Anda di halaman 1dari 17

DEFINISI

Kanker prostat merupakan suatu penyakit kanker yang menyerang kelenjar prostat
dengan sel-sel prostat, tumbuh secara abnormal dan tidak terkendali,
sehingga mendesak dan merusak jaringan sekitarnya yang merupakan
keganasan terbanyak diantara sistem urogenitalia pada pria. Kanker ini sering
menyerang pria yang berumur di atas 50 tahun, diantaranya 30% menyerang pria
berusia 70-80 tahun dan 75% pada usia lebih dari 80 tahun. Kanker ini jarang
menyerang pria berusia di bawah 45 tahun (Purnomo, 2011).

Karsinoma prostat ialah keganasan pada laki-laki yang sangat sering


didapat. Angka kejadian diduga 19% dari semua kanker pada pria dan
merupakan karsinoma terbanyak kedua setelah karsinoma paru (22%).
Insidensi karsinoma prostat meningkat 6% setiap tahunnya dan karena sering
terjadi pada pria usia tua, karsinoma prostat menduduki peringkat ke-21 di
antara tumor yang potensial menyebabkan kematian (Harrison, 2008).

Kanker prostat adalah penyakit kanker yang menyerang kelenjar prostat


dengan sel-sel kelenjar prostat tumbuh abnormal dan tidak terkendali. Prostat
adalah kelenjar seks pada pria, ukurannya kecil dan terletak dibawah
kandung kemih, mengelilingi saluran kencing (uretra) (Widjojo, 2007).

ETIOLOGI

Jarang ditemukan angka kejadian keganasan prostat yang tinggi di dalam


satu keluarga. Keganasan prostat sama dengan prostat normal, untuk pertumbuhan
dan perkembangannya bergantung pada hormon androgen. Hal ini tidak
berarti bahwa karsinoma prostat disebabkan oleh hormon androgen. Banyak
keganasan prostat sensitif terhadap hormon sehingga dapat digunakan pengobatan
hormonal. Faktor kausal lingkungan tampak pada pengamatan penduduk AS
keturunan Jepang yang generasi kedua dan ketiga tinggal di AS. Mereka
mempunyai insidens karsinoma prostat yang sama dengan penduduk AS
keturunan kulit putih, sedangkan penduduk Jepang yang tetap di Jepang
mempunyai insidens yang lebih rendah (Sjamsuhidajat, 2011).
Para peneliti telah mengidentifikasi beberapa faktor yang tampaknya
meningkatkan resiko terkena karsinoma prostat, termasuk:

1. Usia
Jarang terjadi pada usia di bawah 40 tahun, namun insidensi
meningkat dengan cepat pada usia di atasnya.
2. Ras
Kanker jenis ini lebih sering mempengaruhi orang-orang di Afrika
Amerika di Amerika dan laki-laki Karibia . Di Amerika Serikat, ras Afrika
memiliki risiko lebih tinggi dari jenis kanker, dibandingkan orang Asia
maupun Hispanik.
3. Diet dan gaya hidup
Diet tinggi lemak jenuh, daging merah, sedikit buah dan sedikit
sayuran, rendah tomat, rendah ikan dan atau rendah kedelai
meningkatkan resiko terkena kanker prostat. Diet tinggi kalsium juga
berhubungan dengan peningkatan resiko kanker prostat.
4. Riwayat keluarga
Memiliki anggota keluarga dengan karsinoma prostat meningkatkan risiko
penyakit. Seorang laki-laki yang memiliki ayah atau saudara laki laki
yang terdiagnosa kanker pada usia 50 tahun memiliki resiko 2 kali lipat
lebih tinggi terkena karsinoma prostat. Resiko meningkat menjadi tujuh
samapi delapan kali lipat lebih tinggi pada laki laki yang memiliki
dua atau lebih keluarga yang menderita kanker prostat.
5. Mutasi Genetik
Berhubungan dengan mutasi BRCA1atau BRCA2 dan sindrom Lynch.

(Kementrian Kesehatan Indonesia,2017)

PATOFISIOLOGI

Penyebab Ca Prostat hingga kini belum diketahui secara pasti, tetapi


beberapa hipotesa menyatakan bahwa Ca Prostat erat hubungannya dengan
hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya Ca Mammae adalah
adanya perubahan keseimbangan antara hormon testosteron dan estrogen
pada usia lanjut, hal ini akan mengganggu proses diferensiasi dan proliferasi
sel. Diferensiasi sel yang terganggu ini menyebabkan sel kanker, penyebab
lain yaitu adanya faktor pertumbuhan yang stroma yang berlebihan serta
meningkatnya lama hidup sel-sel prostat karena berkurangnya sel-sel yang
mati sehingga menyebabkan terjadinya perubahan materi genetik. Perubahan
prolife sehingga menyebabkan produksi sel stroma dan sel epitel kelenjar
prostat menjadi berlebihan sehingga terjadi Ca Prostat (Price, 1995)
Kanker akan menyebakan penyempitan lumen uretra pars prostatika dan
akan menghambat aliran urin,. Keadaan ini menybabkan penekanan
intraavesikal, untuk dapat mengeluarkan urinbuli-buli harus dapat
berkontraksi kuat guna melawan tahanan itu. Kontraksi yang terus-menerus
menyebabkan perubahan anatomik dari buli-buli berupa hipertrofi detrusor,
trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan divetikel buli-buli. Fase
penebalan ototdetrusor ini disebut fase kompensasi (Purnomo,2000)
Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan oleh pasien sebagai keluhan
pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary track symptom (LUTS)
yang dahulu dikenal dengan gejal-gejal prostatismus, dengan semakin
meningkatnya retensi uretra, otot detrusor masuk ke dalam fase
dekompensaasi dan akhirnya tidak mampu lagi untuk berkontraksisehingga
terjadi retensi urin. Tekanan intravsikal yang semakin tinggi akan diteruskan
ke seluruh bagian buli-buli ke ureter atau terjadi refluk vesico-ureter.
Keadaan ini jika berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter,
hidronefrosis,bahkan akhirnya akan dapat jatuh kedalam gagal ginjal (Price,
1995).
Berkemgangnya tumor yang terus menerus dapat terjadi perluasan
langsung ke uretra, leher kandung kemih dan vesika semmininalis. Ca Prostat
dapat juga menyebar melalui jalur hematogen yaitu tulang –tulang pelvis
vertebra lumbalis, femur dan kosta. Metastasis organ adalah pada hati dan
paru (Purnomo,2000)
Proses patologis lainnya adalah penimbunan jaringan kolagen dan elastin
diantara otot polos yang berakibat melemahnya kontraksi otot. Selain tu
terdapat degenerasi sel syaraf yang mempersarafi otot polos. Hal ini dapat
mengakibatkan terjadinya hipersensitivitas pasca fungsional,
ketidakseimbangan neurotransmiter, dan penurunan input sensorik, sehingga
otot detrusor tidak stabil. Karena fungsi otot vesika tidak normal, maka
terjadi peningkatan residu urin yang menyebabkan hidronefrosis dan
disfungsi saluran kemih atas. (Purnomo,2000)
Kanker prostat dapat menyebar ke kelenjar limfe di panggul
kemudian ke kelenjar limfe retroperitoneal atas. Penyebaran hematogen
terjadi melalui vertebralis ke tulang panggul, femur proksimal, ruas
tulang lumbal, dan tulang iga. Metastasis tulang sering bersifat osteoklastik.
Kanker ini jarang menyebar ke sumsum tulang dan visera, khususnya hati
dan paru (jong dan Sjamsuhidajat, 2010).
TANDA DAN GEJALA

1. Kebutuhan untuk sering buang air kecil, terutama di malam hari, kadang-
kadang sangat mendesak
2. Kesulitan memulai atau menahan buang air kecil
3. Aliran urin yang lemah, menetes, atau terganggu
4. BAK yang menyakitkan atau terbakar
5. Kesulitan dalam ereksi
6. Penurunan jumlah cairan ejakulasi
7. Ejakulasi menyakitkan
8. Darah dalam air seni atau air mani
9. Tekanan atau nyeri di rektum
10. Nyeri atau kekakuan di punggung bagian bawah, pinggul, atau paha

(Prostate Cancer Foundation, 2018)

PEMERRIKSAAN PENUNJANG

1. Inspeksi buli-buli : ada/ tidaknya penonjolan perut di daerah supra pubik


( buli-buli penuh / kosong )
2. Palpasi buli-buli : Tekanan didaerah supra pubik menimbulkan
rangsangan ingin kencing bila buli-buli berisi atau penuh. Terasa massa
yang kontraktil dan “Ballottement”.
3. Perkusi : Buli-buli yang penuh berisi urin memberi suara redup.
4. Colok dubur : pemeriksaan colok dubur dapat memberi kesan keadaan
tonus sfingter anus, mukosa rektum, kelainan lain seperti benjolan di
dalam rektum dan prostat. Pada perabaan melalui colok dubur harus di
perhatikan konsistensi prostat (pada pembesaran prostat jinak
konsistensinya kenyal), adakah asimetris adakah nodul pada prostat , apa
batas atas dapat diraba. Dengan colok dubur besarnya prostat dibedakan :
Grade 1 : Perkiraan beratnya sampai dengan 20 gram.
Grade 2 : Perkiraan beratnya antara 20-40 gram.
Grade 3 : Perkiraan beratnya lebih dari 40 gram.
Nilai prediksi colok dubur untuk mendeteksi kanker prostat 21,53%.
Sensitifitas colok dubur tidak memadai untuk mendeteksi kanker prostat
tapi spesifisitasnya tinggi, namun bila didapatkan tanda ganas pada colok
dubur maka hampir semua kasus memang terbukti kanker prostat karena
nilai prediktifnya 80% (Umar dan Agoes, 2002).
5. USG transrektal (TRUS) : Pada pemeriksaan USG transrektal dapat
diketahui adanya area hipo-ekoik (60%) yang merupakan adalah satu
tanda adanya kanker prostat dan sekaligus mengetahui kemungkinan
adanya ekstensi tumor ke ekstrak apsuler. Selain itu dengan tuntunan
USG dapat di ambil contoh jaringan pada area yang dicurigai
keganasan melalui biopsy aspirasi dengan jarum halus (Purnomo,
2011).
6. Biopsi : Biopsi Prostat, merupakan “gold standart” untuk menegakkan
diagnose kanker prostat. Pemeriksaan biopsi prostat menggunakan
panduan transurectal ultrasound scanning (TRUS) sebagai sebuah biopsi
standar (Jefferson & Natasha, 2009)
7. CT scan dan MRI : CT scan diperiksa jika dicurigai adanya
metastasis pada limfonudi (N), yaitu menunjukkan skor Gleason tinggi
(>7) atau kadar PSA tinggi. Dibandingkan dengan USG transrektal, MRI
lebih akurat dalam menentukan luas ekstensi tumor ke ekstrakapsuler atau
ke vasikula seminalis (Purnomo, 2011).
8. Prostate-specific antigen (PSA) : Pemeriksaan kadar PSA telah
mengubah kriteria diagnosis dari kanker prostat. PSA adalah serine-
kalikrein protease yang hampir seluruhnya diproduksi oleh sel epitel
prostat. Pada prakteknya PSA adalah organ spesifik namun bukan kanker
spesifik. Maka itu peningkatan kadar PSA juga dijumpai pada BPH,
prostatitis, dan keadaan non-maligna lainnya. Kadar PSA secara tunggal
adalah variabel yang paling bermakna dibandingkan colok dubur atau
TRUS. Kadar PSA adalah parameter berkelanjutan semakin tinggi
kadarnya, semakin tinggi pula kecurigaan adanya kanker prostat. Nilai
baku PSA di Indonesia saat ini yang dipakai adalah 4 ng/ml. (Kementrian
Kesehatan Indonesia,2017)

KLASIFIKASI

Menurut Diananda (2009), dan Suprianto (2010), kanker prostat dikelompokkan


menjadi 4 stadium :

1. Stadium I : Benjolan/kanker tidak dapat diraba pada pemeriksaan fisik


atau DRE biasanya ditemukan secara tidak sengaja setelah pembedahan
prostat karena penyakit lain.
2. Stadium II : Kanker terlokalisasi pada prostat dan biasanya ditemukan
pada pemeriksaan fisik atau tes PSA.
3. Stadium III : Jaringan kanker telah menginvasi sebagian besar prostat,
dan menyebar menembus ke luar dari kapsul prostat, mengenai
vesikula seminalis, leher kandung kemih dan rongga pelvis, tetapi
belum sampai menyebar ke kelenjar getah bening.
4. Stadium IV : Kanker telah menyebar (metastase) ke kelenjar getah
bening regional maupun bagian tubuh lainnya (misalnya tulang belakang
dan paru-paru).

Klasifikasi menurut TNM tahun 2009

Klasifikasi kanker prostat menurut TNM


Tx: Tumor primer tidak dapat ditemukan
T1: Tumor tidak terdeteksi secara klnis, tidak dapat diraba atau terlihat dengan
pencitraan
 T1a: Tumor ditemukan secara kebetulan dari pemeriksaan histopatologis
pada kurang dari atau sama dengan 5% dari jaringan yang direseksi
 T1b: Tumor ditemukan secara kebetulan dari pemeriksaan histopatologis
pada lebih dari 5% dari jaringan yang direseksi
 T1c: Tumor ditemukan dari biopsi (karena ada peningkatan kadar PSA)

T2: Tumor terbatas pada prostat

 T2a: Tumor mengenai kurang dari atau sama dengan setengah lobus
prostat
 T2b: Tumor mengenai lebih dari setengah lobus tetapi tidak pada kedua
lobus prostat
 T2c: Tumor mengenai kedua lobus prostat

T3: Tumor meluas melewati kapsul prostat

 T3a: Tumor meluas di luar kapsul prostat (satu atau kedua sisi) termasuk
penyebaran ke leher buli secara mikroskopik
 T3b: Tumor mengenai kelenjar vesikula seminalis

T4: Tumor terfiksir atau mengenai struktur sekitar prostat selain vesikula
seminalis: seperti katup luar buli, rektum, otot levator dan/atau dinding pelvis
Nx: Kelenjar getah bening regional tidak dapat dinilai

N1: Tidak ada penyebaran kelenjar getah bening N2: Penyebaran pada kelenjar
getah bening regional
Mx: Penyebaran luas tidak dapat dinilai

M1: Penyebaran luas

 M1a: Penyebaran kelenjar getah bening bukan regional


 M1b: Penyebaran ke tulang
 M1c: Penyebaran ke organ lain
PENATALAKSANAAN

1. Penatalaksanaan kanker terlokalisir atau locally advanced.

Keterangan :

1. Monitoring aktif dikontraindikasikan pada pasien yang memiliki gejala.


Juga tidak direkomendasikan pada pasien dengan risiko sedang dan tinggi
dengan usia ≤ 70 tahun.
2. Diseksi KGB pelvis tidak dilakukan bila probabilitas adanya keterlibatan
kelenjar (staging nomogram) < 3%.
3. Terdapat perubahan untuk rekomendasi radikal prostatektomi untuk pasien
risiko tinggi dan sangat tinggi sebagai bagian program terapi
multimodalitas termasuk terapi hormonal, radioterapi pasca operasi dan
bila memungkinkan kemoterapi

(Umbas, Rainy dkk. 2011)

2. Pembedahan
Salah satu jenis pembedahan yang biasa dilakukan adalah prostatektomi
radikal. Prostatektomi radikal adalah operasi yang dilakukan untuk mengobati
kanker prostat. Cara ini paling sering digunakan untuk kanker yang belum
menyebar ke luar kelenjar prostat. Dalam operasi ini, ahli bedah melakukan
pengangkatan seluruh kelenjar prostat disertai beberapa jaringan di sekitarnya,
termasuk vesikula seminalis.
3. Radioterapi
Radiasi sinar eksternal untuk membunuh sel kanker dapat digunakan
sebagai pengobatan pertama atau setelah operasi kanker prostat. Hal ini juga
dapat membantu meredakan nyeri tulang dari penyebaran kanker.
1. Radioterapi eksternal, merupakan radioterapi yang dilakukan di rumah
sakit secara rawat jalan. Biasanya dilakukan sebanyak lima kali seminggu
selama 6—8 minggu.
2. Pencangkokan butiran yodium, emas, atau iridium radioaktif secara
langsung pada jaringan prostat. Keuntungan terapi ini adalah efek radiasi
terhadap kerusakan jaringan di sekitar jaringan prostat menjadi minimal
4. Terapi Hormon
Tujuan dari terapi hormon (disebut juga terapi penekanan androgen)
adalah untuk menurunkan kadar hormon pria (androgen). Androgen, yang
sebagian besar dibuat di testis, menyebabkan berkembangnya sel-sel kanker
prostat. Menurunkan kadar androgen sering membuat kanker prostat mengecil
atau tumbuh lebih lambat. Terapi hormon dapat mengontrol.
Contoh obat-obatan terapi hormon untuk kanker prostat antara lain
leuprolide, goserelin, dan buserelin. Obat tersebut diberikan dalam bentuk
suntikan setiap 3 bulan sekali. Efek sampingnya adalah mual dan muntah,
anemia, osteoporosis, dan impotensi. Obat lainnya yang digunakan sebagai
terapi hormon adalah zat yang menghambat aktivitas androgen (misalnya
flutamide atau nilutamide). Efek sampingnya adalah impotensi, gangguan hati,
diare, dan ginekomastia (pembesaran payudara). Selain itu, ada obat yang
mencegah kelenjar adrenalin untuk membuat androgen, antara lain
ketoconazole dan aminoglutethimide.
5. Kemoterapi
Kemoterapi membunuh sel-sel kanker di seluruh tubuh, termasuk yang di
luar prostat, sehingga digunakan untuk mengobati kanker lebih parah dan
kanker yang tidak dapat disembuhkan dengan terapi hormon. Pengobatan
biasanya intravena dan diberikan dalam siklus berlangsung 3-6 bulan.
6. Vaksin
Vaksin ini dirancang untuk mengobati, bukan mencegah, kanker prostat
dengan memacu sistem kekebalan tubuh untuk menyerang sel-sel kanker
prostat. Sel kekebalan akan diambil dari darah, diaktifkan untuk melawan
kanker, dan ditanamkan kembali ke dalam darah. Tiga siklus terjadi dalam
bersamaan. Ini digunakan untuk kanker prostat ganas yang tidak lagi
merespon terapi hormon. Efek samping ringan dapat terjadi seperti kelelahan,
mual, dan demam
(Manajemen Modern dan Kesehatan Masyarakat, 2010).
KOMPLIKASI

Komplikasi kanker prostat dan perawatannya termasuk :

1. Kanker yang menyebar (bermetastasis)


Kanker prostat dapat menyebar ke organ terdekat, seperti kandung
kemih, atau perjalanan melalui aliran darah atau sistem limfatik ke tulang
atau organ lainnya. Kanker prostat yang menyebar ke tulang dapat
menyebabkan rasa sakit dan patah tulang. Setelah kanker prostat telah
menyebar ke area lain dari tubuh, mungkin masih merespon pengobatan
dan mungkin dikontrol.
2. Inkontinensia
Kanker prostat dan dapat menyebabkan inkontinensia urin.
Perawatan untuk inkontinensia tergantung pada jenis yang dimiliki,
seberapa parah dan kemungkinan itu akan membaik seiring waktu. Pilihan
perawatan mungkin termasuk obat-obatan, kateter dan operasi.
3. Disfungsi ereksi
Disfungsi ereksi dapat terjadi akibat kanker prostat atau
perawatannya, termasuk operasi, radiasi atau perawatan hormon. Obat-
obatan, perangkat vakum yang membantu mencapai ereksi dan
pembedahan tersedia untuk mengobati disfungsi ereksi.

(Mayo Clinic, 2018)

PENGKAJIAN

Pengkajian dibagi menjadi 2 tahap, yaitu pengkajian pre operasi prostektomi dan
penkajian post operasi prostatektomi.

1. Pengkajian pre operasi prostatektomi


Pengkajian ini dilakukan sejak klien ini MRS sampai saat operasinya,
yang meliputi :
a. Identitas klien : Meliputi nama, jenis kelamin, umur, agama /
kepercayaan, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, suku/
Bangsa, alamat, no. rigester dan diagnosa medis.
b. Riwayat penyakit sekarang : Pada klien ca prostat keluhan keluhan
yang ada adalah frekuensi , nokturia, urgensi, disuria, pancaran
melemah, rasa tidak lampias/ puas sehabis miksi, hesistensi,
intermitency, dan waktu miksi memenjang dan akirnya menjadi
retensio urine.
c. Riwayat penyakit dahulu : Adanya penyakit yang berhubungan
dengan saluran perkemihan, misalnya ISK (Infeksi Saluran
Kencing) yang berulang. Penyakit kronis yang pernah di derita.
Operasi yang pernah di jalani kecelakaan yang pernah dialami
adanya riwayat penyakit DM dan hipertensi.
d. Riwayat penyakit keluarga : Adanya riwayat keturunan dari salah
satu anggota keluarga yang menderita penyakit ca prostat Anggota
keluargayang menderita DM, asma, atau hipertensi.
e. Riwayat psikososial :
1) Intra personal : Kebanyakan klien yang akan menjalani
operasi akan muncul kecemasan. Kecemasan ini muncul
karena ketidaktahuan tentang prosedur pembedahan. Tingkat
kecemasan dapat dilihat dari perilaku klien, tanggapan klien
tentang sakitnya.
2) Inter personal : Meliputi peran klien dalam keluarga dan
peran klien dalam masyarakat.
f. Pola fungsi kesehatan :
1) Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat : kebiasaan
merokok, penggunaan tembakau, penggunaan obat-obatan,
penggunaan alkhohol dan upaya yang biasa dilakukan dalam
mempertahankan kesehatan diri (pemeriksaan kesehatan
berkala, gizi makanan yang adekuat
2) Pola nutrisi dan metabolisme : frekuensi makan, jenis
makanan, makanan pantangan, jumlah minum tiap hari, jenis
minuman, kesulitan menelan atau keadaan yang
mengganggu nutrisi seperti nause, stomatitis, anoreksia dan
vomiting.
3) Pola eliminasi : pola berkemih, termasuk frekuensinya, ragu
ragu, menetes-netes, jumlah klien harus bangun pada malam
hari untuk berkemih, kekuatan system perkemihan. Klien
juga ditanya apakah mengedan untuk mulai atau
mempertahankan aliran kemih. Dan tentang defikasi, apakah
ada kesulitan seperti konstipasi akibat dari prostrusi prostat
kedalam rectum.
4) Pola tidur dan istirahat : lamanya tidur, adanya waktu tidur
yang berkurang karena frekuensi miksi yang sering pada
malam hari ( nokturia ). Kebiasaan tidur memekai bantal atau
situasi lingkungan waktu tidur juga perlu ditanyakan. Upaya
mengatasi kesulitan tidur.
5) Pola aktifitas : aktifitasnya sehari-hari, aktifitas penggunaan
waktu senggang, kebiasaan berolah raga. Apakah ada
perubahan sebelum sakit dan selama sakit. Pada umumnya
aktifitas sebelum operasi tidak mengalami gangguan, dimana
klien masih mampu memenuhi kebutuhan sehari – hari
sendiri.
6) Pola hubungan dan peran
7) Pola persepsi dan konsep diri : informasi tentang perasaan
atau emosi yang dialami atau dirasakan klien sebelum
pembedahan. Tanggapan klien tentang sakitnya dan
dampaknya pada dirinya. Koping klien dalam menghadapi
sakitnya, apakah ada perasaan malu dan merasa tidak
berdaya.
8) Pola sensori dan kognitif
9) Pola reproduksi seksual : jumlah anak, hubungannya dengan
pasangannya, pengetahuannya tantangsek sualitas. Perlu
dikaji pula keadaan seksual yang terjadi sekarang, masalah
seksual yang dialami sekarang (masalah kepuasan, ejakulasi
dan ereksi) dan pola perilaku seksual.
10) Pola penanggulangan stress : Menanyakan apa klien
merasakan stress, apa penyebab stress, mekanisme
penanggulangan terhadap stress yang dialami. Pemecahan
masalah biasanya dilakukan klien bersama siapa. Apakah
mekanisme penanggulangan stressor positif atau negatif.
11) Pola tata nilai dan kepercayaan : Klien menganut agama apa,
bagaimana dengan aktifitas keagamaannya. Kebiasaan klien
dalam menjalankan ibadah.
g. Pemeriksaan Fisik
1) Status kesehatan umum : Keadaan penyakit, kesadaran, suara
bicara, status/ habitus, pernafasan, tekanan darah, suhu tubuh,
nadi.
2) Kulit : Apakah tampak pucat, bagaimana permukaannya,
adakah kelainan pigmentasi, bagaimana keadaan rambut dan
kuku klien
3) Kepala : Bentuk bagaimana, simetris atau tidak, adakah
penonjolan, nyeri kepala atau trauma pada kepala.
4) Muka : Bentuk simetris atau tidak adakah odema, otot rahang
bagaimana keadaannya, begitu pula bagaimana otot
mukanya.
5) Mata : Bagainama keadaan alis mata, kelopak mata odema
atau tidak. Pada konjungtiva terdapat atau tidak hiperemi dan
perdarahan. Slera tampak ikterus atau tidak.
6) Telinga : Ada atau tidak keluar secret, serumen atau benda
asing. Bagaimana bentuknya, apa ada gangguan pendengaran.
7) Hidung : Bentuknya bagaimana, adakah pengeluaran secret,
apa ada obstruksi atau polip, apakah hidung berbau dan
adakah pernafasan cuping hidung.
8) Mulut dan faring : Adakah caries gigi, bagaimana keadaan
gusi apakah ada perdarahan atau ulkus. Lidah tremor ,parese
atau tidak. Adakah pembesaran tonsil.
9) Leher : Bentuknya bagaimana, adakah kaku kuduk,
pembesaran kelenjar limphe.
10) Thoraks : Bentuknya bagaimana, adakah gynecomasti.
11) Paru : Bentuk bagaimana, apakah ada pencembungan atau
penarikan. Pergerakan bagaimana, suara nafasnya. Apakah
ada suara nafas tambahan seperti ronchi , wheezing atau
egofoni.
12) Jantung : Bagaimana pulsasi jantung (tampak atau
tidak).Bagaimana dengan iktus atau getarannya.
13) Abdomen : Bagaimana bentuk abdomen. Pada klien dengan
keluhan retensi umumnya ada penonjolan kandung kemih
pada supra pubik. Apakah ada nyeri tekan, turgornya
bagaimana. Pada klien biasanya terdapat hernia atau
hemoroid. Hepar, lien, ginjal teraba atau tidak. Peristaklit
usus menurun atau meningkat.
14) Genitalia dan anus : Pada klien biasanya terdapat hernia.
Pembesaran prostat dapat teraba pada saat rectal touché. Pada
klien yang terjadi retensi urine, apakah trpasang kateter,
Bagaimana bentuk scrotum dan testisnya. Pada anus biasanya
ada haemorhoid.
15) Ekstrimitas dan tulang belakang : Apakah ada pembengkakan
pada sendi. Jari – jari tremor apa tidak. Apakah ada infus
pada tangan. Pada sekitar pemasangan infus ada tanda –
tanda infeksi seperti merah atau bengkak atau nyeri tekan.
Bentuk tulang belakang bagaimana.
2. Pengkajian post operasi prostatektomi
Pengkajian ini dilakukan setelah klien menjalani operasi, yang
meliputi:
a. Keluhan utama
Keluhan pada klien berbeda – beda antara klien yang satu dengan
yang lain. Kemungkinan keluhan yang bisa timbul pada klien post
operasi prostektomi adalah keluhan rasa tidak nyaman, nyeri
karena spasme kandung kemih atau karena adanya bekas insisi
pada waktu pembedahan. Hal ini ditunjukkan dari ekspresi klien
dan ungkapan dari klien sendiri.
b. Keadaan umum
Kesadaran, GCS, ekspresi wajah klien, suara bicara.
c. Sistem respirasi
Bagaimana pernafasan klien, apa ada sumbatan pada jalan nafas
atau tidak. Apakah perlu dipasang O2. Frekuensi nafas , irama
nafas, suara nafas. Ada wheezing dan ronchi atau tidak. Gerakan
otot Bantu nafas seperti gerakan cuping hidung, gerakan dada dan
perut. Tanda – tanda cyanosis ada atau tidak.
d. Sistem sirkulasi
Yang dikaji: nadi ( takikardi/bradikardi, irama ), tekanan darah,
suhu tubuh, monitor jantung ( EKG ).
e. Sistem gastrointestinal
Hal yang dikaji: Frekuensi defekasi, inkontinensia alvi, konstipasi /
obstipasi, bagaimana dengan bising usus, sudah flatus apa belum,
apakah ada mual dan muntah.
f. Sistem neurology
Hal yang dikaji: keadaan atau kesan umum, GCS, adanya nyeri
kepala.
g. Sistem muskuloskleletal
Bagaimana aktifitas klien sehari – hari setelah operasi. Bagaimana
memenuhi kebutuhannya. Apakah terpasang infus dan dibagian
mana dipasang serta keadaan disekitar daerah yang terpasang infus.
Keadaan ekstrimitas.
h. Sistem eliminasi
Apa ada ketidaknyamanan pada supra pubik, kandung kemih
penuh . Masih ada gangguan miksi seperti retensi. Kaji apakah ada
tanda – tanda perdarahan, infeksi. Memakai kateter jenis apa.
Irigasi kandung kemih. Warna urine dan jumlah produksi urine tiap
hari. Bagaimana keadaan sekitar daerah pemasangan kateter.
i. Terapi yang diberikan setelah operasi
Infus yang terpasang, obat – obatan seperti antibiotika, analgetika,
cairan irigasi kandung kemih.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Retensi Urin b.d peningkatan tekanan uretra

Resti infeksi berhubungan dengan prosedur infasif ( alat selama pembedahan)

Dis)ungsi seksual b,d e)ek terapi? kemoterapi; terapi hormonal; terapiradiasi;


pembedahan,
DAFTAR PUSTAKA