu perusahaan
(Husnan, 2008).

5.6 Kepemilikan Manajerial

Kepemilikan manajerial merupakan kepemilikan saham oleh pihak


manajemen perusahaan. dari sudut pandang teori akuntansi, manajemen laba
sangat ditentukan oleh motivasi manajer perusahaan. kepemilikan manajerial
berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Dengan adanya kepemilikan
saham yang dimiliki oleh manajer maka manajer akan bertindak selaras dengan
kepentingan 5 pemegang saham sehingga dapat memperkecil perilaku oportunis
manajer. Dalam kepemilikan saham yang rendah, maka insentif terhadap
kemungkinan terjadinya perilaku oportunistik manajer akan meningkat (Shleifer
dan Vishny, 1986 dalam Herawaty 2008 : 28).

6. Hipotesis

Berdasarkan uraian yang dijelaskan pada bab ini, maka dirumuskan


hipotesis sebagai berikut:

6.1 Pengaruh bonus pada manajemen laba di perusahaan manufaktur yang


terdapat di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017

Hasil dari penelitian Pujiningsih (2011), Elfira (2014), dan Arfan (2013)
menunjukkan bonus berpengaruh positif pada manajemen laba, hal ini
dikarenakan manajer sebagai pihak internal, memiliki informasi atas laba bersih
pada perusahaan cenderung untuk bertindak oportunis dalam melakukan
manajemen laba guna mendapatkan bonus yang tinggi, Tia (2018) yang
menunjukkan bahwa bonus tidak berpengaruh pada manajemen laba perusahaan-
perusahaan food and beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
periode 2014-2016.

H1: Bonus tidak berpengaruh pada manajemen laba.

14
6.2 Pengaruh Ukuran Perusahaan pada manajemen laba di perusahaan
manufaktur yang terdapat di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sosiawan (2012), Handayani


dan Rachadi (2009) ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap manajemen
laba. Ukuran perusahaan dapat dilihat dari total aktiva yang dimiliki oleh
perusahaan bersangkutan (Mulford dan Comiskey, 2012). Hasil penelitian dari Tia
(2018) ukuran perusahaan berpengaruh positif pada manajemen laba. Dari hasil
penelitian diatas, maka rumus dari hipotesis yaitu:
H2 : Ukuran perushaan berpengaruh positif terhadap manajemen
laba.
6.3 Pengaruh Leverage pada manajemen laba di perusahaan manufaktur
yang terdapat di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017

Besarnya tingkat hutang perusahaan (leverage) dapat mempengaruhi


tindakan manajemen laba. Menurut Husnan (2001) leverage yang tinggi yang
disebabkan kesalahan manajemen dalam mengelola keuangan perusahaan atau
penerapan strategi yang kurang tepat dari pihak manajemen.
Dari uraian di atas, pernyataan tersebut diperkuat oleh penelitian yang
dilakukan oleh Tiya (2016) dan Veliandina (2013) yang menyatakan bahwa
leverage berpengaruh pada manajemen laba. (Veronica dan Bachtiar, 2004)
manajemen perusahaan melakukan manajemen laba dengan tujuan untuk
meningkatkan laba bersih perusahaan sebelum ditemukan pelanggaran perjanjian
hutang. Tia (2018) leverage berpengaruh pada manajemen laba. Sehingga,
berdasarkan penelitian ini leverage berpengaruh positif terhadap manajemen laba.
Dengan demikian maka hipotesis yang dapat dikembangkan, yaitu :
H3: Leverage berpengaruh positif terhadap manajemen laba.

6.4 Pengaruh Kepemilikan Manajerial pada manajemen laba di perusahaan


manufaktur yang terdapat di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017

Midiastuty dan Mahfoedz (2003) dimana hubungannya menyatakan bahwa


kepemilikan manajerial dengan manajemen laba berhubungan negatif. Penelitian

15
Ujiyantho dan Pramuka (2007) menyatakan bahwa kepemilikan manajerial
berpengaruh negatif signifikan terhadap manajemen. Teddy (2018) menyatakan
kepemilikan manajerial berpengaruh negatif pada manajemen laba. Jadi semakin
besar saham yang dimiliki oleh manajer dimungkinkan tindakan manajer yang
melakukan manajemen laba akan berkurang karena manajer merasa ikut
mempunyai perusahaan. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis penelitian ini
adalah.
H4: Kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap manajemen
laba.

7. Metode Penelitian

7.1 Desain Penelitian

Bonus (X1)

Ukuran Perusahaan
(X2) Manajemen Laba
(Y)
Leverage (X3)

Kepemilikan
Manajerial (X4)

7.2 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah di perusahaan manufaktur yang terdaftar pada


BEI dari tahun 2015-2017 dengan mengakses website www.idx.co.id.

7.3 Objek Penelitian

16
Penelitian ini dilakukan pada perusahaan-perusahaan yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan mengakses situs www.idx.co.id. Sedangkan
ruanglingkup dalam penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar di BEI.

7.4 Identifikasi Variabel

Sesuai dengan pokok masalah dan hipotesis yang diajukan, variabel-


variabel yang dianalisis dalam penelitian ini dapat diidentifikasikan secara garis
besarnya adalah:

1) Variabel dependen atau variabel terikat, yaitu variabel yang dijelaskan


atau dipengaruhi oleh variabel bebas. Variabel dependen yang
digunakan dalam penelitian ini adalah manajemen laba.
2) Variabel independen atau variabel bebas, yaitu variabel yang diduga
mempengaruhi variabel terikat. Variabel yang digunakan dalam
penelitian ini adalah bonus, ukuran perusahaan, leverage dan
kepemilikan manajerial.

7.5 Definisi Operasional Variabel


Definisi operasional merupakan suatu definisi yang dinyatakan dalam
bentuk istilah yang diukur dengan pengukuran tertentu. Definisi operasional
variabel pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Ukuran perusahaan (X1)
Ukuran perusahaan menggambarkan besar kecilnya perusahaan. Besar
kecilnya usaha tersebut ditinjau dari lapangan usaha yang dijalankan. Penentuan
skala besar kecilnya perusahaan dapat ditentukan berdasarkan total penjualan,
total asset, dan rata-rata tingkat penjualan (Seftianne, 2011). Ukuran perusahaan
dalam penelitian ini diukur dengan logaritma natural dari total asset yang dimiliki
perusahaan. Semakin besar angka logaritma dari total asset perusahaan
menunjukan semakin besar pula ukuran perusahaan atau asset yang dimiliki oleh
perusahaan. Log natural asset dapat dihitung dengan rumus (Sujoko dan Ugy
Soebiantoro, 2007:45).

17
Size = Ln (Total Asset)…………………………………………………(1)
2. Leverage (X2)
Leverage adalah salah satu rasio keuangan yang menggambarkan
hubungan antara utang perusahaan terhadap modal maupun asset perusahaan.
Dalam penelitian ini leverage merupakan pengukuran besarnya aktiva yang
dibiayai dengan utang-utang yang digunakan untuk membiaya aktiva. Menurut
Kasmir, (2012:158), Rumus untuk menghitung leverage yang menggambarkan
hubungan antara utang perusahaan dengan asset adalah:

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑈𝑡𝑎𝑛𝑔
DAR = × 100%......................................................................(2)
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡

3. Kompensasi Bonus
Bonus plan hypothesis merupakan salah satu motif pemilihan suatu
metode akuntansi tidak terlepas dari positif accounting theory. Manajer
perusahaan dengan rencana bonus lebih menyukai metode akuntansi yang
meningkatkan laba periode berjalan. Pilihan tersebut diharapkan dapat
meningkatkan nilai sekarang bonus yang akan diterima seandainya komite
kompensasi dari Dewan Direktur tidak menyesuaikan dengan metode yang dipilih
(Ghozali,2003). Jika perusahaan memiliki kompensasi (bonus scheme), maka
manajer akan cenderung melakukan tindakan yang mengatur laba bersih untuk
dapat memaksimalkan bonus yang mereka terima. Untuk variabel ini akan diukur
dengan cara variabel dummy, perusahaan yang memberikan kompensasi bonus
kepada manajemen akan diberi nilai 1(satu), sedangkan yang tidak memberikan
kompensasi bonus kepada manajemen diberi nilai 0 (nol) (Elfira 2014).
Manajemen laba

Manajemen laba di ukur dengan proksi discretionary accrual Modified


Jones Model karena berdasar Dechow et al.(1995) model ini lebih baik dibanding
model Jones standar dalam mengukur kasus manipulasi pendapatan.

TACit = NIit – CFOit…………………………………………..…(3)

Kemudian menghitung nilai total accrual (TAC) :


TACit 1 ∆𝑅𝐸𝑉𝑖𝑡 𝑃𝑃𝐸𝑖𝑡
= 𝛼𝑖 ( ) + 𝛽1𝑖 ( ) + 𝛽1𝑖 ( ) + 𝜀…………(4)
𝑇𝐴𝑖𝑡−1 𝑇𝐴𝑖𝑡−1 𝑇𝐴𝑖𝑡−1 𝑇𝐴𝑖𝑡−1

18
Dengan menggunakan koefisien regresi diatas maka dapat dihitung nilai
nondiscretionary accrual (NDTA) dengan rumus :
1 ∆𝑅𝐸𝑉𝑖𝑡−∆𝑅𝐸𝐶𝑖𝑡 𝑃𝑃𝐸𝑖𝑡
NDTACit = 𝛼𝑖 (𝑇𝐴𝑖𝑡−1) + 𝛽1𝑖 ( ) + 𝛽1𝑖 (𝑇𝐴𝑖𝑡−1) + 𝜀…….(5)
𝑇𝐴𝑖𝑡−1

Discretionary accrual (DTA) merupakan residual yang diperoleh dari


estimasi total accrual yang dihitung sebagai berikut :
𝑇𝐴𝐶𝑖𝑡
DTAC=(𝑇𝐴𝑖𝑡−1) − 𝑁𝐷𝑇𝐴𝑖𝑡……………………………………….(6)

Keterangan:
DTACit = Discretionary accrual perusahaan i pada periode t
NDTACit = Non Discretionary accrual perusahaan i pada periode t
NIit = Net income perusahaan i pada periode t
TACit = Total accrual perusahaan i pada periode t
CFOit = Aliran arus kas operasi perusahaan i pada periode t
TAit-1 = Total aktiva perusahaan i pada periode t
ΔREVit = Perubahan penjualan perusahaan i pada periode t
PPEit = Aktiva tetap perusahaan i pada periode t
ΔRECit = Perubahan piutang perusahaan i pada periode t
εit = error

7.6 Jenis dan Sumber Data


Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder
yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari laporan keuangan tahunan
perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun
2015–2017. Data tersebut diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory
(ICMD) dan situs Bursa Efek Indonesia.

7.7 Metode Penentuan Sampel


Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan
manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015 sampai
2017. Jumlah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
(BEI) selama periode 2015-2017 berjumlah 149 perusahaan. Dari 149

19
perusahaan manufaktur tersebut terdapat 6 perusahaan yang tidak listing di
Bursa Efek Indonesia (BEI) selama 3 tahun berturut-turut, 22 perusahaan yang
tidak mempublikasikan laporan keuangan tahunan, 24 perusahaan yang tidak
memakai mata uang rupiah (IDR) dalam pelaporannya, 10 perusahaan yang
tidak menampilkan tanggal penyampaian laporan keuangan tahunan, 10
perusahaan yang tidak menerbitkan laporan keuangan secara lengkap, sehingga
perusahaan manufaktur yang dijadikan sampel sebanyak 74 perusahaan

7.8 Teknik Analisis Data

1) Analisis Statistik Deskriptif

Analisis statistik deskriptif merupakan teknik deskriptif yang


memberikan informasi mengenai data yang dimiliki dan tidak bermaksud
menguji hipotesis. Menurut Gozali (2009) dalam (Sudarmadji, 2012),
statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi tentang suatu data
yang dilihat melalui nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian,
maksimum, minimum, sum, range, kurtosis, dan skewness. Skewness
mengukur kemencengan dari data dankurtosis mengukur puncak dari
distribusi data. Data yang terdistribusi secara normal mempunyai nilai
skewness dan kurtosis mendekati nol. Analisis ini hanya digunakan
untuk menyajikan dan menganalisis data disertai dengan perhitungan
agar dapat memperjelas keadaan atau karakteristik data yang bersangkutan
(Nurgiyantoro et al. dalam Ningsaptiti 2009).

2) Uji Asumsi Klasik


Oleh karena alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah
analisis regresi liniear berganda, maka perlu dilakukan pengujian terhadap
asumsi-asumsi yang diisyaratkan dalam analisis regresi berganda untuk memenuhi
kriteria BLUE (BestLinier Unbias Estimate). Uji asumsi klasik dalam penelitian
ini mencangkup uji normalitas, multikolinearitas dan heteroskedastisitas.

20
Adapun uji asumsi klasik yang harus dilakukan sebelum melakukan
pengujian hipotesis, diantaranya :
1) Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,
variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal (Ghozali,
2013:160). Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi residual yang
normal atau mendekati normal. Uji statistik yang dapat digunakan untuk
menguji normalitas residual adalah uji statistik non-parametrik Kolmogorov-
Smirnov dengan melihat nilai asymp.sig. (2—tailed) diatas α = 0,05.
2) Uji Multikolinearitas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah model regeresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi
yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara vairabel independen
(Ghozali, 2011:106). Model regresi yang bebas dari multikoliniearitas adalah
model yang memiliki nilai tolerance ≥ 0,01 atau jika nilai variance inflation
factor (VIF) ≤ 10.
3) Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi
terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan
yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain
tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut
heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah homoskedastisitas atau
tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2013:139). Pendeteksian terhadap
ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melakukan uji
Glejser. Model regresi yang bebas dari heteroskedastisitas adalah model yang
memiliki nilai uji Glejser diatas α = 0,05.
4) Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
linier ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan
kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya) (Ghozali, 2013:110).
Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi

21
muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama
lainnya. Masalah ini timbul karena residual (kesalahan pengganggu) tidak
bebas dari satu observasi ke observasi lainnya. Ada beberapa cara untuk
mendeteksi ada atau tidaknya autokorelasi, salah satunya adalah dengan uji
Durbin-Watson (DW test).

3) Uji kelayakan model (Uji F)

Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen


atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-
sama terhadap variabel dependen atau terikat (Ghozali, 2013:98). Untuk
mengetahui hasil uji F adalah dengan melihat nilai probabilitas signifikansi F
yang dibandingkan dengan batas signifikansi yang ditetapkan sebesar 0,05.
Apabila nilai dari Sig.F statistik ≤ 0,05 berarti semua variabel independen secara
serentak dan signifikan mempengaruhi variabel dependen, sedangkan bila nilai
dari Sig. F statistik ≥ 0,05 berarti semua variabel independen secara serentak dan
signifikan tidak mempengaruhi variabel dependen.

4) Uji hipotesis (Uji T)

Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh variabel


penjelas atau independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel
dependen (Ghozali, 2013:98). Untuk mengetahui hasil uji t adalah dengan melihat
nilai probabilitas signifikansi t yang dibandingkan dengan batas signifikansi yang
ditetapkan sebesar 0,05. Apabila nilai dari Sig. t statistik ≤ 0,05 berarti suatu
variabel independen secara individual mempengaruhi variabel dependen,
sedangkan bila nilai dari Sig. t statistik ≥ 0,05 berarti suatu variabel independen
secara individual tidak mempengaruhi variabel dependen. Kreteria pengujian yang
digunakan adalah sebegai berikut:

1) Jika signifikansi ≤ 5% maka H0 diterima, ini berarti variabel bebas secara


parsial memengaruhi variabel terikat.

22
2) Jika signifikansi > 5% maka H0 ditolak, ini berarti variabel bebas secara
parsial tidak memengaruhi variabel terikat.

5) Koefisien Determinasi ( Uji R2)

Koefisien determinasi digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan


semua variabel bebas dalam menjelaskan varian dari variabel terikatnya.
Koefisien determinasi dapat dilihat melalui nilai adjusted R2. adjusted R2
digunakan ketika variabel independen dalam penelitian berjumlah lebih dari satu.
Alasan digunakannya nilai adjusted R2dibandingkan nilai R2karena penggunaan
nilai R2memiliki kelemahan mendasar dimana sering terjadi bias terhadap jumlah
variabel independen yang dimasukkan ke dalam model. Setiap tambahan satu
variabel independen, maka R2pasti meningkattidak peduli apakah variabel tersebut
berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen, sedangkan nilai
adjusted R2dapat naik atau turun apabila satu variabel independen ditambahkan
kedalam model (Ghozali, 2013:97).
6) Analisis Regresi Linier Berganda
Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda dengan menggunakan
program SPSS. Analisis ini digunakan untuk menguji pengaruh variabel
independen secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Model regresi yang
digunakan untuk menguji hipotesis adalah sebagai berikut (Kutner, Nachtsheim
dan Neter, 2004) :
Y = α + β1X1 +β2X2 +β3X3+ β4X4+e………………….…………………
Keterangan:
Y= Variabel dependen
α= Konstanta
β= Koefisien regresi masing-masing variabel
X1= Ukuran perusahaan
X2 = Leverage
X3 = Kompensasi Bonus
X4 = Kepemilikan Manajerial
e = error

23
Daftar Pustaka
Beneish, M.D. (2001). Earnings Management: A Perspective. Managerial
Finance, 27(12), 3-17.

Dechow, P.M., R.G. Sloan, dan A.P. Sweeney, 1995. Detecting earnings
management. The Accounting Review, Vol. 70, (2): 193-225.

Eisenhardt, K.M., 1989, “Agency Theory : An Assessment and Review”. Academy


of Management Review, Vol. 14(1). 57-74.

Elfira, Anisa. 2014. Pengaruh Kompensasi Bonus Dan Leverage Terhadap


Manajemen Laba(Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang
terdaftar Di Bursa Efekindonesia Tahun 2009-2012). Skripsi. Fakultas
Ekonomi Program Studi Akuntansi Universitas Negeri Padang.

Fahmi, Irham. 2011. “Analisis Kinerja Keuangan”. ALFABETA, Bandung.

Ghozali dan Chariri, 2007. Teori Akuntansi. Semarang: Badan Penerbit Undip.

Ghozali, Imam. 2011. “Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS”.


Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Ghozali, Imam. 2013. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.


Edisi Ketujuh. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Husnan, Suad. (2001). Dasar-Dasar Teori Portofolio Dan Analisis Sekuritas. AMP
YPKN.Yogyakarta.

Indriyani, Yohana. 2010. Pengaruh Kualitas Auditor, Corporate Governance,


Leverage dan Kinerja Keuangan Terhadap Manajemen Laba. Skripsi
Universitas Diponegoro: Semarang.

Jensen, Michael C dan William H. Meckling. 1976. Theory of the firm: Mangerial
Behavior, Agency Costs and Ownership Structur”. The Journal of
Financial Economics, 3 (4): 305-370.

24
Kasmir, 2012, Analisis Laporan Keuangan, PT.Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Kaihatu, T. S. (2006). Good Corporate Governance dan Penerapannya di
Indonesia. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan (1), 1-9.

Kutner, M.H., C.J. Nachtsheim., dan J. Neter. 2004. Applied Linear Regression
Models. 4th ed. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.

Midiastuty, P., Machfoedz, M., 2003. Analisis Hubungan Mekanisme Corporate


Governance dan Indikasi Manajemen laba. Simposium Nasional
Akuntansi VI.

Muliati, Ni Ketut. 2011. Pengaruh Asimetri Informasi dan Ukuran Perusahaan


pada Praktik Manajemen Laba di Perusahaan Perbankan yang Terdaftar
di Bursa Efek Indonesia. Tesis, Program Magister Program Studi
Akuntansi Program Pascasarjana Universitas Udayana, Denpasar.

Pujiati, E. J., & Arfan, M. (2013). Struktur Kepemilikan dan Kompensasi Bonus
Serta Pengaruhnya Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan
Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2006-2010.
Jurnal Telaah dan Riset Akuntansi, 122-139.

Pujiningsih, Pengaruh Struktur Kepemilikan, Ukuran Perusahaan, Praktik


Corporate Governance dan Kompensasi Bonus Terhadap Manajemen
Laba. Universitas Diponegoro, Semarang, 2011, p. 35

Rahmani, Samira and Akbari, Mir Askari . 2013. Impact of Firm Size and Capital
Structure on Earnings Management: Evidence from Iran. World of
Sciences Journal.ISSN: 2307-3071.

Sari, A.A Sg. Putri Puspita, “Moderasi Good Corporate Governance pada
Pengaruh antara Leverage dan Manajemen Laba”, E-Jurnal Akuntansi
Universitas Udayana 12.3.

Sulistyanto, Sri. 2008. Manajemen Laba: Teori dan Model Empiris. Jakarta:
Grasindo.

25
Sosiawan, 2012. Pengaruh Kompensasi, Leverage, Ukuran Perusahaan, Earning
Power terhadap Manajemen Laba. JRAK Vol. 8, No. 1, Februari.

Sugiyono.2010. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif & RND. Bandung :


Alfabeta.

Sujoko dan Ugy Soebiantoro. 2007. Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham,


Leverage, Faktor Interen dan Faktor Eksteren terhadap Nilai Perusahan.
Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan. Vol 9,No. 1.

Seftianne dan Ratih Handayani. 2011. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Struktur


Modal pada Perusahaan Publik Sektor Manufaktur. Jurnal Bisnis dan
akuntansi, 13 (1): 39-56.

Tanomi, Rehobot. 2012. Pengaruh Kompensasi Manajemen, Perjanjian Hutang


Dan Pajak Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Manufaktur Di
Indonesia. Berkala Ilmiah Mahasiswa Akuntansi. Vol. 1 No. 3, Mei,
2012, hal: 30-35.

Tiya Mahawyahrti, I Gusti Ayu Nyoman Budiasih. 2016. Asimetri Informasi,


Leverage, dan Ukuran Perusahaan Pada Manajemen Laba. Jurnal Ilmiah
Akuntansi dan Bisnis, 11 (2), hal.100-110.

Ujiyantho, Muh. Arief & Bambang Agus Pramuka. 2007. Mekanisme Corporate
Governance, dan Kinerja Keuangan (Studi Pada Perusahaan Go Public
Sektor Manufaktur), Artikel Ilmiah dalam Simposium Nasional Akuntansi
X, Makassar.

Veronica, Sylvia,dan Yanivi S Bachtiar. 2004. Good Corporate Governance


Information Asymetry and Earnings Management. Artikel yang
dipresentasikan pada Simposium Nasional Akuntansi 7 Denpasar tanggal
2-3 Desember 2004.

Watts, R. L. Zimmerman. 1986. Positive Accounting Theory. New York, Prentice


Hall.

26