Anda di halaman 1dari 21

A.

Anatomi dan Fisiologi


1. Anatomi
Sistem pernapasan terdiri atas:
a. Hidung
Merupakan saluran udara yang pertama, berfungsi
mengalirkan udara ke dan dari paru-paru. Jalan naps ini berfungsi
sebagai penyaring kotoran dan melembabkan serta menghangatkan
udara yang dihirupkan ke dalam paru-paru.
b. Faring atau tenggorokan
Struktur seperti tuba yang menghubungkan hidung dan
rongga mulut ke laring. Faring dibagi menjadi tiga region :
nasofaring,orofaring dan laringgofaring.
c. Laring
Sturktur epitel kartilago yang menghubungkan faring dan
trakea. Fungsi utama laring adalah untuk memungkin terjadinya
vokalisasi, melindungi jalan napas bawah dari obstruksi benda
asing dan memudahkan batuk. Laring sering juga disebut sebagai
kotak suara. Dan terdiri atas : epiglotis,glotis,kartilago tiroid,
kartilago krikoid, kartilago aritenoid dan pita suara.
d. Trakea
Merupakan lanjutan dari laring yang di bentuk oleh 16-20
cincin yang dari tulang-tulang rawan.
e. Bronkus
Merupakan lanjutan dari trakea terdiri dari bronkus kiri dan
kanan.
f. Paru-paru
Merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar tediri
dari gelembung alveoli. Paru-paru di bagi menjadi 2 bagian yaitu :
paru-paru kanan dan kiri , dimana paru-paru kanan terdiri atas 3
lobus dan paru-paru kiri terdiri 2 lobus.
2. Fisiologi
Proses pernapasan paru merupakan pertukaran oksigen dan
karbondioksida yang terjadi pada paru-paru. Proses ini terdiri dari 3
tahap yaitu :
a. Ventilasi
Ventilasi merupakan proses dan masuknya oksigen dari
atmosfer ke dalam alveoli atau dari alveoli ke atmosfer. Ada dua
gerakan pernapasan yang terjadi sewaktu pernapasan, yaitu
inspirasi dan ekspirasi.
b. Difusi gas
Difusi gas merupakan pertukaran antara oksigen di alveoli
dengan kapiler paru dan CO2 di kapiler dengan alveoli. Proses
pertukaran dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu luasnya
permukaan paru, tebal membran respirasi, dan perbedaan tekanan
dan konsentrasi O2.
c. Transportasi gas
Transportasi gas merupakan proses pendistribusian O2
kapiler ke jaringan tubuh dan CO1 jaringan tubuh ke kapiler.
Transportasi gas dipengaruhi oleh beberapa faktor, curah jantung,
kondisi pembuluh darah, latihan, eritrosit dan Hb.
B. Pengertian
Bronkopneumoni adalah peradangan pada parenkim paru yang
disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, ataupun benda asing yang ditandai
dengan gejala panas yang tinggi, gelisah, dipsnie, nafas cepat dan dangkal,
muntah, diare, serta batuk kering dan produktif (Hidayat, 2011). Menurut
Wiradarma (2012), bronkopneumoniamerupakan peradangan yang
mengenai parenkim (jaringan) paru, pada bagian terjauh dari bronkiolus
terminal yang mencakup bronkiolus respiratorius, dan aveoli, serta
menimbulkan konsolidasi (saling menempel) jaringan paru dan gangguan
pertukaran gas setempat.
Kesimpulan dari bronkopnemonia adalah sejenis infeksi paru yang
disebabkan oleh agen infeksius dan terdapat di daerah bronkus dan sekitar
alveoli.
C. Etiologi
Peradangan ini umumnya disebabkan oleh peradangan yang
bersifat ringan atau berat, hai ini tergantung pada penyebabnya. Menurut
Yolanda (2015), bronkopneumonia disebabkan oleh infeksi virus atau
bakteri yang diawali infeksi pernafasan atas (hidung dan tenggorokan).
Infeksi dapat didapat dari udara yang tercemar, infeksi virus pada
umumnya lebih sering terjadi dan umumnya disebabkan oleh
Cytomegolovirus atau influenta virus dan Legionella pnemonia. Bakteri
penyebab bronkopnemonia antara lain Staphylococcus aureus,
Haemophilus influenza, dan Klebsiella pneumonia. Penyakit ini juga dapat
diakibatkan oleh Aspergillus spesis atau Candida albicans dan dari
protozoa (toksoplasma). Selain itu aspirasi makanan, sekresi orofariengal
atau isi lambung kedalam paru, dan terjadi karena kongesti paru yang lama.
Faktor resiko penyebab bronkopneumonia antara lain bayi (< 2
tahun), orang tua (> 65 tahun), penderita penyakit paru kronik, HIV/AIDS,
diabetes, penyakit jantung, penerima kemoterapi, merokok, peminum
alcohol berat, serta kurang gizi. Bakteri Maupun virus yang masuk pada
paru-paru mengakibatkan reaksi peradangan atau gangguan dalam
pertukaran oksigen.
D. Tanda dan Gejala
Gejala bronkopnemonia dapat timbul secara mendadak atau
perlahan. Bronkopneumonia sering diawali dengan gejala pilek. Gejala
tersebut kemudian berkembang menjadi sesak nafas, nyeri dada,
pernafasan cepat, sesak dan demam. Pada bronkopnemonia akibat virus,
gejala yang timbul lebih ringan. Bronkopnemonia yang berat dapat
mengganggu pertukaran udara di paru-paru sehingga darah yang dialirkan
ke seluruh tubuh memiliki kandungan sedikit oksigen. Oleh karena itu,
dapat menyebabkan gangguan berbagai organ dan penurunan kesadaran
sampai kematian.
Menurut Wiradarma (2012) , tanda dan gejala bronkopneumonia
adalah adanya demam, batuk nonproduktif (tidak berdahak) ataupun
produktif (bedahak) dengan sputum purulen (kekuningan), nyeri dada
pleuritik (dipengaruhi oleh pernafasan) menggigil, rigor, serta nafas yang
pendek. Selain itu dapat ditemukan pasien dengan keluhan nyeri kepala,
mual, muntah, diare, mialgia (nyeri otot), arthralgia (nyeri sendi) serta
ferigue. Tanda-tanda yang sering timbul adalah takipneu (frekuensi
bernafas>20x/menit), dan takikardi (denyut nadi>100x/menit).
E. Patofisiologi
Dalam keadaan sehat pada paru tidak akan terjadi pertumbuhan
mikroorganisme, keadaan ini disebabkan oleh adanya mekanisme
pertahanan paru. Terdapatnya bakteri di dalam paru merupakan
ketidakseimbangan antara daya tahan tubuh, sehingga mikroorganisme
dapat berkembang biak dan berakibat timbulnya infeksi penyakit.
Masuknya mikroorganisme ke dalam saluran nafas dan paru dapat melalui
berbagai cara, antara lain :
1. Inhalasi langsung dari udara.
2. Aspirasi dari bahan-bahan yang ada di nasofaring dan orofaring
3. Perluasan langsung dari tempat-tempat lain
4. Penyebaran secara hematogen.
Mekanisme daya tahan traktus respiratorius bagian bawah sangat
efisien untuk mencegah infeksi yang terdiri dari :
1. Susunan anatomis rongga hidung
2. Jaringan limfoid di nasofaring
3. Bulu getar yang meliputi sebagian besar epitel traktus respiratorius
dan sekret lain yang dikeluarkan oleh sel epitel tersebut.
Refleks epiglotis yang mencegah terjadinya aspirasi sekret yang
terinfeksi. Drainase sistem limfatis dan fungsi menyaring kelenjar limfe
regional. Fagositosis aksi limfosit dan respon imunohumoral terutama dari
IgA. Sekresi enzim – enzim dari sel-sel yang melapisi trakeo-bronkial
yang bekerja sebagai antimikroba yang non spesifik. Bila pertahanan
tubuh tidak kuat maka mikroorganisme dapat melalui jalan nafas sampai
ke alveoli yang menyebabkan radang pada dinding alveoli dan jaringan
sekitarnya. Setelah itu mikroorganisme tiba di alveoli membentuk suatu
proses peradangan yang meliputi empat stadium, yaitu :
1. Stadium I (4 – 12 jam pertama/kongesti)
Disebut hiperemia, mengacu pada respon peradangan
permulaan yang berlangsung pada daerah baru yang terinfeksi. Hal
ini ditandai dengan peningkatan aliran darah dan permeabilitas
kapiler di tempat infeksi. Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan
mediator-mediator peradangan dari sel-sel mast setelah pengaktifan
sel imun dan cedera jaringan. Mediator-mediator tersebut
mencakup histamin dan prostaglandin. Degranulasi sel mast juga
mengaktifkan jalur komplemen. Komplemen bekerja sama dengan
histamin dan prostaglandin untuk melemaskan otot polos vaskuler
paru dan peningkatan permeabilitas kapiler paru. Hal ini
mengakibatkan perpindahan eksudat plasma ke dalam ruang
interstisium sehingga terjadi pembengkakan dan edema antar
kapiler dan alveolus. Penimbunan cairan di antara kapiler dan
alveolus meningkatkan jarak yang harus ditempuh oleh oksigen
dan karbondioksida maka perpindahan gas ini dalam darah paling
berpengaruh dan sering mengakibatkan penurunan saturasi oksigen
hemoglobin.
2. Stadium II (48 jam berikutnya)
Disebut hepatisasi merah, terjadi sewaktu alveolus terisi
oleh sel darah merah, eksudat dan fibrin yang dihasilkan oleh
penjamu ( host ) sebagai bagian dari reaksi peradangan. Lobus
yang terkena menjadi padat oleh karena adanya penumpukan
leukosit, eritrosit dan cairan, sehingga warna paru menjadi merah
dan pada perabaan seperti hepar, pada stadium ini udara alveoli
tidak ada atau sangat minimal sehingga anak akan bertambah sesak,
stadium ini berlangsung sangat singkat, yaitu selama 48 jam.
3. Stadium III (3 – 8 hari)
Disebut hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu sel-sel darah
putih mengkolonisasi daerah paru yang terinfeksi. Pada saat ini
endapan fibrin terakumulasi di seluruh daerah yang cedera dan
terjadi fagositosis sisa-sisa sel. Pada stadium ini eritrosit di alveoli
mulai diresorbsi, lobus masih tetap padat karena berisi fibrin dan
leukosit, warna merah menjadi pucat kelabu dan kapiler darah
tidak lagi mengalami kongesti.
4. Stadium IV (7 – 11 hari)
Disebut juga stadium resolusi yang terjadi sewaktu respon
imun dan peradangan mereda, sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis
dan diabsorsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali ke
strukturnya semula.
PATHWAY Nyeri akut

l Penderita yang dirawat di RS Jamur, virus, bakteri, Kuman berlebih di bronkus Proses peradangan Metebolisme me↑
protozoa
Kontaminasi peralatan RS Kuman terbawa ke saluran Hipertermi
Akumulasi sektret
pencernaan
Penderita yang mengalami di bronkus
Saluran pernafasan atas
supresi system pertahanan tubuh Bersihan jalan nafas
Infeksi saluran pencernaan
Mucus bronkus me↑ tidak efektif
Resiko tinggi penyebaran Jamur, virus, bakteri,
infeksi protozoa Peningkatan flora normal
dalam usus Bau mulut tidak
Anoreksia
sedap
Edema antar kapiler dan alveoli Dilatasi pembuluh darah
Peningkatan peristaltik Kekurangan Intake kurang
Iritan PMN eritrosit pecah usus → malabsorbsi volume cairan
Eksudat plasma masuk
alveoli Ketidak seimbangan
Edema paru Diare nutrisi: kurang dari
Gangguan difusi dalam kebutuhan tubuh
Pergeseran dinding paru plasma Gangguan keseimbangan Eksplorasi
cairan dan elektrolit meningkat
Penurunan capliance paru Bersihan jalan nafas
tidak efektif Peningkatan suhu Septikimia Peningkatan metabolisme

Suplai O₂ me↓
Intoleransi
Hipoksia Metabolik anaerob me↑ Akumulasi asam laktat Fatique
Gangguan perfusi jaringan aktifitas

Gangguan
Hiperventilasi Dispneu Retraksi dada Gangguan ADL
pertukaran gas

Sesak nafas Pola nafas tidak efektif


G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
a. Pemeriksaan darah
Pada kasus bronkopneumonia oleh bakteri akan terjadi
leukositosis (meningkatnya jumlah neutrofil) (Sandra M. Nettina,
2011). Gambaran darah menunjukkan leukositosis, biasanya
15.000-40.000/mm3. Jumlah leukosit tidak meningkat berhubungan
dengan infeksi virus atau mycoplasma. Nilai Hb biasanya tetap
normal dan sedikit menurun.
b. Pemeriksaan sputum
Bahan pemeriksaan yang terbaik diperoleh dari bantuk
yang spontan dan dalam. Digunakan untuk pemeriksaan
mikroskopis dan untuk kultur serta tes sensitifitas untuk
mendeteksi agen infeksius (Barbara C. Long, 2010). Kultur dahak
dapat positif pada 20-50% penderita yang tidak diobati. Selain
kultur dahak, biakan juga dapat diambil dengan cara hapusan
tenggorok (throat swab).

c. Pemeriksaan analisis gas darah


Analisis gas darah untuk mengevaluasi status oksigenisasi
dan status asam basa (Sandra M. Nettina, 2011). Pemeriksaan ini
menunjukan hipoksemia dan hiperkarbia. Pada stadium lanjut
dapat terjadi asidosis meyabolik.
d. Kultur darah untuk medeteksi bakteremia
Sample darah, sputum, dan urine untuk tes imunologi untuk
mendeteksi antigen mikroba. (Sandra M. Nettina, 2011)
2. Pemeriksaan Radiologi
a. Rontgenogram Thoraks
Menunjukkan konsolidasi lobar yang seringkali dijumpai
pada infeksi pneumokokal atau klebsiella. Infiltrate multiple
seringkali dijumpai pada infeksi stafilokokus dan haemofilus.
(Barbara C. Long, 2010).
b. Laringoskopi/bronkoskopi
Laringoskopi/bronkoskopi untuk menentukan apakah jalan
nafas tersumbat oleh benda padat (Sandra M. Nettina, 2011).
H. Penatalaksanaan Medis
Bronkopneumonia akibat virus dapat sembuh secara spontan dalam
1-2 minggu. Pengobatan diberikan untuk meringankan gejala seperti obat
untuk meringankan batuk dan demam. Pada bronkopnemonia yang
disebabkan oleh bakteri dapat menggunakan antibiotic. Rawat jalan dapat
dilakukan pada penderita bronkopnemonia ringan ini. Rawat inap
diperlukan ketika muncul gejala berat seperti napas cepat, penurunan
tekanan darah, penurunan kesadaran dan kebutuhan dalam pemasangan
alat bantu nafas. (Yolanda, 2015)
Penatalaksanaan keperawatan pada klien dengan bronkopnemonia
antara lain: (Huda, 2015).
a. Pertahankan suhu tubuh dalam batas normal melalui pemberian
kompres
b. Latihan batuk efektif dan fisioterapi paru
c. Kebutuhan nutrisi dan cairan
Bronkopneumonia sering mengalami kekurangan asupan
makanan. Suhu tubuh yang tinggi selama beberapa hari dandan
masukan cairan yang kurang dapat menyebabkan dehidrasi. Untuk
mencegah dehidrasi dan kekurangan kalori dapat dipasang infuse
dengan cairan glukosa 5% dan NaCl 0,9%.
d. Kebutuhan istirahat
Pasien ini sering mengalami hiperpireksia maka pasien perlu
cukup istirahat, semua kebutuhan pasien harus ditolong ditempat tidur.
e. Pemberian oksigenasi yang adekuat
f. Penatalaksanaan medis dengan cara pemberian pengobatan, apabila
ringan tidak perlu diberikan antibiotic diberikan antibiotic, tetapi
apabila penyakit berat pasien dapat dirawat inap. Pemberian antibiotic
harus berdasarkan usia, keadaan umum, dan kemungkinan penyebab,
seperti pemberian penisilin prokain dan kloramfenikol atau kombinasi
ampisilin dan kloksasilin, atau eritromisin dan kloramfenikol atau
sejenisnya.
Menurut Wirdana (2012), pengobatan yang dapat dilakukan adalah:
a. Antibiotik: amoxicillin, azitromycin, ceftrixaone, cefotaxime,
doxycicline dan clindamycin.
b. Bila dicurigai disebabkan oleh infeksi virus (terutama pada anak-anak
dibawah 2 tahun) maka dapat diberikan obat anti virus.
c. Bila sangat sesak, dapat dirawat di rumah sakit, dan diberikan oksigen
serta infuse.
d. Status gizi juga harus diperhatikan, pemberian vitamin, makanan seta
minuman yang cukup.
Penatalaksanaan pneumonia khususnya bronkopneumonia pada anak
terdiri dari 2 macam, yaitu penatalaksanaan umum dan khusus (Bradley et.
Al., 2011).
a. Penatalaksanaan Umum
1) Pemberian oksigen lembab 2-4 L/menit. Ini dilakukan sampai
sesak nafas hilang atau PaO2 pada analisis gas darah ≥ 60 torr.
2) Pemasangan infuse untuk rehidrasi dan koreksi elektrolit.
3) Asidosis diatasi dengan pemberian bikarbonat intravena.
b. Penatalaksanaan Khusus
1) Mukolitik, ekspektoran dan obat penurun panas sebaiknya tidak
diberikan pada 72 jam pertama karena akan mengaburkan
interprestasi reaksi antibiotic awal.
2) Obat penurun panas diberikan hanya pada penderita dengan suhu
tinggi takikardi, atau penderita kelainan jantung.

Pemberian antibiotika berdasarkan mikroorganisme penyebab dan


manifestasi klinis. Pneumonia ringin dapat diberikan amoksilin 10-25
mg/kgBB/dosis (di wilayah dengan angka resistensi penicillin tinggi dosis
dapat dinaikkan menjadi 80-90 mg/kgBB/hari).
I. Komplikasi
Komplikasi yang terjadi pada pasien yang mengalami
bronkopnemonia terjadi akibat tidak dilakukannya pengobatan secara
segera. Di bawah ini merupakan komplikasi dari penyakit
bronkopneumonia:
a. Otitis media
Terjadi apabila pasien yang mengalami bronkopnemonia tidak
segera diobati sehingga jumlah sputum menjadi berlebih dan akan
masuk dalam tuba eustaci sehingga menghalangi masuknya udara
ketelinga tengah.
b. Bronkiektase
Hal ini terjadi akibat broncos mengalami kerusakan dan timbul
fibrosis juga terdapat pelebaran bronkus akibat tumpukan nanah.
c. Abses paru
Rongga bronkus terlalu banyak cairan akibat dari infeksi
bakteri dalam paru-paru.
d. Empiema
Pasien yang mengalami bronkopneumonia paru-parunya
mengalami infeksi akibat bakteri maupun virus asehingga rongga dari
pleura berisi
J. Nursing Care Plan
Pengkajian
1. Anamnesa
Tn.S usia 56 tahun,dirawat di ruang ICU RSGB dengan diagnosa
medis Bronkpneumonia sejak 1 minggu yang lalu.Menurut pengkajian
dari keluarga ,Tn.S mempunyai kebiasan merokok sejak masih
muda,sudah lama batuk dan hanya mengkonsumsi obat yang dibeli di
warung.saat ini kesadaran Tn.S somnolent,GCS E2VETM4, TD 150 /90
mmHg, HR 111x/menit, Suhu 38 ͦ C, RR di bantu dengan ventilasi
mekanik PSIMV-12, PEEP 6, FIO2 40%, volume Tidal 342 Hasil
analisa gas darah 2 hari yang lalu pH 7,1 ; HCO3 28 mEq/L ; paCo2
60mmHg .Tn . S tanpak sesak dan SaO2 90%.
a. Identitas Klien
Seperti nama, umur, jenis kelamin, tempat tinggal, pekerjaan,
suku atau bangsa, agama, pendidikan, sumber air minum, sumber
air kotor, tempat pembuangan sampah, dll.
b. Keluhan Utama
Saat dikaji keluhan utama yang dirasakan pasien sesak
nafas.
c. Riwayat Penyakit
- Riwayat penyakit sekarang
Biasanya diawali dengan infeksi saluran pernafasan atas
seperti mengalami batuk menetap. Dengan produksi sputum
setiap hari berturut-turut selama minimum tiga bulan pada saat
bangun pagi tiap tahunnya, sedikitnya dua tahun produksi
sputum berwarna hijau, putih atau kuning dan banyak sekali.
Suhu tubuh penderita 38oC.
- Riwayat penyakit dahulu
Biasanya penderita bronkopneumonia mempunyai
riwayat penyakit yang dapat memicu terjadinya
bronkopneumonia seperti riwayat merokok, terpaan polusi kimia
dalam jangka panjang misalnya seperti debu atau asap.
- Riwayat penyakit keluarga
Biasanya terdapat anggota keluarga yang mempunyai
penyakit saluran pernafasan atau paru-paru dan menularkan
kepada anggota keluarganya.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik head to toe penderita bronkopneumonia
menurut Riyadi 2012:
a. Kepala :
1) bentuk kepala
2) warna rambut
3) distribusi rambut
4) ada lesi atau tidak
5) hygiene
6) ada hematoma atau tidak
c. Mata :
1) sklera berwarna merah (ada peningkatan suhu tubuh)
2) kaji reflek cahaya
3) konjungtiva anemis atau tidak
4) pergerakan bola mata
d. Telinga :
1) simetris atau tidak
2) kebersihan
3) tes pendengaran
e. Hidung :
1) ada polip atau tidak
2) nyeri tekan
3) kebersihan
4) pernafasan cuping hidung
5) fungsi penciuman
f. Mulut :
1) warna bibir (sianosis atau tidak)
2) mukosa bibir lembab atau tidak
3) mukosa bibir kering (suhu tubuh meningkat)
4) reflek menghisap
5) reflek menelan
g. Dada :
Paru-paru
1) Inspeksi
Pernafasan cepat, biasanya penderita menggunakan otot
bantu pernafasan, dada terlihat hiperinflasi dengan peninggian
diameter AP, warna kulit pucat, bibir sianosis dan dasar kuku
2) Auskultasi
Suara paru ronchi, bunyi nafas krekels atau mengi.
3) Palpasi
Terdapatnya nyeri tekan.
4) Perkusi
Didapatkan suara sonor
Jantung
1) Inspeksi
terdapat pembesaran dada sebelah kiri atau tidak
2) Auskultasi
ada atau tidaknya suara tambahan di jantung nomal (S1: lub dan
S2: dub)
3) Palpasi
adanya nyeri tekan atau tidak
4) Perkusi
suara jantung (normal: pekak)
h. Abdomen :
1) inspeksi : bentuk, ada lesi atau tidak
2) Auskultasi : bising usus meningkat atau normal (4-9x/menit)
3) Palpasi : nyeri tekan, nyeri lepas, turgor kulit <3 detik,
splenomegali, hepatomegali
4) Perkusi : suara abdomen (normal: timpani)
i. Ekstremitas:
1) pergerakan sendi terbatas (nyeri sendi)
2) Kelelahan
3) Kelemahan
4) CRT <2 detik dan keluhan
j. Genetalia dan anus :
1) laki-laki: penis, skrotum; perempuan: labia minora, labia
mayora, klitoris.
2) Fungsi BAB
3) Fungsi BAK
3. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
1) Pemeriksaan darah
Biasanya pada pederita bronkopneumonia akan terjadi
leukositosis (meningkatnya jumlah netrofil) yang disebabkan
oleh bakteri.
2) Pemeriksaan sputum
Sputum diperoleh dari batuk yang dalam dan spontan. Biasanya
digunakan untuk pemeriksaan mikroskopis, kulutur dan tes
sensifitas untuk mendeteksi agen infeksius.
3) Analisa gas darah
Untuk mengevaluasi status asam basa dan status oksigenasi.
4) Kultur darah
Untuk mendeteksi agen penyebab seperti bakteri atau virus.
5) Sampel darah, sputum dan urin
Pemeriksaan tes imunologi digunakan untuk mendeteksi
antigen mikroba.
6) Tes fungsi paru
Untuk mengevaluasi fungsi paru, menentukan berat dan
luasnya persebaran penyakit dan membantu memperbaiki
keadaan.
b. Pemeriksaan radiologi
1) Rontgenogram thoraks
Untuk menunjukan konsolidasi lobar nyang seringkali
dijumpai pada infeksi pneumokokal atau klebisella. Infiltrate
multiple seringkali dijumpai pada infeksi stafilokokus dan
haemofilus (Barbara C, Long, 2010).
2) Laringoskopi atau bronkoskopi untuk menentukan apakah
jalan nafas tersumbat oleh benda padat (Sandra M, Nettina,
2011).
Data Fokus Kasus
DS : Keluarga Tn. S mengatakan, Tn.S mempunyai kebiasan merokok
sejak masih muda,sudah lama batuk dan hanya mengkonsumsi obat
yang dibeli di warung.
DO : - GCS E2VETM4,
- TD 150 /90 mmHg
- HR 111x/menit
- Suhu 38 ͦ C
- RR di bantu dengan ventilasi mekanik PSIMV-12, PEEP 6, FIO2
40%, volume Tidal 342
- Hasil analisa gas darah 2 hari yang lalu pH 7,1 ; HCO3 28
mEq/L ; paCo2 60mmHg .
- Tn . S tanpak sesak dan SaO2 90%.
Diagnosa

Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan


bronchopneumonia adalah:

1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran


alveolar – kapiler akibat dari efek inflamasi;
Perencanaan
1. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran
alveolar – kapiler akibat dari efek inflamasi.
Tujuan: dalam waktu 3 x 24 jam setelah diberikan intervensi
pertukaran gas adekuat dan tidak ada distres pernafasan.
Kriteria hasil:
a. Menunjukkan adanya perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan
b. Frekuensi napas 16-20 x/menit
c. Frekuensi nadi 60-80 x/menit
d. Warna kulit normal
e. GDA dalam batas normal
Intervensi Rasional
Kaji frekuensi, Berguna dalam evaluasi derajat
kedalaman, dan distress pernapasan dan/atau
penggunaan otot bantu kronisnya proses penyakit.
pernafasan

Observasi warna kulit, Sianosis menunjukkan vasokontriksi


membran mukosa dan atau respon tubuh terhadap demam/
kuku. Catat adanya menggigil dan terjadi hipoksemia.
sianosis

Tinggikan kepala tempat Pengiriman oksigen dapat diperbaiki


tidur, bantu pasien untuk dengan posisi duduk tinggi dan
memilih posisi yang latihan napas untuk menurunkan
mudah untuk bernapas. kolaps jalan napas, dispnea, dan kerja
napas.

Awasi tingkat Gelisah dan ansietas adalah


kesadaran/status mental. manifestasi umum pada hipoksia.
Selidiki adanya GDA memburuk disertai
perubahan. bingung/somnolen menunjukkan
disfungsi serebral yang berhubungan
dengan hipoksemia.

Awasi tanda vital dan Takikardia, disritmia, dan perubahan


irama jantung. TD dapat menunjukkan efek
hipoksemia sistemik pada fungsi
jantung.

Awasi suhu tubuh. Demam tinggi sangat meningkatkan


Berikan tindakan untuk kebutuhan metabolik dan kebutuhan
mengurangi demam dan oksigen dan mengganggu oksigenasi
menggigil seluler.

Berikan oksigen Dapat memperbaiki /mencegah


tambahan sesuai indikasi memburuknya hipoksia.

DIAGNOSA NOC NIC


NO KEPERAWATAN
Gangguan NOC: NIC :
1 Pertukaran gas  Respiratory Status : Gas  Posisikan pasien untuk
Berhubungan dengan : exchange memaksimalkan ventilasi
-ketidakseimbangan  Keseimbangan asam Basa,  Pasang mayo bila perlu
perfusi ventilasi Elektrolit  Lakukan fisioterapi dada jika
-perubahan membran  Respiratory Status : perlu
kapiler-alveolar ventilation  Keluarkan sekret dengan
 Vital Sign Status batuk atau suction
DS: Setelah dilakukan tindakan  Auskultasi suara nafas, catat
- sakit kepala ketika keperawatan selama …. adanya suara tambahan
bangun Gangguan pertukaran Berikan bronkodilator ;
- Dyspnoe pasien teratasi dengan -………………….
- Gangguan kriteria hasi: -………………….
penglihatan  Mendemonstrasikan  Barikan pelembab udara
DO: peningkatan ventilasi dan  Atur intake untuk cairan
- Penurunan CO2 oksigenasi yang adekuat mengoptimalkan
- Takikardi  Memelihara kebersihan keseimbangan.
- Hiperkapnia paru paru dan bebas dari  Monitor respirasi dan status
- Keletihan tanda tanda distress O2
- Iritabilitas pernafasan  Catat pergerakan dada,amati
- Hypoxia  Mendemonstrasikan batuk kesimetrisan, penggunaan
- kebingungan efektif dan suara nafas yang otot tambahan, retraksi otot
- sianosis bersih, tidak ada sianosis supraclavicular dan
è -warna kulit abnormal dan dyspneu (mampu intercostal
(pucat, kehitaman) mengeluarkan sputum, Monitor suara nafas, seperti
- Hipoksemia mampu bernafas dengan dengkur
- hiperkarbia mudah, tidak ada pursed  Monitor pola nafas :
- AGD abnormal lips) bradipena, takipenia,
- pH arteri abnormal  Tanda tanda vital dalam kussmaul, hiperventilasi,
-frekuensi dan rentang normal cheyne stokes, biot
kedalaman 
nafas AGD dalam batas normal  Auskultasi suara nafas, catat
abnormal  Status neurologis dalam area penurunan / tidak
batas normal adanya ventilasi dan suara
tambahan
 Monitor TTV, AGD, elektrolit
dan ststus mental
 Observasi sianosis
khususnya membran mukosa
 Jelaskan pada pasien dan
keluarga tentang persiapan
tindakan dan tujuan
penggunaan alat tambahan
(O2, Suction, Inhalasi)
 Auskultasi bunyi jantung,
jumlah, irama dan denyut
jantung
Daftar Pustaka

Huda Nurarif, Amin. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosia Medis dan Nanda Nic-Noc. Edisi Revisi Jilid 1. Yogyakarta:
Mediaction.

Nurarif, A.H, Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis dan Nanda Nic-Noc. Jogjakarta: Mediaction.

Wilkinson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan: diagnosis


NANDA, intervensi NIC, kriteria hasil NOC, ed 9. Jakarta: EGC

Wiradarma, Karin. .Penanganan Bronkopnemonia pada Bayi.


http://klikdokter.com/tanyadokter/anak/penanganan-bronkopneumonia-
pada-bayi diakses Jumat , 14 september 2018.

Yolanda, Natharina. 2015. Bronkopnemonia.http://wwwerjanya.net/faq/11825-


bronkopneumonia.html. di akses Jumat, 14 September 2018