Anda di halaman 1dari 18

A.

CRITICAL REVIEW

1. Ringkasan Artikel
Bank merupakan lembaga perantara keuangan yang menghubungkan antara pihak
yang kelebihan dana dengan pihak yang memerlukan dana. Bank diwajibkan memberikan
laporan keuangan setiap periode tertentu. Laporan keuangan bank merupakan sarana
komunikasi bagi pihak-pihak diluar korporasi. Laporan rugi/laba adalah salah satu
informasi potensial namun informasi laba tidak selamanya akurat. Informasi laba sering
menjadi target rekayasa manajemen dengan cara memilih kebijakan akuntansi tertentu
selama tidak menyimpang dari Standar Akuntansi Keuangan, tindakan ini disebut
manajemen laba. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Ukuran
perusahaan terhadap manajemen laba pada Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia Periode 2008-2011. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linear
sederhana. Populasi penelitian 38 Perbankan dan sampel yang digunakan 10 Bank. Hasil
penelitian diperoleh ukuran perusahaan berpengaruh signifikan negatif terhadap
manajemen laba artinya semakin besar ukuran perusahaan maka perilaku manajemen laba
semakin berkurang. Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan dan pertimbangan bagi
manajemen bank dalam pengambilan keputusan, terutama memberikan informasi laba
kepada investor dan pemegang saham tanpa melakukan perilaku manajemen laba.

2. Metodologi
Isu pada artikel “Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba Pada
Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2011” adalah
manajemen laba. Fenomena yang ditemukan pada artikel ini adalah manipulasi laba. Laba
digunakan sebagai alat untuk mengukur kinerja perusahaan yang diukur dengan dasar
akrual. Namun, informasi laba tidak selamanya akurat dan sering menjadi target rekayasa
dan tindakan oportunistis manajemen dengan memaksimumkan kepuasannya dan
merugikan pemegang saham atau investor. Tindakan oportunistis tersebut dilakukan
dengan cara memilih kebijakan akuntansi tertentu, sehingga laba dapat diatur. Manajer
cenderung lebih melakukan manajemen laba dengan mengendalikan transaksi akrual,
transaksi yang tidak mempengaruhi aliran kas. Dasar akrual dipilih karena secara umum
memberikan indikasi yang lebih baik tentang kinerja ekonomi perusahaan daripada
informasi yang dihasilkan dari penerimaan dan pengeluaran kas.

3. Perumusan Masalah Penelitian

1
Dalam artikel ini tidak disebutkan rumusan masalah secara gamblang, akan tetapi,
rumusan masalah dapat diketahui dari tujuan penelitian. Adapun tujuan penelitian dalam
artikel ini adalah untuk mengetahui pengaruh ukuran perusahaan terhadap manajemen laba
pada Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2008-2011.

4. Kontribusi Penelitian

Adapun kontribusi penelitian ini adalah dapat menjadi masukan dan pertimbangan
bagi manajemen bank dalam pengambilan keputusan, terutama memberikan informasi
laba kepada investor dan pemegang saham tanpa melakukan perilaku manajemen laba.

5. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ukuran perusahaan
terhadap manajemen laba pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia periode 2008-2011.

6. Teori yang Digunakan


a. Agency Theory
Teori keagenan dapat dilihat sebagai suatu bentuk kontrak antara dua orang
(pihak) atau lebih, dimana pihak disebut agent dan pihak lain disebut principal.
Rahmawati,dkk (2006:11) menyatakan bahwa wewenang dan tanggung jawab agent
maupun principal diatur dalam kontrak kerja atas persetujuan bersama. Hubungan
keagenan adalah sebuah kontrak dimana satu atau beberapa orang (principal)
berharap pelayanan dari seseorang lainya (agent) untuk melakukan sebuah tugas atas
namanya atau nama mereka. Asumsi dalam agency theory masing-masing individu
termotivasi semata-mata untuk kepentingan diri sendiri sehingga menimbulkan
konflik kepentingan antara principal dan agent.

b. Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan adalah besarnya laba yang dihasilkan oleh perusahaan
dalam satu tahun buku, dimana penjualan lebih besar daripada biaya variabel dan
biaya tetap, maka akan diperoleh jumlah pendapatan sebelum pajak. Sebaliknya jika
penjualan lebih kecil daripada biaya variabel dan biaya tetap maka perusahaan akan
menderita kerugian (Brigham dan Houston, 2001:117-119). Ukuran perusahaan
menggambarkan besar kecilnya suatu perusahaan yang ditunjukkan oleh total aktiva,
jumlah penjualan, rata–rata total penjualan dan rata–rata total aktiva. Jadi ukuran
perusahaan merupakan ukuran atau besarnya asset yang dimiliki oleh perusahaan.

2
c. Manajemen Laba

Manajemen laba menurut Sulistyanto (2008:51) dilakukan dengan


mempermainkan komponen-komponen akrual dalam laporan keuangan, sebab pada
komponen akrual dapat dilakukan permainan angka melalui metode akuntansi yang
digunakan sesuai dengan keinginan orang yang melakukan pencatatan dan
penyusunan laporan keuangan. Manajemen laba merupakan salah satu faktor yang
dapat mengurangi kredibilitas laporan keuangan, manajemen laba menambah bias
dalam laporan keuangan dan dapat mengganggu pemakai laporan keuangan yang
mempercayai angka laba hasil rekayasa tersebut sebagai angka laba tanpa rekayasa
(Setiawati dan Na’im, 2000:424). Dapat disimpulkan bahwa manajemen laba adalah
perilaku opurtunistik yang dilakukan oleh manajemen terhadap kebijakan-kebijakan
akuntansi dalam proses pelaporan keuangan untuk mencapai tujuan tertentu.

7. Objek, Populasi, Sampel dan Pengukuran Variabel


a) Objek penelitian dalam artikel ini adalah manajemen laba pada perusahaan
Perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2011.
b) Teknik pemilihan sampel yang digunakan pada artikel adalah adalah teknik
purposive sampling, yaitu metode penentuan sampel dengan pertimbangan
tertentu. Dalam hal ini sampel yang diambil harus memenuhi kriteria-kriteria
khusus yang telah ditentukan.
c) Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 38 perusahaan perbankan
yang terdaftar di BEI.
d) Variabel adalah objek yang menjadi titik perhatian dalam suatu penelitian.
Dalam penelitian ini variabel yang digunakan dibagi menjadi dua, yaitu
variabel terikat (dependent variable) dan variabel bebas (independent
variable). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah manajemen laba,
sedangkan variabel bebas dalam penelitian ini adalah ukuran perusahaan.

8. Teknik Analisis
Teknik analisis dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier sederhana
dengan melakukan pengujian asumsi klasik terlebih dahulu, yaitu uji normalitas data, uji
heteroskedastisitas, dan uji autokorelasi. Pengujian dilakukan untuk menguji apakah data

3
dalam penelitian ini terdistribusi norma, gejala heteroskedastisitas, dan gejala autokorelasi.
Metode analisis linier sederhana dinilai koefisien korelasi, koefisen determinasi, dan uji t.

9. Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh
signifikan negatif terhadap manajemen laba. Hasil penelitian ini mendukung pandangan
bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap manajemen laba artinya semakin
besar ukuran perusahaan maka perilaku manajemen laba akan semakin menurun, sebab
perusahaan yang lebih besar kurang memiliki dorongan untuk melakukan manajemen laba
dibandingkan perusahaan-perusahaan kecil dan karena perusahaan besar dipandang lebih
kritis oleh pemegang saham dan pihak luar. Perusahaan perbankan yang berukuran relatif
besar akan dilihat kinerjanya oleh publik sehingga perusahaan tersebut akan melaporkan
kondisi keuangannya dengan lebih berhati-hati, lebih menunjukan keinformatifan
informasi yang terkandung didalamnya, dan lebih transparan. Oleh karena itu perusahaan
lebih sedikit melakukan manajemen laba. Sedangkan perusahaan yang mempunyai ukuran
yang lebih kecil mempunyai kecenderungan untuk melakukan manajemen laba dengan
melaporkan laba yang lebih besar untuk menunjukan kinerja perusahaan yang memuaskan.

10. Kelemahan Artikel


Adapun kelemahan dalam artikel ini adalah sebagai berikut:
1) Rumusan masalah tidak disebutkan secara gamblang.
2) Adanya kesalahan dalam penulisan.
3) Terdapat kesalahan pada penggunaan tanda baca.

B. PROPOSAL PENGEMBANGAN

Hal-hal yang dikembangkan antara lain:

1. Penambahan variabel leverage dan profitabilitas.

2. Penggantian lokasi penelitian dari perusahaan perbankan menjadi perusahaan manufaktur.

4
Judul: “Pengaruh Ukuran Perusahaan, Leverage dan Profitabilitas pada Manajemen
Laba di Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-
2017”

1. Latar Belakang Masalah

Laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi penting yang digunakan
investor dalam menilai kinerja perusahaan yang go public. Menurut Standar Akuntansi
Keuangan (SAK), laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan.
Laporan keuangan harus mampu menyajikan informasi yang relevan agar dapat digunakan
oleh investor untuk pengambilan keputusan atas invesatasinya. Bagi investor laporan
keuangan merupakan data dasar dalam melakukan analisis saham serta untuk memprediksi
prospek earning di masa datang.

Berdasarkan kenyataan yang ada, seringkali perhatian pengguna laporan keuangan


hanya ditujukan kepada informasi laba, tanpa memperhatikan bagaimana laba tersebut
dihasilkan. Hal ini mendorong manajemen perusahaan untuk melakukan beberapa
tindakan yang disebut manajemen laba (earning management). Menurut Sri Sulistyanto
(2008:6), manajemen laba sebagai upaya manajer perusahaan untuk mengintervensi atau
mempengaruhi informasi dalam laporan keuangan dengan tujuan untuk mengelabuhi
stakeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi perusahaan. Manajemen laba
(earning management) merupakan potensi manajemen akrual untuk memperoleh
keuntungan. Deteksi atas kemungkinan dilakukannya manajemen laba dalam laporan
keuangan diteliti dengan menggunakan proksi Discretionary Accrual (DA). Discretionary
Accrual adalah komponen akrual yang berada dalam kebijakan manajer, artinya manajer
memberi intervensinya dalam proses pelaporan akuntansi.

Variabel yang berpengaruh pada manajemen laba adalah ukuran perusahaan. Ukuran
perusahaan menurut Sumarmadji dan Sularto (2007) menggambarkan total aktiva,
penjualan dan kapitalisasi pasar yang dimiliki perusahaan. Perusahaan dengan ukuran
sedang dan besar lebih memiliki tekanan yang kuat dari pada stakeholdersnya, agar kinerja
perusahaan sesuai dengan harapan para investornya dibandingkan dengan perusahaan
kecil. Hal ini mendorong manajemen untuk dapat memenuhi harapan investor tersebut
sehingga kecenderungan manajemen melakukan manajemen laba semakin besar.
Penelitian Murni (2017) menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh positif
terhadap manajemen laba, akan tetapi penelitian yang dilakukan oleh Astuti (2017)

5
menunjukkan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen
laba. Penelitian lain yaitu, Pratama (2016) juga menemukan bahwa ukuran perusahaan
tidak berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba.

Leverage merupakan rasio antara total kewajiban dengan total aset. Semakin besar
tingkat leverage berarti semakin tinggi nilai hutang perusahaan. Perusahaan yang
mempunyai rasio leverage yang tinggi akibat besarnya jumlah hutang dibandingkan
dengan aktiva yang dimiliki perusahaan akan cenderung melakukan manipulasi dalam
bentuk manajemen laba (Widyaningdyah, 2001). Penelitian terdahulu yang terkait dengan
leverage dan manajemen laba adalah penelitian Elfira (2014) yang menyatakan bahwa
leverage tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Wulansari (2013) menemukan
bahwa leverage berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap kualitas laba pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, akan tetapi penelitian yang
dilakukan oleh Astuti (2017) menunjukkan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap
manajemen laba perusahaan-perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
(BEI) periode 2013-2015.

Efektivitas perusahaan dalam menghasilkan laba melalui pengoperasian aktiva yang


dimiliki menjadi tolok ukur kinerja perusahaan dapat pula memotivasi tindakan
manajemen laba pada suatu perusahaan. Semakin besar Return on Assets (ROA) sebagai
rasio profitabilitas yang dimiliki oleh sebuah perusahaan maka semakin efisien
penggunaan aktiva sehingga akan memperbesar laba. Penelitian yang dilakukan oleh
Aljana (2017) menemukan bahwa profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan
terhadap manajemen laba, pun diperkuat oleh penelitian Putri (2016) yang menunjukkan
bahwa profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba, pun
diperkuat oleh penelitian Putri (2016) yang menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh
positif dan signifikan terhadap manajemen laba.

Berdasarkan adanya inkonsistensi hasil penelitian tersebut, maka peneliti tertarik


untuk melakukan penelitian kembali yang berjudul “Pengaruh Ukuran Perusahaan,
Leverage, dan Profitabilitas Pada Manajemen Laba di Perusahaan Manufaktur yang
Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017”.

2. Rumusan Masalah

6
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

2.1 Bagaimana pengaruh ukuran perusahaan pada manajemen laba di perusahaan


manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017?

2.2 Bagaimana pengaruh leverage pada manajemen laba di perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Bursa Efek Indoensia Periode 2015-2017?

2.3 Bagaimana pengaruh profitabilitas pada manajemen laba di perusahaan manufaktur


yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017?

3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

3.1 Untuk mengetahui pengaruh ukuran perusahaan pada manajemen laba di perusahaan
manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017.

3.2 Untuk mengetahui pengaruh leverage pada manajemen laba di perusahaan manufaktur
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017.

3.3 Untuk mengetahui pengaruh profitabilitas pada manajemen laba di perusahaan


manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017.

4. Kegunaan Penelitian

1. Kegunaan Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan bukti empiris yang hasilnya
dapat memperkuat ataupun merevisi teori yang berhubungan sehingga dapat
menjelaskan kejadian – kejadian aktual yang tengah dihadapi.
2. Kegunaan Praktis
1) Bagi Pemangku Kepentingan

7
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi perihal variabel yang
dirasa perlu untuk diperhatikan serta sebagai bahan pertimbangan dalam rangka
pengambilan keputusan.
2) Bagi Akademisi
Hasil dari penelitian ini diharapkan akan berguna sebagai bahan literatur dalam
rangka menambah wawasan mengenai perkembangan teori manajemen laba.
3) Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan bahan kajian dalam rangka
untuk menambah wawasan maupun untuk pengembangan penelitian selanjutnya.

5. Kajian Pustaka

5.1 Manajemen Laba

Manajemen laba merupakan campur tangan manajemen dalam proses penyusunan


laporan keuangan yang tujuannya untuk dilaporkan kepada pihak eksternal dengan
tujuan tertentu. Manajemen laba dapat mengurangi kredibilitas dari laporan keuangan
karena tidak memcerminkan kondisi perusahaan yang sesungguhnya. Para pemakai
laporan keuangan di mungkinkan akan mengambil keputusan yang salah di karenakan
mereka memperoleh informasi keuangan yang salah (Setiawati dan Na’im, 2000
dalam Achmad, et al., 2007). Menurut Healy dan Wahlen 1998 dalam Fauziyah
(2014), manajemen laba mengandung beberapa aspek yaitu:

a) Intervensi manajemen laba terhadap pelaporan keuangan dapat dilakukan melalui


penggunaan judgment, misalnya judgment yang digunakan untuk mengestimasi
peristiwa-peristiwa ekonomi dimasa depan untuk diungkapkan dalam laporan
keuangan perusahaan.
b) Tujuan manajemen laba adalah untuk menyesatkan stakeholders mengenai
kinerja ekonomi perusahaan. Hal ini muncul ketika manajemen memiliki
informasi lebih yang tidak dapat diakses oleh pihak lainnya.

5.2 Ukuran Perusahaan

Secara umum perusahaan adalah suatu unit kegiatan tertentu yang mengubah
sumber- sumber ekonomi menjadi bernilai guna berupa barang dan jasa dengan tujuan
untuk memperoleh keuntungan dan tujuan lainnya. Pada dasarnya, skala ukuran

8
perusahaan dikelompokkan menjadi tiga, yaitu perusahaan kecil, sedang, dan besar.
Menurut Suwito dan Herawaty (2005), skala perusahaan merupakan ukuran yang
dipakai untuk mencerminkan besar kecilnya perusahaan yang didasarkan kepada total
aset perusahaan. Perusahaan dengan pendapatan di bawah 5 milyar rupiah per tahun
digolongkan menjadi perusahaan kecil, sedangkan perusahaan dengan pendapatan di
atas 5 milyar rupiah per tahun digolongkan menjadi perusahaan sedang. Perusahaan
besar memiliki pendapatan lebih dari 50 miliar rupiah per tahun.

Moses (1987) mengemukakan bahwa perusahaan-perusahaan yang lebih besar


memiliki motivasi yang lebih besar pula untuk melakukan pemerataan laba
dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan yang lebih kecil karena perusahaan-
perusahaan yang lebih besar biasanya menjadi subjek pengawasan dan pemeriksaan
dari pemerintah maupun masyarakat umum.

5.3 Leverage

Rasio leverage dikenal sebagai rasio utang atau rasio solvabilitas. Rasio ini
menunjukkan bagaimana kemampuan perusahaan untuk memenuhi segala kewajiban
finansial perusahaan, baik jangka panjang maupun jangka pendek. Kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajibannya dipandang sangat penting, terutama bagi
kreditur, karena akan menunjukkan bagaimana posisi keuangan perusahaan. Semakin
kecil rasio leverage, maka akan semakin kecil pula risiko yang akan ditanggung oleh
kreditur jika menanamkan modalnya di perusahaan tersebut.

Leverage merupakan pedang bermata dua menurut Van Horne (2007:182) yang
mana jika laba perusahaan dapat diperbesar, maka begitu pula dengan kerugiannya.
Dengan kata lain, penggunaan leverage dalam perusahaan bisa saja meningkatkan
laba perusahaan, tetapi bila terjadi sesuatu yang tidak sesuai harapan, maka
perusahaan dapat mengalami kerugian yang sama dengan persentase laba yang
diharapkan, bahkan mungkin saja lebih besar.

5.4 Profitabilitas

Rasio profitabilitas adalah rasio yang paling dominan yang digunakan oleh para
investor untuk mengukur kinerja suatu perusahaan dalam menghasilkan laba/
keuntungan. Jika kinerja keuangan perusahaan dalam menghasilkan laba meningkat
maka hal ini akan menunjukkan daya tarik bagi investor dan calon investor dalam

9
menanamkan modalnya ke perusahaan. Jika permintaan saham meningkat maka harga
saham akan cenderung meningkat.

Profitabilitas merupakan suatu indikator kinerja yang dilakukan manajemen


dalam mengelola kekayaan perusahaan yang ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan
(Sudarmadji dan Sularto, 2007). Tingkat profitabilitas yang tinggi menunjukkan
bahwa kinerja perusahaan baik dan pengawasan berjalan dengan baik, sedangkan
dengan tingkat profitabilitas yang rendah menunjukkan bahwa kinerja perusahaan
kurang baik, dan kinerja manajemen tampak buruk di mata principal.

6. Hipotesis

Berdasarkan uraian yang dijelaskan pada bab ini, maka dirumuskan hipotesis sebagai
berikut:

6.1 Pengaruh Ukuran Perusahaan pada Manajemen Laba di perusahaan


manufaktur yang terdapat di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017

Penelitian terdahulu yang terkait dengan ukuran perusahaan dan manajemen laba
adalah penelitian Astuti (2017) yang menunjukkan bahwa ukuran perusahaan tidak
berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba perusahaan-perusahaan perbankan
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2013-2015. Penelitian lain yaitu,
Pratama (2016) menemukan bahwa ukuran perusahaan tidak berpengaruh secara
signifikan terhadap manajemen laba, diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh
Anggraeni (2013) dengan hasil ukuran perusahaan tidak berpengaruh secara
signifikan pada manajemen laba.

H1: Ukuran perusahaan tidak berpengaruh pada manajemen laba.

6.2 Pengaruh Leverage pada Manajemen Laba di Perusahaan Manufaktur yang


Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017

Penelitian terdahulu yang terkait dengan leverage dan manajemen laba adalah
penelitian Elfira (2014) yang menyatakan bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap
manajemen laba. Wulansari (2013) menemukan bahwa leverage berpengaruh negatif
dan tidak signifikan terhadap kualitas laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar

10
di Bursa Efek Indonesia, diperkuat juga dengan penelitian Wibowo (2016) yang
menunjukkan bahwa variabel Leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap
manajemen laba.

H2: Leverage berpengaruh negatif pada manajemen laba.

6.3 Pengaruh Profitabilitas pada Manajemen Laba di Perusahaan Manufaktur yang


Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2017

Penelitian terdahulu yang terkait dengan manajemen laba adalah penelitian Murni
(2017) yang menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap
manajemen laba. Aljana (2017) menemukan bahwa profitabilitas berpengaruh positif
dan signifikan terhadap manajemen laba, pun diperkuat oleh penelitian Putri (2016)
yang menunjukkan bahwa profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap
manajemen laba.

H3: Profitabilitas berpengaruh positif pada manajemen laba.

7. Metode Penelitian

7.1 Desain Penelitian

Ukuran Perusahaan (X1)

Leverage (X2) Manajemen Laba (Y)

Profitabilitas (X3)

7.2 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah di perusahaan manufaktur yang terdaftar pada BEI
dari tahun 2015-2017.

7.3 Objek Penelitian

11
Pada penelitian ini, objek penelitiannya yakni praktik manajemen laba pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2015-2017.

7.4 Identifikasi Variabel

Sesuai dengan pokok masalah dan hipotesis yang diajukan, variabel-variabel yang
dianalisis dalam penelitian ini dapat diidentifikasikan secara garis besarnya adalah:

1) Variabel dependen atau variabel terikat, yaitu variabel yang dijelaskan atau
dipengaruhi oleh variabel bebas. Variabel dependen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah manajemen laba.
2) Variabel independen atau variabel bebas, yaitu variabel yang diduga
mempengaruhi variabel terikat. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah ukuran perusahaan, leverage dan profitabilitas.
7.5 Definisi Operasional Variabel

7.5.1 Manajemen Laba

Menurut (Dela & Sunaryo, 2013) manajemen laba merupakan campur


tangan manajemen dalam proses penyusunan laporan keuangan eksternal guna
mencapai tingkat laba tertentu dengan tujuan menguntungkan diri sendiri
(perususahaan sendiri). Dalam rangka mengukur manajemen laba, penelitian
ini menggunakan disrectionary accruals sebagai proksi manajemen laba yang
dihitung dengan menggunakan Modifield Jones Model. Dechow et al dalam
Nuryaman (2008) menyatakan bahwa Model ModifieldJones memiliki
kemampuan yang lebih baik untuk mendeteksi manajemen laba dibandingkan
model lain. Poin awal dalam pengukuran discretionary accruals adalah
menghitung total akrual dimana dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu
discretionary accruals dan non discretionary accruals. Non discretionary
accruals adalah komponen akrual diluar kebijakan manajer, sedangkan yang
dimaksud dengan discretionary accruals adalah komponen-komponen akrual
yang dipengaruhi oleh kebijakan manajer. Semakin besar discretionary
accrual, maka semakin besar pula manajemen laba yang dilakukan oleh pihak
manajemen. Model perhitungan pada penelitian ini yaitu:

TAit = Nit – CFOit

12
Nilai Total Akrual (TA) yang diestimasi dengan persamaan regresi Ordinary
Least Square (OLS) sebagai berikut:
TAit/Ait-1 = β1 (1 / Ait-1) + β2(ΔRevt / Ait-1) + β3 (PPEt/Ait-1) + e

Dengan menggunakan koefisien regresi diatas nilai non discretionary accruals


(NDA) dapat dihitung dengan rumus :
NDAit = β1 (1 / Ait-1) + β2(ΔRevt / Ait-1 - ΔRect / Ait-1 ) + β3 (PPEt/Ait-1)

Selanjutnya discretionary accrual (DA) dapat dihitung sebagai berikut :


DAit = TAit/Ait-1 – NDAit
7.5.2 Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan dapat dilihat dari total aktiva perusahaan pada akhir
tahun. Besar kecilnya perusahaan juga dapat dilihat dari total penjualan,
dimana perusahaan dengan penjualan yang tinggi cenderung menggunakan
kebijakan akuntansi yang mengurangi laba. Ukuran perusahaan juga dapat
dihitung dengan rumus: Size = Ln Total Assets.

7.5.3 Leverage

Leverage adalah perbandingan antara total kewajiban dengan total aktiva


perusahaan. Rasio ini menunjukkan besarnya aktiva yang dimiliki perusahaan
yang dibiayai dengan hutang. Rasio leverage menunjukkan seberapa besar aset
didanai dengan hutang. Rasio leverage dalam penelitian ini diukur dengan
rumus sebagai berikut: Leverage = Total Utang : Total Aset.

7.5.4 Profitabilitas

Profitabilitas merupakan suatu indikator kinerja manajemen dalam


mengelola kekayaan perusahaan yang ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan
perusahaan (Sudarmadji dan Sularto, 2007). Profitabilitas dalam penelitian ini
diukur dengan skala rasio Return on Assets (ROA) yang menunjukkan tingkat
pengembalian atas aktiva. Pengukuran ROA adalah perbandingan antara laba
bersih setelah pajak terhadap total aset, yang dirumuskan sebagai berikut
(Horne dan Wachowicz, 2009:224): ROA = Laba bersih setelah pajak : Total
Aset.

13
7.6 Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder
yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari laporan keuangan tahunan
perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2012–
2017. Data tersebut diperoleh dari Indonesian Capital Market Directory (ICMD) dan
situs Bursa Efek Indonesia.

7.7 Metode Penentuan Sampel

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan


manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015 sampai 2017.
Jumlah perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama
periode 2015-2017 berjumlah 149 perusahaan. Dari 149 perusahaan manufaktur
tersebut terdapat 6 perusahaan yang tidak listing di Bursa Efek Indonesia (BEI)
selama 3 tahun berturut-turut, 22 perusahaan yang tidak mempublikasikan laporan
keuangan tahunan, 24 perusahaan yang tidak memakai mata uang rupiah (IDR) dalam
pelaporannya, 10 perusahaan yang tidak menampilkan tanggal penyampaian laporan
keuangan tahunan, 10 perusahaan yang tidak menerbitkan laporan keuangan secara
lengkap, sehingga perusahaan manufaktur yang dijadikan sampel sebanyak 74
perusahaan.

7.8 Teknik Analisis Data

1) Analisis Statistik Deskriptif


Menurut Gozali (2009) dalam (Sudarmadji, 2012), statistik deskriptif
memberikan gambaran atau deskripsi tentang suatu data yang dilihat melalui nilai
rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range,
kurtosis, dan skewness. Skewness mengukur kemencengan dari data dankurtosis
mengukur puncak dari distribusi data. Data yang terdistribusi secara normal
mempunyai nilai skewness dan kurtosis mendekati nol.
2) Uji Asumsi Klasik

14
Menurut Gozali (2009) dalam (Sudarmadji, 2012), uji asumsi klasik bertujuan
untuk mengetahui kelayakan penggunaan model regresi dalam penelitian ini. Uji
asumsi terdiri dari uji multikolonieritas, uji autokorelasi, uji heteroskedastisitas,
dan uji normalitas.
(1) Uji Multikolonieritas
Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Untuk mendeteksi ada atau
tidaknya multikolonieritas di dalam model regresi sebagai berikut (Ghozali,
2009):
a. Nilai R² yang dihasilkan sangat tinggi, tetapi secara individual variabel-
variabel independen banyak yang tidak signifikan dan mempengaruhi
variabel dependen.
b. Menganalisis matrik korelasi variabel-variabel independen. Jika cukup
tinggi (di atas 0,90), maka terdapat multikolonieritas.
c. Dilihat dari nilai tolerance (0,10) dan variance inflation factor (<10).
(2) Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear
ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan
pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Autokorelasi muncul karena
observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lain (Ghozali,
2009). Untuk menguji autokorelasi antara lain dapat dilakukan dengan
melakukan Uji Durbin Watson (Ghozali, 2009).
(3) Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
terjadi ketidaksamaan variance dari residual antara satu pengamatan dengan
lainnya. Pengujian untuk mendeteksi ada atau tidaknya heterokedastisitas
adalah dengan melakukan uji glejser. Dimana Glejser mengusulkan untuk
meregres nilai absolute residual terhadap variabel independen. Jika tidak
terdapat signifikansi maka tidak terdapat heteroskedastisitas dalam model.
(4) Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,
variabelpengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Menurut
Ghozali (2009) ada dua cara untuk mendeteksi apakah residual berdistribusi
normal atau tidak, yaitu dengan cara analisis grafik dan analisis statistik.
3) Uji Kelayakan Model (Uji F)
Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen
atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara

15
bersama-sama terhadap variabel dependen/terikat (Ghozali, 2011:98). Dalam uji
F kesimpulan yang diambil adalah dengan melihat signifikansi (α) dengan
ketentuan: α > 5 % : tidak mampu menolak H0, α < 5 % : Menolak H0
4) Uji Hipotesis (Uji t)
Uji statistik t pada dasarnya menunjukan seberapa jauh pengaruh satu variabel
independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen (Ghozali,
2011:98). Kesimpulan yang diambil dalam uji t ini adalah dengan melihat
signifikansi (α) dengan ketentuan: α > 5% : tidak mampu menolak H0, α < 5% :
Menolak H0.
5) Koefisien Determinasi (R²)
Koefisien determinasi mengukur seberapa jauh kemampuan model dapat
menjelaskan variabel terikat. Nilai koefisien determinasi antara 0 dan 1. Nilai R²
yang kecil berarti kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel
terikat sangat terbatas, begitu pula sebaliknya (Ghozali, 2009).
6) Analisis Regresi Linier Berganda
Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda dengan
menggunakan program SPSS. Digunakan analisis regresi linier berganda karena
analisis regresi digunakan untuk meneliti pengaruh variabel bebas terhadap
variabel terikat serta menunjukkan arah hubungan variabel-variabel tersebut.
Hasil dari analisis regresi adalah berupa koefisien untuk masing-masing variabel
independen. Dalam penelitian ini variabel independen yang digunakan adalah
ukuran perusahaan (SIZE), leverage (LEV), dan profitabilitas (ROA). Variabel
dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Manajemen Laba (DA).
Model regresi yang dikembangkan untuk menguji hipotesis-hipotesis yang telah
dirumuskan dalam penelitian ini adalah:
DA = α + β1SIZE + β2LEV + β3 β4ROA + e
Keterangan:
α = konstanta
β = koefisien regresi
DA = discretionary accruals
SIZE = ukuran perusahaan
LEV = leverage
ROA = profitabilitas
e = eror

16
DAFTAR RUJUKAN

Anggraeni R. Meitha. 2013. Pengaruh Struktur Kepemilikan Manajerial, Ukuran Perusahaan,


dan Praktik Corporate Governance Terhadap Manajemen Laba, Jurnal Ekonomi &
Bisnis, Vol. 2, No. 3, Tahun 2013:1-1
Ardi Murdoko Sudarmadji dan Lana Sularto, 2007. Pengaruh Ukuran Perusahaan,
Profitabilitas, leverage, dan Tipe Kepemilikan Perusahaan Terhadap Luas Voluntary
Disclosure Laporan Keuangan Tahunan, Proceeding PESAT, Volume 2
Ardi Murdoko Sudarmadji dan Lana Sularto. 2012. Pengaruh Ukuran Perusahaan,
Profitabilitas, leverage, dan Tipe Kepemilikan Perusahaan Terhadap Luas Voluntary
Disclosure Laporan Keuangan Tahunan, Proceeding PESAT, Volume 2.

17
Dela, Feramon dan Sunaryo, Kunti. 2013.Pengaruh Asimetri Informasi, Ukuran Perusahaan
dan Kepemilikan Manajerial Terhadap Praktik Manajemen Laba. Jurnal: Kajian
Akuntansi, Volume 5,Nomor 1,Juni 2010,ISSN 1907-1442
Elfira, Anisa. 2014. Pengaruh Kompensasi Bonus dan Leverage Terhadap Manajemen Laba.
Jurnal Akuntansi. Vol 2. No 2.
Ghozali, Imam. 2009. Aplikasi Analisis Multivivariate dengan Program SPSS. Badan
Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang
I Gusti Bagus Angga Pratama, I. G. 2016. Pengaruh Ukuran Perusahaan Dan Leverage
Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Profitabilitas Sebagai Variabel Mediasi. E-Jurnal
Manajemen Unud,Vol. 5, No. 2 Issn : 2302- 8912 , 1338-1367
Moses. 1987. Income Smoothing and Incentives: Empirical Tests Using Accounting Changes.
The Acoounting Review. Vol 62 No 2
Nuryaman. 2008. Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan, Ukuran Perusahaan, dan Mekanisme
Corporate Governance terhadap Management Laba. Simposium Nasional Akuntansi XI,
Pontianak.
Putri, Destika Maharani. 2016. Pengaruh Karakteristik Komite Audit Terhadap Manajemen
Laba (Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia Periode Tahun 2007-2009). Skripsi. Universitas Diponegoro. Semarang
Rahmawati, Dina dan Dul Muid. 2012. Analisis Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap
Praktik Perataan Laba (Studi Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Tahun
2007—2010). Journal Of Accounting. Universitas Diponegoro
Suwito, Edy dan Arleen Herawaty. 2005. Analisis Pengaruh Karakteristik Perusahaan
terhadap Tindakan Perataan Laba yang dilakukan oleh Perusahaan yang Terdaftar di
Bursa Efek Jakarta. Simposium Nasional Akuntansi VIII Solo. 15-16 September
Van Horne, James C dan Jhon M. Wachowicz. 2007. Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan.
Buku Dua. Edisi Keduabelas. Jakarta: Salemba Empat
Wibowo. 2016. Manajemen Kinerja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Widhi Astuti, Pipit dan Triyono. 2017. Pengaruh Profitabilitas, Ukuran Perusahaan, Leverage,
Dan Kualitas Audit Terhadap Manajemen Laba (Studi Empiris Pada Perusahaan
Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2015)
Wulansari, Yenny. 2013. Pengaruh Investment Opportuny Set, Likuiditas dan Leverage
Terhadap Kualitas Laba pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI. Jurnal.
Universitas Negeri Padang

18