Anda di halaman 1dari 19

Kode/Nama Rumpun Ilmu: 237/Teknologi Penangkapan Ikan

LAPORAN AKHIR
PROGRAM PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
MANDIRI (PPM MANDIRI)

APLIKASI BUBU BERBAHAN SINTETIS UNTUK


PENGEMBANGAN USAHA NELAYAN SKALA KECIL
DI DESA TONIKU HALMAHERA BARAT

TIM PENGUSUL

Dr. IMRAN TAERAN, S.Pi, M.Si (NIDN 0021026802)


IRWAN ABDUL KADIR, SPi, M.Si (NIDN0009117606)

UNIVERSITAS KHAIRUN TERNATE


DESEMBER 2015
RINGKASAN

Nelayan kecil adalah orang yang mata pencahariannya melakukan


penangkapan ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Uapaya telah
dilakukan oleh berbagai pihak untuk peningkatan mata pencaharian menjadi usaha
yang produktif. Salah satu uapaya adalah aplikasi teknologi penangkapan ikan
yang sesuai dengan karakteristik wilayah dan kondisi masyarakat. Desa Toniku
dan sekitarnya memiliki karakteristik wilayah laut dan pesisisir seperti adanya
terumbu karang, lamun dan mangrove, sehingga memiliki potensi sumberdaya
ikan demersal. Kondisi ini perlu dimanfaatkan secara optimal untuk peningkatan
kesejahteraan nelayan.Salah satu upaya yang dilakukan yaitu perlunya inovasi
teknologi penangkapan ikan demersal. Tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan ini
adalah: 1) membentuk kelompok nelayan bubu, 2) melakukan pelatihan tentang
teknik pembuatan bubu berbahan sitetis, 3) melatih nelayan untuk menjadikan
bubu sebagai suatu usaha yang produktif. Target khusus yang ingin dicapai adalah
untuk terbentuknya pilot projek perikanan bubu untuk nelayan skala kecil. Metode
kegiatan mencakup: pertemuan dengan nelayan, pelatihan dan atraksi pembuatan
bubu, uji coba pengoperasian bubu, pelatihan pengelolaan bubu sebagai suatu
usaha produktif. Hasil kegiatan telah menghimpun nelayan dalam kelompok
nelayan bubu sebanyak 5 kelompok, dimana masing-masing kelompok telah
dilatih untuk dapat merakit, menoperasikan, dan merawat bubu masing-
masing.Kelompok juga diberi pemuatan tentang pengembangan usaha bubu
menjadi usaha yang produktif.

Kata kunci: bubu berbahan sintetis, ikan demersal, pelatihan, usaha produktif.
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Analisis Situasi
Maluku Utara sebagai provinsi kepulauan dengan luas laut sekitar 76,2%

dari luas daratan memiliki potensi perikanan yang besar. Salah satu potensi adalah

sumberdaya perikanan demersal yang pemanfaatannya belum optimal (DKP

Maluku Utara 2005). Faktor yang menyebabkan produksi ikan demersal belum

optimal, diantaranya adalah rendahnya pengetahuan masyarakat nelayan dalam

mengadopsi teknologi baru, danminimnya inovasi teknologi pemanfaatan

terutama dalam bidang penangkapan.

Pemanfaatan sumberdaya ikan demersal hingga kini telah dikenal beberapa

jenis alat tangkap, seperti pukat dasar (bottom trawl), pancing rawai (longline),

jaring insang dasar (bottom gillnet) dan bubu (pots).Daerah penangkapan ikan

untuk alat tangkap tersebut pada habitat terumbu karang, karena terumbu karang

merupakan habitat yang sangat produktif bagi berbagai spesies ikan ekonomis penting

(Roberts and Polunin, 1993; McClanahan and Kaunda-Arara, 1996). Pada daerah

penangkapan yang habitatnya terumbu karang, pukat dasar, pancing rawai, jaring

insang dasar dan rawai dasar sulit dioperasikan akan tetapi bubu merupakan alat

penangkapan yang cocok dioperasikan pada habitat tersebut.

Alat tangkap bubu telah lama dikenal oleh nelayan di Maluku utara, terutama di

desa-desa pesisir yang berpotensi. Bubu yang digunakan oleh sebagian nelayan

terbuat dari bahan alamiseperti bambu dan rotan. Beberapa kelemahan dari bubu

berbahan alami,ditinjau dari faktor fisik bubu, diantaranya: 1) bentuk dan ukurannya

tidak variatif, 2) mudah rusak jika terkena benturan dengan benda lain, 3) mudah

mengalami pembusukan jika sering terendam di air laut. Selain kelemahan faktor

fisik, bahan alami seperti rotan dan bambusaat ini mulai sulit ditemukan. Berbagai
2

upaya telah dilakukan, dan telah diaplikasikan sebagian nelayan sehingga beralih

menggunakan bahan sintetis.

Hasil penelitian Mahulete (2004) menunjukkan bahwa bubu yang

kerangkanya dibuat dari besi yang dibungkus dengan jaring hasil tangkapannya

lebih baik dari bubu bambu. Pada kondisi kecepatan arus tertentu hasil percobaan

dari Budiman et al (2004), drag force dan lift force daripada bubu bambu lebih

besar daripada bubu yang terbuat dari kerangka besi. Selain bahan pembentuk

konstruksi bubu, faktor desain juga mempengaruhi hasil tangkapan bubu. Menurut

Li et al (2006), desain pintu masuk (entrance funnel) yang berbeda, berbeda hasil

tangkapan yang diperoleh.

Terkait dengan pemberdayaan nelayan, banyak upaya telah dilakukan oleh

berbagai pihak seperti pemerintah, swasta maupun lembaga-lembaga suwadaya

untuk mendorong masyarakat dalam penggunaan teknologi tepat guna. Fakta

membutikan bahwa kegiatan yang bersifat pemberdayaan terhadap nelayan

sebagian mengalami keberhasilan dan sebagian mengalami kegagalan. Faktor

utama yang menjadi penyebab kegagalan pemberdayaan terhadap nelayan adalah

minimnya pengetahuan nelayan terhadap suatu perubahan. Nelayan cenderung

meniru sesuatu secara langsung dalam pembuktian dari pada menerima sesuatu

yang belum terbukti secara langsung. Kelemahan lain yang ada pada nelayan

adalah melakukan sesuatu yang sifatnya individual dan masih jarang tergabung

dalam wadah atau kelembagaan.

Berdasarkan permasalahan tersebutmaka kegiatan ini dilakukan dalam

upaya mengadopsi teknologi tepat guna dengan pola pembentukan kelompok

nelayan, sehingga kegiatan dilakukan akan bermakna dan berkelanjutan.


3

1.2 Tujuan
Tujuan pelaksanaan kegiatan adalah:

1) Memfasilitasi pembentukan kelompok nelayan bubu.


2) Melakukan pelatihan tentang teknik pembuatan, perawatan dan
pengoperasian bubu berbahan sintetis.
3) Melatih nelayan untuk menjadikan bubu sebagai suatu usaha yang
produktif.

1.3 Kegunaan
Kegunaan kegiatan adalah:
1) Nelayan memiliki wadah kegiatan produktif.
2) Memberikan alternatif usaha nelayan sesuai dengan karakteristik potensi
wilayah.
3) Nelayan memiliki ketrampilan merancang, mengoperasikan dan merawat
alat tangkap bubu.
4

BAB 2. TARGET DAN LUARAN


2.1 Target kegiatan
Kegiatan pengabdian pada masyarakat dapat dilakukan dengan target

kegiatan sebagai berikut: 1) nelayan yang belum memiliki kelompok usaha

nelayan namun memiliki potensi sumberdaya alam, 2) nelayan yang tergabung

dalam kelompok usaha akan dibekali dengan pengetahuan tentang teknik

pembuatan bubu berbahan sintetis, 3) nelayan yang telah mengikuti pelatihan

akan dibekali dengan pengetahuan tentang cara pengoperasian, dan perawatan alat

tangkap bubu.

2.2 Luaran Kegiatan


Luaran yang dihasilkan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah

terbentuknya kelompok nelayan bubu, prototipe bubu berbahan sintetis, pilot

project perikanan bubu skala kecil.


5

BAB 3. METODE PELAKSANAAN

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kegiatan


Wkatu pelaksanaan kegiatan Pemberdayaan pada Masyarakat direncanakan

selama selama 1 (satu) bulan. Lokasi pelaksanaan di Desa Toniku, Kecamatan

Jaiololo Selatan, Halmahera Barat.

3.2 Peserta Kegiatan


Peserta pada kegiatan pengabdian ini terdiri dari:

1) Nelayan yang telah memiliki perahu penangkap ikan yang diundang sebanyak

10 orang

2) Mahasiswa Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK

UNKHAIR sebanyak 17 orang.

3.3 Metode Pelaksanaan


Pelakasanaan kegiatan Pengabdian pada Masyarakat meliputi:

1) Pertemuan bersama dengan nelayan

Pertemuan tersebut bertujuan untuk menjelaskan tentang: efisiensi dan

efektivitas penggunaan alat tangkap bubu berbahan sintetis jika dibandingkan

dengan penggunaan bubu berbahan alami, memfasilitasi nelayan agar

membentuk kelompok nelayan bubu.

2) Konstruksi bubu

Pelaksanaan kegiatan ini akan melibatkan kelompok nelayan yang telah

terbentuk dan mahasiswa semester akhir Program Studi Pemanfaatan

Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas

Khairun. Kegiatan ini meliputi: penyiapan bahan dan alat yang akan

digunakan, pemotongan besi, bahan webbing (PE), pengelasan potongan besi


6

menjadi rangka bubu, pejahitan bahan webbing hingga terbentuk bubu,

perakitan pemberat dan tali tarik yang menghubungkan dengan pelampung.

3) Pengoperasian bubu

Kegiatan ini diawali dengan penyiapan kebutuhan dalam satu kali

pengoperasian bubu. Setelah bubu dipasang umpan, perahu yang disediakan

akan menuju fishing ground. Pemasangan bubu dilakukan pada pagi hari dan

sore hari untuk membandingkan produktivitas bubu.

3.4 Evaluasi Kegiatan


Untuk menilai keberhasilan kegiatan ini, maka beberapa item yang menjadi

kriteria penilaian adalah :

1) Pertemuan harus dihadiri oleh nelayan yang telah diundang, dan berhasil

membentuk kelompok nelayan.

2) Pelaksanaan konstruksi bubu harus dihadiri oleh seluruh anggota

kelompok, dan masing-masing peserta diberi kesempatan untuk melakukan

kegiatan konstruksi.

3) Pengoperasian alat tangkap dilakukan oleh setiap peserta, mulai dari

pelepasan hingga penarikan bubu.

4) Seluruh anggotakelompok nelayan dapat menghitung bahan pembuatan

bubu, merakit satu unit bubu, mengoperasikan bubu pada wilayah perairan

yang sesuai.
7

3.5 Alur Kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat

KEUNGGULAN
1. UKURAN DAPAT DISESUAIKAN DENGAN LOKASI
BUBU BERBAHAN SINTESISI
2. MUDAH PEMBUATAN
3. LEBIH TAHAN LAMA

PERTEMUAN DENGAN TOKOH


MASYARAKAT

PEREKRUTAN CALON ANGGOTA

PERTEMUAN PEMBENTUKAN
KELOMPOK NELAYAN BUBU

PELATIHAN KONSTRUKSI BUBU

KEGIATAN OPERASI
PENANGKAPAN

EVALUASI TINGKAT
KEBERHASILAN

APLIKASI BUBU OLEH KELOMPOK


NELAYAN

Gambar 1. Alur kegiatan pengabdian


8

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Pembentukan Kelompok


Kegiatan pengabdian kepada masyarakat mandiri (PPM mandiri) tentang

aplikasi bubu berbahan sintetis untuk pengembangan usaha nelayan skala kecil di

desa Toniku, Halmahera Barat. Kegiatan diawali dengan pertemuan dengan

pemerintah desa setempat. Beberapa hal yang mendapat persetujuan dari

pemerintah terkait dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah

pembentukan kelompok nelayan. Adapun kriteria nelayan yang direkrut sebagai

anggota kelompok adalah: 1) memiliki kemauan untuk mengikuti kegiatan mulai

awal hingga akhir kegiatan, dan 2) merupakan nelayan bagan yang belum

memiliki usaha lain.

Pembentukan kelompok nelayan bubu beranggotakan 10 nelayan, yang

tergabung menjadi 5 kelompok, dimana masing-masing kelompok beranggotakan

2 orang. Jumlah ini disesuaikan dengan jumlah unit bubu yang direncanakan

dalam kegiatan ini. Adapun nama-nama anggota kelompok bubu sebagai berikut:

Table 1. Daftar nama-nama anggota kelompok nelayan bubu

No Nama anggota Pekerjaan Alamat tetap


1 Husen Nelayan Desa Toniku
2 Idham Nelayan Desa Toniku
3 Jufan.S Nelayan Desa Toniku
4 Molyadi Nelayan Desa Toniku
5 Abdullah A Nelayan Desa Toniku
6 Sukri Djafar Nelayan Desa Toniku
7 Anggo Ishak Nelayan Desa Toniku
8 Robi Nelayan Desa Toniku
9 Mustafa Nelayan Desa Toniku
10 Burhan Nelayan Desa Toniku
9

4.2 Pembuatan Rangka Bubu


Bahan dan peralatan yang dibutuhkan dalam pembuatan rangka bubu

sebagai berikut:

Table 2. Kebutuhan bahan dan peralatan untuk rangka bubu

No Nama bahan Jumlah

1 Besi Ǿ.10 mm 12 staf

2 Besi Ǿ .8 mm 8 staf

3 Kawat las 1 pak

4 Alat las 1 unit

5 Kacamata las 1 buah

Penggunaan besi Ǿ.10 mm pada bagian sisi utama menjadikan konstruksi

bubu dasar relatif lebih kokoh saat diletakan pada dasar perairan, sedangkan besi

Ǿ.8 mm digunakan pada rangka mulut bubu dasar. Bahan dan peralatan las

berfungsi untuk membentuk rangka bubu menjadi satu kesatuan yang kokoh.

Bubu berbentuk kubus dimana sisi panjang, lebar dan tinggi relatif memiliki

perbedaan ukuran. Adapun desain rangka bubu pada kegiatan ini, memiliki detail

ukurannya sebagai berikut: panjang 60 cm, lebar 50cm, tinggi 40cm. Pada salah

satu sisinya dilengkapi dengan mulut bubu yang berfungsi sebagai pintu jebakan.

Bentuk mulut bubu seperti paruh angsa, dengan diameter bagian terluar relatih

lebih besar jika dibandingkan dengan diameter bagian dalamnya.


10

60 cm

50 cm

40 cm

Gambar 2. Desain rangka bubu yang digunakan

Gambar 3. Kegiatan pengelasan rangka bubu


11

4.3 Kegiatan Pelatihan


Kegiatan pelatihan bertujuan untuk memberikan pemuatan materi terhadap

anggota kelompok target. Beberapa materi penting yang telah disampaikan

dalampelatihan ini antara lain:

1) pentingnyaperubahan pola pikir untuk pemanfaatan potensi sumberdaya alam.

Potensi sumberdaya fisik wilayah peisisir dan laut di desa Toniku dapat

dimanfaatkan secara optimal untuk peningkatan taraf hidup mayarakat.

Wilayah pesisir memiliki potensi mangrove, terumbu karang, padang lamun,

muara sungai, dan bukit dasar laut (pasi) menjadikan peisisir dan laut di

sekitarnya menjadi subur. Potensi perikanan yang sudah dimanfaatkan secara

optimal adalah potensi ikan teri yang ditangkap dengan menggunakan alat

tangkap bagan. Alat tangkap bagan merupakan salah satu alat tangkap yang

membutuhkan modal yang besar. Sehingga kepemilikan bagan yang ada di

desa Toniku sebagian besar dimiliki oleh masyarakat menengah ke atas.

2) aspek teknis pembuatan, pengoperasian, perawatan, dan perbaikan alat

tangkap bubu

Aspek teknis merupakan kata kunci kedua dari pelatihan pengabdian kepada

masyarakat setelah target perubahan pola pikir pada nelayan. Pembuatan

bubu dengan menggunakan bahan dasar sintetis relatif sederhana. Nelayan

hanya memiliki ketrampilan menjurai dan mingikat. Kegiatan ini dihadiri

oleh 10 orang nelayan yang terbagai dalam setiap kelompok berjumlah 2

orang, 2 orang aparat desa, mahasiswa sebanyak 17 orang, dan dosen

pembimbing 2 orang sebagai pemateri.

3) usaha alternativ dengan menggunakan alat tangkap bubu.


12

Selama ini sebagian besar masyarakat Toniku hanya menjadi nelayan (ABK),

sehingga sulit untuk berkembang. Pekerjaan nelayan bagan hanya

berlangsung pada sore hari hingga pagi hari. Sehingga masih banyak waktu

yang perlu di manfaatkan untuk peningkatan taraf hidup nelayan. Kegiatan ini

berupaya untuk memberikan solusi kepada nelayan agar memanfaatkan

potensi yang lain. Alat tangkap bubu merupakan alat tangkap pasif sehingga

tidak mengganggu kegiatan yang lainnya. Usaha alat tangkap bubu ini

menjadi usaha alternative bagi nelayan. Nelayan dapat memasang alat

tangkap bubu pada sore hari sebelum berangkat bekerja di bagan, dan bubu

diangkat dan dipasang kembali setelah nelayan kembali dari bagan.

Gambar 4. Persiapan ruang pertemuan menjelang pelatihan

4.4 Perakitan Bubu


Nelayan cenderung untuk meniru sesuatu secara langsung.Dengan demikian

metode yang digunakan dalam pelatihan ini adalah keterlibatan nelayan

dalam pembuatan bubu.


13

Pengerjaan diawali dengan penyiapan bahan dan peralatan yang dibutuhkan.

Rangka bubu disiapkan pada tempat yang memadai, kemudian diukur

panjang, lebar dan tingginya. Ukuran ini menjadi dasar untuk pengukuran

terhadap bahan webbing (bahan jaring dari PE), selanjutnya dilakukan

pemotongan jaring. Hal ini dilakukan agar pemotongan jaring harus sesuai

dengan ukuran setiap bubu, sehingga adanya efisiensi penggunaan bahan

yang digunakan.

Gambar 5.Kegiatan pelatihan pembuatan konstruksi bubu

4.5 Pengoeprasian Bubu


Tahap selanjutnya adalah pengoperasian bubu. Beberapa hal yang harus

diperhatikan adalah lokasi pemasangannya. Lokasi pemasangan yang baik

adalah di wilayah yang berdekatan dengan habitat terumbu karang, habitat

muara sungai, habitat mangrove, dan habitat lamun. Namun demikian hal

yang harus diperhatikan adalah saat pemasangan bubu, jangan sampai

merusak habitat yang ada. Pengoperasian dimulai dengan memastikan daerah

pemasangan bubu, yang harus aman dari kondisi dasar perairan. Pemasangan

umpan dilakukan di dalam bubu, dengan cara mingikatkan seekor ikan atau

potongan ikan yang telah disiapkan. Pelepasan bubu harus diatur sedemikian
14

sehingga, letak bubu saat dijatuhkan sejajar dari sisi yang satu dengan sisi

yang lain. Setelah bubu berada pada dasar perairan yang dianggap telah stabil,

maka tali pelampung dilepas bersamaan denganpelampung tanda.Bubu telah

terpasang dapat dibiarkan dengan waktu perendaman selama 1-3 malam.

Walaupun demikian sebaiknya setiap satu kali 24 jam bubu selalu diangkat

untuk mengecek hasil tangkapan dan memasang kembali umpan.

Gambar 6. Pengoperasian bubu


15

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan:

1) Pembentukan kelompok nelayan bubu beranggotakan 10 nelayan, yang

tergabung menjadi 5 kelompok, dimana masing-masing kelompok

beranggotakan 2 orang.

2) Adapun desain rangka bubu pada kegiatan ini, memiliki detail ukurannya

sebagai berikut: panjang 60 cm, lebar 50 cm, tinggi 40 cm.

3) Nelayan dilibatkan secara langsung dalam perakitan bubu, dan telah

memiliki ketrampilan pembuatan bubu

4) Nelayan telah mengetahu daerah pengoperasian bubu, cara pemasangan

dan perawan bubu.

Saran:
Perlu dilakukan monitoring dan pembinaan lanjutan untuk mengetahui tingkat
keberhasilan dan keberlanjutan usaha perikanan bubu.
16

DAFTAR PUSTAKA
Budiman J., S. Fuwa and K. Ebata. 2004. Fundamental studies on hydrodynamic
resistance of small pot traps. Fisheries Science, Vol. 70: 952-959.
DKP (Dinas Kelautan dan Perikanan) Maluku Utara. 2005. Laporan Tahunan
DKP Provinsi Maluku Utara.
Li Y., K. Yamamoto., T. Hiraishi T., K. Nashimoto., and H. Yoshino. 2006.
Effect of entrance design on catch efficiency of arabesque greenling traps: a
field experiment in Matsumae, Hokkaido. Fisheries Science, Vol. 72: 1147-
1152.
Mahulete Th. 2004. Analisis komparasi teknologi bubu dasar dalam rangka
peningkatan pendapatan nelayan di Klungkung, Bali. Tesis Fakultas Pasca
Sarjana IPB Bogor (tidak diterbitkan).
McClanahan, T.R., B. Kaunda-Arara. 1996. Fishery recovery in a coral-reef
marine park and its effect on the adjacent fishery. Cons. Biol., Vol.10: 1187-
1199.
Roberts, C.M., N.V.C. Polunin. 1993. Marine reserves: simple solutions to
managing complex fisheries. Ambio, Vol. 22: 363-368.
17

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Pengukuran bahan pembuatan bubu

Pemasangan pemberat bubu

Penurunan alat tangkap bubu