Anda di halaman 1dari 21

A.

IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. S
Umur : 38 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Status Perkawinan : Menikah
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Tanggal masuk RS : 25 Maret 2011

B. ANAMNESIS

Keluhan Utama
Pasien mengeluh sakit perut sebelah kanan sejak tadi malam.

Riwayat Penyakit Sekarang:


Sejak satu bulan yang lalu os mengeluh sering nyeri perut sebelah kanan.
Nyeri dirasakan hilang timbul, disertai mual dan muntah. BAB dan BAK tidak ada
keluhan.

Riwayat Penyakit Dahulu:


Sebelumnya os tidak pernah menderita penyakit seperti ini. Riwayat
hipertensi, diabetes mellitus, jantung, dan paru tidak ada. Os tidak pernah mengalami
trauma sebelumnya. Os tidak pernah operasi sebelumnya. Riwayat alergi pada
makanan dan obat-obatan disangkal.
Riwayat penyakit keluarga:
Tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan yang sama dengan os.
Riwayat penyakit tumor, hipertensi, diabetes mellitus, jantung, dan paru juga
disangkal.

Riwayat kebiasaan hidup:


Os tidak pernah merokok, mengkonsumsi alkohol, dan obat-obatan.

Riwayat pengobatan:
Os tidak pernah menggunakan kontrasepsi hormonal seperti pil KB ataupun
suntik. Os tidak pernah melakukan terapi penyinaran.

Riwayat obstetri dan ginekologi:


Os lupa kapan mengalami menstruasi pertama kali. Os belum mengalami
menopause. Os memiliki 3 orang anak. Os menyusui ketiga anak-anaknya. Os tidak
pernah mengalami abortus saat kehamilan.

C. PEMERIKSAAN FISIK

Status Generalis ( Pemeriksaan tanggal 28 Maret 2011 )


Keadaan umum : Pasien tampak kesakitan
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital :
TD : 130/80 mmHg
Suhu : 36.3˚C
Nadi : 84 x/menit
RR : 18 x/menit
Gizi : Baik

Kulit:
Turgor kulit baik, tidak ada atrofi, warna kulit tidak ikterik, tidak sianosis, tidak
pucat.

Kepala:
Bentuk : Normocephali, simetris
Rambut : Distribusi merata
Mata : Pupil bulat isokor, Conjunctiva Anemis (-/-), Sclera Icterik (-/-)

Hidung:
Deviasi septum (-), hiperemis mukosa (-), hipertrofi concha (-), sekret (-), pernapasan
cuping hidung (-)

Telinga:
Normotia, nyeri tekan tragus (-), nyeri tekan mastoid (-)

Mulut dan Bibir:


Bibir tidak pucat, tidak kering, tidak cyanosis; gusi merah muda, perdarahan (-);
caries dentis (+); lidah bersih, papil atrofi(-), deviasi(-); mukosa bucal merah muda
serta tidak ada perdarahan.

Tenggorokan:
Uvula di tengah, faring tidak hiperemis.

Leher:
Perbesaran KGB cervicalis (-), perbesaran kelenjar thyroid (-).
Thorax:
Paru-Paru:
Inspeksi : Bentuk normal, simetris kedua thorax pada keadaan statis dan
dinamis, spider nevi (-), retraksi sela iga (-)
Palpasi : Vocal Fremitus kanan dan kiri simetris, tidak ada nyeri tekan.
Perkusi : Sonor pada kedua hemithoraks
Auskultasi : Suara nafas vesikuler, ronchi -/-, wheezing -/-.

Jantung:
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat.
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba.
Auskultasi : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-).

Status Lokalis
Abdomen
Inspeksi : Datar, simetris, pelebaran vena (-), distensi abdomen (-), tidak
terlihat benjolan, warna kulit sama dengan warna kulit sekitar.
Palpasi : nyeri tekan sebelah kanan, Hepatosplenomegali (-), turgor kulit baik,
Murphy sign (+)
Perkusi : Timpani, nyeri ketok (+), shifting dullness (-)
Auskultasi : Bising Usus (+)

Ekstremitas atas dan bawah:


Kedua ekstremitas tidak oedem dan akral teraba hangat.
PEMERIKSAAN PENUNJANG

 LABORATORIUM RUTIN
HEMATOLOGI
Leukosit : 18.86 (103/uL) (N=5-10)
Eritrosit : 5.61 (106/uL) (N=4-5)
Hemoglobin : 14,3 (g/dl) (N= 12-15)
Hematokrit : 32,2 (%) (N=37-43)
Trombosit : 425 (103/uL) (N=150-400)

FUNGSI GINJAL
Ureum : 15 mg/dl (N=17-43) N
Kreatinin : 1,10 mg/dl (N=0.4-0.7) ↑

DIABETES
Glukosa Sewaktu : 113 mg/dl

 RADIOLOGI

USG UPPER ABDOMEN

Hepar : normoechoic, tak tampak lesi hypo/hyperechoic


Sudut lancip tepi licin
VF : tampak multiple lesi hyperechoic dengan acustic shadow
dinding VF licin
Ren dextra et Sinistra : normoechoic, SPC tak melebar

Kesan : Multiple cholelithiasis


Hepar dan kedua ren normal
D. DIAGNOSIS KERJA:

Multiple cholelithiasis

Dasar diagnosis :
1. Jenis kelamin wanita ( lebih sering terjadi pada wamita).
2. Usia mendekati 40 th ( sering terjadi pada usia 40 th).
3. Pasien mengalami obesitas ( insidensi meningkat pada pasien yang
mengalami obesitas)
4. Murphy Sign (+) khas pada penderita kolelitiasis.
5. Terdapat hasil USG yang menyebutkan hasil multiple kolelitiasis.

E. PENGOBATAN

Medikamentosa :
1. Inj. Kalnex 500 mg 3x1
2. Inj. Cefotaxim 1 gr 2x1
3. Inj. Ketorolac 30 mg 3x1
4. Inj. Ranitidin 2x1 amp

Non Medikamentosa :
1. Diet TKTP (Tinggi Kalori Tinggi Protein)

Tindakan :
Kolisistektomi
TINJAUAN PUSTAKA

Kolelitiasis
A. Definisi
Koleliatiasis adalah penyakit batu empedu yang dapat ditemukan di dalam kandung
empedu atau di dalam duktus koledokus atau pada kedua duanya. Sebagian besar batu
empedu terutama batu kolesterol terbentuk di dalam kandung empedu . Kalau batu
kandung empedu ini berpindah ke dalam saluran empedu ekstra hepatic disebut
dengan batu saluran empedu sekunder atau koledokolitiasis sekunder. Batu saluran
primer harus memenuhi kriteria sebagai berikut : ada masa asimtomatik setelah
kolisistektomi, morfologik cocok dengan batu empedu primer, tidak ada striktur pada
duktus koledokus,atau tidak ada sisa duktus sistikus yang panjang.

Gambaran batu dalam kandung empedu (Emedicine, 2007)


Anatomi kandung empedu
Kandung empedu merupakan kantong berbentuk alpukat yang terletak tepat
dibawah lobus kanan hati. Kandung empedu mempunyai fundus, korpus,
infundibulum, dan kolum. Fundus bentuknya bulat, ujung nya buntu dari kandung
empedu. Korpus merupakan bagian terbesar dari kandung empedu. Kolum adalah
bagian yang sempit dari kandung empedu.
Empedu yang di sekresi secara terus menerus oleh hati masuk ke saluran
empedu yang kecil dalam hati. Saluran empedu yang kecil bersatu membentuk dua
saluran yang lebih besar yang keluar dari permukaan hati sebagai duktus hepatikus
komunis. Duktus hepatikus bergabung dengan duktus sistikus membentuk duktus
koledokus.

Fisiologi
Salah satu fungsi hati adalah untuk mengeluarkan empedu, normalnya antara
600-1200 ml/hari. Kandung empedu mampu menyimpan sekitar 45 ml empedu5.
Diluar waktu makan, empedu disimpan untuk sementara di dalam kandung empedu,
dan di sini mengalami pemekatan sekitar 50 %. Fungsi primer dari kandung empedu
adalah memekatkan empedu dengan absorpsi air dan natrium. Kandung empedu
mampu memekatkan zat terlarut yang kedap, yang terkandung dalam empedu hepatik
5-10 kali dan mengurangi volumenya 80-90%.

Menurut Guyton &Hall, 1997 empedu melakukan dua fungsi penting yaitu :
 Empedu memainkan peranan penting dalam pencernaan dan absorpsi lemak,
karena asam empedu yang melakukan dua hal antara lain: asam empedu
membantu mengemulsikan partikel-partikel lemak yang besar menjadi
partikel yang lebih kecil dengan bantuan enzim lipase yang disekresikan
dalam getah pankreas, Asam empedu membantu transpor dan absorpsi produk
akhir lemak yang dicerna menuju dan melalui membran mukosa intestinal.

 Empedu bekerja sebagai suatu alat untuk mengeluarkan beberapa produk


buangan yang penting dari darah, antara lain bilirubin, suatu produk akhir dari
penghancuran hemoglobin, dan kelebihan kolesterol yang di bentuk oleh sel-
sel hati.

Pengosongan kandung empedu dipengaruhi oleh hormon kolesistokinin, hal ini


terjadi ketika makanan berlemak masuk ke duodenum sekitar 30 menit setelah
makan. Dasar yang menyebabkan pengosongan adalah kontraksi ritmik dinding
kandung empedu, tetapi efektifitas pengosongan juga membutuhkan relaksasi yang
bersamaan dari sfingter oddi yang menjaga pintu keluar duktus biliaris komunis
kedalam duodenum. Selain kolesistokinin, kandung empedu juga dirangsang kuat
oleh serat-serat saraf yang menyekresi asetilkolin dari sistem saraf vagus dan enterik.
Kandung empedu mengosongkan simpanan empedu pekatnya ke dalam duodenum
terutama sebagai respon terhadap perangsangan kolesistokinin. Saat lemak tidak
terdapat dalam makanan, pengosongan kandung empedu berlangsung buruk, tetapi
bila terdapat jumlah lemak yang adekuat dalam makanan, normalnya kandung
empedu kosong secara menyeluruh dalam waktu sekitar 1 jam.
Garam empedu, lesitin, dan kolesterol merupakan komponen terbesar (90%)
cairan empedu. Sisanya adalah bilirubin, asam lemak, dan garam anorganik. Garam
empedu adalah steroid yang dibuat oleh hepatosit dan berasal dari kolesterol.
Pengaturan produksinya dipengaruhi mekanisme umpan balik yang dapat
ditingkatkan sampai 20 kali produksi normal kalau diperlukan.

B. Insidensi
Insiden kolelitiasis di negara barat adalah 20%, sedangkan angka kejadian di
Indonesia tidak berbeda jauh dengan negara lain di Asia Tenggara. Peningkatan
insiden batu empedu dapat dilihat dalam kelompok resiko tinggi yang disebut ”5 F” :
female (wanita), fertile (subur)-khususnya selama kehamilan, fat (gemuk), fair, dan
forty (empat puluh tahun).
Kolelitiasis dapat terjadi dengan atau tanpa faktor resiko. Namun, semakin
banyak faktor resiko, semakin besar pula kemungkinan untuk terjadinya kolelitiasis.

Faktor resiko tersebut antara lain:


1.Genetik
Batu empedu memperlihatkan variasi genetik. Kecenderungan membentuk batu
empedu bisa berjalan dalam keluarga. Di negara Barat penyakit ini sering dijumpai,
di USA 10-20 % laki-laki dewasa menderita batu kandung empedu. Batu empedu
lebih sering ditemukaan pada orang kulit putih dibandingkan kulit hitam. Batu
empedu juga sering ditemukan di negara lain selain USA, Chili dan Swedia.
2.Umur
Usia rata-rata tersering terjadinya batu empedu adalah 40-50 tahun. Sangat
sedikit penderita batu empedu yang dijumpai pada usia remaja, setelah itu dengan
semakin bertambahnya usia semakin besar kemungkinan untuk mendapatkan batu
empedu, sehingga pada usia 90 tahun kemungkinannya adalah satu dari tiga orang.

3. Jenis Kelamin
Batu empedu lebih sering terjadi pada wanita dari pada laki-laki dengan
perbandingan 4 : 1. Di USA 10- 20 % laki-laki dewasa menderita batu kandung
empedu, sementara di Italia 20 % wanita dan 14 % laki-laki. Sementara di Indonesia
jumlah penderita wanita lebih banyak dari pada laki-laki.

4. Beberapa faktor lain


Faktor lain yang meningkatkan resiko terjadinya batu empedu antara lain:
obesitas, makanan, riwayat keluarga, aktifitas fisik.

C. Patogenesis
Batu empedu hampir selalu dibentuk dalam kandung empedu dan jarang pada
saluran empedu lainnya dan diklasifikasikan berdasarkan bahan pembentuknya.
Etiologi batu empedu masih belum diketahui dengan sempurna, akan tetapi, faktor
predisposisi yang paling penting tampaknya adalah gangguan metabolisme yang
disebabkan oleh perubahan susunan empedu, stasis empedu dan infeksi kandung
empedu. Perubahan susunan empedu mungkin merupakan yang paling penting pada
pembentukan batu empedu, karena terjadi pengendapan kolesterol dalam kandung
empedu. Stasis empedu dalam kandung empedu dapat meningkatkan supersaturasi
progesif, perubahan susunan kimia, dan pengendapan unsur tersebut. Infeksi bakteri
dalam saluran empedu dapat berperan sebagian dalam pembentukan batu, melalui
peningkatan dan deskuamasi sel dan pembentukan mukus5.
Sekresi kolesterol berhubungan dengan pembentukan batu empedu. Pada
kondisi yang abnormal, kolesterol dapat mengendap, menyebabkan pembentukan
batu empedu. Berbagai kondisi yang dapat menyebabkan pengendapan kolesterol
adalah : terlalu banyak absorbsi air dari empedu, terlalu banyak absorbsi garam-
garam empedu dan lesitin dari empedu, terlalu banyak sekresi kolesterol dalam
empedu, Jumlah kolesterol dalam empedu sebagian ditentukan oleh jumlah lemak
yang dimakan karena sel-sel hepatik mensintesis kolesterol sebagai salah satu produk
metabolisme lemak dalam tubuh. Untuk alasan inilah, orang yang mendapat diet
tinggi lemak dalam waktu beberapa tahun, akan mudah mengalami perkembangan
batu empedu.
Batu kandung empedu dapat berpindah kedalam duktus koledokus melalui
duktus sistikus. Didalam perjalanannya melalui duktus sistikus, batu tersebut dapat
menimbulkan sumbatan aliran empedu secara parsial atau komplet sehingga
menimbulkan gejalah kolik empedu. Kalau batu terhenti di dalam duktus sistikus
karena diameternya terlalu besar atau tertahan oleh striktur, batu akan tetap berada
disana sebagai batu duktus sistikus.

D. Patofisiologi Kolelitiasis

a. Batu Kolesterol
Empedu yang di supersaturasi dengan kolesterol bertanggung jawab bagi
lebih dari 90 % kolelitiasis di negara Barat. Sebagian besar empedu ini merupakan
batu kolesterol campuran yang mengandung paling sedikit 75 % kolesterol
berdasarkan berat serta dalam variasi jumlah fosfolipid, pigmen empedu, senyawa
organik dan inorganik lain. Kolesterol dilarutkan di dalam empedu dalam daerah
hidrofobik micelle, sehingga kelarutannya tergantung pada jumlah relatif garam
empedu dan lesitin.
Menurut Meyers & Jones, 1990 Proses fisik pembentukan batu kolesterol
terjadi dalam empat tahap:

 Supersaturasi empedu dengan kolesterol


 Pembentukan nidus
 Kristalisasi
 Pembentukan batu oleh agregasi kolesterol dan senyawa lain yang
membentuk matriks batu.

b.Batu pigmen
Batu pigmen merupakan sekitar 10 % dari batu empedu di Amerika Serikat.
Ada dua bentuk yaitu batu pigmen murni yang lebih umum dan batu kalsium
bilirubinat. Batu pigmen murni lebih kecil (2 sampai 5 mm), multipel, sangat keras
dan penampilan hijau sampai hitam. Batu-batu tersebut mengandung dalam jumlah
bervariasi kalsium bilirubinat, polimer bilirubin, asam empedu dalam jumlah kecil
kolesterol (3 sampai 26%) dan banyak senyawa organik lain. Didaerah Timur, batu
kalsium bilirubinat dominan dan merupakan 40 sampai 60 % dari semua batu
empedu. Batu ini lebih rapuh, berwarna kecoklatan sampai hitam.
Patogenesis batu pigmen berbeda dari batu kolesterol. Kemungkinan
mencakup sekresi pigmen dalam jumlah yang meningkat atau pembentukan pigmen
abnormal yang mengendap dalam empedu. Sirosis dan stasis biliaris merupakan
predisposisi pembentukan batu pigmen. Pasien dengan peningkatan beban bilirubin
tak terkonjugasi (anemia hemolitik), lazim membentuk batu pigmen murni. Di negara
Timur, tingginya insiden batu kalsium bilirubinat bisa berhubungan dengan invasi
bakteri sekunder dalam batang saluran empedu yang di infeksi parasit Clonorchis
sinensis atau Ascaris Lumbricoides.
c. Batu campuran
Merupakan batu campuran kolesterol yang mengandung kalsium. Batu ini
sering ditemukan hampir sekitar 90 % pada penderita kolelitiasis. batu ini bersifat
majemuk, berwarna coklat tua. Sebagian besar dari batu campuran mempunyai dasar
metabolisme yang sama dengan batu kolesterol

E. Manifestasi klinis

Batu Kandung Empedu (Kolesistolitiasis)

Asimtomatik

Batu yang terdapat dalam kandung empedu sering tidak memberikan gejala
(asimtomatik). Dapat memberikan gejala nyeri akut akibat kolesistitis, nyeri bilier,
nyeri abdomen kronik berulang ataupun dispepsia, mual (Suindra, 2007). Studi
perjalanan penyakit sampai 50 % dari semua pasien dengan batu kandung empedu,
tanpa mempertimbangkan jenisnya, adalah asimtomatik. Kurang dari 25 % dari
pasien yang benar-benar mempunyai batu empedu asimtomatik akan merasakan
gejalanya yang membutuhkan intervensi setelah periode wakti 5 tahun. Tidak ada
data yang merekomendasikan kolesistektomi rutin dalam semua pasien dengan batu
empedu asimtomatik.

Keluhan utamanya berupa nyeri di daerah epigastrium, kuadran kanan atas.


Rasa nyeri lainnya adalah kolik bilier yang berlangsung lebih dari 15 menit, dan
kadang baru menghilang beberapa jam kemudian. Kolik biliaris, nyeri pascaprandial
kuadran kanan atas, biasanya dipresipitasi oleh makanan berlemak, terjadi 30-60
menit setelah makan, berakhir setelah beberapa jam dan kemudian pulih, disebabkan
oleh batu empedu, dirujuk sebagai kolik biliaris. Mual dan muntah sering kali
berkaitan dengan serangan kolik biliaris.
Komplikasi

Kolesistitis akut merupakan komplikasi penyakit batu empedu yang paling


umum dan sering meyebabkan kedaruratan abdomen, khususnya diantara wanita usia
pertengahan dan manula. Peradangan akut dari kandung empedu, berkaitan dengan
obstruksi duktus sistikus atau dalam infundibulum. Gambaran tipikal dari kolesistitis
akut adalah nyeri perut kanan atas yang tajam dan konstan, baik berupa serangan akut
ataupun didahului sebelumnya oleh rasa tidak nyaman di daerah epigastrium post
prandial. Nyeri ini bertambah saat inspirasi atau dengan pergerakan dan dapat
menjalar kepunggung atau ke ujung skapula. Keluhan ini dapat disertai mual, muntah
dan penurunan nafsu makan, yang dapat berlangsung berhari-hari. Pada pemeriksaan
dapat dijumpai tanda toksemia, nyeri tekan pada kanan atas abdomen dan tanda
klasik ”Murphy sign” (pasien berhenti bernafas sewaktu perut kanan atas ditekan).
Masa yang dapat dipalpasi ditemukan hanya dalam 20% kasus. Kebanyakan pasien
akhirnya akan mengalami kolesistektomi terbuka atau laparoskopik.

Batu Saluran Empedu (Koledokolitiasis)

Pada batu duktus koledokus, riwayat nyeri atau kolik di epigastrium dan
perut kanan atas disertai tanda sepsis, seperti demam dan menggigil bila terjadi
kolangitis. Apabila timbul serangan kolangitis yang umumnya disertai obstruksi, akan
ditemukan gejala klinis yang sesuai dengan beratnya kolangitis tersebut. Kolangitis
akut yang ringan sampai sedang biasanya kolangitis bakterial non piogenik yang
ditandai dengan trias Charcot yaitu demam dan menggigil, nyeri didaerah hati, dan
ikterus. Apabila terjadi kolangiolitis, biasanya berupa kolangitis piogenik
intrahepatik, akan timbul 5 gejala pentade Reynold, berupa tiga gejala trias Charcot,
ditambah syok, dan kekacauan mental atau penurunan kesadaran sampai koma.

Koledokolitiasis sering menimbulkan masalah yang sangat serius karena komplikasi


mekanik dan infeksi yang mungkin mengancam nyawa. Batu duktus koledokus
disertai dengan bakterobilia dalam 75% persen pasien serta dengan adanya obstruksi
saluran empedu, dapat timbul kolangitis akut. Episode parah kolangitis akut dapat
menyebakan abses hati. Migrasi batu empedu kecil melalui ampula Vateri sewaktu
ada saluran umum diantara duktus koledokus distal dan duktus pankreatikus dapat
menyebabkan pankreatitis batu empedu. Tersangkutnya batu empedu dalam ampula
akan menyebabkan ikterus obstruktifa.

Penatalaksanaan
a). Konservatif

Sebagian besar pasien dengan batu empedu asimtomatik tidak akan


mengalami keluhan dan jumlah, besar, dan komposisi batu tidak berhubungan dengan
timbulnya keluhan selama pemantauan. Kalaupun nanti timbul keluhan umumnya
ringan sehingga penanganan dapat elektif. Terapi disolusi dengan asam ursodeoksilat
untuk melarutkan batu empedu kolesterol dibutuhkan waktu pemberian obat 6-12
bulan dan diperlukan monitoring hingga dicapai disolusi. Terapi efektif pada ukuran
batu kecil dari 1 cm dengan angka kekambuhan 50 % dalam 5 tahun.

b). Disolusi kontak

Metode ini didasarkan pada prinsip PTC dan instilasi langsung pelarut
kolesterol ke kandung empedu. Prosedur ini invasif dan kerugian utamanya adalah
angka kekambuhan yang tinggi.

c). Litotripsi (Extarcorvoral Shock Wave Lithotripsy =ESWL)

Litotripsi gelombang elektrosyok meskipun sangat populer beberapa tahun


yang lalu, analisis biaya-manfaat pada saat ini hanya terbatas untuk pasien yang
benar-benar telah dipertimbangkan untuk menjalani terapi ini. Efektifitas ESWL
memerlukan terapi adjuvant asam ursodeoksilat.

Pembedahan juga dilakukan pada batu empedu yang simptomatik. Indikasi


kolesistektomi konvensional maupun laparoskopik adalah kolelitiasis asimtomatik
pada penderita diabetes mellitus karena serangan kolelitiasis dapat menimbulkan
komplikasi berat. Indikasi lain adalah kandung empedu yang tidak terlihat pada
kolesistografi oral, yang menandakan stadium lanjut, atau kandung empedu dengan
batu besar, berdiameter lebih dari 2 cm karena batu yang besar lebih sering
menimbulkan kolesistitis akut dibanding batu yang lebih kecil. Indikasi lain adalah
kalsifikasi kandung empedu karena dihubungkan dengan kejadian karsinoma.

Penanganan operatif

a). Open kolesistektomi


Operasi ini merupakan standar untuk penanganan pasien dengan batu
empedu simtomatik. Indikasi yang paling umum untuk kolesistektomi adalah kolik
biliaris rekuren, diikuti oleh kolesistitis akut. Komplikasi yang berat jarang terjadi,
meliputi trauma CBD, perdarahan, dan infeksi.

b). Kolesistektomi laparoskopik


Kelebihan tindakan ini meliputi nyeri pasca operasi lebih minimal,
pemulihan lebih cepat, hasil kosmetik lebih baik, menyingkatkan perawatan di rumah
sakit dan biaya yang lebih murah. Indikasi tersering adalah nyeri bilier yang berulang.
Kontra indikasi absolut serupa dengan tindakan terbuka yaitu tidak dapat
mentoleransi tindakan anestesi umum dan koagulopati yang tidak dapat dikoreksi.
Komplikasi yang terjadi berupa perdarahan, pankreatitis, bocor stump duktus sistikus
dan trauma duktus biliaris. Resiko trauma duktus biliaris sering dibicarakan, namun
umumnya berkisar antara 0,5–1%. Dengan menggunakan teknik laparoskopi kualitas
pemulihan lebih baik, tidak terdapat nyeri, kembali menjalankan aktifitas normal
dalam 10 hari, cepat bekerja kembali, dan semua otot abdomen utuh sehingga dapat
digunakan untuk aktifitas olahraga.

c). Kolesistektomi minilaparatomi.


Modifikasi dari tindakan kolesistektomi terbuka dengan insisi lebih kecil dengan efek
nyeri pasca operasi lebih rendah.
PRESENTASI KASUS

KOLELITIASIS

Pembimbing:
dr. Syamsul Burhan, Sp.B

Disusun oleh:
Paramita Nurina Putri
2006.031.0128

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
RSUD SARAS HUSADA PURWOREJO
2011
DAFTAR PUSTAKA

Batu empedu. (2010). Diakses 5 April 2011 dari


http://www.scribd.com/doc/13888286/batu-empedu.
Kolangitis Asenden. (2010). Diakses 11 April 2011 dari
http://panmedical.wordpress.com/2010.
Lesmana, L. (2000).Buku Ajar Penyakit Dalam Jilid 1. Edisi 3.
Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Sjamsuhidayat R, De Jong W.(2005). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.