Anda di halaman 1dari 2

RBEDAAN ANTARA DAERAH KHUSUS DAN DAERAH ISTIMEWA

Pengertian Daerah Khusus

Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi. Negara mengakui dan
menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa
yang diatur dengan undang-undang. Yang dimaksud satuan-satuan pemerintahan daerah yang
bersifat khusus adalah daerah yang diberikan otonomi khusus. Daerah-daerah yang diberikan
otonomi khusus ini adalah

1. Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta;


2. Provinsi Aceh;
3. Provinsi Papua; dan
4. Provinsi Papua Barat.

UU Khusus Daerah-daerah yang memiliki status istimewa dan diberikan otonomi khusus selain
diatur dengan Undang-Undang Pemerintahan Daerah diberlakukan pula ketentuan khusus yang
diatur dalam undang-undang lain.

Bagi Provinsi DKI Jakarta diberlakukan UU Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan
Provinsi Daerah Khusus Ibu kota Jakarta sebagai Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia;

Bagi Provinsi NAD diberlakukan UU Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan


Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh dan UU Nomor 11 Tahun 2006 tentang
Pemerintahan Aceh; dan

Bagi Provinsi Papua dan Papua Barat diberlakukan UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi
Khusus bagi Provinsi Papua.

Daerah Istimewa

Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi. Negara mengakui dan
menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa
yang diatur dengan undang-undang. Yang dimaksud satuan-satuan pemerintahan daerah
istimewa adalah Daerah Istimewa Aceh dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dulu juga ada Daerah
Istimewa Surakarta

UU KhususDaerah-daerah yang memiliki status istimewa dan diberikan otonomi khusus selain
diatur dengan Undang-Undang Pemerintahan Daerah diberlakukan pula ketentuan khusus yang
diatur dalam undang-undang lain.

Di Daerah Istimewa Aceh (Provinsi Aceh) telah diberlakukan UU Nomor 44 Tahun 1999 tentang
Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh dan UU Nomor 11 Tahun 2006
tentang Pemerintahan Aceh; dan
Daerah Istimewa Yogyakarta belum memiliki UU yang mengatur ketentuan khusus sebagaimana
dimaksud. Pengakuan KeistimewaanPengakuan keistimewaan Daerah Istimewa Aceh didasarkan
pada perjalanan ketatanegaraan Republik Indonesia yang menempatkan Aceh sebagai satuan
pemerintahan daerah yang bersifat istimewa dan khusus, terkait dengan karakter khas sejarah
perjuangan masyarakat Aceh yang memiliki ketahanan dan daya juang tinggi. Ketahanan dan
daya juang tinggi tersebut bersumber dari pandangan hidup yang berlandaskan syari’at Islam
yang melahirkan budaya Islam yang kuat, sehingga Aceh menjadi salah satu daerah modal bagi
perjuangan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

Pengakuan keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Daerah Istimewa Surakarta


didasarkan pada hak asal-usul kedua wilayah sebagai penerus Kerajaan Mataram, peranannya
dalam sejarah perjuangan nasional, serta balas jasa Presiden Soekarno atas pengakuan raja-raja
tersebut yang menyatakan wilayah mereka adalah bagian dari Republik Indonesia. Gubernur
Daerah Istimewa Surakarta yang pertama adalah Sri Susuhunan Pakubuwana XII dan wakil
gubernur Sri Mangkunegara VIII, sedangkan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang
pertama adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan wakilnya adalah KGPAA Paku Alam VIII,
masing-masing gubernur dan wakil gubernur memiliki masa jabatan seumur hidup. Namun
karena terjadi revolusi sosial yang didalangi oleh Tan Malaka untuk menentang berkuasanya
kekuatan aristokrasi dan feodalisme di Daerah Istimewa Surakarta, maka semenjak 16 Juni 1946
DIS dihapuskan dan diganti dengan status Karesidenan yang dipimpin oleh seorang
residen. sumber http://sesukakita.wordpress.com/2012/01/30/perbedaan-antara-daerah-khusus-
dan-daerah-istimewa/