Anda di halaman 1dari 26

I.

PENDAHULUAN

Mioma uteri adalah tumor panggul yang paling sering terjadi pada wanita. Tumor

ini letaknya pada alat reproduksi wanita. Tumor ini adalah jenis tumor jinak yang

transformasi kearah ganas sangat lah langka. Mioma uteri berasal dari sel-sel otot polos

rahim tetapi dalam kasus-kasus tertentu tumor ini berasal dari sel-sel otot polos pembuluh

darah rahim. Sekitar 20-30% terjadi pada wanita berusia di atas 35 tahun. Jumlah

penderita belum diketahui secara akurat karena banyak yang tidak merasakan keluhan

sehingga tidak segera memeriksakannya ke dokter. 20% wanita yang terdiagnosis mioma

uteri telah melakukan histerektomi pada usia 40 dan dan 1/3nya pada usia 65.

Mioma uteri sering ditemukan pada wanita nullipara, disini faktor keturunan juga

berperan. Asal mulanya penyakit mioma uteri berasal dari otot polos rahim. Beberapa

teori menyebutkan pertumbuhan tumor ini disebabkan rangsangan hormon estrogen

karena sering kali tumbuh lebih cepat pada kehamilan dan biasanya berkurang ukurannya

sesudah menopause. Berdasarkan lokasinya mioma uteri dibagi dalam tiga jenis, yaitu

pertumbuhan tetap di dalam dinding rahim, pertumbuhan ke arah rongga rahim dan

pertumbuhan ke arah permukaan dinding rahim. Mioma uteri merupakan indikasi yang

paling umum untuk histerektomi.

Mioma Uteri dapat mengganggu kehamilan dengan dampak berupa kelainan letak

bayi dan plasenta, terhalangnya jalan lahir, kelemahan pada saat kontraksi

rahim,perdarahan yang banyak setelah melahirkan dan gangguan pelepasan plasenta,

bahkan bisa menyebabkan keguguran. Sebaliknya, kehamilan juga bisa berdampak

1
memperparah Mioma Uteri. Saat hamil, mioma uteri cenderung membesar, dan sering

juga terjadi perubahan dari tumor yang menyebabkan perdarahan dalam tumor sehingga

menimbulkan nyeri.

2
II. DASAR TEORI

II.1 Definisi

Mioma uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan

ikat sehingga sering pula disebut dengan leiomioma, fibromioma atau fibroid.

II. 2 Insidensi

Merupakan jenis tumor uterus yang paling sering, disangka bahwa 20 % wanita

yang berumur 35 tahun menderita mioma uteri walaupun tidak disertai gejala-gejala.

Mioma uteri tidak pernah terjadi setelah menopause, bahkan yang telah ada pun biasanya

mengecil bila mendekati masa menopause. Setelah menopause kira-kira hanya 10 % saja

mioma yang masih tumbuh. Menurut Novak dalam Sarwono(1994) pada 27 % wanita

berumur 25 tahun mempunyai sarang mioma, dan lebih banyak pada wanita kulit hitam..

Di Indonesia, mioma uteri di temukan sebanyak 2,39 – 11,7 % pada semua

penderita ginekologi yang dirawat. Jarang ditemukan satu sarang mioma saja pada uterus,

biasanya berjumlah 5-20 sarang, walaupun ada juga yang mencapai jumlah 100 sarang.

Biasanya untuk mencapai ukuran sebesar kepalan tangan dibutuhkan waktu tiga tahun.

Mioma uteri lebih banyak ditemukan pada nulipara dan wanita-wanita yang kurang subur.

II. 3 Faktor Resiko

3
Ada beberapa faktor resiko terjadinya mioma uteri, antara lain :

1. Umur, Kebanyakan wanita mulai didiagnosis mioma uteri pada usia diatas 40

tahun.

2. Menarche dini, Menarche dini ( < 10 tahun) meningkatkan resiko kejadian

mioma 1,24 kali.

3. Ras, Dari hasil penelitian didapatkan bahwa wanita keturunan Afrika-Amerika

memiliki resiko 2,9 kali lebih besar untuk menderita mioma uteri dibandingkan

dengan wanita Caucasian.

4. Riwayat keluarga, Jika memiliki riwayat keturunan yang menderita mioma uteri,

akan meningkatkan resiko 2,5 kali lebih besar.

5. Berat badan, Dari hasil penelitian didapatkan bahwa resiko mioma meningkat

pada wanita yang memiliki berat badan lebih atau obesitas berdasarkan indeks

massa tubuh.

6. Kehamilan, Semakin besar jumlah paritas, maka akan menurunkan angka

kejadian mioma uteri.

II. 4 Patofisiologi

Patofisiologi dari mioma ini belum diketahui sebab pastinya. Tetapi ada beberapa

teori yang mencoba menjelaskan kejadian mioma ini. Teori-teori tersebut antara lain:

a. Teori sell nest ( sel imatur/sel embrional)

Teori ini menjelaskn bahwa asal mioma adalah sel imatur bukan dari selaput otot

yg matur

b. Teori hiperesterogen

4
Teori ini dibuktikan oleh lipschuta yang memberikan esterogen pada kelinci, yang

ternyata menimbulkan tumor fibromatosa baik pada permukaan ataupun di dalam

abdomen. Efek fibromatosa dapat dicegah dengan pemberian preparat

progesterone atau testoteron.

c. Teori reseptor

Reseptor esterogen pada mioma ternyata banyak dari sel miometrium normal.

Teori yang paling banyak dipergunakan adalah teori hormonal estrogen. Mioma

memiliki reseptor estrogen yang lebih banyak daripada miometrium

normal(puukka ,dkk). Sarang mioma uteri yang berasal dari servix hanya 1-3 % saja,

sisanya murni dari otot-otot uterus itu sendiri.

II. 5 Klasifikasi

Pada umumnya mioma uteri ini diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu :

1. Mioma sub mukosum, di mana mioma berada di bawah endometrium dan

menonjol ke dalam cavum

uteri. Mioma submukosum

ini dapat tumbuh bertangkai

menyerupai polip dan

dilahirkan melalui saluran

servix (myomgeburt). Jenis

ini sering memberikan

keluhan gangguan

perdarahan. Mioma

5
submukosa umumnya dapat diketahui dari tindakan kuretase, dengan adanya

benjolan waktu kuret, yang dikenal sebagai currete bump dan dengan

pemeriksaan histeroskopi dapat diketahui posisi tangkai tumor.

2. Mioma intramural, di mana mioma berada di dinding uterus diantara serabut

miometrium. Karena pertumbuhan tumor, jaringan otot sekitarnya akan terdesak

dan terbentuk simpai yang mengelilingi tumor. Bila di dalam dinding rahim

dijumpai banyak mioma, maka uterus akan mempunyai bentuk yang berbenjol-

benjol dengan konsistensi yang padat.

3. Mioma subserosum, di mana mioma tumbuh keluar dari dinding uterus sehingga

menonjol pada permukaan uterus dan diliputi oleh serosa. Mioma subserosum ini

dapat tumbuh di antara ke dua lapisan ligamentum latum menjadi mioma

intraligamenter, atau tumbuh menempel pada jaringan lain, ke ligamentum

kemudian keluar dari uterus yang dinamakan Wondering/parasitic fibroid.

Jenis mioma uteri yang paling sering adalah jenis intramural (54%), subserosa (48%),

submukosa (6,1%) dan jenis intraligamenter (4,4%).

II. 6 Perubahan Sekunder

Pada mioma uteri, biasanya terjadi enam perubahan sekunder pada mioma itu

sendiri. Adapun ke-enam perubahan sekunder itu adalah :

1. Atrofi, Mioma dapat mengecil pada masa pasca menopause dan rangsangan

esterogen hilang atau setelah kehamilan.

6
2. Degenerasi hialin, sering terjadi pada usia lanjut. tumor kehilangan struktur

aslinya menjadi homogen, jaringan ikat bertambah, berwarna putih dan keras,

disebut “myoma durum”

3. Degenerasi kistik, di mana ada bagian mioma yang mencair kemudian terbentuk

ruang-ruang ireguler berisi seperti agar-agar atau terjadi pembengkakan luas dan

bendungan limfe sehingga mirip seperti limfangioma.

4. Degenerasi membatu (Calcireous degeneration), sering terjadi pada usia lanjut,

oleh karena adanya gangguan dalam sirkulasi. Dengan adanya pengendapan

garam kapur pada sarang mioma maka mioma menjadi keras.

5. Degenerasi merah (Carneous degenaration), di mana mioma menjadi kemerahan

karena kehamilan, nifas, dan nekrosis sub-akut (yang dikarenakan oleh gangguan

vaskuler). Degenarasi merah tampak khas apabila terjadi pada kehamilan muda

disertai emesis, haus sedikit demam, kesakitan, tumor pada uterus membesar dan

nyeri pada perabaan.

6. Degenerasi lemak, jarang terjadi dan biasanya merupakan lanjutan dari degenerasi

hialin.

II. 7 Gejala dan Tanda

Kasus mioma uteri ini 50 % nya di temukan secara kebetulan pada pemeriksaan

ginekologi karena tidak mengganggu, kemudian gejala yang dirasakan ini sangat

tergantung pada lokasi mioma, besarnya serta perubahan mioma dan komplikasi yang

terjadi. Gejala yang biasa dikeluhkan pasien adalah :

7
1. Perdarahan abnormal, dapat berupa hipermenore, menoragia maupun metroragia

yang bisa disebabkan mioma sub mukosum.

2. Nyeri, dapat terjadi apabila :

a) Mioma menyempitkan kanalis cervikalis

b) Mioma sub mukosum sedang dikeluarkan dari rongga rahim

c) Ada penyakit adneksa ( inflamasi pada tuba dan ovarium) seperti adneksitis.

Salpingitis (Inflamasi akut atau kronis pada tuba uterina) oovoritis (inflamasi

pada ovarium)

d) Terjadi degenerasi merah atau putaran tangkai

3. Penekanan, Terdapatnya tanda-tanda penekanan tergantung dari besar dan lokasi

myoma uteri.

 pada vesica menyebabkan distorsi dengan gangguan miksi

 pada uretra menyebabkan retensi uri

 pada ureter menyebabkan hidroureter dan/ hidronefrosis

 pada rektum dapat menyebabkan obstipasi dan nyeri defekasi

 pada pembuluh darah dan pembuluh limfe di panggul dapat menyebabkan

pembesaran pembuluh–pembuluh vena, edema tungkai dan nyeri panggul.

4. Infertilitas dan Abortus, terjadi bila sarang mioma intra mural menutup atau

menekan pars intersisialis tuba. Mioma submukosum memudahkan terjadinya

abortus. Apabila ditemukan mioma pada wanita dengan keluaran infertilitas, harus

dilakukan pemeriksaan yang seksama terhadap sebab-sebab lain dari infertilitas,

sebelum menghubungkannya dengan adanya myoma uteri.

8
II. 8 Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang

Diagnosis dapat diperoleh dari data anamnesis dan pemeriksaan, baik

pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang.

Hasil yang diperoleh dari anamnesis berupa rasa berat di perut maupun terasa ada

benjolan pada perut bagian bawah, perdarahan abnormal, retensio urin, dll.

Dari pemeriksaan fisik dengan pemeriksaaan bimanual (pemeriksaan dalam) akan

didapatkan hasil teraba tumor padat uterus yang terlatak di linea mediana atau agak ke

samping dan berbenjol-benjol.

Sedang dari pemeriksaan laboratorium akan didapatkan anemia. Hal ini

merupakan akibat paling sering dari mioma apabila terjadi perdarahan uterus yang

banyak dan habisnya cadangan zat besi.

Pada pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:

a. USG

USG transabdominal dan transvaginal digunakan untuk menetapkan adanya mioma

uteri. Pada USG transvaginal bermanfaat dalam uterus yang kecil. Mioma uteri

secara khas menghasilkan gambaran USG yang mendemonstrasikan irregularitas

kontur maupun pembesaran uterus. Adanya kalsifikasi ditandai oleh fokus-fokus

hiperekoik dengan bayangan akustik. Apabila terjadi degenerasi kistik ditandai

adanya daerah yang hipoekoik.

b. Hiteroskopi

Dengan pemeriksaan ini dapat dilihat

adanya mioma uteri submukosa, apabila

tumornya kecil serta bertangkai.

9
c. MRI (Magnetic Resonance Imaging)

Sangat akurat dalam menggambarkan jumlah, ukuran, dan lokasi mioma. Tetapi MRI

jarang diperlukan. Pada MRI, mioma tampak sebagai massa gelap berbatas tegas dan

dapat dibedakan dari miometrium normal. MRI dapat mendeteksi lesi sekecil 3 mm

yang dapat dilokalisasi dengan jelas, termasuk mioma submukosa. MRI dapat

menjadi alternatif ultrasonografi pada kasus-kasus yang tidak dapat disimpulkan.

II. 9 Pengobatan

Pada kasus mioma uteri, ada beberapa rencana tindakan yang bisa kita lakukan,

tergantung pada usia penderita, paritas, status kehamilan, ukuran tumor, lokasi dan

derajat keluhan. Tidak semua mioma uteri memerlukan terapi pembedahan.

1. Terapi konservatif, dilakukan jika mioma tidak terlalu besar, tidak mengganggu

dan pada wanita menopause, namun tetap dilakukan pengamatan 3-6 bulan untuk

menilai pembesarannya. Mioma akan lisut setelah menoupause.

2. Terapi hormonal.

a. Progestin. Terapi progesterone menggunakan norethindrone, medrogestone,

dan medroxyprogesteron asetat telah terbukti keberhasilannya. Komponen ini

memberikan efek hipoesterogen dengan cara menghambat dan menekan

sekresi gonadotropin.

b. Pemberian GnRH agonis, Terapi ini dilakukan dengan dasar bahwa mioma

terdiri atas sel-sel otot yang dipengaruhi oleh esterogen. GnRH Agonis yang

mengatur reseptor gonadotropin di hipofisis sehingga akan mengurangi

sekresi gonadotropin sehingga sekresi esterogen tertekan. Dengan pemberian

10
ini + 50% mioma akan meyusut. Obatnya adalah buseriline acetate, Pemberian

GnRH agonis selama 16 minggu menghasilkan degenerasi hilin di

miometrium, namun jika dihentikan maka mioma akan tumbuh kembali akibat

pengaruh esterogen. Pemberian terapi ini sebelum operasi akan memudahkan

operasi karena mengurangi ukuran mioma. Terapi ini kurang praktis pada

pasien muda karena kehilangan kepadatan tulang sebagai konsekuensi dari

hipoesterogen. Akan tetapi, terapi ini mungkin berguna pada wanita yang akan

menginjak masa menopause. Efek samping dari pemberian terapi ini adalah

hot flashes, mual, muntah, diare, sembelit, ruam, pusing, jerawat, nyeri

payudara dan sakit kepala.

3. Operatif, Terapi pembedahan dilakukan dengan indikasi :

a. Perdarahan pervaginam abnormal yang memberat

b. Ukuran tumor yang besar

c. Ada kecurigaan perubahan kearah keganasan terutama jika pertambahan

ukuran tumor setelah menopause

d. Retensio urin

e. Tumor yang menghalangi proses persalinan

f. Adanya torsi.

Tindakan operatif diantaranya adalah

a. Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma saja tanpa pengangkatan

uterus. Miomektomi dilakukan dengan pertimbangan jika diharapkan pada

proses selanjutnya penderita masih menginginkan keturunan, namun

kemungkinan terjadinya kehamilan setelah miomektomi ± 30 – 50 %. Selain

11
alasan tersebut, miomektomi juga dilakukan pada kasus mioma yang

mengganggu proses persalinan. Metode lain dari miomektomi adalah dengan

ekstirpasi yang dilanjutkan dengan curetage. Metode ini dilakukan pada kasus

mioma geburt dengan melakukan ekstirpasi lewat vagina. Sebanyak 25 – 35 %

penderita yang telah dilakukan miomektomi masih memerlukan tindakan

terpilih yaitu histerektomi.

b. Histerektomi adalah pengangkatan rahim. Histerektomi dilakukan pada pasien

dengan gejala dan keluhan yang jelas mengganggu. Histerektomi bisa

dilakukan pervaginam pada ukuran tumor yang kecil dan jika ada kesukaran

tekhnis dalam histerektomi total. Tetapi pada umumnya histerektomi

dilakukan perabdomial karena lebih mudah dan pengangkatan sarang mioma

dapat dilakukan lebih bersih dan teliti. Histerektomi total dilakukan dengan

berbagai alasan, salah satunya adalah mencegah kanker servix.

c. Myolisis. koagulasi dari mioma uteri atau miolisis dilakukan dengan

neodymium: laser yttrium-aluminium-garnet melalui degenerasi protein dan

perusakan vaskularisasi. dengan menggunakan jarum elektrik yang

dimasukkan ke dalam myoma pada saat laparoskopi, yang dapat

menghentikan peredaran darah ke myoma sehingga myoma mengecil.

d. Radioterapi, Tindakan ini bertujuan untuk agar ovarium tidak berfungsi lagi

sehingga penderita mengalami menopause dan diharapkan akan menghentikan

perdarahan nantinya.

Syarat-syarat dilakukan radioterapi adalah:

- hanya dilakukan pada wanita yang tidak dapat dioperasi (bad risk patient)

12
- uterus harus lebih kecil dari kehamilan 3 bulan

- bukan jenis submukosa

- tidak disertai radang pelvis atau penekanan pada rektum

- tidak dilakukan pada wanita muda sebab dapat menyebabkan menopause

- tidak ada keganasan uterus.

e. Embolisasi Arteri Uterina, Merupakan teknik terbaru yang sudah diterapkan di

negara-negara maju, yaitu dengan cara menghentikan suplai darah ke uterus

dan tumornya dengan cara memasukkan agen emboli ke arteri uteri. Arteri

uterina yang mensuplai aliran darah ke mioma dihambat secara permanen

dengan agen emboli (partikel polivynil alkohol). Akibat adanya emboli dari

partikel tersebut, myoma akan menyusut dan kemudian mengecil. Teknik ini

memiliki beberapa keuntungan antara lain, tidak ada insisi, waktu

penyembuhan lebih singkat dan resiko perdarahan lebih kecil. Syarat

melakukan Embolisasi arteri uterina adalah penderita yang mengalami

perdarahan hebat, myoma uteri yang menekan rektum dan kandung kemih,

pasien yang menolak histerektomi dan tidak ingin punya anak lagi. Keamanan

dan kemudahan embolisasi arteri uterina tidak dapat dipungkiri,karena

tindakan ini efektif.

Proses embolisasi menggunakan angiografi digital substraksi dan dibantu

fluoroskopi. Hal ini dibutuhkan untuk memetakan pengisian pembuluh darah

atau memperlihatkan ekstrvasasi darah secara tepat. 23 Agen emboli yang

digunakan adalah polivinyl alkohol adalah partikel plastik dengan ukuran

yang bervariasi. Katz dkk memakai gel form sebagai agen emboli untuk

13
embolisasi arteri uterina. Komplikasi terumum dari embolisasi arteri uterine

adalah sindrom post embolisasi. 1 % wanita menjalani histerektomi setelah

embolisasi, biasanya karena infeksi. Embolisasi arteri uterina membutuhkan

tindak lanjut jangka panjang dan wanita harus diberi peringatan akan adanya

komplikasi kemudian. Tingkat kekambuhan embolisasi arteri uterina 10 %

setelah 2 tahun. Embolisasi arteri uterina mempunyai resiko untuk infeksi

parah dari leiomyoma yang mengalami infark setelah prosedur ini. Tingkat

keberhasilan penatalaksanaan mioma uteri dengan cara ini adalah 85-90%.

II. 10 Komplikasi

Komplikasi yang mungkin terjadi pada mioma uteri antara lain :

1. Degenerasi ganas. Mioma dapat berubaha menjadi leimiosarkoma (0,32 – 0,6 %)

dari seluruh mioma. Keganasan ditemukan pada pemeriksaan histologi uterus

yang telah diangkat. Kita harus curiga apabila ada keluhan nyeri, mioma cepat

membesar terutama adanya pembesaran mioma dalam masa menopause.

14
2. Anemia. Anemia timbul karena seringkali penderita mioma uteri mengalami

perdarahan pervaginam yang abnormal. Perdarahan abnormal pada kasus mioma

uteri akan mengakibatkan anemia defisiensi besi.

3. Torsi. Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul gangguan

sirkulasi akut sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian timbul sindroma

abdomen akut, mual, muntah dan shock.

4. Infeksi dan nekrosis. Terjadi karena gangguan sirkulasi darah, perdarahan yang

bisa berupa metroragia/menoragia dan infeksi dari uterus itu sendiri.

5. Infertilitas. Infertilitas dapat terjadi apabila sarang mioma menutup atau menekan

pars interstisialis tuba, sedangkan mioma uteri submukosum juga memudahkan

terjadinya abortus oleh karena distorsi rongga uterus. Penegakkan diagnosis

infertilitas yang dicurigai penyebabnya adalah mioma uteri maka penyebab lain

harus disingkirkan.

15
III. PRESENTASI KASUS

III. 1 Identitas Pasien

Nama : Ny. SS

No. RM : 192627

Alamat : Wironatan – Butuh - Purworejo

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Agama : Islam

Usia : 38 Tahun

Masuk RS tgl: 02 November 2010

III. 2 Anamnesis

02 November 2010

Keluhan Utama

Pasien datang dengan keluhan merasa ada benjolan sejak dua bulan yang lalu.

Ibu haid sebelumnya teratur dan banyak.

Riwayat Penyakit Sekarang:

P3 A0, 38 th, datang dengan membawa pengantar dari poli dengan keterangan:

myoma uteri rencana myomektomi s/d histerektomi. Pasien merasa ada benjolan

di perut sejak 2 bulan yang lalu. Nyeri perut (-), menstruasi teratur, jumlah tidak

bertambah banyak, nyeri haid (-). BAB dan BAK lancar.

16
Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat asma (-), DM (-), HT, (-), Jantung (-), alergi (-).

Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat asma (-), DM (-), HT, (-), Jantung (-), Keluhan sama (-)

Riwayat Ginekologi

P3A0

Menarche : Sewaktu SMP

Haid : teratur, 5-8 hari, banyak, tidak disertai rasa sakit.

Riwayat Fertilitas

Menikah usia : 24 Tahun

Umur Pernikahan : 14 Tahun

Jumlah anak :3

1. 1997, aterm dibidan, lahir normal, spontan, ♀, hidup.

2. 2002, aterm di bidan, lahir normal, spontan, ♀, hidup.

3. 2004, aterm, di bidan, lahir normal, spontan, ♂, hidup.

III. 3 Pemeriksaan fisik

Keadaan umum : Baik

Kesadaran : CM

TD : 130/80

Nadi : 88 x / mnt

RR : 18 x / mnt

Suhu : 36,5 0 C

17
 Kepala : Mata konjungtiva anemis(-/-), sklera ikhterik(-/-), edema

palpebra(-/-), mata cekung(-/-)

 Leher: JVP tidak meingkat, pembesaran tiroid(-), perbesaran lnn.(-)

 Dada : Bentuk simetrik, tidak ada ketinggalan gerak dan tidak ada retraksi

dinding dada.

 Pulmo : Vokal fremitus (n/n), perkusi sonor, suara nafas vesikuler (+/+),

ronki basah (-/-), ronkii kering (-/-)

 Cor : S1>S2, interval reguler normal, bising (-), galop (-), batas jantung

DBN.

 Ekstrimitas : Edema (-), perfusi jaringan baik (-), sianosis (-), gerakan bebas

(+)

 Abdomen :

Inspeksi : Terlihat massa di abdomen, batas massa atas : sepusat. Lat ka/kiri :

parasternalis D et S. Bawah : kesan masuk panggul.

Palpasi : abdomen supel, teraba massa padat, keras, nyeri tekan (-), mobile,

tidak nyeri.

VT : V/u tenang, dinding vagina licin, servik utuh, mencucu, kesan

terdorong ke anterior, nyeri goyang(-), ikut bergoyang bila massa

di goyang, CU berubah jd massa tumor, mobile, parametrium

ka/ki lemas, cavum douglas menonjol, kesan terisi massa tumor.

OUE menutup, sarung tangan lendir darah (-).

18
III. 4 Diagnosis

Suspek mioma uteri

III. 5 Terapi

 Monitoring

 Persiapan Operasi Miomektomi s/d Histerektomi

III. 6 Pemeriksaan Penunjang

Lab: Pemeriksaan darah rutin

Tgl 02 Nov 2010, jam 11:19

AL : 6,15x10.3/uL

RBC : 4,41x10.6/uL

Hb : 12,9 gr/dl

PLT : 269x10.3/uL

CT : 3’10”

BT : 2’20

Gol.darah : B

HBsAg :-

GDS : 93 mg%

Pemeriksaan urin

Tgl 02 Nov 2010, jam 14:49

GDS : 115 mg/dl

Ureum : 19 mg/dl

19
Creatinin : 0,88 mg/dl

Kalium : 3,7 mmol/L

Natrium : 138 mmol/L

Chlorida : 97 mmol/L

 Ro thorax : Pulmo dan Cor dalam batas normal.

 USG : Uterus mengandung 2 massa (tumor) padat berukuran 8x10x6 cm dan

6x4x4 cm.

 EKG : Hasil EKG terlampir dalam batas normal.

III.7 Tindakan Operasi

Tgl 3-11-2010. Jam:11.30

Telah dilakukan miomektomi servikalis dan histerektomi a/i multiple mioma dan

mioma servikalis.

III. 8 Terapi Pasca Operasi

 Lab Hb post OP

 Tirah baring 24 jam

 Mobilisasi bertahap

 Miring ka/ki setelah peristaltic baik

 Inj. Cefotaxim 2x1 gr

 Inj.ketorolac 3x30 mg

20
III. 9 Diagnosis Pasca Terapi

Post histerektomi dan miomektomi servikalis a/i multiple mioma dan mioma

servikalis.

III. 10 Follow Up Pasien

Tgl 3-11-2010

- keluhan (-), mual (-), muntah (-),persiapan pre op (+). CA -/-, Si -/-, Hb 12,9

- TD 120/80, N 80x/mnt, RR 20x/mnt, suhu 36oC

Tgl 4-11-2010

- keluhan: nyeri (+), flatus (+).

- Px: KU: baik,CM, tak anemis.

palpasi: abd supel, nyeri tekan (+), bekas luka op tertutup kassa, darah rembes

(-), peristaltik (+). Ppv (+).

- TD 110/70, N 84 x / mnt, RR 24 x / mnt, suhu 37,2 0 C

- Inj. Cefotaxim 2x1gr; inj. Ketorolac 3x30mg; inj. Alinamin 2x1 Amp

Tgl 5-11-2010

- keluhan (-), flatus(+).

- Px: KU: baik, CM, tak anemis.

palpasi: abd supel, NT (-), luka bekas op tertutup kassa, darah rembes (-), Ppv

(+) flek.

- TD 110/60, N 82 x / mnt, RR 20 x / mnt, suhu 36,5 0 C

- Cafadroxil 2x500mg; metronidazole 3x500mg; lapistan 3x500; farmabex 1x1

Tgl 6-11-2010

21
- keluhan: keluar darah hitam kental dari jalan lahir semalam.

- Px: KU: baik, CM, tak anemis.

palpasi: abd supel, NT (-), luka bekas op tertutup kassa, darah rembes (-),

mobilisasi (++). Ppv (-).

- TD 110/70, N 82 x / mnt, RR 20 x / mnt, suhu 36,9 0 C

- Obat-obatan dan cairan dilanjutkan

III. 11 Pemeriksaan Penunjang Post Operasi

Lab: Pemeriksaan darah rutin post Op

Tgl 03 Nov 2010, jam 17:39

AL : 15,7x10.3/uL

RBC : 3,09x10.6/uL

Hb : 9,1 gr/dl

PLT : 213x10.3/uL

leukositosis dan anemia.

Tgl 05 Nov 2010, jam 06:10

AL :10,59x10.3/uL

RBC : 2,97x10.6/uL

Hb : 8,8 gr/dl

PLT : 187x10.3/uL

leukositosis dan anemia.

22
IV. PEMBAHASAN

Seorang wanita berusia 38 tahun datang dengan keluhan benjolan sejak

satu minggu yang lalu. Ibu haid sebelumnya teratur dan banyak. Pada saat datang,

kita berpikir apakah telat menstruasinya karena ibu sedang hamil atau karena

penyebab yang lain.

Pasien kemudian diperiksa, dan didapatkan hasil bahwa keadaan umum,

kesadaran dan tanda-tanda vital dari pasien normal. Kemudian pemeriksaan

dilanjutkan dengan palpasi abdomen, dan Vaginal Toucher (pemeriksaan dalam);

didapatkan hasil sebagai berikut :

 Teraba benjolan di perut bawah, keras, nyeri tekan tidak ada dan mobile.

 Dinding perut supel, teraba masa tumor padat,bergerombol dengan batas:

atas : sepusat

kanan : parasternal dextra

kiri : parasternal sinistra

bawah : kesan masuk panggul

 Vulva tenang, Dinding vagina licin, cervix uteri mencucu dan tertutup, kesan

terdorong ke anterior, nyeri goyang (-), ikut bergoyang jika masa d goyang,

parametrium ka/ki lemas, cav douglas menonjol, kesan terisi massa tumor.

 Tidak ada discharge, darah maupun lendir

Karena kecurigaan mengarah pada mioma uteri, maka dilakukan

pemeriksaan penunjang berupa USG, ditambah dengan EKG dan Hb. Hasil EKG

23
dalam batas normal dan Hb pasien termasuk rendah ( < 12 ). Hasil USG menunjukkan

uterus mengandung massa (tumor) padat berukuran 8x10x6 cm dan 6x4x4 cm.

Akhirnya pasien dioperasi dengan miomektomi dan histerektomi. Karena

setelah di lakukan pembedahan ternyata mioma pada pasien tersebut adalah mioma

intramural dan mioma servikalis.

24
V. KESIMPULAN

Myoma merupakan tumor jinak ginekologik paling sering ditemukan pada

wanita usia >30 tahun, nullipara, faktor keturunan juga berperan. Penyebab pasti tidak

diketahui tetapi jelas bahwa estrogen mempengaruhi terhadap pertumbuhan myoma.

Gejala klinis sebagian besar asimptomatik. Tergantung dari lokasi, besar, perubahan

dan komplikasi.

Pemeriksaan fisik yang penting dalam mendiagnosa myoma adalah

pemeriksaan abdomen dan anogenital. Pemeriksaan penunjang seperti USG

merupakan pemeriksaan yang sangat penting.

Penatalaksanaan myoma uteri tergantung pada keadaan umum pasien,

beratnya keluhan, karakteristik myoma, faktor usia, keinginan untuk memiliki anak.

Histerektomi dilakukan pada myoma yang besar dan multipel.

Myomektomi dilakukan bila masih menginginkan keturunan dan syaratnya harus

dilakukan dilatasi kuretase dulu untuk menghilangkan kemungkinan keganasan.

25
DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, A. 1999. Kapita selekta kedokteran, Ed III, Jilid I. Media Aesculapius: FK UII,
Jakarta.

Sastrawinata, S. 1981. Ginekologi. FK UNAIR: Surabaya.

Wiknjosastro, H. 1999. Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo:


Jakarta.

Bagian Obstetri Ginecologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung. Elstar


Offset: Bandung.

Kulp, Jennifer and Griffith, John. 2007. Johns Hopkins Manual of Gynecology and
Obstetrics, The, 3rd Edition. Department of Gynecology and Obstetrics, The
Johns Hopkins University School of Medicine: Baltimore, Maryland.

www.ccspublishing.com/journals3a/leiomyomata_uteri.htm

www.geocities.com/abudims/cklgin6.html

www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2004/0305/kes4.html

26